[FF Freelance] Miracle (Part 1)

miracle

 

Chapter I

“Miracle”

A Story by Jung Hyunhee

Nam Woohyun || Kwon Nara

Park Chorong || Kim Myungsoo || Bae Suji

Romance, Friendship, School-life

PG-13

Chaptered

Note : FF ini juga pernah dipost di blog pribadi author di http://straighthairlikejasmine.wordpress.com/ hope u like it! ^^

 

***

“Aku pulang!” seruku ketika tiba di rumah. Aku berdecak sebal ketika mendapati pemandangan seperti biasa, tidak ada satupun orang di rumah.

Kulangkahkan kakiku menuju dapur, tidak ada makanan di meja. Segera kubuka kulkas. Tidak jauh berbeda, yang ada hanya pizza dingin dan soft drink. Aku heran, apakah orangtuaku memang masih peduli dengan kesehatan putra semata wayangnya?

Kuambil sekaleng soft drink sebelum menutup pintu kulkas.  Kulangkahkan kakiku menuju kamarku di lantai dua, kulepas tas ranselku dan kulempar asal ke sudut kamar.

Drrt.. drrt..

Kuambil ponselku dari dalam saku celana. Sebuah pesan singkat dari Park Chorong, segera kubaca isinya.

From : Park Chorong

Woohyun-ah, kenapa tadi kau langsung pulang, huh? Seharusnya kau mengantarku terlebih dahulu -___-

Tsk, dasar manja. Masa tiap hari aku harus mengantarnya pulang? Sekedar informasi saja, arah rumahnya berbeda 360 derajat dari rumahku. Ibarat dia di kutub utara dan aku di kutub selatan.

To : Park Chorong

Mianhae. Tadi aku buru-buru.

Segera kukirim jawaban itu, lalu kubuang ponselku ke atas tempat tidur. Aku berjalan ke arah balkon, membuka kaleng soft drink-ku dan kuteguk sampai hanya tinggal tersisa setengah. Kuedarkan pandanganku ke depan, merasakan angin sejuk yang menerpa wajahku. Damai? Mungkin. Tapi entahlah, hidupku membosankan.

“Nara-ya! Cepat kau antar makanan itu!”

“Baik, eomma. Tunggu sebentar!”

Seruan-seruan itu menarik perhatianku. Kualihkan pandanganku ke arah bawah dan kudapati pemandangan asing tepat di depan rumahku. Sepertinya mereka baru saja pindah kemari, pikirku.

Kuteguk soft drink-ku lagi sampai habis tak bersisa, lalu kubuat penyok kalengnya dan kubuang asal ke depan.

Aku baru akan berbalik menuju kamarku ketika kudengar teriakan seorang yeoja. “Aaah! Siapa yang melemparkan kaleng ini padaku?”

Deg. Kulihat lagi ke bawah dan kudapati seorang yeoja sedang berdiri di depan rumahku sambil mengusap-usap kepalanya dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya membawa sebuah piring lebar.

“M-mianhae! Aku tidak melihat,” seruku panik.

Yeoja itu menengokkan kepalanya ke seluruh penjuru dengan tatapan bingung. “Aku di atas!” seruku lagi.

Yeoja berambut panjang itu mendongakkan kepalanya lalu tersenyum lebar. “Oh, kau di situ! Tidak masalah, bisakah kau bukakan pintu untukku?”

Aku buru-buru mengangguk lalu segera turun ke bawah, membukakan pintu untuknya. “Ada perlu apa ke sini?” tanyaku.

“Oh, ini. Aku membawakan makanan dari eomma untukmu. Kami baru saja pindah kemari tadi pagi. Kami harap kita dapat menjadi tetangga yang baik,” ucapnya riang sambil mengangkat sepiring besar makanan.

Aku mengangguk-anggukkan kepalaku tanda mengerti. “Terimakasih banyak,” ucapku sambil menerima makanan dari yeoja itu.

