[FF Freelance] Where is My Man? (Part 10 – END)

where is my man

Title            : WHERE IS MY MAN? PART 10 ( END )

Writer                   : Endor Yochi

Main Cast    : Park Jiyeon (T-ara), Kim Myungsoo a.k.a ‘L’ (Infinite), Yang Yoseob (B2ST), Choi Minho (SHINee)

Other Casts : Lee Jieun a.k.a IU, SEO JOO-HYUN a.k.a SEOHYUN (SNSD), Bae Suzy (Miss A), Park Sanghyun a.k.a Thunder Cheondung (MBLAQ), Lee Gikwang (B2ST), Jung Ilhoon (BTOB), Lee Sungjong (Infinite), Lee Chanhee a.k.a Chunji (Boyfriend)

Genre           : Romance, Comedy ( a little bit ), aneh, gaje, dsb

Length         : Chaptered

Rating                   : Untuk part ini masih di rating PG-17 aja deh 😀

Previous part: Part 1Part 2Part 3Part 4 Part 5Part 6 Part 7Part 8, Part 9

PART  10 – END

_Author POV_

 

Jiyeon menoleh kesana kemari mencari sosok Yoseob. Kedua matanya menyapu seluruh jalanan di depannya. Namun ia tak juga menemukan namja itu. ia menarik napas kesal.

“Kemana namja itu?” gumamnya. Karena tak melihat siapapun di luar, yeoja itu mengira kalau Yoseob sudah masuk ke dalam rumahnya. ia berbalik hendak masuk kembali, namun ia terlonjak karena melihat namja itu ternyata sudah berada di atap rumahnya. Jiyeon tersenyum kecil melihatnya. Lalu tanpa menunggu malaikat Isrofil meniup sangkakalanya (?), yeoja itu bergegas menuju ke samping rumahnya, lalu merangkak memanjat ke atas menuju atap. Begitu sampai di atap, ia menarik napas panjang. Dilihatnya Yoseob tengah merebahkan dirinya.

“Apa kau mencariku?” tanya namja itu pula.

“Ne. Aku kira oppa kabur dari rumah.”

Yoseob tertawa kecil mendengarnya.

“Kenapa aku harus kabur? Seperti anak kecil saja.” Katanya.

Jiyeon nyengir mendengarnya.

“Uhm, jeogi.. Apa oppa serius dengan ucapan oppa tadi?” tanya Jiyeon kemudian.

“Uh, tentu saja? Waeyo?”

“Berarti selama ini oppa selalu mengikutiku dan bilang ingin melindungiku karena oppa sudah menganggapku seperti dongsaeng sendiri?”

Yoseob tak segera menjawab.

“Anii..” sahutnya setelah beberapa saat kemudian.

“Uh? Maksudnya?” tanya Jiyeon tak mengerti.

“Aku memang sempat menyukaimu. Bukan sebagai seorang dongsaeng. Tapi sekarang, mungkin tidak lagi.”

“Jadi.. Oppa melakukan itu karena memang menyukaiku?”

Yoseob tersenyum, lalu menoleh ke arah Jiyeon yang duduk di atap rumah sebelahnya itu.

“Geogjong hajima. Itu hanya masa lalu. Sekarang aku tahu sebenarnya aku memang tidak benar-benar menyukaimu.” Katanya membuat Jiyeon melongo.

“Maksudnya oppa membenciku?” tanyanya.

Yoseob tertawa mendengarnya.

“Yaa, Stubborn girl. Kenapa kau ini lemot sekali? Haish! Stress..” keluh Yoseob sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“Hehehe aku tahu kenapa oppa sudah tidak menyukaiku lagi.” Kata Jiyeon kemudian.

“Jangan bicara yang aneh-aneh. Aku tidak mau mendengarnya.” Yoseob yang sudah menebak kemana arah pembicaraan Jiyeon itu langsung menutup kedua telinganya menggunakan tangannya.

“Karena Jieun-ssi, kan?” lanjut Jiyeon tanpa mempedulikan ucapan Yoseob.

“Lalalalala..”

“Halah! Jangan pura-pura menyanyi. Aku tahu oppa mendengarku. Oppa menyukai yeoja itu kan? Aku bisa melihatnya dari mata oppa. Wajah Oppa selalu berseri-seri setiap kali melihatnya. Aku benar kan, oppa?”

“..Na na na na na I wanna sleep tonight in the midnight midnight midnight..”

“YAA!! YOSEOB-SSI KAU MENDENGARKU KAN?? YAA!!”

Namun Yoseob terus saja berdendang seolah tak mendengar teriakan Jiyeon. padahal dalam hatinya ia membenarkan ucapan yeoja itu. Nado mollayo, tapi kurasa kau benar, Stubborn girl. Mungkin hatiku memang sudah berpindah pada yeoja itu, pikirnya.

***

“Jinjja?” tanya Jiyeon bersemangat.

“Uh, semua itu berkat Oppamu yang tampan ini. kalau saja aku tidak memberi pengertian kepada mereka, mereka pasti sudah memarahi kalian habis-habisan.” Kata Sanghyun. Rupanya kedua makhluk itu tengah membicarakan kelanjutan perihal kejadian semalam, sepeninggal Jiyeon dan Yoseob.

