[FF Freelance] Where is My Man? (Part 1)

where is my man

Annyeong readers.. Setelah sekian lamanya kita berpisah akhirnya kita ketemu lagi di sini, #soktenarlu. Yah, memang akhir-akhir ini author sibuk ngurus ini itu (?), jadi waktu buat bikin ff jadi terbengkalai #gananyawoy! Tapi alhamdulillah ternyata author masih diberi kesempatan buat nyelesaiin ff baru lagi. Ini adalah ff kelima setelah author merelease keempat ff (What is This?, Lovey Dovey, The Adventure of the Three Buddies, dan yang terakhir author release kemarin adalah Between Two Choices) #jiahaha sok pamer banget nih orang. Gamparin yuk!# Okee baiklah, inilah ff keluaran terbaru dari Endor Yochi~Where is My Man??

Maaf banget kalo ceritanya kurang bagus, karena author juga hanya manusia biasa yang tak punya apa-apa (?) ya sudahlah kalau begitu, happy reading sajalah 😉

 

Title            : WHERE IS MY MAN?? PART 1

Writer                   : Endor Yochi

Main Cast    :

– Park Jiyeon (T-ara)

– Kim Myungsoo a.k.a ‘L’ (Infinite)

– Yang Yoseob (B2ST)

– Choi Minho (SHINee)

Other Casts :

– Bae Suzy (Miss A)

– Park Sanghyun a.k.a Thunder Cheondung (MBLAQ)

– Kim HyunAh a.k.a Hyuna (4Minute)

– Lee Gikwang (B2ST)

– Jung Ilhoon (BTOB)

– Lee Sungjong (Infinite)

– Lee Chanhee a.k.a Chunji (Boyfriend)

Genre           : Romance, Comedy ( a little bit ), aneh, gaje, dsb

Length                   : Chaptered

Rating                   : Halal for everyone 😉

 

PART 1

_Author POV_

Jiyeon menarik napas kesal. Entah sudah berapa benda yang ia tendang setiap kali ia melihat sesuatu yang dekat dengan kakinya itu. Hidungnya terlihat merah. Bukan karena pilek, melainkan ia berusaha keras menahan tangis. Bukan apa-apa, ia hanya tidak punya tissue makanya ia tak mau kalau air matanya itu sampai jatuh. Namun tak urung ia mewek juga meskipun mati-matian ia berusaha untuk menahan air matanya itu.

“CHOI MINHO JAHAAATT!!” teriaknya keras sampai-sampai orang-orang yang kebetulan berjalan di sekitarnya itu terkejut dan menoleh. Pastilah saat ini mereka mengira kalau yeoja yang berteriak itu sudah kurang beres otaknya. Tapi Jiyeon sama sekali tak peduli. Ia bahkan sudah mulai menendang-nendang keranjang buah yang bertengger di tepi jalan tak jauh darinya.

“YAA!! APA YANG KAU LAKUKAN? DASAR YEOJA GILA!!”

Jiyeon sedikit terkejut mendengar bentakan itu. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Secepat kilat ia pun lari terbirit-birit menjauhi tempat keranjang buah sebelum pemiliknya mengamuk lebih ganas lagi. Begitu dirasanya sudah agak jauh, ia kembali memperlambat langkahmya. Mukanya kembali suram. Perlahan diambilnya ponselnya dari kantong seragamnya, lalu melihat ke arah lcdnya. Tampak seorang namja sedang berangkulan dengan seorang yeoja sambil nyengir di wallpaper hp tersebut. Jiyeon kembali mewek saat melihatnya. Itu adalah foto dirinya bersama Choi Minho, namja yang baru sekitar sepuluh menit yang lalu ia putuskan. Jiyeon mendengus kesal. Karena di dekatnya tak ada sesuatu yang bisa ditendang, ia hanya bisa menendang-nendang angin sebisanya. Tak heran kalau orang-orang yang melihatnya seperti itu akan tampak mengerutkan kening dan berbisik-bisik keheranan. Kira-kira apa yang terjadi dengan yeoja manis kembaran author itu ya? Let’s check it out!

 

_Flashback_

“Aigoo, kemana sih dia? Kenapa lama sekali?”

Jiyeon terus memencet-mencet ponselnya untuk menghubungi Minho, namjachingunya itu, akan tetapi nomor Minho sejak tadi tidak aktif. Padahal namja itu sudah berjanji akan pulang sekolah bersama Jiyeon. Jiyeon yang sudah sekitar satu jam menunggu itu jadi semakin jenuh. Sudah berkali-kali ia mengitari sekolahan, berharap menemukan sosok Minho. Akan tetapi hasilnya tetap nihil. Namun Jiyeon tidak menyerah. Ia yakin Minho masih berada di sekolah karena ia melihat motor milik namja itu masih bertengger di parkiran sekolah. Tapi ia bingung dan heran kemana namja itu sekarang.

“Ck.. Menghilang kemana sih dia? Di kelas tidak ada, di toilet tidak ada, di taman tidak ada, di mana-mana tidak ada. Apa iya dia diculik oleh hantu sekolah? Aish! Menyebalkan!” gerutunya berkali-kali. Ia pun terpaksa menunggu lagi di tempat parkiran. Siapa tahu sebentar lagi namja tampan bermata bulat itu muncul. Namun beberapa saat kemudian tiba-tiba ia mendesis.

“Ohmo, kenapa aku ingin buang air lagi? Aish! Pasti ini karena tadi kebanyakan makan buah pir di kantin. Isshh!” katanya.

Lalu tanpa menunggu apa-apa lagi ia pun terpaksa berlari menuju toilet putri. Sebenarnya ia agak takut masuk toilet putri, karena ia pernah mendengar cerita dari Suzy, teman sebangkunya bahwa toilet putri itu ada penghuninya alias hantu toilet. Jiyeon tahu kalau Suzy memang sering membual. Tapi tak urung Jiyeon agak takut juga dibuatnya. Namun karena ia sudah tak tahan lagi, ia pun terpaksa menggunakan salah satu ruangan toilet untuk menyelesaikan misinya itu. Di tengah-tengah proses penyelesaian misinya tersebut, samar-samar Jiyeon mendengar suara aneh dari arah toilet sebelah ruangannya. Jiyeon mendadak bergidik karena teringat dengan cerita Suzy yang katanya pernah diganggu hantu toilet itu. Tak henti-hentinya mulut Jiyeon berkomat-kamit membaca doa. Dengan setengah tergesa ia pun bergegas menyelesaikan misinya itu, dan segera membuka pintu toilet. Suara yang didengarnya itu semakin berisik saja. Ia bahkan mendengar suara seseorang berbisik-bisik, padahal saat itu semua siswa sudah pulang dan hanya beberapa siswa saja yang belum pulang karena ada les. Jiyeon jadi takut dibuatnya. Akan tetapi ia pun penasaran juga sebenarnya ada apa di balik ruangan toilet itu. jiyeon mencoba menempelkan telinganya ke pintu toilet tersebut.

