Because It’s You (Saranghae) (Part 4)

ul-300x192

Title: Because It’s You (Saranghae) Part 3

Author: Keyindra/ Honey Tree/Woohyun Infinite Fangirl’s

Cast: Yesung Super Junior, Yuri SNSD, Yoona SNSD, Siwon Super Junior,

Disclaimer: this FF is owned by my self,  all cast borrow by GOD, The Family, and SM Entertaiment.

Dont copy paste them without my permission.

So please don’t be a silent readers.

 

OST..

Timeless – Woohyun Infnite

Still I Miss You – Infinite

Voice Of My Heart – Infinite

I Need You – Sungkyu Infinite

Love Is Like Snoflakes – Xia Junsu JYJ

Love Is Really Pain – Yesung Super Junior

And I Love You – Yesung Super Junior ft Luna f(x)


@*@*@*@*@*

If you love somebody, let them go, for if they return, they were always yours. And if they don’t, they never were (Jika kau mencintai seseorang, biarkanlah ia pergi; karena jika ia kembali, ia akan menjadi milikmu. Namun jika dia tidak kembali, ia tidak pernah jadi milikmu)

Love is that condition in which the happiness of another person is essential to your own –  (Cinta adalah suatu kondisi di mana kebahagiaan orang lain menjadi penting bagi kebahagiaanmu).

 

*****

Rintik hujan satu persatu jatuh membasahi jalanan sekitar, jatuh menimpa dedaunan yang berda didekatnya juga apapun yang dapat ia kenai. Rintiknya seperti irama yang menarik untuk dinikmati bersama sepoi-sepoi angin yang berhembus bersama rintik air. tapi berbeda dengan gadis itu gadis itu bermarga Kwon itu mendengus dengan kesal sambil meruntuki dirinya sendiri. Mengapa ia bisa terlambat seperti ini. apalagi terjebak dalam keadaan Hujan seperti ini. sungguh, ini mungkin adalah hari paling sial yang harus ia alami dalam waktu 24 jam. Wanita itu kini menggerutu kesal.

“aisshh..30 menit lagi presentasi akan dimulai.” Runtuknya.

Mau tak mau gadis itu akhirnya menerobos hujan yang berkategori sedikit lebat tersebut. sedangkan satu tangan yang lain membawa beberapa gulungan kertas dalam wadah berbentuk silinder panjang tersebut.

Setengah berlari Yuri menuju kearah halte bus saat merasakan setitik demi setitik air yang menetes dari langit. Tepat saat kakinya menginjakan lantai halte rintik gerimis telah berubah menjadi hujan deras. Untung saja ia cepat. Andai ia terlambat lima menit saja, bisa gagal untuk presentasi hari ini  dan gugur mejadi salah saru calon training diperusahaan arsitektur terkenal di Seoul itu.

“ ide yang saya usulkan mengenai beberapa rancangan design yang   akan saya lontarkan adalah membangun air terjun disini dan mengunakan kekuatan ini untuk membuat airnya mengalir dan hal tersebut akan mengurangi biaya pemeliharaan.”

“bagaimana reaksi client jika ide itu diluncurkan?.” Tanggap seorang wanita paruh baya tersebut selaku manager marketing diperusahaan tersebut, ia bertanya to the point pada Yuri.

“tentu saja mereka akan langsung semangat mendengar kata menghemat.”  Ucap Yuri optimistik. Ia tersenyum senang saat karyanya bisa dihargai oleh semua yang ada diruangan tersebut.

“ saat direktur Im mengetahui anda mem-presentasikan  karya sebagus ini kurasa dia pasti akan terperangah melihat karya anda nona Kwon Yuri.”

“ah ne. Gamshamida.”

“kerja bagus nona Kwon Yuri. Aku terkejut ide anda sangat brilliant seperti ini . selamat anda diterima diperusahaan ini dan anda mendapat masa taraining 3 bulan di perusahaan ini. Jika anda berhasil memalui masa itu. Anda resmi diterima diperusahaan ini. Selamat.”

“ah, ne. Jeongmal Gamshmida sajangmin. Jeongmal ganshamida.” Ucap Yuri berkali-kali. Ia membungkukkan badan tanda memberi rasa hormat. Seraya tersenyum tanpa henti

Perasaan senang kini menghinggapi Yuri saat apa yang telah ia kerjakan selama 1 bulan lebih itu akhirnya membuahkan hasil. Wanita itu tersenyum puas akan hasil kerjanya hingga ia tak mengamati keadaan sekitar.

Prakk…

Mata Yuri melihat jika ada sesuatu yang terjatuh dari  sebuah tas dari seorang wanita yang kini tengah berjalan setengah tergesa mendahuluinya.

“agasshi. Chakkaman.” Henti Yuri saat menyadari sebuah ponsel terjatuh didepan matanya. Yuri pun segera mengejar yeoja itu untuk sekedar memberikan ponsel tersebut.

Tapi senyum itu memudar saat Yuri melihat lengsung siapa sosok wanita yang baru saja membalikkan badan tersebut. sosok yang sangat ia sangat kenal bahkan masih terekan jelas dalam memori otaknya kehidupan bersama yeoja itu beberapa tahun yang lalu.

Yuri terdiam membisu, mematung kaku seperti membeku seketika. ia masih melihat dengan seksama siapa wanita itu. Matanya tak salah mengenal sosok itu. Sosok yang masih sama seperti 7 tahun yang lalu.

Dia Im Yoona. Gadis yang paling ia benci dan ia cari sosoknya selama ini. gadis yang membuat hatinya terluka dalam hingga ia kehilangan seseorang yang teramat ia sayangi dan hidup bahagia tanpa mencari sosok yang ia tinggalkan tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.

“nona. Gwenchana.” Ucap wanita itu saat melihat Yuri diam memandang lekat wajah Yoona.

“ah, ne gwenchanayo.” Jawab Yuri tersadar seketika seolah-olah ia berpura-pura tak mengenal wanita itu. Ia ingin tahu apa respon wanita itu terhadap dirinya. Apakah wanita itu masih mengenalnya meski waktu berlalu sudah sangat cepat.

“Yoong!..” panggil sebuah suara dari arah berlawanan yang membuat keduanya spontanitas menoleh pada seorang yang kini berdiri dihadapan kedua wanita itu. Sosok yang ingin Yoona lihat setiap harinya. Melihat lelaki itu membuat Yoona merupakan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.

Lelaki itu, Kim Jongwoon tersenyum manis sembari membawa beberapa map berisi dengan dokumen-dokumen yang ia sendiri tak diketahuinya. Ia hanya menjalankan amanat dari sang eomma yang memberinya tugas untuk mengantar beberapa dokumen penting untuk media rapat yang akan dilakukan dengan perusahaan milik keluarga Kwon tersebut.

Jongwoon menghampiri kedua yeoja tersebut yang tak dapat menyembunyikan keterkejutannya karena yeoja itu ternyata mengenal Jongwoon. “aku mengantarkan ini atas perintah dari eomma. Eomma bilang jika 2 jam lagi ia akan datang. untuk meeting bersama dengan kantormu Yoong.”

“gomawo oppa. Kau mau makan siang bersama?.” Tawar Yoona saat lelaki itu menyerahkan barang yang ia bawa yang ditanggapi senyuman kecil untuk wanita itu.

“gomawo Yoong. Sepertinya lain waktu saja.”

Mata Jongwoon kini beralih pada sosok seorang yeoja yang berdiri disamping Yoona. Ia mengenal sosok yeoja itu.  Kwon Yuri, yeoja itu yang belakang ini membuat hati Jongwoon tak karu-karuan.  “Kwon Yuri-sshi.” tegurnya.

“kita bertemu kembali dokter Kim?.” Ucapnya membalas sapaan lelaki itu, lalu ia membungkukkan badan.”

“apa kau training baru diperusahaan ini?.” tanya Yoona langsung pada Yuri. ia merasa sedikit cemas dan bingung saat Kim Jongwoon menyapa gadis itu. Gadis itu seakan menjadi saingan untuk mendapatkan hati Kim Jongwoon. Benarkah jika sosok gadis itu yang ia temui dirumah sakit saat waktu itu?. Namun mengapa waktu pertama kali bertemu dengan gadis itu, gadis itu justru takut dan seakan menghindarinya.

“ah, ne. Aku pekerja baru diperusahaan ini yang mendapat masa percobaan tiga bulan. Saya permisi dulu. Mianhae, jika mengganggu waktu anda.” Balasnya datar. Meski hati Yuri bergemuruh ingin meluapkan emosi saat itu juga ketika bertemu dengan yeoja itu.

Baru selangkah berjalan Yuri merasakan jika lengan tangannya kini ditahan oleh seseorang. Ya. Kim Jongwoon kini tengah menghentikan langkah Yuri sebelum yeoja itu keluar dari kantor milik Yoona tersebut. “Kwon Yuri-sshi. apa kau akan pulang?. Bukankah jalan menuju rumah anda satu arah dengan arah jalan rumah sakit tempatku bekerja. jadi bolehkan aku memberi tumpangan untuk anda?.” Tawar lelaki itu.

“jika anda tidak keberatan aku akan menerimanya.” Ujar Yuri singkat. Ia melirik yeoja yang ada dibelakangnya. Yuri menyeringai kecil namun tersamarkan oleh senyumannya pada Jongwoon. Ia rasa ada sedikit hiburan saat ia bisa mengerjai Yoona. Apakah wanita itu cemburu melihat ia mengenal lelaki bernama Jongwoon tersebut.

Tcihh..gampang sekali ia melupakan masa lalunya dan dengan mudahnya ia tak merasa apa-apa saat bertemu dengan Yuri. wanita itu sungguh ingin membuat Yuri ingin langsung meminta pertanggung jawabnya atas semua kesalahan masa lalu yang Yoona lakukan terhadap keluarganya.

