Because of WASABI [PART 2]

because of wasabi (cover)

Title  :  Because of Wasabi

Author  :  ChoaiAK

Genre  :  Romance  ||  Length  :  chaptered  ||  Rating :  PG-15  ||

Cast  :  Park Hyungsik (ZE:A), Nam Jihyun (4Minute), Other Cast ||

PART 1 |

SUMMARY:

“…tidak apa-apa kalau kamu tidak bisa seperti mereka. aku tidak memintanya. Meskipun aku harus menyukai wasabi dalam setiap shusi yang aku makan, aku akan menyukainya. Karena wasabi aku bisa bertemu denganmu. Alasan yang tidak masuk akal untuk jatuh cinta denganmu, memang. Tapi itu kenyataannya. Jadi jangan berpikir kalau kamu satu-satunya orang yang memaksaku melakukan hal yang tidak aku inginkan. Karena bagiku kamu adalah hal terindah yang datang padaku. Meskipun melalui hal yang tidak aku suka pada awalnya…”

*******

Jihyun berlari terburu-buru untuk mengejar kelas mata kuliah selanjutnya. Sejak mulai bekerja paruh waktu di restoran Jepang milik pamannya awal bulan lalu, waktu istirahatnya semakin banyak berkurang. Dia bahkan harus berlari mengejar setiap mata kuliah yang harus disusun ulang untuk bisa mengatur jam kerjanya. Bahkan sejak pagi dia lupa untuk sarapan sampai sekarang sudah lewat jam makan siang. Dia memotong jalan untuk bisa sampai ke gedung tempat kelasnya berada, namun baru ditengah taman yang cukup luas tersebut Jihyun merasa kehabisan tenaga dan harus berhenti membungkuk dengan kedua tangan di lutut untuk menopangnya berdiri.  Ini salah satu resiko untuk bisa membeli gaun yang sangat dia inginkan untuk hadiah pernikahan kakaknya bulan depan.

“kamu baik-baik saja?” Jihyun langsung menegakkan tubuhnya saat mendengar seseorang bertanya dari arah belakang.

Saat dia berbalik dia melihat seorang pemuda tampan sedang memperhatikannya. Jihyun memperbaiki letak kacamatanya dengan gugup sebelum mengangguk  tanpa berani melihat kearah pemuda tersebut.

“kamu yakin baik-baik saja? tadi aku melihatmu berlari terburu-buru dan berhenti tiba-tiba sambil membungkuk disini. Kamu seperti kehabisan tenaga.” Ujarnya. “kamu mau ke gedung itu? aku juga akan kesana. Mau aku bantu?”

Sontak Jihyun mengangkat kepalanya dan memandang lurus kearah pemuda di depannya itu karena kaget mendengar apa yang diusulkannya. “tidak.tidak. aku,- aku baik-baik saja. sungguh.”

“tidak apa-apa. Jadi nanti kalau kamu kelelahan di tengah jalan lagi aku bisa membantumu.” Pemuda itu menyunggingkan senyum manis kearahnya. “ayo.”

Dia menarik nafas sebelum benar-benar menegakkan tubuhnya dan ikut berjalan mengikuti pemuda tersebut. Sambil memeluk erat beberapa buku tebal di depan dadanya, Jihyun sesekali melirik kearah pemuda tinggi disampingnya. Meski saat ini dia melihat pemuda itu dari arah samping, namun pemuda itu jelas terlihat sangat tampan. Wajahnya bersih, rambutnya hitam dan lebat. Garis wajahnya membuatnya terlihat masculin. Namun tiba-tiba pemuda itu menoleh kearahnya dan membuatnya langsung mengalihkan pandangan.

“ada apa?”

Jihyun menggeleng salah tingkah. Wajahnya memerah karena malu.

“siapa namamu?” tanya pemuda itu.

“aku Nam-“

“Park Hyungsik!!!” belum sempat Jihyun selesai menyebutkan namanya seseorang berteriak memanggil pemuda yang berjalan disampingnya yang langsung menoleh kearah dua pemuda lain.

Baru saat dia melihat pemuda-pemuda itu dari dekat, Jihyun bisa memperhatikan ketiga pemuda itu bergantian, dia seperti pernah melihat mereka. Tapi dimana?.

“Ah, kalau begitu aku duluan. Terima kasih sudah membantuku.” Pamit Jihyun cepat. “permisi.”

