Reason

reason-psychoaddict

 

Reason

A Story Written By Psycho Addict (@psychoaddiction)

Main Cast: Kai EXO-K, Krystal f(x) || Genre: Fluff || Rating: PG 15 || Lenght: Vignette

.

Reason © 2013 Psycho Addict

.

“Bodoh. Seharusnya tak kau lakukan hal itu.” Perempuan itu mendesis. Masih duduk dengan kedua tangan mengepal, di samping sebuah tempat tidur berseprai biru lautan. Ia tundukkan kepalanya dalam, menyembunyikan kedua bola mata yang berkaca-kaca.

Seharian penuh Krystal tak beranjak dari ruangan itu, masih menunggui Kai yang terbaring lemah di atas tempat tidur. Tak mengindahkan perutnya yang meraung kelaparan. Dia hanya berharap lelaki jangkung itu segera membuka kelopak matanya. Tak peduli apakah ketika Kai terbangun, lelaki itu akan memakinya atau bahkan jauh-jauh mengusir ia.

Beberapa bagian tubuh Kai dililit perban, menyembunyikan luka gores dan darah yang bercucuran. Bau antiseptik memenuhi ruangan.

“Ini semua salahku. Karena aku, kau jadi seperti ini. Karena aku.” Menggerutu kembali.

Ya. Bahkan Krystal tak dapat membohongi dirinya sendiri bahwa ia tengah bersedih atas Kai. Bersedih atas berandalan sekolah yang diagung-agungkan perempuan lantaran tampan rupanya dan punya skor pelanggaran tinggi.

Padahal, sejatinya Krystal membenci siapapun yang tak disiplin. Siapapun yang meremehkan peraturan. Tapi kali ini, ah, dia bahkan tak yakin rela menanti Kai sadarkan diri hanya berdasarkan rasa bersalahnya.

Mianhae. Mianhae.” Kali ini suara perempuan itu begitu lirih, dan getarannya hanya mampu menabuh gendang telinganya sendiri.

Krystal masih menggigit bibir bawahnya, menatap cemas gurat wajah Kai yang sempurna. Mengucap doa seperti mantra. Jemarinya diam-diam merangkak ke atas kasur, menyentuh tangan Kai yang lemah. Menelusupkan jari-jarinya ke setiap sela jari-jari tangan dingin lelaki itu, menggenggamnya erat.

“Sadarlah.. Jebal..”

Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Empat detik. Lima detik. Tak ada yang terjadi.

Krystal mengembuskan napas. Habislah ia bila seluruh sekolah tahu bahwa dialah penyebab Kai menjadi seperti ini. Tetapi kekhawatiran itu seketika sirna kala pada detik berikutnya, tangan Kai yang dingin meremas jemari Krystal. Kali ini tangan lelaki itu justru terasa hangat, membuat perempuan tersebut tersentak.

“Aku sudah sadar, cengeng,” ucap Kai dengan suara parau. Seperti ada bongkahan kerikil yang tersangkut di lerung tenggorokannya.

Terkejut. Cepat-cepat Krystal melepas genggaman tangannya dan bangkit dari kursi. Sayangnya, Krystal yang tengah gugup tak mampu menjaga keseimbangan tubuhnya. Hampir saja ia ambruk di atas lantai kalau saja Kai tak sigap menahan tubuh perempuan itu dengan tangan yang masih cukup lemah.

Krystal jatuh di atas tubuh Kai. Wajahnya terpaut beberapa centi dari paras keras Kai yang menatapnya dengan pupil membesar. Kaget.

Beberapa kali menerjapkan mata, cepat-cepat Krystal bangun dan berdiri tegap. Menunduk, hanya kuasa menatap motif pada keramik yang tengah ia pijak. Kali ini menyembunyikan semburat merah di kedua pipi putihnya.

M-mian,” kata perempuan itu tergugu. Jantungnya berdetak lebih kencang, terutama ketika mengetahui bahwa Kai tak sedikit pun melepaskan pandangan darinya. Seperti ada magnet di dalam tubuhnya.

“Tak aku maafkan,” balas Kai datar, menatap langit-langit sebuah kamar serba putih di salah satu rumah sakit besar. Krystal mendongakkan kepala.

“Karena kau tadi mengataiku ‘bodoh’, Nona Jung,” membuat perempuan yang tengah berdiri di dekat ranjangnya kembali terperanjat bukan main.

Kedua pupil Krystal membulat, “M-mwoya? J-jadi kau sudah sadar sedari tadi?” perempuan itu memalingkan wajahnya. Rasa-rasanya detik singkat ketika tubuh rampingnya ambruk menimpa Kai tadi masih berkelit di otaknya. Dan entah apalah ini, tapi menatap Kai membuatnya merasa berantakan. Membuat segala di tubuhnya bekerja tak karuan.

“K-kau memang bodoh. Seharusnya tak kau selamatkan aku dari mobil yang melaju kencang tempo hari!”

