Brunch (Chapter 2)

brunch

BRUNCH

“When we’re together, nothing can be better…”

By

PSEUDONYMOUS

CAST: 2PM’s Nichkhun & SNSD’s Tiffany || GENRE: Family & Life || LENGTH: Chapter || RATING: G || DISCLAIMER: Inspired by Benny and Joon (1993) & Grave of the Fireflies (1988)

PREVIOUS PART:

PROLOGUECHAPTER 1

CHAPTER 2

Nichkhun duduk di sofa bertemankan cahaya remang dari TV yang tengah menyiarkan berita. Pria itu berulang kali membetulkan remote TV yang rusak dengan selotip dan mencoba memindah saluran, namun remote itu tidak juga bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Nichkhun mulai dibekap rasa frustasi dan dengan pesimis, ia melempar remote tersebut ke sisi lain sofa. Pria itu menutup wajahnya dengan kedua tangan dan mulai kehabisan akal.

Alih-alih terus mencoba memperbaiki remote yang pecah, Nichkhun beranjak dari sofa, lalu mendongak ke kamar atas. Ia mendatangi kamar Tiffany dan menemui gadis itu sedang duduk diam di balik selimut tebalnya. Nichkhun mendaratkan bokongnya dengan lembut di bibir tempat tidur dan memandangi adiknya dengan gusar kala Tiffany berpura-pura tidak menyadari keberadaannya.

“Apa kau masih marah padaku?” bisiknya.

Tiffany mendelik kearah Nichkhun, namun tidak mengatakan apa-apa.

Nichkhun menghembuskan napas dan tertunduk lesu. “Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakitimu.”

Tiffany mencuri pandang kearah Nichkhun sekali lagi. Ia yang merasa iba, akhirnya menjulurkan kedua lengannya untuk memeluk kakak laki-lakinya itu. “Tapi aku tetap menyayangimu,” balasnya berbisik.

Nichkhun tersenyum lega dan membalas pelukan adiknya, membiarkan aroma buah-buahan yang menyengat pada rambut panjang Tiffany membuncah dalam paru-parunya. “Jadi, bisakah kau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan Nyonya Kwon tadi pagi?” tanyanya.

“Aku tidak menyukainya,” tutur Tiffany seraya melepaskan pelukannya, “aku tidak suka caranya saat menatapku. Tatapannya seolah berpikir bahwa aku seperti orang yang menyedihkan. Aku sangat tidak menyukainya.”

Nichkhun menyeka tengkuknya dan menghela napas. “Oke. Tapi, apa kau tidak sadar sudah berapa pembantu rumah tangga yang kau buat ketakutan?”

“Ya, aku ingat,” aku Tiffany seraya menyandarkan punggungnya pada kepala tempat tidur. “Nyonya Kim.”

“Itu yang pertama,” timpal Nichkhun.

“Dia menyebalkan,” omel Tiffany. “Terlalu cerewet dan banyak mengaturku.”

Nichkhun mendengus. “Dan Nyonya Lee.”

“Dia mempunyai bau badan yang sangat tidak enak,” digik Tiffany jijik. “Aku tidak tahan berdekatan dengannya lama-lama di dapur.”

Nichkhun memejamkan mata dan memijat ringan pelipisnya. “Kau tidak bisa memberhentikan pembantu kita begitu saja hanya untuk alasan sepe—”

“Tidak bisakah kau tinggal di rumah dan bersamaku, Oppa?” sela Tiffany. “Kurasa orang lain tidak begitu menyukaiku.”

“Mereka bukannya tidak menyukaimu, Tiffany, tapi—”

“Tapi, apa?”

Nichkhun kehilangan kata-kata.

“Aku tidak menginginkan ada orang asing lagi di sini,” sambung Tiffany. Gadis itu menyelipkan kedua lengannya pada pinggang Nichkhun dan menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu. “Aku takut jika mereka akan menyakitiku.”

Nichkhun meremas pundak Tiffany dan mengecup puncak kepala gadis itu sembari berbisik, “Tidak akan kubiarkan mereka menyakitimu.”

“Kau tidak bisa datang bekerja?!”