“Yoong. Sepertinya ada kemajuan saat aku mendekati gadis itu.” Bisik Jongwoon saat melihat Yuri melangkah menjauh dari keduanya. Lelaki itu terkekeh kecil saat ia merasa bisa mendekati Yuri. Sementara Yoona hanya dapat meresponnnya dengan tersenyum hambar.

“jadi wanita itu bernama Kwon Yuri. gadis yang membuat Jongwoon oppa tergila-gila. Kita lihat saja nanti siapa yang akan memenangkan hati Jongwoon oppa.” batinnya. Yoona tertawa miris saat menatap kepergian kedua orang tersebut menjauhinya. Perasaan ingin memiliki Kim Jongwoon kini sekan menjadi ambisi dan obsesi hidupnya.

Sepertinya akan ada perang dingin yang akan tercipta antar keduanya…

*****

Sejak pertemuannya dengan Choi Siwon putra kandung konglomerat korea sekaligus rean bisni kakeknya. Komunikasi antar keduanya, Im Yoona dan Choi Siwon semakin intens untuk berkomunikasi. Beberapa kali mereka bertemu dan menyambung suatu pendekatan yang bagi keduanya mungkin cukup bisa melupakan orang yang dicintainya.

Kali ini lelaki itu mengajak Yoona pergi kesuatu tempat yang akan menjadi tujuan keduanya. Ya. Mereka berdua kini tengah bekerja sama membangun suatu yayasan pendidikan sekolah untuk anak-anak yang berprestasi dan yayasan pendidikan untuk menyekolahkn anak-anak kecil yang mempunyai minat belajar dan mempunyai cita-cita tinggi.

“kau sepertinya menyukai anak-anak Im Yoona –sshi?.” tanya lelaki itu sambil tertawa kecil. Ia melririk Yoona yang kini tengah bermain anak-anak kecil sambil sesekali bercanda dengan mereka semua.

“entahlah. Naluriku sebagi wanita menuntunku untuk mendekati mereka dan bercengkraman dengan mereka.” Yoona tersenyum tipis menanggapi ucapan Siwon.

“kau tak mau minum kopi bersam. Setidaknya aku ingin mengucapkan terima kasih karena kau mau menemaniku?!. Kali ini aku tak mau menerima penolakan nona Im.” Siwon terkekeh kecil mengajak wanita itu sekedar untuk melepas lelah.

“tidak ada salahnya bukan untuk dicoba.”

Mereka berdua duduk diam sambil menatap pemandangan didepan mereka berdua. Yoona dan Siwon menyesap Cappuchino dan Vanilla Late mereka masing-masing sambil merasakan angin semilir yang mnerpa wajah mereka.

“apa kau keberatan menerima perjodohan kita berdua Im Yoona-sshi?.” tanya Siwon memecah suasana. Ia memandang gadis itu kembali lalu menyesap kopinya lagi.

“entahlah. Aku memang bukan yeoja yang langsung saja menyetujui semuanya. aku perlu waktu dulu untuk memantapkan hatiku menerima semuanya. Jika kau bertanya sudah siapkah aku dengan pernikahan yang dirancang oleh kedua orang tua kita?. Aku akan menjawabnya belum, karena hingga saat ini hatiku masih dimiliki seseorang. Bahkan hingga saat ini aku mencintainya. Lalu bagaimana dengan anda Siwon-sshi ?.” Ujar Yoona panjang lebar yang berujung pada sebuah pertanyaan.

“kau mempunyai kekasih Yoona-sshi?.” tanya Siwon to the point.

“anii.” Yoona menggeleng lemah. “tapi lelaki itu sangat berharga dalam hidupku. 6 tahun memendam perasaan mencintai pada dirinya tapi ia tak pernh melihatku sama sekali.

“jika memang takdir dan jodohku sampai disini apa mau dikata. Apakah dengan kembali pada masa laluku semua akan berakhir bahagia?. Belum tentu, karena aku yakin jika ini adalah bagian dari takdir yang telah dituliskan untukku. Setidaknya dengan melepas dia hidupku kini sudah sedikit tenang, karena ia bisa bahagia bersama dengan orang yang ia pilih untuk menjadi pendamping hidupnya.”

“aku tak menyangka jika kau bisa berbicara seperti ini Siwon-sshi.” gumam Yoona terkesan kagum atas pendirian Siwon, lelaki ini sungguh tegar menghadapi lika-liku kehidupan percintaannnya.

“jika kau tak keberatan menjawab. Apakah kau pernah terluka karena cinta?.” Ucap Yoona ragu. Sebenarnya ia tak ingin menyakan hal itu, namun ia ingin tahu lebih lanjut tentang lelaki itu.

“aku melepasnya. Melepasnya bukan berarti ia tak meninggalkan bekas dihatiku. Perasaan itu belumlah hilang, bahkan aku tak bisa menghilangkannya. Tapi mungkin dengan begitu aku bisa belajar dari kesalahanku untuk lebih baik dalam mencintai seseorang.”

“lalu apakah kau menerima perjodohan ini?.” tanya Yoona kembali.

“aku juga tak tahu. Tapi perlu anda ketahui jika aku menerima perjodohan ini bukan sekedar untuk melampiaskan kegagalan ku dalam mencintai seseorang. Melainkan aku ingin menemukan sesuatu yang indah tentang cinta sebelum aku mencintai orang tersebut. Tapi aku akan belajar membuka hatiku untuk menerima sosok yang akan menjadi bagian hidupku.”

“jadi jika apa boleh aku ingin lebih jauh mengenalmu. Bukan semata-mata kita dijodohkan tapi aku ingin kita berteman. Kita tunggu takdir yang akan dituliskan apakah kita bisa bersama atau tidak.” Lanjutnya kembali. Ia menatap manik mata Yoona dalam, seolah tersirat sebuah ketulusan hati lelaki tersebut.

“jika iya kenapa tidak. Bukankah kita sama-sama butuh teman untuk saling mencurahkan perasaan.” Yoona terkekeh kecil menanggapi pernyataan itu. Hatinya sedikit terhibur saat ia tak bersama dengan Kim Jongwoon. Tanpa sengaja Yoona memegang jemari tangan Siwon. ia sungguh berterima kasih atas hadirnya lelaki itu dalam hidupnya. Meski mereka berdua masih tak mempunyai perasaan masing-masing.

“ahjumma dompet.” Panggil seorang gadis kecil yang kini tengah menatap polos Yoona. Yeoja kecil itu sedang berdiri diantara teman-teman. Saat ini gadis kecil itu tengah bermain kejar-kejaran dengan para teman-temannya karena ia diminata untuk mengajari mereka untuk membuat origami dari kertas lipat pada teman-temannya tersebut.

“ne. Kau memanggilku?.” Tunjuk Yoona pada dirinya sendiri. Ia menatap sekilas wajah gadis kecil itu. Gadis kecil yang ia temui beberapa hari lalu saat Yoona tengah kehilangan dompetnya.

“bukankah kau gadis kecil itu. Gadis kecil yang waktu itu. Yang mengembalikan dompetku bukan?.” Tanya Yoona sekali lagi memastikan. Ia tersenyum sekilas menatap wajah polos milik gadis kecil tersebut..

“Hana!. Kenapa kau berlari terus. Ahjumma lelah mengejarmu!. Kau ini gadis kecil yang nakal.” Suara yeoja setengah baya selaku suster gereja tersebut seakan kewalahan setengah berteriak saat mengejar gadil cilik tersebut berlari-lari kecil.

“Suster Nam. Hana tak nakal. Hana hanya ingin tak diganggu oleh Sungjon. Sungjon itu nappeun namja. Hana tak suka itu!.” Ujar Hana yang kini tengah bersembunyi dibelakang tubuh wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah Im Yoona.

“ah. ne. Mianhae nona Im Yoona, Tuan Choi Siwon jika gadis kecil ini mengganggu anda.”

“anii. Gwenchana. Aku sangat menyukai anak kecil. Biarkan dia disini saja. apa dia anak asuhan yang ada diyayasan ini?.” Siwon mengernitkan alisnya tanda ia tak mengetahui siapa gadis kecil itu.

“anii. Hana bukan anak asuh di Yayasan ini. Hana masih mempunyai eomma dan hidup berkecukupan pula. Ia hanya kadang suka bermain-main digereja tempat saya mengabdikan diri. Namun anak ini memang kadang-kadang nakal. Mianhe, jeongmal mianhae.” Ujar suster tersebut membungkukkan badannya.

“biarkan anak ini bersama kami siapa tahu anak ini tidak nakal lagi!.” Pinta Yoona.

“gomawo ahjumma. Ahjumma memang bidadari pelindung Hana.” Ucap yeoja kecil itu tulus, lalu sedetik kemudian Hana memeluk Yoona erat. Sementara Siwon hanya bisa tersenyum manis menatap kedua orang tersebut.

“ne. Chagi.” Lirih Yoona.

*****

“jeongmal gomawoyo ahjumma-ahjussi, lain kali jika ahjumma sudah mempunyai waktu ahjumma harus datang kerumahku utuk bertemu dan berteman dengan eomma.” Gadis kecil itu tersenyum manis saat menatap sosok dewasa yang kini tengah menundukkan dirinya berusaha mensejajarkan dirinya dengan gadis kecil tersebut.

“ah, ne tentu saja Hana. Hana bisa pegang janji ahjumma. Lain kali jika ahjumma tak sibuk pasti kita akan bertemu lagi.” Ucapnya seraya mengacak pelan rambut lurus Hana dan memeluknya sejenak.

“gomawo ahjumma. Hana masuk dahulu. Annyeong Yoona Ahjumma-Siwon ahjussi.”

“ne, ahjumma dan ahjussi pulang dahulu. Annyeong.” Pamit Yoona.

