When A Love Kills (Part 5)

Image

Title : When A Love Kills

Author : Hyorenji

Casts : Hwang Chansung of 2PM, Ahn Hyora (OC)

Support Casts : Jung Jinyoung of B1A4,  Lauren Hanna Lunde as Choi Hanna, Park Jinyoung (JYP) as Boss

Length : Series

Genre : Romance, Angst

Rating : PG-13

Disclaimer : I do not own the casts, and the plot is pure from my imagination. This Fic hasn’t been posted anywhere. The poster was made by me.

Prolog Part1 Part2 Part3 Part4

Part 5

“Oppa! Chansung oppa!”

Chansung hanya duduk diam di atas sofanya, tak berniat sedikitpun untuk berjalan kearah pintu untuk membukanya karena ia tahu siapa orang yang ada di balik pintu itu. Ahn Hyora, sudah pasti.

“Eonni.. sepertinya dia masih tidur.”

Dan, anak itu. Tentu saja. Chansung menghela nafas sambil memejamkan matanya saat mendengar suara samar anak kecil itu. Ia melirik ponselnya, namun Park Jinyoung tak juga membalas pesan singkatnya yang menanyakan apa alasan ia harus membunuh Choi Hanna, sementara ia tak pernah membunuh orang sebelumnya—mengancam, memukuli dan memaksa orang sungguh berbeda dengan membunuh, bukan?

“Chansung oppa! Jangan lupakan perjanjian kita! Enam puluh empat puluh!” Suara agresif Hyora masih terdengar seiring dengan dentingan bel dan ketukan pintu yang tak sabaran.

Chansung menggaruk-garuk kepalanya frustrasi, ia benar-benar tak tahu apa yang harus dilakukannya. Dalam hati ia masih bertanya-tanya ada apa sebenarnya—apa alasan Park Jinyoung menyuruhnya membunuh Hanna masih tak bisa dipikirkannya.

“Apa dia memata-mataiku, dia tahu aku dekat dengan Hanna dan Hyora lalu dia ingin menegurku agar serius dan tak main-main? Ah, tapi kenapa dia tidak menyuruhku membunuh Hyora?” Chansung merasa semakin bingung dan pusing.

“Chaaansuuungg oppppaaaa…”

Terlebih lagi dengan suara ribut itu. Chansung makin tak bisa berpikir dengan jernih.

Kemudian tiba-tiba sebuah pesan singkat muncul di ponsel Chansung. Dari Park Jinyoung.

Chansung-ah, datang ke rumahku  dua jam lagi. Aku ingin makan siang denganmu.

“Yah, oppa..” Hyora dan Hanna sama-sama menunjukkan wajah kecewa saat Chansung mengatakan ia harus pergi dua jam lagi.

“Padahal aku sudah merencanakan hari ini kita akan nonton musikal.” Hyora memasang tampang sedih sambil menunjukkan tiga lembar tiket drama musikal yang sudah dibelinya tadi.

“Salah sendiri kau tidak menanyakan dulu padaku hari ini aku ada acara atau tidak.” Chansung berusaha keras untuk tidak merasa bersalah atas itu. “Masuklah. Kita masih punya dua jam. Aku tak ingin kau memotong bagianku dari gajimu gara-gara ini.”

Hyora menggandeng Hanna dan membawanya masuk dengan langkah lesu. Ia sudah heboh menceritakan pada Hanna bagaimana asiknya menonton drama musikal dan akibatnya anak itu memiliki harapan tinggi untuk menontonnya.

“Sudahlah, kalian kan masih bisa menonton tanpa aku.” Kata Chansung pada Hyora yang sedang memandangi sedih tiket drama musikalnya.

“Tidak seru.”

“Iya, tidak seru.” Hanna meniru perkataan Hyora.

Chansung menggaruk-garuk kepalanya. Ia sedang stress memikirkan apa yang harus dilakukannya pada Hanna, namun anak itu beserta ‘eonni’-nya malah terus menerus menambah masalah baru bagi Chansung.

“Dengar. Hari ini aku sedang banyak pikiran. Tolong, tolong sekali jangan menambah masalahku, oke?” Chansung berusaha berbicara dengan sesabar mungkin agar ia tak membentak dua perempuan di hadapannya itu.

“Ah, oppa sedang bad mood?” Hyora tampak sedikit simpatik dengan perkataan Chansung.

“Bahkan lebih dari itu.” Chansung menjawab singkat. “Sudah, kalian main saja disini. Aku ke kamar dulu.”

Chansung kemudian lenyap di balik pintu kamarnya, menyisakan kebingungan antara Hyora dan Hanna.

“Eonni, ada apa dengan oppa singa?”

“Entahlah, Hanna-ya..” Hyora mengelus rambut Hanna pelan. “Sepertinya dia memang sedang banyak pikiran. Ah, ada Pororo kan di tv! Hanna mau menontonnya?” Hyora kemudian berusaha mengalihkan pikiran Hanna.

“NE!!!”

Dua jam kemudian saat Chansung keluar kamar setelah bersiap-siap untuk pergi, ia menemukan Hanna dan Hyora tertidur di sofanya. Chansung tak mampu melakukan apapun selain menghela nafas melihat pemandangan di depannya saat itu.

“Dasar. Aku pergi dulu.” Katanya, walaupun ia tahu Hanna dan Hyora tak dapat mendengarnya.

Chansung memarkirkan sepeda motornya di pekarangan rumah Park Jinyoung. Ia kemudian berjalan menuju pintu depan rumah mewah itu namun langkahnya terhenti melihat sebuah mobil mewah terparkir di depannya. Mobil yang familiar.. rasanya ia baru saja melihatnya. Apa mobil itu…

“Chansung-ah, ayo masuk.” Park Jinyoung entah bagaimana sudah muncul di depan pintu dan menyuruh Chansung masuk.

“Ah, ne.” Chansung berusaha mengabaikan sejenak mobil itu dan masuk ke dalam rumah Park Jinyoung.

“Duduklah dulu, istriku sedang menyiapkan makan siang.”

