Little Brother (Chapter 3)

little-brother1

LITTLE BROTHER

There is no love like the love for a brother. There is no love like the love from a brother…”

By

PSEUDONYMOUS

CAST: APINK’s Chorong & B1A4’s Gongchan || GENRE: Romance, Family, & Life || LENGTH: Chapter || RATING: PG-17 || DISCLAIMER: My plot for sure || CREDIT POSTER: Kihyukha

PREVIOUS PART:

PROLOGUE, CHAPTER 1, CHAPTER 2

CHAPTER 3

Ketika masanya hampir tiba, dedaunan di atas pohon mulai berubah kecoklatan dan jingga, juga suhu udara mulai menurun, menandakan musim gugur yang hampir tiba. Chorong berdiri di depan kalendar dan berjinjit di atas sepatu kets putihnya untuk melihat-lihat tanggal. Hari itu tanggal 13 Agustus, dan jadwal operasi akan dilakukan besok. Chorong berlari ke tempat tidur ibunya dan berseru:

“Bu, besok adiknya akan lahir, kan, Bu?”

Nyonya Park yang tengah bersandar pada bantal yang disanggahkan pada punggungnya mengangguk. “Iya, adiknya akan lahir besok.”

“Wah…” Chorong berujar kagum dan mendekati sisi tempat tidur. Kedua bola matanya yang besar dan cantik bersinar-sinar terang, menatap perut ibunya yang membesar dari bulan ke bulan. Fenomena itu menggelitik rasa penasaran Chorong. Chorong mendongak pada ibunya dan berkata, “Boleh aku menyentuhnya?”

“Tentu saja, Sayang,” angguk Nyonya Park.

Chorong mengulurkan tangan kanannya, dan dengan gemetaran serta dikuasai rasa gugup dan ragu-ragu, dia berhasil juga menyentuh kulit perut ibunya yang meregang di bawah pakaian rumah sakit. Chorong berseru “wow!” sekali lagi pada ibunya dan tertawa. “Adiknya besar sekali,” kata Chorong.

Ibunya tertawa. “Bagaimana? Apa yang kau rasakan?”

Chorong mengusap-usap perut ibunya naik-turun. “Adiknya besar sekali, dan…” Chorong memiringkan kepalanya dan merapatkan telinganya pada perut ibunya. “…aku mendengar suaranya,” lanjutnya, dibuai imajinasi.

“Oh ya?” kata ibunya, “Apa yang dikatakan adik itu?”

Chorong tertawa cekikikan. “Dia bilang dia sudah tidak sabar ingin bertemu denganku.”

Ibunya tersenyum. “Kabar yang bagus, bukan?”

Seseorang mengetok pintu kamar. Chorong dan Nyonya Park menoleh kearah pintu kamar yang dibuka. Seorang perawat perempuan berwajah ramah masuk ke dalam.

“Selamat sore, Nyonya Park. Bagaimana keadaan Anda?”

Nyonya Park mengangguk ringan. “Baik-baik saja.”

“Dokter Ok ingin menemui Anda sore ini. Dia ingin membicarakan soal persalinan Anda besok.”

“Oh, baiklah.”

“Biar kubantu.”

Perawat itu dengan cekatan berdiri di sebelah tempat tidur dan memegang lengan Nyonya Park erat-erat untuk membantu wanita itu berdiri dari tempat tidur. Chorong memerhatikan gerakan berat dan hati-hati dari tubuh ibunya, sekaligus merasa was-was dengan perut ibunya, seakan-akan dia takut jika perut itu meledak dan melukai adiknya.

Begitu Nyonya Park berhasil duduk di tepi tempat tidur, dia berkata pada si perawat, “Sebelum bertemu dengan dokter Ok, aku ingin menelepon suamiku dulu. Aku rasa ini sangat penting, jadi dia harus ada di sini untuk bicara bersama-sama.”

Perawat itu membungkuk rendah dan mundur. “Silahkan.”

Sementara Nyonya Park menghubungi suaminya melalui telepon genggam, Chorong dan si perawat berdiri di sana tanpa banyak bicara. Si perawat menunduk pada Chorong dan tersenyum pada gadis kecil itu.

“Hai, Sayang.”

“Hai,” balas Chorong, tak kalah ramahnya.

