[6] Behind The Scene

behind the scene

Behind The Scene by bluemallows

Main Cast: 2PM’s Nichkhun Horvejkul & Girls’ Generation’s Tiffany Hwang || Support Cast: Girls’ Generation’s Kim Taeyeon || Genre: Romance, Life, Music || Length: Chaptered || Disclaimer: Inspired by Ilana Tan’s Sunshines Becomes You, “First Kiss” (2012), and my own experience. || Credit Poster: almahonggi99

0,5 | 1 | 2 | 3 | 4 | 5

funebre

gloomy

*

Jemari mereka berdua senantiasa bertaut kemana pun mereka pergi. Senyum selalu mengembang dan menghiasi wajah mereka berdua yang ditemani dengan pandangan mata secerah matahari musim panas. Memang benar jika orang-orang mengatakan bahwa semua masalah seakan-akan hilang apabila hati sedang berbunga-bunga. Siapa sih yang tidak ingin menjadi pasangan ideal seperti Nichkhun dan Tiffany? Bahkan orang-orang di studio musik tempat mereka bekerja saja sering mengaku iri dengan kedua insan yang sedang saling jatuh cinta itu.

Hanya butuh waktu satu minggu sebelum berita tentang hubungan Nichkhun dan Tiffany menyebar ke seluruh bagian di studio musik.  Mulai dari resepsionis, guru-guru, murid didik, sampai pada sang manajer muda sekalipun, Chansung.

Sabtu malam ini, mereka memilih untuk pergi menonton pertunjukan balet musim semi di Seoul. Pertunjukan balet tahunan ini sudah sering digelar setiap musim semi. Penari-penari dari New York berkeliling Amerika dan Asia setiap tahun untuk melaksanakan tur-tur semacam ini. Nama tim balet ini sudah begitu terkenal, dan tentu saja Tiffany sudah pernah menerima tawaran untuk bergabung saat ia masih ada di Juilliard.

Pemimpin grup tari ini merupakan salah satu guru besar pada bidang seni tari di Juilliard, salah satu guru yang menjadikan Tiffany sebagai anak emasnya. Berkali-kali gurunya mengajak Tiffany bergabung dalam grup tarinya menjelang hari-hari kelulusan. Akan tetapi gadis itu terus saja menolak. Sesungguhnya, pemilik grup tari itu sudah merencanakan bahwa Tiffany akan menjadi bintang pada grupnya, lebih terkenal daripada yang lain, dan otomatis akan membuat namanya lebih melambung. Siapa grup yang tidak mau memanggil seorang penari berbakat-seperti Tiffany- masuk ke dalam grupnya?

Dan alangkah kecewanya sang guru besar itu ketika tahun lalu Tiffany dan Changmin mengunjunginya di belakang panggung dalam acara yang sama dan mengatakan bahwa ia sudah bekerja di studio musik kecil. Guru dan teman-temannya bersahut-sahutan mengatakan bahwa seharusnya Tiffany bisa lebih dari menjadi seorang guru balet biasa. Akan tetapi, gadis itu hanya menanggapi semua itu dengan melempar senyum dan mengatakan, “Ini sudah keputusanku.”

Jadi, di sinilah Tiffany dan Nichkhun berada. Mereka masuk di belakang panggung, tempat para penari balet memoles wajah mereka. Mata Tiffany dan Nichkhun berkeliaran di antara orang-orang banyak di dalam sana. “Guru yang mana yang kau cari?” Tanya Nichkhun.

Tiffany tidak menjawab, tetapi tangannya tiba-tiba menarik lengan Nichkhun kepada seorang laki-laki berperawakan tinggi dengan rambut pirang. “Fany!” Seru laki-laki itu sambil menjabat tangan Tiffany. Hidungnya bengkok dan kulitnya benar-benar terlihat putih.

“Senang bertemu denganmu lagi, Tuan John.” Ucap Tiffany dalam bahasa Inggris yang fasih sambil mengulum senyum ketika menekankan dua kata terakhirnya.

Laki-laki itu tertawa. “Apa? Tuan John? Panggil aku John seperti biasa saja!”

