Pray For Love Part 1

pray-for-love

Title: Pray For Love Part 1

Author: Keyindra

cover by Hyukhyukjaejewels, credit by Yoora art design

Cast: Taeyeon SNSD , Yesung Super Junior,Victoria f(x), Kyuhyun Super Junior.

Genre: Romance, sad, family, marriage life

Disclaimer: this FF is owned by my self,  all cast borrow by GOD, The Family, and SM Entertaiment

Dont copy paste them without my permission.

So please don’t be a silent readers.

Happy Reading…:)

*&*&*&*&*&*&*

“ketika cinta datang secara tiba-tiba. Hal apa yang harus kau lakukan menerimanya atau justru kembali pada masa lalumu yang akan menjadi bagian memori perjalanan dalam kehidupanmu?.”

“saat berada diantara dua pilihan. mana yang akan kau pilih cinta yang sekarang kau temui atau cinta masa lalu dalam hidupmu?.”

*&*&*&*&*&*&

Salju pertama diawal musim dingin ditahun ini dibagian bumi belahan utara. Balutan busana khas musim dingin saat ini menjadi trend diberbagai kalangan yang berlalu-lalang menyambut datangnya musim dingin nan indah disalah satu megapolite city terbesar didunia. Paris. Lelaki itu berjalan seraya mengumbar senyum tulus diwajahnya. Satu tangannya membawa sebuket bunga yang ia persembahkan untuk seseorang yang telah berjanji padanya. pandangan matanya masih saja berpusat pada sebuket bunga mawar putih yang ia pegang yang akan ia persembahkan pada sang gadis tercinta.

Lelaki tampan yang memiliki senyum khas itu berjalan cukup terburu mengejar suatu janji yang ia ingin tepati dengan seseorang. Kim Jongwoon nama lelaki itu. Lelaki yang berstatus mahasiswa itu saat ini berlari kecil menyeberangi jalanan Paris yang cukup ramai oleh pejalan kaki maupun orang yang berkendaraan.

Senyuman terpatri diwajahnya saat kedua manik matanya menatap suatu tempat yang mereka berdua sepakati untuk bertemu.

 

Les Deux Magots Cafe. Place Saint-Germain des Prés, Paris.

Satu jam lebih berada didalam cafe menikmati suasana musim dingin dari dalam tempat tersebut membuat ia sedikit bosan untuk menunggu. Victoria Song atau gadis yang bernama asli Song Qianie duduk bersandar di kursi dengan kedua tangan dilipat di depan dada. Keningnya berkerut dan matanya menyipit menatap lekat-lekat ponsel yang tergeletak di meja kerjanya. Ia menggigit bibir dan tidak habis pikir kenapa ponsel berwarna hitam tersebut tidak berdering, tidak berkelap-kelip, tidak bergetar, tidak melakukan apa pun!.

Ia memutar kursi menghadap jendela besar dan memandang ke bawah, memerhatikan mobil-mobil yang berseliweran di jalan raya kota Paris dengan tatapan menerawang. Langit sudah gelap. Ia melirik jam tangan dan mendesah. Jam tujuh lewat. Sebenarnya apa yang dila mungkin lupa dengan keadaan gadisnya saat ini dan melupakan acara kencan malam ini?.

“Ke mana saja kau?” desis Victoria sambil mengetuk-ngetuk ponselnya dengan kukunya yang dicat pink.

“Kau bicara dengan ponsel?.”

Victoria mengangkat wajah dan menoleh. Lelaki yang hampir membuatnya keki untuk menunggu, tersenyum hangat nan manis diepan matanya. Kim Jongwoon nama lelaki itu tersenyum tanpa rasa bersalah saat memandang gadisnya mengerucut lucu tanda berkesal hati. Kim Jongwoon lelaki tampan nan manis dengan mata hazzle nan sipit berwarna coklat  berusia 23 tahun, 3 tahun lebih tua daripada Victoria Song. Tapi secara fisik lelaki itu tampak seperti lelaki remaja yang membuatnya digilai oleh   mahasiswi dikampusnya.

“sudah selesai acara pertemuan dengan dosennya?.” Tanya Victoria ringan sambil mencondongkan tubuh ke depan, menumpukan kedua siku di meja dan bertopang dagu. Setelah lelaki itu duduk tepat dihadapannya sambil menyesap cappuchino yang baru saja ia pesan beberapa menit yang lalu.

“sudah. Dan kabar baiknya aku datang kemari untuk menemuimu dan merayakan anniversary kita yang pertama. Apa kau tak bahagia bertemu dengan kekasihmu ini?.”

“biasa saja.” jawab Victoria ringan diiringi selingan tawa yang menghiasi bibir indahnya. Jongwoon menggeleng pelan sambil tertawa, ia sudah hapal dengan kekasihnya yang berpura-pura acuh namun masih tetap ingat hari jadi mereka dan memperingatinya untuk pertama kalinya.

happy anniversary!.” Ujar Jongwoon bahagia. Lelaki itu kemudian menunjukkan sebuah benda yang diyakini sebagai benda yang selalu menjadi favorit wanita. Sebuket mawar putih dimusim dingin untuk gadis spesial yang ada dihatinya. Menggenggamkan bunga tersebut pada tangan wanitanya.

Lagi dan lagi Victoria terdiam membisu, mulutnya sedikit terbuka menampakkan keterkejutannya pada sosok yang sangat ia sulit tebak. Matanya tidak berkedip mengamati orang itu. Aneh… Ia menyadari dirinya tidak bisa mengalihkan pandangan dari lelaki bernama Kim Jongwoon tersebut. Victoria ternganga seketika saat kedua manik matanya menatap sebuah buket bunga yang kini berada dalam genggaman tangannya. Seharusnya lah ia yang memberikan kejutan pada kekasihnya bukan malah ia sendiri yang terkejut dengan kekaihnya itu.

“Terimalah bunga ini untukmu!.”

“ayo kita pergi. Hari sudah malam dan aku lelah seharian. Aku ingin pulang dan tidur. Aku sudah sedikit jenuh dengan acara siaran radio.” Lanjut lelaki itu, satu tangan yang lainnya menarik pergelangan tangan Victoria yang membuat gadis itu secara diam-diam tersenyum geli akibat perlakuan yang ia dapat kekasihnya. Dengan senang hati ia menerima uluran tangan tersebut dan bergandengan pelan layaknya sepasang kekasih lainnya ditemani langit malam, disebuah kota dibarat daya eropa bernama Paris.

Dua puluh menit kemudian, Jongwoon dan Victoria sudah berada dalam lift kaca yang membawa mereka naik kelanayai dimana flat apartement tempat dimana Victoria tinggal. Jongwoon  berdiri membelakangi pintu lift dan menikmati pemandangan malam kota Paris yang terbentang di depan mata. Pada awal ia tinggal dan bersekolah di Perancis 6 tahun lalu saat ia baru saja lulus dari sekolah menengah atas di Seoul, ia memutuskan untuk pindah ke Paris seorang diri,lepas dari kedua orang tuanya. Meski tergolong keluarga konglomerat dan terpandang Jongwoon menutupi identitasnya sebagai salah satu pewaris resmi perusahaan milik keluarga Kim tersebut. ia lebih memilih untuk pergi menyendiri dan membiayai hidupnya seorang diri. Bukan apa-apa memang jika ia lebih memilih untuk melakukannya sendiri daripada ketergantungan hidupnya pada orang tua.  Sejak saat itu Paris menjadi hidupnya. Dan Sejak pertemuannya pula dengan gadis campuran china-korea bernama Song Qianie, hidupnya menjadi lebih berwarna dan terlebih lagi gadis itu menjadi bagian dari hidupnya.

Bunyi denting halus membuyarkan lamunan Jongwoon. Mereka sudah tiba di lantai tempat dimana Victoria tinggal. Victoria keluar dari lift dan melambaikan tangan kepada Jongwoon. “selamat malam mimpi yang indah.” Jongwoon mengacak pelan poni rambut Victoria lalu kemudian berbalik arah untuk kembali lagi masuk lift yang ia tumpangi. Namun sebelum ia pergi melangkahkan lagi kakinya Jongwoon terhenti sejenak dan terpaku seketika saat Victoria mendaratkan sebuah kecupan hangat dipipinya sebagai teman mimpi dimalam ini.

“mimpi indah juga Kim Jongwoon oppa.” balasnya tersenyum manis.

*0*0*0*0*

“sekarang aku masih dijalan..hari ini aku melakukan jadwal praktikum dengan asisten dosen yang berada dirumah sakit..terserahlah..aku lelah dan cepat ingin sampai rumah.”

Kim Taeyeon melangkah perlahan. Sebelah tangannya memegang ponsel yang ditempelkan ke telinga, dan tangan yang sebelah lagi mengayun-ayunkan tas tangan kecil merah. Ia mengembuskan napas panjang dengan berlebihan dan mengerutkan kening. Saat ini orang terakhir yang ingin diajaknya bicara adalah Lee Sunkyu selaku teman satu flat nya.

“sunkyu-aa. Sudah dulu. 20 menit lagi aku akan kembali ke flat apartement. Aku ingin cepat-cepat beristirahat.”

chakaman Taeyeonie…” henti Sunkyu.

“Taeyeonie…kudengar kau akan pergi ke Perancis?. Apa kau akan menetap disana dan pindah dari Seoul?.”

“ya!. Pemikiran bodoh apa itu?. Siapa yang bilang?. Aku akan pergi ke Paris untuk mengunjungi orang tuaku bukan untuk menetap disana?. Lagipula Seoul lebih nyaman daripada Perancis?.” Pekik Taeyeon kesal.  Taeyeon menyela ucapan Sunkyu dan langsung menutup telepon. Sekali lagi ia mengembuskan napas panjang, lalu menatap ponselnya dengan kesal. Kepalanya sudah berdenyut-denyut, ditambah lagi spekulasi ambigu yang diutarakan oleh temannya.

