[Vignette] Season Series : Crystal Flower

req10 (1)

Tittle : Cystal Flower

Author : Flaming SweetIce

Genre : Romance

Main Cast : Bae Su Ji | Oh Sehun

Cast : Jung Soo Jung | Yang Yosoeb | Lee Ji Eun

Length : Vignette

Summary : Hadirnya dirimu membuat diriku menjadi lebih sempurna.Berkilauan, semua karena salju yang menghempaskan kita dari lautan cinta.

Rating : PG

-Crystal Flower-

Seoul, Januari 2013.

“Yoseob memang pabo, dia menghabiskan ramen milikku dan hampir memasukan sumpitnya juga kedalam mulutnya. Apa kau pernah melihat anak babi seperti seobie yang begitu manja dan menyebalkan hunnie?”

Hening. Tak ada sedikitpun jawaban yang terlontar dari bibir munyil Oh Sehun. Namja itu hanya tetap memandang lurus jalan dihadapannya, tak tertarik sedikitpun dari percakapan yang selalu ku usahakan untuk meredam dingin yang menyapa kami. Aku  menghela nafas. Hal ini sudah menjadi makanan pokok bagi diriku. Belum cukupkah salju yang turun mendinginkan ragaku. Aku  merindukan sehun yang dahulu. Yang selalu berbicara tanpa henti dan bermain lempar salju bersamaku disaat musim dingin seperti sekarang ini.

Ku hentikan langkah kakiku. Menatap sosoknya yang kian menjauh dari hadapanku. Berbanding lurus dengan hatinya, kini terasa sangat jauh dengan hatiku. Aku mengambil beberapa bola salju lalu membentuknya menjadi bentuk bola padat.

“Ya!”

Dia berbalik, menoleh kearahku. Dan Hup! Lemparanku sukses mengenai wajahnya yang sepolos malaikat. Ia mengusap wajahnya yang terkena bola salju. Ia menatapku dengan tajam.

“Berhenti bermain-main seperti anak kecil!”

Sehunku kembali berjalan, tanpa menghiraukan perasaanku yang sakit akibat dari teguran tegasnya. Dirinya tak pernah berkata seperti itu kepadaku. Tidak. Sebelum gadis itu hadir dan menghancurkan segalanya.

“Apa kau mengganggap dirimu dewasa?”

Dia kembali menoleh padaku. Aku hanya tertunduk. Takut ia melihat air mata yang mengalir mulus diwajahku. Tanpa hambatan.

“Setidaknya aku tak melempar bola salju seperti dirimu”

“Kau berubah, hunnie. Aku benci pada dirimu”

Kulangkahkan kakiku untuk berlari menghindari tatapannya. Bersamaan dengan udara yang semakin mendingin, cintaku raib. Terbawa oleh berjuta salju yang turun dari langit. Merekam setiap detik kesedihan yang terjadi. Bom yang telah lama tertanam dihatiku, kini meledak. Mampu meluapkan segala emosi yang terpenjara entah hingga kapan.

-Crystal Flower-

Salju. Sekali lagi, cystal-crystal yang beku itupun menghidupkan kembali mimpi-mimpiku yang telah lama runtuh. Aku kembali terlempar pada bangunan masa lalu. Ketika kau dapat dengan mudah menaklukan ku. Hanya dengan segenggam salju yang membuat ku jatuh terpesona oleh dirimu.

Aku masih seperti ini. Mencintaimu dalam bisuku. Terasa bahagia, meski hanya melihatmu tersenyum untuk gadis lain dan menangis karena cintanya. Flashback tersebut kembali lagi memutar bingkai pikiranku. Mencari-cari anganku yang telah hilang. Hilang memuai seperti salju dan sang mentari. Mudah rapuh dan tak akan lama bertahan.

Seoul, November 2011.

“Hunnie pabo. Tunggu aku”

Aku kembali membuat langkah-langkah kecil yang membuat jejak tersendiri pada hamparan salju yang menutupi jalanan beraspal.

“Aigo, mengapa jalanmu lama sekal.. Ya ! Gwenchanayo?”

Sehun berbalik dan berlari ke arahku. Sementara aku hanya dapat duduk di lautan salju seraya menahan darah yang keluar dari hidungku. Membuat warna putih salju terbiaskan oleh merah darahku. Ia ikut duduk di hadapanku.

