Killing The Claustrophobia – Part 4

re-ktc-helmyshin1

Killing The Claustrophobia – Part 4

Black Flash and The First Blood

A Story Written By Psycho Addict (@psychoaddiction)

Main Cast: Key SHINee, Jessica Jung SNSD, Choi Minho SHINee, Kim Jonghyun SHINee || Support Cast: OCs, Lee Taemin SHINee Bang Yongguk B.A.P, Daehyun B.A.P || Genre: Gore, Psychology, Angst, Friendship, Suspense || Rating: PG 15 || Lenght: Sekuel

Also post at my personal blog: http://psychoaddictions.wordpress.com/

Killing The Claustrophobia

.

Seharusnya matahari sudah mulai bersinar, menciptakan batang-batang cahaya yang menembus celah dedaunan. Menyibak jendela kamar dan perlahan-lahan menaikkan suhu di bumi, sampai mendidih di tengah hari.

Tetapi, di waktu di mana burung-burung harusnya sudah riang berkicau ini, lapisan kabut tebal masih menyelimuti. Bersama awan abu-abu gelap yang mengguyur bumi dengan air hujannya, tak kunjung berhenti. Memenjarakan cahaya sang penguasa hari, dengan seluruh keangkuhan, tak mengijinkannya memancarkan kehangatan. Lapisan kabut tebal semakin bertambah, mengalirkan hawa dingin nan membuat menggigil. Lapisan kabut tebal itu tak bergeming.

Tak ubahnya bocah lelaki itu yang masih menempelkan punggung di batang pohon, di sebuah bukit di belakang rumahnya berada. Dia masih memeluk kedua lututnya, menahan suhu rendah yang tak ramah, dan rasa takut yang menguasai tubuhnya. Menelan erang kesakitan dan perih ketika air hujan menghantam badan kecilnya, membuat kedua bibir membiru seketika.

Tergugu. Masih begitu.

Tiba-tiba, ada sebuah bayangan yang menghampirinya. Rupanya seorang gadis kecil sebaya, menggenggam gagang payung hitam di tangan kanannya. Payung hitam yang seakan menyatu dengan rambut eboni kepang duanya.

“Key cengeng.”

Ucapan gadis kecil itu sejatinya lirih, tetapi dapat tersampaikan ke gendang telinga, seperti sebuah sambaran petir yang terjadi entah mengapa. Key mendongakkan kepala, menatap perempuan yang berdiri di depannya. Kedua mata kucing Key berkaca-kaca.

“Tindakanmu benar. Kau ingat apa yang aku ucap tempo hari, bukan?” Tanya perempuan itu, seakan sungguh tak terganggu dengan hujan yang semakin deras dan udara bersuhu rendah yang menelusup di antara baju katunnya.

Key meneguk ludah, kalimat yang diucap perempuan itu tempo hari berputar di kepala. Ia pun berkata dengan sedikit keraguan pada awalnya, “Jangan takut. Bunuh saja mereka dan masalahmu akan selesai.” Ucapnya lirih, terngiang bagaimana cara Emily mengucap kalimat itu, pun bagaimana cara kedua ekor matanya menatap dingin.

“Lagipula,” Emily menggantungkan ucapan, menolehkan kepala, menatap rumah megah yang terlihat sepi itu dari kejauhan. Rumah besar dengan api berkobar, yang jago merahnya menyalanya tak mampu dihentikan hujan. Kedua matanya menerawang, “Lagipula jika kau tak membunuh mereka sekarang. Maka engkaulah yang dapat terbunuh secara perlahan.”

Menundukkan kepala, sekelebat ingatan itu kembali memenuhi kepala Key. Ketika dengan tangan bergemetar ia campurkan racun tikus ke dalam makanan orang rumah. Kala Key dengan mata berlinang menatap satu persatu orang di meja makan mengeluarkan busa putih dari mulutnya, tubuh mereka kejang.

Ah, juga saat Key menyadari bahwa seluruh penghuni rumah telah mati di tangannya sendiri. Hingga ia kalut, menebarkan minyak tanah dari gudang bawah ke penjuru rumah, menyulut api lantas lari.

Kini, rumah itu mulai hangus terbakar. Dan hujan tak memiliki cukup kuasa untuk meredam api amarah dan dendam.

“Sekarang, ikutlah denganku. Kami akan membuka lembaran hidupmu yang baru.”

Emily mengulurkan tangannya, dan butuh waktu yang cukup lama untuk Key berpikir dan akhirnya menyambut uluran tangan itu. Menggenggamnya erat.

*

“Persetan atas segala ketakutan konyolmu itu! Cepatlah kemari atau satu nyawa lagi akan melayang!”

Choi Minho belum berhenti memaki, berjalan di lorong sepi, ke kanan dan ke kiri. Sesekali, tatapannya berhenti untuk menerawang ke kamar itu. Dari balik pintu dengan satu bagian berbentuk persegi panjang yang tembus pandang.

Di dalam ruangan itu, dokter dan beberapa suster berseragam putih terlihat cukup kalut. Bekerja dengan cepat untuk memberikan oksigen, memasang infus, memeriksa detak jantung, memberi antiseptik, menahan darah mengucur, sampai melilitkan perban. Semuanya seolah dilakukan bersamaan.

Rahang Minho mengeras, giginya bergemeletuk, “Dia itu saudaramu, hyung! Tak ingatkah kau akan pesan Onew hyung bahwa kita harus melindungi satu sama lain, tak peduli itu benar atau pun salah, hah?!” Minho meremas ponselnya, berbicara dengan Jonghyun tak beguna sama sekali—hanya membuat emosinya semakin tinggi.

Sementara itu, Emily dengan baju polosnya seolah tak mengenal kata jenuh. Masih duduk di salah satu jajaran kursi di depan ruangan tadi. Terlihat punggungnya bungkuk ketika duduk, seperti penderita penyakit tulang. Dan rambut legam lurusnya membuat seorang pun tak dapat melihat wajahnya, tak mampu mengenalinya. Emily diam, sama halnya orang bisu. Seperti tak terusik sedikit pun akan caci-maki yang terlontar dari mulut Minho.

“KEPARAT!” Dan itulah kata terakhir yang Minho teriakkan sebelum membanting ponselnya. Lelaki bertubuh jangkung itu menormalkan napas memburunya. Dia menolehkan kepala—bukan ke arah Emily—dan kedua indra penglihatannya membulat seketika.

“T-Taemin?” Terkejut ketika mendapati lelaki berwajah polos itu telah berdiri tak jauh dari tempatnya, tengah menatap Minho dengan sedikit ketakutan di dalamnya.

