[FF Freelance] Where is My Man? (Part 8)

where is my man

Title            : WHERE IS MY MAN? PART 8

Writer                   : Endor Yochi

Main Cast    : Park Jiyeon (T-ara), Kim Myungsoo a.k.a ‘L’ (Infinite), Yang Yoseob (B2ST), Choi Minho (SHINee)

Other Casts : Lee Jieun a.k.a IU, Bae Suzy (Miss A), Park Sanghyun a.k.a Thunder Cheondung (MBLAQ), Seo Joo-hyun a.k.a Seohyun (SNSD), Lee Gikwang (B2ST), Jung Ilhoon (BTOB), Lee Sungjong (Infinite), Lee Chanhee a.k.a Chunji (Boyfriend)

Genre           : Romance, Comedy ( a little bit ), aneh, gaje, dsb

Length                   : Chaptered

Rating                   : Kayaknya untuk part ini aman-aman aja, jadi sementara ratingnya ‘sedikit’ halal, ngiahahaha #BUGG!!~tepar*

Previous part: Part 1, Part 2, Part 3, Part 4 , Part 5, Part 6 , Part 7

PART 8

_Author POV_

 

Yoseob terkejut ketika melihat Jiyeon dan Hyungsuk kembali bersama Myungsoo.

“Oh, Myungsoo sunbae?” katanya.

“Mianhae, tapi kedatanganku tidak mengganggu, kan?” tanya Myungsoo pula.

“Uh, anii. Gwaenchanhayo. Apa sunbae datang sendiri? Tidak bersama the strangers yang lain?”

“Anii, aku sendirian.”

“Hyung, noona, ayo kita bermain bersama. Aku senang sekali hari ini banyak sekali yang menemaniku bermain. Kajja, kita bermain kejar-kejaran.” Kata Hyungsuk tiba-tiba yang langsung disambut gembira oleh Jiyeon, Yoseob, dan juga Myungsoo. Entah kenapa Jieun mendadak tertegun dan merasa sesuatu yang aneh ketika melihat suasana itu. Namun hatinya sangat senang karena melihat kebahagiaan terpancar dari wajah mungil Hyungsuk. Maka ia sendiri pun ikut terjun juga ke dalam ajang kejar mengejar itu.

***

 

Jiyeon sampai di rumah dengan penampilan yang lumayan berantakan akibat terlalu bersemangat bermain bersama Hyungsuk tadi. Namun dalam hati ia merasa senang karena selain ia tidak merasa kesepian, ia juga senang karena ada Myungsoo dan juga Yoseob. Yeoja itu merasa sangat beruntung bisa mengenal orang-orang seperti mereka. dan yang membuatnya takjub adalah, ternyata namja sedingin Myungsoo bisa juga tertawa lepas dan bercanda seperti itu dengan anak kecil seperti Hyungsuk. Jiyeon mulai berpikir bahwa namja itu tidaklah seburuk yang dibayangkannya. Ia tersenyum sendiri ketika mengingat betapa riangnya namja yang biasanya bersikap dingin dan cuek itu. Jiyeon seperti menemukan sosok yang lain dari namja bernama Myungsoo tersebut. Dengan menarik napas, yeoja manis itu melepaskan sepatunya dan langsung menuju ke lemari es. Namun langkahnya terhenti ketika melihat Sanghyun tengah berada di ruang tengah sambil berkutat dengan laptopnya. Jiyeon menarik napas lagi. Setelah meneguk air minum, ia pun berjalan menghampiri Sanghyun.

“Apa oppa masih marah padaku?” tanya Jiyeon kemudian dengan hati-hati.

 Sanghyun diam saja, seolah tak menyadari kehadiran dongsaengnya itu.

“Aku tahu.. Oppa pasti sudah sangat kecewa padaku. Tapi aku~”

Belum sempat Jiyeon melanjutkan kalimatnya, Sanghyun sudah beranjak dari kursi dan berjalan menuju kamarnya sendiri. Sebentar kemudian terdengar suara pintu kamar Sanghyun terbanting keras. Jiyeon terkejut sekali mendengarnya. Sekali lagi ia menarik napas, dan mengangkat tubuhnya sendiri dari atas kursi, kemudian dengan lemas menuju kamarnya juga. Setelah mengganti seragamnya, ia menghempaskan tubuh di atas tempat tidur. Bayangan-bayangan tentang kejadian yang telah dialaminya mulai muncul satu persatu di benaknya. Mulai dari ia yang sempat ribut dengan Minho gara-gara seorang yeoja yang bernama Hyuna, hingga dengan mata kepala sendiri ia melihat Minho membentak yeoja itu. jiyeon ingin tahu bagaimana kabar yeoja yang sering dijulukinya yeoja lampir tersebut, karena akhir-akhir ini mereka memang tidak pernah bertemu. Jiyeon berharap yeoja itu sudah menyerah mengejar Minho. Jiyeon tersenyum sendiri, ia juga teringat dengan saat pertama kali ia bertemu Yoseob di atap rumah. Namja yang sudah membuat kesan menjengkelkan di saat pertama kali mereka bertemu, hingga yang kini telah berbalik membuat hari-harinya menjadi lebih ceria. Walaupun sebenarnya Jiyeon masih penasaran sekali dengan perasaan namja itu kepadanya. Jiyeon menarik napas dalam-dalam ketika mengingat lagi soal perjodohannya dengan namja itu. Ia merasa pusing lagi setiap memikirkannya. Apalagi ketika diingatnya sikap Sanghyun barusan. Jiyeon benar-benar bingung sekali. Apa lagi jika umma dan appa tahu soal ini. Jiyeon mendesah kesal. Tiba-tiba saja ia teringat dengan Myungsoo. Aish! Kenapa sekarang ia jadi memikirkan namja itu? Ia teringat dengan saat pertama ia membuat masalah dengan the strangers dan berkelahi dengan mereka, semua sikap aneh yang ditunjukkan Myungsoo padanya, hingga kejadian ‘dare’ yang mereka lakukan bersama. Jiyeon mendesah sekali lagi. Entah mengapa ia mendadak merasa takut kehilangan Myungsoo karena ia tahu dirinya sudah dijodohkan dengan Yoseob. Jiyeon, yeoja itu sudah semakin yakin saja kalau dirinya benar-benar memiliki perasaan pada Myungsoo. Tapi ia belum yakin dengan perasaan Myungsoo padanya. Ia kesal kenapa ia mau saja melakukannya bersama namja itu. Jiyeon berpikir bisa saja ia hanya dijadikan sebagai bahan permainan oleh Myungsoo. Namun Jiyeon menemukan keanehan sekali lagi. Namja itu memang terkesan masih dingin, tapi secara tidak langsung, Jiyeon merasa kalau namja itu mulai memperhatikannya. Anii anii.. Mana mungkin namja itu menyukaiku? Aku sama sekali bukan tipenya. Aish! Mwoya? Andwae! Andwae! Jiyeon menggeleng-gelengkan kepalnya keras-keras. Setelah itu ia kembali merenungi lagi semuanya, dan yang membuatnya kesal adalah, ia selalu saja teringat pada bayangan namja bernama Kim Myungsoo itu.

