[FF Freelance] One Man (Oneshot)

one man cover

Title/Judul              : [One Shoot] One Man

Author                     : chagiya

Genre                     : Sad Romance, Kleenex Warning, Song Fic

Rating                     : T

Length                    : 4k+ words

Disclaimer              : It’s mind. But, unfortunately the cast not mind.. I’m just borrow their name.

Cast                        : Kim Jong Woon, Jung Hye Jin, Hwang Tae Woon.

Summary                                : Jong Woon dan Hye Jin sahabat sedari kecil. Dan kehadiran seorang Pria, bernama Tae Woon sempat merusak hubungan dua sahabat itu. Jong Woon sudah lama memendam rasanya kepada Hye Jin, namun dia enggan untuk mengatakannya karena ia tidak ingin hubungan sesama sahabat manisnya rusak karena cinta terlarangnya, akankah ia tetap pada pendiriannya? Atau ia akan mengatakan yang sesungguhnya?

 

AN: Please listen One Man by Yesung.

This Fanfiction, I’ve ever posted on my wordpress.

And ulzzang model is Yesung [Super Junior], Lee Ji Eun [ Ulzzang], that guy I forgot 😀

 

***

Sore Hari, Seoul

 

Seorang Pria merapatkan coat coklatnya. Cuaca sore ini dikabarkan akan ekstrem. Setidaknya begitu seperti yang diliput di televisi kecil yang saat ini ada dihadapannya. Pria berambut auburn hitam pekat itu meneguk teh hangat yang sedari tadi ada digenggamannya.

 

Dilanjutkan dengan menggosokkan kedua tangannya –yang terbungkus sarung tangan, yang kemudian kedua tangannya itu ia lekatkan dipipinya. Yang kata orang setidaknya bisa menghangatkan tubuh jika dicuaca dingin.

 

“brrr..” ujarnya bergidik kedinginan. Mata obsidiannya melirik kearah jendela. Rasanya, apa yang ditayangkan di televisi benar, salju akan turun semakin deras sore ini. Akhirnya, ia bangkit dari kursinya dan berjalan kearah jendela. Tangannya dengan lihai membuka jendela yang sudah terlihat berumur. Tak lama, kepalanya mendongak sedikit keluar melihat keadaan diluar sana dari tempatnya yang bisa dibilang tinggi. “woah~” bibir kecilnya bergumam menyaksikan salju yang tiba-tiba turun deras. Sedetik setelahnya, ia menutup jendela rapat-rapat. Dan suasana menjadi sunyi seketika.

 

Pria itu melangkah kembali menuju kursinya yang tadi didudukinya. Ia memandang kursi yang ada disebelahnya. Lalu tersenyum pahit. Disamping kursinya hanya ada sebuah kursi yang benar-benar kelihatan sudah tua.

 

“waaaa~~!! Rumah pohon kita sudah jadi!!!”

 

“ya!! Jung Hyejin! Jaga sikapmu! Kau itu wanita!!”

 

“aah~ ini benar-benar indah! Aku bisa melihat semuanya dari atas sini!! Gomawo Jongwoon!!”

 

“ya, cheonmaneyo, aku senang jika kau senang Jin-ah~, ah iya, aku hampir lupa.. kemari, kemari lihat ini..”

 

“wae? Wae? Wae?”

 

“aku membuat kursi ini, dari tanganku sendiri, yang satu untukmu, yang satu untukku.. lihat ada namanya, ‘kan?”

 

“woaaah~~ Jongwoon!! Neo! Neomu-neomu-neomu jjang!! Jjang!! Daebakk~!!”

 

 

Jongwoon tersenyum lembut mengingat hari pertama saat rumah pohonnya selesai dibangun. Oh, hari itu sungguh menyenangkan. Karena apa? Karena berkali-kali Hyejin refleks memeluk Jongwoon dan berterimakasih karena rumah pohon itu.

 

Sebuah rumah pohon yang dibangun dua tahun lalu. Terlihat sangat kokoh ditengah-tengah ranting pohon jati yang ada di Myoungsan Park. Hanya ada satu pohon jati ditaman itu. Pohon yang begitu berdiri kokoh dipojok taman.

 

Jangan tanya bagaimana suasana malam jika kalian berada didalam rumah pohon itu. Sangat-amat romantis. Kalian dapat melihat kerlap-kerlip suasana malam. Dan tak lupa hembusan angin malam yang menyejukkan. Serta, wangi dedaunan ditaman itu yang amat menenangkan jiwa.

 

Namun, biasanya disana ada dua makhluk yang mendiami rumah pohon itu. Yakni, Jung Hyejin dan Kim Jongwoon. Mereka berdua hanya teman sedari kecil. Awalnya suasana rumah pohon itu memang begitu harmonis. Begitu ramai, karena bibir seorang Hyejin itu memang bisa dibilang mengeluarkan suara diatas rata-rata. Dan juga Hyejin adalah seorang wanita yang pandai berulah. Hingga membuat rumah pohon itu ramai 24 jam.

 

Namun, keramaian itu lenyap saat kedatangan Hwang Taewoon dalam hati Hyejin.

 

“tragis..” ucap Jongwoon lirih. Matanya masih memandangi kursi kosong disebelahnya. Jari-jari kecilnya meraba tempat bersandar kursi itu. Dibagian atasnya terlihat jelas tulisan, “Jung Hyejin”. Jongwoon menghirup perlahan aroma jati yang berbekas di jempolnya. Menyakitkan.

 

“hhh~” Jongwoon memandang lurus kedepan. Hanya ada sebuah televisi kecil yang sedari tadi dibiarkannya menyala. Jongwoon memandang televisi dihadapannya tanpa minat. Hingga perlahan, televisi itu menjadi keruh dan keruh. Mungkin karena salju yang semakin deras hingga merusak sinyal televisi itu.

 

Akhirnya, tangannya meraih remote televisi yang ada dikursi sebelahnya, karena ia berniat untuk mematikannya. Namun, bukankah permukaan kursi itu rata dan keras? Mengapa yang ia pegang itu begitu lunak? Jongwoon terus meraba kursi itu karena heran. Namun sedetik setelahnya, ia menoleh dan mendapati sesosok wanita diatas kursi itu.

