[OneShoot] 2nd Confession

Untitled-1 copy

Tittle : “2nd Confession”

Main Cast :

–          Lee Ha-yi “Lee Hi”

–          Choi Jun-Hong “Zelo BAP”

Support Cast :

–          Oh Hayoung “Hayoung A-Pink”

–          Lee Chanhee “Chunji Teen Top”

||| Genre: Romantic||| Length: One shoot ||| Rating: Pg–15 ||| Disclaimer: Oc Dan Alur Hak Cipta Ada Pada Diri Dan Otak Saya. Sekali Lagi Castnya Hanyalah Milik Tuhan Semata Author Hanya Meminjam Nama, typo masih laris di FF ini jadi segera beri komentar jika mendapatkan hal tersebut|||Author : Park Mi-rin

Fanfiction Video >>

“Ha-yi!!! Yakh!! Lee Ha-yi!! Apa kau mendengarkan oppa?Irona!!! Jam berapa sekarang!!”teriak seorang lelaki yang tak lain adalah Chanhee, kakak dari Ha-yi.

“hm”Ucap gadis mungil itu dari balik selimutnya.

“Yakh!!!! Kau mendengar oppa? Cepatlah ini hari pertama sekolah jadi jangan membuat masalah!!!!”

“ne, oppa….”

Ia bangkit dan meluangkan sedikit waktunya memandangi seisi kamar miliknya terutama pada sebuah surat yang ada di bawa bantal tidurnya. Disetiap sudut kamar seorang gadis manis bernama Lee Ha-yi begitu banyak dipenuhi boneka beruang biru bertuliskan I LOVE HI. Apa lagi kalau bukan dari seorang yang sudah menguntitnya sejak kecil. Ia begitu sangat menyukai Ha-yi. Semuanya tertata dengan rapi, disetiap sudut dari kamarnya. Tak satupun benda pemberian orang itu tak ia tata disana.

***

SOPA adalah sekolah impian gadis manis Lee Ha-yi sejak kecil dan hari adalah hari pertamanya untuk bersekolah disana. Gadis bermarga Lee itu memasuki hari pertama sekolah dengan wajah penuh ceria. Ia berdiri di depan sekolahnya sambil terus memandangi plat nama sekolahnya dengan rasa bangga.

“akhirnya~”ucap Ha-yi dalam hati memejamkan matanya sejenak merasakan udara sekolah saat itu.

Ia melangkahkan kakinya sambil terus melihat-lihat sekolah itu, ponselnya berbunyi dengan sigap dengan tangan mungilnya meraih ponselnya dan meletakkannya di telinganya.

“ne? Yeoboseyo~”

“berbaliklah”

“yakh!! Oh Hayoung!!”ucap Ha-yi ketika melihat sosok yang di kenalinya berada tak jauh di belakangnya.

“ahh..”ucap hayoung berlari kecil ke arah Ha-yi. “aku kerumahmu kenapa kau malah meninggalkanku?”

“jeonmal?”tanya Ha-yi menepis bulir-bulir keringat di pelipis hayoung sahabatnya itu dengan tangannya. “miann, Chanhee oppa memaksaku untuk ikut dengannya hari ini. Kau taukan bagaimana dia? Dia lah yang paling perfect mana mau terlambat sekolah”sambung Ha-yi.

“gwenchana~”ucap hayoung menggandeng Ha-yi berjalan menuju kelas. “hmm, apa si cupu aneh itu kali ini juga mengikutimu dengan bersekolah disini?”

“siapa yang kau bilang cupu? Siapa yang aneh? Dia tidak cupu ataupun aneh dia hanya berbeda”bela Ha-yi.

“ahh, lihatlah kau mulai lagi membelanya”

“tentu saja. Dia itu perlu di bela, karna kau terus saja memojokkannya!”omel Ha-yi.

“aishh, aku berharap tak pernah lagi melihatnya!”

