[FF Freelance] Where is My Man? (Part 4)

where is my man

Title            : WHERE IS MY MAN?? PART 4

Writer                   : Endor Yochi

Main Cast    :

– Park Jiyeon (T-ara)

– Kim Myungsoo a.k.a ‘L’ (Infinite)

– Yang Yoseob (B2ST)

– Choi Minho (SHINee)

Other Casts :

– Bae Suzy (Miss A)

– Park Sanghyun a.k.a Thunder Cheondung (MBLAQ)

– Lee Gikwang (B2ST)

– Jung Ilhoon (BTOB)

– Lee Sungjong (Infinite)

– Lee Chanhee a.k.a Chunji (Boyfriend)

– Seo Joo-hyun a.k.a Seohyun (SNSD)

Genre           : Romance, Comedy ( a little bit ), aneh, gaje, dsb

Length                   : Chaptered

Rating                   : Sejauh ini masih halal for everyone 😉

Previous part: Part 1, Part 2, Part 3

Cerita sebelumnya..

“Oppa?” ucap Seohyun tiba-tiba. Minho menoleh. Ia tampak terkejut ketika melihat Seohyun di sana.

“Seohyun-ah?”

Baik Jiyeon, Yoseob, Myungsoo dan Gikwang sendiri terkejut dibuatnya.

“Oppa.. Mengenalnya?” tanya Jiyeon pula.

“Ahh, ne.. Dia adalah teman SMP ku dulu. Yang dulu pindah ke Daegu.”

“Maksud Oppa.. Yang Oppa ceritakan tadi?”

“Ne..”

Jiyeon tak menyahut. Perasaannya mendadak tak enak entah kenapa.

***

 

PART 4

_Author pOV_

 

“Aiyaa appo..”

“Aissh! Kau ini seorang namja. Jangan membuat malu diri sendiri. Begitu saja sakit.”

Jiyeon tampak mengobati luka pada muka Yoseob. Tapi Yoseob bukannya merasa nyaman, malah merasa tersiksa. Pasalnya Jiyeon mengobatinya dengan asal-asalan. Nampaknya yeoja itu sedang kesal.

“Yaa, kalau kau memang tak ada niat mengobatiku, biar aku sendiri saja.” Kata Yoseob kemudian.

“Anii. Aku ikhlas.” Sahut Jiyeon sambil menekan kapas ke luka Yoseob.

“Aiyaa! Ck.. Sudahlah, biar aku saja.” rintih Yoseob sambil menghindar, lalu mengambil alih kapas dan obat merah dari tangan Jiyeon. Jiyeon tampak cemberut.

“Wae geurae?” tanya Yoseob pula.

Jiyeon tak segera menyahut. Ia menarik napas kesal.

“Kenapa sih kisah cintaku tak pernah berjalan mulus?” katanya kemudian.

“Mwo?” Yoseob sedikit terkejut mendengarnya.

“Aku tidak bertanya padamu. Aku bertanya pada diriku sendiri.”

Yoseob tertawa mendengarnya. Ia mulai tahu penyebab yeoja itu merasa kesal.

“Stubborn girl, kau sedang cemburu ya?” tanyanya pula.

“Anii.”

Sekali lagi Yoseob tertawa.

“Tapi ngomong-ngomong, Seohyun itu cantik sekali ya? Neomu neomu yeppeo..”

“Wae? Aku pun juga tidak kalah cantik dari dia. Itulah alasannya kenapa Minho oppa lebih memilihku.”

“Geurae? Tapi kalau menurutku dia lebih cantik dan menggemaskan.”

“Yaa! Jangan membuatku semakin kesal!”

“Yaa, yaa. Bukankah tadi kau bilang kau tidak cemburu?”

“Aku tidak cemburu.”

“Lalu kenapa kau marah-marah?”

“Geuge.. Aku hanya kesal saja karena mereka terlihat akrab.”

Tawa Yoseob kembali meledak mendengarnya. Jiyeon hanya merengut saja.

“Itu namanya cemburu, pabo! Yaa! Sudah berapa kali kau pacaran?” tanya Yoseob pula.

“Wae?”

“Jawab saja.”

“Eng.. Berkali-kali..”

“Jangan bohong! Jujur saja pasti baru sekali ini kan?”

Jiyeon diam saja. Yoseob geli melihatnya.

“Pantas saja. Kau masih belum terbiasa mengendalikan rasa cemburu. Kau masih belum cukup berpengalaman.”

“Sok tahu. Lalu bagaimana denganmu? Aku yakin kau juga sama. Ahh, anii anii.. Kalau dilihat dari pergaulanmu selama di Amerika sudah pasti kau ini playboy. Aissh! Tidak heran kalau kau sudah sangat berpengalaman dalam hal seperti ini.”

“Anii. Siapa bilang?”

“M.. Maksudmu kau belum pernah pacaran?”

Yoseob tak segera menjawab. Kali ini giliran Jiyeon yang ngakak.

“M.. Mwoya?” kata Yoseob merasa sedikit malu.

“Bagaimana bisa kau mengajariku soal cinta kalau kau sendiri saja bahkan belum pernah berpacaran? Kau bahkan lebih parah dariku. Ngiahaha.”

Wajah Yoseob memerah mendengarnya. Jiyeon semakin puas menertawainya.

“Yaa! Yaa! Tapi paling tidak aku juga pernah merasakan cemburu saat kulihat yeoja yang kusukai bersama namja lain.”

Jiyeon menghentikan tawanya mendengar ucapan Yoseob itu.

