[Chapter 1] Hard to Love

Hard to Love

“Love? Never!”

by Shinyoung

Main Cast: Kim Myungsoo, Son Naeun || Support Cast : Lee Howon, Jung Eunji, Nam Woohyun, Park Chorong || Genre : Romance, School Life || Length : Chapter 1/? || Rating : PG-15 || Credit Poster: Fearimaway

Hard to Love  Chapter 1 – Rivalry

oOo

Ini dia, saat-saat yang paling ditunggu-tunggu oleh semua murid Hankeum High School – sekolah dengan biaya yang cukup mahal dan penghuni sekolah yang cukup pintar-pintar untuk saat ini. Jam 7 kurang 15. Hei, tinggal 15 menit waktu tersisa kenapa para murid-murid ini justru berkeliaran keluar kelas dengan berkumpul di dekat gerbang?

Saat itu juga, 3 orang laki-laki muda dengan seragam Hankeum High School turun dari mobi hitam bermerek. Laki-laki itu segera memasang tas mereka di punggung mereka. Ketika mereka memasuki gerbang sekolah, segeralah terdengar amukan masa para perempuan yang berteriak histeris.

Sedangkan itu, seorang perempuan dengan poni yang menutupi dahinya yang cukup lebar itu tengah menarik-narik sahabatnya. Kemudian tak lama, perempuan berponi itu mengeluarkan kamera DSLR-nya. Langsung dari tempatnya, ia memotret 3 orang laki-laki muda yang tengah berjalan memasuki Hankeum High School.

“Ya!! Jung Eunji, sampai kapan kau akan terus melakukan hal ini? Kau gila?!” teriak sahabat perempuan berponi itu – Jung Eunji – sambil menatap 3 orang laki-laki muda itu kesal.

Eunji tak mempedulikan perkataan sahabatnya itu. Ia terus memotret seorang laki-laki yang berdiri di sisi kiri laki-laki yang ada di tengah itu. “Oh, ayolah, Son Naeun, jangan berkata seperti itu. Mereka itu Three Idols! Mereka adalah yang terbaik. Aku tidak bisa meninggalkan foto-foto Howon oppa begitu saja.” Katanya sambil terus memotret.

“Aku muak mendengarnya.” Kata sahabat Eunji – Son Naeun – itu sambil meniup dahinya. “Kim Myungsoo, Lee Howon, Nam Woohyun. Itu saja nama yang membuat telingaku sakit.” Katanya sambil menutup telinganya lalu melangkah begitu saja meninggalkan Eunji.

Eunji yang sibuk memotret Lee Howon langsung menghentikan aktifitasnya kemudian ia menoleh ke belakang dan melihat Naeun yang sudah meninggalkannya jauh disana tak bisa digapai oleh Eunji. “Huh, Naeun itu aneh. Kenapa dia tidak suka sama yang tampan-tampan dan segar-segar?”

“Mungkin dia suka yang pahit-pahit?”

“Kayak kamu kan?”

“Enak saja. Teruslah memotret. Siapa tau fotomu bisa dilombakan.”

“Hoho, tentu saja. Ngomong-ngomong siapa kamu?”

“Park Chorong.”

Eunji berhenti memotret. Ditolehkan kepalanya ke arah kanannya. Matanya membulat ketika melihat perempuan itu. Ia langsung memeluk perempuan itu. Perempuan yang bernama Park Chorong itu tertawa. “Hati-hati dengan kameramu.”

Eunji melepaskan pelukannya kemudian memamerkan gigi-giginya yang rata itu. Ia memang hobi nyengir pada siapapun yang ia suka. “Yah, eonnie, sejak kapan kau pindah kesini?”

“Kemarin.”

Eunji menganggukkan kepalanya kemudian melanjutkan aktifitasnya sambil memotret laki-laki yang bernama Lee Howon itu. Kini ia greget karena laki-laki yang ia idolakan dan ia cintai itu tengah memberikan tanda tangan kepada salah satu murid baru Hankeum High School. “Huft, greget deh liat Howon oppa kasih tanda tangan gitu.”

“Setidaknya kamu dapat foto-fotonya setiap saat. Kau di kelas apa, Eunji?”

Eunji terkekeh pelan. “Aku? Entahlah, aku belum melirik papan pengumuman sekalipun. Kita kan baru saja memasuki tahun ajaran baru.”

“Oh, iya aku lupa. Aku di kelas 3-2.”

“3-2? Oh tidak, kau sekelas dengan Three Idols itu.”