“Geureom, apa Appa dan Umma tahu kalau aku sudah punya namjachingu?”

“Ne..”

“Uhm, apa mereka juga tahu kalau namjachinguku itu seorang namja yang suka berkelahi dengan pelajar lain?”

“Ne..”

“Ck.. Pasti mereka sangat kecewa sekali padaku..”

“Ne.. Uh anii, maksudku mereka memang kecewa pada awalnya. Tapi mereka percaya kalau pilihanmu itu tidak sembarangan. Umma dan appa percaya padamu.”

“Jinjja?”

“Ne..”

Jiyeon tersenyum lega mendengarnya.

“Lain kali ajaklah namja itu kemari. Dia harus berani datang kesini kalau memang dia berniat serius denganmu.” Kata Leeteuk appa yang tiba-tiba sudah muncul di ambang pintu.

“Appa?” kata Jiyeon terkejut.

“Sebagai orangtuamu, kami juga ingin tahu seperti apa namja yang sudah berhasil membuat putri bengal ini jatuh cinta.” Sambung Yoojin umma pula.

Jiyeon tersenyum mendengarnya.

“Apa penampilannya seperti seorang preman? Kalau memang begitu, jangan sampai dia datang kemari dengan penampilan seperti itu kalau kau tidak ingin Appa menendangnya keluar.” Kata Leeteuk appa lagi dengan galak.

“Uhh aniyo.. Dia tidak seperti itu. Biarpun dia sedikit berandalan, tapi dia sangat baik. Penampilannya juga normal. Dan dia juga termasuk pandai di kelasnya. Dia seorang namja yang tampan, Appa, Umma..” kata Jiyeon cepat-cepat.

Sanghyun berdehem-dehem mendengarnya.

“Tapi tetap saja aku lebih tampan darinya.” Kata namja itu pula.

“Geurae. Kau memang lebih tampan darinya, tapi itu menurut Suzy, yeojachingumu.” Balas Jiyeon yang langsung membuat wajah Sanghyun memerah mendengarnya.

“Nugu? Suzy?” tanya Yoojin umma heran.

“Nde, umma. Suzy itu teman sekelasku, sekaligus yeojachingunya Sanghyun oppa.”

“Jadi kau juga sudah punya yeojachingu, Sanghyun-ah? Kenapa kau tidak memberitahu kami?”

“Uh, geuge~”

“Sanghyun oppa malu, Umma. Aish! Padahal setiap hari mer~hmmpfth..”

Belum sempat Jiyeon menyelesaikan kalimatnya, tangan Sanghyun sudah membungkam mulut bawelnya itu.

“..hmfppht..lepas~hmmpfht.”

“Tutup mulutmu yeoja cerewet..” bentak Sanghyun pelan sambil terus membungkam mulut dongsaengnya yang meronta-ronta minta dilepaskan itu. Sementara Leeteuk appa dan Yoojin umma hanya menggeleng-gelengkan kepala saja melihatnya.

***

“Kau sudah siap?” tanya Minho ketika baru sampai di rumah Myungsoo.

Seohyun yang baru selesai memakai sepatunya itu mengangguk.

“Aku siap, Oppa.” Katanya dengan riang.

“Kajja.”

Keduanya pun berjalan beriringan. Akhir-akhir ini kondisi Seohyun berangsur membaik. Semua itu berkat ramuan herbal yang dibuat oleh Minho setiap hari. Ia memberikan obatnya itu pada Seohyun secara teratur. Namja itu puas dan senang sekali. Ia sangat berterimakasih pada Google Harabeoji yang telah membantunya menemukan resep obat alami itu. walaupun terkadang Seohyun masih suka merasa sakit, tapi paling tidak sudah tak begitu parah lagi. Minho selalu berusaha agar yeoja itu tetap menjaga kondisinya agar tidak sakit lagi. Ia benar-benar tidak menyangka kalau penyakit mematikan itu bisa diatasi oleh obat yang hanya berasal dari daun sirsak. #iniberdasarkanpengalamanauthorsendiri* 🙂

***

“Oppa, tapi aku malu..”

“Geogjong hajima. Orangtuaku baik dan tidak mungkin menggigitmu. Bukankah aku sudah berkenalan dengan orangtuamu? Sekarang giliran kau yang harus bertemu orangtuaku. Kajja.”

Sanghyun tampak menggandeng tangan Suzy turun dari mobilnya. Sementara Suzy yang merasa agak kikuk itu hanya menunduk saja. Keduanya berjalan masuk ke dalam rumah Sanghyun. Rupanya di dalam sudah ada Leeteuk appa, Yoojin umma dan juga Jiyeon. Jiyeon terlonjak ketika melihat chingunya itu.

“Yaa! Akhirnya kau datang juga!” serunya.

Suzy hanya tersenyum, lalu membungkuk pada Leeteuk appa dan Yoojin umma.

“Annyeonghaseyo, ahjussi, ahjumma. Joneun Bae Suzy imnida. Bangapseumnida.” Kata Suzy dengan sopan.

Kedua orangtua Jiyeon tersenyum melihatnya.

