[FF Freelance] Dinner (Oneshot)

dinner

 

Title:

Dinner

Storywriter:

Ivaniorawr

Cast: Lee Chaerin 2NE1 and Kwon Jiyong Bigbang // Minor Cast: Sandara Park, Kang Daesung // Genre: Romance, Marriage-Life, Fluff, Sad // Rating: PG // Duration: Long-shot

Summary:
“This is the story about a tiny little family, who love happy in the beginning. But suddenly, something happened and cracked their relationship. And it’s all because of dinner.”

 

***

 

Jiyong menghela napas setelah menapaki kakinya didepan gerbang rumahnya. Rumah yang ia tinggali hanya berdua bersama istri tercintanya Kwon Chaerin. Rumah yang mungil dan tidak bertingkat, yang sudah ia tinggali selama dua tahun. Lelah. Itu yang Jiyong rasakan. Ia baru saja pulang dari Jerman untuk menemui rekan bisnisnya disana dan berbincang-bincang soal bisnis yang ia dan rekannya jalani bersama-sama. Selama tiga hari ia meninggalkan istrinya sendirian dirumah ini, dan sudah pasti istrinya sangat merindukannya.

Jiyong membuka gerbang dan melangkah masuk dipekarangan depan rumahnya. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan kunci cadangan yang Chaerin berikan padanya sebelum ia pergi ke Jerman. Ia menusukkan kunci itu pada lubang yang ada dipintu dan memutarnya kearah kanan, lalu masuk kedalam rumah dan tak lupa mengunci pintunya kembali. Jiyong mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan. Kemana istrinya? Di dapur tidak ada, ruang tamu tidak ada juga. Saat ia ingin berjalan menuju kamar kecil miliknya dan milik Chaerin, ia mendengar suara TV yang masih menyala diruang keluarga. Jiyong tersenyum. Ia melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga, dan mendapati Chaerin sedang tertidur disofa sambil terselimuti oleh selendang tipis berwarna merah.

Hey.” Bisik Jiyong tepat ditelinga Chaerin lalu menciumi belakang telinga Chaerin. Dan tentu saja bisikkan Jiyong membangunkan Chaerin. Chaerin langsung membuka matanya lebar-lebar dan terkejut.

Hey, oppa sudah lama pulang? Tadi aku masak sup macaroni, aku bisa menghangatkannya kalau oppa mau.” Cerocos Chaerin masih dengan keadaan setengah tertidur. Jiyong terkekeh pelan, dan mengangguk.

“Tidak aku baru saja pulang. Kamu sudah lama menunggu ya?” Tanya Jiyong. Rasa bersalah menyelubungi dadanya. Ia selalu merasa bersalah ketika seseorang selalu menunggunya dan ia tidak menepati janjinya untuk datang tepat waktu. Maka Jiyong tidak pernah suka membuat orang menunggu, tapi jalanan Seoul yang ramai membuat istri tercintanya menunggu sendirian dirumah sampai larut malam. Chaerin menggeleng lalu memeluk leher Jiyong.

“Tidak apa-apa. Bagaimana pekerjaan oppa di Jerman?” Tanya Chaerin pelan masih sambil terus memeluk leher Jiyong. Jiyong tersenyum manis dan membalas pelukan Chaerin.

“Berjalan dengan baik. Dia tertarik untuk bekerja sama denganku. Lalu, bagaimana denganmu? How’s you without me in 3 days?” Bisik Jiyong tepat ditelinga Chaerin. Chaerin mengerucutkan bibirnya.

“Membosankan. Aku kesepian.” Jawab Chaerin lalu melepaskan pelukannya dan masih terus mengerucutkan bibirnya. Jiyong terkekeh melihat tingkah Chaerin yang begitu kekanak-kanakkan, karena memang Chaerin dua tahun dibawah Jiyong.

“Maafkan aku ya?”

“Tidak apa-apa. Aku mengerti. Oppa kan bekerja.” Balas Chaerin sambil tersenyum manis kearah Jiyong. Terkadang Jiyong sangat bersyukur mempunyai istri sebaik dan sepengertian Chaerin, dan terkadang Jiyong tidak percaya kalau Chaerin yang begitu setia menunggunya pulang dari tempat kerjanya hanya untuk melepas ikatan dasi Jiyong, memasakkan Jiyong makan malam dan menikmatinya bersama dia adalah miliknya.

Neomu gamsahamnida dear. Hey, aku lapar. Bagaimana kalau kamu hangatkan sup macaroni kesukaanku itu, sementara aku mandi?” Ucap Jiyong sambil menyolek hidung Chaerin gemas. Chaerin terkekeh dan mengangguk, lalu mengecup pelan bibir Jiyong.

Chaerin berjalan kearah dapur dan memanaskan kembali sup macaroni kesukaan Jiyong, sementara suami tercintanya itu membersihkan tubuhnya. Sebenarnya Chaerin merasa lelah harus menghabiskan waktu luangnya tanpa Jiyong, tapi apa boleh buat Jiyong adalah seorang pemimpin diperusahaan keluarga suaminya dan Chaerin tidak mungkin bertindak bodoh untuk menyuruh Jiyong meluangkan lebih banyak waktu untuknya. Jiyong adalah tipe orang yang humble dan tidak suka memamerkan kekayaannya.

Pertama kali pertemuannya dengan Jiyong saat Chaerin sedang menjalani kesehariannya yaitu mengikuti les piano disalah satu sekolah music. Jiyong dan Chaerin menjadi satu team. Tapi ini aneh bagaimana Chaerin adalah tipe orang yang kalem dan rapih dan juga bermain music jenis klasik, sedangkan Jiyong adalah tipe orang yang tidak bisa diam dan berantakan dan juga bermain music jenis technique, dan guru music mereka membuat keputusan untuk menjadikan Chaerin dan Jiyong satu team. Hujan turun deras dikala itu dan membuat Chaerin enggan berjalan dibawahnya untuk pulang kerumah, tapi tidak dengan Jiyong yang justru malah memaksa Chaerin untuk bermain hujan. Chaerin berpikir betapa kekanak-kanakannya Jiyong dengan muka tampan dan umur lebih tua 2 tahun darinya menyuruh Chaerin untuk bermain hujan. Dengan terpaksa Chaerin mengikutinya dan bermain hujan bersama Jiyong. Hujan semakin deras dan rumah Chaerin hanya tinggal beberapa meter didepan, Jiyong mampir kerumah Chaerin yang sedang kosong untuk sekedar berteduh. Tapi baru saja menginjakkan kakinya dirumah Chaerin, perut lelaki bertubuh kerempeng itu berbunyi nyaring pertanda lapar. Chaerin masih sangat muda dikala itu, dan ia hanya bisa memasak sup macaroni karena itu adalah resep yang paling mudah yang pernah ia pelajari. Maka Chaerin memasakkan Jiyong sup macaroni, dan ajaibnya Jiyong jatuh cinta terhadap supnya. Tepat setelah Jiyong mencicipi sup macaroni buatan Chaerin, ia langsung menetapkan bahwa sup buatan Chaerin adalah makanan kesukaannya dan sup buatan Chaerin adalah sup yang paling enak yang pernah ia makan. Setelah itu Chaerin dan Jiyong menjalin hubungan yang sangat dekat hingga sampai akhirnya, Jiyong mulai menaruh hati pada Chaerin dan ajaibnya Chaerin melakukannya juga.