 

Ia dengan cepat mengambil remote televisi itu dan mematikannya. Kali ini. Biarkan pria itu berkhayal setinggi langit ketujuh. Biarkan saja. “Jin-ah, Hyejin-ah..” gumam Jongwoon pelan. Ia tak henti-henti memandang sosok yang ada disebelahnya. Tak lama, ia tersenyum kecut. “mana mungkin Hyejin ada disini.. ayolah Jongwoon buka matamu!!” ucapnya seperti memberi sugesti pada dirinya sendiri. Lalu menepuk-nepuk pipinya pelan. Mencoba menyadarkan dirinya.

 

Karena tidak mungkin seorang Jung Hyejin, saat ini ada disampingnya.. sudah pasti, Hyejin saat ini sedang berpelukan dengan Taewoon untuk menghangatkan satu sama lain.

 

Jongwoon tersenyum menerawang. Sebegitu rindunya kah pada Hyejin? Mungkin.

 

Sudah sejak tiga minggu lalu, Hyejin tidak pernah main bersamanya di rumah pohon ini. Karena ‘kegiatan’nya bersama Taewoon pasti lebih banyak, daripada harus berdiam diri didalam rumah pohon ini.

 

Jongwoon sekali lagi menoleh kesamping, bayangan Hyejin masih ada disana. Jongwoon hanya bisa tersenyum memperhatikan bayangan itu. “seandainya kau nyata ada disini, Jin-ah~”

 

PLAAK~!!

 

Jongwoon tertegun. Ia meraba pipinya. Dan ternyata panas. Bagaimana mungkin seorang bayangan bisa menampar pipinya? Dengan ritme pelan, Jongwoon menoleh kearah sampingnya. Wajah Hyejin terlihat jelas dengan ekspresi yang.. “kau ini, selalu saja! Makanya jangan terlalu banyak menonton film kartun! Jadi tidak bisa membedakan mana yang nyata dan tidak, kan?”

 

Suara dengan nada sinis itu terngiang sempurna ditelinga Jongwoon. Lagi-lagi Jongwoon mengucek-ngucek matanya. Memastikan bahwa yang disampingnya adalah asli seorang Jung Hyejin. Jongwoon menyentuh-nyentuh bahu Hyejin dengan ujung telunjuknya. Ternyata benar, jari telunjuknya bisa menyentuh bahu Hyejin. Kalau misalkan Hyejin adalah bayangan, berarti jari telunjuk Jongwoon, ‘kan tidak bisa menyentuh bahu Hyejin.

 

“YA!! BABO! KAU PIKIR AKU INI HANTU HAH?!”

 

Jongwoon langsung mengelus-elus telinganya. Gadis itu memang cantik, namun jika sudah mengeluarkan jurusnya.. seluruh telinga akan panas. Namun, bagi Jongwoon.. suara yang setara dengan oktaf delapan itulah yang membuat harinya akan indah. Suara itu yang dirindukannya. Sebuah omelan kecil yang keluar dari bibir indahnya.

 

Jongwoon menoleh kearah Hyejin sambil menggaruk tengkuknya kaku. “b-bagaimana kau bisa disini? Tadi kursi ini masih kosong, lagipula diluar kan sedang deras saljunya.. makanya aku pikir kau hanyalah halusinasiku saja..” ucap Jongwoon dengan suaranya yang benar-benar polos.

 

Hyejin diam sebentar. Lalu tersenyum getir. “aku tidak tahu harus kemana lagi, dan hatiku mengatakan aku harus kerumah pohon ini..”

 

♪ Cham orae dwaettna bwaI mal jocha musaekhal mankeum

Ini sudah cukup lamaCukup lama untuk menjadikan kata-kata ini menjadi berwarna

♪Ne nunbinman bwado neol hwonhi da aneunNe chingucheoreom neoui geurimjacheoreom

Bahkan hanya dengan melihat matamu aku tahu segalanyaSeperti temanmu, seperti bayanganmu

 

Jongwoon mengerutkan keningnya, lalu membenarkan posisi duduknya karena mendengar ada garis keseriusan di ucapan Hyejin barusan. “apa maksudmu, Jin-ah? Tidak tahu harus kemana lagi?” Jongwoon bisa melihat dari mata gadis itu. Ada sesuatu buruk yang baru saja terjadi. Jongwoon semakin penasaran dengan itu.

 

Hyejin melirik jam putih dipergelangan tangannya. “aku baru saja putus dengannya.. baru 25 menit yang lalu. haha” Jongwoon senang? Iya, sejujurnya iya sangat senang. Tapi, apa ia harus senang jika teman tersayangnya itu sedang bersedih? Pilihan yang sangat membingungkan.

 

Jongwoon menatap wajah Hyejin yang perlahan berubah menjadi kelabu. Wajah itu masih menatap datar segala pemandangan yang ada dihadapannya. Jongwoon menarik napas, “bagaimana bis-?”

 

“simpel, dia ternyata hanya ingin tubuhku. Dia tidak sepenuhnya mencintaiku, mengenaskan ya?” ucap Hyejin dengan intonasi yang tak jelas. Bibir gadis itu, makin lama makin pucat. Juga, kancing kemeja bagian atasnya sudah tampak rusak. Seperti dibuka paksa oleh seseorang.

 

Jongwoon membelalakkan mata selebar-lebarnya. Seorang gadis yang dicintainya, hampir terancam keperawanannya. Jongwoon langsung menggenggam kedua bahu Hyejin. “neo gwaenchanha?! Apa kau terluka?! Cepat beritahu padaku!! Apa yang sakit? Dimana Taewoon sekarang, ha?! Biar aku hajar dia!!”