“Kau akan punya adik, bukan? Bagaimana perasaanmu?”

Chorong tertawa geli. “Menyenangkan.”

“Kau ingin punya adik laki-laki atau perempuan?”

“Ibu bilang adikku laki-laki,” kata Chorong. Dia tersenyum. “Aku menyukainya.”

“Kenapa kau ingin mempunyai adik laki-laki?”

“Aku perempuan, jadi jika adikku laki-laki, dia bisa melindungiku.”

“Hm…” perawat itu mengangguk-angguk, “tapi, bagaimanapun juga kau adalah kakak, sudah intuisi bahwa kau pasti akan lebih melindunginya nanti.”

Chorong tidak paham apa yang sedang berusaha dikatakan perawat itu padanya. Namun, gadis kecil itu tidak sempat bertanya lagi karena ibunya telah selesai menelepon.

“Kita bisa pergi sekarang,” kata Nyonya Park sambil menutup telepon.

Si perawat mengerlingkan mata pada Chorong, lalu membantu Nyonya Park berjalan ke luar kamar.

“Chorong. Chorong, tolong bantu aku di sini. Chorong, bangun!”

Seseorang mengguncang lemah lengan Chorong, membuat gadis itu tersentak dari tidurnya yang lelap. Dia mengerjap-ngerjap ke sekitar dan seorang wanita lansia yang tengah duduk di kursi roda melambaikan tangan di depan wajahnya. Chorong duduk tegak di kursinya dan mengusap garis matanya.

“Astaga, aku tertidur ya,” katanya penuh sesal.

“Tidak apa-apa, tidak apa-apa,” ujar wanita tua itu. “Bisa bantu aku di sini?”

Setelah mendapatkan kesadarannya kembali, Chorong menatap wanita tua di hadapannya dengan jelas. “Apa yang bisa kubantu?”

Wanita tua itu memiringkan tubuhnya dengan susah payah ke sebelah sisi kiri kursi rodanya. Lengannya mencoba menggapai-gapai ke lantai. Dia mengerang, “Selimutku.”

“Oh!” Chorong terlonjak berdiri, lalu memungut selimut biru muda itu dari lantai dan meletakkannya di pangkuan si wanita tua itu. “Maafkan aku.”

Wanita tua itu memerhatikan saat Chorong bersimpuh di hadapannya dan memperbaiki posisi selimut itu pada pahanya. Chorong menyelipkan ujung selimut ke bawah sisi paha dan menarik ujung yang satunya sampai menutupi seluruh kaki wanita tua itu. Wajah Chorong terlihat agak lelah, dan kelopak matanya terlihat berat. Seharian ini dia bekerja dengan ogah-ogahan di panti.

“Apakah kau baik-baik saja, Sayang?” tanya wanita tua itu pada Chorong.

Chorong mengangkat wajahnya dan berusaha tersenyum. “Aku baik-baik saja,” katanya. Dia kembali duduk di kursinya dan mendesah. “Hanya kurang tidur.”

“Apakah kau memikirkan sesuatu?”

Chorong terlihat ragu-ragu sebelum menjawab, “Sebenarnya, ya.” Gadis itu merapikan pakaiannya yang kusut. “Aku sedang merasa khawatir.”

Wanita tua itu menatap Chorong penuh sayang. Jika dia merasa cukup kuat sekarang, mungkin dia akan berdiri dan memeluk gadis itu untuk memberinya kenyamanan dan mengatakan bahwa segala sesuatunya akan baik-baik saja. Tapi, satu-satunya hal yang bisa dilakukannya sekarang adalah duduk dengan lemah di kursi rodanya, melipatkan kedua lengannya di atas lutut, dan bersiap mendengarkan keluh kesah anak perempuan yang disayanginya itu.

“Apakah ini soal ayahmu yang pastor itu?” lanjutnya berhati-hati.

Chorong mengangguk. “Ini memang ada hubungannya dengan ayahku.”

“Apakah dia melakukan sesuatu lagi pada kau dan adikmu?”

Chorong terkesan dengan wanita tua yang telah dikenalnya kurang lebih dua tahun itu. Soojin—nama wanita tua itu—adalah satu-satunya manula yang menarik perhatian Chorong sejak dia bekerja di panti jompo itu. Soojin membuatnya kagum akan ketabahannya serta kasih sayang dan perhatian yang diberikan padanya seolah Chorong secara cuma-cuma.

