[FF Freelance] Look at Me! (Oneshot)

look at me

Title : Look at Me!

Length : Oneshot

Cast :

– Kim Ryeowook (Super Junior)

– Im Yoona (SNSD)

– Lee Donghae (Super Junior)

Other Cast :

– Jessica Jung / Jung Sooyeon (SNSD)

– Kwon Yuri as Kim Yuri (SNSD)

– Kim Jong Woon/ Kim Yesung (Super Junior)

Genre : Romance, Sad, School Life

Rate : Teen (15+)

Author : Park Sang Gun (Arinayoonaddict)

Note     : Jika ada kesamaan judul dengan FF lain harap dimaklumi karena itu sudah menjadi hal biasa. FF ini asli buatan saya, tidak ada jiplakan sama sekali. Happy Reading^^

Look at Me!

RYEOWOOK POV

                Aku, namja yang selalu merasakan kesedihan di saat jatuh cinta di bangku SMP. Mungkin, di SMA ku yang sekaligus menjadi kehidupan baruku juga akan bernasib sama seperti saat aku duduk di bangku SMP. Sungguh menyedihkan takdir ini, aku ingin ini semua terhenti! Aku juga ingin bahagia dengan kisah cintaku. Aku selalu iri pada mereka yang bahagia menjalani kisah cintanya. Kapan aku bisa merasakannya? Oke, mungkin saat aku masih di bangku SMP aku memang bahagia menjalani cintaku. Tapi sayang, cinta itu hanya sepihak.. Hanya aku saja yang bahagia menjalaninya, Aku terlalu percaya diri bahwa ia akan menyukaiku.. Kepercayaan diriku itu sangat melenceng dan bertolak belakang dengan kenyataan yang ada, ia hanya menyukai namja lain yang memang sudah jelas bukan diriku. Inilah yang kusebut dengan kesedihan, itulah perasaan yang selalu aku rasakan saat aku jatuh cinta. Hanya bahagia sepihak, hanya bahagia dimana ia seperti memberiku harapan yang langsung aku simpulkan bahwa itu sebuah kode darinya yang menyatakan ia juga menyukaiku. Bodohnya aku bisa berpikiran seperti itu, itu semua hanya angan-anganku saja.

**

                Pagi yang cukup cerah ini telah mengubah rasa sedihku menjadi semangat yang berkobar-kobar. Entah mengapa aku sesemangat ini, padahal aku selalu malas pergi ke sekolah. Aku berangkat ke sekolahku memakai sepeda. Apakah kalian bertanya mengapa aku tidak pergi memakai mobil? aku ini bukan berasal dari keluarga berada(*wookie curcol.. #plak! Ditampar Ryeosomnia). Aku hanya berasal dari keluarga sederhana, yah.. Setidaknya aku masih bisa membeli laptop, dan gadget lainnya dengan kata lain aku bukan orang yang kaya dan juga bukan orang yang miskin.

                Aku menyusuri jalanan ini dengan santainya sambil menaikki sepedaku. Sampailah aku ke depan pintu gerbang sekolahku, sekolahku memang megah dan dipenuhi oleh orang-orang kaya. Sebenarnya, aku memang tidak mungkin bisa masuk sekolah ini, ini semua berkat eommaku yang memang sudah merencanakannya dari awal. Ia sudah menabung lebih awal untuk memasukkanku ke sekolah ini. Aku sempat menolak masuk sekolah ini karena tak mau uang tabungan eommaku ludes karena biaya masuk sekolah yang megah ini. Tapi apa daya, aku juga harus menuruti keinginannya karena jika dipikir-pikir kasihan juga apabila keinginannya aku tolak, beliau sudah berusaha mati-matian dari awal hanya untuk memasukkanku ke sekolah nan megah ini.

                Aku mulai memasukki gerbang sekolah itu dan menuju ke parkiran sepeda. Kuparkirkan sepedaku disana.

                Aku cukup populer di sekolah ini, bahkan aku mempunyai julukan dari orang-orang yang mengidolaiku. “Namja imut” itulah julukanku. Tapi banyak juga yang menyebutku “Meotjin Namja” apakah aku se-imut dan se-keren itukah sampai-sampai banyak yang mengidolakanku. Tapi ada pula yang lebih populer dariku, nama namja itu “Lee Donghae” mungkin dia itu sainganku.. Dia pintar sama sepertiku, dia pandai berolahraga sama sepertiku, dia bisa berakting saat pertunjukkan theater sama juga sepertiku. Aku bisa bernyanyi, begitu juga dengannya. Tapi sepertinya suaraku lebih bagus dibandingkan dengannya. Bukan hanya aku yang berkata seperti itu, banyak sekali yang berkata seperti itu. Tapi dia tak bisa bermain gitar, dan aku bisa. Bakat bermain gitarku itu tak dimiliki olehnya, tidak seperti bakatku yang lainnya yang memang dia juga bisa melakukannya.

                Aku mempunyai sahabat yang tidak kalah tampannya, Kim Jong Woon yang akrab dipanggil Yesung. Sahabat yang paling pengertian terhadapku. Aku memanggilnya dengan sebutan “Hyung” karena usianya lebih tua enam bulan denganku.

AUTHOR POV

                Ryeowook mulai menyusuri koridor sekolah. Langkahnya terhenti di depan kelas X-1 dan mulai memasuki kelas itu. Dia mulai mendudukki kursi yang biasa ia tempati.

“Wookie-ah!” sapa Yesung teman sebangku Ryeowook. “Ne, hyung! Apa kabar?” balas Ryeowook. “Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?” jawab Yesung, “Sama sepertimu, hyung” balas Ryeowook.

**

                Teng.. Teng.. Teng.. (Bel sekolah berbunyi)

                Di dalam kelas X-1

                “Kita cukupkan pelajaran sampai sini, sampai jumpa minggu depan” ujar Teuk Sonsaengnim. Siswa di kelas itu tampak sibuk menyapu barang-barangnya yang berantakkan di atas meja.

