[FF Freelance] I Love You From Now On (Oneshot)

i love you from now on

Tittle      : I Love You from Now On

Author : Park Min Hwa (@putrii_tasha)

Genre   : romance

Length  : oneshoot

Cast       : tiffany hwang, choi siwon

Support cast : cho kyuhyun, Jessica jung, kim taeyeon

Disclaimer : huaaa. Akhirnya kelar juga ini. Ini sequel dari ff yang I’ll learn to love you. Aku banting tulang ngerjainnya lhoo. Semoga suka dan jangan lupa RCL nya.. gamssha *bow tunggu karya ku selanjutnya yaaaa…

 

Matahari bersinar dengan teriknya, menyinari setiap komponen alam yang ada di bawahnya. Deburan ombak seakan berlomba untuk menyentuh daratan. Desiran angin pantai saling berebut mengulas telinga. Beberapa orang berjemur dengan senangnya, beberapa lagi berkejaran dengan ombak yang tiada hentinya. Tapi sepasang kekasih itu hanya terduduk menikmati pemandangan. Ya, mereka adalah Choi Siwon dan Tiffany Hwang. Sembari memeluk lutut, sesekali siwon bersenandung dan terus memamerkan senyum malaikatnya. Sedangkan tiffany terlihat risih dan kesal.

“berani taruhan, kau pasti senang sekali berada disini..” ucap tiffany dengan nada sinis, siwon yang diajak bicara menoleh lalu kembali tersenyum cerah.

“tentu saja, jeju adalah surga dunia..” jawab siwon ceria, tiffany mendelik lalu bangkit dari duduknya.

“ya, tentu saja kau suka !” tiffany berjalan menjauhi siwon, melihat tingkah aneh tiffany siwon segera mengikutinya.

“ada apa sih ?” Tanya siwon sesaat setelah menyusul tiffany. Yang diajak bicara tidak menoleh sedikitpun. “tiffany… ada apa ?”

“tentu saja kau senang, llihat saja wanita- wanita berbikini itu, sedari tadi terus melirik mu.. lagi pula apa maksudmu memakai kemeja tanpa mengancingkannya seperti ini !” celoteh tiffany sembari menghentikkan langkahnya.

Siwon tertawa keras. “ahaha jadi karena itu kau bersikap seperti tadi.. katakan saja kau cemburu.. benar kan ?” rayu siwon.

“aku tidak cemburu, aku hanya bertingkah sewajarnya ..”

“yasudah, lagi pula kau ini. Ini kan pantai, semua wanita memang berbikini di pantai. Ya mungkin, terkecuali….” Siwon menggantung perkataannya dan memperhatikan tiffany yang kini hanya memakai kaos longgar dan celana pendek saja.

“apa ? terkecuali aku maksudmu ? cih…”

“mmm… bisa dibilang begitu..tapi omong- omong kenapa kau tidak pakai bikini ? ” celetuk siwon. Sontak tiffany memukul lengan kekarnya.

“Ya~ apa maksudmu ? kau ingin melihat ku memakai bikini eoh ? ” Tanya tiffany dengan suara yang melengking. Dengan polosnya siwon hanya mengangguk mantap. Saat itu juga tiffany memukul kepalanya.

“Appo …..” gerutu siwon sembari mengusap kepalanya.

“bergaul dengan siapa kau belakangan ini ?” Tanya tiffany sembari melipat tangan di dada.

“belakangan ini aku bertemu denganmu, rekan kerja, dan beberapa hari ini aku sering bertemu dengan …….. ” siwon menggantung ucapannya lalu sibuk dengan fikirannya sendiri. ‘aku bertemu tiffany, rekan kerja, lalu eunhyuk.. hanya itu ,, tapi astaga ! jangan- jangan aku ketularan yadongnya eunhyuk. Tidak- tidak.. ini tidak benar..’ batin siwon sembari menggeleng kuat.

“dengan siapa lagi ?”

“tidak.. hanya itu… hehe sudahlah lupakan saja. Ayo kita pulang..” ajak siwon sembari merangkul tiffany, tiffany bengong sejenak tapi akhirnya ikut berjalan bersama siwon.

Dari kejauhan, sesosok tubuh mungil memperhatikan mereka. Senyuman miris terhias di paras cantiknya. Ya, gadis itu tidak lain adalah Jessica jung.

***

Tiffany terbalut cantik oleh gaun mewah berwarna hitam, rambutnya tergelung rapi lengkap dengan hiasan make up yang natural di wajahnya. Disampingnya, siwon yang terlihat lebih mirip malaikat berdiri mantap dengan balutan tuxedo hitam yang mempesona. Tiffany menggandengnya, seolah menunjukkan bahwa pria disampingnya itu adalah miliknya.

Satu hal yang diketahui siwon kali ini. Tiffany ….

Tidak suka pesta,

Ya, sedari tadi gadis itu menghentakkan kakinya dengan kesal, sesekali pula tiffany membuang nafas berat saat siwon menggiringya mendekati beberapa orang penting. Hal itu sudah cukup membuktikan, bahwa tiffany tidak suka pesta.

Bila saja ini bukan pesta perayaan ulang tahun hotel orang tuanya, tiffany lebih memilih mengerjakkan tugas- tugas kuliahnya yang menumpuk dari pada harus terbang ke jeju untuk datang ke acara seperti ini. Tapi tiffany sadar diri, orang tuanya tentu perlu memperkenalkan anak satu- satunya itu.

Menit demi menit berlalu, tiffany sepertinya sudah tidak tahan saja. Siwon yang memperhatikan gerak- gerik tiffany hanya diam menahan tawa.

