[FF Freelance] Miracle (Ficlet)

ff10-miracle-edit

Title : Miracle | Author : bubbletaro

Rating : PG | Length : Ficlet | Genre : Romance, Angst

Cast : Park Chanyeol and Kim Hanmi (OC)

Note : This is my 2nd fanfiction! Thank you so much for reading and commenting!^^ NO silent reader and plagiator please. I hope you’re commenting! Chu~

-oOo-

Kim Han Mi’s POV.

Namaku Hanmi. Tidak, lebih tepatnya Kim Hanmi. Aku bersekolah di salah-satu sekolah ternama di Seoul. Ya, sebenarnya tidak bisa dikatakan bersekolah sih. Tapi aku tidak masuk sekolah karena alasan lain.

Ya, aku mempunyai sebuah penyakit ganas. Namanya leukimia. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan kematian di dunia. Tapi, apa boleh buat. Penyakit inilah yang menyebabkan aku keluar-masuk dari rumah sakit. Biasanya ketika di rumah sakit, aku selalu kebosanan setengah mati. Rasanya lebih enak kalau aku mati. Tapi, ya, aku masih ingin berkesempatan untuk hidup. Aku masih ingin melihat wajah kedua orang tuaku, teman-temanku, dan namja itu.

Ya, namja itu. Namja yang selalu membuatku tenang di rumah sakit. Namja yang selalu membuatku tersenyum ketika dia tersenyum. Namja yang membuatku ingin tetap hidup. Namja itu adalah seorang pasien dari rumah sakit ini juga. Walaupun aku tidak mengenalnya, aku sangat senang ketika berada didekatnya. Pertama kali aku melihat namja itu ditaman rumah sakit. Dan sekarang pun aku disana, masih melihati namja itu.

Namja itu sedang bermain bola dengan kedua kakinya. Ah…. sangat iri melihatnya! Aku yang menderita penyakit ini tidak bisa kemana-mana tanpa bantuan kursi roda. Tapi apa boleh buat, aku harus mensyukuri apa yang diberikan Tuhan kepadaku. Tiba-tiba, bola yang dimainkan namja itu menggelinding ke arahku. Aku pun berusaha untuk memungut bola itu, tapi namja itu sudah lebih dulu mengambilnya.

“Terima kasih,”ucap namja itu.

“Mwo? Untuk apa?” tanyaku.

“Untuk telah berusaha mengambil bolaku” namja itu tersenyum.

“Oh ne.. sama-sama,”

“Namaku Park Chanyeol,”

“Namaku Kim Hanmi. Kau bisa memanggilku Hanmi kalau mau. Salam kenal.” ucapku sambil menjabat tangannya.

“Salam kenal.” dia pun tersenyum kepadaku.

Park Chanyeol. Akan kuingat.

3:28 AM.

Ah! Aku tidak bisa tidur! Di rumah sakit tidak enak! Tempatnya sangat dingin dan dinginnya menusuk ke kulit. Ah.. aku berharap bisa cepat-cepat kembali ke rumah. Karena tidak enak di kamar, aku pun segera keluar—dengan kursi roda tentunya.

Dan aku pun melihat Chanyeol. Dia sedang berdiri di luar, memandangi langit. Aku pun langsung menghampirinya.

“Hai Chanyeol-ah,” sapaku sambil menempatkan kursi roda disampingnya.

“Oh.. kau, hai Hanmi-ah. Kau mengagetkanku,” balasnya—sedikit terkejut.

Ne? Ah, maaf. Aku tidak tahu,”

Gwenchana. Kenapa kau belum tidur?”

“Aku tidak bisa tidur, kau sendiri kenapa belum tidur?” tanyaku—lagi. Udara yang dingin membuatku sedikit memeluk diriku sendiri.

“Aku tidak bisa tidur juga. Lebih enak mengamati bintang-bintang ini,” dia menoleh padaku.

Chanyeol’s POV.

“Oh… arraseo.” sahutnya.

“Oh ya, ngomong-ngomong kenapa kau masuk rumah sakit ini?” tanyaku.

“Aku terkena penyakit leukimia. Aku sudah terbiasa keluar-masuk rumah sakit. Bagaimana denganmu?” ujarnya.

‘Ternyata dibalik wajah cerianya dia mempunyai penyakit yang cukup parah.’ batinku.

