[FF Freelance] You’re Not the Start, But You’re My Destination (Part 2)

part 1

Title :     You are not the start, but you are my destination

Author:                Luhoney (@chikacharlotte)

Rating : Teenage

Lenght :

Genre : Romance

Cast :     Leeteuk (Super Junior) Choi Siwon (Super Junior) Lee Donghae (Super Junior)

Kim Taeyeon (SNSD) Choi Sooyoung (SNSD) Im Yoon Ah (SNSD)

Desclaimer : Annyeonghaseyo, This is my first ff. Inspired by many drama such as Flower Boy Next Door, Innocent Man, Reply 1997, I Hear Your Voice, etc. The casts belong to us all. I’m still learning and need much critics and advice. Hope you like it, enjoy reading. Thank you~ ^^ Kamsahamnida~ ^^

Previous part: Part 1

PART 2

“Donghae-ya…” ucapku.

Sosok di hadapanku tersenyum, ia kemudian memasukkan kembali saputangannya ke dalam saku jasnya setelah selesai mengusap air mataku yang saat ini sudah berhenti menetes.

“Neo..?”

“Annyeong taeyeon-ah, Jjaljinaeseo?” ucapnya sambil mengelus rambutku.

“donghae-ya.. eoteokhae…?” otakku benar-benar berputar lambat rasanya, bahkan kata-kata yang keluar dari mulutku pun tidak jelas dan tidak berbentuk kalimat.

“Kajja, masuk dulu ke dalam mobilku, nanti akan aku jelaskan semuanya.” Donghae menjawab, kemudian meraih tanganku dan menuntunku memasuki mobilnya.

Aku tidak tahu kemana tujuan kami, aku tidak tahu daerah mana yang kami lewati, aku tidak tahu berapa persimpangan yang sudah kami lalui, sepanjang perjalanan entah kemana ini, pandanganku hanya terarah pada sosok namja yang duduk di balik roda kemudi di sampingku ini. Donghae, dia kekasihku, DULU. Dia PERNAH menjadi satu-satunya namja yang dimana aku ingin menghabiskan seluruh waktu hidupku bersamanya.

“Ayo turun, kita makan siang dulu. Kau pasti belum makan Daltaeng..” Sebutan itu, sebutan yang selalu ia gunakan DULU, kini ia gunakan lagi, ia menggunakan sebutan itu sambil melepaskan sabuk pengamanku, kemudian membukakan pintuku, dan kembali meraih tanganku juga menuntunku memasuki kafe yang DULU juga menjadi favorit kami.

“Jelaskan semuanya sekarang.” Ucapku setelah pelayan yang mencatat pesanan kami meninggalkan meja.

“Aku kembali.” Ucap Donghae singkat sambil meminum seteguk tarolattenya, minuman kesukaan Donghae sejak DULU.

“Jelaskan secara jelas, kau mengerti bukan itu jawaban dari statementku. Jelaskan apa yang sedang terjadi, bagaimana, kenapa, dan untuk apa kau kembali?” Jawabku setengah berteriak.

“Kecelakaan itu benar-benar membuatku kehilangan semangat dan harapan hidupku ttaeng. Vonis dokter dan keadaanku saat itu telah membuatku gagal berpartisipasi dalam kompetisi basket internasional. Aku benar-benar putus asa saat itu ttaeng.” Jawaban Donghae mambawaku pada kilasan memori 2 tahun lalu, kilasan memori yang tidak akan pernah aku lupakan. Kecelakaan mobil balap yang hampir merenggut nyawa kami berdua. Setelah kecelakaan itu, kaki donghae tidak dapat digerakkan. Dokter bahkan memvonisnya tidak dapat berjalan, sementara 1 minggu setelah kejadian itu sebenarnya Donghae akan mengikuti kompetisi basket internasional. Mimpi dan cita-cita terbesar Donghae adalah untuk menjadi pemain basket internasional, dan dengan kejadian 2 tahun lalu itu membuat Dongahae harus mengubur mimpinya dalam dalam. Satu hal yang tidak aku mengerti setelah kejadian 2 tahun lalu adalah, setelah mendengar vonis dari dokter, Donghae mengatakan tidak ingin menemuiku lagi ketika aku mengunjunginya.