“apa yang kau tertawakan ?” Tanya tiffany sesaat setelah mereka duduk di sebuah meja makan mewah. Siwon yang sadar aksinya diketahui oleh tiffany hanya menggeleng kuat sembari tetap menutup mulut. “heh, jawab aku.. apa yang kau tertawakan ?” Tanya tiffany lagi, tapi siwon tetap menggeleng dengan kuat. “kau menertawakanku ? sudah kuduga..” cetus tiffany dengan senyuman tidak percayanya.

“aniyo.. aku tidak menertawakanmu..” sanggah siwon sesegera mungkin.

“aku tahu kau bohong tuan siwon yang selalu tebar pesona..” jawab tiffany ketus.

“hey, mengapa kau memanggilku seperti itu ?”

“fikirkan saja sendiri..”

Saat mereka berdua tengah sibuk dengan pertengkaran mereka, dua orang tua yang tidak lain adalah ayah dan ibu tiffany berdehem dipaksakan. Sontak mereka berdua berhenti dan tersenyum kaku.

“maafkan aku eomma, appa..kami kira kalian belum duduk kemari..” jelas tiffany masih dengan senyum yang dipaksakan, siwon yang juga salah tingkah hanya mengangguk.

“kalian ini, bertengkar seperti anak kecil saja. Kalian kan akan segera menikah, jadi hilangkan kebiasaan mempermasalahkan hal kecil seperti itu..” jawab appa tiffany sembari mulai makan.

“aniyo appa, aku akan menikah setelah umurku…”

“tutup mulutmu dan lupakan itu, aku sudah mengatur umur berapa kau menikah.” Potong eomma tiffany. Tiffany hanya mendengus kesal.

“tapi eomma, aku tidak mau menikah mud….”

“kubilang tutup mulutmu dan makan itu !” potong eomma tiffany lagi. Saat itu juga tiffany menghentakkan kakinya dan mulai makan dengan tidak berselera. Disampingnya, siwon hanya menutup mulutnya karena sedang menahan tawa lagi.

Siwon masih sibuk dengan usahanya menahan tawa sehingga dia tidak sadar saat tiffany memperhatikannya. “kenapa kau tidak makan dan membuka mulutmu ? apa dimulutmu ada anak ikan yang harus kau lindungi ?” sindir tiffany. Siwon mengerjap lalu menatap tiffany.

“kau bergurau, tentu saja aku akan makan sekarang..” jawab siwon terbata disertai dengan deheman lagi dari kedua orang tua tiffany.

“siwon, kau tahu ? anakku sudah tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik .. ” ujar appa tiffany, siwon menatap tiffany lalu menyunggingkan senyuman kecil.

“tentu saja, itu salah satu yang membuatku mencintainya..” jawab siwon mantap. Sedangkan tiffany kini hanya menunduk karena pipinya memanas dan memerah.

“padahal dulu dia adalah anak yang aneh..” celetuk eomma tiffany.

“ne ?” Tanya siwon, kurang mengerti. Tiffany hanya menghela nafas, mengetahui dengan pasti apa yang akan diceritakan kedua orang tuanya.

“dulu dia anak yang cantik, tentu saja. Dia terlalu banyak bermain dengan anak pria. Tapi itu tidak membuatnya tomboy, dia bahkan tetap memakai rok mini dan sepatu pink saat memanjat pohon..” jelas eomma tiffany. Siwon mencondongkan tubuhnya kedepan, tanda tertarik. Lalu dia memandang tiffany sembari terkekeh.

“dia suka memanjat pohon ?” Tanya siwon.

“mmm.. ya, itu adalah hobi nya dulu. Aku sudah memarahinya berkali- kali. Tapi si keras kepala itu tidak pernah mendengarkanku..” jawab appa tiffany. “hingga suatu hari, sebuah kejadian membuatnya kapok.. aku masih ingat dengan jelas mimik wajahnya saat itu..” tambahnya lagi.

“ayolah appa.. jangan ceritakan itu..” pinta tiffany dengan nada memelas. Tapi appa tiffany tidak menurutinya sama sekali.

“saat itu dia tengah berbahagia dengan hobi konyolnya itu. Tapi kemudian dia terjatuh, kakinya terkilir dan dia benar- benar menjerit kesakitan ‘appo…appoo’ katanya, dengan suara yang melengking. Sejak saat itu dia tidak pernah memanjat pohon lagi.. ” jelas appa tiffany lalu tertawa renyah. Siwon memanfaatkan moment ini untuk ikut tertawa. Dan tiffany hanya mengocek- ocek makanannya dengan kesal.

***

Angin malam memang selalu membuai siapapun untuk tidur. Begitupun untuk tiffany, sesekali dia menguap karena lelah. Mereka baru saja makan malam. Dan karena siwon tidak mau tiffany mati karena bosan. Siwon menyelamatkannya dengan berjalan- jalan keluar gedung pesta.

“mengapa kau terus tersenyum ?” Tanya tiffany sembari memandang siwon.

“kenapa ? kau tidak suka ? apa aku harus cemberut seperti ini ?” jawab siwon lalu memeragakan mimik wajah cemberut.

“aniyo, aku hanya bertanya alasannya saja …”

“aku hanya terus membayangkan saat kau menjerit- jerit.. itu saja..” jawab siwon santai.

“kau sangat pandai menertawakan orang..”

“ah ayolah apa maksudmu ?” tiffany tidak menjawab. “tiffany ?” Tanya nya lagi.

“mmm ?”

“mau kah kau menjerit- jerit seperti dulu lagi ? aku ingin mendengarnya..”

“aaaa…aaaaa” jawab tiffany dengan nada datar.