“Paris, Perancis??..sebenarnya apa yang terjadi dengan kota tersebut?. apakah ia harus mengunjungi kedua orang tuanya yang berada di Paris?. Siapa yang menyuruh mereka untuk menetap di Paris. Bukankah di Seoul jauh lebih enak, tidak saling terhalang jarak dan waktu pula.”

Kenapa hari ini muncul banyak masalah yang tidak menyenangkan? Tadi pagi ia sudah bermasalah dengan asisten dosen pembimbing praktikumnya, kemudian diomeli oleh ibunya sendiri dan akhirnya harus pulang selarut ini. ditambah lagi dengan rengekan sang ibu yang mneyuruhnya untuk pergi ke Perancis. Taeyeon semakin kesal begitu mengingat apa yang sudah dialaminya sepanjang hari. Tapi ia terlalu lelah untuk marah-marah. Seluruh tulang di tubuhnya terasa sakit dan otaknya sudah tidak bisa disuruh berpikir. Lagi-lagi ia mengembuskan napas panjang dan menggerutu tak jelas sepanjang jalan.

Taeyeon menyeberangi jalan dengan langkah cepat, secepat yang mungkin dilakukan sepasang kaki yang belum beristirahat selama delapan jam terakhir, dan masuk ke toko itu. Mungkin sepotong chese cake bisa menenangkan hatinya. Setelah memberi salam kepada bibi pemilik toko yang sudah lama dikenalnya, toko cake yang selama ini menjadi langganannya.

“permisi.“ ucap Taeyeon sopan sebelum matanya beralih pandang pada sepotong chesee cake yang terpampang jelas didepan mata. ia meneguk liurnya karena sudah tergoda akan cake tersebut untuk segera bertemu dengan lidahnya.

“aku mau kue tersebut ahjumma!.” Bukan hanya suara Taeyeon saja yang meminta untuk diberikan kue tersebut. melainkan ada suara lain dari belakang Taeyeon yang sama juga menginginkannya. Taeyeon menoleh sejenak mengangkat wajahnya bingung dan menatap siapa orang yang mempunyai selera sama dengannya.

“berapa ahjumma?.“ oh, bagus sekali. Lelaki dengan senyum tanpa dosa dan tanpa rasa bersalah tersebut menggunakan senjata senyuman untuk menghadapi orang-orang adalah senyum yang manis dan sopan. Berbeda dengan keadaan hati Taeyeon yang diliputi kedongkolan. Seharian penuh ia mempunyai hari yang sial. Ditambah lagi kue incarannya menjadi milik orang lain.

“gamshamida ahjumma.”

Laki-laki bertubuh tinggi yang berdiri di sana terlihat berantakan. Rambutnya yang sedikit pirang nan berantakan, sweater krem dengan syal hitam bertengger manis dilehernya. Dengan mata telanjangpun semua orang dapat menebak jika lelaki itu tengah kekurangan bahan pangan. Tapi kenapa penampilannya seperti anak orang kaya yang kehilangan orang tuanya. Beberapa saat kemudian laki-laki itu berkata dengan nada rendah dan serak sambil mendada-dadakan tangannya disekitar wajah Taeyeon. “anda tidak apa-apa nona?.”

Pria itu memandang Taeyeon, lalu tersenyum ramah. O-oh. Baru pertama kali Taeyeon melihat senyum yang begitu menarik. Senyum itu membuat rasa lelahnya seakan menguap tak berbekas. Senyum itu sangat menawan, sangat…

Taeyeon menggeleng untuk menjernihkan pikiran dan kembali memusatkan perhatian pada sepotong cake yang sedang dimasukkan kedalam kotak tersebut.

Baru beberapa detik berlalu Taeyeon terpaku oleh wajah lelaki itu. Kepala Taeyeon mulai terasa sakit seperti ditusuk-tusuk kembali. Ia sudah sangat lelah dan sekarang bunyi ponsel dengan nada dering yang sama  nyaris membuatnya lepas kendali karena suara gila dari ponsel miliknya tersebut. Taeyeon mengumpat dalam hati jika sang ibu kembali menelponnya dan untuk menyuruhnya pergi ke Paris.

Namun dugaan itu naas salah besar justru pria disampingnya itulah yang mengeluarkan ponsel dari saku celana dan meliriknya sekilas. Lalu ia meletakkan ponsel itu di meja dan mengangkatnya begitu saja.

Tingg..

Pria itu membayar belanjaan sambil tetap berbicara di ponsel, lalu berjalan ke pintu. Taeyeon tidak sempat menegurnya karena untuk beberapa detik ia terpaku oleh mata elang namja itu yang menatapnya. Ia tak tahu harus berbuat apa hingga lelaki itu berlalu dan menghilang dibalik pintu kaca toko tersebut. yang membuat Taeyeon tersadar seketika adalah bunyi dentuman kecil benda terjatuh. Taeyeon yang menyadari jika lelaki itu menjatuhkan sebuah benda tersebut segera mengejar lelaki itu namun saat ia sudah tepat didepan pintu keluar pria itu sudah berjalan ke luar dan masuk ke mobil sedan hitam yang diparkir di depan toko.

Cho Kyuhyun’

“jadi namanya Cho Kyuhyun.” Desah Taeyeon pelan saat tangannya memegang sebuah gantungan ponsel bertuliskan nama lelaki yang menjadi sainganya untuk mendapatkan chesee cake tersebut. Taeyeon masih berdiri menatap gantungan ponsel tersebut. sebelum ia tersadar akan sesuatu jika sebuah suara dari bibi pemilik toko tersebut menyadarkannya untuk segera membayar belanjaan Taeyeon.

*0*0*0*0*

Paris, Perancis.

Dua minggu kemudian…

Kim Jongwoon berdiri dikoridor lantai dua gedung La Sorbone University disamping perpustakaan tempatnya berada kini. Jongwoon memegang beberapa buku keuangan disebelah tangannya, sementara tangan yang lainnya memegang ponsel yang ia tempelkan ke telinga.

“mau pergi malam ini menikmati festival kembang api dimalam yang panjang ini?.” sebuah suara sukses membuyarkan Jongwoon dari acara mengutak-atik ponselnya. Orang yang dimaksud Jongwoon saat ini berdiri tepat dihadapannya.

Jongwoon menoleh ke arah suara wanita yang memanggilnya. Ia melihat seorang yang dicintainya melambai ke arahnya. wanita berambut pirang dengan poni padat menghiasi dahinya. “tentu jika kau tak keberatan. Aku sudah jenuh dengan buku-buku yang membahas keuangan ini.” ia tersenyum manis saat Song Qianie datang dengan  membawa dua buah kaleng minuman lalu menghampirinya.

 

La Pont Neuf menjadi saksi sepasang anak manusia yang tengah dimabuk asmara. Dua orang insan tersebut berdiri diatas megahnya jembatan diatas sungai Seine Paris. Victoria mengembuskan napas, mencari sebuah ketenangan. Punggungnya ia sandarkan pada pagar jembatan lalu dan kedua tangannya dimasukkan ke saku jaket. Kemudian ia tertawa kecil. “jadi rencanamu adalah kembali ke Seoul untuk meneruskan perusahaan keluargamu?.”

“sebenarnya aku ingin memulai semuanya dari awal. Karena sejak menginjakkan kakiku di Paris 6 tahun lalu. orang tuaku tak pernah ikut campur lagi tentang kehidupanku.”

“kejarlah mimpimu. Mungkin ada benarnya juga jika kau seharusnya kembali pada orang tuamu. Kau sudah dewasa oppa, kau pasti tahu apa yang terbaik untukmu. aku mencintaimu dan akan selalu mendukungmu Kim Jongwoon.” Jongwoon kembali meneguk minumannnya lagi dan menatap Victoria dalam. Kekasihnya  tampak mempertimbangkan sesuatu, mungkin ada benarnya juga jika dirinya kini kembali pada orang tuanya. Alis Jongwoon berkerut dan sesekali ia menggigit bibir bawahnya. Ini sudah saatnya ia memperbaiki hubungannya dengan kedua orang tuanya. Lari dari masalah bukanlah solusi yang tepat.

“akan aku pertimbangkan. Asalkan kau berada disisiku.”

“tentu aku berjanji.” Ujar Victoria tulus, ia tersenyum manis lalu memeluk Jongwoon yang notabene adalah kekasihnya tersebut.

“mau makan pattiserrie bersama ambil menikmati musim dingin di Place Dauphine?.” Tawar Jongwoon. Laki-laki itu terkekeh pelan dan menunduk. Rambutnya yang dipotong rapi jatuh menutupi dahinya. “Aku sedang bertanya-tanya apakah kau mau menemaniku makan malam.”

“tentu saja. siapa yang akan menolak makanan seenak itu.”

 

Genggaman tangan diantara keduanya semakin erat. Manik mata Jongwoon dan Victoria sama-sama memancarkan sinar kebahagiaan yang tiada tara. 6 tahun pergi meninggalkan Seoul yang penuh dengan sekelebat masalah yang belum ia pernah selesaikan bersama dengan kedua orang tuanya, akhirnya waktu itu datang juga. Dimana Paris yang kini menjadi kota pelariannya kan ia tinggalkan untuk kembali ke Seoul. 3 tahun yang lalu ia dipertemukan dengan Song Qianie dan puncaknya pada tahun lalu ia menjadikan Song Qianie sebagai kekasihnya yang ia ikat dalam sebuah hubungan pertalian kasih.