Nichkhun buru-buru menjauhkan gagang telepon dari telinganya sebelum teriakan marah bosnya, Park Jinyoung, akan merusak pendengarannya. “Maafkan aku, Jinyoung Hyung. Kau tahu adikku, dia tidak bisa ditinggal sendiri di rumah tanpa pengawasan, jadi—”

“Di mana pembantumu, huh?”

“Hm,” Nichkhun mengusap mulutnya, “pembantu rumah tangga kami baru saja berhenti kemarin karena, ya,” Nichkhun mendengus, “intinya aku ingin minta cuti dulu sampai aku menemukan pembantu rumah tangga untuk mengawasi Tiffany.”

“Bagaimana jika kau tidak juga menemukannya? Kau mau kupecat saja, begitu?” desis Jinyoung sinis.

Nichkhun meneguk ludahnya dengan pahit. “O-oke, aku akan datang bekerja hari ini.”

“Begitulah memang seharusnya. Kita masih punya banyak mobil yang harus dikerjakan hari ini. Jangan sampai membuat pelanggan kecewa atau aku akan memecatmu.”

Tut.. tut.. tut..

Nichkhun menghembuskan napas, lalu meletakkan gagang telepon dengan perlahan pada tempatnya. Ia mengusap dadanya dan merasakan jantungnya mulai bekerja kembali dengan normal. Hampir saja, pikirnya.

Pintu terbuka dengan suara berderit dan kepala Nichkhun muncul dari baliknya. Ia yang telah rapi dengan setelan kerjanya, menjinjit dengan pelan memasuki kamar Tiffany yang masih dipeluk keheningan pagi. Dilihatnya gadis itu tengah memunggunginya di atas tempat tidur, terbungkus selimut, dan masih dalam keadaan tertidur pulas. Nichkhun mengintip dari balik punggung itu dan bibirnya mengulas sebuah senyum ketika melihat wajah adiknya dengan mata terpejam. Gadis itu tampak lebih manis dan tenang dalam keadaan seperti itu.

Namun, terbersit rasa bersalah di antara rongga dadanya ketika menatap wajah polos itu. Nichkhun menunduk kepada sosok adiknya yang masih terlelap, lalu melayangkan sebuah kecup ringan di dahinya. Tidak lupa, ia membisikkan sesuatu di telinga Tiffany walau tidak yakin Tiffany benar-benar akan mendengarnya atau tidak.

“Jaga dirimu baik-baik. Dan,” Nichkhun tercekat, tiba-tiba merasa sangat sedih, “maafkan aku karena tidak bisa menjadi kakak yang baik untukmu.”

Pertemuan singkat itu berakhir. Nichkhun beranjak dari tempat tidur Tiffany, lalu menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Dan untuk ke sekian kalinya, ia menyerahkan segala sesuatunya pada Tuhan.

 Taecyeon sedang menyeka tangannya ketika ia memicingkan mata ke seberang jalan, mengenali sosok perempuan yang sedang berjalan dengan tergesa-gesa kearahnya. Wanita itu melambai ringan kearah Taecyeon dan pria itu membalasnya dengan canggung.

“Hai,” sapa wanita itu.

“Hai. Pagi sekali,” komentar Taecyeon sembari melirik jam dinding di dalam bengkel.

Wanita itu terkekeh, lalu celingak-celinguk, mencari-cari sesuatu atau seseorang di dalam bengkel. “Di mana temanmu yang kemarin?”

Taecyeon tertawa ringan dan menyipitkan matanya. “Ini aneh,” kikiknya, “seharusnya hal pertama yang kau tanyakan adalah keadaan mobilmu, bukan temanku.”

“Hei, aku bertanya karena dialah yang bertanggung jawab atas mobilku, kan?” sanggah wanita itu dengan wajah bersemburat merah.

“Oke, oke,” tawa Taecyeon, tidak percaya. “Dia ada di sana.” Pria itu menunjuk ke dalam bengkel, tepat pada sebuah mobil Jeep dengan kap terbuka. “Di balik Jeep itu.”

“Oke, terima kasih.”

