Subconscious

k

Subconscious by Junghaha

Cast: [F(x)] Jung Soo Jung & [INFINITE] Kim Myung Soo || Length: Vignette || Genre: Romance, Life & Fluff || Rate: T

Note:

Out Of Character (OOC) imagine that Soo Jung & Myung Soo are on the same liner.

 “Kau menyembunyikannya di suatu tempat yang tidak terlihat…”

 

“Ini permainan yang sangat sederhana.” Myung Soo tersenyum riang, membawa dua kotak tempat pensil  lalu mengeluarkan beberapa penghapus, pulpen, dan pensil dari dalam. Sementara Soo Jung—hey, dia hanya sedang memangku dagu dan menatap kosong ke arah papan tulis, tidak benar sedang memperhatikan Myung Soo karena dia pun enggan. Mungkin perasaan perempuan saja yang terlalu peka, atau lelaki yang memang selalu berada dalam urutan paling akhir dalam aspek kepekaan? Soo Jung dan Myung Soo pun keduanya tidak tahu, tapi yang jelas, Soojung sedang enggan berbicara dengan Myung Soo sejak kejadian di gudang kemarin. Menyebalkan. Myung Soo benar-benar menyebalkan.

“Soo Jung!”

Mungkin apa yang di harapkan Myung Soo, tidak kunjung terjadi. Soo Jung diam. Apa semudah itu dia akan membanting harga dirinya sendiri hanya untuk sebuah teriakan nama?

“Soo Jung, kau punya permasalahan soal pendengaran?”

Awalnya, Myung Soo hanya ingin menarik perhatian Soo Jung, mendapat respon, dan memprediksi kalau dia sedang memperhatikan walau diam. Sesederhana itu. Tetapi tentang respon delikan mata, ugh. Myung Soo menyesal.

“Tidak bisakah kau mengatakan sesuatu? Kita sudah tidak bicara sejak kemarin.”

“Diam, Myung.”

Myung Soo terkekeh. “Sialnya,  kau telah mengatakan sesuatu, nona Jung.” Lalu di detik-detik setelahnya, keadaan mengizinkan Soo Jung mendengus kesal kemudian menutup kedua mukanya. Dia tidak benar-benar sedang dalam mood, seharusnya Myung Soo tahu. Dia tidak benar-benar sedang ingin berbicara, seharusnya Myung Soo tahu. Hal yang dia berusaha hindari adalah dirinya sendiri, dan seharusnya Myung Soo pun tahu.

Soo Jung kembali merutuki dirinya sendiri karena berekspektasi terlalu tinggi pada Myung Soo.

Burung seharusnya bertanya, kenapa mereka tetap tinggal dan terbang pada tempat yang sama sementara mereka dapat terbang kemanapun itu di dunia?

Lalu Soo Jung bertanya hal yang sama pada dirinya sendiri.

Kenapa dia tetap terbang di tempat yang sama sementara dia dapat terbang kemanapun itu di dunia?

“Soo Jung?” bisik Myung Soo, memecah keheningan angin musim gugur yang berhembus lewat celah jendela kelas, dan keributan yang dibentuk beberapa anak perempuan di ambang pintu.

“Aku minta maaf.”

Sebuah meteor besar laksana mendarat di kepala Soo Jung memberikan hantaman besar, apa dia sedang tidak berhalusinasi?

“Apa?” Soo Jung mengulang, memastikan. Myung Soo kali ini menunduk, terlihat kekanakan. “A-aku tidak dengar.”

“Aku minta maaf. Aku mengaku salah.”

“Y-ya?”

“Walau aku tidak tahu apa yang salah tapi aku tetap minta maaf. Tapi.. tidak bisakah aku bertanya dimana letak kesalahannya? Setidaknya, barangkali, aku mungkin akan dapat memperbaikinya.”

“T-tidak, tidak ada yang salah.”

“Lalu?”

Soo Jung diam.

“Apa ini tentang yang kemarin?”

Ya, benar.

