[Twoshots] When Liar Meets Liar (Part 1)

Image

Title : When Liar Meets Liar (Part 1)

Author : Hyorenji

Casts : T-Ara’s Park Jiyeon, EXO-K’s Kai

Length : Two-shots

Genre : Romance, AU

Rating : PG-15

Disclaimer : Made by me, inspired by some movies and stories. Casts are not mine.

Teaser

Part 1

“Park.Ji.Yeon. Sebagai wakil presiden—dan juga ayahmu, aku memerintahkanmu untuk menurunkan kakimu. Sekarang juga.”

Jiyeon tak ambil pusing dengan perintah ayahnya yang notabene pemilik ruangan dimana Jiyeon tengah berada saat ini. Ia masih sibuk mengulum permen karetnya dengan ujung kaki menumpu pada meja kerja sang wakil presiden sementara ia duduk dengan nyaman di kursi ayahnya, matanya malah tetap terfokus pada tayangan Music Bank di tv.

“Itu meja dan kursi khusus wakil presiden. Apa kau adalah wakil presiden, nak?”

Seperti tak mendengar apapun, Jiyeon masih saja tak mempedulikan peringatan ayahnya yang tampak setengah mati menahan diri itu. Hingga akhirnya salah seorang bodyguard maju mendekati Jiyeon—setelah mendapat isyarat dari ayahnya.

“Ya! Lepaskan aku!” Jiyeon memberontak saat bodyguard itu memegang lengannya. Ia menatap ayahnya yang sedang tersenyum puas dengan tajam. “Appa! Atau.. Pak Wakil Presiden yang Terhormat.. aku, Park Jiyeon, warga negara Korea Selatan yang baik ini—yang juga anak kandungmu satu-satunya—diperlakukan tidak hormat seperti ini dan Appa diam saja?!”

“Sudah..” Ayah Jiyeon mengangguk, membuat isyarat agar bodyguard itu melepaskan pegangannya pada Jiyeon. Bodyguard itu melepaskan Jiyeon, kemudian membungkuk hormat sebelum akhirnya meninggalkan Jiyeon di ruangan itu berdua dengan ayahnya.

“Jadi.. apa tidak ada yang ingin kau jelaskan pada ayahmu, Park Jiyeon sang warga Korea Selatan yang baik?” tanya ayah Jiyeon yang langsung duduk disamping putrinya yang lebih memilih duduk di sofa daripada kembali duduk di kursi khusus ayahnya—daripada diusir lagi, pikirnya.

“Huh..” Jiyeon mendengus sambil kembali mengunyah permen karetnya. Ia melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap ayahnya. “Aku tadi hanya ingin pergi sebentar keluar, tapi bodyguard kesayangan appa melarangku pergi dan malah membawaku kemari.”

“Benarkah?” sebelah alis ayah Jiyeon terangkat. “Sepertinya bukan begitu cerita aslinya.. Bukannya seorang Park Jiyeon kabur dari rumah, pergi ke klub dan akhirnya ketahuan oleh bodyguard-bodyguardnya?”

“Bagaimana appa…” Jiyeon kemudian memutar bola matanya. “Oh, right. Aku sempat lupa yang namanya teknologi komunikasi. Baik, aku mengakui aku memang pergi ke klub. Sendirian. Tapi aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya ingin merasakan apa yang seharusnya dirasakan anak muda seusiaku. Tapi kenapa aku tidak bisa? Karena appa adalah wakil presiden dan itu adalah salahku?”

“Jiyeon-ah,” ayah Jiyeon berkata dengan nada penuh pengertian. “Appa mengerti. Appa salah kalau appa menganggapmu masih kecil. Appa tahu..kau pasti sangat terkekang. Tapi ini adalah kewajiban, Jiyeon-ah. Kita bukan seperti kita beberapa tahun lalu. Semua bodyguard dan peraturan yang mengekang kita, itu juga bukan kemauan appa. Itu adalah prosedur..”

Jiyeon mengunyah permen karetnya dengan tampang kusut. Ia tahu ayahnya akan menjawab seperti itu. Dia sangat tahu.

“Ah, iya. Appa hampir lupa. Besok ada acara kepresidenan, dan kau harus ikut.”

“Mwo?”

“Tidak ada kata tidak mau, Park Jiyeon.” Ayah Jiyeon terdengar memaksa kali ini. “Kau besok harus memakai baju yang formal dan sopan. Dan.. kau tidak boleh berkelakuan tidak sopan. Apalagi permen karetmu itu. Kau akan dihukum kalau besok kau berani mengunyah permen karet saat acara. Mengerti?”

Jiyeon duduk di sudut auditorium megah istana kepresidenan Cheongwadae atau yang biasa disebut Blue House, sama sekali tidak tertarik dengan acara yang menurutnya membosankan itu. Kedua orangtuanya tengah sibuk berbincang-bincang dengan beberapa orang penting—yang sama sekali tidak penting menurut Jiyeon—di sebuah ruangan terpisah.

Yang bisa dilakukannya sekarang adalah menyetop pelayan bernampan yang lewat, mencomot makanan yang tersedia, dan mengunyahnya dalam diam. Ayahnya bisa menegurnya kalau tahu sudah berapa banyak makanan yang ia habiskan selama setengah jam. Tapi ia tak peduli. Ia tak mau kebebasannya untuk makan juga diatur. Memangnya dia apa..

Tiba-tiba seorang pria bertuksedo hitam berjalan mendekatinya. Jiyeon memandangi orang itu dari atas sampai bawah, langsung tahu bahwa pria yang mungkin hanya setahun atau dua tahun di atasnya itu adalah orang-orang yang sama membosankannya dengan ayahnya dan staf-staf kepresidenan yang lain.

