[FF Freelance] Blind (Part 4)

blindcover

 

Title : Blind (Chapter 4)

Author : @diani3007

Main Cast :

~ [A-Pink] Jung Eunji

~ [Infinite] Lee Howon

~ [BTOB] Lee Minhyuk

~ [Girl’s Day] Lee Hyeri

Genre : Romance, Life, Angst

Rating : PG 13

Length : Chaptered

Previous part: Part 1Part 2, Part 3

Disclaimer : ff ini terinspirasi dari sebuah drama Korea & sebuah film layar lebar Indonesia. Semoga ada yang mau baca, Happy Reading… [NOT FOR SILENT READER AND PLAGIATOR]

 

Matanya berair ketika membaca tulisan tersebut. Lee Howon, Penderita Kanker Otak Stadium Awal. Dia jatuh terduduk. Howon yang kebetulan baru keluar dari kamar mandi dan masuk ke kamarnya, terkejut melihat Hyeri. Howon membulatkan matanya melihat lemarinya yang terbuka lebar. Perasaannya tidak baik. Howon menghampiri Hyeri dan dengan cepat merebut obatnya.

“YA! APA-APAAN KAU?!” bentak Howon.

Hyeri kaget mendengar bentakkan dari Howon. Bukan Howon yang seharusnya marah, tapi dirinya. Hyeri pun bangkit lalu menatap Howon yang masih berdiri di sebelahnya.

“Kenapa oppa berbohong padaku?!”

“Kau tidak seharusnya menyentuh barang orang tanpa izin!”

Hyeri diam. Dia mengeluarkan air matanya yang sudah berusaha ia tahan. Howon mendesah berat. Dia lalu duduk di kasurnya sambil memijat pelipisnya. Hyeri menangis semakin keras dan akhirnya pergi berlari meninggalkan kamar Howon.

“Mianhe, Hyeri-ya, aku tidak bermaksud membohongimu. Aku hanya tidak ingin kau khawatir begitu engetahui keadaanku yang buruk seperti ini.”

***

Eunji duduk di ranjangnya yang empuk. Tidak melakukan apa-apa, hanya diam. Tiba-tiba pintu kamarnya tebuka, Nyonya Jung masuk. Eunji diam saja seolah sudah tahu yang masuk pasti eommanya.

“Eunji-ya,” panggil Nyonya Jung sambil duduk di sebelah Eunji.

“Eomma, kenapa kau bicara seperti itu pada Howon?”

“Bicara apa?”

Eunji menghela nafas, “Eomma menyakiti hati Howon.”

“Kau mendengarnya, ya?”

Eunji diam saja. Dia rasa, pertanyaan seperti itu tidak perlu dijawab. Hanya basa-basi saja.

“Kalau dibiarkan, dia bisa melunjak.”

“Melunjak apa? Dia baik padaku. Memang salah kalau tiba-tiba dia suka padaku? Dia punya hak untuk menyukaiku. Lagipula, aku tidak akan jatuh cinta padanya.”

“Keurayo? Benar kau tidak akan menyukainya, Eunji-ya? janji?”

Nyonya Jung mengulurkan jari kelingkingnya berniat untuk menautkannya dengan jari kelingking milik Eunji yang saat itu masih belum bergerak. Eunji menatap eommanya sesaat lalu menunduk, ya, ia tidak yakin dengan kata-katanya barusan. Namun dengan mencoba percaya diri, Eunji menautkan jari kelingkingnya bersama jari kelingking eommanya sambil berusaha tersenyum. Entah mengapa, dia sangat tidak sependapat dengan eommanya itu. Padahal, semua orang menyadari kalau Eunji memiliki sifat yang mewarisi eommanya.

Tapi itu dulu. Tidak lagi sekarang, sejak ia bertemu dengan Howon.

***

Howon mengetuk pintu kamar Hyeri pelan untuk kesekian kalinya. Tangisan Hyeri dapat didengar oleh Howon. Sangat jelas. Howon mencoba sabar dengan kembali mengetuk pintu kayu bercat merah muda yang agak kusam tersebut. Namun tetap saja, rasanya tidak mungkin jika Hyeri berinisiatif untuk membuka pintu kamarnya.

Karena lelah, Howon pun akhirnya angkat bicara, “Kau tidak akan mau membuka pintunya?” Hyeri diam saja. “Mianhe, Hyeri-ya. aku tidak bisa menjadi oppa yang baik untukmu.” Hening. “Aku janji akan berobat demi kau, Lee Hyeri.”