“Kau kehilangan semangat dan harapan? Bukankah dulu kau selalu menyebutku sebagai penyemangat harimu dan harapan dalam hidupmu? Apa sebegitu sakitnya kah kau hingga saat itu bahkan aku tidak lagi bisa menjadi semangat dan harapanmu? Apa kau pikir hanya kau yang menderita setelah kejadian itu? kau pikir aku vampire yang tidak mendapat pengaruh sekecil apapun dari kejadian besar itu?” air mata kembali menetes di pipiku, pandanganku kabur dan kepalaku pening setelah aku meneriakkan semua kata-kataku.

“Mianhae, nomu mianhae, aku benar-benar tidak dalam pikiranku yang jernih saat itu ttaeng… hentikan tangisanmu, aku tahu apa yang terjadi padamu setelah kejadian itu, Kangin hyung yang menceritakan semuanya padaku, aku tahu kau bahkan lebih menderita dariku.” Ucap Donghae yang saat ini sudah berada di sampingku mengusap pipiku dan menyodorkan gelas berisi air putih hangat.

Setelah kejadian 2 tahun lalu, bukan hanya Donghae yang menderita. Efek yang aku dapat memang tidak terlihat jika tidak diperhatikan, namun jika donghae saat ini bisa berjalan dan kembali bermain basket meski tidak untuk waktu yang penuh, aku harus mengkonsumsi 8 macam obat setiap pagi, siang, dan sore seumur hidupku, dokter memintaku untuk tidak menangis sejak kejadian itu. aku mengalami disfungsi otak semenjak kejadian itu, dimana sebagian otakku tidak dapat berfungsi dengan baik seperti untuk memproduksi pigmen warna dalam tubuh, atau memproduksi air mata. Itulah sebabnya warna kulitku terlampau putih, dan setiap aku mengeluarkan air mata, otakku akan bekerja terlalu keras, itu akan membuatku perlahan tidak sadarkan diri.

“dalttaeng, hentikan. Berhenti menangis. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu setelah ini. Aku mohon, hentikan tangismu.” Donghae menghentikan tangisku dan mengusap air mata di pipiku.

Aku meminum segelas air hangat yang disodorkan Donghae, itu cukup membantuku menenanangkan diri dan mulai dapat berpikir dengan jernih. Melihatku sudah kembali tenang, Donghae kembali ke tempat duduknya dan meneguk tarolattenya.

“Bagaimana sekolah barumu?” pertanyaan Donghae memecah keheningan yang terjadi di antara kami.

“Lebih baik untuk melanjutkan kehidupan daripada di Jepang.” Jawabku tanpa memandang Donghae, melainkan terus memandangi gelas air putih yang masih ada di genggamanku.

Keheningan kembali melanda setelah Donghae mendengar jawabanku.

“Aku kembali bukan untuk mengingatkanmu pada apa yang terjadi dua tahun lalu di Jepang. Aku kembali untuk memohon padamu ttaeng… aku mohon kau dapat memaafkanku.”

Aku terdiam, bukan terdiam melamun, aku berpikir. Bagaimana mungkin aku memaafkan orang yang mengusirku dari kehidupannya dua tahun lalu. Jika dulu ia tidak menginginkanku kenapa sekarang ia harus kembali padaku.

 

“Taeyeon-ah!” sebuah suara indah yang ku kenal namun tidak ingin kudengar di saat seperti ini terdengar di telingaku, aku menoleh dan benar saja, aku mendapati Yoona berlari ke arahku, di sampingnya aku melihat leeteuk terkejut melihatku dan lagi ia menatapku dengan tatapan seolah aku kembali merusak rencana indahnya dengan Yoona.

“Hei, aku tidak menyangka bisa bertemu disini dengan mu. Tempat ini jarang di kunjungi anak SMA dihari sekolah seperti ini.” Ucap Yoona dengan ceria sambil menepuk pundakku.

“Ahaha, iya, temanku mengajakku kesini.” Jawabku sambil melirik Donghae yang kebingungan melihat Yoona yang tiba-tiba datang dan membuatku batal menjawab pertanyaan Donghae, sebenarnya hal itu cukup melegakanku, karena aku memang tidak dapat menjawab pertanyaannya, tidak untuk saat ini, ketika ia baru saja muncul setelah 2 tahun lenyap dari kehidupanku.

“O? nuguya? Namchin?” Yoona mengagetkanku dengan pertanyaannya. ‘iya, dia namjachinguku.’ Ingin aku menjawab seperti itu, hanya saja itu dulu, tidak berlaku untuk sekarang.