                Di koridor

                “Wookie, temani aku sampai aku dijemput supirku, ya?” pinta Yesung sambil mengeluarkan puppy eye’s nya. “Ck.. Ne,ne arra..” jawab Ryeowook pasrah. Setelah sepuluh menit kemudian, ponsel Yesung berdering. Ia mulai merogoh sakunya dan dikeluarkannya ponsel yang berdering itu lalu menjawab panggilan yang tertera diponselnya. “Yeoboseyo” ucapnya. “Ah, ne.. ne… Aku akan segera kesana” ujarnya lagi. “Wookie-ah, aku sudah di jemput, kau tak usah mengantarku sampai depan gerbang. Aku bisa sendiri, gomawo-yo! Jalja-yo!” ujar Yesung berpamitan. Ia langsung berlari sembari melambaikan tangannya pada Ryeowook. Ryeowook memajukkan langkahnya ke tempat parkiran sepeda yang memang dekat dengan taman sekolah. Ia mulai menaikki sepedanya. Belum sempurna ia duduk di jok sepeda, perlahan ia mengubah posisi tadi menjadi berdiri tegap. Ia melakukan itu karena melihat sesosok insan wanita yang sedang terduduk di kursi taman sambil menangis. Ryeowook menghampirinya. “Sedang apa kau di sini?” tanya Ryeowook penasaran, namun yeoja itu masih menangis dan menundukkan kepalanya. “Ya.. Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?” ujarRyeowook kesal. Yeoja itu masih tak berkutik. “Ck..” gumam Ryeowook. Akhirnya Ryeowook berjongkok di depan yeoja itu lalu menatap wajah yeoja itu dari bawah.”Kau ini kenapa? Sore-sore begini belum pulang.. Kau itu yeoja! Apakah kau tidak takut jika ada hal buruk terjadi padamu?” tutur Ryeowook. Yeoja itu langsung mengangkat kepalanya dan menatap Ryeowook. “Nuguya?” tanya yeoja itu singkat.”Kau tidak mengenalku?” ujar Ryeowook membalikkan pertanyaan. “Apakah kau Kim Ryeowook?” tanya lagi yeoja itu. “Ne, aku Kim Ryeowook. Lalu kau..”, “Im Yoon Ah, panggil aku Yoona” ucapan Ryeowook terpotong oleh yeoja bernama Yoona. Ryeowook menghela nafas sejenak. “Kau.. Yeojachingu Donghae?” ujar Ryeowook blak-blakkan. “Ne, itu benar” jawab Yoona lesu. “Ada apa? Apa aku menyinggungmu?”tanya Ryeowook khawatir. “Ani.. Kau tidak menyinggung perasaanku” jawab Yoona.”Lalu kenapa kau menangis?” tanya Ryeowook lagi masih dalam posisi berjongkok. “Duduklah di sini.. Agar lebih enak berbincang-bincang” tawar Yoona sambil menepuk tempat kosong di kursi panjang yang ia dudukki. Mendengar itu, Ryeowook mendudukkan tubuhnya di kursi taman itu. “Mengapa kau menangis? Maaf jika aku lancang padamu” ujar Ryeowook lembut. “Aku.. Hanya sedih, aku sedih melihat Donghae Oppa sangat dekat dengan yeoja lain..” ucapnya sambil menitihkan air mata.”Ya.. Jangan menangis lagi.. Ini! Pakailah dulu untuk menghapus air matamu” tutur Ryeowook sambil menyodorkan saputangannya. “Gamsahamnida Ryeowook-ssi” ucapYoona sambil tersenyum tulus. Ryeowook hanya membalas dengan senyuman hangat.”Kau tak dijemput oleh supirmu?” tanya Ryeowook heran, “Aku sedang menunggu, supirku selalu telat menjemputku” jawab Yoona. “Baiklah, akan kutunggu kau sampai supirmu datang menjemputmu. Tak apa kan?” Tutur Ryeowook, “Gamsahamnida Ryeowook-ssi, kau itu baru mengenalku, tapi kau sangat baik padaku. Sekali lagi, gamsahamnida” ujar Yoona. Sekali lagi, Ryeowook mengeluarkan senyuman hangatnya.”Kau itu namja yang imut, ya. Kau juga meotjin namja” puji Yoona. “Hahaha, ternyata kau menyadari itu” balas Ryeowook sambil nyengir kuda. Tiba-tiba ada lampu yang sangat menyilaukan mata. “Tin.. Tin..” suara klakson mobil yang baru saja memasukki area parkir. “Sepertinya supirku sudah datang, gamsahamnida telah menungguku.Jaljayo” pamit Yoona sambil melambaikan tangannya. Ryeowook membalas lambaianitu. Terlihat Yoona yang sudah memasukki mobilnya dan mulai meninggalkan sekolah.”Ya! Saputanganku!” teriak Ryeowook. “Ah.. Sudahlah.. Mungkin besok ia akanmengembalikkannya padaku” sambung Ryeowook. Ia mulai menaikki sepedanya. Dengan santainya ia menjalankan sepedanya. Ia terhenti di depan salah satu toko kue. Ia memarkirkan sepedanya, lalu memasuki toko itu. Ia tampak meilih-milih kue yang akan ia beli. Ada beberapa kue khusus untuk perayaan pesta ulangtahun atau pesta lainnya.”Aku mau membeli kue ini” ucap Ryeowook sambil menunjuk kue berukuran sedang yang berlumuran coklat dan strawberry. “Ne, tunggu sebentar. Kue ini akan segera dibungkus” ucap pelayan di toko kue itu. Ryeowook segera ke kasir untuk membayar kue tadi. Ia mengeluarkan uang dari dompetnya lalu menyodorkan uang itu.”Gamsahamnida, ini kuenya” ucap pelayan kasir itu. Ryeowook hanya membalas dengan senyuman sambil mengambil kue yang sudah dibelinya.

