[FF Freelance] Painful-Beautiful Memories (Oneshot)

Painful-Beautiful Memories

 

Title : Painful-Beautiful Memories

Main Casts : Bae Suji (Miss A’s Suzy), Shin Wonho (Cross Gene)

Other Casts : Kang Jiyoung (Kara’s Jiyoung), Jang Yoonhee (OC) and others.

Author : hanjeyoo

Genre : Angst, School Life, Friendship, Romance

Length : Oneshot

Rate : T (Teen)

Disclaimer : Yeay, my first angst fanfic! Yang ada tanda (——–) berarti awal atau akhir dari flashback, dan biasanya di setiap flashback itu ada judulnya. Oke? Rempong amat ya~ Dapet ide ceritanya dari… dari mana ya? Dari mana aja deh. Pokoknya murni dari otakku dan dari beberapa hal lain juga pastinya. Kalo ada kesamaan dengan cerita lain mungkin cuma kebetulan kami dapet insprirasi yang sama. FF ini juga udah pernah aku post di blog pribadiku, hanjeyoo.wordpress.com

Summary: “Awalnya kukira kenangan itu benar-benar indah. Namun semua berubah ketika dirinya muncul lagi di hadapanku. Kenyataan itu selain indah ternyata juga… menyakitkan.”

****

Suji tak menyangka acara reuni SMA-nya itu benar-benar ada. Ia kembali menatap surat undangan yang diberikan Jiyoung—sahabat terawetnya dari SMP—kemarin saat mampir ke kantornya. Awalnya Suji mengira Jiyoung hanya bercanda karena mereka memang selalu menginginkan acara yang tak pernah kunjung ada itu. Tetapi Jiyoung tidak berbohong karena undangan itu jelas-jelas resmi berkat partisipasi dari teman-teman seangatannya saat SMA dulu yang tak begitu ia kenal.

Suji memandang bingkai foto yang ia letakkan di atas meja kerjanya. Ia senang sekali memandang foto itu. Bingkai yang berisi foto dirinya bersama teman-teman sekelasnya pada saat selesainya ujian akhir sekolah—beberapa saat sebelum mereka tamat. Memandang foto itu membuatnya seakan-akan kembali lagi ke masa-masa yang indah itu. Ia memandangi wajah temannya satu-persatu. Rasanya tidak sabar sekali untuk jumpa pada mereka minggu depan. Ia sangat merindukan mereka semua. Apalagi orang itu.

Pandangannya terhenti pada seorang lelaki yang sedang tertawa bahagia di foto itu. Disampingnya ada Suji yang sedang memandangnya bingung. Suji mendengus saat kembali mengingat kejadian di foto itu.

———

Foto Bersama

“Ambil posisi masing-masing. Pasanglah wajah terbaik kalian. Jangan sampai menyesal, oke?”

“Kau berisik sekali, Hongjun-ah. Cepat, fotokan saja kami!” protes Nayoung.

“Kau ini, sudah meminta tolong, malah marah-marah!” balas Hongjun. Ia tak merasa tak berhak dimarahi walau perannya disini hanya seorang anak kelas sebelah yang diminta bantuannya untuk mengambil foto anak-anak kelas 3-1 disaat seluruh murid lainnya pada berhambur untuk melakukan apa saja yang mereka inginkan setelah ujian akhir selesai.

“Ya, ya, ya. Mianhae, Hongjun-ah. Cepat fotokan kami.” Ucap Nayoung dengan nada dibuat imut yang dibalas Hongjun dengan cibiran.

Sementara itu di barisan foto Wonho masih saja sibuk menjahili yeoja berambut panjang yang berdiri di sampingnya itu.

Ya! Shin Wonho, bisa diam tidak?!” bentak yeoja itu.

“Aku kan hanya diam saja sedari tadi. Kau ini cerewet sekali, Bae Suji.” Balas Wonho dengan wajah polos tetapi tetap saja ia memain-mainkan rambut Suji dengan tangannya.

Suji segera memukul-mukul tangan Wonho dengan kesal. Wonho pun menurunkan tangannya sambil menyengir heboh.

“Sekali lagi kau menggangguku, akan kuhajar kau nanti!” ancam Suji. Entah sudah keberapa kalinya ia mengucapkan hal tersebut pada Wonho saat itu.

“Hahahaha!” Wonho hanya tertawa terbahak-bahak karena harus mendengar kata-kata itu lagi. Suji hanya menatap namja itu heran.

“Ayo, ayo! Aku akan segera memotret kalian. Satu… dua… tiga… kimchi!”

——–

Suji tertawa miris. Ia sangat kesal pada Hongjun yang tidak mengambil foto ulang. Suji ingat kata-kata Hongjun saat itu, “Foto seperti inilah yang spesial. Lihatlah, disaat tua nanti jika kau melihat foto ini kau akan tertawa-tertawa sendiri!”. Dalam hati Suji memberikan selamat pada Hongjun yang ternyata perkataannya benar.

Tiba-tiba ponsel Suji berbunyi. Jiyoung meneleponnya.

“Kau akan datang, kan, ke acara reuni minggu depan?”

Suji berdecak. “Sudah berapa kali kau tanyakan itu? Dan sudah berapa kali aku menjawabnya?”

“Ah… baiklah. Aku hanya ingin memastikan karena rasanya hambar saja jika kau tidak datang.”

“Hambar? Kau kira aku ini apa? Gula?”

Yeah, you’re right, sweetie!”

“Kau ingin tinju kiri atau kanan?” ucap Suji seraya mengepalkan tangan kanannya yang dianggapnya lebih kuat itu walaupun Jiyoung tidak bisa melihatnya saat ini.

“Oke, oke. Jangan marah begitu, Suji-ah. Seperti lagi datang bulan saja. Ya sudah, sampai jumpa minggu depan, sweetie!”

“Aku bukan gul—“

Klik.

“Anak ini, benar-benar… aish!” umpat Suji.

Suji meletakkan ponselnya di atas meja. Ia kembali memandang bingkai foto yang sudah diletakkannya di tempat semula tadi. Wajahnya yang dari kusut pun menjadi cerah kembali. Benar-benar tidak sabar akan datangnya minggu depan.

****

“Apa? Kau sudah sampai? Yang benar saja!”

Suji tertawa geli mendengar teriakkan Jiyoung diujung sana. “Ya, aku sudah sampai ke SMA Myungji.”

“Acaranya kan dua jam lagi. Kau bukan panitia, kan?”

“Bukan!” sangkal Suji, “tetapi aku ingin jalan-jalan saja. Aku rindu sekali dengan sekolah ini. Sudah lama aku tidak mengunjunginya.”

“Sendirian? Tahu begitu aku juga ikut denganmu. Kau tahu? Aku masih di salon. Ya, mana tahu saja Sungho akan datang.”

Sungho. Anak kelas 3-2 yang sudah ditaksir Jiyoung sejak kelas 2 SMA.

“Kuharap seperti itu.”

Setelah membicarakan hal-hal tak penting ala wanita, Suji pun menutup ponselnya. Terdengar suara berisik di dalam aula sekolah, sepertinya panitia memang sedang mempersiapkan acara. Ia pun memandang pantulan dirinya di pintu kaca gedung sekolah yang sedang menggunakan dress putih sepanjang lutut, tampak sederhana—tetapi tetap enak dipandang. Mungkin ini adalah tampilan terbaiknya. Ia tak bisa berpenampilan asal-asal karena akan bertemu orang-orang yang sudah tak lama dilihatnya. Ia ingat, dulu ia selalu membenarkan penampilannya disini sebelum masuk ke gedung sekolah.

Suji sangat bersyukur karena acara reuni itu dilakukan di sekolah ini juga, bukan di gedung mewah, balai kota, atau tempat-tempat untuk acara lainnya. Toh, ia juga bisa sekalian bernostalgia seperti yang akan dilakukannya sekarang ini.

Suji melangkahkan kakinya masuk ke dalam bangunan sekolah. Melangkahkan kaki disini membuatnya seakan-akan menjadi anak SMA kembali. Ia mulai berimajinasi seolah-olah ia sedang menggunakan seragam SMA-nya. Setiap sudut bangunan ini memiliki kenangan tersendiri baginya, saat bersama teman-temannya, senior-senior, bahkan guru-guru yang terkadang membuat Suji kesal atas tugas-tugasnya yang menumpuk. Dan yang sangat diingatnya adalah kenangan bersama namja itu.

Matanya tertuju pada sebuah tong sampah besi berbentuk tabung di dekat papan pengumuman.

Tong sampah itu…

——–

Insiden yang Akan Menjadi Sejarah Menghebohkannya

“Bagaimana ini?!” jerit Suji sambil berlari menyelusuri halaman sekolah barunya. Baru hari pertama di SMA saja ia sudah telat. Ia menyesal karena tadi malam ia rela bergadang menamatkan komik yang baru ia beli di sore harinya. “Jiyoung! Anak itu sekelas tidak, ya, denganku?”

Ia membuka pintu kaca gedung sekolah dan segera kembali berlari sekencang-kencangnya. Belum sampai 5 meter ia berlari, saat melewati sebuah tong sampah, tiba-tiba saja…

BRUUUK!!

Suji terjatuh dan lututnya terseret. Kebetulan sekali lantai sekolahnya ini merupakan ubin yang bertekstur kasar.

Aish! Sakit sekali!” rintihnya, ia pun bisa merasakan perih di lututnya. Sementara tong sampah yang tak sengaja terdorong olehnya juga ikut terjatuh dan mengeluarkan sampah-sampah yang ada di dalamnya.

Tetapi bukan rasa sakit di lututnya saja yang ia rasakan. Ia juga merasakan adanya berat yang ditanggung di punggungnya. Ia pun tersadar kalau ada orang yang menimpanya. Ia langsung bersusah payah menegakkan badannya sehingga orang yang menimpanya itu tersungkur di sebelahnya.

Bruk!!

“Ah! Neomu apo…,” rintih orang itu yang ternyata seorang namja. Ia menggunakan seragam sekolah. Ternyata ia juga seorang murid disini. Ia mengelus-elus bokongnya sambil menatap Suji geram. “Kau ini! Enak saja membuatku begi—eh?! Lututmu berdarah!”

Suji yang merasakan sakitnya itu semakin menjalar di lututnya pun segera berdecak kesal pada namja itu. “Sakit sekali, tahu! Aduh!” ia menghembus-hembuskan lukanya. “Kau tahu, tidak? Aku sudah terlamba—“

“Hei, kalian! Ada apa ini?”

Suara seorang lelaki mengejutkan mereka berdua. Ketika mereka mendongak untuk mengetahui sumber suara itu, mereka pun terkejut melihat seorang lelaki tua yang memakai jas berwarna abu-abu itu sedang memelototi mereka sampai-sampai matanya sudah seperti akan keluar. Di name tag-nya tertulis, ‘Han Jongshin – Kepala Sekolah’.

“Dan… tong sampah ini jatuh? Sampah-sampahnya juga berserakan!”

Suji menelan ludahnya dengan susah payah dikarenakan dua hal, kedatangan kepala sekolah itu dan rasa sakit yang ditahannya di lutut.

Kepala Sekolah Han menggelengkan kepalanya. “Coba jelaskan pada saya apa yang terja—hei, kenapa lututmu berdarah?!”

~

“Sebentar saja, kok, sakitnya. Hanya seperti biasanya kau terjatuh saat bermain kejar-kejaraan ketika kecil.” Kata sang penjaga UKS yang baru saja menangani luka di lutut Suji yang sudah diperban itu.

Suji mengangguk. Ia lantas menatap namja yang ada di sampingnya itu. Namja itu sedang memandang Suji dengan tampang bersalah.

“Kalau kau? Apa keluhanmu? Kau juga ikut terjatuh, kan?” tanya penjaga UKS pada namja itu.

“Tidak apa-apa. Hanya bokongku yang sakit sekali, tetapi itu tadi, sekarang tidak, kok.”

“Baiklah.” Sahut si penjaga UKS. “Aku akan membuatkan surat izin untuk kalian karena telah melewatkan jam pertama. Siapa namamu?” ucapnya seraya menatap Suji sambil tersenyum.

“Bae Suji.”

“Kalau kau?”

“Shin Wonho.”

Oh, ternyata itu namanya. Belum sempat berkenalan saja sudah mendapatkan insiden seperti ini. batin Suji.

“Kalian kelas berapa?”

“1-3,” jawab mereka serempak.

Suji dan Wonho saling berpandangan kaget.

Penjaga UKS mengangguk paham, “Untung saja kalian satu kelas. Jadi saya tidak repot,-repot membuat dua surat izin.” Katanya.

Setelah diperbolehkan keluar dari ruang UKS dan diberikan surat izin, Suji dan Wonho pun berjalan meninggalkan ruangan itu menuju kelas mereka yang belum mereka ketahui tempatnya. Suji masih bisa merasakan lututnya yang nyeri, maka dari itu ia berjalan dengan sedikit terpincang.

Mereka berjalan dalam keheningan, Suji akhirnya menatap Wonho ingin tahu. Merasa sedang dilihat, Wonho pun menatap Suji kembali dan Suji langsung membuang muka. Tiba-tiba Wonho berhenti berjalan, lantas Suji pun mengikutinya. Mereka berhenti tepat di depan ruang kesenian.

“Shin Wonho imnida.”

Suji menatap uluran tangan itu ragu, tetapi ia pun menyambutnya juga sambil tersenyum. “Bae Suji imnida. Aku sudah tahu namamu, kok”

“Aku juga sudah tahu namamu.”

Suji hanya mendengus melihat respon namja itu.

“Oh, ya. Aku hampir saja lupa. Hmm… aku minta maaf atas kejadian tadi. Aku benar-benar tidak sengaja, sungguh. Aku juga sudah terlambat. Ketika melihatmu yang juga sedang berlari entah mengapa aku berharap kalau kita ini sekelas, agar dihukum sama-sama maksudnya. Dan ternyata… kita memang sekelas! Kebetulan sekali, ya,” ucapnya panjang lebar.

Baru saja Suji ingin membalas ucapannya, tiba-tiba Wonho menyambar lagi.

“Tetapi… kenapa malah terjadi insiden seperti itu, ya?” Wonho tertawa geli sambil menerawang, mungkin mengingat kejadian tadi. “Kukira ketika aku terpeleset tadi aku yang akan tersungkur ke lantai, ternyata aku malah menimpamu. Aduh… aku berat sekali, ya? Hehehe, maklum, selama liburan ini aku hanya menghabiskan waktu di rumah untuk main game dan makan. Alhasil, berat badanku menjadi naik. Tidak masalah, sih. Soalnya aku memang butuh lemak. Hihihi. Sepertinya memang berat sekali, ya? Sampai-sampai tong sampahnya pun ikut terjatuh. Aigoo, untung saja tidak aja yang melihat kita seperti itu selain kepala sekolah, ya. Kalau tidak, aku malu sekali pastinya. Pasti meninggalkan kesan memalukan oleh orang-orang. Ah, shireo! Benar,kan? Tetapi lukamu itu… aduh, pasti sakit, kan? Daranya banyak sekali tadi. Aku benar-benar tidak enak padamu jadinya.”