“Aa.. ani..”

“Ne, taeyeonie namjachingu, Donghae imnida, bangapseumnida.” Donghae, dia memotong ucapanku dan menjawab pertanyaan Yoona.

Beraninya dia, ini adalah hari pertama kami bertemu lagi setelah 2 tahun, kenapa dia sudah berani membuat moodku hancur lagi seperti ini, apa dia lupa dengan kata-katanya 2 menit yang lalu, bukankah ia kembali untuk mendapatkan maaf dariku? Lalu kenapa ia malah membuatku sebal seperti ini.

“Aa..  nee.. Yoona ini Donghae, Donghae, Yoona.” Ucapku tanpa mengelak, Hey meski aku sebal mengingat apa yang dilakukan Donghae, tapi tetap saja dia pernah menjadi Namchinku, dan aku tidak tega jika harus mempermalukan dia dengan mengelak ucapan yang terlontar dari mulutnya itu. Aku melirik Donghae yang menjabat tangan Yoona kemudian menatapku dengan tatapan berterimakasih.

“Waah, namjachingumu tampan sekali, hebat kamu ttaeng bisa mendapatkan namja sempurna seperti dia.” Ucap Yoona sambil menarik kursi dan duduk di sampingku.

Sempurna katanya? Apa Yoona masih bisa mengatakanku beruntung jika ia mengetahui apa yang telah namja ini lakukan padaku 2 tahun lalu.

“Kenapa disini? Kau bilang hari ini kau mau makan siang bersamaku saja.” Leeteuk datang membawa nampan berisi 2 Ice Americano, 1 mangkuk salad, dan sebuah sandwich.

Jadi itu makanan yeoja yeoja cantik seperti Yoona. Makanan yang benar-benar tidak bisa aku makan, karena untuk meminum 8 jenis obat setiap pagi, siang, dan sore aku harus mengkonsumsi karbohidrat yang cukup, itulah sebabnya aku tidak memiliki pipi tirus seperti milik Yoona ataupun Sooyoung.

“ah, makan berdua kan bisa kapan saja, jarang kan kita bisa double date seperti ini. Duduklah disana disamping taeyeon namjachingu.” Ucap Yoona.

“Taeyeon namjachingu? Tidak kusangkan gadis aneh seperti dia bisa mendapat namja keren sepertimu. Bangapta ya.” Lagi, leeteuk menyebutku yeoja aneh. Sebutan itu sudah biasa di telingaku, hanya saja sepertinya sebutan itu mengganggu Donghae.

Leeteuk menjulurkan tangannya untuk menjabat tangan Donghae, tapi Donghae tidak menyambut uluran tangannya, ia menatapku kemudian berbalik menatap leeteuk yang bingung karena uluran tangannya tidak disambut.

“ne? Siapa yang kau maksud gadis aneh?” ucap Donghae yang aku lihat mengepalkan tangannya di samping tubuhnya.

“taeyeonie.” Ucap leeteuk santai sambil kemudian duduk disamping Donghae dan meletakkan nampan makanannya di meja.

“aa.. aniya.. bukan aneh dalam arti yang buruk, yang di maksud teukie..” Yoona berusaha mencairkan suasana.

‘ini yang kau sebut lebih baik dari di Jepang’ pandangan Donghae seolah berkata demikian. Aku tidak bisa mengelak kalau leeteuk tidak membuat hidupku lebih baik daripada di Jepang dulu, aku kembali menunduk memandangi gelas air hangatku.

“Ayo kita pulang. Kau lelah kan.” Tiba-tiba saja Donghae sudah berdiri di sampingku, menggenggam tanganku, dan membantuku berdiri.

Aku tidak bisa mengelak, karena pertemuan dengan Yoona dan Leeteuk tidak membuat perasaanku membaik.

“Maaf, aku harus pergi duluan. Annyeongi gyeseyo.” Ucapku.

“A.. nee.. Jjalga taey…”

Belum selesai Yoona mengucapkan salam, Donghae sudah menarikku keluar tempat itu.

 

Suasana di dalam mobil sangat dingin dan hening. Aku tidak tau apa yang harus aku bicarakan, tidak tau harus mulai dari mana lebih tepatnya, hingga akhirnya lagi-lagi Donghae yang memecah kesunyian mengerikan ini.

