[FF Freelance] Where is My Man? (Part 2)

where is my man

Title            : WHERE IS MY MAN?? PART 2

Writer                   : Endor Yochi

Main Cast    :

– Park Jiyeon (T-ara)

– Kim Myungsoo a.k.a ‘L’ (Infinite)

– Yang Yoseob (B2ST)

– Choi Minho (SHINee)

Other Casts :

– Bae Suzy (Miss A)

– Park Sanghyun a.k.a Thunder Cheondung (MBLAQ)

– Kim HyunAh a.k.a Hyuna (4Minute)

– Lee Gikwang (B2ST)

– Jung Ilhoon (BTOB)

– Lee Sungjong (Infinite)

– Lee Chanhee a.k.a Chunji (Boyfriend)

Genre           : Romance, Comedy ( a little bit ), aneh, gaje, dsb

Length                   : Chaptered

Rating                   : Halal for everyone 😉

Previous part:Part 1

Cerita sebelumnya..

“Aigoo, namja-namja pabo itu.. Mana mungkin mereka bisa mengalahkan musuh sebanyak itu? Issh! Kenapa belum ada juga polisi yang datang? Jinjja..” keluh Jiyeon sekali lagi. Kedua matanya tak lepas dari mereka. Ia melihat Myungsoo berusaha melawan musuh mereka. ternyata namja itu tak selemah Ilhoon dan juga Sungjong. Terbukti Jiyeon belum melihat ada satu pukulan pun yang mengenainya. Begitu juga dengan Ilhoon. Namja itu tampaknya juga tak kalah hebatnya dari Myungsoo. Namun tiba-tiba saja kedua mata Jiyeon menangkap seseorang tengah berada di antara tawuran tersebut. Jiyeon terkejut bukan main. Seseorang yang dilihatnya itu sama sekali tak asing baginya. Ia tampak merunduk ketakutan berada di antara tawuran para pelajar tersebut.

“Ohmona! Suzy?” seru Jiyeon panik. Lalu tanpa menunggu lebih lama lagi, yeoja itu pun segera membuka pintu mobil dan langsung melesat keluar.

“Yaa! Jiyeon-ah! Eodiga? Yaa! Jangan bertindak bodoh!” teriak Sanghyun cemas ketika dilihatnya Jiyeon yang berlari ke arah TKP..

 

PART 2

_Author POV_

“Aissh! Jinjja..” mau tak mau Sanghyun pun ikut keluar menyusul dongsaengnya itu. Jiyeon tampak berlari menghampiri Suzy yang terjebak di antara tawuran tersebut.

“Yaa! Apa yang kau lakukan di sini?” bentak Jiyeon pada yeoja itu. Suzy terkejut dan mendongak.

“Jiyeon-ah? Syukurlah kau datang. Aku takut sekali. Sewaktu aku berjalan, tiba-tiba saja mereka datang dan langsung berkelahi seperti ini.” katanya ketakutan.

“Aishh! Kajja, kita menepi.”

Jiyeon menarik tangan Suzy dan berusaha menghindari pergulatan para pelajar itu.

“Aigoo, ini sama sekali tidak seimbang. 4 orang melawan belasan musuh? What the hell?” gumam Jiyeon yang masih sibuk menghindari para pelajar itu. Namun entah sengaja entah tidak, salah seorang dari mereka menyodok kepala Jiyeon.

“Aiyaaa! Kenapa kau memukulku?” kata Jiyeon marah sambil memegangi kepalanya yang kena gaplok (?). Lalu tanpa ampun lagi ia balas memukul namja yang memukulnya tadi.

“Yaa! Kau memukulku?” bentak namja itu.

“Kau yang memukulku lebih dulu!”

“Aissh! Dasar yeoja pabo!”

“Kau yang pabo! Nah, rasakan ini!” Jiyeon kembali memukul namja itu sehingga namja itu terpaksa melawannya.

“Ohmo! Jiyeon-ah, andwae!” seru Suzy ketakutan. Namun Jiyeon tak menanggapinya. Suzy pun terpaksa kembali lari dan menepi. Ia cemas menyaksikan Jiyeon yang kini tengah ikut bergulat dengan para pelajar itu.

“Neo gwaenchanha?” tanya seseorang tiba-tiba. Suzy menoleh,

“Ne, gwaenchanha.. Nuguya?”tanyanya.

“Aku Oppanya Jiyeon. Di mana Jiyeon?”

“Itu..”

Suzy menunjuk ke arah pergulatan. Sanghyun menarik napas kesal ketika melihat dongsaengnya itu kini sudah asyik bergulat dengan para namja itu.

“Aishh! Jinjja..” gerutunya, lalu segera menyusul Jiyeon dan membantunya melawan para pelajar itu. Myungsoo yang saat itu kebetulan melihat Sanghyun, tertegun sejenak.

Sedang apa namja itu di sini? Kenapa dia membantuku? Mwo? Yaa! Bukankah itu yeoja pabo itu? aishh! Kenapa dia juga ada di sini? Untuk apa dia ikut berkelahi begitu? Dasar yeoja sok jagoan! Pikir Myungsoo heran bercampur kesal.

BUKK!!!

“Aiyaa!!” gara-gara Myungsoo lengah, sebuah pukulan pun mendarat di pipinya. Dengan geram ia pun kembali berkonsentrasi pada musuh-musuhnya lagi. Namun tiba-tiba..

“Ada polisi! Ada polisi! Cepat lari!!”

Myungsoo terkejut mendengarnya. Ia pun segera menyuruh ketiga temannya yang masih berkelahi itu untuk berlari. Sementara para pelajar yang lain sudah kabur terlebih dahulu.

“Jiyeon-ah! Ppalli masuk ke mobil!” terdengar suara Sanghyun berteriak. Myungsoo berhenti sejenak dan melihat ke arahnya. Sanghyun yang kebetulan melihatnya pun turut tertegun sejenak. Keduanya saling bertatapan.

“Myungsoo-ya! Ppalli!” tegur Ilhoon. Myungsoo pun tersadar dan kembali berlari menjauh.

“Oppa! Ppalli!!” teriak Jiyeon pula ketika dilihatnya oppanya itu masih bertengger di tempat. Sanghyun pun segera berlari menyusul Jiyeon.

“Suzy-ah, kajja, ikut denganku!” kata Jiyeon sambil menarik tangan Suzy dan mengajaknya masuk mobil. 

***

 

“Yaa! Kenapa tadi kau ikut berkelahi?” kata Sanghyun pada Jiyeon sedikit kesal.

“Mereka memukulku. Tentu saja aku tidak terima.” Kata Jiyeon membela diri.

“Tapi Jiyeon-ah, sepertinya namja tadi tidak sengaja memukulmu.” Kata Suzy pula.

“Ah, sama saja. Yang jelas aku tidak terima kalau ada orang yang memukulku.”

“Lain kali jangan seperti itu lagi. Itu berbahaya.” Kata Sanghyun lagi.

“Oppa tenang saja. Apa gunanya aku belajar ilmu bela diri dari Appa kalau aku tidak memanfaatkannya.”

“Ne, tapi ilmu bela diri itu bukan digunakan untuk berkelahi seperti itu. Melainkan hanya untuk menjaga diri saja.”

“Apa bedanya dengan Oppa? Bukankah oppa dulu juga seperti itu?”