“Supnya sudah mendidih, kenapa melamun seperti itu?” Jiyong muncul dengan baju dalam berwarna hitam yang memamerkan lengan yang cukup kekar dengan berhiaskan tattoo itu. Chaerin tersenyum melihat bagaimana Jiyong begitu tampan dengan rambutnya yang masih basah. Chaerin berjalan kearah kompor dan mematikkan apinya. Ia mencicipi rasa sup itu dan mengangguk-angguk kecil. Dan tak lama mereka sudah menikmati sup macaroni buatan Chaerin.

“Bagaimana?” Tanya Chaerin hanya untuk berbasa-basi.

“Masih sama sepeti 3 hari yang lalu?” Jawab Jiyong sambil tergelak, dan memasukkan sesendok sup lagi kedalam mulutnya. Chaerin tersenyum manis lalu menyuapkan sup buatannya kedalam mulutnya.

“Besok… oppa kembali bekerja seperti biasa?” Tanya Chaerin lagi dengan melemparkan tatapan khawatir. Chaerin sangat tau dari raut wajah Jiyong. Suaminya itu sangat kelelahan dan butuh istirahat meskipun bisnisnya berjalan sangat lancar di Jerman. Dan Jiyong tahu kalau Chaerin sedang mencoba untuk membujuknya untuk beristirahat melalui matanya.

“Tidak. Aku butuh istirahat. Aku sangat lelah.” Jawab Jiyong sambil menyuapkan supnya kedalam mulutnya. Senyum merekah diwajah Chaerin, dan Chaerin mengangguk kecil.

“Kalau begitu, bagaimana kalau besok kita menghabiskan waktu dengan bermalas-malasan?” Ajak Chaerin sambil mengerling genit. Jiyong tergelak keras dan mengangguk-angguk.

“Baiklah baiklah. Apapun untuk istriku tercinta. Kamu sangat merindukanku ya?” Goda Jiyong sambil tersenyum manis. Seperti apa yang sudah diduga oleh Jiyong, semburat merah muncul dikedua pipi Chaerin yang tidak terlalu tembam. Jiyong kembali tergelak.

Oppa.” Chaerin merajuk dan mengerucutkan bibirnya. Jiyong tergelak kembali.

“Apa? Aku sedang tidak meledekmu. Aku sedang bertanya.” Balas Jiyong masih sambil terus menahan tawa. Chaerin masih mengerucutkan bibirnya.

“Cuci piring sana!” Seru Chaerin meninggalkan Jiyong di dapur bersama beberapa piring kotor. Jiyong tergelak dengan sangat keras. Ia suka melihat kedua pipi istrinya yang tidak terlalu tembam berubah warna menjadi merah. Chaerin sangat lucu ketika ia sedang tersipu, dan itu membuat Jiyong semakin mencintai Chaerin. Jiyong mencuci piring yang baru saja ia dan Chaerin pakai untuk makan. Dan setelah ia mencuci piring, ia lari menuju ruang keluarga dan menggendong Chaerin dengan kedua tangannya sambil menciumi pipi istrinya.

“Turunkan aku oppa!” Seru Chaerin sambil terkikik pelan. Jiyong menggeleng dan menjulurkan lidahnya.

“Matikan TV-nya dan mari kita tidur. Aku sudah sangat lelah.” Ucap Jiyong pada istrinya. Dan sejurus kemudian Chaerin mematikan TV lalu mengalungkan tangannya pada leher Jiyong. Chaerin menempelkan dahinya pada dahi Jiyong dan hidungnya pada hidung Jiyong, sementara Jiyong mengangkat tubuhnya menuju kamar mereka untuk berencana tidur.

.

.

.

Kring

Jam alarm berdering dengan nyaring, dan membuat Chaerin membuka matanya sayup-sayup. Ia meraba-raba ranjang dan mendapati suaminya masih tertidur disebelahnya. Jiyong mendengkur lembut dan punggungnya naik turun dengan pelan. Chaerin tersenyum menatap muka Jiyong yang begitu polos saat sedang tertidur. Muka yang bisa berubah menjadi keras ketika suasana tidak berjalan sesuai yang ia inginkan, muka yang bisa berubah warna menjadi merah ketika Chaerin menggodanya, muka yang bisa berubah menjadi lembut ketika kata ‘aku mencintaimu’ keluar dari bibir tipisnya. Chaerin menyukai kegiatannya dipagi hari seperti ini. Memandang muka Jiyong lalu menyibakkan poninya yang turun tepat didepan matanya dan memamerkan dahi lebar milik suaminya. Chaerin sangat menyukai kegiatannya yang satu ini.

“Oppa ireonaseyo.” Bisik Chaerin lembut masih sambil tersenyum. Mendengar bisikkan lembut dari istrinya, Jiyong membuka kelopak matanya perlahan dan tersenyum.

“Selamat pagi nona.” Sapa Jiyong sambil mengubah posisinya dan mengucak-ucak matanya. Ia mendekap Chaerin kedalam pelukannya, dan kembali menutup matanya. Jiyong mengelus pelan punggung Chaerin yang halus lalu mengecup pelan dahi Chaerin. Berbeda dengan Chaerin yang suka memandang muka Jiyong saat tertidur, Jiyong sangat suka memberi kejutan kecil yang manis untuk Chaerin dipagi hari. Seperti yang satu ini, yaitu mencium pelan dahi istrinya. Setelah kemarin mereka menghabiskan waktu sepanjang hari dengan bergelung diatas kasur, menikmati setiap detik yang mereka lewatkan untuk melepas rindu, menikmati setiap menit saling bertatap muka, menikmati setiap sentuhan Jiyong diatas kulit Chaerin yang halus, menikmati setiap kecupan manis Jiyong dibibir Chaerin, Jiyong dan Chaerin tersenyum mengingat kejadian kemarin. Kulit mereka bersentuhan dengan pelan tanpa ada sehelai benang pun menghalangi sentuhan mereka. Dan setiap sentuhan menimbulkan semacam aliran listrik yang menyengat disekujur tubuh keduanya.

“Selamat pagi tuan. Sebaiknya oppa bangun sekarang. Nanti bisa terlambat.” Ucap Chaerin yang masih dalam dekapan Jiyong. Jiyong terkekeh dan membuka sebelah matanya dan melirik kearah jam.

“Baiklah. Bisakah kamu membuatkan aku sarapan?” Tanya Jiyong masih sambil terus mendekap Chaerin, dan malah mendekap Chaerin lebih erat. Chaerin mengangguk dan tersenyum, dan sebuah morning kiss mendarat dibibir keduanya. “Love you.” Bisik Jiyong lembut, sementara Chaerin hanya tersenyum. Tak lama Jiyong melesat menuju kamar mandi dan Chaerin berjalan perlahan kearah dapur. Chaerin membuatkan Jiyong sarapan. Dan tak lama Jiyong muncul dengan kemeja, celana bahan, dasi yang belum terikat menggantung dilehernya. Jiyong langsung menduduki salah satu bangku dan mulai menyantap sarapan yang telah dibuatkan oleh Chaerin.

“Nanti malam pulang jam berapa?” Tanya Chaerin sambil mengikatkan dasi Jiyong. Sementara Jiyong mengunyah makanan didalam mulutnya dengan penuh, menatap Chaerin dengan raut wajah seorang anak sekolah yang sedang dipakaikan dasi oleh ibunya.

“Aku mungkin pulang jam 7. Ya paling lambat aku pulang jam 8 mungkin.” Jawab Jiyong masih dengan mulut penuh.