“Ah.. Aku hanya cedera saat bermain bola. Tapi sepertinya ini sudah sembu,h”

Dia pun melihat pergelangan kakiku yang dibalut perban.

“Oh, ya. Semoga kakimu cepat sembuh.”

“Kau juga,”

Hanmi’s POV.

Pagi yang cerah. Aku sangat senang! Aku pun segera pergi ke taman untuk bertemu Chanyeol lagi. Entah kenapa aku sangat senang melihat dia bermain bola, walaupun kakinya cedera.

“Chanyeol!” panggilku sambil melambaikan tangan.

“Oh.. Hai Hanmi!” Dia pun membalas lambaian tanganku.

“Langit sedang cerah ya!” ucapku padanya.

“Ya… Aku sangat senang melihatnya.”

“Ayo main bola! Aku ingin melihatmu bermain!” pintaku sambil melempar bola kepadanya.

Dia pun mulai memainkan bola itu dengan lincah. Ah, aku sangat senang melihatnya. Mungkin setelah dia sembuh dia akan menjadi pemain bola terhebat sedunia.

Tiba-tiba hujan mulai turun.

“Aneh, padahal langit sedang cerah.” ucapku.

Taman pun mulai sepi, hanya ada Chanyeol dan aku. Hujan pun turun semakin deras. Kulihat Chanyeol berlari ke gedung rumah sakit untuk berteduh.

“Ya! Cepat kesini! Kau tidak mau tambah sakit kan?” teriaknya.

Ne, chakkaman!” ucapku sambil mendorong roda kursiku lebih cepat, tapi sangat sulit karena tanahnya menjadi licin karena hujan. Hujan pun tambah deras. Ah… mungkin aku akan demam sehabis ini. Tapi aku senang! Baru kali ini aku bermain hujan, haha.

Tiba-tiba Chanyeol berlari kearahku. Dia pun menggendongku masuk ke gedung rumah sakit.

“Hei, apa yang kau lakukan?” tanyaku.

“Menggendongmu, bodoh! Kau akan demam jika terus-terusan dihujan seperti itu!” ucapnya sambil memanggilku bodoh.

“Aku tidak bodoh! Lagipula baru kali ini aku bermain hujan seperti itu.” ucapku setelah dia mendudukkanku di atas tempat tidurku.

“Kau bodoh! Terserah! Sana mandi, dan berganti bajulah!” perintahnya.

Karena aku sudah malas untuk berdebat dengannya, aku pun menuruti perintahnya.

Sehabis mandi, kulihat dia tidak ada lagi dikamarku. Aku pun langsung berganti baju. Tiba-tiba dia langsung masuk kekamarku.

“Ya!” teriakku.

“Ah! Mianhae!” dia pun langsung keluar dari kamarku lagi.

“Sudah selesai?” tanyanya dari luar.

“Sudah. Masuklah.”

Dia masuk kekamarku sambil membawa nampan dan dengan muka merah.

“Ini makanlah. Jangan sampai kau demam.” ucapnya lalu kembali kekamarnya.

“Kau ini cerewet sekali,” dengan kesal aku pun memakan bubur itu. ‘Untung buburnya enak,’ ucapku sambil tertawa dalam hati.

Chanyeol’s POV.

Ah! Harusnya aku mengetuk pintu dulu tadi. Bagaimana mukaku tadi? Kenapa pula yeoja itu menyusahkanku? Dan kenapa aku menjadi perhatian kepadanya. Entahlah. Aku tidak mengerti.

Hanmi’s POV.

Pagi yang cerah lagi. Aku pun langsung memegang keningku. Ah, panas! Sepertinya aku demam. Aku pun berusaha untuk bangun dari tempat tidur, tapi kepalaku terasa berat dan mataku berkunang-kunang. Siapapun tolong aku……

Chanyeol’s POV.

“Ah, kau sudah bangun rupanya.” ucapku saat melihat kelopak mata Hanmi terbuka.

“Dimana aku?” ucapnya—sambil berusaha bangun dari tempat tidur.

“Kau dikamarmu sendiri. Sepertinya kau demam, dan tadi kau pingsan!”

“Pingsan..?” ucapnya lemah.

“Ya, pingsan! Harusnya kau makan banyak. Lihatlah, akibat kau bermain hujan kemarin! Paboya!”

“Ne, ne, arraseo.. Maafkan aku.” ucapnya lemah—lagi. Yeoja yang kelihatan kuat ini bisa menjadi lemah juga ternyata.