“Jinjja?” tanyanya.

Yoseob tak menyahut.

“Ha, aku ingat. Waktu itu kau pernah bilang kalau kau sedang jatuh cinta. Ne, ne, arasseo.. Jadi kau juga pernah merasa cemburu. Tapi tetap saja kau belum pernah punya yeojachingu, hahaha..”

Yoseob kesal juga dibuatnya.

“Keundae..” katanya kemudian. Jiyeon menghentikan tawanya sejenak.

“..Seohyun benar-benar sangat cantik. Belum pernah kulihat yeoja secantik itu sebelumnya.“ lanjut Yoseob pula. Jiyeon mendelik mendengarnya.

“Yaa, kenapa kau terus saja memujinya?” katanya tak senang.

“Ohh, apa kau tahu dia sudah punya namjachingu atau belum?”

“Wae?”

“Anii, aku hanya ingin tahu saja.”

“Yaa, jangan bilang kalau kau juga menyukainya.”

“Wae? Itu kan hakku.”

“Andwae!”

“Mwo?”

“Kubilang andwae!”

“Wae?”

Jiyeon tak segera menjawab. Ia sendiri bingung kenapa ia melarang Yoseob menyukai Seohyun.

“Yaa, kenapa kau melarangku menyukainya?” ulang Yoseob lagi.

“Geugae.. Karena memang tidak boleh. Tidak ada yang boleh menyukainya.”

Yoseob tak menyahut. Ia malah mendekatkan wajahnya pada Jiyeon.

“W.. Wae?” tanya Jiyeon merasa agak canggung,

“Apa.. Jangan-jangan.. Kau menyukaiku?” tanya Yoseob pelan.

“MWO?? MICHYEOSSEO??” Jiyeon terbelalak mendengarnya. Buru-buru didorongnya muka Yoseob dan menjauh.

“Aiyaa!! Aishh!! Neo jinjja..” pekik Yoseob kesakitan karena dorongan tangan Jiyeon mengenai memar di wajahnya.

Sementara Jiyeon tertawa saja melihat Yoseob yang meringis-ringis kesakitan itu.

***

 

 

“Apa kau mengenalnya?”

Seohyun yang semula asyik bermain piano itu menghentikan gerakan jarinya sejenak dan menoleh.

“Ne?”

“Namja itu. Apa kau mengenalnya?”

“Ahh maksud oppa, Minho oppa?”

Myungsoo tak menyahut.

“Bukankah tadi Oppa sudah mendengarnya? Dia itu adalah sahabatku sewaktu aku masih SMP dulu.”

“Apa dulu kalian dekat?”

“Ne?”

“Sepertinya kalian berdua sangat dekat, lebih dari seorang sahabat.”

Seohyun tersenyum mendengarnya.

“Oppa masih ingat saat dulu aku menceritakan seorang namja yang sangat aku sukai?”

“Ne.”

“Namja itu adalah Minho oppa.”

Myungsoo tampak terkejut mendengarnya, tapi ia tak segera menyahut.

“Aku sebenarnya juga ingin sekali menyatakan perasaanku sejak dulu. Kalau saja penyakit ini~”

“Yaa! Apa yang kau bicarakan? Lihatlah, sampai saat ini bahkan kau masih segar bugar begitu.” Potong Myungsoo.

Seohyun tersenyum kecut.

“Lagipula.. Minho oppa sudah memiliki yeoja yang dicintainya. Jadi menurutku semuanya sudah tak ada gunanya lagi.”

Myungsoo tak segera menjawab. Ditatapnya sepupunya itu lekat-lekat.

“Apa.. Kau begitu menyukainya?” tanyanya kemudian.

Seohyun tersenyum.

 “Anii..” sahutnya.

“..Aku mencintainya.” Lanjutnya kemudian.

Myungsoo mengangguk-angguk. Ia tersenyum dan mengelus rambut Seohyun.

“Kajja, kuajak kau jalan-jalan.” Katanya pula. Seohyun tersenyum dan mengangguk.

***

 

_Flashback_

“Oppa, aku tidak menyangka kita bisa bertemu lagi. Kau tampak berbeda dari yang dulu.”

“Jeongmal? Kau juga.. Berbeda dari yang dulu.”

“Apa.. Aku sekarang tampak lebih buruk dari yang dulu?”

“Ahh anii.. Kau bahkan lebih cantik sekarang. Aku saja hampir tak bisa mengenalimu lagi. Pasti banyak sekali namja yang ingin menjadi namjachingumu?”

Seohyun tersenyum mendengarnya.

“Oppa.. Jiyeon itu.. yeojachingu Oppa?”

“Oh, ne..”

“Dia yeoja yang baik ya? Dia juga cantik. Beruntung sekali oppa mendapatkan yeoja seperti dia.”

Minho hanya tersenyum saja tanpa menyahut.

“Aku.. Bahkan belum bisa menemukan namja yang cocok untukku..” lanjut Seohyun lagi.

Minho masih belum menyahut.

“Lagipula itu tak ada gunanya untukku..”

“Wae?” tanya Minho sedikit heran mendengarnya.

Seohyun menarik napas.

“Aku masih belum bisa menemukan namja yang lebih tampan dari Brad Pitt.” Katanya kemudian sambil tertawa. Minho tertawa pula mendengarnya.

“Kau masih sama saja dengan yang dulu. Masih banyak yang lebih tampan dari Brad Pitt.” timpalnya pula.

“Bagiku.. Hanya Minho oppa yang lebih tampan darinya.”

“Mwo?”

Seohyun tertawa.