“Kami mendapat masalah kecil kemarin,” Chorong mulai bercerita, “dan ayahku mengancam kami. Kau tahu, ayahku adalah orang yang sangat serius dan sangat berhati-hati dengan ucapannya. Selama ini, aku tidak pernah melihatnya semarah itu padaku dan Gongchan. Dia bahkan hampir memukuli Gongchan semalam. Aku takut jika ucapannya benar-benar terjadi.”

“Hm…” Soojin mengangguk-angguk. “Apa yang dikatakannya pada kalian?”

“Aku tidak begitu peduli dengan ancamannya kepadaku, tapi…” Chorong diam sejenak, “…aku takut pada apa yang akan dilakukannya pada adikku.”

Soojin mencondongkan tubuhnya ke depan dan menautkan alis. “Sebegitu parahnya, kah?”

“Dia bilang dia akan mengirim Gongchan ke sekolah agama.”

Soojin tampak tercekat. “Jika itu sebuah ancaman dan akan membuat Gongchan takut…” Soojin terlihat bingung, lalu akhirnya berkata dengan suara pelan, “…apakah Gongchan ateis?”

“Tidak seperti itu, menurutku,” kata Chorong, meluruskan kesalahpahaman itu. “Dia…” Chorong menoleh ke luar jendela, mencari kata-kata yang tepat, “…hanya belum menemukan dirinya.”

“Kurasa juga begitu,” angguk Soojin. “Anak-anak seperti Gongchan sangat rentan.”

“Ya, maka dari itu aku masih mengkhawatirkan ancaman ayahku terhadap Gongchan. Anak itu tidak tahu apa-apa. Dan ayahku tidak pernah main-main dengan ucapannya,” tambah Chorong sambil menggosok-gosok punggung tangannya.

Soojin menyentuh tangan Chorong dan menatap gadis itu penuh sayang. “Kau sepertinya begitu menyayangi adikmu.”

Chorong tersenyum lembut. “Aku memang sangat menyayanginya.”

Deru mesin mobil antik itu berhenti begitu sampai di depan panti. Tuan Park menekan klakson mobilnya beberapa kali, mengirimkan kode ke dalam sana. Beberapa saat kemudian, pintu panti terbuka dan Chorong keluar dari sana dengan tergesa-gesa. Tuan Park memerhatikan putrinya berpamitan pada beberapa wanita tua yang duduk di kursi roda—termasuk Soojin. Begitu selesai berpamitan dengan putrinya, Soojin melambai pada Tuan Park. Tuan Park balas melambai kearahnya, mengangguk samar, dan tersenyum.

“Bagaimana keadaan Soojin?” tanya Tuan Park ketika Chorong telah menyelinap masuk ke jok sebelah.

Chorong mengenakan seat belt dan menyahut, “Dia baik-baik saja.”

“Hm.”

Tuan Park menjalankan mobilnya, dan mengendarainya menuju rumah. Sepanjang perjalanan pulang, baik Chorong maupun Tuan Park tidak bicara sama sekali. Chorong memalingkan wajahnya ke luar jendela dan tampak bosan. Tuan Park dengan wajah tegang mengamati perilaku anaknya. Rupanya mereka masih terkungkung oleh kejadian semalam.

“Yah…” Chorong tiba-tiba memanggilnya.

Jantung Tuan Park meloncat. “Ada apa?”

“Apakah Ayah sungguh-sungguh akan mengirim Gongchan ke sekolah agama?”

Tuan Park terkejut. Dia melirik putrinya sebentar, dan tampak kekhawatiran di sorot mata Chorong saat menatapnya. “Ya, tentu saja,” tukasnya. “Jika dia masih berani menyelinap keluar kebaktian, Ayah akan melakukannya.”

“Gongchan tidak sepantasnya diperlakukan seperti ini,” kata Chorong terdengar penat. “Memutuskan untuk mengirimnya ke tempat yang tidak dia sukai akan—”

“Apakah kau sedang berusaha mengatakan bahwa kau mendukung adikmu dalam perilakunya yang tidak terpuji itu?” tuding Tuan Park. “Apakah kau akan membiarkan adikmu masuk ke dalam lingkaran setan?”

