[FF Freelance] Where is My Man? (Part 3)

where is my man

Title            : WHERE IS MY MAN?? PART 3

Writer                   : Endor Yochi

Main Cast    :

– Park Jiyeon (T-ara)

– Kim Myungsoo a.k.a ‘L’ (Infinite)

– Yang Yoseob (B2ST)

– Choi Minho (SHINee)

Other Casts :

– Bae Suzy (Miss A)

– Park Sanghyun a.k.a Thunder Cheondung (MBLAQ)

– Kim HyunAh a.k.a Hyuna (4Minute)

– Lee Gikwang (B2ST)

– Jung Ilhoon (BTOB)

– Lee Sungjong (Infinite)

– Lee Chanhee a.k.a Chunji (Boyfriend)

– Seo Joo-hyun a.k.a Seohyun (SNSD)

Genre           : Romance, Comedy ( a little bit ), aneh, gaje, dsb

Length                   : Chaptered

Rating                   : Halal for everyone 😉

Previous part: Part 1, Part 2

 

Cerita sebelumnya..

 

“Yaa! Jiyeon-ah!” teriak Sanghyun tiba-tiba dari bawah.

Jiyeon pun berhenti melempari Yoseob dan berseru,

“Waegurae?”

“Turunlah, ada yang meneleponmu!”

“Nugu?”

“Dia bilang namanya Choi Minho!”

“Mwo?”

“Ppalli!!”

“Ne, ne aku segera datang.”

Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, Jiyeon pun bergegas merangkak turun dari atap dan masuk kamar melalui jendela. Yoseob melongo melihatnya.

“Aish! Bahkan berpamitan padaku saja dia tidak sempat. Aigoo.. Choi Minho.. Choi Minho..” gumamnya sambil merebahkan dirinya dan kembali menatap langit.

***

 

PART 3

_Author POV_

 

“Yaa!” seru Jiyeon ketika melihat Sanghyun mengeluarkan mobil dari garasi.

“Wae irae?” sahut Sanghyun agak heran saat dilihatnya dongsaengnya itu memasang muka seram seperti ingin mengajak perang.

“Antarkan aku ke sekolah.” kata Jiyeon pula dengan nada galak.

“Mwo? Aku tidak bisa..”

“Waeyo?”

“Tempat kita berlawanan arah. Aku ada kuliah pagi hari ini, jadi tidak boleh datang terlambat. Lagipula bukankah biasanya kau jalan kaki?”

“Lalu kenapa oppa tidak masalah saat mengantarkan Suzy kemarin?”

“M.. Mwo? Mworago?”

“Aish! Tidak perlu menyembunyikannya dariku. Aku tahu semuanya dari Suzy.”

“Eng.. Geunyang~” Sanghyun tak melanjutkan kalimatnya, membuat Jiyeon mulai menerka-nerka.

“Yaa!! Neo.. Johahaseyo?” tanya Jiyeon pula.

“M.. Mwo? Anii, anii.. Aish! Geurae, kuantar kau ke sekolah dulu. Ppalli!”

Jiyeon melonjak senang mendengarnya. Lalu, ia pun bergegas masuk ke dalam mobil oppanya itu. Tepat pada saat itu Yoseob pun tampak baru keluar dari rumahnya dengan motornya.

“Yaa! Kenapa kau tidak berangkat bersama Yoseob saja? Bukankah dia sekelas denganmu?”

“Darimana Oppa tahu kalau dia sekelas denganku?”

“Tentu saja darinya.”

“Aish! Bahkan sampai hal sesepele itu pun dia mengatakannya padamu?”

“Wae? Sepertinya kau ini sensi sekali dengannya?”

“Anii.. Aku hanya sedikit kurang nyaman saja karena dia selalu saja membuntutiku.”

“Jinjja? Bukankah itu malah bagus? Siapa tahu dia ingin melindungimu.”

“Aish! Aku tidak perlu dilindungi. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Lagipula untuk apa dia ingin melindungiku?”

“Yaa, tapi dia namja yang baik.”

“Arasseo.. Dia namja yang baik. Tapi dia terlalu pandai menurutku. Dan aku kurang menyukai namja yang terlalu pandai.”

“Mwo? Michyeosseo? Berarti kau menyukai namja yang pabo?”

“Aish! Aniyo.. Bukan begitu~”

“Atau kau menyukai namja berandalan yang suka berkelahi? Seperti Kim Myungsoo?”

“Mwo? Kim Myungsoo?”

“Ne.”

“Yaa! Kenapa kau melibatkan dia dalam pembicaraan kita?”

“Wae? Wae? Kenapa tiba-tiba kau berteriak begitu? Yaa! Jangan katakan kalau kau sedang ada masalah dengan namja itu.”

“Anii.. Geunyang~”

“Wae?”

“Ahh, amugeotdo aniya.. Sudahlah, jangan bertanya terus. Konsentrasi saja pada jalan di depan.”

Sanghyun menarik napas panjang.

“Besok berangkatlah bersama Yoseob.” Katanya lagi.

“Shirreo~”

“Wae?”

“Gwaenchanha. Kalau kau memang tidak mau mengantarku lagi, geurae aku akan jalan kaki saja besok.”

“Aish kau ini memang benar-benar keras kepala.”

Jiyeon hanya nyengir. Sebentar kemudian mereka pun sampai di depan gerbang sekolah Jiyeon. Sanghyun pun menghentikan mobilnya.

“Yaa! Minho oppa!” seru Jiyeon tiba-tiba.

“Mwo? Nugu?” tanya Sanghyun heran.

“Aku pergi dulu. Annyeong!” sahut Jiyeon sambil bergegas turun dari mobil.

“Issh! Jinjja.. Minho? Nuguya? Oh, apa mungkin Choi Minho yang sering menelepon ke rumah dan mencari Jiyeon itu? Apa hubungan mereka?” gumam Sanghyun.

***

 

“Oppa!”

Minho yang semula berjalan sendirian itu menoleh. Ia tersenyum ketika melihat Jiyeon berlari ke arahnya.

“Kau baru datang?” sambutnya.