“Anii.. Aku hanya bercanda. Mana mungkin itu terjadi. Satu-satunya namja yang ada di hatiku hanyalah Brad Pitt.”

Minho tertawa kecil, lalu mengacak pelan rambut Seohyun.

“Apa selama ini Oppa merindukanku?” tanya Seohyun lagi.

Minho tersenyum.

“Tentu saja. Aku tidak bisa berhenti mengingat kenanganku bersama yeoja lugu dan pabo ini.”

“Yaa.. Aku tidak bodoh..”

“Kau benar, hanya sedikit tolol.”

“Oppa..”

Minho tertawa melihat Seohyun yang cemberut.

“Yaa.. Kenapa Oppa masih menganggapku bodoh?”

“Wae? Bukankah itu kenyataan?”

“Aniya.. Aku tidak bodoh. Berhentilah menertawaiku.”

“Shirreo..”

“Yaa!”

Seohyun memukuli bahu Minho dengan gemas, sementara Minho masih tertawa saja.

_Flashback end_

 

Jiyeon menarik napas panjang sepenuh dadanya ketika mengingat lagi kejadian siang itu. kegiatan makan malamnya jadi terganggu dibuatnya. Selama aku mengenalnya, belum pernah kulihat Minho oppa tertawa selepas itu sebelumnya. Tapi tadi siang itu benar-benar sebuah keajaiban. Bagaimana mungkin ia bisa tertawa selepas itu? Apa benar karena yeoja itu? Aishh.. Pasti yeoja itu sangat berarti dan istimewa sekali baginya. Bahkan aku yang yeojachingunya sendiri saja belum pernah bisa membuatnya tertawa sedemikian lepasnya. Aigoo.. Mwoya? Keluhnya dalam hati.

“Yaa, mwohaeyo?” tegur Sanghyun heran ketika melihat dongsaengnya itu hanya mengaduk-ngaduk makanannya saja tanpa menyantapnya.

“Mwo?” Jiyeon menyahut dengan malas.

“Kenapa kau hanya mengaduk-ngaduk makananmu?”

Jiyeon kembali menarik napas.

“Aku sedang tidak berselera makan.”

“Wae geurae? Apa kau sakit?”sambung Yoojin umma pula.

“Aniyo, umma.”

“Makanlah makananmu. Jangan membuat masalah.” sahut Leeteuk appa.

Jiyeon nyengir, lalu dengan terpaksa mulai menyantap makanannya tanpa nafsu.

***

 

Jiyeon dan Suzy berjalan menuju ruang ganti dengan keringat bercucuran. Mereka baru saja selesai mengikuti pelajaran olahraga.

“Yaa, Stubborn girl!”

Jiyeon menoleh.

“Untukmu!” Yoseob melemparkan sebotol minuman dingin padanya. Dengan tangkas Jiyeon pun menangkapnya.

“Nice catch!” puji Yoseob.

“Ne?”

“Tangkapan yang bagus.”

Jiyeon nyengir bangga, lalu meneguk minumannya. Yoseob tersenyum, kemudian beranjak.

“Yaa, jamkkan!” panggil Jiyeon tiba-tiba, membuat Yoseob kembali menoleh.

“Wae?”

“Thank you.”

Yoseob hanya tertawa kecil, lalu kembali beranjak pergi. Jiyeon mendengus melihatnya.

“Yaa.. Aku heran, kenapa Yoseob selalu berbuat baik padamu?” tanya Suzy heran.

“Molla..”

“Apa jangan-jangan dia menyukaimu?”

“Jangan konyol. Mungkin dia seperti itu karena kami berdua bertetangga. Dan dia ingin menunjukkan sikap seorang tetangga yang baik.”

Suzy tak menjawab melainkan hanya mengangguk-angguk saja. Benar juga. Kenapa namja itu selalu baik padaku? Pikir Jiyeon kemudian. Diam-diam ia tersenyum sendiri, lalu kembali meneguk minumannya.

“Yaa, Park Jiyeon-ssi.”

“Uhuk-uhuk!” jiyeon tersedak karena terkejut. Ia menoleh.

“Yaa! Michyeosseo? Kenapa kau mengagetkanku?” bentaknya galak pada Myungsoo yang kini sudah berada di depannya itu.

“Aku ingin bicara denganmu.” Sahut namja itu pula.

“Mwo? Bicara apa? Kalau kau ingin bicara, katakan saja di sini.”

Myungsoo tak segera menjawab. Namun tiba-tiba saja ia menarik tangan Jiyeon dan mengajaknya pergi.

“Yaa! Mwoya? Lepaskan aku!”

Tapi Myungsoo tak menghiraukannya. Sementara Suzy yang melihat kejadian itu hanya bisa terbengong-bengong dengan heran.

“Mimpi apa dia semalam? Kenapa banyak sekali namja tampan yang mendekatinya? Ahh, anii anii.. Hanya dua. Hanya dua namja tampan.” gumamnya heran.

Myungsoo mengajak Jiyeon menuju taman sekolah.

“Yaa, kenapa kau membawaku kemari? Mwonde?” tanya Jiyeon heran. Myungsoo melepaskan tangannya. Jiyeon mengusap-usap pergelangan tangannya karena Myungsoo terlalu keras menariknya.

“Mian. Igeo appo?” tanya Myungsoo sedikit menyesal.

“Mwoya? Aku bukan yeoja lemah. Tarikanmu tidak sakit sama sekali.”

“Joha.”

Jiyeon mendengus mendengarnya.

“Yaa, kenapa kau membawaku kemari?” ulangnya sekali lagi.

