[ONESHOT] OUR MEMORIES

Our Memories

Title : Our Memories

Author : tieshalee

Rating : PG

Genre : Romantic & Sad

CAST : Yoo Jiae – Cha Sunwoo (B1A4)

Siang itu langit begitu cerah. Awan putih pun dengan bebas bergerak dengan bebas. Tak mau kalah, burung-burung pun berterbangan kesana kemari mengikuti arah angin bertiup. Yoo Jiae, seorang gadis dengan perawakan mungil berlari-lari kecil dengan riang. Rok mini hitamnya pun sedikit melayang-layang karena tubuhnya sendiri. Rambut coklatnya yang dikuncir kuda pun menari-nari dengan riang mengikuti alunan kepalanya. Senyum pun mengembang indah disudut bibirnya. Dengan cepat Jiae pun tiba disebuah tempat dengan berbagai tanaman bunga menghiasi setiap sisinya. Perlahan Jiae membuka gerbang dan melangkahkan kakinya dengan pasti. Masih dengan senyum yang menghiasi wajahnya, Jiae mulai masuk kedalam bangunan bercat coklat muda.

Didalam bangunan itu terdapat berbagai setelan pakaian cantik yang terlihat sesuai dengan ukuran tubuhnya. Dengan mata berbinar-binar Jiae mulai memilih-milih pakaian kesukaannya. Akhirnya mata dan hatinya telah menjatuhkan pilihannya pada sebuah dress putih dengan hiasan berbagai bordiran berwarna biru dan orange. Tak lupa dirinya memilih sepasang kaus kaki putih berenda dan sepatu putih. Kali ini Jiae memilih untuk menggerai rambut coklatnya itu.

Selesai membereskan penampilannya, Jiae mengambil sebuah sepeda berwarna merah dari halaman yang dipenuhi berbagai tanaman bunya itu. Dengan perlahan mulai mengayuh sepeda itu, menuju sebuah daerah yang dirinya belum sama sekali mengenalnya. Namun hatinya memeilih tempat asing itu untuk persinggahannya kali ini.

Cuaca di Seoul saat ini benar-benar sangat cerah. Matahari yang sedikit bersembunyi dibalik awan pun, seakan mengajak seluruh manusia dibumi ini untuk bersemangat. Cha Sunwoo, seorang pria dengan rambut hitam, bermata bulat, dan bekulit putih itu memandang kearah langit dengan senyumannya yang merekah. Setelah puas memandang langit, Sunwoo pun mulai kembali mengayuh sepeda hijau miliknya. Dengan kemeja putih dan celana bahan abu-abu, Sunwoo mengayuh sepedanya pada trotoar jalan dengan perasaan bahagia.

Kayuhannya terhenti setelah melihat seorang gadis dengan dress putih memegang sebuah sepeda berwarna merah bediri dipinggil jembatan, memandang langit sama seperti apa yang dirinya lakukan beberapa menit yang lalu. Merasa penasaran dengan gadis itu, Sunwoo pun memutuskan untuk berhenti mengayuh sepeda, dan mulai menuntun sepedanya menuju gadis itu. Perlahan namun pasti, langkah Sunwoo pun semakin dekat dengan gadis itu. Dan dalam hitungan detik pun, Sunwoo telah berada tepat disamping gadis itu.

Gadis itu memandang Sunwoo dengan tatapan polosnya. Tersenyum lembut sambil menundukan kepala miliknya itu. Merasa kikuk, Sunwoo pun hanya dapat tersenyum malu dan menggaruk-garuk tengkuknya yang sama sekali tidak terasa gatal.

“Halo.” Sapa gadis itu lembut.

“Hai,” balas Sunwoo cepat. “Siapa namamu?” Lanjut Sunwoo tak mau ketinggalan momen emas ini.

“Perkenalkan, namaku Jiae. Yoo Jiae. Dan kau sendiri?” Ujar Jiae dengan senyumnya yang manis.

Masih terlihat kikuk, Sunwoo tersenyum malu. “Aku Sunwoo. Cha Sunwoo. Senang berkenalan denganmu.”

Jiae hanya tersenyum sekali lagi membalas keramahan Sunwoo. Kali ini Sunwoo bingung harus melakukan apa lagi. Akhirnya dirinya mulai menarik nafasnya perlahan, dan mengaturnya agar membuat dirinya menjadi kembali normal. Karena entah sejak kapan, gejolak dihatinya muncul secara tiba-tiba.