                “Aku pulang!” teriak Ryeowook saat memasuki rumahnya. “Kau sudah pulang,nak? Mari kita makan dahulu” ucap eomma Ryeowook. “Ne, eomma. Tapi aku punya sesuatu untukmu” ujar Ryeowook sambil memberikan satu kotak kue ulangtahun . Eomma Ryeowook tampak terkejut melihat isi di dalam kotak itu. “Wookie..” ucap Eommanya luluh. “Saengil chukkae, Eomma” ujar Ryeowook sambil tersenyum tulus.”Gomawo-yo wookie-ah” balas Eomma Ryeowook sambil memeluknya, memeluk anak yang sangat dicintainya. Hanya sebentar mereka berpelukkan, lalu mereka melepas pelukan itu. “Oppa! Kau sudah pulang?” ucap Yuri, adik kandung Ryeowook. “Ne, aku sudah pulang. Ayo kita makan bersama kue ini” jawab Ryeowook. “Wah… Ini kau yang membelinya, Oppa?” tanya Yuri lagi. “Ne, tentu saja” ujar Ryeowook sambil mengangkat kedua alisnya. Dengan bahagianya mereka memakan kue itu, tapi ada satu yang kurang yaitu Appa. Appa Ryeowook sering pulang malam, pendapatannya pun tidak seberapa. Eomma Ryeowooklah yang banting tulang di keluarga bermarga Kim itu. Appa Ryeowook terlalu memikirkan dirinya sendiri. Tapi walaupun begitu Ryeowook dan Yuri masih menganggapnya Appa.

dua tahun kemudian

RYEOWOOK POV

                Kini usiaku telah menginjak sembilan belas tahun. Dan adikku Yuri juga bersekolah di sekolah yang sama denganku karena ia mendapatkan beasiswa. Yuri duduk di bangku kelas XI-4 dan aku duduk di bangku kelas XII-2. Kini aku satu kelas dengan Yoona dan Donghae, sebelumnya mereka siswa di kelas sebelahku.

**

                Setiap istirahat makan siang ataupun sesudah pulang sekolah, aku sering melihatnya menangis di taman sekolah. Rupanya ia masih memakai sapu tanganku yang belum ia kembalikkan dua tahun silam. Aku heran dengannya, apa yang selalu ia tangisi? Apakah karena Donghae lagi? Aku sangat penasaran dengan jawabannya. Sayangnya, aku tidak begitu dekat dengannya, hanya sebatas teman biasa.

**

                Siang ini, aku ingin mengambil kembali sapu tanganku. Akan kutebak! Pasti Yoona sedang di taman sekolah. Aku segera ke taman sekolah untuk mencarinya. Bingo! Dia memang ada di taman, sedang duduk dan termenung. Sepertinya dia menangis lagi. Aku segera menghampirinya. “Yoona-ssi, apakah kau masih mengingatku?” tanyaku sambil mendudukkan tubuhku di sebelahnya. “Ng?.. Kim Ryeowook?” jawabnya tampak kaget. “Ne.. Aku Kim Ryeowook sang pemilik saputangan” ujarku blak-blakkan, “Ah! Mianhamnida.. Mianhamnida, aku lupa mengembalikkannya. Apakah ini sudah terlambat?” ujarnya merasa bersalah. “Hm.. Sebaiknya kau aku maafkan tidak, ya?” jawabku, aku sengaja berkata seperti itu agar Yoona terlihat semakin bersalah, hehehehehe. “Jaeballll… Maafkan aku Ryeowook-ssi. Tolong jangan marah padaku” ujarnya yang kini wajahnya terlihat semakin merasa bersalah dan terlihat sedikit panik. “Hahahahaha, baiklah akan kumaafkan. Lagipula aku hanya bercanda” ucapku sambil nyengir kuda. “Syukurlah kalau begitu. Tapi saputanganmu tertinggal di ruumahku” ucapnya “Mwo? Lalu, bagaimana dengan saputanganku? “. “Hm, aku akan mengembalikkannya padamu jika aku ingat untuk membawanya” tuturnya. “Baiklah.. akan kutunggu”. “Aku ingin tahu, kenapa tadi kau menangis? Coba ceritakan padaku!”, “Ani.. Aku tidak menangis” elaknya. “Mwo? Kau tidak usah berbohong! Nanti hidungmu jadi panjang” ucapku sambil menekan pelan ujung hidungnya dengan jari telunjukku. “Ah.. Hentikan Ryeowook-ssi, itu sangat geli” keluhnya saat aku menekan pelan ujung hidungnya. “Hahaha, makanya kau jangan berbohong. Coba ceritakan padaku!”, “Ne, akan kuceritakan. Sudah dua tahun aku menjalani hubungan ini dengan Donghae. Tapi dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini karena ada yeoja lain.. Jessica Jung namanya. Aku tidak ingin mengakhirinya, aku masih sangat mencintainya..! Sayangnya, dia itu namja Playboy! Sebelum kami putus pun dia selalu mendekati yeoja lain yang memang berwajah cantik. Seharusnya aku benci dengan sikapnya.. tapi aku sudah terlanjur menyukainya” tuturnya sambil menitihkan air mata. Aku hanya bisa menelan ludah mendengar ceritanya, aku tak mampu berkata-kata. Ternyata Lee Donghae namja Playboy!, tidak tersirat dari wajahnya yang menonjolkan sifat Playboynya!. Dasar nappeun namja. “Yoona-ahh, uljima!” ucapku sambil mengacak rambutnya pelan. “Aku akan berhenti menyukainya” ujarnya. “Mwo? Benarkah?” ,”Ne.. Itu benar” jawabnya lesu. “Klurkk krukk” terdengar suara dari perut Yoona. “Apa kau sudah makan?”. Dia hanya menggeleng pelan.”Ikut aku!” pintaku sambil menarik lengannya pelan.

YOONA POV

                “Apa kau sudah makan?” tanyanya. Aku hanya menggeleng pelan. “Ikut aku!” pintanya sambil menarik lenganku dengan pelan. Malunya aku, dia mendengar suara perutku.

Aku mulai takut pada fans Ryeowook. Mereka melototiku. Tapi aku tak menghiraukan mereka. Ryeowook membawaku ke kantin sekolah. “Duduklah di sini, aku akan memesan makanan” titahnya. Aku hanya duduk manis sembari memperhatikannya yang sedang sibuk mengambilkan makanan. “Ini, makanlah! Kalau kau tidak makan pasti kau akan sakit” titahnya lagi. “Baiklah, aku akan memakannya. Gamsahamnida Ryeowook-ssi” ucapku sambil tersenyum kecil. “Mulai sekarang, jika kita sedang berbincang-bincang jangan sekali-kali menggunakan bahasa formal. Kita kan sudah kenal lama” pintanya. “Baiklah, aku mengerti Wookie” balasku. “Ternyata kau tahu panggilanku” balasnya, “Tentu saja aku tahu! Aku sudah tiga bulan satu kelas denganmu”, “Baiklah, mulai sekarang kau memanggilku ‘Wookie’ dan aku akan memanggilmu ‘Yoong’ ” ujarnya. “Kalau aku tidak mau bagaimana?” tanyaku jahil. “Kalau kau tidak mau, akan kutekan lagi ujung hidungmu seperti tadi. Hahahahaaha” jawabnya sambil tertawa, “Ng..! Kau jahat!” erangku sambil memukul punggung Ryeowook. Kami hanya tertawa bersama akan perbincangan ini. Aku senang jika berada di dekat Ryeowook. Setelah puas berbincang-bincang, kami langsung melahap hidangan yang sedaritadi ada di depan mata.

