[ONESHOT] Love Can Wait

collage - love can wait

Title                 : Love Can Wait

Cast                  : Lee Sekyung (OC), Kris Wu, Yoo Jiae, Park Chanyeol, Lee Seyoung (OC), Kim Jiyoung (OC), Lee Kwangsoo, Park Dongwook.

Rating             : PG 15

Length            : Oneshot

Genre              : Romance, Family, Friends, Sad

=================================================================================

Langit di kota Seoul mulai berubah menjadi gelap. Awan-awan putih yang biasa bertengger diatas langit pun ikut menjauh dari atas kota Seoul. Sang angin pun tak mau kalah mengisi cuaca saat itu. Dengan hembusan yang sedikit kencang, angin itu membuat rambut seorang gadis berkibar dan membuatnya berantakan. Rambut coklat panjang milik gadis bernama Lee Sekyung itu pun menjadi sedikit terlihat tidak tertata, karena angin nakal itu. Dengan cepat gadis itu merapikan rambutnya menggunakan jari-jarinya.

Langit benar-benar tidak bersahabat saat ini. Hujan pun akhirnya turun. Bau khas dari hujan pun terhirup oleh Sekyung. Dengan kakinya yang panjang, ia pun berlari menuju sebuah ruko buah yang sudah tutup. Rambut dan seragamnya pun basah, walau belum membasahi sepenuhnya. Dengan kesal Sekyung menyandarkan badannya pada pintu ruko itu. Meletakan tas ranselnya ditanah, dan mulai menyisir rambutnya yang basah itu dengan jari-jarinya.

Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit. Ternyata hujan tak kunjung berhenti. Dan Sekyung memastikan jika hujan ini akan berlangsung lama. Masih dengan keadaan menunggu hujan, seorang pria berkaus putih tiba-tiba berlari kearahnya. Dengan keadaan yang sama basahnya dengan Sekyung. Mata Sekyung benar-benar tak lepas dari sosok pria berkaus putih itu. Pria itu menyapu rambut colkatnya yang basah itu dengan jarinya kearah belakang. Kini wajahnya terlihat dengan jelas. Badannya tinggi, kulit putihnya, hidung mancungnya, bibir tipisnya, dan rahangnya yang sempurna begitu membuat Sekyung terpaku menatapnya.

Tiba-tiba saja pria itu menolehkan wajahnya kearah Sekyung. Sontak membuat Sekyung terkejut, dirinya pun mengalihkan pandangannya kearah lain. Namun pria itu malah menyerngitkan keningnya bingung. Namun dia tak memperdulikannya. Kemudian pria itu mengambil ponsel dari saku kanannya. Dengan lihai menyentuh ponselnya, menghubungi seseorang.

“Hyung diamana? ~ entahlah, aku tak tau ini dimana. ~ ya, tadi aku terkena hujan! ~ sebentar akan ku tanyakan aku dimana ~” suara berat milik pria itu pun terhenti.  Pria itu memandang kearah Sekyung yang sudah tak memandang dirinya.

“permisi, maaf ini diraerah mana ya?”

Mendengar suara seorang berat milik orang disebelahnya, Sekyung pun menoleh kearah pria itu. Dia menunjuk dirinya, memastikan pria itu bertanya pada dirinya. Pria itu mengangguk pelan. “ah.. ini di Yangcheon-gu” jawab Sekyung lembut.

“aku di Yangcheon-gu ~ baiklah, cepat! Aku tak suka mennunggu!~” ujar pria itu pada lawan bicara diponselnya. “terima kasih” lanjutnya kearah Sekyung. Sekyung pun hanya tersenyum ramah, namun pria itu sama sekali tak membalas senyumnya. Sombong sekali! Batin Sekyung kesal.

Kali ini pria berkaus putih itu, kembali menatap Sekyung. Merasa risih dengan tatapan pria itu Sekyung memberanikan diri bertanya pada pria itu. “maaf, ada apa?”

“kau salah seorang siswi dari Seoul International High School bukan?”

Sekyung menyerngitkan keningnya bingung, “dari mana kau tahu?”

Pria itu tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya. Merasa bingung akan sikap pria ini, Sekyung semakin menyerngitkan keningnnya. Ada yang salah bukan? Mengapa dia harus tertawa? Batin Sekyung. “kau ini lupa atau apa? Bukankah dirimu memakai seragam dari sekolah itu?” lontar pria itu membuat Sekyung melihat pakaian yang dikenakan. Dan betapa malu dirinya saat melihat apa yang dia pakai. Bagaimana aku bisa bertanya hal itu! Astaga Sekyung-a!

Sekyung tersenyum samar-samar, menggaruk kepalanya yang sama sekali tak terasa gatal. Malu. Ya, dirinya merasa malu dan kikuk. Baru saja dirinya hendak membalas perkataan pria itu. Sebuah mobil Ferrari merah berhenti tepat didepan mereka. Jendela mobil itu terbuka, menampilkan sosok pria berkemeja merah dan berjas hitam, serta dasi hitamnya yang mengiasi kerah kemeja miliknya itu. Sekyung yang pertama kali menatap kearah mobil itu, lalu diikuti dengan pria disebelahnya itu.

“Kris!! Cepatlah masuk.” Teriak pria berjas itu dari dalam mobilnya.

Sekyung melirik kearah pria disebelahnya itu, dan ternyata memang pria itu yang dipanggil oleh pria lainnya didalam mobil itu. Dengan cepat pria berkaus putih ini melangkahkan kakinya, masuk kedalam mobil. Tanpa kata-kata lain, mobil itu pun melesat dengan cepat menghilang dari pandangan Sekyung.

Sekyung’s POV

Aku memandang Ferrari itu menjauh dari tempatku berdiri. Setelah mobil merah itu menghilang diujung jalan. Aku pun kembali menatap langit yang tak kunjung mereda. Langit sudah mulai gelap, dan aku benci itu. Aku pun memutuskan untuk mengambil langkah, kembali kerumah walau memang hujan masih sedikit deras. Lebih baik seperti ini, dari pada aku harus menunggu hingaa malam menjelang.

Saat langit benar-benar gelap, aku pun baru saja tiba didepan rumahku. Tersenyum memandang jendela kamarku yang berada dilantai dua. Sudah tak sabar ingin membersihkan badanku ini, dan merebahkannya diatas kasur empuk yang nyaman. Baru saja diriku hendak membuka pintu rumahku, lagi-lagi ku dengar teriakan itu. Ragu. Aku ragu untuk melanjutkan langkahku disaat seperti ini. Tidak, kau kuat Sekyung! Tak akan terjadi hal aneh, ya tak akan.

Dengan perlahan kubuka knop pintu rumahku. Masuk dan melepas sepatuku menggantinya dengan sandal rumah yang biasaku pakai. Suara teriakan seorang wanita dan pria masih terdegar ditelingaku. Adu argumen yang semakin kuat, semakin membuatku mempercepat langkah kakiku. Dan kudapatkan kedua orang tuaku berhadapan dengan air muka yang memanas. Aku tahu, mereka lagi-lagi bertengkar.

“hei kalian, bisakah tak berteriak?” tanyaku memberanikan diri.

Seketika mereka terdiam mendengarku berkata seperti itu. Namun percuma kurasa. Wanita yang tak lain adalah ibuku malah menatapku dengan tatapan mengancamnya. Aku hanya menundukan kepalaku dan menghela nafasku. Aku teringat Seyoung, adikku. Mataku pun menyapu seluruh ruang tamu tempat kedua orang tuaku bertengkar. Tak ada, dia tak ada disana. Dengan berat kutinggalkan mereka, dan melangkahkan kakiku menuju lantai dua ruamahku.

Baru saja kakiku menginjak anak tangga terakhir, kudapati adikku terduduk lemas sambil menutup telinganya didepan kamarku. Dengan cepatku raih tangannya mengajaknya masuk kedalam kamarku. Aku tahu, dia tak tahan pada semua ini.  Siapa yang akan tahan dengan keadaan seperti ini, dan ini bukan yang pertama atau yang kedua. Aku, aku hanya seorang gadis SMA yang masih harus meneruskan pendidikannya setahun lagi. Adikku, dia hanya seorang gadis SMP lugu. Aku –tidak, kami benar-benar akan gila jika harus menghadapi hal seperti ini berkali-kali.

“Seyoung-a, kau kenapa?” tanyaku lembut sambil mendudukannya diatas kasurku.

Dia menatapku nanar. Air matanya terjatuh satu persatu. Aku tau rasanya, dan sangat sangat mengerti. Aku tersenyum lemas melihat adikku yang sama sekali tak menjawab pertanyaanku. Mengelus rambutnya perlahan. “kau ingin tidur denganku malam ini?”

Dia mengangguk. Aku tersenyum. “rebahkan badanmu saja duluan. Aku kan membersihkan badanku dulu.” Dia menurut begitu saja. Tanpa jawaban, tanpa anggukkan atau pun gelengan dirinya merebahkan badannya diatas kasur empukku.

Aku pun bergegas menuju kamar mandiku untuk membersihkan diriku. Kunyalakan shower, dan perlahan melepas seragamku yang sudah basah ini. Akhirnya aku pun berdiri tepat dibawah kucuran air, yang keluar dari shower tersebut. Membiarkan setiap tetes air mengalir diatas rambut dan badanku. Kupejamkan kedua mataku, meraskan dinginnya air saat ini menembus kedalam dagingku. Perlahan air mataku menetes bercampur dengan mengalirnya air shower ini. Isakku pecah. Menangisi keadaanku saat ini dibawah kucuran air seperti ini adalah hal yang sangat kusukai. Tak perduli berapa lama aku harus berada dibawah air ini, yang terpenting perasaanku akan menjadi lebih baik setelah ini.

Author’s POV

Seorang pria bernama Kris berjalan disebuah koridor bersama dengan seorang guru. Dia mengikuti langkah guru itu dengan santai. Sampai akhirnya dirinya berhenti disebuah ruangan yang tak lain ruangan yang akan menjadi kelasnya nanti. Guru itu mengetuk pintuk itu pelan, dan melangkahkan kakinya masuk. Terdengar dari luar jika kelas itu sedikit ramai, namun saat guru itu masuk suasana berubah.

