ADVERSA [2] – END

adversa-copy

▲DVERSA

by melslm금

Cast(s): Park Jiyeon, Lee Junho

Sub Cast: Find by your self

Genre: Life-Romance, Fantasy, Dark, AU

Length: Two-shot

Disclaimer: Inspired by Stephennie Meyer‘s “Twilight Saga” & Jun Mochizuki‘s “Pandora Hearts

Prev:

1st Chap | 2nd Chap – END

*

you are the reason why I’m still here,

even without breath

*

“2nd Chap”

Mata teduh itu menipu. Wajah tampan itu topeng. Suara manis itu palsu.

Jiyeon terus memundurkan langkahnya ke belakang.

“Apa yang kau inginkan?” Jiyeon bertanya dengan nada ketus. Matanya menyelidik menuntut kepada pria yang berada di hadapannya.

“Aku? Ingin apa?” ulang pria itu, kemudian tersenyum. Semakin menunjukkan wajah tampannya yang benar – benar seperti malaikat. Tetapi, itu semua hanya topeng, penutup hatinya yang sebenarnya.

“Kalau aku ingin wajah cantikmu?” ia terus memajukan langkahnya. Mengikuti langkah Jiyeon yang semakin mundur. “Tapi, bagaimana kalau yang aku inginkan adalah……nyawamu?”

“Siapa kau sebenarnya!?” Jiyeon bertanya dengan nada tinggi. Ia masih mencoba untuk memundurkan langkahnya ke belakang. Sampai akhirnya, tubuhnya itu benar – benar menempel dengan tembok.

“Sayang sekali, Junho tak segera mengubahmu menjadi seperti kami.” ujar pria itu, mengunci tubuh Jiyeon dengan tangannya yang sedingin es. “Ah, aku lupa. Junho adalah darah lumpur.” ujarnya lagi.

“Apa maksudmu!?” Jiyeon menyerngitkan alisnya. Merasakan dinginnya tangan pria itu yang menusuk pori – pori kulitnya.

“Aku.. dan Junho, adalah satu keluarga. Keluarga jauh. Tapi, sayangnya.. kami beda aliran.” Ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Jiyeon. Hidung mereka yang sama – sama mancung terpaut jadi satu.

“Jangan macam – macam.” sergah Jiyeon. Sedetik kemudian, pria itu langsung menjauhkan wajahnya dari wajah Jiyeon. Di detik berikutnya, Ia tertawa.

“Sekarang kau sudah tau siapa aku. Bukan begitu, Park Jiyeon?” Ia berhenti tertawa. Kini matanya beralih dari wajah Jiyeon. Menatap tubuh Jiyeon yang menggigil.

“Kau kedinginan?” tanyanya. “Perlu ku hangatkan? Lebih baik kau menyimpan benih dariku di rahimmu daripada benih dari anak lumpur macam Junho.” tawarnya. Seolah dengan senang hati, bibirnya mengulas senyum.

Jiyeon menatap sinis pria itu. “Cih. Aku tidak akan pernah sudi. Dan, satu lagi. Jangan pernah menghina Junho!” umpatnya.

“Waw, sepertinya kau menaruh hati pada Junho, Nyonya Park.” katanya. Ia menjambak rambut Jiyeon ke samping kanan, dan meletakkan bibirnya di leher kiri Jiyeon.

“Ajalmu sudah dekat, Nyonya Park.” bisiknya, kemudian menghembuskan nafas di leher Jiyeon. Jiyeon meronta – ronta kesakitan karena rambutnya semakin di tarik.

“Lee Junho!!!!!!!!!” Jiyeon berteriak dengan suaranya yang parau.

Pria tadi menyeringai. “Ia tidak akan mendengarnya. Dia berada Jauh dari sini. Bahkan, suaramu itu sangat kecil untuk dapat di jangkau olehnya.”

Air mata Jiyeon menetes, merasakan rambutnya yang semakin di tarik. Kepalanya serasa ingin patah.

“Lebih baik, ku ubah kau menjadi sepertiku dulu, baru setelah itu ku bakar kau bulat – bulat.” gumam si Pria di telinga kiri Jiyeon, sebelum akhirnya menggigit leher Jiyeon, memasukkan racun nya.

“Kesalahan besar kau menyentuhnya, Nichkhun Buck Horvejkul.” suara Junho menggema. Mengisi kesunyian diantara suara ringisan Jiyeon.