Tak lama kemudian, suara langkah kaki dari kamar Hyeri terdengar mendekati Howon. Howon menatap lekat pintu bercat merah muda itu, lalu…

CKLEK

Kepala Hyeri muncul di balik pintu kamarnya yang masih terbuka seperempatnya. Matanya bengkak karena seharian menangis. Perlahan, dia mulai memunculkan tubuhnya. “Apa oppa berjanji?” tanyanya.

Howon tersenyum lebar, “Tentu, Lee Hyeri.”

Hyeri memeluk Howon erat. Sangat erat. Tidak ingin melepaskannya, takut kalau oppanya itu pergi. Dia takut kalau sekarang saja dia melepasnya, dia tidak dapat memeluk oppanya seerat ini lagi di masa depan. Howon mengelus rambut Hyeri dengan penuh kasih sayang.

“Oppa, kajima,” ucapnya serak diiringi suara tangis.

“Oppa tidak janji ya.”

Seketika tangisan Hyeri semakin pecah. Hoya semakin mempererat pelukannya.

***

Eunji duduk di teras rumahnya, menunggu Hoya menjemputnya. Pagi itu dia hampir terlambat ke sekolah. Eommanya sudah berkali-kali menyuruh Eunji agar naik taksi saja, tapi Eunji tidak mau. Dia tetap ingin dijemput oleh Howon. Entah mengapa, dia merasa lebih nyaman bersama Howon dibanding namja lain.

Karena kehabisan akal, akhirnya Nyonya Jung menelpon Minhyuk untuk menjemput Eunji.

***

Sementara itu, di rumahnya, Howon sedang muntah-muntah di washtafel kamar mandinya. Hyeri terus menangis melihat oppanya.

“Oppa, kajja kita ke rumah sakit! Penyakitmu sudah semakin parah!” ucap Hyeri disela tangisannya.

Howon terbatuk sebelum menjawab pertanyaan Hyeri, “aku tidak apa-apa, aku masih harus mengantar Eunji.”

Hyeri terdiam mendengar jawaban Howon. “Mwo? Eunji? Nugu?”

Howon membulatkan matanya, dia tidak sengaja mengucapkan nama Eunji. Hyeri tidak tahu sama sekali kalau dirinya berkerja sebagai supir pribadi Eunji. “Ee, Eunji itu, ee…, sebenarnya…”

“Nuguya, oppa?”

Howon menghela nafas berat. Dia menyandarkan kepalanya ke tembok kamar mandi. Dia mengadahkan kepalanya ke langit-langit kamar mandinya yang kusam. Dia lalu menatap Hyeri sekilas.

“Sebenarnya, ada yang tidak kau ketahui soal pekerjaanku.”

Hyeri menunduk, lalu kembali menatap Howon, “apa itu?”

“Sebenarnya, sekarang ini, aku bekerja sebagai supir pribadi.”

“Supir pribadi siapa?”

“Seorang yeoja yang hendak bunuh diri di kamarmu waktu itu, kau ingat? Dia orangnya.”

“Dia? Eunji?”

“Nde, dia Jung Eunji. Baiklah, sepertinya aku harus berangkat. Kau juga harus sekolah.”

“Keunde, oppa, apa kau akan baik-baik saja?”

“Keurom,” ucap Howon sambil mengulas tersenyum di wajah pucatnya.

“Arraseo, oppa. Aku berangkat sekarang.”

***

Eunji masih belum berangkat sekolah hingga sebuah mobil sedan hitam memasuki pekarangan rumahnya. Suara mobil tersebut terdengar jelas oleh Eunji. Siapa yang datang?

Mesin mobil tersebut mati lalu pintunya terbuka. Sosok Minhyuk keluar dari mobil.

“Annyeong, Eunji-ya!” sapanya. Tanpa bertanya, Eunji sudah tahu itu suara Minhyuk.

“Mwohaeyo?” Tanya Eunji dingin.

“Naega? Tentu saja aku yang akan mengantarmu ke sekolah.”

“Mwo?”

“Howon supirmu itu belum datang, padahal kau sudah terlambat lima belas menit, bukan?”

“Bukan urusanmu.”

“Tentu saja ini urusanku! Kau itu yeojachinguku! Keuraesseo, sebaiknya kau segera naik ke mobilku sebelum kau semakin terlambat nantinya. Kajja.”

“Shireo. aku akan menunggu sampai Howon datang.”

“Dia tidak akan datang.”