Park Chorong mengangkat bahunya. “Siapa mereka? Aku tak mengenal mereka. Dan siapa pula yang kau potret itu, Eunji?”

Eunji menghentikan aktifitasnya lalu mematikan kameranya. “Hm, begitulah. Three Idols itu adalah  laki-laki tampan, menawan, keren, dan gagah berani tadi adalah yang kupotret. Mereka akan sekelas denganmu.”

“Oh, mereka.”

Eunji mengangkat alisnya. “Kau kenal dengan mereka?” tanyanya sambil mengalungkan kamera DSLR-nya. Lalu ia menyenderkan tubuhnya di balkon sekolah itu.

“Ya, mereka teman SMP-ku. Tenang saja, aku tak menyukai mereka. Mereka selalu menindasku saat itu, terutama Woohyun.”

Eunji mengangkat bahunya kemudian meninggalkan Chorong disana. Kemudian ia menoleh lagi ke arah Chorong lalu melambaikan tangannya. “Sampai nanti! Pertemuan yang menyenangkan walau singkat!” Teriaknya kemudian berlari.

**

“Hei! Kelas kita tak diubah! Artinya aku bisa duduk denganmu, Son Naeun!” kata Eunji sambil memeluk Naeun. Naeun mendesah pelan lalu memutar kedua bola matanya. Ia pun membalas pelukan Eunji dengan terpaksa.

Naeun melepaskan pelukan Eunji kemudian ia memegang bahu Eunji. “Yah, begitulah. Aku harus bekerja sama lagi denganmu.” Ia berhenti lalu melepaskan bahu Eunji kemudian berjalan meninggalkan Eunji.

Eunji pun menyusul Naeun kemudian jalan di samping Naeun. “Setidaknya kau akan tertular virus Three Idols!”

Naeun memutar kedua bola matanya. “Oh, ayolah. Aku bosan mendengar nama itu setiap hari.” Ia melipat kedua tangannya lalu memasuki kelas 2-2. Ia pun mengambil tempat duduk paling depan.

“Oh, Naeun. Kenapa kau selalu duduk di depan? Ini menjijikan.”

Naeun menggantungkan tasnya di kaitan mejanya. Lalu ia menyenderkan tubuhnya. “Setidaknya ini baik untuk penglihatanmu, Eunji.”

Eunji mendecak kecil kemudian duduk di belakang Naeun. “Ya, artinya sekarang kita tidak bisa duduk bersama, karena sejak kelas 2 tempat duduk kita sendiri-sendiri. Menyebalkan guru-guru ini.”

**

“Hoi, kita sekelas lagi.”

“Oh, bagus. 3 tahun bersama. 3 tahun berjalan bersama. 3 tahun mendapatkan fans banyak. 3 tahun bersama otak jenius dan 3 tahun bersama orang sedingin beku yang masih jatuh hati pada mantan pacarnya.”

Kim Myungsoo menoyor kepala Nam Woohyun. Lee Howon hanya bisa tertawa. Kemudian mereka berjalan memasuki kelas 3-2. Seperti biasa mereka memasuki kelas dan semua orang yang ada disana langsung terdiam. Mereka mengambil tempat duduk paling belakang.

“Dan, yang terakhir. 3 tahun duduk di bangku paling belakang.” Kata Howon sambil tertawa. Woohyun mengeluarkan komiknya kemudian ia menawarkannya pada Howon. “Oh! Ini edisi terbaru?” tanya Howon.

Woohyun menganggukkan kepalanya. “Ya, begitulah. Saudaraku membeli komik ini perdana di Jepang.”

“Bisakah kalian berhenti membicarakan komik? Ya! Nam Woohyun, apa hanya komik dan perempuan saja yang ada di otakmu itu?”

Woohyun terkekeh kecil kemudian ia memberikan komiknya pada Howon. “Setidaknya aku tidak segila kau yang selalu menyayangi mantan pacarmu itu. Sudahlah, Kim Myungsoo, lupakan saja mantan pacar-.”

“Selamat pagi, anak-anak.”

Seorang guru memasuki kelas itu sambil meletakkan bukunya. Diikuti oleh seorang perempuan dengan rambut panjang dan berponi. Wajahnya yang cantik membuat beberapa laki-laki di kelas itu bersiul termasuk Woohyun.

“Hoi! Park Chorong!”

Perempuan yang baru saja memasuki kelas itu melirik ke arah Woohyun lalu mendesis kesal. Guru yang melihat kejadian itu langsung menatap ke arah Woohyun tajam. “Nam Woohyun, kau tidak tahu bahwa ada guru disini? Dilarang berteriak seperti itu. Kalau kau melakukannya lagi, akan kuanggap kau tidak ada di kelas ini.”