“Ini, makanlah roti ini.” ucapku sambil memberikan sepotong roti kepadanya.

“Gomawo Chanyeol-ah.”

Sambil dia makan roti, kuperhatikan wajahnya. Mata yang indah, hidung yang kecil, dan bibir berwana pink yang lembut. Sangat cantik.

“Hm, Chanyeol?” panggilnya.

“Ne?” sahutku sambil tetap memandangi wajahnya.

“Kenapa kau memandangi aku seperti itu?” tanyanya.

“Ah? Ada sedikit sisa roti di sekitar mulutmu. Sini kubersihkan.” elakku.

Aku pun membatu membersihkan sisa roti di sekitar mulutnya dengan tisu. Tanpa sengaja aku tersentuh dengan bibir pinknya itu.

“Ah maaf aku tidak sengaja.” ucapku.

“Tidak sengaja apa?” tanyanya.

“Ani, ani.” dia tetap mengunyah rotinya, sedangkan aku hanya kebingungan untuk mencari bahan pembicaraan.

“Apakah kau mau keluar?” tanyaku.

“Kemana?”

“Kemana saja, mungkin kita bisa ke taman rumah sakit?”

“Baiklah. Tapi bantu aku mendorong kursi roda ya!” sahutnya—gembira.

“Em.. mungkin tidak usah memakai kursi roda. Sini aku bantu kau untuk berjalan”

Hanmi’s POV.

Jinjja? Baiklah.”

Dia pun merangkulku, dan membantuku turun dari tempat tidur. Setelah itu dengan kaki—yang masih tergolong lemah aku berjalan ke taman rumah sakit.

“Kita duduk di sana saja?” ucapnya.

“Oke!”

“Tamannya ramai. Mungkin karena ini hari sabtu ya?” tanyanya.

“Mungkin…” ucapku sambil mengamati bunga-bunga di samping kursi taman.

“Hei, itu ada es krim. Kau mau?”

“Mau! Terima kasih Chanyeol!”

Aku pun mengamati bunga-bunga itu lebih dekat. Aaah, rasanya ringan sekali. Aku pun berusaha mengambil bunga itu, tapi tidak sampai. Tiba-tiba Chanyeol datang lalu mengambil bunga itu.

“Ini, es krim untukmu.” ucapnya sambil memberikan es krim choco kesukaanku.

“Gomawo! Dari mana kau tahu kalau aku suka choco?”

“Eh? Hanya feeling. Hey, coba menghadap ke arahku.” pintanya, sambil menyembunyikan sesuatu pada tangannya. Apa?

“Waeyo?” aku pun menuruti permintaannya. Dia pun memakaikan bunga yg diambilnya tadi di telingaku.

“Gomawo Chanyeol” ucapku sambil tersenyum.

Chanyeol’s POV.

“Cheonma Hanmi” ucapku.

Kim Hanmi. Mungkin aku mulai menyukaimu saat ini.

Chanyeol’s POV.

Sesuatu yang berbulu ada di bawah hidungku. Ha…ha…ha…hatsyii!!

“Hahaha, kau sangat lucu jika bersin seperti itu.” ucap Hanmi sambil memegang bulu ayam.

“Whoa! Bagaimana kau bisa ada disini? Apa yang kau lakukan?” ucapku terkejut.

“Tentu saja dengan masuk pintu, bodoh! Cepat pergi mandi dan sarapan! Ayo-ayo palli!” ucap Hanmi sambil menggiringku ke kamar mandi.

Ah.. Pagi hari yang menyusahkan.

Setelah mandi, dia masih menungguku dengan duduk di atas tempat tidurku. Kulihat dia memakai dress berwarna peach selutut dan pita di rambutnya, dengan pipi yang merah merona. Senyumnya merekah saat aku melihatnya. Sangat cantik.

Hanmi’s POV.

“Ayo kita jalan-jalan! Palli-ya! Aku sudah mulai bisa berjalan sekarang.” ucapku padanya.

“Kemana?”

“Ayo kita keliling Seoul!” ucapku.

“Baiklah. Tapi jangan terlalu lama. Bisa-bisa kau demam lagi,” ujarnya, dan dengan spontan pun dia menggandeng tanganku.

Deg. Jantungku berdetak lebih cepat saat dia menggandeng tanganku.