“Kenapa kau selalu diam saja saat kau sakit?”

Ia meraih sapu tangan putih yang berada di saku celananya. Berusaha menghentikan darah yang tak hentinya mengalir dari hidungku. Ku perhatikan wajahnya dengan seksama. Aku menyukai raut wajahnya yang mencemaskan diriku. Begitu menggemaskan. Bahkan ia tidak berkedip saat berusaha menghentikkan darahku. Setelah dirasa darahku telah terhenti, ia mengfokuskan matanya memandang wajahku.

Lama kami terdiam dengan posisi seperti ini. hingga tanpa sadar pipiku memanas, dan membuat semburat merah jambu diwajahku. Dirinya mengalihkan pandangan dari diriku. Aku juga dapat melihat kulitnya tak seutuhnya putih pucat seperti biasa, terlihat sedikit memerah.

“Sudah sering kubilang,”

“Jaga kondisimu baik-baik. Penyakitmu akan kembali lagi jika kau tak dapat menjaga kondisi kesehatanmu dengan stabil. Sudah berapa kali kau mengatakan hal itu padaku eoh?”

Dapatku lihat ia mendengus kesal karena aku telah memotong ucapannya sebelum selesai. Aku bangkit berdiri. Dan kini keadaannya berbanding terbalik, sehun yang ada tepat dibelakangku.

“Kau marah?”

Aku tersenyum kecil mendengar nada kepolosan yang terikat pada ucapannya. Selain melihat air mukanya yang terlihat panik, akupun menyukai nada bicara nya yang polos. Tanpa berniat membalas ucapannya, dan menghentikan sikap polos darinya.

“Apa kau lelah terus seperti ini?”

Pertanyaan darinya dapat menarik perhatian lebih dari diriku. Aku menoleh dan kembali mensejajarkan langkah kami berdua.

“Pasti. Hal ini melelahkan”

“Berapa banyak obat yang kau minum tiap harinya saat musim dingin?”

“Molla”

Aku menggangkat kedua bahuku. Memang paling malas membahas topik pembicaraan yang satu ini.

“Kau masih marah padaku?”

“Marah kenapa?”

“Karena aku menatapmu seperti tadi”

Aku terdiam sejenak, memikirkan setiap katanya yang keluar. Entah mengapa, berjuta kupu-kupu malah beterbangan dihatiku ketika ia memandangku tanpa tampang polosnya. Tapi hatiku tak pernah ingin jujur. Seketika hanya suara tawa yang dapat kujawab sebagai ungkapan pertanyaan. Aku pun tak tahu, mengapa aku menjadi salah tingkah seperti ini.

Sehun terlihat tidak suka melihat perlakuanku padanya. Aku menghentikkan tawaku, lalu berdehem sekilas untuk meredakan jantungku yang berdetak tak menentu.

“Kau hanya sahabatku, untuk apa aku marah terhadapmu hanya karena hal tadi”

“Apakah selamanya aku hanya sahabatmu?”

“Apakah kau tidak ingin menjadi sahabatku selamanya?”

Kulihat wajahnya menyiratkan rasa kekecewaan. Walau seulas senyum terkesan dipaksakan oleh detik berikutnya.

“Bukan begitu, hanya saja aku,”

Sebuah bunyi klakson menghentikan ucapannya. Ia menatap kesal ke arah kendaraan tersebut. Kukira itu karena bunyi yang memekikkan telinga kami berdua. Namun hal itu ternyata salah ketika aku melihat yoseob yang membuka pelindung kepalanya. Yoseob melambaikan tangannya kearah kami berdua. Aku hanya menyambutnya dengan senyuman, sementara sehun? Entahlah dia hanya memasang wajahnya yang penuh dengan kekesalan. Kurasa hari ini pasti yoseob akan mengajakku makan siang di café milik kakeknya dan bergurau ria tentang ji eun. Baiklah, aku harus menstabilkan energiku sebelum terkuras habis karena nya.

Dan hal tersebut benar saja. Tanpa menyapa sehun, ia segera menarik pergelangan tanganku. Aku terdiam, tak dapat bergeming. Bukan karena yoseob yang menyentuh tanganku, dan bukan pula karena salju yang membekukan kakiku. Melainkan karena dapat kurasakan sehun menahan lenganku.