Ha-yi hanya tersenyum melihat ekspresi sahabatnya itu saat lagi-lagi Ha-yi membela Choi Jun-hong di depan sahabatnya itu. Sesekali Ha-yi menengok kebelakang tepat ke arah gerbang sekolah berharap seseorang akan yang di harapkannya benar-benar ada disana.

***

Sudah seminggu bersekolah tapi Ha-yi belum juga bertemu sesosok yang diharapkannya. Bibirnya terus berkata kalau ia takkan mungkin satu sekolah lagi dengan anak itu tapi entah mengapa hatinya tak mau menerima hal itu. Seperti biasanya sejak bergabung dengan anggota cheers Ha-yi banyak menghabiskan waktunya berkumpul dengan para anggota baru cheers di ruang olahraga.

DiSudut yang berbeda di sekolah itu seorang anak yang terbilang tinggi tengah tersenyum dengan semangat mengendarai skateboard tercintanya menelusuri jalan sekolah. Belum ia sampai di gerbang sekolah bel masuk sudah berkumandang saat itu. Semua siswa yang terlambat berlarian memasuki sekolah sebelum pagar itu benar-benar tertutup.

“yakh!! Anak ini”keluh satpam pada seorang anak laki-laki yang berhasil memasuki Gerbang sekolah sebelum satpam menutupnya.

“mianhae~”ucap anak tersebut sambil menebar senyum melembaikan tangannya pada satpam tersebut yang hanya bisa bergeleng-geleng ria melihat tingkahnya.

Ia turun dari papan seluncurnya dan berjalan memasuki ruang olahraga yang biasanya ia lewati untuk menghindar dari seseorang. Ia mulai membuka pintu dan berjalan tapi matanya mendapatkan sesosok yang harusnya tak ia temui ketika melewati jalan ini.

“Lee Ha-yi…”panggilnya dalam hati saat melihat sosok Ha-yi yang tengah sibuk mengobrol dengan beberapa anak gadis yang mungkin adalah teman-temannya.

“bruukkkk”terdengar suara yang membuat semua mata tertuju pada asal suara tersebut.

“okh!! Choi Jun-Hong?”ucap Ha-yi melukiskan senyum pada bibir mungilnya.

Dengan tersenyum bodoh Jun-Hong hanya menggarukkan kepalanya saat berhasil membuat dirinya malu dengan menambrak rak bola basket yang terletak di depannya. Terlebih Ha-yi melihatnya saat itu, rasanya Ha-yi masih tak percaya dengan yang ia lihat saat itu. Jun-Hong berbeda, kemana kacamatanya? Itu terus menjadi pertanyaan di kepala Ha-yi saat pertama kali melihatnya hari ini. Ha-yi memberanikan diri melambaikan tangannya ke arah Jun-Hong yang lagi-lagi membuat Jun-Hong salah tingkah. Ha-yi tersenyum manis ke arah Jun-Hong namun saat itu juga Hayoung mambuyarkan lamunannya dengan teriakannya.

“Lee Ha-yi!! Apa kau mau dihukum terlambat masuk kekelas? Paliiiwa!!”teriak Hayoung.

“okh? Ye.. Aku akan kesana”ucap Ha-yi kembali tersenyum sebelum berlari kecil menuju kelasnya.

Entah mengapa sepanjang pelajaran sekolah hanya sosok Jun-Hong yang ada di pikirannya. Ia tak menyangka Jun-Hong benar-benar memilih sekolah yang sama dengannya. Beberapa pertanyaan juga terus mondar-mandir terutama tentang kemana kacamatanya selama ini tak pernah lepas dari dirinya?? Bagaimana tidak seperti yang terus dikatakan hayoung bahwa Jun-Hong tak pernah jauh dari kata CUPU dan ANEH, tapi setelah bertemu dengannya hari ini hal yang mengejutkan itu terjadi.