***

 

“Dorr!”

“Yaa! Kau mengagetkanku!”

“Haha mianhae.. Tapi aku senang sekali setiap melihat oppa terkejut begitu.”

“Apa kau ingin membuatku terkena serangan jantung mendadak?”

“Anii.. Anii.. Bukankah aku sudah minta maaf? Kenapa oppa masih marah saja?”

“Shireo. Kau harus melakukan sesuatu padaku dulu baru aku akan memaafkanmu.”

“Mwonde?”

Namja itu menunjuk pipinya dengan menunjukkan ekspresi nakal.

“Yaa! Oppa pervert sekali. Shireo, aku malu. Banyak orang di sini.”

“Geurae, kalau begitu aku takkan memaafkanmu.”

“Yaa! Yaa! Arasseo, aku akan melakukannya.”

Namja itu tersenyum senang mendengarnya. Maka dengan sikap malu-malu tikus, yeoja itu pun mencium pipinya sekilas.

“Sudah, kan?”

“Sebenarnya masih kurang. Tapi karena aku sudah janji dan kau sudah melakukannya, kumaafkan kau.”

Yeoja itu tersenyum senang dan meraih tangan namjanya itu kemudian berjalan bersama-sama. Myungsoo, namja yang sejak tadi berada di belakang sepasang kekasih tadi itu hanya menghela napas melihat kemesraan mereka. Betapa ia ingin merasakan moment seperti itu juga dengan seorang yeoja, lebih tepatnya dengan Jiyeon. Tiba-tiba ia teringat dengan Yoseob. Myungsoo mendesah kesal ketika ingat bagaimana Jiyeon memanggil namja itu.

“Oppa? Tch!! Mwoya? Apa hubungan mereka sudah sedekat itu sehingga memanggilnya dengan sebutan oppa begitu? Jinjja..” gumamnya merasa iri mendadak. Dengan kesal ditendangnya kerikil di depan jalannya begitu saja, lalu kembali melanjutkan perjalanannya menuju sekolah. Tanpa disadarinya ketiga kawannya #tunjuktunjukIlhoonSungjongChunji* sudah mengikutinya dari belakang sejak tadi. Entah kenapa ketiga anak itu sepertinya sudah menemukan hobi terbaru mereka yaitu menguntit gerak gerik Myungsoo.

“Kalian lihat kan? Dia sepertinya sedang kesal melihat kemesraan sepasang kekasih tadi.” Ilhoon membuka perdiskusian (?).

“Mungkin saja ia merasa iri dan ingin seperti itu juga.” sahut Sungjong sambil berjalan merapat pada Ilhoon karena takut ketahuan myungsoo kalau mereka mengikutinya.

“Sama, aku juga iri sekali melihat sepasang kekasih tadi. Coba saja ada yang mau mencium pipiku begitu. Aish!” sambung Chunji pula yang disambut acungan jempol kaki Sungjong pertanda setuju. #sinisiniauthoryangnyium#BUG!!kenabogemreaders*

“Yaa! Sejak kapan kalian bertiga menjadi penguntitku?” tiba-tiba terdengar suara Myungsoo berkata. Ketiga namja itu terkejut bukan main mendengarnya. Myungsoo tampak berhenti melangkah dan menoleh ke arah ketiga chingunya itu.

“Uhm.. Kami hanya.. ingin berangkat bersamamu saja. Benar begitu, kan?” kata Sungjong sambil colek-colek kedua kawannya.

“N..Ne itu benar. Kami tidak membuntutimu.” Sambung Chunji balas nyolek Sungjong. #inimalahcolakcolek*

“Kalau begitu kenapa kalian berjalan bersembunyi-sembunyi begitu? Kenapa tidak berjalan bersamaku saja?” tanya Myungsoo lagi.

“Kami hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu.” Ilhoon yang menjawab. Sungjong dan Chunji serempak membelalak dan melotot ke arahnya sekan berkata ‘kenapa kau memberitahunya, pabo?’. Tapi Ilhoon tak peduli. Ia malah berjalan mendekati Myungsoo.

“Aku mengenalmu tidak hanya sebulan dua bulan. Kita sudah lama bersama-sama dan aku tahu betul bagaimana sifatmu. Aku menemukan kejanggalan akhir-akhir ini saat melihat sikapmu. Kau sering sekali tersenyum-senyum sendirian seperti orang gila kesasar. Kau sudah jarang sekali berkumpul dengan the strangers, dan kau bahkan sudah jarang berkelahi lagi sekarang. Apa salah kalau kami ingin tahu penyebabnya?” kata Ilhoon lagi seolah menghakimi Myungsoo.

Myungsoo tak segera menjawab. Ia hanya menarik napas saja tanpa bermaksud menjawab perkataan Ilhoon.

“Apa kau sedang jatuh cinta pada dongsaeng musuh kita?” Ilhoon kembali menyerang Myungsoo dengan senjata pamungkasnya.

“Museun mariya?” tanya Myungsoo pura-pura tidak mengerti.

“Park Jiyeon. Apa kau memang menyukainya?”

Myungsoo kembali menarik napas panjang. Lalu perlahan ia mengangguk.

“Ne, aku memang menyukainya. Manhae. Tapi aku tidak bermaksud mengkhianati the strangers. Lagipula, bukankah Park Sanghyun sudah keluar dari Sparky? Kita sudah tidak punya urusan apa-apa lagi dengannya.” Kata Myungsoo pula. Ia merasa sudah saatnya ia berterus terang kepada ketiga kawannya itu. Ia tak mau sapi-sapian lagi (?) #kucing-kucinganmaksudnya*

“Yaa, tapi kenapa harus yeoja itu?” protes Sungjong yang ternyata sampai sekarang masih kesal dengan insiden kaleng jalanan waktu itu.

“Ne, bukankah masih ada banyak yeoja lain yang lebih baik lagi dari dia? Seperti author misalnya 😀.” Sambung Chunji sambil nunjuk author.#dikeroyokreaders*

“Nado molla. Aku hanya merasa dia berbeda dari yeoja lain. Mianhae kalau aku merahasiakan hal ini dari kalian.” Sahut Myungsoo lagi.

Ketiga temannya itu tak ada yang menyahut. Karena merasa sudah cukup mengatakan semuanya, Myungsoo pun berbalik dan beranjak pergi mendahului mereka bertiga yang masih termangu-mangu di tempat.