Mian, aku dengar Key hyung terkena musibah, jadi aku kemari untuk menjenguk,” jelas Taemin lambat, menolehkan kepala ke pintu ruangan Key sejenak. Lalu melanjutkan, “Lagipula ini sedang libur panjang ‘kan, hyung?”

Melihat Taemin membuat Minho kembali teringat akan Onew, kembali banyang lelaki yang telah mengubah banyak hal dalam hidupnya itu bersarang, selayang pandang beberapa lama.

Hyung?”

“Ah, ne. Terimakasih telah menjenguk Key, Taemin,” ujar Minho lantas menunjukkan senyum mengembangnya. Memasang topeng ramah dan baik hati di depan adik Lee Jinki.

Taemin pun mendekat, menyerahkan sebuah bungkusan plastik putih, “Tadi aku sempat mampir ke toko roti. Berikan ini untuk Key hyung, ne?” nampaknya Taemin belum selesai dengan ucapannya, lelaki dengan hoodie biru tua itu melirik ke balik tubuh Minho, mengernyit.

“Siapa perempuan itu, hyung?”

Tanpa membalikkan badan, Minho dapat dengan mudah mengetahui apa yang ada di dalam kepala Taemin. Si Mata Belo itu kembali menggurat senyum, “Teman sekelasku.”

Mengangguk, Taemin merasa tak perlu lagi bertanya lebih banyak. Karena ia pun tahu, terlalu beragam hal yang tersembunyi di antara teman-teman kakaknya, dan mungkin ia lebih baik tak tahu maupun mencoba mencari tahu.

“Err, aku harus pergi sekarang, ada beberapa hal yang harus kukerjakan. Dan, oh, aku hampir lupa. Sampaikan salamku pada Key hyung bila dia sudah sadar. Annyeong, hyung.”

Tanpa menunggu balasan Minho, segera saja Taemin memutar tubuhnya. Minho diam-diam menghela napas, sesuatu yang sejak kedatangan Taemin ia tahan sampai dada sesak akhirnya perlahan keluar. Saat ini Minho terlampau lelah untuk memakai topeng itu. Untuk terus bertindak seolah tiada apa-apa. Dan Taemin dapat melihat itu dalam secercah bola mata Minho, dalam setiap kata yang diucap paksa.

Dengan tiba-tiba, Taemin menghentikan langkahnya. Memutar kepalanya 90 derajat, “Apa.. Apa kau akan membalaskan dendam Onew hyung?” matanya berlinang kemudian, menyiratkan kesedihan yang terlampau lama ia tahan.

*

Semalaman penuh Han Soora berkutat dengan benda-benda berantakan di sekitarnya. Laptop menyala, berbagai potongan koran dan artikel, kertas-kertas penuh coretan, dan banyak foto orang berbeda yang berceceran di mana-mana.

Seoul – Salah satu putra pemilik pabrik tekstil ternama, Lee Jinki (18) dikabarkan meninggal dunia pada 01/01/2013 akibat kecelakaan tunggal beberapa jam setelah perayaan tahun baru. Tak ada saksi mata dalam kejadian tersebut. Dikarenakan permintaan keluarga, mayat Lee Jinki tidak diotopsi terlebih dahulu dan langsung dimasukkan ke dalam peti mati untuk dikuburkan pada pagi hari.

“Ini aneh.” Tangan Soora bergantian membaca ulang potongan koran.

….Tak ada komentar mengenai kecelakaan ini dari keluarga, teman, maupun kerabat Lee Jinki. Adik semata wayang Jinki, Lee Taemin (16) mengatakan bahwa ia dan seluruh anggota keluarga tak akan mengusut lebih jauh permasalahan ini dikarenakan mereka semua menginginkan Lee Jinki beristirahat dengan tenang.

“Seharusnya tidak seperti ini.” Perempuan itu melipat keningnya, ia taruh sembarang kertas yang tadi ia baca. Lalu mencari artikel lain di antara lembar-lembar kertas yang menindihnya. Soora mengambil kertas dengan random, melesatkan pandangannya ke beberapa paragraf terakhir.

“Untuk itu, kami harap kawan-kawan redaksi tak lagi menggali lebih dalam akan kematian sahabat kami. Duka masih menyelimuti, dan sekali lagi kami mohon supaya kawan-kawan redaksi mengerti,” ucap Kim Kibum (17) salah satu teman dekat Jinki ketika dimintai opini beberapa waktu sebelum pemakaman.

“Ah,” perempuan itu mendesah. Keningnya benar-benar berkerut, dengan mudahnya menampilkan betapa otaknya bekerja keras. Bekerja untuk rasa ingin tahu yang besar, yang meluap-luap.

“Tidak mungkin mereka membiarkannya. Mereka bahkan tak akan dengan mudah membiarkan seseorang yang menyenggolnya pergi begitu saja.” Kali ini telunjuk Soora mengusap-usap dagunya.

Tiba-tiba, ia palingkan wajah ke printer hitam yang telah mencetak sebuah artikel baru. Secepat kilat tangan Soora menyambar kertas itu dan membiarkan printer-nya melaksanakan tugasnya kembali.

Soora menyipitkan matanya. Kertas yang tengah ia genggam memuat isi biografi dan apa saja yang ada pada diri Key. Biografi cukup panjang yang ditulis oleh fans tak resminya di sekolah.

Direbahkan tubuhnya begitu saja di atas lantai, tetapi ada bantal yang menyangga kepala. Kedua bola mata kebiruan Soora bergerak ke kanan dan kiri, membaca cepat. Meninggalkan sejenak laptop yang tengah memuat banyak sekali website berita dan lainnya.

Lantaran satu menit sudah tak disentuh, laptop itu menampilkan sebuah screensaver berupa foto. Foto pertama adalah gambar Lee Jinki, begitu pula dengan foto kedua, ketiga, dan seterusnya. Dan seluruhnya. Tidak. Bukan hanya di sana—laptop itu—melainkan tertempel di mana-mana. Di sampul buku, cangkir, dan dinding. Memenuhi seluruhnya.

“Tt..tunggu. Tidak mungkin.” Kali ini mata Soora membelalak, tangannya cekatan memilah kertas-kertas berantakan di sekitarnya. Entah mengapa kali ini terdapat sebuah peluh yang tertahan di pelipis kanannya.

“Minho.. Jonghyun.. Taemin..”

Dapat!

Ia mendapat kertas yang berisi biografi ketiga orang itu, seolah kesabarannya telah habis untuk tak segera mengetahui apa yang tertulis di sana.

Ia kembali mengusap dagu, “Jadi begini, ya..” mendesis seorang diri. Lantaran setiap larik dalam kertas tersebut telah ia cerna habis.