“Dia pasti datang! Bagaimana jika dia datang? Bagaimana jika dia tidak menemukanku di sini? Eommaku pasti marah besar!”

“Sieommeoni yang menyuruhku menjemputmu dan mengantarmu ke sekolah, dia tidak akan marah. Kajja,” ucap Minhyuk sambil menggandeng tangan Eunji.

“Shireo!” Eunji melepaskan tangan Minhyuk dengan kasar. Tetapi Minhyuk menggenggamnya lagi lebih erat.

“Eunji-ya.”

“Shireo.”

“Eun–“

“Shireo!”

“YA! JUNG EUNJI!” karena kesabarannya habis, tanpa sadar Minhyuk membentak Eunji begitu keras sambil mencengkram lengan Eunji begitu kuat. Eunji membulatkan matanya mendengar bentakkan dari Minhyuk.

“Mi…mianhe,” ucap Minhyuk terbata sambil merenggangkan cengkramannya di lengan Eunji. Air mata Eunji mulai menggenang di matanya. Dia mulai berlari kecil meninggalkan Minhyuk. Tangisannya mulai terdengar. Minhyuk hanya bisa terdiam di tempatnya berdiri. Ini pertama kalinya Minhyuk membentak Eunji.

Eunji terus berlari kecil tanpa tongkatnya sampai sesuatu membuatnya tersadung hingga jatuh. Eunji meringis dan semakin memperbesar suara tangisnya. Ya, begitulah Eunji, apabila sekalinya dibentak, dia tidak akan bisa menahan tangis. Eunji tiba-tiba merasakan sebuah tangan yang lebih besar dari tangannya menggenggam tangannya begitu erat dan hangat. Eunji mulai menghentikan tangisnya.

“Uljima,” ucap Howon yang sedang berjongkok di hadapan Eunji. Dia baru saja datang.

“Howon-ssi?”

“Nde, aku di sini, Nona. Jeongmal mianhe, aku terlambat datang. Kau sudah terlambat dua puluh lima menit. Ottae?”

“Aku tidak mau sekolah, Howon-ssi. Bawa aku ke suatu tempat yang dapat membuatmu tenang  dan nyaman.”

Howon terdiam. Dia sudah berjanji pada Nyonya Jung bahwa dia tidak akan membawa Eunji pergi lagi tanpa sepengetahuannya. Dan Howon yakin seratus persen bahwa Nyonya Jung tidak akan mengizinkannya.

“Tidak bisa, Nona.”

“Waeyo? Kenapa tidak bisa?”

Howon diam lagi. Dia bingung bagaimana mengatakannya pada Eunji bahwa mereka tidak bisa lagi pergi jalan-jalan tanpa sepengetahuan dan izin Nyonya Jung.

“Wae guraeyo?” Tanya Eunji lagi.

“Nona, alangkah baiknya jika kita meminta izin dulu pada Nyonya.”

“Shireo! eomma pasti akan melarangku, Howon-ssi.”

“Aniyo, jika kita bicara baik-baik, pasti Nyonya akan mengerti, Nona.”

Eunji menunduk. Tangisannya sudah mereda dan air mata di pipinya sudah mengering. Dia lalu kembali menatap Howon. Eunji mengangguk pelan. Howon pun membantu Eunji berdiri lalu masuk ke rumahnya. Howon melirik ke arah Minhyuk sekilas. Minhyuk yang masih berdiri di situ langsung menyingkir dan masuk kembali ke mobilnya lalu pergi.

Howon pun membuka pintu tersebut. Dan, ternyata Nyonya Jung sudah berdiri tegak di depan pintu. Howon terlihat kaget.

“Nyonya?”

“Wae? Kalian heran? Eunji-ya! kenapa kau tidak sekolah? Bukankah seharusnya kau berangkat bersama Minhyuk? Apa kau mengusir Minhyuk? Tega sekali kau! Dan kau! Lee Howon! Kenapa kau datang telat sekali? Kau tidak tahu ini sudah jam berapa? Anakku jadi tidak bisa sekolah sekarang! Kau ini, baru saja jadi supir sudah malas bekerja!” bentak Nyonya Jung yang sudah naik darah.

Eunji terlihat kaget mendengar bentakkan eommanya. “Eomma! Tidak seharusnya eomma membentak Howon seperti ini! Masih untung dia mau datang! Aku yakin Howon tidak datang terlambat karena tanpa alasan! Mungkin saja dia ada urusan atau masalah dulu tadi! Dan Minhyuk! Aku sama sekali tidak mengerti, eomma! Kenapa eomma bisa-bisanya menyuruh dia datang untuk menjemputku? Aku paling tidak suka dipaksa akrab, apalagi berpacaran dengan orang asing!”