Author’s POV.

“Wah! Daebak!” ucap Hanmi ketika mereka berada di sebuah festival.

“Makanannya ada banyak! Wah, Chanyeol! Kau mau apa? Disana ada topeng lucu! Ayo kita kesana!”

“Ne.ne…” ucap Chanyeol sambil tetap menggandeng tangan Hanmi.

Jantung Hanmi pun berdetak lebih cepat, dan mukanya mulai merah. Seperti banyak kupu-kupu terbang didalam dirinya.

“Hey, topeng ini bagus! Ada dua lagi, kau mau beli?” tanya Hanmi.

“Hah? yang mana?”

“Yang ini! Ya, ya , ya? Jebal..” rayu Hanmi.

“Ne, terserah kau saja,” ucap Chanyeol—menyerah.

“Wah, kalian pasangan yang sangat serasi.” ucap ahjumma penjual topeng-topeng itu.

“Aniya.. Kami bukan pasangan,” elak Hanmi.

“Yah… Lebih cocok kalau kalian menjadi pasangan! Terima kasih,” Hanmi hanya tertawa mendengar ucapan ahjumma itu sedangkan Chanyeol jadi salah tingkah.

“Oh ne.. gomawo ahjumma-ssi.” ucap Chanyeol.

“Hey, apakah kau tidak lapar? Ayo kita makan bulgogi disana” ucap Chanyeol.

Seketika Hanmi sangat semangat.

“Ne, kajja-kajja!”

“Kau sangat bersemangat ketika bertemu dengan makanan.’

Mereka pun masuk ke kedai makanan.

“Kau ini seperti anak kecil saja. Lihat, berceceran kemana-mana.” ucap Chanyeol sambil membersihkan mulut Hanmi.

“Ah….” Mereka berdua pun saling bertatapan, lalu langsung melanjutkan makannya masing-masing.

“Omo! Chanyeol, pemandangan disini sangat indah! Tempat rekomendasimu sangat bagus!” ucap Hanmi. Mereka sedang berada di Namsan Tower sekarang.

“Ya, Hanim, memangnya kamu belum pernah berkeliling Seoul?”

“Belum, hehehe. Soalnya aku keluar-masuk rumah sakit terus,” ucap Hanmi sambil tertawa. Sedangkan Chanyeol hanya mengangguk-angguk dan tersenyum melihat tingkah Hanmi.

KLIK!

Ekspresi Chanyeol saat itu pun telah diabadikan dengan sebuah foto.

“Ya,ya,ya, cepat hapus foto itu.. Ya..!” ucap Chanyeol sambil berusaha mengejar Hanmi yang berlari. Sedangkan Hanmi—pelakunya, terus menertawakan tingkah Chanyeol yang childish itu.

Tapi karena Hanmi yang memang ceroboh, mereka berdua menabrak tiang yang ada disana.

“Ya! Ahaha!” Hanmi tertawa sambil memegang keningnya, dan menunjuk-nunjuk Chanyeol. Bagaimana tidak, Chanyeol yang memang sudah tiang menabrak tiang juga.

“Ya! Berhenti tertawa!” ucap Chanyeol, kesal tapi senang.

“Tapi itu sangat lucu, Chanyeol! Ahahaha!”

“Yaaa! Kalau kau masih tertawa, aku akan mencium dirimu!” ancam Chanyeol—tapi karena Hanmi yang masih tertawa tidak mendengar hal itu.

“Ya! Aku tidak main-main!” Chanyeol pun mendekati Hanmi dan, mencium bibirnya sekilas.

“Puas?” ucap Chanyeol—innocent.

“YAAAA!” sembur Hanmi, lalu mengejar Chanyeol yang berlari menjauhinya.

Chanyeol masuk kedalam ruangan Hanmi, dan melihat Hanmi masih terlelap. Sebenarnya dia ingin minta maaf tentang semalam. Chanyeol yang masih memikirkan kejadian itu, melihat Hanmi yang terbangun.

“Ah.. Kau sudah bangun rupanya.” ucap Chanyeol.

“Apa yang kau lakukan disini?” sahut Hanmi—ketus. Entahlah.

“Aku mau minta maaf soal semalam. Mianhae Hanmi-ah,” Chanyeol mengatakan itu sambil menundukkan kepalanya—menyesal.

Gwenchana,”

“Aku menyukaimu. Apakah kau mau menjadi yeojachingu-ku?”