“apa kau fikir itu sebuah jeritan ?” Tanya siwon aneh.

“ya..bagiku itu sebuah jeritan..”

“ayolah tiffany, jebalyo..”

“kau ingin aku menjerit- jerit ?” Tanya tiffany seraya menghentikkan langkahnya. Siwon hanya mengangguk mantap, “pertemukan aku dengan Robert pattinson lalu biarkan aku menikah dengannya, saat itu juga aku akan menjerit untukmu, aku berjanji..”

“sepertinya aku tidak akan pernah bisa mendengar jeritan itu..” jawab siwon sembari meneruskan langkahnya, tiffany hanya tersenyum menang lalu mengikutinya.

Baru beberapa langkah, siwon menghentikkan langkahnya lagi. Tiffany memandang siwon dengan penasaran. Tunangannya itu sedang tertegun menatap sesuatu. Saat itu juga tiffany mengikuti arah pandangnya. Dia memicingkan matanya sejenak, lalu ikut tertegun bersama siwon.

Dua meter dihadapan mereka, seorang gadis blonde cantik dengan dress abu tengah menatap mereka berdua, gadis itu tidak lain adalah Jessica. Sudah satu bulan ini tiffany tidak bertemu dengannya, banyak perubahan dalam gadis itu. Selain rambutnya yang menjadi blonde, Jessica juga tampak lebih kurus.

Jessica melambai, lalu maju tiga langkah. Tidak ada respon apapun dari orang dihadapannya.

“halo apa kabar ?” Tanya Jessica  sembari membungkuk. “sudah lama kita tidak bertemu ya..” tambahnya lagi.

“apa yang kau mau ?”  Tanya tiffany to the point.

“kau masih salah paham..” gumam Jessica yang sepertinya ditujukan untuk dirinya sendiri. “tentu saja aku ingin membicarakan sesuatu denganmu..” kali ini dengan nada yang lebih jelas.

“tidak ada yang perlu kita bicarakan, pergilah..”

“kumohon… kali ini saja kau dengarkan aku..”

“aku bilang tid….”

“tiffany.. bagaimanapun juga dulu kalian adalah sahabat..” potong siwon sembari menepuk pundak tiffany.

***

Mereka berdua duduk di salah satu kursi paling ujung di café ini. Siwon dengan bijak berkata akan mencari soda untuk membiarkan mereka berduaan saja. Tiffany menatap keluar dinding kaca, jeju memang tidak pernah tertidur, bahkan saat waktu sudah semalam ini. Jessica menatap tiffany dengan putus asa, seolah tidak tahu apa lagi yang harus dikatakannya untuk membuat tiffany mengerti.

“tiffany..”

“hmm..”

“hari itu …. ” mulai Jessica, pelan- pelan tiffany mengganti objek pandangannya menjadi kearah Jessica.

“jangan bahas itu..” ancam tiffany dengan dingin.

“jika aku tidak membahasnya ini semua tidak akan selesai..”

“apanya yang tidak akan selesai ? selama kau dan kyu…” tiffany menggantung ucapannya seiring dengan dadanya yang berubah sesak. “selama kau dan laki- laki itu tidak ada dihadapanku semuanya memang sudah selesai, jadi apa maumu ?” lanjutnya lagi.

“kumohon dengarkan aku.. please tiffany, let me tell you something true..” pinta Jessica dengan putus asa. Tiffany menghentakkan highheelsnya lalu bergumam ya.

“malam itu, semuanya tidak seperti yang telihat olehmu..” mulai Jessica lagi, tiffany hanya tertawa mengejek. “aku masih ingat,siangnya kau menelepon ku dan memintaku membantumu menyiapkan gaun untuk pertunanganmu dengan kyuhyun oppa. Saat aku bertanya padamu kapan kau akan bertunangan aku sangat kaget saat kau bilang kalian aka bertunangan satu minggu kemudian. Aku sangat frustasi mendengar itu, seperti biasannya aku selalu mabuk apabila memikirkan kalian berdua. Tapi malam itu berbeda, disini.. rasanya sakit sekali..” jelas Jessica lalu menyentuh bagian dadanya. Dapat terlihat air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. “jadi aku pergi ke bar itu, aku tidak ingat berapa botol vodka yang aku habiskan. Yang jelas aku ingat saat barista itu membopongku ke taxi. Tau- tau saja aku sudah ada di depan gedung apartemen kyuhyun oppa. Dan dengan bodohnya aku pergi ke lantai tempatnya tinggal. Aku masih setengah mabuk, jadi aku ingat jelas ekspresi kaget kyuhyun oppa saat membukakan pintu untukku. Dia sangat baik, seperti biasanya. Dia bahkan berepot ria dengan membuatkan aku teh hijau. Dia bilang itu bisa menghilangkan efek pusing akibat mabuk. Aku masih ingat saat aku menaruh gelas kosong ke mejanya. Aku yakin aku tidak sepusing awalnya. Lalu kyuhyun oppa berdiri tidak jauh dari tempatku duduk, dia memperhatikanku dengan wajah khawatir. Lalu dia bertanya padaku apakah dia sebaiknya meneleponmu untuk menjemputku. Tapi aku menggeleng dan mendekatinya. Wajahnya tidak berubah, tetap terlihat khawatir. Saat itu juga aku ingat dia bukan milikku… ” Jessica terdiam lagi seiring dengan isakan kecilnya. Dihadapannya tiffany tampak gusar dengan mata yang memerah. “lalu aku berfikir, jika aku tidak menyatakan cintaku padanya. Aku akan menyesalinya seumur hidup. Saat itu juga aku benar- benar tidak peduli apa jawabannya. Toh dia juga akan bertunangan denganmu. Cukuplah dia tau dan dihatiku tidak ada beban lagi. Jadi dengan sadar aku berkata  aku mencintainya. Dia membelalakan matanya lalu terhuyung ke belakang. Aku mendekatinya lagi lalu mulai menangis. Dengan tidak tahu malunya aku menatap matanya, lalu aku memintanya memelukku untuk terakhir kalinya, karena setelah ini akau tidak akan mengingat perasaan ini. Dapat ku lihat sorot keraguan di matanya, tapi akhirnya dia pelan-pelan memelukku. Rasanya menyenangkan,tapi aku tidak melihatnya seperti saat dia memelukmu. Caranya memelukmu benar- benar berbeda dengan caranya memelukku. Aku jadisadar betapa bodohnya aku mengharapkan cinta dari orang yang tidak mencintaiku. Lalu aku merasa marah, kenapa selalu kau? Kenapa bukan aku yang memilikinya. Jadi tanpa fikir panjang aku melepas pelukanku dan mencium bibirnya. Sungguh, dia bahkan langsung menepisnya. Tapi sepertinya kau datang di waktu yang penuh keraguan, jadi seolah kami berciuman. Padahal  aku yang menciumnya, dan sebenarnya itu tidak benar- benar sebuah ciuman. Bibir kami hanya bertaut satu detik, dan kau melihatnya. Mungkin kau jadi berfikir kami berciuman sudah lama. Padahal itu tidak benar sama sekali…” jesicca menghapus air matanya seraya menunduk. “aku kaget tentu saja, tapi kau berlari dengan cepat. Kami bahkan mengerjap saat kau sudah tidak ada. Tanpa fikir panjang dia hendak menyusulmu. Tapi lagi- la