Panggil saja guru ini, guru Kim. Dia menatap para siswanya dengan tatapan tajam. Membuat semua siswa terdiam seketika. “hari ini saya akan memperkenalkan siswa pindahan dari China.” Jelas guru Kim kepada siswa-siswinya.

“masuklah.”

Kris pun masuk kedalam ruangan kelasnya itu dengan santai. Terlihat sedikit cuek. Baru saja dirinya beberapa langkah berjalan, seluruh ruangan khususnya para siswi berbisik-bisik melihatnya.

“hei lihat, dia tampan.”

“ya benar dia sangat tampan.”

“aku suka padanya.”

“dia sasaranku berikutnya.”

Kris yang sedikit mendengar ocehan itu memutar bola matanya kesal. Akhirnya dia berdiri didepan kelas. Disaat itu juga, seorang gadis yang duduk didekat jendela terbelalak melihat kearah Kris. Kris yang sadar hanya meliriknya sekilas. Ya, itu Sekyung.

“perkenalkan, nama saya Kris. Kris Wu.” Ujar Kris santai.

Lagi-lagi para siswi dikelas itu berbisik-bisik sambil tersenyum manja. Tapi tidak dengan Sekyung. Dia terkejut. Bagaimana bisa? Bukankah ini lucu? Batinnya bingung. “baiklah Kris, kau duduk di.. Nah, Sekyung-ssi bukankah disampingmu itu kosong? Ya, kau duduk disitu.” Lontar guru Kim yang semakin membuat Sekyung sedikit menahan nafasnya.

Dengan cepat Kris berjalan menuju kursinya. Dia duduk sambil melirik Sekyung sekilas, yang terus memandangnya dengan tatapan aneh. Merasa kesal Kris ingin menanyakannya, namun terlambat. Sekyung terlebih dahulu sudah bertanya.

“kau.. Yang kemarin bukan?”

Mendengar pertanyaannya, Kris hanya menatapnya lalu menganggukan kepala. Dan kembali memandang guru Kim yang sedang ada didepan. Seluru siswi diruangan itu begitu ramai. Mereka sedikit kesal saat mendengar guru Kim, menyuruh pria idaman mereka itu duduk bersama dengan Sekyung.

“sudah bicaranya? Bisa dilanjutkan pelajarannya?” Bentak guru Kim kesal melihat sikap siswi-siswinya. Dan seketika semua menjadi diam, kembali memandang kedepan. Pelajaran pun dimulai.

Ditempat lain, tepatnya dirumah Sekyung. Pria bernama Lee Kwangsoo memandang istrinya yang bernama Kim Jiyoung itu dengan tajam. Begitu juga sebaliknya. Mereka memang tak akan pernah bisa akur satu sama lain. Semenjak setahun terakhir ini, mereka selalu bertengkar. Dan Jiyoung selalu memintanya untuk meninggalkan dirinya. Tapi Kwangsoo tak pernah mau.

Sampai suatu hari, Kwangsoo sadar kenapa Jiyoung selalu memintanya pergi dari hidupnya. Tak pernah dirinya sadari bahwa wanita yang selama ini ia cintai, mendadak memiliki kekasih lain dibelakang dirinya. Kwangsoo muak dengan sikap Jiyoung, yang seakan tak terjadi apa-apa. Padahal sudah dengan jelas, Kwangsoo memergokinya jalan bergandengan tangan dengan pria tinggi berparas tampan itu.

“jadi kau masih ingin mengelak?” Bentak Kwangsoo kesal.

“cih.. sudahku katakan, aku tak pernah melakukan hal itu.” Suara Jiyoung tak kalah tinggi dengan suaminya itu.

Kwangsoo memijat-mijat keningnya yang sedikit terasa sakit. Dipandangnya wanita itu dengan tatapan nanar. Namun, percuma. Jiyoung malah berdecak dan membuang mukanya. Ketika itu juga, Kwangsoo mengambil sebuah benda dari saku belakangnya.

“apa alasanmu menyuruhku pergi dari hidupmu?”

Jiyoung memandang Kwangsoo, ekspresinya sedikit terkejut saat pria itu bertanya seperti itu. Tapi dengan tenang dirinya menjawab, “karna aku sudah tak nyaman denganmu. Sudahlah, aku bisa menjaga Sekyung dan Seyoung tanpa bantuanmu.”

Mendengar jawabannya itu, Kwangsoo melemparkan sebuah benda yang dipegangnya itu didepan wajah Jiyoung. Selembar foto menampilkan sosok wanita yang sedang bergandengan dengan seorang pria tinggi, dan raut wajah terlihat ceria. Seketika itu juga mata Jiyoung terbelalak kaget melihat apa yang didepan matanya saat itu.

“jadi benar itu alasanmu? Bukankah alasannya ini? Jiyoung-ssi, aku muak denganmu. Selama ini kita bersama sudah belasan tahun, namun kau buang semuanya dengan mudah seperti sampah. Jika ini yang kau mau, silahkan. Aku tak akan mengganggumu dan dirinya. Jaga anak-anak untukku. Dan satu lagi, kau akan menyesal melakukan hal ini.” Jelas Kwangsoo panjang dan tegas. Dan dengan langkah cepat, dirinya melangkah menuju kamarnya. Mengambil kopernya, memasukan pakaian serta barang-barang miliknya. Dan langsung meninggalkan rumah itu, meninggalkan dua tanggung jawabnya, dan meninggalkan wanita yang masih ia cintai. Dirinya sadar semua hanya akan sia-sia jika dipertahankan.

Jiyoung yang melihat suaminya itu melangkahkan kakinya keluar, melewati dirinya tanpa mengatakan apa pun. Bukannya merasa bersalah, Jiyoung malah tersenyum tipis dan segera mengambil ponselnya menghubungi seseorang.

Kris’s POV

Aku melangkahkan kakiku menuju parkiran sekolah ini. Melihat mobil Ferrari putih milikku, dan segera menaikinya. Cukup lelah hari ini. Aku bermain basket dengan, entah siapa aku tak kenal. Yang pasti permainan mereka cukup baik, dan itu membuatku senang.

Aku menggas mobilku menuju gerbang parkir. Kunyalakan GPS yang berada di dashboard mobilku ini. Dengan cepat layar itu menunjukan arah kembali menuju rumahku. Aku memang belum dapat menghafal jalan didaerah sini. Ya, karena aku pindahan dari China. Sudah lama sekali aku tak mengunjungi Korea.

Dari dalam mobil, mataku tiba-tiba tertuju pada seorang gadis memakai seragam yang sama dengan ku, berjalan kaki bersama salah satu temannya. Entah kenapa, aku sudah bisa tahu jika gadis itu adalah Sekyung.

“bukankah lebih baik memberinya tumpangan?” Tanyaku pada diriku sendiri.

Mobilku pun kini sudah berhenti tepan disamping Sekyung, yang sedang berjalan dengan temannya itu. Aku melihat wajahnya menatap mobilku dengan bingung. Lucu. Akhirnya kubuka jendela mobilku dan memanggilnya.

“Sekyung-ssi!”

Gadis itu terbelalak saat melihat diriku yang ada dikursi mengemudi. Sedangkan temannya tersenyum malu-malu dan menyenggol sedikit tubuh Sekyung. “aku? Kau memanggilku?” Tanya Sekyung dengan wajahnya yang lucu.

Rasanya aku ingin tertawa, namun aku berusaha menahan melihat ekspresinya. “ya, kau. Masuklah. Dan siapa temanmu itu?”

“Jiae. Yoo Jiae namaku.” Jawab gadis disebelah Sekyung dengan cepat. Aku tersenyum saat melihat gadis itu menjawab dengan cepat. Mereka berdua terlihat lucu jika dipandang dari dalam sini.

“ya! Jiae-sii. Kau ini, diam dulu. Eng.. Kris-ssi, terima kasih tapi sebaiknya aku pulang sendiri saja. Aku bersama Jiae, tak mungkin bisa naik dimobilmu itu.” Lontar Sekyung membuatku sedikit tersadar. Iya juga, kursi didalam mobil sport ini hanya ada dua.

Belum sempat aku memberi tanggapan atas pernyataan Sekyung, tiba-tiba ada seorang pria dengan motor Ninja hitamnya berhenti tepat didepan mobilku. Dia melepas helmnya, dan terlihat itu adalah salah satu teman sekelasku. Yang aku belum tahu siapa namanya.

“Jiae-ssi, kau mau kemana?” Panggil pria itu kepada gadis disebelah Sekyung.

Ekspresi gadis itu terlihat lebih ceria, namun sedikit malu. Pipinya yang putih sedikit terlihat buratan merah merona karena malu. “a-a-aku mau kerumah.. Sekyung.” Jawabnya terbata-bata. Pria itu tersenyum. “Sekyung-ssi, bisakah aku mengantarnya kerumahmu?” Lanjut pria itu kepada Sekyung.

“baiklah terserah kau saja.” Setelah Sekyung menjawab seperti itu, Jiae tersenyum dan berjalan kearah pria didepan mobilku ini. Dia pun naik dan melitas pergi meninggalkanku dan Sekyung. Kembali kutatap Sekyung untuk mengajaknya bersama. “bagaimana? Kau mau tidak?”

Dia pun mengangguk pelan. Aku tersenyum melihatnya menerima ajakanku. Akhirnya untuk pertama kalinya semenjak aku di Seoul, dan saat aku menyetir mobil, seorang gadis duduk menemaniku.

Keadaan didalam mobilku sedikit canggung. Akhirnya, aku mencoba memulai pembicaraan, “eng.. pria yang bersama Jiae-ssi itu siapa?” Sekyung menoleh kepadaku, lalu kembali meluruskan kepalanya melihat kearah jalan. “dia Park Chanyeol. Teman sekelas kita juga. Kau tak tahu?”

“oh, tidak. Aku tahu dia teman sekelas kita. Hanya aku tak tahu namanya. Kau tahu, aku siswa pindahan.”