“Hai..” sapa pria itu ramah. Siapapun yang melihat Jiyeon pasti ingin mendekatinya. Siapa yang tidak suka melihat seorang gadis cantik tengah duduk sendirian di tengah pesta? “Aku Lee Jonghyun, anak dari menteri luar negeri.” Pria itu menyodorkan tangan kanannya pada Jiyeon.

Like I care.” Jiyeon mengacuhkan pria itu, ia malah berdiri dan berjalan menuju meja yang penuh dengan makanan yang baru disajikan. Ia segera mengambil sebuah piring kecil berisi makanan-makanan ringan yang sangat menarik perhatiannya.

“Hei.. hei..” Jonghyun buru-buru menyusul Jiyeon. “Aku suka tipe jual mahal sepertimu.”

“Cih.. Jual mahal katamu?” Jiyeon menoleh ke arah pria itu, melayangkan tatapan tajam—cukup tajam untuk membuat pria itu melangkahkan kakinya mundur karena takut.

Jiyeon baru saja ingin mengintimidasi pria itu lebih, namun ia mendadak terpikir sebuah ide cemerlang. Jiyeon menjatuhkan piring yang dipegangnya hingga semua orang di ruangan itu melihat ke arahnya.

“Kenapa kau memaksaku? Aku sudah bilang tidak ingin pergi denganmu!” Jiyeon mendorong Jonghyun sambil memasang tampang takut. “Bodyguard.. tolong.. pria ini barusan berbuat..berbuat tidak pantas padaku!”

“M..Mwo?” Jonghyun si anak menteri hanya bisa melongo saat bodyguard-bodyguard Jiyeon tiba-tiba sudah memegangi alat geraknya. Sementara Jiyeon berpura-pura ketakutan dan mendudukkan dirinya di sebuah kursi.

“Agasshi.. Agasshi tidak apa-apa?” tanya seorang bodyguard perempuan khawatir.

“Tolong..ambilkan aku minuman dan obat sakit kepala. Mendadak aku merasa pusing..”pinta Jiyeon dengan suara yang dibuat-buat. Bodyguard itupun segera menghubungi seseorang dari walkie talkie-nya dan meninggalkan Jiyeon.

“Bagus. Semua bodyguard sedang sibuk sekarang.” Jiyeon tersenyum samar sebelum akhirnya berjalan mengendap-endap menuju pintu keluar auditorium.

Jiyeon bersyukur saat itu adalah malam hari hingga ia bisa mengendap-endap menyusuri pekarangan Blue House yang dikelilingi banyak bodyguard dan polisi tanpa begitu terlihat. Sesekali ia bersembunyi di balik mobil-mobil yang diparkirkan.

Jiyeon sudah hampir mencapai gerbang saat tiba-tiba ia mendengar teriakan dari pintu.

“AGASSHI! AGASSHI KAU MAU KEMANA?! ANAK PAK WAPRES KABUR!”

Sontak semua penjaga dan polisi melirik ke arah Jiyeon yang sempat tak tertanggapi oleh mereka.

“Sial.” Jiyeon membuka high heelsnya kemudian berlari menentengnya keluar dari gerbang Blue House. Ia tak tahu seberapa banyak penjaga yang mengejarnya. Yang ia pikirkan hanyalah bagaimana cara cepat-cepat pergi dari situ. Kalau ia tertangkap, kesempatan seperti ini tidak akan ada lagi. Dan ia mungkin saja dihukum habis-habisan oleh ayahnya.

“TAKSI!” Jiyeon menyetop sebuah taksi yang kebetulan lewat, dan tanpa pikir panjang ia langsung naik ke dalam taksi itu dan baru menyadari bahwa ada orang yang sudah lebih dulu naik ke dalam taksi itu sepersekian detik kemudian.

“Hei! Aku yang menaiki taksi ini duluan!” penumpang yang ternyata seorang pria itu menatap Jiyeon dengan tatapan kesal.

“Ssst.. Kumohon, kumohon biarkan aku naik.” Jiyeon memasang tampang paling kasihan yang bisa ia buat. Ia tak pernah memohon pada siapapun sebelumnya, dan kali ini pengecualian tentu saja.

“Memangnya kau mau kemana?” pria berpenampilan acak-acakan itu mengernyit saat menyadari penampilan Jiyeon—dress kusut, rambut berantakan, dan kaki tanpa sepatu..

“Kemanapun. Asalkan pergi dari sini. Kumohon, izinkan aku menumpang..” Jiyeon memohon sambil melirik ke kaca belakang taksi, menyadari ia hanya punya beberapa detik sebelum para bodyguard bisa menangkapnya.

“Baiklah. Ahjusshi, tetap saja jalan ke tempat tujuanku tadi..”

“Kau tidak bilang mau ke tempat seperti ini..” Jiyeon mendesis pelan saat tahu pria itu ternyata menghentikan taksi di sebuah jalanan sempit penuh graffiti yang ramai oleh anak-anak muda berpakaian aneh-aneh.

“Kau tidak bilang mau turun dimana. Sekarang terserah kau mau kemana.” Pria yang belum menyebutkan namanya sampai sekarang itu hanya mengedikkan bahu sambil berjalan menjauhi Jiyeon yang masih berdiri terpaku, tak menyangka pria itu sebegitu cuek terhadapnya.

“Hei..” Jiyeon memakai high heelsnya dan berjalan mengejar pria yang kini sudah bergabung dengan teman-temannya itu. “..aku..”

“Who’s that, Kai?” salah seorang teman pria itu memandangi Jiyeon dari atas sampai bawah sambil tersenyum aneh.