“Aish! Kau ini benar-benar keras kepala. Sudahlah, kita sudah sampai. Cepat masuk ke dalam dan beli semua yang kita perlukan. Aku tunggu di sini.”

“Mwo? Jadi aku masuk sendiri?”

“Tentu saja!”

“Shirreo! Oppa kan tahu sendiri kalau aku tidak biasa berbelanja.”

“Kau pikir aku biasa? Kita berdua sama saja. Sudahlah, ppalli!”

“Aish! Jinjja.. Yaa, Suzy-ah, ikutlah denganku. Aku tahu kau lebih berpengalaman dalam soal belanja.”

“Jiyeon-ah, aku juga ingin membantumu. Tapi kakiku sakit. Tadi aku terkilir sewaktu kau menarikku masuk mobil.” Kata Suzy, membuat Jiyeon menggerutu.

“Sudahlah, pergi sendiri saja. Lagipula hanya belanja saja apa susahnya sih?” kata Sanghyun lagi.

Akhirnya dengan amat sangat terpaksa Jiyeon pun keluar dari mobil dan masuk ke dalam supermarket. Namun tiba-tiba saja ia berpapasan dengan Yoseob di pintu masuk.

“Oh, Stubborn girl! Kau di sini?” kata namja itu sambil tersenyum lebar.

“Mwo? Staben~apa?” tanya Jiyon yang kebetulan memang tak begitu menguasai bahasa inggris itu.

“Ahh anii.. Jangan dipikirkan. Kau mau belanja?”

“Menurutmu apa lagi tujuan orang yang datang ke tempat ini selain belanja?”

Yoseob tertawa mendengarnya.

“Kau ini benar-benar yeoja ketus ya?” katanya.

“Terserah kau saja. Menyingkirlah, aku mau lewat.”

Mau tak mau Yoseob pun menyingkir dan membiarkan Jiyeon masuk melewatinya. Namja itu tersenyum kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Aigoo, calon istriku ternyata benar-benar stubborn girl.” Katanya, kemudian beranjak pergi meninggalkan supermarket. #Mwo? Apa tadi katanya? Calon istri? O.O

***

 

_Flashback_

“MWO?? DIJODOHKAN??”

Yoseob terkejut bukan main ketika orangtuanya mengatakan ia telah dijodohkan dengan seorang yeoja.

“Ne, Appa dan Umma sudah bersepakat dengan orangtuanya sejak kalian masih kecil.” Kata Jinwoo appa.

“Aigoo, tapi kenapa harus dijodohkan? Apa umma dan appa takut aku tidak laku? Umma dan appa harus tahu kalau banyak sekali yeoja yang menyukaiku, tapi aku saja yang tidak tertarik dengan mereka~setidaknya masih belum. Aku bisa mencari calon pendamping hidupku sendiri. Umma dan appa tidak perlu khawatir soal itu..”

“Seobie-ah, umma dan appa tahu hal itu. Tapi maksud kami bukan seperti itu. Mengertilah.. Kita sangat berhutang budi pada keluarga Park. Mereka sudah banyak membantu kita sewaktu kita masih kesusahan dulu. Kau bisa bersekolah di Amerika juga berkat mereka. Tak ada yang bisa kita lakukan kecuali itu. Park Jiyeon memang agak keras kepala, tapi dia yeoja yang baik dan kami menyukainya.” sambung Hyosung umma pula.

Yoseob diam saja. Ia baru saja datang dari Amerika, tapi sudah disuguhi dengan berita menakutkan itu. Dijodohkan? Aigoo.. Kenapa nasibku bisa sama dengan cerita dalam film-film di televisi? Isshh! Jinjja.. pikirnya. Lalu tanpa berkata apa-apa lagi ia pun beranjak masuk ke dalam kamar. Kepalanya terasa pusing.

“Dijodohkan? Park Jiyeon? Bahkan aku mengenalnya saja tidak. Aigoo..” keluhnya lagi. Lalu dengan menarik napas panjang, ia pun bangkit dan keluar dari jendela kamar, setelah itu memanjat ke atap rumahnya. Dibaringkannya badannya di atas sana sambil menghirup udara malam hari. Ia ingin menenangkan pikirannya sejenak dengan memejamkan kedua matanya. Namun tiba-tiba saja ia mendengar gerutuan seseorang. Yoseob membuka kedua matanya. Namja itu melihat di tempat jauh darinya, tepatnya di atap rumah Park Jungsoo yang hanya berjarak sekitar 2 meter darinya itu seorang yeoja baru saja merangkak naik lalu merebahkan dirinya di sana.

Yaa, nuguji? Apa mungkin dia yang bernama Park Jiyeon? Ohmo, kenapa kelakuannya seperti namja begitu? Pikir Yoseob heran.

Sebentar kemudian Yoseob mendengar yeoja itu bergumam seorang diri, lebih tepatnya ia bergumam pada rembulan. Yoseob tersenyum geli mendengarnya.

“Baru kali ini aku melihat ada orang bicara pada benda mati.” Katanya pula.

Yeoja itu tampak terkejut dan segera duduk.

“Nuguya?” tanyanya dengan heran.

Yoseob tak segera menjawab, sepertinya ia mulai yakin kalau yeoja itu adalah Jiyeon.

“Yaa, apa kau maling?” kata yeoja itu lagi terlihat waspada.

“Enak saja. Aku tinggal di rumah ini.” sahut Yoseob kemudian.

“Jangan bohong! Setahuku anak Jinwoo ahjussi sekarang berada di Amerika.”

“Aku baru sampai di rumah tadi pagi.”

“Geuraeyo?”

“Kalau kau tidak percaya tanyakan saja sendiri.”

Yeoja itu tak menyahut. Ia tampak memandangi Yoseob yang sedang tiduran di atap rumahnya itu sejenak. Sementara Yoseob tak mengatakan apa-apa. Sebentar kemudian, ia sendiri pun kembali merebahkan dirinya seperti semula.

“Kau.. Baru diputuskan namjamu ya?” tanya Yoseob kemudian.

“Anii, aku yang memutuskannya.” Sahut yeoja itu dengan nada dingin.

“Wae? Apa dia selingkuh?”

“Bukan urusanmu.”

“Aku hanya ingin tahu.”

“Aku tak ingin memberitahu.”

“Wae?”

“Karena itu memang bukan urusanmu dan aku tak mengenalmu.”

“Aku anaknya Yang Jinwoo, tetanggamu sendiri.”

“Aku tidak peduli. Pokoknya aku tidak mengenalmu.”

“Aish! Kau ini memang yeoja keras kepala, persis seperti yang dikatakan orangtuaku.”

“Mwo?”

“Ne, dan agaknya aku mulai percaya hal itu.”

“Issh! Terserah kau saja.”

“Sepertinya aku tahu alasannya kenapa namjamu itu selingkuh.”

“Mworago?”

“Kau saja keras begitu~”

“Yaa!! Jangan ikut campur urusanku kalau kau tidak tahu apa-apa! Kau hanya orang asing di sini! Arrasseo??” yeoja itu mendadak berteriak dengan kesal. Setelah itu ia bangkit, lalu kembali menuruni atap dan masuk kamarnya melalui jendela lagi. Sementara Yoseob yang ditinggalkannya itu hanya tertawa kecil melihat tingkahnya yang seperti itu.

