[6] The Idol (END)

the-idol2

The Idol

written by bluemallows

Main Cast: 2PM’s Lee Junho & Miss A’s Bae Suzy || Support Cast: f(x)’s Krystal Jung and others || Genre: Romance, Life || Length: Chaptered || Rating: PG-13 || Disclaimer: The plot is completly mine || Credit Poster: kihyukha

            Waktu berlari begitu cepat hingga tidak ada yang menyadari telah ada 36 bulan dan 3 tahun yang berlalu setelah skandal besar yang meredupkan nama seorang Lee Junho. Meski beberapa minggu setelah Junho mengumumkan pengunduran diri dari agensinya, akhirnya terbongkar bahwa Krystal yang membongkar hasil wawancara itu lewat kedai kopi Muse yang ternyata adalah miliknya.

Setelah skandal itu, acara We Got Married Junho dan Krystal tidak jadi ditayangkan di televisi, Junho tidak melanjutkan promosi mini-album keduanya, dan membatalkan debut Jepangnya. Akhirnya, Lee Junho memilih untuk menjalankan kewajibannya dengan masuk ke dalam wajib militer dan keluar tahun lalu.

Sebagian dari Emperor—fans Junho—memilih untuk pergi dan mencari idola baru yang lebih muda, tampan, bersinar, dan sebagainya. Mereka yang dulunya memuja-muja Junho kini dengan mudahnya berpindah hati kepada orang lain. Itu artinya, hanya karena mereka mencintai seorang Junho, bukan berarti Junho tidak dapat melukai mereka.

Tetapi tidak semuanya bertindak sama, Suzy misalnya. Wartawan jadi-jadian itu akhirnya menuntaskan keinginan Ayahnya untuk meraih gelar Dokter. Ia masih sering bertukar email dengan adik mantan manajer Junho, dan masih menempel foto-foto Junho di permukaan tembok kamarnya. Dan ini juga berarti, ketika kau telah benar-benar jatuh cinta pada seseorang, tidak berarti kau dapat melepaskannya dengan begitu saja—meski ia telah melukaimu sekalipun.

Beruntung saja, Suzy atau ayahnya tidak mengadukan permasalahan Junho yang melakukan tindak kekerasan itu pada jalur hukum. Pihak-pihak fans yang telah berpaling dari Junho telah berulang kali mendesak Suzy dan ayahnya untuk melaporkan perihal kejadian itu, tetapi gadis itu tetap bersikeras untuk tidak memperpayah keadaan Junho.

Masih dengan ambisinya, gadis itu menarik koper kecilnya dan masuk ke dalam kabin pesawat dan menetapkan Seoul sebagai destinasinya. Tempat tabloid milik Ayahnya masih terbit setiap minggunya, tempat ia dilahirkan, dan tempat ia bertemu dengan idola satu-satunya.

Menurut berita yang beredar, Junho akan menyalakan kembali namanya yang sempat padam lewat agensi yang sama. Sudah ada pengumuman resmi, dan cukup banyak respon-respon positif yang timbul dari masyarakat. Baik mereka yang dulu pernah menjadi fans Junho, yang hingga kini tetap manjadi fansnya, maupun yang hanya sekadar tahu tentang Junho.

Jadi, Suzy akan melintasi daratan, benua, bahkan samudera untuk menyaksikan Junho kembali berada di bawah sinar lampu panggung.

            Tangan kanan gadis itu memutar kunci dan memasuki apartemen yang dibelikan ayahnya tiga tahun yang lalu untuknya. Ia segera melompat dan merebahkan dirinya di atas sofa empuk yang masih baru dan lama tak tersentuh. Matanya mengedarkan pandang dan melihat berbagai macam barang-barang bawaannya yang sama sekali belum berubah dari tearkhir kali ia menyentuhnya, bahkan barang-barang itu telah mengumpulkan debu.

Ia mengambil ponselnya dan mengirim email pada Jia.

Sender             : Suzy, Bae

            Receiver          : Jia, Meng

            Subject             : Dinner

            Hei, aku baru saja sampai di apartemen Korea milikku. Bagaimana jika nanti malam kita makan bersama di food court dekat kantor Ayahku? Aku juga ingin membicarakan tentang konser yang akan diadakan Junho besok lusa❤

            Selang semenit, sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponselnya.

Sender             : Jia, Meng

            Aku akan menjemputmu sekarang. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu, Dokter. Haha!

Suzy tersenyum  kecil ketika membaca pesan dari sahabatnya itu. Ia segera turun menuju lobby dan beberapa waktu kemudian ia melihat mobil warna kelabu dengan gadis berwajah oriental yang melambaikan tangan padanya.

