Coffee Shop (Oneshoot)

IMG_20130604_173650

Coffee Shop

 a story

by

Quiterie

Cast :

CN Blue’s members

F(x)’s Krystal

IU

EXO’s D.O.

After School’s Nana

SNSD’s Yoona

Park Shin Hye

|| Genre : Fluff  & Romance|| Length : Oneshoot (consist of 4 ficlets for each member)|| Rating : G || Disclaimer : The third story is inspired by ‘Eclair.’

happy reading!

*

.

.

???????????????????????????????????????????????????????

“Berhentilah memasang tampang cemberut begitu,” Minhyuk menyikut Krystal yang berjalan bersisian dengannya, berusaha membuat gadis itu mau menoleh kearahnya dan menghiraukan kata-katanya.

Ya! Sikumu itu tajam, Bodoh,” bentak Krystal sambil menoleh dengan raut wajah dua kali lipat lebih keruh dari sebelumnya. Oke, Minhyuk tak hanya berhasil membuat Krystal menoleh, tapi juga selusin pejalan kaki yang melintasi sepanjang jalur pejalan kaki Hongdae di sekitar mereka. Gadis ini benar-benar tidak tahu malu jika sedang dalam mood yang buruk.

“Makanya dengarkan aku.”

“Tidak mau.”

Tangan Minhyuk naik ke kepalanya kemudian mulai mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. “Aigoo, kau marah padaku hanya karena masalah sepele seperti ini? Benar-benar konyol.”

“Memang,” Krystal terus melangkah dengan langkah-langkah cepat, membuat Minhyuk kesulitan mengimbangi. “Lagipula sudah berapa kali aku bilang untuk belajar demi ujian kenaikan level? Apa kau tidak malu karena tidak lulus ujian selama tiga kali berturut-turut?”

“Biasa saja,” Minhyuk mengangkat bahu. “Aku memang tidak pintar dalam bahasa inggris. Aku juga tidak keberatan jika mulai pekan depan kita sudah tidak satu kelas lagi karena kau sudah naik level.”

Krystal mendadak menghentikan langkahnya di depan sebuah butik. Kemudian menoleh dengan sorot mata tajam. Apa Minhyuk baru saja mengatakan sesuatu yang salah?

“Laki-laki memang tidak peka.”

“Hei,” Minhyuk meninggikan suaranya, merasa tidak terima. “Jika aku tidak peka, aku tidak akan repot-repot mengejarmu dari tempat kursus dan berusaha meminta maaf atas sesuatu yang bahkan sama sekali tidak berdampak jelek padamu. Tidak akan terjadi apa-apa padamu kan jika kau lulus ujian kenaikan level sementara aku tidak?”

Krystal menghela nafas, berusaha keras untuk menelan keinginan untuk mengomeli pemuda di depannya. “Jika kau cukup peka, kau harusnya paham mengapa orang yang pernah lama tinggal di luar negeri sepertiku mau repot-repot ikut kursus bahasa inggris dari level awal. Jika kau cukup peka, kau harusnya tahu alasan aku sengaja menggagalkan dua ujian kenaikan level sebelum ini. Jika kau cukup peka, kau juga pasti akan mengerti jika beberapa hari ke depan aku memutuskan mengundurkan diri dari kursus. Aku sudah kehilangan alasanku untuk berangkat kursus.”

Keduanya terdiam. Dengan Minhyuk yang mengerjap-ngerjapkan matanya dengan mulut setengah terbuka dan Krystal yang tampak mulai tidak sabar dengan kelambanan pemuda dihadapannya dalam mencerna kata-katanya.

“Sudahlah, lupakan saja, aku mau pulang,” Krystal mendesis kesal kemudian melangkah berbelok di tikungan kearah halte bus. Ia mendadak merasa menyesal mau berpacaran dengan pemuda setolol Minhyuk.

“Kau mau kemana, Galak?” Minhyuk mengalungkan tangannya disekeliling leher Krystal kemudian mulai menggiring paksa langkah gadis itu kembali kearah jalur yang tadi mereka lewati.