“Namaku Kwon Nara, siapa namamu?” tanyanya sambil mengulurkan tangan.

Aku menjabat tangan kanannya. “Nam Woohyun.”

Ia mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu tersenyum lagi. “Baiklah, Nam Woohyun, aku harus mengantarkan makanan untuk tetangga yang lain. Senang berkenalan denganmu!”

Aku tersenyum tipis. “Senang juga berkenalan denganmu.”

Aku menatap punggung gadis bernama Kwon Nara yang sedang melangkah menjauhi pekarangan rumahku dengan langkah panjang dan ceria. Heran juga melihat ada orang yang bisa begitu ceria sepertinya.

Aku mengedikkan bahuku lalu segera masuk ke dalam rumah. Kutatap makanan yang diberi oleh Nara tadi. Aku tersenyum, sudah lama aku tidak makan makanan bergizi.

***

Kulirik jam yang tergantung pada dinding kelasku. Tsk, kapan bel istirahat akan berbunyi? Mataku sudah hampir terpejam ketika pintu kelasku diketuk oleh seseorang.

Kim sonsaenim bangkit dari tempat duduknya untuk membukakan pintu kelas. Kulihat kepala sekolah sedang berdiri di depan pintu. Tsk, semoga para dewan guru sedang ada masalah penting sehingga kelas dapat segera dibubarkan.

Kuletakkan kepalaku di atas meja, berusaha memejamkan mataku yang sangat mengantuk. Tadi malam aku bermain game seorang diri sampai larut malam, sehingga tidurku kurang.

“Anak-anak, kita kedatangan seorang murid baru di kelas!” seru Kim sonsaenim lantang. Aku masih berusaha memejamkan kedua mataku, sama sekali tidak tertarik dengan siapapun murid baru itu.

“Siapa namamu?” kudengar Kim sonsaenim bertanya pada murid baru itu.

“Kwon Nara imnida.”

Set. Aku langsung memasang posisi duduk yang benar. Mataku mengerjap tak percaya, tak kukira gadis itu juga akan satu sekolah denganku. Bahkan satu kelas.

Kim sonsaenim menyuruh Nara untuk duduk. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan, mencari tempat duduk yang kosong. Deg, tiba-tiba pandangan kami bertemu. Tatapannya padaku seakan berkata oh-kau-juga-bersekolah-di-sini.

Aku mengangguk, kulirik kursi di sebelahku yang memang dari dulu kosong, mengisyaratkan agar ia duduk di sebelahku.

Nara tersenyum dan segera duduk di dekatku. “Tak kusangka kita bisa satu sekolah, bahkan satu kelas,” bisiknya.

Aku mengangguk. “Itu juga yang sedari tadi aku pikirkan.”

“Tapi, kursi ini apakah memang kosong? Maksudku, mungkin saja pemilik sesungguhnya sedang tidak masuk,” tanya Nara. Raut wajahnya terlihat khawatir.

“Ani, dari dulu memang kosong. Kau boleh duduk di situ selamanya,” jawabku.

Nara mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti, lalu mulai fokus dengan pelajaran. Sedangkan aku lebih baik tidur. Namun belum sempat kepalaku menyentuh meja, seseorang melemparkan rematan kertas ke arahku. Aku langsung tahu itu dari siapa, segera saja kupasang death glare ke arah Myungsoo yang tidak begitu jauh tempat duduknya.

Namja itu terkekeh. “Ya! Death glare-mu itu sangat payah,” bisiknya.

Aku terus menatapnya kesal, tidak terima dengan usaha tidur siangku yang terganggu olehnya. “Ada apa memanggilku?” tanyaku.

“Kau ini, jangan main-main dengan murid baru itu.”

Aku mengernyitkan keningku, tidak mengerti dengan perkataan Myungsoo. “Apa maksudmu?” tanyaku lagi.