Setelah menyetir hingga apartemen milik Jia, Suzy pulang dengan badan yang hampir tidak utuh lagi rasanya. Jia meminum bergelas-gelas soju, dan akhirnya ia tidak kuat mengangkat kepalanya sendiri. Ini pertama kalinya mereka bertemu secara langsung, tapi rasanya mereka bertemu hampir setiap hari. Oh, tentu saja Junho yang secara tidak langsung mempersatukan mereka sebagai sahabat.

Suzy duduk di atas kursi meja kerja di dalam kamarnya. Ia ingat saat dulu ia menghabiskan malam-malam untuk menulis berita yang amburadul tentang Junho. Tangannya meraih ponsel dan mengetik pesan singkat bodoh tanpa mengharap balasan. Ia bahkan tidak tahu apa nomor yang pernah meneleponnya berkali-kali itu masih aktif atau tidak.

To        : Junho, Lee

Ah, selamat ya, kau akan menjadi artis lagi besok lusa! Aku bisa memastikan aku ada di sana, Junho!

Fansmu, BSJ.

Ia melempar ponselnya di atas ranjangnya dan menatap langit-langit kamarnya sambil mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Selang beberapa menit, ponselnya bergetar panjang—ada panggilan masuk. “Mm, halo?”

“Bae Suzy?” Rasanya ia tidak asing lagi dengan suara itu. Tetapi ia juga tidak ingat kapan terakhir kali ia mendengar suara bas yang menggetarkan gendang telinganya itu. “Ini aku, Junho. Lee Junho.”

Mata gadis itu membelalak dan ia segera bangkit dari tidurnya. “Apa? Junho? Ada apa?” Ia gugup, senang, sekaligus takut. “Oh, sebelumnya, maaf mengganggumu.”

Terdengar suara kekehan Junho yang renyah. “Justru aku yang mengganggumu. Tapi terimakasih untuk pesanmu,” Nafasnya bahkan terdengar di ujung telepon. “kurasa aku perlu meminta maaf soal kejadian waktu itu. Apa yang harus kulakukan untuk menebusnya?”

Suzy menelan ludahnya sendiri sambil berpikir. “Tapi kau tidak perlu melakukan itu, melihatmu di atas panggung saja sudah membuatku senang, tahu.”

“Jangan begitu. Aku justru merasa tidak enak denganmu. Bagaimana kalau makan malam besok di restoran kimci Apgujeong itu?”

Diam-diam, Suzy tersenyum. “Oke.”

“Oke,” Junho menyahut lagi. “Maaf, dan terima kasih.”

Sambungan berdurasi satu menit delapan detik itu terputus. Malam itu, Suzy tidak bisa berhenti tersenyum dan mengecup layar ponselnya sendiri.

Kedua kaki jenjang Suzy yang dialasi oleh sepasang high heels warna hitam pekat itu melangkah masuk ke dalam kedai kimchi yang dimaksud Junho kemarin. Lampu-lampu warna kuning menerangi tiap-tiap sudut ruangan itu hingga seorang laki-laki melambaikan tangannya ke arah Suzy. Pria itu tersenyum tipis dan Suzy membalasnya.

“Hai,” Sapa Junho sambil menjabat tangan Suzy. “Lama tidak berjumpa ya?”

Suzy tidak dapat menahan giginya yang memaksa untuk tampil di hadapan Junho. Ia mengangguk kecil dan bertanya, “bagaimana kabarmu?” Matanya memperhatikan Junho yang ada di hadapannya, ia hanya mengenakan kaos oblong dan jins usang tanpa kacamata hitam yang biasanya menggantung pada daun telinganya.

“Baik, tentu saja.” Sahut Junho. “Bagaimana pekerjaanmu? Kau sudah lulus kuliah, kan?”

Gadis itu mengambil pensil dan menulis menu pesanannya di atas kertas dan memberikannya pada pelayan. “Aku membuka praktek di London. Menjadi dokter ternyata tidak semenyebalkan itu.” Ia terkekeh ringan. “Ehm, kau, masih sering pergi ke Muse?”

Kepala Junho menggeleng pelan sambil menyelipkan senyum kecil pada bibirnya mengingat kejadian tiga tahun lalu tentang Krystal yang secara harafiah menghancurkan karirnya. “Kau ingin menanyakan tentang hubunganku dengan Soojung atau apa?”

“Tidak, tidak. Aku hanya sekedar bertanya.”

“Yaa, sebenarnya sesekali aku datang ke sana. Aku tidak mencari Soojung, tapi mencari aroma kopi di sana.” Junho menghela nafas sejenak. “Soojung sedang naik daun, sekarang kan? Aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Tapi, aku memaafkannya.”