*0*0*0*0*

Taeyeon menatap ponselnya sambil menggigit bibir penuh rasa dongkol. Semenjak dua jam lalu ia sudah berada dinegara tempat dimana kedua orang tuanya tinggal dan bekerja. Paris memang kota megapolite dunia dengan keromantisan yang diciptakan oleh kota tersebut. tapi baginya kota Paris sama seperti Seoul yang terlalu ramai untuk ditinggali. “Tidak bisakah kau biarkan aku tenang sedikit?. Aku sudah tiba di Paris sejak dua jam lalu namun aku buta arah dinegara asing ini.” Ia baru akan mencabut baterai ponsel itu ketika ia merasa harus menelepon ibunya untuk memberitahu ia akan segera sampai di rumahnya yang berada di Paris.

Udara di Seoul dan di Paris ternyata sedikit berbeda, Taeyeon sedikit menggigil. Uap putih keluar dari mulutnya setiap kali ia mengembuskan napas. Ia melirik jam tangan. Dan entah mengapa sopir suruhan orang tuanya belum juga menjemputnya dari bandara. Ia berdecak kesal tenggorokannya terasa kering. Ia harus minum sebelum dehidrasi. Kapan terakhir kali ia minum? Ia tidak ingat. Mungkin sewaktu di pesawat. Sepertinya teh rasa mint akan sedikit menghilangkan dahaganya.

Sambil bersenandung pelan, Taeyeon menyusuri jalanan disekitar Place Dauphine yang selalu ramai. taksi yang ia tumpangi pun harus diberhentikannya sejenak untuk menunggui dirinya yang sedang mencari ganjalan bagi perutnya. Ia putuskan untuk sejenak keluar mencari angin segar dengan kedua earphone manis bertengger ditelinganya. Namun tanpa diduga Taeyeon hampir saja menerima kenyataan dirinya jika hampir celaka.

Telinga Taeyeon masih sangat peka terhadap sesuatu meski kedua telinganya tersumbat oleh earphone, terlebih lagi oleh suara yang tergolong keras dari klakson mobil yang tiba-tiba saja melintas dihadapannya. Ia hanya bisa memejamkan matanya, takut dengan sesuatu yang aka terjadi padanya. mungkin saja ia sudah tak selamat sebelum sampai tujuannya, pergi kerumah orang tuanya. Namun saat ia tersadar kedua manik mata Taeyeon yang sedari tadi terpejam akan ketakutan akibat benda berklakson tersebut melintas berubah seketika saat raganya merasa masih bisa berinteraksi dengan jiwa yang ia miliki, hingga ia masih bisa merasakan sesuatu yang ia timpa.

“Mademoiselle, vous êtes d’accord?. are you okay miss?.”

Taeyeon  mengerjapkan matanya silau. Silau karena dihadapkan pada terangnya lampu jalan dan keriuhan orang-orang disekitarnya, lalu berbagai seruan tumpang tindih menghampiri telinganya. Kemudian ia melihat seorang lelaki yang ia timpa, lelaki itu sedikit merintih pelan akibat tubuh Taeyeon yang tiba-tiba saja menimpanya. Dan sudah pasti lelaki itu yang sudah memekik sedari tadi. Kini lelaki itu mengucapkan serentetan kata yang tak dimengertinya dalam logat Perancis.

Tiba-tiba gadis itu mendongak dan menatap lelaki yang menolongnya untuk berdiri karena menyelamatkannya dari kecelakaan yang hampir saja ia akan dapatkan. Belum genap 24 jam ia menginjakkan kakinya di Paris, Taeyeon sudah hampir celaka. Mata Taeyeon kembali terbelalak kaget.

Sesaat lelaki itu merasa jika Taeyeon bukanlah orang eropa. Mata gadis itu sedikit sipit ala gadis asia timur, tidak seperti mata orang eropa yang cenderung beriris biru. Lelaki itu menyadari jika gadis yang ia tolong adalah orang korea, sama sepertinya.

“Jongwoon oppa. gwenchana?.” Sebuah teriakan tiba-tiba saja menghampiri lelaki itu dari arah berlawanan. Gadis manis yang kini membantu Jongwoon untuk berdiri tersebut terdengar brsuara serak ditelinga. Suaranya terdengar sangat khawatir saat mendapati lelaki tersebut sedikit kesakitan dibagian pundaknya.

“nan Gwenchana Qianie..”

Satu yang membuat Taeyeon tersadar dari jatuhnya, saat ia juga mendapati orang korea-lah yang menolongnya dinegara asing tersebut. lelaki yang menolongnya tersebut mengatakan sesuatu dalam bahasa korea yang jelas adalah bahasa yang Taeyeon kuasai. Tentu saja Taeyeon mengerti ucapan gadis yang menolong lelaki yang telah menolongnya itu.

“are you okay miss?.” Kali ini giliran Qianie yang mengeluarkan suaranya tanda khawatir pada gadis tersebut.

“gwenchana. Aku tak apa-apa. Dan jeongmal gamshamida karena anda telah menyelamatkan nyawa saya.”

“oppa. ayo kita obati lukamu. Aku takut jika kau kembali cedera dipergelangan bahumu.” Kali ini gadis bernama Qianie itu memapah tubuh Jongwoon yang sedikit kesakitan. Yang ada dipikirannya kini hanya mengobati Jongwoon dan cepat sampai diapartemen miliknya.

Kini Taeyeon hanya bisa memandang orang-orang yang berdiri mengelilinginya dan yang balas memandangnya dengan tatapan penuh minat dan senyum ramah. Tiba-tiba saja ia sadar ia takkan bisa mendapat ketenangan yang diinginkannya. Tetapi entah kenapa ia merasa hidupnya takkan pernah sama lagi. Dan Taeyeon tak mengerti apa yang sedang terjadi pada dirinya.

*0*0*0*0*

 

–Montparnasse-4 Apartment – Paris.  France. @21.00 GMT.

Cho Kyuhyun sudah hampir 4 jam yang lalu ditanah Napoleon Bonaparte tersebut. tujuan utamanya adalah datang untuk mengunjungi sang kakak tercinta. Kim Jongwoon. Mereka berdua memang buka saudara kandung namun mereka terikat pertalian darah sebagai sepupu yang menjadkan status mereka sebagai kakak-beradik, meskipun marga mereka berdua berbeda. Namun tak bisa dipungkiri jika Jongwoon sangat menyayangi adiknya tersebut.

Dengan santai dan gaya khas yang ia miliki Cho Kyuhyun duduk bersila di lantai ruang tengah apartemen Jongwoon yang tergolong cukup elite namun terkategori berantakan. Mungkin inilah kebiasaan Kim Jongwoon jika sedang frustasi memikirkan kuliahnya. Atau mungkin saja itu efek calon penerus keluarga Kim yang sebentar lagi akan datang. Ia melirik ke luar jendela. Langit di luar gelap. Sudah malamkah? Jam berapa ini? Ia mengerang, lalu memejamkan mata sejenak. Kenapa Kim Jongwoon masih belum pulang juga dari kuliahnya?.

Mungkin segelas teh ala Perancis bisa menghangatkan tubuhnya dari udara dingin di Paris.’

Batinnya.

Kyuhyun perlahan ia bangkit dan menyeret kakinya yang berkaus kaki tebal keluar dari ruang tengah dan menuju dapur. Menyesap teh hangat sembari menunggu kepulangan Jongwoon apa salanya bukan?.

Baru beberapa langkah berjalan ke dapur ketika mendengar bunyi gemeresik samar di luar pintu apartemennya. Ia menoleh dan melihat bayangan gelap terpantul dari bawal celah pintu. Matanya menyipit. Ada orang di luar pintunya. Bayangan di bawah celah pintu itu bergerak-gerak. Niat awalnya mencari minuman batal. Ia berbalik, menghampiri pintu, dan memasang telinga. Ia melirik sekilas dan mendapati sebuah tongkat bisbol berada dibalik pintu tersebut. mungkin dengan tongkat tersebut dapat melindungi dirinya dari orang asing diluar sana.

Tidak terdengar suara orang berbicara, tapi sudah jelas ada orang yang berdiri di luar sana. Tangannya terangkat ke pegangan pintu, lalu dengan satu sentakan cepat, ia menarik pintu itu membuka. Pintu itu membentur sesuatu, yang disusul pekikan seorang lelaki yang mendadak kaget karena Kyuhyun membuka pintu apartement secara tiba-tiba.

“Kyaaa!..siapa kau berani-beraninya memasuki apartementku?.” Pekik sebuah suara dari balik pintu tersebut.

Dalam sekejap Kim Jongwoon segera mengambil posisi untuk menangkap orang yang memasuki apartementnya begitu saja. mungkin saja pencuri masuk dengan seenaknya sendiri. Jongwoon hanya bisa mengerjap-ngerjapkan mata memandang seseorang yang berada dibalik pintu tersebut. ia menatap heran. Kini seorang pria teronggok manis didepan Jongwoon dengan mengacungkan tongkat bisbol yang akan diarahkan tepat pada Jongwoon.

“—Kau—..” pekik Jongwoon terkaget saat mendapati lelaki yang dikenalnya dan sudah lama ia tak temui.

“Hyung!!..” teriaknya tak kalah gaduh.

*0*0*0*0*

Kim Jongwoon masih berdiri menatap pemandangan kota Paris yang indah dimalam hari. Satu tangan yang lainnya memegang secangkir kopi yang masih mengepul asapnya. Sementara tangan yang lain ia gunakan untuk memegang bahunya yang sedikit nyeri akibat kejadian beberapa jam yang lalu. sedangkan Cho Kyuhyun hanya bisa memperhatikannya sembari menghempaskan dirinya ke sofa. Tatapan Cho Kyuhyun menerawang cemas. Sebagai adik yang tak pernah bertemu dengan Hyung-nya ia bisa memahami Jongwoon yang tak pernah pulang ke Seoul selama 6 tahun ini.