Myungsoo menepuk dahinya, bersikap seakan-akan aku ini makhluk paling bodoh sedunia. “Ingat, kau punya Chorong. Jadi jangan coba-coba berselingkuh dengan murid baru itu.”

“Mwo? Siapa yang berselingkuh, huh? Aku hanya memberinya tempat duduk,” ucapku kesal, tidak terima dengan tuduhan Myungsoo kalau aku berselingkuh.

Ups, sial. Sepertinya nada bicaraku terlalu tinggi. Dengan gugup kutatap wajah Kim sonsaenim yang sedang memasang death glarenya, death glare yang seribu kali jauh lebih menakutkan daripada milik Myungsoo.

***

“Woohyun-a!”

Aku menghela nafas lalu menoleh ke belakang, kudapati Chorong sedang berlari-lari kecil ke arahku. “Antarkan aku pulang!” seru gadis itu ketika sudah tiba di hadapanku.

“Tapi bensinku habis, dan aku tidak bawa uang lebih untuk membelinya di jalan nanti. Kau naik bus saja, ne?”

Mendengar jawabanku yang tidak memuaskan, Chorong mengerucutkan bibirnya sambil menatapku kesal. “Selalu saja begitu.”

“Mianhae,” ucapku singkat. Kuusap-usap pucuk kepalanya, membuat gadis itu semakin menatapku kesal.

“Jangan lupa makan siang,” ucapnya datar sambil mengalihkan pandangannya dariku.

Aku tersenyum, kucubit pipinya gemas. “Arasseo, sekarang pulanglah.”

“Ne, Woohyun-a.”

***

Aku mengacak-acak rambutku frustasi. Kubaca lagi sebuah naskah yang ada di tanganku. “Payah,” desisku. Kuremas kertas itu lalu kubuang asal ke sudut kamarku.

Tugas sialan! Aku sama sekali tidak berbakat merangkai kata-kata. Tidak kusangka Kim sonsaenim akan memberikan tugas merangkai seperti ini, aku pikir setelah lulus SD aku tidak harus dipertemukan dengan tugas seperti ini lagi.

Kusandarkan punggungku di kursi. Pening, itulah yang kurasakan sekarang. Sepertinya aku butuh udara segar.

***

Aku berjalan ke luar sambil membawa sekaleng soft drink. Sebenarnya aku merasa lapar, tapi aku sangat bosan makan dengan pizza dingin. Lebih baik membeli makanan di luar.

“Nam Woohyun!” aku menoleh ke arah taman dan mendapati Nara sedang duduk di salah satu ayunan sambil membawa buku dan pena, tersenyum cerah ke arahku.

“Oh, Nara-ya!” ucapku sambil berjalan ke arahnya.

“Kau mau kemana siang-siang begini, Woohyun-a?” tanya gadis itu.

“Molla, aku hanya sedang butuh udara segar,” jawabku jujur.

“Duduklah. Di sini anginnya sangat sejuk,” ucap Nara sambil menunjuk bangku ayunan yang ada di sebelahnya.

“Benarkah?” tanyaku sambil duduk di bangku ayunan tersebut.

Nara mengangguk. “Apakah kau belum pernah ke sini sebelumnya?”

Aku berpikir sejenak, bahkan aku tidak pernah memperhatikan ada taman di kompleks ini. “Belum pernah.”

“Tsk, kau ini. Pasti selama ini kau menghabiskan waktu di dalam rumah terus. Masa taman yang luas seperti ini kau belum pernah mampir sekalipun?”

“Aku tidak pernah tertarik pergi ke tempat seperti ini. Lebih baik bermain game di rumah,” ucapku.

“Dasar anak laki-laki. Oh, Woohyun-a, terimakasih ya tadi sudah mengantarku pulang. Lain kali tidak usah, aku bisa naik bus atau jalan kaki sendiri,” ucap Nara.