“Jadi kau yang bernama Bae Suzy? Ternyata pilihanmu tidak salah, Sanghyun-ah..” kata Leeteuk appa bermaksud bercanda.

Sanghyun hanya tersenyum-senyum sambil garuk-garuk kepala saja mendengarnya. Sementara Suzy hanya tersipu malu. #jiahaha awkward banget ngebayanginnya*

“Duduklah dulu. Kita masih ada satu tamu lagi yang belum datang.” kataYoojin umma pula sambil melirik ke arah Jiyeon. Jiyeon mendengus.

“Nde, kamsahamnida.” Sahut Suzy, kemudian duduk di sebelah Sanghyun.

“Bagaimana ceritanya kalian berdua bisa bertemu?” tanya Leeteuk appa pula pada Suzy.

“Uh, geuge.. Kami bertemu ketika ada perke~”

“Haa.. Nde, waktu itu mereka bertemu ketika ada perkemahan di dekat sekolah kami. Nde, nde, begitulah maksud Suzy, hehe..” Potong Jiyeon cepat-cepat. Bisa habis riwayatnya kalau sampai Appa tahu dia pernah ikut tawuran antarpelajar.

“Geuraeyo?” tanya Appa kurang percaya.

“Tentu saja, Appa.. Untuk apa aku berbohong? Benar, kan Suzy-ya?”

“Jiyeon-ah, appa sedang tidak bertanya padamu. Jadi diamlah. Suzy-ssi, apa benar kalian berdua bertemu di perkemahan?”

Suzy tak segera menjawab. Ia melihat Jiyeon sudah berlotot (?) ria ke arahnya memberi isyarat supaya ia tidak menjawab yang sebenarnya.

“Uh, geuge..”

TING TONG!!

Suara bel rumah itu menghentikan ucapan Suzy. Jiyeon terlonjak dibuatnya.

“Yaa!! Itu pasti Myungsoo oppa. Jamkkanman aku akan membukakan pintunya. Ingat, jangan ada yang berbicara sepatah kata pun selama aku pergi.” Kata Jiyeon membuat semua yang ada di situ melongo.

“Sejak kapan dia berani memperingatkan orangtuanya sendiri seperti itu?” gumam Leeteuk appa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Yang lain hanya tersenyum saja. Beberapa saat kemudian terdengar suara langkah kaki mendekat. Kedua orangtua Jiyeon menunggu dengan hati berdebar-debar karena penasaran dengan namja yang disukai putrinya itu. Beberapa saat kemudian akhirnya muncullah Jiyeon bersama seorang namja tampan rupawan bak pangeran dari kahyangan #halah!* ke tempat itu. Namja itu tersenyum dan membungkuk sedikit pada kedua orangtua Jiyeon.

“Annyeonghaseyo, joneun Kim Myungsoo imnida.” Ucapnya.

“Kau~ bukankah kau pemuda yang waktu itu?” kata Leeteuk appa terkejut.

“Nde?” tanya Myungsoo tak mengerti.

_Flashback_

Malam itu langit tengah mengucurkan air hujannya dengan deras ketika tiba-tiba saja sebuah mobil terlihat berhenti mendadak di tepi jalan. Pemilik mobil yang ternyata Leeteuk appa itu terpaksa turun dari mobil karena ingin memeriksa apa yang membuat mobilnya berhenti. Setelah diperiksa, rupa-rupanya ban belakang mobil tersebut pecah. Leeteuk appa bingung karena hari sudah larut malam dan tak ada seorang pun di sekitar sana dikarenakan hujan pula. Di tengah-tengah kebimbangan seperti itu tiba-tiba saja datang dua namja asing dan salah satu dari mereka langsung menodong Leeteuk appa dari belakang menggunakan sebuah pisau tajam.

“Jangan bergerak dan serahkan semua uangmu!”

Leeteuk appa diam saja tak menyahut. Dalam hati ia tertawa kecil meremehkan dua penjahat amatiran tersebut. Mereka belum tahu siapa aku, pikir Leeteuk appa tenang. Namun belum sempat ia menyerang kedua penodong itu, tiba-tiba saja seseorang datang dan menendang namja yang menodong Leeteuk appa tadi sehingga namja itu terjengkang dan menjatuhkan pisaunya.

“Yaa!! Bocah!! Berani sekali kau ikut campur! Kau mau mati? Hah?” bentak salah seorang penodong itu marah. Sedangkan pahlawan muda yang dibentaknya itu hanya tersenyum kecil menanggapinya seakan mengejek. Karena merasa diejek, kedua penodong itu langsung menyerang pahlawan muda tersebut. Akan tetapi, ternyata pahlawan muda itu tak bisa diremehkan. Berkali-kali kedua penodong itu menyerang, namun yang ada mereka hanya menyerang angin. Justru mereka berdua yang terkena pukulan berkali-kali oleh pahlawan muda yang mereka sebut bocah itu. karena merasa tak bisa melawan lagi, akhirnya kedua penodong itu pun lari terbirit-birit pergi menjauhi tempat tersebut. Sementara pahlawan muda itu mendekati Leeteuk appa.

“Ahjussi gwaenchansimnika?” tanyanya.

“Ne, gomawoyo.” Sahut Leeteuk appa pula.