Aigoo.. Benarkah yeoja tadi itu kelak akan menjadi istriku? Tapi apa aku sanggup menghadapinya? Pikirnya pula.

­_Flashback end_

***

 

Seperti biasa, pagi itu Jiyeon berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Beberapa menit kemudian ia pun sampai di depan gerbang sekolah. Tiba-tiba saja ia melihat Minho baru datang dengan motornya. Akan tetapi namja itu ternyata tidak sendirian. Ia datang berboncengan bersama Hyuna.

“Good morning, Jiyeon-ah!” seru Hyuna dari atas motor Minho sambil melambaikan tangannya. Jiyeon kesal sekali melihatnya. Sementara ia melihat Minho yang hanya diam saja. Maka dengan gusar, Jiyeon pun beranjak meninggalkan mereka.

Aishh! Jinjja.. Mereka benar-benar keterlaluan sudah mempermalukan dan menyakiti hatiku seperti ini, gerutunya dalam hati sambil terus berjalan.

Sementara itu Yoseob pun baru saja memarkirkan motornya di parkiran sekolah ketika tanpa sengaja melihat Hyuna dan Minho datang. Yoseob mengerutkan keningnya.

Bukankah mereka berdua itu yang kemarin bertengkar dengan nae stubborn girl? pikirnya.

“Oppa, oppa marah padaku ya?” terdengar suara Hyuna berkata.

“Hyuna-ya, jebal hentikan semua ini. Hubungan kita sudah berakhir. Kenapa kau masih terus saja menggangguku?” kata Minho pula.

“Karena aku masih mencintai Oppa.. Perasaanku tidak pernah berubah.”

“Bukankah kau sendiri yang memutuskan hubungan kita waktu itu? Lagipula aku sudah tidak memiliki perasaan apa-apa lagi padamu. Mianhae,, tapi saat ini hanya Jiyeon yang kucintai.”

“Tapi dia sudah meninggalkan oppa.. Dia sudah tidak mau dengan Oppa lagi. Jebal kembalilah padaku, Oppa..”

“Mianhae, aku tidak bisa..” kata Minho, lalu beranjak pergi meninggalkan Hyuna.

“Oppa! Jamkkan!” panggil Hyuna berkali-kali sambil mengejar Minho.

Jadi namja itu mantan namjachingunya Jiyeon? Dan ternyata dia masih mencintai stubborn girl itu. Anii, anii, stubborn girl hanya untukku seorang. Mwo? Yaa! Sejak kapan aku menyetujui perjodohan ini? Aigoo.. kata Yoseob dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Setelah itu ia pun kembali melanjutkan perjalanannya menuju kelas. Namun tiba-tiba saja ia melihat Jiyeon.

“Annyeong, Tetangga!” sapanya pula.

Jiyeon menoleh mendengarnya. Tampak sekali kalau ia sedang kesal.

“Kau? Mau apa kau?” katanya sambil kembali melanjutkan langkahnya. Yoseob mengikutinya.

“Kita berdua kan satu kelas. Bukankah wajar kalau kita datang bersama?”

“Jangan ganggu aku. Tekanan darahku sedang dalam keadaan meninggi. Kalau kau tak ingin merasakan pukulanku, lebih baik menyingkirlah.”

“Gwaenchanha. Pukul saja aku kalau itu memang bisa membuatmu lebih tenang.”

“Mwo? Issh! Pergilah, jangan ikuti aku.”

“Shirreo..”

“Kau~”

“Jiyeon-ah!”

Jiyeon yang semula benar-benar hendak memukul Yoseob itu menghentikan gerakannya saat mendengar Minho tiba-tiba memanggilnya. Lalu tanpa disangka-sangka tiba-tiba saja Jiyeon meraih lengan Yoseob. Yoseob pun terkejut dibuatnya.

“Yaa, kau~”

“Kajja, kita masuk kelas bersama-sama.” Potong Jiyeon sambil menggandeng lengan Yoseob meninggalkan Minho yang tampak terbengong-bengong melihatnya.

“Oppa lihat sendiri kan? Yeoja itu sudah punya namjachingu yang baru. Lupakanlah dia.” Kata Hyuna yang ternyata sudah berada di samping Minho itu.

Minho tak menjawab, melainkan hanya menarik napas dalam-dalam, lalu beranjak pergi pula.

Sementara itu jiyeon yang merasa sudah berada jauh dari Minho dan Hyuna, buru-buru melepaskan tangannya dari Yoseob.

“Yaa, kenapa kau melakukan itu?” tanya Yoseob.

“Anii.. Eng.. anggap saja itu hukuman karena kau terus saja mengikutiku.”

“Mwo?”

“Sudahlah, aku masuk dulu.” Kata Jiyeon sambil melangkah meninggalkan Yoseob. Sepeninggal yeoja itu, Yoseob tersenyum sendiri.

“Gwaenchanha. Kelak nanti kau akan terus menggandeng lenganku selamanya,” katanya lirih, lalu beranjak menyusul Jiyeon.

***

 

“Satu!”

“Dua!”

“Tiga!”

“Empat!”

“Bukan seperti itu. Begini!”

Minggu pagi yang cukup cerah itu tampak Park Jungsoo alias Leeteuk ahjussi sedang mengajari Jiyeon, putrinya itu belajar ilmu bela diri di depan rumah. Jiyeon tampak terkena pukulan berkali-kali dari appanya itu karena ia selalu melakukan gerakan yang salah.

“Aiyaa.. Appo..” keluh Jiyeon setiap kali badannya terkena pukulan barbel dari appanya itu. #jiahaha lebay.

“Makanya lakukan gerakanmu dengan benar.” Tegur Leeteuk appa pula.

“Appa, kenapa Sanghyun oppa tidak pernah ikut berlatih lagi? Kalau begini akibatnya kan hanya aku yang selalu kena pukul.”

“Oppamu sudah menguasai semua ilmu bela diri yang Appa ajarkan. Sekarang hanya kau saja yang belum. Sudah, jangan banyak bicara lagi. Lakukan dengan benar.”

“Ishh! Jinjja..”

Mau tak mau Jiyeon pun terpaksa kembali melakukan goyangan, eh gerakan yang diajarkan oleh Leeteuk appa padanya.

“Aigoo.. Appa, aku sudah lelah. Bisakah kita istirahat sebentar?” keluh Jiyeon yang sudah berkeringat itu.

Leeteuk appa berpikir sejenak. Mereka memang sudah berlatih selama 2 jam. Maka Leeteuk appa pun mengangguk setuju.

“Geurae, kita istirahat 5 menit.” Katanya.

“Mwo? Aigoo, itu namanya bukan beristirahat, Appa. Tapi menghela napas.”

“Geurae, 10 menit, atau tidak istirahat sama sekali.”

“Ck..” Jiyeon terpaksa menurut meskipun dalam hati ia mendongkol. Hari minggu memang hari yang paling menjengkelkan baginya. Bukannya hari untuk liburan dan bersenang-senang, tetapi malah hari untuk menyiksa diri. Dengan menarik napas kesal, ia pun langsung merebahkan diri di atas dipan kecil depan rumahnya. Beberapa saat kemudian muncul Yoojin umma sambil membawa minuman dingin.

“Jiyeon-ah, kajja minum dulu. Kau pasti lelah sekali, kan?”