“Jadi kamu ini dari mana?” Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Sunwoo. Jiae meliriknya sekilas dan kembali memandang langit biru yang cerah itu.

“Aku yakin kamu tak akan pernah tahu dan percaya, jika kamu tahu aku berasal dari mana.” Ujar Jiae singkat dan berhasil membuat Sunwoo makin merasa bingung.

“Maksudmu? Aku tak mengerti.”

“Aku.. Aku berasal dari dunia yang berbeda denganmu.”

Mata Sunwoo membulat dengan sempurna. Pikirannya mulai membayangkan hal-hal aneh kepada gadis didepannya itu. Jiae sadar bahwa reaksi Sunwoo mulai berubah. Dengan cepat dirinya memberikan senyuman lembut sekali lagi, untuk membuat Sunwoo percaya satu hal, bahwa dirinya tak  akan menyakiti pria dihadapannya itu. Dan ternyata benar saja, Sunwoo membalas senyumnya dan mencoba mengeluarkan sebuah kalimat walau hatinya sedikit ragu.

“Jadi kamu ini seorang makhluk halus? Seperti itukan?”

Jiae tertawa kecil mendengar pertanyaan Sunwoo barusan. “Mungkin saja. Namun bukan makhluk halus seperti yang kamu pikirkan saat ini. Mungkin aku bisa dikatakan sebagai malaikat. Ya, malaikat.”

Semakin lama Sunwoo semakin merasa tak percaya bahwa dirinya dapat bertemu dengan makhluk cantik seperti Jiae ini. Rasa takutnya mulai menghilang, justru rasa penasrannya makin bertambah.

“Baiklah, aku percaya kamu orang baik. Mau bermain?”

Sunwoo mengajak Jiae dengan mengulurkan tangan kanannya, dengan sedikit malu juga Jiae pun membalas uluran tangan itu. Sunwoo tersenyum melihat respon baik dari Jiae. Perlahan dirinya melepaskan tautan tangan antara dirinya dan Jiae, dan mengajaknya untuk menuntun sepeda mereka menuju ujung jalan.

Dengan kecerian yang tumbuh dari masing-masing hati mereka. Suasana saat itu menjadi lebih baik dari sebelumnya. Kali ini Sunwoo mengajaknya untuk bermain sepeda bersama disebuah taman yang cukup sepi. Hanya ada mereka berdua dan beberapa orang saja yang sedang duduk dan berjalan santai ditaman tersebut. Wajah Jiae terlihat sangat senang melihat Sunwoo yang selalu membuatnya tertawa. Dan ini pertama kali dalam hidupnya, dia merasakan jantungnya begitu terasa berbeda. Selama perjalanan hidupnya, menyusuri setiap tempat didunia, baru kali ini Jiae dapat merasa bahagia berkali-kali lipat rasanya.

“Kamu lelah?” Tanya Sunwoo perhatian.

“Hanya sedikit, kamu?” Ujar Jiae lembut dan masih dengan senyumnya yang menawan.

“Sama denganmu, aku pun merasa sedikit lelah. Eng.. Bagaimana jika kita beristirahat dipohon itu saja? Terlihat teduh bukan?”

Jiae menjawabnya hanya dengan menganggukan kepalanya. Mereka berdua pun menganyuh sepedah mereka menuju pohon yang mereka pilih. Meletakan sepeda mereka disamping pohon tersebut. Mereka pun saling menyandarkan diri apda pohon tersebut. Jiae benar-benar terligat lelah, nafasnya mulai terdengar tergesa-gesa.

“Kamu lelah ya? Maaf ya.” Ujar Sunwoo merasa bersalah.

“Tidak, tidak! Kamu tidak salah, untuk apa minta maaf. Aku merasa senang saat ini. Jangan merasa seperti itu oke?” Jawab Jiae dengan wajah polosnya itu.