Krystal melanjutkan, “Apa yang sebenarnya kau pikirkan? Seminggu lagi kau ada pertandingan basket, dan sekarang kakimu patah!” bentakan Krystal barusan memenuhi setiap sudut ruangan. Tiba-tiba ada sesuatu yang menyengat matanya, membuat ujung-ujung matanya basah entah karena apa. Kai yang sebelumnya tak menyangka atas volume tinggi Krystal, kali ini menyunggingkan senyum menawannya.

Puk.

Kembali membeku ketika Kai mengacak rambut hitam eboninya, “Kau mengkhawatirkanku ya?”

Menepis tangan Kai, perempuan bermarga Jung itu menjawab cepat, “A-apa maksudmu? A-aku hanya merasa bersalah. Itu saja!” Namun nada bicaranya yang semakin tinggi membongkar rasa gugup yang berusaha disembunyikan Krystal.

Hening sejenak. Gradasi cahaya yang diciptakan lembayung senja menerpa wajah Kai, menerobos kaca yang gordennya terbuka. Raut wajah lelaki itu berubah sedikit sendu, dan Krystal menyadari hal itu.

Krystal meremas rok seragam sekolahnya yang bermotif kotak-kotak, menggigit bibir bawahnya. Lagi. “Um, ma-maaf. Aku tak bermaksud membentak.” Lirih. Kembali merasa bersalah.

Merupakan hal janggal bila seorang Krystal Jung berulangkali tak yakin atas apa yang telah ia ucapkan. Mengingat dia adalah pendebat ulung dalam dua bahasa. Juga otak cerdasnya yang seakan mengalirkan berbagai pertanyaan dalam kepala. Tetapi apa yang saat ini tengah dia rasa, sama sekali tak terpikir logika. Tak rasional—katanya.

Kai menatap Krystal dengan bola mata teduhnya, “Asalkan Krystal yang menjadi penyebab, kakiku patah dan tak bisa mengikuti final pun, tak jadi masalah.”

Meneguk ludah, sejujurnya perempuan itu tak sungguh yakin atas apa yang didengarnya. Ragu antara ada yang salah dengan Kai, atau pendengarannya yang sedikit tak beres. Akhirnya Krystal memutuskan untuk berucap, “Err, sudah ya. Sebaiknya kau istirahat lagi. A-aku mau pulang.”

Krystal berniat bergegas keluar dari ruangan itu sebelum wajahnya kembali memerah dan peluhnya berjatuhan semakin banyak. Namun ketika perempuan itu baru saja membalikkan badan dan hendak melangkah, lima jari Kai tak kalah cepat mencengkram pergelangan tangan Krystal. Erat.

Sial. Krystal terkesiap.

“Mengapa kau selalu menghindar Krystal-ah?” tanya Kai lembut. Darah Krystal berdesir, ia telan salivanya lagi.

“Meng-menghindar?” Dentum jantung Krystal berangsur lebih cepat.

Kai melanjutkan dengan pelan setelah membiarkan beberapa detik diisi keheningan, walau suaranya masih teramat serak, “Mengapa kau selalu menganggapku tak ada?” kini pertama kalinya-lah kedua iris pekat Kai bercahaya.

Ah, kau salah, Kai. Salah besar!

Faktanya, Krystal tak jarang—bahkan sering—mencuri pandang ke arahmu. Menangkap tawa dan pandang teduhmu tanpa mengetahui atas dasar apa dia melakukannya. Tanpa mengindahkan perasaan bahwa ia tak menyukai tipikal sepertimu, berandal yang berbuat seenaknya.

“A-apa yang k-kau bicarakan?” Bahkan semenjak Kai menggenggam tangannya, Krystal tak sedikit pun menoleh ke belakang, atau bahkan meliriknya. Dia terlalu takut untuk itu. Takut jika keringatnya terlalu banyak untuk diseka, takut jika kakinya gemetar, takut jika seluruh bagian tubuhnya semakin tak karuan.

“Kau tahu mengapa aku mengorbankan ini untukmu? Mengapa aku selalu disekelilingmu bahkan walau tak kau sadari itu?”

Mematung. Potongan-potongan memori itu mendadak muncul bersamaan, menuding jidat Krystal. Potongan ingatan yang berkelebat di otaknya secara tiba-tiba.

Ketika Kai bersikeras dan berdebat dengan BP bahwa Krystal tak bersalah atas Mikroskop Lab.Biologi yang pecah. Ketika Kai beradu argumen dengan satpam sehingga Krystal yang saat itu terlambat dapat masuk sekolah. Ketika Kai mendepak preman yang menggoda Krystal di jalan. Dan lain sebagainya. Dan lain sebagainya.

Ah ya, juga tempo hari yang lalu. Saat sebuah mobil melaju kencang sementara Krystal sedang menyeberang jalan, Kai cekatan mendorong tubuh perempuan itu untuk menepi dari tengah jalan, merelakan diri menjadi korban tabrak lari.