Woohyun mengangguk pelan. “Maaf, Jung ssaem.”

Guru Jung menghela nafas pelan. “Jangan mencontoh yang kalian lihat tadi dari Nam Woohyun, ia adalah murid baru disini. Jadi, kalian mohon menerima Park Chorong dengan baik. Park Chorong, silahkan duduk di samping Nam Woohyun.”

“Apa? Saya tidak mau, dia itu selalu mengganggu saya.”

“Kau mengenalnya?” tanya Guru Jung sambil mengangkat alisnya yang kanan. Dengan terpaksa, Chorong menganggukkan kepalanya pelan.

“Aku pernah satu sekolah dengannya saat SMP.” Mendengar perkataan Chorong, seluruh murid laki-laki di kelas itu langsung bersiul menatap Woohyun. Namun, Woohyun hanya mengangkat bahunya.

“Tapi disini tidak ada kursi yang tersisa kecuali duduk di samping Nam Woohyun.” Kata Guru Jung sambil menunjuk ruangan kelas.

Chorong menatap ruangan kelasnya kemudian menatap ke arah 3 kawanan yang pernah mengerjainya itu. Ia pun menghela nafas pelan lalu menundukkan kepalanya. “Baiklah, aku akan duduk disana. Disamping Nam Woohyun.” Katanya sambil menekankan kata Nam Woohyun lalu berjalan ke arah belakang.

Guru Jung tersenyum. Ia meletakkan tasnya di atas meja lalu memainkan jari-jari kukunya yang baru saja tadi pagi ia warnai. Ia menatap ke arah Chorong. “Park Chorong, kalau kau ada masalah dengan mereka bertiga, beritahu saja padaku.”

Chorong menganggukkan kepalanya kemudian mengeluarkan kotak pensilnya. Ia menatap ke arah Woohyun kesal. “Sial benar aku harus bertemu kalian lagi.”

“Itu artinya kau jodoh denganku.” Kata Woohyun sambil mengedipkan matanya ke arah Chorong. Tak lama setelah itu, Guru Jung melemparkan penghapus papan tulis ke arah Woohyun.

“Nam Woohyun, dilarang berbicara di dalam kelas. Kalau kau melakukan kesalahan lagi maka akan ku keluarkan kau dari sini. Hari pertama saja kau sudah berulah. Jangan bertingkah karena kau punya banyak fans gila di sini.”

Myungsoo dan Howon tertawa kecil. “Kim Myungsoo, Lee Howon, kalian juga. Jangan karena kalian adalah peringkat 1 dan 2 kalian berulah juga.” Kata Guru Jung.

Ne, ssaem.”

**

“Sial, Jung ssaem benar-benar gila, katanya ia melempar Woohyun oppa dengan penghapus!”

Naeun berjalan mengambil makanannya. “Ya, terserah kau saja, Jung Eunji. Aku tak mempedulikan mereka bertiga itu. Mau mereka diapakan oleh guru aku juga tidak akan peduli pada mereka. Lagi pula, aku juga tidak akan menyukai atau mengidolakan mereka seperti apa yang kau lakukan!”

Naeun meletakkan tempat makanannya di atas meja lalu mulai makan. Eunji mengangkat bahunya lalu ikut duduk di hadapan Naeun. Ia mulai mengambil ayamnya dan mengunyahnya. “Oh ya, Chorong unnie sudah sekolah hari ini.”

“Baguslah kalau begitu. Di kelas apa dia?”

“3-2 sama dengan-.”

“Three Idols?”

“Ya. Itu kau tahu mereka disana?!”

“Tentu saja, semua orang di penjuru sekolah membicarakan mereka tak henti-hentinya. Setiap hari, setiap saat, detik, menit, jam, aku mendengarkan semua murid membicarakan mereka. Obrolan yang sudah muak kudengar.”

Eunji terkekeh pelan. “Lama-lama kau menikmatinya dan kau akan menyukai mereka!!” kata Eunji sambil bertepuk tangan kecil lalu tertawa.

Naeun menghabiskan ayamnya lalu meminum jusnya. “Gila kau.”

“Gila terhadap laki-laki bernama Lee Howon! Itu bagus, Son Naeun.”

“Ada apa memanggil namaku?”