“Bukan siapa-siapa.” Pria itu menjawab datar tanpa menoleh ke arah Jiyeon sedikitpun. Ia malah sibuk membuka hoodie-nya dan melakukan stretching mendadak. “Battle-nya belum mulai, kan?”

“Belum.” Jawab temannya yang lain, yang juga tersenyum-senyum melihat Jiyeon. “Kai, kau benar-benar akan mengacuhkan wanita cantik di belakangmu ini?”

Jiyeon melayangkan death glare pada teman pria yang—kalau ia tidak salah dengar—bernama Kai itu. Ia bukan sekali dua kali dibilang cantik, hingga ia merasa tak terlalu tersanjung jika ada orang yang memujinya.

“Ah.. Kami.. kesana dulu..” kedua orang teman Kai itu tampak bergidik akibat tatapan mematikan Jiyeon sebelum akhirnya pergi meninggalkan mereka berdua.

Kai akhirnya melirik ke arah Jiyeon yang kini sedang mengelus-elus bahunya kedinginan. Dress tanpa lengan Jiyeon memang sangat cocok untuk acara formal di Blue House, tapi jelas tidak di pinggir jalan seperti ini.

“Pakai ini.” Kai melempar hoodie yang tadi dilepasnya ke arah Jiyeon yang refleks menangkapnya.

Jiyeon mendengus-dengus hoodie itu, mengernyit saat mencium bau khas pria yang sangat mengganggu penciumannya. “Kau..mau aku..memakai ini?”

Kai membalas tatapan jijik Jiyeon dengan tatapan dingin. “Ya sudah kalau tidak mau.” Kai bergerak untuk mengambil kembali hoodie itu namun Jiyeon dengan segera menjauhkannya dari jangkauan Kai.

“Ehem.. Tidak apa-apa. Disini..cukup dingin.” Jiyeon dengan segera memakai hoodie itu, berusaha menahan nafasnya tiap kali bau aneh itu menyapa hidungnya. “Ini..tempat apa?”

Kai tak menjawab, ia hanya berjalan masuk ke jalanan itu lebih dalam, dan orang-orang berpakaian aneh yang ternyata hip-hop itu terlihat semakin banyak. Musik-musik dance khas anak mudapun bergaung dari speaker-speaker mobil yang diparkirkan asal di sepanjang jalan.

Jiyeon sempat ternganga beberapa saat. Ia malas mengakuinya tapi, well..tempat ini cukup keren. Ia tak pernah mendatangi tempat semacam itu sebelumnya. Dan ia merasa senang walaupun asing dengan keramaian yang tak terkendali itu.

“Kalau kau tetap mau disini, duduk disitu dan jangan lakukan apa-apa.” Kai menunjuk sebuah bangku kosong yang terletak tidak begitu jauh dari tempat mereka berada.

Baru saja Jiyeon ingin memprotes, Kai sudah berjalan meninggalkannya ke sebuah spot kosong yang dikerumuni orang. Akhirnya Jiyeon menurut, ia duduk di kursi yang ditunjuk Kai tanpa mengatakan apapun. Ia tak punya tempat untuk pergi, dan ia pikir tempat ini cukup luar biasa.

Jiyeon menggerakkan kepalanya mengikuti dentuman musik, perlahan sudut bibirnya terangkat. Inilah kebebasan yang diinginkannya—tanpa peraturan yang mengekang, tanpa bodyguard, dan tanpa orang-orang sok penting. Disini semua orang berbaur, tanpa harus memiliki gelar hanya untuk sekedar mengobrol. Jiyeon tahu, ia lebih suka dunia yang seperti ini.

“MAKE SOME NOISE!!” tiba-tiba seorang pria yang memakai pakaian kebesaran dengan bling bling melangkah ke tengah spot kosong tadi, dan seluruh orang di tempat itu berteriak riuh. “Let’s get it started! First contestant.. Kai!”

Jiyeon melongo saat Kai—yah, Kai yang tadi—melangkah ke tengah-tengah. Seluruh penonton sibuk berteriak, sebelum akhirnya diam saat sebuah musik mengalun lebih keras. Kai kemudian menunjukkan kemampuan dance-nya yang membuat Jiyeon speechless. Jiyeon mau tak mau harus mengakui bahwa pria itu keren. Sangat keren.

Jiyeon berusaha menyembunyikan tampang terpesonanya saat Kai melirik sekilas ke arahnya dengan sebuah smirk. Deg.. Sebuah perasaan aneh menyelubungi Jiyeon yang segera menampar dirinya pelan.

“Sadar, Park Jiyeon. Sadar. Apa kerennya sih pria sok seperti itu?”

“Hai, cantik..” tiba-tiba seorang pria datang dan duduk di samping Jiyeon.

Jiyeon bertanya-tanya dalam hati para pria disini mendekatinya karena dia memang sangat cantik atau karena penampilannya yang lain dari kebanyakan wanita disini. Jiyeon berusaha mengacuhkan pria itu dengan memfokuskan tatapan pada Kai yang sepertinya sudah hampir selesai dengan dancenya.

“Aku berbicara padamu!” tiba-tiba tangan Jiyeon ditarik paksa oleh pria yang diacuhkannya.

“Ya! Lepaskan aku!” Jiyeon memberontak, namun pria yang sepertinya mabuk itu hanya tersenyum tanpa melepaskan pegangan tangannya. Jiyeon mengeluarkan tampang galak terbaiknya, namun tampaknya pria itu tak terpengaruh. “Kubilang..lepaskan aku. Atau aku akan..”