“Bukan urusanmu,” Krystal dengan susah payah berusaha melepaskan rangkulan pemuda itu dan berakhir gagal.

“Jadi sepertinya kau benar-benar menyukaiku ya?” Minhyuk mengulum senyumnya, menikmati perubahan wajah gadis di sampingnya yang mulai terlihat salah tingkah.

“Aku memang begitu tolol menyukai laki-laki yang lebih peduli pada band bodohnya daripada pacarnya sendiri. Sampai-sampai aku harus ikut kursus yang sama dengannya agar bisa sering bertemu dengannya.”

“Kau bilang apa?” Minhyuk mencondongkan telinganya mendekat. Gumaman Krystal hanya terdengar samar tapi melihat dari semburat merah di pipinya, Minhyuk jadi sedikit menyesal karena tidak memasang telinga baik-baik.

“Lupakan,” Krystal membuang muka, tangannya masih berusaha melepaskan rangkulan Minhyuk di lehernya.

“Ngomong-ngomong, bagaimana jika kita berkunjung ke coffee shop favorit kita?” Minhyuk mendadak mendapat ide untuk memperbaiki suasana hati gadis disampingnya. “Kau ingat menu Chocolate Dalmatian yang sangat enak itu? Pasti sangat cocok dinikmati di cuaca seperti saat ini.”

Krystal memutar bola matanya dengan jengah. “Kau berusaha menyuapku? Usaha yang bagus, Kang Minhyuk.”

“Ditambah dengan sepiring éclair,” Minhyuk meneruskan dengan cengiran lebar di wajahnya, mengabaikan sikap skeptis Krystal. “Dan seorang pria tertampan di seantero Seoul. Memangnya kau bisa dapat yang lebih baik lagi, nona Jung?”

Krystal menatap wajah Minhyuk dengan ekspresi tak terbaca, membuat pemuda itu mengira-ngira apakah siasatnya berhasil atau tidak. Cengirannya menyusut, ketika Krystal akhirnya berhasil melepaskan tangannya.

‘Satu . . . dua . . . tiga . . .’

Minhyuk menghitung dalam hati. Menerka-nerka dengan gelisah pada detik keberapa Krystal akan melengos kesal lalu berjalan berbalik meninggalkannya.

“Dasar bodoh. Jika kau ingin mengajak seorang gadis pergi bukan dengan mencekiknya seperti domba gembala,” Krystal mendengus kesal. “Tapi seperti ini,” Krystal meraih tangan Minhyuk kemudian menautkannya dengan miliknya sendiri.

Mulut Minhyuk sontak jatuh menganga. Gadis-gadis memang selalu sulit dimengerti dan ditebak. Tetapi, ia tahu betul ketika seorang gadis galak dan minim ekspresi seperti Krystal bersikap manis, kemungkinan hal itu terjadi lagi suatu saat nanti hanya satu dibanding seratus ribu momen.

“Jadi tidak, sih?!” Krystal menyalak kesal dengan wajah cemberut. Dia selalu benci kelambanan Minhyuk dalam bereaksi.

“Tentu saja,” Minhyuk cepat-cepat menyahut kemudian menarik gadis itu untuk berjalan. Coffee shop favorit mereka masih berjarak tujuh blok dari tempat mereka berdiri.

“Kau sudah tidak marah? Apa karena kau tergiur dengan tawaranku?”

“Tentu saja tidak! Aku hanya merasa, setelah dipikir-pikir, menyalahkan Orang Bodoh akan kelemahan intelejensianya bukanlah hal yang baik.”

“Wah, wah, sepertinya Gadis Galak ini tidak sadar jika mendaftar ke kursus bahasa inggris hanya demi sering bertemu dengan pemuda yang disukainya adalah tindakan yang tidak kalah bodohnya.”

“YA! Sekali lagi kau membahasnya aku tidak akan segan-segan mencekikmu!”

*

.

.

 coffeebean-korea_2

Aroma dari berbagai jenis hidangan kopi dan kue menguar kental di coffee shop itu, menciptakan harum yang menyenangkan hingga membuat setiap pengunjung dengan tidak sabar menanti pesanan mereka datang.