“Jadi itu yang kau sebut lebih baik dari di Jepang?” ucap Donghae.

“Setidaknya baginya aku ada meski dia menganggapku aneh.” Timpalku.

Aku merasakannya, tatapan Donghae, tatapan ‘bukankah aku sudah meminta maaf’ Donghae, namun aku tidak ingin melihatnya karena aku bahkan tidak tau aku bisa memaafkannya atau tidak, sehingga aku membalikkan badanku dan memilih melihat pemandangan senja di luar melalui jendela pintu samping yang gelap.

“Ku pikir dulu kau tidak pernah senang jika ada orang yang menganggapmu berbeda, tapi kenapa sekarang, bukan hanya menganggapmu berbeda, namja itu menganggapmu aneh, dan kau senang hanya karena kau berpikir dia menganggapmu ada.” Suara Donghae bergetar ketika dia mengatakannya, mengatakan ucapan yang aku rasa tidak perlu dia katakan.

‘setidaknya aku merasa dia tidak akan meninggalkanku sepertimu.’ Ingin aku menyampaikan hal ini, hanya saja kemudian aku sadar bahwa Leeteuk bahkan tidak mengetahui bagaimana perasaanku padanya. Air mataku menitik, satu demi satu jatuh membahasi pipiku, ku harap Donghae tidak perlu mengetahuinya, namun itu mustahil, karena aku sadar Donghae setiap detik ia mengalihkan pandangannya dari jalan kearahku, dan ketika aku mencoba menghapus airmataku, saat itulah Donghae menyadari aku menangis.

Donghae menepikan mobilnya. “Ddalttaeng? Kau menangis? Wae? Waeyo ttaenggo?” Donghae mengelus pundakku.

‘kau tidak akan mengerti, meskipun aku memberimu penjelasan.’ Ucapan itu tidak bisa keluar dari mulutku. Hanya air mata yang terus mengalir membasahi pipiku.

Donghae membuka sabuk pengamannya, dan membalikkan tubuhku, memegang pipiku dengan kedua tangannya.

‘Tidak, aku sedang tidak ingin melihat wajahmu yang menyimpan terlalu banyak kenangan saat ini, karena itu akan semakin menyakitiku.’ Otakku berkata demikian, namun tangan Donghae yang selama 2 tahun selalu kurindukan dan kini menyentuh wajahku untuk menghapus airmataku membuatku membuka mataku tanpa kusadari.

“Uljima, Jaebal, Ddalttaeng.” Donghae mengucapkannya sambil terus mengusap airmataku.

Aku terus memandangi wajahnya, wajah yang kurindukan, yang pernah menghiasi hariku 2 tahun lalu, hingga kemudian mataku menemukan hal yang selalu membuatku tenang, membuatku tersenyum 2 tahun lalu, matanya, mata yang begitu sejuk. Saat ini aku benar-benar sedang menatap matanya yang sudah 2 tahun tidak pernah aku lihat, dan tidak berubah bahkan sejak dulu, dulu ketika aku pertama kali menatapnya.

Setelah waktu yang panjang berlalu menatap matanya, aku tersentak dan kembali terisak, tangisku kembali pecah bahkan lebih hebat dari sebelumnya. Donghae yang kebingungan kemudian membawaku kedalam dekapannya. Mendengar detak jantungnya, membuat tangisku semakin menjadi, hingga…

 

Aku membuka mataku, menatap berkeliling, semuanya berwarna merah muda. ‘ah, ini kamarku rupanya.’

Aku berusaha untuk duduk dan menegakkan tubuhku, kemudian mengingat bagaimana aku bisa tiba di kamarku sekarang dengan selamat.

Malam itu, pandangan Donghae berkata, ‘kau menyukainya rupanya. Aku pasti telah merelakanmu dengannya seandainya ia tidak dengan lancang mengatakan kau sebagai orang aneh.’ Pernyataan itu yang kemudian membuatku kembali terisak, setelah itu hal lain yang aku ingat hanyalah Donghae mendekapku.

 

Aku menyingkap selimutku dan kemudian melihat sebuah jaket yang aku yakin bukan milikku tergeletak di kasurku. Aku mengamati jaket hitam tersebut, ‘prada rupanya, mungkin milik aboji’ pikirku. Aku mengambil jaket itu, kemudian turun untuk mengembalikan jaket yang kupikir milik aboji itu kepada beliau. Baru 5 langkah menuruni tangga, aku menyadari bahwa wangi jaket itu bukan wangi jaket aboji, melainkan.