Myungsoo tak segera menjawab. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Yaa! Kenapa kau diam saja?”

Myungsoo masih belum menjawab.

“Yaa~”

“Kuminta jangan dekati Minho lagi.” Potong Myungsoo tiba-tiba.

Jiyeon terkejut sekali mendengarnya.

“Mwo?” tanyanya heran.

“Jebal.”

Jiyeon mencabut headset dari telinganya karena ia merasa salah dengar akan perkataan Myungsoo barusan.

“Museun mariya?” tanyanya sekali lagi.

“Kubilang, tolong jangan dekati Minho lagi.”

Jiyeon terbelalak mendengarnya. Rupanya ia tidak salah dengar. Namja itu benar-benar mengatakan hal yang serupa seperti sebelumnya.

“Wae?” tanyanya kemudian.

“Kau harus menolongku.”

“Yaa, yaa, yaa, aku benar-benar tidak mengerti maksudmu. Kenapa aku harus menjauhi namjachinguku sendiri?”

Myungsoo tak segera menjawab.

“Yaa! Jawablah!”

“Karena ada orang lain yang mencintainya.”

“Mwo?”

“Ne, dan yeoja itu sangat mencintainya lebih dari apapun. Bahkan perasaannya lebih dalam daripada kau.”

Jiyeon melongo mendengarnya. Ia benar-benar tidak habis pikir. Sebenarnya apa yang dipikirkan namja ini? apa maksudnya yang sebenarnya? Jiyeon menarik napas panjang.

“Mianhae, tapi aku tidak bisa membantumu. Kau tidak bisa menyuruhku menjauhi namjachinguku tanpa alasan yang masuk akal. Aku pergi.” Katanya, lalu langsung beranjak pergi meninggalkan Myungsoo. Sepeninggal Jiyeon, Myungsoo hanya terdiam dan menarik napas dalam-dalam.

“Dasar gila. Apa maksud namja aneh itu? kenapa dia menyuruhku menjauhi Minho oppa? Aish! Dia pikir dia siapa seenaknya saja menyuruh-nyuruh tidak jelas begitu? Jinjja..” rutuknya sepanjang jalan sampai-sampai ia menabrak seseorang.

“Aiyaa..”

“Oh, Jiyeon-ah? Gwaenchanha?”

Jiyeon mendongak.

“Oppa?”

Minho membantu Jiyeon berdiri.

“Gwaenchanha?”

“Ne..”

“Wae geurae? Sepertinya kau sedang kesal?” tanya Minho kemudian.

“Ne, aku memang sedang kesal.”

“Waeyo?”

Jiyeon menarik napas panjang,

“Anii.. Aku hanya bertemu dengan namja gila.” Katanya pula.

Minho tersenyum mendengarnya.

”Igeo.” Katanya tiba-tiba sambil mengulurkan sebuah ponsel pada Jiyeon.

Jiyeon mengerutkan kening melihatnya.

“Igeo.. Mwonde?” tanyanya ragu-ragu.

“Untukmu.”

“Mwo? Untukku?”

Minho hanya mengangguk dan tersenyum.

“Bukankah ponselmu rusak gara-gara aku?” tanyanya kemudian.

Jiyeon nyengir mendengarnya.

“Anii.. Bukan karena Oppa, tapi karena yeoja lampir itu.” katanya.

Minho tertawa kecil mendengarnya.

“Terimalah. Aku membelinya untukmu. Jadi mulai sekarang aku tidak harus menelepon ke nomor rumahmu lagi. Aku agak takut kalau Appamu yang mengangkat teleponku.”

Sekali lagi Jiyeon hanya nyengir, lalu menyambutnya dengan sedikit ragu.

“Gomawo, Oppa..” katanya kemudian.

Minho tersenyum, lalu mengelus rambut Jiyeon.

“Tapi ini tidak gratis. Harus ada imbalannya.” Katanya kemudian membuat Jiyeon sedikit terkejut.

“Imbalan apa?”

“Kau harus mau menemaniku makan mie ramen di tempat kemarin nanti sepulang sekolah.”

Jiyeon tersenyum mendengarnya.

“Tentu saja aku mau!” katanya bersemangat.

“Bagus. Kajja, kuantar ke ruang ganti. Kau harus segera mengganti seragammu.”

Jiyeon mengangguk senang, lalu meraih tangan Minho dan berjalan menuju ruang ganti.

***

 

Sepulang sekolah, Yoseob tampak berjalan seorang diri. Pasalnya ia sengaja tidak membawa motor karena ia pikir bisa berjalan pulang bersama Jiyeon. Tapi ia kesal, sebab baru saja ia melihat Jiyeon sudah keluar bersama Minho berboncengan. Sambil menggerutu tidak jelas ia menendang sebuah kaleng bekas air minum sehingga kaleng itu melayang menuju trotoar. Yoseob terkejut. Bukan karena kalengnya tadi, melainkan ia melihat seorang anak kecil tengah menangis di pinggir trotoar. Yoseob melihat sekeliling. Memang ada beberapa orang yang berjalan di sekitar tempat itu, namun ia tak melihat ada seorang pun yang mencoba mendekati anak kecil tersebut. Maka dengan setengah berlari ia pun mendekati anak itu.

“Adik kecil, kenapa kau menangis?” tanyanya kemudian.

“Uangku hilang.. Padahal aku ingin sekali membeli balon itu..” sahut anak laki-laki itu sambil terisak dan menunjuk seorang penjual balon tak jauh dari tempatnya.