***

 

Minho tampak gelisah mondar-mandir di depan ruang ICU pagi itu. Pasalnya, ketika ia menjemput Seohyun di rumahnya untuk berangkat ke sekolah, yeoja itu sedang meringkuk di kamarnya dan terus mengerang-erang sambil memegangi kepalanya. Minho sangat terkejut melihatnya dan tanpa banyak bicara lagi langsung membawa yeoja itu ke rumah sakit. Sekarang perasaannya sangat gelisah dan khawatir. Ia takut sesuatu yang buruk terjadi pada yeoja yang disayanginya itu. Berkali-kali ia menghubungi Myungsoo akan tetapi nomor namja itu tak berhasil dihubunginya. Sementara kedua orangtua Myungsoo sedang berada di luar negeri karena urusan bisnis.

“Ck.. Kemana sebenarnya namja itu? Kenapa nomornya tidak aktif?” desisnya panik. Tiba-tiba saja seorang dokter setengah baya keluar dari ruang ICU.

“Dokter, bagaimana keadaan Seohyun? Apa dia baik-baik saja?” Minho langsung menyerbu.

“Apa anda keluarganya?”

“Uhm, animnida. Saya namjachingunya.”

“Saya harus bicara dengan keluarga pasien.”

“Dokter bisa bicara dengan saya. Saya dengan keluarga Seohyun sudah seperti keluarga sendiri. Jadi jebal, beritahu saya saja. Keluarga Seohyun masih belum bisa dihubungi.”

Dokter menarik napas panjang.

“Nona Seohyun sudah mengalami kanker stadium tiga, dan dia harus menjalani kemoterapi.”

Minho tertohok mendengarnya.

“Mwo? K-kemoterapi, Dok?”

“Nde. Untuk itu saya perlu bicara dengan keluarganya untuk mendapatkan persetujuan.”

Minho tak segera menjawab. Hatinya terasa pilu dan sedih. Ia seakan ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Seohyun. Tubuhnya mendadak lunglai.

“Nona Seohyun bilang ingin bertemu dengan Choi Minho. Apa itu anda?” tanya Dokter kemudian.

Minho hanya mengangguk lemas.

“Tetaplah berada di sampingnya. Saat ini yang dibutuhkan pasien hanya orang yang bisa membuatnya bersemangat menjalani hidupnya.”

“Tentu, Dok. Kamsahamnida.” Minho membungkuk sedikit pada dokter. Dokter pun membalasnya, lalu beranjak pergi meninggalkan Minho yang masih terpaku di tempatnya. Setelah itu, ia pun berjalan gontai memasuki ruangan Seohyun. Yeoja itu tampak tersenyum lemah saat melihat Minho. wajahnya terlihat pucat. Minho mendekat perlahan.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Minho berusaha mencoba tersenyum.

“Aku harus menjalani kemoterapi, kan?” Seohyun balik bertanya, membuat sesak dada Minho. Namja itu tak kuasa menjawabnya.

“Oppa.. Aku tidak mau menjalani kemoterapi.. Aku ingin pulang saja.. Jebal, bawa aku pulang..”

Minho meraih tangan Seohyun dan mengelus rambutnya pelan.

“Geogjong hajima. Aku tidak akan membiarkanmu menjalani kemoterapi. Aku tak mau melihatmu menderita dan tertekan. Aku akan mencari cara lain agar bisa menyembuhkan penyakitmu itu tanpa kemoterapi.”katanya pula.

“Jinjja?”

“Aku akan berusaha.” Janji Minho mantap. Seohyun tersenyum mendengarnya.

“Gomawo, oppa.” Katanya.

Minho hanya tersenyum. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Seohyun dan mengecup kening yeoja itu dengan lembut.

***

 

“Oppa, apa benar ini untukku?” tanya seorang yeoja sambil memegangi sebuah kalung berlian pemberian namja yang kini duduk menyetir di depan kemudi itu.

“Ne, chagiya. Itu untukmu. Kalau kau ingin apa-apa lagi, beritahu saja aku. Aku akan memberikan apapun yang kau inginkan.”

“Jinjja? Whoa.. Gomawo, oppa. Oppa memang sangat pengertian padaku. Lain kali aku boleh kan meminta dibelikan cincin juga?”

“Tentu saja. Bukankah sudah kubilang kalau aku akan memberikan apapun untukmu?”

Kedua insan yang berada di dalam mobil berwarna pelangi (?) yang baru saja bercakap-cakap itu adalah Chansung dan Hyuna. Ya, keduanya memang telah berkencan. Tapi keduanya sama-sama mencari keuntungan dari pasangan mereka. Chansung memanfaatkan Hyuna karena yeoja itu sangat mudah sekali diajak melakukan apapun yang diinginkannya. Sedangkan Hyuna, sudah bisa ditebak yeoja itu sengaja mendekati Chansung karena ingin ikut merasakan kekayaan yang dimiliki namja itu. Ia bisa memiliki semua barang-barang yang diinginkannya melalui namja itu. Dan ia tak pernah merasa kekurangan sedikitpun. Wajah yeoja itu berseri-seri ketika memakai kalung pemberian dari Chansung tersebut.

“Kau tampak sangat cantik memakainya chagi.” Kata Chansung mulai menggombal gembel.

“Jinjja?” Hyuna langsung kegeeran dan memasang tampang secantik mungkin. Chansung yang melihatnya jadi gemas. Dengan gerakan cepat ia menarik Hyuna agar mendekat dan menciumi yeoja itu. Entah karena sudah kemasukan setan atau gendruwo sekalipun, namja itu jadi tidak konsen menyetir.

“Oppa, awas!!” teriak Hyuna tiba-tiba.

BRAKK!!!

***

 

Yoseob berjalan seorang diri menyusuri jalan raya. Entah kenapa hari itu ia ingin sekali makan ramen di tempat Jieun lagi. Ia ingin benar-benar menghilangkan pikirannya tentang Jiyeon dan semua masalahnya. Ia tidak mau terus-terusan galau karena memikirkan masalah tersebut. Sambil bersiul-siul, namja kiut dambaan author itu melangkahkan kakinya tanpa beban. Sesekali kedua matanya melihat sekeliling.

“Yoseob hyung!!” teriak seseorang tiba-tiba.

Yoseob menoleh. Dari seberang jalan ia melihat Hyungsuk sedang bersama Jieun. Hyungsuk melambaikan tangannya ke arah Yoseob. Yoseob tersenyum dan balas melambaikan tangannya. Yoseob senang sekali saat melihat mereka. Ia melihat Hyungsuk hendak menyebrang jalan.

“Yaa! Jangan berlari!” ia mendengar suara Jieun berseru. Tapi ternyata Hyungsuk tak mendengarkan seruannya. Mungkin karena saking girangnya ia melihat Yoseob, anak itu berlari menyebrang jalan tanpa melihat kalau ada sebuah mobil melaju ke arahnya.