“Daftar orang yang memungkinkan untuk menjadi tersangka ini..”

Tok. Tok. Tok.

Pensilnya ia ketuk-ketuk di atas lantai.

“Dari belasan orang ini sudah banyak yang aku coret. Tersisa Choi Minho, Kim Kibum, Kim Jonghyun, dan.. No Minwoo.”

Soora menghela napas, malam ini terlalu banyak hal yang terjejal di kepalanya. Membuatnya lelah.

SOORA berhasil menyuap orang-orang Jonghyun dan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada Onew. Soora pun memantau apa yang teman-teman Onew lakukan dan selidiki.

“Baiklah, Lee Jinki sayang, mari kita temukan apa yang sebenarnya terjadi padamu.”

*

Langkah kaki itu cepat, memenuhi lorong-lorang panjang yang cukup ramai. Hampir seluruh orang di sepanjang lorong menatap sembari melipat dahi ke arah lelaki bertubuh atletis itu. Lelaki yang seolah tak sadar bahwa koridor rumah sakit-lah yang tengah dilaluinya, tetapi ia—Kim Jonghyun—tak sedikit pun mengindahkan itu semua. Hanya menganggap sebagai angin lalu belaka.

Brak.

Jonghyun membanting pintu VIP, mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Tetapi tak ada yang didapatinya selain tubuh Key yang terbaring lemah di atas ranjang. Setengah mendengus, Jonghyun kembali menutup pintu tersebut. Membalikkan badan dan menemui Si Jangkung Choi Minho yang entah sejak kapan sudah berada di balik tubuhnya.

Kedua bola mata Jonghyun memerah, seakan disulut api amarah. Sekonyong-konyong lelaki itu mendekati tubuh Minho dan meremas kerahnya kencang, “Berhentilah sok cerdas menyelidiki kasus-kasus ini! Jikalau pembunuh Onew hyung bukanlah Minwoo, dan jika kau sudah menemukan yang sesungguhnya, kau mau apa, hah?!”

Teriakan Jonghyun memenuhi lorong yang—untungnya—tengah sepi, ucap bengis yang menampar kedua pipi Choi Minho. Minho yang menatap Jonghyun dengan bola mata hitam pekatnya yang sedikit berkaca.

Hyung, tak ingatkah kau akan sumpah kita? Kita adalah saudara. Tak peduli benar atau salah, kita harus tetap membela! Dan kau hendak membiarkan keparat yang lancang membunuh Onew hyung berkeliaran di muka bumi ini, hah?!”

Geram. Lelaki yang lahir pada garis tahun 1990 itu kembali meremas kerah Minho. Dia menatap kedua bola mata besar Minho tajam, seolah hendak menembus iris hitam itu dengan pedang.

“Entah pembunuh itu kau bakar, kau keluarkan isi perutnya hidup-hidup, semua itu tak akan menghidupkan Onew hyung lagi. Semua itu tak akan pernah mengembalikan kita seperti semula!” Dan suara berat Jonghyun benar-benar serak kini.

BUG.

Tubuh jangkung Minho menghantam lantai setelah tangan kuat Jonghyun melemparnya begitu saja.

Tiba-tiba, Emily telah berada di dekat tubuh Minho, menatapnya datar. Mengetahui perempuan itu datang, berdiri dengan tatap tanpa ekspresi, Jonghyun tak bereaksi apa-apa, hanya berhadap muka tajam ke perempuan itu.

“Cis. Dan kau tak perlu lagi ikut campur atas urusan kami, Nona.”

Sekonyong-konyong Minho bangkit dan mendaratkan kepalan tangannya di salah satu pipi Jonghyun, membuat keseimbangan tubuh lelaki itu hampir goyah. Minho menghantamkan bogem mentahnya lagi, tetapi Jonghyun tak kunjung ambruk, hanya menyeka darah yang jatuh dari sudut bibirnya.

“Jadi, sekarang kau membela Emily. Si Aneh itu, huh?”

Dengan pandangan gusar, Minho berkata menggunakan nada tinggi, “Kau tahu. Jika saja aku dan Emily terlambat sedikit saja untuk membawa Key kemari, sekarang ia pasti sudah mati, hyung. MATI!”

“Hahahaha!” Jonghyun sedikit mendongakkan kepala, tertawa renyah lantas menghadapkan wajahnya ke arah Minho. Entah apa yang ada di pikiran lelaki itu hingga ia kemudian berbalik badan, melangkah pergi.

“Bila Kim Jonghyun punya keinginan, maka dia akan melakukan segala cara untuk mendapatkannya.” Jonghyun, pemilik tubuh atletis itu berucap dengan santainya. Dan mendadak kembali memutar tubuhnya, seolah melayang di udara ketika kaki kanannya ia julurkan ke depan.

Bug.

Lagi-lagi wajah Minho menjadi sasarannya. Kembali Si Mata Belo itu tersungkur oleh tendangan Jonghyun. Jonghyun yang menarik sudut bibirnya, menyeringai. Namun ketika lelaki itu mulai melangkah pergi lagi, tak disangkanya bahwa jari-jari Minho terlebih dahulu menarik jaket kulitnya.

Sekuat energi yang tersisa, Minho menyudutkan tubuh Jonghyun yang lebih pendek darinya ke dinding. Ia daratkan kepalan tangannya ke perut Jonghyun secara bertubi-tubi, tak membiarkan Jonghyun berkutik, dan tak mau tahu bahwa Jonghyun sengaja tak membalas pukulannya. Sengaja membiarkan Minho sampai puas menghujam ia.

Bug. Bug. Bug.

Childish.

Minho menolehkan kepala. Rupanya sedari tadi Emily masih mengamati tingkah laku mereka berdua. Dan satu kata yang keluar dari mulut Emily itulah yang melerai mereka—Minho dan Jonghyun.

Kim Jonghyun yang tertunduk terkekeh pelan. Kembali mengusap darah yang keluar cukup banyak dari mulut dengan lengannya. Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan bungkusan kertas berwarna biru tua.

“Kebenaran itu memang menyakitkan, Minho-ya. Tetapi kau harus tahu bahwa kebohongan justru membunuh perlahan.” Entah makhluk macam apa yang tengah merasuki Jonghyun, membuat lelaki itu berucap dengan kalimat yang tak tahu pula dari mana asalnya. Jonghyun masih menunduk, tak ingin menatap kedua pupil Minho yang membulat—terkejut.

“Tak ada yang dapat diselesaikan dengan balas dendam. Tindakan itu akan membutakanmu dari kenyataan. Kenyataan bahwasanya pertemanan dan persahabatan itu ada, nyata kebenarannya,” lanjut Jonghyun masih dengan suara parau.