Pelayan laki-laki dengan seragam rapi itu meletakkan pesanan Junho dan Suzy di atas meja. Kimchi dengan asap yang masih mengepul. “Kau tidak memakai kacamata hitam.. atau sesuatu lain yang dapat menyamarkan identitasmu lagi?” Akhirnya gadis itu melontarkan pertanyaan itu.

Junho tertegun beberapa detik, kemudian menggeleng kembali sebagai jawaban. “Kurasa orang-orang sudah tidak terlalu peduli lagi denganku.” Ia mengambil kimchi dengan sumpit dan melahapnya. “Jadi kurasa aku tidak perlu melakukan segala penyamaran itu lagi.”

Akhirnya Suzy memilih diam dan memakan kimchi bagiannya. Tidak ada yang kembali berbicara, setiap detik hanya diisi kecanggungan dan suara denting sumpit yang bertabrakan dengan piring kaca atau pelayan yang meneriakkan menu pada koki di dapur.

“Kau punya acara malam ini?” Junho meneguk air dari botol air mineral kecil di tangannya.

“Hm? Kurasa tidak.”

Satu sudut bibir Junho terangkat dan membentuk half-smile yang begitu menawan dan menggoda. “Kau mau ikut acara rehearsal-ku untuk konser besok?”

Suzy yang baru saja menelan kimchi yang telah dilumatnya mendadak tersedak dan terbatuk. Junho hanya terkikik dan mengulurkan botol air untuk gadis itu. “Apa? Rehearsal untuk konser besok?” Bagaimana gadis itu bisa menolaknya? Barangkali ini kesempatan sekali seumur hidup untuk menonton rehearsal idola terbesar dalam hidupnya.

“Kurasa kita datang terlalu awal,” Junho tertawa sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal. Ia mengamati seisi ruangan konser dengan beberapa orang di atas panggung yang sedang mengatur pencahayaan untuk acara besar besok.

Suzy tidak memperhatikan perkataan Junho, ia memilih untuk pergi ke bagian pinggir bangku penonton dan duduk di sana. Lelaki itu berjalan menyusul dan duduk di persis di sebelahnya. “Kenapa duduk di sini? Kau bisa berada di atas panggung sana, melihatku dari dekat saat berlatih, kan?”

Suzy hanya tersenyum dan matanya menerawang lurus ke atas panggung. “Aku punya dua alasan untuk tawaranmu itu,” Ia menarik nafas kemudian mengeluarkannya kembali. “Pertama, tiga tahun yang lalu, aku duduk persis di sini untuk menonton showcase-mu. Dan kedua, idola selalu tampak sempurna dari kejauhan, bukan?”

Tawa Junho pecah ketika menyadari Suzy telah menyindirnya dengan mengutip perkataannya dulu. “Kurasa kalimat itu benar juga. Segalanya memang tampak begitu indah dari kejauhan.” Lelaki itu menggigit bibir bawahnya, ia tak lagi tertawa. Ekspresinya berubah serius. “Aku hanya tidak bisa membayangkan jika aku tidak dapat tampil sempurna di atas panggung lagi. Aku hanya khawatir jika kau melakukan kesalahan. Aku khawatir jika—“

“Ssh, sudahlah.” Ujar Suzy sambil meletakkan telunjuknya pada bibirnya sendiri. “Tempatmu memang di atas panggung, Lee Junho. Kau dilahirkan untuk menjadi idola, dan kau tidak mungkin gagal.”

Junho akhirnya ikut mengamati panggung dan lampu-lampu sorot yang sedang bekerja. “Sejak beberapa malam kemarin aku hanya terus berpikir, bagaimana jika tidak ada orang yang mau menontonku, bagaimana jika mereka justru membenciku, atau pertanyaan ‘bagaimana jika’ lainnya.” Kedua telapak tangannya mengusap wajahnya. “Aku hanya khawatir.. bagaimana jika aku kehilangan semua penggemarku? Seorang artis tidak ada artinya tanpa penggemar, tahu.”

Suzy mengangkat satu sudut bibirnya. “Kau menyadarinya sekarang?”

Pria itu bergumam mengiyakan. “Beberapa orang berkata bahwa fans hanya sementara saat kita berada di puncak kejayaan, tapi sebagian dari fans akan selamanya ada untuk idolanya,” Ia terdiam sejenak. “Aku membutuhkan penggemarku. Aku membutuhkanmu.”

Kini gadis itu menoleh ke arah Junho. Melihatnya dari samping, melihat laki-laki itu menatap lurus ke atas panggung. Ia dapat melihat sorotan kerinduan yang begitu besar pada satu bola matanya yang terlihat. Sunyi kembali memerangkap mereka berdua. Junho tidak bergerak, hanya bernafas tenang dan teratur. Dan Suzy, tatapan matanya masih terpaku pada sosok Lee Junho. Akhirnya, gadis itu mendekatkan bibirnya dan mengecup pipi lembut lelaki itu.