**

AUTHOR POV

Teng.. Teng… Teng..

di kelas XII-2

Siswa-siswi berbondong-bondong keluar dari kelas sambil menggandong tas mereka masing-masing. “Hyung! Apakah supirmu sudah datang?” tanya Ryeowook,”Ne, supirku sudah menungguku di depan gerbang sekolah. Aku pulang dulu, jalja-yo!”jawab Yesung. Ryeowook hanya menatap punggung Yesung yang semakin kabur dimatanya.             Ryeowook menghampiri Yoona yang sedang berjalan melewatinya. “Yoong apa kau sudah dijemput?” tanya Ryeowook sambil menepuk pelan pundak Yoona, “Tidak, hari ini aku tidak dijemput.. Aku pulang naik bus” jawab Yoona.”Mau aku antarkan?” tawar Ryeowook, “Ani.. tidak usah, sepedamu kan hanya untuk satu orang” tolak Yoona. “Aku bisa menukar sepedaku dengan sepeda adikku, Yuri” balas Ryeowook keras kepala. “Apakah itu tidak merepotkan?” tanya Yoona lagi. “Ani, itu tidak merepotkan” jawab Ryeowook. Ryeowook segera mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Yuri.

To : Yuri

Yulll! Aku pinjam sepedamu ya! Ini darurat. Kau pakai saja punyaku.

Arrachi?:D

Di sisi lain, ponsel Yuri bergetar. Ia langsung melihat pesan yang tertera di ponselnya.

From : Ryeowook Oppa

Yulll! Aku pinjam sepedamu ya! Ini darurat. Kau pakai saja punyaku.

Arrachi?:D

“Dasar Wookie oppa! Ada-ada saja” keluh Yuri

To : Ryeowook Oppa

Ck.. Arraseo. Kau boleh meminjamnya.

Bergetarlah ponsel Ryeowook, lalu ia baca. “Ia bilang aku boleh meminjamnya, kajja kita pulang!” ujar Ryeowook sambil menarik pelan lengan Yoona.

di parkiran sepeda

                Ryeowook mulai menaikki sepeda Yuri, sepeda itu memiliki satu tempat untuk boncengan. Dengan ragu Yoona duduk di tempat boncengan sepeda itu, tepat dibelakang Ryeowook. Yoona duduk dengan posisi menyamping. “Lingkarkan lenganmu ke tubuhku agar kau tidak jatuh” titah Ryeowook. Yoona menuruti perkataan Ryeowook dan langsung melingkarkan lengannya di tubuh Ryeowook. Ryeowook mulai mengayuh sepeda bonceng itu. “Kau jangan mengayuh terlalu cepat wookie-ah” pinta Yoona. “Ne, akan kupelankan kecepatan mengayuhku agar kau nyaman dibonceng olehku” balas Ryeowook. “Deg.. Deg.. Deg..” detak jantung Ryeowook berdetak kencang. Bagaimana tidak? Yoona menyandarkan kepalanya di punggung Ryeowook sambil menutup keduap matanya. “Ya ampun.. Kenapa Yoona harus menyandarkan kepalanya di punggungku? Aku menjadi salah tingkah olehnya” batin Ryeowook. “Oh iya! Aku lupa menanyakan alamat rumahnya, dasar babo!” batin Ryeowook. Ryeowook menghentikkan laju sepedanya sejenak. “Yoong, dimana rumahmu?” tanya Ryeowook sambil menepuk pelan lengan Yoona yang sedang melingkar di tubuhnya. Alhasil, Yoona terbangun dari tidurnya. “Rumahku di komplek Gyungsan no.5” jawab Yoona masih setengah sadar. “Baiklah” balas Ryeowook singkat. Yoona kembali menutup kedua matanya. Cukup lama perjalanan yang mereka lalui dan akhirnya mereka tiba di depan gerbang pintu rumah Yoona. “Kita sudah sampai, Yoong” ujar Ryeowook lembut, Yoona membuka lagi kedua matanya dan mengangkat kepalanya dari sandarannya. Yoona turun dari tempat boncengan sepeda itu.”Gomawo-yo wookie-ah” ucap Yoona sambil tersenyum. “Cheonma-yo” balas Ryeowook. “Jangan menangis lagi, Yoong. Kau lebih cantik jika tersenyum” sambung Ryeowook sembari mengacak rambut Yoona dengan halus. Yoona hanya mengangguk. “Jalja-yo” pamit Ryeowook sambil melambaikan tangannya. “Hati-hati, wookie-ah!” sahut Yoona.

**

Siang hari di kantin sekolah

                “Wookie! Bukuku tertinggal di kursi taman sekolah. Antar aku mengambilnya sekarang!” pinta Yoona kepanikan, “Ne.. Akan kuantarkan” balas Ryeowook malas. “Kajja!” ujar Yoona sambil menarik lengan Ryeowook. Mereka berlari-lari di koridor. Tak peduli banyak orang yang sedang melototi mereka. “Ppali, wookie-ah!” teriak Yoona.

                Sampai di taman, Yoona panik mencari bukunya. “Memangnya sepenting apa buku itu sampai-sampai kau panik begitu” racau Ryeowook. Yoona tak berkutik, hanya mencari dan mencari. Sejenak, ia berhenti mencari. Yoona mematung setelah apa yang ia lihat. Ryeowook juga ikut mematung setelah apa yang baru saja ia lihat. Yoona mulai menitihkan air matanya. Bagaimana tidak? Donghae dan Jessica sedang melakukan kiss. Ryeowook tak tega membiarkan Yoona menangis, ia menarik tubuh Yoona dengan halus ke dekapannya. “Hiks.. Hiks..” tangis Yoona. “Sudahlah! Uljima!” teriak Ryeowook. “Lebih baik kita pergi dari sini!” sambung Ryeowook.