Tetapi, bagi Lee Jungshin, ia sama sekali tidak peduli dengan harum atau segala tetek bengek tentang kopi. Hal yang benar-benar ia inginkan saat ini adalah segera pulang dan melakukan pembalasan dendam terkejam yang bisa direalisasikan seorang kakak pada adik biologisnya yang telah membuatnya terjebak di suasana tak mengenakan seperti yang dialaminya saat ini.

Awalnya, agendanya hari ini adalah menemani adik perempuannya, Ji Eun, untuk membeli buku pelajaran di toko buku dekat sini. Ia pun kemudian mengiyakan ketika adiknya itu mengajak untuk mampir ke coffee shop ini setelah membeli buku.

Jungshin hanya tidak tahu jika pada akhirnya teman-teman Ji Eun akan bergabung dan mereka malah membahas tugas sekolah disini. membuat Jungshin sama terabaikannya dengan wadah gula batu ditengah meja.

“Bisakah kau memberikan kunci mobil kita padaku dan membiarkanku menunggu di mobil saja?” bisik Jungshin dengan sengit. ia sudah terabaikan hampir dua jam, dan rasanya ia tidak bisa menolerir lebih lama lagi.

Oppa harus bersabar,” Ji Eun menyunggingkan senyum misterius kemudian beralih lagi ke anak laki-laki bermata besar disampingnya. Mereka sedang membahas soal matematika, tapi Jungshin tahu betul bahwa berkali-kali adiknya dan anak bermata besar itu saling mencuri pandang malu-malu.

Oke, Jungshin harus ingat untuk melaporkan adik kecilnya yang sudah menunjukkan gelagat aneh dengan seorang anak laki-laki pada ibu mereka sebagai salah satu bentuk pembalasan dendamnya. ibu mereka melarang mereka berpacaran sebelum masuk perguruan tinggi.

Jungshin mengetuk-ngetukan ujung jemarinya ke meja dengan tidak sabar, sesekali mengamati pengunjung yang keluar masuk café diiringi denting lembut pintu. Ada sepasang kekasih yang terus bergandengan tangan sambil beradu mulut, ada eksekutif muda berwajah lelah yang tampak begitu lega setelah berhasil menghenyakkan tubuh di kursi cafe,  juga ada seorang wanita paruh baya dengan putrinya yang terus berceloteh seru.

Tampaknya hanya dia seorang yang sama sekali tidak bisa terbawa atmosfer hangat café ini.

“Soalnya sulit sekali ya?” seorang teman Ji Eun yang berambut bob berceletuk. Semua yang mengitari meja mengangguk-angguk.

“Ji Eun~a, bagaimana jika kau bertanya pada oppa-mu? Bukankah dia mahasiswa Seoul dae? Dia pasti tahu cara mengerjakannya,” meski anak laki-laki bermata besar disamping Ji Eun hanya berbisik, Jungshin, yang masih mengamati lalu lalang pengunjung disekitar pintu masuk, bisa mendengarnya dengan jelas. Diam-diam dia merasa bangga ada anak ingusan yang secara tidak langsung memujinya pintar.

“Tidak perlu, Kyungsoo. Dia sebenarnya bodoh. Dia hanya bermodal beruntung saja bisa masuk Seoul dae. Baru beberapa hari yang lalu Ibu kami memarahinya karena nilai ujiannya yang jelek sekali.”

Sial.

Jungshin sudah bersiap menggerakan kaki panjangnya dibawah meja dan menginjak milik adiknya kuat-kuat, tepat ketika fokusnya terinterupsi sebuah suara.

“Ji Eun~a? Maaf, aku baru saja ada urusan diluar tadi. Apa kau dan teman-temanmu sudah menunggu lama?”

Jungshin mendongakkan kepalanya dan langsung merasa menyesal tidak memasang ekspresi yang terlihat lebih maskulin dan keren ketika matanya bertemu dengan mata seorang gadis yang berdiri disamping meja.