“Dia sedang tak enak badan, lain kali saja jika kau hendak bercerita tentang lee ji eun”

“Hunnie,”

“Mengapa kau tak mengatakan padanya jika kau sedang membutuhkan istirahat?”

Tidak. Tidak ada nada kekhawatiran yang tersirat didalamnya. Bahkan suara sehun meninggi. Aku tak suka melihatnya seperti itu.

“Sebenarnya ada hal yang ingin kukatakan padamu suzy-ah, namun kurasa ini bukan waktu yang tepat”

“Aniyo, seobie. Aku tak apa”

“Bae Suzy !”

Sehun melirikku dengan tajam, seakan tak setuju dengan keputusan yang telah kubuat. Aku harus bagaimana lagi, aku sangat tak tahan melihat wajah manis seobie yang menyedihkan seperti itu. Kulepaskan tangan sehun yang bergelayut dilengan kananku.

“Hunnie, lepaskan aku. Pulang nanti, aku akan langsung mengunjungi rumahmu”

Kulihat sehun sekilas sebelum akhirnya yoseob membawaku melesat untuk menjauh dari hadapan sehun.

-Crystal Flower-

“Chukkae”

Kuarahkan kepalaku untuk menatap dirinya. Tatapannya saat itu, hampir sama seperti salju yang turun. Begitu dingin tanpa kehangatan sama sekali.

“Gomawoyo, Hunnie-ah nanti sore bisakah kau mengantarku ke taman seperti biasa. Aku akan membelikanmu sate ikan karena,”

“Mianhae,”

Kulihat ia tak berani menatapku. Apakah ucapanku salah?

“Aku ada janji dengan Jung Soo Jung”

Mengapa rasanya sesakit ini ketika aku mendengar ia menyebut nama gadis lain. Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya jika seperti ini perasaan wanita yang dilanda kecemburuan.

“Soo jung murid baru itu? Aigoo, apakah kau benar-benar akan kencan dengan dirinya sehun-ah? Kau sangat hebat, dia bahkan adalah yeoja popular dikalangan para sunbaenim”

Kencan? Mungkin perkataan ji eun tadi benar membuktikan bahwa terdapat jutaan krystal es yang menusuk dan menancap tepat di bagian hatiku yang merasakan jatuh cinta pada dirimu. Semua telah berlalu, dan kita tak akan pernah dapat seperti dahulu lagi. Jarak diantara kita kini terurai dengan bercak kesalahan. Senyuman yang ia tujukan saat soo jung menyapa nya dari kejauhan, bahkan aku tak pernah memikirkan hal tersebut sebelumnya. Kukira kau akan selalu menatapku selamanya, tanpa harus membuang waktumu untuk beralih pada gadis lain.

“Aku pergi dulu ne, soo jung telah menunggu. Annyeong”

Ia melihatku dengan pandangan yang bahkan sulit untukku artikan. Entahlah, melihatnya memperlakukan gadis selayaknya seperti diriku telah membuang seluruh pekerja dalam otakku. Membuntu kan seluruh pikiran yang tergantung disana.

“Mereka pasangan yang serasi ne?”

“Aku,”

“Astaga suzy-ah! Hidungmu berdarah lagi”

Aku tersenyum pahit ketika ji eun tengah panik memandang pemandangan yang mungkin telah menjadi suatu kebiasaan bagi tubuhku. Jika dahulu selalu ada sehun yang menghentikkan darah dari hidungku, kini aku harus mulai terbiasa melakukan hal ini sendiri. Tanpa ada sehun yang menemani hari-hariku.

-Crystal Flower-

            Kuhalangi sinar mentari senja yang menghalangi penglihatanku. Aku mendengus kesal sambil sesekali merutuki kebodohanku yang telah meninggalkan buku pelajaran Lee Songsaenim dikelas. Yang benar saja, aku bisa-bisa masuk rumah sakit kembali karena dijemur seharian olehnya jika aku lupa mengerjakan tugas rumah yang dikumpulkan besok pagi. Mungkin aku bisa saja menyalin jawaban dari milik sehun besok tanpa harus kembali ke sekolahan. Tapi aku tahu betul, jika hal itu tak mungkin. Bukankah jarak kami merengggang karena Soo jung. Ah iya, gadis itu benar-benar membuatku emosiku lebih panas ketimbang cuaca siang ini.