“Berarti oppa bisa makan malam dirumah bersamaku?” Tanya Chaerin dengan raut wajah senang. Jiyong mengangguk sambil tersenyum.

“Iya. Masak menu yang lain ya? Aku mulai bosan dengan sup macaroni.” Jawab Jiyong sambil melahap lagi sarapannya. Mendengar pernyataan Jiyong, Chaerin merajuk dan mengerucutkan bibirnya. Jiyong mengalihkan pandangannya pada Chaerin dan mengetahui kalau istrinya sedang merajuk. “Hey, bukan begitu maksudku. Aku tetap menyukai sup macaroni buatanmu itu. Tapi aku hanya ingin mencoba makanan lain yang dibuat olehmu. Jangan cepat merajuk seperti itu dong.” Jelas Jiyong sambil menarik tangan Chaerin dan mengecup pipinya pelan.

“Bilang dong, kalau oppa mau coba menu baru.” Balas Chaerin sambil mengalungkan tangannya pada leher Jiyong.

“Baiklah. Sarapannya sudah habis. Aku harus berangkat.” Ucap Jiyong sambil membetulkan letak dasi yang baru saja Chaerin ikatkan untuknya. Chaerin mengangguk dan mengantar Jiyong sampai kedepan pintu rumah mereka. Jiyong mengecup pelan bibir Chaerin. “Have a nice day my love. Love you.” Bisik Jiyong lembut dicuping Chaerin.

“I love you too oppa.” Balas Chaerin sambil memeluk badan Jiyong. Setelahnya Jiyong berjalan menuju mobilnya dan mengendarainya menuju kantor. Sementara dibelakang Chaerin melambaikan tangannya dengan muka gembira. Jiyong tersenyum manis melihat Chaerin.

Sesaat sampai dikantor, Jiyong memanggil Kang Daesung––asistennya–– untuk melihat jadwalnya. Untuk memastikan kalau Jiyong boleh melaksanakan dinner bersama istrinya dirumah mereka. Ternyata jadwal Jiyong tidak begitu padat hari ini, hanya rapat yang kemarin ia tunda dijalankan pagi ini dan hanya beberapa pekerjaan lain yang bisa diselesaikan melalui asistennya. Maka Jiyong memulai hari itu dengan berjalan menuju ruang rapat yang berada dibeberapa lantai dibawah ruangannya. Jiyong memimpin rapat untuk menyampaikan apa yang kemarin ia dapatkan di Jerman, dan membagikannya kepada seluruh karyawannya.

Dan meeting pun berjalan dengan lancar seperti biasa. Ia kembali mengecek jadwalnya pada Daesung, dan mendapati bahwa ia harus menemui tamu penting disuatu tempat. Tapi karena Jiyong terlalu lelah, ia mengundang tamu tersebut setelah makan siang diruangannya. Jiyong menghabiskan waktu makan siangnya untuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang ia tunda karena keberangkatannya kemarin ke Jerman. Setelah jam makan siang habis, tamu itu datang dan Jiyong mempersilahkan tamu itu masuk kedalam ruangannya dan berbincang-bincang tentang proyek yang akan mereka kerjakan bersama. Tak terasa pertemuan itu memakan waktu lama sampai jam 5 sore. Jiyong kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda dan menghabiskannya hari itu juga. Tapi tak terduga seorang klien mengunjunginya, dan memakan 2 jam untuk membicarakan soal bisnis. Setelah klien itu pulang, Jiyong pun pulang. Tapi baru saja menginjakkan kakinya di lobby kantornya, seorang klien menghalanginya untuk pulang dan kembali menghabiskan 2 jam untuk membicarakan soal bisnis yang Jiyong jalani, sambil makan malam bersama klien tersebut.

Dan setelah mereka mengadakan meeting kecil, Jiyong melajukan mobil menuju rumahnya dengan kecepatan diatas normal. Tapi bukannya membuat ia cepat sampai kerumah, malah membuat ia semakin lama sampai kerumah karena macet dimana-mana. Demi semua lampu lalu lintas yang ada di Seoul, ini jam 9 malam! Tapi keramaian Seoul memang tidak pernah bisa dihentikan. Jiyong terjebak macet selama 1 jam dan sampai kerumah pas jam 10 tepat. Ia membuka pintu rumahnya ragu-ragu, dan mendapati Chaerin sedang tertidur diatas sofa dengan berselimutkan selendang tipis yang kemarin ia pakai saat menunggunya pulang dari Jerman. Perasaan bersalah kembali menyelubungi dadanya, sungguh ia tak menduga kalau 2 orang klien akan mendatanginya dan menghabiskan 4 jam berbicara untuk bisnisnya.

“Chaerin?” Panggil Jiyong dengan pelan. Chaerin terkejut dan menatap Jiyong sebentar.

“Oh! Oppa sudah lama pulang ya? Ayo kita makan malam bersama. Aku memasakkanmu beef stew yang sangat lezat, tapi kurasa sudah dingin. Aku panaskan ya?” Sembur Chaerin sambil menatap Jiyong dengan tatapan khawatir. Jiyong menghela napas pelan dan tersenyum pahit lalu menggeleng.

“Tidak aku baru sampai. Maafkan aku ya?” Balas Jiyong sambil berjongkok didepan Chaerin yang sedang duduk disofa panjang berwarna putih. Chaerin tersenyum sambil menggeleng, lalu menggumamkan kata ‘tidak apa-apa’ pada Jiyong. “Kamu sudah makan?” Tanya Jiyong menatap Chaerin dengan perasaan bersalah. Tapi baru saja Chaerin ingin menjawab pertanyaan Jiyong, perut mungil Chaerin berbunyi nyaring dan menjawab pertanyaan Jiyong. Perasaan bersalah itu semakin besar.

“Belum..”

“Kamu menungguku?” Tanya Jiyong dengan nada bersalah. Chaerin mengangguk pelan.

“Iya. Oppa, sudah makan malam ya?” Tanya Chaerin dengan pelan.

“Iya. 2 orang klien datang tiba-tiba menemuiku. Dan klien terakhir mengajakku makan malam bersama. Maafkan aku Chaerin, lain kali kamu tidak perlu menunggu seperti ini okay? Kamu bisa sakit kalau tidak makan segera.” Jelas Jiyong panjang lebar. Chaerin tersenyum pahit dan mengangguk. “Aku temani makan ya? Kamu mau?” Tanya Jiyong sekali lagi dengan perasaan bersalah yang semakin menggunung.

“Tidak usah. Lebih baik oppa mandi sana. Oppa sangat bau!” Canda Chaerin bermaksud untuk mencairkan suasana yang canggung. Jiyong masih terus menatap Chaerin dengan perasaan bersalah, dan Chaerin tahu Jiyong sangat-sangat butuh penjelasan yang lebih. Maka Chaerin memeluk leher Jiyong dan berbisik pelan. “Oppa tidak perlu merasa bersalah. Aku tahu oppa sibuk, dan sibuknya oppa bukan karena hal yang tidak berguna. Oppa ini kan pemimpin perusahaan. Tidak apa-apa kok, sungguh. Aku tidak marah sama oppa.” Jelas Chaerin dengan pelan dan lembut. Tapi Jiyong hanya menghela napas dan mengangguk. Sekali lagi Jiyong menggumamkan maaf dan Chaerin hanya tersenyum menanggapinya.

Dan Chaerin pun menghabiskan semangkuk beef stew sendirian.

.

.

.