Bel istirahat pertama untuk makan siang berbunyi anak-anak kelas 1-1 yaitu kelas Ha-yi berhamburan keluar, Ha-yi yang biasanya akan menunggu Hayoung dan ke kantin bersama namun hari itu meninggalkan Hayoung begitu saja. kaki kecilnya berjalan menelusuri sepanjang kelas 1 mencari sosok Jun-Hong untuk menagih janji Jun-Hong saat terakhir sekolah sebagai anak SMP.

~aku pasti akan menjadi lebih baik~

“kau lebih baik sekarang”ucap Ha-yi saat mengingat potongan isi surat dari Jun-Hong.

Dilain tempat yaitu kelas 1-3 kelas Jun-Hong, Jun-Hong masih sibuk membereskan bukunya ke dalam loker miliknya. Seorang anak gadis duduk di belakangnya memanggilnya.

“Jun-Hong~a kali ini bisa membantuku lagi?”ucap gadis itu sambil menyayupkan kedua matanya di depan Jun-Hong.

“sebenarnya ada yang harus kulakukan tapi jika seorang Dani yang meminta mana bisa aku menolaknya”ucap Jun-Hong yang melukiskan senyuman anak gadi tersebut.

“Temani aku keperpustakaan, kali ini aku harus menemukan buku yang sesuai dengan tugas dari Kim Songsaenim setelah itu aku pasti membantumu”pinta Dani.

“ahh, baiklah”ucap Jun-hong yang langsung menarik Dani keluar dari kelas bersamanya.

Sementara tak jauh dari sana Ha-yi dengan senyum yang pernah lepas semakin mengembang ketika melihat Jun-hong keluar dari kelas namun yang terjadi senyuman yang melebar menciut begitu saja ketika melihat Jun-hong menarik Dani keluar dari kelas bersama Jun-hong. Seketika Ha-yi berbalik entah apa yang terjadi perasaannya menjadi gusar seketika. Ia berjalan tertatih menuju kelasnya, tatapannya pun kosong. Bahkan Hayoung yang berpapasan dengannya tak sedikitpun Ha-yi mengeluarkan suaranya, jangankan suaranya menoleh saja Ha-yi berat melakukan itu.

“Ha-yi~a. Gwencahana~?”tanya Hayoung yang terlihat khawatir melihat ekspresi Ha-yi. “kau terlihat aneh, apa terjadi sesuatu”

“aku mau sendiri. Pergilah”ucap Ha-yi dan di iyakan oleh Hayoung.

~entah kapanpun itu! Saat pertama kita bertemu kelak! Aku punya kejutan untukmu!~

“apa ini kejutannya? Kau benar-benar telah mengejutkanku!”pekik Ha-yi dalam hatinya membenamkan wajahnya pada kedua lipatan tangannya.

Ha-yi terus terbayang-bayang bagaimana ekspresi Jun-hong yang menggenggam tangan Dani keluar dari kelas tadi. Sambil terus menggeleng-gelengkan kepalanya yang berharap kejadian tadi cepat lenyap begitu saja tapi alhasil hal itu malah terus berputar-putar dengan bayangan yang sama.

“ahhh!!!”ucap Ha-yi mengacak-acak rambutnya.

Bibir manisnya tak lagi melekung seperti beberapa menit lalu. Yang ada sekarang adalah kegusaran dan bayang-bayang ketakutannya kehilangan Jun-hong yang selama ini secara tak sadar membuatnya tersenyum kapanpun. Ha-yi baru saja merasakan bahagianya melepaskan rasa kesepian beberapa minggu ini karna mengirah Jun-hong tak bisa membuatnya tertawa lagi seperti yang dilakukannya dulu.

“Aku baru sadar betapa berharganya kau dalam hidupku! Kenapa sekarang kau berpaling setelah aku sudah mulai menyukaimu!! Kau bilang apapun itu berapa lamapun kau takkan pernah menyerah padaku! Ada apa denganmu Choi Jun-hong???!!! Kenapa dengan mudahnya kau berpaling dan meninggalkan luka untukku!!ahhh”ucap Ha-yi dengan wajah frustasi melepas Gantungan beruang biru dari tasnya.