Degub jantung Yuri berdetak cepat berpacu dengan waktu seketika itu juga. Tangannya bergetar taatkala melihat dua sosok yang sangat ia kenal berdiri tak jauh dari depan matanya. Wanita itu. Wanita itu mengapa tiba-tiba hadir dihidupnya kembali?. Baru beberapa jam lalu ia bertemu dengan ia bertemu dengan wanita itu, tapi mengapa kini ia bertemu kembali. lalu mengapa Hana bisa mengenal wanita itu?.

Kwon Yuri  dengan cepat membalikkan badannya, setelah beberapa detik yang lalu memandang nyata interaksi dua orang yeoja yang tak asing baginya. Setetes air matanya entah mengapa tiba-tiba saja mengalir. Ia takut dengan kehadiran wanita itu Hana akan mengerti semuanya. ia tak mau kejadian 7 tahun yang lalu terulang kembali. setelah ia kehilangan satu-satunya kakak laki-laki yang melindunginya kali ini ia tak mau kehilangan sosok Hana akibat hadirnya wanita itu dalam hidupnya. Ia tak mau jika sosok Im Yoona kembali masuk dalam hidup Yuri dan juga Hana. Meski yeoja itu terikat ikatan batin dengan Hana. Ia tak ingin terjadi seseuatu dengan Hana, ia hanya ingin melindungi Hana.

*****

Kwon Yuri duduk terdiam sambil sesekali menatap sosok kecil yang kini tengah asyik menulis dan menggambar menegrjakan tugas rumah yang telah diberikan disekolah, sementara wanita itu tengah berkutat dengan drafting mechine dan pensil mekaniknya untuk menggambar rancangan  beberapa design perencanaan bangunan yang diperuntukan untuknya. Dengan authocad software yang ia gunakan ia membuat presisi gambar untu kebutuhan lapangan dalan versi 2 dimensi. Pikirannya masih berpusat pada sosok yeoja bernama Im Yoona yang kini sudah kembali dari tempat menghilangnya.

“Kwon Yuri eomma!. Sudah berapa jam anda memandangi wajah putrimu satu-satunya ini yang cantik. Tidakkah mata eomma lelah memandangi Kwon Hana yang cantik jelita ini?.” lamunan Yuri terpecah seketika dengan kekehan jahil anak kecil tersebut.

Untuk gadis kecil seusianya, kata-kata yang terlontar dari bibir kecilnya mungkin sedikit terlalu berlebihan. Tapi tentu saja sifat terseut bukan tak mungkin menurun dari salah satu kedua orang tuanya.

“mwo?!. Percaya diri sekali kau Kwon Hana!. Kau itu memang cantik, tapi cantikmu itu berbeda dari eomma.”

“mengaku sajalah eomma. Kalau tidak, Hana akan membongkar sesuatu pada seseorag yang Hana kenal tentang eomma.” Hana tersenyum puas seolah-olah kini kemenangan mutlak ia dapatkan.

“nado saranghae dokter Kim..” lontaran kata-kata tersebut membuat Yuri terdiam seketika tak dapat berkutik. Mulutnya menganga Hancur sudah reputasinya saat ia ketahuan mengatakan sesuatu yang sangat memalukan baginya itu.

“bukankah eomma pernah mengigau tentang dokter Kim saat tertidur?. Akan Hana katakan pada Jongwoon ahjussi.”

“Ya!. Apa yang kau katakan setan kecil?!. Kau ingin mempermalukan eomma-mu sendiri heh?.” Hana tersenyum puas saat ia bisa mengalahkan perdebatan dengan sang eomma.

“cepat katakan?!.” Perintah Hana.

“apa?!.”

“jika Hana cantik dan eomma harus meminta maaf pada Hana.”

“mwo?!.”

“cepat katakan?!.” Perintah Hana sekali lagi.

“yeah, eomma akui Kwon Hana memang sangat cantik untuk gadis kecil berusia 5 tahun. Eomma minta maaf. Mianhaeyo. Tapi jujur saja Hana, kau memang cantik. Wajahmu adalah perpaduan sempurna dari appa dan eom..”

Yuri tersadar seketika saat dirinya hampir saja mengatakan kat ‘eomma’ . Bodoh!. Ia meruntuki kebodohannya sendiri saat hampir saja Yuri mengatakan kata-kata keramat bagi Hana. Tapi terlambat, dilihatnya sekilas raut wajah Hana yang tiba-tiba saja menunduk lesu merubah ekpresi wajahnya seketika. Hana sudah terlalu paham akan hal ini.

Eomma. Adalah sebuah kata dan seseorang yang sangat ia rinduka keberadaanya. Hana terlalu terluka saat mendengar dan menyebut kata-kata itu. Gadis kecil terlalu terluka. Luka yang mendalam cukup terus-terusan menggerogoti dirinya sejak ia lahir kedunia dan menikmati indahnya hidup layaknya bayi pada umumnya. Luka atas kepergian sang eomma yang meninggalaknnya menciptakan kecemburuan sosial, kesedihan, kesepian dan kekosongan dalam hati dan batin yeoja kecil itu. Seharusnya gadis kecil itu merasakan kasih sayang dan mencurahkankan setiap kejadian yang ia alami layaknya anak-anak kecil pada umumnya yang dilahrikan oleh ibu kandungnya sendiri.

Demi Tuhan. Yuri telah membuat Hana menangis kembali. rasa-rasanya gadis itu begitu keterlaluan saat mengatakan hal semacam itu. Ia beranjak mendekati Hana dan merengkuh tubuh kecil itu erat, mendekapnya penuh kasih.

“maafkan eomma Hana. Eomma tak bermaksud seperti itu. Suatu saat eomma berjanji akan memberitahumu siapa ibu kandungmu sebenarnya. Tapi belum saatnya Hana tahu. Hana terlalu kecil saat harus menerima kenyataan ini.”

Sakit..sesak. Dada Yuri sesak mendengar isakan kecil itu. Ini pertama kalinya Yuri mendengar isakan pilu dari Hana. Yuri tak sampai hati menyaksikan wajah putri kecilnya yang jauh dari kata bahagia itu. Ia memang ibu Hana, tapi takdir tidak bisa dihindari jika ia bukanlah ibu kandung Hana. Garis takdir menyebutkan jika Kwon Yuri bukanlah ibu kandung Hana.  Ia hanya memenuhi permintaan terakhir mendiang kakak laki-lakinya agar menjaga yeoja kecil itu hingga gadis itu besar.

“eomma berjanji suatu saat eomma akan mempertemukanmu dengan ibu kandungmu. Meski ibumu sendiri tak menerima kehadiranmu.” Lirih Yuri.

*****

One week later…

Yuri berlari dengan cepat setelah baru saja keluar dari kampusnya, berpacu dengan waktu  menerobos lampu merah pejalan kaki Ia tak mengindahkan semua yang ada disekitarnya. Yang ada dipikirannya sekarang ini dalah bagaimana keadaan putrinya. Ia takut sesuatu yang tak diduga terjadi pada putrinya kembali. Beberapa hari ini putrinya mengalami sedikit gangguan pada tubuhnya, tapi ia rasa hanya penyakit biasa, namu semuanya terasa menyakitkan saat Jung Soojung selaku teman dekatnya memberi kabar mengejutkan jika Hana pingsan mendadak dan masuk rumah sakit karena sesuatu.

@Seoul International Hospital

Jung Soojung, wanita itu terduduk lemas sambil kedua tangannya meremas ujung kemeja yang ia kenakan. Perasaannya cemas, campur aduk harap-harap cemas menantikan sebuah kabar tentang yeoja kecil yang sudah ia anggap sebagai putri kandungnya juga.

Kriett..

Pintu ruang ICU  rumah sakit terbuka secara otomatis menampakkan sesosok dokter muda keluar dari ruangan tersebut setelah hampir satu jam lebih memeriksa keadaan Hana.

“apa hubungan kalian denga  pasien bernama Hana ini?. apa anda orang tua kandungnya?. Dokter muda itu menatap Soojung secara seksama.

Soojung mendongakkan kepala menatap dokter namja muda tersebut. “ah, ne. Aku bibinya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Hana Uisanim?.” Tanya Soojung kembali.

“ada yang harus saya bicarakan dengan ibu dari Hana. Bisakah saya berbicara dengan Kwon Yuri?.”

Mendengar nama Kwon Yuri disebut, Jung Soojung mengernyit bingung. Mengapa lelaki itu mengetahui ibu yang merawat Hana. Apa hubungan lelaki ini dengan Kwon Yuri dan Hana?.

“Soojung eonni!!.” Panggil sebuah suara keras dari arah yang berlawanan, nafasnya tersengal dan memburu. Spontanitas keduanya menoleh saat mendapati Yuri meneriaki nama Yeoja tersebut.

“Yuri-sshi!.”

“wae?. Apa yang terjadi pada Hana?. Ada apa dengannya?.”

Seketika itu perasan Yuri diselimuti hawa tidak enak, wajahnya berubah menjadi cemas. Ia merasa jika ada sesuatu yang tidak beres terjadi dengan Hana.

“Ia pingsan. Hana bilang jika dadanya terasa sakit dan sesak Yuri-ya.” Ujar Soojung dengan raut wajah ketakutannya.

“lalu bagaimana dengan keadaanya sekarang?.” Tanya Yuri panik. Ia seakan kehilangan akal sehatnya dan tak bisa berpikir apa-apa jika ini terikat dengan kondisi putrinya. Soojung melirik lelaki yang kini berdiri disampingnya, mengisyaratkan jika semua informasi tentang keadaan Hana masih belum dilontarkan oleh dokter tersebut.

“dokter Kim.” Pekik Yuri terkaget saat mengetahui jika dokter tersebutlah yang menangani Hana.

“Kwon Yuri. bisakah kita berbicara sebentar mengenai keadaan putrimu diruanganku.”