 

Hyejin menghela napas berat. “sudahlah, aku berhasil melawannya, untungnya aku masih ingat beberapa jurus judo yang kau ajarkan padaku, Woon-ah” Hyejin tersenyum memaksa kearah Jongwoon. Lalu perlahan menurunkan tangan Jongwoon yang tadi mencengkeram bahunya kuat, mungkin tadi Jongwoon terlalu emosi.

 

Jongwoon tahu, bagaimanapun indahnya senyum Hyejin, tetap saja saat ini sebenarnya Hyejin sedang menata hatinya agar tidak terlalu buruk. Dan, sebagai teman yang baik.. Jongwoon hanya bisa berpura-pura seolah kejadian menyakitkan temannya itu tidak pernah terjadi. “hiiy~ semakin dingin saja.. apa kau mau sesuatu, Jin-ah? Mungkin coffee?”

 

Hyejin tampak berpikir, bola matanya berputar-putar indah. “kalau mie instan apa ada? Sepertinya dicuaca dingin seperti ini, mie instan akan menjadi hal yang menyenangkan..”

 

Jongwoon menjentikkan jarinya bangga keudara. “tenang saja! Mau mie instan sampai spaghetti-pun tersedia didapur rumah pohon ini!!” ujar Jongwoon bangga sambil menepuk-nepuk dadanya kencang. “kalau begitu, kau tunggu saja disini, aku akan kembali 5 menit, dan membawa mie instan pesananmu! Arra?”

 

Hyejin mengangguk senang. “arraseo!” lalu ia mengacungkan jempolnya tinggi.

 

Bahkan hanya dengan melihat matamu, aku tahu segalanya. Seperti halnya temanmu, seperti halnya bayanganmu yang selalu mengikutimu setiap hari. Dan hanya aku yang paham itu.

 

***

Kitchen

 

“nana~ nanana~ nananana~~” Jongwoon menaikkan panci berisi air keatas kompor. Setelahnya, ia memutar kenop kompor dan api berwarna biru dari dalam kompor itu, perlahan mendidihkan air didalam panci itu. Jongwoon tidak duduk sebari menunggu air itu mendidih, namun dia lebih memilih untuk tetap berdiri dihadapan kompor. Sesekali jarinya diketukkan permukaan kompor, hingga ia menciptakan sebuah nada random. “lala, lalaa~” Ia harus mengakui. Ia memang kelewat senang. Hingga ia tidak bisa berhenti bersenandung.

 

♪ Neul hamkke hwaettnabwa

Kita harusnya selalu bersama

♪ Nega himdeul ddaena selpeul ddae

Saat kau merasa sulit dan kamu sedang sedih

♪ Wirowo hal ddaedo

Bahkan ketika kau kesepian

♪ Ne ibyeol alhkoseo

Holding onto separation a bit longer

♪ Apahal ddaedo ne nunmul dakkajul

Bahkan ketika aku terluka aku ada untuk menghapus air matamu

 

Jongwoon tertegun saat telinganya menangkap suara air yang mendidih. Matanya langsung dialihkan kearah panci, dan secepat kilat ia memutar kenop kompor dan mematikannya. Tangannya meraih dua cup mie instan dari dalam lemari penyimpan cadangan makanan. Dengan lihai, ia membuka bungkusnya lalu memasukkan air panas yang baru saja ia didihkan dan memasukkan segala perangkat mie instan tersebut.

 

“done!” Jongwoon menepuk-nepuk kedua tangannya membersihkan sisa-sisa bumbu-bumbu yang melekat. Selanjutnya ia membersihkan sampah-sampah yang tersisa dan segera membawa dua cup mie instan itu menuju ruang tamu tadi.

 

Sesampainya diruang tamu, terlihat gadis itu masih duduk dikursinya, masih sama dengan posisi yang tadi. Hanya saja kini, gadis itu terlihat sedang menunduk sambil memandangi sesuatu dari ponselnya. Bahkan suara sepatu boot milik Jongwoon tak dapat mengalihkan perhatiannya dari ponsel itu. Semoga saja, bukan tentang Taewoon.

 

“ini milikmu!” Jongwoon menyodorkan satu cup mie instan tepat dihadapan wajah Hyejin. Segera saja gadis itu mendongakkan kepalanya karena pandangannya kelayar ponselnya terhalang oleh cup mie itu. “oh? Sudah selesai?” tanyanya sumringah. Hyejin langsung mematikan layar ponselnya, dan kembali menaruhnya didalam saku celananya.

 

Jongwoon mengangguk, lalu duduk dikursinya. “ya, sudah selesai, memangnya kenapa?” tanya Jongwoon sebari mengaduk-aduk mienya. Matanya masih dipusatkan pada mienya itu. “tidak kenapa-napa, hanya saja terlalu cepat.. ah sudahlah tidak usahkan dipikirkan, sebaiknya mari kita makan!” ucap Hyejin lalu tersenyum lebar dan segera menggenggam garpu plastik yang memang tersedia dari cup mie tersebut.

 

Jongwoon hanya mengangguk sebagai jawabannya. Dan setelahnya, ia langsung memakan mie itu walaupun ia tahu, mienya itu benar-benar masih panas. Dan Hyejin yang ada disebelahnya hanya bisa menga-nga lebar. “apa tidak panas, Woon-ah?” tanyanya dengan penuh keheranan.

 

Jongwoon menyuruput mienya dengan gayanya, mengunyahnya, lalu menoleh pada Hyejin. “swebwenarnya inhi pwanas, twapi tak dwisangkwa ternyatwa akwu memwang lapwar, hehe” dan Hyejin hanya memandangnya dengan tatapan sinisnya. “demi tuhan, aku tidak akan pernah mau mengajakmu ke restorant, Woon-ah” ujar Hyejin dengan nada (sok) galaknya. Matanya masih saja menatap pria disampingnya yang memang seperti tidak pernah makan tiga tahun.

 

Jongwoon menelan mienya. Lalu mempertegas ucapannya. “biarkan saja, aku memang tidak mau makan di restorant..” Jongwoon kembali

mengaduk mienya dan mulai memakannya lagi.

 

“lebih baik hanya makan mie seperti ini, berdua denganmu.. daripada harus memilih makan di restorant..”

