[FF Freelance] Where is My Man? (Part 9)

where is my man

Title            : WHERE IS MY MAN? PART 9

Writer                   : Endor Yochi

Main Cast    : Park Jiyeon (T-ara), Kim Myungsoo a.k.a ‘L’ (Infinite), Yang Yoseob (B2ST), Choi Minho (SHINee)

Other Casts : Lee Jieun a.k.a IU, SEO JOO-HYUN a.k.a SEOHYUN (SNSD), Bae Suzy (Miss A), Park Sanghyun a.k.a Thunder Cheondung (MBLAQ), Lee Gikwang (B2ST), Jung Ilhoon (BTOB), Lee Sungjong (Infinite), Lee Chanhee a.k.a Chunji (Boyfriend)

Genre           : Romance, Comedy ( a little bit ), aneh, gaje, dsb

Length                   : Chaptered

Rating                   : Untuk part ini masih PG-17 aja deh 😀

Previous part: Part 1, Part 2, Part 3, Part 4 , Part 5, Part 6 , Part 7, Part 8

Cerita sebelumnya..

“Geurae, semakin lengkap anggota kalian, maka akan semakin baik. Ringkus mereka!” seru Chansung pula memulai peperangan (?). Maka perkelahian antara 4 banding 10 itu pun tak terelakkan lagi. Tepat pada saat itu, tampak Yoseob kebetulan sekali karena sudah diatur oleh authornya melewati tempat itu juga. Ia terkejut ketika melihat ada perkelahian antar pelajar di sana. Apalagi ia tahu kalau the Strangers lah yang terlibat dalam perkelahian itu. Namun tiba-tiba saja namja itu tertegun. Kedua matanya mendadak memerah #wah jadi inget naruto yang mau berubah jadi kyuubi, kekeke~*. Kedua tangan namja itu mengepal keras. Rupanya ia melihat seseorang yang sangat ingin ditemuinya itu berada di sana juga. Hwang Chansung! Maka tanpa menunggu aba-aba dari author lagi, namja itu langsung terjun ke medan tempur, dan lebih tepatnya menghampiri tempat Chansung berada!

***

 

PART 9

_Author POV_

 

BUKK!!

Yoseob langsung melayangkan bogemnya ke muka Chansung sehingga namja itu terhuyung-huyung dan mulutnya seketika mengeluarkan darah. Ia marah sekali menyadarinya.

“Yaa!! Berani sekali kau memukulku?” bentaknya.

Myungsoo yang kebetulan melihatnya pun turut heran juga. Sedang apa namja itu di sini? Pikirnya. Yoseob tak menjawab ucapan Chansung. Napasnya terlihat naik turun karena menahan gejolak amarahnya. Chansung yang keheranan karena tidak tahu menahu alasan Yoseob memukulnya itu mengerutkan kening. Sepertinya ia mulai mengingat namja yang kini berada di depannya itu.

“Oh, bukankah kau yang waktu di pekan raya itu? Rupanya kau benar-benar penasaran ingin mencoba pukulanku ya?” katanya setengah mengejek.

“Kau pembunuh.” Ucap Yoseob pelan.

“Mwo?”

“Kau sudah membunuh anak kecil yang tidak berdosa.”

Chansung tertohok mendengarnya. Ia tidak menyangka kalau Yoseob tahu akan perbuatannya waktu itu.

“D-darimana k-kau tahu?” ucapnya gugup.

“KAU SUDAH MEMBUNUH ANAK KECIL YANG TIDAK BERDOSA!! KAU SEORANG PEMBUNUH!! DAN SEKARANG AKU AKAN MEMBUNUHMU!!” teriak Yoseob tiba-tiba. Myungsoo yang mendengar teriakan Yoseob itu terkejut. Ia mulai tahu kalau pelaku tabrak lari yang menghilangkan nyawa Hyungsuk itu adalah Chansung. Yoseob yang sudah gelap mata itu langsung kembali menyerang Chansung. Namun bukan Chansung namanya kalau ia tidak melawan. Kedua namja itu bertarung dan berusaha memukul lawan masing-masing. Sementara Myungsoo dan anggota the Strangers yang lain pun masih melawan musuh mereka sendiri. Perkelahian kali ini tidak sesulit perkelahian sebelumnya. Para pelajar dari SMA Hannyoung itu banyak yang bonyok dan beberapa dari mereka sudah kabur meninggalkan tempat itu. Hingga yang tersisa hanya Chansung saja yang masih bertahan bertarung melawan Yoseob. Rupanya namja itu agak sulit dikalahkan. Tidak jarang Yoseob mendapatkan pukulan dari Chansung. Akan tetapi sehebat-hebatnya Chansung, ia masih tetap bisa diatasi oleh Yoseob yang sudah benar-benar gelap mata itu. Dalam hitungan menit saja Yoseob sudah berhasil membuat Chansung tergeletak dengan wajah lebam menyeramkan.

“A-ampuun.. Ak-aku menyerahh..” ucap Chansung terbata-bata.

Yoseob mencengkeram kerah baju Chansung dan menariknya berdiri dengan kasar.

“Kau adalah seorang pembunuh. Dan hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa.” Sahut Yoseob dingin. Ia pun sudah siap melayangkan pukulan terakhirnya pada Chansung yang sudah tak berdaya itu. Myungsoo terkejut melihatnya. Namun belum sempat ia mencegahnya, tiba-tiba seseorang datang berlari sambil berteriak.

Andwae!!”

Yoseob mengurungkan pukulannya dan menoleh. Ia terkejut ketika mendapati Jieun tengah berlari menghampirinya.

“J-Jieun-ah?” katanya.

“Jangan lakukan itu. Jebal..” kata Jieun memohon.

“Yaa, tapi dia orang yang sudah menabrak Hyungsuk. Dia sudah membunuh Hyungsuk!”

