Reason [Prolog]

Reason

Tittle    : Reason

Cast     : Kang Ji Hyun, Jae Seop, Ki Seop, Dae Hyun, etc

Genre  : Romance

Rating  : 17+

“Ya! Aku memang bodoh! Aku begitu bodoh karena telah jatuh cinta padamu!” teriak Ji Hyun. Matanya penuh dengan air mata, meskipun ia tidak ingin membiarkan airmatanya jatuh, karena tidak ingin laki-laki di hadapannya melihat dirinya menangis. Tapi pada akhirnya ia tidak sanggup menahan lebih lama lagi. Akhirnya setelah mengumpulkan semua keberaniannya selama dua tahun, Ji Hyun pun mengakui tentang perasaan cintanya kepada Jae Seop. Dan inilah jawaban yang ia terima dari laki-laki yang ia sukai.

“Kang Ji Hyun. Orang yang aku suka adalah kakakmu, Yoon Hye!” Jae Seop mengatakan dengan suaranya yang pelan namun mantap dan membuat Ji Hyun tidak bisa menyangkal. Laki-laki itu tidak berniat menyakiti gadis yang memang sudah dekat dengannya selama dua tahun  kurang. Namun, ada kebenaran yang ingin dikatannya.

“Yoon Hye lebih cantik darimu, dia lebih baik darimu, lebih santun, sabar dan cerdas. Dia lebih baik daripada dirimu dalam segala hal, satu-satunya hal yang kau menangkan dari dirinya adalah permainan indah dari dawai biola yang kau gesek.”

Ji Hyun tidak bisa percaya, Jae Seop bahkan mendorongnya untuk mengakui semua yang dikatakannya. Ji Hyun membiarkan air matanya jatuh, dia tidak peduli jika Jae Seop melihatnya menangis lagi. Selama ini ia selalu menunjukkan pada laki-laki itu sisi ceria, dia selalu berhasil untuk tidak menangis di hadapannya.

“Aku tahu dia … Aku tahu itu ….” Ji Hyun bergumam pada dirinya sendiri. Dia selalu menyadari bakat kakaknya, bagaimana Yoon Hye begitu berbakat, cerdas dan cantik. Kakaknya hampir seperti malaikat yang turun dari surga. Sementara dirinya tidak punya sesuatu yang menarik selain talenta permainan biolanya. Itu satu-satunya hal yang bisa ia lakukan dengan baik. Ji Hyun tidak tahan lagi, dia tidak ingin mendengar lagi apa yang dikatakan Jae Seop, Ji Hyun memilih kabur.

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

“Mana yang akan anda pilih?” seorang pelayan yang masih terlihat muda bertanya,  sambil menunjuk ke beberapa set pakaian di lemari. Ki Seop tidak menjawab. Ia duduk di salah satu dari beberapa kursi di depan lemari, memeriksa pakaian dan memutuskan mana yang akan dipakainya hari ini.

“Apakah anda ingin yang satu ini?” pelayan itu lagi-lagi menyarankan sambil menunjuk rompi sweater dengan jeans biru.

“Tidak Claude. Kenapa tidak kau ambil saja seragam sekolahku. Aku ingin pergi ke sekolah hari ini.” Ki Seop berkata, suaranya yang keras kadang terkesan memerintah meskipun ia tidak bermaksud seperti itu kepada pelayannya.

“Tentu saja, tuan muda.” Laki-laki itu bergegas melintasi lemari dan mengambil seragam sekolah, dan langsung keluar dari ruangan untuk menyetrika seragam tuannya.

Ki Seop adalah anak dari orang terkaya di Korea. Di mata rakyat jelata, ayahnya dianggap raja dan dia seorang pangeran. Hidupnya sudah tergariskan seperti itu sejak ia lahir dan seberapa besarnya ia ingin kabur menjadi ahli waris Ayahnya, tetap saja ia tidak bisa menjadi anak durhaka. Akhirnya ia memutuskan untuk menikmati bagaimana menjadi seorang pangeran yang bisa melakukan apa saja yang ia inginkan. Dan selama ini ia selalu bersama Claude, pelayan setianya yang didatangkan ayahnya dari London.