“Ne. Fiuhh, oppa datang sendiri?”

“Tentu saja. Wae?”

“Anii, aku pikir oppa datang bersama yeoja lampir itu.”

Minho tersenyum geli mendengarnya.

“Aniyo.. Itu takkan terjadi lagi.” Katanya.

“Jinjjayo?”

“Ne. Kajja, kuantar kau ke kelas.”

“Joha.” Sambut Jiyeon senang sambil meraih tangan Minho dan berjalan menuju kelasnya.

Yoseob yang ternyata secara tidak sengaja melihat pemandangan tak menyenangkan itu menghela napas dalam-dalam.

Aigoo.. Kenapa aku tidak senang melihat kedekatan mereka? pikirnya sambil geleng-geleng kepala.

“Yaa! Menyingkirlah! Kau menghalangi jalan kami!”

Yoseob menoleh mendengar gertakan itu. Tampak empat orang namja sedang berdiri di belakangnya. The Strangers. Tapi Yoseob yang masih baru dan belum tahu apa-apa itu bukannya menyingkir, tapi malah menjawab,

“Oh, tapi bukankah jalan di sini luas? Kenapa kalian tidak lewat sana saja?”

Chunji terkejut mendengarnya. Ia mendekati Yoseob dan memperhatikan namja itu dari ujung kepala hingga ujung kaki.

“Wae?” tanya Yoseob heran diperhatikan seperti itu.

“Nuguya? Sepertinya aku baru melihatmu pertama kali di sekolah ini.” kata Chunji.

“Ne, aku adalah murid pindahan.”

“Ha, jadi kau siswa baru? Arasseo..”

“Waeyo?”

“Yaa, sudahlah kita pergi saja. Tidak ada gunanya melakukan hal yang tidak penting.” Potong Myungsoo, lalu beranjak pergi. Mau tak mau ketiga temannya pun mengikutinya. Yoseob terbengong-bengong melihatnya.

“Aneh sekali.” Gumamnya.

“Yaa, apa kau membuat masalah dengan mereka?” tanya Gikwang yang tiba-tiba sudah berada di samping Yoseob. Yoseob terkejut sekali dibuatnya.

“Oh, kau? Anii.. Tapi siapa mereka? Sepertinya ada yang aneh dengan mereka?” tanyanya pula.

“Mereka itu The Strangers, sebuah kelompok hebat dan terkenal di sekolah ini.”

“Maksudmu gangster?”

“Semacam begitu. Tapi mereka tidak suka disebut gangster, karena menurut mereka julukan gangster itu hanya untuk orang-orang jahat. Tapi apa bedanya? Mereka sering sekali berkelahi dengan kelompok dari sekolah lain.”

Yoseob hanya garuk-garuk kepala saja mendengarnya.

“Yaa, kajja, kita masuk kelas. Sebentar lagi masuk. Kau sudah mengerjakan tugas?” tegur Gikwang laagi.

“Mwo? Tugas apa?”

“B.Inggris.”

“Anii, aku belum mengerjakannya.”

“Jinjja? Kupikir kau ini siswa yang rajin.”

“Kata siapa? Aku hanya beruntung saja.”

“Mwo?”

“Lalu kau sendiri bagaimana?”

“Apanya?”

“Kau sudah mengerjakan tugas?”

“Tentu saja belum.”

Yoseob tertawa mendengarnya. Selanjutnya obrolan mereka pun terus berlanjut sampai mereka sampai di kelas.

***

 

Jiyeon tampak berlari menyusuri koridor sambil sedikit merapatkan kakinya. Sudah bisa ditebak, yeoja itu kini sedang ingin buang air kecil. Tapi begitu ia sampai di depan toilet putri, ternyata semua tempat sudah penuh. Jiyeon jadi bingung dibuatnya.

“Aishh! Jinjja.. Kenapa di saat darurat begini toiletnya penuh? Padahal biasanya juga sepi? Aigoo, aigoo.. Eottokhe? Yaa! Ppalli! Aku sudah tidak tahan!” serunya sambil menggedor-gedor semua pintu toilet. Namun tak ada satupun pintu itu yang terbuka. Jiyeon jadi semakin cemas saja.

“Ohmo! Andwae! Andwae! Jangan di sini! Aigoo, eottokhe?” teriaknya cemas bukan main. Lalu tanpa pikir panjang lagi ia pun masuk ke dalam toilet putra.

Beberapa siswa yang kebetulan sedang ‘mejeng’ di sana pun serempak berteriak karena terkejut dan buru-buru menutupi ‘benda keramat’ (?) mereka  masing-masing.

“Yaa! Apa yang kau lakukan di sini? Kau tak bisa lihat kalau ini toilet putra?” bentak seorang siswa yang ternyata adalah Sungjong itu.

“Aish! Kau lagi. Sudahlah aku tidak ada waktu untuk melayanimu.” Kata Jiyeon sambil bergegas masuk ke dalam salah satu ruangan yang masih kosong dan mengunci pintu dari dalam. Sungjong dan siswa-siswa lainnya terbengong-bengong melihatnya. Namun beberapa saat kemudian mereka pun berbisik-bisik. Sambil menahan tawa, Sungjong mewakili mereka untuk mengambil sapu ijuk yang kebetulan nangkring di luar toilet, lalu menggunakan benda tersebut untuk mengganjal pegangan pintu toilet yang tadi dimasuki Jiyeon. Setelah itu mereka pun keluar sambil tertawa tertahan.

5 menit kemudian, Jiyeon telah selesai dengan urusannya. Setelah menyiram hasilnya tadi, ia pun bermaksud membuka pintu, akan tetapi..

“Ohmo, kenapa pintunya macet?” gumamnya heran. berkali-kali ia mencoba membuka pintu tersebut tapi ternyata tetap tidak bisa dibuka juga.

“Aigo.. Waeyo? Yaa! Buka pintunya! Yaa!” serunya berkali-kali sambil menggedor-gedor pintu. Tapi ternyata tak ada yang mau membuka pintu tersebut.

