Brunch (Chapter 1)

brunch

BRUNCH

“When we’re together, nothing can be better…”

By

PSEUDONYMOUS

CAST: 2PM’s Nichkhun & SNSD’s Tiffany || GENRE: Family & Life || LENGTH: Chapter || RATING: G || DISCLAIMER: Inspired by Benny and Joon (1993) & Grave of the Fireflies (1988)

PREVIOUS PART:

PROLOGUE

CHAPTER 1

Nichkhun berdiri di depan cermin wastafel sambil memerhatikan penampilannya pagi itu. Ia menyisir rambutnya sebentar dan mengusap sekitar dagu dan mulutnya untuk memastikan tidak ada janggut-janggut tipis yang tersisa. Puas dengan penampilannya pagi itu, ia segera mengenakan setelan terakhirnya—kemeja jeans dan topi—dan siap berangkat ke tempat kerja.

Prang!

Terdengar sesuatu yang pecah dari lantai bawah. Nichkhun menoleh kearah pintu dan mengerutkan alis. “Tiffany,” gumamnya. Pria itu segera berlari terbirit-birit keluar dari kamar mandi, lalu melompati beberapa anak tangga sekaligus untuk menuju dapur. Ia memandang berkeliling dan mendapati Tiffany sedang berjongkok di depan meja dapur memunguti pecahan-pecahan stoples selai kacang.

“Tiffany, Tiffany,” Nichkhun berjongkok di sebelah gadis itu dan menarik tangannya, “biarkan saja. Jangan dipungut. Biar aku yang melakukannya.”

“Tidak, tidak. Biar aku,” kata Tiffany bersikeras.

“Jangan, Tiffany,” tegur Nichkhun. Ia tahu apa yang akan adiknya lakukan. “Kau tidak bisa lagi menggunakannya. Ini sudah kotor.”

“Tidak apa-apa. Masih bisa digunakan.” Tiffany berdiri, lalu menyambar piring di atas meja dan mengangkat selai kacangnya ke pinggir piring dengan jari-jari tangannya.

“Ya Tuhan, kau tidak perlu melakukannya,” kata Nichkhun dengan gemas. Ia menarik paksa tubuh gadis itu untuk berdiri, lalu menuntutya untuk duduk. “Biar aku yang membersihkannya. Kau duduk saja di situ.”

Nichkhun menarik serbet dari gantungan lemari dapur, lalu menyeka selai kacang yang menempel di atas lantai, serta memungut satu per satu pecahan-pecahan kecilnya. Seusai melemparkan serbet kotor dan pecahannya ke dalam bak cuci piring, Nichkhun membalikkan tubuh untuk memastikan keadaan Tiffany.

“Ya Tuhan!” jeritnya lagi. Ia menghampiri adik perempuannya dan menarik jari-jari Tiffany keluar dari mulutnya. “Jangan menjilatinya seperti itu. Itu sudah kotor.”

Tiffany terkekeh. “Rasanya masih enak.”

“Ya,” kata Nichkhun sambil menarik serbet lainnya dari gantungan, “rasanya enak, tapi itu kotor,” lanjutnya sembari membersihkan jari-jari tangan Tiffany. “Kau tahu, mengkonsumsi makanan yang tidak higienis bisa membuatmu jatuh sakit. Kau tidak mau sakit, kan?”

Tiffany mengerutkan bibirnya dan menggeleng sedih. “Tidak mau.”

“Kalau begitu, berhentilah menjilati jari-jarimu. Akan kubelikan selai kacang yang baru untukmu.”

“Tapi, bagaimana aku harus sarapan tanpa selai kacang?” Tiffany menunjuk blender berisi susu dan sereal yang dicampur di atas meja makan. “Aku tidak bisa mencampurnya tanpa selai kacang,” lanjutnya.

Nichkhun melirik blender itu, dan menatap adiknya sedih. Siapapun tahu, mencampur susu, sereal, dan selai kacang dengan blender bukanlah ide yang bagus. Rasanya benar-benar sebuah bencana—Nichkhun sudah pernah mencobanya dua kali dan di tempat kerja, ia nyaris muntah dua kali. Tapi, itulah yang dilakukan Tiffany setiap pagi. Menu susu, sereal, dan selai kacang yang diblender secara bersamaan selalu menjadi menu favorit sarapan paginya. Entah bagaimana Tiffany bisa begitu menikmatinya.