“sebenarnya apa yang terjadi pada Hana?. Dia baik-baik saja bukan?.” Seketika itu omongan Yuri langsung menjurus pada suatu topik tujuan pembicaraannya, sebelum Kim Jongwoon mengeluarkan sepatah kata mengenai keadaan Hana. Dokter muda itu masih sibuk menuliskan sesuatu.

Jongwoon menghela napas sesaat sebelum ia menatap datar yeoja yang kini berada didepannya dan menghentikan aktivitas menulisnya.

“Yuri-sshi. apa kau sering memperhatikan warna kukunya yang berubah membiru?” Tanya Dokter Kim mengawali pembicaraan.

“ne.. akhir-akhir ini aku sering melihat perubahan kuku Hana yang mendadak berubah menjadi biru. Bukankah itu wajar terjadi pada anak-anak berusia 5 tahun mengingat ini adalah peralihan musim dingin ke musim semi.” Yuri mencoba tersenyum sekenanya. Ia mencoba menghibur diri dan perasaannya yang sedang tak menentu. Batinnya mengatakan jika ada sesuatu yang janggal untuk lebih jelas diketahui.

“sejak kapan Hana dalam keadaan seperti itu?.” Wajah tampan Jongwoon nampak serius menatap Yuri.

“sejak usia Hana menginjak 1 tahun. Tapi bukankah hal itu sering terjadi pada anak-anak pada umumnya?.”

“What?!! Since farel you say!. Apa katamu! sejak bayi!!.” Jongwoon sedikit berteriak akibat tersentak kaget. Bagaimana bisa yeoja bernama Kwon Yuri berspekulasi mengenai pendapatnya sendiri jika tak terjadi sesuatu apapun pada Hana.

“apa dia pernah mengeluh sakit padamu?.” Tanya sekali lagi. Tapi kali ini lebih tegas.

“aniyo. Memang apa sebenarnya yang terjadi pada putriku, Dokter?!” keringat tiba-tiba saja mengucur deras melewati pelipis kening Yuri, menunggu kata-kata yang keluar dari mulut Dokter itu. Ia berharap jika itu adalah berita baik bahwa tidak ada penyakit yang serius di dalam tubuh Hana. Tapi ternyata ..Tuhan masih saja mencoba Umatnya yang menandakan jika Tuhan menguji batas kesabaran dari setiap insan yang telah hidup didunia.

“setelah kami para beberapa dokter melakukan beberapa tes, saya berkesimpulan bahwa putrimu itu mengidap kelainan katup jantung yang merupakan penyakit yang ia  sejak lahir. Biasa kami sebut dengan Valvular insuepepiciency. Saat ini, katup serambi kanan jantungnya sudah tidak berfungsi dengan baik. Sehingga darah kotor dan darah yang mengandung hemoglobin bercampur di dalam jantungnya. Hal ini mengakibatkan kebocoran dan terhambatnya aliran darah ke bagian tubuh yang lain. Hmm, ia anak yang hebat dan kuat, bisa bertahan hingga sejauh ini. Tapi kusarankan, ia harus melakukan operasi transplantasi jantung secepatnya, karena tubuhnya semakin lama akan semakin melemah. Jika tidak.…

“jika tidak?!. Jika tidak apa yang terjadi pada Hana dokter Kim?.” Air mata Yuri tiba-tiba saja mengalir, wajahnya berubah pucat. Ia merasakan jika tangannya bergetar hebat mendengar penjelasan Jongwoon tadi.

“Jika tidak, ia mungkin akan segera mengalami gagal jantung dan kita tidak bisa menyelamatkannya.”

TTTAAARRRR…

Bagai disambar petir, Hati Yuri hancur seketika mendengarkan pernyataan jika putrinya menderita penyakit yang mematikan. Kakinya melemas, sekujur tubuhnya bergetar hebat. Pikiranya entah melayang kemana.

“andwee!!..andwe!!..Hana!..” teriak Yuri pada Jongwoon. Kaki Yuri beringsut kebawah tak sanggup lagi mendengar berita itu, kontan yang membuat Jongwoon mendekati yeoja itu.

“Hana..Hana..Donghae oppa.mianhae.. aku bukan ibu yang baik bagi Hana.”

“aku tahu kau pasti terpukul dengan berita ini. tapi ini bukan akhir dari kehidupan. Semua masalah pasti ada solusinya. Kau percaya itu kan?.”

Entah apa yang Jongwoon rasakan, ia tak mengerti mengapa tiba-tiba saja memeluk yeoja itu. Pada dasarnya ia ingin menghibur yeoja itu agar berhenti menangis. Namun sesuatu dari dalam dirinya mendorong ia untuk melindungi dan menenangkan yeoja tersebut. Jongwoon ingin meringankan masalah yang menimpa Yuri. ia ingin menjadi sandaran bagi masalah yang menimpa yeoja itu.

‘rasa ini lebih dari sekedar dari rasa menyayangi ataupun belas kasihan melainkan..ia  yakin jika hatinya kini telah dimiliki oleh Kwon Yuri.

*****

Yoona terbangun mendadak dari tidur tenangnya petang hari ini. keringat membasahi kening yeoja berusia 24 tahun itu mendadak bermimpi aneh. Sudah beberapa hari ini gadis itu mengalami mimpi yang sama. Mimpi yang baru saja ia alami benar-benar membuat jantungnya berdebar. Mimpi yang sangat terasa nyata. Kedua tangannya kini sudah ia letakkan didadanya, seolah ingin menenangkan detak jantung yang begitu kuat. Detak jantung yang begitu kuat, seakan–akan hampir meloncat keluar dari tubunya. Matanya mulai mengerjap pelan dan menyesuaikan keadaan sekitarnya untuk beberapa detik. Syukurlah ia berada dikamarnya, dan ternyata ia baru sadar jika ia mengalami mimpi buruk.

“mimpi itu, kenapa dengan mimpi itu?. Kenapa semuanya menjadi nyata. Aku seperti kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupku, tapi apa itu?.” Yoona bergumam lirih sembari menundukkan kepalanya. Otaknya berputar kembali mengingat mimpi yang ia alami bebrapa menit yang lalu.

“aku dimana?.” Pekik seorang yeoja dengan wajah sarat akan kebingunagn, ia berada disebuah, entahlah. Apakah ini ruangan atau apa, ruangan ini terlihat sangat jelas tempat ini begitu luas tak berujung.

Saat ia merasakan jarak yang mendekat tubuhnya, ia merasakan nafasnya tersengal begitu berat. Seorang lelaki yang tengah duduk, jemari lelaki itu menggenggam erat seorang yeoja kecil yang kini tengah terduduk dipangkuannya. Gadis kecil itu kemudian melangkah keil menghampiri Yoona. 

“appa. Apa kau mengenal dia!.” tunjuk gadis kecil itu pada Yoona. Yoona menatung seketika, tubuhnya tak dapat bergerak, seakan mulutnya membisu terkunci rapat. Sementara lelaki itu tersenyum manis menatap Yoona yang kini sudah berada didepan matanya.

“kau siapa?.” Tanya Yoona.

“sebentar lagi kau akan mengetahui semuanya. Maaf jika pernah membuatmu terluka.”

Lelaki itu kemudian menggandeng tangan kecil yeoja kecil itu dan kemudian pergi menjauh seiring dengan siluet sinar putih yang datang untuknya.

“tunggu!. Tunggu dulu!.” Henti Yoona sesaat. Lelaki itu kemudian menghentikan langkahnya memandang Yoona dengan senyuman kembali. “apa sebelumnya kita pernah mengenal?. Jika iya!. Jawab pertanyaanku. Apakah kita pernah berhubungan?!. Lalu kalian berdua punya hubungan apa denganku?.”

“tanyakan itu pada dirimu sendiri. Hati kecilmu yang akan menjawabnya sebentar lagi.” Kemudian lelaki itu mendadak menghilang. Secepat kilat Yoona berlari mengejar kedua orang itu,ia harus mengetahui semuanya. hati kecilnya mengatakan jika ada suatu kejanggalan dengan lelaki itu.  Hingga Yoona sampai pada perjalanan panjangnya mengejar lelaki itu dan akhirnya Yeoja itu menyerah akan sebuah kesaksian jawaban yang ia tak akan diketahuinya sama sekali.

“arrgghh..” Yoona berusaha mengingat-ingat kejadian dalam mimpinya itu. Ia mengerang frustasi mmegangi kepalanya itu. Ia tak tahu mengapa mimpi itu seperti kenyataan. Dan gadis kecil yang ada didalam mimpi tersebut, Yoona sangat mengenalnya. Tapi siapakah gadis itu?.

Dengan berat hati akhirnya Yoona melangkah meninggalkan ranjangnya dari mimpi buruknya disore hari menjelang malam ini. ia mencuci mukanya sejenak lalu menatap pantulan dirinya tepat didepan cermin kamar mandinya.

“sebenarnya apa maksud dari mimpi itu?. Siapa lelaki itu?. Lalu apa hubungannya denganku?.” Yoona menatap wajahnya sendu, beberapa detik kemudian ia teringat jika jam menunjukkan hampir petang hari. Ia teringat sesaat pada sosok lelaki yang mengisi hari-harinya kini.

“lebih baik aku menemui Jongwoon oppa, mungkin dengan makan malam bersamanya akan jauh lebih baik perasaanku ini.” Kali ini Yoona melangkah pelan sembari mencoba memaksakan senyum. Saat ini ia tak mengerti bagaimana keadaan perasannya sekarang. Mungkin dengan bersama Jongwoon, pria itu bisa mengubah pikirannya yang kalut.

*****

Menangis. Ya, hanya itu yang bisa Yuri lakukan saat ini. Kenapa ia baru menyadari jika putri semata wayangnya itu didiagnosis menderita penyakit parah seperti itu. Dengan langkah perlahan dihampirinya sook yang terbring lemah tak berdaya dengan selang infus dan beberapa alat kedokteran yang menempel ditubuhnya. Dibelainya penuh kasih rambut hitam nan panjang milik sang putri. Tanpa sengaja air matanya mengalir, ia tak tega melihat kondisi Hana dalam keadaan seperti ini.

