[FF Freelance] Where is My Man? (Part 7)

where is my man

Annyeong.. Masih inget gak ya sama ff yang satu ini? Hehee mian kalo part yang ini kelamaan nongolnya soalnya author emang akhir-akhir ini agak sibuk #soksibuk* dan lagipula juga udah beberapa hari kemarin author sakit #siapayangnanyahah? * makanya part yang ini jadi telat nongol. Tapi author harap masih ada yang berminat pada ff ga jelas bin ngawur ini ya, soalnya biarpun ff ini masih jauh dari kata perfecto, tapi author beneran udah mati-matian mikir dan bikinnya #halahlebay*

Baiklah kalau beg beg begitu, silahkan me-recall kembali cer cer ceritanya #woy,kenapa jadigagap?* dan happy reading 🙂

 

Title            : WHERE IS MY MAN? PART 7

Writer                   : Endor Yochi

Main Cast    : Park Jiyeon (T-ara), Kim Myungsoo a.k.a ‘L’ (Infinite), Yang Yoseob (B2ST), Choi Minho (SHINee)

Other Casts : Lee Jieun a.k.a IU, SEO JOO-HYUN a.k.a SEOHYUN (SNSD), Bae Suzy (Miss A), Park Sanghyun a.k.a Thunder Cheondung (MBLAQ), Lee Gikwang (B2ST), Jung Ilhoon (BTOB), Lee Sungjong (Infinite), Lee Chanhee a.k.a Chunji (Boyfriend)

Genre           : Romance, Comedy ( a little bit ), aneh, gaje, dsb

Length                   : Chaptered

Rating                   : PG-17 #naikin lagi aja deh, soalnya author takut buat orang lain ikutan dosa, haha #CTERR! Padahal kan isinya ga sampai ke *situ-situ* amat 😀

Previous part: Part 1, Part 2, Part 3, Part 4 , Part 5, Part 6

Cerita sebelumnya..

“Apa kau menyukainya?” tanya Myungsoo dengan setengah berbisik.

Jiyeon hanya mengangguk. Myungsoo tersenyum manis, dan kembali memagut bibir mungil itu untuk yang ke sekian kalinya #tolong bener2 diskip saja buat yg masih balita (?)*. Mereka terus melakukan itu hingga tanpa mereka sadari Minho dan Seohyun telah berada di sana dan melihat mereka berdua.

“J-Jiyeon-ah?” kata Minho tergagap.

“Oppa..?” sambung Seohyun pula.

***

 

Minho dan Seohyun terlihat berjalan beriringan menyusuri kegelapan malam itu.

“Seohyun-ah, neo jeongmal gwaenchanha kita keluar malam-malam seperti ini?” tanya Minho khawatir.

“Gwaenchanha, oppa. Selama ada oppa di sampingku, aku tidak akan merasa sakit.” Sahut Seohyun.

Minho tersenyum mendengarnya, lalu mengelus rambut Seohyun dengan lembut.

“Apa kau tidak kedinginan? Pakailah ini.” kata Minho sambil memakaikan mantelnya ke tubuh Seohyun.

“Gwaenchanha, oppa. Aku kan sudah memakai mantel. Nanti oppa kedinginan.”

“Anii, nan gwaenchanha.”

“Aigoo, lihatlah, apa sekarang aku tampak seperti hantu mantel?”

Minho tertawa mendengarnya.

“Ne, tapi aku tidak takut sama sekali, karena kau hantu mantel yang cantik.”

Seohyun pun tertawa mendengarnya.

“Rupanya oppa sudah pandai menggombal sekarang.” Katanya.

“Anii. Aku hanya mengatakan berdasarkan apa yang kulhat saja.”

Seohyun hanya tersenyum. Kedua terus berjalan menyusuri jalan yang kini sudah mulai jarang dilalui orang-orang. Tiba-tiba saja Seohyun berhenti melangkah.

“Wae geurae?” tanya Minho heran.

“Itu.. Seperti Myungsoo oppa.” Kata Seohyun sambil menunjuk ke arah jalan tak jauh di depan mereka.

Minho pun turut melihatnya juga.

“Keunde.. siapa yeoja itu? Kenapa mereka berpelukan? Apa itu yeojachingunya Myungsoo oppa? ” sambung Seohyun lagi.

Seohyun pun melangkahkan kakinya kembali untuk lebih mendekat, diikuti Minho. Namun tanpa disangka, tiba-tiba mereka melihat Myungsoo dan yeoja yang bersamanya itu berciuman. Keduanya terkejut sekali melihatnya. Terlebih-lebih Minho. Namja itu terkejut bukan main karena ia mulai mengenali siapa yeoja yang sedang bersama Myungsoo itu.

“J-Jiyeon-ah?” ucapnya sedikit gagap.

“Oppa..?” sambung Seohyun pula.

Myungsoo dan Jiyeon seketika menoleh serempak. Mereka terkejut bukan main ketika melihat Minho dan Seohyun sudah berada di depan mereka.

“Seohyun-ah?” kata Myungsoo.

“Oppa?” sambung Jiyeon pula.

“Apa.. Apa yang sedang kalian lakukan?” tanya Minho dengan perasaan tak menentu.

“Oppa.. Aku.. Aku..” Jiyeon tak mampu melanjutkan kalimatnya. Ia benar-benar bingung harus menjawab apa dan bagaimana. Sementara Minho masih tetap menanti jawaban yang akan keluar dari mulut mantan yeojachingunya itu. Namun belum sampai Jiyeon maupun Myungsoo menjawab, tiba-tiba seseorang datang dan langsung memukul Myungsoo sehingga namja itu terjatuh. Darah segar langsung keluar dari mulutnya.

“Neo jeongmal nappeun namja!!”

Jiyeon terkejut sekali melihatnya. Ternyata seseorang yang baru datang itu adalah Sanghyun. Dan lebih parahnya, Sanghyun datang bersama Yoseob.

***

 

Sanghyun tampak tidak tenang saat berada di kamarnya. Ia masih memikirkan Jiyeon yang sepertinya masih shock dengan berita yang didengarnya tadi. Sejak mendengar berita itu, dongsaengnya itu belum dilihatnya keluar dari kamar sama sekali.  Karena ia merasa panik dan merasa bertanggung jawab, maka namja itu pun keluar dari kamar menuju kamar Jiyeon dan mengetuk pintu dari luar.

“Jiyeon-ah! Neo gwaenchanha? Keluarlah, kau belum makan sejak sore tadi. Appa dan umma sudah menunggu di ruang makan.”

Tak ada sahutan.

“Apa kau sudah tidur?”

Masih tak terdengar sahutan. Sanghyun pun mencoba membuka pintu kamar Jiyeon. rupanya tidak terkunci. Sanghyun mengerutkan keningnya dan berpikir, kemana dia? Setelah itu ia pun masuk dan membuka kamar mandi. Kosong. Ia sedikit mulai khawatir. Sanghyun teringat kalau Jiyeon sudah memiliki ponsel baru yang ia sendiri tak tahu darimana asalnya. Maka ia pun mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi dongsaengnya itu. Akan tetapi suara mengagumkan T-ara yang berasal dari ponsel Jiyeon itu ternyata berada di atas tempat tidur Jiyeon.