“Yaa! Kaleng jalanan! Pasti kau kan yang mengunciku? Ppalli! Buka pintunya!”

Namun pintu masih tertutup.

“Aish! Eottokhe? Kenapa tidak ada yang membuka pintu? Apa mereka sudah keluar semua? Aish! Jinjjaa.. Beginilah kalau tidak punya ponsel. Eottokhe? Yaa! Buka pintunya!!”

Jiyeon hampir putus asa. Ia kesal sekali pada Sungjong. Ia yakin pasti ini perbuatan namja itu. Dalam hati ia berniat akan membalas perbuatannya.

KLEKK!!

Tiba-tiba pintu terbuka. Jiyeon terkejut sekali.

“Goma~” Jiyeon tak melanjutkan kalimatnya begitu melihat siapa yang membukakan pintunya.

“Kenapa kau di sini? Apa kau tidak bisa baca tulisan di depan??” tanya siswa yang ternyata adalah Myungsoo itu.

“Eng.. Aku hanya~” Jiyeon masih belum bisa melanjutkan ucapannya. Entah kenapa jantungnya mendadak berdebar-debar setiap kali melihat namja itu.

“Wae? Apa tadi kau salah makan? Kenapa gugup begitu?” tanya Myungsoo. Sepertinya namja itu tahu kalau saat itu Jiyeon sedang gugup karenanya. Jiyeon masih belum menjawab. Aish! Kenapa aku jadi speechless begini? Waeyo? Pikir Jiyeon heran. Tiba-tiba Myungsoo mendekat.

“W.. Wae? Mau apa kau? Jangan macam-macam!” kata Jiyeon sambil melangkah mundur. Myungsoo tak menjawab, melainkan malah semakin mendekat. Jiyeon pun terus mundur hingga mentok di dinding. Myungsoo tersenyum, dan lebih mendekat lagi.

“Yaa! Kim Myungsoo! Jangan kau pikir aku akan termakan oleh permainanmu lagi!” kata Jiyeon.

“Geuraeyo?” kata Myungsoo. Kini wajah keduanya sudah sangat dekat sekali. Jiyeon menahan napas. Ia benar-benar sudah seperti dihipnotis oleh namja di depannya itu sehingga tak mampu bergerak sedikitpun.

“Jeogiyo..”

Bibir Myungsoo yang sudah hampir menyentuh bibir Jiyeon itu pun terhenti. Myungsoo menoleh. Jiyeon terbelalak saat melihat siapa yg menegur mereka tadi.

“Kau?”

***

 

Yoseob gelisah. Berkali-kali ia melihat keluar pintu kelas, berharap Jiyeon muncul. Namun yeoja itu belum juga kembali, padahal sudah cukup lama ia keluar.

Kemana dia? Kenapa ke toilet saja lama sekali? Aish! Kenapa aku jadi khawatir begini? Pikirnya. Tapi ia semakin gelisah saja. Lalu tanpa menunggu lebih lama lagi, ia pun meminta ijin pada Kyuhyun seonsaengnim untuk keluar sebentar. Dengan setengah berlari, ia menuju ke arah toilet. Namun di perjalanan, ia berpapasan dengan beberapa siswa yang tertawa-tawa,

“Biar yeoja itu tahu rasa. Salah sendiri kenapa masuk ke toilet putra.” Kata salah seorang dari mereka.

“Pasti saat ini dia sedang kebingungan karena pintunya tak bisa dibuka.” Sambung yang lain sambil tertawa.

Mwo? Seorang yeoja masuk toilet putra? Jangan-jangan..

Tanpa menunggu lebih lama lagi Yoseob pun kembali berlari menuju toilet. Begitu ia sampai di toilet, ia terkejut ketika melihat seorang namja sedang bersama Jiyeon.

Bukankah itu namja yang tadi? Ohmo, apa yang dilakukannya? pikirnya horror ketika melihat kedua wajah mereka yang sangat dekat itu.

“Jeogiyo..” katanya kemudian.

Namja itu menghentikan aksinya dan menoleh. Jiyeon tampak terkejut melihatnya.

“Kau?” katanya.

“Stubborn girl? Mwohaeyo?”

Jiyeon segera mendorong tubuh Myungsoo dan menjauh darinya.

“Eng.. Aku tadi~”

“Kenapa kau lama sekali?”

“Ne?”

“Kajja, kita masuk kelas.” Kata Yoseob sambil menarik tangan Jiyeon keluar dari toilet putra. Sementara Myungsoo yang ditinggalkan hanya menatap kepergian mereka, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Paboya! Kenapa aku selalu melakukan hal bodoh itu setiap kali bertemu dengan yeoja itu? pikirnya.

Sementara itu Jiyeon merasa heran ketika Yoseob menariknya.

“Yaa! Waeyo? Kenapa kau menarikku?”

“Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau masuk toilet putra?”

“Itu bukan urusanmu! Lepaskan tanganku!” kaya Jiyeon sambil melepaskan tangan Yoseob dengan kasar. Yoseob berhenti sejenak, lalu menatap Jiyeon.

“Yaa! Kenapa kau selalu saja mengikutiku? Apa kau ini seorang penguntit?” tanya Jiyeon agak kesal.

“Aku hanya ingin melindungimu.”

“Mwo? Apa maksudmu? Melindungiku? Memangnya kau siapa? Apa kau ini ayahku? Aku tidak butuh perlindungan dari siapapun, termasuk darimu. Arrachi?”

Yoseob tak menjawab. Ia masih menatap Jiyeon.

“Wae?”

Yoseob menarik napas, lalu beranjak pergi meninggalkan Jiyeon begitu saja.

“Yaa! Eodiga?” seru Jiyeon. Tapi namja itu tak mempedulikannya dan terus berjalan menjauh.

“Wae? Kenapa tiba-tiba dia pergi? Apa dia marah? Aigoo..” gumam Jiyeon heran sambil menggaruk-garuk kepalanya.

***

 

Minho baru saja selesai memasukkan semua buku-bukunya ke dalam tas ketika Hyuna datang mendekat sambil menyodorkan sesuatu.