Aku menjatuhkan buku yang berada di genggamanku begitu pintu kelas terbuka. Apa yang kulihat sekarang, apakah benar-benar itu bukanlah mimpi. Sehunku yang polos, dia kini mungkin sudah dewasa. Meninggalkan diriku yang hanya menjadi bagian kecil dalam hidupnya. Tanpa terasa, kini sebuah lautan tak berombak menghiasi wajahku seketika. Melihatnya berciuman bersama jung soo jung dan ditemani dengan salju yang turun. Aku segera berlari beranjak pergi meninggalkan mereka, ketika sehun menghentikan ciumannya dan menoleh kearahku.

Padahal dahulu itu semua adalah impianku, berciuman dengan Oh sehun yang ditemani dengan hujan salju yang menjadi background utamanya. Dia bahkan tak mengejarku. Rasa khawatirnya pasti telah menghilang karena kebersamaannya bersama jung soo jung.

Seoul, December 2012.

Aku menatap sehun yang tengah memandang hamparan salju dari lantai tertinggi sekolah kami. Kupeluk ia dari arah belakang, mencoba mentransfer energy kekuatan untuk dirinya.

“Jangan bersedih, aku akan membantumu untuk melewati semua ini”

Tetesan air mendarat di permukaan kulit tanganku, dapat kupastikan bahwa itu adalah air matanya.

“Aku akan mencarikan wanita yang lebih baik dari soo jung, kau jangan khawatir”

Ia melepaskan pelukanku dengan kasar dan berbalik untuk menatap tajam kedua mataku. Aku takut. Ini pertama kalinya ia menatapku seperti itu. Apakah ia marah oleh ucapanku. Apakah dibenaknya tak ada wanita lain yang dapat menggantikan jung soo jung, meskipun wanita itu adalah diriku.

“Aku tidak butuh wanita lain”

Setelah berhasil membenarkan pikiranku, ia pergi dan menutup pintu atap hingga menimbulkan bunyi yang keras. Kau mungkin benar, kau hanya membutuhkan jung soo jung untuk berada disisimu. Mianhae, aku tak dapat memenuhi permintaanmu. Terlalu menyakitkan jika aku harus kembali merasakan perasaan saat kau bersama jung soo jung.

“Aku mencintaimu”

Perkataan yang selama beberapa tahun ini selalu kutujukan kepadamu. Dan jua tak dapat ku ucapkan kepadamu. Aku memang egois. Ingin selalu kau berada di sisiku tanpa berpaling sedikitpun.

Seoul, Januari 2013.

“Ya! Berhenti”

Seseorang menahan pergelangan tanganku. Dari suaranya, aku tahu betul bahwa dia adalah Oh Sehun.

“Ada apa denganmu?”

“Ada apa denganku? Seharusnya aku yang bertanya seperti itu terhadapmu. Kau berubah, aku membencimu !”

“Ya ! seharusnya aku yang marah padamu, karena mu aku jadi seperti ini”

Ku teliti wajahnya dengan seksama. Tak ada raut kepolosan yang aku sukai disana, hanya ada keseriusan yang terpancar. Perlahan, ia lepaskan jemarinya dari lenganku. Ia berjalan pelan menuju ayunan taman yang terletak tak jauh dari hadapan kami. Ia menundukkan kepalanya dan sesaat kemudian terdengar isak tangis dari sehun. Aku yang tak mengerti dengan keadaannya segera menghampirinya dan duduk di kursi ayunan yang berada disebelahnya.

“Hunnie,”

Ia menoleh ke  arahku sejenak, namun sedetik kemudian ia memperhatikan salju yang mulai menuruni anak langit. Begitupun denganku, salju selalu menjadi musim yang aku gemari sejak dulu. Tidak tanpa alasan, semua itu karena dirinya. Dirinya yang hadir dalam hidupku ketika musim salju tiba. Sehun kecil mengajakku bermain dibawah turunnya salju tanpa menggunakan jaket untuk menghangatkan badan. Dia tidak kedinginan, malah ia semakin tersenyum kearahku meskipun aku melemparinya dengan bola salju. Senyumnya ketika kecil waktu itu berhasil membuat hatiku selalu mengikuti arahnya hingga detik ini.