“Keunde, sedang apa ahjussi berhenti di sini? Apa ada sesuatu yang terjadi dengan mobilnya?”

“Ne, ban mobilku pecah.”

“Uh, apa ahjussi membawa ban cadangan?”

“Ne ada di belakang.”

“Sebaiknya ahjussi masuk ke dalam, biar saya saja yang mengganti bannya.”

Mau tak mau Leeteuk appa hanya mengangguk saja. Dalam hati ia merasa kagum terhadap namja muda itu. Namja itu tampak mengganti ban mobil yang pecah dengan ban cadangan. Pekerjaannya sangat cepat sekali. Sangat mustahil bisa dikerjakan oleh namja semuda itu. Begitu sudah terpasang kembali, namja muda itu mengangguk permisi pada Leeteuk appa dan langsung beranjak pergi begitu saja sebelum Leeteuk appa sempat menayakan namanya dan mengucapkan terima kasih untuk kedua kalinya.

_Flashback off_

***

 

“Uh, jadi ahjussi yang pernah saya tolong waktu itu?” tanya Myungsoo pula.

“Keunde.. Sedang apa Myungsoo oppa malam-malam hujan begitu berkeliaran di luar?” tanya Jiyeon heran.

“Uh, waktu itu Seohyun sedang kambuh, jadi aku harus keluar membelikan obat untuknya.”

Jiyeon mengangguk-angguk mengerti.

“Jadi, kau namja yang sudah berhasil membuat putriku ini jatuh cinta?” balas Leeteuk appa pula. Myungsoo hanya tersenyum saja mendengarnya. Sementara Jiyeon tertunduk malu.

“Nde, ahjussi. Padahal dia tahu kalau saya ini berandalan. Tapi tidak tahu kenapa dia begitu mencintai saya.” Sahut Myungsoo kemudian yang langsung membuat Jiyeon mendelik ke arahnya.

“Yaa! Enak saja! Bukankah kau yang memulainya lebih dulu?” protesnya tidak terima.

“Tapi bukankah kau juga meresponnya?”

“Tapi tetap saja kau yang memulainya.”

“Yaa! Geumanhae..”

Sementara yang lain hanya menggeleng-gelengkan kepala saja melihat tingkah mereka itu. Setelah itu acara makan malam pun dimulai dan diakhiri dengan obrolan kembali.

***

 

Seperti biasa, sepulang sekolah Yoseob tidak langsung pulang ke rumah, melainkan menuju ke arah yang berlawanan, tepatnya menuju ke tempat Jieun. Bagaimanapun juga ia sudah ditetapkan sebagai karyawan di sana. Maka ia tidak mau kalau sampai datang terlambat. Sambil bersil-siul kecil, namja itu melangkahkan kakinya lebar-lebar seolah ingin cepat sampai ke tempat Jieun.

“Yoseob-ssi!”

Yoseob agak terkejut dan menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke asal suara tersebut.

“Uh, Jieun-ssi? Mwohaeyo?” tanyanya begitu tahu kalau Jieun yang memanggilnya.

“Aku baru selesai belanja.” Kata Jieun sambil menghampiri Yoseob.

“Lalu, di mana barang belanjaanmu?”

“Sudah kutaruh di toko.”

“Uh, lalu apa yang kau kerjakan di sini sekarang? Kenapa tidak menjaga toko?”

“Geogjong hajima. Umma dan Shindong ahjussi sudah menggantikan kita. Hari ini aku ingin pergi jalan-jalan.”

Yoseob masih terbengong-bengong melihatnya.

“Yaa! Mwohae? Kajja kita jalan-jalan!” tegur Jieun pula karena melihat Yoseob hanya diam saja di tempatnya. Akhirnya Yoseob pun beranjak mengikutinya. Namun baru beberapa langkah mereka berjalan, tiba-tiba dua orang menghentikan langkah mereka. Yoseob terkejut saat melihatnya. Hwang Chansung. Namja itu datang bersama Hyuna.

“Kau..” kata Yoseob geram.

Namun kali ini Chansung menunjukkan wajah bersahabat.

“Aku datang untuk meminta maaf. Mianhae, karena keteledoran kami, kami sudah melakukan tindakan jahat. Jeongmal mianhaeyo..” kata Chansung tiba-tiba dengan menunjukkan wajah penuh rasa penyesalan. Hyuna pun sama halnya dengannya.

Yoseob tak segera menjawab.

“Jebal, jangan laporkan kami pada polisi. Kami berjanji akan melakukan apapun untuk menebus kesalahan kami, asalkan kami tidak dipenjara. Jebal buttagakhe..” sambung Hyuna pula sambil menangis. Jieun mau tak mau jadi iba juga melihatnya.

“Lupakan saja. Aku sudah mengikhlaskan semuanya.” Kata yeoja itu, membuat Yoseob terkejut. Namun namja itu diam saja.

“Jinjja? Kau memaafkan perbuatan kami?” tanya Chansung lagi ingin memastikan.

“Ne..”

“Gomawo, jeongmal gomawoyo.. Aku benar-benar tidak tahu harus membalasnya dengan apa. Kami sangat-sangat berterima kasih atas kebaikanmu.”