“Tentu saja umma. Appa memang keterlaluan menyiksaku seperti ini.” kata Jiyeon sambil merubah posisinya menjadi duduk.

“Sst,, jangan keras-keras nanti kalau Appamu dengar kau bisa dihukum.”

“Ehem-ehem. Apa tadi ada yang membicarakan Appa?” tegur Leeteuk appa sambil mendekat dan ikut duduk di dipan.

“Anii.. Anii..” ucap Jiyeon cepat-cepat sambil meneguk air minumnya. Leeteuk appa tersenyum lalu turut meneguk minumannya pula.

“Aigoo.. Buah mangga itu sepertinya matang.” Kata Jiyeon tiba-tiba ketika dilihatnya pohon mangga yang ada di depan rumahnya itu.

“Aku akan memetiknya.” Lanjutnya lagi sambil melompat turun dari dipan.

“Yaa! Hati-hati, kau bisa jatuh.” Kata Yoojin umma memperingatkan.

“Tenang saja, umma. Anak umma ini sudah sangat hebat.” Kata Jiyeon yang sudah mulai memanjat pohon mangga itu. Gerakannya memang cukup lincah bagaikan seekor tupai. Namun sepandai-pandainya tupai melompat, ia tetap akan jatuh juga. Entah karena melamun atau apa, kaki Jiyeon terkilir sehingga ia pun tergelincir ke bawah.

“KYAAAA!!!” teriaknya. Ia sudah berpikir akan jatuh dan kepalanya membentur sesuatu sehingga menyebabkannya menjadi amnesia. Namun ternyata tiba-tiba saja ia merasa jatuh menimpa sesuatu yang lain. Memang agak keras rasanya. Rupanya seseorang menangkap tubuh yeoja itu menggunakan punggungnya, kemudian memutar tubuh Jiyeon dan merubah posisinya sehingga ia bisa memegangi tubuh yeoja itu.

“Ohmona.. Kau?” kata Jiyeon terkejut campur heran ketika melihat siapa yang menyelamatkannya itu. Namja cute di depannya itu hanya tersenyum dan melambai.

“Annyeong! Gwaenchanha?” katanya.

Jiyeon buru-buru melepaskan diri dari pegangan namja tersebut.

“Ha, Yoseob-gun, syukurlah ada kau. Kalau tidak, mungkin putriku ini sudah menjadi amnesia. Gomapta.” Kata Yoojin umma sambil mendekat.

“Mwo? Yoseob?” kata Jiyeon heran. Yeoja itu ternyata belum tahu kalau namja yang sering ditemuinya itu bernama Yoseob.

“Nde, Cheonmanneyo, Ahjumma.. Kebetulan tadi saya memang bermaksud main kesini.” Kata Yoseob pula.

“Geuraesseo? Baguslah, kajja duduklah bersamaku.” Kata Leeteuk appa pula.

“Ahh, nde, kamsahamnida, Ahjussi.” Yoseob membungkuk sedikit, lalu turut duduk di samping Leeteuk appa, diikuti oleh Yoojin umma.

“Caramu menangkap Jiyeon tadi sangat mengagumkan. Apa kau juga belajar ilmu bela diri?” tanya Leeteuk appa kemudian.

“Ahh, nde, ahjussi. Hanya sedikit saja. Saya ikut belajar karate sewaktu masih di Amerika.”

“Itu hebat sekali! Bagaimana kalau lain kali kita berlatih sama-sama?”

“Tentu saja. Itu akan sangat menyenangkan sekali.”

“Bagus..”

Sementara Jiyeon yang masih terpaku di tempat semula tadi hanya terbengong-bengong saja melihat mereka yang asyik mengobrol itu. Tiba-tiba saja Sanghyun muncul dari dalam rumah. Ia tampak terkejut ketika melihat Yoseob.

“Yaa! Yoseob-ah! Sejak kapan kau di sini? Aish! Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau mau datang?” katanya sambil merangkul Yoseob.

“Ahh Hyung, anii aku baru saja sampai.”

Jiyeon semakin terheran-heran melihatnya.

“Apa-apaan ini? kenapa mereka terlihat akrab sekali? Yoseob? Siapa sebenarnya namja itu? kenapa aku tidak mengenalnya? Apa benar dia itu anaknya Jinwoo ahjussi? Tapi kenapa semua keluargaku akrab sekali dengannya sementara aku tidak? Kenapa dia selalu muncul di hadapanku? Aishh! Membingungkan!” katanya dalam hati.

***

 

“Jiyeon-ah!!”

Jiyeon yang tengah berjalan menyusuri koridor itu berhenti dan menoleh. Ia melihat Suzy berlari-lari kecil menghampirinya. Yeoja itu tampak ceria sekali pagi itu.

“Yaa! Waeyo? Sepertinya kau tampak gembira sekali.” Tanya Jiyeon sedikit heran.

“Jinjjayo? Anii, aku biasa saja.” Sahut Suzy sambil tersenyum. Jiyeon nyengir melihatnya.

“Arasseo.. Pasti kau mendapat uang saku lebih, kan?”

“Anii, bukan itu. Tadi aku diantar oleh seseorang.”

“Aigoo.. Bukankah setiap hari kau memang diantar? Kenapa kau meributkan hal itu?”

“Memang, tapi kali ini yang mengantarku orang yang berbeda.”

“Mworago? Apa kau punya sopir pribadi yang baru?”

“Aish! Bukan..”

“Ck.. Ppalli katakanlah kalau kau memang bermaksud ingin mengatakannya.”

“Aku diantar Sanghyun oppa.”

“MWO??”

“Aishh! Kencang sekali suaramu! Telingaku bisa pecah mendengarnya.”

“Kau.. Diantar Sanghyun oppa? Sanghyun oppa siapa?”

“Ck.. Tentu saja oppamu. Park Sanghyun.”

“Mwo? Bagaimana bisa dia mengantarmu? Bahkan aku yang dongsaengnya sendiri saja harus berjalan kaki dari rumah. Aishh!! Jinja.. Apa-apaan?”

“Yaa, tenanglah. Sebenarnya tadi aku diantar sopirku, tapi di tengah jalan ban mobilku bocor. Jadi aku terpaksa melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Tapi baru sebentar aku berjalan, Sanghyun oppa kebetulan lewat dan mengajakku ikut ke dalam mobilnya. Katanya dia hendak berangkat kuliah, tapi dia bilang akan mengantarku lebih dulu ke sekolah. Ternyata oppamu namja yang sangat baik, Jiyeon-ah..”

Jiyeon melongo mendengarnya. Ekspresinya mendadak aneh.

“Yaa, Jiyeon-ah! Gwaenchanha? Yaa! Jangan menakutiku! Yaa! Kenapa kau diam saja? Yaa!!” Suzy mengguncang-guncang bahu Jiyeon, tapi yeoja itu seperti tak sadar. Tatapan matanya kosong seperti baru terkena hipnotis.

“Ohmo! Eottokhe? Kenapa kau mendadak seperti ini?” tanya Suzy kebingungan.

“Gwaenchanha..” sahut Jiyeon tiba-tiba, membuat Suzy terkejut karenanya.

“Neo.. Jeongmal gwaenchanha?” tanya Suzy lagi.

“Ne..” kata Jiyeon sambil berjalan seperti orang linglung. Suzy jadi heran melihatnya.