Eunji dan Naeun menangkat kepala mereka. Dilihatnya Lee Howon yang sudah berdiri disana memandang heran ke arah Naeun dan Eunji. Naeun memutar kedua bola matanya lagi. “Menjijikan. 3 orang yang menjijikan ada disini. Mendengar panggilan alam. Mungkin, mereka ingin kau membunuhnya, Son Naeun?” kata Naeun pada dirinya sendiri.

“Apa?”

Naeun mengangkat kepalanya. Dilihatnya Myungsoo yang berdiri disana sambil memandang benci ke arah Naeun. “Oh, bertambah satu orang lagi yang berwajah dingin beku seperti tidak pernah pakai air hangat. Son Naeun, apa kau ingin juga mengeluarkan semuanya? Boleh.”

Sedangkan Eunji. Dia hanya bisa menatap Lee Howon dengan wajah berseri-seri dan mata berbinar-binar. Ia tak mendengar Naeun yang tengah mengatakan sesuatu yang merusak citra Three Idols.

“Hei, Son Naeun. Jaga omonganmu!”

“Oh ya? Kim Myungsoo-ssi? Apa kau berbicara denganku?”

Myungsoo menarik kerah Naeun. Seketika suasana berubah lalu semua orang yang berada di kantin itu menatap ke arah Naeun dan Myungsoo. Myungsoo mempererat tarikannya di kerah Naeun sedangkan Howon hanya bisa menghela nafas karena daritadi Eunji memintanya potret bersama.

“Son Naeun-ssi, lain kali kau harus berhati-hati dalam berbicara ya? Aku bisa saja mengeluar-masukkan dirimu dari sekolah ini.”

Naeun tersenyum. Ia sama sekali tidak terlihat sakit saat Myungsoo mempererat tarikannya di kerah seragam Naeun. Saat itu juga seoran guru memasuki arena itu dan yang tak lain adalah Guru Jung. “Hoh, kau boleh mengeluarkanku dari sekolah ini sesuka hatimu? Tapi terserah ya, aku akan menuntutmu pada guru.”

“Kim Myungsoo, apa yang kau lakukan pada Son Naeun?”

Myungsoo menolehkan kepalanya. Dilihatnya Guru Jung yang tengah membawa penggaris panjang sambil memukul-mukulkannya ke tangannya. Myungsoo langsung melepaskan tanganya dari kerah seragam Naeun. Naeun tersenyum pelan lalu mengeluarkan lidahnya ke arah Myungsoo.

“Kim Myungsoo, Son Naeun, ikut aku.”

**

“Kim Myungsoo! Kau benar-benar tidak tahu aturan. Bagaimana bisa kau menarik kerah Naeun sekuat itu? Bagaimanapun kau ini adalah murid nomor dua di angkatanmu! Dan kau, Son Naeun, sebagai murid nomor satu seharusnya kau tidak mengatakn hal seperti itu pada sunbae mu.”

Naeun menghela nafas panjang. “Jung ssaem, bagaimana bisa aku tidak mengatakan hal itu, aku muak mendengar murid-murid membicarakan mereka. Apalagi dirinya!” kata Naeun sambil menunjuk Myungsoo.

Yang ditunjuk hanya bisa melipat kedua tangannya. Guru Jung yang melihat kejadian itu hanya bisa menghela nafas panjang. “Son Naeun, diamlah. Aku sedang memikirkan bagaimana caranya untuk menyelesaikan masalah diantara kalian berdua!”

“Ya! Jung Soyeon. Kau seharusnya membelaku. Kau mau aku mengeluarkanmu dari sekolah ini?”

Guru Jung terdiam seketika saat Myungsoo memanggilnya dengan nama. Kemudian ditatapnya Son Naeun yang tampak kesal akan perbuatan Myungsoo. “Maaf, Son Naeun. Aku tidak mau diberhentikan dari pekerjaanku ini, jadi kau akan aku kurangi 10 poin dari buku laporanmu.”

“Tapi, ssaem! Seharusnya ia juga mendapatkan hal itu! Bagaimanapun aku mengatakannya karena dia lah yang pertama kali memulainya. Dia berla-.”

“Maaf, Son Naeun. Sekarang serahkan buku laporanmu.”

Naeun terdiam mematung. Kemudian ia tersenyum lalu mengeluarkan buku laporannya. Diberikannya buku itu pada Guru Jung. Guru Jung segera menulis disana. Kemudian mengembalikannya pada Naeun.

“Setidaknya poinmu masih sebanyak 490.”

“APA? 490?!”