Pupilnya melebar ketika matanya mulai menelusuri  figur jangkung gadis itu. Rambut blonde-nya yang dikuncir asal, setelan sewarna karamel pas badan yang dikenakannya dan samar-samar tercium aroma Purr dari gadis itu, yang entah bagaimana caranya mengalahkan dominasi harum kopi di indera penciuman Jungshin.

“Nah, teman-teman, perkenalkan, guru privat matematikaku, Jin-Ah eonni,” Ji Eun mengedik bangga kearah Jin-Ah yang membalas senyuman teman-teman Ji Eun. “Aku sengaja menghubunginya untuk membantu kita mengerjakkan tugas. Dia juga mahasiswa Seoul dae seperti oppaku.”

“Kau juga mahasiswa Seoul dae?” Jin-Ah yang kini sudah mengambil posisi di hadapan Jungshin mengangkat alis terkejut, identik dengan ekspresi Jungshin yang tak kalah kagetnya. Dari sudut matanya, Jungshin bisa merasakan tatapan adiknya yang seolah mengatakan ­sudah-kubilang-bersabarlah-sedikit-kau-pasti-senang-kan-sekarang?

“Ah, iya,” Jungshin merespon pertanyaan gadis itu dengan ringisan, tanpa sadar tangannya menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.

“Wah, kebetulan sekali,” Jin-Ah menyunggingkan senyum. “Perkenalkan, aku Im Jin-Ah, Department of Science and Mathematics.

Dengan salah tingkah Jungshin menjabat uluran tangan Jin-Ah, membuat jantungnya menggila di rongga dada. Bagaimana bisa dia salah tingkah habis-habisan di depan seorang gadis yang baru saja ia temui? “Lee Jungshin, Department of Music and Performing Arts.

Dan ketika akhirnya Jin-Ah melepaskan jabat tangan mereka lalu beralih untuk membantu Ji Eun dan teman-temannya belajar, Jungshin sama sekali tidak bisa menahan bibirnya untuk tidak tersenyum.

Ketika pulang nanti, prioritasnya bukanlah melaporkan Ji Eun yang sudah mulai berpacaran kepada ibu mereka, tetapi masuk ke kamar adiknya dan mencari jadwal privatnya dengan Jin-Ah. Dia harus memastikan ada di rumah ketika Jin-Ah datang untuk mengajar.

Dan mulai besok, mungkin dia akan mengambil jalur lain ke gedung kuliahnya. Jalur yang melewati gedung fakultas Sains dan Matematika.

*

.

.

sunset-seoul-south-korea

“Aku secantik itu ya?”

Jonghyun mengangkat kepala dari keasyikannya berkutat dengan kamera di tangannya lalu menatap Yoona dengan raut berkerut bingung.

“Kau bertanya padaku?”

Yoona mendengus dengan bibir yang membentuk seringai sarkastis. “Kau pikir aku sebodoh itu hingga tak sadar kau terus-terusan memotretku?”

Jonghyun memutar bola matanya dengan raut kesal kemudian mulai memfokuskan diri pada cangkir decaf-nya dan mulai mengaduknya perlahan. “Sok tahu. Aku hanya mengecek hasil foto untuk liputan kita.”

“Ya sudah, terserah saja,” Yoona memutuskan mengakhiri perdebatan mereka meski matanya masih berkilat curiga. Jonghyun tidak pernah bisa berbohong dan Yoona sudah mengenal pemuda itu cukup lama hingga bisa membaca gelagat pemuda itu dengan mudah.

Gadis itu kemudian mulai mengedarkan pandangannya ke sekeliling mereka.

Karena ia dan Jonghyun tidak berhasil mendapat kursi di lantai dasar ketika mereka tiba di café ini setengah jam yang lalu, salah satu pegawai café menyarankan mereka untuk menggunakan kursi di rooftop, yang kata si pegawai biasanya menjadi tempat istirahat ia dan rekan-rekannya, jika masih ingin menikmati sesi coffe ebreak sore mereka disini.