“Tuan muda, aku senang anda akan ke sekolah hari ini, sudah lama sejak anda melakukannya,” ujar Claude. Dia berdiri di samping kursi  tuan mudanya, kalau-kalau membutuhkan sesuatu.

“Ini sudah terasa sangat lama. Aku pikir sudah waktunya aku kembali ke sekolah,” kata Ki Seop. “Siapkan mobil, begitu aku ganti seragam, aku akan langsung pergi.”

“Tentu saja, tuan muda,” jawab Claude dan bergegas keluar dari ruangan untuk menemukan sopir untuk tuan mudanya.

‘Ring, Ring.

“Halo?” Ki Seop menjawab ponselnya.

“Ya, aku akan mengurusnya saat aku sampai disana. Tunggu aku.” Ia menutup ponselnya dan sejenak pandangannya terpaku saat melihat aksesoris yang menggantung di ponselnya. Sebuah kristal persegi bewarna hijau zamrud, gantungan yang diberikan oleh mantan pacarnya untuk dirinya. Perempuan yang telah terbang ke Italia tahun lalu. Ki Seop merindukannya meskipun ia tidak lagi memiliki perasaan lebih untuk perempuan itu lagi.

Claude kembali ke ruangan dengan membawa seragam yang sudah disetrika. Pelayan tersebut menyerahkannya kepada Ki Seop, ia mengambilnya dan berjalan ke ruang ganti yang seperti lemari besar di ruang tersebut.

Tidak butuh waktu yang lama sebelum akhirnya Ki Seop sudah tiba di sekolahnya. Beberapa orang tampak ketakutan dan yang lain tampak seperti pengikut saat bertemu dengan tuan mereka. Hampir tidak ada yang berani bertatapan mata dengan pangeran satu ini. Ki Seop bahkan tidak melihat ataupun melirik kearah mereka, ia berjalan langsung ke arah temannya, Jung Dae Hyun. Seorang gadis terlihat menempel pada temannya dan tidak ingin melepaskan lengan Dae Hyun.

Ki Seop bersiul memberi kode kepada Dae Hyun untuk menengok kearah belakang.

“Oh! Terima kasih Tuhan! Ki Seop-ah!” Dae Hyun berteriak ketika ia melihat sahabatnya datang. Ki Seop menarik tangan gadis itu, memaksanya untuk segera melepaskan lengan temannya dan dilemparkannya tangan gadis tersebut  jauh. Gadis itu pun terjatuh di lantai sekitar satu meter dari Dae Hyun. Dae Hyun menggerakkan lengannya yang kebas dan meletakkan tangan satunya, mencoba memijat pelan untuk mengurangi rasa sakit.

“Terima kasih, kau sangat membantu,” katanya.

“Aku hanya ingin kau berhenti melakukan hal ini. Jangan bertingkah dengan gadis-gadis centil di sekolah ini dengan begitu lengketnya. Mereka tidak akan pernah membiarkan dirimu pergi jika kau memanjakan mereka terus. Ini sudah keempat kalinya aku melakukan ini,” ujar Ki Seop, sambil berjalan memasuki gerbang sekolah.

“Ini tidak seperti yang aku menginginkan…”  Dae Hyun membela diri. “Apakah kau akan mulai lagi bersekolah?” tanyanya heran melihat sahabatnya yang jarang berseragam rapi.

“Tidak … hanya ingin pergi keluar untuk mencari udara segar,” jawab Ki Seop dan ia pun meninggalkan temannya di belakang yang masih bingung. Dae Hyun tertawa kecil.

“Dia selalu seperti itu,” ujar Dae Hyun lirih saat meihat punggung temannya yang sudah lama tidak terlihat di sekolah. Ia tersenyum saat melihat Ki Seop menoleh ke belakang dan menyuruhnya segera masuk sebelum gerbang ditutup.

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

“Eomma, aku akan baik-baik saja. Percayalah.” Ji Hyun berkata kepada Ibunya saat ia sedang bersiap-siap berangkat ke sekolah.

“Baiklah, tapi jika terjadi sesuatu, telepon kakakmu, oke?” Ibunya kembali mengingatkan anaknya untuk menghubungi Yoon Hye. Ji Hyun mengangguk, mengucapkan selamat tinggal dan berangkat ke sekolah. Dia tidak bisa percaya, sudah bulan kedua di sekolah barunya, namun Ibunya masih sangat khawatir kepadanya. Ji Hyun berjalan pelan menuju halte bus dan menyadari teleponnya berdering.