“Bukan begitu maksudku,” erang Chorong, “tapi, biarkan Gongchan menemukan jalannya sendiri. Dia berumur 17 tahun dan dia berhak mendapatkan hak itu. Seperti kata Ayah, kemanapun manusia pergi, dia selalu akan kembali pada Tuhan. Gongchan sedang menempuh perjalanannya sekarang, jadi biarkan dia menemukan Tuhan dengan caranya sendiri. Jangan mendorongnya berjalan lebih cepat. Itu akan membuatnya tersandung, jatuh, lalu akhirnya terlalu lelah untuk melanjutkan perjalanan, sehingga membuatnya tidak dapat bertemu dengan Tuhan.”

Tuan Park terlihat merenungkan ucapan Chorong. Tapi tampaknya pria itu terlalu keras kepala untuk menerimanya. “Jangan menasihatiku soal Tuhan dan kehidupan, Chorong. Ayah tahu apa yang Ayah lakukan.”

Chorong menarik napas dan menghembuskan kuat-kuatnya ke luar jendela. Dia menggeleng-geleng lemah dan merasa telah membuang-buang waktu. Dia tahu, ayahnya terlalu banyak dipuji di gereja, sampai-sampai sedikit kritikan saja membuat ayahnya tersinggung setengah mati.

Setelah terjebak dalam situasi yang tidak menyenangkan lainnya, mereka akhirnya sampai di rumah.

“Chorong, katakan pada ibumu, Ayah tidak akan pulang ke rumah sampai jam makan malam,” kata Tuan Park pada putrinya. “Ayah akan ada acara makan malam bersama dengan para pengurus gereja untuk membahas penggalangan dana.”

Chorong melepas seat belt-nya dan mengangguk. “Akan kusampaikan.”

Saat Chorong keluar dari mobil, Tuan Park berseru lagi, “Dan, Chorong…”

Gadis itu berbalik. “Hm?”

“…berhentilah membela adikmu.”

Nyonya Park melemparkan lembar-lembar pakaian kotor ke dalam mesin cuci dengan dahi dan punggung yang basah oleh keringat, memasukkan satu sendok penuh bubuk deterjen ke dalamnya, lalu memutar mesin cuci. Dia mendesah lega di kursi makan, sembari menunggu mesin cuci menggulung pakaiannya, wanita itu duduk di sana dengan menyesap segelas es teh manis.

Suara pintu yang diketuk dari luar mengusik istirahat singkatnya. Nyonya Park melongok dari dapur dan berseru ke tangga atas, “Gongchan, buka pintunya! Itu pasti kakakmu!”

Tidak ada sahutan dari arah kamar Gongchan.

Nyonya Park berdiri dan menuju anak tangga pertama, “Gongchan!”

Melihat tidak ada respon sama sekali dari pintu kamar putranya yang tertutup, Nyonya Park akhirnya yang membuka pintu.

“Lama sekali,” gerutu Chorong. Gadis itu buru-buru masuk ke dalam sebelum matahari membakar kulitnya.

“Ibu sedang sibuk,” jelas Nyonya Park, mengikuti Chorong ke dapur dengan tergopoh-gopoh. “Bagaimana pekerjaanmu di panti?”

Chorong mengangkat gelas berisi es teh dari atas meja dapur, “Ini milik Ibu?”

Ibunya mengangguk, lalu Chorong meneguknya dengan rakus. Cuaca panas di luar sudah membakar tenggorokannya. “Pekerjaanku baik,” jawab Chorong, setelah menemukan dirinya kembali tenang. “Panti baik-baik saja.”

“Lalu, di mana ayahmu?” lanjut Nyonya Park sembari berdiri di pantry dapur, mempersiapkan gelas es teh yang baru untuk dirinya.

“Ayah bilang dia tidak akan pulang ke rumah sampai jam makan malam,” Chorong melepaskan tasnya, meletakkannya di atas meja, dan mendesah, “dia bilang ada acara makan malam bersama pengurus gereja.”

“Hm…”

Chorong mendongak ke ruang cuci dan mendengar mesin itu berdengung dengan keras. “Di mana Gongchan?” tanyanya.

