CIPHER [PART 2]

cipher

Title : CIPHER || Author : brokenpetals [Minrin1004] || Genre : Life, Romance || Main Cast : 2PM’s Nichkhun Horvejkul, SNSD’s Tiffany Hwang, F(x)’s Victoria Song, TVXQ’s Shim Changmin || Supporting Cast: Rainbow’s Noeul, 2PM’s Taecyeon || Rate : PG-15 || Artwork : Minrin1004 ||

| TEASER | PART 1 |

 -oOo-

Author’s POV

“Yang benar saja, nona Hwang,” gerutu seorang wanita berwajah ketus yang terlihat sibuk membolak-balik sebuah map biru berisi beberapa template desain hasil kerja Tiffany.

Ia memicingkan mata menghadap si nona muda yang hari ini terlihat redup tak seperti biasanya. Mencoba menelisik apa yang ada pada mata coklat yang terlihat kosong tak bermuatan.

“Kau ini sebenarnya kenapa?” lanjutnya sembari mencopot kaca mata beningnya. “Apa yang membentur kepalamu sampai kau berani datang padaku dan menyerahkan sampah-sampah ini?” Tubuhnya bergerak maju kearah meja seraya kata-kata tajam itu meluncur mulus tanpa dosa.

Namun tetap saja, Tiffany teguh tak menjawab, malah kini membuang muka ke arah jendela besar di sisi ruangan. Mencoba menikmati cantiknya kota dari ketinggian gedung besar tempatnya berada.

“Cish,” desis sang atasan memperhatikan Tiffany yang seolah tuli.

Dan seraya dokumen-dokumen itu ditutup kasar, Tiffany menghela nafas berat. Diam-diam menata pikirannya sendiri yang bercabang melayang tak jelas berfokus kemana.

.

Well, dengar” ujar sang atasan bangkit dari duduknya, melepas sebuah name tag bertulis Noeul lalu melemparnya keatas meja.

Sambil berjalan ia menepuk pundak Tiffany seraya melenggang indah menuju mesin espresso miliknya yang terletak di sudut ruangan. “—Aku sama sekali tak peduli apa kau punya masalah pribadi atau blah blah, bukan urusanku,” ia memutar mata besarnya.

“Tapi kau adalah pekerjaku, ingat?” diseruputnya kopi panas dari cangkir putih itu. “Kau-bekerja-untukku,” lanjutnya tegas.

“Jangan harap aku akan mengasihanimu dengan kau datang kesini bersama baju kaos kebesaran dan kantung mata menjijikkan itu… Ugh—” wajahnya meringis begitu jijik.

.

“—Cepat revisi hasil kerjamu lalu datang kembali kemari,” perintahnya dingin sembari memutar balik menuju kursi kerjanya. “Itu juga kalau kau masih berminat kerja disini, nona.”

Kalimatnya berakhir ditutup seulas dehem samar. Noeul kembali disibukkan dengan beberapa lembar dokumen yang berserak di mejanya, tak mau repot-repot sedikit saja melirik wajah Tiffany dengan rahang yang mengeras. Terang sekali Tiffany marah terlihat dari raut wajahnya, menatap tajam sosok dihadapannya yang bertingkah seolah ia yang paling benar.

“Wanita jalang,” desis Tiffany hampir tak terdengar.

Noeul tersenyum mengangkat satu sudut bibirnya, malah terdengar sedikit tertawa setelah sadar atas umpatan tak pantas dari mulut bawahannya sendiri.

“Terima kasih.”

***

Tiffany’s POV

Hari ini terasa lain.

Mungkin bagi sebagian orang ini akan terdengar sedikit berlebihan, tapi bagiku rumah serasa bukan rumah tanpa ada Nichkhun disana.

Inilah hari pertama aku bangun tidur tanpa ada dia yang bilang ‘Selamat Pagi’, atau ‘Mau Kopi?’ saat aku membuka mata. Hari ini aku bangun tidur sendiri, membuka tirai kamar kami sendiri. Bahkan jatuh cinta lagi pada paginya kota ini pun, aku sendirian.

Dibilang rindu, rasanya tak pantas, karena ini baru hari pertama. Tapi yang benar kusadari kini tak lebih dari satu hal saja.

Bahwa rasanya…

..aku takut.

Ia pergi tanpa membiarkanku tahu dia akan kemana, bersama siapa, tujuannya apa. Dan itu cukup untuk membuatku merasa tak aman.

Benar, tak aman.

Aku hanya takut ia pergi ke suatu tempat dimana ada seorang gadis cantik lain yang lebih baik dariku.

Yang dewasa.. yang sempurna.. yang seperti dirinya.