“Donghae oppa. maafkan aku jika aku belum bisa dan tak becus menjaga amanah darimu.” Isak Yuri. sekilas ia melihat tangan yeoja kecil itu bergerak dan perlahan membuka matanya secara utuh. Gadis kecil itu sudah tersadar kembali, setelah beberapa jam lalu ia tak sadarkan diri.

“eomma..” panggilnya.

“Hana!. Kau sudah sadar chagi?!.” Ucap Yuri mencoba tersenyum seolah-olah tak terjadi apa-apa dengan dirinya. Ia bersikap semuanya dalam keadaan baik-baik saja.

“eomma. Uljimayo. Kenapa menangis?. Aku sedang dimana eomma?. Lalu ini apa eomma?.” Hana berkata dengan wajah cantik nan polosnya. Jemarinya memainkan kabel-kabel yang terpasang ditubuhnya.

“sayang. Kau sedang sakit. Jadi bersabarlah sebentar lagi. Sementara kau harus tinggal disini.” Yuri mengusap air matanya dengan segera. Ia tak ingin menampakkan wajahnya yang tengah bersedih dan membuat putri kecilnya itu bersedih.

“tapi eomma…bagaimana dengan sekolahku?.. Aku juga ingin bertemu dengan Yoogeun dan bermain dengannya.” Ia lantas merajuk dan meronta. Namun tanpa diduga, tiba-tiba saja ia meringis kesakitan dan memegang dadanya. Hati Yuri sakit saat melihat tingkah putrinya seperti ini. Namum ia akan tetap berusah tersenyum, mecoba tegar dan tetap kuat saat didepan Hana. Yuri memeluk gadis kecil itu erat. Ia tak mau kehilangan gadis kecil itu.

Mungkin inilah yang bisa Yuri lakukan. Ia tak tahu harus bagaimana lagi. Vonis dokter menyatakan jika hidup Hana tinggal sebentar lagi jika ia tak segera mendapatkan donor jantung untuk gadis kecil itu. Jika takdir bisa diputar ulang, mengapa bukan dirinya saja yang terkena vonis seperti itu. Ia ta sanggup jika kedaan Hana yang terbaring lemah.

“ini untukmu..kuperhatikan sedari tadi kau belum memakan atau meminum sesuatu.” Lelaki bernama Jongwoon itu kemudian tiba-tiba duduk disamping Yuri. satu tangannya membawa sebuah botol minuman yang diperuntukkan memang untuk gadis itu. Gadis itu mendongak dan menatap Jongwoon sekilas lalu tersenyum menerima pemberian Jongwoon tersebut.

“gomawo.” Ucapnya pelan dengan wajah sendu yang terlihat jelas jika ia sedang memikul beban berat.

“aku tahu apa yang sedang kau pikirkan. Kau pasti terpukul mengetahui hal seperti ini.” Jongwoon berucap pelan mencoba memulai membuka pembicaraan dengan Yuri. setidaknya lelaki itu ingin menghibur Yuri dan mencairkan suasana.

“apakah Tuhan tak adil padaku dokter Kim. Kenapa ia memberi cobaan seperti ini. apa ini hukuman untukku karena telah memunafiki gadis kecil seperti Hana. Dan menyembunyikan sesuatu yang seharusnya ia ketahui.” Yuri menatap datar wajah Jongwoon seolah gadis itu meminta jawaban atas semuanya. seakan kini dirinya adalah manusia tak berguna.

“Kenapa kau berbicara jika Tuhan tidak adil padamu. Jika ia tidak adil pasti ia tak akan menitipkan Hana padamu untuk kau jaga. Hana gadis kecil yang kuat, ia pasti bisa melalui cobaan seperti ini. Kau hanya perlu bersabar ”

“tapi jika Tuhan adil. Kenapa Hana harus menderita penyakit seperti itu?!. Dan kenapa bukan aku saja?!.” ujar Yuri sambil terisak. Ia mengacak rambutnya frustasi.

“bersabarlah. Tenangkan dirimu. Tuhan sedang mengujimu. Tuhan menguji umatnya sejauh mana ia dapat melampaui cobaan tersebut. ini terbukti jika Tuhan begitu menyayangimu. Dan tidak ada yang perlu disalahkan dalam hal ini. ini semua sudah rencana Tuhan untukmu.”

Tanpa diuga sepasang lengan kekar menyentuh gadis itu. Tangan Jongwoon, ia sandarkarn untuk mendekap yeoja itu. Tak ada penolakan sama sekali dari gadis itu. Yang ingin ia luapkan adalah emosi pikiran dan batinnya yang terlalu rumit untuk dideskripsikan. Yuri menangis sejadi-jadinya. Kesalahan terbesar dalam hidupnya adalah ia seorang gadis munafik yang hingga sekarang masih menyimpan rapat identitas ibu kandung Hana. Meski perasaan benci pada yeoja iru masih hinggap dalam benaknya selama bertahun-tahun. Jongwoon memeluknya, mendekapnya hangat agar yeoja itu sedikit tenang.  Entah mengapa hati kecilnya  mengatakan jika gadis ini harus ia lindungi.

“menangislah jika itu akan membuatmu jauh lebih tenang. Aku masih disini untuk menjadi teman berbagi ceritamu.”

Sementara itu terlihat sepasang mata memperhatikan adegan kedua insan tersebut. yeoja itu mematung diam dan membeku ditempat saat melihat sosok lelaki yang ia kenal tengah memeluk seseorang. Matanya menatap tajam kearah yeoja yang beberapa hari lalu ia kenal. Yeoja yang kini mengajak perang dingin dengannya.

Im Yoona.

Wanita itu terlihat benci dengan keadaan didepan matanya. Ia mati-matian menggigit bibir bawahnya menahan rasa sesak dan ketidakrelaan jika melihat sosok Kim Jongwoon tengah memeluk yeoja yang dicintainya oleh pria itu. Dan mendadak seketika itu otak Im Yoona kacau akan ketidakrelaan tak karu-karuan melihat pria yang dicintainya itu tengah memeluk gadis lain.

*****

Yoona berjalan dengan raut wajah keputussaannya. Luluh lantah sudah hati wanita itu saat matanya beberpa menit yang lalu menatap sosok le;aki yang ia cintai bersama dengan yeoja lain. Sebegiukah kurangnya dia hingga ia tak bisa memiliki hati Jongwoon sedikitpun?. Bukankah waktu 5 tahun adalah waktu yang cukup lama  untuk mengerti hadirnya wanita itu dalam hidup Jongwoon, Yoona ingin dmengerti bukan hanya sekedar teman ataupun dongsaeng. Ia ingin menjadi satu-satunya wanita dalam hidup Jongwoon. Wanita itu pun hanya bisa menangis pelan sembari menatap pantulan dirinya di permukaan yang terkena sinar lampu tepat diatas sungai Han.

“Kim Jongwoon!. Kenapa kau selalu membuat hatiku kacau dan menggantungkan perasaanku padamu?!.”

CKITTT….

“YA!. Agasshi!. Ini sudah malam-malam begini berdiri diatas jembatan seperti ini?! kenapa kau berpikiran akan bunuh diri?!.” Suara teriakan tiba-tiba saja terdengar jelas merasuk kedalam indera pendengaran yeoja itu .Spontanitas yeoja itu menolehkan kepalanya saat dirinya tengah diteriaki oleh seseorang dari arah belakang. Orang itu berteriak keluar dari dalam mobil berwarna hitam tersebut.

Lelaki itu spontan diam mendapati sosok Yoona saat yeoja itu menoleh tepat menghadapanya. Tak kalah dengan Yoona ia merasa tak asing dengan lelaki itu. Dengan segera Yoona turun dari pagar jembatan diatas Sungai Han yang sedang ia naiki. Ia berjalan pelan mendekati lelaki itu.

“KAU!!..” pekiknya bersama-sama.

“ya!. Apa yang kau lakukan malam-malam seperti ini duduk diatas pagar jembatan sungai Han?!. Jika kau ingin mengakhiri hidupmu bukan seperti ini cara yang kau lakukan?!.” Ujar lelaki itu setengah berteriak.

“Choi Siwon-sshi.

“Yoona-ya..”

“apa yang kau lakukan disini?.”

“tidak ada!.” Jawab Yoona acuh. Sedetik kemudian Yoona memalingkan matanya, menghindari tatapan mata Siwon. Lelaki itu pasti akan menyadarinya jika dirinya kini tengah menangis.

“kau menangis?!.” Tebak lelaki itu.

“anii..” bohong Yoona. Dengan cepat Choi Siwon memalingkan wajah Yoona, menatap wanita itu lekat.

“jangan katakan kau akan bunuh diri?!! Im Yoona-sshi.

“YAK!. NEOMU MICHEOSEO?!. JIKA KAU TAK TAHU PERASAAN WANITA SEBAIKNYA PERGILAH!!.” Pekik Yoona keras. Wanita itu tak dapat membendung tangisnya kembali saat ia merasa tertangkap basah dalam keadaan menangis. Rasa-rasanya didunia ini ia sendiri, tak ada yang menemani.

Tangan Siwon bergerak cepat ia menarik pergelangan tangan Yoona secara kasar. Membawa yeoja itu entah kemana. Saat langkah kaki lelaki itu seakan menyeret Yoona untuk menuju suatu tempat.

“apa yang kau lakukan!.” Ronta Yoona menolak.

“Ikuti saja aku!. Nanti kau akan mengerti!.”

Kali ini mereka kini berada ditepi sungai Han. Siwon membawa paksa Yoona saat ia menyadari betul jika wanita itu tengah frustasi. Isakan kecil semakin terdengar saat lelaki itu melepakan pergelangan tangan Yoona secara paksa akibat Yeoja itu terlalu kerasa meronta. Orang-orang akan berpikir jika kau gila dan akan bunuh diri jika menangis diatas sungai Han.