“Hyung, aku heran padamu. Bagaimana kau bisa membiayai hidupmu sendiri dinegara ini tanpa bantuan Abeoji dan eomonim Kim?. Bukankah hidup di Perancis lebih keras daripada di Seoul?.”

“aku bekerja sebagai penyiar radio untuk memenuhi kebutuhan hidupku. Dan untuk kuliahku aku mendapatkan beasiswa dari pemerintah korea untuk bersekolah disini.”

“apa…..”

“tidak..abeojie dan eomma tidak tahu menahu bagaimana aku bertahan diri di Paris. Yang mereka tahu adalah keadaanku baik-baik saja tanpa mereka berdua disisiku.” Desahnya lega. Ia tahu arah pembicaraan Kyuhyun yang akan bercerita tentang keadaan orang tuanya. Sebelum Kyuhyun mempertanyakannya ia sudah terlebih dahulu memotong ucapan Kyuhyun.

“Hyung.. Abeojie dan eommonim Kim merindukanmu. Kapan kau akan kembali ke Seoul.” Kyuhyun mencoba membuka suara untuk mencairkan suasana. Tujuannya datang ke Paris adalah hanya untuk membawa Kim Jongwoon untuk pulang kembali ke negara asalnya.

“aku tak tahu. Kuliah strata duaku belum usai. Aku ingin membuktikan pada mereka jika aku bisa menghidupi diriku sendiri dinegara orang.” Jongwoon tertawa pahit lalu memandang Kyuhyun sekilas dan melanjutkan omongannya dengan nada serius.

“akan aku usahakan pulang ke Seoul pada hari Natal nanti.” Ucapnya terakhir.  Ia mendongak menatap langit-langit dan menghembuskan napas berat lalu sedetik kemudian ia tersenyum kecil memandang Kyuhyun. Sementara Kyuhyun hanya bisa mengkerutkan kening dan tenggelam dalam pemikirannya. Akhirnya ia bisa membujuk Jongwoon untuk pulang ke Seoul. Meski hanya memotong libur panjang natal Jongwoon.

“mereka akan senang sekali melihatmu pulang hyung.”

Tangan Jongwoon kembali mengeluarkan sebuah benda dari dalam saku celananya. Ia tak mau mengindahkan perkataan Kyuhyun. Sebuah ponsel berwarna hitam pekat yang akan ia utak-atik layar touchscreen-nya untuk menghubungi seseorang. Namun sebelum ia menghubungi orang itu, ponselnya sudah terlebih dahulu berbunyi. Sebuah nama yang sangat ia kenal terpampang jelas pada layar ponselnya. Song Qianie saat ini menghubunginya.

“yeoboseo. Sudahlah aku tak apa-apa. Pergelangan pundakku masih dalam keadaan baik-baik saja.”

“tentu saja.” sahut Jongwoon kembali sambil menyesap kopinya. Ia terkekeh kecil saat gadisnya terlalu berlebihan mengkhawatirkan dirinya.

“iya. Sampai bertemu besok dikampus setelah siaran nanti. Good night, have a nice dream.”

Klik..Jongwoon mematikan panggilan diponselnya seketika. ia tersenyum geli membayangkan semuanya dalam keadaan seperti ini. sebegitu khawatirkah kekasihnya terhadap diriya yang baru saja tertimpa kecelakaan kecil akibat menyelamatkan seorang gadis?. Berlebihan memang, tapi inilah yang disukai oleh Jongwoon pada sosok Victoria tersebut.

“berbicara tentang Paris Hyung. Apakah gadis-gadis disini cantik-cantik?.” Seloroh Kyuhyun yang membangunkan lamunan Jongwoon.

“biasa saja.” balas Jongwoon santai. Lalu berlalu meninggalkan Kyuhyun dan menuju kamar untuk mengistirahatkan dirinya kembali.

“yak!. Kim Jongwoon!.”

*0*0*0*0*

“Jadi,” kata Taeyeon dengan mulut yang masih agak penuh dengan makanan. Ia mengunyah sebentar, menelan, lalu melanjutkan, “jadi apa alasan abeoji dan eomma tidak menjemputku dibandara?. Kalau kalian masih ingat, waktu itu eomma berjanji mau menjemputku di bandara. Kau tahu berapa lama aku menunggu? Kalau tidak bisa menjemput, kalian kan bisa menelepon? Bukankah itu salah satu alasanmu membeli ponsel? Untuk menelepon?.”

Yeoja setengah baya didepan Taeyeon tidak segera menjawab. Ia menahan senyum dan berusaha meyakinkan dirinya sendiri sekali lagi bahwa ia lebih suka Kim Taeyeon yang cerewet daripada Taeyeon yang diam mengerucutkan bibirnya kesal.

“eomma. Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan. Pasti eomma berpikir mengataiku sebagai gadis cerewet.” ancam Taeyeon sambil memotong besar steak tenderloin lalu memasukkan kedalam mulutnya hingga penuh dan menatap kedua orang tuanya dengan mata disipitkan.

“bagaimana kuliahmu di Seoul?. Apakah kau tak ada niat untuk pindah ke Paris dan bersekolah disini seperti kakak lelakimu.”

“ya begitulah eomma. Seperti mahasiswa jurusan kedokteran lainnya. Target sudah didepan mata. tahun depan aku harus lulus. Dan untuk tinggal di Paris?,. sepertinya kampung halaman Seoul jauh lebih menarik.” Ucapnya ringan. Mereka bertiga, ayah-ibu dan kakak lelaki Kim Teyeon yang bernama Kim Kibum telah tinggal di Paris selama kurang lebih 5 tahun. Sementara Taeyeon lebih memilih untuk tinggal di Seoul dan melanjutkan sekolahnya sendiri.

“Taeyeonie.” Taeyeon mendongak memandang kembali wajah sang ibu yang timbul sedikit guratan penyesalan.

“maafkan eomma ne. Eomma dan abeojie terpaksa tak bisa menjemputmu tadi malam. Abeojie dan eomma mendadak mendapat panggilan dari staff konsulat jendral dikedutaan Korea tentang perluasan perusahaan abeojie di Paris. Hingga kau hampir mengalami kecelakaan semalam.“

“ne, Taeyeonie. Abeojie minta maaf.” Kata sang ayah hati-hati dan menyunggingkan senyumannya. “Abeojie minta maaf karena tidak bisa menjemputmu di bandara. dan juga minta maaf karena tidak menghubungimu.”

Berbicara mengenai hal yang terjadi semalam, rasanya Taeyeon ingin sekali berteriak sekencang-kencangnya. Kenapa tidak di Seoul ataupun di Paris hidupnya selalu sial?. Jika di Seoul ia harus berhadapan dengan harimau garang seperti dosennya sementara di Paris belum genap sehari semalam ia mengunjungi kota ini, ia hampir saja kehilangan nyawanya. Andai ada obat penghilang sial Taeyeon akan membelinya dengan harga berapapun asalkan hidupnya tidak penuh dengan kesialan lagi. Tapi kalau diperhatikan wajah lelaki yang menyelamatkannya tadi malam ia pernah melihatnya dimana. Lelaki korea itu sepertinya mengingatkannya pada seseorang, tapi siapa?. Taeyeon pun sendiri tak tahu menahu tentang lelaki itu. Yang ia tahu hanya jika lelaki yang menyelamatkannya tersebut adalah lelaki korea. Ah, untuk apa dipikirkan kembali kejadian semalam, toh lelaki yang menyelamatkannya pasti tak mau juga memikirkannya.

“sudahlah eomma-Abeojie. Yang lalu biarah berlalu. Yang penting sekarang aku bisa berada didepan kalian semua bukan?.” Taeyeon mendesah kecil, ia memutar bola matanya sejenak lalu mengangguk kecil dan melanjutkan acara makannya.

“jadi apa yang ingin kau lakukan dihari pertama kedatanganmu ke Paris?. Kau tak ingin mengelilingi kota ini hm?.” Seloroh Kibum.

“yeah. Lihatlah nanti saja. apa yang ingin aku lakukan.”

Setelah selesai dengan acara makan paginya Taeyeon kembali ke kamar, dengan malas ia melangkahkan kakinya menuju ruangan yang cukup besar dan rapi tersebut karena tak ada yang menempatinya. Ternyata musim dingin dikota Paris sangatlah indah, meski badannya remuk akibat kecelakaan kecil semalam. Ia duduk bersila ditengah-tengah ruangan tersebut lalu mengeuarkan semua isinya.

Pagi ini Taeyeon ingin merefleksikan dirinya sebentar hanya untuk sekedar menenangkan dirinya. Ia bermaksud untuk tidak pergi hari ini, meski dengan setia sopir ayahnya akan mengantar dirinya untuk berkeliling kota Paris. Ia memutuskan untuk membuka lemari pakaian dan memasukkan segelintir pakaian yang ia bawa untuk ia rapikan. Tetapi sebelum ia memasukkan pakaian-pakaiannya terselip sebuah botol cat kuku berwarna ungu yang tak sengaja ia bawa dari Seoul. Dengan senang hati ia segera mengeluarkan at kuku tersebut dan memulai untuk menghias kukunya yang cantik, mengecat kuku sambil mendengarkan radio resmi Perancis apa salahnya bukan?. Sekali-kali belajar juga boleh kan?.