Sekyung mengangguk-angguk kecil mendengar penjelasanku. Hanya begini sajakah percakapan yang tadi kucoba memulainya? Seharusnya dia sedikit bawel, mengetahui diriku terlalu pendiam seperti ini. Aku pun tak tahu harus bertanya apa padanya. Akhirnya aku memutuskan diam saja, dan mengikuti arah jalan yang diberi tahu oleh Sekyung. Perjalanan begitu lama menurutku, karena kecanggungan ini.

Author’s POV

Sekyung menatap jendela kamarnya, menanti seseorang yang seharusnya sudah tiba dirumahnya sejak tadi. Ya, sejak tadi dirinya menanti ayahnya. Sekyung belum tahu, jika Kwangsoo sudah meninggalkan mereka sejak siang tadi. Pintu kamar Sekyung terbuka, didapatinya Seyoung masuk dengan membawa gulingnya.

“ada apa Seyoung?”

“bolehkah aku tidur disini lagi eonni?”

Sekyung mengangguk pelan dan tersenyum pada adiknya. Seyoung pun langsung menempatkan dirinya diatas kasur empuk milik kakaknya itu. Matanya terus memandang kakaknya yang masih menatap jendela menanti sesuatu.

“eonni.. Ayah hari ini tak pulang ya?” Tanya Seyoung membuat Sekyung sedikit bingung harus menjawab apa. “kata siapa? Dia akan pulang. Sabar saja.” Ujar Sekyung menenangkan adiknya itu.

Namun Sekyung salah. Seyoung sudah lebih tahu dari dirinya, jika ayahnya telah pergi meninggalkan mereka. “eonni.. Ayah tak akan pulang hari ini. Tadi aku……”

Sekyung membalikkan badannya, menatap lurus kearah adiknya yang tiba-tiba berhenti bicara. “tadi apa?” Seyoung tak kunjung menjawab. Dirinya malah memalingkan pandangannya kearah lain. Tak sabar menunggu jawaban adiknya, Sekyung bergegas keluar menuju kamar ibunya.

Sekyung mengetuk pelan pintu bercat putih itu. Membuka perlahan dan menatap ruangan itu mencari ibunya. Jiyoung yang sedang duduk didepan meja riasnya, memandang anaknya dari cermin. “ada apa?” Tanyanya sedikit sinis.

“ayah kemana?” Tak mau kalah Sekyung bertanya dengan tajam.

Jiyoung menyipitkan matanya, membalikan badannya kearah anaknya, dan segera berdiri dari duduknya. “dia pergi. Bukankah bagus?” Seketika itu juga Sekyung merasa lemas. Tangannya berpegangan pada knop pintu. Pandangannya mulai kabur karena air matanya yang sedah mengumbul dipelupuk matanya.

“ibu mengusirnya?”

“apa? Aku? Seenaknya saja kau bicara. Dia sendiri yang ingin pergi. Bukan aku yang menyuruhnya.” Ujar Jiyoung dengan suara tingginya. Tak ingin memperkeruh masalah, Sekyung pun meninggalkan Jiyoung kembali kekamarnya.

Seyoung yang melihat kakaknya masuk dengan lemas, bangkit dari posisinya mendekati kakaknya. “eonni tak apa?” Sekyung memandang adiknya yang khawatir menatapnya langsung tersenyum dan mengelus rambut adiknya. “tidak, aku tak apa. Sudah ayo tidur. Besok kau harus sekolah. Cepat.”

Sekyung tak mau membuat adiknya semakin sedih melihatnya. Seberusaha mungkin Sekyung terlihat baik-baik saja dihadapan Seyoung. Setelah adiknya terlelap, Sekyung mengambil ponselnya. Membuka menu pesan, dan menulis sebuah pesan yang akan dirinya kirim kepada ayahnya.

To: 아빠

Ayah dimana sekarang? Kenapa pergi begitu saja? Apa ayah sudah tak perduli dengan aku dan Seyoung? Kembalilah. Kami membutuhkanmu.

Setelah menyetuh opsi send, Sekyung meletakan ponselnya dan berbaring. Mencoba menutup matanya dan melupakan semua kejadian hari ini. Berharap esok akan menjadi sebuah keajaiban. Walau pun kesempatan itu kecil.

Satu bulan kemudian..

Mobil Ferrari milik Kris sudah berada didepan rumah Sekyung. Sudah beberapa kali mereka selalu berangkat sekolah bersama. Jiae pun sudah berpacaran dengan Chanyeol. Sekyung pun keluar dari rumahnya, memandang Kris sambil tersenyum tulus.

“morning. Siap untuk hari ini?” Tanya Kris ramah. Sekyung tersenyum menanggapinya, dia pun menangguk sedikit. Mereka pun pergi menjauh dari rumah Sekyung menuju sekolah.

Semenjak ayah Sekyung pergi dari rumah, Sekyung menjadi lebih diam. Jiae pun merasa tak nyaman. Oleh sebab itu Jiae, Chanyeol, dan Kris ikut mencari tahu penyebab Sekyung menjadi berbeda.

[Flashback~

“Yeol-a, menurutmu Sekyung kenapa ya?” Tanya Jiae pada pacar barunya itu.

aku tak tahu, kamu kan sahabatnya. Tanyakan saja padanya.” Jawab Chanyeol sambil tersenyum.

aku tak berani. Dia terlalu aneh hari-hari ini. Aku rasa ada yang tak beres.”

Kris yang mendengar percakapan temannya itu, hanya memandanganya sekilas. Ternyata bukan hanya dia yang merasakan itu. Kedua temannya pun begitu. “Kris-ssi menurutmu Sekyung kenapa?” Mendengar Chanyeol bertanya padanya, Kris yang sedang mengotak atik iPodnya itu menatap Chanyeol.

entahlah, aku pun tak mengerti. Dia tak pernah lagi berbicara banyak saat duduk disampingku.”

Jiae menghela nafasnya. Dia merasa tak nyaman karena sikap Sekyung yang berubah. “aku tau!” Pekik Jiae membuat Chanyeol dan Kris terkejut. Entah angin dari mana, otak Jiae mendapat pencerahan tentang Sekyung.

jangan membuat kaget seperti itu! Kamu ini.” Gerutu Chanyeol. Namun, Jiae sama sekali tak memperdulikannya.

nah, kalian tahukan Sekyung memilik adik perempuan? Kenapa kita tak bertanya padanya saja. Aku yakin dia tahu.” Jelas Jiae dengan semangatnya.

Kedua pria dihadapannya saling berpandangan. Mereka sedikit tak yakin akan ide Jiae ini. Namun, mau tidak mau mereka menyetujuinya. Mereka hanya menganggukan kepalanya menandakan mereka setuju dengan ide Jiae.

baiklah, pulang sekolah kita akan kesekolahnya. Oke?” Lanjut Jiae masih dengan semangatnya.

Jiae dan Chanyeol sudah berada didepan gerbang sekolah Seyoung. Kali ini Kris tak bisa pulang, karena kakak laki-lakinya membutuhkan dia sesegera mungkin. Karena Jiae yang sangat hafal akan wajah adik Sekyung itu, matanya tak pernah lepas dari orang-orang yang berlalu lalang dari gerbang itu. Sampai akhirnya Jiae mendapati seorang gadis berkuncir dua yang sedang berjalan dengan teman-temannya.

“Yeol-a, liat itu Seyoung.” Ujar Jiae semangat. Akhirnya mereka berdua berjalan mendekati Seyoung. Awalnya Seyoung terkejut saat melihat Jiae ada didepannya entah bersama siapa. “Jiae eonni? Ada apa?” Sapa Seyoung bingung.

bisa kita bicara sebentar? Ini tentang Sekyung.” Jawab Jiae lebut. Mendengar nama kakaknya, Seyoung dengan mantap mengiyakan dan berpamitan pada teman-temannya. Jiae mengajaknya duduk disebuah taman yang tak jauh dari sekolahnya.

jadi ada apa dengan Sekyung eonni?” Tanya Seyoung penasaran.

Justru kami yang ingin bertanya kepadamu, kenapa akhir-akhir ini dia lebih murung dan pendiam. Kamu tahukan, Sekyung anak yang ceria. Tapi sikap hari-hari membuat kami merasa aneh.” Jelas Jiae dengan raut wajahnya yang nanar.

Seyoung mengerti apa yang dimaksud dengan Jiae. Akhirnya Seyoung pun menceritakan semuanya. Jiae dan Chanyeol yang mendengar cerita itu merasa tak tega. Kali ini mereka tahu apa yang membuat Sekyung menjadi berubah seperti ini. Dengan cepat Chanyeol menghubungi Kris untuk memberitahu kabar ini. Dan dugaan Chanyeol benar, Kris pasti akan terkejut saat mendengar kabarnya.

Kris’s POV

ayah Sekyung meninggalkan rumah. Menurut cerita Seyoung, semenjak ayahnya pergi dirumah juga Sekyung menjadi lebih diam. Dan kau tahu Kris, apa yang lebih mengagetkan?” Suara berat milik Chanyeol terdengar menggebu-gebu saat bercerita padaku melalui telepon.

kau bilang apa? Ayahnya pergi? Pelan-pelan Chanyeol! Aku bingung, aku masih harus mencerna semuanya. Jadi apa yang membuat kalian kaget?” Tanyaku ikut dibuat penasaran oleh Chanyeol.

baik, baik, maaf aku terlalu bersemangat. Kau dengar baik-baik. Ibunya Sekyung ternyata selama ini selingkuh! Bayangkan Kris bagaimana perasaan Sekyung?”

Seketika mataku terbelalak saat mendengar Chanyeol mengatakan itu. Benar-benar tak masuk diakal. Aku cepat-cepat menyudahi telepon ini. Lantas dengan lihai jari-jariku menyentuh deretan angka yang terletak dilayar ponselku. Kuhubungin Sekyung. Dan mulai sekarang aku akan mencoba menghiburnya. Bersama dengan Jiae dan Chanyeol.]