BRAAKK!!!

Tak ayal lagi tubuh kecil Hyungsuk pun terpelanting dan terlempar ke tepi jalan. Yoseob merasa bagai dihujani bom nuklir saat melihat kejadian itu. Jantungnya berdegup cepat. Napasnya terhenti karena merasakan sesak di dadanya. Hyungsuk tertabrak. Tepat di depan kedua matanya. Ia merasa ini seperti mimpi baginya.

“HYUNGSUK-AH!!” teriak Jieun sambil berlari mendekati Hyungsuk.

Yoseob segera mendapatkan kesadarannya kembali. lalu tanpa menunggu lebih lama lagi, ia pun berlari menghampiri Hyungsuk dan Jieun. Sementara mobil yang menabrak Hyungsuk langsung kabur begitu saja tanpa bertanggung jawab. Sekilas Yoseob melihat ke arah mobil tersebut. Hanya dengan hitungan detik saja ia langsung bisa mengingat nomor plat mobil tersebut.

“Hyungsuk-ah, ireona! Hyungsuk-ah!” jerit Jieun sambil mengguncang-guncang tubuh dongsaengnya yang tak berdaya itu.

“Hyungsuk-ah!!”

***

 

Myungsoo baru keluar dari kelasnya ketika tanpa sengaja ia melihat Jiyeon dari lantai atas. Entah kenapa namja itu kembali ingin membuntuti Jiyeon. Namun belum sempat ia melangkahkan kakinya, tiba-tiba seseorang menepuk bahunya. Myungsoo menoleh. Tahu-tahu di belakangnya sudah ada Ilhoon, Sungjong dan juga Chunji.

“Apa kau benar-benar menyukainya?” tanya Ilhoon to the point.

Myungsoo tak segera menjawab. Ia menarik napas dalam-dalam.

“Mianhae..” ucapnya kemudian, membuat Sungjong dan Chunji saling berpandangan. #sukabangetbayanginmerekaberdua* 😀

“Arasseo.. Tapi bukan berarti kau akan keluar dari the Strangers kan?”

Myungsoo tersenyum mendengarnya.

“Tentu saja tidak. Aku tidak mungkin meninggalkan kelompok kita.” Katanya.

“Baguslah. Aku lega mendengarnya.”

“Geureom, berarti kita juga boleh mencari yeojachingu kan?” tanya Sungjong polos.

“Yaa, memangnya siapa yang melarang kalian memiliki yeojachingu? Bukankah itu hak kalian?” kata Myungsoo pula, membuat Sungjong dan Chunji melonjak serempak dan beradu tos.

“Joha. Mulai sekarang aku akan mulai berburu.” Kata Chunji langsung disusul anggukan setuju dari Sungjong. Myungsoo dan Ilhoon tertawa saja melihatnya.

“Geureom, pergilah kalau kau ingin pergi.” Kata Ilhoon kemudian.

“Ne?” Myungsoo tak mengerti.

“Bukankah kau ingin mengikuti yeoja itu? pergilah.”

Myungsoo nyengir mendengarnya, lalu ia pun mengangguk.

“Geurae, aku pergi.” Katanya, lalu berbalik meninggalkan ketiga kawannya. Namja itu kembali celingukan mencari sosok Jiyeon. setelah bersusah payah, akhirnya ia melihat yeoja itu sedang berjalan seorang diri tak jauh di depannya. Sesekali yeoja itu melakukan tindakan-tindakan aneh sehingga membuat Myungsoo tersenyum-senyum sendiri melihatnya. Tiba-tiba saja sebuah ide nakal muncul di benaknya. Myungsoo jadi ingin memotret yeoja itu. lalu ia pun merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya.

“Oh, kenapa ponselku mati? Aish! Pasti tadi tidak sengaja kepencet.” Gumamnya seorang diri. Di saat ia tengah asyik menghidupkan kembali ponselnya, namja itu tidak sadar kalau Jiyeon melihatnya dan berjalan menghampirinya.

“Mwohaeyo?” tegur Jiyeon pula.

Myungsoo tersentak mendengarnya. Hampir saja ponsel yang dipegangnya itu terjatuh. Ia terkejut sekali ketika melihat Jiyeon sudah ada di depannya secara tiba-tiba.

“Wae? Kenapa kau tampak terkejut? Apa kau sengaja mengikutiku? Aish! Kenapa selalu ada saja orang yang menguntitku.” Kata Jiyeon lagi, membuat Myungsoo semakin salah tingkah.

“Yaa, aku tidak mengikutimu. Aku juga mau pulang.” Elaknya.

“Lalu kenapa kau mengambil jalan ini? Bukankah jalan menuju rumahmu ke sana?”

“Geuge.. Aku hanya ingin jalan-jalan dulu.”

Jiyeon tak menjawab. Ia menatap namja di depannya itu dengan penuh selidik, membuat Myungsoo merasa tak enak hati karenanya.

“Dasi dorawa..” Tiba-tiba saja ringtone message yang berasal dari ponsel milik Myungsoo berbunyi.

“Minho?” gumam Myungsoo ketika membaca pesan teks di ponselnya yang ternyata dari Minho itu.

Jiyeon sedikit terkejut ketika Myungsoo mengucapkan nama Minho. ia jadi penasaran, apalagi melihat raut muka Myungsoo yang mendadak berubah seperti mengkhawatirkan sesuatu.

“Wae geurae?” tanya Jiyeon pula.

“Seohyun di rumah sakit sekarang.” Sahut Myungsoo singkat.

“Mwo?”

Myungsoo tak menjawab melainkan langsung beranjak begitu saja.

“Yaa, aku ikut!” teriak Jiyeon dan langsung menyusul Myungsoo.

 

“Seohyun-ah, gwaenchanha?” serbu Myungsoo ketika  keduanya sampai di rumah sakit.

“Ne, aku ingin pulang. Aku tidak mau kemoterapi. Jangan tandatangani surat persetujuan itu oppa, jebal buttagakhe..” kata Seohyun memelas.

Myungsoo mendesah mendengarnya.

“Tapi kau harus sembuh~”

“Minho oppa akan merawatku. Dia sudah berjanji akan membuatku sembuh dengan cara apapun kecuali kemoterapi.”

Myungsoo pun memandang ke arah Minho yang masih memegangi tangan Seohyun itu.

“Oppa.. Jebal..” ulang Seohyun lagi.

Myungsoo menarik napas sepenuh dadanya.

“Apa yang akan kau lakukan pada sepupuku?” tanya Myungsoo pula pada Minho.

“Apapun akan kulakukan. Aku yakin bisa membuatnya sembuh.” Ucap Minho mantap, membuat Myungsoo kembali menghembuskan napas panjangnya.