“Bagaimana kalau kau sarapan yang lain saja untuk pagi ini?” tanya Nichkhun.

Tiffany menaikkan kedua lututnya ke atas kursi dan memeluknya erat. “Boleh saja.”

“Oke.”

Nichkhun duduk bersama Tiffany di meja makan, kemudian mulai mengoleskan roti gandum dengan mentega dan menaburkan butiran meses ke atas roti. Tiffany memerhatikan kakaknya dengan saksama dan matanya tampak berbinar-binar karena taburan meses yang berhasil menarik perhatiannya. Matanya tidak berkedip sama sekali dan gadis itu tampak seperti seorang bocah perempuan berumur lima tahun yang menggemaskan.

“Nyonya Kwon akan datang pukul sepuluh nanti,” jelas Nichkhun seraya mengambil satu lapis roti lainnya untuk menutup yang lainnya, “kau tahu apa yang harus dilakukan, kan, Tiffany?”

“Ya,” sahut Tiffany tanpa mengalihkan pandangan dari sandwich-nya, “jangan keluar rumah sebelum Nyonya Kwon datang dan jangan membuat kekacauan.”

“Bagus.” Nichkhun tersenyum dan mengusap rambut gadis itu. “Makanlah.”

Tiffany mulai melahap menu barunya dan balas tersenyum kearah Nichkhun—memamerkan deretan giginya yang coklat karena meses.

“Itu baru adikku,” kekeh Nichkhun. Pria itu berdiri dari kursinya, lalu membungkuk kearah Tiffany dan mengecup ringan dahi gadis itu. “Jaga dirimu baik-baik. Ingat, jangan membuat kekacauan.”

Tiffany mengangguk ringan tanpa benar-benar peduli dengan ucapan Nichkhun dan meneruskan sarapannya. Nichkhun beranjak dari dapur dan berjalan menuju pintu ruang tamu. Sebelum keluar dari sana, ia menoleh sebentar kearah dapur untuk memastikan keadaan adiknya. Nichkhun tidak tahu, masih harus berapa lama lagi ia bisa bertahan keluar dari pintu rumahnya tanpa harus mencemaskan keadaan Tiffany. Tapi ia juga tidak punya banyak pilihan, maka ia akhirnya memaksakan diri untuk menarik pintu, menutupnya rapat-rapat, dan memercayakan keadaan pada kehendak Tuhan.

Nyonya Kwon mendorong pintu dapur yang terbuka dan mempererat pelukannya pada tas yang dibawanya. Wanita paruh baya itu memerhatikan segala kekacauan di dapur—blender berisi susu dan sereal yang gagal dicampur, bekas selai kacang yang tumpah, remah roti dan meses di mana-mana, posisi kursi makan yang tidak pada tempatnya—dan berdecak ringan. Sepertinya ia akan sibuk sekali hari ini.

Nyonya Kwon meletakkan tasnya ke atas meja dapur dan mengintip ke atas tangga. Ia memasang telinga untuk mendengar suara dari kamar atas, lalu memutuskan untuk menyusul keheningan yang tidak biasa itu.

“Tiffany?”

Wanita itu mulai meniti anak tangga demi anak tangga dan terus menggumamkan nama Tiffany berulang kali.

Pintu kamar Tiffany terbuka dan terlihat sosok gadis muda itu sedang duduk di lantai, berfokus pada sesuatu. Nyonya Kwon memicingkan mata dan memerhatikan kegiatan Tiffany yang sedang menggambar sesuatu dengan pensilnya. Ia mendekat, lalu menyorong pintu kamar itu agar terbuka lebih lebar.

“Tiffany?” panggilnya lagi.

Tiffany sontak menoleh dan memandangi Nyonya Kwon dengan horor. “Apa yang kau lakukan di sini?” jeritnya panik sekaligus ketakutan, seolah-olah Nyonya Kwon akan menyakitinya.