Dengan rasa frustasi Ha-yi melepaskan gantungan kesayangannya itu dan melemparkannya kelantai begitu saja. Ha-yi pun kembali menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya. Airmatanya pun jatuh entah rasa apa yang dirasakannya tapi ia begitu merasa kehilangan seorang Jun-hong saat itu.

Bel masuk berbunyi, namun Ha-yi enggan keluar dari persembunyiannya. Hayoung menatap Ha-yi dengan tatapan seribu tanya. Hayoung begitu terkejut saat melihat gantungan boneka itu ada dilantai. Ia memungutnya dan duduk di bangkunya sambil terus melihat Ha-yi.

“ahh, sejak kapan membiarkan ini dilantai? Bahkan jika aku memegangnya saja dia marah. Apa dia membuangnya?”ucap Hayoung Heran.

Pelajaran dimulai tapi yang terlihat Ha-yi masih enggan menampakkan wajahnya meskipun Hayoung sejak tadi membujuknya agar ia tak di keluarkan oleh Kim songsaenim yang terkenal galak.

Terdengar bunyi pemberitahuan yang membuat Kim songsaenim yang saat itu mengoceh panjang lebar tentang sejarah diam sejenak dan meletakkan bukunya dimeja.

“hmhm…ehh”terdengar suara yang tak asing di telinga Ha-yi.

Ha-yi pun dengan pelan membuka matanya yang sejak tadi terus terpejam mendengar sesuatu yang tak asing baginya.

“kalian mendengarku? Hm hm”terdengar suara lelaki dari speaker sekolah.

“apa yang kau lakukan? Cepat katakan!”terdengar sama suara wanita dari speaker tersebut.

“seperti pernah yang ku katakan padamu ! Bagiku Hanya ada 3 jawaban didunia ini! 1 adalah Ya dan ke 2 kembali ke pada Poin 1 dan ke 3 kembali kepoin ke 2…”

“ehh, apa yang dikatakannya? Bilang saja ya? Apa susahnya!”omel hayoung yang terlihat kesal mendengar ucapan dari speaker sekolah.

“Ha-yi? Would you be my girlfriend?”

“mwo?”teriak hayoung. “apa ada makhluk aneh ke 2 lagi kali ini setelah si Jun-hong?”sambungnya.”ahh jinjja?”

kata itu sontak membuat Ha-yi bangun dan yang lebih mengejutkan semua mata saat itu tertuju pada Ha-yi terutama Kim songsaenim yang terlihat begitu kesal.

“dasar anak nakal! Berani-beraninya menggunakan fasilitas sekolah untuk menyatakan cinta!”ucap Kim songsaenim keluar dari kelas.

semua siswa teman sekelas Ha-yi berhamburan mendekat pada Ha-yi. Semua bertanya siapa lelaki yang seberani itu menggunakan fasilitas sekolah untuk hal konyol.

“Choi Jun-hong? Apa mungkin dia?”ucap Ha-yi pelan namun terdengar oleh Hayoung.

“mwoo? Choi Jun-hong? Again?? Apa dia itu idiot!!!”ucap hayoung.

“dia tidak idiot! Dia hanya berbeda!”keluh Ha-yi yang menarik Hayoung keluar dari kelas. “ikut aku!”

“yakh! Apa kau lupa saat SMP! Saat itu dia juga membuat masalah yang sama seperti ini! Saat olahraga gabungan dengan bodohnya dia mengatakan cinta padamu? Apa-apaan ini? Dia sudah di tolak apa lagi sekarang???”omel hayoung sepanjang jalan namun terdiam dengan tatapan datar maut milik Ha-yi.

Dan sesampainya di depan ruang informasi kim songsaenim sudah tengah menjewer Jun-hong dan juga Dani keluar dari ruang informasi.

“ahh saem, Dani tidak bersalah. Dia yang tadi akan menghentikanku!”bela Jun-hong.

“menghetikan? Kau pikir kau tak mendengarnya? Dia kan yang menyuruhmu!”