“Oh! Maaf, aku tidak tahu ponselku berdering.” Ji Hyun meminta maaf segera setelah dia menjawab.

“Kau selalu begitu. Tidak menyadari hal di sekitar…” kata Yoon Hye. “Jae Seop dan aku hanya ingin tahu apakah kau ingin bergabung dengan kami untuk makan siang hari ini?”

Mereka berdua sudah berpacaran selama hampir satu tahu sekarang dan kami sudah dekat seperti biasa.

“Aku tidak tahu Eonni. Aku tidak ingin menjadi orang ketiga,” ujar Ji Hyun.

“Ji Hyun-ah … Kau tahu kau bukan orang ketiga, kau adalah keluarga kami,” katanya.

“Tapi.. rasanya tidak enak makan siang bersama kalian terus Eonni.”

“Kau janji kepadaku Ji Hyun…”

“Baiklah, aku akan bergabung dengan kalian,” janji Ji Hyun kepada kakaknya lalu menutup telepon.

Pagi ini bus sangat lama menuju halte daerahnya dan ia menjadi tidak sabar karena itu. Sambil menunggu bus datang, Ji Hyun berpikir tentang semua hal yang telah terjadi setelah dia mengungkapkan perasaannya kepada Jae Seop. Dia melarikan diri, menakut-nakuti Hye Sun dan ibu bahwa ia akan bunuh diri bahkan sempat keluarganya mengirim tim pencari untuk menemukannya. Ji Hyun tertawa mendengar cerita Ibunya. Kemudian saat  ia tahu Yoon Hye menyukai Jae Seop juga, hubungannya dengan kakaknya tidak berubah. Satu-satunya hal yang berubah adalah, Jae Seop bukan orang yang ia cintai lagi melainkan sebagai pacar kakaknya. Ji Hyun mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa dia tidak bisa seperti dulu, mencintai Jae Seop dan ia berusaha sangat keras untuk berhenti menyukai dia, meskipun perasaan cinta itu tidak pernah pergi. Setelah sepuluh menit berlalu, bus akhirnya tiba. Ji Hyun naik lalu duduk sampai dia sampai di sekolahnya.

Perjalanan bus kali ini tampak begitu lama, tapi itu memberi waktu bagi Ji Hyun untuk belajar menyiapkan ujian hari ini. Ketika sampai bus berhenti, Ji Hyun bergegas menuruni tangga dan melompat ke trotoar.

“Terima kasih.” Ji Hyun selalu mengucapkan terima kasih kepada sopir bus meski tidak pernah mendapat jawaban apapun. Bus itu langsung melaju pergi. Ji Hyun bergegas ke kelas, ia tahu bahwa dirinya sudah telat. Ia memandang pintu kelasnya, ia mencoba mengintip dan benar apa yang ia duga sebelumnya, pagi ini ia terlambat lagi. Pelan-pelan Ji Hyun masuk ke kelas.

“Kang Ji Hyun!” Guru berteriak, “Kau terlambat lagi! Apa alasanmu pagi ini? Bus lagi?”

“Maaf, bus nya terlambat lagi,” kata Ji Hyun menjelaskan sambil menundukkan kepalanya. Dan sepertinya kali ini guru sastra tidak mempercayainya.

“Hukuman untukmu Kang Ji Hyun. Temui aku setelah kelas hari ini.”

“Baik songsaenim.” Ji Hyun pun duduk ke bangkunya setelah mengumpulkan tugasnya di atas meja.

“Mengapa kau begitu terlambat?” Seorang gadis yang duduk disebelahnya bertanya. Mereka sudah berada di kelas yang sama sejak TK. Tetapi mereka berdua tidak banyak bicara sehingga Ji Hyun tidak pernah berhasil menanyakan nama.

“Bus,” jawab JI Hyun sekilas lalu segera ia mencari buku-buku di dalam tasnya. Dia membukanya di meja dan mulai menuliskan catatan tentang apa yang guru bicarakan, mengabaikan gadis itu sepenuhnya.

“Apakah kau ingin pergi makan siang denganku?” tanya gadis itu saat bel istirahat berbunyi.