Lalu ia memutuskan untuk jatuh cinta padanya, dan memilih untuk tak mau lagi menengok padaku yang pasti akan hancur sampai ke tulang.

“Tiffany,”

Aku memejam. Bahkan angin yang mendesah lembut terdengar seperti sedang memanggil namaku, berkali-kali, terus berulang mendatangkan seulas sosok dirimu yang tengah tersenyum memanggilku dalam semu.

“Stephanie Hwang,”

Terjadi lagi. Aku menjambak rambutku sendiri, berpikiran bahwa mungkin saja aku terlalu gila untuk menjadi waras kali ini.

Tapi setidaknya matahari sore itu cukup teduh untuk menemani kakiku melangkah maju menuju satu kedai kopi mungil di sudut jalan. Lelah, marah, bingung, semua rasanya bercampur baur di dalam kepalaku.

“Selamat datang,” sapa seorang gadis pelayan yang berdiri di pintu depan.

Aku ikut membungkuk padanya, sebelum akhirnya berhenti di depan meja kasir dengan seorang gadis berumur 20an yang tersenyum manis menyapa kedatanganku.

Iced caramel mocha,” pesanku padanya.

Ia mengangguk sambil mengetik beberapa kata di keyboard komputer di hadapannya. “Apa nona ingin pakai whipped cream?” tanyanya padaku.

.

Lantas…

.

Aku melirik pada kalendar kertas yang tergantung di sisi ruangan. Oh ya, H – 12.

Perusahaan majalah tempatku bekerja akan menyelenggarakan ulang tahunnya yang ke 10. Dan kurasa tak akan lucu kalau aku hadir disana dengan perut berlemak seperti ini.

“Kurasa tid—”

“—Pakaikan saja lah, yang banyak, ya,” sahut suara seorang pria yang mengantre di balik punggungku.

Aku pun berbalik dan mendapatinya tengah tersenyum padaku dengan tampang bodoh, sambil mengunyah permen karet merah muda yang masih terlihat manis di mulutnya.

Lalu seketika wajahnya bergerak mendekat ke ujung hidungku.

Familiar. Pikirku begitu.

“Halo,” ujarnya sambil menarik tudung jaketnya yang hampir menutupi setengah wajahnya.

“Astaga,—” pekikku di depan wajahnya.

“Taec?!”

***

Author’s POV

“Maaf, rumahku sempit,” Changmin menendang beberapa baju yang berserak di lantai rumahnya.

Kedua sahabatnya hanya tertawa sambil menyamankan diri di karpet coklat lusuh yang tergelar di ruang tengah. Sejak kedatangannya, Victoria tak pernah lepas berada di samping Nichkhun. Dan tentu saja, dengan Changmin yang juga selalu berada disana, sayangnya cuma bisa diam sambil menenangkan rusuh hati sendiri.

“Aku jadi tidak enak menolak ajakan nyonya Yoon untuk mampir ke kedainya,” ujar Victoria terdengar tak enak.

Changmin mengangguk pelan, “Tapi tak apalah. Ia pasti akan memberikan dumpling-nya secara gratis pada kita kalau begini caranya, ia selalu begitu setiap aku mampir dulu. Daripada begitu, biar nanti aku yang beli kesana kalau ia sedang tak ada.”

Ketiganya lantas mengangguk setuju, saat tiba-tiba pada detik setelahnya bunyi guntur terdengar samar dari dalam sana, seakan sedang menjawab ‘iya’ pada mendung yang bertanya ‘apa akan ada hujan?’

“Yasudah, kalau begitu aku akan masak ramen,” sambar Victoria bangkit dari duduknya, disusul Changmin yang juga bangkit dan berjalan keluar. “Aku akan beli soda.”

.

.

Lalu kini, suara debum pintu yang ditutup pelan bahkan dapat terdengar dua kali lebih nyaring bagi telinganya. Rumah sempit itu tak berpenerangan cukup, hanya berbekal lampu rusak dan cahaya matahari yang menyelinap dari celah tirai jendela.

Nichkhun duduk di tempatnya, merasa tak cukup bertenaga walau untuk sekedar tertawa saat bercanda. Ia disitu diam, memperhatikan telepon genggamnya yang bergetar beberapa kali.

“Pergi kemana?”

“Aku akan menunggumu di rumah.”

“Aku merindukanmu.”

Tiffany. Ia menatap pesan-pesan singkat itu sayu.

Bolehkah ia dibilang jahat sekarang?

Pria itu hanya menghela nafasnya, melepas baterai telepon genggamnya lalu mencampakkannya begitu saja.

.

.