Sejak saat itu aku yakin ketika salju datang maka hal itu membawa kebaikan bagi diriku. Meskipun saat itu pula darah akan menetes dari hidungku. Fisikku memang lemah dan tak berdaya ketika disergap rasa dingin. Dan obatku agar darah kental itu berhenti tentu saja hanya wajah kekhawatiran sehun. Hal tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun. Hingga persepsiku tentang salju berubah saat melihat ia berciuman dengan soo jung saat salju turun. Salju pertama yang membuatku menangis. Serta salju pertama yang melukai kehidupanku setelah selama ini selalu bisa menghangatkanku dengan caranya.

“Hidungmu berdarah lagi”

Ucapannya itu, ucapan yang telah lama tak kudengar dari dirinya. Walau tak terdapat nada kekhawatiran yang terselip, aku tetap senang mendengar ucapan mu itu. Ia berdiri dan berlutut dihadapanku untuk menahan darah yang kembali mengalir saat tubuhku tak kuasa menahan rasa dinginnya salju saat itu. Namun kini ada yang berbeda, ia tak mengeluarkan sapu tangannya untuk menghentikan darahku. Ia meraih kedua belah pipiku dan mendekatkan wajahnya kearahku hingga kedua ujung hidung kami bertabrakan.

“Mianhae,”

Dia berlirih kepadaku. Aku dapat merasakan rasa sesalnya yang mengalir. Dan juga hembusan nafasnya yang mengenai permukaan wajahku. Terasa hangat meski darahku belum juga berhenti, menandakan bahwa tubuhku kini benar-benar kedinginan.

“Aku telah melukaimu. Aku selalu mengedapankan egoku padamu. Aku tidak peduli sama sekali saat hidungmu berdarah karena kedinginan, yang aku tahu aku hanya menyukai salju”

Dasar hunnie pabo, pernyataanmu itu bahkan dapat membuat darah yang mengalir dari hidungku berhenti. Aku juga selalu menyukai salju karena dirimu. Karena sinar matamu yang sedingin salju saat menatap gadis lain. Karena kulitmu yang seputih salju. Karena bibirmu yang berukuran semunyil salju. Ketampananmu melebihi dewa penurun salju. Dan aku selalu mensyukuri kehadiran salju dan dirimu dalam hidupku. Meski kalian sama, tak dapat kugenggam terlalu lama karena kalian akan sama-sama menghilang dalam kehidupanku. Cepat atau lambat.

“Dan aku menyukaimu”

Aku terkejut mendengar perkataannya yang baru saja ia ucapkan padaku. Terlebih ketika ia mengusap darahku menggunakan jemarinya yang terasa dingin.

“Karena salju telah membawa kita berdua untuk bertemu”

Aku menutup kedua mataku ketika ia mendekatiku dan menciumku dengan lembut. Inikah perasaan yang soo jung rasakan tatkala sehun menciumnya ditengah salju. Permohonanku akhirnya terkabul, meski harus memakan waktu yang tak singkat. Bagai cerita dalam negeri dongeng, sang pangeran akhirnya mencintai sang gadis yang telah lama memendam perasaan padanya. Ditemani dengan salju yang menjadi background dari segalanya. Saksi suci cinta kami yang putih tanpa kebohongan yang tertupi. Mulai dari awal hingga perjalanan cinta ini abadi.

Ia melepaskan tautan ciuman kita. Kami berdua tersenyum, lalu tangannya menggenggam erat jemariku. Mengajakku untuk beranjak dari ayunan yang sedari tadi telah kududuki. Kami berjalan pelan ditengah salju yang kembali memancarkan pesonanya.

“Kau masih ingat ketika kita berdua bertemu, saat itu kau berada di taman dan hidungmu berdarah”

Sehun membuka suaranya untuk memecah keheningan yang menyelimuti kami. Aku tersenyum mengingat masa kecil kami lagi. Mana mungkin aku lupa dengan takdir yang mengawali semua perasaan cinta ku padamu.

“Kau sangat panik saat itu, kau bahkan merobek ujung bajumu. Sejak hari itu kita menjadi sahabat, kau selalu mengajakku bermain keluar rumah saat salju turun tanpa menggunakan jaket ataupun syal. Eomma bahkan pernah mengurungku digudang karena selalu pulang dengan darah yang tak berhenti mengalir dari hidungku dan selalu menangis ketika eomma memaksaku memakai jaket”

Aku dapat mendengar suara tawanya ketika aku menjelaskan kenangan kecil kami berdua. Ia berhenti berjalan, memaksaku untuk menoleh ke arahnya.