“Wae geurae?” tanya Minho heran.

“Aku mendapatkan 2 tiket nonton film gratis untuk nanti malam. Kita bisa pergi kan Oppa?”

“Mianhae, aku tidak bisa.”

“Wae?”

“Aku sudah punya janji dengan orang lain.”

“Nugu? Jiyeon?”

Minho tak menjawab. Hyuna kesal melihatnya.

“Apa Oppa sudah benar-benar tidak mau pergi bersamaku lagi?” tanyanya.

“Hyuna-ya, kenapa kau masih belum mengerti juga?”

“Hiks.. Oppa benar-benar sudah tidak peduli lagi padaku.” Kata Hyuna sambil menangis, lebih tepatnya pura-pura menangis. Minho menarik napas panjang melihatnya.

“Uljima..” katanya.

“Oppa sudah tidak peduli lagi padaku. Oppa jahat..”

“Hyuna-ya, mianhae. Aku harus pergi.” Kata Minho lagi sambil mengusap kepala Hyuna, lalu pergi keluar kelas. Hyuna tercengang melihatnya.

“Mwo? Bahkan jurus tangisku pun sudah tak mempan lagi padanya? Aissh!” gerutunya kesal. Lalu dengan marah pun ia merobek kedua tiket yang masih berada di tangannya itu.

Mihno berjalan menuruni tangga dengan tenang. Sebuah senyum terpancar dari wajahnya. Dari kejauhan ia melihat Jiyeon dan Suzy tengah bercakap-cakap dengan seorang namja yang tidak dikenalnya. Beberapa saat kemudian namja itu pun beranjak pergi meninggalkan mereka berdua. Minho mengerutkan keningnya pertanda heran karena ia melihat raut muka Jiyeon yang tampak bingung. Maka ia pun mendekati yeoja itu.

“Jiyeon-ah.” Katanya.

***

 

“Yaa, Jiyeon-ah. Kau pulang jalan kaki?” tanya Suzy ketika Kyuhyun seonsaengnim baru keluar dari kelasnya.

“Ne. Wae?”

“Apa Sanghyun Oppa tidak pernah menjemputmu?”

“Anii.. Kenapa kau tiba-tiba kau menanyakan hal itu?”

Belum sempat Suzy menjawab, Jiyeon melihat Yoseob beranjak keluar kelas. Jiyeon jadi teringat saat ia membentak Yoseob tadi sehingga membuat namja itu pergi meninggalkannya begitu saja. Jiyeon mendadak merasa tak enak. Maka seperti dikomando, yeoja itu pun segera berdiri dan menyusulnya.

“Yaa, eodiga?” seru Suzy turut menyusul pula.

Jiyeon tampak setengah berlari mengejar Yoseob.

“Yoseob-ssi! Jamkkanman!” serunya, membuat Yoseob berhenti melangkah.

“Wae?” tanya Yoseob sedikit heran.

“Eng.. Anii.. Geunyang..”

“Yaa, kenapa kau meninggalkanku?” potong Suzy yang sudah menyusul mereka.

“Yaa, bukankah biasanya kau memang pulang sendiri?”

“Anii.. Aku dijemput~”

“Kalau memang begitu kenapa aku harus menunggumu?”

“Eng.. Kita pulang sama-sama..”

“Mwo? Tumben sekali kau mengajakku pulang bersama? Wae?”

Suzy hanya tersenyum saja tanpa menjawab, membuat Jiyeon keheranan.

“Jeogi.. Apa aku boleh pergi?” kata Yoseob tiba-tiba.

“Ahh, jamkkan! Sebenarnya aku ingin bertanya.” cegah Jiyeon pula.

“Mwonde?”

“Geuge.. Eng.. Apa kau marah padaku?”

“Marah? Wae?”

“Aku sudah kasar padamu~”

Yoseob tertawa kecil.

“Bukankah kau ini memang selalu kasar?” katanya.

“Mwo?”

“Anii, hanya bercanda..”

Jiyeon tak segera menjawab.

“Jadi kau tidak marah padaku?” tanyanya kemudian.

Yoseob hanya menggeleng. Jiyeon mengangguk-angguk lega karenanya.

“Itu saja?” tanya Yoseob lagi.

“Ahh, ne..”

“Geurae, aku pergi dulu.”

“Aa~” Jiyeon mengangguk. Yoseob tersenyum lalu beranjak pergi. Sementara Jiyeon terbengong-bengong.

“Yaa, waeyo?” tanya Suzy heran.

“Anii, hanya saja aku heran, karena tadi kupikir dia marah padaku, tapi ternyata aku salah sangka.”

“Kenapa begitu saja kau pikirkan? Kau ini memang aneh. Kajja, kita keluar. Kita sudah ditunggu.”

“Jamkkan, kenapa kau mengajakku pulang bersama?”

“Geuge~”

 “Jiyeon-ah!” panggilan itu memotong ucapan Suzy.

Keduanya menoleh. Jiyeon tersenyum senang ketika melihat Minho berjalan mendekat.

“Oppa?” katanya.

“Belum pulang?’

“Ahh, ne aku baru keluar dari kelas.”

“Apa kau mau pulang bersamaku?”

“Jinjja?”

Minho hanya mengangguk. Jiyeon senang sekali melihatnya.

“Tentu saja aku mau. Suzy-ah, aku tahu kau bermaksud baik, tapi aku akan pulang dengan Minho Oppa. Jadi kau pulang sendiri saja, ya?”

“Jinjjayo? Kau tak ikut denganku?”

“Ne. Tapi kenapa kau senang sekali?”

“Tentu saja aku senang. Itu artinya hanya akan ada aku dengan Sanghyun oppa saja nanti.”

“M.. Mwo??”

“Geurae, aku pergi dulu. Gomawo, Jiyeon-ah. Sunbae-nim. Annyeong!”

“Yaa!! Yaa!! Jadi yang menjemputmu itu Sanghyun oppa? Yaa!! Kenapa kau tidak bilang sejak tadi? Aishh!!”gerutu Jiyeon kesal, tapi Suzy telah berlari meninggalkannya.