“Andwae! Jangan lakukan! Kalau kau melakukannya, maka kau tidak ada bedanya dengan dia. Kau juga akan menjadi seorang pembunuh. Aku tidak ingin kau menjadi seorang pembunuh..” kata Jieun lagi. Air matanya mulai mengalir. Yoseob tertegun sejenak mendengarnya. Dadanya masih naik turun. Namun perlahan-lahan ia pun melepaskan cengkeramannya sehingga membuat tubuh Chansung jatuh ke tanah. Yoseob menunduk. Ia sadar kalau hampir saja ia mejadi seorang pembunuh. Tiba-tiba Jieun memeluknya. Yoseob terkejut sekali dibuatnya.

“Jieun-ah..”

“Gomawo.. Jeongmal gomawoyo..” ucap Jieun masih memeluk Yoseob sambil terisak. Yoseob pun membalas pelukannya dan mengelus-ngelus rambutnya. Sementara Myungsoo hanya menarik napas panjang melihatnya. Dalam hati ia merasa lega karena Yoseob tidak jadi membunuh Chansung seperti yang dikatakan sebelumnya tadi.

“Kajja.” Kata Myungsoo kemudian pada ketiga temannya. Maka keempat namja alias the Strangers itu pun beranjak pergi meninggalkan Yoseob dan Jieun.

***

 

Jiyeon yang baru pulang dan hendak masuk ke dalam rumah itu menghentikan langkahnya sejenak. Tanpa sengaja, telinganya yang tajam itu mendengar suara percakapan umma dan appanya di dalam. Maka yeoja itu pun bermaksud menguping.

“..mau sampai kapan lagi kita akan merahasiakan ini dari Jiyeon? Umma rasa kita harus secepatnya memberitahu dia.” Terdengar suara Yoojin umma berkata. Jiyeon langsung mendapat firasat kurang baik.

“Baiklah, lalu apa yang hendak kita rencanakan?” tanya Appa pula.

“Besok kita undang Yoseob dan kedua orangtuanya makan malam di rumah kita, sekaligus kita membicarakan soal perjodohan itu.”

“Geuraesseo. Terserah bagaimana baiknya saja. Appa hanya menurut.”

Jiyeon mendadak lemas mendengarnya. Dia bingung tak tahu harus berbuat apa kalau sampai mereka membicarakan soal perjodohan itu. Jiyeon tak mungkin berterus terang menolak perjodohan mereka karena ia tahu keluarga Yang sangat baik terhadap keluarganya. Yeoja itu mendesah berkali-kali. Pikirannya sudah buntu tak bisa memikirkan apa-apa lagi. Maka yeoja itu pun urung masuk ke dalam rumah, melainkan kembali keluar menuju jalan.

“Eottokhe? Apa yang akan kukatakan pada mereka besok? Apa aku harus terus terang kalau aku tidak menyetujui perjodohan ini? Ck.. Kenapa jadi seperti ini? Haish! Stress..” keluhnya sambil menepuk-nepuk jidatnya sendiri.

“Kurang keras.” Celetuk seseorang tiba-tiba.

Jiyeon terkejut dan menoleh. Lagi-lagi Myungsoo sudah berada di hadapannya.

“Yaa, kenapa akhir-akhir ini kau selalu saja mengikutiku?”tegurnya keheranan. Myungsoo hanya tersenyum kecil, lalu mendekati Jiyeon.

“Aku hanya ingin mengembalikan ini.” katanya sambil menyerahkan sebuah buku pada Jiyeon. Jiyeon tertegun melihatnya tanpa menyentuh buku tersebut.

“Wae?” tanya Myungsoo.

“Ini bukan milikku.” Kata Jiyeon kemudian.

“Jinjja? Aish! Kalau begitu aku salah mengerti. Kukira ini milikmu karena tadi buku ini tergeletak tepat berada di kakimu.”

Jiyeon mengangguk-angguk. Sedangkan Myungsoo tersenyum geli. Namja itu rupanya hanya bersandiwara saja. Buku itu sebenarnya adalah milik Ilhoon yang tadi dipinjamnya. Ia sengaja mencari alasan agar bisa bertemu dengan Jiyeon. Aish! Dasar namja yang sedang kasmaran, pikir author (?).

“Geureom, aku pergi.” Kata Jiyeon sambil melangkahkan kakinya.

“Yaa, bukankah rumahmu di sana? Kenapa kau malah berbalik arah?” tanya Myungsoo heran. ia pun berjalan menjajari langkah Jiyeon.

“Aku sedang malas pulang.” Sahut Jiyeon tanpa menoleh.

“Waeyo?”

“Apa aku harus memberitahumu?”

“Setidaknya jangan membuatku penasaran. Aku hanya ingin tahu saja.”

Jiyeon berhenti melangkah, lalu menatap ke arah Myungsoo yang berada di sampingnya itu. jiyeon agak terkejut ketika menyadari wajah tampan namja itu sedikit lebam.

“Wae?” tanya Myungsoo heran ditatap seperti itu.

“Apa kau baru saja berkelahi?” Jiyeon malah balik bertanya.

“Uh, ne..” sahut Myungsoo pendek.

“Kemarilah.” Kata Jiyeon sambil menarik tangan Myungsoo dan mengajaknya duduk di pinggir trotoar.

“Mwohae?” tanya Myungsoo keheranan. Jiyeon tak menjawab melainkan sibuk mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah kotak p3k. Myungsoo membelalak melihatnya.

“Kau membawa kotak P3K ke sekolah?” tanyanya sedikit geli.

“Wae? Aku memang selalu membawanya setiap hari. Untuk berjaga-jaga.” Sahut Jiyeon cuek.

Myungsoo tertawa geli mendengarnya.

“Kau yakin? Jangan-jangan itu kotak P3K yang ada di UKS. Kau membawanya tanpa ijin ya?” kata Myungsoo mencoba menggoda.

“Yaa!! Enak saja! Kau pikir aku ini pencuri? Sudahlah kau diam saja. Akan kuobati lukamu itu.”

Myungsoo tak menjawab lagi. Ia membiarkan Jiyeon membersihkan luka di wajahnya dan mengobatinya. Diam-diam namja itu tersenyum senang melihat Jiyeon yang begitu perhatian terhadapnya.

“Kenapa kau tersenyum?” tanya Jiyeon heran.