“Jebal.. Sekali ini saja..” suara tersebut terdengar jelas di telinga Jiyeon.

“Tapi.. Aku tidak bisa..”

Mwo? Sepertinya aku kenal suara itu, pikir Jiyeon. Jiyeon semakin penasaran karenanya. Rasa takutnya tadi kini diganti oleh rasa penasaran luar biasa. Maka dengan sekuat tenaga didobraknya pintu toilet tersebut.

BRUAKK!!

Jiyeon terkejut setengah mati saat melihat isi toilet tersebut. Darahnya mendidih seketika.

“Oppa..” katanya dengan suara bergetar.

Ia melihat Minho, namjachingunya sedang berpelukan dengan Hyuna, teman sekelas sekaligus mantan yeojachingu Minho. Minho terbelalak begitu melihat Jiyeon. Buru-buru ia menjauhkan tubuh Hyuna darinya.

“Jiyeon-ah..” katanya gugup.

“Apa yang sedang kalian lakukan di sini?” tanya Jiyeon mencoba menahan emosinya.

“Jiyeon-ah, aku~”

“Apa kau tidak bisa lihat? Kami sedang bermesraan. Wae?” potong Hyuna dengan tenangnya.

Jiyeon marah bukan main mendengarnya. Akan tetapi ia masih berusaha menahan emosinya dengan mencoba tersenyum.

“Geuraeyo?” katanya.

“Ne, tapi karena kau datang, kami terpaksa harus berhenti sejenak.”

“Jiyeon-ah, ini semua tidak seperti yang kau lihat. Aku~”

“Geurae. Gwaenchanha.. Arasseo..” Jiyeon memotong ucapan Minho. Setelah itu ia pun berbalik dan beranjak.

“Jiyeon-ah, jamkkanman! Dia memaksaku~”

“Ahh, ne.. Gomawo sudah membuatku menunggu selama satu jam. Kalau aku tahu Oppa akan sesibuk ini, tentu aku sudah pulang sejak tadi.” kata Jiyeon dengan suara bergetar menahan amarah dan sakit hati.

“Jiyeon-ah, mianhae, tapi itu sama sekali tidak seperti yang kau~”

“Aku mau pulang.” Potong Jiyeon lagi sambil berbalik.

“Jiyeon-ah, jamkkanman! Aku akan mengantarmu.”

“Anii, aku sudah punya kaki.”

“Jiyeon-ah..”

“Aku punya pesan buat Oppa. Pertama, jangan pernah hubungi aku lagi, dan kedua, jangan pernah temui aku lagi. Karena aku sudah tidak mau melihat mukamu lagi.”

“M.. mworago?”

“Ne, kita putus!”

“Jiyeon-ah!”

Tapi Jiyeon sudah  tak peduli lagi. Ia beranjak pergi begitu saja meninggalkan Minho. Minho hendak mengejarnya, akan tetapi Hyuna telah memegangi lengannya sehingga namja itu tak bisa mengejar Jiyeon.

“Sudahlah, Oppa.. Biarkan dia sendiri. Dia hanya butuh waktu.” Kata Hyuna sambil terus memegangi lengan Minho. Minho hanya diam saja sambil terus memandang ke arah Jiyeon pergi.

_Flashback end_

 

­“CHOI MINHOO!!! AKU BENCI PADAMUU!!” teriak Jiyeon lagi. Napasnya tampak naik turun karena menahan amarahnya.  Kedua matanya menangkap sebuah kaleng kosong bekas tempat minum tengah tergeletak di tengah jalan tak jauh di depannya. Maka dengan berapi-api bak seorang pemain sepak bola, ia pun berlari menyongsong kaleng tersebut dan menendangnya sekuat tenaga.

TUUIIING!! KLONTANG-KLONTANG!! JEDUG!!

“AIYAA!!”

Mula-mula Jiyeon merasa puas karena sudah melampiaskan kekesalan hatinya pada kaleng tersebut. Akan tetapi wajahnya mendadak pias bak kapur tulis. Lemparan kalengnya barusan tadi ternyata menuju ke tempat kerumunan beberapa siswa yang sedang berkumpul. Jiyeon sedikit panik, ia tahu gerombolan siswa itu adalah gank The Strangers yang terkenal di sekolahnya. Mereka sering berbuat onar dan berkelahi dengan gank dari sekolah lain. Gank yang terdiri dari 4 orang namja itu adalah Kim Myungsoo, Lee Sungjong, Jung Ilhoon, dan juga Lee Chanhee alias Chunji.

 “Ohmo!” ucap Jiyeon pelan. Ia merasa enggan jika harus menghadapi keempat orang namja itu. Ia masih tertegun di tempatnya. Sementara keempat namja itu sudah berdiri dan berjalan menghampirinya. Mereka mengelilingi Jiyeon.

“Yaa! Kenapa kau melemparku?” gertak Sungjong yang kena lemparan Jiyeon tadi sambil mengelus-ngelus dahinya yang sudah membiru.

“Mianhae, aku tidak sengaja.” Kata Jiyeon mencoba bersikap tenang.

“Tidak sengaja kau bilang? Lihatlah, dahiku sampai benjol begini. Kau harus membayar ganti rugi.”

“Mwo? Ganti rugi? Shirreo! Lagipula aku tidak sengaja melakukannya.”

“Jadi kau menolak?”

“Ne.”

Sungjong mendengus kesal. Tapi Jiyeon tak peduli. Dengan watadosnya, ia berjalan bermaksud meninggalkan gerombolan para namja itu.

“Yaa! Kau!”

Jiyeon terpaksa menghentikan langkahnya begitu didengarnya gertakan itu. Kini Ilhoon tampak berdiri tepat di depannya. Namja itu memandang Jiyeon mulai dari ujung kaki sampai ujung kepala.

“Bukankah kau ini dongsaengnya Park Sanghyun?” tanyanya kemudian.

“Ne. Wae?”

“Aigoo.. Yaa! Kalian ingat dengan Park Sanghyun tidak?”