“Kau memang bodoh, meninggalkanku demi babi seperti seobbi itu. Kau tahu aku bahkan tak dapat makan dengan teratur karena mendengar berita kau menjadi kekasihnya setelah sepulang dari hari itu. Kukira kau menyukai dirinya, terlebih saat kau menyuruhku untuk melupakanmu dan mencari gadis lain”

Aku tertegun mendengar ucapannya. Rasa sakit yang selama ini mengudara dihatiku, semua itu karena sebabku sendiri. Aku meringis merasakan sakit kepala yang menyerangku. Seakan terdapat puzzle yang dahulu hilang dari otakku. Kini semua rangkaian peristiwa itu kembali pada memoryku. Malam dimana sehun mengajakku keluar rumah dan ia menanyakan tentang kebenaran hubunganku dengan seobbie.

Seoul, Oktober 2011.

“Suzy-ah, ada yang ingin kukatan padamu”

Aku menatapnya dalam. Terlihat wajah seriusnya yang jarang sekali kutemukan.

“Apakah benar kau dengan yoseob,”

“Ah tunggu sebentar, ada panggilan masuk”

Kualihkan tatapanku menuju layar ponsel yang tertera nama pemanggil dari seseorang.

“Yeboeseyo”

“Seobbie-ah”

“Mwo? Arraso, op..oppa”

“Aku sedang bersama hunnie di taman dekat rumahku”

“Aku tahu, aku hanya berjalan-jalan sebentar untuk melepas penat”

“Sekarang? Tentu saja aku bisa. Aniyo, kau tak mengganggu aku dan hunnie”

“Baiklah aku segera kesana”

“Nado saranghaeyo oppa”

Aku menoleh kearah sehun yang tengah menatapku dengan kesal.

“Hunnie, sepertinya aku harus ke café milik halmoeni seobbie. Lain kali waktu saja ne kita membahas apa yang ingin kau katakana”

“Tidak bisa, aku akan lupa pada perasaanku jika aku tak mengucapkannya sekarang”

Ia menahan kepergianku. Aku dapat melihat pantulan diriku di kedua mutiara hitam miliknya.

“Lupakan saja, aku harus segera menemui seobbie. Kau kelak harus mencari gadis lain untuk  menjadi yeojachingu mu, agar kau tak mengangguku terus menerus. Aku mungkin tak akan memiliki waktu lagi untuk dirimu nantinya”

“Begitukah?”

Aku hanya menggangguk sekilas lalu menepuk pundaknya pelan dan mengucapkan salam perpisahan padanya. Sehun sama sekali tak bergeming, bahkan ia tak menjawab salam ku. Apakah terdapat paku yang menancap di kakinya hingga ia hanya dapat melihatku yang semakin berjalan jauh darinya. Entahlah.

Seoul, Januari 2013.

“Aku telah melukai soo jung, membuat gadis sebaik dirinya jatuh dalam pelampiasanku. Dia bahkan menciumku waktu itu, ia merebut ciuman pertamaku yang selalu kujaga untukmu. Aku tak tahan pada sikapnya yang selalu menyudutkanmu dihadapanku, maka dari itu aku memutuskan untuk berpisah dengannya. Karena hatiku berkata aku tak membutuhkan wanita lain, aku hanya membutuhkanmu seorang”

Tubuhku terasa menegang mendengar penuturannya. Aku memang bodoh, tenggelam dalam perasaanku sendiri dan menjadi titik mula dari kesalahpahaman ini.

“Bukankah semua siswa berkata kau yang diputuskan oleh soo jung?”

“Itu sebagai permohonan maafku padanya, karena aku telah mempermainkannya selama ini. kau tahu meski aku menjadi kekasihnya, sedetikpun aku tak pernah terlepas dari bayangan dirimu di pikiranku”

Air mataku sukses memuai seketika itu jua. Sehun terlihat panik melihat air mataku. Sementara aku hanya dapat memukul dada bidangnya.

“Kau bodoh, kau tahu rasanya ditinggal sendiri tapi kau masih melakukan itu juga padaku. Aku kesepian, saat kau pergi meninggalkanku dengan wanita lain. Kau tahu, aku pun tak pernah mencintai seobi, aku hanya menyukainya karena sifatnya yang manis. Aku memutuskannya begitu kau mencium soo jung waktu itu, aku sadar aku hanya membutuhkan kau untuk tetap di sisiku”

Ia membawaku pada kehangatan pelukannya. Satu hal lagi yang dapat mengusir dinginku oleh setiap caranya. Serta meredam isak tangis yang bersumber dari diriku.