“Aish! Kenapa ponselnya ada di sini?” gumam Sanghyun kesal. kali ini ia benar-benar sudah mulai cemas. Ia takut sesuatu yang buruk menimpa dongsaengnya itu. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia segera berlari keluar rumah dan melihat ke atap rumah. tapi ternyata Jiyeon juga tak ada di sana. Ia semakin cemas dibuatnya. Lalu ia teringat pada Yoseob. Maka ia pun segera menghubungi namja itu.

“Yoboseyo..” terdengar suara Yoseob dari seberang.

“Yoboseyo. Yoseob-ah, apa Jiyeon di rumahmu sekarang?”

“Anii.. Uhm, apa ada sesuatu yang terjadi, Hyung?”

“Jiyeon tidak ada di rumah. Aku sudah mencarinya kemana-mana tapi dia tidak ada. Di atap juga tidak ada.”

“Mworago? Memangnya apa yang sudah terjadi hyung?”

Dengan singkat Sanghyun pun menceritakan tentang kejadian sore tadi bahwa ia sudah memberitahu Jiyeon tentang perjodohan mereka. Yoseob tertegun sejenak mendengarnya.

“Yoseob-ah, kau masih di sana?”

“Uhh,, ne. Hyung, kita harus mencari Jiyeon. Aku khawatir sesuatu yang buruk terjadi padanya.”

Sanghyun setuju. Lalu ia pun menutup telepon dan langsung pergi keluar rumah. Ia sengaja tidak memberitahu appa dan ummanya karena ia takut masalah ini akan menjadi semakin rumit. Sebentar kemudian Sanghyun dan Yoseob pun sudah berjalan menyusuri jalan raya. Mereka memasang kedua pasang mata mereka dengan teliti. Namun mereka tak kunjung menemukan sosok yeoja yang mereka cari. Hingga selang beberapa menit mereka berjalan, di ujung jalan, mereka melihat seorang namja dan seorang yeoja sedang berciuman.

DEGG!!

Jantung Yoseob terasa bergetar hebat saat melihatnya. Ia sangat mengenali yeoja yang dilihatnya itu. Itu.. yeoja itu adalah yeoja yang sedang mereka cari. Itu adalah Jiyeon. Dan Jiyeon sedang bersama seorang namja yang juga sudah tak begitu asing baginya. Kim Myungsoo. Entah apa yang dirasakan Yoseob saat itu. Ia sangat marah dan sedih. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Sebentar kemudian mereka melihat dua orang lain mendekat dengan ekspresi yang sama seperti mereka. Yoseob tahu, mereka adalah Minho dan Seohyun. Yoseob semakin tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Di saat ia sedang mencerna semua itu dan berusaha keras menahan emosinya, tiba-tiba saja Sanghyun mendekati Myungsoo dan langsung meninju muka namja itu.

BUG!!

Tak ayal lagi namja tampan itu pun jatuh terduduk dan langsung mengeluarkan darah dari mulutnya.

“NEO JEONGMAL NAPPEUN NAMJA!!” teriak Sanghyun marah.

Baik Yoseob maupun Jiyeon terkejut sekali melihatnya.

“S.. Sanghyun oppa?” ucap Jiyeon.

Sanghyun tak menyahut, melainkan mencengkeram kerah baju Myungsoo dan memaksanya berdiri.

“Berani sekali kau menyentuh dongsaengku! Kau pikir siapa dirimu? Hah?” kata Sanghyun lagi dan hendak memukul Myungsoo lagi. Akan tetapi Jiyeon segera berlari mendekat dan menghalanginya.

“Oppa, hajima!” serunya. Ia melepaskan cengkeraman tangan Sanghyun dari kerah Myungsoo dan menghalangi tubuh Myungsoo dari oppanya itu.

“Yaa! Mwohaeyo? Kenapa kau membela namja ini? “ bentak Sanghyun pula.

“Oppa, oppa salah paham.. Ini bukan salah Myungsoo sunbae. Jangan sakiti dia lagi.”

“Mwo? Bukan salahnya? Yaa!! Aku bahkan melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau dia sudah berani menyentuhmu! Dia berani menciummu! Apa itu yang dinamakan tidak bersalah?”

“Arayo.. Keunde..”

“Mwo? Kau ingin mengatakan apa lagi untuk membelanya? Yaa, Jiyeon-ah. Bukankah kau sudah tahu sendiri kalau kau ini sudah~”

“Aku mencintainya!!” potong Jiyeon tiba-tiba, membuat semua yang mendengar itu terkejut, termasuk Myungsoo. Ia tidak menyangka Jiyeon akan berkata seperti itu di depan orang banyak.

“M.. Mwo?” tanya Sanghyun masih belum percaya pada pendengarannya.

“Ne.. Aku mencintai Myungsoo sunbae. Aku melakukannya karena aku mencintainya. Apa itu salah?”

“Yaa! Neo michyeosseo? Kau ini sudah~”

“Hyung!” potong Yoseob tiba-tiba. Ia berjalan mendekati Jiyeon lalu berkata,

“Apa kau benar-benar mencintainya?”

Jiyeon menarik napas sebentar sebelum kemudian dengan perlahan ia mengangguk. Yoseob tertegun melihatnya.

 

Nae mameul algo isseulkka? Moreun cheokago isseulkka?

Jeogdanghi twinggidaga mot igineun cheok

Nae mam bada jwo geureom andoelkka

 

Tidakkah kau tahu apa yang kurasakan? Atau kau hanya berpura-pura tidak tahu?

Tak bisakah kau berpura-pura membuatku lega untuk sejenak?

Tak bisakah kau menerima hatiku?

 

Namun beberapa saat kemudian namja itu mengangguk-angguk dan  tersenyum.

“Cukkhae.. Jangan lupa kau harus mentraktirku makan untuk merayakannya. Arra?” katanya mencoba bergurau.

Jiyeon tak menjawab. Ia tahu pasti saat itu ia sudah sangat melukai perasaan Yoseob. Tapi ia harus berkata jujur sebelum semuanya terlambat. Ya, yeoja itu sudah percaya pada perasaannya sekarang. Ia memang mencintai Myungsoo, entah sejak kapan.

“Na galgae.” Kata Yoseob lagi kembali tersenyum lalu beranjak pergi meninggalkan tempat Jiyeon berada.

“Yoseob-ah! Yaa, jamkkanman!” panggil Sanghyun, tapi namja yang dipanggilnya itu sama sekali tak berhenti berjalan.

“Jiyeon-ah, aku benar-benar tidak mengerti denganmu.” Kata Sanghyun pula lalu turut beranjak pergi. Jiyeon tertunduk melihatnya. Ia masih belum tahu apa yang dilakukannya itu sudah benar atau salah. Sementara Myungsoo mulai bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi antara Yoseob dengan Jiyeon. dan bertanya-tanya kenapa yeoja itu berkata seperti itu.

“Geureom, kami juga akan pergi. Kajja, Seohyun-ah.” Ucap Minho pula.

“Oppa..” panggil Jiyeon tiba-tiba, membuat Minho berhenti melangkah.

“Mianhae..” ucap Jiyeon lagi.