Chansung yang dipersilakan duduk kemudian mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu tempat ia biasa duduk tiap ia mengunjungi rumah Park Jinyoung, lebih tepatnya tempat ia selalu duduk. Ia tak pernah menginjakkan kaki di bagian lain rumah besar bergaya mediteranian itu.

“Yeobo, makanannya sudah siap.”

“Ah, ayo. Kita makan.” Park Jinyoung tersenyum sambil mengajak Chansung yang sebenarnya belum sarapan sejak pagi.

“Annyeong hase..” Chansung yang semula ingin membungkuk pada orang yang disebut istri Park Jinyoung itu kemudian tersentak. Ia tak pernah bertemu dengan istri Park Jinyoung sebelumnya, dan betapa terkejutnya ia mengetahui bahwa..

“Hm? Sepertinya aku pernah.. ah! Kau..yang membantu menjaga Hanna, kan? Kau mengingatku?” wanita elegan itu tersenyum ramah. “Aku tidak tahu kau kenal dengan suamiku. Duduklah..”

“Ah..N..Ne..” Chansung duduk dengan wajah bingung. Dalam kepalanya berkecamuk berbagai macam hal. Mobil itu, nyonya ini, Hanna, Park Jinyoung..bagaimana mungkin semua berhubungan? Kalau Hanna adalah anak nyonya ini, dan nyonya ini adalah istri Park Jinyoung..berarti Hanna adalah anak Park Jinyoung? Tapi kenapa bisa ada marga Choi di depan nama Hanna, bukannya Park? Lalu kenapa Park Jinyoung menyuruhnya membunuh anaknya sendiri?

“Ah, Chansung-ah.. kau mengenal Hanna?” Park Jinyoung tak dapat menutupi rasa terkejutnya.

“N..Ne..” Chansung tak dapat menjawab apapun selain ‘ne’.

Tangan Park Jinyoung tampak mengepal, namun tatapannya menerawang entah kemana. Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu, sama seperti Chansung yang mendadak kehilangan nafsu makannya.

“Jadi.. Hanna adalah anakmu?” Chansung bertanya langsung pada Park Jinyoung saat mereka sudah berada di dalam mobil milik pria itu.

Park Jinyoung tidak menjawab, ia hanya menstarter mobilnya kemudian memacunya ke jalanan. “Bagaimana bisa kau kenal dengan Hanna?”

“Itu tidak penting. Yang penting adalah kenapa kau menyuruhku membunuhnya?”

Park Jinyoung kemudian tertawa terbahak-bahak, membuat Chansung tenggelam dalam kebingungan. “Sejak kapan kau peduli dengan alasan? Selama ini kau tidak pernah bertanya apapun tentang target yang kutunjuk.”

“Ya..walaupun begitu..aku tahu kenapa mereka pantas untuk diancam atau dihajar. Kebanyakan dari mereka melakukan hal buruk selain bermasalah denganmu. Tapi Hanna? Apa kejahatan yang sudah dilakukannya hingga kau menyuruhku melakukan hal yang lebih kejam dari mengancam koruptor seperti waktu itu?”

“Ckckck..” Park Jinyoung berdecak sambil menatap Chansung. “Kesalahan besar. Kau terlalu banyak tanya, Hwang Chansung.”

“Aku perlu tahu kenapa kau ingin membunuhnya. Itu saja!”

“Kalau aku memberitahumu..kau akan membunuhnya, kan?” tanya Park Jinyoung, seolah memastikan Chansung takkan mengkhianatinya.

Chansung hanya diam. Ia tak mampu mengangguk atau menggeleng walau ia tahu dalam hatinya ia yakin tak mungkin ia membunuh Hanna.

“Hanna bukan anakku. Demi apapun aku tidak rela menyebutnya anakku. Dia adalah hasil perselingkuhan istriku dengan Choi Hyunshik. Kau tahu siapa dia? CEO yang dua bulan lalu meninggal karena sakit jantung. Aku bersyukur dia mati karena aku tak perlu repot membunuhnya. Choi Hyunshik mewariskan seluruh hartanya pada si jelek Hanna yang sejak bayi tinggal denganku dan istriku yang sudah meminta maaf atas kesalahannya berselingkuh. Ya, kau tahu takkan ada pria di dunia  ini yang mampu memaafkannya begitu saja, kan? Dan aku mengincar warisan itu. Kalau Hanna mati, seluruh warisan akan jatuh ke tangan istriku dan kau tahu apa artinya? Merebut harta itu dari istriku semudah mengambil permen dari anak kecil.”

Chansung tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Hanya karena uang.. hanya karena uang Park Jinyoung menyuruhnya membunuh anak tak berdosa itu?

“Jadi masalahnya adalah uang? Aku..”

“Ah, aku akan membagi harta itu denganmu. Dan setelah itu kau dapat bebas dariku. Kontrak kita akan berakhir. Kau akan hidup tenang dengan nenekmu, bahkan kau bisa berkeluarga. Dengan uang sebanyak itu hidupmu akan baik-baik saja. Tapi jangan coba-coba menolak misi ini, Chansung-ah..Jangan coba-coba.”

Chansung meneguk lagi soju di hadapannya. Entah sudah berapa botol, ia tak peduli. Bisa lepas dari Park Jinyoung adalah hal yang paling diinginkannya di dunia. Dan juga bisa hidup tenang.. ia selalu ingin melakukan apapun demi mendapatkan hal itu. Namun ia tak tahu satu-satunya cara adalah membunuh Hanna.

Tak terasa air mata Chansung mengalir turun. Ia                tak pernah bisa menangis, dan kali ini air matanya dengan gampang bercucuran. Ia tak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Kembali menenggak sojunya, air mata Chansung tak lantas berhenti.

Ia berharap bisa meminum soju sampai akhir dunia, ia tak ingin kembali ke aparte karena ia akan bertemu dengan Hyora dan itu akan makin mempersulitnya. Bagaimana mungkin dia membunuh Hanna sementara Hyora hampir selalu berada dengan anak itu?