“Gwaenchanha.. Kalian tak perlu melakukan apa-apa untukku.”

“Gomawoyo..”

Jieun hanya tersenyum dan mengangguk, lalu beranjak meninggalkan Chansung dan Hyuna. Sementara Yoseob menyusulnya.

“Kau yakin tidak mau melaporkan mereka pada polisi?” tanya Yoseob pula.

“Anii. Aku sudah mengikhlaskan semuanya. Aku tak mau berurusan dengan kejadian ini lagi.”

Yoseob hanya menarik napas mendengarnya tanpa menjawab apapun.

“Kajja, aku akan mengajakmu ke suatu tempat.” Kata Jieun tiba-tiba.

“Eodi?”

Jieun tak menjawab. Yoseob pun hanya mengikuti saja kemana yeoja itu pergi. Rupanya Jieun mengajaknya pergi ke pantai. Yeoja itu terlihat senang sekali berada di sana. Yoseob tersenyum melihat yeoja itu bisa tertawa lepas seperti itu.

“Woaahh.. Ini benar-benar menyenangkan. Sudah lama aku tidak pergi ke tempat ini.” kata Jieun sambil merentangkan kedua tangannya merasakan desiran angin pantai di  tubuhnya.

“Yoseob-ssi, kenapa kau hanya diam saja? Kajja rentangkan kedua tanganmu sepeerti ini, maka kau pasti merasakan indahnya dunia.” Kata Jieun lagi.

Yoseob hanya tersenyum lalu mengikuti perkataan yeoja itu. keduanya pun melakukan hal itu selama beberapa detik.

“Yoseob-ssi..” kata Jieun tiba-tiba tanpa menurunkan kedua tangannya maupun melihat ke arah Yoseob.

“Ne?” sahut Yoseob pula, melakukan hal yang sama.

“Gomawo..”

“Untuk apa?”

“Semuanya. Kalau tidak ada kau, mungkin aku masih belum bisa tersenyum sampai sekarang.”

“Geureomyeon.. Ada syarat yang harus kau penuhi supaya aku bisa menerima ucapan terima kasihmu itu.”

“Mwonde?”

“Panggil aku Oppa.”

Jieun tertawa mendengarnya, lalu menurunkan kedua tangannya.

“Arasseo.. Yoseob oppa..” katanya kemudian sambil tersenyum.

Yoseob pun tersenyum mendengarnya dan turut menurunkan kedua tangannya. Setelah itu ia memasukkan tangannya ke dalam saku bajunya dan mengeluarkan sebuah jepit rambut.

“Oh, bukankah itu jepit rambut yang waktu itu?” kata Jieun terkejut melihatnya.

“Aku pernah bilang pada seseorang kalau aku akan memberikan jepit rambut ini pada seorang yeoja yang kusukai.”

“Lalu, kenapa kau belum memberikannya pada yeoja itu?”

“Aku masih mencari tahu siapa yeoja yang akan kuberi ini.”

“Lalu, apa kau sudah menemukannya?”

“Ne..”

“Jinjja? Nugu?”

Yoseob tak menjawab, melainkan perlahan mendekati Jieun dan tanpa disangka-sangka, namja itu menyematkan jepit rambut tersebut pada rambut Jieun. Kini ada dua buah jepit rambut yang sama tengah tersemat di sana. Jieun tertegun dibuatnya.

“Ap-apa maksudnya ini?” tanya Jieun ragu.

“Yeoja itu.. Yeoja yang kusukai sudah kutemukan. Yeoja itu adalah kau, Lee Jieun.”

Jieun tertegun mendengarnya.

“K-kau.. menyukaiku?” tanyanya masih ragu-ragu.

Yoseob tersenyum, lalu mengangguk. Jieun masih tertegun dibuatnya. Ia menatap Yoseob seakan tak percaya.

“Wae? Apa kau masih membenciku karena aku namja yang menyebalkan? Bukankah kau sendiri yang bilang, kalau bukan karena aku, kau tak mungkin bisa ter~”

Chu~

Lagi-lagi Yoseob tak dapat melanjutkan kalimatnya karena secara tiba-tiba dan sekali lagi, Jieun mencium pipinya. Namja itu kembali merasakan degupan kencang di dadanya. Jieun tersenyum melihatnya tercengang seperti itu.

“Nado johahae, Oppa..” kata yeoja itu kemudian. Yoseob tertegun mendengarnya. Jieun pun berbalik hendak pergi seperti yang dilakukannya waktu itu. Namun kali ini Yoseob menahan tangannya. Ditatapnya mata yeoja di depannya itu lekat-lekat. Lalu, secara perlahan ia pun mendekatkan wajahnya pada wajah Jieun, kemudian mencium bibirnya dengan lembut. Jieun memejamkan kedua matanya dan membalas ciuman Yoseob. #Kyaaa anjiirrr wooyy kenapa nulis begini? Jujur ga rela banget bayangin namja seimut Yoseob melakukan ini, ngiahahaplakk!! Sudah-sudah, sampai di sini saja lah! wkwkwk 😀 ~authorperusaksuasana!!