Tiffany ikut tertawa sejenak. “Kenalkan, dia Nichkhun. Dia juga pernah masuk ke Juilliard,”

Pemuda itu segera menjabat tangan guru Tiffany sambil tersenyum. “Nichkhun Horvejkul,”

Laki-laki yang dipanggil ‘John’ oleh Tiffany tadi membalas senyum. “Kurasa aku tidak pernah melihatmu sebelumnya, kau masuk jurusan apa?”

“Aku masuk jurusan seni musik piano dan tidak pernah berkeliaran di gedung jurusan seni tari. Tentu saja kau tidak pernah melihatku.” Sahutnya disambung dengan tawa.

Guru tari itu mengangguk-anggukkan kepalanya dan beralih lagi pada Tiffany. “Dia pacarmu yang baru, ya?”

Dahi Tiffany berkerut dan tangannya meninju perut gurunya itu pelan. “Hei, bagaimana kau bisa tahu?”

John tertawa lagi. “Tapi kurasa Nichkhun jauh lebih baik daripada pacarmu yang dulu kau tunjukkan padaku,”

Nichkhun hanya tersenyum tipis mendengarkan percakapan antara Tiffany dengan gurunya yang terlihat begitu akrab, dan mereka lebih mirip kakak beradik.

“Kau masih sibuk dengan studio musik tempatmu bekerja ya?”

Kepala Tiffany mengangguk-angguk kemudian ia mendesah panjang. “Ya, begitulah,”

“Ah, aku masih mengharapkanmu bisa masuk grup tariku,” Sahut laki-laki itu dengan suara lirih. Garis matanya menurun, dan kedua manik matanya memandang Tiffany penuh harap.

Seorang berseragam rapi dengan walkie talkie di tangan berjalan mendekati John dan mengatakan acara akan segera dimulai.

Akhirnya Tiffany berbicara. “Mungkin lain kali, John.”

“Aku mengerti,” Sahut laki-laki itu sambil menganggukkan kepalanya. “Sampai jumpa lagi.” Ucapnya pada Tiffany dan Nichkhun

*

part 6-1

Penari-penari balet itu menggerakan seluruh tubuhnya di bawah sorot lampu panggung yang menghujani mereka. Nichkhun tidak tahu teknik apa yang digunakan oleh penari kelas atas yang rata-rata lulusan Juilliard itu, tapi ia yakin itu gerakan yang sulit. Mereka semua memang hebat, tapi bagi Nichkhun, Tiffany tetap yang terbaik.

Mata pemuda itu melirik ke arah gadis di sebelahnya. Kedua manik mata Tiffany menatap lurus ke depan. Memperhatikan semua penari secara keseluruhan. Semakin dilihat, Nichkhun semakin tahu bahwa ada yang tersirat ketika ia memandang ke atas panggung itu.

“Kau tidak ingin bergabung dengan mereka?”

Kelopak mata Tiffany mengerjap sekali-dua kali sebelum ia menghela nafas panjang. “Tidak.” Sahutnya singkat.

Dahi Nichkhun berkerut. Melihat grup yang begitu terkenal seperti itu, sewajarnya semua orang berminat bergabung ke dalamnya. “Kenapa? Bukankah kau bisa pergi ke berbagai tempat dan menjadi terkenal?”

“Menjadi terkenal bukan tujuanku, Khun,” Tukas Tiffany dengan nada yang halus. “Sama sekali bukan.” Gadis itu mengerling pada Nichkhun, dan mendapati pemuda itu menatapnya lekat.

Akhirnya Tiffany menyunggingkan senyum kecil sebelum mengalihkan pandangan pada panggung lagi, sama seperti yang dilakukan oleh Nichkhun.

Akan tetapi, pemuda itu tahu jika gadis di sebelahnya mendesah dan menghela nafas panjang. Seolah ia menyembunyikan sesuatu darinya. Nichkhun tahu. Nichkhun benar-benar tahu.

*

“Kau tidak ingin bergabung dengan mereka?”

Pertanyaan yang terlontar dari mulut Nichkhun tadi seolah menjadi mantra sakti yang sudah menyihir matanya agar tidak tertutup malam ini. Ia menggunakan kedua tangannya sebagai alas kepalanya di atas bantal sambil terus mengerjap-ngerjap memandangi langit-langit kamar. Sesekali matanya beralih pada Taeyeon di ranjang sebelah yang sudah terlelap seperti bayi kecil yang lucu di balik selimut tebal.