Hening. Minho tak mengerti mengapa emosi yang sedari tadi menguasai perlahan teredam sendiri. Ia terima bungkusan kertas biru tua yang disodorkan Jonghyun kepadanya. Tiba-tiba, Jonghyun yang masih cukup lemah mengangkat tangan kanannya.

Puk.

Jonghyun mengacak rambut hitam Minho, membuat lelaki itu tersentak seketika. Jonghyun membelai rambutnya halus, sungguh dengan kasih sayang seorang kakak kepada adik kandungnya. Ada sesuatu yang merambat dan mengalir cepat di seluruh tubuh Minho, kedua matanya seperti terbuka.

“Baik-baik, ya,” dan itulah pesan terakhir Jonghyun sebelum akhirnya ia meninggalkan Minho yang membeku, berjalan sedikit terhuyung.

*

Denting piano memecah sunyi ruangan, mengeluarkan bebunyian nyaring ketika jari-jari putih itu menekan bilah-bilah piano kekuningannya. Bunyi yang merambat cepat hingga menguasai setiap sudut kamar besar itu. Tempo yang pelan. Pelan sekali. Tapi tidak sungguh indah bila ditilik lebih teliti.

Tubuh anggun Emily tak bergeming walau ia menyadari bahwasanya Lee Joon telah berdiri di balik punggungnya, menelan ludah berkali-kali dan mencari kata yang tepat untuk berbicara. Beberapa frasa saja di antara jutaan huruf yang melayang di kepala.

Jemari Emily masih sibuk dengan piano elegannya.

“Nona.” Lee Joon berucap lirih. Ada kebimbangan dalam dirinya, untuk mengutarakan yang sebenarnya atau menunggu perempuan itu selesai dengan urusannya. Ah, Joon membenci itu, ketika ia berada di antara dua keputusan yang ambigu.

Sedikit membungkukkan badan, pria berjas hitam itu berbisik di telinga kanan Emily. Indra pendengaran yang tersembunyi di balik rambut panjang lurusnya, yang menutupi sebagaian wajah eloknya.

“Sebentar lagi pemakaman akan dimulai, Nona.”

Emily tak sedikit pun memberi balasan. Tak menghentikan permainan, tak pula sedikit pun mengubah tempo dan tinggi-rendahnya bunyi. Seolah Lee Joon tak ada, seolah apa yang baru lelaki itu ucapkan hanya maya. Seolah ia tuli akan frasa.

“Permisi,” ucap Joon kemudian membungkukkan tubuhnya. Sebisa mungkin menjaga perasaan tuannya.

Sejatinya, Emily mendengar suara pintu yang ditutup, yang kembali menguncinya di ruangan penuh hampa. Di ruang tanpa rasa. Dikurung dinding-dinding yang menertawakannya. Tempo dan bunyi dari piano Emily semakin lirih, jari-jarinya pun tak lagi lincah memainkan mata pianonya. Seakan perlahan-lahan ia kehilangan kemampuannya.

Pelan dan lirih. Kini ia memainkan lagu sedih. Ke batas di mana nadanya lenyap ditelan udara.

Appa.” Emily berbisik. Mendongakkan kepala, berniat menahan air mata yang membendung di kelopak matanya. Tetapi satu tetesnya lolos, jatuh dan menelusuri lengkuk wajahnya dari ujung mata.

Emily tersedu dalam bisu, menjerit dalam hingar bingar malam.

*

ANIYO!

Prang.

Tembikar itu menghantam dinding merah tua, pecah dan kepingannya jatuh berserakan di atas ubin bermotif elegan. Yang bahkan tak dapat dibeli jika tak dipesan dari luar negeri. Kertas kosong, penuh coretan, hiasan dinding, foto, semuanya nyaris sempurna membaluri lantai, tersebar di setiap sudutnya. Seperti baru saja dihamburkan dari langit-langtit ruangan.

“ARGH!”

Jessica menarik taplak meja kerjanya dengan paksa, kembali gemuruh barang jatuh yang sungguh tak enak didengar telinga beradu. Berseteru satu persatu. Perempuan itu menjambak ujung rambut panjangnya sendiri, menempelkan tubuhnya di dinding, menyudutkan diri. Kini kamar besar itu benar-benar berbeda dengan setengah jam sebelumnya. Yang semula bersih dan tertata rapi di setiap titiknya, kini kacau balau. Nyaris menyerupai keadaan dek kapal yang dihuyung ombak besar semalaman.

“Tidak mungkin. Tidak mungkin.”

Kepalanya menggeleng cepat. Membohongi dirinya sendiri bahwa semua baik-baik saja. Membohongi diri sendiri bahwa segalanya berjalan seperti biasa. Mengucap kebohongan ibarat mantra. Jessica memang bisa menutup telinga dan mata, namun ia tak kuasa menutup batinnya. Menahan takdir yang telah merenggut ayahnya. Dan Jessica sesegera mungkin menengadahkan kepala ketika didengarnya suara pintu yang dibuka.

Perempuan itu sekonyong-konyong menghampiri Lee Joon yang baru saja memasuki ruangannya, menarik kerah Joon dan menyudutkannya di dinding.

“Katakan kalau ini semua tak benar. Katakan kalau ini semua hanya gurauan. Katakan, Joon. KATAKAN!” Jerit Jessica dengan lengkingannya, memukul-mukul dinding dengan kedua telapak tangannya. Tak peduli apa dapat terjadi dengan tangannya nanti.

Kedua kelereng hitam legam Joon membesar. Mana mungkin ia tak terkejut akan sikap Jessica yang tak terduga?

Joon belum sedikit pun membuka mulutnya. Tetapi Jessica yang mencengkram kerah jas hitamnya beringsut ke bawah dengan air mata yang membasahi wajahnya. Perempuan itu terduduk, dengan dua kaki Joon yang menjadi sandaran kepala. Jessica menggigit bibir bawahnya sendiri, tergugu. Rupa ayunya dipenuhi air mata.

“Realita memang terkadang menyakitkan. Tetapi realita memang realita, dan ilusi tak akan bertahan selamanya,” Joon bergumam, berharap kalimatnya dapat sedikit saja menghibur tuannya. Tetapi ada ketakutan yang masih membalurinya, takut jika saja—seperti biasa—ada kesalahan dalam frasanya. Di satu sisi, ia merasa harus melindungi dan menjaga Jessica.