Tiba-tiba, setetes air mata jatuh dari ujung mata Krystal. Ah, betapa kolotnya ia baru menyadari hal itu.

“Mengapa aku melakukan semua itu—“ sedikit menggantungkan ucapannya, “—Krystal?”

Meluruskan kepala, merasakan sesuatu yang merambat cepat melalui jemari Kai kala lelaki itu menyebut namanya dengan fasih. Seperti jutaan volt listrik tengah menyengat.

Srek.

Kai menarik tangan Krystal, sehingga tubuh sintal perempuan itu kembali jatuh di atas tubuhnya, menindihnya. Kali ini nyaris tak ada jarak antara paras keduanya, kecuali ujung hidung mereka yang hampir menyatu. Kai dapat merasakan napas Krystal yang memburu, juga jantung perempuan itu yang kencang berpacu.

Ditatapnya kedua bola mata Krystal yang membulat cukup lama, sungguh menghipnotisnya—Krystal—untuk tak sedikit pun bergeming. Melumpuhkan syaraf dan logika. Seperti seluruh tubuhnya terkunci di posisi yang sama.

“Jangan bergerak.”

Kedua tangan Kai memegangi kepala Krystal. Entah pada detik ke berapa ketika Kai tiba-tiba mendaratkan bibirnya di bibir marun Krystal, menjilat, menggigit, melumat. Dan saat itu pula tubuh Krystal laksana disambar guntur yang menggelegar. Sebuah perasaan yang selama 18 tahun ia menjalani hidup belum pernah sekali pun ia rasakan.

Kecuali dengan Kai. Ya. Hanya dengan Kai.

Kai memejamkan kedua matanya, menikmati bibir Krystal yang—menurutnya—laksana morfin yang tingkat adiksinya lebih kuat berjuta kali. Tak mau tahu atas kedua pipi Krystal yang semburatnya sudah menyerupai kepiting rebus. Tak peduli bahwa dentuman jantung Krystal yang terlalu kencang nyaris meloncat keluar.

“Umm,” Krystal mendesah.

Beberapa menit kemudian, Kai melepas cumbuannya. Membiarkan Krystal dan dirinya mengambil napas untuk mengisi paru-parunya. Ditatapnya perempuan itu dalam, mengarahkan kepala Krystal untuk tak beralih pandang.

“Karena aku mencintaimu, Jung Krystal.”

Deg.

Kendati ada sesuatu dalam dirinya yang ingin membuncah keluar, tetap saja waktu seolah berhenti. Segala di dunia terasa bergerak jauh lebih lambat dari biasanya. Udara berembus, menelusup ke ruangan yang hanya dihuni mereka berdua, menebar aroma pandan yang entah dari mana asalnya. Lantas, kala Kai kembali melumar bibirnya, akal sehat Krystal seketika sirna.

Reason © 2013 Psycho Addict

22 thoughts on “Reason

  1. Sebenernya pengen baca FF ini dari beberapa waktu yang lalu sih, tapi baru kesampean sekarang ><
    Ini pertama kali aku baca fic Kai-Krystal, dan aku dapet banget feelnya lho! Sebenernya sudah lama ngga baca cerita school-life (meski disini ngga terlalu nekanin sih), tapi ini bagus kok!
    Meski menurutku ceritanya biasa aja, tapi dengan diksi-diksi kamu, cerita ini rasanya lebih 'hidup' dan ngga ngebosenin untuk dibaca sampe selesai.
    Keep writing deh ya, semangat! \=D/

    • Halo Kaak~ Iya, aku pun juga rada jarang baca FF sekarang u,u

      Ini juga pertama kali nulis Kaistal karena bingung milih cast XD Woah, iyakah? Ini fanfic eksperimen sebenernya, pertama bikin fluff XD

      Iyap, makasih kak udah baca dna komen. Keep writing juga` ^^~

    • Halo Kaak~ Iya, aku pun juga rada jarang baca FF sekarang u,u

      Ini juga pertama kali nulis Kaistal karena bingung milih cast XD Woah, iyakah? Ini fanfic eksperimen sebenernya, pertama bikin fluff XD

      Iyap, makasih kak udah baca dna komen. Keep writing juga` ^^~

    • Err, PG17 itu untuk adegan yang lebih eksplisit, sedangkan di FF ini tidak terlalu menekankan kiss scene-nya, dan itu pun tidak ditulis sangat gamblang. Jadi masih masuk rate T atau PG 15

      Terimakasih sudah baca dan komen, terimakasih atas sarannya juga anyway 🙂

  2. MELTING ><

    Sumpah deh melting bgt bca ff ini plus terharu sihh XD ceritany remajaaa bnget,trus gy bahasanya bgus#thumbsup
    GOOD FF THOR,I LOVE YOU~
    #–''

Leave a Reply to Jung Soojung Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s