***

 

Sore itu pekan raya sudah penuh sesak oleh orang-orang yang datang. Suara bising pun terdengar di mana-mana. Di tengah hiruk pikuk suasana tersebut, tampak empat orang namja ikut berdesakan memenuhi tempat itu. Bingo! Keempat namja itu tak lain dan tak bukan adalah the Strangers.

“Aigoo, ternyata di tempat ini banyak sekali yeppeo yeoja.” Kata Sungjong yang sudah mulai memasang kedua matanya untuk berburu itu.

“Yaa, lihatlah yeoja itu. Tidakkah menurutmu dia yeoja yang sangat manis? Whoa, aku ingin sekali mengajaknya berkenalan.” sahut Chunji pula lalu berjalan hendak mendekati yeoja yang dimaksudnya itu. Akan tetapi tiba-tiba saja seorang namja mendekati yeoja itu dan mengajaknya pergi. Chunji kembali lagi dengan wajah cemberut. #yeoja yang dimaksud Chunji tadi itu sebenernya author, ga tau kenapa namja itu demen banget sama author, ngiahahablukk!!*

“Dia sudah punya namjachingu.” Kata Chunji kemudian dengan nada patah hati.

“Sabar masbro(?)! Lihatlah, aku sudah menemukan yeoja yang sangat manis. Aigoo, neomu kyeopta. Tunggu di sini aku akan menyapanya dahulu.” Kata Sungjong hendak melangkahkan kakinya mendekati seorang yeoja yang sedang berada di depan sebuah kedai ramen, namun tiba-tiba saja Myungsoo menarik bahunya.

“Waeyo?” tanya Sungjong heran.

“Dia sudah punya namjachingu.” Kata Myungsoo tenang.

“Mwo? Darimana kau tahu?”

“Kau ingat dengan namja yang pernah bertarung melawan Chansung waktu itu?”

“Uh..”

“Dialah namjachingunya.”

“Ck..” Sungjong pun mendesah kecewa mendengarnya.

Tiba-tiba saja Ilhoon terlonjak.

“Waeyo??” tanya Sungjong heran.

“Aku sudah menemukan yeojaku. Yeoja yang sangat cantik. Tunggulah di sini. Aku akan segera kembali.” kata Ilhoon pula. Myungsoo yang penasaran itu pun melihat ke arah yeoja yang dimaksud Ilhoon. Seketika matanya membelalak. Buru-buru ditariknya namja itu kembali.

“Yaa!! Wae geurae?” tanya Ilhoon.

“Apa kau mau mati? Dia itu Jiyeon. Dia yeojachinguku.” Kata Myungsoo galak.

Ilhoon tertawa melihat sikap Myungsoo itu. Ditepuknya pundak namja itu.

“Geogjong hajima. Aku hanya menggodamu saja. Lagipula aku datang kemari bukan untuk mencari yeoja. Aku hanya ingin bersenang-senang saja.” Kata Ilhoon pula.

Myungsoo tersenyum kecil mendengarnya. Mereka melihat Jiyeon tampak menghampiri mereka. Yeoja manis itu tersenyum riang begitu melihat Myungsoo. Rambutnya yang panjang terurai dan melambai-lambai tertiup angin itu semakin tampak memperindah wajahnya. Ia melambaikan tangannya.

“Yaa, apa benar itu yeoja berandal yang pernah memukul kita waktu itu? Aigoo.. Kenapa aku baru sadar kalau sebenarnya dia seorang yeoja yang cantik?” gumam Sungjong heran.

“Ne.. Tidak tampak sama sekali kalau yeoja seperti itu memiliki tenaga seperti namja. Ck..ck..ck..” sambung Chunji pula sambil geleng-geleng kepala.

Myungsoo hanya tersenyum saja mendengar gumaman kedua chingunya itu.

Jiyeon pun semakin dekat dan memperlebar senyuman indahnya.

“Annyeong, Kaleng jalanan!” katanya tiba-tiba pada Sungjong, membuat namja itu membelalak.

“Yaa! Kenapa kau masih memanggilku seperti itu? namaku bukan kaleng jalanan! Aish!” sahut Sungjong tidak terima. Ia pun cepat-cepat menarik kembali pendapatnya soal Jiyeon yang baru diucapkannya tadi.

Jiyeon hanya tertawa mendengarnya, kemudian melihat ke arah Myungsoo yang sejak tadi terus menatapnya tak berkedip.

“W.. waeyo?” tanya yeoja itu sedikit tersipu.

“Yaa, kau baru datang tapi kenapa orang yang pertama kali kau sapa bukan namjachingumu sendiri?” Myungsoo balik bertanya seakan memprotes.

Jiyeon tertawa geli dan menggaruk-garuk kepala mendengarnya.

“Aigoo.. Jangan marah, Oppa. Kajja, kita jalan-jalan saja. Aku akan membelikan eskrim yang enak untuk Oppa.”

“Aku bukan anak kecil. Belikan aku ramen.”

“Geurae, akan kubelikan di tempat Jieun-ssi. Kajja.”

“Geureom, kalian berdua pergilah. Aku akan menemani kedua namja ini berburu.” Kata Ilhoon pula. Myungsoo dan Jiyeon hanya mengangguk kemudian beranjak pergi.

“Hwaiting, Myungsoo-ya!! Yeoja berandal” teriak Sungjong mengacungkan tangannya.