Dan karena mereka sudah begitu lelah setelah melakukan liputan seharian juga ditambah fakta bahwa coffee shop ini adalah pemilik resep kopi terenak di seantero Hongdae, sepertinya tawaran si pegawai tidak terlalu buruk.

Nyatanya memang tidak buruk. Malahan mereka sepakat untuk menghak milik spot di rooftop café ini sebagai spot favorit mereka dan akan memilih duduk disini dariapada di lantai bawah jika kali lain berkunjung kemari.

Sekarang sudah sore dan semburat jingga mulai merayapi langit. Hingar bingar lalu lintas Hongdae yang padat bisa terdengar samar-samar dari jalanan di bawah sana. Dan karena mereka hanya berdua disini, rasanya begitu damai dan tenang.

“Kita tukar ya?” Yoona menyunggingkan senyum termanisnya ketika merebut cangkir yang hampir diseruput oleh Jonghyun kemudian mendorong cangkirnya sendiri kearah pemuda itu. “Aku lupa kalau sedang tidak enak badan. Cappuccino terlalu keras, aku takut tidak bisa tidur setelah pulang nanti. Aku kan butuh banyak istirahat.”

Jonghyun terpaku sejenak ketika mengamati Yoona mulai menyeruput ­decaf– kopi non-kafein- miliknya. Alasan pertama karena Yoona baru saja memegang tangannya dan bekas sentuhannya bahkan masih terasa hangat, alasan kedua karena ia ingat betul gadis itu sudah menyempatkan menyeruput cappuccino miliknya, dan berarti . . .

“Hei, minumnya pelan-pelan saja,” tegur Yoona sambil lalu disela kesibukannya mengoreksi hasil wawancara siang tadi di note-nya. “Lihat, wajahmu sampai merah padam seperti itu.”

Jika saja Yoona tahu alasan sebenarnya hingga wajahnya merah padam seperti saat ini, mungkin gadis itu akan langsung melempar Jonghyun ke jalanan dibawah sana.

“Indah ya?” gumam Yoona sambil memutar-mutar cangkir kopinya, memecah keheningan setelah beberapa menit terlewat dalam diam. Matanya tertuju kearah matahari yang sudah mulai condong ke barat.

“Hmm,” Jonghyun mengiyakan. “Saat-saat seperti ini dalam istilah fotografi disebut golden hour.

Yoona tampak berpikir beberapa saat sebelum menjawab ragu-ragu. “Maksudnya?”

“Bagi seorang yang berprofesi sepertiku, unsur terpenting dalam membidik objek diluar ruangan adalah cahaya. Ada dua waktu terbaik untuk mengambil foto diluar ruangan. Yaitu ketika sebelum hingga sesudah matahari terbit dan tenggelam. Hitungan kasarnya, sekitar pukul lima hingga tujuh pagi dan lima hingga tujuh malam. Itulah yang dinamakan golden hour. Saat golden hour terjadi, matahari menerpa objek foto dari sudut miring sehingga memberi tekstur dan dimensi yang kaya serta memiliki warna keemasan yang hangat. Singkat kata, objek foto menjadi berkali-kali lipat lebih impresif.”

Yoona menelengkan kepalanya dengan dagu bertumpu di tangan. “Lalu?”

“Yah, itulah alasan mengapa aku mengeluarkan kameraku tadi. Rasanya sayang sekali jika aku melewatkan saat dimana objek yang berharga bertemu dengan momen yang berharga. Golden object beneath the golden hour.

Sebelah alis Yoona terangkat dengan kening berkerut. Gadis itu memakan waktu hampir dua menit untuk berpikir hingga pada akhirnya mendengus geli. “Apa kau tidak bisa mengakui bahwa kau memang memotretku diam-diam tadi dan bahwa kau sebenarnya menyukaiku dengan cara yang lebih mudah dicerna otak? Membosankan sekali tahu harus mendengarmu mengoceh panjang lebar tentang teori fotografi. Membuatku pusing saja.”