“Orang asing? Kau menganggap Minhyuk orang asing? Beraninya kau–“

Tangan Nyonya Jung yang tadinya akan mendarat di pipi mulus Eunji harus tertunda karena tangan Howon.

“Lancang sekali kau?!”

Howon melepaskan tangannya yang masih menahan tangan Nyonya Jung. Dia menunduk malu dan terlihat takut pada Nyonya Jung.

“Apa kau mau kupec–“

“Arrasseo, aku mau mengundurkan diri.”

Eunji membulatkan matanya tidak percaya. Mengundurkan diri katamu? Apa kau gila, Howon-ssi? Pikirnya. Sementara Nyonya Jung hanya diam, dia sudah kehabisan kata-kata untuk menghadapi Howon. Dia sudah lelah.

“Bagus. Mungkin kau memang tidak cocok bekerja di sini. Dan aku harap, setelah kau mengundurkan diri, kau tidak akan pernah menemui anakku lagi. Paham?”

Howon hanya mengangguk pelan. Setelah itu, dia membungkuk sebagai tanda hormat, lalu pergi. Eunji tidak diam saja, dia lalu berlari mengejar Howon yang sudah berada di halaman depan rumahnya. Di berlari kecil sambil meraba-raba di sekitarnya.

“Howon-ssi!” panggil Eunji sambil berlari-lari kecil berusaha menghampiri Howon yang tak terlihat olehnya. Howon menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang. Eunji tengah berdiri dengan berpegangan pada pintu rumahnya. Air matanya entah sejak kapan sudah mengalir begitu saja. Tatapannya kosong sambil terus menyerukan nama ‘Howon’.

“Apa kau benar-benar akan pergi? Jawab aku! Aku tahu kau masih di sini!” teriak Eunji. Howon hanya diam, menatap Eunji iba. Dan tiba-tiba, ponselnya bordering. Howon kaget lalu segera lari sebelum Eunji menyadari keberadaannya. Setelah keluar dari gerbang rumah Eunji, Howon segera melihat ponselnya. –Nam Woohyun

“Yeoboseyo?” Howon menjawab telpon Woohyun.

“Howon-ah? Neo eodiya? Hyeri sedang bersamaku. Tadi dia bilang kau muntah-muntah tanpa henti? Dan, apa kepalamu sakit lagi? Bisakah kau ke rumah sakit sekarang? Tanya Woohyun.

“Hyeri? Dia tidak sekolah?”

“Dia terlalu khawatir padamu. Dia bilang, dia tidak akan bisa konsentrasi belajar di sekolah karena memikirkan penyakitmu.”

“Kau suruh dia ke sekolah sekarang, baru aku akan ke rumah sakit. Lebih baik datang ke sekolah terlambat daripada tdak masuk karena tanpa alasan yang jelas.”

“Arrasseo, aku akan menyuruhnya sekolah. Keunde, kau janji kan akan ke sini?”

“Hm.”

***

Woohyun menaruh kembali ponselnya di atas mejanya. Di hadapannya, seorang yeoja berseragam SMA duduk dengan raur wajah gelisan, Lee Hyeri.

“Apa katanya?” Tanya Hyeri penasaran.

“Dia bilang, kau harus sekolah,” jawab Woohyun.

“Bukan itu yang aku ingin tahu! Apa oppaku jadi ke sini? Dia akan ke sini kan? Dia akan berobat kan?”

“Tentu saja. Tapi dia bilang kau harus sekolah dulu.”

“Shireo. aku kan sudah bilang aku tidak bisa konsentrasi kalau belajar di saat seperti ini!”

“Lalu kau mau bagaimana? Kalau kau tidak sekolah, dia tidak akan ke sini!”

Hyeri diam. Kalau dia sekolah, dia pasti akan malu karena terlambat tiga puluh menit lebih. Dengan lesu, Hyeri berdiri lalu pergi keluar ruangan praktek Woohyun.

“Mianhe, aku tidak bisa mengantarmu,” ucap Woohyun yang sama sekali tidak mendapat respon dari Hyeri.

***

            “Kau tidak bisa menganggap ini sepele!” bentak Woohyun sambil menatap Howon yang sedang duduk di hadapannya geram. Sementara Howon hanya memasang ekspresi lesu dan sesekali tersenyum getir.