“..akan apa?” pria itu tertawa sambil memajukan wajahnya. “Akan apa, cantik?”

“Lepaskan dia!” Jiyeon tak tahu apa yang terjadi saat tiba-tiba pria di hadapannya jatuh tersungkur. Jiyeon kemudian sadar bahwa Kai adalah orang yang menyebabkan itu semua terjadi.

“Hey.. easy Kai.. Easy..” teman Kai yang tadi sempat dideath glare oleh Jiyeon berusaha menahan Kai yang tampak ingin menghajar orang itu lagi.

Kai tampak menormalkan nafasnya beberapa saat sebelum ia menarik Jiyeon dan melangkah menjauhi tempat itu. Jiyeon masih tak mampu berkata-kata, ia hanya akan mengikuti kemanapun Kai membawanya.

Kai membawa Jiyeon masuk ke stasiun subway terdekat. Mereka duduk di sebuah kursi di depan platform subway,menunggu subway tiba. Jiyeon melirik jam yang tertera di LCD kecil yang menunjukkan informasi kedatangan subway. Sudah jam setengah sepuluh, tapi untungnya stasiun masih sedikit ramai. Ya, walaupun Kai menyelamatkannya barusan ia tak bisa menjamin pria itu tidak akan berbuat macam-macam.

“Hmm..” Jiyeon terdiam sejenak sebelum berkata. “Terima..kasih?”

Kai mengangguk sambil menguap, membuat Jiyeon merasa pria itu benar-benar tidak memiliki sopan santun.

“Dasar. Bukan cuma namanya yang aneh. Orangnya juga aneh.” Jiyeon menyandarkan punggungnya di dinding, melipat kedua tangannya di depan dada.

“Ssh… Apa kau bilang?” Kai tampak tak suka dengan perkataan Jiyeon barusan. “Seperti apa ‘Kai’ terdengar aneh di telingamu? Itu nama yang keren.”

Jiyeon terkekeh sambil menatap Kai geli. “Menurutmu itu keren?”

“Ehem..” Kai berdeham sambil menatap Jiyeon kesal. “Kalau begitu siapa namamu, Miss? Nama yang menurutmu keren? Victoria? Narsha? Hahaha..”

“Namaku Ji..” Jiyeon kemudian terdiam. Bodoh sekali kalau dia mengakui namanya adalah Park Jiyeon, lalu Kai tahu bahwa dia adalah anak wakil presiden. Kai bisa saja membawanya ke kantor polisi supaya mendapat imbalan dari ayahnya. Dan Jiyeon tidak mau hal itu terjadi.

“Ji..?” Kai mengernyit.

“Ji.. Ya, Ji. Namaku Ji.” Jiyeon berusaha terdengar yakin.

“Ji? Ji apa?”

“Ya Ji. Hanya Ji. Hwang Ji.” Dusta Jiyeon.

“Ji? Hwang Ji?! HAHAHAHAHA!” Kai tertawa keras, cukup keras hingga orang-orang langsung memperhatikannya. “Nama seperti itu kau bilang keren?!”

“Ehm..” Jiyeon melayangkan pandangannya ke segala arah kecuali Kai. Ia berusaha menahan diri, terlalu konyol untuk membongkar identitas aslinya hanya karena tak ingin diejek oleh pria seperti Kai.

“Lalu..Ji..” Kai berusahan menahan tawanya. “Kau mau kemana?”

“Entahlah.” Jiyeon kemudian tersadar. Benar juga. Mau kemana dia?

“Aku tidak akan memaksamu untuk bercerita kenapa kau tadi membajak taksiku, dengan pakaian seperti itu.”

Jiyeon menghela nafas. “Hipotesismu?”

“Hmm..” Kai terlihat berpikir. “Kau sedang dijodohkan. Lalu.. kau tidak suka dengan prianya. Dan.. ya. Kau kabur.”

Jiyeon mengangguk-angguk mendengar hipotesis Kai. Dalam hati ia bertanya-tanya bagaimana seorang Kai bisa mempunyai pemikiran sinetron seperti itu.

“Aku..benar?” tanya Kai, merasa takjub.

“Yah, begitulah.” Jiyeon berbohong demi menutupi alasan sesungguhnya. Yah, begitu lebih baik. “Kau mau kemana?”

“Pulang.” Jawab Kai santai.

“Mwo? Pulang?” mata Jiyeon membulat mendengar jawaban Kai. Kalau lelaki itu pulang, ia takkan punya tempat untuk pergi lagi karena rencananya sejauh ini adalah mengikuti Kai.

“Iya. Pulang.” Kai kemudian berdiri saat mendengar suara kedatangan subway. Ia kemudian melirik ke arah Jiyeon yang hanya duduk sambil menunduk. “Hei, sedang apa disitu?”

“Hm?” Jiyeon menengadahkan kepalanya. “Berpikir setelah ini aku harus kemana.”

“Bukannya kau bilang kau tidak tahu harus kemana? Ayo.” Kai mengulurkan tangannya.

“Hah?”

“Iya, ayo.” Kai akhirnya menarik Jiyeon masuk ke dalam subway.

“Ya! Kau sedang apa?!”

“Sst… Bisa tidak kau tidak usah berteriak?”

“Apa menurutmu aku akan diam saja jika ada orang yang menculikku?” Jiyeon berteriak sambil mencoba melepaskan tangannya yang masih digenggam oleh Kai.

“Dasar. Siapa yang mau menculikmu? Dengar, aku tinggal dengan kakek nenekku. Rumah kami sering dijadikan homestay untuk menampung turis, jadi ada beberapa kamar kosong tersedia. Jadi kau bisa tinggal di rumahku sementara. Kalau kau tidak mau ya sudah, kau bisa turun di stasiun selanjutnya.”