Minho terssenyum mendengarnya.

“Wae? Untuk apa kau meminta maaf padaku?”

“Geuge~”

“Jiyeon-ah, kalau kau bahagia, aku juga ikut bahagia.”

Jiyeon diam saja. Ia sadar, mungkin Minho memang sudah tidak memiliki perasaan lagi padanya. Mungkin rasa sayang Minho pada Seohyun lebih besar daripada kepadanya. Jiyeon mengangguk-angguk mengerti.

“Gomawo, oppa.” Katanya.

Minho hanya tersenyum dan mengangguk, lalu meraih tangan Seohyun dan mengajaknya pergi. Sementara itu Jiyeon masih menunduk. Ia benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Myungsoo terdiam sejenak memandangi yeoja didepannya itu. ia menarik napas dalam-dalam.

“Kenapa kau berbohong?” tanyanya kemudian.

“Uh?”

“Kenapa kau mengatakan kebohongan kalau kau mencintaiku hanya untuk melindungiku?”

Jiyeon tak menjawab. Ia masih menunduk.

“Mianhae.. Karena kecerobohanku kau jadi mendapatkan masalah seperti ini.” kata Myungsoo lagi.

Jiyeon masih diam menunduk. Sekali lagi Myungsoo menarik napas.

“Kajja, kau harus pulang. Aku tidak ingin semuanya bertambah rumit lagi.” Katanya sambil beranjak mendahului. Akan tetapi Jiyeon masih berdiri di tempatnya. Myungsoo pun berbalik lagi dan meraih tangan Jiyoen kemudian menggenggamnya.

“Kajja.” Katanya pula.

Jiyeon mengangkat kepalanya dan menatap kedua mata Myungsoo. Bibir Myungsoo yang membiru akibat pukulan Sanghyun itu menyunggingkan senyum manisnya. Jiyeon ikut tersenyum melihatnya. Lalu keduanya pun beranjak berjalan beriringan sambil bergandengan.

“Jeogi.. Mianhae..” ucap Jiyeon.

“Untuk apa?”

“Karena aku, Sanghyun oppa jadi memukulmu. Igeo appo?”

Myungsoo tersenyum kecil lalu menjawab.

“Kau ingin tahu bagaimana rasanya? Geureom, biarkan aku memukulmu.”

“Mwo?”

“Bukankah kau ingin tahu bagaimana rasanya?”

“Yaa! Michyeosseo? Aku hanya ingin tahu apa kau baik-baik saja.”

Myungsoo kembali menyunggingkan senyum kecilnya.

“Gomawo..” katanya kemudian.

“Wae?”

“Kau sudah berbohong untukku.”

“Uhh.. Ne. Munje eobseo..”

Myungsoo tak menjawab lagi. Jiyeon pun terdiam. Ia tidak bisa mengatakan kalau sebenarnya tadi ia tidak berbohong melainkan mengatakan yang sebenarnya. Ia hanya tidak ingin semuanya menjadi lebih rumit lagi karena yeoja itu merasa sudah menyakiti perasaan Yoseob.

***

 

Sesampainya di rumah, Yoseob langsung menaiki atap rumahnya. Dibaringkannya tubuhnya itu perlahan dan menatap ke arah langit. Namja itu menarik napas sepenuh dadanya. Ia masih teringat dengan jelas pemandangan pahit yang padahal menurut readers indah 😀 tadi itu. dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia merasa sakit. Namun ia juga tak berpikir bisa melakukan apa-apa.

“Aku mencintainya..”

“..Aku mencintai Myungsoo sunbae. Aku melakukannya karena aku mencintainya. Apa itu salah?”

Ucapan Jiyeon itu masih terus terngiang di telinganya. Yoseob semakin pusing dibuatnya.

“Aish!! Mwoya?” gerutunya kesal sambil duduk dan mengacak rambutnya sendiri. Tiba-tiba saja dari atap rumah, kedua matanya melihat Jiyeon dan juga Myngsoo sedang berjalan menuju rumah Jiyeon. Yoseob melihat mereka bergandengan tangan. Namja itu menarik napas dalam-dalam dan kembali merebahkan tubuhnya.

“Arasseo.. Mungkin berita itu memang terlalu tiba-tiba untuknya. Tapi bagaimana bisa mereka berdua ~ aishh! Ohmo,, kenapa hatiku rasanya sakit begini? Apa ini yang dinamakan patah hati? Aigoo.. Eottokhe? Semoga hanya kali ini saja aku mengalaminya. Jinjja appo..” gumam Yoseob sambil menekan-nekan dadanya sendiri. Setelah itu kembali menarik napas sepenuh dadanya. Tiba-tiba saja ia mendengar suara berisik dari atap rumah Jiyeon. Yoseob menoleh terkejut dan langsung beranjak, lalu bergegas menuruni atap menuju kamarnya kembali. sementara Jiyeon yang baru sampai di atap rumahnya itu melihat ke atap rumah Yoseob. Yeoja itu murung karena ia tak melihat Yoseob di sana. Padahal ia bermaksud ingin meminta maaf padanya. Maka setelah menarik napas dalam-dalam, ia kembali menuruni atap dan merangkak masuk kamar lagi.

***

 

Jiyeon berjalan menuju sekolah dengan langkah gontai. Sejak pagi ia sudah dihadapkan dengan sikap Sanghyun yang terus mendiamkannya. Ia tahu pasti oppanya itu kecewa padanya. Tapi Jiyeon tak bisa berbuat apa-apa. Ia sadar kalau semua itu karena dirinya. Ia semakin merasa bersalah karena bahkan oppanya itu tidak mengadukan kejadian semalam pada Leeteuk appa dan Yoojin umma. Jiyeon menarik napas panjang sepenuh dadanya sambil memasuki gerbang sekolah. Tiba-tiba saja ia melihat Yoseob juga baru memasuki gerbang sekolah.

“Oh, Yoseob oppa!” panggilnya.

Yoseob pun berhenti dan menoleh.

“Oh, Stubborn girl?” katanya.

Jiyeon pun menghampirinya.

“Jeogi.. Mianhae..” katanya beberapa saat kemudian.

“Gapjagi waeyo?”

“Tentang semalam~”

“Ahh.. Gwaenchanayo.. Keunde, kenapa kau meminta maaf padaku? Apa karena kau tidak bisa membelikanku makanan untuk merayakan kebahagiaanmu itu?”

“Mwo?”

“Yaa, bukankah semalam aku sudah bilang, kau harus membelikanku makanan untuk merayakan kebahagiaanmu bersatu dengan Myungsoo sunbae.”

“Oppa~”

“Oh, bagaimana kalau kita makan ramen di tempat Jieun sepulang sekolah nanti?“

“Keunde~”

“Yaa, bagaimana bisa kau mengabaikan chingumu ini begitu saja? Aishh jinjja..” kata Yoseob sambil beranjak.

“Yaa, jamkkan! G-geurae, aku akan membelikanmu ramen nanti sepulang sekolah.”

Yoseob tersenyum senang mendengarnya.

“Joha. Kajja kita masuk kelas.”

“Uhh, ne..”