Wanita itu menepuk ringan bahu Taecyeon, lalu menyusul Jeep yang dimaksud Taecyeon. Jantungnya mulai berdetak tidak karuan. Ini sinting, pikirnya, tidak seharusnya aku merasa segugup ini. Wanita itu menyeret kakinya dengan berat, merasa belum siap. Tapi, situasi mengejutkannya dengan sebuah bunyi keras ketika kap mobil Jeep itu dibanting secara tiba-tiba dan sosok yang dicari-carinya muncul dengan sempurna di hadapannya.

“Oh!” Nichkhun terlonjak. “Kau..”

“Hai,” wanita itu memaksakan sebuah senyum.

“Ha-hai,” balas Nichkhun gugup. Pria itu lekas-lekas membersihkan kotoran pada tangan dan lengannya dan berjalan mengitari Jeep agar dapat melihat tamu tak diduga itu dengan lebih jelas. “Mau mengecek keadaan mobilmu ya?”

Wanita itu mengangguk dengan agak kacau. “Ya. Bagaimana? Apakah semuanya beres?”

“Tentu saja.” Nichkhun tersenyum. “Kau bisa mengambil kunci dan membayar biayanya di kantor.”

“Oke.”

“Oke.”

Keduanya tertunduk malu. Tidak sanggup menyembunyikan kegirangan-kegirangan kecil yang berhamburan ke udara kala keduanya bertukar senyum malu.

“Apa kau sibuk malam nanti?” tanya wanita itu.

“Malam nanti?”

“Ya. Sebagai ucapan terima kasih, aku ingin mengajakmu makan malam. Itupun jika kau memang sedang tidak sibuk, tapi tidak apa-apa jika kau mungkin sedang ada kencan dengan pacarmu atau—”

Nichkhun tertawa. “Aku tidak punya pacar.”

“Oh ya?” Wanita itu terlihat tidak bisa menyembunyikan kelegaannya. “Lalu, yang kemarin? Hm, Tiffany?”

“Oh,” Nichkhun mengangguk samar, “itu adik perempuanku.”

“Hm,” wanita itu mengangguk-angguk lagi. “Oke, jadi? Makan malamnya?”

“Makan malam ya?” Nichkhun bergumam lama, menimbang-nimbang. “Entahlah,” gelengnya.

“Oke, tidak apa-apa,” wanita itu tersenyum sedih. “Aku mengerti jika kau memang tidak mau.”

“Hei, jangan salah paham,” potong Nichkhun. “Aku sebenarnya ingin, tapi ya, aku tidak bisa. Maafkan aku.”

“Oke. Tidak apa-apa,” kata wanita itu sembari menyelipkan kedua tangannya ke saku belakang jeans-nya. “Aku mengerti.”

Nichkhun menggigit bibirnya sembari mengamati wanita itu yang berjalan jauh meninggalkannya. Diperhatikannya Taecyeon yang dari kejauhan telah mengawasi keduanya sejak tadi mendesiskan sesuatu padanya.

Dasar bodoh!”

 Tiffany turun dari kamarnya dengan rambut awut-awutan dan setengah mengucek-ucek matanya dengan malas. Ia berjalan dengan tersendat-sendat menuju dapur, lalu duduk pada salah satu kursi meja makan. Tiffany mendengus, lalu memerhatikan sekelilingnya, mencari-cari jejak kakak laki-lakinya di dalam dapur. Satu-satunya yang bisa ia temukan adalah satu stoples selai kacang baru dengan sebuah note di atasnya. Tiffany mengerjapkan matanya dan berusaha membaca tulisan tangan Nichkhun yang kacau dan sepertinya juga ditulis dengan terburu-buru.

Tiffany, tadi pagi aku menyempatkan diri untuk mencari minimarket yang terbuka untuk membelikanmu se-stoples selai kacang untuk sarapanmu pagi ini. Maafkan aku tidak bisa menemanimu sarapan bersama pagi ini karena aku harus berangkat lebih awal untuk bekerja di bengkel. Masih banyak hal yang harus kukerjakan di sana dan aku harap kau tidak kecewa. Jaga dirimu baik-baik, Tiffany. Aku mencintaimu. Love, Nichkhun.

Tiffany mendengus, lalu meletakkan note itu ke atas meja dan mulai membuat sarapan. Ia menggendong blender dari lemari gantung dapur dan mulai menuang dua gelas susu ke dalam blender, disusul dengan keeping-keping sereal jagung ke dalam, lalu dua sendok selai kacang barunya sebagai pelengkap.