 

Hanya sebuah desisan. Jongwoon tidak mengatakan kalimat tersebut keras-keras. Dia belum berani. Setengah hatinya masih memilih untuk tetap memendam semuanya. “Jin-ah, kau tidak memakan mienya? Mie mu sudah mekar, daritadi kau terus melamun.. apa kau tidak suka mie itu? Kalau gitu biar aku ganti yang baru, bagaimana?”

 

Hyejin cepat-cepat mengumpulkan raga dan jiwanya menjadi satu. “ah ani, ani tidak perlu.. tadi masih panas, baik aku akan makan sekarang!” Hyejin meraih garpu plastiknya lalu mulai memakan mienya. “hhm!! Mashitaaaaa!!! Woon-ah! You’re the best!” ujarnya sumringah sebari mengangkat tinggi jari jempolnya. Wajah itu belum sepenuhnya rela berkata, ‘Jongwoon, you’re the best!’ seperti masih ada yang lebih ‘best’ lagi dibanding Jongwoon.

 

Jongwoon tersenyum paksa dan memalingkan wajahnya, karena dia sangat menyadari wajah Hyejin barusan. Benar-benar tidak sepenuh hati, memuji sahabatnya. Segala pikiran anehnya segera ditepis. Ia dengan cepat menghabiskan mienya. “Jin-ah” Jongwoon menaruh bekas cup mienya dilantai dekat kakinya. Karena ia telah menghabiskan mienya.

 

Sementara, gadis yang baru saja namanya dipanggil menoleh pelan. “mwo?”

 

Jongwoon diam sebentar. Pandangannya masih dibiarkan menatap depan. “aku benar-benar tidak punya maksud apa-apa untuk mengatakan ini, tapi.. sepertinya aku harus mengatakannya” dipalingkannya pandangannya kesebelahnya. Hyejin sedang meneguk cup mienya, dia sedang meminum kuah mienya. “apa itu?” ucap Hyejin setelah menghabiskan mienya.

 

Jongwoon memainkan jarinya. Setelahnya ia menghembuskan napasnya panjang. “Taewoon, dia.. aku sudah tahu dari awal bahwa dia bukan lelaki yang baik, tapi..” omongannya terputus. Entahlah, Jongwoon merasa lidahnya sangat kelu untuk melanjutkan kalimat berikutnya.

 

Jongwoon menarik napas kecil, lalu menghembuskannya dengan kasar. “aku tidak tahu bagaimana caranya memberitahukan padamu, tapi.. ak- tapi, kal-, ta- argh!” Jongwoon menjambaki rambutnya kasar.

 

Hyejin tersenyum mengerti. “tidak usah merasa bersalah, aku mengerti posisimu saat itu, Woon-ah.. tidak usah merasa bersalah..”

“tapi kalau saat itu aku memberitahumu, makanya jadinya tidak sepert-“

 

“tidak usah merasa bersalah Woon-ah, sudah kubilang, ini memang sudah jalanny-“

 

“t-tapi, kalau saja saat itu aku berani memberitahumu..”

 

“sudah Woon-ah, aku baik-baik saj-“

 

“bagaimana bisa baik-baik saja, ha?!”

 

“penyesalan memang selalu ada diakhir, Woon-ah, ingat itu”

 

Jongwoon mengalah dan akhirnya ia diam. “yah.. kau benar, tapi, aku hanya ingin berkata.. kapanpun kau merasa bersedih, kau datang saja padaku.. aku janji. Aku akan memberikan bahuku untukmu, Jin-ah, aku janji” ucap Jongwoon lembut. Wajahnya menoleh kesamping mendapati Hyejin sedang tersenyum senang. “kalau begitu aku pegang janjimu, Woon-ah”

 

Bahkan ketika aku terluka, aku masih ada disampingmu dan bersedia memberimu bahu untukmu menangis. Walau kenyataannya kau menangisi pria lain..

 

♪Han namjaga isseo, neol neomu saranghan

Ada seorang pria, yang sangat mencintaimu

♪Han namjaga isseo, ‘saranghae’ maldo mothaneun

Ada seorang pria, yang bahkan tidak bisa berkata ‘aku mencintaimu’

♪Ne gyeote, son naemilmyeon kkok daheul keori-e

Saat disampingmu, aku selalu menaruh tanganku diluar dalam jarak yang bisa kau jangkau

♪Jasinboda akkineun neol kajin, naega isseo

Aku adalah orang yang melindungimu, melebihi diriku sendiri

 

Salju diluar makin terdengar deras. Namun, mereka berdua seperti tidak kenal rasa dingin, tidak peduli berapa derajat suhu diluar mereka lebih memilih bermain catur diatas karpet, padahal kebanyakan manusia akan menghabiskan waktunya didalam selimut, ‘kan? Karena cuaca saat ini memang benar-benar dingin.

 

Catur, permainan yang sangat tidak asing didalam rumah pohon itu. Jika mereka tidak memiliki pekerjaan atau kesibukan didalam rumah pohon itu, pasti mereka berdua lebih memilih bermain catur, hitung-hitung asah otak. “SKAK MATE!!” seru Hyejin.

 

Jongwoon mendengus lesu. Matanya memperhatikan pion-pion catur putihnya, memeriksa mana yang bagus untuk dijalankan. Pilihannya ada dua, antara benteng dan kuda. Jongwoon semakin keras berpikir, karena jika dua-duanya dijalankan, dua-duanya juga akan membuka jalan kematian untuk dirinya sendiri.

 

Akhirnya Jongwoon memilih menjalankan kuda putihnya. Hyejin diam sebentar, gadis itu memang tak bisa diremehkan jika sudah berhadapan dengan catur. Ia pasti akan sangat berhati-hati jika gilirannya sudah jalan, dan tentu saja ia akan berpikir lama. “Ya! Jin-ah, giliranmu jalan, come on, hurry!”