“Kurasa kau ini tidak terlalu jelek.” Kata Myungsoo membuat Jiyeon melongo.

“Museun mariya?” tanya Jiyeon pula.

“Yeppeo..”

CEGLUKK!! Jiyeon mendadak tersedak mendengarnya. Wajahnya langsung memerah. Dadanya yang sudah sejak tadi berdebar-debar kini semakin tak beraturan. Ia jadi salah tingkah. Myungsoo semakin suka melihatnya seperti itu.

“Kenapa mukamu memerah?” tanya Myungsoo berniat menggoda.

“M.. Mwo?”

“Kau malu ya?”

Jiyeon semakin tak tahan dibuatnya. Tapi ia tetap bersikap sewajar mungkin walaupun sebenarnya kelihatan sekali kalau ia benar-benar malu.

“Mwoya? Mukaku memerah karena sinar matahari. Aku memang seperti ini.” sahutnya tanpa berani menatap mata Myungsoo sedikitpun. Myungsoo hanya tersenyum kecil melihatnya. Ia masih terus saja menatap Jiyeon.

“Yaa, berhentilah menatapku seperti itu. Kau menatapku seolah ingin memakanku bulat-bulat saja. Kalau kau masih begitu, aku tidak mau mengobatimu lagi.” Ancam Jiyeon pula.

“Arasseo.. Arasseo.. Aku akan memejamkan mataku.” Myungsoo pun mengalah dan memejamkan kedua matanya. Jiyeon tersenyum geli melihatnya. Namun kini malah giliran dia yang memandangi wajah Myungsoo yang kini memejamkan matanya itu. Jantungnya berdebar-debar. Ia sangat suka sekali memandangi wajah Myungsoo sedekat itu. Begitu tampan tanpa cacat sedikitpun kecuali luka memar itu. Diam-diam Jiyeon tersenyum sendiri dibuatnya.

“Yaa, apa sekarang kau sedang memandangi wajahku?” tegur Myungsoo tanpa membuka matanya. Jiyeon tersentak mendengarnya.

“Ahh anii anii.. Jangan konyol!” elak Jiyeon pula, lalu kembali berkonsentrasi mengobati luka Myungsoo. Myungsoo tersenyum geli mendengarnya. Namja itu yakin kalau Jiyeon baru saja memandangi wajahnya. Di saat mereka sedang asyik berobat dan mengobati (?), tiba-tiba sebuah mobil melintas di depan mereka. Jiyeon tertegun sejenak. Itu adalah mobil milik Sanghyun. Jiyeon tahu, pasti Sanghyun melihatnya bersama Myungsoo dan pasti oppanya itu semakin benci serta kecewa padanya. Jiyeon mendesah dibuatnya. Hatinya kembali galau.

“Apa oppamu masih marah padamu?” tanya Myungsoo tiba-tiba.

Jiyeon hanya mengangguk saja.

“Arasseo.. Dia seperti itu pasti karena dia pikir kau menyukai namja yang salah. Walau bagaimanapun juga aku ini bekas musuhnya dan hanya seorang namja berandalan di matanya.”

“Anii.. Bukan karena itu..”

Myungsoo tertegun mendengarnya.

“Museun mariya?” tanyanya heran.

“Mungkin itu juga menjadi salah satu alasannya. Tapi selain itu ada alasan yang lebih besar lagi.”

“Mwonde?”

Jiyeon tak segera menjawab. Ia menarik napas sepenuh dadanya. Sedangkan Myungsoo masih sabar menunggu jawabannya.

“Aku.. Sudah dijodohkan..” kata Jiyeon kemudian.

“MWO??”

***

 

“Oseo ose~kau?” lagi-lagi Jieun tak melanjutkan ucapannya ketika melihat pelanggan yang datang itu adalah Yoseob. Akan tetapi kali ini namja itu datang sendiri. Ia tersenyum dan melambai pada Jieun.

“Annyeong.” Katanya. Jieun tertegun sejenak, tapi tanpa disangka-sangka ia pun membalas senyum Yoseob. Yoseob tertegun pula melihatnya. Ia sedikit terkejut karena kali ini Jieun bersikap ramah padanya, berbeda sekali dengan hari-hari sebelumnya.

“Kau ingin makan ramyeon? Duduklah, aku akan membuatnya dengan cepat.” Ucap Jieun pula.

“Uh, anii. Aku tidak ingin makan.” Kata Yoseob kemudian.

“Museun mariya?”

“Aku kemari untuk membantumu membuat mie ramen.”

“Mwo?”

Yoseob hanya tersenyum tanpa menjawab, dan langsung berjalan masuk ke dalam dapur. Jieun terbengong-bengong melihatnya. Namun mau tak mau ia pun berjalan menyusul Yoseob masuk. Ia melihat namja itu memakai celemek dan langsung meraih peralatan dapur.

“Yaa, mwohaeyo?” kata Jieun.

“Mulai sekarang aku menjadi karyawan tetap di sini. Aku akan menjadi karyawanmu, Sajangnim.” Sahut namja itu sambil tersenyum dan mengerling nakal ke arah Jieun. Jieun menelan ludah melihatnya.

“Yaa, siapa yang mengijinkanmu kerja di sini? Aku tidak membutuhkan karyawan. Aku bisa mengerjakannya sendiri. Lagipula ini hanya kedai ramen kecil. Kau minta digaji berapa?” Katanya pula.

“Tidak digaji pun tidak masalah. Aku hanya berniat membantu.” Ucap Yoseob sambil terus menyelesaikan pekerjaan Jieun membuat mie ramen. Jieun terdiam melihatnya. Dalam hati ia senang karena namja itu benar-benar baik dan selalu bersikap ramah padanya.

“Keunde.. Apa kau bisa membuat ramen?” tanya Jieun ragu.

“Jangan meremehkanku. Sewaktu masih di Amerika, pekerjaan paruh waktuku menjadi seorang koki di restoran mahal.”

“Jinjja?”

“Kau tidak percaya? Tunggulah aku selesai memasak ramen ini dan cicipilah hasilnya. Pasti akan lebih enak dibandingkan buatanmu.”