                Sambil berjalan perlahan, Ryeowook menenangkan hati Yoona. “Sekarang aku mengerti kenapa kau sering menangis akhir-akhir ini” ucap Ryeowook. Yoona tak berkutik, Yoona terlalu sakit untuk berbicara. “Yoona-ah.. Kenapa kau harus menyukai namja seperti itu? Kenapa kau harus menyukai namja yang sudah menyakitimu? Mencampakkanmu!. Masih ada namja yang lebih baik darinya. Apakah aku tidak bisa mengisi ruang di hatimu? Kenapa harus dia yang selalu ada di hatimu? Dan kenapa aku harus merasakan kesedihan ini lagi? Kesedihan yang pernah terjadi saat aku masih dibangku SMP?” batin Ryeowook. Ryeowook menatap sendu wajah Yoona. Isak tangisnya masih terdengar di telinga Ryeowook.

**

                Setelah pulang sekolah, Ryeowook mampir sebentar ke Gereja. Ia mulai memasuki Gereja itu dengan perlahan tapi pasti. Ia mulai berdo’a di dalam sana.

Ya tuhan.. Aku ingin yeoja yang aku cintai melupakannya. Aku ingin dipandangolehnya. Aku tak mau merasakan kesedihan ini lagi, aku ingin bahagia dengannya,bahagia dan tertawa seperti pasangan yang lainnya. Aku ingin Yoona mencintaiku.

Amin..

Ryeowook menitihkan air matanya di saat ia berdo’a. Ryeowook tak hanya menyukai Yoona, Ryeowook sangat mencintainya. Sedangkan Donghae? Donghae hanya menyukai Yoona saja, tidak mencintainya. Yoona memang salah dari awal, kenapa ia harus menerima Donghae?.

**

                Sabtu pagi ini, Ryeowook berniat untuk mengajak Yoona untuk berdo’a di Gereja. Ryeowook mulai beranjak ke rumah Yoona memakai sepeda milik Yuri. Ryeowook memberi pesan ke ponsel Yoona saat ia sudah sampai didepan rumah Yoona.

To : Yoong

Cepat keluar rumah! Aku sudah di depan pintu gerbang rumahmu.

“Drett.. Dret..” ponsel Yoona bergetar, ia pun segera membaca isi pesan itu.

From : Wookie

Cepat keluar rumah! Aku sudah di depan pintu gerbang rumahmu.

Tanpa pikir panjang, Yoona segera pergi ke depan pintu gerbang untuk menemui Ryeowook.

“Ada apa kemari?” tanya Yoona. “Aku hanya ingin mengajakmu ke Gereja. Mungkin kau punya sesuatu untuk dido’akan” jawab Ryeowook terus terang. Yoona manggut-manggut memberikan kode bahwa ia mengiyakan ajakan Ryeowook. Mereka layaknya pasangan, Ryeowook yang mengendalikan sepeda sedangkan Yoona duduk di belakang Ryeowook.

                Mereka sampai di Gereja. Seperti biasa, Ryeowook memakirkan terlebih dahulu sepeda boncengnya. “Kajja! Kita masuk kedalam” sahut Ryeowook.

Mereka mulai berdo’a.

Tuhan.. Aku mohon, bantu ia melupakan Donghae. Aku tidak mau ia menangiskarena Donghae. Kapan ia bisa menyadari keberadaanku? Yang selalu ada disisinya. Aku ingin ia menyadari bahwa aku ada di sampingnya untukmenemaninya atas dasar ketulusan cinta. Amin (Do’a Ryeowook)

Tuhan, aku ingin ia menyukaiku lagi. Aku ingin Donghae kembali kepelukkanku.Hatiku terlalu sakit melihatnya bersama yeoja lain. Apakah aku harusmelupakannya? Dan apakah aku harus mencintai namja lain yang lebih baikdarinya? Yang lebih tulus mencintaiku? Seandainya ada namja yang seperti itu,tolong takdirkan namja itu bersamaku. Amin (Do’a Yoona)

Mereka menghela nafas dalam-dalam lalu membuangnya. “Apa kau sudah selesai?” tanya Ryeowook, Yoona menangguk.

**

Saat istirahat pertama

                “Ya! Donghae-ya! Kembalikkan!” teriak Yoona di dalam kelas sambil mengejar-ngejar Donghae yang telah mengambil tempat pensilnya. “Tangkap aku kalau bisa!” olok Donghae. “Ya!” Teriak Yoona lagi sambil memukuli badan Donghae layaknya anak kecil yang sedang bercanda. Ryeowook memperhatikan perilaku mereka berdua dengan seksama. Ia cemburu melihatnya, ia mengeraskan kepalan tangannya seakan-akan menonjok dengan hantaman keras. Ia tak tahan melihatnya, dan ia putuskan untuk keluar kelas menuju balkon di luar kelas itu. Ia membiarkan angin mengelus rambutnya, ia menatap langit dengan tatapan iba. Masih terlihat jelas pemandangan buruk tadi. Saking marahnya, Ryeowook menghantamkan satu pukulan keras ke dinding balkon. Darah menetes dari kepalan tangannya. Menyadari kepalan tangannya berdarah, ia segera ke ruang UKS untuk diberi perban dan diobati.

                Setelah selesai diperban dan diobati, ia kembali lagi ke kelasnya. Dengan wajah masam, ia masukki kelasnya itu. “Wookie! Tanganmu kenapa?” tanya Yoona khawatir sambil memegang lengan Ryeowook. “Aku tidak apa-apa” jawab Ryeowook ketus sambil menepis tangan Yoona dan kembali ke tempat duduknya. Yoona mengernyit, ia heran dengan perilaku Ryeowook.