“apa kau tak diajari sopan santun oleh orang tua anda Choi Siwon!.” bentak Yoona kembali. Kali ini lebih keras.

“bukankah kau ingin menangis?!. Jadi menangislah?!. Untuk apa kau menangis diatas jembatan. Bukankah sama diatas jembatan kau dikira orang gila jika kau akan bunuh diri?!.”

“sudah kubilang jika aku tak bunuh diri. Apa kau tak mendengarnya tuan Choi!.”

“jika kau ingin menangis. Menangislah. Tempat ini sepi. Luapkan semua tangisanmu.”

Yoona berjongkok menangis tersedu. Lelaki ini membuatnya sudah hilang batas kesabaran hingga akhirnya ia menangis dengan keras. “ kau jahat!. Kau jahat!. Apa kau tak pernah menyadari arti kehadiranku?!.” Teriak Yoona.

“kau menangisi seseorang?!. Seseorang yang berarti dalam hidupmu?!.” Kali ini Siwon menunduk mensejajarkan badannya dengan badan Yoona yang sedang berjongkok pula. Ucapan lelaki itu terkesan lembut. Ia mengusap pelan pundak yeoja itu, untuk sekedar memberinya sebuah ketenangan.

“kenapa hidup ini tak adil Choi Siwon-sshi. apakah mencintai seseorang harus sesakit ini?. berapa lama lagi aku harus menunggu lelaki itu agar ia bisa mengerti kehadiranku dalam hidupnya?!.”

“itu resiko kau mencintai seseorang Im Yoona-sshi..” jawab Siwon datar. Yoona mendongakkan kepalanya kembali dan menatap Siwon dengan air mata yang sudah mengalir.

“jika kau bilang hidupmu tak adil. Maka aku pun juga begitu. Tapi aku harus bangkit dan melupakan kenangan itu. Aku tak mau terpuruk lagi akan cinta.” Lontaran kata-kata datar dari lelaki itu seakan membuat hati Yoona semakin bergulat dengan pemikirannya. Sejenak terbesit dalam pikirannya apakah ia harus mempertahankan semuanya agar memiliki Jongwoon?.

“aku tak akan memaksamu. Jika kau mencintainya, akan lebih baik jika kau bersamanya.” Ucap lelaki itu sebelum meninggalkan Yoona yang terduduk sendiri ditepi sungai Han.

“pikirkan itu baik-baik Im Yoona-sshi.” lanjutnya kembali dengan tenang sebelum ia meninggalkan yeoja itu sendiri ditepi Sungai Han.

*****

“hari ini Hana boleh pulang. Kondisinya pun sudah stabil. Tapi ia harus sering pergi kerumah sakit agar aku bisa men-check up sejauh mana perkembangan katup jantungnya dan juga menunggu pendonor transplantasi jantung untuknya.” Ujarnya pada Yuri. sementara Yuri sedikit memaksakan senyumnya. Meski ada sedikit kelegaan dalam hati Yuri putrinya tidak terbaring dirumah sakit dan bergulat dengan alat-alat medis.

Kim Jongwoon tersenyum manis setelah menyelesaikan aktivitas memeriksa gadis kecil itu. Ia mengacak pelan rambut gadis kecil itu yang dibalas pelukan tulus dari Hana. Raut wajah pucat yang tampak dari wajah Hana sedikit memudar taatkala gadis itu tersenyum seolah-olah rasa sakit yang ia rasakan hilang sementara. Sementara Yuri mencoba memaksakan senyumnya. Meski terkesan pahit, ia tak mau terlihat sedih dihadapan putrinya itu.

“gomawo Jongwoon ahjussi. Aku menyayangi ahjussi.” Ucapnya sembari memeluk Jongwoon erat layaknya seorang anak berterima kasih pada sang ayah.

Yuri menyadari jika hingga menginjak usia 5 tahun ini Hana belum pernah sekalipun merasakan kasih sayang seorang ayah. Kakak lelakinya meninggal pada saat Hana berusia 6 bulan dan pada saat tu pula Yuri yang menginjak usia dewasa harus menjadi sosok ibu bagi Hana. Sementara kedua orang tua Yuri sudah tiada saat usianya menginjak 11 tahun. Dan saat itu pula ia hidup berdua dengan kakak lelakinya. Lee Donghae yang berubah marga menjadi Kwon Donghae.

Tapi sejak gadis kecil itu bertemu dan akrab dengan sosok Kim Jongwoon, lelaki itu mampu membuat dunia Hana berubah. Hana yang selalu merindukan kasih sayang kedua orag tuanya sedikit terobati akibat hadirnya lelaki itu dalam kehidupan Hana. Meski lelaki itu bukan siap-siapa bagi dirinya begitupun dengan Hana.

“eomma. Kenapa eomma melamun?.” Yuri masih tak bergeming menatap dua orang yang ada didepannya, seulas senyum kecil nan tulus diperuntukkan untuk keduanya saat ia bisa melihat wajah Hana tersenyum hangat kembali.

“eomma. Bukankah Jongwoon ahjussi begitu tampan?!. Apa eomma ingin memeluknya juga?!.” Lontaran perkataan Hana sukses membuat Yuri tersadar akan lamunannya, namun tana sengaja ia melontarkan kalimat pendek yang mampu membuatnya mau didepan lelaki itu.

“ne. Jongwoon ahjussi sangat tampan.”

Merasa tersadar akan omongannya, Yuri segera menarik perkataannya kembali yang membuat lelaki itu mengkerutkan keningnya aneh akibat lontaran pernyataan Yuri. ia tertawa kecil melihat tingkah Yuri yang tiba-tiba menjadi salah tingkah didepannya. Mendadak wajh Yuri bersemu merah seketika.

“ya!. Kau berbicara apa Kwon Hana!. Sudahlah, waktunya kita pulang Soojung ahjumma sudah menunggumu.” Elak Yuri. entahlah setiap kali berhadapan dengan dokter muda nan tampan itu mendadak hati Yuri menjdi tak karuan. Ia merasa ada getaran-getaran aneh dalam dirinya.

“ne, gwenchanyo Hana-ya.”

“sekali lagi dokter Kim jeongmal gamshamida atas perawatan yang telah anda berikan.” Yuri membungkukkan badan tanda berterima kasih.

“ah ne cheomaneyo. Itu sudah menjadi kewajibanku.” Sebelum Yuri benar-benar pergi meninggalkan ruangan itu dengan cepat namun terkesan pelan Jongwoon menarik pelan pergelangan tangan Yuri hingga gadis itu benar-benar membalikan badannya.

“jika kau ada waktu dan tidak keberatan. Bisakah malam ini kau meluangkan waktu sebentar untuk pergi bersama denganku. Itu pun jika kau tidak keberatan jika tidak tak apa-apa.” Jongwoon menggaruk tengkuknya pelan merasakan kegugupan saat berbicara dengan gadis itu. Ia pun tak kalah menjadi semakin salah tingkah saat berada didekat gadis itu.

“ah, ne tentu saja jika anda tak keberatan.” Ujar gadis tiu malu-malu dan setelahnya berjalan cepat meninggalkan Jongwoon dengan seulas senyum tipis penuh rasa yang berbunga-bunga.

Sementara itu tak jauh dari mereka gadis kecil bernama Hana tersebut terkekeh geli melihat kedua insan tersebut saling berpegangan tangan.

At the night…

Yuri menatap pantulan dirinya dari cermin meja rias yang kini berada didepan matanya. Ia tampak bingung harus berpenampilan seperti apa untuk bertemu dengan Jongwoon. Sementar terlihat gadis kecil cantik dan imut ikut merias diri disebelahnya. Ia memoleskan compact powder yang seharusnya tak dikonsumsi oleh anak berusia 5 tahun itu, gadis kecil itu pun tak lupa memoleskan lipgloss untuk sekedar mempercantik bibirnya.

“Hana. Apa dadamu masih sakit?.” Tanya Yuri pelan.

“ani. Eomma. Aku sudah sehat. Obat dari Jongwoon ahjussi yang sangat tampan terlalu ampuh untuk menyembuhkan sakitku.” Yuri tertawa kecil mendengar selorohan Hana yang masih asyik dengan beberapa make-up didepannya. Ia sedikit lega dan kembali berhadapan dengan cermin riasnya meski ketakutan akan kehilangan Hana karena kelainan jantung yang dideritanya masih teringat jelas didalam benak dan pikirannya.

“aku sangat cantik. Bahkan eomma ku saja kalah dan tak bisa berdandan sedkitpun.” Gumam Hana, ia meneliti pantulan dirinya sendiri dari ujung kepala hingga ujung kaki.

“ya!. Kau ini masih kecil. Kenapa sudah genit seperti itu?!. Siapa yang mengajarimu seperti ini?!.” Gerutu Yuri kesal yang membuat ia kembali terkekeh geli.

“Soojung ahjumma.” Jawab Hana singkat.

“mwo?!.”

“ya sudah eomma. Aku mau melihat kartun favorite ku. Eomma selamat bertemu dengan Jongwoon ahjussi.”

Dengan perasaan tak karuan akhirnya Yuri pun memtuskan untuk mendandani dirinya sendiri. Namun melihat hasilnya yang terlalu berlebihan saat menggunakan make up membuat ia menghapusnya kembali. merasa putus asa ia akhirnya meraih ponsel berwarna hitamnya untuk membantunya.

“yeoboseo. Jung Soojung eonni. Bisakah kau membantuku untuk merias wajah?.”

Kim Jongwoon berdiri sambil menyenderkan punggung beserta melipat kedua tangannya didada didekat jembatan. Sesekali pria itu melirik arloji yang melingkar sempurna disalah satu tangannya.  Sudah 15 menit ia menunggu yeoja bernama Kwon Yuri itu untuk bertemu dengannya.

