Revenge of Past [1]

revenge-of-past-cover

Revenge of Past

“..I’ll found you, in another dimension..”

by melslm금

Cast(s): SNSD’s Im Yoona, CN.Blue’s Lee Jonghyun

Genre: AU. Fantasy, Life-Romance || Support Cast: Find by your self || Length: Chaptered

Disclaimer: Inspired by novels, movies, and dramas.

Prolog |

—1st chapter—


Seoul-si, Gangnam-gu, BokeLim Travel.

September9, 2013.

Blouse biru tua melengkapi kaus biru laut yang dikenakan gadis itu.

Ia menyeret langkahnya menuju ruangan paling ujung sana yang bertuliskan “Presiden Director’s Room” pada papan yang tertera bebepa centi di atas pintu. Ia tersenyum, mencoba seramah mungkin tatkala beberapa pegawai tersenyum padanya.

Dari balik pandangannya, ada sepasang mata yang mengamati setiap gerak – gerik yang di lakukan si gadis. Bibirnya mengulas senyum tipis ketika gadis itu memasuki ruangan yang memang di tujunya.

“Permainan akan segera dimulai..”

§

“Ada apa ayah memanggilku?” Yoona meletakkan tasnya di tepi meja kerja ayahnya, lalu duduk di kursi yang berada di hadapan ayahnya.

“Bagaimana kuliahmu?” Ayahnya mengalihkan pertanyaan Yoona dengan balik bertanya.

Yoona mengangkat bahu nya malas. “Biasa saja.” jawabnya, dengan nada malas pula.

Ayahnya menyesap kopi hitam dari cangkir mini yang sebelumnya tertata manis di sisi meja, dan meletakkannya kembali ke tempat semula setelah selesai menyesapnya.

Anyir – anyir terasa, Yoona merasakan ada yang tidak beres di ruangan kerja ayahnya ini. Ia merasa seperti di awasi. Bulu kuduknya berdiri seketika.

“Apakah Ayah tidak merasakan keanehan disini?” suaranya memecah keheningan yang beberapa detik lalu sempat terasa.

Ayahnya hanya tersenyum menanggapi apa yang Yoona lontarkan, seperti sedang menahan tawanya. Alis Yoona mengkerut berpaut jadi satu, timbul di permukaan. Ia pikir. apakah Ayahnya sudah gila? Yoona sering melihat—tanpa sengaja—ayahnya tertawa sendiri di kamar rumahnya tatkala rumah sedang sepi.

Ayahnya meraih gagang telpon lalu meletakkannya di telinga sebelah kanannya. “Tunggu sebentar,” katanya, menjauhkan jangkauan gagang telponnya beberapa saat dan kembali meletakkannya di telinga.

“Panggil dia. Suruh kesini, ke ruanganku. Sekarang.” Ia langsung meletakkan kembali gagang telponnya begitu saja setelah selesai berbicara.

“Bicara soal kuliah. Kapan kau akan segera sidang?” Pria setengah abad itu menyilangkan jemarinya di antara jarinya yang lain.

“Jika lancar, 2 bulan ke depan mungkin aku akan segera sidang.” jawab Yoona, kini matanya yang tadi sempat menerawang sekeliling ruangan, beralih menjelajahi kuku – kuku nya yang baru saja di lapisi warna cokelat tua.

“Oh,” kini, ayahnya bangkit dari posisinya dan meraih tas selempang biru Yoona. “Berapa nilai tesmu?”

“Kau bisa melihatnya sendiri,” jawab Yoona malas, melihat sekilas ayahnya yang sudah mulai mengacak – acak isi tasnya.

Cklek.

Ayahnya menghentikan aktifitasnya mengobrak – abrik tas Yoona ketika mendengar suara pintu yang di buka. Yoona masih tak bergeming.

“Annyeong Presdir. Ada apa memanggil saya?” tanya pria yang membuka pintu tadi, dengan senyumnya.

Ayah Yoona yang di panggil sebagai presdir tersenyum hangat membalas senyuman pria itu. “Ah, ayo duduk.” Presdir mempersilahkan si pria untuk duduk di kursi yang berada di samping kiri Yoona.

Sementara pria itu duduk, Yoona masih tak berkutik dari kuku – kuku nya. Tak ada ketertarikan atau niatan untuk melirik ke pria yang kini duduk di sampingnya.

“Jadi begini, Jonghyun-ssi,” Presdir memulai bicaranya. “Ada sesuatu yang ingin ku tanyakan padamu.” lanjutnya.