gi aku menahannya, dia menatapku nanar lalu bertanya ada apa lagi?. Aku bilang aku akan ikut untuk membantunya menjelaskan padamu. Malam itu juga kami menyusulmu, tapi kami tidak menemukanmu di apartemen. Aku menelepon taeyeon dan dia bilang dia tidak bersamamu. Kami benar- benar putus asa.. kau tidak ada dimanapun..” Jessica mengangkat kepalanya lalu tersenyum kecut. “apa kau sudah mengerti ? ini seratus persen salah ku.. kau hanya bisa membenciku, jangan membencinya..”

“jika ini salahmu, kemana dia selama satu bulan ini? Mengapa dia tidak berusaha menjelaskannya padaku..” Tanya tiffany tidak sabaran.

“sebenarnya, saat kami meninggalkan apartemenmu. Dia menerima telepon dari kakaknya di London. Ibunya koma disana, dan saat itu juga dia memesan tiket pesawat untuk p[enerbangan esok harinya. Sebenarnya satu jam sebelum berangkat dia mencarimu di kampus. Tapi kau benar- benar tidak ada.. jadi dia pergi ke London setelahnya. Aku bahkan masih bisa mengingat saat dia menangis.. dia benar- benar mencintaimu..” jelas Jessica.

Tiffany merasa sesak. Air matanya menyeruak keluar. Dia mengutuk dirinya sendiri atas kebodohannya menilai sesuatu. Dia menyesal, sungguh. “dimana dia sekarang?” Tanya tiffany.

“dia masih di London. Dia berusaha menghubungimu tapi kau mengganti nomor ponselmu..” jawab Jessica meyakinkan. “aku memang bodoh, aku sadar bahkan aku sangat hina. Ampuni aku, aku memang bukan gadis yang baik…”

“sudahlah, aku harus pulang. Aku sangat lelah..” jawab tiffany sembari berusaha berdiri. Jessica ikut berdiri.

“aku pergi..” ucap tiffany seraya berbalik pergi,

“tiffany..” panggil Jessica. Tiffany berbalik dengan tatapan putus asa.

“dia sangat mencintaimu..” ucap Jessica. Tiffany tidak menjawab dan kembali berbalik lalu menghilang di balik pintu.

Tiffany berdiri di depan café dangan lemas. Tangannya gemetar karena shock. Di sisi lain, siwon sedang berjalan mendekatinya. Sebuah kaleng soda yang digenggamnya, dia buang ke tempat sampah.

“sudah selesai ?” Tanya siwon. Tiffany tidak menjawabnya. “ada apa ?” Tanya nya lagi.

“tidak .. aku lelah oppa, aku ingin pulang..” jawab tiffany linglung.

Selama perjalanan mereka tidak berbicara, tiffany terlalu sibuk dengan fikirannya. Tapi akhirnya siwon tidak tahan lalu membuka pembicaraan.

“apa yang kalian bicarakan ?”

“tidak.. bukan apa- apa..”

“kau membohongiku..”

“tidak, aku tidak bohong.. ”

“kau membohongiku lagi..”

“baiklah aku akan menceritakannya..” jawab tiffany menyerah. Tiffany menjelaskannya, tetapi dalam versi yang lebih singkat. Saat tiffany selesai bicara, wajah siwon berubah pucat. Tapi tiffany tidak menyadarinya.

Mereka sudah tiba. Tiffany tersenyum sekilas lalu turun dari mobil.

“selamat malam oppa..” ucap tiffany pelan. Siwon hanya mengangguk. “sampai jumpa besok..” ucap tiffany lagi sembari berbalik.

“tiffany..” panggil siwon dari dalam mobil. Tiffany berbalik lalu menggumamkan kata ya.

“aku mencintaimu, selalu..” ucap siwon tulus. Sontak tiffany menahan tangisnya.

