[FF Freelance] A Long Night (Ficlet)

A long night

Title

A Long Night

Author

Summer

Main Cast

SNSD’s Kim Taeyeon

EXO-M’s Xi Luhan

Genre

Romance, Life, & Friendship

Rating

PG-13

Length

Ficlet

Mungkin ini adalah malam yang paling aneh menurutku. Apa karena bulan telihat terlalu besar di langit malam ? Bukan, aku rasa bukan itu. Bukan juga karena angin yang bertiup terlalu dingin dan membuat tulang rusukku rasanya juga ingin mengigit bibirnya kuat-kuat (seandainya mereka punya bibir tentu saja) . Bukan itu. Yang jelas otakku tak pernah tahu kenapa aku merasa malam ini adalah malam yang aneh. Terlalu aneh hingga rasanya tak nyata dan ganjil. Ah, tapi masa bodohlah.

Suara gemerisik itu, aku yakin pasti itu langkah kakinya yang mendekat. Siapa lagi yang bisa menemukan tebing tersembunyi yang menyajikan musik alam paling hebat sepanjang masa ? Mungkin hanya kami berdua.

“Aku tahu kau pasti sudah lapar”, sahutnya menggoda.  Tubuhnya berdebur bersama pasir-pasir putih diatas tebing. Ada harum kuah ramen hangat yang menari-nari di dalam hidungku. Ah, dia masih ingat betul kesukaanku. “Ramen udang ?”, aku mencoba menebak meski kutahu aku tak mungkin salah. Ngomong-ngomong indra penciumanku cukup tajam, apalagi untuk urusan macam ini. Meski suasana gelap dan hanya terkena sinar rembulan, otot-otot senyumnya yang tertarik lebar, aku bisa merasakan itu.

Tangannya mengaduk-aduk ramen udang sementara aku sudah memasuki babak untuk melahap buruanku yang ia bawa. “Ngomong-ngomong ini adalah ramen udang paling enak yang pernah kumakan seumur hidup.”

Ia tertawa geli dan itu membuat bahunya bergerak-gerak. “Tentu saja, kau hanya bisa menemukan kelezatan ramen ini, di atas tebing, di bawah langit malam, dan tentu saja bersamaku,” serunya bangga. Dan aku mendengus keras ditengah acara makanku. “Ya, ya, kau benar”, aku memutar bola mata asal. “Xi Luhan selalu benar.”

Setelah itu semuanya berubah hening. Tak ada percakapan tak ada kata saling ejek, yang ada hanya suara kuah ramen udang yang terbungkus rapi di dalam wadahnya. Tapi keheningan itu bukan keheningan  yang mencekam. Kami tak harus mengisinya dengan obrolan untuk membuat satu sama lain merasa nyaman. Kami hanya perlu menjadi diri sendiri.

Aku meletakkan mangkuk ramenku yang sudah kosong. Meski di dalam hati masih ada keinginan untuk mencecap lagi kelezatan yang mungkin tak sama dengan ramen yang sebelum-sebelumnya. “Aku menghargai usahamu untuk membuatku terkesima dengan rencanamu membawaku kesini,” aku meliriknya dengan sudut mataku. “Tapi besok adalah hari besar, bukankah seharusnya kau dirumah bersama keluargamu ?”

Ekspresinya berubah ganjil. “Ini adalah tebing dengan pantai terbaik yang pernah kulihat, jadi aku ingin menunjukkannya padamu”, ujarnya terburu-buru. Ia kembali menyumpit segumpal ramen dan memakannya dengan sekali telan.

Aku tahu dia masih menyembunyikan sesuatu. Tapi ya secara teknis dia benar. “Sepertinya kali ini aku terpaksa satu suara denganmu”, gumamku pura-pura tak ikhlas. Dia menyeringai antara sebal dan bangga. “Tapi aku ingin alasan yang jujur Luhan”, timpalku lugas.

Satu detik setelah itu, sumpit yang ia pegang tak lagi bergerak. Ia terdiam dan tak lagi melanjutkan acara makan malamnya. Sepertinya dia benar-benar terkejut. Mungkin ia tak mneyangka bahwa aku tahu kalau dia berbohong. “Luhan ?”, panggilku sekali lagi. Ia benar-benar membuatku penasaran dengan sikapnya yang masih tak mau menjawab.