“Yaa, waeyo? Kenapa kau mendadak aneh begitu?”

“Naneun.. gwaenchanha.. Gwaenchanha..” Jiyeon terus mengulangi kata-kata itu sambil terus berjalan bak orang linglung menuju kelasnya. Sementara Suzy hanya bisa mengikutinya sambil menggaruk-garuk kepalanya karena merasa keheranan melihat sikap yeoja aneh itu.

***

 

“Any question, Students?”

“No, Sir..”

“Good, now I’m going to give you an assignment. Please make a sentence with past progressive pattern just like we discussed before. You can look at the example I have given to you. And your time is only 3 minutes. Then I’ll point one of you to say your sentence. Understand?”

“Yes, Sir..”

Kyuhyun seonsaengnim berhenti sejenak, lalu duduk dan membuka daftar hadir murid.

“Ohmo,, yaa! Suzy-ah, tadi seonsaengnim ngomong apa?” bisik Jiyeon pada Suzy yang tengah asyik mencoret-coret catatannya.

“Kurang paham. Tapi sepertinya kita disuruh membuat kalimat past progressive seperti pada contoh di depan. Dan kita hanya diberi waktu 3 menit.” Sahut Suzy sambil berbisik pula.

“Whoa, kau hebat sekali bisa mengerti ucapan seonsaengnim.”

“Anii, aku baru saja mengintip catatannya Gikwang.”

“Mwo?”

“Sst.. Sudah, ppalli kerjakan!”

Jiyeon diam saja. Ia paling kesulitan jika harus membuat kalimat dalam bahasa inggris. Ia berpikir-pikir mencari-cari ilham.

“Have you done?” suara Kyuhyun seonsaengnim bagaikan petir di siang bolong bagi Jiyeon.

“Yes, Sir..”

“Aigoo, kenapa cepat sekali?” keluh Jiyeon kebingungan.

“Allright, now, I’ll point some of you to say your sentence. First, you, Lee Gikwang. Say your sentence.”

Gikwang berdehem sejenak, kemudian mulai berkata,

“My mother was cooking kimchi soup yesterday.”

“Good. Next, Im Yoona.”

“I was doing my assignment when my sister came to my room.”

“Yes, right. Next, Bae Suzy.”

Suzy tak segera menjawab. Ia masih sibuk mencoret-coret catatannya.

“Bae Suzy, have you done?”

“Ehm, yes, Sir.”sahut Suzy kemudian.

“Good, say your sentence.”

“I.. was.. bathing when.. my cellular ring.” Kata Suzy ragu-ragu.

“Hmm.. There are some errors in your sentence. Who wants to correct her answer? You, Park Jiyeon?”

“Mwo?” Jiyeon terkejut bukan main mendengarnya. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan Suzy maupun seonsaengnim barusan tadi.

“Yes, please correct Suzy’s answer.”

Jiyeon semakin bingung dibuatnya. Aigoo.. Tamatlah riwayatku! Eottokhe? Pikirnya.

“Park Jiyeon? You can correct her answer or not?”

“Ha, nde, ehm yes, seonsaengnim, eh Sir.” Kata Jiyeon salah kaprah.

“Excuse me, Sir. Would you mind if I help her?” Kata Yoseob tiba-tiba sambil mengacungkan tangannya.

“Allright. Go ahead.”

“Suzy made some mistakes with her sentence because ‘mandi’ in English is ‘take a bath’, not only ‘bath’. And she also made a mistake in the last sentence. It should use past tense, not present tense. So, the right answer is : I was taking a bath when my cellular rang.”

“Whoa.. Daebak! You’re really good in your pronunciation!” kata Kyuhyun seonsaengnim sambil bertepuk tangan, diikuti siswa siswi lainnya.

“Thank you very much, Sir.” Kata Yoseob sambil sedikit membungkuk.

Sementara Jiyeon hanya bisa terbengong-bengong antara kagum, heran dan senang karenanya.

“Aigoo.. Namja itu benar-benar penuh kejutan.” Bisik Suzy padanya.

“Ne, tentu saja. Dia sudah berada di Amerika semenjak ia kecil. Jadi tidak heran kalau dia pandai berbahasa inggris.” Sahut Jiyeon mencoba menutupi rasa kagumnya. Dalam hati ia mulai menyukai namja berlabel Yang Yoseob itu.

***

 

“Yaa! Ayo kita ke kantin. Aku lapar.” Ajak Suzy ketika istirahat pertama tiba.

“Shirreo, aku sedang malas. Kau pergi saja sendiri.” Kata Jiyeon sambil membuka komik naruto kesukaannya.

“Aish! Kenapa kau aneh sekali akhir-akhir ini? Apa kau ada masalah dengan Minho sunbae?”

“Jangan sebut nama namja itu lagi.”

“Wae?”

“Aku sudah berakhir dengannya.”

“Mwo? Bagaimana bisa? Aigoo, pasti gara-gara Hyuna. Kulihat kemarin dia memaksa Minho sunbae mengikutinya.”

“Mworago?”

“Ne, sebenarnya Minho sunbae tidak mau, tapi Hyuna terus memaksa dan pura-pura menangis. Mau tidak mau Minho sunbae pun hanya bisa menurut. Dia mengikuti yeoja itu, tapi aku tidak tahu kemana mereka pergi. Sepertinya menuju toilet. Tapi entahlah, aku sendiri kurang begitu paham.”

“Yaa!! Kenapa kau baru bilang sekarang?” bentak Jiyeon tiba-tiba dengan keras. Suzy terkejut bukan main dibuatnya.

“Ohmo! Kau membuatku jantungan saja.” Kata Suzy sambil mengelus-ngelus dadanya.

“Kenapa kau baru mengatakan hal itu sekarang? Aish! Kau tahu? Gara-gara kejadian itu aku jadi berpikir kalau Minho oppa mengkhianatiku dan aku langsung memutuskannya. Dan gara-gara kejadian itu pula aku jadi berkelahi dengan the Strangers. Dan yang lebih parah lagi, gara-gara kejadian itu sekarang aku jadi tidak punya ponsel. Aishh! Paboya, paboya..”

Suzy terbengong-bengong mendengarnya.

“Mwo? Kau.. berkelahi dengan the Strangers? Bagaimana bisa?”

“Aishh! Sudahlah, itu tidak penting. Yang penting sekarang aku harus menemui Minho oppa untuk meminta maaf padanya.”

Setelah berkata begitu, Jiyeon pun segera bangkit, dan beranjak keluar kelas.

“Yaa! Jiyeon-ah! Jamkkanman!” seru Suzy sambil berlari menyusul Jiyeon.

Tanpa mereka sadari, ternyata Yoseob telah mendengar semua pembicaraan mereka sejak tadi. Namja itu termenung sejenak.

Aigoo.. Sepertinya ini akan menjadi rumit untukku, pikirnya pula.

“Yaa, Yoseob-ah. Kau mau ke kantin?” tanya Gikwang tiba-tiba menyadarkan Yoseob.

“Ahh, ne.. Kajja.”

Kedua namja itu pun beranjak pula keluar kelas.

***

 

“Jiyeon-ah, eodiga?” tanya Suzy yang masih mengikuti Jiyeon itu.

“Menemui Minho oppa. Yaa, kenapa kau mengikutiku?”