Sekyung memperhatikan guru Kim didepan kelas, yang sedang menjelaskan tentang pelajaran saat itu. Namun sekuat apa pun dirinya mencoba fokus, tetap saja pikirannya terganggu oleh kelakuan Kris ditempat duduknya. Kris saat ini malah mencorat-coret bukunya dengan pulpennya. Entah apa yang dia gambar, yang pasti Sekyung sama sekali tak bisa dengan jelas mengartikan gambaran itu.

“Kris-ssi! Bisakah kau tenang sedikit. Aku sedang memperhatikan guru Kim saat ini. Kau terlalu berisik.” Ujar Sekyung sedikit berbisik.

Kris memandangnya dengan wajah cueknya. Dia pun meletakkan pulpennya dan mengikuti kata Sekyung untuk berdiam diri. Hari ini Kris benar-benar merasa bosan dengan pelajaran ini. Dia hanya berharap jam istirahat akan segera menghampirinya. Ternyata permintaannya terkabul, dalam waktu 15menit, bel istirahat pun terdengar. Siswa-siswi memberikan salamnya kepada guru Kim yang hendak keluar dari kelas.

“hei Sekyung-ssi~”

Sekyung melirik kearah Kris yang memanggilnya dengan nada sedikit berbisik. “ada apa? Kenapa harus berbisik?” tanya Sekyung bingung. Bukannya menjawab Kris malah melanjutkan ucapannya tanpa memperdulikan Sekyung.

“Minggu depan kita akan berlibur.”

Sontak Sekyung terkejut mendengarnya. Melihat ekspresi Sekyung, Kris tersenyum singkat lalu meninggalkannya dengan wajah yang masih bertanya-tanya. Namun Sekyung tak mau tinggal diam ditempatnya. Dia pun berlari mengejar Kris yang sudah terlebih dahulu keluar dari kelasnya.

“ya!! Kris-ssi!! Ya~!!”

Seluruh siswa-siswi dikoridor kini menatapnya karena berteriak-teriak memanggil nama Kris. Sadar akan hal itu, Sekyung merapatkan bibirnya dan berjalan cepat menuju Kris. Namun sayang, Kris harus masuk kedalam kamar mandi pria. Dan tak mungkin jika Sekyung harus mengejarnya kedalam. Dengan rasa kesal, Sekyung pun meninggalkan Kris dan melangkah kembali menuju kelasnya. Apa? Berlibur? Minggu depan? Dia gila atau apa. Seenaknya saja membuat janji. Gerutu Sekyung kesal. Sekyung pun memutuskan bergabung dengan Jiae sambil menunggu Kris kembali.

Jiae’s POV

Melihat Sekyung berlari mengejar Kris itu sedikit lucu. Aku tersenyum melihat sikap Sekyung yang terkadang seperti anak kecil. Walau pun memang akulah yang lebih seperti anak kecil dibandingkan dengan dirinya. Sekyung menghampiriku dengan wajah kesalnya.

“kau kenapa?” Tanyaku pura-pura tak tahu.

“kau tau apa? Pria itu sedikit gila kurasa. Seenaknya saja membuat janji tanpa bertanya dulu padaku.” Omel Sekyung sambil membuka bekal makanannya dengan kasar.

Aku tersenyum melihatnya. Sebenarnya rencana ini bukan Kris yang merancangnya. Melainkan ini sepenuhnya ide dari diriku. Aku pikir ini akan membuat Sekyung sedikit melupakan masalahnya ketika berlibur. Chanyeol sudah setuju dengan ideku, dan Kris, aku rasa ia akan menerima dengan lapang dada jika itu bersangkutan dengan Sekyung. Kenapa? Aku pun tak begitu yakin. Mungkin dirinya menyukai gadis berisik ini.

“Jiae-ssi, kau juga diajak dengan Kris?” Tanya Sekyung dengan wajah penasarannya.

Aku tersenyum tipis dan menganggukan kepalaku mengiyakan. Matanya terbelalak, udang yang sedang ia kunyah mendadak membuatnya sedikit terbatuk-batuk. “jadi kau sudah tahu? Kenapa tak beri tahu aku?”

“aku juga baru tahu tadi Sekyung-ssi. Sama sepertimu.”

“lalu kau trima begitu saja?”

“ya, apa salahnya? Ini akan menarik menurutku.”

“ah.. begitu. Mungkin saja. Chanyeol ikut?”

Aku menganggukkan kepalaku sekali lagi untuk menjawabnya. Dia pun membalasnya dengan menganggukkan kepalanya juga. Aku merasa tak tega jika melihat Sekyung anak yang seceria ini harus menderita karena kedua orang tuanya. Gadis ini lucu, hanya saja dia suka lupa mengontrol dirinya. Sama sepertiku.

Suara Chanyeol yang berat itu terdengar hingga mejaku. Sekyung pun menolehkan kepalanya memandang Chanyeol. Matanya pun menjadi lebih sipit memandang pria disamping Chanyeol. Ya, Kris. Dengan cepat Sekyung membereskan makanannya dan menghampiri Kris. Aku menahan tawaku untuk tak membuatnya merasa tidak nyaman.

“ya!! Kris Wu!!”

Author’s POV

Jam terus berlalu, tapi sosok yang Jiyoung tunggu tak kunjung tiba. Berkali-kali Jiyoung melirik kearah jam tangan yang ia kenakan. Karena tak sabar, akhirnya dia mengambil ponselnya.

“kamu dimana?~ aku sudah dari tadi disini~ cepatlah~”

Ponsel itu kembali diletakan diatas mejanya. Jiyoung menunggu seseorang yang akan mengubah segalanya. Ya, pria ini adalah kekasihnya yang sudah lama menjalin hubungan dengannya. Pria ini bernama Dongwook. Lee Dongwook. Mantan pertama dari Jiyoung ketika SMA dahulu. Kata orang cinta pertama itu sulit dilupakan hingga tua nanti, dan itu terjadi pada Jiyoung.

Ternyata yang perlu menunggu lama. Pria dengan setelan kemeja lengkap dengan jas, memakai kaca mata hitam, badan tinggi tegap, dan kulit agak kecoklatan membuka pintu kedai kopi itu. Dongwook tersenyum saat mendapati matanya memandang kekasihnya itu. Dihampirinya wanita dengan rambut coklat yang segaja digerai itu.

“hai!!” Sapa Dongwook mengagetkan Jiyoung.

Jiyoung tersenyum mendapati sosok pria yang sangat dia tunggu-tunggu itu. “kamu lama sekali. Kemana saja huh?” Ucap Jiyoung manja. Dongwook mengelus-elus rambut wanita itu lembut, “jadi kamu penasaran? Ayo kita pergi kesuatu tempat. Nanti dijalan akan ku beri tahu.”

Jiyoung yang masih bingung, seketika tangannya tertarik oleh pegangan dari Dongwook yang mengajaknya untuk meninggalkan tempat itu. Dengan cepat mereka berdua sudah berada didalam mobil Dongwook, tanpa menunggu lebih lama waktu lagi, Dongwook menjalankan mobil melesat menjauh dari kedai kopi itu.

Jiyoung dan Dongwook tiba disebuah agensi pengurus perpindahan. Jiyoung yang merasa bingung, berkali-kali menyapu pandangannya dari sudut ke sudut. Jiyoung benar-benar tak mengerti kenapa Dongwook mengajaknya ketempat seperti ini.

“kamu mau apa? Mau pindah bukan?” Tanya Jinyoung masih dengan pandangan menatap seluruh ruangan tersebut.

“ya, begitulah.”

Mendengar Dongwook menjawab seperti itu, tatapan Jiyoung berubah seluruhnya kearah pria itu. Kening menyerngit, mencoba mencerna maksudnya. “kamu? Kamu mau pindah? Kenapa tidak bilang? Mau pindah kemana?”

“haha. Kamu ini tenanglah sedikit. Bukan hanya aku, tapi kita.” Ujar Dongwook sambil tersenyum lembut. Tapi tidak dengan Jiyoung, dirinya sedikit terkejut. Bagaimana mungkin dirinya pindah, sedangkan anak-anaknya masih bersekolah disini. “tunggu, aku rasa ini ada yang salah.” Kata Jinyoung merasa ada yang aneh.

“apa? Tidak ada yang salah. Aku hanya memberi kejutan untukmu.” Jelas Dongwook pada Jiyoung. Dan sebelum Jiyoung mencoba membalas penjelasannya, dirinya terlebih dahulu melanjutkan ucapannya. “kamu pasti bingung dengan anak-anak? Mereka berdua akan ikut. Kita berempat akan ke Amerika. Kebetulan perusahaanku disana membutuhkan diriku. Dan setibanya disana, aku akan segera memproses pernikahan kita.”

Mendengar kata pernikahan, mata Jiyoung sedikit berkaca-kaca. Entah dirinya harus bahagia atau sebaliknya. Jiyoung sendiri belum membicarakan soal hubungannya akan berlanjut serius ini pada kedua anaknya. Sedikit ragu untuk menerima tawaran Dongwook. Namun dalam hati Jiyoung, ia sangat ingin. Dirinya mencintai pria itu sejak lama. Dan sampai detik ini rasa itu belum memudar.

“kenapa kamu diam? Kamu tidak mau?” Tanya Dongwook dengan ekspresi sedikit khawatir bila Jiyoung akan menolaknya.

Tanpa perintah dari Jiyoung, air matanya menetes dari pelupuk matanya. Dan dengan sedikit tersenyum, Jiyoung menggelengkan kepalanya pelan. “aku.. Mau. Hanya saja..”

“hanya saja apa?” Dongwook bertanya sambil menghapus air mata yang telah menetes diatas pipi Jiyoung.

“bagaimana jika Sekyung san Seyoung tidak mau?”

“nanti biar aku yang mengatakan pada mereka. Jadi hari ini aku akan mengurus semuanya oke? Dan kemungkinan kita akan berangkat paling cepat minggu depan.”

“begitu cepatkah?” Mata Jiyoung terbelalak mendengar kata minggu depan. Waktu yang sangat singkat untuk mengurus perpindahan dari suatu negara lain ke negara lainnya.