Suara dengung blender menyesakki dapur untuk beberapa saat. Tiffany lalu mematikan mesin blender, kemudian menyambar gelas bekas di atas meja dan menuangkan sarapannya ke dalam sana. Gadis itu mulai menyesap minumannya dengan antusias sembari berjalan meninggalkan dapur menuju ruang TV dengan langkah tergopoh-gopoh.

Gadis itu meletakkan gelasnya yang sudah kosong ke atas meja, lalu menyeka mulutnya. Disambarnya raket ping pong dan sebuah peluit di atas meja ruang TV, lalu disisipkannya raket ping pong itu di antara celana piyamanya. Selesai dengan perlengkapannya, Tiffany meninggalkan rumah melalui pintu dapur menuju jalan raya yang ramai.

Sementara itu, note yang ditinggalkan Nichkhun jatuh dari meja diterbangkan angin ketika Tiffany membuka pintu dapur, lalu mendarat di atas lantai dapur yang berminyak dan penuh debu. Satu hal yang dilupakan oleh Nichkhun sebelum meninggalkan note  itu adalah kenyataan bahwa adiknya sekarang telah lupa cara membaca. Namun, Nichkhun tetap saja meninggalkan note itu, karena begitulah Nichkhun. Yang penting adalah niat.

“Ini sangat memalukan,” geram Jaekyung pada ponselnya, “dia menolak ajakan makan malamku. Demi Tuhan, ini sangat memalukan. Aku tidak bisa menahan rasa maluku saat dia mengatakan tidak bisa makan malam bersamaku. Bisakah kau bayangkan itu, Jisook? Bisakah?” lanjutnya sambil menampar stir mobil.

Oke, oke. Tenangkan dirimu, Jaekyung. Tarik napas, buang. Tarik napas, buang. Ingat, kau sedang menyetir,” ujar Jisook di seberang sana.

Jaekyung menuruti instruksi Jisook dan mengangguk. “Oke. Aku merasa lebih baik sekarang, tapi tetap saja, ini membuatku terlihat sangat menyedihkan. Aku tidak pernah merasa seburuk ini.”

Mungkin pria itu tidak benar-benar ingin menolakmu. Mungkin dia memang hanya sedang sibuk,” jelas Jisook.

Jaekyung bergumam cukup lama. “Ya, mungkin.”

Yang perlu kau lakukan sekarang adalah kau harus…

Jaekyung bisa mendengar Jisook terus mengatakan sesuatu diujung telepon, tapi ia tidak sungguh-sungguh mendengarkan temannya itu berbicara.  Perhatiannya justru sedang direbut oleh kemacetan parah dua meter di depannya. Ada apa ini? Tidak biasanya semacet ini, batinnya.

“Jisook, aku akan meneleponmu lagi sebentar, oke? Bye.”

Jaekyung melempar ponselnya dengan asal ke atas dashboard, menghentikan mobilnya tepat di deretan terakhir kemacetan, lalu mendongak ke depan. Dilihatnya seorang pria berambut putih turun dari mobilnya dengan wajah merengut tidak senang. Pria itu mulai berteriak-teriak di depan dengan marah. Jaekyung yang dirundung rasa penasaran segera melompat turun dari mobil dan menyusul keributan itu.

Dilihatnya seorang gadis berdiri di antara perempatan jalan dengan peluit dan raket ping pong.

Jaekyung menautkan alis. “Apa yang dilakukan gadis itu?”

Entah apa yang terjadi, Jaekyung sungguh tidak mengerti. Gadis itu terus meniupkan peluitnya, mengangkat raket ping pongnya, dan menghalau semua mobil, bertindak seperti seorang petugas polisi namun justru mengacaukan jalanan. Beberapa pengendara mulai kehilangan kesabaran dan melayangkan sejumlah umpatan-umpatan kasar dan mengatai gadis itu gila.

Tidak lama kemudian, seorang polisi bertubuh gempal dengan kumis lebatnya muncul di antara kemacetan itu. Polisi itu menghampiri si gadis pengacau itu dan menatapnya curiga.