Agak mengejutkan melihatnya menggigit bibir dengan kening berkerut. Berarti ini bukan perkara mudah. Kepalanya mendongak juga dan menarik nafas panjang sebelum mengeluarkan kata-kata dari mulutnya. “Aku hanya ingin bersamamu sebelum esok hari datang”, ucapnya jelas. Tak ada keraguan disana. Seakan-akan ia sudah mempersiapkan lama sekali.

Dan pada akhirnya malah aku yang terdiam bagai tersumpal oleh gumpalan benang. Rasanya tenggorokanku terganjal dan aku sulit bernafas. Ia menungguku untuk berkomentar tapi yang bisa keluar dari mulutku adalah pertanyaan lain yang mungkin akan tersambung di rantai-rantai pengakuan lainnya. “Kenapa ?”

“Aku takut kita tak akan bisa bertemu lagi setelah ini,” ia menarik nafas mencoba mengisi kembali paru-parunya dengan udara yang membeku.  “Kita sudah terlalu lama bersama dan tiba-tiba harus berpisah. Apakah semuanya akan baik-baik saja, Taeyeon-ah ?”

Mataku tertunduk berusaha mencari-cari kulit kerang yang tersembunyi dibalik pasir, tapi itu tak berhasil. Kata-katanya sekali lagi membuatku harus berfikir dengan otak dan bukan dengan hati. Ini tak se-menyenangkan mendapat es krim di tengah musim panas. Kepalaku mendongak dan berusaha memberikan senyum paling tenang untuknya. Senyum yang menyakitkan. “Hey, bukankah kau bisa menelponku ? Lagipula aku pasti akan mengunjungi rumahmu yang baru.” Aku menepuk punggungnya memberi semangat. “Jangan terlalu tegang, semua pasti akan baik-baik saja.”

Ia tersenyum sendu dan mendesah pelan, “Apa kau akan datang ?”

Bola mataku berubah kaku dan hatiku mencelos. Sungguh, ia terlalu berharap. Suara deburan ombak, angin yang menderu, kuharap mereka bisa menyembunyikan ini. Menyembunyikan betapa anehnya suaraku yang tercekat oleh hal yang sebenarnya tak ingin aku ucapkan. “Ya, tentu saja. Aku pasti akan datang.” Aku menelan ludah dengan susah payah. “Akan sangat kurang ajar kalau aku tak datang ke pernikahan sahabatku sendiri.”

Ia tertawa dengan deretan giginya yang kecil-kecil. “Aku pegang janjimu”, ujarnya gembira. “Dan aku tak menolenrir kalau kau terlambat. Datang terlambat berarti tak ada acara untuk foto bersama”, ia berpura-pura mengancam dengan ekspresi galaknya yang dibuat-buat. Aku mendelik kesal dan memukul punggungnya. “Dasar menyebalkan ! Sudahlah aku tak jadi datang saja kalau begitu !” Aku membuang muka dan melipat tangan di dada.

Tiba-tiba lengannya sudah memelukku dari samping sementara ia masih juga tertawa. “Hahaha aku hanya bercanda. Kau itu serius sekali !” Dan pada akhirnya seberapa sering ia membuatku kesal, aku tak pernah bisa marah lama-lama dengannya. Pelukannya terlepas dan ia berdiri membersihkan pakaiannya yang penuh dengan pasir. “Udara sudah semakin dingin, ayo kita pulang.”

Kepalaku menggeleng perlahan. “Tidak, kau saja duluan. Aku masih ingin disini.” Keningnya berkerut tanda tak setuju dan sebelum ia mengeluarkan kata-katanya, aku sudah berbicara lebih cepat. “Aku sudah dewasa, Luhan. Jadi jangan khawatirkan aku.” Ucapanku membungkam mulutnya. Keningnya memang masih berkerut tapi akhirnya ia memilih untuk mengalah dan mengangkat bahu sekilas. “Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu”, ia memakai kembali jaket birunya yang selalu ia bawa kemana-mana. “Bye Taeyeon~ah.” Ia berjalan mundur dan melembaikan tangan masih dengan raut wajah khawatir. Aku tersenyum menenangkan dan membalas lambaian tangannya.

