Kilauan Senja – Prolog

Kilauan Senja

Kiran storyline

Title  :  Kilauan Senja – Prolog  ||  Cast  :  Lee Junho (2PM) & Kim Sohyun (Actress)  ||  Support  Cast  :  Nickhun Horvejkul (2PM), Ok Taecyeon (2PM)  ||  Genre  :  Angst, Romance, Action  ||  Rating  :  PG-16

Summary:

Ada beberapa kejadian yang tak bisa kau tahan laju kecepatannya. Dan yang hanya bisa kau lakukan saat hal itu menabrakmu adalah berharap semoga momentumnya tidak terlalu besar.

*****

Sohyun terdiam. Keringat dari dahinya menetes turun membasahi pelipisnya lagi. Tangannya bergerak sedikit, mengetes apakah ia masih bisa bertahan untuk setidaknya beberapa hari lagi. Lemah, itulah kesimpulan yang datang dari tubuhnya. Ia kehilangan kekuatan bahkan untuk hanya memikirkan kemungkinan paling awal mengapa ia terjebak dalam dimensi satu arah ini.

Tangan pria itu mendekat. Meraba keringat Sohyun yang tampak siap meluncur lagi dan sesekali merapikan rambutnya yang tampak berantakan. Tangan setengah basah itu meraba pipinya, menahannya, dan menekannya sangat keras. Pria itu tersenyum, tapi sejenis senyuman mengejek.

“Katakan sekarang juga,” perintahnya dengan penekanan menusuk pada setiap kata yang meluncur di bibirnya. “Aku yakin kau tahu keberadaannya di suatu tempat.”

Sohyun memalingkan mukanya. Ia kesakitan. Setiap kata yang keluar dari bibir pria itu selalu memberikan tekanan yang lebih besar lagi pada cengkraman di tubuhnya. “Aku tidak tahu! Sama sekali tidak tahu!” ujar Sohyun lantang. Matanya berkilauan. Sekarang satu-satunya yang bisa dibakar di ruang kurang cahaya ini memang hanya semangatnya. Satu-satunya hal yang masih tampak bisa dikendalikan.

“Kau punya anak dengannya, mana mungkin kau melepaskannya begitu saja heh pelacur busuk!” pria itu mengumpatnya sambil menendang salah satu kursi di sekitarnya. Sohyun menutup mata, berkali-kali, selama dua hari ini ia melihat adegan kekerasan di depan matanya dan sesekali dilakukan terhadap dirinya.

Sohyun diam. Tenggelam dalam imajinasinya lagi. Entahlah, sekarang ia tak bisa lagi membedakan mana yang nyata dan yang hanya ilusi. Semuanya tampak sama. Mati.

“Oppa,” Satu kata itu yang keluar ketika punggung seorang pria tampak mengecil di kaki langit. Ia masih berdiri dengan lututnya yang setengah lumpuh karena berlari terlalu jauh. Namun, seperti sudah ditakdirkan, segala sesuatu yang diusahakan olehnya memang berakhir sia-sia.

Apa ada nama yang lebih tepat—kalau bukan itu, jika tangannya yang pendek itu tak mampu menggapai punggung yang tampak terbentang lebar? Apa ada penjelasan yang lebih jelas bahkan jika dalam setiap langkah yang ditapakinya selalu saja menciptakan jarak yang lebih jauh?

Ia terbangun, ini adalah yang paling nyata. Ia berada pada kenyataan di mana ia terlempar dalam keadaan tak bisa melakukan apapun. Perutnya terikat pada kursi kayu yang didudukinya. Dan juga, tangan dan kakinya yang tampak mulai memerah karena gesekan dengan tali yang melilitnya.

Apa-apaan ini? Bagaimana bisa hidupnya dikaitkan dengan pria yang sama sekali tak utuh dalam ingatannya? Bagaimana mungkin dulunya ia bisa menggapai pria itu bilamana figurnya saja sama sekali tak kelihatan?

“Kenapa diam? Kau lupa kau punya anak itu?” pria itu membentak. Membuat tubuh Sohyun ngeri dengan keadaan ini.

Sebenarnya siapa pria itu? Kenapa hanya bagian kecil saja yang terdaftar di ingatannya? Siapa dia? Benarkah ia pernah punya hubungan yang serumit ini? Anak? Demi Tuhan usianya masih belum genap dua puluh dua tahun!

Lagi-lagi Sohyun menempelkan ujung-ujung kelopak matanya. Ia berpikir, jawaban apa yang sekiranya tepat untuk menjelaskan hubungannya dengan seseorang yang sama sekali tak jelas dalam ingatannya itu. Tapi sayang, karena itu terlalu buram, ia hanya bisa berteriak, “sebenarnya apa yang kau bicarakan, hah? Aku sama sekali tidak mengerti. Aku bahkan tidak punya kenangan yang lebih manis tentang pria yang sama sekali tak meninggalkan jejak di otakku! Aku sama sekali tidak tahu!”

“Kau melupakannya atau kau menjaga harga dirimu, hm? Jelas-jelas aku pernah melihatmu hamil!“ Pria itu terlihat tak sabaran. Kalau ia bisa memakan gadis bodoh di hadapannya, tentu saja sudah ia lahap dari tadi.

“Taecyeon hyung!”  seru seseorang dengan penampilan yang tak lebih sangar dari orang yang dihadapannya. “Kupikir Lee Junho sudah menunjukkan gerakan.” Nama pria yang sedari tadi diperdebatkan akhirnya dimunculkan dengan lantang. Lee Junho, seseorang yang teramat asing bagi Sohyun namun mampu mengobrak-abrik hidupnya dengan sekali tepuk. “Nickhun mendapat telepon darinya,” tambahnya.

“Benarkah? Secepat itu?” tanya Taecyeon tak percaya sambil sedikit mengerutkan alisnya. “Padahal aku masih ingin bermain-main dengan gadisnya.”

Pria itu tampak mengubah ekspresinya, “bukan itu gadisnya. Sama sekali bukan itu. Dia sudah membuangnya beberapa tahun yang lalu.” ucap pria yang ternyata memiliki tatto di lengannya itu dengan ringan. “Tapi dia berpesan untuk jangan melepasnya. Ia akan setuju dan takkan menghindari kita lagi.”

“Karena gadis ini?” tanya Taecyeon memprediksi. “Apa dia masih menyukainya?”

“Kudengar gadis ini pernah melahirkan anaknya. Mungkin dia ingin menemui anaknya. Siapa yang tahu? Setidaknya kita tidak salah memancing.”

Suara itu samar-samar didengar oleh Sohyun. Indra pendengarannya tak lagi bekerja dengan baik. Pandangan matanya menggelap. Ia lelah. Lemah. Ingin pulang.

*****

P.S.

Kalau ada yang tertarik aku lanjutin. Kalau nggak ada pun tetap aku lanjutin.

🙂

46 thoughts on “Kilauan Senja – Prolog

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s