Suji menganga sambil menatap Wonho tak percaya. Ternyata laki-laki ini banyak omongnya juga.

Merasa tak direspon oleh Suji, Wonho pun memandang yeoja itu bingung. “Hei, kau memaafkanku, kan?”

“Ah…ne?” Suji mengerjapkan matanya lalu mengangguk. “Ya, aku memaafkanmu.”

Wonho masih menatap Suji bingung. “Terima kasih.”

Suji menatap Wonho geli, mungkin ia berpikir mengapa Suji hanya meresponnya seperti itu.

“Kau ini… seperti burung saja. Terus mengoceh,” Suji mempraktikkan gaya burung mengoceh menggunakan tangannya. Wonho menatapnya sambil membelakkan matanya. “Eit! Jangan marah dulu. Kau tahu? Tadi aku ingin membalas ucapanmu tapi kau malah dengan asyiknya berceloteh sendiri. Benar, kan?”

Wonho lantas tersadar, tertawa malu dan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia menatap Suji serbasalah.

“Maaf. Aku memang begini dari lahir. Hehehe… tapi, tolong, jangan membenciku, ya?”

Suji menaikkan alisnya, “Puahahahaha!!” tawa Suji meledak ketika Wonho mengucapkan kata itu. Wonho pun mengernyitkan alisnya bingung.

“Kau ini…,” Suji menyeka air matanya yang keluar karena tertawa terlalu bersemangat.

Wonho hanya menyengir kaku. Mereka pun melanjutkan langkahnya ke kelas.

“Oh, iya. Aku merasa kalau insiden tadi itu akan menjadi sejarah yang menghebohkan di masa depanku. Untuk itu aku menganggapmu spesial—bukan spesial bagaimana, ya. Tetapi… karena kau juga terlibat dalam kejadian aneh itu. Maka dari itu…,”

Suji menatap Wonho menunggu jawaban.

“Bolehkah aku memanggilmu… Baesuj?”

Mwo?”

Wonho lagi-lagi menyengir heboh sambil menatap Suji memohon.

Walau hanya tertawa seperti itu… mengapa ia terlihat lucu? Tunggu. Lucu? Apa yang membuatnya lucu?  batin Suji sambil memandang Wonho dengan teliti sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

Namun, ia pun menganggukkan kepalanya sambil ikut menyengir.

Mungkin nama itu terdengar aneh. Tetapi nama itulah yang memulai awal dari kedekatan mereka. Dan Suji selalu menyukai nama itu, seaneh apapun.

——–

“Baesuj…,” gumam Suji ketika ia berhenti di depan ruang kesenian. Ia menatap koridor di depan ruang itu dengan penuh arti. Tidak disangka saja tempat itu menjadi bukti awal dari keakraban mereka, padahal baru saja mengalami insiden hebat beberapa menit sebelumnya sebelum mengenal satu sama lain.

Betapa ia merindukan dipanggil seperti itu. Tak ada yang memanggilnya ‘Baesuj’ selain namja itu. Bahkan, Jiyoung saja tidak mau memanggilnya begitu. “Aneh sekali. Aku tak tega padamu.” begitu katanya.

Suji kembali berjalan. Kini ia sudah sampai ke deretan kelas 1. Dan itu dia, kelas 1-1. Kelas penuh memori ketika ia masih baru mengenal dunia remaja sungguhan. Dimana ia bukanlah seorang anak-anak menuju remaja lagi saat itu.

——–

Kami Bukan Anak SMP Lagi

“Baesuj!”

“Apa?!” tanya Suji kesal. Ia sedang membaca komik pinjaman Jiyoung dengan sangat serius.

Wonho melemparkan botol minuman kosong tepat ke kepala Suji. Suji langsung mengelus-elus kepalanya dan menegakkan kepalanya, mencari-cari dimana keberadaan Wonho. Ternyata di sampingnya.

Suji langsung memelototi namja itu. “Ya! Kau tidak lihat orang sedangs serius?!”

“Tidak!” Wonho menjulurkan lidahnya pada Suji.

“Kau ini… cari gara-gara saja!” Suji bangkit dari tempat tidurnya dan mengejar Wonho keliling kelas. Terdengar suara geseran meja, kursi, dan barang-barang lainnya yang memberikan kesan ribut di kelas itu. Saat istirahat itu hanya ada Suji, Wonho dan Jiyoung—yang sedang belajar untuk ulangan matematika—di kelas mereka. Jiyoung yang mulai risi pun segera menutup bukunya dengan kasar dan bangkit dari kursinya.

Yaaa!! Kalian ini ribut sekali, sih?!” keluh Jiyoung sambil menatap Suji dan Wonho sebal. Mereka pun segera berhenti berlari dan membeku di samping meja guru.

“Dia menggangguku!” Suji menunjuk Wonho yang memasang wajah tak bersalah.

“Kau tidak perlu melawannya bisa, kan? Memang harus dilawan?! Seperti anak kecil saja!” papar Jiyoung sambil menghentakkan kakinya.

Suji hanya memandang Wonho kesal, Wonho pun menjulurkan lidahnya. Lalu…

“Kau juga, Wonho!! Jahil sekali, sih! Kau bukan anak TK lagi!” bentak Jiyoung geram.

Kini giliran Suji yang menjulurkan lidahnya pada Wonho.

“Intinya, kalian beruda ini sudah kelas 1 SMA. Jangan bersikap seperti itu lagi. Kalian sudah besar. Bukan anak SMP lagi. Ingat itu!” ucap Jiyoung.

Suji dan Wonho hanya mengangguk paham sambil kembali ke bangkunya masing-masing. Jiyoung memang akan seperti ibu-ibu kalau sedang kesal.

——–

Suji memandang tempat duduk barisan nomor dua dari kanan itu sambil tersenyum simpul. Ia dulu pernah ketahuan menggunakan kalkulator saat ulangan kimia di bangku itu. Mengingatnya Suji segera merengut. Memalukan sekali, belum lagi kalkulatornya disita. Teman-teman sekelasnya pun menertawainya. Ya, Suji memang lemah dalam pelajaran kimia.

Setelah melewati seluruh deretan kelas 1, ia berjalan ke kantor guru dan berbelok ke kiri. Tak lama kemudian ia menemukan kamar mandi wanita dan pria. Saat itu juga tawanya melebur. Ia langsung menutup mulutnya dan melirik ke kanan dan kiri. Suaranya terlalu menggema, untung tidak ada siapa-siapa di koridor itu.

Toilet pria ini…

——–

Wanita yang Masuk ke dalam Toilet Pria Punya Alasan Tersendiri

Yang terdengar di koridor itu hanya suara langkah kaki beberapa orang yang sedang berlari sekencang-kencangnya. Mereka tiba di belokan dan hampir terjatuh karena terlalu kencang berlari saat ingin berbelok. Namja itu pun menarik kembali tangan seorang yeoja yang merenggang di genggamannya itu. Sementara yeoja itu sudah seperti sangat kehabisan napas hingga saat itu juga rasanya ia ingin sekali pingsan.

Yaaa! Kemari kau! Sementang aku belum sempat melihat wajahmu jangan seenaknya saja kabur!”

Mereka pun semakin kencang berlari. Sementara langkah lari yang mengikuti mereka dari belakang terdengar semakin menjauh.

“Yang jelas kau itu seorang yeoja. Awas saja kalau aku sampai tahu kau itu yang mana!” teriak suara orang yang mengejar mereka itu yang volumenya semakin terdengar mengecil.

“Wonho-ya. Aku sudah tidak tahan lagi. Mau sampai kapan kita terus-menerus berlari?” ucap Suji dengan sepenuh tenaga di tengah-tengah uji maratonnya.

“Ya mau bagaimana lagi… ah! Aku tahu!” teriak Wonho.

Suji membelakkan matanya ketika Wonho membawanya masuk ke dalam toilet pria. Namun ia sudah benar-benar pasrah karena jantungnya serasa akan copot. Ia lantas menjatuhkan badannya di samping wastafel sambil mengatur kembali napasnya. Wonho ikut duduk di samping Suji dan juga melakukan hal yang sama.

Setelah kira-kira tenaganya sudah terkumpul kembali. Suji buru-buru menatap Wonho tak habis pikir.

“Kenapa kau membawaku kesini? Toilet pria? Bagaimana kalau ada yang masuk?!” keluh Suji.

“Disaat-saat seperti tadi hanya toilet pria-lah tujuan utamaku. Kau pikir mau dimana lagi kita bersembunyi? Gil Seonsaengnim kan wanita, ia tidak mungkin masuk kesini. Dan kurasa ia juga tidak akan kepikiran kalau kau ada disini,” jelas Wonho sambil membuka jas seragam sekolahnya dan melemparnya asal.

Yaaa! Kau mau apa?” tanya Suji sambil mundur dan memeluk tubuhnya sendiri.

“Kau ini negative thinking sekali, ya. Aku kepanasan. Hanya membuka jas saja, kok!”

Suji mendengus kesal.

Ia tidak tahu kalau akan menjadi seperti ini. Tadi, ia dan Wonho sedang mengerjakan tugas bahasa inggris di perpustakaan. Seharusnya Jiyoung ikut, tetapi ia tiba-tiba ada urusan mendadak. Jadi, hanya mereka berdua sajalah yang mengerjakan.

Setelah selesai melakukannya, mereka pun sadar kalau mereka tidak tahu kapan tugas itu harus dikumpul. Akhirnya mereka memutuskan untuk bertanya pada Gil Seonsaengnim di ruang guru, berharap beliau masih berada di sekolah. Tetapi Gil Seonsaengnim tak tampak di mejanya. Bukan hanya Gil Seonsaengnim, tetapi tak ada satupun guru yang berada di ruangan itu. Mereka pun memutuskan untuk pulang saja. Tetapi ada sesuatu yang menarik atas meja Gil Seonsaengnim. Suji dan Wonho pun mendekati meja itu kembali.

Sebuah vas bunga dengan motif bergambar bunga-bunga yang berwarna-warni tergeletak di atas meja Gil Seosnaengnim.

“Hahaha! Norak sekali!” kata Wonho sambil tertawa terpingkal-pingkal.

“Ya! Ini unik, tahu!” sergah Suji sambil menatap vas bunga tanah liat itu dengan terkagum-kagum.

“Unik? Dari segi mana kau katakan itu unik?” ucap Wonho disela-sela tawanya sambil pergi meninggalkan ruang guru itu.

Wonho bersandar di dinding dekat ruang guru sambil menunggu Suji yang terpana akan vas bunga itu. Ia pun mendengus geli, bagaimana Suji sampai sebegitunya melihat vas bunga yang dianggap norak itu oleh Wonho?

Praang!!

Tiba-tiba terdengar suara pecahan barang. Wonho mengernyitkan alisnya, ia berperasaan tidak enak. Jangan-jangan…

“Yaaa! Apa itu? Aigoo… vas bungaku mengapa jadi… hei! Kau yang melakukannya? Siapa kau?! Hei! Mengapa lari?!”

Dan saat itu juga terdengar langkah kaki orang berlari yang mendekat ke arah Wonho. Suji. Wonho lantas menarik tangan yeoja itu dan membawanya lari sekuat tenaga. Sementara jauh dibelakangnya Gil Seonsaengnim berlari mengejarnya.

Dan akhirnya sampailah mereka di toilet pria ini.

Suji menghela napas lega karena untung saja Gil Seonsaengnim belum sempat melihat wajahnya.

“Kenapa tiba-tiba vas itu bisa pecah?” tanya Wonho tiba-tiba.

Suji memandang bilik-bilik kamar mandi yang ada di depannya dengan datar. “Ketika aku ingin kembali, aku tak sengaja menyenggolnya. Saat itu juga Gil Seonsaengnim keluar dari kamar mandi di ruang guru.”

Wonho tertawa mengejek. “Lantas, kau mau menggantinya?”

“Kalau bisa. Tetapi dimana bisa aku dapatkan vas bunga itu kembali?”

“Yah, dicari saja sampai dapat,” jawab Wonho santai.

“Kau kira mencarinya semudah membalikkan telapak tangan?!” tanya Suji geram.

Wonho malah menatap Suji datar sambil membalikkan telapak tangannya. Suji hanya berdecak sambil menahan tawanya.

Anak ini… disaat-saat seperti ini pun masih bisa bercanda.

Tiba-tiba terdengar suara kaki yang mendekat ke toilet pria. Suji langsung terbelak kaget dan berdiri. Begitu juga Wonho. Keduanya sama-sama panik. Panik seri kedua untuk hari ini jelasnya. Suji benar-benar kehabisan akal. Mana mungkin mereka lompat dari ventilasi udara, kan? Kalaupun iya, badan mereka tidak akan cukup masuk ke lubang itu dan waktu pun sangat terbatas.

Wonho lantas menggenggam tangan Suji lagi dan menariknya ke dalam salah satu bilik kamar mandi. Dengan cepat Wonho menutup pintu bilik tersebut dan menguncinya.

Ya! Kenapa kau—hmpft!”

Wonho menutup mulut Suji menggunakan telapak tangannya.

Ckrek…

Terdengar suara pintu yang terbuka.

“Haah!! Mereka benar-benar payah!” kata seorang laki-laki.

“Benar. Aku jadi tidak selera lagi menontonnya. Masa skor mereka bisa jauh ketinggalan dari anak kelas 1, sih?” kata temannya lalu terdengar bunyi air keran yang dibuka.

Wonho mengangguk paham. Ternyata mereka seorang sunbae yang sedang membicarakan pertandingan basket antar kelas yang sedang dilakukan di lapangan basket indoor milik sekolah ini. Ia jadi penasaran dengan pertandingannya. Masa sunbae dikalahkan oleh juniornya? Namun, tiba-tiba seperti ada yang memukul telapak tangannya pelan. Ia pun tersadar kalau ia masih menutup mulut Suji. Buru-buru ia melepaskan tangannya itu.

Suji pun bernapas kembali dengan wajah yang memerah setelah memang benar-benar tidak bernapas tadi. Ia terengah-engah. Suji membalikkan badannya dan menatap Wonho kesal. Wonho kembali menatapnya dengan tatapan meminta maaf. Suji pun tersadar kalau mereka sedang berhadap-hadapan tak kurang dari 5 cm akibat bilik yang ukurannya sangat kecil itu. Sekarang, Suji bisa menatap Wonho sedekat ini. Dan tiba-tiba Wonho tersenyum pada Suji.

Suji terpaku melihatnya.

Bagaimana ia bisa tersenyum semanis itu?

Masih terpaku, tahu-tahu Wonho mendekatkan wajahnya pada wajah Suji. Suji yang kaget langsung membelakkan matanya. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Darahnya berdesir hebat. Ia tidak bisa mundur lagi karena jika ia mundur akan menimbulkan suara pada pintu bilik. Ia berharap Wonho hanya bercanda, tetapi wajahnya semakin mendekat. Ia pun bisa merasakan hembusan napas Wonho. Suji yang pasrah hanya menutup matanya. Tetapi tak ada hal apapun yang terjadi setelahnya. Perlahan ia membuka matanya ketika hembusan napas Wonho terasa semakin menjauh.