Jiyeon menggigit bibirnya sambil berpikir. Bukan tidak mungkin itu hanya alasan Kai kalau ia memang ingin berniat menculik Jiyeon. Tapi ia harus bagaimana lagi? Sepertinya itu satu-satunya jalan teraman untuknya.

Jiyeon menggaruk-garuk tengkuknya sambil berjalan mendekati Kai yang sedang duduk menghadap halaman rumahnya. Ia berniat untuk menepuk bahu Kai, namun pria itu keburu menoleh.

“Sudah mandi?”

Jiyeon mengangguk sambil duduk di samping Kai. Sementara Kai sibuk memandanginya sebelum akhirnya tertangkap basah.

“Wae? Kau baru menyadari sekarang aku cantik? Kau suka padaku?” tanya Jiyeon sambil tersenyum-senyum sendiri.

“Ehem.” Kai berdeham sambil membuang muka. “Mana mungkin aku menyukai gadis sinis sepertimu. Lagipula kau terlihat aneh dengan baju nenek-nenek. Hahahahahaha..”

Jiyeon memandangi dirinya sendiri. Ia memang dipinjami baju oleh nenek Kai, dan ia tak mungkin menolak. Ia tak ingin tidur dengan dress kusut dan hoodie bau Kai. Baju kuno yang dipakainya terasa lebih nyaman dipakai.

“Kenapa? Halmeoni sudah baik meminjamkanku baju.”

“Whoa..” Kai tampak sedikit terkejut. “Gadis sepertimu bisa berpikiran baik juga.”

“Aish..” Jiyeon menumbuk Kai pelan. “Kau pikir aku patung yang tidak punya hati?”

Kai hanya tertawa sambil menggeleng-geleng. Benar, ia tadi sempat berpikir Jiyeon ini Barbie atau apa..

“Ah, mikir apa aku.” Kai menepuk kepalanya sendiri.

“Ah, ada yang ingin kutanyakan.”

“Apa?” tanya Kai acuh tak acuh.

“Kenapa kau sangat baik padaku? Padahal kurasa kau tipe pria yang tidak peduli dengan orang lain. Tapi kau menyelamatkanku, dan menawariku tinggal di rumahmu.”

“Hei, jangan salah paham!” Kai tampak salah tingkah. “Aku tadi menolongmu karena aku memang tidak suka pada pria brengsek itu, dia selalu mencari masalah denganku. Dan.. suatu saat kau akan membayar biaya homestay , kan? Itu bisa menambah penghasilan..”

“Jongin-ah! Hwang Ji! Makanannya sudah selesai. Ayo makan!”tiba-tiba terdengar suara nenek Kai berteriak dari ruang makan.

“Hm? Jongin? Siapa Jongin?” Jiyeon akhirnya menemukan jawaban dari pertanyaannya saat Kai cepat-cepat berdiri dan berjalan masuk ke dalam rumah terlebih dahulu. “Heol! Jadi namamu Jongin! Dasar.. Sok keren.. Kai..Kai apanya?” Jiyeon mencibir sebelum akhirnya ikut masuk ke dalam rumah.

“Kau tidak pernah bangun sepagi ini?” Kai mencibir pada Jiyeon yang masih terkantuk-kantuk di meja makan.

Jiyeon hanya menjawabnya dengan death glare, seperti biasa. Ia menguap lebar dan menggaruk-garuk lehernya. Tidurnya tadi malam memang tidak terlalu nyenyak. Bagaimana tidak, ia yang biasa tidur di kamar mewah dengan AC dan kasur empuk harus tidur di lantai beralas kasur tipis. Namun begitu ia bersyukur tidak harus tidur di stasiun.

“Ini.. makanlah..” nenek Kai datang membawa sebuah panci dengan asap mengepul dari dalamnya. “Kimchi jjigae yang baru matang..”

Untungnya lidah Jiyeon tidak terlalu sulit beradaptasi, buktinya sekarang ia dengan lahap menyantap hidangan itu—seolah-olah lupa ia pernah mengantuk beberapa detik sebelumnya.

Kai mengunyah makanannya sambil menghidupkan televisi yang ternyata sedang menayangkan acara berita pagi.

“Kita beralih pada berita selanjutnya. Putri wakil presiden Park Jaehyung, Park Jiyeon, dilaporkan hilang..”

“UHUK!” Jiyeon terbatuk mendengar isi berita itu. Ia langsung merebut remote dari tangan Kai dan mengganti channel secepat mungkin.

“Waegeurae?” tanya Kai dan neneknya bingung.

“Ah, tidak.. Aku.. tidak suka menonton acara berita saat makan.. hehehe..” dusta Jiyeon sambil memakan makanannya pelan.

“Dan kau lebih suka menonton acara memancing?” cibir Kai.

“Ah, tidak juga.” Jiyeon segera mengganti-ganti channel hingga nenek Kai berteriak saat sebuah channel menampilkan acara trot.

“Ini saja! Setelah ini.. Park Hyunbin! Aaa..halmeoni sangat suka lagu ini..”

Kai kemudian menggeleng-geleng dan berbisik pada Jiyeon, “Kusarankan kau menutup kuping.”

“Kenapa?” Jiyeon bertanya dengan sebelah alis terangkat. Dan beberapa detik kemudian dia tahu jawabannya.

“SYABANG SYABAAANG~”

“Hahahaha..” Jiyeon masih saja tertawa saat membayangkan bagaimana tadi nenek Kai bernyanyi seperti sedang konser. Maklum, keluarganya adalah keluarga yang sangat menjaga image. Makanya ia tak pernah sekalipun melihat ibu apalagi ayahnya atau siapapun di keluarganya bertingkah seperti nenek Kai tadi.