“Anii, aku mau ke kantin. Ya sudah, aku pergi dulu kalau begitu.”

Jiyeon tak menjawab. Suzy pun berbalik arah dan menuju ke kantin. Sementara Jiyeon naik ke lantai dua untuk pergi ke kelas Minho. Namun baru setengah jalan, ia bertabrakan dengan seseorang sehingga ia jatuh terduduk.

“Aiyaa..” pekik Jiyeon. Ia mendongak untuk melihat siapa yang menabraknya. Seketika ia membelalak.

“Yaa!! Kaleng jalanan! Kenapa kau menabrakku?” bentaknya galak.

Penabraknya yang ternyata Sungjong itu tampak membelalak pula.

“Mwo? Kaleng jalanan? Yaa!! Namaku Lee Sungjong! Bukan Kaleng jalanan. Issh! Lagipula kau saja yang berjalan tergesa-gesa sehingga tidak melihat jalan. Kau pikir ini jalan milik nenek moyangmu?” balas Sungjong pula.

“Aishh! Kau~”

Jiyeon tak melanjutkan kalimatnya karena secara tiba-tiba sebuah tangan terulur padanya. Jiyeon tertegun. Kim Myungsoo.

“Wae?” tanya Jiyeon heran.

“Kubantu kau berdiri.” Sahut Myungsoo tenang.

“Anii. Aku bisa sendiri.” Kata Jiyeon menolak sambil hendak berdiri, tapi ternyata kakinya malah terkilir. Ia kembali jatuh, tapi kali ini Myungsoo memeganginya sehingga ia tak jadi jatuh lagi. Jiyeon tertegun karenanya.

“Kau ini memang sok jagoan.” Kata Myungsoo pula.

“Mwo?”

Myungsoo tak menyahut melainkan membantu Jiyeon berdiri.

“Aku sudah bisa.” Kata Jiyeon lagi sambil melepaskan tangan Myungsoo.

“Kenapa kau ikut berkelahi?” tanya Myungsoo tiba-tiba.

“Mworago?”

“Kemarin sewaktu di jalan. Kenapa kau membantu kami? Juga oppamu itu?”

“Anii.. Siapa yang membantu kalian? Temanku terjebak di antara pergulatan kalian, makanya aku menolongnya.”

“Tapi kenapa kau ikut berkelahi?”

“Tentu saja. Salah seorang dari mereka memukul kepalaku. Tentu saja aku tidak terima.”

Myungsoo tersenyum geli mendengarnya.

“Wae?”

“Kau ini memang yeoja aneh.”

“Mwo?”

Sekali lagi Myungsoo tersenyum, lalu tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke wajah Jiyeon. Jiyeon menahan napas sejenak dibuatnya. Lagi-lagi derapan kaki-kaki kuda itu tak beraturan di jantungnya.

“Lebih baik kau obati luka di kakimu itu.” bisik Myungsoo kemudian, membuat Jiyeon melongo mendengarnya. Setelah itu namja itu mengacak pelan rambut Jiyeon, dan beranjak pergi dari hadapannya.

“Yaa, ingat! Namaku Lee Sungjong, bukan Kaleng Jalanan. Arra?” ulang Sungjong sebelum ia pergi mengikuti Myungsoo dan yang lainnya.

Jiyeon diam saja. Ia tertegun. Bukan karena ucapan Sungjong, melainkan sikap yang ditujukan Myungsoo barusan padanya. Aigoo.. Apa ini? Wae? Wae? Kenapa namja sombong itu menyentuh kepalaku? Wae? Aissh!! Kenapa aku selalu berhasil dipermainkannya? Kata Jiyeon dalam hati. Tanpa sadar ia menyentuh kepalanya sendiri, seperti baru tersadar dari mimpi.

“Jiyeon-ah..”

Jiyeon menoleh mendengarnya.

“Oppa?”

Minho tampak berjalan mendekat.

“Sedang apa kau di sini?” tanyanya.

“Eng.. Aku.. mencari Oppa..”

“Mencariku?”

“Ne..”

***

 

“Yaa, ternyata kau punya kebiasaan yang sama dengan calon istrimu. Aigoo, benar-benar calon pasangan yang unik.” kata Sanghyun pada Yoseob yang saat itu tengah merebahkan diri di atap rumahnya. Rupanya Sanghyun tidak sengaja melihat namja itu merangkak naik ke atap rumahnya sehingga ia ikut menyusulnya ke atas. Yoseob tersenyum saja mendengarnya. Tiba-tiba saja terdengar suara ribut dari arah kamar Jiyeon.

“Aish, apa yang dilakukan yeoja itu? kenapa dia berteriak seperti orang gila begitu? Aigoo..” kata Sanghyun. Sekali lagi Yoseob hanya tersenyum saja menanggapinya.

“Yaa, wae geurae? Sepertinya kau sedang ada masalah?” tanya Sanghyun merasa heran.

“Anii, Hyung. Aku hanya berangan-angan seandainya saja aku bisa menjadi bulan, pasti akan menyenangkan sekali. Setiap malam aku bisa berbincang-bincang dengan seseorang yang aneh.”

“Mwo? Mworago?”

Yoseob tersenyum kecil tanpa menjawab.

“Yaa, arasseo.. Maksudmu kau ingin menjadi rembulan karena kau tahu dongsaengku sering berbicara pada bulan, kan?” tebak Sanghyun pula.

“Sepertinya dia masih belum bisa menerimaku, Hyung.”

“Yaa, jangan berkesimpulan dulu. Dia saja bahkan tidak tahu kalau dia sudah dijodohkan denganmu.”

“Kenapa kita tidak memberitahunya saja, Hyung?”

“Andwae. Nanti dia bisa shock kalau mendengar berita itu secara tiba-tiba. Kau tahu sendiri seperti apa dongsaengku itu.”

“Lalu sampai kapan kita akan merahasiakannya?”

“Sampai kau bisa mendapatkan hatinya. Itulah saat yang tepat untuk mengatakan hal itu.”

Yoseob tertegun sejenak. Mendapatkan hatinya? Aigoo.. sepertinya ini benar-benar akan menjadi rumit untukku, pikir Yoseob pula.

“Yaa! Rupanya oppa di sini?”

Kedua namja itu terkejut mendengarnya. Tahu-tahu Jiyeon sudah berada di atap rumah.

***

 

Jiyeon tampak tertawa-tawa sendiri di kamarnya malam itu. Ia teringat dengan kejadian tadi siang di sekolah.

“Rasakan itu yeoja lampir. Sekarang kau bisa merasakan bagaimana rasanya dipermalukan dan disakiti.” Gumamnya penuh kepuasan.

 

_Flashback_

“Jiyeon-ah..”

Jiyeon menoleh mendengarnya.

“Oppa?”

Minho tampak berjalan mendekat.

“Sedang apa kau di sini?” tanyanya.

“Eng.. Aku.. mencari Oppa..”

“Mencariku?”

“Ne..”

Minho tersenyum mendengarnya.

“Oppa.. Mianhae, untuk kejadian kemarin.” Ucap Jiyeon kemudian.

“Kenapa kau yang meminta maaf? Itu adalah kesalahanku~”

“Anii.. Aku sudah mengira Oppa mengkhianatiku. Tapi sekarang aku tahu kalau sebenarnya yeoja lampir itu yang memaksa oppa. Mianhae.”