Naeun tersenyum penuh kemenangan ke arah Myungsoo. Kemudian ia memasukkan buku laporannya. Naeun pun menganggukkan kepalanya ke arah Myungsoo sambil mengeluarkan lidahnya.

“Ya, dia memiliki 490 poin. Seharusnya kau bisa menyainginya. Dia pandai dalam apapun. Kau juga begitu tapi kau hanya memiliki 150 poin. Kau terlalu banyak bergaul dengan Nam Woohyun.”

**

Myungsoo melangkah pelan keluar dari kelasnya. Nam Woohyun dan Lee Howon, kedua pria itu sudah dulu pergi meninggalkannya katanya mereka akan membeli komik edisi terbaru di toko buku yang cukup jauh dari sekolah.

Myungsoo berjalan pelan menuju pintu utama sekolahnya, namun langkahnya terhenti ketika ia merasakan ponselnya terus bergetar di kantung celananya. Diraihnya ponsel itu lalu ia menatap layar ponsel itu. Eomma bertuliskan disana. Ia pun menghela nafas panjang. Akhirnya ia menggeser layar ponsel itu.

Kim Myungsoo, berhentilah berlagak di sekolahmu. Aku tahu kalau kau mengajak bertengkar dengan seorang murid perempuan. Dia hoobae-mu kan?”

Myungsoo mendengus pelan. Tangannya mengepal. “Ya, dia hoobae-ku.”

Namanya?

“Son Naeun.”

Terdengar ibunya terbatuk-batuk pelan. “Oh. Nama yang bagus. Jadi kuharap, mulai sekarang kau tidak bertingkah lagi seperti itu. Apalagi yang mencoreng nama baikmu. Kalau ia membencimu, biarkan saja. Lalu, nanti sore, eomma dan appa akan kerja di Paris. Jadi kau harus hidup mandiri. Aku sudah memesan seseorang untuk menemanimu. Tidak ada lagi yang namanya diantar ke sekolah menggunakan mobil mewah appa mu itu. Apalagi mengajak kedua teman mu itu. Oke?

Myungsoo terdiam cukup lama setelah Ibunya mematikan sambungan teleponnya. Kemudian diliriknya gerbang sekolah yang sudah sepi. Tak ada mobil yang menjemputnya mulai hari ini. Seseorang untuk menemaniku? Huh, yang benar saja, memangnya aku ini anak kecil?, pikir Myungsoo sambil melempar batu.

“Aish!!!”

“Kim Myungsoo!”

Mendengar suara perempuan yang memanggilnya ia pun langsung menolehkan kepalanya ke arah belakang. Kemudian dilihatnya perempuan itu tampak berdiri di balkon lantai 2 Hankeum High School. Perempuan itu melambaikan tangan ke arahnya.

“Dimana penjemputmu itu? Apa kau tiba-tiba jatuh miskin?”

“Aish, sial benar aku bertemu dengannya.” Ucap Myungsoo sambil mengacak-ngacak rambutnya. Kemudian ia menatap ke arah perempuan itu. “Yaishh! Son Naeun!!” Lantas setelah berteriak seperti itu, Myungsoo melangkahkan kakinya meninggalkan sekolahnya daripada ia harus berhadapan dengan perempuan yang dianggapnya gila itu.

**

“Kim Myungsoo.”

Myungsoo menolehkan kepalanya ke arah pintu kamarnya. Dilihatnya seorang perempuan berdiri disana. Ia tersenyum pelan ke arah Myungsoo. Myungsoo pun bangun dari tempat tidurnya. “Aku Son Yejin.”

“Yejin?”

“Ya, aku adalah orang suruhan ibumu untuk menjagamu. Jadi saya akan tinggal disini. Saya sudah punya kamar yang diberikan oleh Nyonya. Kamarku terletak di ujung sana, jadi kalau kau ada masalah silahkan temui aku disana.”

“Baiklah. Sekarang kau bisa pergi.”

“Tidak, saya tidak bisa pergi sekarang. Anda harus pergi ke tempat les anda hari ini. Seperti yang terdaftar disini.” Kata Gain sambil menyerahkan lembaran daftar yang ada di tanganya. Myungsoo menghela nafas kemudian turun dari tempat tidurnya.

“Baiklah, aku akan les.”

**

Eomma, eodiso? Aku sudah pulang sekolah dan kini aku melihat sebuah makanan terletak di meja.”

Oh, Naeun-ya, aku sedang bekerja sekarang. Jadi mulai hari ini, kemungkinan aku akan pulang pada malam hari saja. Kau bisa mengunjungiku di rumah ini, nanti akan ku kirimi pesan alamatnya.