“Anii.. Nugu?” tanya Chunji pula.

“Dia itu bekas anggota gank Sparky dari SMA Hannyoung, musuh kita.”

“Jinjjayo? Ohmo, kebetulan sekali kita bertemu dongsaengnya di sini.”

“Yaa, bukankah dia satu sekolah dengan kita? Seragamnya sama dengan punya kita. Tapi kenapa kita bisa tidak tahu?”

“Sepertinya ini kesempatan kita untuk membalas dendam atas kekalahan kita dulu.”

“Geurae, aku setuju.”

“Yaa! Yaa! Apa maksud kalian? Jangan macam-macam!” kata Jiyeon yang mulai menyadari gelagat kurang baik itu.

“Anii.. Kami hanya ingin bermain-main saja denganmu. Kajja, ikutlah denganku.” Kata Ilhoon sambil menarik tangan Jiyeon. Tapi Jiyeon meronta dan segera melepaskan diri.

“Kalian jangan macam-macam denganku! Kalau tidak, aku akan menghajar kalian.” Kata Jiyeon sambil memasang kuda-kuda. Ketiga namja itu tertawa melihatnya, kecuali Myungsoo.

“Yaa! Lihatlah, sepertinya yeoja ini bisa kungfu.” Kata Chunji sambil tertawa.

“Aku jadi penasaran ingin mencoba jurusnya itu.” sambung Sungjong pula.

“Geurae, majulah kalian satu persatu. Jangan main keroyokan. Karena itu hanya dilakukan oleh para pecundang! Arrachi?” kata Jiyeon menantang.

“Ohmo! Sombong sekali yeoja kecil ini.” kata Chunji tertawa mengejek.

“Yaa! Sudahlah, jangan membuat masalah dengan seorang yeoja. Kita pergi saja.” Kata Myungsoo yang sejak tadi hanya diam saja.

“Mwo? Pergi? Anii.. Tidak bisa! Yeoja ini sudah menantang kita.” kata Chunji lagi menggelengkan kepalanya.

“Jangan konyol! Kalian mau menyerang seorang yeoja yang lemah? Jangan membuat buruk nama kelompok kita.”

“Yaa! Kim Myungsoo! Aku bukan yeoja lemah. Kalau kalian memang ingin berkelahi denganku, majulah. Aku tidak selemah yang kau pikirkan. Arra?” potong Jiyeon.

Myungsoo tak segera menjawab. Ia menatap yeoja di depannya itu dengan pandangan menaksir-naksir.

“Wae? Apa kau takut? Ishh! Dasar pecundang!” kata Jiyeon lagi.

“Yaa! Tutup mulutmu yeoja cerewet!” kata Chunji yang tiba-tiba langsung menyerang Jiyeon. Namun baru saja ia mendekat, kepalan tangan kanan Jiyeon sudah mendarat di pipinya.

BUGH!!

Ilhoon mengerang sambil memegangi pipinya yang ngilu. Ketiga kawannya yang melihat itu jadi melongo.

“Ohmona! Bagaimana bisa?” kata Ilhoon heran.

“Bagaimana menurutmu? Pukulanku enak kan?” kata Jiyeon meledek.

“Aissh! Aku belum selesai. Terima ini!”

Chunji kembali menyerang hendak menampar pipi Jiyeon, tapi Jiyeon segera berkelit dan memberikan tendangan pada kaki Chunji. Tak ayal lagi, namja itu pun jatuh sambil meringis kesakitan. Jiyeon tersenyum penuh kemenangan.

“Kajja, siapa lagi yang mau maju? Kau! Yang tadi kena kaleng jalanan (?). Majulah!” tantang Jiyeon.

Sungjong yang merasa ditunjuk itu pun langsung memasang kuda-kuda. Ia maju dan mengelilingi Jiyeon.

“Aish! Untuk apa kau berkeliling begitu? Langsung serang saja.” Kata Jiyeon tenang.

Sungjong jadi geram mendengar ucapan Jiyeon itu. Maka ia pun segera saja menyerang hendak mencengkeram lengan Jiyeon. Tapi sekali lagi Jiyeon berkelit dan malah memberi bogem mentah ke punggung Sungjong.

BUGG!!

Tak ayal lagi, Sungjong yang malang itu pun jatuh terjerembab. Jiyeon tertawa melihatnya.

“Aigoo, ternyata kalian lemah sekali. Baru begitu saja sudah kalah. Bagaimana bisa kalian mendirikan sebuah gank yang katanya hebat itu kalau melawan seorang yeoja saja kalian tidak ada apa-apanya. Aigoo, benar-benar memalukan.” Katanya.

“KAU~” Ilhoon tak melanjutkan kalimatnya karena Myungsoo terlebih dahulu menepuk bahunya.

“Sudahlah, jangan diteruskan. Kita pergi saja. Kajja!” kata Myungsoo sambil membantu Chunji dan Sungjong berdiri.

“Yaa! Kita belum selesai!” teriak Jiyeon.

Keempat namja yang semula hendak pergi itu berhenti sejenak. Myungsoo pun perlahan menghampiri Jiyeon. Jiyeon langsung memasang kuda-kuda.

“Wae? Apa kau ingin merasakan pukulanku juga? Geureom, majulah!” kata Jiyeon sambil melompat-lompat menantang Myungsoo. Akan tetapi namja itu hanya diam saja dengan tenang tanpa ada tanda-tanda ingin melawan.

“Yaa, kenapa kau tidak memasang kuda-kuda?” tanya Jiyeon heran, karena ia melihat Myungsoo hanya diam saja. Perlahan namja itu mendekatinya. Jiyeon semakin waspada. Namun tiba-tiba saja tangan namja itu mencengkeram tangan kanan Jiyeon dan menarik tubuh Jiyeon sehingga mendekat kepadanya.

GLEKK!!

Jiyeon menelan ludah. Wajah namja itu kini sudah berjarak sekitar 5 centi dari wajahnya. Jiyeon mendadak gugup. Bagaimanapun juga ia tetap tidak bisa memungkiri kalau wajah yang kini berada di depannya itu benar-benar wajah yang tampan dan rupawan.

“Kau~” Jiyeon tak mampu melanjutkan kata-katanya. Ia sibuk mengatur derapan kaki kuda yang mulai berlarian dalam jantungnya itu. Sementara Myungsoo semakin mendekatkan wajahnya perlahan-lahan. Mau tak mau Jiyeon pun memejamkan kedua matanya.

“Pulanglah, tidak baik seorang yeoja berkeliaran sepulang sekolah.” Bisik Myungsoo pula.