Voilà!” Taeyeon tersenyum puas dan menggerak-gerakkan kesepuluh jari tangan, mengagumi hasil karyanya. Ternyata cat kuku buatan Seoul tak kalah dengan cat kuku import dari negara Paris yang terkenal itu.

“Selamat pagi, para pendengar. Bagaimana kabar Anda semua hari ini?”

Taeyeon mendengar suara penyiar radio laki-laki yang ceria di radio dan melirik jam dinding. Namun tanpa disadari olehnya , lelaki  berperawakan tinggi mendadak tiba-tiba saja memasuki kamar yang Taeyeon tempati menampakkan dirinya diujung pintu masuk. Namja yang diketahui sebagai kakak lelaki Taeyeon tersebut tersenyum hangat lalu melangkah masuk kedalam kamar yang Taeyeon.

“Oh, Je me souviens… kau mendengarkan siaran itu. Dengarkanlah!. Siapa tahu kau akan mendapatkan solusi percintaan untuk  dirimu.” Kekeh Kibum menggoda yang dibalas dengan lemparan bantal dari Taeyeon.

“Siaran itu adalah salah satu siaran paling diminati dan setiap hari banyak sekali surat pendengar yang masuk ke stasiun radio itu.” Jawab Kibum. Karena itulah acara itu disiarkan dua kali sehari. Kibum sendiri suka mendengarkan siaran itu kalau sempat.

“ah, aku lupa Taeyeonie. Apa kau mau pergi ke supermarket bersamaku untuk membeli keperluan natal?. Ku harap kau mau karena kau tak akan menyesal berkeliling kota paris yang indah ini.” lanjut Kibum sekali lagi.

“akan aku pertimbangkan.” Jawab Taeyeon acuh.

“baiklah aku tunggu. Selamat menggilai siaran radio itu. Jika kau butuh penerjemah bahasa, aku siap untuk menterjemahkannya.” Ucap Kibum sebelum ia berlari keluar kamar Taeyeon, karena ia tahu jika sebentar lagi Kim Taeyeon akan mengamuk.

Taeyeon masih tak mempedulikan ucapan Kibum. Justru suara penyiar radio itulah yang membuatnya terkesima. Suara lelaki itu terdengar indah dan ramah sekelas dengan para penyiar radio-radio pada umumnya. Namun suara tersebut jauh lebih enak untuk didengar. “Surat pertama yang akan saya bacakan hari ini adalah surat dari salah seorang pendengar kita yang bernama Monsieur Nam Woohyun. Dan saya akan membacakannya.”

Nam Woohyun?. Taeyeon mengkerutkan kening. Nama asing ala Korea. Apakah ada komunitas Korea yang tinggal di Perancis?. Entahlah. Yang pasti ada orang korea selain dirinya dan orang tuanya yang berada di Paris sebagai pedatang.

Aku baru tiba di Paris hari itu,” lelaki itu mulai membaca perlahan. Penyiar lelaki tersebut mulai membaca. Suaranya jelas dan terkendali, baru kali ini Taeyeon mendengar suara yang sangat berbeda untuk kategori penyiar radio. Penyiar radio itu punya suara yang sedikit menghipnotis dan menghanyutkan dengan bahasa Perancis yang fasih, jenis suara yang mampu mengajak pendengarnya ikut membayangkan apa yang diceritakannya. Namun Taeyeon sedikit mengerti bahasa Perancis tersebut meski tak sepenuhnya.

Saat pertama kali menginjakkan kaki di bandara Charless de Gaulle musim gugur lalu. tempat pertama yang kudatangi adalah kantor imigrasi untuk mengurus kewarganegaraanku dan tempat tinggalku untuk sementara.

 

Aku baru saja mengeluarkan I-Phone dan mulai memeriksa jadwal kerjaku di Paris. Saat dimana aku tak sengaja bertemu dengan seseorang yang tiba-tiba saja menyenggol koperku dan seketika itu bagian depan koper yang kubawa terbuka hingga isinya keluar.

 

“sorry..”

 

Satu kata itu yang keluar dari mulut gadis eropa tersebut adalah maaf. Ia tersenyum sekilas untuk meminta maaf. Sebelum aku sempat membalas senyumnya atau menyahut, ia sudah berbalik dan berjalan menjauhi tempat dimana aku terduduk.

 

Sepertinya Tuhan merencanakan sesuatu yang indah pada umatnya dengan cara yang dirahasiakan dan tak terduga. Aku bertemu lagi dengannya Malam itu juga. Seperti yang kukatakan tadi, aku punya janji bertemu seorang teman di sebuah club dan aku datang terlalu cepat. Aku mengambil tempat duduk di bar yang agak ramai dan memesan minuman sambil menunggu.

 

“Airenn..” seru gadis itu sambil mengangkat gelas kosong yang dipegangnya untuk menarik perhatian Bartender.

 

“Louisa Nathalie..”

 

“Dia..ya, tak salah. Gadis yang tempo hari aku temui di bandara. Untuk apa gadis itu disini?.”

 

Oh..jadi nama gadis eropa tersebut Louisa.. Aku tersenyum kikuk melihat gadis cantik dengan iris hijau tersebut sekit kesal pada bartender didepannya. Gadis itu menyipitkan matanya lalu tersenyum lebar. “please, give me again..” ucapnya. Namun siapa sangka bartender bernama Airenn tersebut justru menolaknya.

 

Gadis cantik bernama Louisa tersebut mengibas-ngibaskan tangannya. “Kau benar-benar menyebalkan, Airenn,‟ gerutunya, lalu mengangguk. “Tapi kau benar. Minum sendirian memang tidak menyenangkan. Aku pulang saja.”

 

“Mau kupanggilkan taksi?‟ aku menawarkan. Biasanya aku bukan orang yang suka ikut campur urusan orang lain. Entah apa yang merasukiku waktu itu. Aku pun juga tak begitu lancar berbicara dalam bahasa perancis. Dia menatapku. Dari raut wajahnya aku hampir yakin gadis itu akan mengucapkan kata-kata seperti “Aku memang sedikit mabuk, tapi aku tidak tolol, Bung. Mana mungkin aku membiarkan diriku ditipu pria asing yang kutemui di bar? Memanggilkan taksi? Yang benar saja!.”

“Namun imajinasiku terlalu berlebihan, karena pada kenyataannya gadis itu hanya tersenyum, menggeleng pelan, dan berkata, “Terima kasih, tapi tidak perlu. Aku bisa sendiri.‟

Aku memandangi punggung gadis itu sampai ia menghilang di balik kerumunan orang. Aku ingin bertanya pada bartender bernama Airenn tersebut mengenai gadis itu, namun aku mengurungkannya. Kalau Aireen memang kenal baik dengan gadis itu, ia pasti akan curiga kalau aku bertanya macam-macam. Tapi harus kuakui, ada sesuatu dari gadis itu yang membuatku tertarik.”

 

Ceritanya berhenti sampai disana. Taeyeon tersenyum sendiri mendengar suara indah penyiar radio tersebut. meski ia tak tahu banyak dan mengenal bahasa perancis tapi ia yakin jika inti dari cerita tersebut adalah cinta pada pandangan pertama. Hal yang baru saja membuat ia senang datang ke Paris adalah suara lelaki penyiar radio yang begitu menghipnotis dirinya untuk mendengarkannya berkali-kali.

“sepertinya benar jika Paris adalah kota yang dipenuhi keromantisan.” Desah Taeyeon kecil tersenyum sendiri.

*0*0*0*0*

 

“sudah selesai siaran?.” Tanya Victoria ringan sambil mencondongkan tubuhnya kedepan lalu menyesap capuccino kembali.

Jongwoon mengangguk lalu berjalan malas mendatangi Victoria yang terduduk dikantin kampus.  “aku sudah selesai siaran sejak…,” ia melirik jam dinding, “satu  jam yang lalu?” tanya Jongwoon dengan alis terangkat.

Jongwoon menghembuskan napas kesal. “kau ini memang..” jawabnya lemas. Ia menunduk dan menyandarkan kening di meja, lalu mendesah keras sekali lagi.

“hey..Jongwoon oppa. kenapa kau menekuk wajahmu seperti itu?.” Tanya Victoria sambil mengetuk-ngetuk pelan kepala Jongwoon dengan bolpoint. “Bukankah biasanya kau paling suka hari Jumat?”

Jongwoon mengangkat kepala dan tersenyum muram. Hari Jumat memang hari yang paling disukainya karena hari Jumat adalah awal akhir pekan yang ditunggu-tunggu. Tapi hari ini jadi pengecualian. Ia sedang tidak gembira atau bersemangat.

“adikku datang dan memaksaku untuk pulang ke Seoul hari natal nanti. Aku bingung bagiamana caranya menghadapi kedua or..”

“Ooh… aku mengerti,” kata Victoria mengerti. Ia memotong ucapan Jongwoon karena ia sudah dapat menebak kemana arah pembicaraan namja itu. Victoria tak mau membuat hari Jongwoon semakin suram.

Jongwoon menggigit bibir dan mengangguk lemah. Ia kembali melirik ponselnya. Lalu seakan sudah membulatkan tekad, ia mendengus dan meraih ponsel itu. “Lupakan saja,” katanya tegas, lebih kepada dirinya sendiri. Dengan gerakan acuh tak acuh ia melemparkan ponselnya ke dalam tas ransel yang ia bawa sedari tadi.

“kau ada jadwal bertemu dengan dosen pembimbing thesis mu?. Kalau tidak ayo kita pulang sekarang. Aku akan menyiapkan makan malam untukmu. kau mau bukan untuk makan malam bersamaku?.” Tawar Victoria.

“tidak. Aku tidak ada jadwal bertemu dengan dosen pembimbing. Siapa yang menolak untuk menerima ajakan makan malam bersama Song Qianie?. tapi sebelum itu aku akan pergi ketoko buku sebentar.”