Dan semakin lama, ia semakin hilang ditelan kegelapan. Aku berhenti melembaikan tangan sampai ia benar-benar tak terlihat lagi. Kini ditengah tebing yang sepi, diantara suara deburan ombak yang tak pernah berhenti, kenangan-kenangan itu terus saja menyeruak keluar. Seakan mereka terlalu lelah terkubur dan ingin merasakan udara. Mereka tak salah, hanya aku yang terlalu bodoh untuk tak bisa menahan mereka. Ya, mungkin itu adalah salah satu kebodohanku dibalik kebodohan-kebodohanku yang lain.

Karena aku sadar meski aku punya uang sebanyak apapun dan memohon sesering apapun, segalanya tak akan berubah. Karena waktu akan terus berjalan kedepan tanpa sedikitpun berusaha memberikan celah untuk mundur kebelakang. Karena semua harapan yang aku gantungkan padanya mulai hari ini akan dihempas gelombang yang keras menuju lautan yang terdalam atau malah tertimbun oleh ribuan batu karang.

Dan seharusnya aku mengerti bahwa kenyataan berbicara kalau kurang dari dua belas jam lagi, Luhan akan  menikah dan hidup bersama wanita lain. Sedangkan aku akan tetap disini menyimpan segalanya dalam hati. Karena disisi kehidupan yang lain, Kim Taeyeon adalah seorang wanita kuat yang selalu ceria apapun yang terjadi.

Aku mengangkat wajah mencoba merasakan angin yang makin lama berhembus kencang. Inikah yang namanya angin kesakitan ? Atau malah sebuah angin keikhlasan ? Tak ada yang tahu, dan tak ada yang ingin memberitahu. Dan bersamaan dengan hembusan angin, aku menerbangkan sebuah pengakuan yang tersembunyi. Karena aku harus tetap berperan sebagai sahabat yang baik dan ikut merasakan kebahagian sahabatnya meski di dalam hati mencelos dan terluka. Aku tahu aku memang aktris yang baik. Sebaik para aktris yang menerima penghargaan oscar.

Tapi kali ini aku meminta pada angin, kepada laut, dan kepada bulan untuk terus ada disini dan jangan cepat berlalu pergi. Biarkan untuk kali ini saja, aku menangis di tengah kesendirian dan kesepian diatas tebing. Karena besok seorang Kim Taeyeon harus kembali berperan di sebuah drama kecilnya yang penuh kebohongan dan rasa penyesalan. Karena besok seorang Kim Taeyeon harus banyak menebar senyum kebahagiaan. Karena besok aku harus menyaksikan sendiri orang yang kucintai menikah dengan orang lain.

Dan Luhan tak boleh tahu bahwa mulai besok segalanya tak akan baik-baik saja. Segalanya tak akan lagi sama. Karena setelah itu aku harus pergi menjauh dan membiarkan Luhan hidup bahagia. Yang hanya perlu Luhan tahu, aku, Kim Taeyeon sahabatnya, akan selalu mendukung apapun yang ia putuskan meski itu menyakitkan.

Ya, hanya itu yang perlu Luhan tau.

Sisanya biarkan tebing, ombak, dan angin yang menyimpan di tengah kelamnya malam.

                                                                                THE END

Hai-hai sudah lama ga bawa ff exoshidae hehehe 😀 Semoga masih ada yang mau baca. Kalau sendainya absurd, maaf ya hohoho.

Pai~pai

11 thoughts on “[FF Freelance] A Long Night (Ficlet)

  1. Yaa T_T
    Kiraiin authornya mau smpai ke pernikahannya juga u.u #peluk Sehun
    Akhirnya bisa baca FF mu thor 😀 author favorite deh (‘_^b) smenjak baca FFmu 1 thun yg lalu yg My Lovely Noona itu membuat sya jtuh cnta pda Exoshidae *o*
    Lnjutkan kryamu thor ^_^

  2. Knpa taengnya yg dapet peran beginian… Kannnnn taengnya kasihan…. *peluk luhan. -_- coba si lulu tau taeng suka ama dia. Mngkin lulu pn ngebalas prasaan taeng. Kyaaaa… Mngapa angst sih genrenya.. 😦 tapi keren thor. 🙂

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s