Sunwoo menganggukkan kepalanya dan tersenyum geli melihat betapa polosnya gadis dihadapannya ini. Setidaknya hari ini Sunwoo merasa tak menyesal kerena telah memilih untuk, bersepeda pada hari yang cerah ini. Mata Sunwoo menangkap sebuah tangan yang sedang tergeletak diatas tanah. Ya, tangan itu milik Jiae. Dengan sedikit ragu Sunwoo mulai ingin menyentuhnya. Jantungnya terasa ingin meledak saat gerakan tangannya semakin dengan tangan putih milik Jiae. Dan akhirnya dalam hitungan detik pun, tangan Sunwoo sudah berada diatas tangan Jiae. Awalnya Jiae terkejut, namun saat dirinya melirik kearah tangannya lalu melirik Sunwoo. Senyumnya kembali merekah dan wajahnya pun terlihat memerah. Tak hanya Jiae, Sunwoo pun bertindak sedemikan rupa.

Sudah selama 15 menit mereka bersandar pada pohon tua tersebut. Akhirnya Sunwoo melontarkan sebuah pertanyaan. Sejak tadi mereka memang hanya diam menikmati angin sepoi-sepoi, dan tangan mereka pun masih dengan posisi yang sama.

“Nanti mau aku bonceng?”

Jiae kali ini menolehkan kepalanya pada Sunwoo. “Kamu? Tidak apa-apa?”

“Ya! Pasti tidak akan apa-apa. Kamu mau?” Sunwoo begitu semangat melontarkan kalimatnya.

“Baiklah, aku mau. Tapi aku rasa kamu masih merasa lelah, sebaiknya sebentar lagi saja.”

“Baiklah, sebenatar lagi saja. Mau mendengarkan lagu?”

Jiae hanya menganggukkan kepalanya pelan. Sunwoo pun mengambil iPod putih miliknya dan memasangkan sebuah earphone pada telinga Jiae. Mereka pun mendengarkan alunan lagu slow yang terdapat didalam iPod milik Sunwoo itu. Sunwoo benar-benar merasa dirinya sedang berada diatas awan putih yang melayang-layang dilangit biru. Senyumanya terus mengembang disudut bibir miliknya itu. Wajahnya terlihat semburat merah menghiasi pipinya karena malu. Melihat ekspresi Sunwoo, Jiae hanya tersenyum manis dan menundukan kepalanya.

Entah keberanian dari mana, mendadak Jiae mencoba menyandarkan kepalanya pada bahu Sunwoo. Merasa terkujut, Sunwoo nyaris melompat kegirangan. Namun dirinya mencoba membuat Jiae merasa nyaman saat itu. Perlahan mata Jiae terpejam. Melihat hal itu Sunwoo semakin tersenyum riang. Dia sungguh sangat berharap agar semua ini tak akan cepat berakhir.

 Jiae mencoba mengerjapkan matanya, menyesuaikan dengan keadaan cahaya yang menyongsong masuk langsung menuju matanya. Sedikit merasa aneh akan posisinya saat ini,, seingatnya dirinya hanya meletakkan kepalanya diatas bahu Sunwoo. Namun sekarang Jiae berbaring menghadap langit biru yang luas itu. Matanya mulai menerawang setiap sisinya, sampai akhirnya dia menemukan sesosok pria yang berbaring disampingnya dengan posisi yang lebih tinggi darinya. Mata Jiae milirik kearah wajah pria itu, ya Sunwoo. Sunwoo yang sadar jika Jiae telah terbangun dari tidurnya pun memandang kearah kepala Jiae melirik dirinya saat ini.

“Hai, kamu sudah bangun?” Tanya Sunwoo lembut.

Jiae hanya tersenyum polos dan kembali pada posisinya menghadap langit biru yang begitu indah. Sebenarnya dirinya bertanya-tanya, bagaimana bisa dia berada dalam posisi seperti ini sedangkan dia sangat mengingat jelas akan posisinya tadi. Hanya saja lidahnya terasa kelu untuk menanyakan hal itu. Akhirnya dirinya hanya membuang jauh pertanyaannya itu. Yang Jiae tahu, Sunwoo telah menjaganya dengan baik saat ia tertidur tadi.

“Jadi sekarang kita mau melakukan apa?” Lontar Jiae tiba-tiba.

Sunwoo memandang kearahnya, mengelus rambut Jiae perlahan. “Terserah kamu saja, aku akan mengikuti apa saja maumu.”

“Baiklah, kamu harus janji akan ikuti semua apa yang akan aku ingini?”

“Aku janji!”