Esok hari pun sama. Jiyong kembali berjanji untuk makan malam bersama dengan Chaerin, tapi Jiyong kembali mengingkarinya dan Chaerin setia menunggunya. Jiyong menghela napas dengan pelan sambil memarkirkan mobilnya dipekarangan rumahnya. Jiyong tau sekali, kalau ia terus-terus seperti ini Chaerin akan marah padanya. Dan kalau Chaerin sudah marah, Chaerin akan bertindak kekanak-kanakan yang nantinya bisa jadi merepotkan dirinya.

Seharusnya ia tidak perlu berjanji dengan Chaerin kalau ia akan makan malam dengannya. Pekerjaannya sebagai pemimpin perusahaan benar-benar menyita waktunya bersama Chaerin, pekerjaannya yang sangat teramat banyak membuat ia tertarik menjauh dari Chaerin. Dan Jiyong menyadari kalau ini sangat salah. Ia harus bisa memilah waktu untuk bekerja dan untuk istrinya, tapi Jiyong tahu ini susah. Karena kalau klien bisa tiba-tiba datang tanpa ditebak kapan dan dimana datangnya. Tapi hari ini ia tidak makan malam bersama kliennya, demi menikmati makan malam bersama Chaerin meski sudah bukan jamnya. Sekali lagi Chaerin ditemukan diatas sofa sedang tertidur, dan Jiyong mengguncang-guncangkan badannya.

“Sayang.” Panggil Jiyong sambil mengguncang-guncangkan bahu Chaerin. Chaerin terkejut dan terbangun.

“Oh! Oppa? Sudah pulang lama?” Tanyanya terkejut lalu duduk diatas sofa, sementara Jiyong berjongkok didepannya menggeleng pelan sambil tersenyum sedikit.

“Baru saja sampai. Kamu sudah makan sayang? Aku belum.” Tanya Jiyong kembali, Chaerin mengangguk pelan pertanda ia sudah makan.

Oppa mau aku temani?”

“Tidak perlu. Kamu terlihat lelah, sebaiknya kamu tidur.” Jawab Jiyong sambil tersenyum dan mengangkat tubuh Chaerin menuju kamar mereka. Chaerin terkikik dan mengalungkan tangannya pada leher Jiyong lalu mengecup pelan bibir Jiyong. “Menu hari ini apa nona?” Tanya Jiyong sambil berbisik ditelinga Chaerin dengan lembut. Sensasi menggelitik menjalar dari telinga Chaerin menuju seluruh badannya, dan ia tersenyum kecil. Jiyong membuka pintu kamar mereka masih sambil menciumi telinga Chaerin dan berhenti disebelah ranjang mereka.

Spicy nakji tuan. Aku membuatnya tidak terlalu pedas. Oppa tidak bisa makan sesuatu yang terlalu pedas kan?” Jawab Chaerin pelan, dan Jiyong mengangguk sambil menghirup aroma tubuh Chaerin.

“Terima kasih sayang.” Bisik Jiyong kembali dengan lembut dan menaruh Chaerin diatas ranjang mereka. “I love you. Besok jangan tunggu aku ya?” Lanjut Jiyong, dan Chaerin hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Jiyong.

Dan Jiyong pun menghabiskan makan malamnya sendirian.

.

.

.

“Hari ini oppa pulang jam berapa?” Tanya Chaerin ragu-ragu sambil menggigit bibir bawahnya dengan pelan, sebab sudah beberapa kali suaminya selalu berjanji untuk menghabiskan makan malam bersamanya tapi selalu mengingkari janji. Mendengar pertanyaan Chaerin, Jiyong langsung teringat kabar gembira yang kemarin malam seharusnya ia beritahu pada Chaerin.

“Oh! Hari ini aku pulang jam 5 sore!” Sahut Jiyong dengan gembira, tapi Chaerin hanya menanggapinya dengan mengangkat sebelah alis matanya.

Oppa yakin?”

“Sangat! Aku sudah bilang dengan Daesung untuk menolak seluruh klien yang datang kepadaku hari ini.” Balas Jiyong sambil melahap sarapan yang ada didepannya. Chaerin menjerit, dan membuat Jiyong terkejut. “Ada apa sayang?” Tanya Jiyong khawatir dengan perilaku Chaerin yang tak terduga itu. Chaerin menatap Jiyong terkejut.

Oppa menolak seluruh klien yang datang ke perusahaan oppa?!” Tanya Chaerin masih terkejut. Jiyong mengangguk pelan dan ragu-ragu. Apa yang terjadi dengan istrinya? “Oppa… kenapa melakukan ini?” Tanya Chaerin pelan.

“Sayang, tentu saja demi makan malam hari ini bersamamu.”

“Astaga oppa! Oppa Tidak perlu seperti ini!”

“Memangnya kenapa? Apa aku salah?” Tanya Jiyong tanpa dosa sambil melahap kembali sarapannya.

“Tentu saja oppa salah!” Jawab Chaerin sembari berseru.

“Oh, maafkan aku. Kamu yang salah bertanya. Aku bilang kan ‘menolak seluruh klien yang datang ke-pa-da-ku’ sayang. Bukan ke perusahaanku. Aku tidak seceroboh itu sayang.” Balas Jiyong dengan lembut sambil tersenyum. Chaerin menghela napas lega. Jiyong mengisyaratkan Chaerin untuk mendekatinya, dan Chaerin pun menurut. Jiyong memeluk pinggang Chaerin. “Kenapa panik seperti itu sayang?” Tanya Jiyong. Chaerin menghela napas sambil menangkup kedua pipi suaminya.

“Aku… hanya tak ingin kamu kehilangan pekerjaanmu hanya karena ingin makan malam bersamaku. Aku tidak marah kok, kalau memang oppa tidak bisa makan malam bersamaku.” Jawab Chaerin sambil menempelkan hidungnya pada hidung Jiyong.

Hey, aku rela kehilangan segalanya demi kamu.”

Oppa, itu tindakkan bodoh. Jangan seperti itu.” Balas Chaerin menatap Jiyong dengan ragu. Jiyong tergelak pelan lalu mengecup bibir Chaerin lembut dan pelan.

“Aku siap dibilang bodoh oleh semua orang dan kehilangan semua yang aku punya. Kecuali satu, aku tidak sanggup harus kehilangan istriku.” Jawab Jiyong sambil tersenyum manis. Dan keduanya berpelukan. Mendengar pernyataan Jiyong yang begitu romantis, semburat merah kecil muncul dikedua pipi Chaerin. Ia senang mendengar pernyataan bagaimana Jiyong sangat mencintainya. Kata yang selalu diulang-ulang tapi selalu berhasil membuatnya tersipu dan merasa senang. Kata yang selalu menyihir mood Chaerin seketika.

Oppa mau kuantarkan makan siang nanti?” Tanya Chaerin sambil memerhatikan Jiyong menghabiskan sarapannya dengan lahap. Jiyong mengangguk mengiyakan. Ia berdiri dan menyambar kunci mobilnya lalu mengecup dahi Chaerin pelan dan lama.

“Yes. Sureprise me?”

“Arraseo.”

Dan Jiyong pun berangkat menuju kantornya.

.

.

.