Pria yang di panggil sebagai Jonghyun itu tersenyum lagi. “Apa itu, Presdir?”

“Bagaimana dengan tawaranku semalam?”

“Aku.. menerimanya.”

§

Yoona mengacak – acak rambutnya frustari, lalu dengan perasaan kesal ia menutup layar macbook nya.

Yoona merebahkan tubuhnya yang sejak tadi tengkurap mengadah macbook nya.

“Ah, bahkan aku belum mengenal pria tadi sebelumnya!” tukas Yoona, menutupi wajahnya dengan bantal.

Tiba – tiba, sekelubut bayangan tentang perkara tadi siang di kantor Ayahnya berputar lagi di memori otaknya.

.

“Yoong, ini dia, Lee Jonghyun,” Ayahnya memperkenalkan Jonghyun kepada Yoona. Yoona tersenyum masam. “Hai,” katanya.

Jonghyun mengulurkan tangannya. “Lee Jong-hyun,” katanya tersenyum.

Yoona meraih tangan Jonghyun. “Im Yoon-Ah,” Yoona balas tersenyum paksa, di detik berikutnya wajahnya datar kembali dan langsung melepas tangannya dari genggaman Jonghyun.

“Dia adalah pria yang ayah ceritakan semalam.” kata Ayahnya. Yoona terbelalak, matanya hampir meloncat keluar.

“A-apa? Jadi, dia? Calon……..suamiku?” alis Yoona mengkerut, tidak percaya.

Ayahnya mengangguk mantap.

Yoona menggeleng – gelengkan kepalanya. “Tidak – tidak. Ayah, kumohon, biarkan aku menyelesaikan sidangku terlebih dahulu,” elak Yoona.

“Pernikahan kalian akan di laksanakan lusa. jadi, bersiaplah.”

“A-apa!?”

.

Drrtt.. drtt..

tiba – tiba, ponsel Yoona bergetar. “Ah, siapa malam – malam begini menelpon,” gumam Yoona, meraih ponselnya.

Ketika ia melihat layar ponselnya, terdapat “unknown” disana. Yoona menekan tombol hijau pada ponselnya.

“Yeoboseyo?”

“Yeoboseyo, Yoona-ya,” terdengar suara seorang pria di balik sana.

“Ini siapa?” tanya Yoona.

“Aku Jonghyun. Bisa kau keluar sebentar? Aku sudah menunggumu di depan.”

Yoona bangkit dari posisinya dan keluar ke balkon untuk memastikan. Di lihatnya, Jonghyun sedang melambai – lambaikan tangannya seraya tersenyum ke arah Yoona dari bawah sana.

“Hhh..” Yoona menghela nafas panjang, lalu kembali masuk ke kamarnya dan menutup pintu balkonnya. “Tunggu sebentar.” ujar Yoona, memutus sambungan telponya dan melempar ponselnya ke ranjang.

Yoona menghela nafas dalam, sebelum akhirnya meraih jacket abu – abu nya dan meraih kembali ponselnya. Ia keluar dari kamar dengan langkah lesu. Di tengok nya jam yang bertengger di dinding sana. Masih jam 07:30.

Yoona meraih flatshoes biru lautnya dan mengenakannya sebelum akhirnya benar – benar keluar dari rumah besarnya.

“Ada apa?” tanya Yoona dengan nada malas ketika mendapati Jonghyun dan mobil sport hitamnya.

“Aku ingin mengajakmu ke coffee shop. Kau mau? Aku tidak mau mendengar penolakan.”

Yoona memutar bola matanya. “Ya, ya, ya,” gumamnya. “Aku ganti baju dulu.”

Baru satu langkah Yoona berjalan. Jonghyun menarik pergelangan tangannya. “Tidak perlu, kau tetap cantik walaupun seperti itu.”

§

“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?” Yoona menyeruput Macchiato nya dan menatap Jonghyun.

Bibir Jonghyun mengulas senyum tipis. “Tidak ada. Hanya.. ingin mendekatkan diri dengan calon istriku. Apakah tidak boleh?”

“Ah, bukannya seperti itu.. Hanya saja—” Yoona menghentikan bicaranya, ketika melihat sinar biru mengkilat dari balik tubuh Jonghyun. “A-apa itu?” tanya Yoona, takjub. Ia hampir tak percaya dengan pengelihatannya sendiri.

“Apa?” Jonghyun menoleh ke belakang tubuhnya, dan tidak ada satu orangpun yang merasakan ke anehan dari balik tubuh Jonghyun. Mereka semua—orang orang yang berada di sini—masih sibuk dan tak berkutat dari fikirannya masing – masing.