Keduanya pun berjalan beriringan menuju kelas. Dalam hati, Jiyeon merasa aneh dan bingung dengan sikap Yoseob. Namja itu tampak baik-baik saja. Sama sekali tak ada perubahan sikap. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa mungkin kalau sebenarnya namja itu tidak setuju dengan perjodohan mereka? Dan apa memang benar namja itu menyukai Jieun karena alasan itu? Jiyeon benar-benar sangat pusing memikirkan hal itu. Sementara di balik senyuman riang Yoseob, sebenarnya ada segumpal rasa sakit di dadanya. Namun namja itu sudah bertekad tidak akan pernah menunjukkan rasa sakit itu di hadapan Jiyeon. Saat itu tak ada yang diinginkannya kecuali hanya ingin melihat yeoja itu bahagia. #peluk Yoppa yuk!~excitedface*

***

 

Myungsoo menaiki anak tangga dengan senyum sumringah di wajahnya. Entah kenapa mood namja itu sepertinya sedang dalam keadaan bagus sebagus wajah author nya itu. ia bahkan tersenyum ramah pada setiap murid yang secara  kebetulan berpapasan dengannya. Dan tentu saja itu membuat mereka yang melihatnya menjadi sangat-sangat heran atau sangat geer dan senang~bagi para siswi~ setiap kali Myungsoo tersenyum pada mereka. Anggota the Strangers lain yang kebetulan sedang nangkring di depan kelas lantai atas itu saling berpandangan karena juga heran melihat sikap aneh Myungsoo serta keadaan wajah Myungsoo yang lebam akibat pukulan dari Sanghyun semalam itu.

“Waeyo? Kenapa memandangku seperti itu?” tanya Myungsoo heran ketika melihat tatapan aneh dari ketiga kawannya itu.

“Wae geurae? Kenapa wajahmu membiru begitu?” sambut Chunji balik bertanya.

Myungsoo tak menjawab melainkan hanya tersenyum-senyum saja.

“Yaa, neo gwaenchanha?” Ilhoon pun memasang tampang penasaran.

“Wae? Apa aku tampak benar-benar buruk hari ini?” tanya Myungsoo pula sambil meraba wajahnya seakan mencari benjolan segede pepaya di sana.

“Ne, kau tampak aneh. Tidak seperti biasanya. Apa kau habis dikeroyok?” sambung Sungjong pula ikutan meraba wajah Myungsoo yang langsung disambut tepisan dari tangan Myungsoo.

“Yaa, mwohae?” katanya bergidik geli.

“Aku hanya ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi? Muka babak belur begitu tapi kau malah senyum-senyum?”

“Anii.. Gwaenchanha. Tadi aku dikejar anjing dan aku lari sampai jatuh menabrak tembok.” Sahut Myungsoo berbohong. Kalau ia mengatakan yang sebenarnya, ia khawatir ketiga kawannya itu akan mengamuk dan membalas pukulan Sanghyun. Lagipula ia juga tidak ingin kejadiannya bersama Jiyeon itu diketahui oleh mereka. Namun tak urung ketiga manusia cakep itu masih terbengong-bengong seakan tidak mempercayai kata-kata Myungsoo barusan.

“Sudahlah, aku masuk kelas dulu.” Kata Myungsoo bermaksud masuk kelas.

“Yaa, jamkkan!” kata Ilhoon tiba-tiba.

“Wae?”

Ilhoon mendekati Myungsoo dan menatap namja itu dalam-dalam.

“Yaa, waeyo?” Myungsoo agak merasa risih juga ditatap seperti itu oleh Ilhoon.

“Apa kau sedang jatuh cinta?”

CEGLUKK!!

Pertanyaan Ilhoon yang singkat itu sukses membuat Myungsoo tersedak ludah sendiri.

“M.. Museun mariya? Ahh.. Ayolah, kau pasti terlalu banyak menonton sinetron (?) di rumah. aku masuk dulu.” Kata Myungsoo dengan sedikit gugup, lalu menepuk bahu Ilhoon dan beranjak masuk kelas. Sementara ketiga kawannya itu langsung berunding di luar kelas dengan membentuk formasi melingkar.

“Ada yang aneh dengannya.” Kata Ilhoon.

“Apa benar dia sedang jatuh cinta?” sambung Chunji pula.

“Yaa, mana mungkin? Bukankah kemarin dia marah sewaktu kita mengatakan ingin punya yeojachingu? Dia bahkan bilang akan mengeluarkan kita dari the strangers kalau sampai punya yeojachingu.” Susul Sungjong.

“Tapi sikapnya tadi benar-benar aneh. Kalian lihat sendiri kan sewaktu aku bertanya dia sedang jatuh cinta atau tidak?” kata Ilhoon lagi.

“Ne, mukanya langsung memerah.” Sahut Chunji.

“Dan itu membuatnya semakin tampan saja.” Sambung Sungjong.

“Yaa! Masalahnya bukan itu.” maki Ilhoon membuat Sungjong cengengesan.

“Tapi kalau dia benar-benar jatuh cinta, siapa yeoja yang bisa membuatnya seperti itu? aku benar-benar penasaran.” Kata Chunji kemudian.

“Wah, kalau memang begitu, aku juga benar-benar harus mencari yeojachingu. Aku tidak boleh kalah dari Myungsoo.” Kata Sungjong bersemangat.

“Ne, aku juga.” Dukung Chunji.

“Yaa, itu kan belum tentu benar. Kita harus menyelidikinya terlebih dulu. Jangan asal cari yeojachingu saja.” Potong Ilhoon yang langsung membuat wajah kedua temannya itu tersenyum masam.

“Mwohaeyo?” tegur Myungsoo yang tiba-tiba sudah nongol keluar lagi. Formasi membundar yang semula dibuat ketiga namja itu langsung buyar seketika. Mereka langsung pasang muka sok nothing (?).

“Ahh, amugeotdo aniya..” kata Sungjong sambil cengengesan dan garuk-garuk kepala Chunji(?).

“Aku mau ke kantin, tadi pagi belum sempat sarapan. Kalian mau ikut?” tanya Myungsoo kemudian.

“Uhh, ne.. Kami ikut. Kajja.”

Dengan saling menyenggol, ketiga namja itu mengikuti langkah Myungsoo sambil sesekali berbisik. Hingga ketika mereka sampai di lantai bawah, tanpa sengaja mereka berpapasan dengan Jiyeon dan Suzy sehingga langkah mereka terhenti. Kedua yeoja yang semula asyik berbacot ria itu serempak diam ketika melihat the Strangers. Alasan Suzy karena ia takut dan segan dengan mereka, sedangkan alasan Jiyeon karena ia masih canggung dan malu jika harus bertemu dengan Myungsoo mengingat kejadian tadi malam. Myungsoo sendiri pun sebenarnya merasa canggung juga ketika melihat Jiyeon. Namun karena ia ingin menjaga imejnya di hadapan teman-temannya, ia pun bersikap sok dingin seperti biasa.

“Wae?” katanya sok dingin.

Jiyeon agak terkejut juga melihatnya. Ia pikir dengan kejadian ‘dare’ yang mereka lakukan baru-baru ini akan membuat sikap namja itu menjadi lebih ramah padanya, namun ternyata malah semakin dingin. Maka yeoja itu pun turut memasang wajah arogannya.