Gyeongsangnam-do, Sepertinya menikmati Hwagae Cherry Blossoms Festival dibulan april tidak ada salahnya. Kawasan yang ditumbuhui bunga sakura ini merupakan salah satu kawasan yang banyak dikunjungi anak muda saat hati kedua anak manusia tersebut tengah dimabuk asmara.

Gadis itu melangkah pelan sambil membawa kamera ia berjalan sembar menikmat pemandangan sekitar. Sesekali tangan gadis itu tak mau berhenti mnekan tombol pada camera yang ia gunakan untuk mengambil gambar. Akhirnya ia terjhenti pada sosok didepan lelaki didepan matannya. Lelaki itu sedang mengutak-atik ponselnya untuk menghubungi seseorang. Diam-diam Yuri mengambil foto lelaki itu tanpa sepengetahuannya.

Merasa ada kilatan cahaya yang dapat ia rasakan, Jongwoon menoleh sesaat dan tersenyum kecil saat gadis itu ketahuan tengah mengambil gambarnya. Lelaki itu menyadari siapa yang kini tengah mengambil gambarnya lalu tersenyum lalu melambaikan tangannya untuk mengajak Yuri mendekat.

“jika kau ingin mengambil gambarku. Kenapa harus diam-diam?!. Kemarilah!.” Yuri tersadar jika dirinya kini tengah ketahuan. Ia merundukkan kepalanya lalu berjalan mendekati Jongwoon. Namun entah ada benda sial dari mana hingga Yuri merasakan kakinya tersandung sesuatu hingga tubuhnya oleng kedepan, tapi dengan sigap lelaki itu menerima tubuh Yuri sebelum gadis itu benar-benar terjatuh. Untuk beberapa detik mereka membeku ditempat tanpa sadar keduanya kini tengah berpelukan. Merasakan debaran-debaran aneh dalam diri mereka berdua.

“aa…mianhae.jeongmal mianhae.” Ucap Yuri menunduk. Ia tersenyum malu saat tak sengaja kembali memeluk Jongwoon. Sedangkan Jongwoon hanya tersenyum kecil menanggapinya.

“ayo kita menikmati musim semi. Kau tak mau menyiakan-nyian kedatangannmu hanya dengan berdiri mematung ditempat ini bukan?!. Kajja1.” Lelaki itu kemudian dengan cepat menggandeng tangan Yuri yang hanya dibalas dengan anggukan kecil dari gadis itu.

Mereka berdua berjalan beriringan bergandengan tangan sambil sesekali mengabadikan pemandangan indah disekitarnya. Mereka berdua tampak seperti sepasang kekasih yang tengah berbahagia.

“kau tak ingin melihat festival kembang apai dimusim semi tahun ini Yuri-sshi?.” tanya Jongwoon. Saat ini keduanya tengah duduk disebuah bangku yang terdapat disepanjang festival bunga sakura tersebut.

“sepertinya ide yang bagus dokter Kim. Ne. Kajja kita pergi ke danau terdekat disekitar sini untuk melihatnya.” Ajak Yuri. Kembali tangan Jongwoon menarik tangan Yuri. lelaki itu sepertinya tengah berbahagia hari ini. dan dengan senang hati yeoja itu menerima uluran tangannya pula.

Kini mereka berdua duduk tepat ditepi danau ditemani oleh langit malam yang cerah serta cahaya warna-warni dari kembang api tersebut. mereka bedua hanya bisa terdiam meresapi kesejukan angin yang membelai kulit dan rambut Serta suara air  yang terdengar begitu kencang dan bersahutan. Apalagi hari sudah malam menambah suasana romantis diantara mereka berdua.

“Kwon Yuri­-sshi. bisakah kau tidak memanggilku dengan panggilan se-formal dokter Kim.” Yuri mengangkat kepalanya mendengar Jongwoon berbicara dengan nada rendah dan serius. Namja itu menoleh, menatap langsung matanya.

“lalu panggilan apa yang cocok saat aku memanggil anda?.”

“panggil aku aku oppa. bukankah kita sudah berteman aku aku jauh lebih tua 5 tahun darimu?.”

“eh?.”

Jongwoon mengangguk ringan.

“ah ne..opp..pa.” ujarnya malu-malu. Seketika itu wajah Yuri kembali bersemu merah. Diselimuti rasa yang entah apa, sulit untuk ditafsirkan. Sementara mata Jongwoon masih mengamati dengn seksama wajah Yuri, menatap lekat wajah gadis itu. Tanpa sengaja tangan Jongwoon menyentuh pipi Yuri.

“apa kau memakai riasan wajah?.” Tanya jongwoon spontanitas. Yuri yang merasa dirinya diperhatikan sejauh ini hanya bisa menyembunyikan rasa malunya dengan menundukkan kepala. Ia tak kuat jika harus melihat tatapan mata Jongwoon yang seakan menjadi pesona tersendiri bagi Yuri.

“aku bahkan memakai dress untuk pertama kalinya karena kau adalah lelaki pertama yang mengajakku utnuk pergi kesuatu tempat. Selama ini kau adalah orang pertama yang dapat membuatku terkagum.” Ucap Yuri jujur. Kali ini Yuri hanya bisa tersenyum manis memandang lekat Jongwoon yang begitu tampan pula.

“lalu apa responmu terhadap kehadiranku dalam hidupmu?!.”

“aku juga tak tahu perasaan apa yang menyelimuti diriku ini. tapi saat melihatmu aku bisa merasakan kekaguman, pesona, pujian  dan terakhir kali kau memelukku untuk membuatku mersakan gejolak itu dalam diriku. Tapi aku tak mau lebih untuk berharap anda dapat mengisi hidupku. Jika menjadi teman adalah hal yang terbaik. Aku mau menjadi teman anda.”

“aku tak tahu harus memulainya dari mana Yuri-ya. Tapi aku yakin jika rasa yang kau rasakan sama persis dengan pa yang aku rasakan. Getaran-getaran itu, aku yakin dan adapt menyimpulkan jika aku tak ingin kau menjadi teman wanita bagiku. Tapi lebih dari sekedar teman. Aku yakin jika kini kau yang memeliki hatiku. Saranghae..”

Yuri membeku seketika, ia mematung diam. Bak ada hujan badai, Ia minta untuk disadarkan seketika. apakah ini mimpi jika seorang Kim Jongwoon menyatakan cinta padanya.

Tiba-tiba saja tanpa Yuri duga Jongwoon menarik tengkuk gadis itu lalu membiarkan wajah Jongwoon mendekat kearah wajahnya. Perlahan Jongwoon memejamkan matanya dan mulai mengecup lembut bibir Yuri. Hidung mereka bersentuhan, sedangkan Yuri hanya bisa membelalakkan matanya atas perlakuan yang ia dapatkan dari lelaki itu. Namun sedetik kemudian Yuri menutup matanya jantungnya berdebar-debar tak tentu arah. Ia merasakan lembutnya bibir Jongwoon menempel dibibirnya. Bibir yang semula menyentuh bibirnya kini mulai bergerak melumatnya, menghantarkan aliran listrik yang kini menjalar diseluruh tubuhnya.

Mereka terus berpagutan penuh cinta dan tak ada nafsu sedikitpun yang ada hanya sebuah jawaban dari dalam diri mereka masing-masing. Jika mereka saling mencintai.

Lagi dan lagi. Pandangan menyesakkan itu tergambar dan terpampang jelas didepan matanya. Ia menyesal menerima ajakan lelaki itu pergi bersama untuk menikmati festival musim semi. Hatinya kembli hancur saat kedua bola matanya melihat secara jelas dan gamblang kedua manusia yang ia kenal tengah berpagutan mesra.

Kaki Yoona bergetar hebat saat semua organ tubuhnya terasa kaku untuk bergerak. Dengan secara jelas ia melihat jika Kim Jongwoon kini tengah mencium seorang wanita yang ia kenal.

Apakah ia sanggup jika lelaki itu jatuh kedalam pelukan orang lain?.   

“jika kau terluka melihatnya maka jangan pernah menganggap jika kejadian itu nyata dan ada!.” Sebuah pelukan kini mendekap Yoona agar wanita itu memalingkan wajahnya. Lelaki itu menyesal telah megajak Yoona untuk pergi berdua menikmati festival musim semi yang menggembirakan. Justru lelaki bernama Siwon itu membuat Yoona untuk pertama kalinya menangis, ya meski bukan menangis karenanya tapi Siwon tahu jika kini wanita itu sedang terluka karena mencintai seseorang.

“tenangkanlah hatimu.” Lirih Siwon. ia lalu kembali mendekap Yoona kembali.

*****

“Kwon Yuri-sshi. atasan memanggilmu?.”

Seorang yang seumuran dengan Yuri berjalan mendekati yeoja itu yang masih berkonsentrasi dengan monitor yang ada didepan matanya. “ne. Sebentar lagi aku akan menemui Kwon Hyorin sajangmin. Setelah menyelesaikan file-file yang kau berikan padaku ini.”

Park Sunyoung. Gadis itu berjalan mendekati Yuri dengan membawa beberapa map rancangan design beberapa arsitektur bangunan. Ia meletakkannya tepat didepan meja Yuri. wanita itu memandang Yuri yang sunggu bekerja keras saat bekerja. “anii. CEO Im Yoona yang memanggil anda. Ia menunggumu diruangannya.” Jawab Sunyoung simple  lalu kembali duduk dimeja kerjanya.

Mendengar nama itu otak Yuri kembali mendadak kaku. Ekspresi wajahnya mendadak berubah. Ia tak apa yang ia rasakan kini. Mendengar nama itu disebut kembali rasa-rasanya pikiran tentang masa-masa itu tak akan pernah hilang dalam memory otaknya. Yuri membenci wanita itu!. Dia mencoba untuk menahan rasa sakit tiap kali melihat yeoja yang berstatus sebagai atasannya itu tertawa gembira. Seakan dengan mudahnya waita itu melupakan semua masa lalunya yang pernah Yuri saksikan.