Semua ini berdasarkan pada kejadian kemarin petang ketika Myung Soo sedang memanjat pagar rumah Soo Jung dan menemui gadis tersebut sedang membuka pagar garasinya. Myung Soo terlalu akrab dengan kebiasannya membantu gadis yang sudah dia kenal separuh hidupnya itu untuk membuang beberapa yang sudah tidak perlu, dan menyimpan yang masih Soo Jung inginkan dari dalam gudang.

Lalu Neptunus tampaknya sedang melakukan sebuah tindak tidak masuk di akal layak bermain di daratan, Myung Soo menemukan sebuah buku bersampul biru usang—diary Soojung, barangkali?—dan membacanya dalam diam. Ketika bola mata Soo Jung membulat, dia tidak kuasa untuk tidak meluapkan emosinya, tidak ada yang tahu apakah dia benar marah atau bahkan dikontaminasi dengan perasaan malu, bercampur takut—dirinya sendiri pun tidak paham. Myung Soo gegas berlari keluar gudang karena Soo Jung mengusirnya pulang,  terlihat bodoh karena berteriak tidak jelas sementara lelaki tersebut mulai kewalahan menabrak sepeda dan beberapa barang bekas yang tadi mereka keluarkan.

Myung Soo bisa saja pulang dan Soo Jung tidak perlu lagi menyembunyikan wajahnya yang bersemburat merah laksana kepiting rebus. Tapi tentang perasaan Soo Jung yang dia tulis di buku tersebut, pemikiran Myung Soo tidak kunjung pulang dari suatu rumah yang akalnya sendiri menyebutnya sebagai ingatan.

“Bukan.”

Sejuta daun pohon mapel di depan sekolah berguguran. Wajah Myung Soo mengerut.

“Minggir,” Soo Jung menelengkan kepala Myung Soo ke barat kemudian memicingkan mata, memperjelas apa yang dilihatnya dari papan tulis sebelum lelaki di hadapannya kembali menghadang. Dia mendecak. “Apa lagi, sih?”

Myung Soo menggeleng.

“Cepat kembali ke bangkumu, sebentar lagi masuk.”

“Ya, nanti,”

Tentang bagaimana fakta menyerat Myung Soo sebagai orang paling menyebalkan di dunia, Soo Jung secara total akan menjadi yang paling setuju.

Tapi Soo Jung tidak lagi berkomentar, hanya menyeret tempat pensil berwarna merah marun miliknya dan mulai mendesah ketika membuka isinya. “Penghapusku dimana?”

Dan kali ini, seringai itu kembali terbit dari balik wajah oval dengan garis-garis tegas Myung Soo. “Coba tebak!”

“Cepat kesinikan!”

Gelengan kepala itu berhasil membuat Soo Jung menggeram jengah. “Oke, oke. Saku?”

“Bukan,”

“Saku baju?”

“Tepat!” Myung Soo mengeluarkan sebuah penghapus berwarna hitam panjang dari dalam sakunya dan sesaat setelah Soo Jung menyambarnya, dia kembali tersenyum.

“Pulpenku!”

“Dimana?”

Sial, Soo Jung menggerutu. Dia tidak pernah dan tidak akan pernah mengerti jalan fikir laki-laki yang rasanya baru saja mengenakan seragam pramuka sekolah dasar dan menjemputnya di depan rumah tempo hari,  kemudian berjalan bersama ke sekolah atau terkadang naik sepeda saat musim panas karena itu mengasyikan. Dan Soo Jung tidak pernah dan tidak akan pernah mengerti kenapa dia tetap memilih bersama Myung Soo, menggagalkan keinginannya untuk masuk ke SMU favoritnya karena Myung Soo tidak akan mungkin masuk dan itu berarti mereka tidak akan berangkat bersama lagi. Tidak. Tidak ada berangkat bersama lagi, tidak ada si ceria Jung Soo Jung. Tidak akan ada.

“Kaus kaki?”

Myung Soo terkekeh saat dia mengembalikan pulpen tersebut ke empunya. “Hey! Kau jago juga.”

“Kesinikan tempat pensilmu,” Soo Jung menuding tempat pensil kucel dengan warna hitam pudar di bangku Myung Soo, kemudian setelah dia mendapatkannya, dia mulai menyukai permainan ini. “Sekarang tutup matamu.”