“Jangan lupa surat undangannya!” sambung Chunji pula. #iniapaansih?*

Jiyeon melambaikan tangannya pada mereka, sementara Myungsoo hanya tersenyum saja melihatnya. Keduanya berjalan hendak menuju toko ramen milik Jieun, namun baru setengah jalan, mereka melihat dua orang yang tak asing lagi berjalan di depan mereka.

“Oh, Minho Oppa! Seohyun-ssi?” seru Jiyeon senang begitu melihat mereka.

Minho dan Seohyun pun berhenti dan menoleh.

“Oh, kalian di sini?” balas Minho pula.

“Ne, kami mau ke tempat Jieun-ssi.”

“Jinjja? Kami berdua juga.”

“Jeogi, bagaimana kondisimu sekarang, Seohyun-ssi?”

Seohyun tersenyum, baru kemudian menjawab.

“Aku sudah merasa lebih baik sekarang. Semua karena Minho oppa. Dia yang merawatku selama ini.”

Jiyeon mengangguk-angguk mengerti.

“Arasseo.. Minho oppa memang namja yang baik. Aku sudah hafal dengan sifatnya dari dulu. Sejak pertama kami bertemu pun aku sudah tahu kalau dia namja yang baik.” Kata Jiyeon.

Myungsoo berdehem-dehem ria mendengar Jiyeon memuji-muji Minho seperti itu.

“Uh? Waeyo?” tanya Jiyeon tak mengerti. Tapi Myungsoo diam saja. Minho dan Seohyun tersenyum geli melihatnya.

“Geurae. Kajja..” ajak Minho kemudian, lalu beranjak mendahului Jiyeon dan Myungsoo. Jiyeon hendak menyusul pula akan tetapi Myungsoo menahan tangannya.

“Wae geurae?” tanya Jiyeon heran.

“Yaa, jawablah dengan jujur. Apa kau masih memiliki perasaan pada Minho?” tanya Myungsoo tiba-tiba.

“Mwo?? Yaa!! Museun mariya?”

“Kenapa kau memuji-mujinya di depanku? Apa kau tidak sadar kalau sikapmu itu menjengkelkanku? Aish! Jinjja..”

Jiyeon tertawa geli mendengarnya.

“Oppa.. Cemburu kan?” tanyanya kemudian.

“M.. mwo? Cemburu? Aniyo.. Jangan terlalu percaya diri. Aku tidak cemburu.” Sahut Myungsoo dengan sikap dinginnya.

“Jangan bohong.. Oppa pasti cemburu, kan? Sudahlah, mengaku saja, ne? Ne?” kata Jiyeon sambil menoel-noel (?) pipi Myungsoo sehingga membuat namja itu merasa terganggu.

“Yaa! Yaa! Geumanhae..” kata Myungsoo sambil menepis tangan jahil Jiyeon.

Jiyeon hanya tertawa saja melihatnya. Tapi sebentar kemudian tiba-tiba saja ia mendekatkan wajahnya pada Myungsoo, dan dengan sedikit berjinjit, dikecupnya bibir namja itu sekilas. Myungsoo tertegun dibuatnya. Walaupun hanya sekilas, itu sudah cukup membuat wajahnya memerah. Pasalnya, kali ini Jiyeon yang menciumnya lebih dulu. Apalagi di tempat umum seperti itu. Namja itu sampai tak bisa berkata-kata dibuatnya.

“Geogjong hajima, Oppa. Saat ini cintaku hanya untuk Myungsoo oppa seorang. Jadi jangan takut aku akan berpaling dari oppa. Ne?” kata Jiyeon pula dengan pelan.

Myungsoo tersenyum mendengarnya, kemudian diacaknya pelan rambut yeojanya itu dan dikecupnya kening yeoja itu dengan lembut.

“Gomawo.. Kajja.” Katanya, lalu menggenggam tangan Jiyeon dan mengajaknya menyusul Minho dan Seohyun ke tempat Jieun.

“Oseo oseyo..”

Jiyeon terlonjak ketika melihat siapa yang mengucapkan itu.

“Yoseob oppa? Mwohaeyo?” katanya.

“Aku bekerja di sini.” Sahut Yoseob sambil tersenyum dan melirik ke arah Jieun yang berdiri di sebelahnya.

“Whoa, daebakk. Oppa, kita akan makan gratis..” kata Jiyeon pula pada Myungsoo.

“Yaa! Yaa!! Makan gratis apanya? Kalian harus tetap bayar! Sana duduk!” perintah Yoseob pula dengan galak. Jiyeon pun mendengus dan menurut. Yoseob dan Jieun menahan tawa melihatnya.

Kring!!

Pintu toko terdengar terbuka lagi.

“Oseo ose~ oh, Hyung? Suzy?” Yoseob tak jadi melanjutkan ucapannya ketika melihat Sanghyun masuk bersama Suzy.  Sepasang kekasih itu pun tampak terkejut pula melihatnya. Apalagi mereka melihat orang-orang yang mereka kenal ada di sana semua.

“Oppa! Suzy-ya!” seru Jiyeon heboh.

“Oh, Jiyeon-ah?” sambut Suzy pula yang langsung bergegas mendekati Jiyeon dan ikut duduk di sebelahnya.