“Apa kau ingin pulang bersama Oppamu saja?” tanya Minho.

“Ahh, anii.. anii.. Tentu saja aku lebih memilih pulang bersama Minho oppa.”

Minho tersenyum melihatnya. Lalu ia pun mengelus rambut Jiyeon dan berkata,

“Kajja, aku akan mengajakmu jalan-jalan ke pekan raya dulu.”

“Jinjjayo? Whoa.. Oppa baik sekali! Aku mau! Aku mau!” seru Jiyeon sambil melonjak-lonjak seperti anak kecil. Minho tertawa melihatnya, lalu meraih tangan Jiyeon dan mengajaknya pergi. Kebetulan saat itu the Strangers melihat mereka.

“Yaa, lihatlah yeoja itu. Kenapa tingkahnya berubah seperti anak kecil begitu?” komentar Sungjong.

“Siapa namja itu? Apa dia namjachingunya?” sambung Chunji.

“Dia Choi Minho.” Kata Ilhoon pula.

“Kau mengenalnya?”

“Dia sekelas denganku.”

“Ha, arasseo. Sepertinya mereka senang sekali. Aish!! Membuatku jadi ingin punya yeojachingu saja.”

“Yaa, untuk apa punya yeojachingu. Itu hanya akan merepotkanmu.” Kata Sungjong.

“Jinjja? Apa kau pernah punya yeojachingu?”

“Pernah, dulu sewaktu masih sekolah dasar. Tapi dia sangat merepotkan. Selalu saja ingin dibelikan makanan. Aku sampai dihukum Ummaku gara-gara selalu menghabiskan uang saku. Makanya aku jadi trauma punya yeojachingu sampai sekarang.”

Chunji dan Ilhoon tertawa mendengarnya.

“Yaa, itu karena kau saja yang tidak bisa memilih yeoja yang tepat. Pokoknya aku harus punya yeojachingu dalam waktu dekat ini.” kat Chunji lagi.

“Apa kau serius?” tanya Ilhoon.

“Tentu saja. Aku sedikit bosan kalau setiap hari kerjaku hanya berkelahi saja. Aku juga ingin hidup normal seperti yang lainnya.”

“Kau benar juga. Geurae, kalau begitu aku juga akan mencari yeojachingu.” Sambung Sungjong.

“Kalau kalian memang sudah bosan berkelahi, lebih baik jangan menjadi angota The Strangers.” Kata Myungsoo tiba-tiba, lalu bergegas pergi meninggalkan ketiga temannya begitu saja. Ketiga kawannya yang ditinggalkannya itu terbengong-bengong dibuatnya.

“Ohmo, apa dia marah? Bahaya, aku tidak mau keluar dari The Strangers.” Kata Sungjong.

“Lebih baik kalian segera meminta maaf dan mencabut kata-kata kalian tadi.” Kata Ilhoon pula. Chunji dan Sungjong hanya diam saja mendengarnya.

Sementara itu Myungsoo berjalan mendahului ketiga temannya .

Kenapa tiba-tiba aku marah? Bukankah wajar kalau mereka menginginkan seorang yeojachingu? Mereka juga manusia biasa. Tapi, ah sepertinya aku bukan marah karena itu. Aku marah saat kulihat yeoja itu bersama namja tadi. Mwo? Jinjja? Waeyo? Apa benar aku marah karena hal itu? Apa tadi mereka bilang akan pergi ke pekan raya? Lalu kenapa? Yaa! Yaa! Memangnya apa urusanku? Aish! Ada apa denganku? Ini tidak wajar. Jangan-jangan.. Ahh anii, anii.. Tidak mungkin! Aigoo.. Apa yang terjadi? Pikir Myungsoo sepanjang jalan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

***

 

“Oppa.. Kajja!” seru Jiyeon sambil menarik tangan Minho menuju ke tempat penjual pernak-pernik.

“Ohmo, ini bagus sekali. Oppa, lihatlah, apa ini cocok  untukku?”kata Jiyeon sambil mencoba sebuah bando di kepalanya.

“Ne, itu cocok sekali. Kau tampak cantik menggunakannya.”

“Jinjjayo? Lalu bagaimana dengan ini?”

“Itu juga bagus. Apapun yang kau pakai pasti terlihat bagus.”

“Aigoo, apa yang Oppa bicarakan? Jangan menggombal begitu.”

Minho tersenyum geli melihat Jiyeon yang tersipu malu itu.

“Kau mau? Aku akan membelikannya untukmu.” Katanya pula.

“Jinjja?”

Minho hanya mengangguk.

“Gomapta, Oppa.”

Minho hanya tersenyum. Setelah membayar bando yang dipilih Jiyeon, keduanya pun melanjutkan perburuan lagi. Jiyeon terlihat senang sekali bisa pergi berdua dengan Minho seperti itu.

“Jiyeon-ah, kau tidak lapar? Bagaimana kalau kita makan dulu?” tanya Minho beberapa saat kemudian.

“Boleh.” Sambut Jiyeon antusias. Minho tersenyum melihatnya.

“Kau tampak senang sekali?” tanyanya.

“Tentu saja. Aku senang karena ada Oppa di sampingku.”

Sekali lagi Minho tersenyum dan mengelus kepala Jiyeon.

“Kajja, bagaimana kalau kita makan ramen saja?” katanya pula.

“Ne, joha.”

Keduanya pun beranjak dan menuju ke arah toko mie ramen yang berada tak jauh dari tempat mereka.

“Eoseo oseyo..” sambut seorang yeoja pemilik toko yang ternyata masih muda sebaya mereka itu ramah begitu mereka masuk. Keduanya pun membungkuk sedikit dan langsung mencari tempat duduk.

“Oh, Minho oppa?” kata yeoja itu tiba-tiba.

“Annyeong!” sapa Minho pula sambil tersenyum.

“Woahh.. Sudah lama sekali Oppa tidak pernah kemari.”

“Ne, aku memang jarang keluar sekarang.”

“Geurae. Duduklah, akan kubuatkan ramen spesial untuk Oppa.”

“Gomawo.”