Ia memejam erat, mengusap wajahnya yang dingin saat kemudian ia ingat lagi,

Ingat atas ragu dirinya yang pernah menyuruhnya pergi jauh dan mencari jawaban atas pertanyaan dari dirinya sendiri.

Tentang hidupnya kelak, juga tentang Stephanie Hwang dan cintanya yang abu-abu.

Ia pergi bukan untuk menjauh atau meninggalkan siapa-siapa.

Ia pergi semata-mata untuk mencari keyakinan hatinya yang sempat hilang.

Pergi menjauh untuk kembali, lalu jatuh cinta padanya sekali lagi.

.

.

Namun dari celah sekat, Victoria melirik ke ruang tengah. Menemui sosok seorang pria yang duduk menunduk menatap telepon genggamnya yang sudah terbongkar.

Ia menatapnya datar, bingung, namun mungkin juga sedikit bercampur khawatir. Karena dihitungnya sudah yang kesekian kali pria itu menghembuskan nafas berat seperti ini. Ia beda, bahkan senyumnya terasa begitu dingin.

‘Adakah yang salah dengannya?’ pikirnya dalam hati.

‘Kenapa merengut begit—’

“AHH!”

Jeritan melengking itu sontak membuat Nichkhun bangkit dan berlari menuju dapur.

“Ada apa?” ujarnya saat mendapati gadis itu tengah berjongkok memegangi jari-jarinya.

Nichkhun mendekatinya lalu menyambar sebuah lap basah, mengusap jemari lentik gadis itu lalu menepuk-nepuk yang luka. “Hati-hati,” katanya pelan dengan nada cemas yang kentara.

Tapi Victoria hanya bisa diam, seakan sayang dengan tak membiarkan satu kedipanpun membuyarkan waktu singkat namun berharga baginya itu. Ia tersenyum samar namun begitu manis, pipinya merah dan matanya cerah, asyik memandangi wajah si pria berkulit pucat di hadapannya yang masih menunduk merawat lukanya.

Sedangkan Nichkhun…

‘Aku sudah bilang, tidak usah memasak apapun untukku. Lagipula ini sudah larut, kau juga kelihatan lelah. Sudah, tidur saja.’ Nichkhun mencoba menariknya keluar dari dapur.

‘Tapi kau kan lagi demam. Masa iya aku harus diam saja?’

‘Sekarang lihatlah jarimu, sakit kan?’

‘Tidak. Lagipula lukaku hanya butuh satu lembar plester…. Atau….’

‘….’

‘Atau apa?’

‘Mmm….’

‘Apa?’

‘….’

‘Satu kecupan darimu?…. kalau kau mau.’

Ya, Tiffany lagi, si gadis manja itu. Nichkhun terdiam menatap luka di tangan Victoria yang sebenarnya tak kenapa-napa. Ia mengusapnya pelan, ingat lagi bagaimana dulu ia memperlakukan luka di tangan Tiffany saat tergores pisau tajam, bagaimana gadis itu memintanya mengecup luka-lukanya jika ia punya, atau merayunya agar mau memeluknya seharian jika ia tak enak badan.

.

.

Tak terasa ia menyunggingkan seulas senyum miris, masih sembari mengusapi tangan Victoria yang kini tak tahu harus berbuat bagaimana.

‘Kurasa aku akan mati 5 menit lagi,’ batin Victoria.

.

Namun kemudian Nichkhun berdehem saat akhirnya tertampar oleh kenyataan bahwa yang ia genggam adalah tangan gadis lain, pada akhirnya rela melepas genggamannya dengan gerakan yang terkesan canggung.

“L-lain kali hati-hati,” ujarnya sekali lagi lalu bangkit meninggalkannya.

Dan disana  Victoria pun menunduk melihat jemari tangannya. Mereka memerah, masih terbalut lap basah pemberian pria yang kini berjalan memunggunginya.

Ia berpikir sejenak…

Lalu,

“Nichkhun—”

***

Ia menganga begitu saja, sekali-kali menelan ludah sendiri seraya matanya memperhatikan gadis itu menenggak habis segelas besar minuman kerasnya dalam sekali nafas.

“Ahhhh,” Tiffany menguarkan bau alkohol dari mulutnya yang berdesah.

Dan tepat di sampingnya Taecyeon menahan tawanya dengan wajah heran, melihat gadis itu mengambil lagi segelas besar alkohol dingin yang baru saja ia tuang.

“Kau memang orang gila,” ujarnya menggeleng-gelengkan kepala.

Alih-alih melepas kangen di kedai kopi tadi,—

“Satu… satu lagi…” ujar Tiffany mengacungkan tangannya pada si bartender yang terlihat sibuk di belakang counter.