EHEK!!

Jiyeon tersedak saat mendengarnya dan seketika membuka kedua matanya. Myungsoo pun melepaskan cengkeramannya, lalu tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya pada Jiyeon.

GLEKK!!

Sekali lagi Jiyeon menelan ludah karenanya. Setelah itu, Myungsoo pun berbalik dan beranjak pergi meninggalkannya.

“Yaa!! Kim Myungsoo!! Kau pikir aku tertarik padamu? Jangan salah sangka! Itu tidak akan terjadi! Arrachi??” teriak Jiyeon kesal bukan main. Namun Myungsoo dan ketiga kawannya itu terus saja berjalan tanpa menanggapinya.

“Aissh!! Jinjja.. Ternyata dia hanya mempermainkanku! Isssh!! Paboya!! Paboya!! Paboya!!” gerutu Jiyeon kesal sambil menendang-nendang kardus bekas yang kebetulan berserakan di sekitarnya itu.

***

 

“Yaa! Kenapa penampilanmu berantakan begitu? Seperti habis berkelahi saja.” Kata Sanghyun ketika dilihatnya dongsaengnya yang baru pulang itu.

“Memang benar.” Sahut Jiyeon acuh.

“Mwo? Maksudmu kau baru saja berkelahi?”

“Ne.”

“Yaa! aku sedang tidak bercanda!”

“Oppa pikir aku bercanda?”

“Jadi benar kau baru saja berkelahi?”

“Issh! Sudahlah, Oppa. Suasana hatiku sedang tidak enak hari ini. jangan ganggu aku dulu. Aku mau tidur.”

Sanghyun hanya melongo saja melihat Jiyeon yang ngelonyor pergi menuju kamarnya itu. Namun tiba-tiba saja Jiyeon berbalik kembali dan berkata,

“Apa dulu oppa bermusuhan dengan The Strangers?”

“Mwo? Bagaimana kau bisa tahu?”

“Tadi aku berkelahi dengan mereka.”

“MWO?”

Belum sempat Sanghyun bertanya lagi, Jiyeon sudah beranjak masuk ke dalam kamarnya.

“Yaa! Bagaimana kau bisa berkelahi dengan mereka? Yaa! Jiyeon-ah!”

Tapi Jiyeon hanya diam saja tak berniat ingin menjawab pertanyaan Oppanya itu.

***

 

Jiyeon baru saja selesai makan malam ketika tiba-tiba ponselnya bergetar.

Minho is calling.

Jiyeon mendengus melihatnya. Hatinya masih terasa sakit gara-gara kejadian tadi siang. Maka dengan geram ia pun menekan tombol reject. Minho terus saja menelepon, tapi jiyeon pun terus menekan tombol reject.

Rasakan itu! Seenaknya saja mempermainkanku seperti itu. Memangnya dia pikir aku ini boneka? Aish! Jinja.. Kim Hyuna! Tunggu saja pembalasanku! Dasar yeoja penggoda namja orang lain!

BRAK!!

“Aiyaa, ponselku!” seru Jiyeon panik karena tanpa sadar ia telah membanting ponselnya ke lantai. Tak ayal lagi, ponsel itu pun langsung berubah menjadi kepingan benda tak berharga lagi.

“Aigoo! Kenapa bisa begini? Eottokhe? Matilah aku!” katanya sambil mencoba menyatukan kembali sisa kepingan ponselnya itu.

“Aish! Paboya! Ini semua gara-gara yeoja lampir itu! Aaarrgghh!!” Jiyeon pun dengan kesal melemparkan kepingan hp itu keluar jendela kamarnya. Napasnya naik turun. Ia benar-benar marah dan kesal bukan main. Ia masih teringat dengan jelas saat tadi Minho berpelukan dengan Hyuna. Padahal setahunya Minho adalah namja yang setia. Ia benar-benar tidak habis pikir kalau ternyata ia pun sama dengan namja yang lain. Jiyeon meremas rambutnya dengan kesal, lalu melangkah keluar dari jendela dan mulai memanjat ke atap rumahnya. Begitu sampai di atap, ia merebahkan tubuhnya sambil memandang langit.

“Yaa, bulan! Alangkah enaknya menjadi dirimu. Setiap malam selalu dikelilingi oleh bintang-bintang yang selalu setia menemanimu. Sementara aku, baru saja aku mendapatkan seorang namja yang kucintai, tapi dia sudah pergi meninggalkanku bersama yeoja lain. Hmmph.. Bukankah aku ini menyedihkan? Aku ingin sekali menjadi sepertimu. Bagaimana kalau kita tukar tempat? Kau mau?” kata Jiyeon seorang diri sambil menatap rembulan yang menyinari tubuhnya itu.

“Baru kali ini aku melihat ada orang bicara pada benda mati.”

Jiyeon tersentak mendengarnya. Secepat kilat ia menoleh. Rupanya di atap rumah tetangganya yang berjarak hanya sekitar 2 meter itu, seorang namja juga tengah berada di sana saat itu.

“Nuguya?” tanya Jiyeon heran, karena merasa belum pernah melihat namja itu sebelumnya.

Namja itu tak segera menjawab,

“Yaa, apa kau maling?” kata Jiyeon lagi. Ia mulai waspada.

“Enak saja. Aku tinggal di rumah ini.” sahut namja itu pula.

“Jangan bohong! Setahuku anak Jinwoo ahjussi sekarang berada di Amerika.”

“Aku baru sampai di rumah tadi pagi.”

“Geuraeyo?”

“Kalau kau tidak percaya tanyakan saja sendiri.”

Jiyeon tak menyahut. Ia terus memandangi namja yang sedang tiduran di atap rumahnya itu. Sebentar kemudian, ia sendiri pun kembali merebahkan dirinya seperti semula.

“Kau.. Baru diputuskan namjamu ya?” tanya namja asing itu.

“Anii, aku yang memutuskannya.”

“Wae? Apa dia selingkuh?”

“Bukan urusanmu.”

“Aku hanya ingin tahu.”

“Aku tak ingin memberitahu.”

“Wae?”

“Karena itu memang bukan urusanmu dan aku tak mengenalmu.”

“Aku anaknya Yang Jinwoo, tetanggamu sendiri.”

“Aku tidak peduli. Pokoknya aku tidak mengenalmu.”

“Aish! Kau memang yeoja keras kepala, persis seperti yang dikatakan orangtuaku.”

“Mwo?”