**

                Seperti biasa, Ryeowook beranjak ke tempat parkir untuk mengambil sepedanya. Dari belakang Yoona berlari-lari kecil mengejar Ryeowook. “Wookie! Apa kau bisa mengendalikan sepepda itu? Tanganmu kan masih sakit” tutur Yoona khawatir. “Tak apa, aku bisa. Kau tidak usah khawatir, Yoong” balas Ryeowook lembut. “Bagaimana kalau kau kuantar pulang bersama supirku? Dan sepedamu dimasukkan ke bagasi mobilku” tutur Yoona, “Ani-yo! Itu merepotkan” tolak Ryeowook. “Sudahlah, aku tidaksuka dikasihani” ketus Ryeowook. “Bukan begitu maksudku, aku hanya ingin membalas budi karena kau pernah mengantarku pulang” ujar Yoona. “Baiklah, aku hargai perlakuanmu” ujar Ryeowook datar. Tak lama kemudian supir pribadi Yoona datang sambil membawa mobil yang besar itu. Yoona tampak sedang berinteraksi dengan supirnya. “Kajja Wookie!” sahut Yoona. Yoona dan Ryeowook memasuki mobil besar itu sedangkan supirnya sedang memasukkan sepeda Ryeowook ke bagasi mobil.”Brum.. Brum..” mobil siap melaju. “Oh iya! Rumahmu di mana?” tanya Yoona didalam mobil, “Rumahku di Komplek Sundong no.20” jawab Ryeowook tanpa memandang wajah Yoona. “Baiklah, tolong antarkan aku ke Komplek Sundong no.20” pinta Yoona, “Ne, arraseo Yoona-ssi” jawab Supir itu.

Di depan gerbang pintu rumah Ryeowook

                “Gomawo-yo, Yoong” ucap Ryeowook berterimakasih, “Cheonma-yo” balas Yoona sambil tersenyum. “Aku pergi dulu ne? Jalja-yo” ucap Yoona.

 

RYEOWOOK POV

                “Gomawo-yo, Yoong”, “Cheonma-yo” balasnya sambil tersenyum. “Aku pergidulu ne? Jalja-yo” ucapnya lagi, tapi sebelum ia pergi ia berhasil mengejutkanku terlebih dahulu. Ia memelukku. Itu sungguh pelukkan yang hangat, senang sekali rasanya dan sepertinya mukaku memerah. Rasa sakit di tanganku juga berkurang.

                Ia langsung memasukki mobil mewahnya dan pergi meninggalkanku. Aku sungguh tak habis pikir, kenapa dia memelukku? Apakah dia mulai menyukaiku? Arggghhhh.. Aku tidak boleh terlalu percaya diri.

**

                Siang hari di Taman Sekolah

                Aku mencoba pergi ke Taman untuk merileks-kan tubuhku. Dan aku melihat kejadian itu lagi, ya ampunnn itu sudah berulang kali terjadi dan sekarang kembal iterjadi. “Yoong-ah! Waeyo? Kenapa kau menangis lagi?” tanyaku sambil mendekatinya. Dia tak menjawab pertanyaanku. “Yoong-ah.. uljima..” ucapku sambil sekilas mengusap puncak kepalanya. “Wae? Ada apa? Kenapa kau menangis lagi?”. “Ani, nan gwaenchana-yo” ucapnya berbohong, “Aku tahu kau sedang berbohong”. “Entahlah, tapi aku belum bisa melupakkannya.. Hikss..” rintihnya. Sudah kuduga! Dia memang masih menyukai Donghae. “Kenapa kau harus menangisi orang seperti itu?” tanyaku yang membuatnya mendongakkan kepalanya. “Wae? Kenapa kau harus menangisi orangitu?!”. Dia semakin dalam melihat tatapanku. “Kenapa kau masih menyukai nappeun namja itu, hah! Dia telah menyakitimu Yoong! Sadarlah!” ucapku geram. “Wae-yo Ryeowook? Kenapa kau tiba-tiba seperti ini?” tanya Yoona heran. “Kenapa kau tak menyadari semua ini?!” gertakku. “Ya! Kau ini kenapa? Mana kau yang dulu? Yang selalu lembut terhadap yeoja? Dan sekarang kau malah menjadi kasar seperti itu?!” racaunya. “Mianhae.. Aku terlalu marah..” ucapku merasa bersalah. “Kau marah kenapa?” tanyanya. Sebenarnya aku tak kuat untuk menatapnya, tapi dia terlanjur menatapku. Tak mungkin aku langsung memalingkan wajahku. “Tidak.. Aku hanya terlalu stress saja. Lebih baik kita kembali ke kelas” ajakku mencoba memperbaiki keadaan. Dan sepertinya ia mau menurutiku.

YOONA POV

                Aku heran dengan sikap Wookie, tak biasanya ia seperti itu. Marah tiba-tiba tanpa alasan. Apa dia tak suka melihatku menangisi Donghae? Atau dia cemburu? Ah! Itu tak mungkin! Sadarlah Yoong! . “Kau sedang apa? Kenapa kau memukul kepalamu sendiri?” tanya Ryeowook yang berhasil membuatku terkesiap. “Eh.. Ani.. Aku hanya mencoba memukul kepala saja” ucapku yang menurutku terdengar aneh di telinganya.

**

AUTHOR POV

                Sore ini hujan turun cukup deras. Yoona yang sedang berada di Toko Buku terjebak tak bisa pulang.

                “Aish.. Bagaimana caranya aku pulang? Supirku tak bisa menjemput…” keluh Yoona. “Ah! Wookie-ku kan bisa menjemputku” ucapnya kegirangan. Ia mulai membuat pesan singkat untuk Ryeowook lewat ponselnya.

To : Wookie

Wookie! Tolong jemput aku di Toko Buku Dongidu.

Maaf merepotkan.

                “Drrt.. Drrt” ponsel Ryeowook bergetar di atas meja dekat Sofa yang tengah Ryeowook tempati. Ia segera mengambil ponselnya. Dilihatnya layar yang menyala itu. “Hmm.. Ada apa Yoona memberiku sebuah pesan?” ucap Ryeowook.

From : Yoong

Wookie! Tolong jemput aku di Toko Buku Dongidu.

Maaf merepotkan.

To : Yoong

Baiklah, aku akan segera berangkat ke sana

Tunggu di sana, jangan kemana-mana!

                “Bip!”. Ryeowook segera mengambil baju hangat dan membawa payung. “drrap drrap drrap” Ryeowook berlari dan terus berlari agar pujaan hatinya tidak menunggu lama.