Naeun menghela nafas panjang. Kemudian ia duduk di atas lantai lalu mengambil sumpitnya. “Eomma bekerja sebagai apa disana?”

“Sebagai pelayan. Aku hanya menjaganya karena orang tuanya bekerja di luar negeri.”

“Bagus, kalau begitu, Eomma pasti akan mendapat gaji yang cukup besar. Appa sekarang dimana?”

“Oh, Appa mu sedang makan siang. Mungkin setelah nanti selesai mengantar penumpang terakhirnya ke Busan, dia akan pulang. Sabarlah.” Terdengar suara Ibunya menghela nafas panjang.

Naeun pun tersenyum kemudian ia menolehkan kepalanya melihat kakaknya memasuki rumah. “Oh, eomma, Dongwoon oppa sudah pulang. Kututup ya telponnya.” Naeun segera memutus sambungan telepon itu lalu berlari memeluk kakaknya.

Dongwoon tersenyum pelan melihat tingkah adik kecilnya itu. “Yah, kau ini.” Katanya lalu melepaskan pelukan adiknya itu. Kemudian ia melirik ke meja makan yang berada di ruang tengah. “Yah, kau belajar masak dari siapa? Eunji?”

Naeun menggelengkan kepalanya, sedangkan Dongwoon berjalan ke arah meja makan lalu segera duduk disana. “Bukan aku yang membuatnya, eomma. Eomma bilang katanya bekerja sebagai pelayan di rumah orang kaya. Kan lumayan untuk membantu keuangan kita.” Kata Naeun sambil duduk di meja makan.

Dongwoon mengaggukkan kepalanya. Naeun pun mengambil sumpitnya lalu mulai memakan kimchi yang sudah disiapkan ibunya itu. “Hoh, eomma daebak. Makanannya selalu terasa enak.”

“Oh, tentu saja. Karena itulah, seharusnya kau belajar memasak juga!” kata Dongwoon setengah berteriak. Naeun menggeleng. “Shireo!”

**

“Hoi!”

Naeun menolehkan kepalanya. Dilihatnya Myungsoo yang baru saja turun dari sepedanya. Naeun melirik ke arah sepeda Myungsoo yang terpakir di samping sepedanya. Naeun segera berbalik ke arah Myungsoo lalu menjauhkan posisi sepedanya.

Myungsoo yang berdiri disana tampak kesal melihat sikap Naeun yang sama sekali tidak sopan padanya. “Hoi, Son Naeun!”

Naeun tak mempedulikannya lalu ia terus berjalan meninggalkan Myungsoo. Myungsoo yang tak kehabisan ide pun mengambil batu lalu melempar ke arah kepala Naeun. Sontak, Naeun langsung berkata “Aw!”

Dengan cepat, Naeun membalikkan tubuhnya lalu ia berjalan mendekati Myungsoo. “APA?!”

“Ya, jangan berteriak. Kau seperti orang kesetanan.” Myungsoo memukul kepala Naeun. Kemudian ia menatap Naeun dari atas sampai bawah. Kemudian ia mengangguk-nganggukkan kepalanya.

“Apa?” tanya Naeun. Ia sebenarnya agak risih ketika Myungsoo menatapnya dari atas sampai bawah. Jangan-jangan laki-laki dihadapannya itu berpikiran mesum tentang dirinya. Tiba-tiba sebuah awan pikiran muncul di atas kepala Naeun. Di awan pikiran itu Naeun membayangkan bahwa Myungsoo sedang berpikiran mesum dirinya. Kemudian ia pun cepat-cepat menggeleng-gelengkan kepalanya.

Myungsoo mengangkat bahunya. “Pantas saja, ibumu bekerja padaku. Ternyata kau memang mirip dengannya ya.” Myungsoo pun berjalan meninggalkan Naeun. Cepat-cepat Naeun menyusul Myungsoo.

Segera ia menyamakan jalannya disamping Myungsoo. “Apa yang kau katakan? Ibuku bekerja padamu?!”

“Yap, begitulah. Dia Son Ye Jin kan?”

“I-.”

Belum sempat Naeun menjawab pertanyaan Myungsoo, murid-murid perempuan sudah mengerumuni Myungsoo. Mereka mencoba untuk menyentuh tubuh Myungsoo. Kerumunan perempuan semakin banyak.

Naeun yang tampak terdesak oleh para kumpulan murid perempuan itu ia pun segera menjauh namun ada sebuah tangan yang menarik dirinya. Dilihatnya pemilik tangan itu. Kemudian ia segera melepaskannya.