“Minggirlah, aku mau lewat.” Katanya sok galak pula bermaksud beranjak. Namun ketika ia hendak lewat sebelah kanan Myungsoo, namja itu juga ke kanan. Ketika hendak ke kiri, namja itu pun melakukan hal yang sama.

“Yaa, kenapa kau menghalangi jalanku? Kau sengaja?” Jiyeon kesal juga dibuatnya.

“Yaa! Siapa yang menghalangimu? Kau saja yang mengikutiku.” Balas Myungsoo tak kalah galak pula.

“Aish! Neo jinjja..”

“Jiyeon-ah, sudahlah. Kajja.” Bisik Suzy pula sambil menarik tangan Jiyeon dan mengajak yeoja itu minggat dari hadapan Myungsoo cs.

Sementara Myungsoo yang ditinggalkan itu terdiam sejenak, lalu tersenyum-senyum sendiri. Ketiga temannya yang melihat itu kembali saling berpandangan.

“Yaa! Gwaenchanha?” tegur Ilhoon pula membuat Myungsoo kembali pasang muka datar.

“Ehm. Ne.. Kaja!” katanya, lalu melangkah lagi diikuti ketiga kawannya yang kembali saling menyenggol satu sama lain. #ni namjadeul doyan amat senggol-senggolan*

***

 

Suzy menarik napas lega ketika berhasil minggat dari hadapan the Strangers. Sementara Jiyeon masih terlihat bersungut-sungut.

“Yaa, kau jangan coba mencari masalah dengan mereka. Aku benar-benar takut.” Kata Suzy pada sahabatnya itu.

“Geogjong hajima. Mereka itu hanya sekumpulan namja-namja yang lemah. Mereka tidak sekuat yang kau bayangkan.” Kata Jiyeon sambil mendudukkan dirinya di atas kursi depan kelas.

“Yaa, tapi tetap saja aku tidak mau melihatmu berkelahi dengan mereka.” Suzy mengikuti jejak sahabatnya itu.

“Aniyo. Mana mungkin mereka sanggup melawanku? Kau tidak tahu sih kalau aku pernah mengalahkan mereka sekali.”

“Jinjja? Myungsoo sunbae juga kalah?”

“Uhm.. Anii.. Aku memang tidak sempat berkelahi dengannya. Tapi aku yakin dia juga akan kalah jika bertarung denganku.”

“Yeoja pabo! Jangan pernah berpikiran kau ingin menantangnya berkelahi.”

“Yaa! Benar juga idemu itu? Geurae, suatu saat aku pasti menantangnya berkelahi. Aku ingin tahu seperti apa kemampuannya kalau melawanku.”

“Yaa!!” seru Suzy histeris ketika mendengar ide gila yeoja di sebelahnya itu. Sementara Jiyeon hanya cengar cengir saja. Tiba-tiba saja ia melihat Minho berjalan menuruni anak tangga dengan agak tergesa.

“Minho oppa!” panggil Jiyeon kemudian.

Minho pun berhenti dan menoleh. Jiyeon tampak berjalan mendekat diikuti Suzy.

“Jiyeon-ah? Waeyo?” tanya Minho pula.

“Oppa eodigayo? Sepertinya buru-buru?”

“Uhh, ne.. Aku mau ke depan menjemput Seohyun..”

“Seohyun?”

“Ne. Dia akan bersekolah di sini mulai hari ini. Kemarin aku sudah mengurus surat-surat kepindahannya.”

“Uhh, arasseo..”

Minho tak segera menjawab. Ia melihat mantan yeojachingunya itu seperti masih ingin mengatakan sesuatu. Jadi ia menunggu.

“Jeogi.. Bukankah dia sedang sakit? Kenapa ia ingin bersekolah lagi?” tanya Jiyeon kemudian.

“Aku juga sudah melarangnya dan menyuruhnya beristirahat saja di rumah. Tapi dia bersikeras bahkan mengancam tidak akan makan kalau aku terus melarangnya. Makanya mau tidak mau aku turuti saja permintaannya itu. Lagipula dia bilang dia akan merasa baik-baik saja selama ada aku bersamanya.” Kata Minho, membuat Jiyeon terdiam. Ia bukannya merasa sakit hati atau cemburu seperti sebelumnya. Ia terdiam karena merasa kasihan mengingat penderitaan yang dialami oleh Seohyun. Ia bahkan tidak mengerti kenapa rasa cemburu dan sakit itu tiba-tiba saja sudah tidak ada dalam hatinya.

“Jiyeon-ah, gwaenchanha?” Minho menyadarkannya.

“Uhh, ne.. Geureom, pergilah, Oppa.” Kata Jiyeon kemudian.

Minho tersenyum dan mengangguk.

“Oh, jeogiyo, Oppa.” Panggil Jiyeon lagi tiba-tiba.

“Ne?”

“Apa benar ponsel milik oppa hilang?”

“Oh.. Ne, tapi aku sudah beli lagi yang baru. Jadi hilangkan saja niatmu yang ingin memberikan ponsel pemberianku itu padaku lagi.”

Jiyeon tersenyum mendengarnya. Rupanya Minho sudah tahu niatnya itu. Ia hanya mengangguk.

“Geureom, aku pergi.” Pamit Minho lagi sebelum akhirnya ia benar-benar beranjak dari hadapan Jiyeon dan Suzy.

“Yaa, neo jeongmal gwaenchanha?” tanya Suzy pada Jiyeon yang masih terdiam di tempatnya.

“Wae?” Jiyeon balaik bertanya.

“Bukankah yeoja itu bersekolah di sini mulai sekarang? Dan itu artinya dia pasti akan selalu bersama Minho sunbae. Apa kau yakin kau baik-baik saja?”

“Yaa, mwoya? Tentu saja aku baik-baik saja. Aku justru lega karena dengan begitu Minho oppa bisa menjaga Seohyun setiap hari tanpa harus membolos.”

“Mwo?”

Jiyeon tak menjawab lagi, melainkan beranjak pergi meninggalkan Suzy yang masih sibuk berpikir. Maklum, yeoja itu tidak tahu menahu soal penyakit Seohyun dan alasan mengapa Minho sampai putus dengan sahabatnya itu.

***

 

“Oseo ose~ kau?” Jieun yang semula hendak mengucapkan selamat datang itu tak melanjutkan ucapannya ketika melihat yang baru masuk itu ternyata Yoseob. Namja itu tampak tersenyum dan melambai padanya.

“Annyeong!” katanya.

“Mau apa kau kemari?” tanya Jieun ketus.

“Tentu saja mau makan mie ramyeon buatanmu.”

Jieun tak menjawab. Kalau saja namja itu tidak datang bersama Jiyeon, ia pasti sudah mengusir namja itu. Namun tak urung hatinya senang juga saat melihat namja itu entah kenapa.

“Sepertinya kalian ada masalah? Kenapa dia seketus itu pada oppa? Aigoo.. Atau jangan-jangan dia cemburu dan marah karena oppa bersamaku?” kata Jiyeon ketika keduanya sudah duduk.

“Yaa, yaa, kenapa kau selalu mengatakan hal itu? aku dan dia tidak punya hubungan apa-apa.”