“Mianhae, mulai sekarang aku tak akan membiarkanmu kesepian. Saat kau lengah dan kehilangan arah, aku akan menarikmu untuk kembali padaku, bukan meninggalkanmu seperti dahulu”

Masih dalam pelukannya aku tersenyum seraya mengucapkan rasa terimakasihku pada Tuhan. Cintaku terasa begitu nikmat setelah sekian lama bertahan dan terbalaskan. Aku yakin, cinta yang seperti ini dapat bertahan jauh lebih lama karena kita telah menempuh berbagai lembah kehidupan.

“Apakah kau membawa payung?”

“Aniyo”

“Dasar pabo, kau bisa sakit lagi jika kita bermain dibawah hujan salju”

Ia melepaskan pelukannya. Lalu mendaratkan jitakan kecil dikepalaku.

“Ya! Kau sendiri pun tak pernah membawa payung”

“Siapa bilang, aku selalu membawa payung tapi tak pernah aku kenakan. Aku selalu menanti hal seperti ini terjadi, dan aku akan melakukannya hanya denganmu”

Sehun mengeluarkan payung bening miliknya. Lalu menarikku agar tak terkena salju yang berjatuhan dari langit. Kami berdua berjalan menyusuri jalanan yang dipenuhi dengan keanggunan salju. Sesekali tawa kecil terlontar diantara kita ketika mengingat kejadian hari ini.

“Lain kali, dapatkah kita pergi ke hokaido dan melihat berlian salju. Aku melihat berlian itu di drama Love Rain”

“Baiklah, tapi sebelum itu terjadi ada hal yang harus kita lakukan”

“Apa?”

“Membuat kisah cinta kita sendiri dan memberikan judul Love Snow. Kurasa hal itu lebih baik”

Aku menggenggam erat jemarinya. Baiklah, kelak kita akan membangun kisah cinta kita sendiri dan menceritakan hal tersebut kepada keturunan kita. Ini bukanlah akhir dari cerita cintaku bersama Oh sehun dan salju, hari ini menjadi titik balik terjadinya kejadian-kejadian tak terduga lainnya dimasa depan.

Hokaido, December 2020.

“Bae Suzy, bersediakah engkau menemani Oh Sehun dalam kedaan suka maupun duka . Saat bergelimang harta dan dilanda kesusahan, saat termanis dalam hidupmu dan tersulit dalam hidupmu. Apakah kau bersedia?”

Aku menatap wajahnya dengan seksama. Menikmati setiap lekuk keindahan yang tersirat kebahagian dikedua bola matanya.

“Saya bersedia”

“Oh Sehun, bersediakah engkau hidup bersama Bae Suzy saat suka maupun duka, saat raga dan jiwa mu sehat maupun sakit, saat salju turun maupun saat matahari menyinari kehidupan kalian, sampai ajal menjemput kalian nanti . Apakah kau bersedia?”

“Saya Bersedia!”

Tak terdengar keraguan di bibir kecilnya. Seperti adanya diriku yang tak pernah ragu untuk mencintaimu hingga kini takdir benar-benar mengikat kita dengan benang merah menjadi satu.

Tuhan Maha Mengetahui, ia amat sangat tahu jika ada yang kurang dari ini semua. Kami membutuhkan salju untuk sekian kalinya menjadi saksi suci cinta kami. Dan Tuhan mengabulkannya, menjatuhkan satu persatu bulir salju yang persekian detiknya semakin bertambah menjadi ratusan atau bahkan ribuan.

“Semua sudah sempurna”

“Tunggu dulu, ini belum selesai”

“Sehun-ah, cium suzy sekarang juga!”

Senyumanku sedikit menciut ketika mendengar ucapannya dan teriakan dari pasangan seobie dan ji eun. Oh Tuhan kumohon jangan sekarang, pipiku pasti langsung merah merona jika ia melakukannya di depan banyak orang. Ia lalu mendekatkan wajahnya hingga tak menyisakan jarak diantara kami. Dan chu. Ciuman lembut kembali dia ukir di bibir kami berdua. Suara kemeriahan menggema seketika itu jua. Sehun melepaskan ciumannya dan mengakhiri semua itu dengan senyuman.