“tentu oppa..” jawab tiffany lalu kembali berbalik. Siwon tertegun lalu tersenyum miris. ‘kapan kau akan berkata seperti itu juga padaku tiffany ?’ batin siwon. Setelah itu yang tersisa hanya terbangan debu karena mobil siwon melesat cepat meninggalkan pekarangan luar rumah orang tua tiffany.

***

Perpustakaan kampus memang tidak pernah sepi, setiap mahasiswa  berlalu lalang bagaikan capung yang berseliweran kemana- mana. Di pojok ruangan, tiffany menatap kosong buku tebal dihadapannya. Matanya memang terpaku pada buku, tapi fikirannya melancong jauh entah kemana.

Sejak seminggu yang lalu kembali dari jeju, tiffany dan siwon belum bertemu lagi. Entah mengapa, siwon menjadi berbeda. Belakangan saat menelepon yang sering dikatakannya hanya ‘ya’ atau ‘hmmm’.  tiffany memang merasa aneh, tapi dirinya terlalu sibuk dengan fikirannya belakangan ini. Ktuhyun, kyuhyun, dan kyuhyun. Itulah yang difikirkannya belakangan ini. Entahlah, dia sendiri juga bingung dengan perasaannya.

Selama ini, saat kyuhyun pergi dengan sebuah luka di hati tiffany, siwon lah yang menjahit lukanya hingga sembuh. Dan kini, saat kyuhyun akan kembali, apa mungkin tiffany meninggalkannya ? apa mungkin dia setega itu ?

“annyeong fany~a….” sapa taeyeon sembari duduk di hadapan tiffany. Hari ini dia terlihat imut dengan rambut buns nya.

“ne…”

“belakangan ini kau tidak bersemangat, ada apa ?”

“gwaenchana …. ”

“yasudah…” jawab taeyon menyerah sembari mulai membuka bukunya. “omong- omong, ini pertama kalinya aku melihat lagi kyuhyun oppa sejak satu bulan yang lalu.. ” gumam taeyeon tidak kehabisan cara mengalihkan perhatian tiffany.

Tiffany mengangkat dagunya, mata indahnya terbuka lebar dan dadanya kembali sesak mendegar nama itu.

“mwo ?”

“iya, kyuhyun oppa sudah kembali…” jawab taeyeon acuh tak acuh.

“dimana kau melihatnya ?”

“di depan kampus, dia sangat tampan.. rambutnya menjadi coklat.. ”

“kau tidak salah lihat ?” tiffany memicingkan matanya. Taeyeon hanya menggeleng kuat.

“aniyo.. dia bahkan tidak pakai kacamata.. sudah kubilang aku melihatnya dengan jelas..” jawab taeyeon seyakin mungkin.

“aku harus pergi, sampai jumpa lagi…” tiffany mulai memasukkan buku kedalam tasnya lalu setengah berlari meninggalkan perpustakaan. Taeyeon hanya menggeleng lemah sembari menutup bukunya.

Tiffany berlari, dia bahkan tidak peduli dengan heels yang dipakainya. Kakinya tentu saja terasa ngilu. Sesekali gadis cantik itu menabrak beberapa mahasiswa. Tapi dia tidak sedikitpun berhenti, dia tidak ingin.. kehilangan kyuhyun lagi.

Gadis itu berhenti di depan pintu keluar kampus. Disana, tujuh meter jauhnya.. seorang pria bersandar di sebuah mobil Chevrolet hitam. Rambutnya teracak angin siang seoul yang nakal. Pria itu, seperti candu. Meluluhlantahkan jutaan makian yang pernah dilontarkan tiffany kepadanya dulu. Menghilangkan jutaan rasa benci di hati tiffany. Gadis itu tercekat, apa yang dilakukannya? Dia adlah tunangan siwon. Tapi mengapa hatinya seolah membawanya kepada pria itu lagi. Tiffany ingin berontak, tapi tidak bisa melakukan apa- apa. Tanpa fikir panjang tiffany kembali berlari, menuruni beberapa anak tangga untuk mencapai pusat dunianya. Tapi sesuatu terjadi, heels yang dipakainya mengurangi keseimbangan tubuhnya. Kakinya terpantuk dan otomatis tubuhnya terjerembab jatuh. Tanpa aba- aba gadis itu menjerit kesakitan. Bagai mesin waktu, semua orang berhenti sejenak. Menatap seorang gadis yang merintih kesakitan memegangi kakinya. Bebrapa siswa mengerumuninya, hingga seseorang menerobos kerumunan itu. Dalam sekejap rasa sakit di kaki gadis itu hilang entah kemana, yang dirasakannya kini hanya rasa lega yang luar biasa melegakan.

“astaga, gadis bodoh.. mengapa kau berlari secepat itu ?” gerutu kyuhyun sembari mengangkat tiffany kegendongannya. Tiffany hanya terpaku menatap wajah malaikat kyuhyun yang sangat dekat.

“apa hanya itu yang bisa kau katakan ?” jawab tiffany kesal. Kyuhyun hanya mengeluarkan smirknya lalu memasukkan tiffany ke dalam mobil.

***

“bagaimana sekarang ? apa baikan ?” Tanya kyuhyun sembari memijat kecil kaki tiffany. Tiffany sedikit meringgis lalau menggeleng kuat. “tidak perlu berbohong …” ucap kyuhyun lagi.

“aku tidak berbohong..” jawab tiffany ketus.

“mau kubuatkan teh hijau ?” tawar kyuhyun sembari berdiri.

“aku tidak dalam keadaan ingin sesuatu sekarang..”

“kau tidak pernah menolak teh hijau..” jawab kyuhyun sembari berlalu ke dapur. Tiffany hanya mendengus kesal. Tiffany mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan, apartemen kyuhyun tidak pernah berubah. Selalu sama dari dulu hingga sekarang.