“Telingaku ini memiliki kelebihan tersendiri, kau tahu? Tidak seperti telingamu yang penuh dengan kotoran. Bahkan, aku tahu kalau dalam hatimu saat ini sedang bertanya mengapa aku bisa berada di sini. Bukan begitu?” Junho berjalan ke arah Pria yang di sebut sebagai Nichkhun tadi.

“Apakah kekuatanmu itu bertambah, Lee Junho?” Nichkhun melepaskan cengkramannya dari rambut Jiyeon, dan mendorong Jiyeon hingga tersungkur ke belakang tubuhnya.

Dengan sigap, Junho langsung melangkah hendak menghampiri Jiyeon. Namun, tak kalah sigap, Nichkhun mencegat langkahnya.

“Penantianku selama 200 tahun ini tak sia – sia rupanya.” Nichkhun berjalan mengitari tubuh Junho yang masih diam mematung menatap tubuh Jiyeon yang terkulai lemah, dan sesekali menggelinjang hebat merasakan racun Nichkhun yang menjalar, hampir ke seluruh tubuhnya.

“Umurmu bahkan baru 189 tahun, tolol.”

“Begitukah? Aku salah menghitung berarti. Memangnya, berapa umurmu?” Nichkhun mencoba memperlambat suasana. Tapi, Junho tau apa maksud Nichkhun karena fikirannya terbaca jelas oleh Junho.

“217.” jawab Junho.

Dengan gerakan cepat, setelah menjawab pertanyaan dari Nichkhun, Junho langsung berbalik dan memegang kedua tangan Junho kebelakang serta menahan kedua kakinya.

“Fikiranmu dapat dengan mudah terbaca olehku, tolol. Kau mencoba memperlambat suasana agar racun mu itu menyebar. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, karena selamanya sampai mati Jiyeon akan selalu menjadi manusia.

“krtek”

Junho memelintir tangan Nichkhun. Tangan kirinya patah.

“Umur sepertimu, seharusnya sudah menikah. Mungkin akan lebih baik kalau ada yang mengurusmu.” ujar Nichkhun, seolah tidak terjadi apa – apa dengan tangannya.

“Akan lebih baik kalau kau pergi dari sini, sebelum kupatahkan kepalamu dan ku buang ketempat pembakaran sampah.” ujar Junho melotot, menatap tajam mata Nichkhun– masih dengan ekspresi datarnya.

“Bagaimana, kalau ku buat kau merasakan racunku lewat mata, dan kau akan benar – benar menghadapi kematian yang sesungguhnya.” kata Nichkhun santai.

Sialnya. Junho merasa benar – benar menjadi orang paling bodoh yang pernah ada. Ia lupa kalau Nichkhun mempunyai racun yang paling mematikan di matanya.

“Aku bahkan belum pernah mati sepertimu, ergh!!!!!!!” tubuh Junho terkunci. Sekuat mungkin, Junho berusaha untuk memejamkan matanya. Tapi, berat sekali rasanya.

“Argh!! Haaahhh!! Erghhh!!” erang Jiyeon di bawah sana. Ia menjambaki rambutnya sendiri, merasakan sakit sekaligus panas yang luar biasa di sekujur tubuhnya.

Leher Jiyeon mengeluarkan darah, bekas gigitan Nichkhun tadi. Di detik berikutnya, Nichkhun memejamkan matanya. Menarik nafas dalam – dalam, menghirup bau darah segar dari leher Jiyeon. Rasa haus menggerogoti kerongkongannya.

Kesempatam ini di manfaatkan oleh Junho, karena ia sudah terbebas dari jeratan racum mata Nichkhun.

“Menjauh darinya, vampir tolol!” Junho langsung mendorong tubuh Nichkhun dengan kencang ke belakang saat Nichkhun hendak berlari mencengkram Jiyeon.

“Pltek”

Dengan gerakan cepat, Junho mematahkan kepala Nichkhun sehingga terpisah dari tubuhnya. Ia mengeluarkan api dari tangannya kemudian membakar seluruh serpihan tubuh Nichkhun.

“Umurmu berakhir di 189, Nichkhun Buck Horvejkul.” Junho melempar kepala Nichkhun ke Api yang telah membakar tubuhnya terlebih dahulu itu.