                Ryeowook hampir sampai ke tujuan akan tetapi langkahnya terhenti oleh seseorang yang sangat Ryeowook benci saat ini. Ryeowook hanya memandang Yoona dan namja itu. “Wookie! Kau pulang duluan saja, aku akan pulang dengannya” seru Yoona sambil menunjuk namja di sampingnya yaitu Lee Donghae. “JLEBB” hati Ryeowook sangat sakit mendengar pernyataan itu. “ANDWAE!!!” teriak Ryeowook. “Wae?” tanya Yoona polos. “Dia kenapa? Apa dia tak suka aku mengantarmu pulang?”tanya Donghae. Yoona hanya geleng-geleng kepala. “Yoong! Aku sudah membelakan diriku untuk kemari, tapi apa?! Balasannya aku hanya diusir olehmu! Sampai jumpa, jangan panggil aku lagi jika kau membutuhkanku. Dasar nappeun yeoja!” racau Ryeowook penuh emosi.

                Ryeowook membalikkan badannya dan berjalan pasrah. Sekilas Yoona dan Donghae saling bertukar pandangan. “Wookie! Jamkkanman! Bukan begitu maksudku!” teriak Yoona sambil berlari – lari kecil untuk menyusul Ryeowook. Alhasil Yoona berhasil menggapai lengan Ryeowook. “Aku ingin bicara sebentar” ucap Yoona terus terang.

                “Kenapa kau masih tidak mengerti?” tanya Yoona. “Mengerti apa? Apa yang kau maksud?” jawab Ryeowook ketus. “Kau seharusnya mengerti dan membiarkanku pergi bersama Donghae Oppa! Itu kesempatan langka untukku!” racau Yoona. “Kau yang seharusnya bisa mengerti, Yoong. Kau terlalu egois! Asal kau tahu saja, aku sakit hati saat kau menyuruhku untuk pulang. Lalu apa artinya aku datang menjemputmu hah?!!” teriak Ryeowook lebih lantang. Yoona hanya memandang Ryeowook yang sedang emosi. Yoona tak percaya Ryeowook bisa sekasar itu padanya. “Kau ini kenapa? Kenapa kau berubah?” tanya Yoona lembut. “Aku tidak berubah, aku masih tetap Ryeowook yang dulu” jawab Ryeowook datar sambil memalingkan wajahnya.

Yoona menyentuh halus pipi Ryeowook dengan satu telapak tangannya. “Lihat aku! Kenapa kau berubah?” tanya Yoona lagi masih memegangi pipi kanan Ryeowook dan mulai menjatuhkan air matanya. “Jika kau mempunyai masalah atau apapun yang harus kau ungkapkan, ungkapkanlah! Jangan membuat itu menjadi beban di hatimu” tutur Yoona. “Jadi, aku harus mengatakannya padamu?” tanya Ryeowook sambil memandang wajah Yoona lekat-lekat. Yoona mengangguk.

                “Sebenarnya aku ingin mengatakan ini padamu dari awal. Tapi aku tak bisa, selalu banyak halangan untuk mengatakannya” tutur Ryeowook. “Aku cemburu melihatmu bersamanya, dan aku juga sangat kesal melihatmu menangisi namja bodoh itu! Dia tak mengerti perasaanmu, Yoong” racau Ryeowook. “Jaa.. Jjadi, kau marah karena aku menyukainya?” tanya Yoona lembut. “Ani.. Aku tidak marah tapi aku hanya kesal dan benci. Aku juga yang bodoh karena memarahimu tanpa alasan” ucap Ryeowook. “Dan aku juga yang bodoh, kenapa aku bisa mencintai yeoja sepertimu? Yeoja yang memang tak pernah bisa melihat keberadaanku, yeoja yang tak bisa memahami perasaanku. Dan yeoja yang berbuat seenaknya saja demi perjalanan cintanya” tutur Ryeowook. Matanyapun berkaca-kaca. “Kau mencintaiku? Tapi kenapa?!” tanya Yoona tak percaya, “Entahlah, Dirimu sendiri yang membuatku mencintaimu, Yoong”, “Sudahlah.. Mungkin besok kita tak akan bersama-sama lagi.. Dan aku mungkin tak akan ada di sampingmu lagi untuk menghentikanmu menangis, dan mungkin aku tak akan ada di sampingmu lagi untuk menemanimu menunggu supirmu menjemput, atau mengajakmu berdoa di Gereja. Jalja-yo” tutur Ryeowook pasrah sambil meninggalkan Yoona sendirian. Yoona hanya bisa menangis sambil memegangi saputangan Ryeowook yang dua tahun lalu ia pinjamkan untuk Yoona.

**

                Malam ini Yoona tampak bersiap-siap untuk pergi ke Rumah Ryeowook mengingat kejadian tak menyenangkan yang dialami mereka kemarin.

                “Tuk tuk tuk tuk tuk” “Permisi!” seru Yoona. Terbukalah pintu rumah Ryeowook dan keluarlah sesosok wanita yang kira-kira berumur enam puluh tahunan. “Ada apa kemari, anak muda?” tanya eomma Ryeowook. “Hm.. Aku kesini mencari Ryeowook, apakah dia ada di dalam?” tanya Yoona lembut. “Apakah namamu ImYoona?” tanya eomma Ryeowook, “Ne, aku Im Yoona” jawab Yoona. “Oh, ini ada secarik kertas yang ia titipkan padaku untuk memberinya padamu” tutur eomma Ryeowook. “Ahjumma, gamsahamnida” ucap Yoona, dan eomma Ryeowook hanya tersenyum. “Jika saya boleh tau, dimana keberadaan Ryeowook sekarang?” tanya Yoona. “Entahlah, ia hanya bilang bahwa ia akan pergi keluar sebentar” balas eomma Ryeowook.

                Yoona teringat kata-kata Ryeowook kemarin sore. Ia mulai membuka secarik kertas tadi.

Yoong.. Jika kau mencariku,

Temui aku di dekat Gereja yang biasa kita kunjungi

Carilah aku jika kau masih membutuhkanku

Asal kau tahu, aku tak ingin jauh darimu

Sangat berat bagiku untuk menjauhimu

Tapi aku tak terlalu berharap kau bisa selalu di sisiku

Saranghaeyo~

From : Wookie

                Dengan sekejap mata Yoona menjadi berkaca-kaca (cirambai bahasa sundanya mah *plak). Lalu ia melipat kertas itu dan ia masukkan ke saku hot pants-nya.