“Oh maaf, aku tidak bisa. Aku sungguh menyesal, siang ini aku harus pergi ke tempat kakakku, mungkin lain kali.” Ji Hyun meminta maaf dan berlari keluar dari ruangan menuju kantin.

Tidak seperti keluarga Ki Seop, Ji Hyun berasal dari keluarga sederhana. Dia hanya berasal dari rakyat biasa. Ji Hyun pergi ke sekolah yang sebagian besar penduduk Korea akan kesana, sekolah pemerintah yang uang pendidikan gratis. Tidak seperti Ki Seop, yang pergi ke sekolah elit yang hanya diperuntukan untuk keluarga orang kaya atau bagi penerima beasiswa yang mana beasiswa itu tidak mudah didapatkan.

Ji Hyun berlari menuju ke sebuah restoran di dekat sekolahnya. Sesuai janjinya dengan Yoon Hye.

“Di sini.” Hye Sun melambaikan tangan saat melihat Ji Hyun memasuki restoran. Yoon Hye tersenyum begitu juga dengan Jae Seop yang duduk disebelah.

“Apa yang akan kita makan siang ini?” tanya Ji Hyun saat ia duduk. Dia memandang sekeliling ruangan, mencoba menemukan menu makanan yang dijual.

“Bubur,” kata Jae Seop sambil tersenyum. Ia mengenakan scraft putih hasil rajutan Yoon Hye dan kemeja bergaris-garis hitam putih dengan celana jeans gelap.

“Oke.” Ji Hyun setuju. Jae Seop langsung memesankan bubur dan mereka kembali duduk berbicara tentang banyak topik. Sekolah, kedokteran yang lebih didominasi Yoon Hye dan Jae Seop sedangkan Ji Hyun merasa dikucilkan dan banyak hal lainnya sampai makanan tiba.

“Ji Hyun-ah…”

Ji Hyun mengangkat kepalanya dan menatap kakaknya. “Apa?”

“Hm… Bagaimana jika kami bisa membuatmu bersekolah di Daehwan?” Jae Seop mengatakan saat ia mulai makan.

“Daehwan?! Maksudmu sekolah hanya untuk orang-orang kaya?” tanya Ji Hyun bingung. Jae Seop mengangguk. “Tapi… bagaimana?”

“Ayahku mengenal baik kepala sekolah Daehwan dan dia bilang akan senang menerima siswa cerdas sepertimu. Dia bisa menempatkanmu sebagai penerima beasiswa.”

“Jinjja?” tanya ulang Ji Hyun masih heran.

“Tentu saja. Aku tidak berbohong,” ucap Jae Seop sambil tersenyum. Yoon Hye ikut tersenyum dan membenarkan perkataan pacarnya.

Ji Hyun sangat gembira dan dia tidak sadar sudah melompat dan memeluk Jae Seop. Tetapi bukannya Ji Hyun keluar dari meja ia malah memeluk laki-laki itu langsung dari tempatnya duduk dan mengakibatkan mangkok bubur miliknya tumpah, meluber kemana-mana.

“Ups.” Ji Hyun malu. “Maaf.”

“Aku tahu kau benar-benar senang, tapi kau benar-benar harus tenang,” kata Yoon Hye sambil tertawa kecil melihat tingkah adiknya.

“Aku tahu eonni, aku tahu. Tapi aku tidak bisa menahannya. Aku tidak bisa menunggu untuk bersekolah di Daehwan. Ini seprti mimpi,” ujar Ji Hyun saat ia membantu membersihkan kekacauan yang dibuatnya.

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

“Lalala….” Ji Hyun bersenandung saat dia berjalan ke sekolah. Ini adalah hari yang baik, langit biru dengan awan putih seperti kapas, matahari bersinar hangat dan tidak tampak seperti akan menjadi hari yang buruk baginya. Namun sejak pagi Ibu Ji Hyun khawatir bahkan lebih khawatir daripada terakhir kali, dan tentu saja ini lebih menjengkelkan.

“Pastikan melakukan hal ini dan pastikan melakukan itu … “ ia ingat perkataan Ibunya. Ji Hyun menunggu dengan sabar di halte bus, selama sekitar sepuluh menit, tetapi masih saja tak ada tanda-tanda bus akan datang. Ia pun melanjutkan menunggu tanpa kata. Setelah sekitar satu menit atau lebih, tiba-tiba muncul Jae Seop tiba. Laki-laki itu mengendarai mobil barunya, Audi hitam.