—Kedua sahabat lama itu malah pergi ke sebuah pub besar yang terbilang jauh dari rumah masing-masing.

Tiffany terlihat merebahkan kepalanya di meja kayu di hadapannya, memejam lemas dengan mulut yang sedikit terbuka. Ia memeluk tas selempang mungil yang ia sampirkan di sisi tubuhnya, sambil bergumam tak jelas membuat Taecyeon mengernyit bingung.

“Anak ini benar-benar.”

Pria itu mematikan batang rokok terakhirnya saat kemudian sebuah hela nafas berat terdengar saru dari bibirnya yang basah.

“Hidupmu sekeras itukah?” ujarnya ringan sambil menenggak habis minumnya yang tinggal setengah.

Tiffany lantas menyeringai kecil, mengusap wajahnya yang pucat lalu menepuk-nepuk dadanya sendiri. “Sakit sekali disini,—” ia meringis pura-pura kesakitan. “—Akkkhhhh,” jeritnya tertahan.

Dan sebuah tawa hambar pun tak terelakkan meluncur dari bibir Taecyeon. Pria itu menoleh padanya, memandang lurus pada mata merah Tiffany lalu mendesis pahit, “Cish, klise.”

Namun entah tersambar petir dari mana, air wajah gadis itu berubah pucat seraya matanya menajam seperti sedang berpikir keras.

.

.

“Hey Taec,”

“Hm?”

Tiffany menegakkan kepalanya, berdehem sambil menghadap pada setengah wajah Taecyeon  yang tak tertutup tudung jaketnya. “Kalau misalkan kau, seandainya saja, bukan pria pemabuk, uhuk—” ia terbatuk di sela bicaranya.

“—Lalu kau bertemu seorang gadis pemabuk, lalu jatuh cinta padanya. Apa kau akan menikahinya?”

Gadis itu nampak teler, dengan mata tak fokus ia mencoba mencari wajah Taecyeon yang kini memandangnya datar dari seberang meja.

Sedangkan pria itu hanya diam, setelah pandangannya ternyata jatuh ke seberang dan menangkap seulas cincin emas mungil melingkar di jari manis gadis di depannya.

“Kau akan menikah?” tanya Taecyeon datar.

Gadis itu pun mengangguk semangat, menyengir memamerkan sederet gigi rapi nya saat ia bertanya lagi.

“Jadi kau akan menikahi gadis itu atau tidak?”

Taecyeon menggaruk tengkuknya yang tak gatal, sambil melukis bayang-bayang di benak sendiri tentang apa yang telah digambarkan Tiffany terhadapnya. “M-mungkin,” jawabnya asal.

“Yang benar kau!” ujar Tiffany dengan alis yang bertaut.

“Yah… kenapa tidak?” jawab Taecyeon enteng dengan senyuman andalannya.

.

Merasa diluar harapan, lantas Tiffany melemas lagi. Bahunya turun dan wajahnya lesu. Mata indah itu dibiarkan mati kehilangan warna, yang ada hanya sisa-sisa dari putus asanya yang sudah sampai di titik terakhir.

“Kalau begitu… kenapa pergi?” ia bertanya pada cincin di jarinya.
“Nanti pulang, kan?” lanjutnya terdengar menyedihkan.

.

“Cish, anak ini,” mendengarnya pria itu hanya tersenyum sinis sambil menaikkan kedua alisnya, “Apa-apaan itu?” ujarnya terdengar mengejek.

“Untunglah kau disini, Taec,—” dengusnya tak bernyawa.  “—Kalau tidak, aku mungkin akan hanya membusuk di rumah, mati bosan sambil nonton Running Man,” ia menjulurkan lidahnya dengan wajah bosan.

Taecyeon hanya tertawa lalu menoyor kepala Tiffany, menenggak habis segelas lagi sebelum akhirnya memutuskan untuk bangkit dari duduknya, menyeret kasar gadis itu keluar dari sana.

“Kau sudah terlalu mabuk,” ujarnya mempererat genggamannya pada tangan Tiffany.

“Duh,  duh, aduh,” Gadis itu mencoba melawan, tapi nyatanya ia tak berdaya.

Walau sebenarnya bukan apa-apa, hanya saja pria itu menggenggam jemarinya serasa sedang meremas pasir. “Lepaskan! Sakit, bodoh!” hardiknya sambil memukul kepala Taecyeon.

.

.

“Eh, itu kan—” bisik seorang gadis yang berpapasan dengannya di pintu keluar.

Taecyeon hanya melirik galak, tetap melanjutkan langkahnya menuju ke mobil hitam miliknya yang terparkir di depan gedung.