 

Hyejin tidak berkutik dengan omelan Jongwoon barusan, pikirannya tetap difokuskan pada pion-pion catur hitamnya. Karena Hyejin sangat paham, Jongwoon adalah tipikal orang yang mudah terkecoh, jadi menipu sedikit saja, pasti ia akan menang. “nah!” jarinya menggenggam pada pion ratu, dan maju beberapa langkah hingga masuk kedaerah Jongwoon.

 

Jongwoon tak perlu waktu lama, raja putih milik Jongwoon yang ada didekat ratu milik Hyejin segera menyingkirkan posisinya. Dengan bangganya Jongwoon tersenyum, karena baru saja ia memakan ratu milik Hyejin. Namun, sesaat setelahnya, “YEEAH!! AKU MENANG!!!”

 

Jongwoon menga-nga lebar. Ternyata, Hyejin hanya memancing Jongwoon dengan pion ratu hitamnya, dan pada akhirnya.. justru posisi raja milik Jongwoon tergantikan dengan posisi raja milik Hyejin. Haha.

 

Jongwoon mendengus kesal, lalu menyingkirkan semua pion catur itu hingga berantakan keatas karpet. “haha, kau ini, makanya jangan mudah tertipu..” ejek Hyejin lalu menjulurkan lidahnya. Gadis itu bangkit dari duduknya lalu berjalan kedapur.

 

“setidaknya tidak seperti kau yang tertipu oleh Taewoon..”

 

Jongwoon tersenyum kecut, sahabatnya itu seperti tidak menyadari dirinya sendiri. Berkata, ‘jangan mudah tertipu’ namun kenyataannya, bukankah Hyejin yang lebih parah? “ya, Jin-ah kau mau kemana?” tanya Jongwoon karena tidak mendengar suara langkah sepatu Hyejin lagi dari arah dapur.

 

“aku sedang di toilet, Woon-ah, cuaca makin dingin..” ujar Hyejin dengan suara yang agak dikeraskan. Jongwoon yang mengerti, langsung merebahkan dirinya diatas karpet itu, tangannya meraih bantal kecil yang ada didekatnya. Lalu menjadikan bantal itu sebagai alas kepalanya untuk tiduran. Jongwoon menutup matanya dengan tangan kanannya.

 

Pikirannya dibiarkan sibuk kemanapun. Matanya memang sudah penuh terpejam, namun jiwanya masih sadar. Jongwoon juga merasa, cuaca diluar semakin dingin. Ditambah, matahari sudah terbenam. Kalau dia dan Hyejin bisa menginap malam ini dirumah pohon ini, ini akan menjadi hal yang sangat romantis.

 

“ya, Jongwoon, jangan tidur, ini masih jam enam.. nanti aku sendiri..” Jongwoon yang tadi hampir memasuki dunia mimpinya, mendadak sadar kembali saat ada jari yang menyentil-nyentil dahinya dan merasakan kehadiran seseorang didekatnya. Jongwoon membuka tangan yang menutupi wajahnya.

 

Jantungnya kaget bukan main, saat tepat diatas wajahnya ada wajah Hyejin. Ia benar-benar kaget bukan main. Karena posisi Hyejin duduk pas ada diatas kepalanya. malahan, beberapa helai rambut halus Hyejin jatuh diatas pipi Jongwoon. Kalau.. kalau, Jongwoon tidak ingat Tuhan, dia sudah menarik leher gadis itu dan menghabisi bibirnya.

 

“tidak, aku tidak tidur..” Jongwoon tersenyum lembut lalu memindahkan posisi kepalanya hingga berbantal kaki Hyejin. Dan bantal yang tadi ia jadikan bantal, kini ia peluk diatas dadanya. “memangnya kenapa kalau aku tidur ha?”

 

Hyejin memainkan rambut Jongwoon helai demi helai. Tangannya menyusuri perlahan rambut hitam auburn itu. “nanti kalau kau tidur, aku sendiri kan? Kau tega?” Hyejin menyampirkan rambut panjangnya kebelakang bahu, karena takut menganggu wajah Jongwoon.

 

“ya, kemarikan rambutmu, jangan dikebelakangkan” Jongwoon sebisanya menarik rambut Hyejin yang tadi telah disampirkan kebelakang bahunya. Hyejin mengerutkan keningnya. “mau diapakan rambutku, ha?” Hyejin menyampirkan seluruh rambutnya kebahu kanannya.

 

Jongwoon memainkan rambut halus milik Hyejin. Diputar-putar jarinya diantara rambut itu “rambutmu halus, enak untuk dipegang-pegang” Hyejin hanya membiarkan Jongwoon tiduran dikakinya, dan memainkan rambutnya. Hyejin sendiri, ia juga terkadang memainkan rambut Jongwoon, dielus-elus, kadang ia menyentil dahi Jongwoon karena ‘pertengkaran lidah’ atau terkadang Hyejin membelai pipi Jongwoon yang halus.

 

“pipimu terlalu halus, aku iri” Hyejin bersungut. Gadis itu memang iri dengan pipi Jongwoon yang putih, halus dan gembul. Padahal selama ini, Jongwoon jarang mencuci wajah. Dan Hyejin sendiri yang sering merawat wajahnya, tak jarang kedatangan jerawat, atau bahkan komedo. Dan jika sekali saja, Hyejin tidak mencuci wajah, maka wajahnya akan bertambah rusak.

 

Jongwoon tersenyum lebar hingga pipinya bergembul menjadi satu. “bagaimana bisa pipi yang gembul ini kau ingin miliki?” alis Jongwoon berkumpul menjadi satu. Karena dia memang bingung dengan jalan pikiran gadis itu. “tidak, bukan gembulnya, aku iri dengan halusnya, babo”

 

Jongwoon tertawa tertahan. “kau ingin punya pipi halus sepertiku, memang?”

 

Hyejin terdiam sebentar, matanya berputar-putar entah memikirkan apa. “bukan hanya aku, tapi seluruh wanita didunia ini, aku yakin mereka iri dengan pipimu” Hyejin tersenyum lalu kembali memainkan rambut Jongwoon. Kadang, telunjuknya diputar-putar diantara helaian rambut Jongwoon. Kadang, jemarinya bagaikan sisir yang menyusuri poni dan rambut pria itu.