“Ne, dan agaknya aku mulai percaya hal itu.”

“Issh! Terserah kau saja.”

“Sepertinya aku tahu alasannya kenapa namjamu itu selingkuh.”

“Mworago?”

“Kau saja keras begitu~”

“Yaa!! Jangan ikut campur urusanku kalau kau tidak tahu apa-apa! Kau hanya orang asing di sini! Arrasseo??” Jiyeon mendadak berteriak dengan kesal. Setelah itu ia bangkit, lalu kembali menuruni atap dan masuk kamar melalui jendela lagi. Sementara namja yang ditinggalkannya itu hanya tertawa kecil melihat tingkah Jiyeon seperti itu.

***

 

Jiyeon berangkat ke sekolah dengan langkah gontai. Raut mukanya masih sama seperti kemarin. Kesal dan marah. Ia bertekad kalau ia sampai bertemu dengan Hyuna dan Minho di sekolah nanti, ia takkan segan-segan lagi mencakar keduanya. 10 menit kemudian ia sampai di depan gerbang SMA Gwangju, sekolahnya. Namun langkahnya mendadak terhenti. Ia berpapasan dengan seorang namja yang tak asing baginya. Kim Myungsoo. Keduanya berhenti sejenak dan saling bertatapan. Jiyeon jadi teringat kembali dengan kejadian kemarin itu.

“Wae?” kata Myungsoo dengan sikap dingin.

Jiyeon hanya melengos tanpa menjawab, lalu beranjak pergi begitu saja dari hadapan namja itu.

“Yaa!  Park Jiyeon!” panggil Myungsoo tiba-tiba.

Jiyeon pun terpaksa berhenti dan menoleh.

“Wae?” tanyanya.

Myungsoo tak segera menjawab. Ia malah terlihat serius menatap Jiyeon, membuat yeoja itu menjadi tak enak hati dibuatnya.

“Waeyo?” ulang Jiyeon lagi agak keras.

“Ada kotoran di sudut matamu.” Kata Myungsoo tenang.

“Mwo?”

Setelah berkata begitu, Myungsoo pun beranjak pergi begitu saja meninggalkan Jiyeon.

“Aissh! Jinjja.. Lagi-lagi dia mempermainkanku! Uuurggh!!” kata Jiyeon sambil menendang gerbang sekolah.

BRANG!!

“Aiyaa!!” pekik Jiyeon kesakitan sambil mengelus-ngelus kakinya. Lalu dengan agak terpincang, ia pun berjalan lagi menuju kelasnya. Namun di tengah jalan, ia malah berpapasan dengan Minho.

“Jiyeon-ah, gwaenchanha? Kenapa jalanmu pincang?” tanya Minho tampak khawatir.

“Amugeotdo aniya.”

“Kau masih marah padaku?”

“Pikir saja sendiri.”

Jiyeon kembali melangkah, tapi Minho memegangi tangannya.

“Jiyeon-ah, jeongmal mianhaeyo..” katanya.

“Ne, sudah kumaafkan. Sekarang lepaskan aku. Aku mau ke kelas.” Kata Jiyeon sambil melepaskan tangannya.

“Biar kuantar.”

“Ck.. Sudahlah, lebih baik Oppa urus saja mantan yeojachingu Oppa itu. Aku bukan anak kecil lagi yang harus diantar.”

“Kau salah paham.. Kemarin itu aku dipaksa. Kau tahu sendiri kan Hyuna itu bagaimana. Apa kau tidak percaya padaku?”

Jiyeon diam saja tak menjawab. Ia kembali melangkahkan kakinya.

“Jiyeon-ah~”

“Pergilah, jangan ganggu aku!”

“Tapi~”

“Kalau Oppa tidak ingin melihatku semakin marah, lebih baik ikuti saja kata-kataku.”

Minho tak menyahut. Ia pun terpaksa membiarkan Jiyeon melangkah pergi meninggalkannya.

***

 

Jiyeon tampak lemas di bangkunya. Kepalanya tergeletak di atas meja seperti tak punya tenaga. Suzy, teman sebangkunya yang melihatnya seperti itu jadi heran.

“Yaa, mwoya? Kau sakit?” tanyanya.

“Anii, gwaenchanha.”

“Jeongmal? Tapi kenapa lemas begitu?”

“Gwaenchanha.”

“Sedang datang bulan ya?”

“Anii..”

“Belum sarapan?”

“Yaa, jangan bertanya terus. Aku sedang tidak ingin diganggu.”

Suzy agak terkejut mendengarnya. Namun ia hanya diam saja, lalu mengambil headset dan dipasangnya di kedua telinganya. Akan tetapi baru saja ia hendak manggut-manggut menikmati irama musiknya itu, tiba-tiba Kyuhyun seonsaengnim telah memasuki ruangan bersama seorang namja asing. Suzy pun terpaksa melepas kembali earphone nya.

“Nuguji? Yaa, Jiyeon-ah. Ada siswa baru di kelas kita.” Bisik Suzy pada Jiyeon.

“Hmm..” hanya itu yang dikatakan Jiyeon tanpa mengangkat kepalanya.

“Ehem-ehem. Anak-anak sekalian!” suara Kyuhyun seonsaengnim memecah suara anak-anak yang masih ribut.

“Hari ini kalian kedatangan teman baru. Juseyo, perkenalkan dirimu.” Kata Kyuhyun seonsaengnim kemudian pada siswa baru tersebut. Siswa itu tersenyum dan mengangguk, lalu mulai membuka suara.

“Annyeonghaseyo. Naneun Yang Yoseob imnida. Semoga kalian bersedia menerimaku sebagai teman baru kalian. Manasseo bangapseumnida.” Katanya sambil membungkuk.

“Ohmo! Yaa, Jiyeon-ah, lihatlah namja itu. Dia benar-benar namja yang cute.” Bisik Suzy.

“Hmm..” lagi-lagi hanya itu yang keluar dari mulut Jiyeon.

Suzy mendengus dibuatnya.

“Park Jiyeon!” tegur Kyuhyun seonsaengnim tiba-tiba.

“Hmm..” sahut Jiyeon yang masih belum sadar itu.

Suzy membelalak melihatnya. Diam-diam disodoknya yeoja di sebelahnya itu.

“Yaa! Bangunlah, yeoja pabo!” bisik Suzy. Tapi ternyata Jiyeon masih tetap pada posisi semula. Kyuhyun seonsaengnim pun berjalan menghampirinya.

“Aigoo, tamatlah riwayat yeoja ini.” keluh Suzy lirih.