Jieun mencibir mendengarnya. Namun mau tak mau ia tersenyum juga melihat kelihaian tangan Yoseob mengiris-ngiris bahan-bahan dapurnya.

“Yaa, kenapa kau tidak keluar menyambut pelanggan?” tegur Yoseob karena melihat Jieun masih bertengger saja di tempatnya.

“Uh, ne.. Yaa!! Kenapa jadi kau yang menyuruh-nyuruhku? Bukankah kau ini hanya karyawanku?” kata Jieun.

“Nah, itu berarti kau menerimaku bekerja disini?”

Jieun terdiam karena merasa dijebak. Yoseob tertawa geli melihatnya.

“Aish!! Jinjja..” gerutu Jieun pula, lalu langsung keluar dari dapur. Sementara Yoseob masih tersenyum-senyum geli di sana. Entah kenapa hatinya merasa jauh lebih tenang dan senang saat itu.

***

 

Myungsoo baru saja sampai di rumah. ia melihat Minho tertidur di tepi ranjang milik Seohyun yang juga tengah tidur. Myungsoo tersenyum kecil melihatnya. Perlahan ia menepuk bahu Minho sehingga namja itu terbangun.

“Oh, kau sudah pulang?” katanya sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.

Myungsoo hanya mengangguk.

“Mianhae, tadi aku ketiduran. Semalam aku kurang tidur.” Kata Minho lagi sambil berdiri.

“Gwaenchanha. Pulang dan beristirahatlah. Kau sudah seharian menemani Seohyun. Ingatlah dengan kesehatanmu sendiri.” Kata Myungsoo pula.

“Arasseo.. Nanti aku akan kembali membawa ramuan lagi.”

Myungsoo hanya mengangguk saja.

“Wae geurae?” tanya Minho yang merasa aneh dengan sikap Myungsoo itu.

“Mwonde?” Myungsoo balik bertanya.

“Kau tidak seperti biasanya. Apa kau ada masalah?”

“Eobseo.. Gwaenchanha..”

“Kalau kau punya masalah, kau bisa berbagi denganku.”

“Gwaenchanayo. Uh, ne.. Ini milik Ilhoon. Aku meminjamkannya untukmu karena kau membolos hari ini.” kata Myungsoo kemudian sambil menyerahkan sebuah buku catatan pada Minho. Minho tersenyum dan menerimanya.

“Gomapta. Tak kusangka kau perhatian juga padaku.” Katanya.

Myungsoo tertawa kecil mendengarnya. Minho pun menepuk bahunya.

“Aku pergi.” Katanya pula. Myungsoo hanya mengangguk dan membiarkan Minho beranjak pergi meninggalkannya. Myungsoo menarik napas panjang. Ditatapnya wajah Seohyun yang masih tertidur pulas itu. Namja itu tersenyum kecil melihatnya.

“Kau beruntung memiliki seseorang seperti dia.” Gumamnya sambil membetulkan letak selimut yang menutupi tubuh Seohyun. Setelah itu, ia kembali menarik napas panjang. Ia teringat kembali pada Jiyeon. tentang Jiyeon yang ternyata sudah dijodohkan dengan namja lain yang tak lain adalah Yang Yoseob itu.

“Yang Yoseob.. Lagi-lagi namja itu..” gumam Myungsoo pelan.

***

 

Yoseob dan Jieun tampak berjalan beriringan. Keduanya baru saja dari supermarket karena bahan-bahan di toko sudah habis. Sebenarnya Jieun hanya menyuruh Yoseob yang pergi berbelanja. Akan tetapi namja itu bilang kalau ia masih baru di wilayah itu jadi masih belum terlalu tahu tempat-tempat umum. Padahal itu hanya akal-akalannya saja karena ia ingin pergi keluar bersama Jieun. Namja itu tidak tahu kenapa ia seperti itu. ia hanya tahu kalau hatinya merasa nyaman setiap kali bersama Jieun. Sementara Jieun sendiri pun demikian halnya. Walaupun ia kesal karena merasa Yoseob hanya berpura-pura, tapi yeoja itu tidak menolak ketika Yoseob mengajaknya belanja bersama.

“Yaa, biar aku saja yang membawanya.” Kata Yoseob menawarkan diri membawakan barang belanjaan mereka.

“Tidak usah, aku bisa sendiri.” Tolak Jieun.

“Jangan sok hebat. Aku tahu kau merasa berat kan. Kemarikan.” Yoseob pun merebut paksa barang belanjaan itu dari tangan Jieun. Sementara Jieun hanya diam saja walaupun dalam hati ia tersenyum senang.

“Jangan harap karena kau sudah berbaik hati membawakan belanjaanku maka kau akan mendapat gaji besar.” Kata Jieun masih dengan nada ketus.

“Yaa, bukankah aku sudah bilang, aku tidak masalah kalaupun tidak digaji. Aku hanya ingin membantumu saja. Lagipula kenapa sikapmu jadi ketus lagi? Bukankah tadi pagi sudah baik-baik saja? Haish! Kau ini memang mudah berubah-ubah.” Gerutu Yoseob.

Jieun menjadi geli melihatnya.

“Yaa, kenapa kau ini cerewet sekali?” katanya pula.

“Tidak juga. Aku hanya bicara berdasarkan kenyataan.” Sahut Yoseob. Kali ini nadanya yang sengaja dibuat ketus dengan tampang sok ngambek.

Mau tak mau Jieun tersenyum geli juga melihatnya.

“Wae?” tanya Yoseob heran melihat Jieun yang menahan tawa gelinya.

“Berapa sebenarnya usiamu? Kenapa kau ini masih seperti anak kecil begitu?” kata Jieun pula.

“Yaa! Apa yang kau katakan? Aku bahkan lebih tua darimu. Bicaralah sopan terhadapku. Kau bahkan seharusnya memanggilku oppa.” Protes Yoseob.

Jieun tertawa mendengarnya.

“Aish! Kau ini..” kata Yoseob lagi sedikit kesal. Tapi mau tak mau ia senang juga karena baru kali ini ia melihat yeoja itu tertawa di depannya.