“tidak. Sudahku katakan tenanglah. Semua akan kuurus. Oke?” Lontar Dongwook menenangkannya. Jiyoung hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Mereka berdua pun mengurus segala sesuatunya dimulai dari hari ini.

Sekyung’s POV

Jadi minggu depan aku harus berlibur dengan Jiae, Kris, dan Chanyeol? Aish~ mereka ini kenapa tak pernah meminta persetujuan dari diriku terlebih dahulu. Ponselku bergetar. Dengan cepat kubuka lock yang terpampang di layar ponselku. Mataku terbelalak mendapatkan sebuah nama yang selama lebih dari satu bulan ini aku menunggunya.

From: 아빠

Hei Sekyung. Maaf ayah baru bisa mengabarimu. Sekarang ayah sudah berada dipulau Jeju. Kerjaan ayah yang membawa ayah kesini. Bagaimana kabarmu serta Seyoung?

Sedikit tergoncang hatiku saat melihat siapa yang memberi pesan padaku. Namun entah kenapa rasa kecewa itu juga muncul dibenakku. Bukankah itu mengesalkan saat seseorang yang tadinya selalu kau tunggu kabarnya, saat orang itu memberi kabarnya ternyata dirinya sudah pergi jauh dari keberedaannya yang seharusnya. Ya, walau pun memang masih dinegara yang sama. Hanya saja Seoul dan Jeju itu tidaklah dekat.

“Sekyung-a~ Seyoung-a~”

Aku mendengar suara ibuku memanggil namaku dan Seyoung. Padahal baru saja aku ingin menghubungi ayahku. Akhirnya langkah kakiku membawaku menuju lantai bawah. Seyoung sudah lebih dahulu berada dilantai bawah. Dirinya mematung terdiam. Awalnya aku bingung mengapa dirinya bisa seperti itu. Namun akhirnya aku tahu mengapa.

Seorang pria duduk disamping ibuku sambil tersenyum, bagiku itu senyuman termuak yang pernahku lihat. Akhirnya aku mengambil posisi disebelah Seyoung yang duduk sambil memandangi lantai. Aku sedikit menyenggolnya untuk membuatnya sedikit sadar, jika tak sebaiknya dia bertingkah seperti itu.

“Sekyung-a.. Ibu inging bicara.” Lontar ibu dengan ekspresi sedikit ragu. Aku pun hanya memandanginya, menunggu apa yang akan dia katakan.

Pria itu, Dongwook sekali lagi tersenyum padaku. Aku pun hanya memandangnya dengan tatapan ‘cepatlah bicara, aku sudah muak melihat wajahmu.’

“jadi begini Sekyung-ssi, aku tahu pasti kalian berdua tak akan pernah setuju dengan perkataanku saat ini. Hanya saja, aku rasa ini yang terbaik untuk kalian serta Jiyoung.” Ujar Dongwook lalu terhenti seketika. Dia memandangku seperti mencari-cari apa aku akan segera bertanya atau tidak. Aku malas, sangat malas untuk bertanya padanya.

“lalu?” Lontar Seyoung membuatku melemparkan pandanganku padanya. Akhirnya dia bersuara juga.

“eng.. Kalian tahu aku dan ibu kalian sudah saling mencintai sejak dulu. Dan aku akan menikahi Jiyoung secepatnya, tapi tidak di Korea. Kita berempat akan memulai hidup baru kita di Amerika. Dan kurasa, jika bisa secepatnya kita melaksanakan semuanya itu akan lebih baik. Ya, oleh karena itu minggu depan kita akan berangkat. Semua akan kuurus. Jadi kalian tinggal membawa barang pribadi yang penting serta diri kalian saja. Bagaimana?”

Penjelasan yang sangat sangat membuatku tak mampu berkata apa-apa lagi. Mataku memanas, emosi dalam diriku mulai meluap. Ingin rasanya aku memaki pria itu saat ini juga. Rencana apa lagi yang mereka buat dengan seenaknya. Pernikahan? Perpindahan? Apa pria itu gila? Dia ingin membuatku dan Seyoung makin tertekan bukan? Dan bukan hanya aku yang merasa tak terima, tapi Seyoung juga. Hanya saja dirinya sulit untuk mengontrol. Dengan tanpa aba-aba, Seyoung melangkahkan kakinya meninggalkan kami yang masih bingung tanpa mengatakan satu kata pun.

“Seyoung-a!!” Panggil ibuku dengan suara yang sedikit keras.

Aku menatap mereka secara bergantian. Inikah yang dinamakan cinta sejati? Atau memang cinta sejati itu tak pernah ada? Cinta sejati itu selalu mengorbankan perasaan orang lain bukan? Kenapa mereka tak pernah sadar akan kelakuan mereka.

“Ahjussi.. Maaf aku permisi dulu.” Ujarku meninggalkan mereka sambil menundukan kepalaku memberi salam. Benar-benar akan muntah aku jika berlama-lama dihadapan mereka. Lagi-lagi sebuah masalah muncul. Dengan kesal, kurebahkan badanku diatas kasurku. Perlahan-lahan mataku terasa berat, sampai akhirnya semuanya menjadi gelap.

Author’s POV

Chanyeol dan Jiae sedang dalam perjalanan menuju rumah Kris. Hari ini tiba-tiba Chanyeol mengajak Jiae untuk menemaninya bertemu dengan Kris. Tidak dengan motor Ninja-nya kali ini. Mereka menggunakan mobil milik ayah Chanyeol.

“Yeol-a, kamu tak apa memakai mobil milik ayahmu ini?” Tanya Jiae sedikit ragu.

“tenang saja, dia sangat percaya padaku.” Jawab Chanyeol sambil tersenyum pada Jiae untuk meyakinkannya.

“baiklah, tapi sebenarnya kita kerumah Kris ada apa?”

Chanyeol diam. Memang sudah beberapa hari ini dirinya memperhatikan gerak-gerik Kris. Chanyeol tahu, Kris bukanlah orang yang akan terbuka pada siapa pun. Oleh karena itu dia memperhatikannya. Suatu ketika Chanyeol melihat cara Kris memandang Sekyung itu berbeda. Dia pria, dan dia tahu pandangan Kris itu berbeda. Bukan melihat Sekyung sebagai temannya, lebih tepatnya seperti orang yang istimewa untuknya.

“mungkin kamu akan menganggap aku sok tahu, tapi aku hanya mengikuti instingku sebagai pria.” Lontar Chanyeol membuat Jiae bingung.

“maksudmu apa? Aku bingung. Coba yang lebih jelas.”

Chanyeol menghela nafasnya, saat mendengar Jiae berkata seperti itu. “Jadi, aku rasa Kris menyukai Sekyung-ssi.” Mata Jiae yang tadinya kelihatan bingung kini menjadi lebih bahagia.

“jadi bukan hanya diriku yang merasakannya? Kamu pun tahu? Haha. Ini menarik.” Ujar Jiae dengan tawanya yang khas.

“benarkah? Haha. Ternyata kita memang selalu sehati Jiae-a.”

Mereka pun menghabisi sisa perjalanan menuju rumah Kris dengan candaan-candaan khas mereka. Dalam benak mereka masing-masing, mereka telah menyusun suatu rencana untuk Kirs dan Sekyung.

“Kris, tidak bisakah kau jujur padaku?” Ujar Chanyeol to the point saat mereka sedang berdua. Jiae sedang membuat minuman, mengingat Kris hanya tinggal dengan kakak laki-lakinya yang sedang bekerja.

“jujur? Tentang apa?” Jawab Kris cuek.

“tentang perasaanmu.”

Alis kanan Kris terangkat mendengar ucapan Chanyeol. Berdecak pelan dan menggelengkan kepalanya lalu bangkit dari duduknya. “Kau ini aneh.”

“apa? Aku tak aneh. Aku hanya ingin membantumu Kris.” Lontar Chanyeol meyakinkan Kris untuk mengatakan segala perasaannya. Kris memandangnya masih dengan tatapan cuek. Kris merasa tak ada yang perlu disampaikan tentang perasaannya itu. Dari arah belakang suara Jiae membuat kedua pria itu menoleh kearahnya.

“kau benar-benar tak mau mengakuinya Kris?”

“mengakui apa? Aku tak berbuat salah apa-apa. Kenapa aku harus mengakuinya?” Lontar Kris cuek namun terdengar geli ditelinga Jiae dan Chanyeol.

“kau ini Kris. Pura-pura bodoh atau apa? Jelas-jelas kita sedang membicarakan tentang perasaan, kenapa jadi kesalahan?” Kali ini Chanyeol berkata sambil mendorong pundak Kris pelan.

Kris menatap kedua temannya itu saling bergantian, berdecak sekali lagi dan berkata, “kalian pasangan yang serasi. Sama-sama ingin mengetahui rahasia seseorang.” Jiae dan Chanyeol berpandangan dan tertawa mendengar ucapan Kris. Melihat kedua temannya bukan merasa tersinggung, Kris menggelengkan kepalanya dan menyesap kopi yang baru saja dibawakan Jiae dari dapurnya.

so? Kau mau jujur?”

Lagi-lagi Chanyeol tak mau menyerah untuk membuat Kris mengatakan perasaannya. Kris yang sedang asik menyesap kopinya itu, melirik Chanyeol dari balik cangkirnya itu. “kalau begitu akan ku beri satu rahasia.” Kali ini lirikan Kris beralih pada Jiae. Gadis itu tersenyum seperti sedang pendapatkan suatu hadiah yang membuatnya riang.

“Jika kau tak mau jujur, apa boleh buat. Aku dan Chanyeol tak mungkin memaksamu mengakuinya. Kenapa kami bertanya tentang perasaanmu, mungkin ini sedikit gila menurutmu. Hanya saja, itulah pendapat menurut pantauan kami. Aku, aku selalu memantau Sekyung akhir-akhir ini. Dan Yeol-a sendiri selalu memantau mu akhir-akhir ini.” Jelas Jiae bersemangat. Baru saja Kris ingin angkat bicara, namun Jiae memotongnya.

“tidak! Jangan berkomentar dulu. Dengarkan. Kami berdua tak ada maksud apa-apa karena memantau kalian berdua seperti ini. Jujur, kami sama sekali tidak janjian. Ini terjadi atas ketidak sengajaan.