Yeoja itu beranjak sementara Minho dan Jiyeon duduk di tempat yang kosong.

“Oppa sepertinya kenal baik dengan yeoja itu?” tanya Jiyeon penasaran.

Minho tersenyum, lalu menjawab,

“Ne, dulu aku sering datang kemari sewaktu masih SMP. Dia adik kelasku.”

“Jinjja? Wahh, lalu kenapa Oppa sudah jarang datang kemari?”

“Keadaannya sudah tidak seperti dulu lagi.”

“Maksudnya?”

“Dulu waktu masih SMP aku sering sekali ke tempat ini bersama seseorang. Hampir setiap sepulang sekolah kami selalu kesini. Sayang sekali, setelah kami lulus, dia pindah ke Daegu. Dan sejak saat itu kami tak pernah bertemu lagi. Dan hal itu membuatku jadi malas datang kemari lagi tanpa dia.”

“Apa.. Seseorang itu.. yeojachingu Oppa?”

“Anii.. Hanya teman dekat saja.”

“Ahh, arasseo..” sahut Jiyeon pula. Dalam hati ia sedikit penasaran siapa yang dimaksud teman dekat Minho itu. Diam-diam ia merasa cemburu saat melihat raut wajah Minho yang berseri-seri saat menceritakan masa lalunya itu.

“Aku akan lebih sering mengajakmu ke tempat ini.” kata Minho lagi.

“Ne?”

“Aku akan lebih sering mengajakmu kesini.”

“Jinjja?”

Minho mengangguk. Jiyeon hanya tersenyum saja. Ia melihat keluar melalui jendela kaca toko tersebut. Tanpa sengaja kedua ekor matanya menangkap sosok namja yang tak asing baginya berada di antara keramaian orang-orang. Yaa! Bukankah itu Yoseob? Aigoo bahkan ia pun membuntutiku hingga kesini? Aish! Namja itu benar-benar membuatku semakin kesal saja, gerutu Jiyeon.

“Waeyo?” tanya Minho heran ketika melihat raut wajah Jiyeon yang sedikit kesal itu.

“Ahh, anii, anii. Amugeotdo aniya.” Sahut Jiyeon cepat-cepat. Minho tak menyahut. Sepertinya ia merasa sedikit aneh melihat sikap Jiyeon itu.

“Jeogi.. Bisakah Oppa menungguku di sini sebentar?”

“Wae?”

“Aku mau keluar sebentar. Ada sesuatu yang harus kulakukan.”

“Eodi?”

“Nanti saja kujelaskan. Jamkkanman.”

Belum sempat Minho menjawab lagi, yeoja itu sudah melesat keluar. Minho hanya menarik napas saja melihatnya.

“Kemana namja itu? cepat sekali dia menghilang?” gumam Jiyeon sambil celingukan kesana kemari. Namun beberapa saat kemudian ia melihat sesosok yang tadi dilihatnya. Jiyeon pun bergegas mendekat.

“Yaa! Yoseob-ssi!” panggilnya.

Namja yang ternyata memang Yoseob itu pun menoleh.

“Oh, Stubborn girl? Kau, di sini juga?” katanya sedikit terkejut.

“Kenapa kau selalu mengikutiku? Sebenarnya apa maumu?”

“M.. Mwo? Mengikutimu?”

“Jangan berpura-pura. Aku tahu maksudmu baik. Tapi aku tidak suka diikuti terus-terusan. Aku benar-benar tak perlu dijaga. Aku bisa menjaga diriku sendiri.”

“Jamkkan, sepertinya kau salah paham. Aku tidak mengikutimu.”

“Lalu apa yang kau lakukan di sini?”

“Aku kesini karena Gikwang mengajakku. Aku bahkan tidak tahu kalau kau ada di sini.”

“Geuraeyo?”

“Ne.”

Jiyeon tak  segera menjawab.

“Oh, Jiyeon-ah? Kau di sini juga? Dengan siapa? Sendiri?” tanya Gikwang yang tiba-tiba baru muncul. Jiyeon menoleh.

“Jadi.. Kalian benar-benar pergi berdua?” tanyanya sedikit tak enak hati.

“Ne..”

Jiyeon menggaruk-garuk kepalanya sambil nyengir.

“Ha.. arasseo.. Mian, aku sudah mencurigaimu.” Katanya kemudian pada Yoseob.

“Gwaenchanha. Kau sendirian?” tanya Yoseob pula.

“Anii.. Aku sedang bersama seseorang.”

“Maksudmu, bersama Choi Minho?”

“Oh, kau mengenalnya?”

“Ahh, aniyo.. Hanya sekedar tahu saja.”

“Ne, aku sedang bersama Minho oppa.”

Yoseob hanya tersenyum dan mengangguk-angguk, walaupun hatinya mendadak merasa kurang enak.

“YAA!! Mwohaeyo?? NEO PABO YEOJA!!”

Ketiga anak itu terkejut saat mendengar bentakan itu. Ketiganya pun menoleh. Tampak oleh mereka tiga orang namja tengah bersama seorang yeoja yang sepertinya secara tidak sengaja menumpahkan air minum ke baju salah seorang dari namja tu.

“M.. Mianhae, aku tidak sengaja.” Ucap yeoja itu meminta maaf.

“Yaa! Apa kau tahu berapa harga baju ini? Bahkan uang sakumu selama setahun pun tidak akan bisa membayar harga baju ini!”

“Yaa, bukankah mereka itu murid dari SMA Hannyoung?” bisik Gikwang pada Yoseob.

“Jinjja?” tanya Jiyeon terkejut.

“Ne, mereka itu musuh The Strangers.”

“Maksudmu, gangster di sekolah kita itu?” tanya Yoseob pula.

“Aa~ Kudengar mereka itu sangat kejam. Dan namja yang kena siraman air itu adalah Hwang Chansung, anak pengusaha terkaya di Seoul.”

“Aish! Pantas saja lagaknya sombong begitu.”

“Ppalli buka bajumu!” bentak Chansung pada yeoja tadi.

“Ne?”