“Maaf, Nona.” Lelaki itu berujar lembut. Awalnya sungguh ragu dengan tindakannya. Namun, akhirnya Lee Joon turut duduk di sisi Jessica, mengusap punggung perempuan itu. Tuan-nya yang kini bersandar di bahunya.

Jika tidak ditilik lebih cermat, ruangan itu sungguh terdengar senyap. Tiada sedikit pun suara kecuali bunyi udara yang bergesekan dengan daun-daun di luar sana, yang dengan lancang merasuk nan menelusup.

Jessica masih terisak dalam diam. Kedua matanya sembab, otaknya keruh, tak dapat menemukan jalan untuk berpikir dengan kejernihan. Di kepalanya, semuanya gelap. Tak ada cahaya, lentera, maupun pelita.

Sementara itu, jauh di sana. Di sebuah pemakaman yang dipenuhi rahasia, peti mati yang terbuat dari kayu kualitas tinggi itu baru saja dimasukkan ke tanah. Sedikit gerimis membuat segalanya basah. Kolega-kolega dan kawan sejawat menundukkan kepala. Payung-payung hitam bermekaran, alunan sendu samar terdengar.

Di antara puluhan orang berbaju hitam, tak satu pun yang berani menanyakan ke manakah gerangan sepasang saudara kembar keturunan pria itu. Pria yang kini hanya mampu terbaring di dalam peti mati. Yang mengukir gagal jantung sebagai riwayat kematiannya sendiri.

Doa-doa selesai dilantunkan, gundukan tanah dipenuhi bunga kesedihan.

*

Pemecah senyap di ruang serba putih-biru itu hanyalah elektrokardiogram di dekat tempat tidur yang berbunyi hampir di setiap detiknya. Memaparkan kerja jantung Key yang terbaring lemah di atas ranjang. Dengan selang infus yang ditancapkan di punggung tangannya. Pula jarum jam paling panjang yang bergerak seiring dengan bergulirnya waktu. Sudah lewat tengah malam, jam berbisik pada udara.

Sepi. Masih sepi. Seperti tiada kehidupan sama sekali.

Suara embusan napas Minho yang terlelap di sofa terlampau lirih, ditelan mentah udara. Sedang lorong-lorong panjang di rumah sakit itu tak kurang lengang dari masing-masing ruang yang berjajar.

Kedua mata kucingnya yang terpejam bergerak tiba-tiba, seoalah ada sesuatu yang—entah apa—tengah dilihatnya. Alis tebal Key bergerak, mengernyit heran. Tetapi wajahnya beralih sendu kemudian, memancarkan kesedihan. Ibarat bulan yang tertutup awan. Abu-abu yang kelam.

Sedu sedan tangis itu, jeritan itu, suara barang pecah itu, denting piano yang merasuk itu. Semuanya seperti menerobos lancar ke pendengaran Key tiba-tiba, membuatnya cukup bingung untuk memilah salah satunya. Kemudian yang satu ini terdengar paling jelas di antara yang lain. Alunan violin gundah yang dibawa angin, ucap doa-doa yang mengudara. Key bahkan bisa membaui aroma mawar yang menghampiri indra penciumannya.

“Tidak. Jangan pergi. Kumohon..,”

Andwae. Jangan meninggalkan kami sendiri. Jangan. Jangan…,”

Rintihan itu seolah semakin jelas. Tak tahu darimanakah asalnya, ujung mata kucing Key mengeluarkan setitik air, yang kemudian jatuh dan merembes di bantal biru langit itu.

Deg!

Key mendadak terduduk. Kedua matanya mengerjap. Perban putih masih melilit banyak sekali bagian tubuhnya, dia meringis, menahan perih di beberapa titik daging yang terbakar. Key memicikkan ekor matanya, mendapati Minho terlelap di sofa tak jauh dari tempat tidurnya berada. Minho terlihat pulas melepas lelahnya.

Mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan itu. Elektrokardiogram, infus, kapsul-kapsul obat, bau antiseptik. Pada detik berikutnya baru lelaki itu menyadari bahwa ia tengah berada di rumah sakit. Seketika itu pula ada sesuatu yang merambat cepat dan menghantam pikirannya, membuat ia menahan perih lagi.

*

“Kebakaran!”

“Kebakaran!”

Pekikan itu membangunkanku. Aku membuka kelopak mataku dengan teramat berat, apa yang kulihat sungguh masih buram. Dan aku tahu persis apa penyebabnya. Ya. Zat adiktif yang diberikan Jessica-ssi kepadaku tempo hari.

“Kebakaran!”

Lagi-lagi jeritan itu memenuhi lubang telingaku. Aku paksa mengangkat kepalaku dari atas meja. Suhu ruangan semakin memanas, dan sungguh aku melihat api itu menyala-nyala. Seolah bernafsu ingin menjilati seluruh bagian tubuhku.

Sekeras mungkin aku paksa tubuhku untuk bangkit, keluar dari rumahku ini. Tanganku bertumpu pada dinding, dan asap tebal yang sungguh mengganggu kurasa mulai merusak sistem pernapasanku. Benar saja, gumpalan uap berwarna kelam itu berhasil memperkeruh keadaanku. Aku terbatuk.

“Uhuk.. Uhuk..”

Pandanganku terlampau buram, kepala berdenyut kencang, mual, sakit di sekujur tubuh, ditambah api yang mengelilingi, membakar nan meningkatkan suhu badan. Yang kulihat hanya api yang membara. Api. Api. Api. Di mana-mana api. Aku takut api.

Aku merasa tubuhku membeku. Tak dapat berkutik sementara api merah-biru mulai mencoba menjilati badanku. Semua perihal di dalam tubuhku seolah mati rasa, kaku. Api yang membara itu.. Api yang membara itu..

Sekuat tenaga aku mencoba bangkit, keluar dari kamarku hingga..

BRAK!

Aku sama sekali tak ingat betul bagaimana kejadiannya. Terjadi dengan cepat. Terlampau cepat hingga pada detik berikutnya, aku hanya mengetahui bahwa lemari pakaianku ambruk. Dan aku berani bersumpah bahwa ujung lemari itu benar-benar jatuh di atas kakiku.

“ARGH!” Aku mengerang kesakitan. “Bangsat!”

Api semakin membara, aku mengedarkan pandanganku ke segala arah. Tolol. Di mana orang-orang yang berteriak ‘kebakaran’ itu? Cih, apa mereka hanya bisa berucap tanpa bertindak, huh?

Sialnya lagi, sepertinya tak ada yang dapat kugunakan. Aku berniat mengangkat lemari, tetapi itu sungguh mustahil. Kaki kananku yang terjepit kini mengeluarkan darah, mengalir dan merembes di celana panjang yang kukenakan.

“AH!”