Nah aku akan menjelaskan tentang Sekyung. Bukan hanya Yeol-a yang merasa kau memperhatikannya. Tapi aku pun merasa Sekyung juga memperhatikanmu. Cara pandangnya saat menatapmu itu berbeda. Aku tahu dia dengan baik. Selama aku bersekolah dengannya, aku tahu pria mana yang dia sukai atau tidak. Itu semua terbaca dari matanya. Ya, aku hanya ingin memberi tahu saja. Sebelum terlambat. Sebelum Sekyung merubah perasaannya.” Jelas Jiae panjang lembar membuat Kris sedikit terdiam tak percaya. Namun sikap cueknya itu tetap dapat menutupi rasa tak percayanya itu.

“lalu mau kalian? Aku menyatakan perasaanku padanya? Jangan bercanda. Kita baru kenal.” Kris menjawab dengan satai dan cuek. Chanyeol sekali lagi mendorong bahu Kris kesal. “ya! Sampai kapan kau berhenti mendorongku?!” Pekik Kris kesal.

“hehe. Maaf, aku bercanda. Oke, serius. Sebenarnya memang itu yang kami mau. Hanya saja, semua ada ditanganmu. Yang pasti kamu sudah coba membantu sebisa kami. Jangan sampai kau menyesal.” Chanyeol tersenyum ramah pada Kris, seakan menyerahkan segalanya pada Kris.

Kris memandang sepasang kekasih ini sambil mengelus-elus tengkuknya. Pikiran Kris menjadi bercampur aduk. Entah dia harus bahagia atau malah merasa canggung. Tak mau membahas masalah ini lagi, Kris mencoba mengalihkan mereka dengan memutar sebuah DVD kesuakaannya. Walau pun dirinya sama sekali tak tertarik untuk melihatnya saat itu.

Sekyung sama sekali belum mengatakan kepada teman-temannya akan rencana perpindahannya ini. Dirinya takut akan membuat mereka sedih. Terlebih saat dirinya melihat Kris mengajaknya bercanda, semakin membuat Sekyung tak ingin membuatnya sedih karena kepergiannya. Memang terasa aneh bagi Sekyung, lagi pula dia baru saja mengenal Kris ditahun ini.

“hei~ kau kenapa?” Sapa Kris yang melihat Sekyung sedang melamun.

Sekyung yang sedikit terkejut, hanya tersenyum ramah. Tak mendapat respon dari Sekyung, Kris kembali diam mengambil iPodnya. Tak berapa lama Sekyung memanggilnya.

“Kris-ssi.”

Kris memalingkan pandangannya tertuju tepat pada mata Sekyung. “Ada apa?”

Sekyung’s POV

“Ada apa?”

Aku terpaku saat mataku dan Kris bertemu. Kudengar jantungku yang mulai berdegup tak karuan. Berharap Kris jangan sampai mendengarnya. Ya, sudah beberapa kali ini aku mengalami hal seperti ini. Mungkinkah? Aku rasa tidak. Aku tak mungkin jatuh cinta padanya.

“Sekyung-ssi?” Suara Kris membuatku tersadar. Dia melihatku bingung. Dan sialnya, aku mulai menjadi salah tingkah. “eng.. Maaf.. Ah tidak, tidak jadi.” Dengan cepatku mengalihkan pandanganku lurus menatap papan tulis.

“aneh. Katakan saja, aku tak akan marah.” Lagi-lagi suara Kris mampu meluluhkan hatiku. Ini benar-benar tak waras. Aku sama sekali tak pernah begitu saja mudah luluh saat pendengan permohonan seorang pria. Tapi ini?! Tidak, tidak! Aku tak mungkin menyukainya.

Aku masih saja beradu pendapat dengan batinku sendiri. Tak memperdulikan Kris yang ternyata sejak tadi menatap wajahku aneh. Mingkin karena ekspresiku yang terlalu tak jelas, sehingga membuat dia menatapku seperti itu.

“ah.. Tidak, tidak. Aku tak mau mengatakan apa-apa kok.” Ujarku berusaha agar dirinya percaya padaku. Kali ini Kris menatapku lama, lalu mengangguk pelan dan kembali fokus pada iPodnya. Setidaknya kali ini aku bernafas lega. Tunggu! Bernafas lega untuk apa? Aish~ aku rasa otakku benar-benar korslet.

Kris’s POV

Aku menunggunya. Aku menunggu dia mengatakan hal yang tadi dia ingin katakan padaku. Ekspresi wajahnya berubah, aku menjadi makin tak mengerti apa yang dia pikirkan.

“ah.. Tidak, tidak. Aku tak mau mengatakan apa-apa kok.” Katanya setelah tersadar aku menatapnya dengan tatapan bertanya. Kenapa dia sedikit gugup? Aku harap aku dapat membacanya hanya dalam bola matanya saja. Aku pun memandangi bola matanya cukup lama, namun percuma. Aku tak menemukan keganjilan apa pun. Aku pun hanya menangguk pelan dan kembali pada iPodku.

Atau dia ingin mengatakan jika dia menyukaiku? Ah tidak. Sekyung tak mungkin melakukan hal gila seperti itu. Lalu apa?! Astaga, aku sangat penasaran. Atau harus kukatakan sekarang juga? Tapi, apa perasaanku ini sudah benar-benar siap? Ayolah Kris tenangkan dirimu.

Otakku benar-benar tak karuan. Daftar lagu yang ada dientri iPodku pun, tak ada satu pun yang kuputar. Hanya sekedar menutupi penasaranku saja terhadap Sekyung, oleh karena itu aku memasang earphone iPodku.

Katakan sekarang, tidak, katakan sekarang, tidak, katakan sekarang, tidak… Dari tadi hanya itu yang aku pikirkan. Mungkin sekarang belum saatnya. Ya, belum. Aku akan mencobanya saat hatiku benar-benar siap. Sekyung-ssi, aku harap kau tak membuatku linglung seperti ini lagi.

Author’s POV

Sehari sebelun hari keberangkatan ~

Malam ini Sekyung benar-benar tak tahu harus mengatakan apa kepada teman-temannya. Dirinya sama sekali belum memberi tahu kepada tiga orang temannya itu. Sedangkan kepindahannya sudah dibereskan oleh Dongwook. Besok adalah hari dimana Sekyung beserta keluarganya pergi meninggalkan Seoul, dan entah sampai kapan akan kembali.

Selama bersama dengan ketiga temannya, Sekyung sama sekali tak pernah membahas rencana liburan yang akan mereka lakukan nanti. Jika Jiae memulai membicarakannya, Sekyung selalu mengalihkan semua perkataan Jiae pada hal yang lain. Dia tak mau membuat teman-temannya itu kecewa karena kesalahannya.

Sebenarnya Sekyung sudah salah dari awal. Andai saja, dirinya cepat-cepat memberi tahukan kepada mereka bahwa dirinya akan segera pindah. Mungkin saat ini dia akan menghabiskan malam terakhirnya bersama ketiga temannya itu.

Raut wajah Sekyung kini menjadi sendu. Hatinya bimbang. Pikirannya pun tak karuan. Jika dirinya bisa membatalkan segalanya, mungkin semua ini tak akan dia pikirkan. Sayangnya, Jiyoung selalu memohon padanya. Mau tidak mau, Sekyung sulit untuk menolaknya. Soal Kwangsoo, pria itu menghilang lagi. Saat Sekyung mencoba meneleponnya, ponselnya sudah tak aktif. Sekyung pun mengerti, kedua orang tuanya memang benar-benar hanya fokus pada kehidupan pribadi mereka.

“eonni ~”

Suara Seyoung membuat Sekyung tersadar akan lamunannya. Dia tersenyum mendapati adiknya berdiri diambang pintu kamarnya, menatap Sekyung nanar. “eonni tak apa?” Tanya Seyoung khawatir.

“aku? Aku tak apa. Kau bagaimana? Sudah siap?” Sekyung sebisa mungkin membuat adiknya merasa tenang.

“entahlah. Eng.. Eonni sudah beritahu teman-teman eonnikan?”

Deg! Pertanyaan itu seakan membuat Sekyung kembali terpikir tentang hal itu. Sekyung tersenyum nanar lalu menggeleng pelan. “belum? Kenapa tak memberi tahu mereka? Itu akan membuat mereka merasa kecewa. Lebih baik eonni hubungi mereka sekarang.”

Entah perkataan Seyoung saat itu membuat Sekyung mendapat sebuah pencerahan. Dia tersenyum riang, mengambil sweater peachnya, mengelus rambut Seyoung pelan, dan melangkahkan kakinya keluar rumah.

Sekyung mengambil ponselnya, mengirimkan sebuah pesan singkat pada ketiga temannya itu.

To: Kris Wu, Yoo Jiae, Park Chanyeol

Aku tunggu kalian bertiga ditaman kota. Aku sedang dalam perjalanan. Sampai nanti ^^

Dengan cepat Sekyung melangkahkan kakinya menuju taman kota, yang lumayan jauh dari rumahnya. Dia mengambil daerah yang mudah dijangkau oleh mereka berempat, agar mereka dapat datang tepat waktu dan tanpa membuat Sekyung menunggu lama.

Ditempat lain. Kris, Jiae, dan Chanyeol merasa aneh saat mendapat pesan dari Sekyung. Tak pernah biasanya Sekyung mengajaknya pergi pada malam hari seperti ini.

Kris. Karena merasa ada yang aneh, dengan cepat dirinya mengambil cardigan coklat miliknya. Berjalan menuju tempat parkir, dan segera melintas jalanan kota Seoul yang cukup ramai.

Jiae. Dirinya sedikit terkejut saat mendapat pensan dari Sekyung. Sama dengan Kris, perasaannya saat itu tak nyaman. Dia pun segera melesat keluar dari rumahnya.

Chanyeol. Dia yang sedang sibuk bermain game, sedikit terganggu dengan sebuah pesan yang masuk diponselnya. Namun saat ia melihat dari siapa. Dia hanya berdecak pelan, lalu meninggalkan gamenya dengan berat hati. Mengambil kunci motornya, melesat dengan cepat menuju tempat yang Sekyung minta.