“Tidak apa-apa,” kata Nyonya Kwon terbata. Wanita itu mundur dengan tubuh menggigil. “Aku hanya ingin memastikan keadaanmu bahwa kau baik-baik saja.”

“Keluar dari kamarku!”

“Aku akan keluar dari kamarmu, aku akan keluar dari kamarmu!” kata Nyonya Kwon ketakutan sambil terus berjalan mundur. Ia bahkan nyaris tersandung beberapa kali karena tidak memerhatikan arah di belakangnya.

Tiffany menyambar kotak pensilnya dan melemparkannya kearah Nyonya Kwon. “Keluar!”

“Kapan aku bisa mengambil mobilku?”

Nichkhun membungkuk ke dalam mesin mobil, memerhatikan kerusakan-kerusakannya dan menggumam sebentar. Ia mengangkat bahu dan berkata, “Mungkin dua atau tiga hari lagi.”

“Oke,” pria botak itu mengangguk, “aku akan kembali tiga hari lagi. Pastikan juga kau sudah mengganti businya.”

Nichkhun tersenyum ramah. “Pasti.”

Pria itu beranjak pergi dan Nichkhun menutup kap mobil, lalu menyeka tangannya yang penuh oli pada seragam kerjanya. Tidak berselang lama kemudian, Taecyeon muncul di belakangnya dengan seringai menggelikan dan mengagetkannya dengan menepuk keras pundak rekan kerjanya itu. Nichkhun melonjak ringan dan menengok ke belakang dengan wajah kesal.

“Kau mengagetkanku,” gerutu Nichkhun.

Taecyeon terkekeh, “Kau tidak boleh melewatkan kesempatan ini.”

Nichkhun memicingkan mata. “Kesempatan apa?”

“Ada seorang gadis cantik di luar bengkel bersama mobilnya. Sepertinya businya bermasalah. Aku ingin kau yang menanganinya.”

“Kenapa tidak kau saja?”

“Tidak, tidak,” geleng Taecyeon, “gadis ini sepertinya berani untuk membayar mahal untuk busi dengan kualitas terbaik dan juga,” Taecyeon mengerlingkan matanya, “dia cantik, Khun. Apa kau tidak mengerti maksudku?”

Nichkhun mendengus, berdecak, dan menggelengkan kepalanya. Dasar Ok Taecyeon.

“Ayolah, Khun,” omel Taecyeon, “kau harus menemui yang satu ini.” Taecyeon memegang pundak Nichkhun dan mendorong pria itu dengan paksa ke luar bengkel. “Ayo, temui dia!”

Begitu di luar bengkel, keduanya mendatangi gadis yang dimaksud Taecyeon yang sedang bersandar dengan manis pada mobilnya. Gadis itu membalikkan badan dan menemui dua pria berlumuran oli itu dengan seulas senyum manis di kedua sudut bibirnya. Nichkhun menggosok dahinya dengan gugup, merasa agak tidak pantas harus menemui gadis secantik itu dengan penampilan bermandikan oli.

“Hai,” sapa Taecyeon.

Gadis itu mengangkat alis. “Jadi,” katanya sambil mendelik kearah Nichkhun, “apakah pria ini yang akan menangani mobilku?”

Taecyeon melirik Nichkhun yang masih tercenung, lalu tertawa renyah dan menepuk pundak rekan kerjanya itu. “Benar, Nichkhun yang akan menanganinya. Benar, kan, Khun?”

“Ah?” Nichkhun menyahut dengan tergagap dan tersenyum canggung, “Be-benar. Aku yang akan menangani mobilmu.”

Okay,” sahut gadis itu sambil menatap Nichkhun. “Lalu, kapan aku bisa kembali untuk mengambil mobilku?”

“Jika itu hanya kerusakan ringan, mungkin kau bisa kembali besok pagi,” jawab Nichkhun.

“Tapi kau bebas untuk datang kemari kapanpun jika kau ingin bertemu dengan rekan kerjaku ini,” timpal Taecyeon sambil menepuk-nepuk bahu Nichkhun.