Nyonya Park meletakkan gelas es teh penuh ke atas meja. “Mungkin sedang tidur di kamarnya,” wanita itu mengusap keringat pada dahinya kemudian kembali ke pantry, “Bisa kau bangunkan dia? Ibu akan segera membuat makan siang untuk kita.”

 Chorong mengakui bahwa dirinya selalu lupa pada tata krama setiap kali masuk ke kamar Gongchan tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu. Namun, gadis itu mulai mempertimbangkan kembali perilakunya jika kamar Gongchan terlihat lebih hening dan tenang dari biasanya. Pemuda itu bisa saja sedang serius membaca buku atau sibuk dengan internet. Kedua rutinitas itu sangat penting untuk Gongchan, dan mengacaukan rutinitas itu bisa membuat Gongchan meledak marah.

Chorong mengetuk pintu itu pelan-pelan dan berbisik pada cela-cela pintu, “Gongchan, boleh aku masuk?”

Tidak kunjung mendapat sahutan dari dalam, Chorong pikir ini saatnya mengabaikan tata krama tersebut. Dia membuka pintu kamar, dan tampaklah di sana, Gongchan tertidur di meja komputer dengan perangkat yang masih menyala. Chorong mendekati adiknya dan memerhatikan kedua lengan Gongchan yang terlipat di atas meja sedang menindih keyboard. Wajah adiknya tergolek ke sebelah kanan dan terlihat kelelahan. Chorong tidak yakin apa yang sedang dilakukan Gongchan sampai jatuh terlelap di meja komputer, tapi monitor komputer yang berkedip-kedip justru menarik perhatiannya.

Dia membungkuk ke hadapan monitor, menggerakkan mouse, dan muncullah halaman terakhir dari internet yang dibuka oleh Gongchan. Halaman itu berupa artikel yang biasa muncul pada mesin pencari dengan judul yang besar di atasnya, “10 Tanda Wanita Sedang Jatuh Cinta”.

Chorong menggelengkan kepala, menatap adiknya, dan mendengus, “Yang benar saja.”

Ini bukan bacaan Gongchan sama sekali. Chorong mulai berasumsi, “Apakah mungkin Gongchan sedang jatuh cinta?”

 Tuan Park menghentikan mobilnya di depan pintu masuk hotel. Seorang petugas pria berseragam membukakan pintu untuknya dan mengucapkan salam. Tuan Park terkesan dengan pelayanan hotel tersebut dan kecakapan para pelayannya. Mobilnya kini diserahkan kepada tukang parkir valet  hotel, lalu dia masuk ke dalam dituntun oleh seorang petugas lainnya yang sepertinya sudah diamanahkan untuk menyambut dan mengantarkannya sampai ke grand ballroom.

“Lewat sini, Tuan.”

Grand ballroom ada di lantai 8 dan mereka harus menaiki sebuah lift untuk bisa sampai ke sana. Setibanya di sana, para tamu sudah ramai. Ada panggung yang megah, meja-meja makan bulat yang besar tersebar di seluruh ruangan, dan bahkan beberapa pejabat menyempatkan diri untuk hadir di acara itu. Puji Tuhan, bisik Tuan Park dalam hati. Dia bersyukur pejabat-pejabat ini masih mengingat Tuhan di antara gemilang harta dan kuasa mereka.

“Tuan Park!” seseorang berseru dari tengah ruangan. Itu Kim Junho, salah seorang yang dikenalnya dengan baik dan juga merupakan pastor dari gereja lain. Pria paruh baya berkacamata dan bertubuh pendek serta tambun itu menyalami Tuan Park dan saling bertukar peluk. “Senang melihatmu di sini.”

“Aku juga begitu.” Tuan Park tersenyum.

“Mari bergabung bersama kami. Acaranya sebentar lagi akan dimulai.”

Tuan Kim mengajak Tuan Park untuk duduk bersama di meja makannya, bergabung bersama dua orang pejabat dan para pria dermawan nan kaya lainnya. Berada di antara orang-orang hebat seperti mereka, sejenak membuat Tuan Park merasa sedikit malu.

Tuan Kim menuangkan segelas wine untuk Tuan Park. “Silahkan.”

“Astaga. Anda seharusnya tidak melakukan itu untukku,” kata Tuan Park dengan wajah merah.