Disini mereka berempat. Ditaman kota Seoul yang sedikit lebih ramai dari biasanya saat malam hari tiba. Sekyung yang sedari tadi menatap mereka nanar, tersenyum tipis. Matanya memanas. Butiran bening air matanya sudah menumpuk dipelupuk matanya.

Jiae yang menyadarinya segera berjalan mendekat kearah Sekyung. “hei, kau kenapa?”

Sekyung mengerjap-kerjapkan kedua matanya, berusaha membuat air mata itu menghilang dengan sendirinya. “ada yang harus aku katakan pada kalian.”

Kris memandang Sekyung penasaran, Chanyeol yang tadinya sedang memainkan ponselnya mendadak memasukan ponselnya itu kedalam sakunya. Jiae mengajak Sekyung untuk duduk disebuah kursi panjang yang telah tersedia ditaman tersebut.

“jadi ada apa?” Tanya Jiae lagi.

“dengarkan. Aku tak bermaksud membohongi kalian, atau apa pun. Aku hanya takut untuk mengatakannya. Dan berjanjilah, saat kalian mendengarnya, kalian tak akan marah padaku. Ya, aku tahu kalian pasti akan merasa kecewa padaku. Aku minta maaf. Hanya sa-”

“sudah katakan cepat!” Potong Kris kesal karena Sekyung terlalu banyak berbasa basi. Chanyeol melirik kearah Kris dan menghela nafasnya pelan.

“baik, baik. Aku akan pindah besok siang.”

Kris, Jiae, dan Chanyeol hanya memandang Sekyung bingung. Antara terkejut dan tak tahu harus mengatakan apa. “dan aku tak tahu kapan kembali.” Setelah Sekyung melanjutkan perkataannya, Jiae tersadar. Dia tahu Sekyung kali ini tidak main-main.

“kau.. Mau pindak kemana?” Tanya Jiae lesu.

Melihat Jiae berekspresi seperti itu, membuat Sekyung semakin merasa bersalah. Dia menghela nafasnya panjang dan melanjutkan penjelasannya. “Ibuku akan menikah dengan Dongwook. Oleh karena itu, Dongwook menyuruh kami pindah. Kami akan pindah ke Amerika. Awalnya aku benar-benar tak pernah setuju akan rencana tersebut. Hanya saja, ibuku selalu memohon padaku. Aku merasa tak tega. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk mau diajak pindah.”

Kris memandang Sekyung nanar saat mendengar penjelasan gadis dihadapannya itu. Badannya terasa lemas. Ini kali pertama dia merasakan akan kehilangan seseorang yang dia sayangi selama tinggal di Korea. “lalu kau baru memberi tahu kami sekarang? Kau gila!” Lontar Kris kesal. Dirinya tak kuasa menahan kekesalannya pada Sekyung yang tak mau berterus terang pada teman-temannya sendiri.

Dengan cepat Chanyeol menyentuh pundak Kris untuk menenangkannya. Sekyung yang sedikit terkejut, menguatkan dirinya untuk siap menghadapi apa pun, atas kesalahan yang dirinya buat.

“bukan begitu Kris-ssi. Sudahku katakan bukan, aku takut. Aku takut kalian akan merasa sedih. Selama ini kalian yang terbaik untukku. Aku sangat-sangat mengucapkan terima kasih. Tapi maaf, jika aku membuat kalian kecewa.” Isak Sekyung sedikit terdengar. Dia tahu kalau dirinyalah yang salah. Jiae memeluk Sekyung erat, menumpahkan air matanya diatas bahu Sekyung.

“kenapa.. Kenapa kau tak memberi tahu kami dari awal saja..” Isak Jiae membuat Sekyung semakin tak kuasa menahan air matanya. Chanyeol yang hanya bisa menghelakan nafasnya saja, memandang dua gadis didepannya nanar.

Kris memijat-mijat pelipisnya. Tak tahu lagi harus apa. Dia kecewa, sangat-sangat kecewa. Hatinya hancur. Ingin rasanya Kris memaki Sekyung dengan sepuas hatinya. Namun itu tak mungkin, dia sayang kepada Sekyung. Dan bukan hanya sekedar teman. Tapi lebih. Kris sadar akan hal itu.

“sudahlah. Lagi pula Sekyung juga merasa takut membuat kita menjadi sedih. Sekarang yang terpenting adalah, menghabiskan malam terakhir Sekyung dikorea bersama kita. Sudah jangan menangis kalian berdua.” Ujar Chanyeol membuat suasana menjadi hangat kembali.

Seyoung dan Jiae melepas pelukan mereka dan tertawa sambil menghapus segala air yang ada diwajah mereka masing-masing. Kris hanya menatap Sekyung dalam, dan menahan kesedihannya. Diam-diam, Sekyung tahu Kris memandangnya terus. Dirinya merasa tak enak hati oleh Kris, karena tak mengatakan padanya terlebih dahulu.

Kris’s POV

Malam ini kami berempat menghabiskan hari ini disebuah arena bermain yang tak jauh dari taman kota. Sekyung terlihat gembira. Tapi tidak dengan aku. Entah kenapa hatiku terasa sakit. Aku tak siap kehilangan dirinya begitu saja. Dan hari ini aku sadar, aku menyukai Sekyung. Ini sedikit gila. Dalam waktu yang tak lama, aku dapat menyukainya dan tanpa alasan.

Chanyeol dan Jiae berpamitan padaku dan Sekyung. Dan tinggalah aku dan Sekyung berdua didepan mobilku. Malam ini adalah malam terakhir kali Sekyung duduk disampingku. Ya, aku mengantarnya pulang. Tak banyak kata yang keluar dari mulutnya saat didalam mobil. Tapi aku dapat membaca raut wajahnya, dia sangat amat merasa sedih.

“Kris-ssi.” Suara Sekyung membuatku menatapnya langsung sebentar dan kembali fokus menyetir. “ya?” Jantungku berdegup kencang. Entah kenapa tiba-tiba ini terjadi. Aku mencoba mengatur nafasku yang ikut-ikutan tak beraturan.

“kau marah ya?”

Kulirik Sekyung yang menatapku dengan tatapan bersalah. Jika aku dapat jujur, ya aku marah. Hanya saja, aku sulit untuk benar-benar marah padanya. Aku diam. Mencoba mencari jawaban yang sebisa mungkin tak menyinggung perasaannya. “Kris-ss?” Lagi-lagi suara Sekyung membuatku bingung harus menjawab apa.

“t-tidak.. Aku tidak marah.” Jawabku singkat dan benar-benar gugup. Saat ini aku benar-benar terlihat seperti orang bodoh.

“kau yakin? Dari raut wajahmu, kau seperti sedikit kesal padaku. Ya, aku minta maaf karena tak memberi tahukanmu. Hanya saja.. Aku tak yakin, aku mampu memberi tahukanmu begitu saja..” Aku mendengarkan perkataannya dengan seksama. Kenapa dia tak yakin? Seharusnya dia jelaskan saja padaku. Aku juga tak akan menjadi sedikit kecewa padanya.

“eng.. Sekyung-ssi. Aku memang kesal denganmu. Seharusnya kau beritahu aku lebih dulu. Ya, tapi aku mengerti. Kau juga tak ingin membuat kami merasa kehilangan bukan? Hanya saja, aku rasa dirimu salah. Mau kau beritahu sekarang atau pun kemarin, itu sama saja. Sama-sama membuat kami merasa kehilangan dirimu.”

Dengan mantap kulontarkan kalimat demi kalimat yang dapat membuat Sekyung sedikit sadar jika caranya salah. Tak ada yang berbeda. Sekyung menundukkan kepalanya, aku merasa semakin tak enak padanya. Jangan bilang dia semakin tertekan karena kata-kataku tadi.

Akhirnya kami berdua diam. Aku yang fokus menatap jalanan, sesekali meliriknya lewat kaca sepion. Dia hanya memandang jalanan tanpa bergerak sedikit pun. Kami pun sampai didepan rumah Sekyung. Dia melepas safety belt-nya perlahan, aku pun demikian. Kami berdua turun dari mobilku. Sekarang aku tepat berdiri didepan pagar rumahnya dengan dia. Haruskah kuutarakan sekarang? Sebelum semuanya terlambat?

“Kris-ssi, terima kasih. Dan maaf untuk semuanya, aku hanya tak ingin membuat kalian sedih. Maaf jika pemikiranku salah.” Ujarnya lembut dan tersenyum samar pada diriku.

“sudahlah, jangan dipikirkan. Aku tahu ini berat untukmu. Berapa lama kau akan disana?” Tidak, aku tak dapat mengatakannya sekarang. Akan membuatnya semakin berat meninggalkan kami bertiga disini.

“entahlah. Akanku pastikan aku selalu mengabari kau dan Jiae. Jangan pernah lupakan aku, karena aku tak pernah melupakanmu. Sampai bertemu lagi.” Sekyung menundukan badannya memberi salam padaku. Benar-benar teriris sudah hatiku ini. Kata-katanya begitu dalam. Pasti! Aku pasti tak akan melupakanmu.

“Sekyung-ssi!!” Pekikku saat dirinya baru saja ingin melangkahkan kakinya menjauh dariku. Ditatapnya aku dengan tatapan teduhnya itu. Gejolak hatiku benar-benar hebat. Dan entah keberanian dari mana, aku menariknya lebih dekat pada tubuhku. Terlihat Sekyung sedikit terkejut akan tarikanku pada tubuhnya.

“K-k-ris-ssii…”

Tanpa memperdulikannya lagi, wajahku mulai mendekat pada wajahnya. Matanya pun mulai terpejam. Tidak, aku belum mau menciumnya. “aku.. Aku tak akan pernah melupakanmu sampai kapan pun.” Kalimatku itu mampu membuat Sekyung membuka matanya. Dan saat dia membuka wajahnya, barulah kuletakan bibir tipisku ini diatas bibirnya yang mungil itu. Ekspresinya benar-benar terkejut. Dengan sebisa mungkin, aku membuatnya merasa nyaman. Dan dalam hitungan detik pun, Sekyung mampu terbawa suasana yang sama denganku.

