[FF Freelance] Shadow (Ficlet)

shadow - ilhoon

Shadow

Author: distikachu

Cast     : Jung Ilhoon

 Choi Jinri

and find it by yourself

Rate     : PG-13

Genre   : Angst, Romance

Length: 1176 words, one shoot

This story belongs to me and 100% mine. Plagiarism is prohibited hardly.So sorry if i did typo everywhere and also my Korean is bad. It may be not a good story, dont forget to comment, please. Check it out, guys^^

“Eomma, aku berangkat sekarang,”teriak Jung Ilhoon sambil mengendarai sepedanya.
“Hati hati di jalan, Ilhoon-ah,”ucap Nyonya Jung seraya melambaikan tangan pada anak laki-lakinya itu, ketika ia hendak kembali ke dapur, ia melihat kotak bekal makanan Ilhoon berada di atas meja makan,”Ah, anak itu,”gumamnya sambil tersenyum tipis.

Ilhoon POV

            Aku mengayuh sepedaku dengan cepat, karena ini sudah terlalu siang. Aku takut terlambat dan sonsaengnim akan memarahiku. Seketika, aku mengerem sepedaku saat melihat sorang gadis yang terduduk lemah di dekat jembatan. Aku ingat, kemarin aku membuang bekas permen karet di sekitar jembatan tersebut, aku khawatir gadis itu tidak bisa berdiri karena jatuh tepat di atas permen karet yang lengket itu.

“Ya! Jinjja,”gerutuku, seraya merutuki kepalaku.

Segera, aku menghampiri gadis itu.

“Agashi, gwaenchanayo?” tanyaku pada gadis itu, wajahnya pucat pasi. Sepertinya dia tidak baik baik saja. Nafas gadis di depanku ini tersengal. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Rumah sakit berada sekitar 1 km dari tempat ini, itu akan membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di sana. Aku panik. Jung Ilhoon panik. Aku sangat panik. Panik.

Nafas gadis itu semakin tersengal, aku semakin panik ketika matanya berubah menjadi merah. Apa yang terjadi padanya? Apakah dia terserang penyakit pernapasan? Asma? Atau apa? Apa aku harus memberinya napas buatan? Napas buatan? Itu berarti bibirku akan menyentuh bibirnya? Ah, itu tidak mungkin. Aku bahkan tidak mengenal dia. Bagaimana aku bisa melakukan itu. Bagaimana jika teman kencannya tahu bahwa aku melakukan ini, pasti dia akan memukuliku. Tapi kalau aku tidak melakukan ini, mungkin saja gadis ini akan mati kehabisan napas? Entahlah.

Author POV

Ilhoon akhirnya memutuskan untuk memberikan napas buatan untuk nona yang ada di depannya itu. Ia terlalu takut terjadi sesuatu pada nona ini. Dia terlalu panik, sehingga dia tidak sempat untuk mencari obat atau oksigen di tas nona itu.

“Agashi, gwaenchanayo?,” tanya Ilhoon khawatir. Napas gadis itu masih tersengal tetapi napasnya makin teratur.

“Nan gwaenchanayo. Kau siapa?” tanyanya masih bingung.

“Aku melihatmu di sini, kau nampak kesusahan. Jadi aku menghampirimu. Ngg….kau mengalami kesulitan bernapas, ne? Aku……” jelas Ilhoon.

“Ah, jeongmal gomawoyo,”ucap gadis itu ramah,”Emm, Sulli imnida, Choi Sulli.”

“Sulli? Ne, Jung Ilhoon imnida,”balas Ilhoon seraya tersenyum.

“Ne, namaku Choi Jinri. Tetapi orang- orang disekitarku terbiasa memanggil Sulli.”

“Kau tampak tidak sehat, dimana rumahmu? Biar aku antar.”

“Aku baru saja mau mencari hotel, orang tuaku tinggal di LA. Aku mengunjungi nenekku dia Busan, kemarin. Sekarang, aku berencana menghabiskan liburan di Seoul.”

“Bagaimana kalau kau singgah di rumahku untuk sementara. Kau terlihat masih lemas, biar ibuku merawatmu dulu. Dia ibu yang baik.”

“Aniyo, aku merepotkanmu. Bahkan kita baru saja berkenalan.”

“Tentu tidak. Kulihat dari penampilanmu, kau bukan gadis jahat. Rumahku tidak jauh dari sini. Mari aku antar.”

“YA! Aku memang bukan gadis jahat.”

Mereka tertawa seketika.

Ilhoon POV

“Eomma,” teriakku dari luar.

“YA! Kau ini. Bagaimana bisa kau selalu lupa dengan bekalmu,”teriak Nyonya Jung dari dalam yang kemudian membuka pintu,”Eoh? Siapa gadis ini, Ilhoon-ah?”

“Aku bertemu dengannya di jalan. Dia dari LA untuk berlibur di Seoul. Tadi aku menolongnya, karena berada dalam kesulitan. Dia tampak kurang sehat, makanya aku bawa kemari supaya eomma bisa merawatnya. Eomma tidak keberatan, ne?”

“Tentu tidak. Akhirnya eomma punya anak perempuan di rumah. Ya, Ilhoon dan hyungnya sangat jarang menemani eomma. Siapa namamu, nona?”

“Sulli imnida,”ucap Sulli seraya membungkukkan badannya sopan,”bangapseumnida Ahjumma.”

“Cantik sekali kau, Sulli-ya. Panggil eomma saja, sama seperti Ilhoon memanggilku. Mari masuk ke dalam, eomma punya cookies yang lezat,” ucap eomma sambil menggandeng Sulli masuk ke rumah.