Chaerin menyambar kunci mobil yang tergantung, dan mengambil kotak makan yang terletak dimeja makan. Seperti yang tadi pagi ia katakan pada Jiyong, ia akan mengantarkan makan siang untuk suaminya. Chaerin tersenyum dan terkekeh pelan, pasti Jiyong akan terkejut melihat makan siang yang ia telah siapkan untuk suaminya. Ia membuat sushi untuk suaminya, Jiyong sangat menyukai sushi. Tapi karena tahu harga sushi sangat tinggi, maka Jiyong tidak mau membuang uangnya untuk menikmati makanan yang nanti durasi kekenyangannya akan cepat berakhir. Meski ia seorang pemimpin perusahaan, ia tidak mau membuang uangnya untuk hal yang percuma.

Chaerin mengendarai mobilnya menuju kantor Jiyong. Jalanan Seoul sangat ramai dan hampir sejam Chaerin terjebak diantaranya. Chaerin mulai khawatir kalau Jiyong menunggu makan siangnya sampai. Chaerin mencoba untuk menghubungi nomor Jiyong, tapi Jiyong tidak mengangkat telfonnya. Dan ia mulai berpikir, apa jangan-jangan suaminya sedang makan siang karena ia telat membawa makanannya? Oh Tuhan, jangan sampai hal itu terjadi. Dan tak lama Chaerin sampai ke kantor Jiyong, ia memakirkan mobilnya ditempat yang kosong lalu langsung melesat kedalam kantornya. Beberapa karyawan menyapanya karena beberapa mengenal ia sebagai istri dari bosnya. Chaerin berhenti diresepsionis.

“Tuan Jiyong ada?” Tanya Chaerin sambil tersenyum manis.

“Ada. Sepertinya dia ada diruangannya. Silahkan pergi keruangannya.” Balas petugas resepsionis. Chaerin mengangguk dan tersenyum. Ia menghela napas lega, ternyata Jiyong tidak seperti apa yang dipikirkannya. Ia menaiki lift dan menuju ke ruangan Jiyong. Ia masuk ke ruangan Jiyong tapi tak menemukan suaminya didalam ruangannya. Ia meletakkan kotak makannya diatas meja kerja Jiyong, dan tak lama Daesung menghampirinya.

“Ah? Chaerin! Sedang apa kemari?” Tanyanya. Chaerin tersenyum.

“Aku mengantar makan siang Jiyong oppa. Oppa pergi kemana ya?” Tanya Chaerin balik.

“Ah, Jiyong sedang ke café disebelah kantor ini. Aku kurang tau dia sedang apa, sepertinya membeli coffee untuk mengusir rasa ngantuk.” Jawab Daesung sambil sedikit tergelak. Chaerin mengangguk dan pamit untuk pergi. Ia kembali menaiki lift untuk memastikan apa Jiyong benar berada di café yang ada disebelah gedung ini. Langkah kaki berderap dilantai lobby kantor Jiyong, dan ia berjalan menuju café.

Hati Chaerin mendidih melihat Jiyong sedang duduk di teras café bersama wanita lain. Ia tersenyum dengan sangat lebar dan tertawa dengan manis didepan wanita itu. Chaerin menghentakkan kakinya pelan melihat Jiyong sedang berbicara dengan mesra dengan perempuan itu. Oh, hati Chaerin semakin mendidih begitu melihat Jiyong membantu wanita itu mengelap tangannya karena seorang pelayan baru saja menumpahkan makanan dibadan wanita itu. Dan rasanya hati Chaerin semakin menciut melihat Jiyong tersenyum dengan tulus didepan wanita itu. Chaerin memerhatikan kegiatan Jiyong sampai ia selesai, dan ia memutar badannya menuju mobil yang ia parkirkan diparkiran kantor Jiyong lalu mengendarainya pulang.

.

.

.

“Sayang!!” Seru Jiyong saat ia memasukki rumahnya. Mendengar Jiyong sudah sampai dan berteriak, Chaerin berjengit kaget lalu mendengus sebal. Ia sedang meluapkan kekesalannya pada suaminya pada sushi yang sedang ia buat sekarang. Semua sushi yang ia buat bergambar muka yang sedang marah ataupun bersedih. Tiba-tiba sebuah tangan melingkar dipinggang Chaerin.

“Sayang.” Bisik Jiyong tepat ditelinga Chaerin. Chaerin bertekad untuk tidak termakan dengan rayuan Jiyong yang sangat manis sekalipun, jadi Chaerin terdiam tidak merespon panggilan Jiyong. Bingung tidak dijawab panggilannya, Jiyong melirik kearah meja makan yang berhiaskan sushi-sushi. “Whoa! Sushi ini semua kamu yang buat?” Tanya Jiyong sambil memamerkan wajahnya yang berseri-seri. Chaerin mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya pada sushi yang sedang ia buat. Tapi Jiyong mengerutkan keningnya karena mendapati semua sushi itu sedang bersedih, menangis, dan marah. Jiyong menatap Chaerin dengan pelan. Apa yang terjadi dengan istrinya? Tidak mau ambil pusing, Jiyong melangkah kekamar untuk membersihkan tubuhnya.

Tak lama Jiyong keluar dari kamar tepat saat jam makan malam, dan mereka pun memakan makan malam mereka bersama-sama.

“Hmmm! Enak sekali sushi buatanmu sayang.” Puji Jiyong sambil mengunyah sushi dimulutnya. Ingin sekali rasanya Chaerin tersenyum sambil mengatakan terima kasih dengan tulus, tapi Chaerin mengurungkan niatnya.

“Gamsa.”

Cheonma sayang.”

“Jadi, bagaimana makan siang yang tadi kuantarkan?” Tanya Chaerin memastikan.

“Ah! Aku ingin komplain!”

Chaerin mengernyitkan dahi.

“Apa?”

“Kamu tidak mengantarkan makan siangnya sayang.” Ujar Jiyong dengan lembut. Chaerin mendengus dengan pelan, lalu melahap sushi yang ada dipiringnya.

“Aku mengantarkannya.” Balas Chaerin dingin.

“Masa? Kok aku…” Jiyong tampak berpikir untuk mengingat apakah ada sekotak makanan dimeja kerjanya. Dan ia teringat, “Ah! Astaga itu sushi buatanmu!? Aku pikir itu pemberian klienku kemarin, makanya aku menyuruh Seungri memakannya…” Lanjut Jiyong dengan sangat pelan.

Chaerin mendecakkan lidah. Perasaan sesak menyelubungi dadanya.

Itu karena kamu sudah makan siang dengan wanita sialan itu! Jerit Chaerin dalam hati.

Jiyong memandang Chaerin dengan perasaan bersalah. Sungguh ia tidak tau kalau istrinya akan memberi kejutan dengan memasakkannya sushi. “A-aku.. Ma-maafkan aku..” Ucap Jiyong dengan sangat merasa bersalah.

Chaerin hanya mengangguk dan menyuapkan sushinya kedalam mulutnya tanpa minat. Ia menatap suaminya yang sedang memakan sushinya tanpa minat sama sepertinya. Tapi tiba-tiba mata Chaerin membulat melihat jari manis tangan kanan Jiyong yang polos. Chaerin menatap jari manis miliknya yang dihiasi oleh cincin pernikahannya bersama Jiyong. Hati Chaerin sakit melihat cincin mereka tidak tersemat di jari manis Jiyong. Ia menggigit pelan bibirnya.

“O-oppa..”

“Hmm?”

“Ka-kamu tidak memakai cincin kita… la-lagi?” Tanya Chaerin dengan mata berkaca-kaca.