“Apa kau tidak dengar? Buka bajumu!”

“T.. Tapi~”

“Yaa! Neo! Hwang Chansung!”

Semua mata pun mengarah pada orang yang menegur dengan tegas itu.

“Mwo? Jiyeon-ah? Ohmo, sejak kapan yeoja itu ada di sana? Aish! Jinjja..” gerutu Yoseob terkejut ketika tahu kalau Jiyeon sudah berkacak pinggang di hadapan ketiga namja tadi. Chansung mengerutkan keningnya saat melihat Jiyeon berkacak pinggang di hadapannya.

“Neo.. Nuguya?” tanyanya.

“Tidak penting siapa aku. Yang jelas sikapmu itu sudah sangat membuatku merasa muak. Baju rombeng seperti itu sangat banyak sekali dijual di pinggir-pinggir jalan. Bahkan tanpa membayar sepeser pun siapapun bisa mendapatkannya.”

“Yaa, apa kau dari SMA Gwangju? Aish! Tidak kusangka ada yeoja seberani ini dari SMA itu.”

“Jamkkan.. M.. Mianhae.. Aku akan membayar ganti ruginya. Jebal, jangan bertengkar lagi.” Lerai yeoja yang tadi menyiram air minum.

“Mwo? Kau pasti bercanda.” kata Chansung tertawa mengejek.

“Ahh.. Kau pasti malu kan? Yeoja ini hanya menyiram sedikit air ke bajumu dan membuatmu marah-marah. Jangan-jangan itu karena kau masih belum membayar lunas baju itu.” sela Jiyeon lagi.

“Mwo? Neo jinjja..”

“Wae? Kau marah? Mau melawanku? Apa mukamu terlalu tebal sehingga kau mau melawan seorang yeoja?”

“Kau~” Chansung hampir saja menampar Jiyeon. Tapi Yoseob telah terlebih dahulu menahan tangannya.

“Jangan pernah sekalipun kau menyentuhnya.” Katanya tegas.

“Yaa, kenapa kau membantuku? Aku bisa mengatasinya sendiri.” Protes Jiyeon kurang senang.

“Andwae! Kajja, kita pergi.” Kata Yoseob sambil melepaskan tangan Chansung dan menarik tangan Jiyeon. Namun tiba-tiba saja Chansung menarik bahu Yoseob dengan kasar dan meninju mukanya sehingga bibir Yoseob mengeluarkan darah. Jiyeon terkejut sekali melihatnya.

“Yaa! Kenapa kau memukulnya?” bentaknya marah pada Chansung. Sementara Chansung tersenyum puas.

“Dia pantas mendapatkannya.” Katanya enteng.

“Kau~” Jiyeon hampir saja menendang muka namja itu, tapi Yoseob mencegahnya.

“Andwae. Gwaenchanha. Biar aku saja.” Katanya.

“Yaa, tapi kau terluka~”

“Yaa! Apa kau pikir aku akan membiarkan seorang yeoja menyelamatkanku?”

“Mwo?”

Yoseob tak menjawab, melainkan berdiri dan menatap ke arah Chansung.

“Aigoo.. Sebenarnya aku tak ada niat untuk berkelahi. Tapi sepertinya kau memaksaku untuk melakukannya. Aisshh, ini benar-benar perih sekali..” Katanya sambil mengusap sudut bibirnya.

Chansung tertawa mengejek. Lalu ia pun memberi isyarat pada kawannya untuk menyerang Yoseob.

“Andwae, jangan berkelahi!” teriak yeoja yang tadi itu tiba-tiba. Namun kedua teman Chansung sudah menyerang Yoseob. Kali ini Yoseob sudah siap. Ia melayani amukan dua namja itu dengan tenang. Dengan tubuhnya yang tak terlalu tinggi itu ia malah terlihat lebih lincah dan gesit. Berkali-kali ia memberikan pukulan telak pada kedua musuhnya itu tanpa terkena pukulan balasan sekalipun. Jiyeon ternganga melihatnya.

“Ohmo, tidak kusangka dia hebat juga..” gumamnya.

“Dia bilang pernah menjadi juara pertama sewaktu pertandingan karate di Amerika.” Gikwang menjelaskan.

“Jinjja?”

Gikwang hanya mengangguk. Keduanya kembali memusatkan perhatian pada Yoseob. Kini sudah banyak orang-orang yang berkerumun ikut melihat kejadian tersebut. Jiyeon kembali melongo setiap kali melihat pukulan yang dilayangkan oleh Yoseob.

“Hentikan!”

Perkelahian dua lawan satu itu pun terhenti ketika didengarnya suara tersebut. Mereka menoleh ke asal suara.

“Oh, namja itu?” kata Jiyeon terkejut ketika melihat seorang namja tak asing baginya sudah berdiri di tempat tersebut. Namja itu mendekati Yoseob dan ketiga namja tadi.

“Ha, kau datang.. Kim Myungsoo..” kata Chansung sinis.

“Oppa?” ucap yeoja asing yang tadi menyiram air minum pada baju Chansung ketika melihat Myungsoo.

“Bukankah sudah kubilang? Jangan pergi keluar sendirian.” Kata Myungsoo pula.

“Mianhae..”

“Mwo? Kalian saling kenal?” tanya Jiyeon heran.

Myungsoo tak menjawab, melainkan mengalihkan perhatiannya pada Chansung kembali.

“Kurasa urusan kalian sudah selesai di sini. Sebaiknya kalian pergi.” Katanya.

“Apa hakmu menyuruhku pergi?”

“Atau kau mau aku melaporkan kejadian ini pada polisi? Agar kau bisa mempermalukan nama keluargamu yang terhormat itu?”

Chansung tak segera menjawab. Dari sorot matanya tampak sekali kalau ia menaruh dendam pada namja di depannya itu. Lalu tanpa berkata apa-apa lagi ia pun mengajak kedua temannya pergi meninggalkan tempat itu. sepeninggal mereka, Myungsoo mendekati yeoja tadi.

“Kajja, kita pulang.” Katanya.