“Masuklah,” ajaknya.

“Hah?” Ji Hyun menatapnya dalam kebingungan.

“Aku akan mengantarmu ke sekolah, masuklah,” Jae Seop tertawa. Ji Hyun tersenyum  saat mengerti apa yang dimaksudkan Jae Seop dan dengan sendirinya ia pun duduk di dalam mobilnya.

“Mengapa kau ingin mengantarkanku ke sekolah?” tanyaku ketika mobil mulai bergerak.

“Aku hanya terbiasa membayangkan dirimu tersesat. Aku takut kau tidak akan pernah sampai ke sekolah barumu atau sesuatu yang lebih buruk akan terjadi saat kau tidak tahu apa-apa tentang sekolah barumu ini.”

“Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Kau sama saja mengatakan jika aku tidak bisa mengandalkan diriku sendiri?”

“Aku tidak pernah mengatakan itu,” ujar Jae Seop mengaku. Ji Hyun membuat wajah cemberut dan memandang ke luar jendela.

“Ini sangat indah. Aku belum pernah ke Seoul sebelumnya, semua terasa sangat berbeda. Walaupun sering melihat di televisi, aku masih belum percaya akan berada disini untuk waktu yang lama,” kata Ji Hyun sambil menikmati pemandangan luar biasa.

“Ya, ini memang sangat indah dan semua ini untuk orang kaya seperti mereka. Tetapi jika kota ini tidak lagi cantik atau besar. Mengapa mereka masih mau belajar di Daehwan?”

Ji Hyun menatap kembali Jae Seop yang sudah mengantarkannya ke Seoul, perjalanan selama 25 menit menyita perhatian perempuan ini.

“Pendidikan?” Ji Hyun menduga. Jae Seop tertawa kecil.

“Beberapa dari mereka bahkan tidak peduli tentang pendidikan.”

“Lalu kenapa mereka mau bersekolah disini? Bukankah uang Ayah mereka bisa dibayarkan ke sekolah luar negeri yang lebih bagus?” Ji Hyun bertanya ingin tahu.

“Kau tanyakan saja kepada salah satu dari mereka ketika kau bertemu seseorang disana,” kata Jae Seop sambil tertawa. Ji Hyun menganggukan kepalanya dan terus melihat keluar jendela. Mereka telah tiba dan tepat di depan sekolah sudah ada papan besar yang bertuliskan “International Korean School Daehwan”

“Ko-ree-a – inn-ter -” Ji Hyun mencoba mengucapkan bahasa Inggris yang tertulis di bawah huruf hangul. Tetapi sebelum ia bisa lancar membaca, Jae Seop menariknya menjauh sambil berkata.

“Ayo kita pergi, kau tidak perlu membaca bahasa Inggris di hari pertamamu.” Ji Hyun mengangguk dan mengikuti langkah laki-laki.

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

Mereka mengisi beberapa formulir dan menandatangani beberapa dokumen di kantor kepala sekolah. Ruangannya begitu besar, sekitar dua kali ukuran rumah Ji Hyun, ia tidak percaya ruangan ini hanya milik satu orang kepala sekolah. Sebuah sofa kulit dan meja terlihat bersih dan rapi, dimana telah tersedia seperangkat tatanan sajian kopi diatasnya. Selain itu ada rak-rak tinggi yang berjumlah tiga menutupi dinding dan banyak kursi duduk disamping rak tersebut, seperti telah disediakan untuk digunakan. Ji Hyun seperti melihat ruangan yang tidak biasa tetai luar biasa. Meja kepala sekolah pun besar, hampir sebesar dapur Ji Hyun dan buku-buku ditumpuk disatu sisi dan komputer disisi lain.

“Selamat datang di sekolah kami,” ujar kepala sekolah sambil mengulurkan tangannya untuk berjabatan dengan Jae Seop dan Ji Hyun. Dengan ragu Ji Hyun menyambut dan menggoyangkan tangannya saat menjabat kepala sekolah. Jae Seop hanya menggeleng melihat tingkah Ji Hyun yang kikuk.