Mendengar Sunwoo menjawab janjinya dengan mantap, Jiae dengan cepat bangkit dari tidurnya. Dan menarik tangan Sunwoo menyuruhnya bangun. Dituntunnya Sunwoo menuju sepeda hijau milik pria itu.

“Jadi kamu mau kemana?”

“Aku mau berjalan-jalan disekitar sini bersamamu menggunakan sepeda ini.”

Sunwoo hanya tersenyum mendengarnya, dan mulai mengayuh sepeda itu dengan sekuat tenaganya. “Kita berangkat! Berpeganggan oke?”

Jiae pun terus tertawa selama perjalanannya mengunakan sepeda dengan Sunwoo. Tak pernah sedikit pun Sunwoo membuatnya tidak tertawa. Segala macam bahasan pun dapat Sunwoo buat menjadi menarik dimata Jiae. Jiae pun memegang pinggang Sunwoo dengan tanpa rasa malu atau apa pun. Siapa pun tak akan pernah menyangka bahwa mereka belum lebih dari sehari dalam menjalin pertemanan. Memang terlihat aneh jika baru saja berkenalan, namun sudah bisa sedekat ini. Dan rasa canggung itu memang telah hilang dengan sendirinya diantara mereka berdua. Mendadak sepeda Sunwoo terhenti, Jiae pun merasa terkejut ketika Sunwoo menghentikan sepeda miliknya secara tiba-tiba.

“Ada apa?” tanya Jiae penasaran.

“Kamu sudahh pernah mencoba bermain itu?” Sunwoo berbalik bertanya pada Jiae dan menunjuk sebuah benda berbentuk lingkaran yang disebut trampolin.

Mata Jiae terlihat berbinar melihat benda itu. Ditaman itu terdapat beberapa trampolin, dan juga beberapa anak sedang bermain diatas benda itu. Melihat anak-anak itu begitu riang, Jiae pun mengangguk dengan mantap dan menjawab dengan mantap.

“Aku mau mencoba itu!”

“Haha. Baik baik, ayo kita kesana.”

Sunwoo pun mengayuh sepeda miliknya itu menuju tempat trampolin itu berada. Begitu sampai disana, dengan cepat Jiae turun dari posisinya dan berlari menuju trampolin itu. Melihat tingkah Jiae membuat Sunwoo lagi-lagi mengembangkan senyumnya. Dengan cepat Sunwoo meletakan sepedanya lalu bergabung bersama Jiae disebuah trampolin berukuran sedang. Kini satu trampolin itu hanya dimainkan oleh mereka berdua saja. Wajah Jiae benar-benar terlihat senang. Tak henti-hentinya senyum itu terbentuk dari bibirnya. Sunwoo sesekali memegangi Jiae karena melompat terlalu tinggi.

Jiae benar-benar menghabiskan sisa waktunya berada dibumi. Dia sendiri tak tahu kapan waktunya dia pergi secara mendadak dari bumi ini. Ada perasaan sedih dihatinya. Ini pertama kalinya dia merasakan suatu gejolak berbeda dari hatinya. Sayangnya, gejolak itu hanya akan menjadi sebuah kenangan belaka untuknya. Jiae pun masih sulit untuk mengatakan kepada Sunwoo, bahwa kemungkinan besar mereka tak akan pernah bertemu kembali.

“Jiae-ya? Kenapa melamun?” Tanya Sunwoo bingung melihat Jiae yang mendadak melamun.

“Hah? Ah.. Tidak, tidak apa-apa. Sekarang kita mau kemana?” Jawab Jiae dengan cepat mengalihkan pembicaraannya.

Mereka telah lelah melompat-lompat diatas trampolin. Sunwoo pun memilih untuk berjalan-jalan santai disekitar taman ini saja dan ia mengatakan bahwa akan membawa Jiae kesuatu bukit yang sangat indah. Dengan wajah berseri-seri, Jiae berlari kecil seperti anak kecil dan hal itu membuat Sunwoo tertawa dan mengejarnya.