“Noona, noona.. Belikan aku eskrim itu!”

Jieun menoleh mendengarnya. Ia melihat seorang anak laki-laki sedang menarik-narik baju milik noonanya sambil merengek-rengek. Jieun tertegun. Ia teringat kembali dengan Hyungsuk. Teringat saat Hyungsuk merengek meminta dibelikan balon dan eskrim. Teringat bagaimana anak itu tertawa dengan tingkah menggemaskannya.

“Noona.. Noona..”

Tanpa terasa air mata yeoja itu jatuh kembali. Hatinya kembali sedih. Yoseob menarik napas melihatnya.

“Uljima..” katanya.

Jieun tak menjawab. Ia mengusap air matanya dan menunduk dalam-dalam.

“Aku tahu kau sedih. Aku sendiri juga sedih. Tapi jangan sampai kesedihanmu itu terus mengekangmu. Aku yakin Hyungsuk sudah bahagia di sana. Dia anak yang baik. Jangan biarkan dia bersedih karena melihatmu terus menangisinya. Berdoalah untuknya. Lagipula bukankah di sini masih ada aku? Anggap saja aku yang menggantikan Hyungsuk. Lihatlah, bukankah aku ini tidak kalah imut dari Hyungsuk?” kata Yoseob lagi sambil menggembungkan kedua pipinya mencoba menghibur Jieun. Mau tak mau Jieun tersenyum juga melihatnya.

“Nah, kalau begitu kan lebih baik. Aku jadi tidak ikut-ikut susah melihatnya.” Kata Yoseob pula sambil tersenyum. Jieun diam saja. Dalam hati ia merasa bersyukur karena di saat seperti itu ternyata ada seseorang yang mau menemani kesedihannya. Yoseob menarik napas. Ia bisa  mengerti bagaimana perasaan Jieun sekarang. Ia bertekad dalam hati akan selalu membuat hari-hari yeoja itu lebih ceria lagi daripada sebelumnya.

“Kenapa.. kau selalu bersikap baik padaku?” tanya Jieun tiba-tiba.

“Uhm, tentu saja. Aku memang selalu bersikap baik kepad~”

Chu~

Yoseob tak melanjutkan kalimatnya karena tiba-tiba saja Jieun mencium pipinya. Namja itu tertegun. Dadanya mendadak bergemuruh tak beraturan.

“Gomawo..” kata Jieun pelan sambil tersenyum. Yoseob masih melongo akibat tindakan Jieun barusan. Sementara Jieun hanya tersenyum saja dengan mukanya yang sudah bersemu merah. Setelah itu tanpa menunggu ucapan Yoseob, yeoja itu langsung mengambil alih barang belanjaan dari tangan Yoseob dan berlari mendahului namja itu. Sedangkan Yoseob masih tertegun di tempatnya. Tanpa sadar ia memegang pipi kanannya yang tadi dicium oleh Jieun. Namja itu merasa dadanya berdebar-debar tak karuan. Igeo mwoya? Aigoo.. Kenapa dia melakukannya? Ohmo.. Jantungku.. Jantungku.. Kenapa berdegup sekeras ini? Aigoo.. Aigoo.. kata Yoseob dalam hati. Beberapa saat kemudian ia pun tersenyum malu dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Setelah itu ia kembali berjalan menyusul Jieun.

***

 

Jiyeon memasuki gerbang sekolah dengan langkah gontai. Rupanya yeoja itu masih memikirkan rencana orangtuanya yang akan mengundang Yoseob dan keluarganya ke rumah nanti malam. Yeoja itu sangat stress dan bingung. Ia benar-benar tak tidur nyenyak semalaman gara-gara hal itu.

“Stubborn girl!”

Jiyeon menoleh mendengarnya. Ia semakin stress ketika dilihatnya Yoseob berlari kecil menghampirinya.

“Oh..” kata yeoja itu seadanya.

“Yaa, kenapa lemas begitu? Apa kau sakit?” tanya Yoseob heran.

“Anii.. Gwaenchanha..”

“Uhm, jeogi.. Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu.” Kata Yoseob kemudian.

“Mwonde?”

“Ini tentang.. perjodohan kita.”

KLONTANG!!

Mendadak kaleng bekas minuman menggelinding mendekati Jiyeon. Yeoja itu terkejut dan menendangnya kembali, lalu kembali memperhatikan Yoseob.

“Kau.. sudah tahu kan soal ini?” tanya Yoseob lagi.

“Uh, ne..”

“Tadi orangtuaku bilang kalau orangtuamu mengundang kami untuk makan malam nanti di rumahmu.”

“Ne..”

“Aku punya firasat kalau pasti mereka akan membahas tentang perjodohan kita..”

KLONTANG!!

Lagi-lagi sebuah kaleng bekas menggelinding mendekati kaki Jiyeon membuat Yoseob mengurungkan perkataannya lagi. Jiyeon jadi penasaran dibuatnya. Maka ia pun berjalan ke arah darimana kaleng itu berasal. Rupanya itu berasal dari luar gerbang sekolah. Yeoja itu terkejut begitu sampai di luar gerbang.

“Kau?” katanya pula. Yoseob yang penasaran pun ikut melihat pula. Ia turut terkejut ketika sampai di luar.

“Oh, Myungsoo sunbae?” katanya.

Myungsoo hanya tersenyum sambil menimang-nimang sebuah kaleng minuman di tangannya.

“Yaa! Mwohaeyo? Apa kau yang melempar kaleng itu?” gertak Jiyeon. Yeoja itu heran sekali melihat kelakuan namja itu.

“Ne.” Sahut Myungsoo pendek, membuat Jiyeon semakin bingung.

“Uh, geureom, aku masuk kelas dulu.” Kata Yoseob tiba-tiba. Setelah itu ia mengangguk dan beranjak pergi. Jiyeon hendak menyusulnya akan tetapi Myungsoo menahan lengannya.

“Wae geurae?” kata Jiyeon heran.

“Ikutlah denganku. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu.” Kata Myungsoo pula. Setelah itu ia melepaskan pegangan tangannya dan berjalan mendahului Jiyeon. Jiyeon yang penasaran pun mau tak mau mengikuti juga di belakangnya. Keduanya berhenti ketika sampai di taman sekolah.