Di detik berikutnya, Junho sudah berada di samping Jiyeon. Jujur, Junho tak sanggup bila harus melihat Jiyeon dengan ke adaan seperti ini terus menerus.

Tiba – tiba, sekelubat ide muncul di fikirannya.

“Haruskah aku melakukan ini? Bisakah aku menghentikannya? Aku bahkan sudah 40 tahun tidah mencicipi darah. Argh! Kau menghancurkan pertahananku, Park Jiyeon!” Junho mengacak – acak rambutnya sendiri. “Aku tidak bira terlalu lama berfikir!”

“slebh”

Di detik berikutnya, Junhn sudah berada di leher Jiyeon. Ia menghisap semua racun dari Nichkhun yang sudah menjalar hampir ke seluruh tubuh Jiyeon.

Namun, Junho salah perkiraan. Karna ternyata ada sebagian darah Jiyeon yang menyatu di dalam racun Nichkhun. Itu semua membuat Junho tak dapat menahan hawa nafsunya.

Ia terus menyedot darah Jiyeon. Terus, dan terus. Sampai, muncul di bayangannya, fikiran Jiyeon. Perasaan sakit yang Jiyeon rasakan.

“glek”

Junho menelan lagi setetes darah Jiyeon. Ia melepaskan jeratan taringnya dari leher Jiyeon dan kemudian menatap Jiyeon yang sedang mencoba untuk menghirup banyak udara.

“Junho..” gumam Jiyeon, mengukir senyum manisnya di wajah lesunya itu. Dan, di detik berikutnya Junho sudah memeluk erat tubuh Jiyeon.

*

“Huuww~!” tukas Jiyeon, merentangkan kedua tangannya.

“Aku masih tidak percaya kalau aku mengalami semua ini.” tukas Jiyeon semangat. Ia mengedipkan metanya selama beberapa kali.

“Kau tau?” tanya Junho, Jiyeon menggeleng. “Satu jam lalu, bahkan aku mengira, kau akan mati. Ternyataa..”

Junho tertawa saat Jiyeon menepuk bahunya. Tak sadar, kemudian Jiyeon memeluk pergelangan tangan Junho.

Jiyeon langsung menjauhkan tangan Junho, dengan tatapan tidak percaya, ia menatap mata Junho. Junho yang mengerti maksud dari perlakuan Jiyeon itu –karena ia bisa membaca fikiran– langsung tertawa lagi. Namun kali ini lebih terbahak – bahak. Bahkan, bola mata Junho tidak terlihat saat ini.

“Inilah suhu badanku yang sebenarnya.” jelas Junho.

“Bisakah kau jelaskan padaku?” tanya Jiyeon. “Semuanya.”

Junho duduk di bawah poho apel –yang daunya mulai sedikik kekuningan dan berguguran karena sebentar lagi akan memasuki musim gugur– di ikuti oleh Jiyeon yang duduk tepat di sampingnya.

“Tentu,” jawab Junho. ia menarik nafas panjang.

“Kau tahu?” tanya Junho; Jiyeon menggeleng.

“Kau selalu bertanya akan hal itu! Bagaimana aku bisa mengetahuinya kalau kau bahkan belum bercerita padaku!?” tukas Jiyeon, ia memutar bola matanya.

“Aku bahkan tidak butuh bernafas. Hanya saat perlu saja. Tapi, jantungku hidup.” Jelas Junho dengan santainya.

“Kau ini sebenarnya makhluk apa?” tanya Jiyeon.

“Setengah vampir. Setengah manusia.”

“Aku berhenti menua pada saat umurku menginjak 22. Itu terbilang lama, karena biasanya, anak sepertiku —darah campuran— akan berhenti menua pada saat umur mereka menginjak 18 atau 19 tahun. Itulah sebabnya aku selalu memanggilmu Noona. Umurmu 23,’kan?”

Jiyeon mengangguk pasti. “Memangnya seharusnya kau berumur berapa sekarang?”

“217.” jawab Junho; Jiyeon mendongak tidak percaya.

“Tidak perlu shock seperti itu. Aku juga tau, kalau sesekali kau sering berfikir bagaimana aku bisa membaca fikiranmu. Ya, itu semuanya adalah karena hampir sebagian dari vampir mempunyai kelebihan. Termasuk aku.