“Diamlah,” Jonghyun dengan kesal meraih cangkir kopinya kemudian menyeruputnya lambat-lambat. Berusaha menyembunyikan wajahnya yang merah padam di balik cangkir. Apa sih yang ia pikirkan sampai harus mengatakan kata-kata bodoh seperti itu? Memang implisit, tapi Yoona, yang seorang jurnalis handal, selalu bisa ‘membaca’ sampai ke akar-akarnya.

“Sudahlah, tidak usah malu-malu begitu,” Yoona terkekeh geli sambil mengaduk-aduk tas tangannya. Tampak mencari-cari sesuatu.

Tak berapa lama kemudian gadis itu mengeluarkan sebuah tape recorder dan meletakannya diatas meja lalu menekan tombol record.

“Coba, katakan sesuatu yang manis padaku, sesuatu yang lebih eksplisit,” Yoona menyodorkan tape recorder-nya pada Jonghyun yang masih sibuk dengan cangkirnya. “Ayolah.”

Dengan tangan yang meraba-raba karena pandangannya terhalangi cangkir kopi yang sedang ia sesap, Jonghyun mendorong tangan Yoona menjauh. Membuat gadis itu terbahak-bahak karena membuat Jonghyun semakin salah tingkah.

“Hmm, Baiklah, sepertinya Lee Jonghyun memang benar-benar pemalu dan kikuk,” gadis itu mendekatkan mulutnya kearah tape recorder-nya. “Tapi aku tahu dia sudah berusaha keras. Well, aku akan memberi hadiah kecil padanya,” Yoona mengerling kearah Jonghyun yang kini menatapnya dengan mata melotot, seakan siap-siap memuntahkan cappucino-nya saat itu juga. “Lee Jonghyun, saranghaeyo.

*

.

.

208512-stock-photo-park-bench-seating-night-shot

Yonghwa menegakkan tubuh kemudian melakukan peregangan-peregangan kecil untuk merilekskan tubuhnya yang benar-benar pegal setelah mengelap hampir dua puluh meja di coffee shop-nya sendirian.

Hari ini pengunjung sangat banyak hingga mereka terpaksa memundurkan jam tutup dari pukul sepuluh malam ke pukul sebelas malam. Dan dikarenakan kebanyakan waitress dan pelayan di coffee shop-nya adalah perempuan, ia terpaksa memulangkan mereka sebelum acara bersih-bersih selesai dan menangani sisanya sendirian. Tidak baik membuat para gadis pulang larut.

Ting

“Maaf, kami sudah tu . . .”

Yonghwa tidak meneruskan kata-katanya ketika menyadari siapa yang kini berdiri di depan pintu.

“Shin Hye?” Yonghwa meletakkan lap di tangannya ke meja terakhir yang ia lap kemudian berjalan menghampiri gadis itu. Ia mendadak teringat bahwa gadis itu hari ini tidak datang bekerja.

“Apa yang terjadi padamu?” mata Yonghwa menelusuri wajah Shin Hye yang  penuh bekas air mata dan matanya yang memerah.

“Maafkan aku karena bolos kerja tanpa ijin,” Shin Hye membungkuk meminta maaf tanpa menjawab pertanyaan Yonghwa. “Aku baru saja lewat dan karena sepertinya masih ada orang disini, makanya aku menyempatkan diri untuk menyampaikan ijinku.”

Sebelah alis Yonghwa terangkat, Shin Hye tampaknya sedang dalam kondisi yang buruk dilihat dari penampilannya yang kacau, matanya yang membengkak karena terlalu banyak menangis, dan caranya mengalihkan pembicaraan.

“Kau sepertinya butuh menenangkan diri dan barangkali teman bicara untuk melegakan hati, Nona Park,” Yonghwa menyunggingkan senyum ketika gadis dihadapannya mendongakkan kepala. “Tunggu sebentar, biar aku menyelesaikan pekerjaanku. Setelah ini kita harus bicara.”

Shin Hye tampak terpaku sejenak dan sudah akan membuka mulut untuk mengatakan sesuatu ketika Yonghwa menyela. “Tidak ada penolakan. Ini perintah dari bosmu.”