Gadis itu turun dari ranjangnya dan berdiri di hadapan laci warna putih miliknya. Tidak ada kunci yang dapat menutup laci setinggi perutnya itu, dan ia sudah sering memperingatkan Taeyeon agar sekali-kali tidak membukanya. Hanya karena alasan yang simpel, privasi.

Tiffany berjongkok dan menarik laci paling bawah. Isinya tumpukan-tumpukan kertas yang masih tersusun rapi. Ia yakin sahabatnya itu tidak pernah menyentuhnya. Tangannya masuk ke dalam laci itu dan sedikit mengaduk isinya hingga mencapai dasar laci yang dangkal, kemudian mengeluarkan satu amplop besar dari dalamnya.

Gadis itu membuka separuh tirai jendela kamar dan membiarkan cahata lampu jalan masuk ke dalam kamarnya. Jantungnya berdegup kencang ketika harus membuka lagi isi amplop yang sudah sekian lama tidak pernah dibukanya lagi. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat sambil membaca lembar warna putih dengan tinta printer berwarna hitam. Matanya berhenti pada baris terakhir lembar yang masih rapi tanpa tekukan di manapun. Tiffany menelan ludahnya sendiri dengan susah payah dan akhirnya ia mendapati sendiri bahwa ada sesuatu yang hangat merembet dari mata hingga pipinya.

*

part 6-2

“Hei, Khun,” Panggil Tiffany pelan.

Nichkhun yang masih mencengkeram setir mobil melirik gadis di sebelahnya. “Mm?”

“Kalau kau bisa membahagiakan seseorang,” Tiffany menarik nafas sejenak. “Kau ingin membahagiakan siapa?”

Nichkhun menatap Tiffany sejenak, dan kemudian memfokuskan pandangannya pada jalan lagi. “Aku ingin membahagiakan semua orang.” Jawabnya diikuti dengan tawanya sendiri.

Tiffany tertawa setengah mencibir. “Kita kan tidak mungkin mau membuat semua orang bahagia,” Ucapnya.

“Satu orang ya?” Nichkhun memutar kemudi ke kiri pada belokan keempat jalan raya dari studio musik. Dia sudah benar-benar hafal jalan menuju rumah Tiffany. Ia berhenti pada pertanyaannya sendiri hingga kakinya menginjak rem dalam-dalam.

“Aku belum tahu, Fany.” Akhirnya ia menjawab.

Ia turun dan melangkah menuju sisi kanan mobil untuk membukakan Tiffany pintu. Gadis dengan tas slempang warna merah jambu itu hanya membalas dengan senyum dan melambaikan tangannya dengan lunglai pada Nichkhun.

“Bagaimana kalau kita pergi makan malam besok?”

Tiffany berbalik. Rambut kecokelatannya bergerak mengikuti tiupan angin malam. Masih dengan senyum manis yang menempel pada wajah, kepalanya menangguk. Dan kemudian ia menghilang di balik pintu rumah.

*

Kepala Tiffany terbenam dalam-dalam sambil menatap nanar spaghetti spesial buatan Wooyoung tanpa sedikit pun menyentuhnya. Karena berselera pun sebenarnya tidak. Sesekali ia mencoba melirik ke dua kursi di depannya yang terpisah karena meja makan. Tangannya meremas-remas garpu makan hingga berkeringat, namun Taeyeon dan Wooyoung tidak kunjung bersuara.

“Fany,” Suara bas milik Wooyoung akhirnya menggema di dalam ruang makan rumahnya. “Kau harus memilih antara menari atau-”

Secepat kilat kepala Tiffany terangkat dan menggeleng kuat. “Tidak, aku tidak bisa memilih antara kedua hal itu. Aku mencintai keduanya, sangat.”

Taeyeon menyerahkan amplop putih besar yang tadi ditunjukkan Tiffany padanya dan Wooyoung. “Kenapa kau tidak pernah memberitahuku sejak dulu?” Dahinya berkerut dalam menatap Tiffany. “Aku seharusnya bisa membantumu, tahu.”

Jari-jari tangan kanan dan kiri Tiffany saling bertaut di bawah meja. Ia mendesah panjang sambil menggeleng lemah. “Aku takut. Aku terlalu takut untuk menceritakannya padamu.”

Keheningan mulai merambat.

“Seberapa kau suka menari?” Wooyoung mengisi keheningan dengan suaranya yang khas lagi.