“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Jiyeon pula.

“Aku.. hanya ingin curhat denganmu..” kata Myungsoo tanpa menatap ke arah Jiyeon.

“Mwo? Curhat?” Jiyeon merasa geli mendengarnya. Ia tidak menyangka kalau namja sedingin Myungsoo hendak berbagi cerita dengannya. Sebenarnya yeoja itu ingin tertawa, tapi ia melihat keseriusan dari wajah Myungsoo. Jadi ia pun urung menertawakannya.

“Geurae. Katakanlah. Siapa tahu aku bisa membantu meringankan bebanmu.” Kata Jiyeon kemudian.

“Aku.. sedang jatuh cinta pada seseorang.” Ucap Myungsoo kemudian.

Raut muka Jiyeon mendadak berubah saat mendengarnya.

“M.. mwo?” katanya.

“Aku sangat tersiksa dengan perasaan ini. Setiap saat hidupku tak tenang karena terus memikirkannya. Aku benar-benar ingin mengakhiri ini semua.” Lanjut Myungsoo.

Jiyeon diam saja mendengarnya. Ia menunggu ucapan Myungsoo selanjutnya.

“Aku ingin mengatakan tentang perasaanku padanya, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya.”

“Uhm.. Kenapa tidak kau katakan saja padanya terus terang?” Jiyeon mengucapkan kalimat itu dengan setengah hati.

“Molla. Tapi kurasa dia menyukai namja lain. Makanya aku jadi tidak ada keberanian mengatakan ini padanya. Apa kau punya saran bagus untukku? Aku benar-benar mencintainya dan sangat ingin mengungkapkan perasaanku ini padanya.” tanya Myungsoo lagi.

Jiyeon menelan ludah. Hatinya mendadak merasa sakit mendengarnya. Rupanya namja ini memang tidak memiliki perasaan apa-apa padaku. Dia.. Dia menciumku memang hanya untuk kesenangannya saja.. pikir Jiyeon sedih. Tapi ia mencoba tersenyum.

“Katakan saja padanya. Jangan terus memendam perasaanmu. Itu hanya akan memperburukmu. Lebih baik jika kau mengungkapkannya walaupun kau menerima resiko yang pahit.”

“Tapi apa kau yakin dia akan menerimaku?”

Haish!! Jiyeon benar-benar sudah merasa tidak tahan lagi mendengarnya. Tapi ia tetap berusaha bersikap tenang.

“Yaa, kau bahkan mencobanya saja belum bagaimana mungkin kau bisa tahu responnya?” katanya dengan nada agak keras. Myungsoo tersenyum ketika melihat sikap Jiyeon yang sudah seperti hendak meledak itu.

“Gomawo. Aku akan mencoba saranmu.” Katanya kemudian.

“Geureom, aku pergi..” kata Jiyeon hendak beranjak.

“Jamkkan!!” cegah Myungsoo tiba-tiba. Jiyeon pun terpaksa berhenti melangkah.

Ia melihat Myungsoo mengambil sesuatu dari balik pohon beringin di dekatnya. Benda itu berbentuk kotak berukuran 30×40 cm.

“Mwonde?” tanya Jiyeon heran.

“Apa kau tidak penasaran dan ingin tahu siapa yeoja yang kumaksud itu?” tanya Myungsoo pula.

Jiyeon diam saja. Ia benar-benar merasa sangat-sangat ingin meledak saat itu juga.

“Bukalah, maka kau akan tahu siapa yeoja itu. Dia benar-benar yeoja yang cantik.” Kata Myungsoo lagi.

“Tidak perlu. Aku percaya dia yeoja yang cantik. Jadi aku tidak perlu melihatnya.” Kata Jiyeon pula dengan nada ketus.

“Wae? Kenapa nadamu ketus begitu? Apa jangan-jangan.. kau cemburu?”

“Mwo? Aniyo!! Geurae, aku akan melihatnya.” Jiyeon pun terpaksa menerima kotak yang terbungkus itu dan merobek bungkus tersebut dengan gusar. Beberapa saat kemudian wajahnya yang semula ketus bak ingin memakan orang itu berubah 360 derajat. Ia terbelalak, mulutnya sedikit terbuka karena terkejut dengan apa yang dilihatnya. Itu adalah lukisan wajahnya!

“Igeo.. M-mwoya?” tanyanya terbata-bata.

“Park Jiyeon. itulah nama yeoja yang kucintai.” Kata Myungsoo pula.

Jiyeon tak mampu menjawab lagi. Ia menatap Myungsoo dengan tatapan tidak percaya.

“Ap-apa.. ini nyata?” tanyanya lagi.

“Apa kau ingin dicubit?”

“A-aniyo.. K-keunde.. Naega wae?”

“Nado molla. Tapi hanya kau satu-satunya yeoja yang bisa membuat hatiku bergetar.”

Jiyeon tertegun mendengarnya karena masih belum percaya dengan pendengarannya.

“Tapi.. Kupikir kau tidak memiliki perasaan apapun terhadapku.” Kata Jiyeon lagi.

“Yaa! Kau kira untuk apa aku mau menciummu sampai dua kali? Kau pikir aku namja gampangan? Aku melakukannya karena memang aku menyukaimu.”

Jiyeon tersenyum senang mendengarnya.

“Aku.. aku~” Jiyeon tak mampu lagi melanjutkan kata-katanya.

Myungsoo tersenyum melihatnya dan menarik Jiyeon ke dalam pelukannya.

“Aku tahu kau ingin mengatakan kalau kau juga mencintaiku, kan?” kata Myungsoo pula. Jiyeon hanya mengangguk dalam pelukan Myungsoo.

“Keunde..” kalimat Myungsoo menggantung. Jiyeon heran dan melepaskan pelukannya.

“Waeyo?” tanyanya.

“Bukankah kau sudah dijodohkan dengan Yoseob?” lanjut Myungsoo pula.

Jiyeon tertunduk mendengarnya.

“Ne.. Tapi aku tidak mencintainya..”