Yonghwa kemudian berbalik dan segera menyelesaikan kegiatan mengelap meja yang tadi terinterupsi kedatangan Shin Hye. Tak lama, pemuda itu menghampiri Shin Hye yang bersandar di dinding dan memberi instruksi pada gadis itu untuk mengikutinya ke dapur.

“Kebetulan sekali, aku tadi sempat menjerang air. Kau mau minum apa? Teh? Susu?” Yonghwa menoleh kearah Shin Hye yang berdiri disampingnya. Diam saja. Sepertinya ia harus mengerahkan seluruh kecerewetannya malam ini. “Oke. Teh saja. Tidak untuk kopi malam ini. Setelah ini kau akan butuh tidur berkualitas tanpa kafein.”

Dengan cekatan, tangan Yonghwa meraih dua cangkir bewarna oranye, menuangkan air panas hingga memenuhi tiga perempat cangkir, mencelupkan kantong teh, lalu disusul beberapa butir gula batu.

Sekali lagi, Yonghwa memberi instruksi pada Shin Hye untuk mengikutinya. Kali ini ke halaman belakang coffee shop yang berupa petak sempit dengan tiap sisi ditanami oleh aneka ragam tumbuhan yang dirawat oleh Yonghwa sendiri.

Keduanya akhirnya menghenyakkan diri di bangku panjang dibawah pohon apel.

“Ingin cerita?” Yonghwa menyodorkan salah satu cangkir teh ke Shin Hye. “Paling tidak kau harus pulang ke rumah dengan hati yang lebih lega.”

Shin Hye, yang mengenggam sisi cangkir dengan kedua telapak tangannya menelengkan kepala, tampak berpikir sejenak. “Aku dan Geun Seuk oppa baru saja putus.”

Kedua alis Yonghwa terangkat. Ia mendadak teringat pria- yang baginya –berwajah sangat mengesalkan dan dulu sering menjemput Shin Hye tiap gadis itu menyelesaikan shift kerjanya. Hingga sekarang, ia sering bertanya-tanya, apa yang dilihat Shin Hye dari pemuda jelek itu hingga mau menjadi kekasihnya. Secara tampang, Yonghwa tidak kalah. Secara finansial, Yonghwa menang telak dibanding Geun Seuk yang hanya seorang freelancer perusahan advertising.

“Lalu? Kurasa, jika hanya sekedar putus, kau tidak akan sampai menangis hebat seperti ini hingga lupa bekerja dan lupa menghubungi bosmu untuk minta ijin.”

Yonghwa ikut tersenyum ketika mendengar Shin Hye tertawa kecil. Pipi gadis itu bersemu merah karena sindirannya. Tetapi ekspresinya berubah kembali keruh ketika meneruskan ceritanya. “Geun Seuk oppa berselingkuh. Dengan putri pemilik perusahaan tempat ia bekerja. Dan kau tahu apa yang dikatakannya ketika aku minta penjelasan? Tentu saja aku lebih memilih Geun Young daripada dirimu. Jika aku berpacaran dengan Geun Young aku bisa mengalami perkembangan karier. Sementara kau? Kau hanya pelayan coffee shop. Sama sekali tidak menjanjinkan. Siapa yang tidak sakit hati jika didepak seperti itu?”

Yonghwa mencengkeram cangkir di tangannya dengan penuh tekanan ketika merasakan kemarahan tiba-tiba menjalari hatinya. “Di perusahaan pamanku, ada mesin penggiling kopi raksasa. Sepertinya asyik sekali jika kita bisa memasukkan pacarmu yang jelek itu kedalam mesin tadi dan menggilingnya hingga menjadi bubuk kopi.”

Yonghwa agak terkejut ketika mendengar Shin Hye tertawa. Awalnya hanya kikik kecil kemudian gadis itu mulai terbahak-bahak. Dan selama beberapa detik Yonghwa merasa kehilangan kata-kata karena terpesona.

“Ada-ada saja,” Shin Hye menggeleng-gelengkan kepala untuk menguasai diri. “Meskipun idemu sangat menggoda, melakukan tindak kriminal untuk membalas tindakannya bukanlah ide yang baik. Dan ingat, dia bukan pacarku lagi. Dia hanyalah mantan yang harus segera dilupakan.”