“Jangan sungkan begitu padaku, Tuan Park.” Dia menuangkan untuk dirinya sendiri, lalu bersulang dengan Tuan Park.

Tuan Park mengangkat gelasnya untuk Tuan Kim, lalu mereka menyesap wine masing-masing dengan hati puas.

Lampu mulai redup, tersisa lampu sorot panggung yang menyala. Acara akan segera dimulai. Tuan Park meletakkan gelas wine  di atas meja, dan memerhatikan ke atas panggung. Seorang MC perempuan berdiri di sudut kanan panggung dan membuka acara megah itu dengan baik. Sesi pertama dibuka dengan penampilan seorang pemuda gagah dan tinggi di atas panggung. Tuan Park melihat pemuda itu membawa Saxophone ke atas panggung dan membungkuk sebentar pada para penonton sebagai rasa hormat.

“Anak Anda gagah sekali, Tuan.”

Tuan Park mendengar salah seorang pria dermawan kaya itu berbisik pada Tuan Kim. Tuan Park mengamati si pemuda Saxophone ini dengan hati-hati dan dengan perasaan terkagum-kagum, sosoknya memang mengingatkannya pada Tuan Kim. Profil wajahnya yang tampan dan teduh, serta pembawaannya yang tenang dan tampak bijaksana di balik setelan jas abu-abu yang membungkus tubuh tingginya dengan sempurna.

Keheningan yang dibuat itu kemudian diisi oleh alunan lembut suara berat Saxophone yang dimainkan dengan necis oleh pemuda itu. Para penonton mengangkat wajah mereka dan tersenyum. Bahkan ada beberapa yang dengan sengaja memejamkan mata untuk menikmati musik indah itu. Sementara itu, Tuan Kim tersenyum-senyum di duduknya dengan bangga.

Pertunjukkan itu berakhir setelah kurang lebih enam menit. Seisi gedung diriuhkan dengan tepuk tangan. Pemuda itu membungkuk lagi dengan hormat dan menghilang ke belakang panggung. Ketika MC berbicara ke depan, dan melanjutkan acara, pemuda itu muncul dari balik panggung dan menghampiri meja dengan sosok yang lebih rendah hati. Tuan Kim berdiri untuk menyambut anaknya dan menepuk-nepuk pundaknya dengan pongah.

“Tuan-Tuan, perkenalkan ini putra sulungku, Woohyun,” kata Tuan Kim sambil memandangi sekitaran meja.

Pria-pria di seputaran meja menyalami Woohyun, dan melontarkan pujian-pujian atas bakatnya dalam Saxophone. Tuan Park dengan hormat berdiri dari duduknya dan ikut menyalami Woohyun.

“Woohyun, kenalkan, ini Pastor Park,” jelas ayahnya, “dan Tuan Park, kenalkan, ini putra sulungku, Woohyun.”

Mereka saling berjabat tangan. Tuan Park memberanikan diri menepuk pundak Woohyun dengan ramah. “Permainanmu sangat bagus,” pujinya.

Woohyun membungkuk untuk berterimakasih, lalu berkata, “Ayahku banyak bercerita tentang Anda. Suatu kehormatan bisa bertemu dengan salah satu pemuka agama terbaik di Seoul.”

Wajah Tuan Park bersemu merah. Dia tertawa renyah. “Jangan berlebihan seperti itu. Ayahmu masih jauh lebih hebat daripada aku.”

Setelah perkenalan singkat itu, mereka kembali duduk. Woohyun duduk dengan anggun di antara Tuan Park dan ayahnya, lalu ikut menikmati segelas wine. Seketika, acara yang sebenarnya tidak jadi menarik untuk Tuan Park. Dia lebih terpikat untuk mendengar kisah-kisah Woohyun. Bukan hanya kemampuannya dalam bermusik, namun kecerdasan serta kesungguhan iman Woohyun juga membuat Tuan Park tercengang-cengang. Woohyun menamatkan pendidikannya di Inggris, lulusan Sastra dan telah banyak menulis artikel tentang agama. Selain itu, Woohyun berkata dia sudah puluhan kali melakukan perjalanan spiritual ke Yerusalem dan melaksanakan kegiatan amal di berbagai tempat.

“Kau masih sangat muda,” kata Tuan Park di sela-sela keterkejutannya, “tapi kau begitu dewasa dan agamamu sangat bagus.”