Bisakah?. Bisakah Yuri melupakan wanita yang bernama Im Yoona itu?.

“aku heran padamu Yuri-sshi?. kenapa margamu sama dengan marga direktur utama padahal kalian tak ada hubungan sedikitpun?.” Seloroh Sunyoung bergurau. Rupanya wanita itu suka bercanda untuk menggoda seseorang.

“itu hanya kebetulan Sunyoung-sshi sunbaenim. Aku hanya mahasiswa training yang sebentar lagi akan lulus dari universitas dan bekerja. aku masih berada dalam waktu 3 bulan sebagai masa percobaanku untuk bekerja. Gomawo Sunyoung sunbaenim atas pemberitahuannya.”

Gadis itu, Kwon Yuri menghentikan langkahnya sejenak saat pandangan matanya tertuju pada sebuah pintu ruangan kerja yang ia sangat kenal. Mendadak ia terdiam mematung seketika saat kedua bola matanya menatap seksama pandangan yang kini berada tepat didepan matanya. Sekujur tubuh gadis itu mematung diam saat ia bertemu pandang dengan sesosok yeoja.

Ckrekk….

“masuklah Kwon Yuri-sshi.

Wanita itu hanya sekilas melirik Yuri, sebelum jemari lentiknya kembali berkonsentrasi dengan keyboard yang ada didepan matanya. Pandangan meremehkan dari seorang Im Yoona tergambar jelas dari raut wajah yang ditampakkannya, meskipun tak tertihat oleh orang lain. Tapi wanita itu tampaknya tidak merespon kedatangan bawahnnya tersebut.

“duduklah Kwon Yuri-sshi..” perintah Yoona dingin.

Kedua manik mata Yuri menatap lekat wanita yang kini berada didepannya. Rasanya ia ingin meluapkan emosi yang akan ia keluarkan saat ini juga. Saat wanita itu merasa tak menyadari kesalahannya sama sekali, seakan ia tak pernah berlaku padanya.

“sajangmin. Memanggilku?. Bukankah bawahan sepertiku tak seharusnya dipanggil oleh seorang direktur jika tak mempunyai masalah lalu apa masalaku hingga anda memanggilku?. Kurasa aku tak pernah berbuat yang tidak-tidak selama menjabat sebagai pegawai training  diperusahaan anda.” Ucapnya ringan, seakan Yuri meremehkan wanita itu. Kilatan mata Yuri melambangkan rasa ketidak sukaan atas hadirnya wanita itu kembali dalam hidupnya. Ia tahu jika putrinya sangat membutuhkan wanita ini dalam keadaan berbagai apaun, namun apa daya. Bagi Yuri wanita dihadapannya adalah sampah yang tak punya harga diri yang tega meninggalkan putrinya begitu saja tanpa alasan apapun hingga membuat sang kakak lelakinya jatuh dalam keputusasaan dan berujung meninggalkan dirinya sendiri.

“aku bukanlah orang yang suka bertele-tele dalam berbicara. Jadi langsung saja pada tujuan utamaku memanggilmu.” Tekan Yoona sekali lagi. Sementara Yuri hanya memandang remeh wanita itu.

“kau mengenal Kim Jongwoon?. Punya hubungan apa kau dengan lelaki itu?!.”

“bukankah itu urusan pribadi sajangmin?. Kenapa harus dibicarakan dalam kantor?. Sebaiknya saya permisi jika anda menanyai hal pribadi yang bukan untuk dikonsumsi oleh orang lain.” Ucap Yuri meremehkan. Ingin rasanya ia memberi pelajaran yang setimpal dengan apa yang telah ia lakukan pada masa lalunya.

“kau hanya perlu menjawabnya!. Aku tak butuh ocehanmu yang tidak penting itu!.”

Sepertinya Yoona sudah kehilangan batas kesabaran. Mendadak kesabarannya menjadi hilang seketika saat berhadapan dengan gadis itu. Sudah berkali-kali ia melihat Yuri selalu bermesraan didepannya dengan Jongwoon, yang membuat Yoona merasa tersakiti. Bahkan terakhir kali Yoona melihat Yuri tengah berciuman mesra ditepi danau dengan Jongwoon yang semakin membuatnya ingin menghabisi gadis itu.

“kenapa mendadak anda menjadi begiru tertarik dengan kehidupan pribadiku?. Bukankah kita tak pernah ada hubungan apa-apa?.” Yoona memberondong pertanyaan untuk Yuri namun Yuri hanya menanggapnya dengan remehan dan tertawa sinis saat Yoona sepertinya ingin emosi saat menatap wajahnya.

“bukankah anda melihatnya sendiri jika orang yang sedang dekat denganku adalah Kim Jongwoon?. Lalu apakah anda mempunyai hubungan khusus dengan Kim Jongwoon?!.”

Darah Yoona mendidih seketika melihat ia selalu mematahkan pertanyaannya dan membalasnya dengan sinis pula. Apapun akan ia lakukan asalkan ia bisa memiliki Jongwoon. Meski cara itu tergolong harus menyingkirkan seseorang.

“aku tak ingin berbicara banyak Kwon Yuri-sshi!. Jauhi Kim Jongwoon dan putuskan hubunganmu dengannya atau kau kehilangan pekerjaanmu!.” Tekan Yoona sekali lagi.

“anda mengancam saya?!. Lalu apa anda akan berpikiran jika aku takut jika aku harus kehilangan pekerjaanku!. Lalu anda ingin saya berkorban demi diri anda?!. Tidak ada dalam kamusku nona Im Yoon-sshi!.”

“kau menantangku pegawai rendahan?!.” Hardik Yoona. Mata Yoona berkilat angkuh menampakkan sisi kebencian terhadap yeoja itu.

“lepaskan Jongwoon!. Aku akan membayarmu dengan harga berapapun asal kau mengakhiri hubunganmu dengan Jongwoon!!.”

“jika aku tak mau apa respon anda. Ternyata sikapmu tak pernah berubah meski  hampir tujuh tahun berlalu. Kau hanya mementingkan perasaanmu sendiri tanpa mementingkan orang lain disekitarmu.”

PLAKKK..

Tamparan keras tepat mendart dipipi Yuri. “kau pikir aku takut atas tamparanmu ini?. jangan harap nona Im Yoona-sshi!. Ucap Yuri meremehkan.

“tcihh..anda pikir jika aku takut dengan tamparan ini?. jangan  harap aku akan takut padamu. Kupikir saat pertama kali bertemu dengamu kau adalah yeoja yang sangat baik dan tepat dipilihnya. Orang seperti anda kenapa masih diberi kebahagiaan setelah menghancurkan kehidupan seseorang dan memberikannya harapan palsu!. Aku tak tahu apa yang terjadi dengan pikiranmu, kau tak mengenalku?!. Lama sudah kita tak bertemu Im Yoona-sshi sejak peristiwa itu. Ternyata Tuhan masih memberimu kesempatan pada wanita sepertimu. Jika membunuh bisa mengembalikan keadaan seperti semula maka itu yang akan  kulakukan agar orang-orang yang telah kau sakiti masih bisa kembali dan tersenyum disampingku!.” Geram Yuri mata yeoja itu kini mulai memerah setetes air mata kini sudah mengalir dari pelupuk matanya.

“APA MAKSUDMU KWON YURI?!. APA AKU PERNAH ADA HUBUNGAN DENGANMU?!.” Gertak Yoona. Mereka berdua tengah beradu emosi atas kekalutan dalam pikiran mereka masing-masing.

“aku Kwon Yuri. apa yang harus aku takutkan?!. Bukankah kau ingin merebut Kim Jongwoon dariku?!. Aku tak akan membiarkan itu terjadi. Aku tak mau ia bernasib sama seperti lelaki yang pernah hadir dalam hidup anda 7 tahun lalu!.” Yuri berjalan begitu saja menjauhi Yoona yang masih menahan marah dan mematung seketika akibat perubahan sikap Yuri.

“ARRGHH..KAU YEOJA SIALAN KWON YURI!!.”

*****

—tbc–

sebelumnya aku mau berterima kasih banyak sm readers..

thanks to readers yang uda mau baca tulisan ini. saya tahu jika tulisan dan gaya bahasa yang saya gunakan masih amburadul baget dan jauh dari kata sempurna..maaf juga jika part ini pendek banget.

maaf jika cerita yg saya sajika n masih terkesan amburadul dan ga jelas jlunturannya. jeongmal mianhae jika feel gak dapet juga karena aku pas nulis part ini cukup singkat dan g berpikir panjang lg, karena lg bnyk banget rutinitas kegiatan yang aku lakukan didunia nyata…#abaikan. okelah aku minta maaf, jika dipart ini aku baru bisa buka konflikny dikit bgt dan bahkan g nyambung sama sekali..

baiklah itu sekilas ocehan g penting dari author sarraph pembuat ff ini…Komentarnya monggo dan kalo bisa panjang..
saya terima kritik dan sarannya selain dari blog ini..

saya mematok target 40 comment yg aku butuhin bwt cepet lanjut part ini..

kalo mau komplain dan membully saya silahkan, silahkan bully saya dgn DM di Twitter atau pesan Via Facebook..

sekian pai.pai..

see you next chapter…

Advertisements

97 thoughts on “Because It’s You (Saranghae) (Part 4)

  1. Yoonyul kenapa jadi brntm begini-_-
    Tambah seruu, disini yoong eonnie antagonis ya perannya.-. ?mudah2an dia berpaling kewonpa dehh kkk;;)
    Nextnya ditunggu loohh eonn, jangan lama2 dan happy ending^^

  2. Keren lo cerita…
    Emang bahasa a amburadul tapi masih bisa d mengerti kok maksudnya…
    Hehehehe
    Keep writing ya

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s