“teh hijau mu..” seru kyuhyun riang sembari meletakkan  secangkir teh hijau kesukaan tiffany. Tiffany mengerutkan keningnya, “ada apa ? ayo minum..”

“kau tidak berniat meracuniku kan ?” Tanya tiffany polos. Kyuhyun hanya tertawa kecil.

“untuk apa ?”

“kau kan baru kembali ke seoul, teh ini pasti sudah kadaluarsa..”

Kyuhyun tertawa keras lalu berdeham kemudian..“kau tidak perlu khawatir.. tadi pagi seluruh isi kulkasku sudah diganti oleh  jess….” Kyuhyun menghentikkan ucapannya. Serentak keheningan mulai menyelimuti, tiffany tertunduk kaku dan kyuhyun kehabisan cara untuk mengembalikan suasana.

“dimana tasku ?”

“ahh ini…” kyuhyun mengambil tas tiffany di sofa pojok. Tanpa kata- kata tiffany mengambilnya lalu merogoh ponselnya.

“oppa.. jemput aku, tadi aku terkilir.. kau bisa menjemputku di apartemen kyuhyun oppa..cepatlah.” tiffany menutup pembicaraan dengan siwon di telepon sembari membereskan rambutnya yang sedikit acak- acakan.

“apa-apaan ini ? siapa oppa mu itu ?” Tanya kyuhyun dingin. Tiffany menoleh lalu tersenyum pahit.

“dia tunanganku.” Jawab tiffany singkat. Kyuhyun tertawa kecut.

“tunanganmu ? dengar tiffany.. bukankah kita masih …”

“masih apa ? sejak sebulan yang lalu kita sudah tidak ada hubungan apa- apa..”

“kukira Jessica sudah menjelaskan semuanya padamu …”

“ya, Jessica memang sudah menjelaskan semuanya padaku ..”

“lalu mengapa kau masih bersikap seperti ini, kau tahu sebulan yang lalu itu adalah salah paham.. lalu apalagi sekarang ?”

“selama satu bulan itu juga, kau tidak ada di sisiku.. dan orang itu, dia datang menemaniku, aku merasa nyaman didekatnya …”

“tapi kau tidak mencintainya ! orang yang kau cintai itu aku.. CHO KYUHYUN !” pekik kyuhyun frustasi. Tiffany hanya memejamkan matanya merasakan kepedihan dari suara kyuhyun.

“aku.. aku tidak tahu.. aku hanya ….” Perkataan tiffany terputus seiring dengan  berbunyi nya bel apartemen kyuhyun. Kyuhyun berjalan mendekati pintu sembari menggerutu.

Kyuhyun membuka pintu dengan wajah dingin, siwon yang berdiri dibalik pintu menatapnya canggung.

“mana tiffany ?” serobot siwon seraya masuk kedalam. Kyuhyun hanya tersenyum mengejek sembari mengacak rambutnya.

“kau tidak apa- apa?” Tanya siwon khawatir  sesaat setelah duduk disebelah tiffany, tiffany hanya mengangguk mengiyakan. “ayo kita pulang …” siwon membantu tiffany untuk berdiri.

“eoh.. task u …” ucap tiffany saat tangannya dikalungkan ke leher siwon.

“biar aku yang bawa..” jawab siwon sembari membopong tiffany.

Kyuhyun terdiam melihat tiffany dan siwon. Matanya memerah dan tangannya terkepal saat mereka berdua melewatinya. Ada secercah perasaan perih dihatinya melihat wanita yang dicintainya dibopong oleh pria lain.

“terimakasih sudah menjaga tiffany..” ucap siwon tanpa memandang kyuhyun. Tiffany hanya diam membisu.

“oppa aku akan me……” suara ceria Jessica terputus saat dia membuka pintu dan mendapati bukan hanya kyuhyun yang ada di dalam. Sontak belanjaan di tangannya terjatuh dan matanya terbelalak.

Tiffany tertawa mengejek sembari menatap Jessica. “aku dan siwon oppa akan segera pulang, kau bisa memasak untuk kyuhyun oppa..” ucap tiffany sembarimenunjuk belanjaan yang berserakan. Siwon hanya diam lalu membawa tiffany keluar.

***

“setidaknya kau menanyakan keadaanku ..” ucap tiffany setelah lima belas menit terdiam. Siwon menoleh sekilas lalu kembali focus mengemudi.

“bukankah aku sudah menanyakannya tadi ?”

“kapan ?”

“saat dirumah pria itu …”

“namanya kyuhyun .. ”

“aku tahu … ”

“lalu mengapa kau memanggilnya pria itu ?”

“kau tidak suka ? kenapa ?”

“ah sudahlah.. aku lelah.. belakangan ini sikapmu aneh padaku.” Serah tiffany sembari melempar pandangan ke luar jendela.

“maafkan aku ..”

Mobil Chevrolet hitam milik siwon berhenti di depan gedung apartemen. Tiffany menoleh sembari mengerutkan keningnya.

“kenapa berheni ? kau tidak pulang ?” Tanya tiffany.

“aku masih ada urusan.. tidak apa kan aku mengantarmu sampai sini ?”

“baiklah.. ”jawab tiffany masih dengan alis yang bertaut. “kau bisa meneleponku kan ? mm maksudku setelah urusanmu seleasai..”

“tentu ..”

“sampai jumpa ..” ucap tiffany sembari keluar dari mobil. Siwon hanya mengangguk lalu memacu mobilnya pergi.

“dia tidak pernah seperti ini ..” gumam tiffany sembari menatap mobil yang kian menjauh.