“Oh, begitu? Apa kau sendirian?”

Anak itu hanya mengangguk.

“Sudah, jangan menangis. Kajja, Hyung akan membelikan balon untukmu.”

“Jinjjayo?”

“Tentu.”

Anak laki-laki itu tersenyum senang. Yoseob pun tersenyum lalu menggandeng anak itu menuju penjual balon dan membelikannya 5 buah balon.

“Woahh, banyak sekali. Gomapta, Hyung.”

Yoseob hanya mengangguk dan tersenyum.

“Siapa namamu?”

“Hyungsuk. Lee Hyung Suk imnida.”

“Geurae. Hyungsuk, kajja, Hyung antar kau pulang.”

“Sebenarnya aku mau ke tokonya noona.”

“Oh, kau punya Noona?”

“Nde. Dia juga sudah bilang kalau akan menjemputku di sini. Tapi ternyata dia masih belum datang juga.”

“Kajja, Hyung antar kau ke tempat noona.”

“Jinjjayo?”

“Tentu.”

Yoseob menggandeng Hyungsuk kecil dan berjalan bersama. Beberapa saat kemudian keduanya telah sampai di depan sebuah toko ramen.

“Hyung, itu tempat noona. Kajja.” Kata Hyungsuk. Yoseob tersenyum, dan hendak mengikuti anak itu. namun tiba-tiba saja ia melihat sesuatu yang seketika membuat perasaannya tidak enak. Jiyeon dan Minho. Keduanya tampak berada di dalam toko ramen tersebut. Yoseob menghentikan langkahnya.

“Jeogi, Hyungsuk-ah. Tapi sepertinya Hyung harus langsung pulang sekarang saja.” Katanya kemudian.

“Wae?”

“Geuge.. Hyung ada janji dengan seorang teman. Lain kali saja Hyung datang kemari lagi.”

“Janji?”

Yoseob tersenyum dan mengangguk.

“Joha. Annyeong, Hyung!” Hyungsuk melambai kemudian berlari masuk ke dalam toko ramen.

Yoseob membalasnya sambil tersenyum. Setelah itu ia pun segera berbalik dan beranjak pergi dari tempat tersebut. Nasib, nasib.. pikirnya galau.  Ia berjalan gontai menjauhi kedai ramen sambil sesekali menendangi kerikil. Tiba-tiba ia tersentak.

“Yaa! Kenapa aku jadi kesal? Bukankah itu hak mereka? Lagipula mereka kan memang sepasang kekasih. Kenapa aku jadi marah sendiri? Aish! Jangan bilang aku sudah benar-benar menyukai yeoja stubborn itu. Anii, anii.. Andwae..” gumamnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Tiba-tiba ia melihat ada penjual pernak-pernik. Yoseob melihat ada beberapa pasang kekasih sedang berada di sana memilih pernak-pernik tersebut.

“Oppa, apa ini bagus untukku?”

“Ne, yeppeuna.”

“Jinja?”

“Geureom..”

“Kalau begitu belikan satu untukku.”

“Tentu.”

Yoseob tertegun melihatnya. Tiba-tiba saja ia ingin membeli sebuah pernak pernik juga untuk diberikannya pada Jiyeon. ia pun mendekati tempat tersebut. Ia mulai memilih-milih beberapa pernak-pernik. Beberapa saat kemudian ia melihat sebuah jepit rambut yang menarik hatinya. Namun ketika ia hendak meraihnya, secara bersamaan seorang yeoja pun tengah mengulurkan tangannya untuk mengambil jepit rambut tersebut. Yoseob tertegun sejenak dan menoleh.

“Jeogi, tapi aku sudah memilih jepit rambut ini.” kata Yoseob.

“Yaa, akulah yang lebih dulu menemukannya.”

Yoseob agak terkejut mendengar nada suara yeoja yang dianggapnya agak kasar itu. Yeoja itu lalu mengambil jepit rambut tersebut.

“Ahjumma, aku ambil yang ini.” katanya pada penjual pernak pernik.

“Tidak bisa. Aku lebih dulu menemukannya.” Kata Yoseob sambil merebut jepit rambut tersebut.

“Yaa, michyeosseo? Itu milikku!”

“Mianhae, tapi kau belum membayarnya. Jadi jepit rambut ini belum menjadi milik siapa-siapa. Ahjumma, berapa harganya?”

“Neo nappeun namja! Kembalikan padaku!”

“Mwo? Nappeun namja? Yaa, perhatikan kata-katamu!”

“Wae? Bukankah itu memang benar? Seharusnya kau mengalah padaku karena kau seorang namja. Lagipula buat apa kau membeli jepit rambut? Atau jangan-jangan kau ini memang bukan namja?”

“M.. Mwo??”

“Lupakan saja. Berikan itu padaku. Ahjumma, berapa harganya?” tanya yeoja itu lagi setelah merebut kembali jepit rambutnya. Yoseob melongo melihat kelakuan yeoja yang baru dilihatnya itu. Begitu ahjumma pernak pernik menyebutkan harganya, Yoseob secepat kilat merebut jepit rambutnya kembali dan langsung membayarnya pada ahjumma. Setelah itu ia pun beranjak pergi begitu saja tanpa mempedulikan yeoja tadi sama sekali.

“Yaa! Jamkkan!!Aissh!! Namja itu benar-benar.. Yaa!!” seru yeoja itu kesal bukan main.

“Agassi.. Masih ada satu lagi jepit rambut yang seperti itu.” kata ahjumma penjual tiba-tiba membuat yeoja itu terbelalak.