Nichkhun mendelik kearah Taecyeon dan menyikut perut pria itu dengan air wajah memerah. Si gadis itu ikut tersipu malu, sementara Taecyeon terkikik geli di belakang pundak Nichkhun.

“Nichkhun!” Chansung, salah seorang pekerja bengkel lainnya berseru dari dalam sambil mengangkat gagang telepon, menengahi obrolan mereka bertiga. “Ada telepon dari Tiffany!”

“Tiffany?” Nichkhun berubah gugup, lalu berlari menghampiri meja telepon, meninggalkan Taecyeon dan gadis itu tanpa pamit.

“Tiffany bilang kalian kehabisan selai kacang,” kata Chansung sembari menyerahkan gagang telepon pada Nichkhun. Ya, dan itu artinya tidak bagus, sambung Nichkhun dalam hati.

“Halo? Tiffany?” sahut Nichkhun kearah gagang telepon.

“Oppa? Kita kehabisan selai kacang. Bisa kau pulang sekarang?

“Pulang sekarang?” Nichkhun menyeka keringat dinginnya dan mencuri pandang sekilas kearah Taecyeon dan gadis tadi dengan cemas. “Apakah terjadi sesuatu? Di mana Nyonya Kwon?”

Aku ingin kau pulang sekarang bersama se-stoples selai kacang. Sekarang, Oppa! Sekarang!

“Oke, oke. Aku akan pulang sekarang.”

 Nichkhun berlari-lari kecil dengan bungkusan berisi stoples selai kacang di tangannya menuju pintu dapur yang dibiarkan terbuka. Ia masuk ke dapur dan tidak ada yang berubah di sana. Masih sekacau saat ia meninggalkannya tadi pagi. Dan sepertinya, rumah itu terlalu sepi. Di mana Tiffany dan Nyonya Kwon?

“Tiffany?”

“Enyah dari hadapanku sekarang!” Nichkhun dapat mendengar suara Tiffany menjerit dari ruang TV.

“Jangan, Tiffany! Jangan!”

Nichkhun berjalan cepat menyusul keributan itu dan ia begitu terkejut saat remote TV melayang dengan cepat melewati kepalanya, lalu pecah menjadi bagian-bagian kecil saat menabrak dinding. Ia tercengang dan melihat Tiffany berteriak-teriak histeris, sementara Nyonya Kwon terus berjalan mundur dengan tubuh gemetar.

“Ada apa ini?” teriak Nichkhun.

Nyonya Kwon berjalan mengitari ruang TV menuju dapur dan menyambar tasnya di atas meja makan sambil mengigau dengan dialek Daegunya yang kental.

“Cukup sudah, cukup sudah.”

Nichkhun mengejar wanita itu dan menahan lengannya.

 “Nyonya Kwon, tolong. Aku akan bicara dengan Tiffany.”

“Tolong aku juga, Tuan Horvejkul,” geram Nyonya Kwon dengan suara gemetar. Ia menarik lepas cengkeraman tangan Nichkhun pada lengan gemuknya dan melanjutkan, “aku menyerah sekarang. Aku hanya mendatangi kamarnya untuk memastikan bahwa dia baik-baik saja, namun dia berubah menjadi liar dan hampir menghancurkan kepalaku dengan kotak pensilnya. Anak itu benar-benar tidak bisa ditoleransi lagi.”

“Tapi Tiffany tidak benar-benar berniat ingin melukaimu, Nyonya Kwon. Aku mohon. Kau tidak bisa berhenti bekerja begitu saja,” kata Nichkhun memelas.

“Maaf, Tuan Horvejkul,” Nyonya Kwon mengusap matanya yang basah dan mempererat pelukannya pada tasnya, “adikmu sudah benar-benar gila. Dia benar-benar berbahaya.”

Nichkhun menautkan alis dan tiba-tiba merasa sangat murka. “Hei, jaga mulutmu!” teriak Nichkhun sambil melayangkan telunjuknya di depan wajah Nyonya Kwon. “Kau tidak berhak mengatakan sesuatu yang buruk tentang adikku! Kau tidak mengenalnya!”