Wonho menggenggam jas seragam sekolahnya yang tahu-tahu saja sudah ada di tangannya sambil menunjukkannya pada Suji.

“Kau tahu? Untuk mengambil ini saja—yang hanya terletak dekat sekali di depan pintu bilik—diperlukan perjuangan setengah mati!” bisik Wonho.

Suji membelakkan matanya lantas melihat ke arah pintu bilik. Pintu ini bagian bawahnya emang bolong seperti pintu-pintu bilik kamar mandi biasanya. Ia pun ingat kalau Wonho belum mengambil jaketnya yang terlempar di dekat pintu itu tadi. Untung saja para sunbae itu tidak sadar.

“Kenapa tadi kau menutup mata? Kau berpikir yang tidak-tidak, ya?” bisik Wonho lagi sambil tersenyum jahil.

Suji hanya menggelengkan kepalanya sambil menggumam tidak jelas. Ia menundukkan kepalanya. Rasanya malu sekali.

——–

Setiap mengingat hal itu rasanya Suji ingin sekali terus-menerus menertawakan dirinya yang sudah terlalu percaya diri luar biasa itu. Ia lantas menatap kantung kertas yang sedang digenggamnya. Kantung itu berisi vas bungga bermotif bunga-bunga warna-warni persis seperti milik Gil Seonsaengnim. Entah karena kebetulan, tiba-tiba ia melihat vas ini saat sedang berbelanja di mal 3 hari yang lalu. Ia pun langsung teringat kalau ia belum menggantikan vas bungan itu hingga sekarang. Rencananya jika bertemu Gil Seonsaengnim nanti ia akan memberikannya pada beliau. Dengar-dengar dari Jiyoung, katanya guru-guru juga akan ikut ke acara reuni nanti.

Jika saja ia tidak memecahkan vas bunga itu, mungkin tidak akan ada kejadian seperti di bilik kamar mandi itu, ia juga tidak akan berpegangan tangan dengan pria itu saat dikejar Gil Seonsaengnim… ia tidak akan terjebak di dalam toilet pria bersama pria itu. Dan… ia mungkin tidak akan memiliki perasaan ini pada pria itu. Perasaan yang sampai sekarang pun belum juga berganti. Masih sama seperti dulu, walaupun mereka tak pernah berjumpa lagi.

Setelah sampai di ujung koridor ia menemukan sebuah tangga. Ia pun naik ke atas dan menemukan deretan kelas 2 dan langsung menemukan kelasnya.

Ah, saat itu sungguh mengharukan…

——–

Bagaimana Jika Seorang Senior yang Bertindak Tidak Sopan pada Juniornya?

Suji menangis tersedu-sedu. Ia berjalan melewati koridor menuju kelasnya, 2-1. Ia melihat ke sekeliling untuk memastikan kalau tidak ada yang melihatnya. Bel sudah berbunyi setengah jam yang lalu. Tetapi ia tak mau pulang ke rumah saat ini.

Suji membuka kenop pintu kelas yang untungnya belum dikunci dan tidak ada orang di dalamnya. Lalu ia menutup kembali pintu itu. Ia berjalan menuju kursi paling depan paling kanan, entah tempat duduk siapa itu. Kalau tidak salah tempat duduknya Dongmin. Ah, entahlah. Ia tidak peduli. Ia pun meletakkan ranselnya begitu saja di atas lantai—masih tetap menangis tak henti-hentinya sambil menutup mukanya.

Suasana lembab sehabis hujan menyelimuti kelas itu. Rambut Suji lepek dan acak-acakan. Terlebih lagi terdapat noda coklat lumpur yang begitu kental hampir di seluruh bagian belakang rok dan baju seragam sekolah yang dikenakannya, sangat kacau.

Krek…

Pintu terbuka. Suji langsung mendongakkan kepalanya dan betapa terkejutnya ia melihat Wonho yang juga sedang menatapnya terkejut.

“Sedang apa kau disini?” tanya Suji ketus.

“Oh, bukuku ketinggalan,” jawab Wonho sambil mengambil sebuah buku di lacinya. Ia pun melihat Suji lagi dengan bingung, “Baesuj, kau kenapa?” tanya Wonho khawatir sambil menghampiri Suji yang buru-buru menghapus air matanya dan membuang muka.

“Tidak apa-apa.”

“Tidak apa-apa bagaimana? Jelas-jelas kau baru saja menangis. Dan… kau kenapa basah kuyup begini?!” Wonho membelakkan matanya melihat penampilan Suji yang seperti ini. “Hahahahaha!” detik berikutnya ia langsung tertawa terbahak-bahak.

Suji menatap Wonho tak percaya. Matanya kembali berkaca-kaca. “Terus saja tertawakan!”

Wonho langsung berhenti tertawa dan menatap Suji bingung karena yeoja ini tiba-tiba membentaknya. Ia pun sadar kalau kali ini Suji benar-benar marah sungguhan, bukan marah-marah bercanda seperti biasanya.

“Kenapa berhenti?! Ayo, tertawakan lagi!!” teriak Suji.

M-mianhae, Baesuj. Aku hanya bercanda. Maaf. Jeongmal mianhae. Maaf sekali…,” ucap Wonho sungguh-sungguh. Suji segera membuang mukanya kembali dengan kesal.

“Baesuj.” panggil Wonho.

“……..”

“Bae Suji…,”

Walaupun enggan, Suji pun menoleh pada Wonho dan betapa terkejutnya ia melihat Wonho yang sedang memandangnya lirih.

Mianhae… aku hanya bercanda. Tolong, maafkan aku…,” mohonnya lagi.

Suji sebenarnya masih marah dengannya, tetapi saat ia melihat lagi tatapan lirih itu, ia jadi tidak tega. Akhirnya ia mengangguk dan mengucapkan, “gwaenchanha.” Cepat sekali ia luluh.

“Baiklah, terima kasih.” Wonho tersenyum—yang selalu disukai oleh Suji itu—dan kembali melanjutkan, “sekarang, ceritakan apa yang terjadi padamu sehingga keadaanmu bisa… yah, bisa seperti ini. Dan juga… mengapa kau menangis, ceritakanlah padaku.” Katanya sambil menarik kursi di seblahnya dan duduk di atas kursi itu.

Suji diam terdiam sejenak. Ia mengambil napas dan menghembuskannya perlahan.

“Tadi aku memutuskan untuk ke kantor guru dahulu untuk mengumpul tugas matematika dari Yoon Seonsaengnim. Jiyoung pulang duluan. Dan ketika aku melewati lapangan sepak bola, disana ada subae-sunbae yang sedang latihan. Aku terlalu terpaku melihat permainan mereka—yang keren seperti permainan Timnas Korea Selatan—padahal jalanan di sekitar lapangan saat ini sedang becek total akibat hujan deras tadi siang. Karena perhatianku hanya terfokuskan pada lapangan, tiba-tiba saja… aku terjatuh… terlentang…,”

Wonho membulatkan matanya. “Jinjja?”

“Kau tahu? Sunbae-sunbae itu menertawakanku karena terjatuh dengan posisi yang memalukan. Saat aku buru-buru bangkit dan mereka malah semakin menertawakanku karena bagian belakang pakaian dan rambutku sudah penuh dengan lumpur.” Suji berdecak. “Bahkan dari mereka ada yang mengatakan kalau aku terpesona atas penampilan mereka di lapangan.  Padahal aku kan hanya terpaku melihat permainannya saja!” dengan penuh emosi Suji menceritakan kejadian memalukan itu.

“Haah!! Sunbae itu terlalu percaya diri!” ketus Wonho geram.

“Aku kesal sekali, Wonho-ya! Aku malu! Aku malu sekali! Makanya aku kembali ke kelas ini sampai mereka semua pulang!!” teriak Suji dan ia menangis kembali.

Wonho yang bingung kembali karena lagi-lagi Suji menangis hanya menatapnya bingung. Ia tak tahu harus apa selain menepuk pelan pundak Suji yang terkena lumpur itu.

Suji yang terisak seketika merasa kehangatan dari tangan Wonho.

“Masa karena hal seperti itu saja nangis, sih? Kau ini sudah kelas 2 SMA. Jangan seperti itu lagi. Harusnya kau bersikap berani di depan sunbae itu lain kali, Baesuj. Mereka yang salah karena sudah mengejekmu. Harusnya mereka membantmu, kan? ” kata Wonho menenangkan.

Suji mengangguk-anggukkan kepalanya disela isakannya. Wonho tersenyum penuh arti pada Suji dan menatapnya dalam-dalam, lalu ia menghapus air mata di pipi Suji menggunakan jari-jarinya. Suji yang sangat terkejut merasakan kembali jantungnya yang berdetak tak karuan saat Wonho melakukannya seperti itu.

“Kau tahu? Kalau mereka bukan sunbae, aku pasti sudah menghajar mereka!”

Suji menatap Wonho tak percaya. Tetapi namja itu malah mengeluarkan sesuatu dari ranselnya. Ternyata sebuah t-shirt.

“Ini. Pakai saja kausku. Tadinya aku mau memakainya untuk pergi ke les bahasa inggris. Tetapi sepertinya kau lebih membutuhkannya.” Wonho menyodorkan kaus itu pada Suji. Suji menerimanya dengan tangan bergetar.

“Kau ganti baju saja di kamar mandi. Setelah itu kita pulang lewat pintu belakang. Kusarankan kau pulang naik taksi saja. Oke? Kalau naik bus nanti orang-orang melihatmu yang seperti ini akan… ya, begitulah.”

Kini, namja itu sudah mengacak-acak rambut Suji dan berdiri sambil mengulurkan tangannya pada Suji. “Ayo.”

Suji tidak bisa berkata-kata lagi. Ia menyambut uluran tangan Wonho itu dan kembali merasakan kehangatan. Ia benar-benar terharu karena tingkah  Wonho padanya saat ini. Tidak seperti biasanya yang apa-apa-selalu-bercanda, kali ini menjadi lebih dewasa.

“Pipimu merah.” Kata Wonho sambil menyengir. Cengiran khas Shin Wonho yang terbaik dimata Suji.

Suji pun salah tingkah berusaha tidak menampakkan wajahnya yang memerah pada Wonho.

——–

Tanpa sadar Suji memegang pipinya sebelah kanan saat itu juga seolah-olah pipinya ikut memerah saat mengingat kembali kejadian itu. Ia ingat, keesokan harinya ia membalikkan kaus pinjaman Wonho itu dalam keadaan bersih karena sudah mencucinya baik-baik pada malam harinya.

Langkahnya terhenti di ruangan teater. Dulu ia muak sekali jika Jo Seonsaengnim menyuruh mereka memainkan drama bahasa inggris di atas panggung kecil di ruangan teater itu. Masalahnya Suji benar-benar tak pandai berakting.

Rasanya malu sekali kalau disuruh berakting lagi…

——–

Tidak Pandai Akting? Menyanyilah. Tidak Pandai Menyanyi? Menarilah

“Bae Suji, Shin Wonho! Kalian ini bagaimana, sih? Masa berakting begitu saja tidak bisa?” papar Jo Seonsaengnim sambil menatap Suji dan Wonho yang sedang berada di atas panggung itu tak habis pikir. Ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya.

Suji hanya bisa menggaruk-garuk tengkuknya, merasa malu saat teman-temannya menertawakan aktingnya dan Wonho yang begitu kaku saat di atas panggung. Wonho hanya diam berdiri di tempatnya.

“Ya sudah. Saya akan memberikan nilai pas-pasan pada kalian. Tetapi kalian harus membereskan ruangan ini dahulu sebelum masuk ke pelajaran berikutnya,” kata Jo Seonsaengnim. Suji dan Wonho saling bertatap sebal.

“Yang lain kembalilah ke kelas. Jangan lupa mengatakan kalau Suji dan Wonho masih membersihkan ruang teater pada guru yang akan mengajar kalian setelah ini, ya.” Lanjutnya.

Ne, Seonsaengnim.” Jawab anak-anak serentak.

Setelah itu hanya ada mereka berdua di ruangan itu bersama beberapa properti di atas panggung dan lembaran-lembaran kertas yang berserakan di lantai kosong di depan panggung mini itu.

Dasar tidak bertanggung jawab. Sementang kertas ini tidak dipakai lagi jangan seenaknya aja membuangnya sembarangan! keluh Suji dalam hati.

“Aku akan bersihkan yang sebelah sana. Kau bersihkan bagian panggung saja,” ujar Suji sambil turun dari panggung dan memulai memungut kertas-kertas itu.

Tak berapa lama kemudian…

“Baesuj,”

Suji menolak untuk melihat Wonho karena pekerjaannya masih belum selesai. “Hmm?”

“Akting kita benar-benar jelek, ya?”

Suji akhirnya menatap Wonho kesal. “Masih bertanya lagi? Akting kita memang selalu jelek.”

Wonho tertawa miris. “Kalau begitu kita tidak berbakat menjadi artis, kan?”

“Menurutmu?”

Wonho tak membalas ucapan Suji. Ia kembali melakukan aktivitasnya—menempatkan properti-properti yang digunakan saat drama tadi kembali ke belakang panggung.

“Mungkin aku tidak bisa berakting. Tetapi aku bisa bernyanyi dan menari!” papar Wonho tiba-tiba yang membuat Suji kaget.

Kini Wonho sudah berdiri di tengah-tengah panggung dengan gaya percaya dirinya. Suji tertawa geli melihatnya.

“Aku sudah pernah mendengarmu menyanyi di noraebang,” Suji menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengisyaratkan tanda ‘X’ menggunakan tangannya. Menandakan kalau Wonho tak pandai menyanyi. Wonho langsung cemberut melihatnya.

“Hah! Menari! Aku bisa menari!” Wonho tampak tak menyerah.

Suji meletakkan tumpukan-tumpukan kertas di tangannya ke atas lantai dan berdiri menatap Wonho penasaran. Ia pun melipatkan kedua tangannya.

Just try it,” perintah Suji.

Allright.”

Wonho berdeham. Ia pun meletakkan kedua tangannya di samping kedua pinggulnya.

Gom semariga han chibeyiso, appa gom, eomma gom, aegi gom~”

Ternyata Wonho sedang menyanyi dan menarikan tarian lagu populer di kalangan anak-anak yang berjudul ‘3 Bear Family’.

“Appa gommun tungtunghae… eomma gommun nalshinhae… aegi gommun na bulgwiyowo… hishuk~ hishuk~ charhanda…”

Setelah selesai melakukannya Wonho membungkukkan tubuhnya 90 derajat. Suji menatapnya dengan tatapan mengejek.

“Hanya begitu saja? Nenek-nenek pun bisa.” Cibir Suji.

Wonho kembali cemberut. “Awas saja kalau kau terpesona setelah melihat yang satu ini.”

Wonho berjalan ke arah tangga menuju panggung. Suji mengira ia akan turun, ternyata ia malah berjalan mundur. Bukan berjalan mundur biasa, tetapi berjalan mundur ala Michael Jackson atau yang lebih sering disebut Moon Walk. Suji terperangah melihatnya. Ternyata namja itu bisa Moon Walk dengan baik, sangat mirip dengan seperti yang dilakukan sang pencetusnya malah.