“Chansung oppa.. kemana saja kau..” Hyora berjalan mondar-mandir di koridor aparte, berharap orang yang ditunggunya akan segera datang. Malam sudah larut namun pria itu belum juga pulang, membuat Hyora sangat khawatir.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dari Chansung.

“Yeoboseyo? Oppa! Kemana saja kau? Kenapa jam segini..”

“Ah, yeoboseyo. Maaf, tapi pelanggan ini mabuk dan tak sadarkan diri di kedai soju kami. Bisa tolong anda jemput pelanggan ini kemari?”

Mata Hyora membelalak seketika. “Mwo!? Ne..Saya akan segera kesana.”

“Ai..goo..” Hyora berjalan susah payah dengan berat tubuh Chansung yang ditumpukan di bahunya. Ia berusaha melangkah sementara Chansung yang setengah sadar hanya mengoceh tidak jelas di sampingnya.

“Hik! Aku..tidak tahu harus bagaimana hik!” Chansung tertawa tiba-tiba, kemudian mendadak berubah murung. “Aku..tidak ingin melakukan ini, hik!”

“Aish. Oppa bisa diam tidak? Kita sudah hampir sampai di aparte. Tolong jangan berisik. Aigoo.. bau sojunya..” Hyora menarik nafas panjang sebelum kemudian melangkah lagi menuju gedung aparte yang sudah tampak di depan.

“Ya, Ahn Hyora..” Chansung mengelus kepala Hyora dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya sejak tadi melingkar di bahu Hyora agar bisa membawanya berjalan. “Kau..hik! kenapa kau membawa masalah dalam hidupku? Hik!”

“Kau bicara apa?” Hyora tampak tak begitu menggubris pertanyaan Chansung. Yang ia pikirkan hanyalah bagaimana caranya cepat-cepat sampai di aparte.

“Kalau saja..hik! kau..tidak pindah kesampingku.. mungkin aku tidak akan seperti ini! Hik! Dan aku bisa mengerjakan tugasku dengan..hik..dengan baik.. dan aku tidak akan mengenal..hik..anak itu..sebelumnya..hik!”

Hyora hanya mendesah dan menggeleng mendengar ocehan Chansung yang diselingi dengan cegukan itu. Ia paling tak tahan dengan aroma alcohol dan kini aroma itu menyeruak dari Chansung yang berada sangat dekat dengannya.

“Kau..hik! Benar-benar.. hik! Menyusahkanku…”

“Kau lebih menyusahkanku, tahu?”

Hyora akhirnya tiba di lift, dan ia segera menekan tombol bernomor 4. Dalam beberapa detik ia sudah tiba di koridor apartenya dan Chansung, yang membuatnya semakin berusaha untuk membawa Chansung kembali ke apartenya.

“Mana kuncimu?” tanya Hyora, yang langsung membuatnya menyesal bertanya mendengar jawaban Chansung.

“Kunci? Kunci apa? Hik! Kunci itu kan yang mengeong-ngeong itu..hihihihi hik! Itu..kucing? hihihihi..”

“Sudah, sudah. Diamlah!” Hyora kemudian memutuskan untuk membawa Chansung ke apartenya dulu karena ia tak kuat lama-lama menahan badan Chansung.

Ia segera menidurkan Chansung di sofanya dan kemudian menarik nafas panjang-panjang.

“Akhirnya..” Hyora sedang meregangkan tubuhnya saat tiba-tiba Chansung menariknya hingga terjatuh di atas perut pria mabuk itu.

“Op..Oppa… Kau..sedang apa?” wajah Hyora memanas. Ia berusaha melepaskan diri namun tangan Chansung masih cukup kuat untuk menahannya walaupun dalam keadaan mabuk.

“Kau..hik! Kau.. benar-benar… merepotkan..ku..mmm..”

Hyora tercekat. Tiba-tiba bibir pria itu sudah ada di atas bibirnya. Entah bagaimana, tiba-tiba dunia Hyora terasa berhenti berputar. Pikirannya mendadak kosong, tubuhnya lemas seketika.

Buruk. Benar-benar buruk.

Chansung terbangun dan menemukan dirinya berada di sofa ruang tamu aparte Hyora. Ia perlahan bangkit untuk duduk namun hangover masih memaksanya untuk berbaring. Sepertinya tadi malam ia memang minum lebih banyak dari biasanya.

“Ahn Hyora..” ia memanggil nama pemilik aparte itu pelan,  namun tak ada jawaban. Chansung melirik jam yang tergantung di dinding, sudah jam sebelas. Biasanya Hyora sudah selesai menjemput Hanna dan sudah pulang kembali ke aparte membawa Hanna.

“Aish..” Chansung mendesis saat ia mengingat kembali Hyora dan Hanna.

Ia pikir masalahnya sempat hilang hanya karena ia minum alkohol, tapi tidak. Soju-soju itu hanya menimbulkan hangover dan makin menambah pusing kepalanya. Dan ia baru terpikir bagaimana bisa ia ada di aparte Hyora sementara tempat terakhir yang ada dalam ingatannya adalah kedai soju.

Chansung memejamkan matanya sejenak dan kemudian bangkit beberapa menit kemudian. Ia berjalan terhuyung-huyung kearah dapur Hyora, memutuskan untuk membajak kulkasnya untuk menemukan beberapa benda untuk dimakannya. Namun post-it yang tertempel di kulkas menghentikan gerakan tangan Chansung untuk menarik handle kulkas.

Oppa, di panci ada sup. Kalau kau mau makan tinggal dipanaskan saja, dan nasi ada di rice cooker. Aku tidak tahu rasanya akan seperti apa menurutmu tapi bagiku itu hanya sedikit aneh dan lumayan bisa dimakan. Dan di dekat dispenser ada gelas berisi perasan jeruk nipis, kau bisa menambahkannya dengan air panas dan kau harus meminumnya, arattji?