“ahhh saem tolong ampuni dia kali ini!”pinta Jun-hong.

“kau Kim Dani! Kembali kekelas sekarang!”

“Jun-hong~a miann~”ucap dani dengan wajah menyesal.

“kau! Choi Jun-hong! Tetap disini! Tunggu aku kembali dan memutuskan hukumanmu! Jangan bergerak jika tidak hukumanmu semakin bertambah”ucap kim songsaenim menuju ruang guru sepertinya akan melapor pada wali kelas Jun-hong.

“kau benar-benar dalam masalah kali ini!”ucap Ha-yi membuat Jun-hong menengok ke arah samping.

“okh?”

“siapa dia? Jun-hong? Si cupu? Si idiot? Apa kau yakin itu dia?”tanya hayoung yang semakin berputa-putar.

“ahh diamlah!”pinta Ha-yi.

“mianhae~”Ucap Jun-hong. “aku hanya menepati apa yang ku tulis”ucap Jun-hong yang saat ini belum berani menatap Ha-yi. “apa kau..”

“arha, aku benar-benar terkejut!”

“he?”ucap Jun-hong memberanikan diri menatap Ha-yi.

“kau berhasil”ucap Ha-yi dengan airmata yang mulai turun.

“kau..”

“gwenchana~”ucap Ha-yi menghapus airmatanya dan menebarkan senyumnya menyakinkan Jun-hong. “wae?”tanya Ha-yi pada Jun-hong yang tak memberitahunya bahwa ia berada disekolah yang sama.

“wae? Apa maksudmu?”ucap Jun-hong menggaruk kepalanya. “okh? Ahh.. Aku belum siap menemuimu. Aku tak bermaksud menghindarimu.. Aku..”

“arassho~, kau bilang saat aku siap aku akan menemuimu? Begitu kan?”ucap Ha-yi. “jadi sekarang?”

“sebenarnya aku..”ucap Jun-hong terlihat akan jujur bahwa ia benar-benar belum siap.

“arha, kau menepatinya! ~saat pertama bertemu di tingkat SMA saat itulah akan kukatakan kejutan itu~”ucap Ha-yi membaca sepatah kata dari surat Jun-hong.

Jun-hong tertunduk malu sekaligus sangat senang Ha-yi bahkan mengingat isi surat yang ia tulis.

“kau tak mengapakan?”tanya Ha-yi.

“gwenchana~, ku rasa aku hanya perlu menulis surat penyesalan dan membersihkan ruang olahraga atau hanya pelayanan publik selama seminggu, itu yang di katakan Dani jadi gwenchana~”

“babo~ya!”

“hm?”

“neol! Babo~ya”

“daebak!!! kau cupu! Ahh anyi Jun-hong. Kau benar-benar daebak! Hanya kau bilang? Hanya? Apa tak cukup waktu SMP kau dipermalukan? Anyi kau juga bahkan lebi mempermalukan Ha-yi! Apa kau mau menjadikan Ha-yi kali ini bahan cacian sampai lulus? Kau sudah di tolak! Apa kau tak mengerti? Lalu apa kau malah naksir pada Jun-hong karna dia sudah berubah sekarang?”ucap Hayoung terlihat tak ingin masa SMP itu terulang.

“anyi!!”ucap Ha-yi yang membuat Hayoung terperangah. “Hayoung~a, geumanhae~! Hari itu aku belum menjawabnya karna ia lari sebelum aku menjawabnya!! Kesimpulannya? Aku belum menolaknya!”

“okh?”ucap Jun-hong dan Hayoung bersamaan.

“lalu?”tanya Jun-hong.

“lalu? kau masi bertanya? Yakh! pemaksa!”

“yakh! Kau menerimanya?”tanya Hayoung menatap Ha-yi tanpa berkedip.

Senyuman Jun-hong Terukir lebar masih taj percaya.

“Lee Ha-yi, kau menerimaku?”

“haruskah aku mengatakannya dua kali?”ucap Ha-yi.