Jiae memegang sebuah pita berwarna-warni ditangannya. Dan itu entah dari mana ia mendapatkannya. Tangannya terus menerbang-nerbangkan pita itu sambil berlari-lari. Sunwoo pun semakin geli melihat gadis dihadapannya itu. Ingin rasanya ia membawa pulang Jiae kerumahnya, mengenalkan kepada ibunya. Ia yakin ibunya akan senang jika memiliki satu orang putri lagi. Walau pun Sunwoo memiliki adik perempuan yang tak begitu jauh dari usianya, namun dibandingkan adiknya Sunwoo akan lebih senang jika Jiae-lah yang menjadi adiknya. Sedikit jahat mungkin, namun ini hanya sebuah khayalan dirinya semata.

“Sunwoo-ya.. Kemari cepat.” Ajak Jiae sambil melambaikan tangannya memanggil Sunwoo.

Sunwoo pun sadar akan lamunannya dan segera berjalan kearahnya, “ada apa? Kamu ingin berlari-lari lagi?”

Jiae menggelengkan kepalanya perlahan dan tersenyum miris. Melihat ekspresi Jiae berubah, Sunwoo menjadi sedikit bingung dan bertanya-tanya ada apa sebenarnya. “Kamu kenapa? Sakit?” tanya Sunwoo sedikit panik.

“Tidak, aku tidak sakit. Eng.. Hanya saja, bisakah kamu menggandengku dan kita berjalan menuju bukit yang kamu ceritakan?” Lontar Jiae masih dengan eskpresi yang sulit Sunwoo tebak.

“Ha? Kamu yakin baik-baik saja? Atau kamu lelah?” Sunwoo semakin panik setelah mendengar perkataan Jiae.

“Tidak, aku tak apa-apa Sunwoo-ya. Ayo kita pergi sekarang.”

Merasa sedikit ragu, Sunwoo pun menggandeng Jiae dan berjalan menuju bukit yang ia ceritakan. Perasaan Sunwoo menjadi tak enak. Rasanya ia seperti akan kehilangan sesuatu yang berharga dihatinya. Selama mereka bergandengan, mereka berdua sama sekali tak mengucapkan sepatah kata pun. Sunwoo sibuk dalam benaknya sendiri, begitu juga dengan Jiae. Masing-masing merasa ragu untuk memulai pembicaraan.

Akhirnya mereka tiba dibukit yang Sunwoo katakan. Indah. Sangat indah. Itu yang pertama kali Jiae ucapkan dalam hatinya. Dibawah bukit itu terdapat hamparan padang rumput yang luas. Langit yang sudah mulai berwarna orange terpancar indah menembus mata Jiae sesuka hatinya. Burung-burung pun mulai kembali menuju sarangnya. Matahari yang sudah hampir berada diperbatasan barat pun memberi kehangatan yang sangat nyaman. Jiae merentangkan kedua tangannya, memejamkan kedua matanya, dan menghirup udara segar sore hari.

“Kau suka?” Tanya Sunwoo yang sudah membaca kebahagiaan dari wajah Jiae.

“Sangat! Aku sangat suka! Ini indah.” Jawab Jiae dengan wajah berseri-serinya.

Mendengar jawaban Jiae perasaan Sunwoo sedikit melega. Namun rasa ganjil itu masih ada dalam hatinya. Sampai akhirnya dia memberanikan diri untuk bertanya kepada Jiae, “setelah ini, apa kamu akan kembali?”

Mendengar Sunwoo bertanya demikian, Jiae kembali terpaku. Dirinya sulit untuk menjelaskan semua kepada Sunwoo. Lebih tepatnya, ia bingung untuk memulai dari mana. Namun akhirnya Jiae mengumpulkan semua keberaniannya dan mengatakan yang sebenarnya.

“Mungkin ini adalah pertemuan awal kita sekaligus pertemuan terakhir kita. Aku tidak tahu aku dapat kembali lagi atau tidak. Namun selama perjalanan ku sejauh ini, aku tak pernah kembali ketempat dimana aku pernah mengunjungi tempat tersebut. Dan aku sungguh meminta maaf kepadamu, karena aku baru menyampaikannya kepadamu. Aku sungguh tak siap untuk mengatakannya.”

Mendengar hal tersebut Sunwoo benar-benar tak dapat mengeluarkan sepatah kata pun. Ternyata ini yang membuat perasaannya menjadi tak enak sejak tadi. Sungguh, ini membuatnya menjadi seperti seorang pria lemah. Matanya mulai memanas. Tak seperti biasanya Sunwoo mengalami hal seperti ini. Entah kenapa ini benar-benar berat untuk dirinya. Ini berbeda dengan sewaktu dirinya ditinggalkan oleh kekasihnya yang dulu.