Karena jika Myung Soo sudah menurut, dia pasti pula ikut turut menyukainya.

“Ada benda yang hilang, tuan?”

Myung Soo sudah dapat menduga. “Oh, pulpen itu! Hey, aku sering menggigiti penutupnya.”

“Jorok!” terlalu mudah untuk dikelabui, terlalu mudah untuk mengembalikan pulpen tersebut dengan raut jijik. Empunya tertawa, mengisi beberapa sel dibagian tubuh Soo Jung dan dia mulai merasa geli. Terutama dibagian perut, apa salah jika dia menduga ada sekumpulan kupu-kupu yang sedang menari disana dan menggelitiknya hingga geli?

Dan efek itu, membuat wajah Myung Soo menjadi berkilau ketika diterpa cahaya matahari yang menerobos masuk ketika gorden jendela di singkat dan dibiarkan terbuka. Soo Jung tidak sadar, daun-daun yang berguguran pula tidak sadar, cacing-cacing tanah di bawah sana juga bahkan tidak sadar, dia telah menjatuhkan barang terbaiknya pada seorang lelaki yang dia kenal sejak dua belas tahun yang lalu, Kim Myung Soo.

Cintanya.

“Kau masih menyembunyikan barangku!”

Soo Jung tergelak begitu  melihat kedua alis Myung Soo bertemu di tengah dengan raut serius di hadapannya. “A-apa? Aku tidak menyembunyikan yang lain!”

“Kau menyembunyikannya di suatu tempat yang tidak terlihat..”

Soo Jung bergilir menautkan kedua alisnya. “Apa?”

“Kau menyembunyikannya sejak kita kali pertama bertemu..” lalu Myung Soo memoles wajahnya dengan sebuah senyuman yang selalu dapat membuat Soo Jung terkulai lemas. “Cintaku.”

Lebih baik dari berangkat bersama mengenakan sepeda ketika musim panas.

Lalu kini Soo Jung pun sadar,  daun-daun yang berguguran pula sadar, cacing-cacing tanah di bawah sana juga bahkan mulai sadar, dia telah memiliki barang terbaik milik seorang lelaki yang dia kenal sejak dua belas tahun yang lalu, Kim Myung Soo.

Cintanya.

—fin.

11 thoughts on “Subconscious

  1. Bagus ceritanya 😀 cuman kurang panjang~ kekeke
    Aku suka gimana Soojung ngambek sama Myung, gimana cara Myung biar Soojung ga ngambek lagi sama dia~ >///< ahh~ so sweet :3

  2. 12 tahun? Nyembunyiin prasaan sampek segitu lamanya ya ? cuma demi mmpertahankan prsahabatan mreka ? Wah daebak ^^

  3. aduh bahasanya bagus bangeeet ;__; dewa, dan aku sukalah XD feelnya dapet kok, aku justru gemes lah sama MyungJung disini XD
    uhm, bentar.. jadi si Krys marah ke Myung karena Myung ngga sengaja liat diarynya Krys ya? jangan-jangan isi diary itu tentang pernyataan bahwa si Krys suka sama Myung? 🙄 dan Myung sebenarnya juga udah tau kalau Krys suka sama dirinya? 😯
    aduh dua orang itu..

    apa lagi ya..
    aduh pokoknya aku suka lah sama ff ini, penggambarannya keren banget XD feelnya dapet banget sungguh XD aku udah bilang ini ya? 🙄 tapi suer deh aku suka lah sama ff ini :33 apalagi sama persahabatan MyungJung disini..
    ffnya keren 😉

    • Astaga astaga astaga! (?) ini bener-bener hasil ngebut, kak. Aku malah asal post aja soalnya udah lama gak post XD

      yap! Itu sengaja dibikin biar readers pada mikir sendiri hahaha. Pujiannya terlalu tinggi lho kak. TTATT *nangis darah*

      Terimakasih! 😀

  4. Akhh endingnya kurang greget tapi bagus thor ffnya, buat lagi ff myungstalnya ne 🙂

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s