Ketika Wonho sudah sampai di ujung panggung, terdengar tepuk tangan yang menggema di ruangan itu. Wonho langsung melihat ke sumber suaranya, ternyata Suji sedang bertepuk tangan riuh sambil memandang Wonho kagum. Wonho pun berdecak.

“Kan, apa yang kubilang. Kau akan terpesona melihatnya.”

Seakan tersadar, Suji pun berhenti bertepuk tangan dan kembali mengutip kertas-kertas yang tersisa terburu-buru.

“Sudah, jangan sungkan-sungkan. Aku tahu kau terperangah saat melihatku tadi. Hahaha!” goda Wonho.

“Berisik!”

Ya! Jangan marah-marah seperti itu. Sudah dihibur seharusnya kau senang, bukan malah marah,” keluh Wonho.

Suji pun tak kuasa menahan cengirannya. “Mian,” ia pun menatap Wonho yang sudah menatapnya terlebih dahulu sambil tersenyum lebar. Suji membalasnya dengan senyumanjuga.

Tiba-tiba terdengar pintu terbuka. Jiyoung kini sudah berdiri di ambang pintu sambil menatap bingung dua orang yang sedang bertatap-tatapan penuh arti di depannya itu. Ia mengernyitkan alisnya.

“Kalian mengapa bertatap-tatapan seperti itu?” tanya Jiyoung yang membuat Suji dan Wonho terperanjat. Meraka pun hanya bisa kembali melakukan hal yang mereka kerjakan sebelumnya.

“Kalian lama sekali. Yoon Seonsaengnim menyuruhku memanggil kalian kemari,” kata Jiyoung masih dengan menatap mereka curiga.

“Oh? Aku sudah selesai, kok,” Suji meletakkan tumpukan kertas itu di tempat sampah dan menghampiri Jiyoung, “ayo kembali ke kelas.”

“Aku juga sudah selesai. Tunggu aku!” teriak Wonho sambil menghampiri Suji dan Jiyoung. Mereka pun berjalan keluar.

Jiyoung menatap Suji yang ada di sampingnya dan Wonho yang berjalan sekitar 7 meter di depan mereka secara bergantian.

“Akhir-akhir ini aku melihat kalian semakin aneh saja. Apalagi Wonho, ia sering sekali tersenyum-senyum seperti tadi saat melihatmu.”

“Apa?”

“Ya, begitulah. Kau saja yang tidak melihatnya. Aku sering mendapatinya seperti itu. Tapi… sepertinya kau juga sering tersenyum seperti itu padanya.”

Mwo? Dia kan memang sering seperti itu. Dan dia itu sedikit…,” Suji meletakkan jari telunjuknya dengan miring di atas keningnya, menandakan orang gila.

“Ah! Tapi kali ini berbeda. Kalian pacaran, ya?” tanya Jiyoung dengan penuh selidik.

Suji membelakkan matanya dan dengan susah payah menyela ucapan Jiyoung dengan salah tingkah. “M-mwoya! Ti-tidak, kami tidak pacaran! Apa-apaan kau ini,” Suji mengibaskan rambutnya kesal.

“Kalau begitu, kurasa dia suka padamu.” Jiyoung menunjuk punggung Wonho yang jauh di depan sana.

Yaaa! Tidak mungkin!” sela Suji cepat-cepat dan tiba-tiba dalam hati ia sangat senang dikatakan seperti itu.

Saat itu juga Wonho membalikkan badannya—heran melihat Suji yang tiba-tiba berteriak. Suji mendapati tatapan bertanya Wonho itu. Ia pun langsung menyengir lebar. Wonho membalasnya dengan senyuman simpul sambil kembali membalikkan badannya dan berjalan.

“Tuh, kan. Ia tersenyum seperti itu lagi padamu.”

“Diam kau!” Suji melotot dan memandang Jiyoung kesal, Jiyoung hanya tertawa geli menanggapinya.

~

“Kau mau menitip apa? Susu stroberi?”

“Nah, itu sudah tahu.”

“Baiklah.” Wonho mengangguk sambil berjalan keluar kelas menuju kantin. Saat itu Suji sedang datang bulan dan rasanya malas sekali untuk keluar kelas. Belum lagi ini adalah hari pertamanya.

Jiyoung mencolek punggung Suji, Suji pun membalikkan badannya dan menatap Jiyoung bertanya-tanya.

“Kalian benar-benar tidak ada apa-apa, ya?”

“Jiyoung-ah, kau masih saja membicarakan hal itu,” kesal Suji sambil berusaha menutupi wajahnya yang salah tingkah.

“Dia saja sampai tahu apa yang kau suka,”

“Susu stroberi? Jangankan dia, Kim Seonsaengnim saja tahu,” papar Suji.

Suji sudah beberapa kali berjalan melewati Kim Seonsaengnim—sang guru piket—sambil meminum susu stroberi favoritnya. Beberapa saat kemudian tiba-tiba Kim Seonsaengnim menawarkan diri untuk membelikannya susu stroberi karena tampaknya Suji sangat menyukainya. Suji mengira Kim Seonsaengnim hanya bercanda, tetapi esoknya ia benar-benar membelikannya 3 kotak susu stroberi. Dan Suji sangat berterima kasih padanya.

“Oke, aku mengerti. Tetapi ia kan tidak keberatan ketika kau memintanya untuk membelikan itu.”

“Namanya juga aku menyuruhnya dengan paksa,” ucap Suji sambil menahan tawa saat mengingat cara memohonnya pada Wonho untuk membelikannya minuman itu.

“Tapi… aku masih curiga,”

Ya! Tidak ada apa-apa di antara kami! Harus berapa kali aku katakan?!”

Jiyoung memundurkan kepalanya karena Suji membentaknya terlalu keras. Ia punn mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. “Baiklah. Aku percaya kalian tidak ada apa-apa. Oke?”

Suji menganggukkan kepalanya acuh tak acuh.

Suasana hening seketkia. Lalu tiba-tiba Jiyoung bertanya.

“Suji-ah, kau tidak berniat untuk pacaran?”

Suji langsung menatap Jiyoung sambil menaikkan alisnya. “Pacaran?”

Ne. Kita kan sudah kelas 3 SMA. Kau tidak iri melihat teman-teman kita yang sudah berpacaran?”

Berpacaran? Yang terlintas di benak Suji saat itu adalah Shin Wonho yang sedang tersenyum padanya.

Ia memang sering bermain-main dengan kata itu. Tapi… sama sekali tak terpikirkan oleh Suji sebelumnya untuk melakukan hal itu sungguhan.

Suji pun menghela napanya, “Begini… aku memang sudah kelas 3 SMA. Tetapi… kau tahu, kan, sifatku ini masih seperti anak-anak—“

“Benar sekali!” potong Jiyoung.

Suji menatap Jiyoung sengit. “Jadi, rasanya aku masih merasa belum pantas saja untuk berpacaran. Belum lagi kalau aku ini egois—“

“Benar, benar! Mengapa kau menjadi jujur sekali begini?” tanya Jiyoung tak percaya.

Ya!” umpat Suji sambil cemberut. Lalu ia pun melirik Jiyoung, tiba-tiba ingin tahu sesuatu, “kalau kau sendiri?”

Jiyoung tersenyum-senyum sendiri, entah apa yang dipikirkannya. “Kalau aku… aku sedang menunggu seseorang, kalau bisa sih Sungho saja. Hihihi. Hmm, tapi siapapun itu yang kuanggap cocok aku mau bersamanya, kok. Hehehe…,”

Sekarang Jiyoung sudah memain-mainkan rambutnya. Berharap ada seorang Goo Junpyo dalam serial drama Boys Before Flower versi SMA Myungji—entah siapa itu, mungkin Sungho—yang akan menghampirinya dan mengajaknya untuk berkencan.

Suji menggelengkan kepalanya tak habis pikir melihat tingkah temannya yang maniak drama ini.

——–

Suji menerawang ke arah kelas 3-1 itu sambil membayangkan momen-momen indah yang diingatnyadi tempat itu. Setelah 3 tahun bersama mereka, ternyata tidak terlalu banyak momen indah yang terjadi di kelas 3 seperti saat kelas 1 dan 2. Karena saat itu mereka memang sedang mati-matian belajar untuk tes masuk perguruan tinggi sehingga tak banyak lagi waktu untuk main-main yang tersisa. Ia melihat meja guru itu. Ia ingat ketika Park Seonsaengnim, wali kelasnya saat itu berdiri di depan kelas dan memberikan murid-muridnya arahan agar lebih giat lagi belajar agar bisa duduk di bangku kuliah kelak. Saat itu juga Suji mulai memikirkan rencana masa depannya. Sebelumnya ia belum merasa memiliki cita-cita sesuai. Selalu saja berganti.

Betapa labillnya dirinya dahulu. Saat SD ia ingin menjadi dokter, namun tiba-tiba ia ingin menjadi komikus ketika sedang tergila-gila pada anime saat SMP. Tetapi ketika ia menyadari kalau ia tak pandai menggambar, jadi ia memutuskan untuk menjadi guru TK. Menyadari lagi kalau dirinya ini suka tak sabaran dengan anak kecil, ia pun menyerah dengan cita-citanya yang satu itu. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menjadi pegawai kantoran saja. Seperti saat ini.

Sekarang Suji sudah sampai di ujung koridor kelas 3. Di ujung ruangan itu terdapat ruangan yang menyendiri, yaitu ruangan seni musik. Entah apa maksud kepala sekolah meletakkan ruang itu disini. Ia pun membuka kenop pintu itu dan memandang ke setiap sudut ruangan. Ia langsung menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya.

Saat itu… ia ingat sekali tangal itu, 10 oktober 2006.

——–

The Most Unforgettable

Suji menatap orang-orang yang sedang bermain sepak bola di lapangan melalui kaca jendela laintai 4. Sekarang ia sedang berada di ruangan kesenian. Setelah bel pulang sekolah, Wonho memberitahunya kalau Kwon Seonsaengnim menyuruhnya untuk datang ke ruang kesenian untuk menemuinya, entah apa masalahnya. Tetapi ia sudah menunggu lebih dari 10 menit disini dan Kwon Seonsaengnim tak kunjung datang.

Angin berhembus menerpa wajah Suji. Ia merasa menggigil. Sudah akhir bulan oktober dan udara di kota ini semakin dingin saja. Ia pun menggosok-gosokkan kedua tangannya.

Krek…

Suji membalikkan badan ketika terdengar suara pintu terbuka dan betapa terkejutnya ia saat melihat apa yang ada di depan matanya itu. Shin Wonho yang sedang membawa kue tart yang di atasnya terdapat lilin angka 19 yang sedang menyala.

Saengil chukhahamnida… saengil chukhahamnida….“

Suji tak bisa melakukan apa-apa selain menganga lebar.

“…saranghaneun Bae Suji… saengil chukhahamnida~

Walaupun suara Wonho sangat cempreng, tetapi ia sangat terharu mendengarnya sampai-sampai matanya sudah berkaca-kaca.

Tunggu, saranghaneun? Ia benar-benar mengucapkannya? Dan Suji berharap ia tidak salah dengar.

Sebenarnya hari ini ia kecewa sekali saat menyadari kalau Wonho tidak kunjung mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. Padahal jelas-jelas Jiyoung serta teman-temannya yang lain memberinya ucapan di depan mata Wonho sendiri. Dan sekarang Wonho sudah berdiri di depan Suji—mengisyaratkan Suji agar segera meniup lilinnya. Suji pun mengangguk, memejamkan mata untuk make a wish dan meniup lilin itu. Wonho segera meletakkan kue itu di atas salah satu meja dan bertepuk tangan heboh.

“Selamat ulang tahun, Baesuj!!” ucap Wonho masih sambil bertepuk tangan. “Wah, kau sudah 19 tahun. All the best for you!”

“Ah…,” Suji menyengir sendiri mengingat usianya yang semakin tua, “gomawo, Wonho-ya.”

“Hehehe. Ne. Sekali lagi, saengil chukhahaeyo!” seru Wonho sambil mencolekkan krim kue di hidung Suji.

Ya! Kau ini apa-apaan…,” ketika Suji menyeka krim di hidungnya, tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia pun mendongakkan kepalanya ke arah pintu yang terbuka. “Dimana teman-teman yang lain?”

Selama dua tahun yang lalu ia selalu mendapat kejutan ulang tahun oleh teman-temannya sekelas, walaupun tak semua. Waktu kelas 1 mereka pernah mengunci Suji saat pulang sekolah di dalam kelas sampai Suji hampir menangis. Tiba-tiba terdengar suara kunci yang dibuka dan muncullah teman-temannya yang membawakan kue ulang tahun. Saat kelas 2 mereka memberikan surprise itu ke rumah Suji sendiri karena hari itu adalah hari minggu. Dan saat ini….

Terdengar cengiran kikuk Wonho. Ia menggaruk tengkuknya. “Kali ini… hanya…,” ia menatap Suji salah tingkah, “aku hanya ingin memberimu kejutan ini sendiran. Khusus dariku saja, tidak ada campur tangan orang lain. Hehehe…,”

“Wonho-ya…,”

“Oh, iya,” Wonho mengeluarkan sesuatu dari saku celananya—sebuah kotak berwarna hitam berukuran 4×5 cm. Ia menyodorkan kotak itu pada Suji. “Seonmul. Hadiah untukmu.”

S… seon… seonmul?” tanya Suji terbata-bata saking tak percaya.

Wonho kembali menggaruk kepalanya—terlihat lebih salah tingkah dari sebelumnya. “Begitulah,”

Suji menatap Wonho tak percaya. Dengan tangan yang bergetar Suji menerima kotak itu. Setelah menatapnya kotak dan Wonho secara bergantian selama beberapa saat, ia pun membukanya dengan hati-hati.

Eomo!”

Wonho terkejut melihat respon Suji setelah melihat isi dari kotak itu. “Kau… tidak suka?” seketika wajahnya diliputi perasaan kecewa.

Suji masih mengamati isi kotak itu dengan mata melebar. Sebuah jepitan rambut perak bermotif kupu-kupu di atasnya. Bukan seperti jepitan rambut yang mahal. Terlihat tidak terlalu mewah, tetapi indah, unik dan juga terkesan feminim. Perlahan Suji mengambilnya dari dalam kotak itu.

Wonho semakin curiga dengan sikap Suji seperti itu, dengan ragu ia pun kembali bertanya, “Baesuj… kau tidak suka, ya? Mian—“

Ani! Aku suka sekali. Jepitan ini… adalah jepitan terindah yang pernah kulihat. Dan aku berjanji akan tetap menjaganya agar tidak sampai hilang. Ya. Aku berjanji!”