“ah…” tanpa membiarkan pemuda itu bicara, Jihyun dengan cepat berjalan memasuki gedung kuliahnya tanpa menoleh kebelakang lagi.

 

“aku seperti pernah melihatnya,” Jihyun menggigit bibir bawahnya seraya mencoba mengingat-ingat dimana dia melihat pemuda itu. “dimana aku pernah melihatnya?”

“tapi dimana aku melihatnya? Teman-temannya juga seperti tidak asing.” Tiba-tiba dia memukul kepalanya sendiri dengan pelan, “Aish, Nam Jihyun. Mereka satu kampus denganmu tentu saja wajah mereka tidak asing lagi. Apa yang kamu pikirkan?”

Tanpa disadarinya seseorang sudah ikut berjalan disebelahnya mulai dari memasuki gedung kuliahnya. Heo Gayoon berjalan sambil mendengarkan setiap ucapan dan pertanyaan yang dilontarkan Jihyun pada dirinya sendiri. Baru saat Jihyun mulai bicara lebih cepat dan mengeluarkan banyak pertanyaan tentang pemuda satu dan pemuda dua, Gayoon mulai kehilangan arah cerita.

“tunggu.tunggu. Aku tidak bisa mengerti apa yang kamu ucapkan kalau kamu bicara cepat seperti itu.”

Jihyun terlonjak kaget saat tiba-tiba melihat sahabatnya sudah berada disebelahnya dengan wajah datar melihatnya. “YA! sejak kapan kamu disitu?”

“sejak awal masuk gedung.” Jawab Gayoon. “kamu terlalu sibuk dengan pikiranmu sendiri. siapa yang sedang kamu bicarakan?”

Entah untuk kesekian kalinya Jihyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu menunduk menghindari tatapan bingung Gayoon. Sering kali dia merasa iri dengan sikap gayoon yang bisa dengan mudah berteman dengan siapa saja, bicara dengan siapa saja ditambah dengan penampilannya yang menarik dengan wajah cantik. Berbeda dengan dirinya yang selalu menjadi gadis tertutup dan bersembunyi di balik penampilannya yang kutu buku meski berkali-kali kakak dan sahabatnya memaksanya untuk sadar kalau sebenarnya dia mempunyai wajah yang sangat cantik.

“tidak, bukan siapa-siapa.” Katanya sambil memperbaiki letak kacamatanya.

“bagaimana pekerjaanmu?” tanya Gayoon yang mulai khawatir dengan keadaan Jihyun yang terlihat sangat lelah belakangan ini. “sebaiknya prioritaskan salah satu. Kamu bisa membuat tubuhmu sakit jika seperti ini terus.”

“hanya untuk beberapa saat sampai-“

“aku tau.” potong Gayoon. “sampai uangmu cukup untuk membeli hadiah pernikahan kakakmu. Ya kamu mengatakannya berulang kali.”

Gadis itu tersenyum lebih memperlihatkan senyum manisnya. Bagaimanapun, dia akan bertahan untuk bisa memberikan hadiah spesial untuk kakaknya.

 

Beberapa kali pemuda itu menoleh kearah gedung kuliah di belakangnya tempat gadis yang tadi berjalan bersama-samanya. Sebelumnya dia melihat gadis itu berlari terburu-buru dengan beberapa tumpuk buku di pelukannya lalu mendadak berhenti di tengah taman dan membungkuk dengan nafas tidak beraturan. Meski tidak terlalu yakin namun dia merasa seperti pernah melihat gadis itu. Namun dimana dan kapan dia sendiri tidak bisa mengingatnya.

“Hyungsik-ah.”

“huh?” dia menoleh dengan cepat kearah Siwan yang memanggilnya.

“dari tadi kamu melihat kearah gedung kuliah disana. Ada apa?”

Salah tingkah, Hyungsik membenarkan letak tas yang disandangnya meski tas tersebut baik-baik saja tergantung di sebelah bahunya. “tidak ada apa-apa.”

Siwan terlihat baru akan bicara lagi saat tiba-tiba terdengar suara melengking memanggil mereka dari arah belakang. Tanpa melihat sekalipun sudah bisa ditebak siapa pemilik suara nyaring tersebut. Kwanghee. Teman baik mereka yang tidak pernah punya rem pada mulutnya. Mereka terus melangkah tanpa repot-repot menunggu Kwanghee yang berlari terburu-buru kearah mereka.