“Yaa, mwohae? Duduklah di tempat lain. Ini tempat kami berdua.” Kata Myungsoo galak.

Suzy mendengus mendengarnya.

“Arasseo.. Arasseo.. Tch! Dasar namja galak!” gerutu Suzy, lalu segera pindah ke tempat lain. Sanghyun hanya tersenyum saja dan mengikutinya. Sementara Jiyeon tampak melotot pada Myungsoo seolah memprotes, akan tetapi Myungsoo tak peduli dan hanya tersenyum geli saja melihatnya.

“Kami akan segera menghidangkan pesanan kalian dengan cepat.” Kata Yoseob pula.

“Jadi kau bekerja di sini?” tanya Sanghyun pula.

“Bingo!!”

“Woahh.. Berarti kita makan gratis hari ini?” sambung Suzy.

“Ne.. Makan gratis!” sambung Jiyeon lagi.

Yoseob hanya nyengir saja mendengarnya. Dasar kalian berdua sama saja. Arasseo, gwaenchanha. Kalau kalian memang ingin makan gratis, aku akan menghidangkan ramen super pedas untuk kalian berdua, ngiahaha kata Yoseob dalam hati sambil ketawa evil 😀

***

 

Cheo-eumen chingucheoreom sojung-han yeonin-cheoreom

Naye ma-eume neoye mameul deulyeonoheun sunkanbu-teo

Seolledeon nae ma-eumeun un-myeon-gi twehl-keora-go

Mideot-deon cheo-reopt-deon nae cheo-eum sarang

                              

Neoye miso-ga nareul utke-hae

Byeolbit-gateun sarangiyeosseo

Manyang chowasseo keuddaen geuraesseo

Areumdawot-deon shi-gandeul

 

Ijen apeun mam seulpeun nun-mul

Nae ppyame gidaeyeodo kwaehn-chanha

Giyeok sok sang-cheo on mom kadeuk

Namkyeojyeodo kwaehn-chanha

 

Ma-eumi meonjeo seontaekhan neo

Cheo-eumsarangeuro chungbunhae

Yeongwonhi jigil-kke nae cheo-eumsarang

Sarang-hae haengbo-khaet-deon cheo-eumsarang

 

Kita memulai sebagai teman, berubah menjadi cinta

Seperti kita memulai mencari alasan untuk hatimu menjadi milikku

Kupercaya kupu-kupu dalam perutku akan menuju takdirnya

Aku merasa kekanak-kanakkan, dan ini adalah cinta pertamaku

 

Tawamu membuatku tersenyum

Cinta itu seperti bintang

Menyenangkan, nyata, hingga saat ini

Saat yang begitu indah

 

Patah hati, tangis kesedihan itu semua tak mengapa

Tak mengapa jika aku ditinggalkan dengan kenangan yang tidak indah

Hatiku terlanjur telah memilihmu

 

Cinta pertama yang kita rasakan lebih dari cukup

Aku akan menyayangi selamanya, cinta pertamaku

Cinta pertama yang mencintai dengan kebahagiaan

(Lee Yoon Ji-First Love)

 

_Author POV end_

-The End-

 

Fiiiuuuuhhhh.. Lega rasanya bisa nyelesein ff ini, haha mian ya readers kalo endingnya kurang mengena. Tapi author bener-bener udah berusaha melakukan yang terbaik. Semoga aja readers engga kecewa. Dan author sangat-sangat berterima kasih karena readerdeul udah sudi mengikuti alur ff ini mulai dari awal sampai akhir. Author minta maaph yang sebesar-besarnya kalo ada typo maupun kesalahan di ff ini, terutama yang ada adegan ehemnya, kekeke

Ya sudah kalo begitu sekali lagi terima kasih author ucapkan yang sebesar2nya, semoga di lain waktu kita bisa bertemu lagi dengan ff yang lain dengan pairing yang sama 😀 #plaakk!!

Akhirul kalam, annyeong! 😀 😉

56 thoughts on “[FF Freelance] Where is My Man? (Part 10 – END)

  1. mesem” sndiri baca ni part n ngakak pas part y The Strangers
    Ilhoon koplak lu 😀
    eeiiyyy ,, Yoseob oppa bando lingkaran y dganti pke tanduk ya
    dasar jail *bantuin yoseob oppa msukin bubuk cabe 1 baskom* 😀

  2. Huwaahh…. Daebak…. Senyam-senyum gaje tiap baca nih FF, keyen…. Tp envy bgt, myung kan suamiku, msa d’pasangin ama cwe lain? Author kejam #plaakk

  3. Huahhh akhirnyaaa Happy Ending dan semuanya dapet pasangan.
    Tapi paling suka sama MyungYeon

    I LOVE MYUNGYEON \(´▽`)/

  4. yeeeeeee happy ending!!!!!!! 😀 aaaaa keren ending nya suka bangeeeeeetttt 😀 hahaha
    ngakak ih liat duo jones chunji and sungjong xD wkwkwk cuma ilhoon doang nih yg normal/? haha
    ah pokoknya suka banget sama ceritanyaaaaaaaaa 😀 keren bangeeeettt!!!!

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s