“A-ah? A-aku––“

Baru ingin dijelaskan oleh Jiyong, Chaerin memotong penjelasan Jiyong dengan kepergiannya dari dapur menuju kamar tamu. Chaerin sungguh tidak peduli apa penjelasan Jiyong, sudah jelas kalau ia bermain belakang dengan wanita yang suaminya temui tadi siang. Sial, ia bahkan memberikan makan siangnya pada temannya karena ia sudah makan siang dengan wanita barunya itu. Dan lebih parahnya ia melepas cincin perkawinan mereka saat Chaerin tidak ada disampingnya.

“Chaerin!”

“Sudahlah oppa. Aku tidak peduli apa yang mau kamu jelaskan. Aku melihatnya tadi siang, oppa makan siang dengan wanita lain. Bahkan sampai memberikan sushi buatanku pada temanmu karena oppa sudah makan siang dengan wanita sialan itu. Mulai sekarang jangan bicara denganku. Aku muak.”

Dan Chaerin membanting pintu kamar tamu.

.

.

.

Jiyong menghela napas saat mengingat kejadian tadi malam. Menyadari Chaerin tidak berada disebelahnya benar-benar membuatnya bersedih. Jiyong berani bersumpah ini tidak seperti apa yang Chaerin pikirkan. Mau mendengar alasannya? Wanita yang Chaerin lihat sedang makan siang bersamanya adalah kliennya yang notabene adalah teman Chaerin juga. Dan soal cincin perkawinan, kemarin tinta printernya habis dikantor, dan ia harus menyuntiknya sendiri. Takut menodai cincin perkawinannya dengan Chaerin, Jiyong melepasnya dan lupa memakainya kembali. Sungguh ini tidak seperti yang Chaerin pikirkan. Dihatinya hanya ada Chaerin seorang.

Jiyong melirik jam yang tak jauh darinya. Sudah jam 7 dan dia harus berangkat untuk bekerja lagi. Dengan keadaan Chaerin yang seperti ini, sejujurnya Jiyong ingin sekali untuk tidak pergi ke kantornya. Jiyong melesat ke dalam kamar mandi untuk membersihkan seluruh tubuhnya, dan tak lama ia keluar dengan menggunakan baju kantornya lengkap dengan dasi yang belum terpasang. Ia mendapati Chaerin sedang mengunyah rotinya dengan segelas susu coklat sambil menonton acara TV. Hal yang tidak bisa Chaerin lakukan.

“Sayang, kamu minum susu?” Tanya Jiyong sambil menatap Chaerin aneh. Tapi Chaerin tidak mengindahkan pertanyaan Jiyong yang ditunjukkan kepadanya, dan tidak mengalihkan matanya sedikit pun dari TV yang sedang ia tonton. Jiyong menghela napas pelan dan berjalan kearah dapur untuk melihat barangkali Chaerin masih berbaik hati untuk memasakkannya sarapan. Tapi nihil, apa yang dicarinya benar-benar tidak ada.

“Sayang, kamu tidak membuatkanku sarapan!?” Seru Jiyong dari dapur.

“Masak saja sendiri.” Balas Chaerin sambil berseru. Apa dia bilang? Masak sendiri? Demi segala plankton yang hidup dilaut, Jiyong merasa frustasi menghadapi kelakuan Chaerin yang sangat kekanak-kanakkan seperti ini! Istri tersayangnya itu tau sekali kalau Jiyong tidak memasak, tapi ia masih menyuruhnya untuk memasak? Betapa kejam istrinya itu. Jiyong mengacak-acak rambutnya frustasi. Memang sangat menjengkelkan kalau Chaerin sudah merajuk seperti ini.

“Yasudahlah, aku berangkat dulu.” Ucap Jiyong menyerah.

“Oppa.”

Chaerin menghampiri suaminya yang sedang berdiri menatapnya aneh. Chaerin tahu kalau Jiyong tidak bisa mengikat dasinya, maka ia mengikatnya dengan berpikir: seorang pemimpin perusahaan itu harus berpenampilan rapih. Jiyong tersenyum manis sambil memerhatikan muka Chaerin yang sangat dingin saat mengikatkan dasinya. Setelah selesai, Chaerin memeluk Jiyong sekilas seraya memperingatinya untuk berhati-hati saat dijalan. Tapi Jiyong menahan tangan Chaerin dan memeluknya dengan erat, meluapkan segala perasaan sedih dan bersalahnya melalui pelukannya.

“I love you baby.” Ucap Jiyong dengan penuh perasaan. Ia sengaja melakukan ini agar Chaerin tahu betapa ia sangat mencintai istrinya itu, dan tidak akan ada wanita lain dihatinya. Hanya Chaerin seorang. Dan Chaerin merasakan kalau Jiyong mengucapkannya dengan tulus dan dengan penuh perasaan. Ia merasakan pelukan Jiyong ini bukan hanya sekedar pelukan yang tak berarti, melainkan pelukan sebagai tanda maaf. Sejenak hati Chaerin luluh dan ia membalas pelukan Jiyong dengan pelan. Mereka berpelukan dengan lama, dan Jiyong melepas pelukannya lalu memberi kecupan dibibir Chaerin. Chaerin menatap Jiyong dingin untuk mempertahankan gengsinya, dan mengangguk kecil. Dan Jiyong pun berangkat.

.

.

.

“Sayang.” Panggil Jiyong sambil menyembulkan kepalanya kedalam rumahnya. Dilihat Chaerin tidak ada disana, ia masuk kedalam rumah dan menuju ke ruang keluarga. Dan ia mendapati Chaerin sedang menikmati segelas susu coklat sambil menikmati acara komedi di TV. Jiyong mengernyitkan dahi, sejak kapan istri kesayangannya menyukai susu? Yang Jiyong tau Chaerin tidak suka minum susu karena rasanya aneh.

“Hey sayang. Kamu memasakkanku makan malam?” Tanya Jiyong yang sejurus saja sudah terduduk disamping istrinya. Chaerin melirik suaminya yang sedang memerhatikannya dengan pandangan aneh. Chaerin mengangguk kecil, dan Jiyong menghela napas dengan kencang. “For godsake Chaerin! Stop act childish like this!” Seru Jiyong frustasi yang melihat tingkah Chaerin. Karena sudah beberapa hari ini Chaerin terus menerus bertingkah kekanak-kanakkan seperti ini, dan perlakuannya cukup membuat Jiyong lelah dan frustasi menghadapinya.

“Apa? Kekanak-kanakkan? Jadi seorang istri marah karena suaminya melepas cincin pernikahannya itu kekanak-kanakkan!?” Balas Chaerin sambil berseru.

“Oh tentu saja itu childish Kwon Chaerin!” Balas Jiyong juga. Kedua sejoli itu penuh dengan emosi, dada mereka naik-turun dan mengambil napas mereka pendek-pendek, sang istri akhirnya terisak dengan pelan. Sekali lagi Jiyong menghela napas, tapi kali ini secara pelan. Jiyong menunjukkan tangannya kedepan muka Chaerin yang sedang disembunyikannya dengan rambut blonde yang panjang. “Look, aku sudah memakai cincin kita lagi. Aku melepasnya bukan karena seperti yang kau pikirkan.” Ucap Jiyong pelan sambil mengelus pelan kepala Chaerin. Tapi Chaerin masih menyembunyikan wajahnya dan masih terus terisak. Hati Jiyong serasa seperti teriris melihat istrinya terisak, dan ia tau kalau Chaerin merasa sangat kecewa dengan apa yang ia lihat kemarin.