“Woohyun sunbae, maaf.”

Woohyun pun tak peduli, namun ia segera menarik tangan Naeun memasuki sekolah ketika murid-murid perempuan itu tampak mengerubungi Myungsoo. Untungnya, Woohyun tengah memakai jaket bertudung. Ia juga menggunakan masker. Namun, bagaimanapun, Naeun bisa mengenal orang itu.

Sesampainya di depan kelas Naeun, Naeun segera melepaskan tangan Woohyun lalu ia membungkukkan tubuhnya. “Terimakasih, sunbaenim.” Kata Naeun datar. Woohyun tersenyum lalu ia mengedipkan matanya ke arah Naeun.

Naeun memutar kedua bola matanya. Ia pun mengumpat dalam hatinya sambil masuk ke dalam ke kelasnya. “Menjijikkan.”

“Apa yang menjijikan?”

Naeun menolehkan kepalanya. Dilihatnya Eunji yang tampak tersenyum-senyum menatap ponselnya. “Ya, begitulah. Aku tadi tidak bisa masuk ke dalam sekolah karena Es Beku itu menghalangi jalan itu. Sial.”

“Oh ya? Baguslah kalau begitu. Semakin sering kau bersama dengannya, maka kau akan terkenal. Lagipula, mereka sudah tidak bawa mobil mewah ke sekolah. Sekarang kau mulai bisa mengidolakan mereka.” Kata Eunji sambil terus tertawa menatap foto-foto Howon yang berada di layar ponselnya.

“Apa? Mengidolakan mereka?! Tidak akan!” teriak Naeun dan membuat para perempuan yang ada di kelas mereka menunjukkan death glare mereka ke arah Naeun. Naeun pun mendengus pelan. Lagipula,mana mungkin aku berani apa-apa ke es beku itu. Eomma kan bekerja dengannya, pikir Naeun.

**

“Oh, ayolah Naeun, temani aku mengikuti mobil Howon oppa. Pasti sekarang dia akan menuju ke suatu tempat.” Bisik Eunji ke telinga Naeun ketika jam pelajaran terakhir sudah selesai.

Memasukkan semua buku-buku dan pensil-pensil atau juga bolpoin bukanlah hal yang mudah. Karena untuk orang sepintar Son Naeun, dia akan mengeluarkan buku-buku yang dibutuhkan, juga bolpoin hitam, merah, dan biru untuk membedakan materi-materi yang dicatatnya. (author dapat ide ini dari GO alias tempat les author)

Naeun mendengus pelan lalu menutup tasnya. “Baiklah, hanya sekali ini, aku menemanimu. Lain kali? Tidak. Ajak saja teman-teman gilamu itu.”

Eunji tersenyum sambil memamerkan giginya yang rapi itu alias kebiasaannya itu. “Kajja! Sebelum Howon oppa pergi meninggalkan kita duluan. Untungnya hari ini, aku membawa sepedaku.”

“Oh, baiklah. Ayo.”

Mereka segera melangkah keluar dari kelas mereka. Tepat saat itu, kelas 3-2 yang berada di ujung sana baru saja menyelesaikan pelajaran terakhir mereka. Kenapa mereka bisa selambat itu? Yap, begitulah, jika mendapatkan pelajaran Guru Cho di akhir pelajaran maka mereka akan mendapatkan waktu tambahan.

Eunji segera menarik Naeun yang malas untuk turun dari lantai 2 dimana kelas mereka berada. Mereka segera berjalan menuju tempat parkir. Naeun pun mendengus pelan. Sebenarnya ia tidak ingin mengikuti ide gila kawannya ini. Tapi, sebagai sahabat yang baik, tak apalah menemani sekali.

**

“Woohyun, itu cewek yang kau bantu tadi pagi?” tanya Howon ke arah Woohyun. Woohyun menganggukkan kepalanya. Kemudian ia mengedipkan matanya. Howon pun terperangah melihat sikap Woohyun.

“Aku sepertinya mengenal perempuan itu.” Kata Howon.

“Yap, Son Naeun. Perempuan yang kemarin bertengkar dengan es beku disamping kita ini.” Kata Woohyun sambil tertawa. Myungsoo segera menolehkan kepalanya ke arah Woohyun.

“Apa? Kau suka dengan Naeun?!” teriak Myungsoo. Para perempuan yang baru saja keluar dari kelas 3-2 segera menolehkan kepalanya ke arah Myungsoo. Myungsoo pun menutup mulutnya. “Aniyo! Aku hanya asal mengucapkan.” Kata Myungsoo.