Chansung mencabut post-it itu kemudian terkekeh. Ia berjalan kearah kompor dimana di atasnya terdapat panci yang disebut Hyora. Ia membuka penutup panci itu dan kemudian mengernyit seketika.

“Apa sup memang seharusnya berwarna seperti ini?” Chansung menelan ludahnya, menimbang-nimbang apakah ia akan memakan sup itu atau tidak. Karena bisa-bisa ia malah semakin pusing bukannya membaik,iya kan?

Hyora tak juga pulang hingga malam tiba. Chansung menduga-duga apa yang terjadi pada anak itu sampai-sampai hari ini ia tak mengusiknya sama sekali.

Pukul setengah sepuluh malam, Chansung sedang memikirkan bagaimana cara mengerjakan misinya saat tiba-tiba terdengar pintu aparte sebelah terbuka. Ia segera bangkit dan  mencari sesuatu yang bisa dipakainya untuk mengetuk jendela Hyora dan akhirnya menemukan sebuah pipa bekas.

“Ahn Hyora!” Chansung mengetuk-ngetuk pintu jendela gadis itu selama beberapa menit, namun tak terdengar respon.

“Apa dia tidur? Ah tidak mungkin secepat itu. Ahn Hyora!”

Tiba-tiba jendela Hyora terbuka dan Chansung kali ini dapat menarik pipa bekasnya hingga tak bernasib sama dengan payungnya beberapa hari lalu.

“Ada apa?” hanya terdengar suara Hyora, sementara gadis itu tak menjulurkan kepalanya keluar jendela.

“Aku hanya ingin bilang terima kasih. Dan supmu benar-benar aneh. Tapi.. terima kasih. Sudah, sana pergi tidur.” Chansung kemudian menutup jendelanya dan bersandar di sampingnya. Sebenarnya banyak yang ingin ia tanyakan pada Hyora tapi.. ah sudahlah.

Chansung baru saja ingin melangkah ke tempat tidurnya saat tiba-tiba jendelanya berbunyi. Ia segera membuka jendelanya dan mengetahui bahwa Hyoralah yang mengetuk jendelanya dengan sebuah penggaris panjang.

“Wae?” tanya Chansung.

“Hmm.. Aniya.” Entah kenapa suara Hyora terdengar lebih pelan dari biasanya bagi Chansung. Apa anak ini salah makan sesuatu?

“Cepat katakan apa yang  mau kau katakan.”

“Itu..Anu..” Hyora yang masih tak menunjukkan wajahnya terdengar ragu. “..apa..kau..tidak ingat apapun soal..soal..tadi malam?”

“Tadi malam?” dahi Chansung mengernyit. “Ada apa tadi malam? Kenapa kau tidak bicara yang jelas saja, Ahn Hyora?”

“Ah. Ani. Tidak ada apa-apa. Annyeonghi jumuseyo.” Kemudian tertutuplah kembali jendela gadis itu, menyisakan Chansung dalam kebingungan.

“Memangnya tadi malam ada apa? Kenapa dia jadi aneh seperti itu? Aneh..”

Chansung kemudian mendesis saat tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ia pikir itu adalah Hyora, namun ternyata dugaannya salah. Park Jinyounglah yang meneleponnya.

“Yeoboseyo?”

“Hwang Chansung, aku tidak ingin basa-basi. Besok kau harus menyelesaikan misimu.”

Chansung menimbang-nimbang dua kotak makan siang di tangannya dengan ragu. Ia sudah menyiapkan dua makanan yang berbeda untuk Hanna dan Hyora dan salah satunya telah ia bubuhi racun. Ia masih ragu apakah dia akan benar-benar memberikannya pada Hanna dan Hyora apa tidak. Ya dia memang tidak berniat meracuni Hyora, hanya Hanna. Tapi apa ia tega?

Tiba-tiba bel apartenya berbunyi. Hanna dan Hyora pasti sudah datang. Chansung refleks menyembunyikan dua kotak makan itu di dalam lemarinya. “Ne, sebentar.” Ia segera berlari ke pintu dan membuka kuncinya.

“Annyeong!” sapa Hanna ceria, sementara Hyora hanya menunduk.

“Kalian mau kemana?” tanya Chansung saat melihat Hanna dan Hyora berpakaian bagus.

“Kami akan pergi piknik! Iya kan, eonni?”

“Eh? N..Ne.”

“Kau kenapa Ahn Hyora? Kau sakit atau semacamnya?” Chansung menempelkan punggung tangannya di dahi Hyora namun gadis itu refleks menghindar. Wajahnya bersemu merah.

“A..Ani.. Tidak ada apa-apa, oppa.” Ia mencoba menengadahkan wajahnya dan memasang senyum canggung.

“Kapan kalian akan pergi?”

“Sebentar lagi. Kami hanya kemari untuk meminjam kompor kecil. Kau..punya, kan?”

“Oh begitu.” Chansung sedikit bersyukur Hyora tak mengajaknya, namun juga kecewa di lain sisi. “Ambil saja di lemari belakangku.”

“Ne, gomawo oppa.” Hyora berjalan masuk ke dalam aparte Chansung. “Oh iya, tadi halmeoni mencarimu dan menyuruhku memberitahumu kalau ada masalah dengan tv halmeoni jadi kau disuruh membetulkannya.”

“Aish, apa aku teknisi?” Chansung mendesah sambil kemudian mengambil sepatunya. “Kalau kalian pergi sebelum aku kembali pintunya tidak usah dikunci.”

“Ne..” jawab Hyora yang tengah sibuk mencari kompor kecil yang dimaksud Chansung.

“Kalian..hati-hati.” Ujar Chansung pelan sebelum akhirnya ia berlari ke arah lift sambil menyesali apa yang baru dikatakannya.

Chansung tengah berniat memasak ramen saat ia menemukan sebuah post-it tertempel di suatu bagian dalam lemarinya. Tak ada orang lain yang bisa melakukan itu kecuali Ahn Hyora, tentu saja. Namun sesuatu membuat Chansung bingung.