 

“jeongmal?” tanya Jongwoon, dia menaruh kaki kanannya diatas kaki kirinya. Lalu menguatkan pelukannya pada bantal yang ada diatas dadanya. “hem!” Hyejin mengangguk mengiyakan pertanyaan Jongwoon. “kau tahu sendiri ‘kan wajahku sering jerawatan, kalau nggak berjerawat, komedo, jerawat, komedo, bezzz!!”

 

Hyejin memejamkan matanya membayangkan wajahnya yang penuh dengan jerawat. “babo” ucap Jongwoon singkat. Jari telunjuknya digunakan untuk menempeleng kepala Hyejin. “wajar saja, kau itu wanita, pernah sekolah ‘kan?” lanjut Jongwoon. Dia tahu saat dulu sekolah, kalau wanita itu memang lebih mudah kotor wajahnya. Hal itu pernah diajarkan dalam pelajaran Biologi.

 

“ish! ‘kan bisa tidak usah main kepala!” Hyejin langsung mengelus kepalanya dengan wajahnya yang cemberut. Bibir bawahnya ia majukan beberapa centi kedepan. Benar-benar ekspresi yang sangat lucu. Namun sayang, mata Jongwoon tak sengaja melihatnya. Dan hal itu, membuat Jongwoon harus memejamkan matanya rapat dan langsung menutup matanya dengan bantal yang tadi dipeluknya.

 

“ya! Kau ini kenapa?” Hyejin langsung membuka paksa bantal yang ada diatas wajah Jongwoon, lalu membuangnya jauh-jauh. Dia terlalu heran dengan sikap Jongwoon yang tiba-tiba menutup wajahnya. Memangnya Hyejin hantu?

 

Mata Jongwoon membulat terpaku pada bibir merah tipis itu. Ia akui, bibir itu, bibir terindah yang pernah ia lihat. Bibir terseksi yang pernah ia lihat. Dan bibir itu adalah bibir yang bisa membuatnya berulang kali menelan ludah.

 

Jongwoon refleks bangun dari pangkuan Hyejin. Lalu menuju kamar mandi, berniat mencuci wajahnya, menjernihkan pikirannya. Hanya karena bibir itu, pikirannya jadi amburadul kemana-mana.

 

“ya, Jongwoon, kau ini kenapa sih?!” tentu saja Hyejin bingung bukan main, yang pertama tadi karena tiba-tiba Jongwoon menutup wajahnya dengan bantal. Dan yang kedua, karena Jongwoon tiba-tiba bangkit dari pangkuannya dan berlari entah kemana. “hah~ dasar,”

 

Hyejin bangkit dari karpet lalu menuju kursinya dan selanjutnya ia hanya diam, entah apa yang harus dilakukannya. Tapi, tak berapa lama ia melihat Jongwoon kembali dari dapur dalam keadaan wajah yang basah. “kau ini kenapa si, Woon-ah?”

 

Jongwoon mempercepat jalannya lalu duduk dikursinya, kursi yang ada disebelah kursi Hyejin. “kurasa cuaca makin dingin, jadi aku jadi sering buang air kecil, kalau salju tidak juga reda, bagaimana kita pulang, Jin-ah?”

 

Untungnya, Jongwoon segera mengalihkan topik pembicaraan. Hyejin mengerucutkan bibirnya lalu berpikir, “ya kita tidak bisa memaksakan pulang, dan tak ada pilihan lain selain kita menginap disini, tapi..” ucapannya terputus seperti ada yang ganjal. “tapi?” tanya Jongwoon penasaran.

 

“tapi, disini kamarnya hanya ada satu, Won-ah, otthe?” Hyejin mengangkat kedua tangannya bersamaan dengan kedua bahunya. Dan memasang wajahnya yang polos. Tak lupa dengan dahinya yang berkerut lucu, menunggu jawaban dari Jongwoon.

 

“kalau aku jawab, kita tidur seranjang saja, bagaimana?”

 

“MWOYA?! Ya! Kau ini!! Tidak!! TIDAK!! TIDAK AKAN PERNAH!!!” sedetik setelah Jongwoon mengungkapkan pendapatnya, ia langsung diterpa dengan seribu hantaman dari Hyejin. Dan Jongwoon hanya bisa menyilangkan tangannya didepan wajahnya untuk menghindari memar dan sebagainya. “hey, mana mungkin aku mau tidur sekamar denganmu, nanti aku bisa kena seribu tonjokan darimu! Aku yang akan tidur disofa saja, puas kau?”

 

Hyejin bernapas lega.

 

Namun pada kenyataannya, Jongwoon tidak mau tidur sekamar dengan Hyejin karena suatu alasan yang rumit untuk dijelaskan. Mungkin karena takut Jongwoon lupa Tuhan, dan nanti dia menjadi tidak ada bedanya dengan si busuk Taewoon. Mungkin juga karena, naluri prianya lebih mendominasi dirinya untuk melindungi seorang wanita. Apalagi wanita itu adalah seorang yang sangat dicintainya. Ia lebih mementingkan Hyejin untuk tidur didalam kamar, daripada dirinya.

 

Aku, adalah orang yang selalu ingin melindungimu, melebihi aku melindungi diriku sendiri.