BRAKK!!

Kyuhyun seonsaengnim menggebrak meja Jiyeon menggunakan penggaris panjangnya, membuat yeoja itu terkejut dan mengangkat kepalanya seketika.

“Yaa!! Apa yang~” Jiyeon tak melanjutkan kalimatnya begitu mengetahui siapa yang berada di depannya saat itu.

“Ohmo, seonsaengnim~” katanya langsung panik seketika. Sementara Suzy sudah menutup kedua matanya tak berani menyaksikan adegan selanjutnya.

“Sedang apa kau?” tanya Kyuhyun seonsaengnim kemudian.

“Eng.. Saya.. sedang~ itu.. anu.. aiyaa.. Seonsaengnim. Perut saya tiba-tiba sakit. Ijinkan saya ke belakang sebentar.” Kata Jiyeon sambil membungkuk dan bermaksud hendak beranjak, namun Kyuhyun seonsaengnim telah menghadang tubuh Jiyeon menggunakan penggarisnya.

“Jangan mencari-cari alasan. Cepat ke depan dan berdiri di pojok sambil mengangkat satu kaki dan kedua tangan menarik telinga!”

“Nde? Tapi seonsaengnim~”

“Atau kau mau keliling lapangan?”

Jiyeon tak menyahut. Ia mendengus kesal. Mau tak mau ia pun berjalan ke depan dengan langkah gontai. Namun sesaat kemudian langkahnya terhenti. Ia terkejut ketika melihat seorang namja asing di depannya.

“Kau?”katanya.

Namja itu tersenyum dan melambai.

“Annyeong! Aku siswa baru di sini.” katanya.

“Mwo?”

“Park Jiyeon! Cepat ke pojok!” tegur Kyuhyun seonsaengnim lagi, membuat Jiyeon mendengus dan terpaksa berjalan ke pojok depan kelas.

“Yang Yoseob, kau boleh duduk.”

Namja bernama Yoseob itu pun mengangguk dan duduk di bangku  yang masih kosong. Sementara Jiyeon sudah berpose dengan posisi yang ditentukan Kyuhyun seonsaaengnim tadi. Kedua matanya mengarah pada Yoseob, siswa baru yang kini sudah duduk di bangku belakang. Namja itu melambaikan tangan padanya sambil tersenyum. Jiyeon melengos melihatnya.

Aish! Kenapa namja itu ada di sini? Mengganggu ketenangan hidupku saja, pikir Jiyeon kesal.

***

 

Istirahat pertama pun tiba. Begitu seonsaengnim keluar kelas, hampir semua siswi berlomba menghampiri tempat duduk Yoseob. Mereka tampak ribut sekali. Jiyeon yang melihatnya hanya mengerutkan keningnya pertanda heran.

“Issh!! Mwoya?” gumamnya.

“Jiyeon-ah, kajja kita kesana.” Ajak Suzy pula.

“Shirreo.. Seperti tidak ada kesibukan lain saja. Aku mau keluar.”

“Yaa, jangan begitu. Seharusnya kau menyapa teman baru kita sebagai tanda perkenalan.”

“Aku sudah kenal di atap tadi malam.”

“Mwo?”

Jiyeon tak menjawab lagi melainkan langsung beranjak keluar kelas.

“Yaa! Jiyeon-ah, apa maksudmu?” seru Suzy, tapi Jiyeon tak menanggapinya sama sekali. Suzy mendengus, lalu ia pun ikut berkerumun dengan para siswi lainnya di bangku milik Yoseob.

Sementara itu Jiyeon berjalan tanpa semangat menyusuri koridor. Wajahnya tampak kusut sekali seperti tak terurus. Ia berjalan menuju lapangan basket. Di sana ia melihat beberapa orang siswa tengah bermain basket. Namun yang menarik perhatiannya adalah tak jauh dari lapangan basket itu tampak 4 orang siswa sedang berkumpul. The Strangers. Jiyeon tersenyum kecil melihatnya. Teringat dengan kejadian kemarin.

“Issh! Dasar namja-namja lemah. Begitu saja pakai membuat sebuah grup segala. Jinjja..” gumamnya geli.

“Yaa! Jiyeon-ah!”

Jiyeon agak terkejut mendengarnya. Ia pun menoleh. Mukanya berubah seketika. Hyuna.

“Wae?” tanyanya acuh.

“Kau tampak kacau sekali. Apa kau sedang patah hati?” tanya Hyuna menyindir.

“Anii. Aku memang akan tampak kacau setiap kali ada orang gila yang mengajakku bicara.”

“Mworago?”

“Kau yeoja pintar kan? Tentunya kau mengerti maksudku.”

“Kau~”

“Aku pergi. Aku tak mau jadi bertambah kacau lagi.” Sela Jiyeon sambil beranjak.

“Yaa! Kau!” Hyuna menarik lengan Jiyeon tiba-tiba dengan kasar. Jiyeon masih mencoba bersikap tenang, walaupun lengannya terasa sakit.

“Kau pikir kau hebat? Park Jiyeon, dengar. Choi Minho adalah namja yang diciptakan hanya untukku. Jadi jangan pernah bermimpi kau akan bisa bersamanya. Arrachi?”

Jiyeon tersenyum kecil mendengarnya, lalu dengan gerakan cepat ia memutar lengan Hyuna dan memelintirnya ke belakang.

“Aiyaa, lepaskan!” teriak Hyuna kesakitan.

“Dengar, yeoja gila. Aku bisa saja membuat wajahmu yang mulus itu menjadi cacat. Jadi jangan sekali-kali kau mencoba mengancamku. Arra?”

Hyuna tak menjawab. Ia tampak kesakitan karena Jiyeon memelintir tangannya cukup keras.

“Jiyeon-ah! Apa yang kau lakukan?”

Jiyeon menoleh terkejut mendengarnya.

“Oppa?” katanya begitu melihat Minho sudah berada di sana.

“Oppa.. Dia berbuat kasar terhadapku.. Aiyaa, tanganku sakit sekali, Oppa..” rengek Hyuna sambil memasang muka memelas.

Jiyeon kesal bukan main melihatnya bersandiwara seperti itu.

“Jiyeon-ah, jebal lepaskan dia..” pinta Minho kemudian.

Mau tak mau Jiyeon pun terpaksa melepaskan tangan Hyuna. Napasnya mulai naik turun.

“Jiyeon-ah, kenapa kau jadi seperti ini?” tanya Minho.

Jiyeon diam saja tak menjawab.