“Sepertinya tadi ada sesuatu di tempat dia menempel post it ini…” gumamnya sambil membaca apa yang tertulis disana.

Oppa, terima kasih sudah membuatkan kami bekal. Jal meokgesseumnida!^^

“Sial!” Chansung mengumpat seketika setelah ia membaca pesan dalam post-it itu. Ia memang sempat menempelkan kertas stiker yang ditulisnya dengan nama Hanna dan Hyora agar ia tak tertukar nanti saat ia menyerahkannya pada mereka.

Ia kemudian membanting dirinya ke atas sofa sambil mengusap mukanya. Ia sudah berusaha menunda misinya untuk membunuh Hanna, tapi mau bagaimana lagi. Ia sudah ditakdirkan harus membunuh gadis itu dan ia harap dosanya akan berkurang karena itu tak disengaja.

“Mian, Hanna-ya..”

Chansung mengirim pesan singkat pada Park Jinyoung sebelum akhirnya ia memutuskan untuk mengurung diri di kamarnya.

“Aku sudah memasukkan racun ke makanan Hanna. Efeknya mungkin akan terasa nanti malam jadi jika kau ingin di mati kau bisa mencegahnya dibawa ke rumah sakit.”

Untuk pertama kali dalam hidup Chansung waktu terasa bergulir lebih lama. Seharian penuh ia mengurung diri di dalam kamar, membayangkan apa yang akan terjadi pada Hanna malam nanti. Dan bagaimana perasaan Hyora nantinya.

Lagi-lagi untuk yang pertama kali, seorang Hwang Chansung memikirkan perasaan orang lain. Sihir Ahn Hyora, tentu saja.

Tak terasa malampun tiba, dan suara pintu aparte Hyora yang terbuka lalu menutup menandakan Hyora sudah pulang. Itu artinya Hanna sudah berada di rumahnya dan sekarang Park Jinyounglah yang bertanggung jawab atas bagaimana kelanjutan nasib Hanna nantinya.

Sejujurnya Chansung masih berharap dalam hatinya kalau Park Jinyoung bisa berubah pikiran—menyadari seberapa tak berdosanya Hanna dan memutuskan untuk membawanya langsung ke rumah sakit jika racun itu mulai memunculkan efek.

Chansung sedang mengeluarkan kaleng-kaleng bir dari dalam lemari esnya saat tiba-tiba bel berdenting. Ia meletakkan kaleng-kaleng bir itu di atas meja kemudian ia melangkahkan kakinya ke arah pintu.

Ia tak dapat menahan keterkejutannya saat melihat Hyora yang ada di balik pintu jatuh terduduk di hadapannya, dengan darah yang menetes keluar dari mulutnya. Hyora terbatuk-batuk, tangannya menggapai-gapai kaki Chansung—persis seperti zombie dalam film The Walking Dead.

“Op..Oppa.. Uhuk uhuk..”

“Ya Ahn Hyora! Kau kenapa!?”

“To..Tolong aku…uhuk..uhuk..” Hyora memegangi perutnya sebelum akhirnya ia memuntahkan cairan kental berwarna merah—yang biasa disebut darah—di koridor apartenya. “Neomu aphayo, oppa..uhuk..”

Dalam hitungan milisekon Hyora sudah berada dalam gendongan Chansung. Chansung tak memedulikan pintu apartenya yang belum tertutup, atau bahkan kakinya yang masih mengenakan sandal rumah. Seperti déjà vu kejadian beberapa waktu lalu saat Hyora pertama kali bertemu dengan Chansung—yang langsung disertai kejadian dramatis Chansung membawanya ke rumah sakit.

“Jangan..beritahu..uhuk..halmeoni..” bisik Hyora lirih saat mereka tiba di lift.

“Jangan mengatakan apapun.” Kata Chansung dingin sebelum akhirnya lift membuka di lantai dasar dan ia langsung mempercepat larinya keluar gedung aparte. Lagi-lagi ia bersyukur ada rumah sakit di dekat sana.

Chansung tak memedulikan tatapan orang yang berpapasan dengannya di jalanan. Masa bodoh dengan apapun, begitu pikirnya.

“Uisa seonsaengnim, tolong dia.” Chansung meletakkan Hyora di tempat tidur Instalasi Gawat Darurat rumah sakit itu, dan kemudian melangkah mundur karena tak ada orang yang diperbolehkan menemani saat Hyora diberikan pertolongan pertama.

Chansung mendudukkan dirinya di ruang tunggu. Kepalanya tertunduk dan kakinya terus bergetar cemas. Ia tak tahu bagaimana semua terjadi begitu cepat, Hyora yang tiba-tiba saja datang meminta pertolongan dengan mulut penuh darah seperti itu.

Kring..Kring..

Chansung ingin mengabaikan deringan ponselnya, namun melihat nama penelepon mau tak mau ia harus mengangkatnya.

“Yeoboseyo?”

“Hwang Chansung.. apa kau menipuku? Sekarang Hanna baik-baik saja bahkan dia sedang tidur dengan pulasnya. Mana efek racun yang kau katakan?”

Tangan Chansung lemas seketika, seolah otot-otot di dalamnya tak berfungsi lagi. Ia menjauhkan ponsel itu dari telinganya, dan kemudian ia menyandarkan kepalanya di dinding.

“Bodoh. Ahn Hyora bodoh. Bagaimana bisa kau salah memakan bekalnya?”

“Pasien Ahn Hyora memang tidak dalam masa kritis lagi, tapi dia harus tetap dipantau. Untung saja Chansung-sshi cepat membawanya ke rumah sakit, kalau tidak mungkin efek racunnya akan lebih parah.”

“Ne.. Kamsahamnida, uisa seonsaengnim.” Chansung membungkuk pada seorang dokter yang kemudian meninggalkannya berdua dengan Hyora—yang masih tak sadarkan diri—di dalam sebuah kamar rawat. Ia lalu mendudukkan dirinya di kursi yang ada tepat di samping tempat tidur. Matanya terus tertuju ke arah Hyora. “Kenapa.. sakit? Kenapa sakit sekali rasanya melihatmu seperti ini, Ahn Hyora?”