“Kau kenapa?” tanya Kai yang baru kembali dari membeli es krim di 7eleven yang ada di dekat taman tempat ia dan Jiyeon berada.

“Hahaha… halmeoni.. hahaha.. halmeoni tadi..” Jiyeon tertawa lagi, hingga tangannya terasa geli dan sulit untuk membuka tutup es krim yang dibelikan Kai.

“Ckckck..” Kai berdecak sambil membukakan es krimnya untuk Jiyeon dan menyerahkannya. “Aku sudah biasa dengan halmeoni yang histeris seperti tadi. Sekarang aku malah tidak menganggap itu lucu sama sekali.”

“Hahaha.. tetap saja.. itu lucu..” Jiyeon kemudian diam sejenak untuk memakan es krimnya.

Kai duduk di ayunan sebelah Jiyeon, memakan es krimnya sambil mengayuh pelan ayunannya. “Oh iya, sampai kapan kau mau tinggal di rumahku?”

“Hmm..” Jiyeon mengayun ayunannya tinggi-tinggi sambil menikmati es krimnya. “Entahlah.. Mungkin selamanya.. Aaaa.. aku sangat suka hidup bebas seperti ini…”

“Mwo? Selamanya?”

“Wae? Tenang saja. Aku akan membayar biaya homestaynya. Dasar pelit.” Jiyeon mendelik sambil tetap menikmati ‘penerbangan’-nya.

“Bukan itu maksudku.” Kai ikut mengayun tinggi seperti Jiyeon. “Maksudku.. apa keluargamu tidak khawatir?”

“Pfft..” Jiyeon mendengus sambil memakan es krimnya lagi. “Benar. Orangtuaku. Sebentar lagi mungkin mereka akan menemukanku. Tapi sampai saat itu tiba aku tak memiliki niat untuk pulang.”

Kai hanya bisa menggeleng-geleng mendengar jawaban Jiyeon. Iapun mencoba mengerti. Gadis sinis itu sepertinya memang sangat menikmati hidupnya saat ini.

“Sehabis ini kau mau kemana?” tanya Kai.

“Hmm.. Kau mau kemana?” Jiyeon bertanya balik.

“Hari ini aku.. tunggu.” Kai menghentikan ayunannya kemudian menatap Jiyeon curiga. “Jangan bilang kau.. ingin mengikutiku kemanapun aku pergi?”

“Mmm..hmm..” Jiyeon mengangguk. “Lagipula kemana lagi aku bisa pergi? Hehe..”

“Dasar gadis aneh.” Kai menggelengkan kepalanya frustrasi. “Kau bahkan tak bertanya apa aku keberatan.”

Jiyeon menurunkan kakinya untuk menghentikan laju ayunannya. “Kau.. keberatan?”

Kai hanya bisa terpelongo saat tiba-tiba Jiyeon memasang tampang innocent. Dalam hati Kai bertanya-tanya apakah ia pernah melihat gadis yang lebih cantik dari Jiyeon sebelumnya.

“Ah. Terserahmu.” Kai akhirnya berdiri dan berjalan meninggalkan Jiyeon yang langsung menyusulnya dengan senyuman di wajahnya.

Jiyeon hanya duduk di sudut sebuah ruangan besar dengan cermin dimana-mana yang sering dilihatnya di drama-drama musikal—tempat para dancer berlatih. Ia memperhatikan bayangan Kai yang sedang melatih dance anak-anak yang beranjak remaja itu. Jiyeon lagi-lagi harus mengakui pria itu cukup—sangat keren hingga membuat jantungnya berdegup tak karuan dengan gerakan dance yang luar biasa.

Tiba-tiba seorang remaja perempuan mendatangi Jiyeon. Ia memperhatikan Jiyeon dalam-dalam, kemudian tatapannya tertuju pada kaos oversized yang dipakai Jiyeon. Sepertinya ia mengenali kaos itu.

“Eonni.. Eonni pacarnya Kai oppa?”

“Eh?” Jiyeon menaikkan sebelah alisnya. “Pacar?”

“Habisnya, eonni memakai pakaiannya Kai oppa.” Gadis itu tampak mengerucutkan bibirnya.

“Ah, ini..” Jiyeon memandangi kaos yang sedang dipakainya. Ya, tadi Kai memang meminjamkan baju itu padanya karena ia bersikeras tidak ingin memakai baju nenek Kai keluar rumah. Kalau sekedar untuk tidur dan di dalam rumah bagi Jiyeon masih tidak apa-apa. “Apa Kai pernah memakai baju ini?”

“Iya. Dia sering memakai itu saat mengajar kami.” Siapapun yang melihat ekspresi anak itu pasti tahu anak itu menyukai Kai.

Jiyeon mengangguk-angguk, dan sejurus kemudian memekik pelan.

‘Kalau dia sering memakai baju ini saat latihan.. berarti..’ Jiyeon memandangi Kai yang berlumuran keringat.  Membayangkan kaos yang dipakainya sering terkena keringat Kai, Jiyeon bergidik.

“Eonni kenapa?” anak itu tampak bingung dengan tingkah Jiyeon.

“Hmm.. Kau suka jam ini?” Jiyeon tiba-tiba membuka jam yang dikenakannya sejak semalam. Jam itu sebenarnya adalah hadiah dari sepupunya, tapi ya bagaimana lagi. Dia pikir kesterilan dirinya sekarang lebih penting daripada jam itu.

“Jam?”

“Iya. Sst.. Kai yang membelikan ini untuk eonni.”