“Geurae. Terserah kau saja.” Katanya. Ia sudah percaya kalau Minho adalah namja yang bertanggung jawab dan bisa dipercaya. Jadi ia tak membantah lagi.

“Gomawo, oppa.” Ucap Seohyun pula. Myungsoo hanya mengangguk dan mengelus kepala sepupunya itu. Seohyun melihat ke arah Jiyeon. Ia tersenyum senang karena Jiyeon datang bersama Myungsoo untuk menjenguknya. Setelah mengobrol selama beberapa menit, akhirnya ketiganya pun keluar dari ruangan Seohyun untuk memberikannya waktu beristirahat.

“ANDWAE!!”

Tiba-tiba terdengar suara jeritan seseorang. Myungsoo, Jiyeon dan Minho terkejut mendengarnya. Mereka menoleh ke asal suara. Mereka lebih terkejut lagi ketika mengenali siapa yang menjerit itu.

“Itu kan Jieun dan Yoseob oppa?” kata Jiyeon, yang langsung bergegas mendekat, diikuti Minho. Walaupun sebenarnya Myungsoo merasa agak jengkel karena mendengar Jiyeon memanggil Yoseob dengan sebutan ‘oppa’ lagi itu, ia tetap mengikuti mereka.

“Hyungsuk-ah! Andwae! Kau tidak boleh pergi meninggalkan noona!” jerit Jieun lagi. Yoseob berusaha menenangkannya. Wajah namja itu memerah karena berusaha menahan sedih dan amarah yang bersarang di dadanya. Dokter baru saja memberitahu mereka bahwa nyawa Hyungsuk tidak bisa tertolong lagi karena lukanya yang terlalu parah. Jieun yang histeris itu berlari masuk ke dalam ruangan Hyungsuk.

“Oppa, apa yang terjadi?” tanya Jiyeon pada Yoseob.

“Hyungsuk.. tertabrak mobil.. Dan.. nyawanya sudah tak tertolong lagi..” sahut Yoseob dengan suara tertahan.

“M.. mwo?” Jiyeon merasa sesak ketika mendengar ucapan Yoseob. Air matanya langsung mengalir. Bagaimanapun juga ia mengenal Hyungsuk dan bahkan sempat bermain-main dengannya. Myungsoo dan Minho pun sama halnya dengannya. Keduanya terdiam dan ikut merasa sangat kehilangan atas kepergian Hyungsuk. Sementara Yoseob sudah tak tahan lagi. Kedua matanya memerah menahan tangis dan amarahnya yang memuncak. Ia berjanji dalam hati akan mencari tahu siapa pemilik mobil itu dan akan membuat perhitungan dengannya.

***

 

“Oppa, eottokhe? Kita baru saja menabrak anak kecil? Aku tidak mau masuk penjara!”

“Diamlah! Aku sendiri juga bingung! Aish! Kenapa anak itu bisa menyebrang seceroboh itu?”

Chansung dan Hyuna tampak kebingungan. Keduanya benar-benar takut ketahuan oleh polisi atas apa yang mereka perbuat barusan tadi.

“Apa oppa yakin tidak ada yang mengejar kita?” hyuna bertanya lagi dengan suara mendesis. Tubuhnya bergetar karena takut dan shock.

“Anii, kita sudah aman. Mudah-mudahan saja waktu itu tak ada yang melihat wajah kita.”

Kedua manusia itu kini tengah berada di tepi danau yang sepi. Begitu mobil Chansung menabrak Hyungsuk tadi, Chansung langsung melajukan mobilnya sekencang mungkin menuju tempat ini. sekarang mereka hanya bisa menunggu perkembangan keadaan selanjutnya. Mereka berharap sekali kalau polisi tidak menyelidiki kasus ini.

***

 

Malam itu langit tampak suram. Sang rembulan yang biasanya dengan sumringah memamerkan cahayanya, kini tampak enggan menampakkan dirinya. Bintang pun jarang terlihat di atas sana. Di sebuah atap rumah terlihat seorang namja tengah merebahkan diri. Yang Yoseob. Namja itu benar-benar merasa terpukul atas kepergian Hyungsuk. Betapa sayangnya ia pada anak itu. Semua kenangannya bersama Hyungsuk kembali muncul satu persatu di benaknya.

“..Hyung, nyanyikan lagu gwiyomi untukku. Noona selalu menolak setiap kali aku memintanya menyanyikan itu untukku..”

Suara riang anak itu kembali terngiang di telinganya. Senyum riangnya dan tingkah menggemaskannya membuat namja itu merasa sesak napas. Ia tidak mengerti kenapa ia begitu menyayangi Hyungsuk seperti dongsaengya sendiri. Ulu hatinya terasa sakit sekali. Tenggorokannya tecekat. Rasa sakit ini justru jauh lebih sakit daripada saat ia melihat Jiyeon ketika bersama Myungsoo waktu itu. Tanpa terasa air mata mulai mengalir dari kedua pelupuk mata Yoseob. Namja itu akhirnya terisak seorang diri. Ia bahkan tidak sadar kalau Jiyeon sudah memperhatikannya sejak tadi dari atap rumahnya. Yeoja itu terenyuh saat melihat namja itu terisak. Tanpa ia sadari ia pun turut menangis pula. Namun ia sengaja tak menegur Yoseob karena tak ingin mengganggunya terlebih dulu. Ia pikir Yoseob memang butuh waktu sendiri untuk meluapkan emosinya. Yeoja itu justru kini merasa khawatir dengan keadaan Jieun dan ummanya. Pasti mereka akan merasa lebih terpukul dan sedih dengan kepergian Hyungsuk. Tiba-tiba Jiyeon melihat Yoseob beranjak dan menuruni atap rumahnya. Namun namja itu tidak menuju ke kamarnya melainkan langsung merangkak turun ke halaman rumahnya. Setelah itu ia berjalan menuju jalan raya.

“Mau kemana dia malam-malam begini?” gumam Jiyeon. Ia mendadak khawatir pada namja itu. Maka diam-diam ia pun membuntuti kemana namja itu pergi.

Yoseob melangkahkan kakinya dengan gontai. Raut wajahnya tampak kacau sekali. Saat ini yang dibutuhkannya hanyalah ketenangan. Ia ingin menenangkan dirinya dengan pergi ke taman kota seperti biasanya. Namun tanpa disengaja, sebuah mobil hampir saja menyerempetnya. Namun Yoseob keburu menghindar. Mobil itu berhenti sejenak.