“Lalu bagaimana dengannya? Apa kau tahu bagaimana perasaannya terhadapmu? Karena sejauh yang kulihat, sepertinya dia menyukaimu.”

“Anii.. Aku yakin Yoseob oppa tidak memiliki perasaan apa-apa terhadapku. Dia menyukai yeoja lain.”

“Geurae? Nugu?”

“Jieun-ssi. Dia menyukai yeoja itu. Aku yakin sekali.”

“Uh,, arasseo..”

“Sunbae~”

“Jangan panggil aku sunbae. Mulai sekarang kau harus memanggilku oppa. Arrachi?”

Jiyeon tersenyum mendengarnya. Ia mengangguk.

“Gomawo sudah mencintaiku, oppa.” Katanya pula.

“Anii. Aku yang seharusnya berterima kasih, karena kau sudah menerimaku.”

Jiyeon kembali tersenyum. Myungsoo pun tersenyum pula. Perlahan didekatkannya wajahnya ke wajah Jiyeon, lalu mengecup bibir yeoja itu dengan lembut. Jiyeon memejamkan kedua matanya dan membalas ciuman dari Myungsoo. Akhirnya terjadilah the third kiss antara Kim Myungsoo dengan Park Jiyeon #ngiahahaauthorketawaalasetan,readersbertepuktangan ~Bukk!~tepar*. Tanpa mereka sadari keduanya telah diperhatikan oleh seseorang sejak tadi. seseorang itu tak lain dan tak bukan adalah Yoseob. Namja itu tersenyum melihat kejadian itu. Entah karena ini bukan pertama kalinya ia melihat mereka berciuman, atau karena hal lain, namja itu sudah tidak merasakan sakit hati lagi seperti sebelumya. Ia justru ikut merasa bahagia karena melihat Jiyeon telah menemukan kebahagiaannya sendiri. Yoseob semakin yakin dan mantap dengan niatnya untuk menghilangkan perasaannya pada Jiyeon. #udahdehmendingYoppasamaauthoraja*

***

 

 

Malam itu Jiyeon sudah tampak siap di kamarnya. Namun wajahnya terlihat murung. Ia masih memikirkan apa yang hendak dikatakannya pada orangtua Yoseob nanti. Berkali-kali yeoja itu mendesah. Ia benar-benar bingung tingkat mahadewi (?). Hingga beberapa saat kemudian terdengar suara pintu kamarnyya diketuk dari luar.

“Keluarlah, keluarga Yoseob sudah datang.”

Jiyeon tertegun sejenak. Itu suara Sanghyun. Jiyeon bergegas membuka pintu.

“Oppa..” panggil Jiyeon ketika Sanghyun hendak beranjak pergi. Sanghyun pun berbalik menghadap Jiyeon kembali.

“Oppa.. Aku.. Aku~”

“Gwaenchanha.. Aku sudah tahu maksudmu.” Potong Sanghyun tiba-tiba.

“Keunde..”

“Aku tahu kau mencintai Kim Myungsoo, bukan Yoseob. Yoseob sudah menceritakan semuanya padaku. Gwaenchanha.”

“Jadi.. Oppa sudah tidak marah lagi padaku?”

Sanghyun hanya tersenyum dan merapikan rambut depan Jiyeon.

“Anii.. Aku tahu bagaimana perasaan seseorang yang mencintai kekasihnya. Aku pun sama denganmu. Aku juga sangat mencintai yeojachinguku.”

“M..mwo? Yeojachingu? Oppa punya yeojachingu?”

“Yaa, sudahlah tidak perlu dibahas. Kajja kita keluar, katakan pada mereka apa yang ingin kau katakan. Oppa yakin mereka akan mengerti.”

Jiyeon tersenyum dan mengangguk. Setelah itu keduanya pun berjalan beriringan menuju ruang makan. Orangtua Yoseob tersenyum ramah ketika melihat Jiyeon. Yoseob pun tersenyum riang seperti biasanya sambil melambaikan tangannya.

“Annyeong, Stubborn girl!” katanya, membuat kedua orangtuanya mendelik ke arahnya. Tapi Yoseob hanya senyum-senyum saja.

“Kajja, kita langsung mulai saja makan malam kita. Juseyo.” Kata Leeteuk appa begitu semuanya sudah siap di tempat duduk masing-masing.

“Jeogi.. Yoseob-gun, apa sikap Jiyeon baik di kelas?” tanya Yoojin umma mendahului percakapan.

“Uhm, nde. Dia sangat baik, ahjumma. Dia selalu menjawab pertanyaan seonsaengnim dengan tepat.” Kata Yoseob, membuat Jiyeon mendelik ke arahnya.

“Jeongmallyo? Aigoo, kami bahkan tidak tahu kalau Jiyeon ternyata sepandai itu.”

“Animnida, Umma. Yoseob oppa hanya bercanda. Aku tidak sepandai itu. Justru dia yang paling pandai di kelas kami.” Kata Jiyeon membantah.

“Op-oppa? Kau memanggilnya Oppa?” tanya Yoojin umma lagi dengan takjub. Leeteuk appa dan orangtua Yoseob pun menunjukkan ekspresi yang sama pula. Jiyeon jadi serba salah dibuatnya.

“Sepertinya kalian sudah terbiasa menutupi kekurangan masing-masing.” Kata Hyosung umma pula sambil tersenyum.

“Uhm, nde.. Hehe..” Jiyeon hanya cengengesan saja menanggapinya.

“Lalu.. Apa Jiyeon sudah punya namjachingu?” tanya Hyosung umma kembali.

“Glekk! Uhuk-uhuk..” Jiyeon langsung tersedak ketika mendengar pertanyaan itu. Buru-buru ia meminum minumannya.

“Gwaenchana? Jeoseongeyo, kalau pertanyaan tadi membuatmu terkejut.” Kata Hyosung umma merasa bersalah.

“Gwaenchanhayo, ahjumma. Aku memang sudah terbiasa tersedak begini.” Kata Jiyeon.

“Lalu, apa kau belum punya namjachingu?” ulang Hyosung umma lagi.