Chansung tahu Hyora takkan bisa menjawab, membuatnya mendecak untuk dirinya sendiri karena kebodohannya.

“Maafkan aku. Maafkan aku..” tangan Chansung tergerak ke arah tangan Hyora yang tertempeli jarum infus. Perlahan-lahan tangan gadis itu ia elus, berharap itu dapat mengurangi sedikit rasa sakit jika gadis itu masih merasakannya dalam tidurnya.

Chansung hampir tenggelam dalam kantuk, saat tiba-tiba ponselnya berbunyi dan Chansung langsung mengernyit saat melihat nama Jung Jinyoung ada di layar ponselnya.

“Eo? Ada apa Jinyoung-ah?”

“Chansung hyung! Kau dimana?! Apa kau dengan Hyora!? Aku lihat pintu apartemu dan Hyora tak tertutup. Lalu.. ada darah… kalian baik-baik saja?”

Chansung tak bisa mengelak lagi. Lagipula apa gunanya berbohong pada Jinyoung?

“Di rumah sakit.”

“Eo? Kenapa!? Ada apa?!”

“Berjanjilah kau tak akan menceritakannya pada halmeoni.”

“Ke..keracunan?!” Jinyoung tak dapat menyembunyikan ekspresi kagetnya saat mendengar penjelasan Chansung.

Chansung hanya mengangguk sambil perlahan menyeruput coke yang tadi dibelinya di mesin minuman otomatis yang ada di dekat kamar rawat Hyora.

“Lalu?”

Chansung melirik ke arah Jinyoung, mengamati setiap detail ekspresi yang muncul di wajah pria manis itu.

“Hyung..waegeurae?” Jinyoung tampak takut, dan membuat Chansung sadar ia menatap Jinyoung terlalu intens hingga mungkin pria itu bisa salah paham.

“Tidak apa-apa.” Chansung meminum coke-nya canggung. “Kau..menyukai Hyora?”

“Eh? Hyung apa yang kau bicarakan?”

Chansung tahu ada yang aneh dari ekspresi Jinyoung. Ekspresi panik, yang membuat Chansung tahu apa jawaban dari pertanyaannya.

“Jinyoung-ah, besok kau harus bekerja kan? Pulanglah. Aku yang akan menunggui Hyora disini.” Chansung berdiri kemudian menepuk-nepuk pundak Jinyoung.

Jinyoung tahu Chansung mengusirnya secara halus, dan ia tak bisa melakukan apapun selain ikut berdiri dan menghela nafas. Ia melirik sekilas ke arah Hyora yang masih belum bangun, kemudian melangkah ke pintu.

“Ne, hyung. Besok aku akan kemari lagi..mungkin.”

Chansung meletakkan cokenya di atas meja sebelum akhirnya merebahkan dirinya di sofa. “Ahn Hyora.. hebat, hebat.. ternyata sihirmu juga bekerja untuk orang lain.”

Three Days Later..

“Kalau nanti halmeoni tanya, jawab saja kau baru pulang dari rumah sepupumu. Arattji?”

Hyora mengangguk dan berusaha mengingat apa yang diajarkan Chansung padanya. Ia memang baru pulang dari rumah sakit dan Chansung meyakinkannya untuk berbohong agar Mirae halmeoni tak khawatir.

Chansung dan Hyora kemudian menekan bel aparte halmeoni, yang langsung dibuka dalam hitungan detik oleh Jinyoung yang ternyata sudah lebih dahulu tiba di aparte halmeoni yang memang mengundang mereka untuk merayakan ulang tahun ke-67 halmeoni yang masih tampak sehat itu.

“Halmeoni, saengilchukha hamnida!” Hyora berlari ke arah Mirae halmeoni yang tengah menyusun makanan di atas meja kemudian langsung memeluknya.

“Ne.. Hyora-ya.. Gomawo..Hehehe..” Mirae halmeoni tertawa bahagia, namun langsung berhenti tertawa saat melihat Chansung hanya berdiri terpaku melihat mereka. “Neo! Kau tidak mengucapkan apapun pada nenekmu ini?”

Chansung tersenyum sambil melangkah ke arah Mirae halmeoni. Ia melebarkan tangannya untuk memeluk halmeoni yang tampak sudah siap untuk memeluknya duluan itu. “Saengilchukha hamnida, halmeoni paling cantik sedunia!”

Mirae halmeoni tertawa senang, seolah-olah kerutan di wajahnya bisa menghilang saat itu juga. “Gomawo, cucu-cucuku.. aku sudah menyiapkan makanan yang enak untuk kalian..”

“Neee!” Hyora, Chansung dan Jinyoung langsung bersorak gembira saat mendengar kata ‘makanan’.

“Ah, halmeoni lupa. Halmeoni kehabisan gochujang. Chansung-ah, bisa kau belikan sebentar di supermarket?”

Chansung mempercepat langkahnya saat ia sudah sampai kembali di gedung aparte setelah membeli gochujang. Ia sudah terlalu lapar dan ia ingin cepat-cepat memakan makanan yang disiapkan Mirae halmeoni.

“Halmeoni..” Chansung menekan bel aparte Mirae halmeoni tak sabaran.

“Hyung! Ada tamu!” seru Jinyoung antusias setelah ia membukakan pintu untuk Chansung.

“Eoh? Siapa?” Chansung mengganti sepatunya dengan sandal rumah dan kemudian segera masuk ke ruang makan untuk melihat siapa tamu yang dimaksud Jinyoung.

“Chansung-ah! Apa kau pernah bertemu dengan ahjusshi ini sebelumnya?” tanya Mirae halmeoni.

“Nugu?”

Seorang pria yang duduk membelakangi Chansung kemudian membalik tubuhnya agar ia dapat terlihat oleh Chansung.

“Namanya Park Jinyoung. Dia adalah teman dekat appamu. Dulu saat SMP dan SMA dia sangat sering bermain ke rumah halmeoni.”