Ruangan itu menjadi tak bersuara. Wonho menatap Suji tanpa berkedip karena ungkapan Suji barusan. Sedangkan Suji menatap Wonho meyakinkan. Suji hanya bisa mendengar debaran jantungnya yang menggebu-gebu. Ia benar-benar tidak bisa mendeskripsikan perasaannya sekarang. Jika takaran kesenangnannya bisa membuatnya terbang, mungkin sekarang ia sudah sampai di permukaan bulan, atau mungkin Saturnus. Dan ia akan berteriak sekeras-kerasnya dan melompat segila-gilanya disana. Sungguh, ia senang sekali.

Mata Suji yang berkaca-kaca kini benar-benar mengeluarkan air mata karena semakin terharu. Ia pun segera menyekanya dengan cepat agar Wonho tidak melihatnya. Tetapi ia sudah terlambat.

“Kenapa menangis? Sebenarnya kau suka tidak, sih?” tanya Wonho lagi.

Ani! Aku suka sekali malahan. Ya, suka sekali! Terima kasih banyak, Wonho-ya.” Suji menepuk pelan pundak Wonho. “Aku sampai tidak tahu mau mengatakan apa lagi saking sukanya. Jeongmal!”

Wonho mengangguk sambil tersenyum lebar pada Suji dan menatapnya penuh arti, “Baesuj, tepatilah janjimu.”

Suji mengangguk dan menatap jeptian rambut digenggamannya itu dengan tatapan berbinar. Ia pun memakaikan jepitan itu di rambutnya. “Bagaimana?” tanya Suji meminta pendapat.

Wonho mendengus, “Coba kau lepas ikatan rambutmu.”

Suji mengeryitkan alisnya, tetapi ia tetap membuka ikatan rambutnya dan segera menyisirnya menggunakan tangan. Suji menatap Wonho bingung, “Wae? Kenapa harus membuka ikatan rambut?”

Wonho tertawa kecil. Ia pun berjalan lebih mendekat pada Suji dan menatapnya dalam-dalam. “Kau kelihatan sangat cantik ketika menggunakan jepitan itu. Namun kelihatan lebih dari ‘sangat cantik’ jika rambutmu digerai seperti itu,”

Deg! Suji tidak mengerti kenapa laki-laki ini hobi sekali membuat jantungnya berdetak tidak normal seperti ini. Ia benar-benar tidak tahan dipandang seperti itu oleh Wonho karenanya. Ia pun berniat untuk melepaskan jepitan itu. Tetapi ketika ia akan melepasnya, tangan Wonho menghentikannya.

“Kenapa dilepas?”

Suji menunduk. Pasti Wonho sangat kecewa. Ia juga tidak tahu mengapa tiba-tiba ingin melepasnya. Salah tingkah? Mungkin. “Ah… mian. Aku hanya risi saja. Kau tahu, kan, aku tidak terlalu suka dengan aksesoris. Tapi, aku akan mulai menyukainya, kok.” Ucap Suji sambil menunjuk jepitannya.

Ya, demi dirimu, Wonho.

“Ah. Kau ini. Hahaha.”

Terdengar helaan napas Wonho. Tiba-tiba ia menunjukkan kantung plastik yang juga dibawanya tadi. “Maaf, aku hanya bisa belikan jus. Habisnya, persediaan soda di supermarket dekat sekolah sudah habis,” ucapnya dengan penuh penyesalan.

“Tidak apa-apa, kok!” seru Suji sambil mengambil salah satu botol di kantung plastik itu. Ia meneguknya.

“Hei, kau belum potong kue!”

Suji hampir saja tersedak ketika mendengarkan teriakan Wonho. Wonho buru-buru meminta maaf.

Mian. Ya sudah, biar aku saja yang memotong kuenya,” katanya sambil terus menyengir. “Oh iya!”

“Ada apa?”

“Aku bawa polaroid. Kau mau berfoto bersamaku?”

Suji yang senangnya luar biasa langsung mengangguk setuju.

~

Suji sudah menghabiskan 5 potong kue ulang tahunnya. Sementara Wonho yang merasa muak hanya menghabiskan 2 potong. Wonho sedang memandang foto hasil jepretan polaroidnya untuk memilih mana yang akan menjadi miliknya.

“Kau lapar atau doyan?”

“Saat istirahat aku dikepung oleh teman-teman yang mengucapkan selamat padaku. Aku jadi tidak bisa makan. Sungguh, aku lapar sekali,” kata Suji sambil melahap potongan kuenya. Ia menunjukkan tanda ‘V’ pada tangannya dan menyengir kaku.

“Maaf, aku baru mengucapkannya sekarang. Sengaja, agar surprise ini benar-benar berarti.” Kata Wonho kikuk, ia pun menutupi rasa kikuknya dengan meletakkan foto-foto yang digenggamnya dan meminum jus botolannya.

“Ini sudah sangat berarti menurutku.” Tanpa sadar Suji mengatakan hal itu tanpa memikirkannya terlebih dahulu. Ia pun langsung membelakkan matanya dan tutup mulut, lalu menunduk agar tak bertatapan lagi dengan Wonho.

“Baesuj…,”

Dengan ragu Suji mendongakkan kepalanya kembali. Wonho sedang menatapnya lekat-lekat—seperti tadi. Seakan tatapan itu menghipnotisnya, Suji tak lagi melepaskan pandangannya dari mata itu. Ia terus-menerus menatap mata itu. Tak peduli dengan detak jantungnya yang kembali berdetak kecang sekali.

Selama beberapa saat mereka hanya bertatap-tatapan seperti itu. Suji rasanya ingin pingsan aja karena Wonho tak kunjung mengalihkan pandangannya. Akhirnya ia yang mengalihkan pandangannya terlebih dahulu.

“Tataplah aku seperti itu terus. Aku suka ditatap seperti itu olehmu.”

Debaran di dada Suji terasa semakin cepat. Ia pun kembali menatap Wonho yang sudah menatapnya lebih lekat dari sebelumnya. Tahu-tahu Wonho mengambil piring berisi kue yang sedang digenggam Suji dan meletakkannya di atas meja. Ia meraih tangan Suji. Saat itu juga Suji merasakan tangan Wonho yang dingin, tidak tahu kenapa bisa seperti itu. Wonho menariknya ke dekat jendela tempat ia menunggu tadi.

Tahu-tahu Wonho melepas tangannya yang menggenggam tangan Suji lalu meletakkan tangannya di atas kedua bahu Suji. Suji pun tersentak. Belum lagi Wonho kembali menatapnya yang seperti bisa menusuk mata Suji saat itu juga. Suji menahan napasnya.

“Baesuj, sulit sekali rasanya mengatakan ini.” Ucap namja itu dengan suara bergetar. “Tapi…”

Suji yang menunggu kelanjutannya hanya menaikkan alisnya.

“Aku menyukaimu.”

Suji semakin tak bisa bernapas dibuatnya. Ia merasakan seperti ada popcorn yang keluar dari tubuhnya saat itu juga. Meletup-letup seperti keadaan hatinya sekarang. Belum lagi tangan Wonho yang mencengkram bahunya lebih kuat itu serta tatapannya… sebentar lagi mungkin Suji akan benar-benar pingsan.

Jeongmal johahae, Baesuj! Aku menyukai senyummu, tawamu, tangismu, saat kau sedang belajar, saat kau sedang marah-marah padaku, saat kau sedang mengeluh ketika mendapatkan tugas yang menumpuk, saat kau kebingungan memilih film apa yang akan kita tonton di bioskop, aku selalu menyukaimu, apapun yang kau lakukan!” akunya dengan mata yang ikut bergetar. “Bahkan saat kau tertidur di kelas walau sambil mengorok…,”

Suji yang kembali berkaca-kaca matanya karena sangat terharu atas ucapan Wonho, seketika mengernyitkan alisnya ketika mendengar ucapan Wonho yang terakhir.

Tersadar akan tatapan Suji, Wonho pun segera menggeleng malu, menyadari ucapannya yang salah. “Yang terakhir hanya bercanda. Oke? Jangan marah, Baesuj.”

Suji mengangguk, tak peduli lagi walaupun Wonho mengatakan ia suka melihat Suji yang menirukan suara dinosaurus, tak sengaja membuat anak bayi menangis, mengupil di dalam bus, menahan pipis hingga menangis karena tak tahan, atau aib-aibnya yang lain.

Ia benar-benar menyukaiku?

Seperti mimpi saja rasanya. Tetapi ini bukan mimpi. Jelas-jelas Wonho memang benar-benar ada di depannya sambil memegang kedua bahunya. Mereka kembali bertatapan lama.

“Baesuj…,”

Suji tersadar ketika Wonho memanggil namanya. Ia pun tahu kalau Wonho sedang menunggu jawaban. Iya ingin sekali meneriakkan ‘aku juga menyukaimu, aku menerimamu’ tetapi tiba-tiba ia teringat pembicaraannya pada Jiyoung beberapa hari yang lalu.

Bagaimana kalau hubungan ini kandas di tengah jalan akibat keegosianku? Dan aku akan menyesalinya ketika aku menyadari hal itu disaat kami tak bertemu lagi. Aku tidak mau rasanya berpisah dengan lelaki ini. Aku ingin sekali terus-menerus bersamanya. Tidak apa kalau kami tidak saling memiliki, yang penting aku akan tetap mengenalnya, yang penting dia ada. Dan jika suatu saat aku baru merasa dewasa, mungkin aku akan…

“Aku…,”

Ya, ini keputusan yang benar.

“Maaf, Wonho-ya.”

Saat itu juga Wonho melepaskan cengkramannya di bahu Suji dan menjatuhkannya begitu saja. Wajahnya langsung pucat pasi. Ia menatap Suji dalam diam.

“Aku masih belum merasa cocok saja untuk menjalani hubungan seperti ini. Aku masih sangat labil, keras kepala dan bersifat kekanakan. Yah, memang teman-teman seumuran kita yang lain tampak percaya diri dengan hal seperti ini. Tetapi aku tidak. Terserah apa katamu, tetapi aku beebeda dengan mereka. Aku juga tak tahu apa yang bisa membuatku berpikiran seperti tadi…,”

Suji merasa tenggorokannya tercekat. Ia sebenarnya ingin setengah mati menerima perasaan namja ini. Tetapi di sisi lain ia juga tak mau kehilangan Wonho secara tiba-tiba saat mereka menjalani hubungan itu.

“Aku hanya tidak ingin hubungan itu tidak berlangsung lama dan kita tak pernah saling menyapa lagi karenanya. Berpikiran positif? Aku tidak yakin. Memang beberapa orang berhasil menjalaninya. Tetapi aku benar-benar tidak tahu bagaimana denganku. Bukan berarti aku tidak menyukaimu, Wonho-ya. Aku… hanya ingin tetap  mengenalmu, berteman denganmu…,”

Suji rasanya tak sanggup lagi berbicara. Lehernya seperti tercekik. Air matanya pun kembali berlinang di pipinya. Ia tak bisa menatap Wonho sekarang. Tadi saja ia benar-benar merasa sangat bersalah ketika mendapati Wonho yang sedang menatapnya seperti ingin menangis.

“Bae Suji…,”

Suji masih tidak mau menatap Wonho.

“Bae Suji, lihat aku.”

Lagi-lagi seruan lembut Wonho membuatnya menurut untuk menatapnya. Tiba-tiba Suji ingin sekali memeluk namja ini ketika ia tersenyum dengan penuh arti pada Suji.

Gomawo.” Wonho segera menarik Suji ke dalam pelukannya, Suji membelakkan matanya. Baru saja ia berpikir ingin memeluknya, tiba-tiba Wonho sudah memeluknya terlebih dahulu. “Tapi… izinkan aku memelukmu, ya?” pintanya .

Suji mengangguk dalam isakannya. “Mianhae, Wonho-ya. Jeongmal minanhae…,”

Gwaenchanha. Aku mengerti, kok,” lirih Wonho lagi sambil membenamkan kepala Suji ke pelukannya yang semakin erat. Suji tahu sedari tadi Wonho terlihat menggigit bibirnya sendiri, seperti sedang menahan tangis. Dan hati Suji sakit sekali melihatnya. Namun, ia mungkin akan lebih sakit lagi jika rasa egonya memenangkan dirinya.

~

Awalnya Suji ingin datang ke kelas ketika bel sudah berkumandang saja, tetapi Jiyoung sudah menariknya dahulu ke kelas untuk mencontek PR biologi.

Ia ingin sekali menceritakan hal kemarin pada Jiyoung. Tetapi sepertinya tidak perlu. Namun… ia masih tetap ingin memberitahunya, biar bagaimanapun Jiyoung ini kan sahabat terdekatnya. Rasa bimbang pun menyelimutinya.

“Jiyoung-i…,” akhirnya ia memanggil Jiyoung.

“Apa?”

“Aku ingin bertanya.”

“Hmm?” guman Jiyoung masih sambil menyalin PR-nya.

“Hei! Lihat aku.”

Dengan malas Jiyoung meletakkan pensilnya, membalikkan badannya dan menatap Suji. Tiba-tiba ekspresi wajahnya berubah menjadi bingung.

“Bae Suji, sejak kapan kau suka memakai yang seperti itu?” Jiyoung menunjuk sesuatu yang ada di atas kepala Suji.

Suji terbelak. Ia pun buru-buru melepaskan jepitan rambut kupu-kupu itu dari rambutnya dan memasukkannya di dalam kantong. Entah apa yang mengundangnya ingin memakai benda itu tadi pagi saat akan berangkat ke sekolah.

“Tidak boleh, ya?”

“Yah, boleh-boleh saja. Kau ingin mencari perhatian sunbae-sunbae kita yang keren-keren, ya?”

Merasa itu adalah sebuah alasan yang tepat, Suji pun menganggukkan kepalanya sambil menyengir lebar.

Jiyoung berdecak, “Kau ini!” ia pun kembali menatap Suji serius. “Tadi kau mau bertanya apa?”

Terkadang anak ini percaya mudah sekali percayanya.

Suji pun menarik napasnya sebelum memulai menceritakan.

“Bagaimana jika ada seseorang yang menembakmu dan kau menolaknya? Tetapi bukan karena kau tidak suka padanya, malah kau suka sekali padanya. Kau benar-benar tidak bisa menerimanya karena kau rasa kau belum bisa menjalani hubungan itu dengan baik.”

Jiyoung langsung menatap Suji curiga. “Kau habis ditembak siapa?!”

“Tidak ada! Aku hanya ingin melanjutkan pembicaraan kita waktu itu. Kan belum selesai,” bantahnya sambil menutupi kecurigaan di wajahnya.

Jiyoung pun menatap ragy pensilnya di atas meja, dan ia sudah merasa tak peduli lagi dengan salinan PR-nya yang tinggal sedikit lagi. Lalu ia menatap Suji dengan serius. “Jawabannya, tergantung pada diri sendiri.”

“Maksudnya?”

Jiyoung mendekatkan duduknya pada Suji. “Jalani saja apa yang menurutmu paling benar. Percuma saja kan kalau kau melakukan hal lain tetapi tidak sepenuh hati? Itu tidak akan memperbaik keadaan. Tetapi, kau tidak boleh asal mengambil keputusan. Kau harus memikirkannya matang-matang terlebih dahulu.”

Suji mengangguk.