Sekali lagi Minho tersenyum mendengarnya.

“Gwaenchanha. Nado mianhaeyo.” Katanya.

Jiyeon hanya tersenyum dan mengangguk. Namun tiba-tiba saja muka Minho berubah murung.

“Wae, Oppa?” tanya Jiyeon heran.

“Apa benar~kau sudah punya namjachingu baru?”

Jiyeon terbelalak mendengarnya.

“Anii.. Anii.. Siapa yang bilang begitu?” katanya cepat-cepat.

“Lalu siapa namja yang kemarin bersamamu itu? Sepertinya kalian mesra sekali.”

“Ha, geugae.. Dia hanya tetanggaku. Kami berdua kebetulan satu kelas, jadi aku mengajaknya masuk kelas bersama.”

“Jadi hanya sebatas chingu, kan?”

“Ne, tentu saja.”

Minho tersenyum, lalu berkata,

“Geureom, apa kita kembali lagi seperti dulu?”

Jiyeon tersenyum medengarnya. Namun belum sempat ia menjawab, tiba-tiba Hyuna datang dan langsung menggandeng lengan Minho.

“Oppa.. Aku mencarimu kemana-mana..” katanya dengan manja.

Jiyeon kesal sekali melihatnya. Ingin rasanya ia mencabik-cabik wajah yeoja itu.

“Eng.. Hyuna-ya, jebal jangan seperti ini.” kata Minho sambil berusaha melepas pegangan Hyuna.

“Wae? Apa karena ada dia? Oppa, bukankah oppa sudah tahu sendiri kalau dia sudah punya namjachingu yang baru? Biarkan mereka berbahagia, jangan usik hubungan mereka..”

“Seharusnya perkataan itu kau tujukan pada dirimu sendiri, bukan kepadaku.”

“Mworago?”

Minho tak menjawab, melainkan melepaskan pegangan Hyuna.

“Oppa~”

“Hyuna-ya, jebal, jangan usik hubungan kami, biarkan kami berbahagia.” Kata Minho tenang, membuat Hyuna maupun Jiyeon sendiri terkejut mendengarnya.

“M.. Mwo?” kata Hyuna.

“Kajja.” Kata Minho lagi pada Jiyeon sambil menggandeng tangan Jiyeon meninggalkan Hyuna yang masih terbengong-bengong itu.

“Oppa! Jamkkanman! Eodiga?? Oppa!! Aishh! Jinjja..” gerutu Hyuna kesal bukan main.

­_Flashback end_

***

 

Jiyeon masih tertawa geli penuh kemenangan saat ingat kejadian siang itu. Sambil mengepalkan tangan, ia berteriak pada gulingnya.

“Yaa! Guling! Kau tahu? Hari ini aku benar-benar sangat senang dan puas sekali! Akhirnya aku bisa membalas rasa sakitku pada yeoja lampir itu! Yaa! Yeoja lampir! Rasakan itu! Rasakaan!!!” teriaknya sambil memukul-mukul gulingnya itu.

PLETAK!

“Aiyaa!” pekik Jiyeon. Rupanya kepalanya baru saja kena timpuk buku tebal dari Leeteuk appa. Jiyeon terkejut melihatnya.

“Appa? Sejak kapan Appa ada di sini?” tanyanya heran.

“Sejak kau berteriak-teriak seperti orang gila. Di mana oppamu?” kata Leeteuk appa pula.

“Molla.. Mungkin di kamarnya.”

“Tidak ada. Cepat cari sana. Suruh dia menemui Appa.”

“Mwo?”

Tapi Leeteuk appa sudah keburu keluar dari kamarnya. Jiyeon menggerutu karenanya. Ia masih mengelus-ngelus kepalanya.

“Aish! Appa jinjja..”

Tiba-tiba saja ia tertegun saat memegangi kepalanya. Ia mendadak teringat dengan kejadian siang tadi. Saat Kim Myungsoo mengacak rambutnya.

“Ohmo.. Kenapa tiba-tiba aku teringat dengan namja sombong itu? Ishh.. Waeyo?” gumamnya sambil bangkit dari tempat tidurnya dan bermaksud keluar kamar. Namun langkahnya terhenti karena mendengar suara berisik di atap kamarnya. Karena pernasaran, Jiyeon pun keluar melalui jendela dan merangkak ke ataap. Samar-samar ia mendengar suara orang bercakap-cakap.

Yaa! Itu seperti suara Sanghyun oppa~dengan namja itu. Aish! Sedang apa mereka di atap?

“Lalu sampai kapan kita akan merahasiakannya?” terdengar suara Yoseob berkata.

“Sampai kau bisa mendapatkan hatinya. Itulah saat yang tepat untuk mengatakan hal itu.”

Mwo? Mendapatkan hatinya? Apa maksud Sanghyun oppa? Jangan-jangan namja bernama Yoseob itu sedang jatuh cinta dengan seorang yeoja. Aigoo.. Tidak disangka ternyata dia sedang curhat dengan Sanghyun oppa, pikir Jiyeon geli. Beberapa detik kemudian ia pun sampai di atap.

“Yaa! Rupanya oppa di sini?” katanya pula. Kedua namja itu tampak terkejut melihat kedatangannya.

“Jiyeon-ah? Sejak kapan kau di situ?” tanya Sanghyun.

“Baru saja. Yaa, kenapa muka kalian terlihat cemas begitu? Wae?”

“Ohh, aniyo.. Mwoya?”

“Appa memanggilmu. Ppalli, sebelum oppa dijadikan perkedel.”

“Ahh, ne..”dengan terpaksa Sanghyun pun merangkak turun kembali dari atap. Sementara posisinya kini digantikan oleh Jiyeon.

“Yaa, stubborn girl, sejak kapan kau naik tadi?” tanya Yoseob.

“Wae? Sepertinya kau menyembunyikan sesuatu?”

“Ne.. Ada sebuah rahasia yang sedang kami bicarakan tadi. Aku khawatir kau mendengarnya.”

“Ahh, arasseo..”

“Mworago? Kau mendengar pembicaraan kami?”

“Anii, tapi aku tahu kalau kau sedang curhat dengan Sanghyun oppa kan?”

“Mwo?”

“Tadi aku hanya mendengar sedikit. Apa kau sedang jatuh cinta dengan seseorang? Ohmo.. Apa dia yeoja dari Amerika? Whoa, pasti seru sekali kalau kau punya yeojachingu orang Amerika. Aku kelak jadi punya tetangga orang Amerika.”

“Mwo?”

“Yaa! Memangnya kau tak punya kata-kata lain lagi selain itu? Mwo? Mwo? Mwo? Isshh! Jinjja..”

“Jadi kau hanya mendengar pembicaraan kami yang terakhir?”

“Nee..”

“Ahh, arasseo..” kata Yoseob lirih. Padahal ia berharap tadi Jiyeon mendengarkan pembicaraannya dengan Sanghyun secara lengkap. Biar dia tahu kalau mereka sudah dijodohkan sejak kecil sehingga dia akan menjaga jarak dengan namja lain.

“Yaa, kenapa kau tadi ribut sekali?” tegur Yoseob kemudian.

“Ahh, amugeotdo aniyo.”

“Arasseo. Penyakit gilamu kumat ya?”

“Anii..”

“Ceritakanlah padaku.”