“—O-Ok Taecyeon,” sahut yang lain masih dengan suara pelan.

Bahkan di balik tudung yang menutupi setengah wajahnya pun, orang-orang disana masih bisa mengenali dia.

Ok Taecyeon.

Si model papan atas yang namanya harum bahkan sampai ke Barat sana.

Omo! T-Taecyeon,” ujar satu gadis lagi sambil menutup mulutnya dengan tas tangan berkilau yang ia genggam dengan bangga.

Namun pria itu seperti masa bodoh, tak mau peduli lagi apa namanya besok akan tercetak di headline koran pagi dengan berita,

‘Ok Taecyeon Keluar Diskotik Bersama Teman Wanitanya.’

“Sampah,” gumamnya sambil memutar matanya yang memerah.

.

.

.

45 menit perjalanan pun nyatanya dapat ditempuh dengan mulus. Setidaknya Taecyeon masih cukup sadar untuk berkendara dengan baik malam itu.

“Aku masih sadar,” lenguh Tiffany dengan mata terpejam.

“Ya… ya…” jawab Taecyeon malas.

Susah payah pria itu menopang berat tubuh Tiffany menuju pintu kamar apartemen milik gadis itu. Memasukkan beberapa digit sandi lalu,—

“B-belum diubah, ya?” ujar Taecyeon bingung.

—membuka pintunya kasar.

“Haah! Makan apa sih kau?!” gerutunya melempar tubuh Tiffany ke sofa terdekat.

Gadis itu menyeringai dengan raut yang begitu menyebalkan. “Kau saja yang bodoh, aku kan sudah bilang aku masih sadar,” sahutnya sambil berjalan terseok menuju kulkas.

Taecyeon hanya mengumpat samar sebelum akhirnya mengendus bau badannya sendiri, lantas kemudian meringis tajam tersengat bau alkohol yang begitu menusuk.

“Aku pinjam baju pacarmu, ya?” sahutnya pada Tiffany yang masih merunduk di depan kulkas.

“Air putih, air putih, air putih,—” jari gadis itu menunjuk beberapa botol kaca berisi air mineral yang terjejer rapi di lemari pendingin. “Membosankan,” gerutunya malas.

“Ya, ya, ambil saja. Bajunya ada di ruang ganti,” sahutnya lagi tanpa menoleh ke arah Taecyeon.

Tiffany menutup pintu kulkasnya gusar lalu bergegas pelan ke kamar mandi, “Lihatlah betapa miskinnya aku sampai tak punya sebutir apel pun di dalam kulkas,” desisnya sambil membanting pintu kamar kecil di belakangnya.

*DING*

Bel pintu depan berbunyi nyaring.

Taecyeon masih sibuk memilih saat akhirnya sadar bahwa tamu yang bersembunyi di belakang pintu depan itu datang jam 11.55 malam.

“Wah, keren. Bertamu malam-malam,” ujarnya menyindir.

Ia menyambar asal satu kemeja putih yang tergantung disana, berlari kecil menghampiri pintu kayu coklat gelap yang berdiri kokoh di bagian depan.

*CLICK*

Taecyeon masih sibuk merapikan kancing kemejanya saat pintu itu ia buka lebar, mempertemukan sosoknya dengan seorang pria berkulit pucat dengan senyum yang memudar…

.

.

N-Nichkhun…

To be continued…

*****

Komentar di terima baik 🙂

 

39 thoughts on “CIPHER [PART 2]

  1. Mampus aaaaa Khun datang disaat yg tidak tepat-____- Gawat pasti pikiran dia macem-macem deh. Waaaaaa haaaa makin complicated aja nih ceritanya. Next part! 😀

  2. Oh tidak.. Kayaknya bakal terjadi kesalah pahaman disini.. 😮
    Moga aja pikirannya tidak macam-macam.
    Part awal kayaknya udh mau ke konflik.
    Apa nti msih ada konflik lain?
    Entahlah. Yg pasti aku slalu nunggu nih ff 🙂

  3. Kedatangan Nichkhun gk pas bgt sih? Nanti dia nevthink lagi,.
    Kyakx bkal smakin rumit nih,.

    Next thor, ditunggu kelanjutanx = ]

  4. OMG!!! Nichkhun bs salah persepsi.
    Mlh Taec pake baju Nichkhun dan ngancingin baju lagi, huhuhu
    Pdhl kan cm mau ganti baju karena bajunya bau alkohol >.<

  5. mnurutku endingnya nichkhun sama tiffany … aku khuntoria shipper jadi sedih 😭 tapi 4 jempol buat author bntar lagi jadi penulis ni…

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s