***

Tiffany berputar di depan cermin. Dress hitam yang dipakainya tampak melekat di kulit putih susu nya. Rambutnya tergerai bebas dengan sebuah jepit kecil di sisi kirinya. Kakinya yang memang sudah sembuh bertahtakan highheels yang sempurna. Gadis ini sangat cantik, bahkan siapapun akan menangis karena iri. Hari ini, kyuhyun memohon kepadanya untuk menemuinya. Hari ini juga, tidak ada kabar apapun dari tunangannya siwon.

Bagi tiffany, perasaannya kini terasa kebas. Seperti tidak merasakan apa- apa. Berdiri diantara dua pria yang mengulurkan tangan, membuatnya dadanya sering sesak. Apa yang harus dilakukannya ? kyuhyun atau siwon ? siwon atau kyuhyun ? dia tidak mengerti.

Ponselnya menjerit- jerit, membuatnya berhenti mengamati pantulan dirinya dan beranjak mengambilnya. Kyuhyun yang menelepon. Tiffany hanya menghela nafas lalu menekan tombol hijau.

“ya, aku akan pergi.. sekarang . tentu saja, ya aku masih ingat tempatnya.” Tiffany menutup teleponnya dan melemparnya ke ranjang  lalu bergegas pergi.

***

Kaki jenjangnya melangkah masuk kedalam restaurant. Sudah lama tiffany tidak kesini, semuanya tampak masih seperti dulu. Di ujung ruangan masih terletak piano grand berwarna putih yang pernah dimainkannya dulu. Beberapa pelayan tersenyum ramah yang dibalas oleh tiffany. Matanya menyapu ruangan luas itu dan mendapati kyuhyun sedang duduk di salah satu kursi.

“aku datang..” ucap tiffany sembari duduk. Kyuhyun hanya tersenyum kecil.

“kau mau pesan apa ?”

“aku tidak lapar..”

“bagaimana kalau Americano kesukaanmu ?”

“terserah lah..” jawab tiffany menyerah. Kyuhyun hanya tersenyum menang.

“kau mau mengatakan apa ?”

“kau tidak mau menunggu Americano nya datang dulu ? ”

“tidak, sekarang saja..”

“aku mencintaimu..”

Deg, tiffany terdiam. Matanya menatap kyuhyun tak percaya. Tiffany tahu, dia jelas sangat tahu ituadalah kebenaran. Tapi mendengarnya saat kini, berbeda dengan mendengarnya saat dulu. Ada sesuatu yang mengganjal, sangat sulit dijelaskan.

“apa maksudmu ?” Tanya tiffany pelan.

“aku, ingin kita kembali seperti dulu.. seperti malam- malam sebelum malam itu.. kau dan aku.. ” jelas kyuhyun dengan nada yakin. Tiffany hanya terdiam, kepalanya tertunduk membuat rambutnya tergerai menutupi sebagian wajahnya. “tiffany ?”

“aku tidak tahu, aku.. aku..”

“tiffany dengar aku, aku mencintaimu.. selalu bukankah kita sudah lama berpacaran, dan bukankah akan sangat konyol jika kau memutuskanku hanya karena kesalahpahaman itu..”

“aku sudah bilang padamu semua ini bukan tentang kesalahpahaman !” potong tiffany dengan nada yang lebih tinggi. Kyuhyun terdiam, menatap wajah panik tiffany.

“kembali padaku, kita mulai dari awal..”

“Jessica, dia membutuhkanmu..” ucap tiffany dengan nada lebih pelan, seolah kata- katanya ditujukan kepada dirinya sendiri.

“mengapa kau membawa Jessica ? sudah kubilang aku ….”

“dia mencintaimu, kau seharusnya jelas tahu itu..” potong tiffany lagi. “terlebih kini kalian semakin dekat..”

“tadi pagi dia hanya datang membawakan ku makanan, dia hanya ingin membantuku..”

“juga karena dia mencintaimu..” tambah tiffany menegaskan.

“tapi aku tidak mencintainya.. aku mencintaimu.. tiffany hwang kumohon..”

“aku.. aku.. aku tahu itu, dan aku juga mencintaimu…”

“jadi kau akan kembali padaku.?” Kyuhyun tersenyum penuh harap. Tiffany hanya diam.

“aku tidak bisa melakukan itu..”jawab tiffany setelah beberapa saat.

“kenapa ?”

“siwon, dia adalah tunanganku..” jawab tiffany sembari berusaha menarik nafas. Kyuhyun hanya tersenyum licik.

“tinggalkan dia..”

“kau gila.. aku tidak mungkin melakukan itu..”

“kalau begitu aku akan memintanya meninggalkanmu, dia pasti akan melakukannya. Karena inilah yang kau inginkan bukan?”

“tidak, aku hanya ingin bersamanya.” Jawab tiffany dengan suara keras. Beberapa pelayan menoleh lalu memalingkan muka. Tiffany menelan ludah lalu mulai merapikan rambutnya yang tanpa disadari sedikit berantakan.

“apa kau bilang ?” Tanya kyuhyun tidak percaya. Matanya membelalak dan tangannya terkepal.

“oppa, aku mencintaimu. Kau mungkin sudah tahu itu. Dan siwon, dialah yang selama ini bersamaku. Selama ini, dia seperti tongkat yang menopang ku saat aku lumpuh. Dia seperti lilin yang menerangiku saat aku di tempat gelap. Dan dia, adalah orang yang mencintaiku…” jelas tiffany, air matanya mulai mengalir menuruni pipinya. Kyuhyun melunak, tatapannya melembut melihat butiran air bening itu mengalir.