“YA!!” kedua pemuda tadi langsung menutup telinga mereka saat Kwanghee sampai di dekat mereka. “benar-benar kalian ini. aku sudah berteriak sampai tenggorokanku sakit tapi kalian seperti tidak perlu melihat kebelakang-“

“karena kami sudah tau kalau itu kamu.” Potong Siwan.

“benarkah?” Kwanghee tersenyum memperlihatkan sederet giginya yang rapi. “baiklah kalau begitu.”

“dimana Kevin? Aku tidak melihatnya dari tadi.”

“kelas tambahan.” Jawab Hyungsik. “tadi aku satu kelas dengannya.”

“kalian tau tidak.” Pemuda dengan deretan gigi yang rapi tersebut terlihat akan memulai kebiasaanya. “aku tadi bertemu dengan bidadariku.”

Hyungsik dan Siwan melihat Kwanghee dengan dahi berkerut. “siapa maksudmu?” tanya Siwan.

“Sunhwa.” Ujarnya sambil merangkul lengan Hyungsik dengan gemas melepaskan rasa senangnya yang seperti sedang melayang ke udara. “dia tersenyum padaku. Apa menurutmu dia mulai menyukaiku?”

“kalau dia mulai tidak waras. Ya.”

Memukul lengan Siwan cukup keras, Kwanghee mendelik kesal pada temannya itu. “dasar kau teman tidak punya perasaan.”

“kalau aku tidak punya perasaan aku tidak akan mungkin dari tadi ikut sakit kepala melihat anak ini berkali-kali menoleh kearah gedung kuliah disana. Entah apa yang sedang diperhatikannya.”

Kwanghee langsung melihat temannya yang satu lagi. Sadar sedang diperhatikan Hyungsik menoleh kearah Kwanghee yang sudah menyipitkan matanya dengan sebelah tangan terlipat di depan dada dan tangan yang lain di dagu. “ada perempuan yang kamu lihat disana? Siapa dia? Apa dia cantik? Termasuk dari penggemar barumu? Jurusan apa dia? YA Park Hyungsik. Dengarkan nasehatku-“

“Stop!” Hyungsik mengangkat tangannya tepat di depan wajah Kwanghee dan membuat pemuda itu terdiam. “tetap seperti itu.”

“YA!! Tidak sopan seperti itu padaku. Bagaimanapun aku ini tetap lebih tua darimu.”

“tapi kamu terlalu menyebalkan kalau sudah bicara.” Ujar Hyungsik datar.

“sudah-sudah. Kalian ribut seperti ibu-ibu.” Pada akhirnya Dongjun menengahi perdebatan antara Kwanghee yang tidak mau kalah dan Hyungsik yang sedang tidak ingin diganggu.

“ah, yang tadi itu temanmu?” Dongjun yang dari tadi tidak terdengar suaranya tiba-tiba mengingatkan kembali Hyungsik pada gadis itu.

“bukan,”

“lalu? kalian berjalan bersama seperti yang sudah kenal lama.” tambah Dongjun. “aku seperti pernah melihatnya.”

“benar juga.” dukung Siwan.

“benarkah?” Hyungsik mulai mengingat-ingat, apa dia pernah bertemu gadis itu sebelumnya?.

“YA!” seru Dongjun pada Hyungsik. “jangan di pikirkan. wajar saja kalau kita seperti pernah melihatnya, secara kita semua ini satu kampus.”

“Siapa yang sedang kalian bicarakan?” Kwanghee satu-satunya yang tidak mengerti siapa yang teman-temannya bicarakan.

“bukan siapa-siapa.” Hyungsik langsung menempelkan jari telunjuknya di bibir untuk menyuruh semuanya untuk diam dan membuat Kwanghee mulai mengeluarkan suara nyaringnya tanpa henti.

 

 To be Continued-

wait until next part, 😉

7 thoughts on “Because of WASABI [PART 2]

  1. Yaa kenapa pendek benar chingu??
    Ternyata mereka 1 kampus
    Hahahaha… Mereka lupa lupa ingat pernah b’temu dimana
    Lanjut lanjut chingu

  2. kwanghee cerewet bener sih hahaha di sini ada JiHyungshik dan SunHee couple next jebal di lanjut ya thor #puppy eyes

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s