Pandangan mata Tiffany mengadah pada Wooyoung dan menatapnya lama. “Kau suka bernafas?”

Satu-satunya pemuda yang ikut makan di meja makan itu akhirnya mengerti dan mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Tidak ada lagi yang bersuara. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing.

Dering ponsel milik Tiffany memecah kesunyian. Tangan gadis itu cepat-cepat merogoh tas dan mengambil ponselnya. “Halo?” Suaranya jelas terlihat lemah dan tidak dapat dikatakan seperti biasanya.

“Fany? Aku sudah di depan rumahmu,” Tiffany sangat kenal pemilik suara itu, Nichkhun.

Ia merenyit. “Apa? Depan rumah?”

“Kita akan makan bersama malam ini, kan?”

Mata Tiffany membelalak seketika. “Ya Tuhan, Khun! Maaf, aku mendadak tidak bisa. Maaf, Khun.”

Terdengar desahan kecil di ujung telepon. “Ya, tidak apa-apa,” Suara itu turut menjadi tidak bersemangat seperti suara awal tadi. Tiffany segera mematikan panggilan dari Nichkhun dan memasukkan kembali ponsel ke dalam tasnya.

“Kau harus bergerak cepat, Fany.” Wooyoung memperingatkan gadis di hadapannya dengan sedikit mendelik. Matanya tidak sedikit pun beralih dari objek yang dipandangnya. Akan tetapi tersirat perasaan bahwa ia mengkhawatirkan sahabatnya.

Kelopak mata Tiffany mengerjap beberapa kali sambil menarik nafas panjang.

“Ayo, makan spaghetti-nya,” Ujar Taeyeon sambil menujuk piring di hadapan Tiffany. Sudah tidak ada uap yang mengepul di atasnya.

Mi khas Italia yang diberi saus tomat dan keju di atasnya selalu menggoda siapa saja untuk melahapnya—terutama Tiffany. Tapi tidak malam ini. Ia justru bangkit berdiri dan meninggalkan Wooyoung bersama Taeyeon di meja makan.

*

part 6-3

            Harus diakui, terselip perasaan menyesal ketika menyadari ia tidak makan spaghetti buatan Wooyoung. Sayangnya dia terlalu malas untuk pergi membeli makanan. Itu artinya, ia tidak punya jatah makan malam. Akhirnya ia pun menyetir dengan uring-uringan sepanjang jalan. Paling tidak ia punya rencana B; sampai di rumah, minum susu cokelat, dan tidur sampai pagi.

Tiffany memarkir mobilnya dengan cekatan di depan rumahnya dan melangkah masuk menuju rumahnya. Ia mendapati sekotak pizza berukuran medium sudah bertengger di depan pintu. Seulas senyum tergambar pada wajah jelitanya ketika melihat secarik kertas yang bertuliskan ‘Khun’ besar hingga memenuhi kertas itu.

*

part 6-4

            Malam itu—setelah minum susu cokelat—Tiffany terlelap dan bermimpi. Ia bermimpi semua keadaan baik-baik saja. Tidak ada sesuatu pun yang salah. Matahari bersinar terang dalam mimpinya.

Di mimpi itu, ia melihat sosoknya dan Changmin. Mereka berjalan bergandengan tangan pergi ke menara Namsan. Ia ingat, itu hari-hari saat mereka masih bersama. Dan ia tidak menyangka beberapa hari kemudian mereka akan berpisah, begitu saja.

Changmin pergi membeli dua gembok, yang satu berwarna biru dan yang satu lagi berwarna merah jambu. Ia menuliskan nama Changmin dan namanya pada kedua gembok itu dan mereka berdua tersenyum lebar satu sama lain. Laki-laki di dekat Tiffany itu mencari celah di antara ribuan lebih gembok-gembok yang sudah terpasang. Ia memasangnya dan memastikan sudah terkunci. Seperti pada tradisi yang sudah ada, mereka berdua melemparkan kunci gembok mereka jauh-jauh.

“Kau percaya jika kita tidak akan berpisah seperti gembok ini, kan?” Tangan Tiffany menyikut perut Changmin di sebelahnya. Ia mengulum senyum kecil sambil menatap mata kekasihnya.

Changmin mengangkat bahunya. “Entahlah,” Akhirnya ia tersenyum. “Yang pasti aku akan selalu mencintaimu.” Sambungnya sambil tertawa kecil.