“Kau tau film breaking dawn? Reneesmee?” tanya Junho; Jiyeon mengangguk.

“Aku sama sepertinya. Di ciptakan oleh vampir pria, dan wanita yang hanya manusia biasa. Bedanya, aku hanyalah anak haram yang membunuh ibuku sendiri saat aku lahir. Sampai, aku diangkat oleh keluarga Lee.

“Mereka adalah keluarga vampir korea. Mereka baik.” kata Junho, ketika membaca fikiran Jiyeon yang bertanya siapa keluarga Lee itu.

“Lalu, bagaimana dengan pria tadi?” tanya Jiyeon, menggeser sedikit tempat ia duduk agar lebih mendekat dengan Junho.

“Oh, dia, Nichkhun Buck. Dia menjadi vampir saat umurnya menginjak 20.

“Saat itu, 189 tahun yang lalu, ia mencoba meloncat dari lantai 12 apartementnya, karena putus asa akan kekasihnya yang sudah mempunyai suami. Waktu itu pukul 1 pagi, dan jalanan sepi.

“Nichkhun meloncat. Namun, tak seperti yang diharapkannya. Ia sama sekali tidak mati. Karena, kakinya yang mendarat lebih dulu. Kondisinya saat itu hancur, tapi siapa sangka kalau sebenarnya dia belum mati?

“Sampai, keluarga Kim yang waktu itu sedang patroli, menemukan Nichkhun. Mereka menyelamatkan Nichkhun dengan mengubahnya menjadi vampir.” Jelas Junho panjang lebar. Jiyeon menelan salivanya, mencoba menyerap semua yang di katakan Junho tadi.

“Lalu, apa hubungannya denganku? Mengapa Nichkhun mau membunuhku?” Tanya Jiyeon lagi. Tangannya merinding.

“Oh, soal itu. Kau mau tau juga?” Junho menatap mata Jiyeon. Jiyeon mengangguk.

“Keluarga Kim sangat membanci keluarga Lee. Untuk itu, Nichkhun di tugaskan untuk membunuh siapapun gadis atau pria yang di cintai oleh salah satu dari keluarga Lee.” jawab Junho, menjelaskan. Alis Jiyeon terangkat sebelah.

“Ja-jadi, maksudmu? A-aku?” tanya Jiyeon gugup. Ragu – ragu dengan apa yang ingin di katakan nya. Junho tersenyum lalu mengangguk.

Pipi Jiyeon merona ketika mendapatkan anggukan dari Junho.

“Oh iya, aku mempunyai kekuatan baru sekarang.” kata Junho, menyandarkan kepalanya di bahu Jiyeon.

“Oh ya!?” Jiyeon berseru semangat. “Apa itu?” tanya Jiyeon.

“Membaca masa depan,” jawab Junho. “Aku.. telah menemukan jodohku.”  lanjutnya.

Wajah Jiyeon yang tadinya semangat, berubah muram seketika. “Oh,” kata Jiyeon tidak bersemangat.

“Kau tau siapa dia?” tanya Junho, menatap manik Jiyeon yang sama sekali tidak menoleh ke arahnya.

“Siapa wanita yang beruntung itu?” Jiyeon mencoba biasa saja. Padahal, Junho tau kalau fikiran Jiyeon saat ini sedang berkecamuk karena cemburu.

“Wanita yang beruntung itu adalah.. wanita yang sedang bertanya.” jawab Junho, kemudian tertawa.

“A-apa?”

saga.

[FIN]

*Note: duh, akhirnya kelar juga .-. maaf ya kalo engga memuaskan -_-v dan, untuk masalah ff immortal louje, aku pengennya sih ngelanjutin tapi karena yang tertarik nya juga kurang banyak jadi aku mikir lagi buat ngelanjutin nya. nanti kalo peminatnya udah agak banyak sebisa mungkin aku usahain untuk ngelanjutin kok. dan, jangan lupa comment or like ya, chingu-deul ^^

Annyeoonngg~ #melslm

26 thoughts on “ADVERSA [2] – END

  1. aaaa keren ini ceritanya suka bangeeeettt 😀
    tapi ngeri juga sih pas scene kepalanya nickhun dipatahin ama junho sekaligus kekeke
    idih junho pake nyekil segala di ending-___- :p
    kerenlah ini ff nya asli 😀 suka bangeeeettt!!!! 😀

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s