“oh-pergilah. Daripada kau duduk mengasihani diri sendiri juga tidak ada gunanya.”

Jongwoon menatap Victoria dengan bingung. “Yang mengasihani diri sendiri itu siapa?.”

*0*0*0*0*

Jongwoon memilah-milah buku yang berada dirak bagian bawah sambil bersenandung lirih. Tangan dan matanya saling berkonsentrasi dengan buku-buku terjemahan karya ahli keuangan-keuangan handal. Toko buku siang menjelang sore tersebut sedang sepi saat itu. Hanya ada beberapa orang yang masih berkutat dengan beberpa buku yang mereka bawa. Jongwoon sangat suka suasana sepi baik toko buku maupun perpustakaan. Predikat comlaude yang ia raih mungkin hasil dari suasana sepi tersebut. who know’s?.

Begitu damai. Ia berdiri, menegakkan tubuh, dan memandang keluar jendela dari toko buku tersebut. Natal akan datang sebentar lagi. Ia harap natal tahun ini akan ada keajaiban dalam hidupnya. Entah keajaiban apa ia ingin yang terbaik untuk hidupnya.

Desahan napas pela keluar begitu saja darimulut Jongwoon. Sebentar lagi waktunya makan malam bersama dengan Qianie. tiba-tiba lagu dari love story dari Taylor Swift  mengalun merdu dari sebuah ponsel yang terdapat didalam saku. Terperanjat. Jongwoon buru-buru mengeluarkan ponselnya. “Allô.” Ucap Jongwoon ringan. Ia tahu siapa yang menelponnya sekarang, siapa lagi kalau bukan Victoria Song.

“Qianie…waeyo?.” mendengar suara Victoria diseberang sana, Jongwoon langsung memperlambat langkahnya setelah menyerahkan beberapa lembar mata uang euro untuk dibayarkan beberapa buku yang ia beli.

 

“euhhmm..Jongwoon oppa. sebenarnya aku menelponmu hanya ingin sedikit membutuhkan bantuanmu. Apa kau masih berada di toko buku?.”

“waeyo.” Tanya Jongwoon dengan nada heran.

“sebenarnya saat belanja tadi aku lupa untuk membeli Beaujolais (minuman anggur dimusim dingin). Bisakah saat perjalanan menuju apartementku kau membelinya untuk kita berdua.”

Jongwoon tak butuh waktu lama untuk menjawab menyetujuinya. “tentu saja.”

“Merci..”ucap Jongwoon berterima kasih pada petugas toko sebelum ia melangkah pergi keluar dari pintu kaca toko buku tersebut. Dengan ponsel yang masih ia tempelkan pada telinganya.

Seperti biasanya suasana pusat kota Pari cukup dipadati orang menjelang natal. Orang-orang disekitar kota terlalu sibuk untuk mempersiapkan keperluan natal bagi keluarganya. Jongwoon melirik arloji yang bertengger manis di tangan kirinya. Lalu memandang sekilas suasana supermarket yang cukup ramai pada hari bukan weekend seperti ini. ia memperhatikan orang-orang berlalu lalang, lalu mengambil sebuah keranjang belanjaan untuk membeli pesanan Victoria. Mengherankan sekali. Tumben sekali song Qianie melupakan belanjaannya sendiri. Ya, mungkin saja itu sifat alami manusia yang terkadang lupa akan sesuatu.

Prakk…

Sebuah benda terjatuh dari atas rak barang yang ada dideretan makanan tersebut. Jongwoon tak sengaja menjatuhkan barang tersebut karena ada seseorang yang berlawanan arah dengannya yang sama – sama mangambil dan memperebutkan barang itu. Wanita itu berjongkok mengambil barang itu. Jongwoon menatapnya sekilas. lalu tak sengaja ia mengamati wajahnya perempuan tersebut.

“oh..Mister..” pekik yeoja itu terkaget. Perempuan cantik itu mengangkat wajahnya saat tak sengaja melihat lelaki yang semalam yang lalu tak sengaja bertemu dengannya.

“oui (iya)..”

“bukankah anda gadis yang semalam?.” Tanya Jongwoon dengan aksen Perancisnya yang fasih berbahasa itu.

“euhmm.. Maybe you can speak English, because I could not understand your speech.” Ujarnya sopan. Ia takut jika salah berbicara dalam bahasa perancis maka orang tersebut akan salah juga untuk menanggapinya. Jadi ia lebih baik berbicara dalam bahasa internasional saja. Toh, orang itu pasti mengerti ucapannya dalam bahasa inggris, karena ia juga seorang imigran.

“oh, sure..I’m so sorry.” Ujar Jongwoon sedikit menyesal yang dibalas anggukan kecil dari perempuan itu.

Mereka berdua terlihat canggung diantara satu sama lain dan kikuk sendiri-sendiri karena tak tahu apa yang harus mereka berdua lakukan sebelum sebuah tangan mencoba memberanikan diri untuk mengajak berjabatan. Kim Taeyeon memberanikan diri memulai untuk mengajak berjabat tangan pada lelaki itu dan mencoba tersenyum ramah pada lelaki yang telah menyelamatkan hidupnya di Paris.

Jongwoon menjulurkan tangannya untuk menanggapi tangan Taeyeon yang mengajaknya untuk berjabat tangan. Lelaki itu tersenyum tulus membalas uluran tangan Taeyeon. Sepertinya lelaki itu terlihat sebagai lelaki ramah.

“Kim Taeyeon.”

“mwo?. Kim Taeyeon?.”

Taeyeon mengangkat alisnya heran lelaki Korea yang ia temui semalam justru terkejut kaget. “what’s wrong Monsieur?.” Tanya Taeyeon sekali lagi.

“oh, anii..anii.. kau bermarga Kim?. Apakah kau orang Korea?.” Tanya Jongwoon sekilas. spontanitas logat asli Korea keluar begitu saja dari mulutnya karena ia mendapati orang satu negaranya berda sama-sama dinegara Perancis.

“Kim Jongwoon Imnida.” Lanjutnya memperkenalka diri dengan aksen Korea yang begitu lancar. Taeyeon sedikit terperangah mendapati lelaki itu berbahasa Korea dengan lancar. Kenapa ia susah-susah menggunakan bahasa Inggris yang dicampur dengan bahasa perancis, jika lawan berbicaranya secara jelas menggunakan bahasa Korea.

“mwo?. Anda bisa berbicara dengan bahasa Korea?.” Heran Taeyeon yang sedikit mengkerutkan dahinya.

“tentu saja. aku orang korea asli yang tinggal di negara ini. meskipun dinegara orang aku tak lupa dengan negara asalku.” Kekeh Jongwoon mencoba mencairkan suasana antara dirinya dengan Kim Taeyeon. Jarang-jarang ia akrab dengan seseorang yang baru saja ia temui.

“eeuhmm..sebelumnya saya berucap banyak terima kasih karena anda telah menolong saya dari kejadian kemarin malam. Saya tak tahu jika anda tak menarik saya menjauhi mobil itu. Entah bagaimana nasib saya jika anda tak menyelamatkan saya. Sekali lagi jeongmal gamshamida atas pertolongan anda.” Ujar Taeyeon membungkukan badan 90 derajat sopan tanda hormat ala orang korea yang sudah menjadi tradisi.

“ah, bukan apa-apa. Bukankah sesama orang harus saling tolong-menolong.” Jongwoon tersenyum simpul menanggapi ucapan Taeyeon ringan. Mereka berdua telah sampai pada kasir untuk membayar barang belanjaan mereka berdua.

“Kim Jongwoon-sshi. sebagai tanda ucapan terima kasih karena telah menyelamatkan saya. Saya harap anda mau pergi ke cafe sebentar untuk sekedar minum bersama mungkin?. Jika anda tidak bisa juga tidak apa-apa.” Ujar Taeyeon sekit gelagapan pada akhirnya. Ia tak tahu kenapa ia bisa seperti ini pada lelaki asing yang baru dikenalnya. Oh, mungkin ini pertama kalinya Taeyeon sedikit canggung didepan lelaki. Padahal di Seoul teman lelakinya tergolong banyak.

“tentu aja dengan senang hati saya menerima ajakan anda. Selama tinggal di Paris, anda adalah orang pertama yang saya baru kenal dan langsung akrab dengan saya.”

Sucre-ceur – Paris.

 

Di Paris ini Menjelang malam suasana café-café di sekitar Sucre-ceur ramai dikunjungi oleh berbagai kalangan. Ada satu bistro kecil tidak terkenal yang menjadi kesukaan Tara karena mereka menyajikan masakan Korea, Khususnya Kimchi yang merupakan makanan khas dari negara tersebut. Bistro itu terletak di sebuah jalan kecil yang agak sepi dan lumayan jauh dari pusat kota. Tidak banyak orang yang tahu keberadaan bistro itu kecuali beberapa orang yang menjadi langgangan tetapnya, seperti Jongwoon.

“jadi..sudah berapa lama anda tinggal di Paris?.” Ucap Taeyeon yang memulai membuka pembicaraan.

“sudah sekitar 6 tahun. Dan apakah anda pendatang baru di Perancis?.” Taeyeon mengangguk kecil, lalu dengan tangan cekatan ia mengambil gimbab yang tersedia dengan sumpit. Sementara Jongwoon memakan buah Pear dari Baesuk yang tersaji didepan matanya. Jarang-jarang ia bisa menyantap Baesuk dimusim dingin seperti ini.