“Satu lagi. Kalau kau tidak yakin dengan hubungan itu, bagaimana hubungan itu akan berhasil? Kalau gagal bagaimana? Dan bagaimana lagi salah satu pihak akan menderita karenanya? Akan lebih kacau, bukan? Ah, pokoknya mana yang menurutmu yang terbaik untukmu sajalah.”

Bingo!

Tiba-tiba Suji bangga memiliki teman yang k-drama holic seperti Jiyoung ini. Ia mengerti banyak hal tentang hal-hal yang serupa. “Gomawo, Jiyoung-ah.”

Jiyoung mengangguk dan kembali menatap Suji curiga. “Ngomong-ngomong, apa benar kau tidak habis ditembak orang? Atau jangan-jangan…. kau ditembak Wonho, ya?!”

Seketika jantung Suji berdetak kembali ketika nama lelaki itu disebut. Jiyoung seperti tahu saja apa yang telah dialaminya kemarin. “Ya! Aku hanya menanyakan saja. Bukan berarti aku habis ditembak orang, kan? Hanya untuk jaga-jaga saja. Mana tahu ada seorang sunbae yang menembakku?” gurau Suji sambil menyibakkan rambutnya yang dibalas timpukkan buku dari Jiyoung. Jiyoung pun melanjutkan salinannya kembali.

Suji meletakkan pipi kanannya di atas meja dan memandang ke arah awan-awan dibalik jendela kelasnya. Ia belum siap bertemu lagi dengan Wonho setelah insiden kemarin. Lalu tahu-tahu orang yang sedang dipikirkannya muncul di hadapannya yang membuat Suji hampir saja melompat dari bangkunya.

Annyeong, Baesuj!”

“Oh. Annyeong.”

Wonho mengernyitkan dahinya. “Mengapa kelihatannya lemas sekali? Kau sakit perut, ya?” tanya Wonho sambil tersenyum jahil.

Suji tak percaya dengan orang yang ada di depannya ini. Kemarin namja itu menatap Suji sambil menahan tangis, sekarang ia malah tersenyum jahil padanya sekakan-akan tidak ada apa-apa di antara mereka.

“Wah… sepertinya benar. Makanya, setelah bangun pagi seharusnya kau minum air hangat agar semua isi yang ada di perutmu keluar sebelum kau berangkat sekolah. Hahaha!”

Suji langsung terbelak dan menatap Wonho sengit. “Yaaa!!” teriak Suji sambil mengejar Wonho yang sudah lari keluar dari kelas dahulu.

Wonho seperti benar-benar melupakan kejadian itu karena hari demi hari yang mereka lalui bersama berjalan seperti biasanya. Mereka tertawa bersama-sama, bercanda bersama-sama bahkan mengumpat bersama-sama seperti di hari-hari sebelumnya tanpa mengungkit-ungkit lagi peristiwa di ruang kesenian. Sebenarnya Suji tidak melupakan  kejadian itu. Ia masih menyimpannya di dalam hatinya. Ini keputusannya. Dan ia harus menghadapi konsekuensi apapun yang didapatinya nanti.

Ya, harus.

——–

Tanpa sadar Suji mengelus sesuatu yang terjepit di sela-sela rambutnya yang halus. Jepitan kupu-kupu pemberian Wonho. Ia benar-benar menepati janjinya. Sampai sekarang benda itu masih terjaga awet tanpa memiliki cacat sedikitpun. Ia pub memang sering memakai jepitan itu di saat-saat tertentu, seperti saat ini.

Entah mengapa, setiap mengingat kejadian itu sebagian kecil hati Suji merasa menyesal kenapa ia menolak Wonho. Ia berpikir, bagaimana kalau waktu itu ternyata ia menerima Wonho dan hubungan mereka masih tetap berjalan sampai sekarang? Tetapi bagaimana juga jika mereka melakukan hungan itu tetapi malah terpisah? Suji paling tidak bisa memikirkan apa yang akan terjadi pada poin kedua.

Tak terasa sekarang ia sudah kembali ada di dekat lapangan sepak bola setelah menuruni tangga dan meninggalkan gedung sekolah. Ia seolah-olah melihat bayangan dirinya, Jiyoung, Wonho dan teman-temannya yang lain sedang berlari mengelilingi lapangan saat pelajaran olahraga, saat dihukum di jemur di tengah lapangan karena terlambat, saat bermain sepak bola asal-asalan bersama teman-teman yeoja-nya, dan lain sebagainya. Tetapi yang paling diingatnya adalah saat hari perpisahan itu…

——–

Perpisahan? Haruskah?

Acara kelulusan sudah selesai. Yunbin—si ketua kelas—juga sudah membagikan foto bersama mereka yang dipotret oleh Hongjun saat hari teakhir ujian. Jiyoung sudah pulang sedari tadi bersama orang tuanya. Sementara Suji dan Wonho masih menikmati angin sore di pinggir lapangan sepak bola sekolah mereka.

“Nilaiku memuaskan. Pasti orang tuaku bangga,” seru Wonho ceria sambil terduduk di atas rerumputan lapangan di samping tiang gawang.

“Kita kan sudah belajar mati-matian,” balas Suji sambil ikut duduk di samping Wonho.

Keheningan timbul di antara mereka selama beberapa menit.

“Indah sekali,ya, masa-masa SMA ini,” ucap Wonho memecahkan keheningan.

“Ya. Terlalu indah, malah,” Suji membenarkan.

“Menurutmu, momen apa yang paling menyenangkan?”

Saat kau memelukku, Wonho-ya. batin Suji. Tetapi ia tidak harus mengatakan hal itu, kan?

“Saat kita memberi kejutan untuk hari ulang tahun Park Seonsaengnim. Saat itu kelas kita benar-benar kompak karena semua ikut berpartisipasi. Tidak sia-sia usaha kita. Akhirnya Park Seonsaengnim terharu dan hampir menangis,” jawab Suji akhirnya.

Wonho mengangguk setuju.

“Kalau kau?” tanya Suji penasaran.

“Kalau aku…,”

Wonho menggaruk kepalanya yang tak gatal.

“Saat… ulang tahunmu yang ke-19.”

Suji menatap Wonho tak percaya. Debaran hebat kemabli menghunjam jantungnya, rasanya seperti ketika Wonho menungkapkan perasaannya saat itu. Awalnya ia mengira kalau Wonho benar-benar tidak berniat membahas hal itu lagi. Tetapi sekarang…

“Aku…,” lirih Suji.

“Perasaanku padamu masih belum berubah, Baesuj.”

Perasaanku padamu juga belum berubah, Wonho-ya.

Wonho menghela napas. “Maaf. Aku tidak akan membahasnya lagi.”

Suji hanya menunduk. Ia tidak suka kalau sudah teringat hal itu karena rasa bimbang akan kembali menghantuinya, seperti sekarang ini. Ia akan selalu bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apakah keputusannya itu sudah sangat tepat? Entahlah…

“Bae Suji, kau tidak akan melupakanku, kan?” tanya Wonho tiba-tiba.

Suji memandang Wonho bingung. “Tentu saja tidak. Kenapa?”

“Walaupun telah memiliki kesibukan masing-masing sebagai mahasiswa?” kini suara Wonho terdengar semakin menyedihkan.

Suji pun sadar kalau mereka tak akan bisa seperti dahulu lagi, bermain dan berkumpul bersama hampir setiap hari. Tugas-tugas kuliah akan menyibukkan hari-hari mereka, serta teman-teman baru yang akan mereka dapatkan saat di kampus nanti. Hatinya terasa sakit membayangkan hari-harinya tak dipenuhi seragam SMA, guru-guru galak, satpam sekolah yang menyebalkan, bagunan sekolahnya yang kokoh, dan yang paling penting adalah teman-temannya. Khususnya Shin Wonho.

“Tidak. Aku tidak akan pernah melupakanmu. Aku tidak akan ingin melupakanmu, sekolah ini, momen-momen berharga yang telah kita lalui. Tidak! Tidak akan!” papar Suji, tanpa sadar air matanya sudah jatuh di pipinya. Wonho menatapnya tak kalah sedihnya. Suji yang akan menghapus air matanya tiba-tiba terhenti ketika Wonho memeluknya.

Air mata itu malah tak henti-hentinya keluar dan ia pun membenamkan kepalanya di pundah Wonho. Ia benar-benar akan merindukan semua ini. Semua kehidupannya akan berubah selepasnya dari sekolah yang penuh akan kenangan ini.

“Aku juga tidak akan melupakanmu dan semuanya tentang masa-masa SMA kita. Tidak akan pernah,” tekan Wonho.

Suji hanya mengangguk. Ternyata sebuah perpisahan itu pedih sekali.

——–

Suji tak menyangka kalau saat itu akan menjadi hari terakhirnya bertemu dengan Wonho, orang yang masih menetap di hatinya sampai sekarang ini. Wonho benar-benar tak berkabar, Suji tidak tahu ia kuliah dimana karena Wonho tak pernah meceritakan padanya dan Jiyoung, padahal Suji sudah menanyakannya berkali-kali, selalu saja Wonho menjawabnya dengan “aku belum bisa memastikan” atau “aku tidak tahu, lihat saja nanti”.

Wonho tidak memiliki ponsel saat SMA, ia juga tidak pandai menggunakan e-mail. Tak heran kalau teman-temannya mengejeknya ‘kampungan’. Ia pun hanya menyengir jika diolok-olok seperti itu tanpa memdulikan rasa malunya.

Sudah kurang lebih 6 tahun mereka tak bertemu. Rindu yang dipendam Suji semakin mendalam. Ia sangat berharap lelaki itu akan datang ke acara reuni ini. Sangat berharap setengah mati. Dan ketika ia bertemu dengan lelaki itu kembali, ia berharap Wonho masih memiliki perasaan padanya seperti 6 tahun yang lalu. Saat itu ia akan mengakui tentang perasaannya pada Wonho, mungkin?

Halaman sekolah semakin ramai, Suji memandang jam tangannya. Sudah pukul 2.47 PM. Acara reuni SMA seangkatannya akan dimulai sekitar 13 menit lagi. Ia pun segera merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya dan menelepon Jiyoung.

Ya! Kau masih di salon?”

“Baru saja aku mengangkat telepon, kau sudah membentakku seperti itu?!” balas Jiyoung tak habis pikir.

“Oke. Jiyoung yang cantik dan manis, kau masih di salon?”

“Oh?” Suji tahu Jiyoung sedang terkikik di ujung sana. “Tidak, sedang di jalan, sekitar 15 menit lagi baru sampai. Ah, aku terlambat beberapa menit saja tidak apa, kan? Kau dimana?”

Aish, kau ini. Baiklah. Aku menunggumu di depan pintu depan aula. Oke?”

“Oke.”

Klik.

****

“Akhirnya, kau sampai juga. Hei, kenapa wajahmu jadi beda sekali begitu?”

Jiyoung hanya tertawa tidak jelas. “Kan sudah kubilang. Mana tahu saja aku bertemu dengan Sungho.”

“Bahkan Sungho pun tak akan mengenalimu lagi.”

Jinjja? Kalau begitu aku akan menghapus make up ini!”

“Hei, hei. Tidak perlu! Kau masih dikenali, kok. Aku hanya bercanda tadi,” kata Suji.

“Benarkah?”

Ne, ne, ne.” Ucap Suji malas-malasan.

Mereka pun tenggelam dalam suasana nostalgia bersama teman-temannya yang lain. Berbagai foto kegiatan mereka saat SMA diputarkan pada proyektor yang terletak di atas panggung aula. Benar-benar seperti kembali ke 6 tahun silam.

Sudah berkali-kali Suji melayangkan pandangannya pada setiap orang yang lewat. Tetapi ia tak kunjung menemui namja yang sangat dirindukannya itu. Jiyoung menyadari kegelisahan Suji itu.

“Kau mecari siapa?”

“Mencari teman-teman kita yang lain,” jawab Suji—yang sepenuhnya tidak berbohong itu. “Hanya Wonho dan Nayoung yang belum menampakkan batang hidungnya.” Dan hati Suji berdebar keras ketika menyebutkan nama namja itu lagi.

“Nayoung? Bukankah sekarang ia tinggal di Hongkong? Ia bekerja di konsultan Korea Selatan. Hebat sekali, ya. Nayoung-i memang pintar.”

“Benarkah? Wah, hebat sekali dia.”

Mereka pun kembali melanjutkan pembicaraan itu ketika beberapa teman-temannya yang lain bergabung dengan mereka. Lalu Suji tiba-tiba melihat seseorang yang mirip Gil Seonsaengnim. Setelah diteliti, ternyata benar kalau beliau adalah Gil Seonsaengnim. Para guru benar-benar diundang di acara ini. Ia pun segera berlari menghampiri wanita itu.

Seonsaengnim, annyeonghaseyo!” sapa Suji sambil membungkukkan badannya 90 derajat.

“Oh, annyeonghaseyo, Bae Suji, kau cantik sekali sekarang.” Balas Gil Seonsaengnim sambil memandang Suji dari atas sampai bawah dengan kagum.

Suji pun tersipu malu dan segera memberikan kantung yang berisi vas bunga itu sambil menunduk. “Aku ingin jujur, sebenarnya akulah yang memecahkan vas bungamu waktu itu. Seonsaengnim sampai mengejarku tetapi aku malah kabur. Joisonghabnida, Seonsaengnim.” Suji membungkuk lebih dari 90 derajat. Ia tak siap untuk melihat tatapan Gil Seonsaengnim.

Namun ia merasakan keringanan di tangannya. Kantung itu ternyata sudah diambil oleh Gil Seonsaengnim. Suji pun memberanikan diri menatap gurunya itu kembali.

“Dari awal aku juga tahu kalau kau adalah pelakunya,” ucap Gil Seonsaengnim dengan wajah datar. Mental Suji sepertinya kembali menjadi seperti anak SMA kembali, ia menunduk kembali, siap-siap dimarahi oleh gurunya itu.

“Tidak apa-apa. Vas bunga itu pemberian keponakanku. Sebenarnya vas bunga itu tak berarti apa-apa karena motifnya norak sekali menurutku,” ucap Gil Seonsaengnim yang sukses membuat Suji menganga. Apa memang hanya ia saja yang mengagumi vas bunga itu?

Ne?”

Gwaenchanha. Tetapi, karena kau sudah menggantikannya, yah, walaupun baru sekarang. Aku tetap menghargainya. Terima kasih banyak, Bae Suji.” Kata Gil Seonsaengnim sambil tersenyum ramah.

Suji pun membalas senyuman Gil Seonsaengnim dengan bingung sebelum guru itu menngangguk pamit dan pergi meninggalkannya.

Bodoh sekali.

“Memang bodoh.”

Siapa itu?

“Ini aku.”

Suji mengarahkan pandangannya ke samping. Dan jantungnya seperti ingin copot saja dan ia berhasil melompat mundur ke belakang setelah melihat siapa orang yang seperti bisa membaca pikirannya itu.

“Shin… Won… Ho?” ucap Suji terbata-bata.

“Ternyata kau benar-benar menemukan vas bunga norak itu. Sudah lama sekali, lho, hampir 9 tahun yang lalu.”