“Benar, aku memang tidak mengenalnya, Tuan Horvejkul. Maafkan aku. Sebaiknya aku pergi sekarang sebelum kotak pensil lainnya terbang dari ruang TV dan akan mematahkan batang hidungku. Permisi.”

Nichkhun mengawasi tubuh gempal Nyonya Kwon yang berjalan di trotoar dengan terhuyung-huyung meninggalkan rumahnya tanpa bisa melakukan apa-apa.

Tiffany duduk di kursi dapur dengan kedua lutut dilipat di atas kursi dan sepasang matanya yang terus memerhatikan Nichkhun yang sedang berusaha membuka penutup stoples selai kacang barunya.

“Coba putar kearah kanan,” kata Tiffany.

“Aku memang memutarnya kearah kanan, Tiffany,” jawab Nichkhun, masih mencoba.

“Kau memutarnya kearah kiri!”

“Ini kanan, Tiffany,” kata Nichkhun bersikeras. “Kau duduk berlawanan arah denganku, makanya terlihat seolah-olah aku memutarnya dari kiri.”

“Apa maksudmu? Apakah kau mencoba mengatakan bahwa aku tidak bisa membedakan mana arah kiri dan kanan?” ujar Tiffany kesal.

“Tiffany,” kata Nichkhun bernada memperingati.

“Nichkhun,” balas Tiffany, mencoba mengolok-oloknya.

“Aku tidak mengatakan hal itu,” kata Nichkhun membela diri.

“Ya, kau mengatakannya.”

“Tidak.”

“Ya.”

“Demi Tuhan, Tiffany.”

“Jangan menganggapku remeh, Khun!” dengus Tiffany. Ia mulai berdiri dan merampas stoples kacang itu dari Nichkhun, lalu tiba-tiba membantingnya hingga pecah ke atas lantai. “Aku tahu aku sakit, tapi bukan berarti aku tidak bisa membedakan mana arah kiri dan kanan!”

Nichkhun menunduk memandangi stoples selai kacang yang telah pecah dengan mulut menganga sementara Tiffany berlari kearah kamarnya di lantai atas. Nichkhun menggeleng-gelengkan kepalanya dengan samar, lalu jatuh terduduk di kursi makan dan mengusap wajahnya berulang-ulang kali.

“Maaf, Khun, tapi tidak ada lagi pembantu rumah tangga yang mau bekerja di rumahmu,” jelas Seulong.

Nichkhun mendesah di ujung telepon. “Tidak bisakah mencarikannya untukku? Aku yakin masih ada dari kalian yang mau bekerja.”

“Maaf, Khun, tapi memang tidak ada yang mau, kecuali untuk mereka yang ingin hidungnya patah akibat lemparan kotak pensil Tiffany.”

Nichkhun mengusap wajahnya dengan lelah. “Nyonya Kwon menceritakannya padamu, kan?”

“Ya, dan juga kepada pembantu rumah tangga yang lain. Sekarang tidak ada lagi dari mereka yang mau bertemu dengan adikmu. Mereka takut jika adikmu mencoba melakukan sesuatu yang buruk juga kepada mereka.”

“Oke. Aku mengerti.”

“Maafkan aku, Khun. Aku tidak bisa berbuat banyak.”

“Oke, tidak apa-apa.”

Nichkhun meletakkan gagang telepon kembali pada tempatnya dengan wajah putus asa dan menyandarkan punggungnya pada dinding. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Bagaimana ia bisa bekerja tanpa seseorang yang bisa menjaga Tiffany selama ia tidak ada di rumah? Nichkhun meremas tangannya dan bergumam dalam hati, “Tuhan, tolong kami…”

To be continued…

74 thoughts on “Brunch (Chapter 1)

  1. Pair yg bnr* real…hihihi…
    Kirain khunfany bkl jd kekasih ternyata saudara…hihihihi…
    Fany ngalami traumakah? Gr* ortuny…

  2. Sbenarx fany eonni skit apa siih,?!
    Apa jgn2 krn trauma khilangan kdua ortu mreka itu ya,atw apa thor,?!
    Sdikit bingung tp over all ffx bgus kok 🙂

    next thor !!

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s