Para perempuan tersebut menganggukkan kepalanya. Namun, tampaknya mereka tak percaya dengan perkataan Myungsoo. Lantas mereka segera mengangkat bahu mereka lalu meninggalkan kelas mereka.

Myungsoo dan kedua pria disampingnya itu segera pergi meninggalkan tempat itu. Mereka segera menuju tempat parkir. Kemudian, Howon dan Woohyun memasuki mobil Howon. “Hoi, Myungsoo, kau benar-benar akan menggunakan sepeda itu?”

“Ya. Sial benar ibuku, memberikan sepeda seperti ini untuk ke sekolah.”

“Baguslah, pilihan Taeyeon ajumma sangat bagus.” Teriak Woohyun sambil tertawa. Dengan cepat mobil Howon meninggalkan tempat itu. Kemudian Myungsoo mendengus kesal.

Woohyun menutup kaca mobil Howon lalu tertawa sepuas-puasnya. “Ya, Kim Myungsoo turun derajat.”

“Hahaha. Biarkan saja dia. Mungkin ibunya marah setelah mendengar dia berkelahi dengan Son Naeun.” Kata Howon lalu merapikan rambutnya ke arah spion tengah mobilnya. Kemudian ia terdiam. “Bukankah itu Son Naeun?!” kata Howon sambil menunjuk kaca spionnya.

Woohyun yang penasaran pun melihat ke arah spion tengah mobil Howon itu. Kemudian ia menganggukkan kepalanya. Mereka segera menoleh ke belakang. Dilihatnya Naeun dan seorang sahabat Naeun tengah mengkayuh sepeda mengejar mobil mereka.

“Wah, Woohyun, jangan-jangan Son Naeun ingin meminta maaf padamu. Pak, tolong hentikan mobilnya.”

“Baiklah, tuan muda.”

Mobil itu segera dihentikan. Kedua perempuan di belakang itu juga ikutan menghentikan sepeda mereka. Woohyun segera turun dari mobil Howon.

**

“Yah! Mereka menghentikan mobil mereka. Pasti mereka tahu kalau kita mengikuti mereka!” teriak Eunji.

“Ya, sepertinya.” Naeun mengerem sepedanya. Kemudian ia memarkirkan sepedanya. Tak lama, ia melihat Woohyun turun dari mobil itu. Diikuti oleh Howon.

Woohyun menggeleng-gelengkan kepalanya. “Bagaimana bisa, seorang murid perempuan mengikutiku. Kenapa, Son Naeun?” tanya Woohyun lalu berjalan mendekati Naeun. Sedangkan Eunji langsung berteriak melihat Howon.

“Howon oppa!!!” teriak Eunji. “Ayo, berfoto denganku!!” teriak Eunji. Howon menggelengkan kepalanya. Ia sudah pernah berfoto dengan Eunji saat di kantin waktu itu. Kemudian ia meninggalkan Eunji dan berjalan ke arah Naeun.

Eunji pun menangis sejadi-jadinya. Sedangkan Woohyun dan Naeun? Woohyun mengedipkan matanya ke arah Naeun. “Hei, menjijikan. Aku tidak mengikutimu. Sahabatku lah yang memintaku.”

“Oh, ayolah, jangan berbohong. Ikutlah bersama kami, daripada kalian harus membawa sepeda-sepeda kalian?” kata Woohyun. Woohyun segera menarik tangan Naeun memasuki mobil Howon. Sedangkan Howon yang sedih melihat tingkah Eunji akhirnya pun menarik tangan Eunji memasuki mobil itu.

Howon segera melipat kedua sepeda milik Naeun dan Eunji ke dalam bagasi mobilnya. “Haft, haruskah aku membawanya?” tanya Howon pada dirinya sendiri lalu ia menutup bagasi mobilnya.

**

28 thoughts on “[Chapter 1] Hard to Love

    • Halooo kak citra!!^^wkwk. Aku sudah baca semua ff mu loh, karena aku pinkfinite shipper hihi. Awalnya aku memang ingin jadi author di ffindo tapi melihat sudah ditutup pendaftarannya, aku gajadi.-. Tapi gapapa lah^^

      • wah udah baca ffku jg? makasih yaa😀 ayo sering-sering kita share ff, kamu berbakat banget loh, aku suka ff kamu🙂
        iya sayang bgt pendaftaran udah ditutup.. tp sering share di blog ini jg gpp ntar aku bantu promosi deh😀

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s