“Mwo?”

“Saranghae. Would you be mine?”

“Kau serius eoh?” mata Hanmi membulat, dan ekspresi wajahnya sangat terkejut.

“Ne.”

“Tapi……………………………………Ah! Nado saranghae Chanyeol-ah!” jawab Hanmi, dan mencium pipi Chanyeol. Ia terkejut, sekaligus senang.

“Tidak dibibir eoh?” godanya.

“Kan semalam sudaaah,” ucap Hanmi sambil tertawa.

“Ahaha… arraseo.”

—-

2 minggu kemudian.

Chanyeol’s POV.

Aku mendengar bahwa Hanmi sedang dalam masa kritis. Apa yang harus kulakukan untuknya? Kudengar kalau dia mendapat donor tulang sumsum dia akan selamat.

“Dokter, saya siap memberikan tulang sumsum saya.” ucapku. Tekadku sudah bulat.

“Benarkah? Baiklah, kita sudah dapat pendonor. Cepat siapkan operasinya.”

Maaf Hanmi-ah, ini adalah jalan yang terbaik. Aku sangat mencintaimu. Jeongmal saranghae, Hanmi-ah.

Author’s POV.

“Kau sudah bangun eoh?” ucap Hanmi’s eomma. Eommanya langsung terbang dari LA begitu mendengar kabar Hanmi.

“Dimana Chanyeol?” kalimat itu terucap begitu saja dari mulut Hanmi.

“Apakah kau sudah siap untuk menghadapi kenyataan?”

“Waeyo eomma? Apakah terjadi sesuatu terhadap Chanyeol?”

“Mianhae, Hanmi-ah. Eomma sudah berusaha untuk menghentikan dia yang ingin mendonorkan tulang sumsumnya padamu. Dialah yang bersedia mendonorkan tulangnya untukmu..” ucap eomma Hanmi dengan menahan isak tangis.

“Mwo? ANDWAE!!!! CHANYEOL-AH!!!!!! KAU TIDAK BOLEH PERGI!!! KAU TIDAK BOLEH MENINGGALKAN AKU SENDIRIAN!!!” kristal bening pun mulai berjatuhan diatas pipi putih Hanmi. Eommanya pun langsung memeluknya.

***

Hari ini tepat 2 tahun atas kematian Chanyeol. Hanmi sedang duduk ditaman, seraya memegang foto Chanyeol pada saat di Namsan Tower waktu itu. Isak tangis pun mulai terdengar dari dirinya.

Ya, Park Chanyeol, apakah kau bisa mendengarku?

Apakah kau tau, bahwa aku sangat – benar-benar – mencintaimu?

Apakah kau tau itu, Chanyeol?

Apakah aku harus terjun ke sumur untuk membuktikkan bahwa aku mencintaimu? *hahaha, author ketawa* *abaikan*

Aku berharap kau tenang disurga sana.

Aku…… aku…. sangat-sangat mencintaimu.

Aku ingin berada dipelukan hangatmu lebih lama lagi.

Andai saja… Aku bisa memutar waktu kembali.

Aku menyesal, Chanyeol. Aku sangat berharap kau berada disampingku sekarang, menggenggam tanganku.

Saranghae Chanyeol-ah.

 

Bulir-bulir kristal air pun semakin deras mengalir di pipinya. Tiba-tiba, sebuah bola menggelinding kearahnya. Dia pun berusaha mengambilnya, tapi tidak bisa, ia tidak tahu kenapa. Seorang namja yang mempunyai bola itu pun menghampirinya, dan mengambil bola itu.

“Gomawo,” ucap namja itu.

“Mwo? Untuk apa?” tanya Hanmi kebingungan.

“Karena sudah berusaha mengambil bolaku,”

“Oh.. ne.. sama-sama.”

“Namaku Park Chanyeol,” Ucap namja itu sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.

“Namaku Kim Hanmi. Kau boleh memanggilku Hanmi jika mau. Salam kenal,” ucap Hanmi seraya mengulurkan tangan juga, untuk menjabat tangan namja itu.

“Salam kenal.”

3 thoughts on “[FF Freelance] Miracle (Ficlet)

  1. bkane dnor sumsum g smbrang org,
    N mjd pndnor sumsum g mesti mati
    Kekekeke
    #abaikan
    #tlalu make logika

    Over all bagus
    🙂

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s