“Jinjja? Lalu jepit rambut itu~” Jiyeon tak melanjutkan kalimatnya karena mendadak muka Yoseob berubah murung. Ia pasti sedih karena tidak jadi memberikan jepit rambut yang direncanakan akan diberikannya pada Jiyeon itu. Namun sayangnya Jiyeon tak mengetahui hal itu. Yeoja itu malah menyangka jepit rambut itu sudah diberikannya pada Jieun. Beberapa saat kemudian Jieun datang membawa pesanan. Yoseob tersenyum melihatnya, akan tetapi Jieun sama sekali tak melihat ke arahnya. Yeoja itu hanya melihat kepada Jiyeon.

“Silahkan dinikmati.” Katanya dengan sedikit membungkuk.

“Yaa, kenapa harus seresmi itu? Bukankah kita ini sudah berteman?” kata Jiyeon yang merasa agak canggung.

“Ne?” Jieun tak mengerti.

“Bukankah kalian berdua sudah berkencan? Itu artinya aku ini juga temanmu, Jieun-ssi.”

“Mwo?”

Belum sempat Jiyeon menjawab lagi, tiba-tiba dari arah pintu masuk terlihat seorang anak kecil masuk dan berlari mendekat.

“Yoseob hyung!” teriaknya girang ketika dilihatnya Yoseob ada di tempat noonanya itu. yoseob pun langsung menyambutnya dengan riang pula.

“Aigoo! Kau kesini sendiri?” katanya sambil mengelus kepala Hyungsuk.

“Nde. Tadi aku kesini berlari.”

“Yaa! Sudah berapa kali noona bilang, jangan berkeliaran sendirian. Itu berbahaya. Tunggu noona menjemputmu. Kenapa kau ini bandel sekali?” semprot Jieun pada Hyungsuk.

“Aku bosan menunggu noona. Di rumah tak ada siapa-siapa karena Umma langsung pergi ke tempat kerja.”

“Bekerja?” tanya Yoseob.

“Nde, sejak appa meninggal, umma bekerja di toko swayalan. Tapi kalau pagi umma di sini karena noona pergi bersekolah. Atau kalau tidak, Shindong ahjussi biasa juga datang kemari untuk membantu. Biasanya sehabis pulang sekolah noona langsung menjemputku di rumah, tapi noona tidak menjemputku, makanya aku datang sendiri.”

 “Yaa, bukankah noona sudah bilang akan menjemputmu pukul satu? Sekarang baru pukul setengah satu! Aish! Sudahlah jangan ganggu pelanggan kita. Kajja ikut noona.” Kata Jieun sambil menarik tangan Hyungsuk menjauhi meja Yoseob dan Jiyeon. yoseob tertegun mendengar semua penuturan Hyungsuk tadi. Ia baru tahu kalau ternyata mereka sudah tidak punya ayah lagi dan ibu mereka bekerja di toko swalayan. Yoseob mendadak merasa kagum pada Jieun. Yeoja semuda itu sudah bisa ikut bertanggung jawab untuk membantu kebutuhan ekonomi keluarganya. Namja itu tersenyum sendiri. Ia tidak sadar kalau sejak tadi Jiyeon terus memperhatikannya secara diam-diam. Yeoja itu semakin yakin kalau namja di depannya itu memang benar-benar menyukai Jieun. Terbukti namja itu mulai memasang wajah riangnya lagi sambil sesekali melihat ke arah Jieun berada. Diam-diam Jiyeon ikut tersenyum juga melihat sikap Yoseob itu, lalu kembali memakan ramennya pelan-pelan.

***

 

Myungsoo tampak menggoreskan kuas itu ke kanvas di depannya. Sesekali bibirnya menyunggingkan senyum kecil setiap kali menatap kembali apa yang kini dilukisnya itu. lukisan wajah seorang yeoja yang semakin hari semakin membuatnya susah tidur, makan tak enak, dan sepanjang hari terus memikirkannya. Namja itu sudah merasa otaknya benar-benar akan jadi gila jika harus terus menerus seperti itu. Ia ingin mengungkapkan perasaannya namun ia masih menahannya. Ia ingin mencari waktu yang tepat untuk mengatakan semua itu. Ia kembali memandangi gambar wajah itu sekali lagi, dan kembali teringat akan momen-momen bersama si pemilik wajah yang tersenyum manis itu. Myungsoo kembali tersenyum sendiri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Aku pasti sudah gila.” Gumamnya.

“Oppa..”

Myungsoo menoleh terkejut karena tanpa disadarinya Seohyun sudah berdiri di belakangnya. Ia langsung gugup seketika dan menutup kanvasnya.

“Gwaenchanha. Aku sudah tahu.” Kata Seohyun.

“Kau.. melihatnya?” tanya Myungsoo sedikit gugup.

“Oppa.. Benar-benar menyukainya?” tanya Seohyun kemudian, dengan menatap Myungsoo penuh selidik.

Myungsoo agak enggan juga ditatap seperti itu.

“Wae?” tanyanya pula.

“Kalau memang benar oppa menyukainya, aku akan senang mendengarnya.” Kata Seohyun pula.

“Tentu saja kau senang, karena dengan begitu kau bisa leluasa bersama Minho, kan?” kata Myungsoo bermaksud bercanda.

“Anii.. Bukan karena itu. tapi aku takut kalau Oppa hanya ingin mempermainkannya saja. Aku sudah melihat sendiri kalau kalian berciuman kemarin malam. Aku hanya tidak mau kalau oppa tidak serius dan hanya melakukannya untuk bersenang-senang saja, karena aku juga seorang yeoja.”

Wajah Myungsoo memerah karena teringat kembali dengan kejadian semalam. Ia pun langsung membuang muka dan pura-pura membereskan kanvasnya.

“Yaa, kau tahu sendiri aku bukan tipe namja seperti itu.” katanya sok sibuk dan berusaha menghindari tatapan tajam dari sepupunya itu.

“Kalau begtu, artinya oppa benar-benar menyukainya? Park Jiyeon?” tanya Seohyun mencoba memastikan. Myungsoo tak menjawab, malah semakin mempersibuk gerakan tangannya.

“Oppa tidak perlu berakting seperti itu. Itu hanya akan mempermudahku menebak jawabannya melalui sikap oppa itu.”

Myungsoo terdiam sejenak, lalu berbalik menghadap Seohyun.

“Sudahlah, lebih baik kau beristirahat. Apa Minho tidak datang?” katanya mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Minho oppa baru saja pulang. Dia bilang dia akan kembali lagi nanti.”

“Bagaimana sekolah pertamamu di SMA Gwangju?”

“Menyenangkan. Mereka semua ramah padaku.”

“Tentu saja. Mereka sudah tahu kalau kau ini sepupuku. Jadi mana mungkin ada yang berani mengganggu atau berbuat kasar terhadapmu?”

Seohyun tersenyum mendengarnya. Myungsoo tersenyum pula. Seohyun yakin kalau namja itu benar-benar menyukai Jiyeon. Dan itu sudah cukup membuatnya lega karena ia menduga kalau Myungsoo melakukan hal itu pada Jiyeon hanya untuk main-main saja. Karena selama ini Seohyun tahu kalau belum pernah sekalipun Myungsoo mencoba memiliki sebuah hubungan khusus dengan seorang yeoja.