“Lalu aku harus bagaimana? Mengemis pada keluargamu? Aku tidak mau lagi, hutangku sudah cukup banyak pada kalian,” ucap Howon dengan pelan tanpa ada tekanan sedikitpun di setiap katanya.

“Ya! kankermu sudah naik stadium dua! Kenapa kau tidak mau menerima pengobatan dariku?! Apa kau mau mati? Paboya!”

“Molla,” jawab Howon terdengar asal-asalan.

“Apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaan Hyeri? Dia begitu khawatir padamu! Apa kau tega meninggalkannya sendirian?”

“Justru dengan aku mati, Hyeri tidak akan mengkhawatirkanku lagi.”

“YA! LEE HOWON!” bentak Woohyun lebih keras sambil memukul meja. Howon hanya tertawa getir melihat sahabatnya itu.

“Sudahlah, tidak akan ada gunanya lagi. Ketika kankerku masih stadium satu, aku selalu minum obat, tapi tetap saja kankernya bertambah. Apalagi sekarang, sudah stadium dua. Aku rasa, tidak akan ada gunanya lagi. Aku ini orang miskin. Aku mencari nafkah bukan untuk membeli obat atau berobat, tapi untuk makan dan menyekolahkan Hyeri. Aku tidak ingin sekolah Hyeri terganggu hanya karena penyakitku ini. Seperti tadi contohnya. Dan aku yakin, jika aku tidak ada nanti, Hyeri pasti akan baik-baik saja. Dia sudah dewasa. Lagipula, aku bisa menitipkan dia padamu,” ucap Howon sambil mencoba untuk terus tersenyum.

Woohyun menatap Howon lemas. Dia bingung harus bicara apa lagi. Sahabatnya ini memang keras kepala. Jujur, Woohyun tidak ingin kehilangan Howon, sahabat terbaiknya. Woohyun ingin sekali membantu Howon, seperti di saat mereka masih sekolah bersama dulu. Tapi, kini Howon berbeda. Dia bilang tidak ingin merepotkan keluarga Woohyun lagi. Sahabat mana yang tidak sedih jika memiliki sahabat seperti Howon?

***

            Howon berjalan tak tentu arah. Dia berjalan sampai melewati sekolah Eunji. Dia kembali teringat ketika pertama kali mengantar dan menemani Eunji ke sekolah khusus alias SLB itu. Eunji masih sangat jutek padanya. Di saat dia sedang melamun, dia menabrak seorang yeoja.

BRUK

Yeoja itu terjatuh. Poninya menutupi wajahnya sehingga Howon tidak dapat mengenali yeoja itu. Howon segera menolongnya. “Jeosonghamnida,” ucap Howon.

“Howon-ssi?” Tanya yeoja itu yang tak lain adalah Eunji. Howon panik seketika. “Apa ini benar Lee Howon?” tanyanya lagi. Howon masih belum menjawab. Sementara Eunji sudah memeluk erat Howon. “Ternyata ini benar kau!” ucapnya riang.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Howon sambil melepaskan pelukan Eunji dengan agak kasar. “Tentu saja aku mencarimu,” jawab Eunji pelan. “Neo paboya? Bagaimana bisa kau mencariku? Kau kan tidak bisa melihatku!”

Eunji agak sakit hati dikatai seperti itu oleh Howon. “Aku memang buta! Tapi buktinya aku bisa menemukanmu!”

“Bagaimana jika ada orang jahat yang menculikmu? Apa yang akan kau lakukan?” Tanya Howon. Eunji diam saja. “Mulai sekarang, jangan temui aku lagi.”

“Wae?”

“Bukankah Nyonya Jung juga sudah melarangmu?”

“Keunde, kenapa kau setuju dengan eommaku? Aku kan masih ingin bertemu denganmu!”

“Shireo! percuma saja kita bersama!”

“Memangnya kenapa?”

“Kau tidak perlu tahu. Yang harus kalu lakukan hanyalah, menyingkir dari hidupku!”

*TBC*

Wuaaaa >.< maaf ya readers aku updatenya lama banget ._.v

Habis, aku bener-bener kehabisan ide buat ngelanjutin ff ini…

Dan maaf juga kalau hasilnya ternyata kurang memuaskan dan banyak typo, mungkin di chapter selanjutnya aku usahain bisa memuaskan readers^^

Komen kalian sangat diharapkan~

4 thoughts on “[FF Freelance] Blind (Part 4)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s