“Shirreo.. kenapa aku harus menceritakannya padamu? Itu bukan urusanmu.”

“Aish! Dasar stubborn girl!”

“Yaa, kenapa kau selalu memanggilku begitu? Memang apa artinya itu?”

“Yeoja keras kepala.”

“Mwo? Isshh! Jinjja.. Kenapa kau memberiku julukan sejelek itu?”

“Karena itu memang sangat sesuai untukmu. Bersyukurlah, karena masih ada orang yang perhatian dan mau repot-repot memberikanmu julukan spesial seperti itu.”

“Mwo? Julukan spesial apanya? Itu hanya akan membuatku tampakmerasa bodoh.”

Yoseob tertawa mendengarnya. Setelah itu, keduanya terdiam sejenak.

“Yaa, Yoseob-ssi.” Kata Jiyeon tiba-tiba.

“Ne?”

“Kau pandai berbahasa inggris. Bisakah kau mengajariku?”

Yoseob tersenyum mendengarnya.

“Apa imbalannya kalau aku mau mengajarimu?” tanyanya pula.

“Aish! Kau ini ternyata namja materialis juga.”

“Haha anii aku hanya bercanda. Geurae.. Aku akan mulai mengajarimu dengan vocab yang mudah dulu.”

“Jeoha.”

“Apa bahasa Inggris dari bintang?”

“Star?”

“Rembulan?”

“Moon.”

“Langit?”

“Sky.”

“Malam?”

“Night~ Yaa! Itu terlalu mudah. Mulailah dengan yang lebih sulit lagi.”

“Geurae. Kalau begitu artikan ini ke dalam bahasa Inggris. ‘Jangan pernah dekati namja lain, karena kau adalah milikku’.”

“Mwo?” Jiyeon melongo mendengarnya.

Yoseob tersenyum.

“Bisa tidak?” tanyanya pula.

“Yaa! Michyeosseo? Tentu saja aku tidak bisa. Kau mempermainkanku ya?”

Yoseob tertawa mendengarnya.

“Issh! Kau ini memang menyebalkan! Awas saja aku akan membunuhmu!” kata Jiyeon sambil berdiri hendak menggapai atap rumah Yoseob.

“Yaa!! Yaa!! Apa yang kau lakukan? Kau bisa jatuh!” kata Yoseob ngeri saat melihat Jiyeon menggapai-gapai atap rumahnya. Namun syukurlah yeoja itu tak bisa menggapainya. Karena tak bisa menggapai atap rumah Yoseob, akhirnya Jiyeon hanya bisa melempari namja itu menggunakan kacang goreng sisa tadi sore yang kebetulan masih berada dalam kantong celananya 😀 . Sementara Yoseob sibuk menghindari lemparan mini bom tersebut.

“Yaa! Jiyeon-ah!” teriak Sanghyun tiba-tiba dari bawah.

Jiyeon pun berhenti melempari Yoseob dan berseru,

“Wae gurae?”

“Turunlah, ada yang meneleponmu!”

“Nugu?”

“Dia bilang namanya Choi Minho!”

“Mwo?”

“Ppalli!!”

“Ne, ne aku segera datang.”

Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, Jiyeon pun bergegas merangkak turun dari atap dan masuk kamar melalui jendela. Yoseob melongo melihatnya.

“Aish! Bahkan berpamitan padaku saja dia tidak sempat. Aigoo.. Choi Minho.. Choi Minho..” gumamnya sambil merebahkan dirinya dan kembali menatap langit.

***

 

 _Author POV end_

To be continued..

 

Wufh! Begitulah akhir kisah dari ff ini, semoga memuaskan ya? 😀 Just kidding kok, just kidding, kekeke #PLAK! Engga masih ada lanjutannya lagi, tapi author sebenernya rada bingung mau jadi siapa yang menang ntar, abis semuanya kece sih, hahah..

Ya udah deh, selamat berkomentar dulu aja bagi para readers yang baik hati. See you at the next part! Gomapseumnida 😉

56 thoughts on “[FF Freelance] Where is My Man? (Part 2)

  1. 3 namja dg kepribadian berbeda”
    yg 2 cakep yg 1 y cute
    wuuuahhhh ,,, beruntung y jadi JIyeon !!!!!!
    aku dukung Myungsoo n Minho !!
    Yoseob : kenapa aku ga ??
    me : karna dirmu trlalu cute jd cowo ,, jadi ga masuk itungan
    hahahaha
    *dibantai Yoseob -_-
    tp thor ,, part y Yoseob bnyakan ya ,, minho ma Myungsoo dikit

    • Hahaha ikutan ngebantai aahh 😀
      Iya soalnya dibagi. Ntar ke belakang2 kemungkinan Myungyeon yang paling sering muncul, jadi sabar dulu 😀
      Thanks ya ^^

  2. Yah…. galau -__-”
    myungsoo itu suka jiyeon kagak? bkn bingung dia igh kkk~
    knp Jiyeon musti balikan ama minho. lah kan ceritanya jadi makin rumit
    berharap YoJi couple 🙂
    mrk juga kan udah di jodohin, wkwkwk
    tapi, erasaan jiyeon kok nyabang” bgt. . dia cinta ma minho. tapi, dia dugeun” ama kelakuan myungsoo. terus, dia mulai suka yoseob krn kepintarannya. emg susah bgt kalau ada 3 namja kece. psti maunya di sukain semua
    Next~ 🙂

  3. Yah…. galau -__-”
    myungsoo itu suka jiyeon kagak? bkn bingung dia igh kkk~
    knp Jiyeon musti balikan ama minho. lah kan ceritanya jadi makin rumit
    berharap YoJi couple 🙂
    mrk juga kan udah di jodohin, wkwkwk
    tapi, perasaan jiyeon kok nyabang” bgt -,- dia cinta ma minho. tapi, dia dugeun” ama kelakuan myungsoo. terus, dia mulai suka yoseob krn kepintarannya. emg susah bgt kalau ada 3 namja kece. psti maunya di sukain semua
    Next~ 🙂

    • Haha author aja bingung ntar mau berakhir sama siapa, soalnya pengennya author sih semua namjanya sama author saja, hahahaplakk!!
      Iya emang disengaja rumit biar makin panjang ceritanya haha #digamparJiyeon
      Thanks udah mampir 😉

  4. Maaf nih, alur ceritanya bagus – menarik *dan sekarang aku mengerti* cuma terlalu banyak percakapannya. Narasi nya hampir tidak ada ..hehe, jadi bingung bayangin gimana ekspresi orang nya..

    Semangat 6^o^9

  5. Bgs bgd ceritanya ya ampun jiyi sumpah ketus bgd To suka deh kok myungsoo dikit bgd ya gag keluar2 min heheee

  6. Kyaaaaaaa sebenarnya jiyi bakal sama siapa sih bikin bingung dan apa Yoseob tunangan jiyi adweeeeee tapi kayaknya bakal berakhir dgn Yoseob deh part dia banyak bgt

  7. Kyaaaaaa sebenarnya siapa yg bakal jadi pasangan jiyi L Minho apa Yoseob

    Dan apa Yoseob calon suami jiyi adweeeeeee q gk setujuuuu Gmn nasib myunggie

    Tapi kayaknya bakal berakhir dgn Yoseob deh dia selalu ada didekat jiyi dan part dia banyak bgt

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s