“Sayang. Izinkan aku menjelaskan semuanya. Kamu mau mendengarnya?” Tanya Jiyong sambil menarik dagu Chaerin untuk menatapnya. Air mata dengan deras mengalir turun diatas pipi Chaerin, dan Jiyong menghapusnya sambil tersenyum. Chaerin mengangguk sangat kecil pertanda ia ingin mendengar alasan Jiyong. “Sayang, yang kemarin kamu lihat di café itu bukan seperti yang kamu pikirkan. Wanita yang kemarin makan siang bersamaku itu adalah klienku saja. Dan soal cincin itu, kemarin printerku kehabisan tinta dan aku harus menyuntikkan tintanya sendiri. Aku tidak ingin menodai cincin kita, maka aku melepasnya dan ternyata saat aku pulang, aku lupa memakainya kembali.” Jelas Jiyong panjang lebar.

“Be-benar… di-dia hanya klien?” Tanya Chaerin masih sambil terisak. Jiyong tersenyum sangat manis, lalu mendekap Chaerin kedalam pelukannya dengan erat.

“Ya, sayang. Dihatiku hanya ada kamu seorang.”

“Bo-bohong…”

“Sejak kapan aku pernah berbohong padamu?” Jiyong menatap Chaerin lurus-lurus dengan lembut. Tapi Chaerin menggeleng pelan, dan Jiyong tersenyum lembut. Ia mengecup pelan dan lama bibir istrinya, dan meluapkan segala perasaannya pada istri tersayangnya itu. “I love you only baby.” Bisik Jiyong lembut sambil memeluk Chaerin dengan pelan.

.

.

.

Ting Tong

Mendengar suara bel berbunyi, Chaerin melangkahkan kakinya dengan cepat menuju pintu depan. Dirinya baru saja ingin tidur karena baru saja menyelesaikan pekerjaan rumahnya yang menumpuk, tapi seseorang datang. Chaerin membuka pintunya dengan pelan dan menyembulkan kepalanya dari dalam. Siapa orang yang menekan belnya?

“Oh! Nona, apa benar ini rumah Tuan Kwon Jiyong?” Tanya seorang laki-laki bermata panda yang sedang berdiri didepan pintu gerbang rumah Chaerin. Chaerin mengerutkan dahinya dan mengangguk. “Ah, dan Nona pasti istrinya!” Lanjutnya dan membuat Chaerin mengangguk lagi.

“Ya, saya Kwon Chaerin istri dari Kwon Jiyong.” Jawab Chaerin.

“Ah Nona Chaerin, Tuan Jiyong mengundang anda kesebuah restoran yang baru saja buka. Kebetulan mereka sedang mengadakan event untuk mencicipi 1 menu yang ada disana secara gratis. Ini undangannya.” Jelas lelaki itu. Chaerin membuka pintu lebar-lebar dan berjalan menuju gerbang. Ia mengambil undangan yang dipegang lelaki tersebut.

“Jiyong oppa menyuruhmu untuk mengirimkan ini padaku?” Tanya Chaerin aneh, dan sang pria mengangguk dengan semangat sambil tersenyum.

“Ya. Acaranya diadakan jam 7 malam, jangan lupa pakai baju yang indah!” Balas lelaki itu.

“Oh, okay. Terima kasih.”

“Jangan terlambat ya.” Kata lelaki itu sambil memperingati. Chaerin mengangguk dan tersenyum. Ia kembali memasuki rumahnya setelah si lelaki pengantar undangan itu pamit pergi. Chaerin tersenyum menebak apa yang kira-kira Jiyong siapkan untuknya. Apa Jiyong sedang menyiapkan sureprise karena ia kemarin marah kepada suaminya itu? Chaerin kembali tersenyum. Baru jam 2 siang, dan lebih baik ia mengistirahatkan tubuhnya dulu sebelum bersiap untuk pergi keundangan itu.

Chaerin bangun dari istirahatnya 3 jam setelahnya. Ia bangun jam 5 sore dengan kepala yang berputar, oh dia sangat lelah mengurus pekerjaan rumahnya yang menumpuk. Chaerin melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 5 sore, dan ia langsung melesat ke dalam kamar mandi untuk membersihkan seluruh tubuhnya. Setelah mandi, tak lupa ia memilih baju yang pas untuk ia pakai ke acara tersebut. Ia memilih sebuah dress pendek bermotif kotak-kotak putih dan hitam yang 20 cm diatas lututnya, dan ia melapisinya dengan sebuah kemeja berwarna pink yang panjang sehingga sedikit menutupinya paha putihnya. Tak lupa memadukannya dengan sebuah sepatu converse berwarna hitam. Ia rasa ia tidak perlu menggunakan baju yang terlalu resmi karena nampaknya acara tidak terlalu resmi.

Dan Chaerin berangkat menuju restoran tersebut jam 6 sore. Karena sudah tidak sabar dan penasaran Chaerin berangkat lebih cepat dengan menggunakan bis. Ternyata restoran tersebut terletak ditengah-tengah taman dan Chaerin harus berjalan melewati taman agar bisa sampai ke restoran tersebut. Matahari sedang mencoba untuk menyembunyikan dirinya, dan langit semakin lama semakin gelap. Tetapi taman itu tetap saja ramai oleh pengunjungnya. Setelah sampai di depan sebuah restoran Chaerin memastikan bahwa itu restoran yang benar. Dan ia masuk kedalamnya. Restoran tersebut sangat ramai, karena sedang ada event mencicipi 1 menu yang mereka milik secara gratis. Tentu saja semua orang tidak mau melewatkan kesempatan berharga seperti ini.

Chaerin mengedarkan pandangan untuk menemukan suaminya. Kemana perginya suaminya itu? Ia melihat Jiyong sedang duduk disalah satu meja yang ada direstoran itu. Baru ingin menghampirinya, Chaerin melihat kejadian yang sama yang ia lihat kemarin saat di café dekat kantor Jiyong. Oh? Inikah kliennya? Hati Chaerin menyusut melihat Jiyong sedang tertawa dengan mesra dihadapan klien sialannya itu dan ia menghentakkan kakinya dengan kesal.

“Oppa!” Jerit Chaerin kesal melihat Jiyong sedaritadi tertawa dengan wanita itu. Semua orang menujukan sepasang mata mereka kearah Chaerin, tak terkecuali Jiyong dengan wanita yang sedang duduk dihadapannya. Chaerin mengerucutkan bibirnya dan melenggang pergi dari restorannya.

Bohong! Kwon Jiyong pembohong paling bodoh didunia!! Jerit Chaerin kesal dalam hati.

“Hey Chaerin!”

Chaerin semakin mempercepat langkahnya, namun sayang Jiyong sudah menangkap tangannya dan yang tentu saja membuatnya menghentikkan langkahnya.

“Chaerin.” Ucap Jiyong dengan napas terengah-engah karena baru saja mengejarnya. Chaerin memasang muka marahnya dan tidak meladeni panggilan Jiyong. “Hey, jangan bilang kamu salah sangka lagi. Aku baru saja ingin memperkenalkan kamu dengan klienku.” Lanjut Jiyong, mata Chaerin membulat mendengar perkataan Jiyong. Jiyong menarik tangan Chaerin untuk memasuki restoran itu kembali, tapi Chaerin menarik kembali tangannya.

“APA KAU GILA KWON JIYONG!?” Jerit Chaerin dengan napas terengah-engah. Chaerin tidak habis pikir dengan suaminya yang teramat amat bodoh itu.

“Chaerin?”