“Aku tahu kau masih marah padaku. Tapi itu bukan berarti kau harus menyakiti Hyuna seperti itu..”

“Mwo? Jadi Oppa pikir aku yang salah?” tanya Jiyeon.

“Bukan begitu.. Tapi seharusnya kau tidak berbuat kasar terhadapnya..”

“Tapi dia yang memulainya ~”

“Anii, itu tidak benar! Dia yang memulai lebih dulu. Oppa lihat sendiri kan tadi? Lihatlah, Oppa tanganku jadi memar begini.. Aiyaa..” kata Hyuna memotong ucapan Jiyeon sambil pura-pura meringis kesakitan. Jiyeon jadi semakin kesal melihatnya.

“Yaa! Kau yeoja lampir! Kenapa kau pandai sekali memutar balikkan fakta? Rupanya kau benar-benar ingin kupukul ya?” katanya sambil hendak menghampiri Hyuna. Tapi Minho menghalanginya.

“Jiyeon-ah, cukup. Aigoo, kenapa kau berubah seperti ini? Aku tidak menyangka kau bisa berbuat kasar begini..” kata Minho.

Jiyeon tertegun mendengarnya. Hatinya terasa sakit sekali.

“Ternyata Oppa lebih membela dia daripada aku..” katanya lirih.

“Jiyeon-ah, bukan begitu~”

“Geurae, arasseo.. Gwaenchanha.” Kata Jiyeon, lalu perlahan beranjak pergi.

“Jiyeon-ah, eodiga?”

Jiyeon tak menyahut, melainkan terus saja melangkahkan kakinya. Jiyeon berharap namja itu berlari mengikutinya. Namun ternyata Minho malah mulai sibuk memegangi Hyuna yang berpura-pura tak kuat berjalan. Jiyeon jengkel bukan main karenanya. Ia terus berjalan menuju tempat yang agak sepi dan duduk di bawah pohon beringin. Napasnya masih terlihat naik turun. Ingin sekali rasanya ia meninju muka Hyuna habis-habisan. Tapi apa boleh buat, ia tak bisa melakukan itu. Maka ia pun hanya bisa melampiaskan kemarahannya pada pohon di dekatnya. Bukan meninjunya melainkan memukul-mukulnya menggunakan batu yang diambilnya dari samping tempat ia duduk.

“Choi Minho jahat.. Dasar Hyuna yeoja lampir!! Haaaassst!!!!” gerutunya jengkel sejengkel-jengkelnya sambil terus memukuli pohon di dekatnya itu.

“Ohmo! Kenapa kau menyiksa pohon yang tak bersalah?”

Jiyeon berhenti sejenak dan menoleh.

“Kau?”

Namja cute yang tak lain adalah Yoseob itu tersenyum, lalu ikut duduk di sebelah Jiyeon.

“Mau apa kau kesini?” tanya Jiyeon kurang senang.

“Ini!” kata Yoseob sambil meyodorkan minuman dingin pada Jiyeon. Tapi Jiyeon hanya diam saja dengan raut muka keheranan.

“Pasti saat ini suasana hatimu sedang panas kan? Minumlah dulu, siapa tahu nanti bisa jadi agak dingin.” Lanjut Yoseob lagi.

“Shirreo, gwaenchanha.” Tolak Jiyeon.

“Aku tahu, kau baru saja bertengkar, kan?”

“Bukan urusanmu.”

“Aigoo, selalu mendapat jawaban ketus seperti ini.”

“Yaa, lebih baik kau jangan menggangguku. Aku tak butuh ceramah dari siapapun.”

“Aku tak ingin berceramah. Aku hanya ingin mendinginkan hatimu. Kau pikir enak melihat orang lain berwajah masam begitu?”

“Kalau begitu jangan melihatku.”

“Mana mungkin? Kau tetanggaku, jadi sudah pasti aku akan selalu melihatmu.”

“Aish! Kau ini cerewet sekali!”

“Kau malah keras kepala.”

“Yaa!! Kau ini~”

“Sudahlah, lebih baik minum ini dulu. Sudah repot-repot aku membelikannya untukmu.”

Jiyeon tak menyahut. Ia memandang kearah minuman dingin yang disodorkan padanya. Mau tak mau ia pun menyambar juga minuman itu dan langsung meneguknya.

“Bagaimana? Sudah lebih baik?” tanya Yoseob.

“Sama saja.”

“Paling tidak aku tidak sia-sia membelinya.”

“Mwo?”

“Geurae, aku pergi dulu. Kajja, sebentar lagi masuk.”

“Yaa! Jamkkanman!”

Tapi namja itu sudah berlari pergi.

“Namja yang aneh. Dia menemuiku hanya untuk memberikan minuman ini? Apa maksudnya? Jamkkan, siapa nama namja itu?” gumam Jiyeon keheranan.

***

 

 

“Jiyeon-ah! Ppalli!” teriak Sanghyun yang sudah menyalakan mesin mobilnya itu. Sebentar kemudian Jiyeon tampak berlari-lari kecil keluar dari rumah.

“Aish! Kenapa kau harus mengajakku? Belanja adalah hal paling aneh dalam hidupku.” Gerutu Jiyeon sambil menutup pintu mobil dengan gusar.

“Diamlah, kau kan tahu sendiri kalau pembantu kita sedang sakit. Apa kau tidak kasihan melihatnya?”

“Ck.. Tapi kan aku seharusnya tidak ikut.”

“Yaa! Kau kan yeoja. Justru seharusnya kau sendiri yang pergi belanja.”

“Enak saja! Itu bukan gayaku.”

“Tutup mulutmu. Kita akan segera berangkat.”

Jiyeon hanya diam saja sambil memasang muka sebal.

Sanghyun pun menjalankan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah. Di tengah perjalanan, tampak Sanghyun mengeluarkan ponselnya. Sepertinya ia sedang mengirim pesan pada seseorang. Jiyeon meliriknya.

“Oppa..” katanya.

“Hmm?” sahut Sanghyun tanpa menoleh.

“Ponsel milik oppa bagus.”

“Kau baru tahu?”

“Ne..”

Sanghyun tak menjawab, ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku bajunya, dan kembali konsen menyetir.

“Eng.. Oppa..”

“Hmm?”

“Ponselku kemarin jatuh dan rusak~”

“Lalu?”

“Oppa kan namja yang baik~”

“Yaa! Aku mengerti maksudmu. Tapi jangan harap akan kuserahkan ponselku padamu. Arra?”