“Jeongmal? Kenapa ahjumma tidak memberitahu sejak tadi? Aish! Tahu begini aku tidak perlu berebutan dengan namja gila itu.”

Ahjumma hanya tersenyum geli saja menanggapinya. Sementara yeoja itu tak henti-hentinya menggerutu.

***

 

Seohyun tampak memasuki sebuah ruangan milik Myungsoo. Ruangan itu sedikit berantakan. Myungsoo biasa menggunakannya untuk melukis. Kali ini namja itu tampak duduk tenang di kursinya. Tangannya terlihat bergerak-grak menggerakkan kuas. Sesekali sebuah senyum tersungging dari bibirnya itu.

“Oppa sedang melukis apa?”

Myungsoo sedikit terkejut mendengarnya.  Dengan agak gugup ia menutup lukisannya.

“Oh, kau datang?”

“Wae? Kenapa oppa menutup lukisannya? Apa aku tak boleh melihatnya?”

“Bukan begitu. Hanya saja.. belum saatnya kau melihatnya.”

Seohyun mengerutkan keningnya pertanda heran.

“Ahh, kajja kita keluar. Ada yang ingin kutunjukkan padamu.”

“Mwonde?”

“Kajja.”

Myungsoo menarik pelan tangan Seohyun dan mengajaknya keluar.

“Igeo..”

Seohyun tertegun sejenak ketika Myungsoo menyodorkan sebuah bungkusan plastik padanya.

“Igeo.. Mwonde?”tanyanya heran.

“Bukalah.”

Maka dengan perlahan tapi pasti Seohyun membuka bungkusan plastik tersebut. Ternyata isinya adalah sebuah gaun berwarna biru muda.

“Oppa.. Ini untukku?”

“Ne. Kau suka?”

“Yeppeuna.. Aku suka.”

Myungsoo tersenyum mendengarnya.

“Tapi untuk apa Oppa membelikanku gaun? Apa Oppa akan mengajakku ke sebuah pesta?”

“Anii.. Datanglah nanti sore ke taman pukul lima.”

“Untuk apa?”

“Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu.”

“Seseorang? Nugu?”

“Nanti kau juga akan tahu.”

Seohyun tak menjawab. Walaupun ia penasaran, tapi ia yakin kalau Myungsoo sedang mempersiapkan sesuatu yang istimewa untuknya. Sementara Myungsoo tersenyum ketika melihat sepupunya itu tampak menyukai gaun pemberian darinya itu.

 

_Flashback_

Minho baru saja keluar dari kelasnya dan bermaksud hendak menemui Jiyeon karena mereka sudah berjanji akan pergi makan ramen bersama. Namun belum sampai ia menuruni anak tangga, tiba-tiba seorang namja menghentikan langkahnya.

“Aku ingin bicara denganmu.” Kata namja yang tak lain adalah Myungsoo itu.

Minho tak segera menjawab. Myungsoo memberi isyarat agar Minho mengikutinya. Walaupun dengan sedikit ragu, Minho mengikuti namja itu dengan menyimpan pertanyaan di benaknya.

“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Minho.

“Soal Seohyun.”

“Seohyun? Wae?”

Myungsoo tak segera menjawab. Minho semakin penasaran dibuatnya.

“Wae? Apa sesuatu terjadi padanya?” ulangnya lagi.

“Dia sangat membutuhkanmu.”

“M.. Museun mariya?”

“Sebenarnya aku tak boleh mengatakan hal ini padamu. Tapi aku tidak bisa terus-terusan diam. Aku hanya ingin melihatnya bahagia.”

“Sebenarnya apa yang sedang kau katakan? Bicaralah dengan jelas.”

Myungsoo menarik napas sejenak.

“Seohyun. Sebenarnya dia sudah lama menyukaimu. Tapi ia tidak bisa mengatakannya padamu.” Katanya kemudian. Minho tampak terkejut mendengarnya. Tapi ia diam saja.

“Kau tidak bertanya kenapa dia tak bisa mengatakan hal itu?” tanya Myungsoo lagi.

“Wae?”

“Karena dia.. Menderita kanker glioma.”

Minho terkejut sekali mendengarnya. Ia hampir tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya itu.

“M.. Mwo?” hanya itu kata yang bisa diucapkannya.

“Itulah sebabnya Seohyun tak bisa mengatakan perasaannya padamu. Dia berpikir kalau hidupnya sudah tidak lama lagi. Makanya dia menghindar dan pindah ke Daegu untuk mencoba menghilangkan perasaannya padamu. Tapi ternyata dia masih tetap memiliki perasaan itu sampai sekarang. Sampai kalian bertemu kembali kemarin. Aku tidak tega melihatnya terus menahan perasaan itu. Aku tahu saat ini kau sudah memiliki seorang yeojachingu. Aku juga tidak ingin mengganggu hubungan kalian. Tapi kumohon tolonglah Seohyun. Setidaknya untuk beberapa waktu..”

Minho masih terdiam di tempatnya. Ia begitu shock mendengar kata-kata Myungsoo barusan. Rupanya itulah alasan sebenarnya kenapa Seohyun menolaknya sewaktu ia menyatakan perasaannya dahulu. Dan itu juga sebabnya kenapa yeoja itu pindah ke Daegu. Ternyata Seohyun sedang menderita. Yeoja itu sedang berjuang melawan penyakitnya. Minho merasa ada sesuatu mengganjal di ulu hatinya. Ia merasa sakit. Ia seperti ikut merasakan penderitaan Seohyun saat itu.