“Kau gila oppa!? Ingin memperkenalkan aku dengan wanita simpananmu itu!?” Lanjut Chaerin sambil menangis. Jiyong tergelak dengan keras sambil memeluk perutnya. Chaerin memukul badan Jiyong dengan kesal sampai suaminya itu berhenti tertawa.

“Haduh Kwon Chaerin! Mari ikut aku dulu. Aku perkenalkan kamu dengan klienku, meski aku tau kamu sudah mengenalnya.” Balas Jiyong setelah tawanya mereda. Jiyong tersenyum dan menghapus air mata Chaerin. Ia menarik kembali tangan Chaerin untuk mengajaknya masuk kedalam restoran tersebut. Baru ingin memasukki restoran, wanita yang tadi tertawa bersama Jiyong keluar dengan seorang lelaki disebelahnya.

“Yongyong! Jadi besok aku transfer uangnya ya? Pekerjaanmu bagus sekali! Aku menghargainya.” Ucap si wanita itu dengan muka berseri-seri. Jiyong tersenyum sementara Chaerin hanya terpaku melihat sepasang manusia yang berdiri dihadapannya.

“Dara unnie?”

“Chaerin! Ya ampun apa kabar?” Seru wanita yang bernama Sandara itu, dan dengan sekonyong-konyong ia memeluk badan Chaerin. “Chaerin jangan salah sangka ya. Aku dan yongyong hanya membicarakan soal bisnis. Maaf membuatmu khawatir dan membuatmu jadi cemburu.” Lanjut Sandara setelah melepas pelukannya sambil terkekeh. Chaerin melirik Jiyong yang melemparkan tatapan iya-kan padanya.

Okay, aku dan Youngbae duluan ya! Sampai ketemu lagi Jiyong Chaerin.” Pamit Sandara bersama kekasihnya.

“Jadi? Sejak kapan aku pernah berbohong sayangku?” Lanjut Jiyong masih terus melemparkan tatapan menggoda. Tapi tak diduga Chaerin malah tersipu, dan tanpa diduga pipi Chaerin berubah warna menjadi merah.

“Sudahlah! Aku percaya padamu! Ayo masuk, aku lapar.” Ucap Chaerin sambil berlalu dari Jiyong, dan Jiyong tergelak keras melihat Chaerin sedang tersipu dengan lucu. Jiyong menyejajarkan langkahnya dengan Chaerin dan menggenggam tangan istrinya itu. Ia membawanya ke lantai atas yang sangat teramat sepi.

“Eh? Oppa, kita mau kemana?” Tanya Chaerin bingung.

“Kita akan makan malam.” Jawab Jiyong. Mereka duduk disebuah meja yang terletak ditengah-tengah ruangan. Chaerin duduk berhadapan dengan suaminya dimeja bundar beralaskan kain putih. Jiyong memanggil pelayan dan membisikkannya sesuatu. Sang pelayan tersenyum dan pergi, ia kembali sambil membawakan sebuah makanan yang berada diatas nampannya lalu menaruhnya diatas meja Jiyong dan Chaerin. Chaerin membuka penutup yang ada diatas makanan itu dan menganga melihat apa yang ada didalamnya.

“Astaga! Pasta!” Jerit Chaerin senang setelah si pelayan pergi dari ruangan itu. Jiyong tersenyum dengan manis.

“Makanlah pastanya sayang. Nanti dingin.” Ucap Jiyong sambil menikmati pasta miliknya sendiri. Dan keduanya menikmati pasta mereka masing-masing. “Jangan pernah berpikir seperti itu lagi ya? Kamu tau kalau hanya kamu yang dihatiku. Jadi jangan seperti itu lagi ya.” Ucap Jiyong dengan raut wajah serius. Chaerin mengangguk dan menundukkan kepalanya. Mereka baru saja menyelesaikan makanan mereka.

“Maafkan aku. Aku memang bodoh oppa.” Ucap Chaerin dengan pelan. Jiyong bangkit dari kursinya dan berjalan kearah Chaerin dan berjongkok didepan Chaerin. Ia menarik dagu Chaerin untuk menatapnya, dan Jiyong tersenyum.

“Kamu memang bodoh. Perempuan paling lugu dan bodoh yang sangat aku cintai.” Ucap Jiyong dengan lembut sambil terus menatap mata Chaerin. Chaerin tersenyum lalu memeluk Jiyong, keduanya berpelukan dengan lama lalu mereka mendaratkan sebuah kecupan manis dibibir keduanya.

Oppa bilang, hanya ada aku dihati oppa?” Tanya Chaerin dengan manis. Jiyong yang sudah kembali ke kursinya mengangguk dengan mantap. Oh, tentu saja ia hanya mencintai istrinya seorang. “Tapi aku tidak. Ada 2 orang dihatiku sekarang.” Lanjut Chaerin tanpa dosa lalu meneguk minumannya yang ada diatas meja. Dengan tiba-tiba hati Jiyong menciut dan perasaan sesak menyelubungi dadanya. Apa ini? Istrinya ingin membalaskan dendamnya padanya?

“Si-siapa Chaerin?” Tanya Jiyong dengan muka pucat. Chaerin tersenyum dan mengeluarkan sekotak kado dari dalam tasnya, dan memberikan kotak tersebut pada suaminya. Jiyong membuka kotak tersebut, dan mendapati sebuah test pack di dalamnya yang menunjukkan tanda positif. Dengan tiba-tiba lagi perasaan bergemuruh memenuhi dadanya, ia menganga dengan lebar dan menatap Chaerin untuk memastikan. Chaerin terkekeh dan mengangguk dengan semangat sambil kemudian menangis.

“Ya! Kwon Chaerin! Kau hamil anakku?!”

“Tentu saja!!”

“YAAAA!! AKU AKAN JADI AYAH!!!!”

-FIN-

23 thoughts on “[FF Freelance] Dinner (Oneshot)

  1. kyaaaa sukasukasuka, dan saya tidak menemukan typo dimanamana 😀
    sering2 bikin ff skydragon marriage life yaah thor ;D *kedip mata*

    • kebetulan setelah saya bikin langsung saya editin lagi kalau memang ada typonya:D jadi belajar memberikan yang terbaik:D
      pastinya 😀 makasih udah read and comment ya:)

  2. Daebaaaak!! Suka sama ceritanya Thor ^^
    Emosi bisa naik-turun jadi ngga flat trus down atau terlalu bahagia 😀
    Mm..aku belum bisa bayangin GD + CL tapi alurnya aku dapet, daebaaaaak Thor!! Neomo Joahe~

    • aih makasih nih ya ^ ^
      hehe iya ceritanya Chaerin ini istri biasa yang manja hahaha XD
      makasih ya udah baca dan comment ^ ^ 😀

  3. Dae to Bak yeeeee \(`3`)/,plot nya bisa di mengetiiiii banget sama akuuu.yeeeeeee Semakin cinta sama Skydragon shippperrrrr love it.semoga authornya mau terus buat FF skydragon yang pasti cutie cutie gitu /wink/

  4. Hahahha cherin mudah bnget yaa cmburu
    bagus thor crtanya… Aku suka bikin sequal buat kluarga kcil mrka dong thor 🙂

    • makasih ya 🙂 nah, jadi ceritanya request nih? boleh-boleh, I’m working on it ya! ^ ^ makasih udah mau baca dan comment 🙂

  5. Wahh …. Keren ceritanya 😀
    thor buat FF tentang Sky Dragon lagi dong 😀
    Sory telat komennya , sebenarnya sih aku udah baca FF ini lama banget , tapi baru komen sekarang 😀

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s