***

 

“Hyung jangan pulang dulu. Bermainlah bersamaku.” Kata Hyungsuk sambil menarik-narik tangan Yoseob dengan manja. Yoseob dan Jiyeon tersenyum gemas melihatnya.

“Yaa, kau pikir kau siapa? Mereka harus pulang. Sudahlah kau di sini saja bersama noona.” Kata Jieun pula sambil menarik tangan Hyungsuk.

“Shireo.. Aku ingin bermain dengan Yoseob hyung.. Dan juga noona ini..” Hyungsuk bersikeukeuh dan kini tangannya juga memegangi tangan Jiyeon pula.

“Yaa, kau ini..”

“Gwaenchanha. Kajja, kita main di luar saja.” Kata Yoseob kemudian yang langsung disusul dengan lonjakan girang dari Hyungsuk sekaligus tatapan kesal dari Jieun. Maka kedua namja itu pun keluar dari toko Jieun.

“Geogjong hajima. Kami pasti akan menjaga Hyungsuk.” Kata Jiyeon sambil tersenyum mantap. Setelah itu ia pun menyusul Yoseob dan Hyungsuk keluar. Jieun terdiam di tempat.

“Aish! Mwoya?” gerutu Jieun tak habis pikir. Lalu, ia pun mengambil ponselnya dan mulai menekan keypad.

“Yoboseyo? Ahjussi, apa ahjussi sekarang sibuk? Kalau tidak, bisakah ahjussi datang ke toko menggantikanku sebentar? Aku ada urusan mendadak.”

 

 

“Kemana mereka pergi? Aish! Kenapa mau main saja harus sejauh itu? jinjja..” gumam Jieun sambil menoleh kesana kemari mencari ketiga makhluk yang baru saja keluar dari tokonya tadi. Setelah beberapa saat lamanya ia kebingungan mencari, tiba-tiba saja ia mendengar suara nyanyian yang terdengar sangat akrab di telinganya.

 

Ildeohagi ileun gwiyomi

Eeldeohagi eeneun gwiyomi

Samdeohagi sameun gwiyomi

Gwigwi gwiyomi gwigwi gwiyomi

Sadeohagi sado gwiyomi

Ohdeohagi ohdo gwiyomi

Yukdeohagi yukeun chu chu chu chu chu chu gwiyomi

Nan gwiyomi..

 

1+1= Gwiyomi (orang cute)

2+2= Gwiyomi

3+3= Gwiyomi

4+4= Gwiyomi juga

5+5= Gwiyomi juga

6+6= chu chu chu chu chu chu gwiyomi

Akulah gwiyomi

 

Jieun tahu itu adalah lagu yang sering dinyanyikan oleh Hyungsuk di rumah. Yeoja itu tersenyum geli ketika melihat Yoseob juga menyanyikannya dengan gerakan-gerakan khas gwiyomi #author:readers tau kan lagu gwiyomi? Readers:tau lah! Emang lu aja yang tau?#gamparauthor*.

“Oh, Jieun-ssi?” tegur Jiyeon yang terlebih dulu menyadari kehadiran Jieun. Yoseob dan Hyungsuk pun menghentikan nyanyian mereka sejenak. Sementara Jieun berjalan menghampiri mereka.

“Noona selalu menolak ketika kuminta menyanyikan lagu itu bersamaku. Tapi Yoseob hyung dan Jiyeon noona melakukannya dengan baik.” Kata Hyungsuk langsung memprotes Jieun. Jieun hanya mendengus saja mendengarnya.

“Mungkin noona tidak tahu lagunya makanya noona tidak bisa bernyanyi.” Kata Yoseob yang langsung disusul tatapan tidak terima dari Jieun.

“Yaa, siapa bilang aku tidak bisa? Aku bisa.” Katanya.

“Kalau begitu, lakukanlah sekarang.” Tantang Yoseob kemudian.

Jieun mula-mula agak enggan melakukannya. Namun karena tatapan dari ketiga makhluk di depannya itu serasa menohok jantungnya, maka ia pun terpaksa menyanyikan gwiyomi dengan gerakannya persis dengan apa yang dilakukan Yoseob tadi. Jiyeon menahan tawa gelinya ketika melihat Jieun melakukan itu. Sementara Yoseob tak kuat menahannya dan tertawa terbahak-bahak. Jieun langsung manyun melihatnya.

“Wae? Apa aku tampak begitu buruk?” tanyanya.

“Noona melakukannya dengan sangat jel~” Kata Hyungsuk, tapi Jiyeon buru-buru menutup mulutnya menggunakan tangan kanannya.

“Ah, jeogi Hyungsuk-ah, bagaimana kalau kita beli eskrim? Kau mau?” tanya Jiyeon kemudian.

“Eskrim? Woah.. aku mau noona. Apa noona akan membelikan eskrim untukku?”

“Tentu saja. Kajja!” Jiyeon langsung menggandeng tangan Hyungsuk dan mengajaknya pergi meninggalkan Yoseob dan Jieun.

“Yaa, kenapa kalian meninggalkan kami?” seru Jieun, tapi tak didengarkan oleh Jiyeon maupun dongsaengnya. Ia kembali memasang muka cemberut. Sementara Yoseob masih menahan tawa gelinya.

“Tertawalah kalau kau mau tertawa. Aku tahu kalau aku melakukannya dengan sangat buruk.” Kata Jieun ketus.

“Anii.. Kau bahkan melakukannya dengan sangat baik. Kau benar-benar imut.” Kata Yoseob kemudian.

Jieun hanya mencibir saja mendengarnya.

“Jangan marah. Yaa, tidak bisakah kau tersenyum sekali saja padaku?” tanya Yoseob kemudian.

“Kenapa aku harus tersenyum padamu?”

“Selama aku mengenalmu, belum pernah kulihat kau tersenyum padaku. Selalu saja kau menunjukkan wajah ketus itu.”

“Tidak ada untungnya aku tersenyum padamu.”

Yoseob menarik napas panjang mendengarnya. Bagaimana bisa ada yeoja seketus ini? Stubborn girl saja kalah darinya, pikirnya heran.

***

 

“Noona aku mau rasa yang ini!” seru Hyungsuk sambil menunjuk ke arah eskrim yang diinginkannya.

“Yang ini? Geurae, kita ambil yang ini empat ya?” kata Jiyeon sambil bermaksud mengeluarkan uangnya.

“Biar aku saja.” Kata seseorang tiba-tiba.

Jiyeon terkejut dan mendongak.

“Oh, Myungsoo sunbae?” katanya ketika mengenali siapa yang berbicara itu.

Namja yang memang Myungsoo itu tersenyum kecil, dan menyerahkan uangnya pada penjual eskrim.

“Sedang apa kau di sini?” tanya Jiyeon heran dengan sikap agak dingin. Rupanya ia tidak ingin menunjukkan kecanggungannya tiap bertemu dengan namja itu.

Myungsoo tak menjawab, melainkan berjongkok di hadapan Hyungsuk dan menyerahkan eskrim pada anak itu.

“Ini untukmu, adik manis.” Kata Myungsoo pula.