 

♪Han yeojaga isseo, ireon nal moreuneun

Ada seorang wanita, yang tidak tahu bahwa aku seperti ini

♪Sarang badeumyeonseo, Saranginjuldo moreneun

Yang bisa menerima cinta, namun bahkan tidak tahu apa itu cinta

♪Namankeum kkok babo gateun, selpeun neol dugo

Meninggalkanmu adalah hal terbodoh dan tersedih, sesedih diriku

♪I sungando, nunmuri najiman haengbokhan geol

Saat ini, walaupun air mata keluar tapi setidaknya aku bahagia

♪Nega gyeote ittgi, ddaemuniya

Itu karena kau ada disisiku

 

“WAAA~ ternyata masih ada?! Aku tidak menyangka~!!” seru Hyejin berteriak setara dengan oktaf sembilan. Dan Jongwoon yang ada disebelahnya hanya bisa menatap gadis itu sinis dan menutup telinganya rapat-rapat. “ini ‘kan sudah 13 tahun yang lalu, Woon-ah”

 

Jongwoon hanya tersenyum memaksa kearah Hyejin. Gadis itu kini tengah histeris karena sandal bebek (hewan kesukaan Hyejin) yang Jongwoon pernah beli itu hampir menjadi milik Hyejin, kini ia pakai. Karena kata Jongwoon sandal itu hanya untuk cinta pertamanya. Entah mengapa sekarang Jongwoon malah memberikan sandal bebek itu pada Hyejin secara cuma-cuma.

 

Dan dengan bangga, Hyejin langsung memakai sandal bebek itu. Tak lupa ia mencobanya sambil berkeliling rumah pohon. Sesekali, langkahnya dihentakkan kelantai. Entahlah, gadis itu..memang benar-benar.

 

“YA! Hyejin-ah, berhenti berjalan seperti itu, berisik!!” teriak Jongwoon dari dalam kamar, Jongwoon lebih memilih membaca buku diatas ranjang dalam kamar daripada ia harus mendengar langkah kaki gadis itu dan mendengar jutaan celotehannya. “Jongwoon-ah, aku ingin menanyakan sesuatu padamu,” suara itu tiba-tiba muncul dari pintu dan membuat Jongwoon mengelus-elus dadanya. Karena kaget.

 

Padahal baru saja, Jongwoon mendengar gadis itu berjalan-jalan dengan sandal itu, namun tiba-tiba entah bagaimana bisa, Hyejin sudah melonggokan kepalanya dari pintu dan..begitulah. “mau menanyakan apa?” jawab Jongwoon malas-malasan. Karena saat ini, Jongwoon benar-benar harus berkonsentrasi pada buku yang ada digenggamannya itu. Sepertinya, buku yang sedang dibacanya itu tengah mencapai klimaksnya.

 

Hyejin melangkah masuk kekamar, dan langsung duduk disebelah Jongwoon. “ceritakan, tentang sandal ini, bukankah ini ada sangkut-pautnya dengan cinta pertamamu?”

 

Jongwoon terhenyak. Ia benar-benar diam seribu bahasa. Ya, sandal bebek itu memang ada sangkut-pautnya dengan cinta pertamanya. Namun, apa tidak lucu jika Jongwoon bercerita tentang cinta pertamanya pada cinta pertamanya?

 

Namun, pada akhirnya, karena Hyejin begitu memohon dengan sangat-amat melas. Jongwoon-pun akhirnya menceritakannya, secara detil. “baiklah, aku akan menceritakan semuanya padamu..” ucap Jongwoon sebari menutup bukunya dan menyimpannya rapi diatas pangkuannya dan setelahnya, ia melepas kacamata bacanya.

 

Jongwoon merubah posisi duduknya menjadi menghadap Hyejin dan dalam posisi kaki yang bersila. Ia menarik napas panjang, untuk memulai sebuah cerita yang panjang. “sekitar..” Jongwoon menghitung-hitung sesuatu dengan jarinya. “13 tahun yang lalu, atau mungkin lebih..” Jongwoon tersenyum membayangkan dirinya saat masih berumur 7 tahun. Pada usianya genap tujuh tahun, pada hari itu juga ia bertemu dengan Jung Hyejin untuk yang pertama kalinya.

 

“saat itu, saat hari pertama aku masuk sekolah dasar, aku bertemu dengannya.. dengan cinta pertamaku, aku masih terlalu ingat bagaimana wajahnya, bagaimana caranya berjalan.. aku masih ingat.. terlalu ingat bahkan” mata Jongwoon menerawang, mengingat saat-saat itu. Saat-saat pagi hari ia malas bangun, namun tidak lagi saat ia ingat, bahwa ada Jung Hyejin dikelasnya. Jadi Jung Hyejin adalah alasannya untuk pergi sekolah. “hari itu, dia takut sekolah sendiri, jadi dia menangis saat ibunya pergi pulang..”

 

Jongwoon menghela napas, lalu tersenyum. “namun, dia tidak menangis lagi saat dia mengambil boneka bebeknya dari dalam tasnya dan langsung memeluk boneka itu, dari situ aku paham, dia berarti sangat menyukai bebek..”

 

“karenanya, aku sampai-sampai harus rela menabung untuk membelikannya sesuatu yang berhubungan dengan bebek, aku bahkan rela tidak membeli minuman dingin saat musim panas, karena uang jajanku aku tabung untuk membelikannya sesuatu, dan akhirnya, aku membelikannya sandal bebek itu..” Hyejin menaikkan kedua kakinya keatas kasur, dan duduk menghadap Jongwoon. Ia benar-benar ingin serius mendengar cerita Jongwoon.

 

“namun..” raut wajah Jongwoon berubah menjadi kelabu seketika. “namun, rasanya aku salah membeli ukuran sandal bebek yang pas..” Jongwoon tersenyum penuh kepedihan. Tapi setidaknya ia harus tetap senyum dihadapan Hyejin, agar terlihat tetap tegar. Itu saja.

 

“memang kau tahu ukuran kakinya?” Hyejin menyela cerita Jongwoon. Lalu tangan Hyejin meraih bantal untuk dijadikan penopang dagunya.

Jongwoon menarik napas panjang. “aku tahu ukuran kakinya, karena gadis itu memiliki ukuran yang sama denganmu, saat aku ukur sandal itu dengan sandalmu.. sandal bebek itu terlalu besar, dan..” jongwoon tersenyum pasrah. “dan, akhirnya aku berencana untuk memberi sandal itu saat dia sudah besar, namun..”

 

Jongwoon mengangkat kedua bahunya. “beberapa bulan yang lalu aku mendengar dia sudah bahagia dengan kekasihnya, haha..”

Hyejin mengerutkan keningnya, “apa?! Dia sudah punya kekasih?!”