“Sunwoo-ya.. Aku minta maaf. Jujur jika aku boleh memilih, aku ingin memilih tinggal disini lebih lama. Atau untuk selamanya. Dan.. Aku menyukaimu.” Ucapan itu terlontar begitu saja dari mulut Jiae. Wajahnya mulai memerah, matanya pun mulai berkaca-kaca.

Sunwoo yang mendengar pengakuan gadis disampingnya itu, menatap Jiae dalam. Sunwoo tersenyum miris, namun terlihat tulus. Perlahan Sunwoo mengelus rambut Jiae. Mencoba menenangkan perasaannya, walau pun Sunwoo sendiri sedang merasa kacau.

“Dan jika aku boleh memilih, bolehkan aku ikut bersamamu? Bukan hanya kamu, sejak awal melihatmu aku mulai menyukaimu.”

Kini giliran Jiae yang terpanah mendengar ucapan Sunwoo. Dirinya tak menyangka jika perasaannya terbalaskan. Matanya benar-benar penuh dengan air mata. Melihat hal itu Sunwoo segera menghapus air mata yang akan jatuh saat itu. Lagi-lagi lidahnya kelu untuk mengatakan kata-kata yang menguatkan Jiae, karena dirinya sendiri sedang merasa pilu.

“Sunwoo-ya.. aku harap hari ini akan menjadi kenangan untukmu. Walau aku tak akan pernah kembali muncul dihadapanmu. Mungkin ini memang menyakitkan untuk kita berdua, tapi aku percaya kamu dapat melupakan sosokku dengan cepat. Melupakan diriku, bukan kenangannya.” Ujar Jiae menegarkan dirinya.

Mendengar hal itu Sunwoo sedikit merasa terkesikap. Bagaimana bisa dia melupakan Jiae tanpa melupakan kenangannya? Namun Sunwoo mengerti, Jiae mengatakan hal itu untuk membuat dirinya merasa lebih baik.

“Hari ini akan selalu tercatat dalam benakku, mungkin akan terbentuk sebuah diary yang berjudul ‘Our Memories’ didalam benakku. Terima kasih untuk hari ini.”

Jiae tersenyum mendengar ucapan Sunwoo. Entah kenapa kata ‘Our Memories’ dapat membuatnya merasa sedikit lega. Setidaknya ia tahu bahwa Sunwoo tak akan melupakan kenangannya. Pada saat itu juga Jiae merasakan dirinya seperti akan menghilang dari bumi. Perlahan ia rasakan tubuhnya seperti akan melayang terbawa angin. Dengan sebisa mungkin Jiae menutupi ekspresi khawatirnya.

Thanks for today, Cha Sunwoo.” Ucap Jiae lembut. Pada saat itu juga dua jari tangan kanan Jiae menyentuh bibirnya, kemudian dua jari miliknya itu pun ditempelkannya pada bibir Sunwoo. Secara otomatis Sunwoo benar-benar merasa pilu. Sunwoo sadar tubuh Jiae semakin terlihat seperti akan hilang terbawa angin. Akhirnya dalam hitungan detik tubuh Jiae pun menghilang bagaikan angin yang terbawa oleh arusnya.

Sunwoo memandang kearah langit dan tersenyum miris. Ia berusaha untuk tegar menerima semuanya. Dengan langkah yang sedikit gontai, Sunwoo pun kembali menuju tempat sepedanya ia tempatkan tadi. Dan kembali kerumah dengan hati yang terbagi antara bahagia atau sedih. Yang pasti kenangannya bersama Jiae akan selalu ia simpan dalam benaknya.

Ditempat lain Jiae pun sudah kembali pada dunianya. Memandang langit gelap yang berhiasi bintang-bintang indah. Satu harapan yang ada dihati Jiae. Ia berharap, dirinya dapat kembali bertemu dengan Sunwoo. Walau entah itu kapan. Sama seperti Sunwoo, Jiae tak akan pernah melupakan kenangan mereka.

-THE END-

Hai, bagaimana? aneh ya? hehe~

Sorry kalau ada typo dan salah lainnya ya 🙂

Like and Comment ^^

Thanks for reading  guys ❤

6 thoughts on “[ONESHOT] OUR MEMORIES

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s