“yakh!! Michisso?”tanya Hayoung.

“hm, naneun Michisso!”ucap Ha-yi dengan ekspresi datar.

Kim Songsaenim datang dan menyuruh agar Ha-yi cepat menuju kelasnya sebelum kim songsaenim kehabisan kesabaran dan menghukumnya juga. Mendengar hal menakutkan itu Hayoung terburu-buru berlari meninggalkan Ha-yi terlebih dahulu ke kelas. Ha-yi masih berdiri disana sambil terus tersenyum pada Jun-hong.

***

Setelah kejadian itu, ini tak seburuk yang Hayoung Khawatirkan bahwa Ha-yi benar-benar akan menjadi bahan lelucon seperti saat SMP. Yang terjadi adalah sebaliknya, banyak anak kelas 1 bahkan kakak kelas yang merasa iri pada Ha-yi yang memeliki seseorang seperti Jun-hong. Seperti yang terjadi hari ini seisi kantin tengah memuji keberanian Jun-hong.

“panda!”teriak Jun-hong sebagai panggilan sayangnya pada Ha-yi.

Jun-hong berlari menuju meja dimana Ha-yi duduk makan bersama Hayoung. Hayoung yang dulunya sangat merasa kesal pada Jun-hong hari itu mulai terlihat luluh atas keberanian Jun-hong.

“panda~ya, ini?”ucap Jun-hong menyerahkan sebelah headsetnya pada Ha-yi.

“moya?”ucap Ha-yi memasangnya ketelinganya. “yakh! Kau mengirim surat ke radio?”

Jun-hong mengangguk pelan. “mereka yang memberiku saran untuk tak menyerah padamu, aku hanya mengirimkan pesan terima kasih karna sekarang aku bisa memilikimu di 2nd Conffession”

“jangan bilang kau selalu mengirimkan kisah tentangku?”

Jun-hong mengangguk pelan mengiyakan pertanyaan Ha-yi.

“berlebihan lagi”

“anyi anyi anyi! Ini bukan berlebihan hanya sedikit berbeda”ucap Jun-hong.

Ha-yi tersenyum mendengar ucapan Jun-hong yang terdengar meniruhnya.

“aigooo… Haruskah aku pindah? Sepertinya aku hanya menjadi nyamuk kesepian disini huhhh”keluh Hayoung.

Meskipun Jun-hong pernah gagal dan hampir menyerah pada Ha-yi, tapi akhirnya di ”pengakuan ke2nya”Ha-yi akhirnya mengiyakan untuk menerimanya sebagai orang spesial di hatinya. Walaupun sebenarnya Ha-yi sudah memiliki perasaan sejak pengakuan pertama Jun-hong, namun belum sempat menjawab Jun-hong sudah gugup dan lari dari hadapan Ha-yi karna ia takut akan di tolak olehnya.

“syukurlah kau tak pernah menyerah padaku”ucap Ha-yi. “Gumawo Jun-hong~a Gumawo Choi Jun-hong”

otte? mian klo ada yang nggk suka sama pairing ini 😦
dont silent reader please 🙂

Bonus Fanmade if you love this couple >>>

9 thoughts on “[OneShoot] 2nd Confession

  1. Reblogged this on yongyongri and commented:
    Tittle : “2nd Confession”

    Main Cast :

    – Lee Ha-yi “Lee Hi”

    – Choi Jun-Hong “Zelo BAP”

    Support Cast :

    – Oh Hayoung “Hayoung A-Pink”

    – Lee Chanhee “Chunji Teen Top”

    ||| Genre: Romantic||| Length: One shoot ||| Rating: Pg–15 ||| Disclaimer: Oc Dan Alur Hak Cipta Ada Pada Diri Dan Otak Saya. Sekali Lagi Castnya Hanyalah Milik Tuhan Semata Author Hanya Meminjam Nama, typo masih laris di FF ini jadi segera beri komentar jika mendapatkan hal tersebut|||Author : Park Mi-rin

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s