Spontan Junho menoleh dengan memegang pipi bekas bibir Suzy. “A—ada apa?” Ia tidak dapat menyembunyikan rona merah pada wajahnya yang putih. Sorot matanya menyiratkan tanda tanya besar.

“Aku pernah mencoba mencium pipimu dulu,” Suzy bergumam dan terkekeh geli. “Dan kau tahu? Rasanya seperti kertas.”

Junho hanya tersenyum ketika menangkap maksud perkataan Suzy. Ah, jika itu maksudnya, ia yakin sudah ada ribuan gadis yang mencoba untuk menciumnya dan mendapatkan rasa kertas. Ia menatap dalam kedua iris gadis di hadapannya. Rasanya ia ingin menerobos masuk ke dalamnya dan menjelajahi isi lubuk hatinya, dan mengerti setiap yang dipikirkannya. Akhirnya ia meraih tengkuk gadis itu dan melabuhkan bibirnya pada milik Suzy beberapa waktu dan melepaskannya kembali.

Gadis yang hanya berjarak beberapa tahun lebih muda dibanding Junho hanya diam. Tidak dapat berbicara sepatah kata pun. “Bagaimana rasanya?” Junho memasang senyum jenakanya dan bangkit dari tempat duduk. “Oke, aku harus memulai rehearsal-ku malam ini.”

            Seluruh tiket konser telah diborong habis oleh fans, penonton yang ada di kelas festival harus saling berdesakan demi bertemu kembali dengan seorang Lee Junho. Tidak ada satu pun bangku yang kosong di ruangan konser itu.

Tepat pukul setengah delapan malam, konser itu dimulai. Junho muncul ke atas panggung dengan jaket baseball warna merah andalannya dengan kacamata hitam yang menggantung pada daun telinganya. Tangan kanannya mencengkeram mikrofon dan seluruh tubuhnya kembali menari di bawah cahaya panggung.

Seluruh hasrat yang dipendamnya selama tiga tahun akhirnya terpenuhi. Namanya yang telah terkubur bangkit kembali malam itu. Semuanya berjalan lancar. Lautan lightstick berwarna kuning—warna identitas Junho—terus menyala sepanjang konser.

Pada penghujung acara, ia akhirnya mengambil handuk dan mengusap wajahnya yang berkeringat. “Hai, aku merindukan kalian semua.” Ujar Junho dengan sedikit canggung. Kemudian fans yang didominasi oleh gadis-gadis mulai berteriak-teriak, termasuk Suzy yang duduk di bangku kemarin. “Aku rasa malam ini aku punya kesempatan untuk kembali muncul di dunia industri musik Korea.” Ia mengedarkan pandang dan tersenyum. “Kalian mau membantuku kan?”

Pekikan-pekikan Empresses kembali membahana pada gedung itu. “Sungguh, selama tiga tahun belakangan ini banyak sekali pilihan-pilihan yang kuambil; berhenti menjadi artis, masuk wajib militer, hingga akhirnya aku kembali lagi ke atas panggung. Aku, Lee Junho, menyukai pilihan-pilihanku.”

Ia menurunkan mikrofon dan berdeham sejenak, kemudian menempelkan mikrofon pada dagunya kembali. “Dan kalian, kalian memilih untuk tetap mendukungku, berteriak untukku, atau mungkin.. menangis bagiku. Aku tidak tahu kenapa kalian memilih semuanya itu.” Junho mengulas senyum kembali. “Oke, aku menyukai pilihan kalian untuk selalu ada untukku.”

Satu-satunya manusia yang berada di panggung itu menoleh ke kiri dan menunjuk seseorang di sana. “Dan khususnya kau, Bae Suzy, kuharap kau juga menyukai pilihan-pilihanku,” Pemuda itu terkekeh dan tidak dapat menyembunyikan rona merah pada wajahnya. “terutama ketika aku memilih untuk jatuh cinta padamu.”

Aku benar-benar menyukai pilihanmu, Lee Junho. Sungguh.[]

            Note: Oke, akhirnya setelah sekian lama bikin FF dengan pairing Junho-Suzy, aku rasa FF ini yang punya ending yang paling happy hoho. Sebelumnya, terima kasih buat readers yang bisa baca part terakhir ini, karena itu berarti kalian sudah menjadi good readers yang meninggalkan komentar di setiap part (dan itu berarti juga menyemangati saya :D) Jadi, jangan kapok baca FF tulisanku ya!

41 thoughts on “[6] The Idol (END)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s