“Jonghyun? Dua?” Yoona melongo tidak percaya, melihat Jonghyun yang lain sedang keluar dari sinar yang berasal dari Jonghyun itu sendiri.

“Kau salah lihat, coba kau pejamkan matamu beberapa kali.” saran Jonghyun. Dari nada bicaranya, ia terdengar tenang. Padahal, di dalam hatinya, sedang menderu nafas tak karuan dan jantungnya pun terpompa lebih cepat.

“Tidak, aku tidak mungkin salah lihat.” kata Yoona, tak mau kalah. Perlahan – lahan, cahaya dari balik tubuh Jonghyun memudar. Menyisakan Jonghyun asli dan Jonghyun lainnya di sana.

Jonghyun lainnya melotot ke arah Yoona, membuat Yoona bergidik ketakutan. “Cepat pejamkan mata!!” tukas Jonghyun, membentak. Yoona langsung mengedipkan matanya selama beberapa kali. Dan, benar saja, Jonghyun lainnya tidak ada di sana. Hanya ada Jonghyun asli saat ini.

“Maafkan aku karna telah—”

“Aku mau pulang.” Yoona memutus perkataan Jonghyun. Nada bicaranya jadi semakin judes untuk saat ini. “Aku tidak boleh pulang lewat dari jam 9 malam.” lanjutnya.

Jonghyun tersenyum samar ketika Yoona mulai bangkit dari tempatnya. “Ini bahkan belum mencapai jam 9.” ujar Jonghyun. Yoona menghentikan langkahnya selama beberapa detik.

“Aku sudah di beri izin oleh Presdir!” tukas Jonghyun. Yoona menghentikan langkahnya, dan membalik badannya.

“Oh,” Yoona kembali duduk ke tempatnya semula. Lagipula, mana mungkin aku pulang sendirian, aku bahkan tak membawa dompetku, pikirnya.

Jonghyun tersenyum penuh arti. “Tunggu,” cergatnya. “Aku ke toilet sebentar ya,” katanya, masih dengan senyumnya lalu bangkit dari posisinya.

Yoona mengangguk dan kembali berkutik dengan Macchiato nya.

10 Menit,

Jonghyun tak kunjung kembali dari toilet. Jujur, Yoona bosan menunggu selama ini.

Ia bangkit dari posisinya, hendak menghampiri Jonghyun.

Yoona berjalan ke arah toilet. Di sebelah kiri, ada toilet Namja. Dan, di sebelah kanan, ada toilet Yeoja.

Langkah Yoona terhenti ketika melihat bayangan dari pintu gudang setengah gelap yang terbuka. Dan, suara yang familiar menggema di telinganya walaupun tidak begitu jelas.

Yoona melangkahkan kakinya mendekat.

“Bodoh. Kenapa kau keluar di saat – saat seperti tadi!?” suara Jonghyun terdengar membentak. Sedang apa Jonghyun disini? Bicara dengan siapa dia? pikir Yoona bertanya – tanya.

“Bodoh? Kau yang bodoh!” kini suara Jonghyun terdengar lagi. Bicara dengan siapa dia sebenarnya? Yoona makin penasaran. “Kenapa kau tak memberi tahuku kalau dia bisa melihatku!?”

“Sudah jelas, kau yang bodoh. Bagaimanapun juga, dia tentu saja bisa melihatmu! Dia kan bagian dari masa lalumu. Tujuanmu datang kembali ke masa modern ini.” Yoona semakin bingung dengan apa yang sebenarnya mereka bicarakan.

“Jangan bahas itu. Kita bahas lain kali. Kurasa, dia ada di luar sana.”

Yoona yang merasa dirinya sedang tertunjuk sebagai terdakwa saat ini, langsung menjauhkan telinganya dari pintu dan melangkah mejauh.

Tiba – tiba, tangan kekar itu menggenggamnya. “Apa yang kau dengar?”

..pitfall

*) Note: hwaa.. jadi-jadi-jadi.. maaf ya kalo kurang memuaskan atau kependekan u.u karna, pokok ceritanya baru bakalan muncul di part part berikutnya. Jadi, aku mohon maklumin yaa.. dan, jangan lupa tinggalkan komentar. maupun, kritik dan saran. Karna, ada kemungkinan part selanjutnya bakalan di protect, dan cuma yang sering berkomentar aja yang bakalan aku kasih pass nya hehe. jadi, semoga pada bisa menghargai karya aku yaa.. terimakasih^^

66 thoughts on “Revenge of Past [1]

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s