“Mwo? Jeongmal?!” anak itu langsung menarik jam yang masih digenggam Jiyeon itu dan memandanginya kagum.

Jiyeon kemudian tersenyum licik. “Baiklah. Jam ini akan kujual padamu. Kau ada uang berapa?”

“Sudah siap kan? Setelah ini kau tidak ada rencana, kan?” tanya Jiyeon pada Kai yang sudah selesai membersihkan diri.

“Eo. Tidak ada. Wae?”

“Hmm.. Aku ingin berbelanja baju. Tapi sepertinya garosu-gil dan apgujeong terlalu mahal. Aku tidak tahu tempat belanja lain, apa kau tahu tempat belanja yang nyaman, murah, aman, ber-AC, tidak terlalu ramai, dan tidak bau?”

“Mana ada tempat seperti itu.” Kai menggeleng-geleng sambil menggaruk-garuk kepalanya. “Tapi Dongdaemun lumayan juga. Ah, mattda. Seingatku kau tidak punya uang. Hwang Ji aneh..”

“Semalam aku tidak punya uang. Tapi sekarang aku punya. Ayo, kita pergi.”

Sehabis belanja di Dongdaemun, Kai membawa Jiyeon ke Cheonggyecheon stream. Jiyeon hanya terkagum-kagum saat memandangi situasi di sekelilingnya.

“Kau tidak pernah kemari sebelumnya?” tanya Kai yang melihat ekspresi di wajah Jiyeon.

“Haha..Tidak. Orangtuaku…” perkataan Jiyeon kemudian terhenti.

“..orangtuamu?”

“Ah, tidak. Lupakan saja. Tempat ini benar-benar bagus..”Jiyeon tersenyum pada Kai sambil kemudian kembali melihat-lihat sekeliling.

Dada Kai berdesir. Ia merasakan sesuatu melewati jantung, paru-paru dan perutnya, tapi ia tak tahu apa. Sebuah perasaan aneh saat gadis itu tadi tersenyum padanya. Tidak. Ia boleh jatuh cinta dengan siapa saja tapi tidak gadis ini. Tidak gadis ini.

“Hei..” Jiyeon melambaikan tangannya di depan Kai yang tampak termenung. “Apa yang kau pikirkan?”

Kai mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya membuang muka. “Tidak ada.”

Sudah hari kelima Jiyeon menginap di rumah Kai, dan semakin hari gadis itu tampak semakin betah. Ia sempat bertanya-tanya kenapa tak ada bodyguard yang menemukannya namun ia tak peduli. Ia pikir ayahnya mungkin memberikannya sedikit kebebasan.

“Pagi, halmeoni!” Jiyeon yang bangun cukup pagi hari itu menghampiri nenek Kai yang sedang memasak sarapan di dapur.

“Pagi, Ji-ya. Tumben kau bangun sepagi ini.”

“Hehe..”Jiyeon tertawa sambil menggaruk-garuk kepalanya. “Halmeoni masak apa?”

“Budae jjigae, favorit Jongin.” Jawab Halmeoni. “Sudah hampir matang. Tolong bangunkan Jongin, katakan padanya hari ini halmeoni memasak budae jjigae.”

“Eh? Ne, halmeoni!”

Jiyeon kemudian berjalan menuju kamar Kai dan mengetuk pintunya berulang kali, namun tak ada jawaban.

“Kai.. Kai! Ya, Jongin! Jongin!” Jiyeon mengetuk pintu dengan tak sabaran.

“Aku disini, Hwang Ji.” Tiba-tiba terdengar suara dari balik Jiyeon yang membuatnya langsung menoleh.

“Omona!” Jiyeon terperanjat mendapati Kai dibelakangnya sedang mengeringkan rambut, sepertinya ia baru selesai mandi. Lebih tepatnya ia memang baru selesai mandi karena ia hanya memakai boxer tanpa atasan.

Wajah Jiyeon seketika memerah. Ia menutup mukanya sambil berusaha berjalan menjauhi Kai. “Itu.. Budae jjigae-nya..sudah hampir selesai.” Dan gadis itupun langsung berlari kembali ke dapur.

@Cheongwadae

“Bagaimana keadaan anakku?” ayah Jiyeon bertanya pada seseorang di seberang telepon.

“Dia baik-baik saja, kami sudah mengetahui dimana keberadaannya dan kami hanya menunggu perintah untuk membawanya pulang.”

“Ah, tidak..tidak.. Biarkan saja dia dulu. Biarkan dia merasakan kebebasan yang dia inginkan, asalkan dia jangan sampai tahu kalian mengawasinya.”

“Ne, algesseumnida.”

“Wah, kau punya banyak sekali pekerjaan ternyata.” Kata Jiyeon saat ia dan Kai baru keluar dari sebuah rumah mewah tempat Kai mengajarkan les privat matematika pada seorang siswi SD.

“Mau bagaimana lagi, tidak ada pekerjaan yang benar-benar cocok untuk kujadikan pekerjaan utama. Ah iya, aku baru mendapat gaji.” Kai memamerkan sebuah amplop yang tadi diberikan oleh orangtua si murid lesnya.

“Lalu?” tanya Jiyeon sinis sambil memutar bola matanya.

“Kau tidak ingin pergi ke suatu tempat? Aku akan meminjamkan duitku padamu.”

“Jinjja?!” Jiyeon memekik kaget. “Kau benar-benar akan meninjamiku uang?”

Kai mengangguk. “Tapi kalau kau tidak mau tidak apa-apa. Kau masih punya sedikit uang kan dari sisa belanjamu kemarin?”