Kembali Jongwoon tersenyum penuh kepedihan pada Hyejin. “ya, dia sudah punya kekasih, dan tak ada pilihan lain selain mundur.. dan pada akhirnya daripada uangku sayang terbuang begitu saja, lebih baik aku memberikannya padamu, bukan begitu lebih baik?”

 

Hyejin menatap Jongwoon iba. Sahabatnya itu.. baru-baru ini kehilangan cinta pertamanya. Namun, ya, mau bagaimana lagi. Memang itu semua sudah jalannya. Jongwoon mendongakkan kepalanya, “lagipula, aku dengannya.. terlalu memiliki banyak kesamaan..” ucap Jongwoon lirih.

 

Hyejin mengerutkan keningnya, tidak begitu mengerti apa maksud ucapan Jongwoon. Namun setelahnya Jongwoon memperjelas, “seperti halnya dua buah magnet yang mempunyai kutub yang sama, mereka tidak akan pernah bertemu, dan sama halnya aku dan dia, terlalu banyak kesamaan hingga membuat kita tidak bisa menyatu”

 

“hah, sudahlah, tidak usah diungkit kembali!” Jongwoon seakan kembali dari dunia nyatanya, langsung menarik napas dalam dan tersenyum penuh arti. “itu hanya masa lalu,”

 

Hyejin tidak tahu harus berbuat apa. Karena Hyejin sendiri belum pernah merasakan hal yang dialami Jongwoon. Jadi Hyejin tidak bisa memikirkan rasa sakitnya, sedalam apa. Hyejin menatap lurus

 

Jongwoon yang duduk dihadapannya, lalu mengenggam kedua bahunya. “hwaiting!! Jongwoon~!!” ucapnya penuh semangat sebari mengepal tangannya berulang kali keudara. “HWAITING~!”

 

Jongwoon mengelap kristal bening diujung matanya. Karena tak terasa hanya menceritakan itu semua, bisa membuatnya kembali merasakan rasa..perih itu kembali. Rasa perih itu saat, dengan bangganya Hyejin memberitahukan padanya bahwa ia telah resmi menjadi kekasih Taewoon. Saat, tak sengaja Jongwoon membuka lemarinya dan menatap iba sandal bebek itu.

 

Ia tak tahu harus diapakan sandal itu, karena ia lebih memilih mundur. Karena ia tak ingin hadir diantara dua orang manusia yang sudah saling mencinta. Itu akan menjadi hal yang sangat rumit nantinya. Dan akhirnya, hari ini.. hari dimana Hyejin memberitahukan padanya, bahwa hubungannya dengan Taewoon telah berakhir. Dan itu berarti, Jongwoon baru bisa memberikan sandal itu.

 

Hyejin bersungut saat masih melihat Jongwoon cemberut, lalu ia meninju dada Jongwoon pelan. “eiiy~ mana semangatmu Jongwoon, masih banyak wanita cantik didunia ini!!”

 

Jongwoon tersenyum simpul. Ia senang, melihat Hyejin berusaha menghiburnya.

 

Sampai kapanpun..Jongwoon akan tetap memilih untuk menyimpan perasaannya.

 

Karena..ia tak ingin keharmonisan hubungan persahabatannya dengan Hyejin rusak, hanya karena cinta terlarang itu.

 

Karena semua orang tahu, mencari satu orang sahabat didunia ini lebih susah dibanding mencari beribu kekasih.

 

Hyejin memasang wajah cemberutnya, mengikuti wajah cemberut Jongwoon. “kalau Jongwoon sedih, nanti Hyejin juga ikut sedih, sudah ah.. Jongwoon-ah~ jangan menangis lagi,” refleks Hyejin langsung memeluk Jongwoon erat. Hyejin memang benar-benar menyayangi Jongwoon, tapi hanya sebagai sahabat. Tidak-akan-pernah-lebih.

 

Jongwoon berusaha tegar, dan menjawab, “iya, aku tidak sedih lagi kok” Jongwoon melepaskan pelukannya lalu menatap mata gadis itu yang sudah berkaca. “hey, mengapa jadi kau yang menangis?”

 

“Jongwoon-ah~ kau ini bagaimana sih? Mana ada sahabat yang tidak menangis jika sahabatnya sedang bersedih?”

 

Keurae, sahabat. Sampai kapanpun, kita tetap menjadi sahabat. Will-never-more.

 

 

 

There’s one girl, who don’t know I’m like this.

 

Who receives love but doesn’t even know what love is.

 

 

I want to tell you, how much I love you..

 

But, I think I’m going insane..

 

I wanna embrace you, have you, kiss you, and love you.. but..

 

I’d rather be your best friend.

 

I don’t wanna be your lover and someday that love just give us a distance..

 

Jung Hyejin, neo jinjja..

 

END

6 thoughts on “[FF Freelance] One Man (Oneshot)

  1. suka bgt ma kalimat ini “Karena semua orang tahu, mencari satu orang sahabat didunia ini lebih susah dibanding mencari beribu kekasih” nice ff 🙂

  2. Thor bikin FF-nya yang panjang dong kalo perlu ada part-nya, tapi aku pengen cast-nya YulSung/YeSica 😉 😉 😉

  3. Ceritanya lucu ^^~~
    Full moment mereka berdua 😉 suka deh kkk…
    Dan penulisan bahasanya juga enak dibaca, dan sudah bisa menggambarkan suasana…

    Tp pas di ending aq kira jongwoon bakal ngungkapin perasaannya, ternyata engga ya thor T.T huhuuuuu

    Ditunggu ff jongwoon lainnya!!
    Hwaiting~!! ^^

  4. Wahh..nice thor ^^
    Keren bangeeetttttt ^^
    Thor..blind in love kapan part 12’nya ?? Ditunggu bangett nihh ^^ nggasabarr ^^

  5. hai chingu…………. aku reader baru ni……

    ff nya sedih banget… cinta yg bertepuk sebelah tangan…….. jongwoon oppa ma aku z.. sepenuh hati akan kuberikan padamu…..

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s