“Datanglah ke taman nanti sore pukul lima.” Kata Myungsoo kemudian. Setelah itu ia pun beranjak pergi meninggalkan Minho yang masih terpaku di tempatnya.

***

 

Jiyeon baru sampai ketika ia mendengar suara seseorang bersiul dari pekarangan rumahnya. Ia pun segera memasuki pekarangan rumah disusul dengan ekspresi heran di wajahnya.

“Oh, Stubborn girl? Kau sudah datang?” tampak namja imut menggemaskan (?) sedang duduk di atas dipan milik Jiyeon.

“Yaa, sedang apa kau di sini?” tanya Jiyeon heran.

“Menunggumu.”

“Oh..”

Yoseob tak segera menjawab. Ia merasa ada yang aneh dengan sikap Jiyeon. yeoja itu meletakkan tasnya dan ikut duduk di sebelah Yoseob.

“We geurae? Kenapa kau tampak lesu begitu? Bukankah kau baru saja pergi jalan-jalan dengan Minho?”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

Yoseob tampak sedikit gugup karena ia khawatir Jiyeon tahu kalau tadi ia baru melihat mereka di kedai ramen.

“Ahh, anii.. Aku hanya menebak saja. Bukankah memang biasanya kalian berdua pergi jalan-jalan?”

Jiyeon tak menjawab. Ia menarik napas kesal.

“Yaa, ceritakanlah padaku. Kenapa kau selesu itu? Apa dia tak jadi membelikanmu ramen?”

“Bukan itu..”

“Lalu?”

“Minho oppa.. Dia terlihat aneh.”

“Maksudmu?”

“Dia tampak beda tadi. Aku sama sekali tak melihat dia tersenyum. Padahal sebelumnya tadi dia masih sama seperti biasanya. Tapi sewaktu aku pergi dengannya, dia tampak berbeda, seperti bukan Minho oppa yang kukenal. Aku merasa sepertinya ada sesuatu yang disembunyikannya dariku.”

Yoseob tak segera menjawab. Ia melihat yeoja di depannya itu tampak kebingungan. Ah, sampai sebegitunyakah kau memperhatikannya? Pikirnya.

“Mungkin dia sedang ada masalah. Seorang namja biasanya cenderung tertutup. Kau harus bisa memahaminya.” Katanya pula.

“Tapi setidaknya dia memberitahuku apa yang sedang terjadi padanya. Bukankah aku ini yeojachingunya? Siapa tahu saja aku bisa membantu meringankan bebannya..”

“Setiap orang itu berbeda. Ada yang ingin membagi masalahnya dengan orang lain dan ada yang tidak ingin masalahnya diketahui orang lain. Mungkin dia adalah tipe orang yang kedua. Yaa, sudahlah. Jangan terlalu dipikirkan. Lama-lama nanti dia juga akan bercerita padamu. Lihatlah, mukamu akan jadi semakin jelek dan jauh lebih jelek lagi kalau seperti itu. Mungkin itu juga salah satu alasannya kenapa Minho tak mau berbagi cerita denganmu.”

“Mwo? Yaa, kau  ini bukannya menghiburku tapi malah membuatku semakin kesal saja. Benar-benar..”

“Nah, aku lebih suka kalau kau seperti ini.”

Jiyeon mendengus mendengarnya. Lalu dengan nada galak ia bertanya,

“Sedang apa sebenarnya kau di sini? Apa kau ada urusan denganku?”

Yoseob merogoh saku bajunya dan mengeluarkan sebuah jepit rambut yang berada dalam kotak kecil.

“Sebenarnya tidak terlalu penting. Hanya saja~“

Belum selesai Yoseob berkata, tiba-tiba mobil milik Sanghyun datang memasuki pekarangan rumah. Setelah itu muncul Sanghyun dengan senyum mengembang di bibirnya.

“Waahh.. Rupanya ada yang sedang tidak ingin diganggu di sini.” Katanya sambil mendekat.

“Oh Hyung, baru datang?” sambut Yosoeb pula.

“Yaa, darimana saja kau? Jangan bilang kalau kau baru saja pergi jalan-jalan dengan Suzy.” Sembur Jiyeon.

“Yaa, apakah itu mengganggumu? Dengan siapa aku pergi, itu urusanku. Sudahlah, aku masuk dulu. Yoseob-ah, jaga dongsaengku baik-baik. Arra?”

Yoseob hanya tersenyum saja menanggapinya. Setelah itu, Sanghyun pun beranjak masuk ke dalam rumah.

“Issh! Namja itu benar-benar..” gerutu Jiyeon kesal. Tiba-tiba saja kedua matanya melihat kotak jepit rambut yang dipegang Yoseob.

“Woahh.. Yeppeuna. Aigoo,, ini tak kalah cantik dari bando yang dibelikan Minho oppa untukku.. Yoseob-ssi, apa kau mau memberikan jepit rambut itu padaku?” tanyanya pula.

Yoseob tak segera menjawab. Ia memandangi jepit rambut yang dipegangnya.

“Yoseob-ssi, kenapa kau diam saja? Untuk siapa jepit rambut itu? Untukku kan?”

“Anii.. Ini bukan untukmu..” sahut Yoseob kemudian.

Jiyeon mendesah kecewa mendengarnya.

“Kalau begitu kenapa kau menunjukkannya padaku? Apa kau hanya mau pamer saja? Aish! Jinjja..” gerutunya.

Yoseob hanya tersenyum mendengarnya.

“Lalu untuk siapa jepit rambut itu? Bukankah kau tidak punya dongsaeng?” Jiyeon bertanya lagi.