“Gomapta, Hyung. Apa hyung ini temannya Jiyeon noona?”

“Ne, bukankah kita sudah bertemu sebelumnya? Apa kau lupa?”

“Ah, nde aku ingat hyung yang waktu itu bersama Jiyeon noona kan?”

Myungsoo hanya tersenyum dan mengacak pelan rambut Hyungsuk. Setelah itu ia berdiri lagi.

“Apa kau mengikutiku?” ulang Jiyeon sekali lagi.

“Yaa, siapa yang mengikutimu? Aku hanya kebetulan saja berjalan-jalan di sekitar tempat ini.”

Jiyeon mencibir tidak percaya. Lalu ia pun meraih tangan Hyungsuk.

“Kajja Hyungsuk-ah, kita kembali pada Yoseob hyung dan Jieun noona.” Kata Jiyeon pula.

“Kau bersama namja itu?” tanya Myungsoo.

“Namja itu? Yaa, namanya Yang Yoseob, bukan ‘namja itu’.”

“Kenapa kau bersamanya?”

“Yaa, kenapa pertanyaanmu aneh sekali? Mau dengan siapa aku pergi, apa itu ada hubungannya denganmu?”

Myungsoo tak segera menjawab. Sepertinya ia sendiri pun bingung harus menjawab apa. Sementara Jiyeon masih sabar menanti jawaban darinya.

“Aku.. hanya ingin tahu saja.” Jawab Myungsoo akhirnya, masih dengan sikap dinginnya.

“Kenapa kau ingin tahu?” kejar Jiyeon.

“Uhm, geuge.. Yaa, kenapa jadi kau yang terus menanyaiku? Kau bahkan belum menjawab pertanyaanku.”

“Aku baru makan ramen bersama Yoseob oppa.”

“Mwo? Op-oppa? Kau memanggilnya oppa?” Myungsoo tampak terkejut mendengarnya.

“Waeyo?”

 Myungsoo tak menjawab. Dalam hati ia merasa iri karena Jiyeon memanggil Yoseob dengan sebutan oppa sementara dia tidak. Melihat Myungsoo hanya diam saja, Jiyeon pun kembali beranjak.

“Yaa, jamkkan!” panggil Myungsoo tiba-tiba.

“Wae?” Jiyeon pun terpaksa menoleh lagi.

“Aku ikut.”

“Mwo??”

Myungsoo tak menjawab, dan dengan watados tanpa mempedulikan Jiyeon, namja itu mengambil alih tangan Hyungsuk dan mengajak anak itu pergi duluan. Jiyeon ternganga melihatnya.

“What the hell?” katanya seorang diri. Lalu mau tak mau ia pun menyusul mereka berdua.

***

 

Sementara itu di tempat lain, tepatnya di balik semak-semak (?) terlihat tiga orang namja tengah mengendap-endap sambil berkerudung koran (?). ketiga namja itu berbisik-bisik seakan sedang memata-matai seseorang.

“Rupanya ini alasan dari sikapnya yang aneh itu?” ucap salah satu dari mereka.

“Dan ternyata ia benar-benar sedang jatuh cinta.” Sambung lainnya.

“Dan parahnya, ia jatuh cinta dengan dongsaeng dari musuhnya sendiri. Park Jiyeon! Aigoo, mwoya?”

“Pooknya kita tidak boleh seperti ini. kita pun harus seperti dia. Kita tidak boleh kalah.”

“Yaa, apakah penting membahas itu sekarang?”

“Yaa, bukankah sudah jelas semuanya? Myungsoo sengaja mengikuti yeoja itu sejak tadi dan kita juga melihatnya sendiri, kan? Apa lagi yang perlu dibuktikan?”

“Aish! Bagaimana bisa dia menyukai yeoja itu?”

“Biasa lah, seperti kata pepatah, cinta itu buta, jadi harus meraba-raba (?)”

“Yaa! Yaa! Berhentilah melawak!”

Sementara yang dibentak hanya terkekeh saja. Ya, tepat sekali. Ketiga namja itu tak lain tak bukan adalah pacar-pacar author Ilhoon, Sungjong, dan Chunji. ketiganya benar-benar melaksanakan misi mereka untuk mencari asal muasal perubahan sikap Myungsoo pagi tadi. Dan kini tampaknya mereka mulai tahu apa penyebab dari itu semua.

_Author POV end_

To be continued..

 

Hahaha benar-benar sangat gaje syekale ya part yang ini? Haduh author bingung banget sebenernya pas mau ngelanjutin ff ini, soalnya kondisi author juga masih belum terlalu fit. Ini aja dipaksain demi readers tercinta#ngerayudoeloe!* 😉

Geureom, silahkan tinggalkan jejak di bawah ya seperti biasa, dan author minta maaph kalau di part-part sebelumnya sampai part ini masih belum begitu menarik di hati readers 😦

Gomapta and annyeong! 🙂 :wave:

52 thoughts on “[FF Freelance] Where is My Man? (Part 7)

  1. haha. Myung Myung, pengen liat muka lo waktu jatuh cintrong kaya gimane 😀
    aish, harusnya Jiyeon ngomong aja kalo dia emang ngga boong ngomong kalo dia mencintrongi Myungsoo, jadinya mereka langsung jadian deh. kkk~

    ditunggu lanjutannya author, jangan lama” publisnya yaa 😀

  2. kyaaa…. gak nyangka si seobie malah muncul bersama thunder pula melihat adegan tidak senonoh (kisseu) myungyeon wkwkwk
    poor Yoseob… tapi dia hebat bgt nyembunyuin perasaan dg muka polos imut cerianya itu #Hug
    konyol sumpah trio kwek” ilhoon, chunji & sungjong ituh *digampar Fans mrk*
    Author gomawo udh lanjutin FF ini 🙂
    semoga author sllu di berikan kesehatan oleh tuhan. Fighting ~_^ ditunggu lanjutannya ^ㅅ^

  3. hahahahaha
    lucu bnget dech !!!
    jiyeon bnar” slah pham krna skap yoseob jg yg trus merhatiin ji eun !!!

    aigoo, aigoo
    pdhl myungsoo org yg dingin, tp malah jdi stalker jiyeon “!!
    hahahahaha
    ketauan jg dech myungsoo suka jiyeon ama tman’y !!!
    skit pnsran nih tman” myungsoo

    next part

  4. Wah..wah..wah.. dunia Myung berubah(?) stlah dkt ma Jiyi 🙂 nd skrng dia jd stalker’ny Jiyi 😀
    kpn nih bkl saling jujur ttg perasaan masing”? Abis’ny pas Jiyeon udh blng mlh dikira bo’ong…
    Hahaha.. part akhir bikin ngakak.

  5. Miapah ini ff member di the stranger *apalah itu, bias owe semua min wakakak xD

    FF ini daebak deh min ‘-‘b
    Aku juga readers baru lho. Baru ff ini yg aku baca 🙂

    Aku suka MyungYeon <333

  6. ciyeeeee masih pada gengsi ciyeee 😀 hahaha tapi cuteee =))haha plis itu trio masgan aka mas ganteng kok pada lawak sih apalagi si jones chunji dan sungjong xD wkwkwk

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s