Benar, tadi sepulang sekolah aku memang mengantarnya pulang. Entahlah, melihatnya jalan kaki sendirian padahal dia baru tinggal di sini beberapa hari membuatku ingin mengantarnya. “Rumah kita searah, bahkan berhadap-hadapan. Itu tidak masalah bagiku.”

“Tapi tadi aku sempat melihatmu bersama dengan seorang yeoja, dan kau menolak untuk mengantarnya pulang,” ucap Nara. Ia menatapku dengan tatapan ingin tahu.

“Ooh, dia yeojachingu-ku. Tapi rumahnya sangat jauh dari sini, sedangkan tadi bensinku sudah hampir habis,” jelasku.

Nara mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. “Siapa namanya?” tanyanya lagi.

“Huh, kau ini ingin tahu sekali. Namanya Park Chorong, ia seangkatan dengan kita, hanya beda kelas.”

Nara mengangguk-anggukkan kepalanya lagi.

“Bagaimana denganmu? Apakah kau sudah mempunyai namjachingu?” tanyaku, entah faktor apa yang mendorongku untuk menanyakan hal ini.

“Aku belum pernah berpacaran. Jatuh cintapun mungkin belum pernah,” jawabnya polos, membuat mataku sukses membulat.

“Mwo? Sampai usiamu sekarang ini kau belum pernah jatuh cinta?” tanyaku.

Nara mengangguk. “Entahlah, aku tidak tahu tanda-tanda jika sedang jatuh cinta.”

Aku menghela nafas sambil memandangnya tak percaya. “Begini, jika kau sedang bersama dengan seorang namja, dan entah mengapa jantungmu berdetak lebih kencang daripada biasanya, padahal kalian tidak sedang melakukan sesuatu yang sangat berarti, saat itulah kau sedang jatuh cinta.”

“Berikan aku sebuah contoh,” pinta Nara.

“Misalnya, jika kau menjatuhkan sebuah pena, lalu kau berusaha untuk mengambilnya, tetapi namja yang ada bersamamu juga ingin mengambil pena itu untukmu. Tak sengaja hal itu membuat jarak kalian menjadi sangat dekat, lalu kalian saling bertatapan dan tiba-tiba jantungmu berdetak dengan kencang melebihi biasanya,” jelasku dengan susah payah, mengingat-ingat salah satu adegan drama korea yang pernah kutonton.

Nara masih menatapku bingung, membuatku berdecak kesal. Kuambil pena yang sedang dipegang Nara lalu kujatuhkan ke tanah, membuatnya menunduk untuk mengambil pena itu. Saat itu juga aku ikut menunduk, membuat jarak di antara kami terasa sangat dekat. Gadis itu menatapku kaget, sementara aku hanya menatapnya dengan pandangan kosong.

“Nah, seperti itu,” ucapku sambil kembali bangkit.

“Mwo? Kau membuatku kaget!” seru Nara sambil memukulkan bukunya ke lenganku.

“Yak, aku kan hanya memberimu contoh!” seruku sambil mengusap-usap lenganku.

“Mianhae.”

“Gwaencanha. Nara-ya, buku apa itu?” tanyaku penasaran, buku dan pena yang dibawa Nara tadi mencuri perhatianku.

“Oh, ini. Aku hanya sedang menulis puisi.”

“Puisi?” ulangku. “Kau gemar menulis puisi?”

Nara mengangguk ceria. “Hmm, entahlah. Menyusun kalimat-kalimat yang indah menurutku sangat mengasyikkan.”

“Kalimat-kalimat indah?” ulangku lagi, tiba-tiba aku teringat sesuatu. “Nara-ya, bisa kau membantuku?”

 

TBC

5 thoughts on “[FF Freelance] Miracle (Part 1)

  1. Akhirnyaaaa baca ff yg cast nya wahyu jugaaa… haahaahaaa setelah sekian lama… ceritanya enteng… asik di baca…. di tunggu next part nya author-nim… emmmmmm…. masukin hoya juga dong… hhhahahaaa :”333

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s