Plastik berisi gochujang yang ada di tangan Chansung refleks terjatuh menghantam keramik. Kaki Chansung bergetar seketika dan kesadarannya seperti terserap saat Park Jinyoung kini tersenyum ke arahnya.

“Annyeong, Chansung-ah. Kita pernah bertemu sebelumnya, kan?”

Chansung tak mampu menjawab. Ia terlalu shock melihat Park Jinyoung ada di antara halmeoninya dan Hyora. Ia tahu Park Jinyoung bukanlah orang yang akan datang ke aparte Mirae halmeoni hanya sekedar untuk beramah tamah.

“Hyung, lucu sekali kan?” Jinyoung—yang lebih muda tentunya—memungut plastik yang dijatuhkan Chansung dan kemudian meletakkan gochujang-nya di atas meja yang sudah dipenuhi makanan. “Nama kami bisa sama!”

Park Jinyoung tertawa dan mengangguk-angguk, namun Chansung yang kini duduk di antara mereka tak bisa tertawa sama sekali.

“Chansung sudah datang, dan sekarang saatnya kita makan. Silahkan dimakan, Jinyoung-ah..”

“Ne..” Jinyoung—baik yang Park maupun Jung—menjawab bersamaan, dan membuat mereka tertawa terbahak-bahak.

Hyora dan Mirae halmeoni ikut tertawa, dan membuat hanya satu orang di ruangan itu yang tak ikut-ikutan tertawa.

“Jinyoung-ah, terima kasih sudah datang. Dan..terima kasih atas hadiahnya.” Mirae halmeoni mengelus-elus pundak Park Jinyoung yang kini sudah mengganti sandalnya dengan sepatu dan bersiap-siap pulang. “Aku tidak menyangka kau masih mengingat ulangtahunku.”

“Tentu saja!” Park Jinyoung tersenyum seramah mungkin, membuat Chansung hampir muntah karenanya. “Eomeoni adalah eomma dari temanku, tentu saja aku harus mengingat ulangtahunmu.  Aku juga berterima kasih atas makanan dan semuanya.”

“Ahjusshi, terima kasih juga memberikanku ini!” kali ini Hyora yang membangga-banggakan beberapa bungkus cokelat yang tadi sempat diberikan Park Jinyoung untuknya.

“Ne, Hyora-ya. Untung aku tadi membawa banyak cokelat, karena aku sudah menduga akan ada banyak orang saat eomeoni berulangtahun.”

Chansung sempat terkejut dengan apa yang terjadi barusan. Bagaimana Hyora dan Park Jinyoung bisa sedekat itu? Apa yang sudah terjadi saat dia pergi ke supermarket?

“Aku juga berterima kasih, Jinyoung hyung! Terima kasih sudah memberitahuku trik-trik dalam bekerja!”

“Ne, Jinyoung-ah..” Park Jinyoung tersenyum sambil mengangguk-angguk. “Kalau begitu aku pulang dulu. Sampai bertemu lain kali..”

Park Jinyoung kemudian berjalan menjauh dari keempat orang yang ketiganya memandanginya dengan senyuman sementara satunya memandangi dengan tatapan tajam.

“Halmeoni, aku melupakan sesuatu. Ada yang harus aku tanyakan pada Jinyoung hyung..maksudku Jinyoung ahjusshi.” Chansung memakai sepatunya asal kemudian ia berlari untuk mengejar Park Jinyoung yang sudah masuk ke dalam mobilnya.

“Kenapa kau melakukan ini?” Chansung bertanya semilisekon setelah ia membuka pintu mobil Park Jinyoung.

“Kenapa?” Park Jinyoung kemudian mengumbar senyum. “Halmeonimu sangat baik.. Jinyoung juga orang yang menarik.. dan.. Hyora.”

Park Jinyoung menyadari perubahan ekspresi Chansung saat ia menyebutkan nama Hyora.

“Ahn Hyora..” Park Jinyoung sengaja menyebutkan kembali nama Hyora sekedar untuk menguji Chansung. “..dia adalah orang yang lucu, dan banyak bicara. Aku yakin akan banyak yang menangisi kepergiannya kalau dia…”

“Jangan.sakiti.dia.”

Park Jinyoung tampak sedikit terkejut dengan nada bicara Chansung yang serius dan intimidatif. Ditambah tatapan Chansung yang seperti bisa membunuhnya.

“Kenapa?” Park Jinyoung memasang tampang tak berdosa. “Aku sudah bilang padamu untuk tidak jatuh cinta.”

“Aku tidak jatuh cinta!” Chansung berseru, namun ia sendiri sedikit ragu dengan apa yang diteriakkannya barusan. “Aku hanya tidak ingin kau menyakitinya. Juga.. halmeoniku. Dan bahkan Jinyoung. Mereka tak salah apa-apa.”

“Ckckckck.. Naif sekali, Hwang Chansung.” Park Jinyoung kemudian mendekatkan wajahnya ke arah Chansung. “Jangan pikir aku tak tahu bahwa dia adalah babysitter Hanna. Dan kau tahu kan aku tidak mau itu jadi alasan kau tidak mematuhi perintahku?”

“Ahn Hyora jangan makan itu!” Chansung merebut cokelat di tangan Hyora dan berlari ke tong sampah untuk membuangnya.

“Ya! Wae?” Hyora tampak kesal dan terkejut dengan tindakan Chansung yang tanpa latar belakang apapun tiba-tiba mendatangi apartenya dan entah kenapa membuang cokelat yang sudah dihabiskan setengah oleh Hyora itu.

“Pokoknya jangan makan. Apa masih ada yang tersisa?” Chansung secara otomatis berjalan ke kulkas Hyora untuk memeriksa apakah masih ada sisa cokelat yang diberikan Park Jinyoung.

“Tidak ada, oppa. Aku sudah habis memakannya. Kau kenapa, sih?” Hyora mengikuti langkah Chansung yang kini memeriksa lemari Hyora.