“Uhm, geuge..” Jiyeon bingung harus menjawab apa. Sanghyun terlihat memberi isyarat padanya agar mengatakan saja yang sejujurnya.

“Eobseumnida, ahjumma.” Kata Jiyeon kemudian.

Yoseob terkejut mendengarnya. Ia menatap ke arah Jiyeon seolah memprotes : ‘Kenapa kau tidak berterus terang, Pabo?’. Tapi Jiyeon tak memperhatikannya.

Orangtua Yoseob tersenyum lega mendengarnya.

“Geureom, bagaimana pendapatmu tentang Yoseob?” giliran Jinwoo appa yang bertanya.

“Nde?” tanya Jiyeon tak mengerti.

“Apa menurutmu dia namja yang cocok untukmu?”

Sekali lagi Jiyeon tersedak. Akan tetapi kali ini tidak separah tadi. Ia melihat ke arah Yoseob. Namja itu tampak menggeleng samar-samar. Namun Jiyeon tak paham apa maksudnya.

“Geuge.. Yoseob oppa namja yang baik dan periang. Aku menyukainya.” Kata Jiyeon pula.

Yoseob kembali mengeluh mendengar jawaban Jiyeon itu. Yeoja ini pabo atau bagaimana sih? Kenapa dia mengatakan sesuatu yang justru menyulitkannya? Pikir Yoseob heran.

“Geureom.. Kami senang sekali mendengarnya..”

“Lalu bagaimana denganmu, Yoseob-gun? Apa kau menyukai Jiyeon?” tanya Leeteuk appa pula.

Yoseob tak segera menjawab. Sementara Jiyeon sudah was-was dengan jawaban yang akan dilontarkan oleh namja itu.

“Nde, ahjussi. Aku juga menyukainya.” Jawab Yoseob pula.

JDERR!! Jiyeon terkejut sekali mendengarnya. Sementara para hadirin (?) yang lain malah tersenyum-senyum, kecuali Sanghyun tentunya.

“Keunde.. Aku menyukainya karena aku sudah menganggapnya seperti dongsaengku sendiri.” Lanjut Yoseob tiba-tiba.

TUUIIING!! KRATAK-KRATAK!! JEBYURRR!!!

Entah suara apa barusan itu akan tetapi wajah sumringah yang semula terpancar dari para orangtua mereka berubah menjadi pancaran keheranan. Begitupun halnya dengan Jiyeon. ia tidak menyangka akan mendengar jawaban seperti itu dari Yoseob.

“Museun mariya?” kata Jinwoo appa setengah membentak.

“Jeoseonghamnida, appa. Tapi aku tidak mencintai Jiyeon. Aku menyukai Jiyeon hanya sebagai seorang dongsaeng, tidak lebih.”

Jinwoo appa merasa murka mendengarnya. Kalau saja Hyosung umma tidak menenangkannya, pasti Yoseob sudah ditamparnya saat itu juga.

“Jadi, maksudmu.. Kau menolak perjodohan ini?” tanya Leeteuk appa ingin memastikan.

“Jeoseonghamnida, ahjussi, ahjumma. Jeongmal jeoseonghamnida.” Kata Yoseob lagi sambil membungkukkan badannya. Setelah itu, tanpa berkata apa-apa lagi ia pun beranjak dari tempat duduknya dan melangkah keluar.

“Yang Yoseob! Gajima!” panggil Jinwoo appa. Tapi Yoseob tak berniat berhenti sama sekali. Jiyeon tercengang melihatnya. Ia bingung apa yang harus dilakukannya saat itu. Suasana saat itu sangat menegangkannya. Ia melihat ke arah Sanghyun. Namja itu tampak mengangguk kepadanya.

“Jeogi.. Tapi Yoseob oppa memang benar. Aku.. Aku juga sudah menganggapnya seperti oppaku sendiri.” Kata Jiyeon kemudian. Sekali lagi, semua terkejut mendengarnya. Mereka bahkan tak ada yang mampu berkata-kata.

“Aku akan menyusul Yoseob oppa dan bicara dengannya..” kata Jiyeon lagi sambil setengah membungkukkan badannya, lalu beranjak keluar pula, meninggalkan beberapa pasang mata yang menatapnya dengan tatapan shock. #everyday i shock, shock, everynight i shock, shock~yeahhnyanyidoeloeyuk!*

***

 

_Author POV end_

To be continued..

 

Annyeong.. Part ini adalah pre final. jadi mian kalo kurang panjang, hehee

Mian juga kalo masih banyak kekurangan di mana-mana. Yang jelas author sudah mencoba sebaik mungkin, kekeke jadi tolong komentarnya doeloe ya readers. Semoga kalian masih setia mengikuti alur ff ini^^

Baiklah sampai di sini dulu perjumpaan kita, dan sampai jumpa di final part berikutnya. Annyeong! 😉

45 thoughts on “[FF Freelance] Where is My Man? (Part 9)

  1. hufttt,,, *tarik nafas* untung yoseob kagak jadi bikin chansung bonyok tak berbentuk bagaikan bubur dan meninggal xD
    aihh, aihhh… tingkah myungsoo bikin geli dan senyam senyum
    ternyata myungsoo pinjem buku ilhoon buat dipinjemin ke minho. . knp gak pinjemin pny dia sendiri? gak nyatet paling mah si myungsoo -,- tak di sangka” ilhoon rajin kekeke
    setelah gregetan akhirnya myungyeon jadian \(^o^)/ gkgkgk
    dan ending part ini diiringi dg backsound Beast – Shock XDD

  2. Yeeeee Myungyeon jadian *loncat-lancat ala f(x) electric shock ^^

    Semogaa perjodohan YoYeon gatot *smirk ala Kyu 😀

  3. yeah dan akhirnya jadian juga 😀 yeaaayyyy haha
    ish gereget banget sama jiyeon. bener tuh kata yoseob dia malah ngejawab pertanyaan yg bakal nyusahin dia._. adooohh tapi untungnya semuanya clear karna yoseob 😀 haha aduh aku ngomong apa ini ya mendingan lanjut baca aja deh 😀 kekeke

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s