Taeyeon memperhatikan Kim Jongwoon dengan cermat. Laki-laki itu masih muda, usianya pasti sebaya dengannya, sekitar akhir dua puluhan lebih sedikit atau mungkin 25 tahun usai lelaki itu. Bertubuh tinggi, setinggi, dan rambut hitam berponi yang dipotong rapi sangat bergaya. Mungkin itu model yang sedang trendi di Paris. Cocok dengan bentuk wajahnya. Matanya sipitnya, hidungnya mancung, dan dagunya kecil. Secara keseluruhan Kim Jongwoon  memiliki wajah yang menyenangkan… dan menarik. Taeyeon langsung memberi nilai delapan setengah untuknya.

“ku kira aku dan keluargaku hanya satu-satunya orang korea yang berada di negara ini?.” Taeyeon tertawa kecil dan menggeleng-geleng.

“ada cukup banyak orang Korea yang berada dinegara ini. salah satunya aku. Tinggal di Paris sama menyenangkannya dengan di Seoul.”

Mendadak tiba-tiba saja Jongwoon merogoh sesuatu didalam saku celananya dan mengeluarkan Ponsel. Ia menatap benda itu sejenak, lalu berkata kepada yeoja didepannya tersebut. itu dengan nada menyesal, “Maaf, aku tidak bisa tinggal lebih lama. Ada urusan mendadak. Aku harus pergi sekarang.”

“kenapa terburu-buru?.” Tanya Taeyeon bingung.

Jongwoon segera bergegas untuk keluar dari Bistro terseut dan sedikit merapikan pakaiannya. Ia menoleh ke arah Taeyeon, mengulurkan tangan dan tersenyum singkat. “Senang berkenalan denganmu. Aku minta maaf karena tidak bisa mengobrol lebih lama. Mungkin lain kali. Sampai jumpa lagi.”

Taeyeon menyambut uluran tangan tersebut dan tersenyum. “Tidak apa-apa. Sampai jumpa.” Dan seketika itu senyum kecil menghinggapi wajah Taeyeon akibat pertemuannya dengan lelaki bernama Kim Jongwoon tersebut. senyuman lelaki itu seperti sihir baginya. Ia merasa jika pernah menemui senyuma tersebut. namun dimana?. Ia tak tahu sama sekali.

*0*0*0*0*

Cho Kyuhyun kembali melirik jam tangan yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Jam 16.30. Kim Jongwoon belum terlihat batang hidungnya sejak tadi pagi ia pergi melakukan siaran dan meninggalkan Kyuhyun sendirian di apartement milik Jongwoon tersebut. dua puluh kali terlihat dan terpempang jelas didepan mata kedua orang tua Jongwoon telah menghubunginya dan menanyakan kabar lelaki itu hingga sampai Paris beberapa hari yang lalu. Kyuhyun pergi meninggalkan Seoul tanpa sepengetahuan orang tua Kim Jongwoon yang saat itu tengah pergi ke Busan untuk bertemu dengan rekan bisnisnya.

“sudahlah eommonim Kim. Aku tak apa-apa. Paris dan Seoul sama saja. sama-sama sedang mengalami musim dingin. Dan aku sudah membawa obatku jika penyakitku sewaktu-waktu kambuh kembali..kekeke…” Kyuhyun tertawa senang karena ia sudah tak dilarang lagi untuk pergi ke Paris dan berhasil untuk kabur dari kedua orang tua Jongwoon tersebut. Bagaimanapun juga sejak tahun lalu ia ingin sekali pergi ke Paris namun mau bagaimana kedua orang tua Jongwoon tak mengizinkannya pergi. Dan baru tahun inilah ia akhirnya bisa menyusul hyungnya untuk pergi ke Paris.

“eomma. Aku sudah bertemu dengan Jongwoon Hyung dan dia disini dalam keadaan baik-baik saja. eomma..apa eomma tak merindukannya. 6 tahun sudah Jongwoon hyung pergi tanpa kabar.” Kyuhyun menghembuskan napas berat. Ia menerawang langit-langit dan dengan suara sedikit serak ia mau tak mau menceritakan semuanya yang ada di Paris.

“akan aku usahakan Jongwoon Hyung pulang ke Seoul akhir tahun ini.”

Kliikk…Kyuhyun mengakhiri panggilannya terhadap ibu kandung Jongwoon sekaligus ibu yang merawatnya. Ia sudah menganggap nyonya Kim sebagai ibu kandungnya sendiri.

Kruuukkk….

Mendadak cacing-cacing di perut Kyuhyun berdemo secra serempak untuk meminta diberikan jatah konsumsinya. Kyuhyun yang tak tahan lapar segera beranjak kearah dapur untuk mencari sedikit makanan yang mungkin bisa dijadikan ganjalan untuk perutnya. Namun, sia-sia saja seluruh isi kulkas Jongwoon hanya berisi minuman saja. tak ada makanan sedikitpun. Mungkin dengan keluar sebentar ia bisa mendapatkan makanan, meski jalan di sekitar Paris tak ia ketahui sama sekali. Jongwoon pernah bilang padanya jika ada tempat makan tak jauh dari apartementnya.

Angin bertiup agak kencang malam ini, padahal hari belum malam tapi kenapa hari sudah dingin seperti ini?.  mungkinkah di Paris sudah memuncaki musim dingin?. Kyuhyun melangkah keluar dari flat apartement milik Jongwoon tersebut dan menarik napas dalam-dalam. Ia mengeluarkan iPod dan memasang earphone ke telinga, lalu berjalan ke stasiun kereta bawah tanah yang tak jauh dari Montparnasse.

Suasana hatinya saat itu sangat bertolak belakang dengan langit yang cerah. Wajar saja. Ia baru saja berbicara dengan ibunya di telepon. Setiap kali ia selesai berbicara dengan ayahnya, dadanya selalu terasa berat.

Tadi ia menelpon orang tua dari Jongwoon yang ia anggap sebagai orangtuanya sendiri. Orang tua Jongwoon selalu mencemasakannya, selalu khawatir apabila ia pergi secra mendadak tanpa sepengetahuan mereka. terlebih lagi kini Kyuhyun pergi ke Paris tanpa sepengetahuan mereka. Sering kali Kyuhyun merasa tertekan dengan kekhawatiran yang berlebihan terhadap dirinya itu. Karena itulah ia juga harus terus-menerus mengingatkan diri sendiri untuk memaklumi perasaan orang tua Jongwoon yang merawatnya.

Tingg…

Pintu kereta yang dilengkapi sensor terbuka secara otomatis. Kyuhyun dengan santai melangkahkan kakinya masuk kedalam kereta tersebut. Saat ini ia sudah sampai di stasiun bawah tanah metro de Paris.

Manik mata Kyuhyun mengamati secara detail pemandangan yang tersaji didalam kereta listrik bawah tanah tersebut. satu tangan yang lain ia gunakan untuk menggantungkan tangannya pada pegangan diatasnya.  Kali ini pandangan mata Kyuhyun jatuh pada seseorang yang berada disampingnya, ia memandangnya sekilas. Ada yang aneh dengan wanita yang ia lihat baru saja. sepertinya bukan orang Korea?. Kyuhyun memperhatikan dengan seksama wanita yang membawa belanjaan banyak tepat berdiri disampingnya. Wanita itu seperti rumpun asia. Merasa diperhatikan wanita itupun menoleh pada Kyuhyun, lalu tersenyum manis, begitupun Kyuhyun yang hanya bisa membalasnya dengan tersenyum kikuk.

Namun mendadak seulas senyuman khas yang ditunjukkan oleh Kyuhyun berubah seketika saat ia tak sengaja mendapati ada sebuah tangan jahil dari orang dibelakang wanita yang membawa barang belanjaan banyak tersebut merogoh isi tas dari wanita itu. Pria dengan jaket hitam tebal tersebut pura-pura tak melihat sementara tangannya dengan cektan beraksi.

Apa reaksi Kyuhyun?. Kyuhyun dengan cepat meraih pergelangan tangan lelaki tersebut sebelum ia berhasil mengambil sebuah benda dari tas wanita itu. Ia menatap tak suka pada lelaki pencuri tersebut.

“keep your hand mister?!. I Know it!!.” Tekan Kyuhyun ketus ia mencengkeram tangan lelaki yang akan mencopet dompet seorang wanita. Sedangkan lelaki itu hanya bisa merintih pelan tak bersuara akibat cengkeraman tangan Kyuhyun yang begitu menyakitkan.

Wanita itu begitu saja menyadari apa yang terjadi, ia meoleh kebelakang dan mendapati Kyuhyun tengah menggenggam tangan seorang laki-laki dan dompet berwarna hitam miliknya berada ditangan lelaki itu.

“astaga!. Kau mau mencuri dompetku?.” Pekik Victoria dengan menggunakan logat Perancis.

Lelaki itu sepertinya ketakutan. Ia melepasakan begitu saja dompet milik wanita yang ia curi tadi saat kereta listrik tersebut berhenti dipemberhentian pertama. Lelaki yang akan mencopet dompet wanita itu bergegas keluar sebelum banyak orang mengeroyokinya akibat tindakan mencurinya.

“are you okay miss?.” Tanya Kyuhyun pada anita itu. Kyuhyun menyerahkan dompet milik wanita tersebut.

“ah, it’s okay. I’m fine thanks.” Jawab wanita itu.

“euhmm..i don’t know how thanks a alot for you..thank’s you so much Mister..” ucap wanita itu sopan sambil membungkukkan badan tanda memberi hormat. Sesaat kemudian mereka berdua tak sengaja kembali bersama-sama berhenti pada pemberhentian distasiun selanjutnya.

“you stop here?.” Tanya Kyuhyun kembali.

“surely.”