Tak berhasil. Meski sudah kucoba untuk menarik kakiku, tetapi itu sia-sia. Tak berguna apa-apa. Dan, oh, lemari pakaian yang menimpa kakiku mulai terbakar. Mungkin beberapa saat lagi akan ada pesta mewah dengan dagingku di sini.

Keringatku sudah mengucur deras. Akan rasa lelah, terlebih lagi suhu udara panas yang tak bertoleransi sedikit saja denganku. Kendati perih masih terasa, aku tetap berusaha menarik kakiku  dari jepitan lemari dan lantai. Kupaksakan itu, dan kurasakan kulitku yang mengelupas. Seperti tengah dikuliti dengan pisau tumpul yang tak pernah diasah. Dan itu menyakitkan.

“To-tolong.. Uhuk..”

Panas. Api. Asap.

Semua itu masih mengitariku.

Aku tidak kuat. Aku lelah. Aku sakit.

Bruk.

Kembali ada rasa perih ketika badanku roboh menghantam lantai yang keras. Saat itu, untuk beberapa saat kupikir segala hal dalam hidupku akan berakhir. Aku akan hangus terbakar bersama semua kenangan, rahasia, dendam, dan kepahitan.

“KEY!”

Samar-samar kudengar namaku diteriakkan. Entah suara itu yang terlalu jauh atau fungsi telingaku yang melemah. Aku tak tahu. Lantaran di mataku hanya ada api, di depanku hanya ada sang jago merah yang tertawa dengan gumpalan asap tebalnya. Seolah menatapku remeh dan memelihara hasrat untuk meludahiku saja.

Minho?

Buram. Tak bisa kulihat dengan jelas. Namun, sepertinya itu Minho. Ya. Itu Minho.

“ASTAGA, KEY!”

Suara berat Minho memekikkan gendang telingaku. Rasa-rasanya aku baru menyadari bahwa lelaki itu memiliki rasa terkejut. Sesaat kemudian, Minho telah berjongkok di sampingku, mendudukkanku. Setidaknya, aku masih dapat melihat bahwa Minho berusaha mengangkat lemar pakaian yang menghimpit kaki kananku.

“Ayo kita angkat sama-sama. Hana, deul, s-set!”

BAK.

Napasku satu-satu. Aku mendapati Minho yang menyeka peluh di pelipisnya. Tanpa banyak kata, lelaki itupun memapahku. Ia menarik tarik tangan kananku di atas pundaknya, membantuku berjalan lantaran satu kakiku—nampak—kehilangan fungsinya.

“K-kau tak apa, Key?” Tanya Minho dengan suara serak. Seperti ada bongkahan kerikil yang tengah mengganjal pita suaranya. Atau mungkin asap kobaran api yang menjadi biang keladinya.

Aniyo,” aku tak yakin apakah aku benar-benar mengucapkan kata itu. Sungguh keparat ketika obat itu tak jua lepas dari tubuhku, masih melekat, semakin erat.

Kemudian kobaran api itu seperti diberi efek blur, panasnya merambat terlampau cepat, hampir mendidihkan otak. Kemudian semuanya menjadi gelap, spektra warna berkelebat cepat. Hijau, ungu, kuning, merah, biru, semuanya laksana cahaya dengan kecepatan tinggi. Cepat. Cepat sekali.

Suara Minho samar meneriakkan namaku. Suhu api yang tinggi mulai terasa makin dingin. Setelah itu, aku tak tahu apa yang terjadi pada diriku. Kecuali gelap dan gelap. Kukira aku sudah mati dan pergi jauh dari bumi.

*

Jessica meremas gagang telepon, giginya bergemeletuk. Suara pria bersuara berat kembali mendarat di telinga Jessica.

“Wah, wah. Jadi kau akan menjadi satu-satunya pewaris Jung Company, ya? Pasti namamu akan melambung tinggi nantinya. Apalagi di usiamu yang masih belia, kau sudah dapat menggantikan posisi ayahmu.”

“Ngomong-ngomong, maaf aku tak datang ke pemakaman ayahmu kemarin sore. Dan kudengar kau pun tak kesana, hm? Belum sanggup menerima kenyataan atau kau terlampau senang, Nona Muda?”

“Diam kau,” balas Jessica singkat. Ada semacam geraman ketika ia mengucapkan kalimat itu. Seperti sebuah amarah yang sekeras mungkin ia tahan. Yang sungguh susah payah ia pendam.

“Mengapa aku harus mengikuti perintahmu untuk diam, Nona? Tanpa ayahmu, kau bukan apa-apa. Tanpa ayahmu, badai akan jauh lebih mudah menerpa.” Pria itu menyesap cerutunya, sedari tadi senyumnya tak berhenti mengembang. Mungkin merasa bangga atas apa yang tengah dicapainya.

“Fufufufu.. Aku tak yakin Jung Company dapat bertahan lebih lama dengan kau sebagai pemimpinnya. Ingat, Nona. Ayahmu mempunyai banyak sekali hal yang tidak mudah kau gapai. Dan dengan begitu, rubah-rubah yang semula sedikit demi sedikit merongrong akan menyerang dari depan.”

Jessica terbahak-bahak, mengusap air yang membasahi sudut mata elangnya. Perempuan itu menatap foto pria yang tengah berbicara dengannya di telepon, foto yang sedari tadi ia genggam.

“Begitu, ya. Apa anda tahu, tuan. Semua orang yang sedikit saja meremehkan keluarga kami, akan mati. Dan sekedar mengingatkan, aku masih muda, tak dapat mengatur hasrat, liar, dan—“ satu tangan perempuan itu memutar-mutar pisau, matanya mengawasi jajaran foto berukuran 4R yang tersebar di mejanya.

Menarik satu sudut bibirnya, Jessica melanjutkan, “Dan pendendam.”

Tuk.

Ia tancapkan puncak pisau tadi ke salah satu foto. Bukan foto pria setengah baya yang tengah berbincang pedas dengannya, melainkan seorang lelaki sebaya dengan tubuh manly-nya.

“Berhati-hati sajalah, Tuan Kim.”

*

“Wiski!”

Kim Jonghyun membentak. Menaruh gelas kacanya di atas meja, jari-jarinya menggenggam kaki seloki itu erat. Daehyun melempar sebuah botol berukuran sedang tak jauh dari tempat Jonghyun berdiri, dan Jonghyun dapat dengan mudahnya menangkap botol itu tanpa meleset sedikit pun.

“Wah, wah. Rupanya kau kuat minum wiski berseloki-seloki tanpa mabuk ya, Kim.” Seorang lelaki kurus kering mengelus tongkat biliarnya, terkekeh ke arah Jonghyun.