Jiyeon merengut mendengarnya. Ia tak menyangka oppanya akan bisa menebak maksudnya yang hendak meminta ponselnya itu.

“Namja pelit..” gumam Jiyeon lirih.

“Mwo?”

“Anii.. Anii..”

Diam-diam Sanghyun tersenyum geli melihat sikap dongsaengnya itu.

“Yaa, kau belum menjawab pertanyaanku kemarin. Kenapa kau berkelahi dengan The Strangers?”

“Ahh, geugae.. Anii hanya suatu kebetulan saja.”

“Yaa! Jawablah dengan serius.”

“Memang begitu kenyataannya.”

“Apa mereka tahu kalau kau ini dongsaengku?”

“Ne.”

“Aish! Kenapa kau memberitahu mereka?”

“Mereka memang sudah tahu tanpa kuberitahu.”

“Jinjjayo?”

“Wae? Apa oppa takut mereka akan menyakitiku? Tenang saja, Oppa. Mereka itu hanya sekumpulan namja lemah. Buktinya saja kemarin aku berhasil mengalahkan mereka.”

“Jinjja? Myungsoo kalah olehmu?”

“Eng.. Anii, aku memang tidak sempat berkelahi dengannya. Aku hanya berkelahi dengan Chunji dan Sungjong saja.”

“Aish! Paboya. Tentu saja kau menang melawan mereka. Mereka itu anggota baru The Strangers.”

“Mwo? Jinjja?”

“Ne. Dulu anggota The Strangers ada 6 orang. Tapi semua sudah keluar. Hanya Myungsoo dan Ilhoon saja yang masih bertahan. Belakangan kudengar kalau ada 2 orang lagi yang ikut bergabung. Mereka Chunji dan Sungjong. Tapi mereka tidak sehebat anggota yang dulu.”

“Tapi aku penasaran, kenapa banyak anggota mereka keluar dari kelompok itu?”

“Molla..”

“Yaa, jamkkan! Aku juga penasaran, kenapa oppa juga keluar dari kelompok Sparky?”

“Geu.. Aku keluar karena aku sudah lulus sekolah dan harus konsentrasi pada mata kuliah di kampusku. Aku sudah tidak berminat lagi pada hal-hal yang berbau kekerasan begitu.”

“Geuraeyo? Berarti mungkin mereka punya alasan yang sama dengan Oppa.”

“Bisa jadi.”

“Aish! Aku heran, kenapa harus ada kelompok-kelompok seperti itu? Seperti tak ada  pekerjaan lain saja. Memang apa untungnya punya kelompok yang suka berkelahi begitu? Apa memang semua namja muda jaman sekarang senang berkelahi? Aish! Jinjja..”

Sanghyun hanya tersenyum saja menanggapinya.

“Yaa! Apa kau sudah bertemu dengan Yoseob?” tanyanya tiba-tiba.

“Yoseob? Nugu?”

Belum sempat Sanghyun menjawab, tiba-tiba mereka melihat di jalan depan ada beberapa orang siswa sedang berkelahi. Jiyeon terbelalak saat melihatnya.

“Ohmo! Ada tawuran. Yaa! Itu The Strangers! Aigoo, lagi-lagi mereka..” keluh Jiyeon.

Sanghyun menghentikan mobilnya sejenak. Mereka melihat tawuran itu dari kejauhan. Tampak Myungsoo dan ketiga kawannya tengah berkelahi dengan beberapa siswa dari sekolah lain. Jiyeon melihat Chunji dan Sungjong berkali-kali terkena pukulan.

“Aigoo, namja-namja pabo itu.. Mana mungkin mereka bisa mengalahkan musuh sebanyak itu? Issh! Kenapa belum ada juga polisi yang datang? Jinjja..” keluh Jiyeon sekali lagi. Kedua matanya tak lepas dari mereka. Ia melihat Myungsoo berusaha melawan musuh mereka. Ternyata namja itu tak selemah Chunji dan juga Sungjong. Terbukti Jiyeon belum melihat ada satu pukulan pun yang mengenainya. Begitu juga dengan Ilhoon. Namja itu tampaknya juga tak kalah hebatnya dari Myungsoo. Namun tiba-tiba saja kedua mata Jiyeon menangkap seseorang tengah berada di antara tawuran tersebut. Jiyeon terkejut bukan main. Seseorang yang dilihatnya itu sama sekali tak asing baginya. Ia tampak merunduk ketakutan berada di antara tawuran para pelajar tersebut.

“Ohmona! Suzy?” seru Jiyeon panik. Lalu tanpa menunggu lebih lama lagi, yeoja itu pun segera membuka pintu mobil dan langsung melesat keluar.

“Yaa! Jiyeon-ah! Eodiga? Yaa! Jangan bertindak bodoh!” teriak Sanghyun cemas ketika dilihatnya Jiyeon yang berlari ke arah TKP..

***

 

_Author POV end_

To be continued..

 

Heheh annyeong! Ff kali ini kurang bagus ya? Maaf deh, author khilap. Tapi author harap readerdeul cukup terhibur dengan ff iini. Geureonikka, don’t be a silent reader yah? 😉

Sampai jumpa di next part, kamsahamnida, annyeong! 🙂

53 thoughts on “[FF Freelance] Where is My Man? (Part 1)

  1. Daebakkkkkk seruuuu ff nya gk bosenin dsini jiyi pacar Minho tetangga Yoseob dan L Gmn kok jadi bad boy tapi aku suka kirain jiyi pacar L ternyata enggak ini ff myungyeon apa minji chingu aku myungyeon shipperrrrrrr lo minji q patah hati donk

    Tapi critany bagus q suka fighting

  2. wah FFnya daebak….sampe katawa-ketawa sendiri bacanya..

    Omo sungjong & chunji..payah banget masa gitu aja kalah sama jiyeon…

    Yoseob apakah dia ada hati ke jiyeon..? (nan molla)

    Aku mendukung myungyeon disini untuk menjadi pasangan.

    Penasaran part selanjutnya..
    Semoga moment myungyeon lebih banyak dipart selanjutnya…(kik..kik..kik..pikiran yadong kumat)
    Izin mencari part selanjutnya ya thor..
    Mian terlambat comment nya author, baru baca soalnya..hem padahal aku mau Like FF ini sangkin sukanya, tapi gak tau caranya..(Sedih)

  3. haha ngakak bacanya xD plis hyuna sama minho ngapain ditoilet aduh astgfr-____- wkwkwk
    seru ih ceritanya 😀 lanjut baca deh 😀 haha

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s