“Yaa!! Kau mau mati? Jalanlah dengan benar! Aish! Pabo namja!” umpat pengendara mobil itu. Yoseob tertegun sejenak. Ia ingat dengan namja yang barusan memakinya itu. Dia adalah namja yang hampir saja berkelahi dengannya sewaktu di pekan raya. Namun Yoseob hanya diam saja tak menjawab. Setelah itu, mobil tersebut pun kembali melaju. Akan tetapi tiba-tiba saja Yoseob kembali tertegun. Darahnya seperti tersirap keluar. Jantungnya berdegup kencang. Plat nomor mobil itu! Nomor itu sama persis dengan plat nomor mobil yang tadi siang menabrak Hyungsuk. Yoseob tercenung sejenak. Lalu, tanpa menunggu lagi ia pun berlari mengejar mobil tersebut. Jiyeon terkejut ketika melihat Yoseob yang tiba-tiba berlari itu. Ia pun ikut berlari mengejar.

“Yaa!! Berhenti!!” teriak Yoseob berkali-kali. Akan tetapi sekuat apapun ia berlari, mobil itu sudah keburu jauh meninggalkannya. Namja itu berhenti berlari. Napasnya tersengal-sengal. Wajahnya semakin memerah. Kini ia sudah tahu siapa pelaku tabrak lari itu. Hwang Chansung. Kedua tangan namja itu mengepal. Dengan menahan gejolak amarah di dadanya, ia bertekad akan membalas perbuatan namja itu dengan kedua tangannya sendiri. Karena sudah tidak memungkinkan untuk mengejar mobil itu tadi, Yoseob kembali melangkahkan kakinya. Akan tetapi tiba-tiba saja ia mendengar sebuah nyanyian. Suara itu terdengar pelan dan parau sekali.

 

Ildeohagi ileun gwiyomi

Eeldeohagi eeneun gwiyomi

Samdeohagi sameun gwiyomi

Gwigwi gwiyomi gwigwi gwiyomi

Sadeohagi sado gwiyomi

Ohdeohagi ohdo gwiyomi

Yukdeohagi yukeun chu chu chu chu chu chu gwiyomi

nan gwiyomi..

 

Hati Yoseob bagai teriris mendengarnya. Itu adalah lagu terakhir yang dinyanyikannya bersama Hyungsuk. Yoseob melihat ke asal suara tersebut. Tampak olehnya seorang yeoja tengah duduk sendirian di atas hamparan rumput di bawah pohon. Yoseob terkejut karena yeoja itu ternyata adalah Jieun. Ia melihat yeoja itu terisak seorang diri. Dengan perlahan Yoseob pun menghampirinya, kemudian duduk di sebelahnya. Jieun yang menyadari kedatangan Yoseob itu langsung menghentikan nyanyiannya.

“Apa yang kau lakukan di sini malam-malam begini?” tanya Yoseob pula.

Jieun tak menjawab. Ia berusaha keras untuk tidak mengeluarkan suaranya karena takut suara tangisnya akan kembali terdengar.

“Menangislah kalau kau ingin menangis..” ucap Yoseob sekali lagi.

Jieun menunduk dalam-dalam.

“Semua ini terjadi karena aku.. Kalau saja aku lebih berhati-hati menjaganya, dia pasti tidak akan.. hiks.. dia pasti masih~”

Jieun tak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya. Hatinya terlampau sakit dan sedih. Yoseob tak tega melihatnya seperti itu. Maka ditariknya tubuh yeoja itu kemudian memeluknya.

“Ini bukan salahmu. Ini semua sudah terjadi dan sudah menjadi garis kehidupan. Kalau kau memang ingin menyalahkan orang lain, salahkan saja aku. Kalau saja aku tidak berada di sana, Hyungsuk tidak mungkin memanggilku dan ingin menghampiriku..” kata Yoseob sambil mengelus kepala Jieun yang masih terisak.

“Anii.. Akulah yang menyebabkan semua ini. Aku memang tidak pernah benar-benar menjaga dongsaengku sendiri dengan baik. Aku memang seorang noona yang jahat..”

Yoseob tak menjawab lagi melainkan hanya menepuk-nepuk pelan punggung Jieun mencoba menenangkannya. Dalam hati ia benar-benar bertekad akan membuat perhitungan dengan namja bernama Hwang Chansung itu.

Jiyeon yang masih memperhatikan mereka dari kejauhan itu terenyuh sekali lagi. Walaupun ia tak memiliki dongsaeng, ia sangat bisa merasakan perasaan yang dirasakan Jieun sekarang. Ia membayangkan seandainya Sanghyun yang berada di posisi Hyungsuk, pasti ia akan jauh lebih merasa sedih dan terpukul lagi sepert Jieun. Karena merasa takkan terjadi sesuatu yang buruk pada Yoseob dan Jieun, perlahan-lahan Jiyeon membalikkan badannya. Akan tetapi ia terkejut sekali karena secara tiba-tiba seseorang sudah berdiri di hadapannya. Kim Myungsoo.

“K-kau?” kata Jiyeon terbata-bata karena terkejut.

“Kenapa kau keluar malam-malam begini?” tanya Myungsoo.

Jiyeon tak menyahut melainkan hanya menunduk saja. Myungsoo melihat ke arah Yoseob dan Jieun berada. Ia menarik napas panjang.

“Kau membuntuti namja itu?” tanyanya sekali lagi.

“Bukan urusanmu. Menyingkirlah..” kata Jiyeon sambil merangsek (?) pergi.

“Aku akan mengantarmu.” Kata Myungsoo sambil berjalan mengimbangi langkah Jiyeon.

Jiyeon diam saja. Begitupun dengan Myungsoo.

“Kenapa kau membuntutiku?” tanya Jiyeon kemudian.

“Aku tidak sengaja melihatmu di jalan, jadi aku mengikutimu.” Sahut Myungsoo

“Kenapa kau mengikutiku?”

“Karena kau berkeliaran seorang diri di tengah malam. Apa pantas jika seorang yeoja berkeliaran sendiri malam-malam?”

“Pergilah. Aku bisa pulang sendiri. Aku tidak mau kau kena bogem dari oppaku lagi.”

“Kali ini tidak akan.”

“Mwo? Maksudmu, kau akan melawan oppaku? Bermimpilah, kau takkan menang melawannya.”

“Anii, aku tidak akan melawannya.”

“Lalu?”

“Aku akan menjelaskan semuanya.”

“Menjelaskan? Apa yang mau kau jelaskan?”

Myungsoo tak menawab melainkan meraih tangan Jiyeon sehingga yeoja itu berhenti melangkah.

“Yaa, mwohae?” kata Jiyeon berusaha melepaskan pegangan Myungsoo. Tapi tenaga namja itu lebih kuat darinya.

“Tenanglah, aku hanya ingin bertanya sesuatu.” Kata Myungsoo.

“Mwonde?”

“Waktu itu.. Apa benar kau hanya berbohong?”

“Mwo?”

“Kau bilang kau mencintaiku. Apa itu bohong?”