                Sampailah Yoona di Gereja yang Ryeowook maksud di dalam secarik kertas itu. Tapi ia belum bisa melihat keberadaannya Ryeowook.

                Ia berdiri di depan pohon besar yang ada di taman Gereja. Tiba-tiba ada sebuah pelukan hangat dari belakang tubuh Yoona. Yoona terkejut yang membuatnya langsung membalikkan badannya.

                “Wookie? Ini benar kau?” tanya Yoona masih tak percaya, “Ya, aku Wookie. Wookie yang selalu ada disampingmu” jawab Wookie tenang. Yoona memeluk erat tubuh Wookie, erat tapi hangat. Selang beberapa detik Yoona melepas pelukan itu.

                “Pertanda apakah itu? Kenapa kau memelukku?” tanya Ryeowook sambil menaikkan sebelah alisnya. “Apakah harus kujawab pertanyaanmu?” jawab Yoona membalikkan pertanyaan. “Ne, kau harus menjawabnya agar aku tahu” jawab Ryeowook sambil tersenyum tegar. “Karena, aku tak ingin kehilanganmu. Aku ingin kau masih disampingku dan yang terakhir, karena aku mencintaimu. Nan saranghaeyo Wookie” balas Yoona sambil tersenyum simpul.

                “Kenapa kau bisa mencintaiku?” tanya Ryeowook, “Karena kau yang selalu disampingku untuk menemaniku. Aku tak menyadari semua yang kau korbankan untukku. Ternyata kau melakukan ini karena kau mencintaiku. Aku baru menyadari hal ini. Mianhae telah membuatmu cemburu dan membuatmu kesal..” tutur Yoona sambil menundukkan kepalanya. “Ya.. Kau tak usah meminta maaf. Kau tak salah. Yang penting kita sudahbersama lagi dan tak ada yang boleh menghalangi kita”. Ryeowook menyentuh pipi Yoona pelan dan lambat laun Ryeowook mulai mencium bibir Yoona dengan lembut dan hangat. Cinta yang tuluslah yang membuat mereka selalu bersatu. Dan ini pertama kalinya Ryeowook mendapatkan balasan cinta dari pujaan hatinya.

**

Beberapa tahun kemudian

                “Eomma! Appa! Aku ingin itu!”, “Kau ingin apa Yoonwook?”, “Aku ingin balon itu” jawab namja kecil bernama Kim Yoon Wook. “Baiklah, untuk anakku tercinta, apapun akan Appa berikan” jawab  seorang Appa yang bernama Kim Ryeowook.

                “Ini balonmu, Yoonwook” ucap Yoona sekaligus Eomma dari Yoonwook. “Gomawo Appa, Gomawo Eomma!” ucap Yoonwook sambil memeluk kedua orangtuanya.

                Mereka Hidup bahagia. Yoona dan Ryeowook menikah sekitar lima tahun yang lalu dan dikaruniai anak laki-laki bernama Kim Yoonwook.

 

**

            Ketika Yoona,Ryeowook dan Yoonwook sedang berjalan-jalan di taman, mereka bertemu dengan teman lama Ryeowook dan Yoona.

            “Donghae-ssi!” seru Yoona sambil melambaikan tangannya. “Yoona-ssi?”.

Mereka bertiga menghampiri Donghae yang kebetulan sedang bersama Anae-nya, Jessica Jung dan juga anak perempuannya. “Sudah lama kita tidak bertemu” ujar Ryeowook. “Hahaha, benar juga. Wah.. wah.. wah.. anakmu lucu sekali,Wookie” balas Donghae. “Anakmu juga” balas Ryeowook. Yoona mencoba membungkukkan badannya agar tubuhnya di setarakan tingginya dengan anaknya. “Coba kau perkenalkan dirimu pada temanmu” bujuk Yoona sambil menunjuk anak dari Jessica dan Donghae. “Kim Yoonwook imnida” ujar Yoonwook sambil membungkukkan badannya. “Aigoo! cute sekali!” ujar Jessica. “Sekarang Giliranmu memperkenalkan diri” bujuk Jessica, “Annyeong, Lee Soo Jung imnida” ujar Soojung sambil membungkukkan badan. “Aigoo, lucu sekali mereka berdua. Akan lebih lucu jika sewaktu mereka sudah besar mereka berdua menjadi pasangan” ujar Ryeowook. “Betul! Dan kita bisa menjadi Keluarga” seru Donghae. “Hahahaha!” Yoona,Ryeowook,Donghae dan Jessica tertawa bersama dengan bahagianya. Yoonwook hanya tersenyum sambil melihat wajah Soojung, begitu juga dengan Soojung.

THE END

 

 

            Gimana readers? Rame ga? Mungkin author bakal bikin sequel dari cerita ini.

PLEASE COMMEN’T AFTER READ THIS FF!
DON’T BE A PLAGIATOR

13 thoughts on “[FF Freelance] Look at Me! (Oneshot)

  1. Wowww moment langka yang jarang terjadi thor..
    Yoonwook couple akhir nya nemu juga FF mereka..seneng thor ff nya keren trus feel nya dapet..
    Emg so sweet banget palli SEQUEL nya di tunggu Fighting 🙂

  2. Bagus thor. Akhirnya ryeowook bisa bahagia juga meski awalnya kisah cintanya sedih.
    hihi.
    ceritanya keren! Lanjut buat cerita lain yah thor. 😉

    • Hahaha, iya awalnya kasian banget Wookie nya :(, Gomawo atas komentarnya 🙂 aku bakal lanjutin FF yang lebih keren lagi deh 😀

  3. wow…. ceritanya bagus banget…. ga hanya happy ending… tp rencana ikatan keluarganya juga menarik…….

    two thumbs buat author….

    o y, btw salam kenal ya thor… aku readers baru di sini….

  4. aq mewek TTTT ,, huks huks huks suami aq kasian amat yak #peyukwook

    ahh aq kira yoona bakalan ninggalin wook,, ternyata dia sadar 🙂

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s