“it’s turns out goal together (ternyata tujuan kita sama)!.” Kyuhyun ber-oh ria terkekeh kecil lalu mendongak sebnetar menatap wajah gadis itu. Sedetik kemudian dengan berani ia menguurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan gadis tersebut.

“Cho Kyuhyun.” Ucap lelaki itu ringan seraya tersenyum dan menyodorkan pergelangan tangannya. Wanita itu terdiam sebentar lalu tersenyum hangat dan merespon uluran tangan Kyuhyun.

“Victoria Song. Are You Asian’s person?.” Tanya Victoria curiga. Ia curiga dengan marga yang terdapat didepan nama Kyuhyun tersebut.

“hem. Me?. Ah, surely. I’m from Seoul.” Tunjuk Kyuhyun pada dirinya sendiri sebelum ia kembali tertawa melihat wajah Victoria yang sedikit bingung.

“Seoul?. Aku juga berasal dari sana.” Kali ini Victoria menghilangkan logat inggrisnya dan memulai menggunakan bahasa Korea.

“woaa..aku begitu beruntung. Bisa bertemu dengan orang Korea di Eropa. Jadi setidaknya aku tidak kesepian lagi seorang diri dinegara orang ini.” canda Kyuhyun.

“anda bisa saja Cho Kyuhyun-sshi.”

“terima kasih banyak atas bantuan anda. Kalau tidak mungkin saya bisa kecopetan tadi dan kehilangan beberapa identitas diri. Sekali lagi jeongmal gamshamida.” Lanjut Victoria kembali.

“senang berkenalan dengan anda. Mungkin lain waktu kita bisa sambung lagi pertemuan kita.” Ujar Victoria mengakhiri pembicaraan. Ia sebenarnya sudah dikejar waktu karena ia berjanji akan makan malam bersama kekasihnya. Kim Jongwoon. Ia mengakhiri pertemuannnya dengan Kyuhyun lalu bergegas pergi. Namun tanpa sadar Victoria mengibaskan rambut panjangnya dan seketika itu juga jepit rambut yang ia kenakan terjatuh.

“tunggu nona.” Henti Kyuhyun. Victoria menoleh sebentar memperhatikan Kyuhyun yang baru saja berlari mengejarnya.

“ne waeyo?.”

“jepit rambut anda terjatuh.” Tukas Kyuhyun cepat lelaki itu kemudian menyerahkan jepit rambut berwarna hitam tersebut pada Victoria.

“jepit rambut ini sangat cantik. Akan lebih sangat cantik lagi jika anda memasangnya dirambut sebelah kanan anda.” Ucapan Kyuhyun membuat Victoria terdiam sebentar. Ia agak merasa canggung dengan penuturan lelaki yang baru saja dikenalnya.

“ah, ne gamshamida.”

Kyuhyun tersenyum sebentar dalam hidupnya ia baru kali ini melihat gadis seperti itu. Ia rasa ada yang berbeda pada gadis itu. tapi apa?. ia tak tahu. Lengkungan dibibirnya kembali melebar, senyum yang syarat kehangatan terpancar dari lelaki itu. Ia tak tahu dengan apa yang  terjadi padanya, tapi ia yakin saat melihat gadis tersebut Kyuhyun merasakan sesuatu hal yang berbeda.

*0*0*0*0*

“kau benar-benar pintar memasak Qianie.”

Victoria menoleh kearah  pria yang duduk disampingnya. Victoria balas menatapnya sambil tersenyum lebar. “gomawo.” Kata Victoria.

“Aku kenyang sekali,” keluh Jongwoon senang. Ia menepuk-nepuk perutnya dengan pelan dan puas.

Mereka berdua baru selesai makan dan sedang duduk-duduk di sofa panjang dan memandang ke luar jendela. Victoria memaksa Jongwoon. menggeser sofa ke depan jendela agar mereka bisa duduk dan makan sambil memandangi Sungai Seine di bawah sana.

“kau memang designer hebat Qianie. setiap kali aku detang ke apartementmu. Semuanya begitu mengagumkan. kata Jongwoon sambil bangkit dan berjalan berkeliling ruangan.

.”Qianie..aku ingin sekali kita berdua suatu saat kembali ke Seoul bersama. Apa itu mungkin bisa terjadi. Sementara aku sama sekali tak pernah menghubungi kedua orang tuaku sejak kepindahanku ke Paris.” Jongwoon tersenyum getir memandang suasana sungai Seine tepat didepan jendela besar apartement Victoria.

Victoria hanya bisa membalasnya dengan senyuman kecil. “tentu suatu saat kita akan berada di Seoul bersama. Dan tentunya kebahagiaan akan kita dapatkan di Seoul.  Jongwoon merasa dadanya lebih ringan sekarang. Perasaannya lebih baik. Kenapa senyum gadis itu bisa membuatnya merasa seperti itu? Tiba-tiba saja ia ingin menceritakan isi hatinya kepada Victoria, berharap dengan begitu ia bisa lebih lega, berharap bebannya tidak seberat sekarang.

Mata Jongwoon masih memperhatikan gadis yang sedang mengagumi Sungai Seine dengan tatapan menerawang itu. Mengherankan sekali. Keberadaan gadis itu membuatnya santai, seperti sekarang. Juga membuat perasaannya senang. Gadis itu seperti obat penenang. Ia sungguh bersyukur bisa memiliki hati dari gadis tersebut.

“aku berjanji padamu Qianie. akan melakukan apapun demi kebahagiaan mu.” Ujar Jongwoon lirih yng terdengar jelas ditelinga Victoria yang dibalas oleh senyuman hangat dari Victoria.

“hey..kau tahu tidak. kau sekarang punya banyak penggemar?” tanya Victoria tiba-tiba.

Jongwoon menoleh. “Maksudmu?”

Victoria menatapnya dan tertawa. “Para pendengar kami sangat tertarik dengan e-mail yang kaukirimkan, termasuk temanku, Cathlein, yang juga pendengar setia Je me souviens…. Cerita-ceritamu membuat mereka penasaran.”

“jinja?.”

Victoria kembali mengangguk. “Monsieur Jongwoon membuat acara itu semakin populer. Temanku sering sekali menanyakan tentang si ”laki-laki misterius yang romantis.‟

Jongwoon tertawa kecil.

“Terutama mereka penasaran sekali dengan siaranmu tadi pagi yang membahas lelaki korea bernama Nam Woohyun tersebut.” tambah Victoria.

“kau juga penasaran?.” Sela Jongwoon sambil tersenyum.

“baiklah aku juga,” Victoria cepat-cepat menambahkan. “jadi maukah kau melanjutkan cerita tersebut hingga Nam Woohyun mendapatkan gadis impiannya?.”

“bagaimana jika kau saja yang mengirimkan surat ke radioku. Nanti pasti aku akan membacakannya. Surat dari Song Qianie.” kekeh Jongwoon tertawa jahil.

“tidak mau!.” Tolak Victoria.

Jongwoon terkikik geli dan berpikir sebentar mendengar jawaban Victoria, ia hanya bermaksud bercanda saja. Sebenarnya ia hanya ingin menggodanya saja. “jadi kau mau lanjutan cerita itu. Baiklah. Sepertinya orang bernama Nam Woohyun tersebut baru saja mengirimkan e-mail nya tadi pagi. “

“tentu saja. aku masih penasaran dengan hubungan orang Korea bernama Nam Woohyun tersebut dan gadis bernama Louisa ini.”

“bukankah kau sangat menyukai suara dan gayaku sebagai penyiar radio. Mungkin besok aku bisa membacakan kelanjutan surat dari Nam Woohyun. Jongwoon berpikir sebentar, lalu berkata, “Akan kukabulkan keinginanmu kalau kau mau pergi jalan denganku kapan-kapan.”

Mata Victoria membesar dan ia tersenyum. “Kau mengajakku untuk berkencan?” Ia merasa gembira dengan rencana itu.

Jongwoon pura-pura berpikir keras, lalu mengangguk-angguk. “Sepertinya begitu.” Kemudian gadis itu tertawa. Saat itu Jongwoon menyadari ia sangat suka melihat Song Qianie tertawa. Sedetik kemudian ia rengkuh tubuh gadisnya mendekapnya hangat, Jongwoon hanya mencari sebuah ketenangan ditengah peliknya kehidupan.

-TBC-

hai readers..udah lama g nongol..kekeke..#digaplok..

aku balik lagi dengan cerita abal-abal nan amatiran. oh ya disini aku mencoba beralih cast dari Yulsing ke Taesung.. kali ini aku ingin bikin cast nya yang lain dari Yulsung..aslinya cerita ini terinspirasi dari tetraloginya illana Tan (read: Autumn in Paris)..oke untuk part pertama kalian mungkin masih bingung kan belum nemu konfliknya. sipp tentu aku memahami kalian, konflik akan muncul di next part. Part pertama aku isi dulu dengan perkenalan tokoh..

sekian dulu ya..author harap comment dari para readers membangun dan author harap 20 comment bisa dapat dari cerita ini..

sekian pai..pai…#tebar cium..#big hug

26 thoughts on “Pray For Love Part 1

  1. wah ada laagi ff bagus n menarik dgn kim jongwoon main castny
    paling suka ff klo main cast ny jongwoon,

    tema cerita dn bahasanya jg menarik, sprt baca sinopsis drama, hehehe
    konfliknya dan jalan cerita nya susah ketebak thor..
    semoga author cpt posting part2 selanjutnya ya, alnya bru ad 2 part dan bener2 bikin penasaran selanjutny gmn…
    trimakasih utk tulisannya dn semangat trus ya authornim…hehehee

  2. Terlebih dhulu maaf karena komentarnya nggak berkaitan dgn critanya…Cuman mhu nanya, gmbar itu diedit sama apps apa ya?

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s