“Ciuman kita terasa seperti salju, lembut dan menyenangkan”

“Dan agak sedikit amis”

Lanjutnya kemudian, yang menyadarkan ku bahwa darah kembali mengalir dari hidungku.

“Jangan dihapus, biarkan moment ini terus berlanjut”

Sehun menahan jari-jariku yang hendak menghapusnya menggunakan tissue.

“Saat salju datang, kita pasti akan selalu bersama, dan saat itu juga tubuhmu pasti akan meresponnya dengan mengeluarkan darah”

Kami berdua tertawa kecil. Memang seperti itulah adanya. Hanya satu situasi yang lupa ia ucapkan. Pada saat itu juga ia selalu dapat menghangatkanku dengan caranya. Seperti sekarang ini.

“Kau tahu, kau adalah ciuman pertamaku, kekasih pertamaku, dan cinta pertamaku. Meskipun soo jung menjadi ciuman pertamaku dan kekasihku, tapi aku selalu melakukan semua nya dengan penuh cinta itu ketika bersamamu”

Aku mencubit kecil pinggangnya. Dapat kudengar ia mengaduh kesakitan.

“Hunnie-ku yang polos tak boleh menyebutkan nama gadis lain dihari pernikahan kita”

Benar, sehunku yang polos kini telah jauh berkembang. Dan bersamaan itu pula, aku selalu menjadi sosok yang menemani perkembanganmu. Kelopak bunga-bunga yang berterbangan diudara menyatu dengan kehadiran salju dihari kebahagiaanku. Menyimbolkan hari terindah dalam hidupku saat ini jua.

“Chagiyo. Lihatlah ada berlian salju”

Aku mengalihkan pandanganku pada benda yang ia tunjuk. Oh Sehun. Nama pria itu selalu abadi, dalam istana cinta yang telah terjaga dan angan yang telah Tuhan nyatakan padaku.

-Crystal Flower End-

Note : Annyeong readers tercinto ^^ FF ini seharusnya aku post sebelum UKK, tapi karena posternya belum selesai jadi setelah UKK deh . Adakah readers yang selesai menjalankan UKK juga? Kita sama2 mendoakan yah semoga nilai kita bagus2 *aamiin ya’allah* . Well, yg waktu itu request FF suzy yang dipairingin sama member exo sudah jadi yah walaupun hasilnya berantakan karena buat ff ini ngebut banget cuma 1 jam, dan sepertinya aku memang benar2 tidak berbakat mmbawa ff yang happy ending -_- KaiZy nya menyusul ne 🙂 Season series ini nanti disalah satu series seru (?) nya akan aku protect loh, jadi sekedar mengingatkan untuk para siders silahkan comment mulai dari series ini ne, inget keep like & comment! terimakasih 😀

93 thoughts on “[Vignette] Season Series : Crystal Flower

    • Ah mian chingu, laptopku baru sembuh jadi baru bisa bales commentnya *plak*
      Iyah ini ff emang super ngebingungin, aku aja gak ngerti 😀 *apadaaah*
      Okee siip chingu, terimakasih atas commentnya 🙂 *nunduk45derajat

    • Ah mian chingu, laptopku baru sembuh jadi baru bisa bales commentnya sekarang *plak*
      Gapapa ko kalau aku dipanggil luhan, aku kan pacarnya xD *apa ini*
      Eh masa? perasaan feelnya bener2 gak ngena deh kalau buat aku pribadi -_- Tapi terimakasih chingu atas commentnya 😀 *nunduk45derajat*

  1. Romantiiss… sama-sama salah paham, untungnya terselesaikan juga kesalahhpahamannya. Tapi first kissnya sehun udh d ambil sma soojung ㅠㅠ

    • Ah mian chingu, laptopku baru sembuh jadi aku baru bisa bales commentnya sekarang *plak*
      Iyaaa, tapi tetep dong first love nya sehun buat suzy seorang 😀
      Terimakasih chingu atas commentnya *nunduk45derajat:)

  2. Khas banget cerita remaja dengan alur yang ringan dan bahasa yang ringan…
    Seneng banget bisa baca ff yang seperti ini..
    Romantis banget..
    Hahahahaha
    Feelnya dapet

Leave a Reply to Flaming SweetIce Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s