“Tuhan-lah telah membimbingku,” sahut Woohyun merendah.

“Seandainya saja putraku seperti dirimu, aku pasti bisa mati bahagia,” gumam Tuan Park sambil berdecak dan menggeleng-geleng.

“Benar,” celetuk Tuan Kim, “aku baru ingat bahwa kau juga punya seorang putra. Berapa umurnya sekarang? Apakah dia seumur dengan Woohyun?”

“Dia baru berumur 17 tahun,” Tuan Park menoleh pada Woohyun, “Berapa umurmu, Nak?”

“Aku 23 tahun.”

“Wah, kebetulan sekali!” pekik Tuan Park. “Putri sulungku juga akan berumur 23 tahun besok.”

“Kau punya seorang putri?”

“Benar,” angguk Tuan Park pada Tuan Kim. “Namanya Chorong.”

Tuan Kim memicing pada Tuan Park dengan sorot menelisik. “Apakah dia cantik?”

“Oh,” Tuan Park menepuk ujung meja dan tertawa, “kau sudah pernah bertemu dengan istriku, dan kecantikannya diwariskan pada anak perempuanku.” Tuan Park menyentuh pundak Woohyun dan melanjutkan, “Aku rasa kalian harus bertemu jika ada waktu.”

“Tentu saja,” sahut Woohyun. Dia menatap ayahnya, “Aku rasa itu ide yang bagus.”

11 thoughts on “Little Brother (Chapter 3)

  1. Ayahnya Tuan Kim, jadi anaknya Kim Woohyun dong? Tapi aku bayanginnya Nam Woohyun thor hehehe. Jadi ntar Woohyun sama Chorong? Bisa bisa..
    Itu aku tau kayaknya kenapa Gongchan nge-search yang begituan di internet, pasti dia khawatir sama kakaknya. Aduh, jadi makin penasaran sama next chapternya. Ditunggu ya thor~!

  2. chorongggg perhatian banget… huaaa
    itu gongchan baca artikel itu buat mewaspadai kakaknya ya. hihii lucu deh

    tuan Park hemmm awas nyesel tar kalo ada apa2 ma gongchan

    lanjuuut author

  3. yeaaay pihak ketiganya kayaknya woohyun nih. asik kebetulan aku emg bayanginnya woohyun yg bakal deket sm chorong. anyway kenapa nama keluarga woohyun itu kim kak? emg sengaja diubah kah?

    anw aku suka bgt ucapannya chorong ke ayahnya. next chapt ditunggu 🙂

  4. huwaaa. jadi bakal ada orang ketiga nih? hmmm, makin seru sih keliatannya.
    well, bagian paling aku suka dari chapter ini adalah percakapan Chorong dan Tuan Park di mobil. terutama di bagian :
    Gongchan sedang menempuh perjalanannya sekarang, jadi biarkan dia menemukan Tuhan dengan caranya sendiri. Jangan mendorongnya berjalan lebih cepat. Itu akan membuatnya tersandung, jatuh, lalu akhirnya terlalu lelah untuk melanjutkan perjalanan, sehingga membuatnya tidak dapat bertemu dengan Tuhan.
    Chorong daebak!
    Aku jadi makin kesel aja sih sama karakter Tuan Park, semoga kena batunya segera! :/

  5. Haloo! Aku ketinggalan part 3 rupanya ._.
    Sebenarnya pendetaku pernah cerita tentang kejadian mirip sama yang dialami Gongchan dan Ayahnya. Tapi akhir dari cerita pendetaku, anak yang juga dikirim ke sekolah agama itu akhirnya keluar =D aku masih blm bisa menebak nih gimana nasib Gongchan nantinya ._.
    Gak tau kenapa aku ngakak waktu baca scene Gongchan yang buka-buka artikel di internet itu. Kayaknya dia penasaran (atau khawatir?) Banget sama kakaknya. Ditambah lagi Woohyun yang bakal dikenalin sama Chorong, gimana reaksi Gongchan coba? Haha
    Oke, langsung meluncur ke part 4!

  6. Huaaaaaa, Woohyun bakal jadi pesaing Gongchan.
    Banyak ketinggalan 😀
    Tapi Gongchan nyari artikel itu lg memata-matai kakak cantiknya 😀

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s