“DONGHAE!” seperti biasa, aku terkejut sehingga mengucapkan dengan keras jawaban dari apa yang ada di pikiranku.

“Taeyeon-ah? Mwusuniriso?” sontak eommaku langsung menghampiriku.

“aniyo, gwenchanayo eomma. Emm.. semalam Donghae mengantarku pulang?” tanyaku.

“mm.. Donghae ssi yang mengantarmu pulang. Kau menangis taeyeon-ah? Wae?” eomma bertanya sambil menggandengku menuruni tangga dan duduk di ruang tamu.

“Aniyo eomma, nan jeongmal gwenchanayo.” Aku menundukkan kepalaku setelah mengatakannya. Bukan hanya kangin oppa yang bisa membedakan saat aku berbohong atau tidak. Eommaku, beliau juga handal membaca keadaanku.

“Taeyeon-ah, Donghae datang untuk memohon padamu untuk dapat memaafkannya. Eomma yakin ia benar-benar menyesali apa yang ia lakukan 2 tahun yang lalu.”

Eomma terus mengelus rambutku, sementara aku hanya duduk merunduk dan terdiam. Banyak yang ingin aku sampaikan, seperti ‘Sulit memaafkannya’ atau ‘perbuatannya itu tidak termaafkan’. Namun, eomma pasti akan mengatakan bahwa Tuhan saja mampu memaafkan umatnya, kenapa aku tidak, dan hal itu tidak akan menyelesaikan masalah akhirnya.

“tentang namja yang bernama Leeteuk, jika memang dia juga memiliki perasaan yang sama denganmu, ia tidak akan menyakiti hatimu terus menerus dengan memanggilmu dengan sebutan gadis aneh.”

‘DEG’ ucapan eomma membuatku mengangkat kepalaku. ‘bagaimana eomma..’

“Kangin oppa sudah menceritakan semuanya pada eomma, termasuk kejadian tadi malam pasti bukan hanya karena Donghae. Kau juga bertemu dengan namja itu dan yeojanya kan di café saat makan siang bersama Donghae? Itu yang membuatmu menangis tak terkendali kan taeyeon-ah?”

Eomma seolah dapat membaca pikiranku, bahkan sebelum aku selesai merangkai pertanyaan dalam otakku. Aku kembali tertunduk.

Kemudian,

“Eomma…” ucapku lirih.

“mmm…” sahutnya.

“tujuanku datang ke Korea adalah untuk melupakan kenangan buruk kehidupanku di Jepang. Kenyataan bahwa aku menyukai namja yang mengidamkan yeoja lain itu benar-benar membuatku terpuruk, dan kedatangan Donghae disaat seperti ini juga membuat kehidupanku malah memasuki pusaran angin topan yang tidak akan berhenti.” Aku akhirnya menjelaskan apa yang aku rasakan, tetap dengan nada lirih.

“Arra taeyeon-ah.. eomma ni maemeun aratta (mom knows how you feel). Keundae, mengharapkan namja yang mengidamkan yeoja lain untuk datang padamu, sama halnya dengan menunggu hujan di gurun kering, tidak berguna dan hanya membuatmu kecewa. Taeyeon-ah, why don’t you try to open your heart just once again and forgive what Donghae had done? Seorang yang mau meminta maaf, mengakui kesalahannya, dan bahkan berusaha ingin memperbaiki dan membayar apa yang telah ia lakukan merupakan seorang ksatria, dear. Karena hal yang orang tersebut lakukan memerlukan cukup banyak keberanian. Give him a chance, mm?”

Apa yang eomma katakan semua benar, aku tidak bisa menunggu hujan di padang pasir yang kering. Ingin aku melaksanakan apa yang eomma katakana, hanya saja aku ragu.

“eomma? Can I find my happiness again with him?” tanyaku mulai mengangkat kepalaku dan menatap mata eommaku.

“Eomma man mideo..(just trust mother)” ucapnya kemudian mengecup keningku dan membawaku kedalam dekapannya.

 

“hubungi aku jika kau sudah pulang..”

“mm… jjalga!” sahutku.

Aku sudah melangkahkan kakiku menuju gerbang sekolah, namun langkahku terhenti karena tiba-tiba Donghae memelukku dari belakang.