“Jamkkanman, aku belum berterimakasih pada mereka.” kata yeoja itu, lalu menghampiri Yoseob dan Jiyeon.

“Gomapsumnida, kalian sudah menolongku. Aku tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikan kalian.”

“Aniyo.. Munje eobseo. Gwaenchanha?”

“Ne, gwaenchanha. Gomapta.”

“Tapi.. Apa kau mengenal namja itu?” tanya Jiyeon sambil menunjuk Myungsoo.

“Ne.. Aku adalah sepupunya Myungsoo oppa. Naneun Seohyun. Seo Joohyun imnida.”

“Ahh, arasseo. Park Jiyeon imnida.”

“Yang Yoseob imnida.” Sahut Yoseob sambil membungkuk pula.

“Lee Gikwang imnida.” Sambung Gikwang.

“Mannaseo bangapta. Jeogi.. Neo~gwaenchanha? Mianhae, karena aku kau jadi terluka.” Kata Seohyun pula pada Yoseob.

“Ahh, gwaenchanha. Aku sudah terbiasa seperti ini.” kata Yoseob.

“Jiyeon-ah? Wae geurae? Gwaenchanha?” kata seseorang tiba-tiba. Jiyeon terkejut ketika tahu-tahu Minho sudah berada di situ.

“Ahh, ne Oppa. Gwaenchanha. Mianhae tadi aku meninggalkan Oppa.” Kata Jiyeon pula.

Minho menghela napas lega mendengarnya. Yoseob yang melihat kecemasan di wajah Minho itu hanya bisa menarik napas menahan perasaan tak enak yang bahkan ia sendiri pun tak tahu apa sebabnya.

“Oppa?” ucap Seohyun tiba-tiba. Minho menoleh. Ia tampak terkejut ketika melihat Seohyun di sana.

“Seohyun-ah?”

Baik Jiyeon, Yoseob, Myungsoo dan Gikwang sendiri terkejut dibuatnya.

“Oppa.. Mengenalnya?” tanya Jiyeon pula.

“Ahh, ne.. Dia adalah teman SMP ku dulu. Yang dulu pindah ke Daegu.”

“Maksud Oppa.. Yang Oppa ceritakan tadi?”

“Ne..”

Jiyeon tak menyahut. Perasaannya mendadak tak enak entah kenapa.

***

 

_Author POV end_

To be continued..

 

Langsung saja seperti biasa komentarnya ya readers. Mian part kali ini masih kurang seru. Sampai jumpa dan kamsahamnida 🙂

55 thoughts on “[FF Freelance] Where is My Man? (Part 3)

  1. Aigo jd seohyun itu mantan yeojax minho bgt? Dan kni mrk brtmu dan akan membuat yeonnie skt ht? Trs nti yeonnie sdih dan di hibur oleh yoseob dan myung2.. Wkwkwkw khayalanku.. Aigo.. Part 4x palli chingu (˘ʃƪ˘)

  2. udahlah… Minji putus lagi aja, :DDD *evilaugh*
    masa’ iya minho kyknya msh mikirin seohyun!
    tuhkan jiyeon’y cembekur jg. . FF yg penuh kecemburuan *Asek~
    jiyeon dugeun-dugeun mulu ama myungsoo… tapi kalau ama yoseob kok kyk gitu -_- pupuslah harapanku -__-
    masih blm keliatan pairingnya. ngecoh bgt! Daebak ><
    Next~ A-YO palli oke 😉

  3. runyemmmm dah …..
    Jiyeon >> Myungsoo, Minho, Yoseob
    Minho >> Jiyeon, Seohyun, Hyuna
    Yoseob >> Jiyeon
    Myungsoo >> Jiyeon
    pusing sendiri *acak” rambut

    ga nyangka dibalik baby face dan tubuh kecil y trnyata Yoseob oppa hebat juga … DAEBAK !! *bletak!!! dgetok Yoseob pke palu -_-

    • Habis ngacak rambut langsung ke jalan raya ya? hhaa #BUKK!!
      Iya dung, oppanya author tuh, kekeke #abaikan*
      Thanks ya? 🙂

  4. Tambah pusing sebenarnya jiyi suka sama siapa sihh ayoo donk diperjelas / kita dibuat pencerahan Gitu biar Ga bingung

    Minho mantannya seohyun dan hyuna dan kayaknya masih nyimpen perasaan ke seohyun deh semoga minji putus lagi aminnn
    Q dukung myungyeon part myungyeon di banyakin y saeng dtnggu part selanjutnya fighting

    • Haha emang sengaja dibulet2in (?) kok biar bingung #authorjahat*
      Ntar kalo udah di part2 selanjutnya juga bakal ngerti kok say, jadi tenang aja. Masih banyak kok part2nya^^
      Keep reading ya? gomawo 😉

  5. Anyeong,, naneun hana imnida reader baru disini.,,,
    aqoe mau comment,, sbnernya seh aqoe ngrasa kayak prnah nnton film korea yg kyak gini critanya,, sumpah lho ngk bhong..
    Kende,, aq lupa siapa yg main.. Coz kyak udah lama bget gtuh,,,
    ada yg sma jga kah kyak aqoe.. Dejavu gtu.. Keekekekeke…

    • Oh iya kah? Pilem apa saeng emangnya? Soalnya aku jujur ko ga pernah liat yah? Wah2 ngerasa kayak jadi plagiator nih, haha tapi bener ko ini murni karya sendiri chingu 🙂
      Gomawo yaa uda mau baca dan komen 😉

  6. Seruu..
    Huahhh apa minho akan pindah hati ke seo..
    Kapan MyungYeon bersatunya kekekeke

    Cari yeoja buat Yoseob juga thor ^^

  7. ooohh jadi seohyun toh temen smp nya minho O.o yaudahlah kalian celebekan lagi aja ya biar jiyi sama myung aja 😀 kekeke yosesob? yoseob kalo mau sama aku juga boleh 😀 kekeke
    haha chunji plis dia ngiri xD wkwkwk dasar jomblo =)) kekeke sungjong ngakak banget deh pacaran pas sd terus trauma xD wkwkwk

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s