Gadis itu balas menatap polisi itu dengan sama curiganya. “Aku berhak berada di sini,” katanya membela diri.

“Ya, aku tahu. Sekarang, biarkan aku melihat tanda pengenalmu,” jawab si petugas polisi sambil mengulurkan tangan.

Gadis muda itu tercenung sebentar, lalu mengangguk. “Tunggu sebentar,” katanya. Ia lalu merogoh isi saku celana piyamanya dan mengeluarkan sebuah kartu pada si polisi.

Petugas polisi itu membaca sepintas kartu yang diserahkan gadis itu padanya, lalu melirik yang punya dengan hati-hati. Itu bukan kartu tanda pengenal, melainkan kartu medis atas nama Stephanie Horvejkul.

“Kau tahu, kau adalah orang ter-tolol sedunia yang pernah kutemui,” racau Taecyeon di belakang punggung Nichkhun.

“Terima kasih,” balas Nichkhun dingin. “Apakah aku akan mendapat hadiah?” oloknya.

“Ya, kau akan mendapat hadiah dengan menjadi seorang perjaka seumur hidup. Kau puas sekarang?!”

“Hei!” Nichkhun membalikkan tubuhnya dan menunjuk wajah Taecyeon dengan kesal, “Kau tidak berhak marah jika aku menolak ajakan wanita itu. Itu hakku, bukan hakmu. Dan berhentilah mengikutiku! Apa kau tidak lihat aku sedang bekerja?”

Taecyeon menolak. Ia tetap mengekori Nichkhun ke manapun pria itu pergi. “Tapi kau tidak bisa menolak wanita itu begitu saja. Kau tidak tahu apa yang sudah kau lewatkan, Khun!”

“Oke, dengar, Ok Taecyeon,” kata Nichkhun sembari setengah membanting serbet kotor ke atas tumpukan busi tidak terpakai di sudut bengkel, “aku tidak bisa pergi karena aku tidak ingin Tiffany sendiri berada di rumah tanpa pengawasanku.”

“Memangnya kenapa? Dia sudah dewasa. Kau harus percaya padanya!”

“Ya, tapi kau tidak tahu apa yang bisa dan akan dia lakukan nanti!”

“Nichkhun!” Lagi-lagi Chansung menyela perdebatan Nichkhun dan Taecyeon dari meja telepon. “Kau dapat telepon dari Tiffany!”

Nichkhun memutar bola matanya, lalu segera menyusul Chansung.

“Dia bilang kalian kehabisan selai kacang lagi,” kata Chansung, menyerahkan gagang telepon pada Nichkhun. “Dan,” Chansung berdeham, “petugas polisi itu ingin mengkonfirmasinya langsung padamu.”

“Petugas polisi?” Nichkhun memejamkan mata sebentar dan menggelengkan kepala. “Oh, tidak. Jangan lagi.”

To be continued…

56 thoughts on “Brunch (Chapter 2)

  1. Okay.. Jujur.. Baru pertama kali ini aku baca bias prtamaku di SNSD agak gila..
    Tp aku suka ceritanya. Khun perhatian + harus ekstra sabar menghadapi Tiffany.
    Aku masih penasaran penyebab Tiffany ‘gila’.
    Apa mereka itu adalah dua anak yg ditinggal ortunya meninggal? Lalu si Fany tertekan n berakhir sperti itu? Entahlah~
    Nunggu diungkap aja deh nantinya di part slanjutnya.

  2. oke eon, aku tahu ini sangat terlambat, baru sempet ngechek blog ini lagi 😀
    Daaaann, seperti biasa aku tetap terkesima dengan tulisanmu eon. Aah andai aku bisa nulis seperti dirimu eon 😦

  3. Haaaa keren lah ini xD
    Udah lama bgt ga baca ff tirzsa..
    author favorit >,<
    oh iya.. tlsan toples emang harus ada huruf "s" nya ya di dpan t?

  4. Khun sayang bgt sama Fany hihi 😀
    Tp agak ga bisa ngebayangin sih Tiffany bawa raket dan peluit ke jalan dan ngacauin jalan haha
    Pertama kali baca ff Tiffany punya gangguan mental :O

Leave a Reply to aprodita Sari Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s