Jiyeon tersedak mendengarnya. Ia tidak menyangka kalau Myungsoo akan membahas masalah itu lagi. Jiyeon langsung gugup seketika.

“Uh, geuge.. Aku~”

“Jawablah dengan jujur. Benarkah itu hanya kebohongan untuk menyelamatkanku?”

Jiyeon semakin gelisah saja dibuatnya. Apalagi saat melihat tatapan mata Myungsoo yang selalu saja berhasil membuat jantungnya serasa hampir melompat turun itu.

“K-keunde.. kenapa kau menanyakannya?” Jiyeon malah kembali bertanya sebelum ia menjawab. Ia sama sekali tak berani menatap ke arah Myungsoo.

“Kalau kau menjawab dulu pertanyaanku dengan jujur, maka akan kukatakan alasannya.”

“Y.. Yaa! Mwoya? Sudahlah, aku mau pulang.” Kata Jiyeon sambil melepaskan tangannya dan beranjak pergi begitu saja. Myungsoo menarik napas melihatnya. Namun ia tidak bermaksud mencegah langkah Jiyeon lagi. Sementara Jiyeon sudah berkeringat dingin. Jantungnya berdebar-debar. Aish! Kenapa tiba-tiba dia menanyakan hal itu padaku? Apa dia curiga kalau sebenarnya aku ini memang memiliki perasaan padanya? Aish!! Aku tidak boleh mengatakannya. Mau ditaruh di mana mukaku kalau sampai aku mengatakannya? T-tapi.. Kenapa dia menanyakannya? Apa mungkin karena dia juga memiliki perasaan padaku? Yaa!! Yaa! Park Jiyeon! sadarlah akan kata-katamu! Mana mungkin dia menyukaimu? Tapi, kenapa dia menciumku? Bahkan sikapnya sangat hangat sekali padaku waktu itu. aigoo.. Aku benar-benar sudah gila.. Jiyeon terus saja bergumam tak jelas dalam hatinya. Sedangkan Myungsoo masih tetap mengikutinya karena ia ingin memastikan yeoja itu kembali ke rumah dengan keadaan baik-baik saja. Ia melihat Jiyeon berjalan agak cepat seolah ingin cepat sampai ke rumah. Jiyeon tahu Myungsoo masih mengikutinya di belakang. Tapi yeoja itu sama sekali tak berani menoleh sedikitpun.

***

 

 

Pagi-pagi sekali Minho tampak sibuk di dapur. Ia baru saja memanaskan panci berisi air. Di depannya kini sudah ada beberapa lembar daun sirsak dan daun sirih yang masih segar. Namja itu baru saja mendapatkannya dari kebun milik tetangga sebelah. Setelah mencuci bersih semua daun sirsak tersebut, Minho memasukkan 7 lembar daun sirsak dan membiarkannya mendidih. Setelah itu, ia menambahkan 5 lembar daun sirih kedalamnya dan memasukkan sedikit garam. Setelah itu ia mematikan api dan menyaring racikannya tersebut lalu menuangkannya ke dalam wadah yang sudah disiapkannya. Choi Wooshik, hyungnya yang kebetulan melihat kegiatan dongsaengnya itu mendekat.

“Mwohaeyo?” tanyanya heran.

“Bereksperimen.” Ucap Minho singkat tanpa melihat kearah Wooshik. Lalu setelah semuanya selesai, Minho pun langsung meraih tas ransel miliknya dan memasukkan wadah berisi ramuannya tadi ke dalam.

“Aku pergi.” Kata Minho kemudian yang langsung bergegas pergi meninggalkan Hyungnya itu. sementara Wooshik yang masih keheranan sekaligus penasaran itu melihat ke arah sisa racikan Minho. Dengan penuh rasa ingin tahu, namja itu berjalan masuk ke dalam kamar Minho untuk mencari petunjuk. Dan ternyata ia menemukan petunjuk penting. Laptop milik Minho yang masih menyala itu menunjukkan sesuatu yang membuat Wooshik terkejut.

KEAMPUHAN DAUN SIRSAK PADA PENYAKIT KANKER

“Mwo? Kanker?” gumam Wooshik terkejut. Dalam hati ia bertanya-tanya kenapa dongsaengnya itu meracik ramuan untuk penyakit kanker? Dan untuk siapa ramuan tersebut?

***

 

Myungsoo tersenyum kecil ketika melihat Minho yang tengah menyuapi Seohyun pagi itu. Seharusnya Seohyun masih berada di rumah sakit, akan tetapi yeoja itu bersikeras ingin pulang karena ia tidak betah berada di rumah sakit terus menerus. Pagi tadi Minho datang dengan membawa ramuan hasil karyanya sendiri yang masih hangat itu dan meminumkannya pada Seohyun. Myungsoo bisa melihat dengan jelas betapa perhatiannya namja itu pada adik sepupunya tersebut. Ia semakin yakin kalau Minho benar-benar seorang namja yang bisa diandalkan.

“Darimana kau mendapatkan resep itu?” tanya Myungsoo pula.

“Darimana lagi? Tentu saja dari Google harabeoji.” Sahut Minho membuat Seohyun dan Myungsoo tertawa mendengarnya.

“Keunde, aku salut padamu. Gomawo sudah mau merawat sepupuku. Kau bahkan tidak sempat mengurus dirimu sendiri. Lihatlah, wajahmu sangat pucat. Kau pun juga harus menjaga kesehatanmu sendiri.”

“Ahh, ne.. Tapi aku masih merasa sehat. Selama aku melihat Seohyun baik-baik saja, tubuhku akan mejadi sehat sendiri.”

Seohyun tersenyum mendengarnya.

“Gomawo, oppa. Tapi oppa tidak boleh mengabaikan kesehatan oppa. Kalau oppa ikut sakit, nanti siapa lagi yang akan merawatku?” kata Seohyun pula.

“Yaa, kau melupakan sepupumu?” sela Myungsoo merasa tak dianggap. Kali ini giliran Minho dan Seohyun yang tertawa mendengarnya.

“Beristirahatlah, jangan terlalu banyak gerak dulu. Arrachi?” kata Minho kemudian pada Seohyun.

“Tapi aku ingin ke sekolah bersama oppa.”

“Tidak boleh. Kau harus beristirahat total hari ini. kalau tidak, aku takkan mau merawatmu lagi.”

Mau tak mau Seohyun pun mengangguk juga. Minho mengelus rambutnya dengan lembut. Myungsoo kembali tersenyum kecil melihatnya. Tiba-tiba saja ia teringat lagi pada Jiyeon. Rasanya ia ingin cepat-cepat mengatakan pada yeoja itu mengenai perasaannya. Akan tetapi ia merasa masih belum menemukan waktu yang tepat. Namja itu mendesah.

“Kajja, kita berangkat.” Katanya kemudian pada Minho.