“Jadi, hari ini kau sudah resmi menjadi siswa Daehwan. Aku akan pergi mengurus hal-hal yang tertinggal. Jika terjadi sesuatu, langsung telepon. Kau akan baik-baik saja kan?” tanya Jae Seop. Ji Hyun mengangguk.

“Tentu saja. Jangan mengkhawatirkanku. Pergilah. Kau juga pasti sangat sibuk harus mengantarkanku ke Seoul dan kembali lagi ke Insandong.” Ji Hyun mendorong laki-laki itu menuju mobil yang sudah siap akan meninggalkan halaman sekolah. Jae Seop menaiki mobil dan melambaikan tangan ke Ji Hyun terakhir kali.

Mobil Jae Seop masih diam. Ia memandang Ji Hyun dengan pandangan cemas.

“Kenapa?” tanya Ji Hyun.

“Kau akan baik-baik saja kan?” tanyanya.

Ji Hyun mengangguk. Ia menghampiri mobil audi hitam tersebut dan mengetok kaca mobil pengemudi. “Kau menyembunyikan sesuatu dariku? Mengapa kau terlihat sangat cemas. Aku sudah katakan bahwa aku pasti akan baik-baik saja.”

Jae Seop menghela nafas, ia berharap kata-kata Ji Hyun benar adanya. Ia tidak bisa memikirkan gadis ini akan tinggal sendirian di Seoul jauh dari keluarganya. “Aku pergi. Samai ketemu saat liburan pertamamu.”

Mobil tersebut pergi bersama dengan lambaian tangan Ji Hyun.

“Kenapa? Apakah ada sesuatu yang berbahaya disini?” ujar Ji Hyun menggerutu. Ia berjalan melalui halaman sekolah, berpikir mungkin ada sesuatu yang salah. Baru kali ini ia melihat wajah Jae Seop begitu khawatir.

Ji Hyun terus berpikir dan ia tidak menyadari bahwa ada seorang laki-laki yang berjalan kearahnya. Dan tabrakan tidak bisa dihindari keduanya. Ji Hyun langsung menunduk dan meminta maaf dan ia baru menyadari laki-laki yang ditabraknya memiliki rambut warna hitam. Mengankan seragam putih dan tampak seperti model.

“Aku sangat menyesal.”

“Tidak apa-apa,” katanya dan menatap Ji Hyun. “Kau tidak mengenakan seragam, kau anak baru disini?”laki-laki itu bertanya lagi.

Ji Hyun mengangguk.

“Aku berharap kau akan memiliki banyak pengalaman di sekolah ini. Daehwan bukan sekolah biasa dan bukan sekolah artis, jangan paksakan dirimu belajar disini,” ujarnya dan mulai berkalan pergi. Namun tak lama kemudian ia berhenti saat seseorang memanggil namanya.

“Ki Seop! Bisakah kau menungguku sebentar? Mengapa jalanmu cepat sekali?!” seorang laki-laki lainnya berlari kearah Ki Seop yang berhasil ia tangkap. Laki-laki itu berhenti sejenak untuk memandang perempuan yang berdiri tak jauh darinya, ia masih memegang pundak Ki Seop. Pandangan keduanya tertuju satu sama lain, antara Dae Hyun dan Ji Hyun.

Ji Hyun tidak bisa percaya, ia tidak mungkin bisa menerima kenyataannya ini. Kedua matanya sudah mulai menaham air mata yang ingin menetes. Sudah begitu lama sejaka terakhir kali Ji Hyun melihat Dae Hyun dan hari ini sungguh luar biasa jika mereka bisa bertemu kembali. “Ji Hyun.”

Dae Hyun mengatakan, memanggil nama Ji Hyun. Wajahnya sama terkejutnya, meskipun ia tahu ia bahwa keterkejutannya hanya sekedar kamuflase menutupi kesedihannya.

“Saya permisi,” kata Ji Hyun kemudian beranjak pergi meninggalkan halaman sekolah.

“Ji Hyun-ah,” Dae Hyun berhasil menangkap lengan Ji Hyun dan menghentikan langkah perempuan tersebut.

“Aku… aku harus bicara padamua,” ujar Daehyun.