Yonghwa mengangguk. Julukan ‘mantan yang harus dilupakan’ bagi pemuda jelek itu memang sangat pantas dan . . . berarti banyak bagi Yonghwa.

“Tapi, membayangkan Jang Geun Seuk bodoh itu melolong kesakitan karena masuk penggilingan membuatku mau tidak mau tertawa, pasti lucu sekali,” Shin Hye kembali terkikik. “Mood-ku jadi sedikit membaik.”

Senyum di bibir Yonghwa meluntur. “Hanya sedikit?”

“Melupakan rasa patah hati tidak mudah,” Shin Hye mengangkat bahu kemudian menyeruput teh dari cangkirnya.

“Memangnya apa yang biasanya kau lakukan untuk memperbaiki mood?”

Shin Hye mengerutkan kening, tampak berpikir sejenak. “Berkebun, jalan-jalan, makan makanan enak, kemudian banyak mengobrol dengan orang lain seperti saat ini.”

Yonghwa mengangguk-angguk. Diam-diam membuat rencana dalam otaknya.

“Aigoo, sudah hampir tengah malam,” pekik Shin Hye ketika mengecek jam di pergelangan tangannya. “Aku harus segera pulang atau ibu akan membunuhku.”

Gadis itu bergegas bangkit kemudian berlari-lari kecil kearah pintu belakang yang langsung menuju dapur dengan sebelah tangan yang menahan ponsel di telinganya, sepertinya berusaha menghubungi taksi.

.

.

“Aku bisa mengantarmu pulang,” saran Yonghwa ketika ia dan Shin Hye berdiri di depan coffeshop. Menunggu taksi pesanan Shin Hye datang.

“Tidak, terimakasih, lagipula taksiku sudah datang,” Shin Hye menunjuk taksi biru yang mendekat dan tak lama kemudian berhenti tepat dihadapan mereka.

Shin Hye segera menarik kenop pintu taksi dan masuk, kemudian menjulurkan kepalanya melalui jendela. “Aku benar-benar berterimakasih banyak pada oppa.”

Yonghwa mengangguk kemudian mengulurkan sebelah tangannya untuk mengacak-acak rambut Shin Hye. “Tidak perlu berterimakasih. Segera pulang dan beristirahatlah. Aku akan memotong gajimu jika kau sampai bolos lagi besok.”

Shin Hye hanya terkekeh sebelum menaikkan jendela taksi dan perlahan-lahan taksi yang ditumpangi gadis itu mulai bergerak.

Yonghwa mengawasi taksi yang ditumpangi Shin Hye hingga menghilang di telan keramaian lalu lintas Hongdae yang tak pernah mati.

Mendadak, pemuda itu merogoh saku celana jeans­­-nya ketika teringat rencana kecil yang belum sempat ia beritahukan pada Shin Hye karena taksi gadis itu datang lebih dulu.

To : Park Shin Hye

Karena besok hari senin dan coffee shop libur, bagaimana jika kau membantuku mengurusi kebun di petak belakang? Setelah itu kita bisa memasak di dapur kemudian mengobrol lama. Orang yang sedang patah hati butuh kesibukan sebagai pengalih perhatian kan?

Sent

fin

 cerita mana yang jadi favoritmu?

silakan berbagi tentang kesan, kritik, saran, maupun bentuk apresiasi lainnya di comment box🙂

27 thoughts on “Coffee Shop (Oneshoot)

  1. suka banget sama partnya yonghwa shinhye,walaupun ceritanya shinhye baru putus dan sedih. tapi yonghwa membuang mood shinhye yang buruk dengan baik^^

  2. Always YongShin,, d sni crta.a jg keren,, y0ngppa bs buat m0od.a hye e0nni jd lbh baik,, yya mskpun br pts dr geunsuk oppa, y0ngppa bs menjlankn peran.a dg baik bgt,, jd pnasaran sma kelanjutn crta.a,, hehe daebak dah p0kok.a th0r,,😉

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s