“Ani..Hanya saja..” Chansung menggaruk-garuk kepalanya. “Kau kan baru sembuh, aku tidak mau kau masuk rumah sakit lagi karena makan sembarangan.”

Hyora tersenyum geli. “Kau khawatir, oppa?”

“Mwo?” mata Chansung mendelik, ia terbengong tak percaya dengan apa yang dikatakan Hyora. “Siapa yang khawatir?”

“Ani, aniya..” Hyora kemudian tersenyum-senyum lagi. “Ah, mattda. Oppa, besok kita ke rumah Hanna ya? Sejak aku sakit sampai sekarang aku belum bertemu dengannya. Aku merindukannya..”

Chansung hampir berhenti bernafas mendengar nama Hanna.

“Hmm.. Hyora-ya.. kau mau ke taman?”

“Hyora-ya, kapan kau akan berhenti bekerja?” tanya Chansung sambil menyerahkan sekaleng coke pada Hyora yang sudah duduk di atas ayunan.

“Hm?” Hyora menyesap cokenya. “Jam sembilan malam. Kupikir kau tahu?”

“Aish..” Chansung hampir merutuk karena Hyora. “Bukan itu yang kumaksud. Maksudku kapan kau tidak bekerja lagi? Benar-benar tidak bekerja, maksudku..”

“Ah, benar. Aku pikir aku akan bersama Hanna setiap hari.” Ekspresi wajah Hyora berubah suram. “Hmm..kalau dihitung dari sekarang..kira-kira dua minggu lagi.”

“Dua minggu lagi?”

“Iya. Karena dua minggu lagi aku harus sudah mulai kuliah. Dan aku pasti tidak akan sempat mengurusnya. Sedih sekali, tapi ya mau bagaimana lagi..”

Chansung membuka kaleng birnya sambil mengangguk-angguk. Dua minggu lagi.. hanya sampai dua minggu lagi dia bisa menjalankan misinya tanpa Hyora.

“Oppa, ada bintang jatuh!” Hyora menunjuk langit dengan wajah berbinar-binar.

“Mana?” Chansung melayangkan tatapannya ke langit yang ditunjuk Hyora, namun dahi Chansung langsung mengerut ketika menyadari bahkan tak ada satupun bintang di langit. “Ya Ahn Hyora..kau ini..YA!” Chansung memekik saat Hyora merebut birnya sementara ia sibuk melihat langit tadi.

“Kenapa kau beli bir?” Hyora memandangi kaleng bir yang sudah dibuka Chansung itu. “Aku tidak mau kau mabuk lagi.”

“Kenapa? Apa hubungannya denganmu kalau aku mabuk?”

Wajah Hyora seketika memerah. Ia teringat kembali akan kejadian saat Chansung mabuk dan menciumnya tanpa sadar.

“A..Ani.. Oppa, aku masuk dulu.”

Chansung hanya bisa terdiam saat Hyora tiba-tiba berdiri dan berlari masuk ke gedung aparte.

“Hm?” Chansung menyatukan alisnya saat mengingat apa yang dilupakannya. “Ah, mattda. AHN HYORA! KEMBALIKAN BIRKU!”

The Next Day

“Kau pikir ini lelucon, Hwang Chansung!?”

Chansung hanya bisa terdiam menyaksikan reaksi Park Jinyoung setelah ia mengutarakan penawaran untuk membunuh Hanna dua minggu lagi.

“Dua minggu lagi, huh? Kau pikir aku akan percaya kau akan benar-benar membunuhnya nanti setelah kau mengulur waktu selama ini? Dengar, Hwang Chansung. Aku tidak membayarmu untuk bermain-main dengan anak itu. Apa susahnya sih membunuh anak sekecil itu?”

Rahang Chansung perlahan mengeras mendengar tiap kata yang keluar dari mulut Park Jinyoung. Ia berdiri sambil menatap Park Jinyoung tajam.

“Apa susahnya, huh? Kalau begitu silahkan kau sendiri yang melakukannya. Kau pikir itu mudah, kan? Aku tidak mau lagi berurusan denganmu.” Chansung kemudian melangkahkan kaki keluar dari rumah Park Jinyoung, sebelum pria itu sempat memakinya atau semacamnya.

“Baik, Hwang Chansung. Kau sudah mulai berani melawanku. Sepertinya kau lupa orang seperti apa aku ini.” Park Jinyoung mengeluarkan smartphone dari dalam sakunya, kemudian menghabiskan waktu beberapa detik sebelum akhirnya menemukan sebuah nama di daftar kontaknya. Ia menekan tombol call dan menempelkan ponsel itu di telinganya, menunggu respon dari seberang sana.

“Yeoboseyo?”

“Eo, Hyora-sshi? Masih ingat aku?”

TBC

16 thoughts on “When A Love Kills (Part 5)

  1. udah lama menantiii..akhirnya keluarr
    ini mah chansung suka sama hyora kannn
    parah nih bosnya,jahat banget..ditunggu part selanjutnya 🙂

  2. Authorr, bagus inii.. Bisa aja bikin readers penasaran ckck. Hyora kenapa bisa salah makan juga? Itu Park jinyoung jahat banget thor. Yg selanjutnya ditunggu ya, jangan lama-lama hehe author fighting!!

  3. knp Chansung nggak bunuh JYP aja sih??? Kan itu lebih baik,drpd JYP yg bunuh Hanna,Hyora,Jinyoung,atau nenek #esmosi bacax.. @_@
    Si JYP juga,dah pnya bnyak duit,msh juga serakah.kl nggak terima istrix selingkuh,kan dia bisa menceraikan istrix !
    Aq tunggu lanjutanx,author ! ^__^

  4. thor next part nya jangan lama2 ya >.< penasaran banget ini. trus sering2 yah bikin yg cast utamanya Chansung, soalnya jarang nemu yg cast nya chansung

  5. Lanjutanny donk thor,…. penasaran bgt dweh ,. Sumpahh !!!!!
    Mdh” ujungny happy ending dweh.

    Sejauh ini salut m jln crtany,.
    Dtunggu y,,thanks.

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s