“Ani, ani.. aku tidak punya sisa apa-apa!” kata Jiyeon, mencoba terdengar meyakinkan.

“Baiklah, baiklah. Kau mau.. menonton musikal?”

Jiyeon tak bisa berhenti tersenyum walaupun sekarang mereka sudah keluar dari gedung pertunjukan cooking nanta, salah satu musikal terbaik di Korea Selatan. Ia sebenarnya pernah ke tempat itu bersama teman-temannya dulu, sebelum ayahnya terpilih menjadi wakil presiden. Tapi entah kenapa yang kali ini terasa berbeda.

“Kau kenapa?”

Jiyeon melayangkan tatapan sinis pada Kai yang mengusik kebahagiaannya. “Wae? Aku tidak boleh senyum?”

Kai terkekeh. “Kau makin lama makin aneh, dasar Hwang Ji.”

Jiyeon kemudian mendengus, dan tersenyum lagi. Ia juga tidak tahu kenapa ia bisa sesenang itu. Ia kemudian melangkahkan kakinya di zebra cross untuk menyeberanginya, dan tanpa sepengetahuannya lampu pejalan kaki tak lagi berwarna hijau.

“Hwang Ji, awas!” Kai menarik Jiyeon tepat sebelum sebuah mobil berkecepatan tinggi menabrak Jiyeon.

Jiyeon hanya bisa terdiam saat Kai menariknya sehingga mereka dalam posisi berpelukan. Ia dapat merasakan jantungnya sendiri—dan juga jantung Kai—berpacu kencang.

“Ah, maaf.” Kai melepaskan pelukannya, dan kemudian mengubah ekspresinya. Ia tampak sedikit marah. “Kau! Kenapa kau tidak hati-hati? Kau bahkan tidak melihat apa warna lampunya sekarang. Kalau kau tadi tertabrak, bagaimana?”

“Kenapa kau jadi marah?” Jiyeon yang tak terima dengan kemarahan Kai memprotes. “Kenyataannya kan aku tidak tertabrak. Lalu kenapa kau harus marah?”

“Karena aku tidak ingin kau terluka, Hwang Ji!”

Semenjak kejadian itu, Kai menjadi super protektif pada Jiyeon. Dan Jiyeon tentu saja menyadarinya, namun Jiyeon tak berani mengatakan apapun. Ia tak ingin Kai marah padanya, karena jika dalam sehari mereka tidak cekcok sudah menjadi sebuah keajaiban. Dan Jiyeon tak ingin mencari alasan baru untuk bertengkar dengan Kai. Jiyeon memang tidak suka dilindungi dan dikekang tapi jika itu berhubungan dengan Kai,Jiyeon tak merasa keberatan sama sekali.

Sore itu mereka menyempatkan diri ke Hangang Park. Jiyeon bersikeras ingin melihat sunset dan Kai mau tak mau mengikutinya.

Mereka sedang duduk-duduk saat tiba-tiba sepasang suami istri yang sedang membaca koran datang menghampiri Jiyeon dan memandangi Jiyeon lekat-lekat.

“Ada yang salah?” Jiyeon bertanya pada Kai sambil memandangi dirinya sendiri.

Kai ikut memperhatikan Jiyeon, kemudian menggeleng.

“Park Jiyeon. Apa kau Park Jiyeon?”

Jiyeon terhenyak. Pasti ada berita lengkap dengan fotonya di Koran itu.

“Bukan. Aku..Hwang Ji.” Jiyeon berdiri sambil menarik Kai yang memandanginya bingung, memaksanya ikut berdiri.

“Ah, tidak mungkin. Ini benar-benar mirip denganmu! Kau putri wakil presiden, kan?”

What?” Kai mengerutkan keningnya heran. Ia baru saja ingin mengambil Koran yang dibaca suami istri itu namun Jiyeon keburu menariknya dan membawanya berlari secepat mungkin.

“Hei, hei tunggu!” Kai menghentikan larinya dan juga lari Jiyeon saat mereka sudah tiba di sebuah tempat yang jauh dari kerumunan. “Bisa kau jelaskan padaku, apa maksud semua ini?”

Jiyeon mengatur nafasnya sambil menggigit bibir bawahnya. “Aku sudah menyangka cepat atau lambat akan ketahuan.”

“Apa? Jangan katakan… Kau benar-benar anak wakil presiden?!”

Jiyeon terdiam. Kalau ia berbohongpun suatu saat semua akan terbongkar.

“Kau membohongiku.” Desis Kai sambil menggeleng-geleng.

“Ya, memang. Kau tahu aku tak bisa menyangkal lagi.” Kata Jiyeon, terdengar sedikit menyesal. Ia memandangi wajah Kai yang tampak berekspresi ambigu.

“Kenapa kau harus berbohong? Selama ini kau bilang..”

“..aku memang salah. Aku berbohong padamu.Tapi apa itu merubah keadaan?” tanya Jiyeon ragu-ragu.

Ia sudah cukup bahagia bisa mengenal Kai yang membuatnya bisa merasakan kebebasan, dan juga berteman dengannya tanpa tahu identitasnya yang sebenarnya. Ia tak mau Kai berubah setelah tahu kenyataan bahwa Jiyeon adalah Park Jiyeon, bukan Hwang Ji atau siapalah namanya itu.

“Keadaan apa?” tanya Kai bingung. Ia tak mengerti ‘keadaan’ macam apa yang dimaksud Jiyeon.

“Keadaan..” Jiyeon terlihat menimbang sejenak sebelum melanjutkan perkataannya. “..kita?”

TBC

44 thoughts on “[Twoshots] When Liar Meets Liar (Part 1)

Leave a Reply to sondankh simamora Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s