“Jangan panggil aku Kim Jonghyun bila minum benda ini saja tak mampu,” balas Jonghyun singkat, menyodok bola kecil berangka 4. Mendorong bola-bola lain di atas meja panjang berlapis kain laken, masuk ke lubang yang sedikit lebih besar dari bola itu di sudut meja.

“Baiklah. Terserah kau saja, Kim,” ucap lelaki tadi—Yongguk—yang berambut hitam dengan semburat kemerahan. Lelaki yang memposisikan kayu dan jemarinya di atas meja biliar, satu-satunya teman Jonghyun yang tengah menemaninya bermain malam ini.

Jonghyun memiringkan kepalanya. Daehyun duduk di atas mobil yang diselubungi kain berdebu, lelaki itu menggigit apelnya, balas menatap Jonghyun datar kemudian berutara, “Aku dengar, sejak kematian Onew, hubunganmu dengan Minho dan Key sedikit merenggang, hm?”

“Aku hanya tak ingin mereka balas dendam. Aku hanya ingin mereka sadar bahwa pembalasan dendam itu membutakan. Tak akan mengubah apapun dan tak membuat segalanya menjadi lebih baik,” jawab Jonghyun tegas, ada rasa sedih yang terselip di kalimatnya.

Terkekeh, Yongguk yang berdiri di seberang Jonghyun hanya menganggap ucapan lelaki itu sebagai gurauan semata.

“Begitu? Bukankah kau tak ingin kriminalitasmu terbongkar, hm? Bukankah kau tak ingin kebocaran sedikit saja dapat merembet ke mana-mana, bahkan sampai ke tindakan busuk ayahmu yang meracuni setiap koleganya sampai mati tiba-tiba?”

Yongguk menambahkan, “Ah, tidak-tidak. Kau bukannya tak ingin, kau hanya takut, Kim Jonghyun. Cih. Pengecut.”

Brak.

Tongkat kayu yang Jonghyun genggam ia banting ke atas meja. Ia layangkan tatapan tajamnya ke arah Yongguk, alih-alih memperlihatkan gigi taringnya kendati si rambut kemerahan merendahkan ia.

“Kau tak tahu apa-apa tentang kami. Sebaiknya kau kunci mulutmu rapat-rapat dan gunakan dengan baik, sebelum mulutmu itu aku robek, Guk.”

Srek. Daehyun melompat turun dari atas mobil, kalung bergambar tengkoraknya nyaris jatuh. Lelaki itu menatap Jonghyun tak berselera, lagi-lagi menyela dengan gaya bicaranya yang lirih dan tak turun naik.

“Jangan pernah mengancam kami, Kim Jonghyun. Kau harus ingat bahwa kau tak punya seorang pun teman saat ini.” Kemudian melempar sebuah apel merah yang disembunyikan di dalam genggaman tangan kirinya ke arah Jonghyun.

Daehyun menyempatkan diri melirik Yongguk yang tersenyum puas sejenak, hingga kemudian dia melangkah pergi. Daehyun membanting pintu ruangan penuh mobil itu setelah menggigit apelnya kembali. Meninggalkan kesal di hati Jonghyun yang tak sadar tengah meremas apel tadi.

*

Minho terbangun ketika ponselnya berbunyi sesaat, menandakan pesan masuk. Lelaki itu sesungguhnya tak tahu bagaimana bisa ia segera terjaga hanya karena sebuah dentingan pendek dari smartphone barunya—ponsel yang lama telah ia banting tempo hari ketika berbicara dengan Jonghyun. Ia pejamkan mata kembali, mengumpulkan kesadarannya.

Bip.

Pesan dibuka. Kedua kelereng besar Minho membulat segera.

Jonghyun. Itu Jonghyun!

“Sial. Apa ini?” Minho memaki dalam hati. Foto yang baru beberapa detik lalu dikirim ke email-nya berhasil menggugah logika untuk berpikir dengan segera. Minho bangkit, terkejut bukan main ketika mendapati tempat tidur yang—harusnya—menjadi tempat di mana Key tidur itu kosong.

Kembali ia pandangi layar ponselnya. Sekejap setelah smartphonenya berdering—tanda telepon masuk—cepat-cepat ia tekan tombol hijau, mengangkat telepon nomor tak dikenal.

Yeoboseyo?” bicara Minho cepat, ia terengah entah mengapa.

Hening. Tiada suara.

Yeoboseyo?” volume suara Minho tinggi—setengah membentak.

Hening. Tiada bunyi.

“Ketika sinar rembulan menerobos jendela, menembus iris mata, dapatkah kau temukan asa?”

Deg.

Sesegera mungkin lelaki itu memalingkan wajahnya ke kaca jendela. Benar saja, gorden berkibar, jendela terbuka. Minho dapat rembulan bulat putih yang menggantung di langit. Tanpa gugusan bintang di sekitarnya.

Minho berani bersumpah bahwa ia tengah mendengar suara perempuan yang berbicara dengannya. Cukup familiar, namun Minho tak dapat mengingatnya. Dan masalahnya, siapa perempuan itu? Apa maksudnya?

“Manakah yang ingin kau ukir di riwayat hidupmu? Mati sebagai pahlawan ataukah sebagai pecundang?”

Satu bulir keringat sebiji jagung tertahan di pelipis kanan Minho. Ragu untuk jatuh, tetapi jika terus bertahan, merasa jenuh.

“Selalu ada yang mati, selalu ada yang akan pergi. Hujan telah turun. Bunga-bunga hitam bermekaran di sepanjang jalan. Hujan telah turun. Mengalunkan kebohongan. Hujan telah turun. Merasuki jiwa penuh dendam. Hujan telah turun. Tetapi darah lebih kental dari hujan.”

Sekeras mungkin Minho berusaha meneguk salivanya sendiri, ia tebarkan pandangannya di penjuru ruangan. Pintu masih terkunci.

“S-siapa kau?”

“Pertemanan itu busuk. Persaudaraan hanya sebatas kebohongan, tak lebih dari semu kasih sayang. Lantaran tali-tali pengkhianatan akan mengekang, sayap dendam dapat merengkuh kencang.”

BAM.

Minho membanting pintu, satu tangannya masih meremas ponsel berwarna hitam-merahnya. Ia arahkan pandangan ke depan, ke lorong di kiri dan kanan. Sepi. Senyap. Ibarat jurang tak berkehidupan.

“Apa maumu?”

Perempuan tadi terkekeh pelan. Ia menengadahkan kepala, menatap remeh seorang lelaki dengan seluruh tangan yang diborgol dan digantung di kail baja. Kail baja yang terhubung erat dengan atap ruangan. Kaki lelaki itu melayang di udara, berjarak sekitar satu meter dari bumi.