Ji Hyun membalikkan badan dan menatap Dae Hyun. “Apa yang ingin kau bicarakan lagi? Maaf?” ujar Ji Hyun kali ini emosi seperti sudah mempengaruhinya, hingga ia tak sadar Ki Seop masih berada disana.

“Tiga tahun yang lalu kau meninggalkanku, apa yang akan kau katakan lagi padaku. Apa yang harus aku lakukan ketika melihatmu disini? Memafkanmu?” Ji Hyun bertanya dalam kemarahan. Kedua tangannya terkepal dan air mata telah mengalir. Ji Hyun benci sisi dirinya yang cengeng. “Aku tahu, sulit bagimu untuk memberitahu orang tuamu mengenai hubungan kita. Tetapi apakah kau kau tahu betapa sulitnya diriku saat kau pergi meninggalkanku?” Ji Hyun berteriak lalu mengayunkan tangan kanannya dari cengkraman Dae Hyun dan lari.

Apakah ini yang dikhawatirkan Jae Seop sebelumnya? Dae Hyun? Ji Hyun bertanya pada dirinya sendiri saat duduk di bawah pohon di sisi lain halama sekolah. Tempat yang sepi dan damau. Ji Hyun pun meluapkan kemarahannya dan sakitnya ia melihat laki-laki yang ingin ia lupakan. Ia menangis dan ia tidak ingin memikirkan apapun. Tentang semua hal yang telah Dae Hyun lakukan kepadanya tiga tahun yang lalu.

“Apakah kau baik-baik saja?”

Ji Hyun mendongak dan mendapati Ki Seop, laki-laki yang dipanggil Dae Hyun.

“Aku baik-baik saja,” kata Ji Hyun sambil berpaling padanya.

“Kau seharusnya melihat bagaimana keadaan Dae Hyun tiga tahun yang lalu. Betapa menyedihkannya dia.”

“Sungguh?” aku tertawa. “Kenapa dia haus bersedih untukku? Apakah aku istimewa baginya?”

“Setiap orang memiliki seseorang yang istimewa dalam hati mereka. Dan kau selalu menjadi orang spesial bagi Dae Hyun.”

“Dae Hyun… aku tidak tahu betapa istimewanya aku kalau dia bahkan tidak bisa memberitahu orang tuanya mengenai hubungan kami dulu?”

“Benar. Tapi jika kau tidak istimewa, apakah dia akan sedih karenamu? Apakah dia akan melakukan hal seperti tadi jika benar kau tidak istimewa baginya?”

“Apa maksudmu?”

“Aku belum pernah melihat Dae Hyun seperti tadi. Wajahnya seperti memohon dan begitu menderita. Aku belum pernah melihatnya seperti itu.” Ji Hyun mendengarkan ucapan Ki Seop, ia telah berhenti menangis dan masih ada bekas air mata di pipinya.

“Aku bertemu dengannya empat tahun yang lalu. Dia begitu berbeda dari semua orang yang aku temui, begitu istimewa. Dia begitu dingin kepada orang lain, meskipun dia akan selalu tersenyum kepadaku. Dan saat itulah aku jatuh cinta kepadanya. Kami mulai berkencan dan dia bilang tidak akan memberitahu orang tuanya tentang kami. Karena ia tahu orang tuanya tidak akan menerima seorang gadis dari keluarga miskin sepertiku.”

“Tunggu. Kau miskin? Lalu mengapa kau bisa di sekolah ini?”

“Pacar kakakku sangat mengenal kepala sekolah disini. Dia merekomendasikan diriku dan aku diizinkan masuk.”

“Oh, begitu ceritany. Aku mengerti.” Wajah Ki Seop berubah dan sebelum Ji Hyun bertanya lagi. Laki-laki itu sudah berdiri. “Baiklah, aku harus pergi ke kelas sekarang. Kau sudah tahu dimana kelamu berada?”

Ji Hyun mengangguk.

“Oke. Aku pergi duluan.”

“Ki Seop!” Ji Hyun berteriak. Ki Seop berhenti tapi tidak berbalik. “Aku pikir itu namamu jika aku tidak salah dengar. Terima kasih.” Ki Seop tidak menjawab, ia terus berjalan dan bahkan tidak pernah berbalik untuk menghadap ke araha Ji Hyun.

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

To be continue~

3 thoughts on “Reason [Prolog]

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s