“Dan kau, Fany,” Changmin berbicara. “Apakah kau percaya itu?”

 

            Apakah kau percaya itu?

            Sudah kubilang, jangan pernah hubungi aku lagi!

 

            Aku tidak akan sudi melihat barang-barangmu di apartemenku!

 

            Kau harus bertindak cepat, Fany.

 

            Kalau kau bisa membahagiakan seseorang, kau ingin membahagiakan siapa?

 

            Jangan berbohong, Tiffany.

 

            Kau dan Nichkhun berpacaran? Ya ampun, aku ikut senang!

 

            Nichkhun adalah anak yang baik, lebih baik dari yang sebelumnya.

 

            Fany, kau harus memilih salah satu. Kau tidak bisa memilih keduanya sekaligus.

 

            Apakah kau percaya itu?

 

            Tiffany!

 

            Tiffany Hwang!

 

Tiffany akhirnya terbangun dan menangis.

*

            Ujung-ujung jari Tiffany mengetuk-ngetuk serat-serat kayu yang membentuk meja di depannya dengan gelisah. Sesekali ia mengaduk kopi susu yang baru disesapnya sedikit. Tidak seperti biasanya Nichkhun akan datang terlambat jika ada janji. Ia mengangkat cangkir itu dan menyeruput kopi susu dalam cangkir miliknya. Masih hangat dan rasanya manis.

Bel akan selalu berdenting ketika seorang pelanggan masuk. Tiffany cepat-cepat menoleh ke arah pintu ketika bel itu berbunyi. Sesosok Nichkhun masuk langsung disambut pelayan yang mengucapkan selamat datang. Gadis itu melambaikan tangannya tinggi-tinggi untuk mengisyaratkan Nichkhun duduk di depannya.

Nichkhun segera menarik kursi dan duduk di depan Tiffany sambil tersenyum lebar dengan kacamata full frame warna merah kesayangannya yang masih bertengger pada daun telinganya. “Ada apa, Fany?”

Gadis itu memain-mainkan bibirnya sendiri sejenak. “Apa kau tidak memesan kopi terlebih dulu?”

Nichkhun mengangguk dan segera memanggil pelayan. Secangkir white coffee segera dihadirkan di hadapannya. Uapnya masih mengepul dan baunya begitu menggoda. Ia segera meneguknya sedikit. “Jadi, ada apa?”

Tiffany meremas-remas tangannya sendiri dengan gugup. “Aku..” Ia menundukkan kepalanya dan berdahem sejenak. “Kurasa hubungan kita cukup sampai di sini, Khun.” Akhirnya ia berbicara. Lidahnya kelu setelah mengatakannya.

Mata Nichkhun menatap Tiffany tanpa berkedip dengan dahi yang berkerut dan kepala yang dipenuhi dengan tanda tanya. Ia membenarkan posisi kacamatanya yang melorot. “Tapi, kenapa?” Ia menelan ludah dengan susah payah sebelum meneguk white coffee-nya sekali lagi.

Kedua gigi seri Tiffany menggigit bibir bawahnya beberapa kali. Ia melirik ke atas dan ke bawah. “Aku belum bisa melupakan Changmin, rupanya,” Tangannya meraih cangkir dan meneguknya sejenak. Berusaha bersikap tetap tenang. “Kurasa selama ini kau hanya menjadi pelarianku, maaf.”

Ia segera bangkit berdiri dan meninggalkan Nichkhun yang masih terpaku di tempat ia duduk.

funebre—end.[]

Hai halo hai! Akhirnya sampai di part 6, dan seperti apa yang saya katakan kemarin, part 7 bakal jadi part terakhir (meski masih ada rangkaian epilog dan prekuel! hoho). Jadi, part terakhir akan diprotect dengan password untuk mengurangi silent readers. Syaratnya cuma satu, meninggalkan komentar di setiap part. Yang merasa sudah memenuhi syarat bisa langsung request password lewat mana saja, klik disini. Terimakasihhh~ ❤

85 thoughts on “[6] Behind The Scene

  1. Waaah penasaran isi kertas itu apaa
    Kenapa Tiffany minta putus?? Padahal dia sama Nichkhun baru sebentar berhubungan -___-

Leave a Reply to spazzer19 Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s