Ah, jeongmal? Eomma bahkan mengabaikanku. Dia terlalu senang dengan Sulli. Aku tersenyum dan menggelengkan kepalaku. Setengah jam lalu, mungkin itu ciuman pertamaku.

Sulli POV

“Wah, eomma sangat pandai memasak,” ucapku kagum pada makanan yang dibuat oleh eomma.

“Tentu, eomma lebih dari seorang chef!” seru Ilhoon yang muncul dari belakang Sulli dan tertawa kecil.

“Ah, Ilhoon-ah,” ucapku sambil menoleh, mengetahui Ilhoon yang sudah duduk di sampingku,”Aku sangat senang, kau dan eommamu terlalu baik padaku. Orang baru sepertiku.”

Aku merasa dadaku sesak.  Sakit.

“Sulli-ya. Aku pernah melihat senyum itu. Geurom, senyummu. Dulu sewaktu kecil, aku memiliki peri kecil. Sangat manis. Aku menyukainya. Aku menyukai senyummu,” jelas Ilhoon sambil tersenyum simpul.

“Tapi aku bukan peri kecilmu itu, Ilhoon-ah,” ucapku sambil meringis menahan sakit di dadaku.

“Geurom, gadis itu telah meninggalkan bumi. Ah, lupakan,”ucap Ilhoon menahan air mata.

“Ilhoon-ah, aku…………………”

Ilhoon POV

“Sulli-ya, kau kenapa?” aku panik melihat Sulli tak sadarkan diri,”Eomma….Eomma”

“Wae, Ilhoon-ah,”eomma muncul dari balik pintu dan menemukanku dan Sulli yang terkulai lemas di pelukanku.

Eomma terlonjak melihat Sulli yang sudah tak sadarkan diri.

Author POV

*an hour later*

“Anak Anda harus segera mendapat donor paru – paru, secepatnya harus dilakukan cangkok paru – paru, Nyonya,” ucap Dokter kepada Nyonya Jung,”Dia sudah tidak punya banyak waktu.”

“Ne, gamsahamnida,” ucap Nyonya Jung lirih.

“Eomma, ottokhaeyo?” ucap Ilhoon. Semangatnya hilang. Ia takut kehilangan orang dengan senyuman indah yang mampu menenangkan hatinya untuk yang kedua kalinya.

“Kita harus memberitahu keluarganya, secepatnya.”

Ilhoon POV

Aku bergegas pulang ke rumah, mencari tas milik Sulli. Mencari alamat atau nomor telepon atau entah apa itu yang dapat dipakai untuk menghubungi keluarganya. Dia membuka ponsel milik Sulli, kemudian menghubungi nomor telepon dengan nama “eomma”.

“Yoboseyo?” suara lirih dari telepon membuatku lega.

“Yoboseyo. Ilhoon imnida. Aku teman Sulli, dia sekarang di rumah sakir. Dia harus segera dioperasi dan membutuhkan donor paru – paru,” jelasku dengan suara bergetar.

“I dont even care anymore with that girl who named Sulli. Her parents has passed away 3 days ago, so it’s up to you. I enjoy his parents’s wealthy.”

Click.

“Nappeun. Siapa orang itu. Sungguh tidak berperasaan.”

Air mataku meleleh di pipiku. Bahkan orang itu tak peduli. Orang macam apa dia. Oh, dia pasti bukan manusia. Tidak ada manusia yang seperti itu. Aku segera menghapus air mataku dan segera menuju rumah sakit untuk menemui dokter. Aku harus memastikan bahwa Sulli mendapatkan donor paru – paru. Aku tidak tahu mengapa aku sekhawatir ini, tapi aku harus melakukannya.

“Apa donor untuk Sulli sudah ada?” tanyaku pada dokter. Setiba di rumah sakit, aku berlari menuju ruang dokter untuk Sulli.

“Kami masih mengusahakannya Ilhoon-ssi. Kami mendapatkan satu orang, tinggal melakukan cek kesehatan,” kata Dokter tenang.

“Bagaimana jika kalian tidak mendapatkannya? Kami harus menunggu sampai kapan?” tanyaku penuh cemas,”Joha. Aku akan mendonorkan paru – paruku untuk Sulli, no matter what.”

“Kau tahu risikonya jika kau mendonorkan paru paru milikmu? Ini bukan main main, nak.”

“Tentu. Aku rela. Aku tak ingin melihat senyum indah itu pergi. Aku tak ingin melihatnya pergi. Biarkan aku yang pergi. Aku akan kehilangan senyum dari dua orang yang aku cintai, jika aku tidak melakukan ini.”

“Kau masih muda, Ilhoon-ssi. Aku hanya tidak ingin menuruti keinginanmu, yang sekedar emosimu semata.”

“Aku sudah dewasa, aku tahu dan yakin dengan apa yang aku lakukan.”

“Geurom. Mari kita lakukan pengecekan kesehatan, besok sehabis makan siang.”

Aku mengangguk, paham.

*Keesokan harinya*

“Dimana Sulli?” tanyaku panik. Perawat dan dokter tak satupun mengetahui keberadaan Sulli. Eomma entah dimana, aku tak melihatnya seharian kemarin. Aku bingung.

Selembar kertas berwarna ungu tergeletak di kasur tempat Sulli kemarin dibaringkan.

Aku meninggalkan hatiku di San Fransisco. Choi Minho oppa. Mianhamnida keurigo gomapseumnida, Jung Ilhoon.

Bayangan, jangan datang jika untuk pergi. Bayangan, jangan pergi jika untuk datang.

Tangisku pun pecah.

One thought on “[FF Freelance] Shadow (Ficlet)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s