Suara berat Wonho yang sedikit berbeda membuat mata Suji bergetar. Yang ada dihadapannya ini adalah Wonho. Benar-benar seorang Shin Wonho. Lelaki yang sangat ingin ia temui setelah tak melihatnya selama beberapa tahun ini tiba-tiba muncul kembali di hadapannya. Dengan postur tubuh tegap dan sedikit berisi, sedikit berbeda dengan dahulu yang benar-benar kurus kering seperti tidak memiliki daging.

“Kenapa diam saja? Tak berniat menyapaku?” keluh Wonho.

A… an… annyeong… annyeonghaseyo…,” ucap Suji masih terbata-bata.

Annyeonghaseyo, Bae Suji.” Wonho tersenyum lembut pada Suji. “Tidak berniat menanyakan kabar juga? Tempat bekerja? Dan hal lain?” Wonho menaikkan alisnya sambil tersenyum jahil. Ah, Suji benar-benar merindukan senyuman jahil itu.

“Kau!!”

Wonho agak terkejut mendengarnya.

“Apa kabarmu? Dimana kau tinggal sekarang? Setelah tamat SMA kau kuliah dimana? Kau tidak pernah memberitahukannya padaku! Dimana tempatmu bekerja sekarang? Eh, tunggu. Kau memutuskan untuk kuliah, kan? Kau mendapat pekerjaan, kan?!”

Wonho memandang Suji dari atas ke bawah. Lalu ia tersenyum simpul. “Kenapa jadi kau yang banyak omong sekarang?”

“Jawab dulu pertanyaanku!”

“Baiklah, baiklah!” Wonho memandang Suji kesal. “Aku baik baik saja. Aku tinggal disini, di Seoul. Aku kuliah di Konkuk University jurusan Politeknik. Memang aku tidak pernah memberitahunya padamu, pada siapapun teman-teman kita, walaupun akhirnya aku pernah bertemu mereka juga beberapa kali. Karena… aku malu kalau saja aku tidak lulus tes setelah memberitahu aku akan melanjutkan kuliah dimana. Benar, kan, pendapatku? Yah, terdengar seperti pengecut, sih. Maka dari itu aku minta maaf yang sebesar-besarnya pada kalian. Tapi, sungguh. Aku bukannya tidak ingin bertemu dengan teman-temanku. Sangat ingin malah. Aku hanya tidak dipertemukan saja dengan kalian. Sampai akhirnya Yunbin yang sekampus denganku membagikan undangan reuni ini, aku senang sekali! Akhirnya aku bisa bertemu kalian lagi. Lalu… aku sekarang bekerja di salah satu perusahaan swasta. Walaupun jadi pegawai biasa,” Wonho terkikik. “Begitulah jawabanku.”

Suji memandang Wonho dengan berbinar-binar, tidak memedulikan jawabannya yang panjang lebar  tanpa pengambilan napas itu. Lalu tiba-tiba Suji memukul kepala Wonho dengan tasnya. Wonho mengernyitkan dahinya.

“Masih tidak berubah juga, ya!” pekik Suji kesal. “Seperti burung yang berkicau,” ia mempraktikkan mulut burung yang berkicau menggunakan tangannya—seperti saat itu.

“Ya, aku memang begini dari lahir. Tapi tolong, jangan membenciku, ya?”

Suji mendengus disambut tawa ketika mendengar ucapan itu. Persis seperti jawaban Wonho ketika Suji mengomentari Wonho yang banyak omong saat pertama kali bertemu. Mereka pun tertawa bersama-sama.

“Kau sendiri apa kabar? Tinggal dimana? Kuliah dimana? Bekerja dimana?” tanya Wonho bertubi-tubi.

“Ck! Aku harus menjawabnya sepertimu juga?”

Wonho mengangkat bahunya. “Boleh-boleh saja.”

Suji mengangguk dan mengambil napas, “Aku baik, baik sekali malahan. Aku juga tinggal di Seoul, ternyata Seoul luas, ya? Buktinya kita baru jumpa sekarang. Atau sebelumnya kita sudah pernah jumpa? Tetapi tidak mengenali satu sama lain? Ah, entahlah. Oh iya, aku kuliah di Hanguk University di jurusan ekonomi. Aku bekerja di salah satu bank swasta. Yah, walaupun hanya sebagai pegawai. Begitulah ceritaku.”

Senyum di wajah Wonho semakin melebar. Ia tiba-tiba mengajukan telapak tangannya untuk ber high-five. Suji tak mengerti, tetapi ia menyambutnya juga.

“Hidup pegawai! Tak apa walau hanya menjadi pegawai kantoran, yang penting senang. Hahaha!”

“Puahahaha!” Suji ikut tertawa terbahak-bahak. Orang-orang disekitar mereka menatap mereka bingung.

Setelah tertawa beberapa saat, mereka pun saling tatap lagi.

“Akhirnya kita bertemu lagi. Kau semakin dewasa saja.”

Suji berdecak walaupun di hatinya begitu gembira ketika Wonho mengucapkan hal itu. “Ya! Umurku sudah hampir 25 tahun.”

Ara.” Wonho menyengir heboh.

Ah! Aku juga sangat merindukan cengiran hebohnya ini.

Suji hanya bisa ikut tertawa sambil menyibakkan rambutnya karena merasa sedikit kepanasan.

Tiba-tiba Wonho menatap Suji sambil menerawang. Suji yang heran pun menatapnya bingung, “Ada apa?”

“Jepitan itu…,” Wonho menunjuk puncak kepala Suji.

“Ah, ini.” Suji ikut menunjuk kepalanya, ia pun tersadar dan ia yakin pipinya sekarang sedang bersemu merah.

Wonho menggelengkan kepalanya sambil bertepuk tangan, “Kau benar-benar menepati janjimu, ya?”

Suji tersenyum salah tingkah, “Ya, begitulah. Dari semua perhiasan yang kumiliki entah mengapa tadi aku memilih ini. Hahaha.” tawa Suji kaku.

Tiba-tiba Suji teringat satu hal. Ia pun merogoh tasnya untuk mengambil sesuatu. Setelah membuka salah satu laci di dalam tasnya, ia pun menemukan lembaran-lembaran polaroid. Sebenarnya ia tidak berniat membawa seluruh lembaran yang jumlahnya banyak itu, tetapi saat akan pergi tadi ia benar-benar tidak sabar dan akhirnya ia mengambil seluruh hasil polaroid miliknya itu dari lemari. Akhirnya setelah mendapatkan satu foto yang dimaksudnya, ia memberikannya pada Wonho dan membalikkan foto-foto lain ke dalam laci tasnya.

“Masih ingat ini, tidak?”

Wonho mengambil foto itu, matanya terbelak. Itu adalah fotonya dan Suji saat ulang tahun Suji yang ke-19. Wajahnya masih terlihat sangat imut disitu, apalagi dengan jepitan yang serupa dengan yang digunakannya sekarang.

“Foto ini! Masih kusimpan tidak, ya?”

Suji sedikit kecewa mendengarnya.

“Astaga! Wajahku berbeda sekali. Hahaha!” tawa Wonho, padahal ia sedang menertawakan dirinya sendiri. Ia lalu membalikkan foto itu ke genggaman Suji.

Suji pun ikut tertawa. “Ini saat ulang tahunku ke-19. Masih ingat, kan?”

Tiba-tiba raut wajah Wonho seperti memikirkan sesuatu, “Yang kau mendapatkan kejutan dariku, kan?”

Suji mengangguk bangga.

“Waktu itu aku juga menembakmu, kan? Hahaha! Lucu sekali kalau sudah mengingat cinta monyet itu. Aku jadi malu sendiri padamu.”

Mengapa sepertinya ia menganggapinya dengan main-main?

“Bolehkah aku jujur?”

Seperti ada kupu-kupu yang terbang di perut Suji saat Wonho mengucapkan hal itu walau Suji tak yakin kalau yang akan dikatakan Wonho akan membuatnya bahagia, “Ya?”

Wajah Wonho berubah menjadi serius. “Jujur sekali, saat itu aku benar-benar sakit hati karena kau sudah menolakku dan kau juga tidak memiliki perasaan yang sama sepertiku. Kau menganggapku hanya sebagai teman karena kau tidak mau sampai hubungan kita tidak berhasil dan kita menjadi tidak bercakapan lagi. Aku mengerti maksud yang kau katakan saat itu. Secara tidak langsung hal itu memang menunjukkan kalau kau benar-benar menolakku. Hanya saja dengan cara yang lebih halus. Aku paham. Yah, setidaknya aku jadi tidak merasakan sakit yang bertubi-tubi. Gomawo.” Ucap Wonho sambil tertawa kaku.

Ia mengira kalau aku menolaknya secara tak langsung karena kata-kata itu?

“Sebelumnya kukira bagiku akan mudah untuk mengerti dan menekankan pada diriku sendiri kalau kau tidak memiliki perasaan yang sama sepertiku. Tetapi aku salah. Ini benar-benar sulit sekali. Sampai membuatku susah tidur hampir di setiap malamnya. Tetapi… untungnya masa-masa sulit itu sudah terlewatkan.”

Entah mengapa Suji memiliki perasaan yang tidak enak.

Tiba-tiba datang seorang wanita menghampiri mereka yang menggunakan dress selutut berwarna cream. Tampak cantik dan feminim, apalagi dengan rambut panjang coklatnya yang terurai indah. Wonho tersenyum pada wanita itu, wanita itu pun membalas senyuman Wonho dan mengamit tangannya di lengan Wonho. Dan hal itu berhasil membuat Suji membelakkan matanya.

“Oh ya, Yoonhee, perkenalkan, ini Bae Suji. Salah satu teman dekatku saat SMA,” ucap Wonho.

Teman dekat.

“Jang Yoonhee imnida!” sapa Yoonhee ceria, ia mengulurkan tangannya pada Suji dan berhasil membuat Suji tersadar.

“Ah… Bae Suji imnida.” Balas Suji kebingungan sambil menganggukkan kepalanya. Ia mencoba berpikir positif.

Yoonhee? Siapa dia? Mengapa terlihat sangat akrab dengan Wonho. Sepupunya? Tidak, Wonho tidak memiliki adik sepupu wanita. Atau jangan-jangan… pacarnya?

“Pa… pacarmu?” tanya Suji hati-hati sambil memandang Yoonhee yang segera tertawa sambil menutup mulutnya. Yoonhee segera meminta maaf. Suji pun berharap Wonho berkata kalau Yoonhee bukanlah pacarnya, melainkan… siapapun, asal bukan kekasihnya.

Wonho terlihat salah tingkah. Ia menggarukkan kepalanya. “Inilah salah satu penyesalanku kenapa tidak mengetahui keberadaanmu . Tahu begitu kan aku sudah mengirim undangan petunangan—“

“Jadi dia calon istrimu?!” tanya Suji tak percaya. Wonho dan Yoonhee segera menatapnya bingung. Suji merasa seluruh tenaga di tubuhnya melayang entah kemana. Ia tak bisa merasakan apa-apa selain rasa sakit yang mendalam di dadanya. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia menunjuk Wonho dan Yoonhee secara bergantian menggunakan telapak tangannya lalu menggeleng-gelengkan kepala.

Ternyata memang benar-benar bukan pacarnya. Tapi… tunangannya.

Saat itu juga ia benar-benar menyesali keputusannya yang telah dipikirkan matang-matang 6 tahun silam.

Wonho dan Yoonhee semakin menatap Suji bingung. Akhirnya Wonho pun buka suara, “Suji-ah, kau kenapa?”

Suji-ah?

Suji hanya pernah mendengar Wonho memanggilnya seperti itu sekali saat ia iseng-iseng mengikuti gaya bicara Jiyoung yang sedang dijahilinya saat kelas 2 SMA waktu itu. Suji pun sadar kalau Wonho belum ada memanggilnya dengan sebutan ‘Baesuj’ sekarang ini. Lalu tiba-tiba ia malah memanggilnya ‘Suji-ah’.

Suji akhirnya sadar kalau ia sudah membuat kedua orang itu bingung. Ia pun menyeka matanya yang hampir tumpah akan air mata.

“Maaf. Aku hanya terharu. Akhirnya temanku ini akan segera menikah. Menikah di usia yang muda lagi,” ucapnya dengan nada bergetar, ia pun menepuk pundak Wonho pelan sambil memandangnya bangga. “Dan ternyata calon istrinya cantik. Cantik sekali, malah.”

“Ah… kamsahabnida, Suji-ssi.” Yoonhee menunduk malu mendengar pujian Suji yang sebenarnya hanya untuk basa-basi saja, sementara Wonho memandang tunangannya bahagia.

“Suji-ah, kau tahu? Dia ini juniorku saat di kampus dulu. Dari luar memang pemalu, tetapi aslinya cerewet sekali, lho!” jelas Wonho.

Oppa…,” Yoonhee memukul ringan lengan Wonho yang dibalas Wonho dengan mengacak-acak rambutnya.

Suji tersenyum miris ketika menatap pemandangan itu.

“Kalian terlihat… cocok sekali. Sungguh,” Suji menggeleng-gelengkan kepalanya, ia menahan dirinya agar tak lagi menumpahkan air mata lagi seperti tadi. Ia harus kuat sekarang. Bukan saatnya untuk kalah dari kesedihan yang mendalam ini.

“Terima kasih.” Jawab kedua orang itu serempak disertai gelak tawa.

“Yoonhee, itu Gyumin!” Wonho menunjuk ke arah kerumunan yang diyakini Suji sebagai anak-anak kelas 12-D.

Jinjja?” Yoonhee mengikuti arah pandangan Wonho, “wah, ternyata benar. Itu Gyumin Eonni.

“Kau ingin bertemu dengannya, kan? Cepatlah kesana sebelum ia pergi.”

Ne.” Yoonhee mengangguk pada Wonho dan Suji. “Aku kesana dulu, ya, Oppa, Suji-ssi!” Yoonhee melambaikan tangannya dan segera berjalan menuju tempat Gyumin berada.

Sekarang hanya tinggal Wonho dan Suji, sama seperti tadi sebelum Yoonhee datang, tetapi keadannya tak sama lagi, menurut pandangan Suji.

“Masih ingat Gyumin, kan? Ternyata ia adalah tetangga Yoonhee saat ia SMP.”

Suji hanya menganggukkan kepalanya memelas. Ia pun menunduk. Tak mau lagi melihat wajah Wonho yang hanya akan kembali membuatnya menyesal.

“Kau kenapa?” tanya Wonho khawatir.

“Jadi… kau berpindah hati dengannya?” Suji bertanya balik, masih tetap menundukkan kepalanya.

Wonho menghela napasnya. “Begitulah. Aku bertemu dengannya 3 tahun yang lalu.”

Menyadari Suji yang tidak merespon, Wonho pun bertanya, “Kenapa? Kau senang karena akhirnya teman dekatmu ini sudah tidak memiliki perasaan apa-apa lagi denganmu? Hehehe… jangan seperti itu. Aku jadi malu sendiri kalau mengingat aku pernah suka padamu dahulu.”