“gomawo ddalttaeng, for this second chance.” Ucapnya kemudian membalikkan tubuhku dan mengecup keningku.

“anyyeong.” Donghae melambaikan tangan kemudian berlalu.

Ya, aku memutuskan untuk memberinya kesempatan kedua, terakhir lebih tepatnya karena aku tidak ingin menjadi seorang mahluk ciptaan Tuhan yang sombong, ya hanya itu alasannya.

 

“Taeyeonie….” Sooyoung menyapaku sambil berlari dari kejauhan. Aku tersenyum geli melihat Siwon oppa yang menutup telinga mendengar teriakan Sooyoung yang berada di sampingnya.

“annyeong, sooyongie.. Annyeonghaseyo Siwon oppa..” sapaku ketika keduanya sudah berada di sampingku.

“anyyeong.. kau sudah baikan taeyeonie? Sakit apa? Aku sangat menghawatirkanmu… kemarin sebenarnya aku ingin menjengukmu, tapi aku kan tidak tahu dimana rumahmu..” ujar Sooyoung dengan ekspresi memelasnya yang menggemaskan.

“Gwenchana, hanya flu biasa kok.” Jawabku sedikit berbohong, hey aku tidak mungkin mengumumkan penyakit otakku, aku sudah cukup disebut sebagai cewek aneh hanya karena tingkahku yang tidak biasa.

“Jinjja? Jinjja gwenchana? Daengida (what a relief)! Aa..! aku dengar 2 hari yang lalu kau bertemu Yoona di zoo café di gwanghamun, Yoona bilang kau bersama namjachingumu. Kenapa kau tidak pernah bercerita tentangnya, kenapa kau malah…” Sooyoung hampir menghancurkan hidupku ‘lagi’, ia hampir saja mengatakan apa yang selama ini aku rahasiakan dari semua orang di depan kakak kandung leeteuk.

“AAAAA… yee.. 2 hari yang lalu aku memang pergi ke gwanghawun, Donghae baru tiba di Korea hari itu, dan zoo café merupakan café favorit kami setiap kami berlibur di Korea ketika masih tinggal di Jepang dulu.” Aku menjawab cepat pertanyaan sooyoung, dan mencubit tangannya sebelum ia menyelesaikan kalimatnya.

Sooyoung membelalak, kemudian mengangguk mengerti.

“oppa, yeolsimihadwae (do your best)! Annyeong..” Sooyoung memeluk siwon oppa ketika kami tiba di depan kelasnya, hari ini siswa kelas 3 memulai tes untuk SAT.

“nee.. annyeong sooyoungie.. taeyeon-ah..” ucap Siwon oppa sambil melambaikan tangannya dan memasuki kelasnya.

“wuaaah, hampir saja aku mejadi ember bocor di hadapan kakak kandung leeteuk.. mian taeyeonie, aku benar benar penasaran sih tentang namjachingumu, siapa tadi namanya Donghae?” ucap Sooyoung meneruskan perbincangan sepanjang perjalanan kami ke kelas.

“mmm.. Lee Donghae.” Jawabku singkat.

Aku benar-benar malas harus membicarakan ini dengan orang lain.

“Kalau memang kau sudah memiliki namjachingu, kenapa kau menyukai dia.” yang Sooyoung maksud pastilah Leeteuk, itulah kenapa aku malas membicarakan Donghae dengan orang lain, terutama Sooyoung karena akan berujung pada pertanyaan seperti ini.

Aku hanya tersenyum, kami memasuki kelas dan menuju bangku masing-masing. Aku melihat Leeteuk sudah berada di bangkunya, aku menguatkan mentalku dan berusaha untuk tidak melihat kearahnya ketika aku berjalan menuju bangkuku.

“ya! Jawab pertanyaanku.” Ucap Sooyoung berbisik.

“sssttt.. gungbuhae (just study)!” jawabku, karena saat itu Kim seonsaeng memasuki kelas.

Sooyoung mencibir sebelum akhirnya mengalihkan pandangan kedepan kelas. Aku tersenyum penuh kemenangan. Setidaknya aku bisa terbebas dari pertanyaannya untuk saat ini, dan aku harap istirahat nanti Siwon oppa bergabung bersama kami di kantin, sehingga tidak ada kesempata bagi Sooyoung untuk menanyakan hal itu lagi padaku.