“Ini.. Untuk seorang yeoja yang kusukai.”

“Aish! Coba saja kalau yeoja yang kau sukai itu aku, pasti jepit rambut itu sudah jadi milikku.”

Yoseob tertegun mendengarnya. Yeoja itu memang kau, Stubborn girl. Tapi aku masih belum bisa mengatakannya sekarang, pikirnya.

“Yaa, kau menganggapku sebagai teman, kan?” tanya Jiyeon tiba-tiba.

“Ne?”

“Apa kau tidak menganggapku sebagai temanmu? Lalu untuk apa kau terus-terusan mengikutiku selama ini dan mengatakan ingin melindungiku kalau bukan karena kau sudah menganggapku sebagai temanmu?”

“Ahh.. Ne..”

“Joha. Kalau begitu apa kau mau memberitahuku siapa yeoja yang kau sukai?”

“Mwo?”

“Jebal, beritahu aku.. Bukankah kita teman? Kita bahkan bertetangga dekat, kan?”

“Ne..”

“Kalau begitu beritahu aku..”

Yoseob tertawa kecil mendengarnya.

“Yaa, kenapa kau tertawa?”

“Aku tidak bisa memberitahumu. Belum saatnya kau tahu.”

Sekali lagi Jiyeon mendesah kecewa.

“Sudahlah, lebih baik kau masuk ke dalam. Aku mau pulang.” Kata Yoseob sambil berdiri.

“Mwo? Jadi kau repot-repot menungguku pulang hanya untuk memamerkan jepit rambut itu? Aish! Kau ini. Yaa!! Aku belum selesai bicara! Yaa!!” seru Jiyeon kesal, namun Yoseob sudah beranjak pergi dan menghilang dari hadapannya dalam hitungan detik. Sambil terus menggerutu, Jiyeon pun masuk ke dalam rumah.

***

 

“Seohyun. Sebenarnya dia sudah lama menyukaimu. Tapi ia tidak bisa mengatakannya padamu.”

“Karena dia.. Menderita kanker.”

“Itulah sebabnya Seohyun tak bisa mengatakan perasaannya padamu. Dia berpikir kalau hidupnya sudah tidak lama lagi. Makanya dia menghindar dan pindah ke Daegu untuk mencoba menghilangkan perasaannya padamu..”

Minho masih terngiang-ngiang akan perkataan Myungsoo padanya tadi siang. Ia tertunduk. Hatinya sedih, sedih mengetahui keadaan Seohyun yang sekarang. Ia teringat kembali saat ia bersama Seohyun dulu. Yeoja itu selalu tampak riang tanpa menunjukkan sedikitpun penyakit yang dideritanya. Minho merasa menyesal karena tidak mengetahui kenyataan itu sejak awal. Ia mengutuk dirinya sendiri. Andai saja ia tahu sejak awal, tentu ia bisa mendampingi Seohyun setiap saat, di saat Seohyun sedang membutuhkan dirinya. 

“Oh, Minho oppa?”

Minho menoleh mendengarnya. Di hadapannya kini tampak Seohyun tengah berdiri anggun di dalam balutan gaun biru muda. Minho menelan ludah melihatnya. Yeoja itu, wajahnya memang selalu pucat. Minho bahkan baru menyadari hal itu. Bagaimana bisa yeoja secantik ini bisa mengidap penyakit mematikan itu tanpa kuketahui sama sekali? Pikirnya.

“Jadi Oppa orang yang ingin bertemu denganku?” tanya Seohyun lagi.

Minho tak menjawab. Ia tak kuat lagi. Maka dengan tiba-tiba ia pun menghampiri Seohyun dan memeluknya. Seohyun terkejut dibuatnya.

“Oppa.. Wae geurae?” tanyanya heran.

“Mianhae, Seohyun-ah.. Jeongmal mianhae..”

Seohyun tak segera menjawab. Ia masih tertegun karena shock dengan sikap Minho yang tiba-tiba itu. Samar-samar Seohyun mendengar namja itu terisak. Ia terkejut sekali.

“Oppa.. Menangis?” tanyanya ragu-ragu.

Minho tak segera menjawab.

“Oppa.. Wae?”

“Mianhae.. Mulai sekarang aku janji tidak akan pernah meninggalkanmu lagi. Aku janji..”

Seohyun diam saja. Ia mulai menerka kalau Minho sudah tahu tentang penyakit yang dideritanya.

“Apa oppa benar-benar tidak akan meninggalkanku?” tanyanya kemudian.

“Ne, aku akan selalu ada di sampingmu mulai sekarang. Aku janji. Aku tidak akan meninggalkanmu..”

Seohyun tersenyum senang mendengarnya. Minho semakin mempererat pelukannya seolah tak ingin melepasnya lagi.

“Op.. Oppa..”

Suara itu menyadarkan keduanya. Minho terkejut bukan main ketika melihat seorang yeoja yang tak asing baginya sudah berdiri di samping mereka berdua. Air mata sudah membasahi kedua pelupuk mata yeoja itu.

“J-Jiyeon-ah?”

***

 

Nahh, sampai di sini dulu yah? Silahkan komentarnya. Maaph kalo masih belum mengena, hhee

Gomapta and annyeong! 😉

44 thoughts on “[FF Freelance] Where is My Man? (Part 4)

  1. yeah suka sama rencananya myungsoo HAHAHA *evil laugh*
    yodahlah udah kalian putus aja #kompor wkwkwk
    lanjut baca ah seru 😀 kekeke

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s