Ciuman kami sedikit berlangsung lama. Kurasakan pipiku basah. Tak mungkin ini air liur kami berdua. Kubuka mataku dan betapa terkejutnya aku, ketika mendapati Sekyung menangis. Dengan cepat kuhentikan ciuman ini. Apa aku salah? Astaga aku harus apa.

“S-s-sekyung-ssi? Kau tak apa?” Tanyaku ragu. Dia sama sekali tak menjawabnya, hanya menunduk dan terisak pelan. Aku panik. Apa dia belum pernah ciuman sebelumnya sampai dia harus menangis seperti ini?

“a-a-aku minta maaf.. Aku.. Aku ha-”

Pelukan Sekyung membuatku menghentikan kalimatku. Dan sekarang dia memelukku dengan erat. Menangis dipelukanku dengan isakan yang semakin membesar. Dengan cepat, tanganku mengelus lembut rambut dan bahunya. Sebisa mungkin aku menenangkannya. Sebenarnya dia kenapa? Dia menangis karena kucium, atau apa?

Akhirnya dia melepaskan pelukannya. Masih dengan menunduk dia menghapus air matanya. Aku tersenyum melihatnya, perasaan lega menghampiriku begitu saja. “maaf. Maaf aku membuat bajumu basah.” Ujarnya pelan. Aku tertawa pelan dan mengelus rambutnya lembut.

“tidak. Aku senang aku bisa membagi sebagian pelukanku untuk tangisanmu itu. Dan mulai sekarang, jika kau ingin menangis hanya boleh aku yang kau peluk.”

Sekyung tersenyum lembut dan memukul bahuku pelan. Aku tahu dia bahagia. Walau ini sebenarnya sangatlah telat, tapi aku tak menyesalinya. “audah lebih baik kau masuk sekarang. Jangan lupa besok kau harus pergi. Aku, Jiae dan Chanyeol akan mengantarmu kebandara besok.” Lontarku sambil sedikit mendorong dirinya kearah pagar rumahnya.

“baiklah. Terima kasih untuk hari ini. Dan, jika kita bisa bertemu lagi suatu hari nanti. Aku pasti akan senang.”

Kalimatnya membuat aku tersenyum manis. Memandangnya masuk kedalam rumahnya membuat hatiku sedikit tenang. Sekyung-ssi, aku janji suatu saat nanti kita akan bertemu. Aku janji itu.

Author’s POV

Pesawat Sekyung pun sudah lepas landas. Tinggallah Kris, Jiae dan Chanyeol yang masih duduk dicafe didalam bandara. Kris sedikit terlihat murung. Kedua temannya pun mengerti kenapa Kris menjadi uring-uringan seperti ini. “Kris, kau sudah mengatakan padanya?” Tanya Chanyeol sambil menyesap kopinya.

“mengatakan apa?” Dengan santai Kris menjawab, padahal dirinya tahu persis apa yang Chanyeol maksudkan.

“mengatakan apa lagi. Ya, perasaanmu itu. Kau sudah jujur padanya belum?”

“tidak. Aku tak mengatakannya.”

Chanyeol berdecak mendengar Kris mengatakan hal itu. Jiae pun hanya tersenyum miris mendengarnya. Tak mau melanjutkan pertanyaannya yang sia-sia, Chanyeol mengajak mereka meninggalkan bandara sekarang. Kris dan Jiae pun setuju. Rencana liburan mereka batal. Selama tak ada Sekyung, mereka pun tak akan pernah berlibur jika hanya bertiga.

Chanyeol dan Jiae berpisah dengan Kris diparkiran bandara. Saat didalam mobil, Chanyeol sepat terdiam beberapa saat. Namun Jiae menyadarkannya. “Yeol-a, ada apa?”

“ah.. Tidak. Hanya saja, aku masih tak habis pikir bagaimana bisa Kris tak dapat mengatakan perasaannya pada Sekyung yang sudah pergi jauh.” Nada bicara Chanyeol terlihat sedikit kesal.

“sudahlah. Kamu juga tahu, Kris bukanlah tipe pria pada umumnya. Dia sedikit misterius. Jika mereka ditakdirkan bersama, aku yakin mereka akan bertemu lagi. Percaya padaku.” Jelas Jiae berusaha membuat pacarnya itu tenang.

Chanyeol pun menghela nafasnya pelan, dan menyalakan mesin mobilnya. Meninggalkan bandara, meninggalkan Sekyung yang berada didalam pesawat, dan meninggalkan Kris yang masih terdiam didalam mobilnya.

Kris benar-benar tak mengerti kenapa rasa bahagianya hanya mampu bertahan sampai kemarin malam saja. Saat ini hatinya merasa pilu. Kris memandang kursi penumpang yang biasa Sekyung duduki. Sudah tak akan ada gadis cantik yang duduk dikursi itu.

“…jika kita bisa bertemu lagi suatu hari nanti. Aku pasti akan senang.”

Kris teringat akan perkataan Sekyung semalam. Kris tersenyum miris. Memandang wajahnya dari kaca sepion. Mengingat caranya melirik Sekyung dari kaca sepion itu. Entah kenapa Kris merasa, semua kegiatannya selalu berhubungan dengan Sekyung.

“ya, aku akan menyusulnya nanti. Aku yakin. Pasti aku akan menyusulmu Sekyung-ssi!! Tunggu aku!!” Lontar Kris membuat dirinya merasa percaya diri sendiri.

8 tahun kemudian ~

Sekyung melangkahkan kakinya dengan anggun. Semenjak perpindahannya ke Amerika, dua minggu kemudian Jiyoung dan Dongwook melaksanakan pernikahannya. Entah Sekyung harus merasa bahagia atau sedih. Dongwook memiliki sebuah perusahaan swasta di Amerika. Dan sangat kebetulan, Sekyung diminta menjadi orang kepercayaannya dalam perusahaannya itu. Sebuah acara pertemuan antara kolega-kolega perusahaan mewajibkan Sekyung untuk datang, sekedar menyapa mereka.

Dengan menggunakan dress mini hitam polosnya, rambut yang terikat rapih, serta high heels yang membuatnya menjadi tampak lebih menjulang itu terkesan menawan. Langkah kakinya dengan pasti menyusuri setiap koridor, yang akan mengantarnya kesebuah ruangan, dimana pada kolega-kolega perusahaan akan berkumpul.

Sampailah Sekyung didepan pintu masuk ruangan tersebut. Tanpa sedikit keraguan, Sekyung masuk kedalam ruangan itu. Terlihat sekarang para pria dan wanita, yang tak lain adalah kolega-kolega dari beberapa negara hadir diacara ini. Sesekali Sekyung menyapa orang yang dia kenal sepintas, demi nilai sosialnya.

Di tempat lain seorang pria tinggi, melangkahkan kakinya keluar dari dalam lift. Dengan jas hitam, kemeja putih, dan dasi hitamnya semakin membuat penampilannya terlihat menawan. Pria itu memasuki ruang pertemuan tersebut. Matanya bergerak mencari-cari sesuatu. Dengan cepat sudut matanya menemukan sesosok wanita yang dia ingin temui. Senyumnya pun mengembang disudut bibirnya. Dengan pasti langkah kaki miliknya itu melangkah.

“Sekyung-ssi.”

Merasa dipanggil, Sekyung pun membalikkan badannya kearah suara itu berasal. Matanya terpaku menatap pria yang berdiri dihadapannya itu. Lidahnya kelu untuk hanya sekedar melontarkan namanya. Pria itu, Kris. Kris hanya tersenyum lembut melihat wanita yang dulu masih sangat remaja kini benar-benar sudah dewasa dan anggun.

“hei. Apa kabar?” Kris bertanya kembali.

Masih dengan posisi yang sama, Sekyung terdiam tak menjawab. Perlahan matanya mulai memanas, butiran-butiran bening pun sudah mengumpul pada pelupuk matanya. Sekali kedipan saja, air mata itu akan segera menetes. Menyadarai hal itu Kris mendekat dan memeluknya lembut. Seakan mengerti apa yang ada dipikiran Sekyung saat ini.

“k-kau.. Datang?” Tanya Sekyung tersendat karena isaknya. Kris memeluknya semakin erat, mengelus lembut bahu Sekyung. “ya, disini aku sekarang.”

Sekyung melepaskan pelukannya, memandang Kris penuh tanda tanya. Seakan tak mengerti kenapa Kris ada dihadapannya saat ini. Bukankah ini suatu keajaiban untuknya. Tak sia-sia Sekyung menunggu kedatangan pria yang dia cintai sejak duduk dibangku SMA itu.

“bagaimana kau bisa disini?”

Kris tersenyum lembut menatap Sekyung, “ayahku yang menugaskanku dinegara ini. Jadi mana mungkinku tolak kesempatan emas ini begitu saja.”

Lagi-lagi Sekyung meneteskan air matanya. Tak perduli akan sekitarnya, yang sudah memandang mereka aneh. Dengan cepat Sekyung memeluk Kris lagi. Kali ini lebih erat, seakan-akan tak mau Kris pergi dari hidupnya untuk kedua kalinya. Kris hanya tersenyum melihat tinggak Sekyung yang selalu seperti ini.

“Aku benar-benar tak dapat mengtakan apa-apa lagi Tuhan. Yang terpenting, aku sangat berterima kasih pada-MU karena sudah membawa kebahagiaanku kembali. Terima kasih telah membawa Kris kembali bertemu denganku. Terima kasih untuk segala cobaan yang telah KAU berikan padaku. Aku tahu, semua akan indah pada waktunya. Dan Kris, aku berterima kasih karena kau masih menungguku dalam waktu yang cukup lama. Aku mencintaimu.”Lee Sekyung.

THE END

***

How is it readers ?? Ini yang bikin temanku, hihi. follow her on twitter @SeptisiaEP95 ~ kk

Thank you for reading. Don’t forget like or comment 😀

13 thoughts on “[ONESHOT] Love Can Wait

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s