 

(Leeteuk POV)

‘Taeyeon’ pikirku ketika aku melihatnya memasuki kelas. Pagi ini aku melihat ia datang ke sekolah bersama namjachingunya, dan mereka membuat adegan drama di depan gerbang sekolah, seolah mereka akan berpisah selamanya saja. Dasar, pantas saja namja itu menyukai Taeyeon, karena sepertinya namja itu juga aneh, kalo tidak untuk apa ia harus memeluk Taeyeon sedramatis itu di depan gerbang sekolah. Aku mengalihkan pandanganku ke arah buku yang ada di atas meja.

Aneh, tidak seperti biasanya dia melewatiku begitu saja tanpa melihat ke arahku. Benar, pandangannya hanya tertuju kearah bangkunya. Ketika sampai di bangkunya pun, ia terlihat lebih tenang dan tidak kikuk seperti biasanya jika ia merasa aku sedang memperhatikannya. Apa mungkin hari ini ia kurang peka, sehingga ia tidak merasa aku memperhatikannya. Ah, lagi pula untuk apa aku memikirkan hal itu, siapa dia? Dia hanya gadis pindahann aneh dari Jepang, ya hanya itu.

 

Bel istirahat berbunyi. “Teuki-ah! Kajja kita ke kantin, aku lapar, aku belum sempat sarapan pagi ini.” Ucap Yoona saat menghampiriku di kelas.

“emm.. kajja.” Jawabku.

Aku sempat melirik ke arah Taeyeon ketika Yoona menggandeng tanganku. Aku melihat ia masih berkutat dengan tugas diferensial yang Kim Seonsaengnim berikan sebagai PR. ‘kenapa dia tidak pergi ke kantin juga’ rasanya otakku berpikir tidak sesuai dengan kehendakku. Untuk apa aku mempedulikan Taeyeon, biar saja dia melakukan apa yang ingin dia lakukan, lagipula lebih baik jika dia tidak mengganggu aku dan Yoona di kantin.

 

Kami sudah sampai di pintu kelas ketika Yoona menghentikan langkahnya dan berbalik.

“Sooyoungie, taeyeonie kachi kajja!” ucapnya.

Ah, kenapa dia harus mengajaknya? Padahal dia sedang sibuk dengan apa yang dilakukannya.

“Ah, ne..” Sooyoung menjawab dan langsung beranjak dari bangkunya menghampiri aku dan Yoona.

“Taeyeonie…”

“Kalian duluan saja, jika nomor 5 selesai, aku akan menyusul.” Taeyeon menjawab sebelum Sooyoung selesai dengan kalimatnya.

Lagi, ia menjawab tanpa memandangku, ia seperti tidak menyadari keberadaanku bersama Yoona dan Sooyoung, pandangannya hanya tertuju pada mereka.

“mm.. Arasso.. kamu harus menyusul yaa..!” jawab Sooyoung.

“Annyeong Taeyeonie..” Ucap Yoona.

Taeyeon membalas jawaban dan ucapan Sooyoung dan Yoona dengan anggukan dan senyuman.

Aku tidak pernah menyangka senyum Taeyeon seindah itu, sepertinya baru hari ini juga aku melihat ia tersenyum di hadapanku, apa ia benar benar tidak menyadari keberadaanku? Apa sikapku di Café 2 hari lalu keterlaluan sehingga ia berusaha untuk tidak menganggap keberadaanku?

 

Sebenarnya aku tidak ingin memikirkan mengapa Taeyeon berubah, namun ketika senyum yang Taeyeon sunggingkan di kelas tadi terbayang di kepalaku, semakin banyak pertanyaan yang bermunculan di kepalaku mengenai Taeyeon.

Entah berapa lama aku melamun, namun aku sadar bahwa sebelumnya aku melamun ketika aku melihat kursi di depanku di tarik oleh sebuah tangan yang putih, sangat putih, dan indah.

Aku melihat wajah pemilik tangan itu dan terkejut ketika melihat Taeyeon sebagai pemilik tangan indah itu.

“Ohok, Uhuk, Ohok, Ohok..” Aku tersedak Caramel Macciatoku.

Yoona menepuk nepuk punggungku, namun ia masih terus berbincang dengan Sooyoung, apa dia tidak sadar wajah namja chingunya di penuhi cairan coklat dan lengket?