Sang Perempuan mengangkat tangannya, memberi isyarat lelaki tadi untuk berutara.

“Jangan dengarkan apapun, Minho! Jangan percaya kata-kata busuknya. Jangan percaya kepada siapapun, Minho. Jang—ARGH!”

Itu suara Jonghyun! Itu suara Jonghyun!

Detak jantung Minho berangsur semakin cepat, kakinya terasa ingin segera melangkah. Sudah gatal untuk berlari ke sumber suara itu. Tapi kini ada tiga lorong kosong yang mengelilinginya. Mana yang harus ia pilih? Mana yang harus ia tempuh?

Baru beberapa langkah Minho berlari, namun suara dari ponselnya menghentikan jamahannya.

“Diam di situ.”

Dan seluruh syaraf Minho—entah mengapa—menurutinya.

“Jika saja kau dapat melihat, ada bercak darah di layar ponselku. Kau pasti tahu darimana itu berasal, Choi Minho?”

“Jangan macam-macam! Apa yang kau lakukan dengan Jonghyun hyung, hah?!”

“Hahahaha!”

Mengerutkan keningnya, sungguh Minho tak mengerti mengapa perempuan gila yang tengah berbicara dengannya ini tertawa. Layaknya anak kecil mendapat mainan baru yang telah lama diidamkannya.

“Pikirkan kembali, Minho. Kim Jonghyun telah mengkhianatimu. Kim Jonghyun telah mengkhinati kalian semua! Masihkah kau menganggapnya sebagai saudara?! Masihkah orang munafik penuh tipu daya ini kau taruh peduli?”

Benar. Itu benar adanya!

Minho memijat keningnya, sebuah rasa bimbang sekonyong-konyong merasuki ia.

Jonghyun adalah pengkhianat. Jonghyun bukan lagi saudara. Abaikan. Abaikan saja!

“Kami tak jauh dari tempatmu berdiri saat ini. Kami berada di antara empat pilar yang menjadi saksi bisu kematian. Dikelilingi raga-raga kaku yang tak lagi berjiwa. Dingin di dalam, dingin di luar.”

“Pikirkan mana yang ingin kau saksikan esok pagi. Kim Kibum dengan detak jantung normal atau Kim Jonghyun di dalam peti mati?”

Klik.

Telepon di matikan sebelah pihak.

“BANGSAT!”

*

“KEBAKARAN!”

Orang-orang memekik histeris. Para lelaki berlari kesana kemari dengan ember plastik di kedua tangan, menyalurkan air melalui selang-selang, membantu hujan mengguyur rumah yang tengah dilalap api merah. Tak peduli akan baju-baju mereka yang basah dihantam hujan. Hujan yang meremehkan. Dan banyak perempuan juga anak-anak hanya menyaksikan dari balik jendela, atau dari depan rumah mereka dengan gagang payung di genggaman.

Sementara itu, empat orang sedang berdiri tenang. Di depan rumah sederhana yang—sengaja dibuat—tak mencolok, yang tak jauh dari pusat kebakaran. Seorang pria dengan kumis tebal menutupi kepala dengan payung hitam, dua anak perempuan yang sungguh terlihat sama, menepis hujan dengan menggenggam gagang payung berwarna terang, dan seorang bocah lelaki berbaju kumal yang menatap api menyala dengan kedua mata nanar, tak peduli sekeras apapun air langit menghujam.

Bocah lelaki itu—Key—memejamkan mata kucingnya cukup lama, seakan mencoba menghindar dari suara-suara yang menghampiri kepala.

Api! Api! Ada banyak api. Api yang besar. Api yang besar sekali.

Api! Aku takut api. Api—haaah… Andwae.

“Apa yang kau lihat? Kau takut dengan basement, huh?! Masuk dan lakukan perintahku sekarang atau tak akan ada jatah makan malam, mengerti!”

“Tak becus! Kopi yang kau buat rasanya asin. Sebodoh itukah kau hingga tak dapat membedakan gula dan garam? Dasar bebal!”

“ARGH! Ampun, appa! Mianhae, ampuni aku! Jangan memukulku la—AGH! Sakiit..,”

Jeritan itu mengambil alih kesadaran Key hingga akhirnya sebuah tangan halus membelai kepalanya lembut. Key terdiam. Sudah lama sekali dia tak merasakan itu. Ah, bahkan Key tak ingat kapan terakhir kali ia disikapi dengan begitu baiknya. Key menoleh, memandang dua anak perempuan kembar yang tersenyum kepadanya. Kemudian bocah lelaki itu menengadah, Si Pria Berkumis menaruh senyum pula kepada ia.

-To Be Continue..

 

Hs Note:

-Sorry for long update~ Aku sempet stuck ngerjain ini u,u

-Masalah Soora udah selesai. Tindakan Soora di atas itulah yang menyebabkan dia dibunuh. Yap. Karena dia mau nyelidikin kematian Onew. Maksudnya, Soora itu semacam terobsesi sama Onew gitu. Soal siapa pembunuhnya, akan aku ungkap di next part.

-Insyaallah next part adalah part terakhir, dan last part akan aku PROTECT. Kenapa? Karena banyak Silent Reader-nya. So sorry, guys. Aku Cuma mau share FF ini ke orang-orang yang memang mau baca dan menghargai 😀

Syarat untuk dapat PW? Kalian harus sudah komen di semua part, untuk prolog, okedeh, gapapa kalo gak komen di prolog.

Terus untuk password Cuma bisa diminta via twitter. Cuma itu social media yang paling sering aku buka. Silahkan mention @helmynr dengan menyertakan username kalian yang buat komen sama blog tempat kalian baca FF ini. Aku gak Cuma share FF ini di satu blog, dan tiap blog PW-nya beda. Ingat ya, aku Cuma kasih PW buat reader yang udah komen di semua part. Jangan lupa untuk follow dulu, kalo enggak aku gabisa kirim DM. Kalau mau minta follow-back, mention dulu  ya.. kekeke.. : )

PW hanya bisa diminta setelah publish. Ribet ya? Enggak juga sih sebenernya XDD

-Last part bakalan bloody~~~ hohoho XD

Rise and Shine, Jangan Takut Walau Kau Berbeda

Psycho Addict

12 thoughts on “Killing The Claustrophobia – Part 4

  1. Min, how to get the 5th chap’s password? Also, can I have ur Whatsapp/phone number/twitter acc? Just for personal contact cz wanna share my psycho’s mind to other. Thanks, please reply! :))

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s