“tiffany..”

“dan Jessica, dia mencintaimu..layaknya siwon oppa mencintaiku.. dia hanya seoerang diri di korea. Kau tentu tahu dia gadis yang lemah, kumohon jaga dia. Walau kau belum mencintainya kumohon cobalah..” tambah tiffany dengan nada memohon.

“mengapa kau melakukan ini ?”

“karena ini yang terbaik untuk semuanya.. aku tidak akan bisa tanpa siwon oppa, dan Jessica juga tidak akan bisa tanpamu. Jadi kumohon, akhiri saja sampai disini. Kisah kita, kumohon jangan membuatnya menjadi kenangan buruk. Aku.. sedang belajar mencintainya. Dan kau, harus mulai belajar mencintai Jessica. Maafkan aku, dan terimakasih. Aku pergi..” tiffany  bangun dari duduknya, lalu menghapus air matanya dengan kasar. Sedetik kemudian, gadis cantik itu berlarikeluar restoran dengan air mata yang kian merebak. Sedangkan kyuhyun, hanya memandangi tiffany yang berlari menjauh. Hatinya sakit, tentu saja.

***

Tiffany menutup pintu kamarnya, dia menoleh saat menadapati matanya sembab sekarang. ‘aku harus bicara dengan siwon oppa.’ Ucap tiffany dalam hati. Diraihnya ponsel yang tergeletak di ranjang.

“mengapa ponselku mati ?” gumam tiffany saat mendapati ponselnya mati. Setelah ponselnya kembali menyala. Ada sebuah pesan suara dari siwon. Tiffany mengerutkan keningnya lalu mulai mendengarkan.

/“tiffany, ponselmu mati eoh ? aku merasa pengecut tidak sempat mengatakannya langsung. Tapi aku benar- benar sudah memikirkan ini berhari- hari, jadi maafkan aku bila belakangan ini aku cuek padamu. Dia sudah kembali bukan ? dia yang sangat kau cintai, dia yang selalu kau ucapkan namanya saat kau mengiggau. Kalian saling mencintai, aku jadi seperti orang jahat bila berada diantara kalian. Jadi, lebih baik aku pergi ne ? lupakan aku dan semuanya akan kembali seperti semula. Aku akan mengurus perusahaan appa di London.  Hari ini aku mengambil penerbangan jam 12. Mungkin kau tidak bisa bertemu denganku dulu. Sesungguhnya aku ingin sekali memelukmu sebelum aku pergi, tapi semuanya tidak memungkinkan. Dan itu akan memudahkanku, aku mencintaimu. Selalu.  ”/

Beep. Pesan suara sudah selesai. Tanpa disadari ponsel itu terjatuh kelantai. Dada tiffany sesak dan lehernya terasa dicekik. Matanya berlinang dan tubuhnya gemetar. Dia menoleh dan melihat waktu menunjukan pukul 11.45 KST. Tanpa fikir panjang, tiffany berlari

***

Taxi berhenti di depan incheon. Bahkan tiffany tidak peduli dengan jumlah uang yang diberikannya kepada supir taxi. Kakinya ngilu karena berlari dengan heels yang tinggi. Bagaikan semut, orang- orang membuat matanya berkunang- kunang. Merasa sudah tidak tahan lagi, dilepasnya heels yang digunakannya lalu menmbawanya dengan tangan kiri. Tiffany berlari bertelanjang kaki mencari sosok pria itu. Beberapa orang menatapnya dan saling berbisik. Tapi tiffany, tidak peduli. Tiffany terus berlari, hingga ia terhenti saat melihat sosok pria tampan yang berdiri lima meter  dihadapannya. Pria itu sedang mengecek pasportnya. Penampilannya tetap santai seperti biasanya. Tiffany menangis, berjuta perasaan berkecamuk di dadanya. Dia tertegun, betapa dia tidak ingin kehilangan pria ini. Aku mencintainya, aku mencintainya. Teriak tiffany dalam hati. Tapi pria itu beranjak dan tiffany melepas genggamannya pada heelssnya.

“jangan pergi !”CHOI SIWON kumohon jangan pergi !” teriak tiffany dengan suara nyaring. Sontak pria itu menoleh dan mendapati wanita yang dicintainya tengah berantakan saat ini.

“tiffany ?”

“pria jahat,,beraninya kau melarikan diri dariku !” teriak tiffany lagi sembari menangis. Siwon maju dua langkah lalu tersenyum.

“ini yang terbaik… untuk kita..”

“mengapa kau sangat so tahu ?”

Siwon hanya tersenyum kecut “you still love him..” siwon berbalik dan hendak pergi.

“But I love you from now on..” teriak tiffany lagi dengan nada getir. Siwon berhenti, dia kembali berbalik. “kau tidak mengerti bahasa inggris ? baiklah,, aku mencintaimu sekarang..” tambah tiffany lagi. Air matanya kian deras saja. Siwon tertegun sejenak, lalu tersenyum tidak percaya. Dalam hitungan detik, tiffany berlari menghampiri siwon. Dan mereka berpelukan. Sontak seluruh ruangan riuh dengan suara tepukan. Mereka berdua berhenti sejenak dan didapati mereka kini tengah berpelukan di tengah lingkaran manusia. Tiffany tersenyum sembari menatap wajah malaikat siwon. “aku mencintaimu.. selamanya..” ucap siwon. “aku juga..” jawab tiffany sembari memeluk siwon lagi.

***

Aku mencintainya, dan aku tidak peduli pada apapun selain itu.

29 thoughts on “[FF Freelance] I Love You From Now On (Oneshot)

Leave a Reply to adriananoviyanti Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s