“Gwenchana?” Taeyeon bertanya dan menyodorkanku selembar tissue.

“mm.. Gwenchana Taeyeon-ah.” Jawabku sambil menerima tissue yang ia tawarkan.

Tangannya halus, sangat halus seperti tangan sepupuku yang baru lahir, berbeda dengan tangan halus Yoona yang banyak dibubuhi lotion. Aku tahu itu karena ketika mengambil tissue darinya aku menyentuh tangannya. Hal itu, tangannya itu membuatku membeku sementara, jantungku seperti berhenti berdetak. Tapi ekspresi Taeyeon tidak seperti Taeyeon yang biasanya pemalu, ia hanya menarik tangannya kembali, kemudian kembali duduk dan bergabung dengan pembicaraan Yoona dan Sooyoung.

Aku membersihkan wajahku yang lengket, aku sadar aku belum mengucapkan terimakasih padanya.

“Gomawo Taey…” ucapanku terputus karena Taeyeon harus mengangkat ponselnya yang berdering.

“A, ne.. arasso.. aku segera kesana.” Ucap Taeyeon kepada sepertinya lelaki yang ada di seberang telepon itu.

“Mian, aku pergi dulu ya. Hari ini biar aku yang bayar makan kalian.” Taeyeon berkata sambil tersenyum dan meninggalkan kami berempat.

“Gomawo taeyeonie.” Sooyoung berteriak.

“Taeyeonie Gomawo, Chukkaeee!” Yoona juga berteriak.

‘Chukka?’ untuk apa? Apa taeyeon berulang tahun? A, tentu saja tidak, Taeyeon kan lahir di awal tahun. Jadi chukka yang di ucapkan Yoona tadi pasti tentang namja bernama Donghae itu. Telepon yang Taeyeon terima juga pasti dari namja itu. Untuk apa ia meminta Taeyeon menemuinya di saat jam sekolah belum berakhir? ‘Aish, itu bukan urusanku.’ Aku mengacak rambutku, kemudian berdiri dan meninggalkan Yoona, Sooyoung, dan Siwon hyung tanpa berkata apapun.

“Mau kemana kau?”

Aku mendengar suara Siwon hyung menanyaiku, namun aku tidak menjawabnya dan malah semakin mempercepat langkahku.

Aku sampai di toilet, memang ini tempat tujuanku, aku perlu membasuh wajahku karena tissue hanya menghapus cairan coklat caramel macciato saja dari wajahku tapi tidak dengan rasa lengket yang menempel.

Aku tidak mengerti apa yang terjadi padaku, kenapa aku merasa tidak senang dengan perubahan sikap taeyeon yang tidak lagi memperhatikanku, tidak lagi kikuk seperti biasanya. Aku juga heran mengapa senyumnya bisa membuat jantungku seolah meloncat ke kerongkongan sementara Yoona setiap hari selalu memberiku senyuman indah yang di idamkan banyak pria di sekolah. Tangan lembut Taeyeon juga membuatku membeku ketika menyentuhnya, padahal Yoona bukan hanya menyentuh bahkan menggenggam tanganku setiap saat, tapi tidak pernah sekalipun genggaman tangan Yoona membuatku membeku.

‘Apa aku menyukai Taeyeon?’ tiba-tiba saja seperti yang otakku lakukan pagi tadi tanpa aku inginkan, otakku memunculkan pertanyaan yang tidak mungkin dan tidak pernah kubayangkan.

Advertisements

21 thoughts on “[FF Freelance] You’re Not the Start, But You’re My Destination (Part 2)

  1. Tanda-tanda perselingkuhan mulai tampak… *lirik leeteuk*
    Agak susah juga milihnya. Donghae jahat begitu, dulu. Leeteuk dibilang jahat sih engga, baik juga engga -_- lah jadi bingung kan..

    Sama donghae ajalah yang lebih muda.. *dor
    Kkk~ author fighting!!
    Reader akan menerima dengan ikhlas siapa jodoh Taeyon di akhir cerita 😀

  2. leeteuk kayaknya karma nih, hehe. sukur aja taeyeon udah acuh sama leeteuk, tapi kalo leeteuk suka sama taeyeon kan kasian yoona nya……. tapi ga apa lah, aku tetep mendukung TaeTeuk bersatu. lanjut ya thor aku suka ff ini, hehe.

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s