“Kau berangkat saja dulu. Aku akan menemani Seohyun hari ini.” sahut Minho.

“Kau akan membolos lagi?”

Minho hanya mengangguk. Myungsoo mengangkat bahu.

“Geurae, aku pergi.” Katanya, lalu berbalik dan beranjak pergi meninggalkan Minho dan Seohyun. Namja itu berjalan santai meninggalkan rumahnya. ia masih berpikir bagaimana caranya memberitahukan Jiyeon tentang perasaannya itu. Namja itu kembali tersenyum senyum seorang diri setiap kali mengingat yeoja itu. ia benar-benar terlihat seperti orang gila. Untung saja wajahnya tampan. #maksudnyaapanih?*. Namja itu kini sampai di jalanan yang agak sepi, karena ia sengaja lewat sana agar lebih cepat sampai ke sekolah. akan tetapi tiba-tiba saja di depan tak jauh dari tempatnya, ia melihat segerombolan siswa dari SMA Hannyoung tengah berkumpul di sana. Myungsoo baru ingat kalau tempat itu memang biasa digunakan tempat tongkrongan oleh anak-anak Hannyoung. Namja itu sedikit menyesal harus melalui jalan itu. Namun ia tak bermaksud kembali sama sekali. Kalaupun memang mereka ingin mencari gara-gara dengannya, ia sama sekali tidak gentar. Myungsoo berjalan dengan sewajarnya. Walaupun ia tidak melihat secara langsung, ia bisa merasakan kalau anak-anak Hannyoung itu sudah memperhatikannya. Terbukti mereka yang semula duduk-duduk santai, kini mulai berdiri.

“Yaa!! Kim Myungsoo! Besar sekali nyalimu melewati daerah kawasan kami?” seru seseorang tiba-tiba. Myungsoo tahu, itu adalah Hwang Chansung, ketua gank SMA Hannyoung. Tapi ia tak berniat menjawab dan terus saja berjalan.

“Yaa! Kenapa kau diam saja? Apa kau takut karena kau hanya seorang diri? Di mana anggota the Strangers yang lain? Apa kalian sudah bubar? Hahaha..”

Telinga Myungsoo terasa panas mendengarnya. Namun ia masih tak bergeming. Merasa tak dihiraukan sama sekali, Chansung pun menyuruh kawan-kawannya maju dan mengepung Myungsoo. Myungsoo terpaksa berhenti melangkah karena jalannya sudah diblokir para pelajar berandalan itu.

“Menyingkirlah, aku sedang tidak ada nafsu berkelahi saat ini.” ucap Myungsoo tenang.

“Wae? Apa karena kau takut sendirian? Kau takut babak belur kami keroyok?” ejek Chansung disambut tawa anak buahnya. Myungsoo tak peduli. Ia kembali melangkahkan kakinya, akan tetapi salah satu dari mereka melayangkan tinju ke wajahnya secara tiba-tiba. Namun sayang sejuta sayang, Myungsoo yang sudah ahli bela diri itu tak terkena pukulan itu sedikitpun. Ia justru memberikan pukulan balasan pada namja itu.

“Paboya! Cepat ringkus dia!” titah Chansung pula.

“Tunggu dulu!” teriak seseorang tiba-tiba. Semua pun menoleh ke asal suara. Tampak tiga orang namja yang lain tengah berjalan menghampiri mereka dengan gerakan slow motion. #wkwkwk bayanginnya pake lagunya black paradise aja pasti cocok banget tuh!*. Tepat sekali, mereka adalah Ilhoon, Sungjong, dan Chunji. Kalau saja para pelajar yang mengepung Myungsoo itu adalah yeoja, sudah bisa dipastikan mereka akan menjerit histeris dan berwow ria. #ngiahahabukk!!* Myungsoo tersenyum kecil melihat mereka.

“Jadi kalian masih menjalani hobi menguntitku?” katanya pula. Sementara ketiga temannya itu hanya nyengir.

“Kami rindu ingin memukul seseorang.” Kata Ilhoon pula sambil menatap tajam ke arah Chansung. Chansung tertawa mengejek mendengarnya.

“Geurae, semakin lengkap anggota kalian, maka akan semakin baik. Ringkus mereka!” seru Chansung pula memulai peperangan (?). Maka perkelahian antara 4 banding 10 itu pun tak terelakkan lagi. Tepat pada saat itu, tampak Yoseob kebetulan sekali karena sudah diatur oleh authornya melewati tempat itu juga. Ia terkejut ketika melihat ada perkelahian antar pelajar di sana. Apalagi ia tahu kalau the Strangers lah yang terlibat dalam perkelahian itu. Namun tiba-tiba saja namja itu tertegun. Kedua matanya mendadak memerah #wah jadi inget naruto yang mau berubah jadi kyuubi, kekeke~*. Kedua tangan namja itu mengepal keras. Rupanya ia melihat seseorang yang sangat ingin ditemuinya itu berada di sana juga. Hwang Chansung! Maka tanpa menunggu aba-aba dari author lagi, namja itu langsung terjun ke medan tempur, dan lebih tepatnya menghampiri Chansung berada!

***

 

_Author POV end_

To be continued..

 

Hihihihi author demen banget bikin tbc yang kayak gini, dan semoga saja readers demen juga 😀

Wah, author masih belum tahu nih kapan ff ini berakhir. Tapi semoga saja readers gak bosen ya bacanya. Dan lagi-lagi mian banget kalo masih ada typo di part yang ini. Karena dari awal author sudah bilang ff ini hanyalah buatan seorang manusia biasa yang tak punya apa-apa..

Hmmhh baiklah, sekian dulu dari author dan tolong tinggalkan komentar yah setelah membaca ^^

Kamsahamnida and see you at the next part 😉

45 thoughts on “[FF Freelance] Where is My Man? (Part 8)

  1. hahaha,
    tiap kali ngebayangin itu 3 serangkai stalker, ketawa sendiri.
    hahaha
    jahatnya chansung di sini. ckck
    yeosob cute berkelahi? OMG
    hehehe
    lanjut thor.

  2. yahhhh,,, telat bgt aku baca part ini -_-
    malu-malu tikus? wkwkwk, udah gnti sebutan yah xD
    aku sedih hyungsuk meninggal. . kok tega bgt sih author buat anak kecil meninggal buat jalan cerita #plakkk
    harusnya yoseob lapor polisi… knp malah pada berantem lagi, ngeri bayanginnya
    weh Daebak tetep *kasih jempol*

  3. ash gereget nih pas myung nanya ke jiy soal anu/? wkwk padahal itu tinggal selangkah lagi… ash……
    nah loh yoseob ngamuk kan!!! chansung sih lagian-___- yodahlah ini makin seru aja nih apalagi yoseobnya lagi ngamuk tuh

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s