Pernah. Dahulu. Hati Suji terasa teriris-iris mendengarnya.

Suji merasakan kakinya yang sepertinya akan tumbang sebentar lagi. Ia tidak membenarkan kata-kata Wonho barusan.

Kau harus kuat, Bae Suji.

“Baesuj…,”

Suji pun memberanikan diri menatap Wonho kembali setelah namja itu memanggilnya seperti itu. Nama yang benar-benar ingin didengarnya dari mulut namja itu akhirnya terucapkan juga.

“Rasanya rindu sekali dipanggil seperti itu,” papar Suji, ia langsung menyadari perkataannya terdengar aneh dan melanjutkannya, “selain kau, tidak ada lagi yang memanggilku dengan nama aneh itu.”

Nama aneh, tetapi berharga.

Terdengar helaan napas Wonho, lalu ia berkata, “Maaf, tadi aku tidak memanggilmu seperti itu di depan Yoonhee. Ia orangnya gampang cemburu, kalau aku memanggilmu seperti itu nanti ia akan bertanya macam-macam. Misalnya ‘kenapa nama panggilannya spesial sekali?’ ‘kenapa kau tidak memanggilku begitu?’. Aku sudah bisa membayangkannya. Kalau saja ia tahu kejadian saat kita terjatuh di hari pertama masuk SMA itu. Hahaha.”

Suji tidak lagi bersemangat ketika mengingat momen itu. Lalu ia tak sengaja melihat cincin yang melingkar di jari manis Wonho.

“Kapan… kalian akan menikah?” tanya Suji dengan sekuat tenaga.

“Enam bulan yang lagi. Wah, sebentar lagi, bukan?” Wonho kembali menyengir.

Suji menggigit bibirnya. Enam bulan selanjutnya mungkin akan menjadi momen yang sangat membuat Wonho bahagia, dan membuatnya menderita. Mengapa mengetahui tentang pasangan baru ini begitu menyakitkan hati Suji sampai seperti ini? Air matanya sudah menggenang kembali di pelupuk matanya. Ia benar-benar tak tahan lagi. Haruskah ia pergi dari lelaki ini sekarang juga? Melihatnya saja sudah membuatnya tidak tahan lagi untuk segera menangis.

“Oh, ya, kau kapan akan menikah? Sudah punya pacar belum?” tanya Wonho sambil memandang Suji ingin tahu.

“Tidak. Aku masih ingin bekerja sungguh-sungguh dahulu,” jawab Suji ketus.

“Tapi kau sudah merasa percaya diri untuk memulai hubunganmu dengan lelaki, kan?”

Pertanyaan Wonho seakan-akan menampar Suji. Wonho masih saja ingat dengan pernyataan itu. Suji rasanya seperti sedang menelan perkataan bodohnya bulat-bulat.

“Entahlah.”

“Kau ini,” keluh Wonho.

Sepertinya aku harus benar-benar pergi. Aku sudah tidak tahan lagi…

“Oh, iya!” Wonho menjentikkan jarinya, “Berikan nomor teleponmu!” katanya sambil merogoh ponsel di kantung celananya.

Aku benar-benar tidak tahan lagi!

“Wonho-ya. Sepertinya aku harus pulang sekarang. Adikku sedang sakit di rumah, kemarin ia kehujanan. Orang tuaku sedang pergi ke rumah saudara. Kasian saja kalau ia tidak ada yang merawatnya di rumah. Kalau begitu, aku pergi dulu, ya!”

Suji segera berlari meninggalkan aula sekolahnya itu. Dalam hati ia meminta maaf pada adiknya yang sebenarnya tengah bermain game di rumah dalam keadaan benar-benar sehat sebelum ia pergi ke tempat ini tadi. Ia tak peduli ketika Wonho berteriak memanggil namanya. Ia tak peduli lagi dengan suasana haru disaat orang-orang berkumpul kembali dengan teman-teman lamanya saat itu. Sekarang ia hanya tidak ingin melihat bangunan sekolah ini. Ia tidak ingin melihat wajah Shin Wonho lagi.

Ia pun berlari dengan tenaga seadanya menyusuri koridor sekolah ini. Sampai akhirnya ia berhenti di samping lapangan sepak bola tepat di dekat halaman sekolah ini karena ia sudah tidak memiliki cukup tenaga lagi untuk berdiri. Tak ada orang disana. Semua memang sedang berkumpul di aula.

Tahu-tahu ponselnya berbunyi. Telepon dari Jiyoung

“Halo?”

“Hei, ada apa denganmu? Kenapa suaramu serak begitu?”

Suji berdeham beberapa kali untuk menormalkan suaranya kembali.

“Tidak apa-apa. Mungkin hanya butuh minum,” Suji tertawa hambar.

“Oh… tadi aku melihatmu keluar. Kau pulang, ya? Mengapa mendadak seperti itu dan tidak mengabariku terlebih dahulu?”

“Maaf… adikku sakit. Kasihan, tidak ada yang merawatnya di rumah,”

“Oh, ternyata benar apa kata Won Ho.”

Suji menghela napasnya.

“Tadi kau sudah bertemu dengannya, kan? Aku baru saja bertemu dengannya. Ia yang mengatakan padaku kalau kau sudah pulang. Kenapa buru-buru, sih?”

“Adikku butuh pertolongan secepatnya. Sekali lagi maaf, tadi aku lupa memberitahumu tadi kalau aku tidak bisa lama-lama.”

“Hmm, baiklah. Arasseo. Semoga adikmu bisa cepat sembuh, ya.”

“Semoga adikmu cepat sembuh!” terdengar suara seorang lelaki di ujung sana, sepertinya ia mengenali suara itu. “Aku jadi ingin bermain ular tangga dengannya lagi! Pasti sekarang ia sudah besar. Hahaha!”

“Ah… itu tadi Wonho. Hahaha.” ucap Jiyoung.

Suji ingat waktu itu, dirinya, Jiyoung dan Wonho sedang bermain di taman sekolah. Saat itu Suji sedang menunggu ayahnya yang akan menjemputnya. Ketika ayahnya datang, ternyata adiknya juga ikut menjemputnya. Adiknya yang saat itu masih duduk di bangku Sekolah Dasar malah tak mau pulang. Ia juga ingin ikut bermain di taman sekolah Suji bersama teman-temanya. Karena Suji dan Jiyoung asyik sekali menggosip, Wonho pun menjadi terpojok, namun tiba-tiba adiknya Suji yang ternyata senasib dengannya mengajak Wonho bermain ular tangga dan Wonho pun langsung tersenyum cerah menyetujuinya. Suji menggigit bibirnya ketika mengingat hal itu.

“Ya, terima kasih.”

Klik.

Suji menyandarkan tubuhnya di tiang gawang dan menjatuhkan tasnya ke tanah. Air mata yang sedari tadi menggenang itu akhirnya tumpah juga. Awalnya Suji menghapus air mata itu dengan kasar berkali-kali hingga akhirnya ia menyerah. Suji pun menangis sejadi-jadinya.

Lapangan ini… tepatnya di samping tiang gawang—adalah tempatnya berpisah dengan Wonho. Tempat ketika Wonho memeluknya sebelum mereka berpisah. Tempat terakhir ia bertemu dengan Wonho dimana Wonho masih benar-benar menginginkan dirinya. Tetapi sekarang…

Ia menjatuhkan tubuhnya ke rerumputan karena lututnya memang benar-benar tak bertenaga. Ia pun melepaskan jepitan ‘terindah’ itu dari rambutnya. Dengan nanar ia memandang barang berharga itu. Karena tidak sanggup lagi memandangnya, Suji pun menggenggam jepitan itu dan meletakkan kepalan tangannya di depan dadanya yang sangat sakit. Ia masih terlalu syok mendengar kalau orang yang dulu menyukainya dan disukainya sekarang sudah tidak memiliki perasaan yang sama seperti dahulu lagi, padahal ia masih menyimpan perasaan yang mendalam padanya. Dan orang itu sudah memiliki pengganti ruang di hatinya yang pernah ditempati oleh Suji seorang. Tangisan Suji semakin menjadi-jadi. Ia pun menutup mulutnya dengan telapak tangannya kirinya sementara tangan kanannya masih menepuk dadanya. Rasa sakit hati itu menjalar kemana-mana. Rambutnya penuh keringat dan dress penampilan terbaiknya ini kacau balau. Tapi ia benar-benar tidak memedulikan tentang penampilannya lagi.

Agassi, kau kenapa?”

Suji langsung menghapus air matanya dan merapikan rambutnya dengan terburu-buru ketika mendengar suara itu. Ia pun memasukkan jepitan kupu-kupu itu ke dalam tasnya dan segera bangkit. Ketika ia berbalik, ia mendapati seorang ahjussi berbaju satpam—yang memanggilnya tadi—tengah memandangnya ingin tahu.

Gwaenchanha.” Suji menarik napasnya untuk menenangkan diri lagi. Ia pun berjalan dengan langkah lebar melewati satpam yang masih menatapnya bingung itu.

Suji terus melangkah tanpa memedulikan air mata yang jatuh kembali di pipinya. Sebenarnya ia masih tidak memiliki tenaga yang cukup. Dan akhirnya ia terjongkok tepat di gerbang sekolah.

Babo!” umpatnya pada diri sendiri sambil memukul kepalanya sendiri menggunakan tangannya. Isakannya semakin terdengar histeris setelah memaki dirinya sendiri.

Suji memandang bangunan sekolah yang ada di belakangnya itu dengan wajah yang benar-benar kacau. Banyak kenangan manis di dalamnya. Namun kenangan manis yang baru saja ia ingat-ingat kembali beberapa jam yang lalu itu ternyata malah membuatnya tak tahu mau berkata apa setelah bertemu orang itu kembali dalam keadaan yang berbeda.

Lagi-lagi ia mengingat keputusannya 6 tahun yang lalu.

Keputusan itu?

Suji tertawa miris mengingat apa yang sudah ia tetapkan pada dirinya sendiri. Rasanya ia ingin mencari mesin waktu dan kembali ke masa lalu, dimana ia masih bisa menggunakan kesempatan itu untuk mendapatkan namja yang sangat diinginkannya setengah mati itu. Tapi ia tahu pasti kalau kesempatan tersebut tidak akan bisa didapatinya. Mustahil.

Shin Wonho.

Mengingat namja itu kembali membuat hatinya yang perih karena terluka menjadi semakin perih karena ditaburi garam. Shin Wonho dahulu dan Shin Wonho yang sekarang masih sama, tetapi isi hatinya benar-benar sudah berbeda.

Namun ia tidak bisa seperti ini. Ia ingat kalau ia pernah mengatakan pada dirinya sendiri akan menanggung konsekuensi apapun yang terjadi akibat dari keputusannya itu. Sesakit apapun? Entahlah, yang penting ia tidak boleh menyesali apa yang sudah ditetapkan hatinya. Walaupun akibatnya benar-benar menyakitkan sekali seperti ini. Jika ia menyesalinya, ia akan benar-benar malu pada dirinya sendiri.

Tanggung saja semua ini sendiri, Bae Suji. Kau bisa, kalau kau mau dan berusaha. Ya, kuatkanlah dirimu. batinnya dalam hati sambil mengangguk.

Sebelumnya ia memang tidak pernan menyangka kalau semua itu akan menjadi seperti ini.

Ia menatap bangunan sekolahnya itu kembali. Ia juga tidak boleh melupakan apa yang pernah terjadi padanya dahulu di tempat itu. Kenangan baik maupun buruk, biarlah menjadi pelajaran baginya untuk ke depan yang lebih baik.

“Ya, memang seharusnya seperti itu.”

Suji pun berdiri perlahan dan menghapus air matanya. Entah sudah berapa kali ia mengapus air matanya hari ini. Ia pun berjalan dengan gontai meninggalkan sekolah penuh kenangan itu.

Ia pun bertekad akan tetap menyimpan perasaan ini rapat-rapat tanpa membiarkan orang lain tahu, bahkan sahabat terdekatnya sendiri—Kang Jiyoung.

Shin Wonho, nan jeongmal johahaeyo. Itulah jawabanku yang sebenarnya, walaupun kau tak bisa mendengarnya.

The End?

38 thoughts on “[FF Freelance] Painful-Beautiful Memories (Oneshot)

  1. Terbahak-bahak di awal cerita, menangis di akhir cerita gini nih rasanya…
    Daebak ceritanya! tapi yang paling kerasa pasti akhirnya, huuuhhh sesak banget!!!
    Please author.. buat sequelnya ya please.. Myungzy aja kalau bisa

  2. miris banget ceritanya
    aku kirain bakal seneng endingnya
    ternyata enggak
    daebak author 😀 bikin ff yg seru lagi ne
    yg banyak fighting !!! yg castnya suzy kekeke

  3. First of all, aku bener-bener kaget pas liat komennya udah sampai segini. Dan nggak ada kalimat lain yang pantes aku ucapin selain terima kasih semuanyaaaaa~!! Aku hargain banget yang udah mau baca FF abal-abalku yang masih banyak typo-nya ini. Aku lebih menghargai yang udah mau komen ataupun like juga pastinya.
    Dari komen-komen yang aku liat rata-rata pada kecewa sama endingnya. Huuu maaf ya~ aku juga nggak tega sebenarnya liat Suzy nangis tapi mau gimana lagi (?)
    Trus, banyak juga yang minta sequel. Kalau yang itu aku lagi menimbang-nimbang. Jadi, liat aja nanti, oke? Aku belum mau pastiin soalnya ntar kalo gajadi kan PHP-in readers namanya #plak Suzy bakal hidup bahagia kok kalo dia mau #plakplakplak
    Sekali lagi, makasih banyak yaa semuanya~! ❤

  4. Hadeeeh.. nyesek ini lho min 😦
    Walaupun awalnya udah nebak kalau ini bakal sad ending, tp nggak gini jg dong ending nya min 😦
    Bener2 nyesek 😥
    Next yaaa 😀

  5. Aku jarang bgt menemukan ff Suzy dan Shin tp ini slh satu yg trkeren meski sedikit kecewa dgn endingny…
    Msh berharap bgt Shin ttp sama Suzy soalny aku demen ma couple ini…
    Sekuelny kuharap kau membuatny…..
    fighting

  6. author ini tu sedih thor , hiks :”( kenapa awalnya bahagia , ketawa – ketawa , tiba – tiba endingnya bikin yg baca mewek si ? :”(

  7. Aigoo..
    Ini FF daebak bgt.. Untuk pertama kali.. Aku baca FF yg one shot, tp feel-nya dapet bgt.. Biasanya kan,klo yg one shot it,suka gaje.. (Mian) ,tp,klo FF yg 1 ini.. Beda..
    Pertahankan ne thor (?) :))))

  8. Pngen squel thor,
    knpa gda pov wonho nya,
    pngen tau perasaan wonho ke suzy skrng,
    pngen nya si di lbuk hti wonho yg paling dlam msh ada suzy. .

  9. Feelny dpt bgt thor.. gw kira author mau buat happy ending eh ternyata sma endingny masih ttep gitu.. so sad.. TT-TT .. tapi ff ini daebakkkk!!

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s