Love Rain

heart-love-rain-red-Favim.com-493938

Title : Love Rain || Cast : Kim Myungsoo & Son Naeun || Genre : Romance || Length : Oneshoot || Rating : PG-15 || Credit FFMyungeun Tumblr 

It’s not a copy paste story. I’m just trying to translate this story to Indonesian. And, there’s some addition from my idea. This is just a ff which for filling ff Hard to Love which haven’t finished yet. The latter, enjoy reading^^

_oOo_

Setelah hari yang panjang penuh aktifitas dan permainan, akhirnya inilah waktunya kami untuk pulang ke rumah. Jika aku tidak salah, ini adalah hari yang hebat dan aku menikmati semua yang kami lakukan, tetapi aku sangat ingin berbaring diatas tempat tidurku sekarang dan tidur.

Awalnya kami berencana untuk memakan kudapan sebelum kami pergi namun saat itu juga hujan mulai turun jadi para organisator dan Team Building mengatakan pada kami bahwa kami harus makan di bus saja. Mereka takut kalau hujan akan menderas, dan akan menyulitkan bus-bus yang akan melakukan perjalanan. Jadi, para staf distributor makanan dan kami, para murid, mulai berjalan menuju bus.

Aku mendekati Hayoung. “Oh, Hayoung-ah, mau berbagi payung dengaku? Payungku ini cukup untuk dua orang.” tanyaku pada Hayoung. Namun tampaknya Hayoung akan menolak permintaanku. Dengan cepat ia menggelengkan kepalanya. Ia meminta maaf kepadaku.

Aku menganggukkan kepalaku pelan. Aku menanyakan hal yang sama pada teman-teman yang lain, namun jawaban mereka sama; mereka akan berbagi payung dengan seseorang. Ya, ini tidak akan membantu dan aku tidak benar-benar ingin berjalan sendirian.

Aku melihat sekeliling tempat sambil aku berjalan dan aku sangat menyukai pemandangan ini. Semuanya berwarna hijau dan sangat indah. Aku berkehendak untuk menggambarnya nanti.

Aku melanjutkan aktifitasku yaitu melihat sekeliling, lalu aku menyadari kehadiran seseorang disampingku. Aku melirik ke arah sisi kananku dan aku melihat seorang pria berjalan tanpa payung.

“Permisi, jika kau mau, kita bisa berbagi payung ini.” Kataku pada pria itu. Aku bukanlah tipe orang yang berbicara dengan orang asing dan menawarkan payungku, namun laki-laki ini bukanlah tipe orang asing sejak kami berada di universitas yang sama.

Pria itu memandangku lalu ia tersenyum. “Tentu, terimakasih. Sini, biarkan kau yang memegangnya.” Katanya lalu berdiri disampingku dan aku menyodorkan gagang payungku padanya.

Kami berjalan bersama tanpa ada kata yang keluar dari mulut kami. Semuanya baik-baik saja sampai Chorong unnie, yang berjalan dengan Bomb unnie didepanku dan laki-laki disampingku ini, mereka membalikkan badannya dan melihatku berjalan bersama seseorang. Dia menyeringai dan menyentuh pundak Bomi unnie. Oh tidak! Jangan Bomi unnie!

Bomi unnie melirik ke arah Chorong unnie. “Ada apa?” tanyanya sambil mengangkat alisnya. Aku menggigit bibirku dan terdiam berusaha tenang agar pria disampingku ini tidak terlalu heran padaku. Akhirnya, Chorong unnie menunjuk kami – aku dan pria yang ada disampingku – dan mata Bomi unnie hampir keluar.

“Naeun! Siapa dia?” tanyanya sambil menunjuk laki-laki yang berdiri disampingku itu. Aku menutup wajahku menggunakan kedua tanganku. Ugh! Unnie is so embarassing!

“Maafkan aku tentang itu.” Kataku dan terdengar dia tertawa kecil. Akan kucekik nanti Bomi unnie.

Ketika aku menatap ke depan, Bomi unnie sudah tidak menunjukku dan Chorong unnie sudah menariknya. Aku percaya bahwa mereka sudah membuatku malu setengah mati, kemudian Chorong unnie mengedipkan matanya ke arahku. Oh Tuhan. Apakah aku bercanda? Ini sangat jauh dari kata berakhir. Mereka tidak akan berhenti menanyaiku tentang laki-laki ini nanti.

Yang lainnya – Eunji unnie, Hayoung, Yookyung, dan Namjoo – juga melihatku dan tentu saja, mereka menanyakan pertanyaan dan menggodaku. Jadi inilah yang kudapat setelah aku berbaik hati dan menawarkan seseorang untuk berbagi payung denganku.

Ketika mereka berhenti menggodaku, pria disampingku mulai menanyakan pertanyaan ke arahku. Dia menanyakan program apa yang kuambil, tahun apa ketika aku masuk, dan pertanyaan mudah yang lainnya. Setelah menjawab tiap pertanyaan itu, aku menanyakannya pertanyaan yang sama. Dia mengambil Matematika BS dan dia sudah berada di tahun keempat. Sebenarnya kami hanya membicarakan tentang hal-hal yang sepele, namun aku menyukainya.

Kami berbicara sampai akhirnya kami tiba di bus. “Terimakasih, nona.” Dia tersenyum padaku lalu dia masuk ke dalam Bus #1.

Sedangkan aku masuk ke dalam bus #2 dan seperti apa yang kuduga, perempuan-prempuan itu sudah menungguku untuk mengungkapkan buncisnya – rahasia. Aku duduk disamping Chorong unnie dan introgasipun dimulai. Aku menceritakan mereka semuanya dan mereka terlihat senang. Kadang-kadang aku tidak mengerti dengan mereka. Aku menghela nafas.

“Jadi, siapa namanya?” tanya Eunji unnie. Benar, namanya. Aku tak menanyakan namanya sekalipun. Hey, namun itu akan aneh jika aku menanyakannya namun ia tak menanyakan namaku.

“Aku tidak tahu.” Jawabku.

“Eyyyy!” Mereka mengerutkan dahi mereka ke arahku dan mereka mengatakan bahwa seharusnya aku menanyakannya. Huh, seperti apa yang akan kulakukan. Namun, sejak itu, aku benar-benar ingin mengetahui namanya.

**

Satu minggu berlalu sejak Team Building dan aku tidak pernah melihat pria itu di sekolah. Tetapi ini terasa aneh karena setiap kali aku berjalan di koridor, aku melihat sekeliling – seperti apa yang aku lakukan biasanya – untuk mengecek jika ada dia. Aku menghela nafas. Kenapa aku mencarinya?

Hari ini adalah siang yang hujan dan begitu tidak beruntungnya bahwa aku meninggalkan payungku di kamarku. Bagus. Sekarang bagaimana caranya aku pulang ke rumah? Aku berdiam diri di ruang tunggu sambil aku menunggu hujan reda. Aku menatap hujan yang terus turun itu sampai ketika seseorang berdiri disampingku.

Aku menolehkan kepalaku ke arah seseorang yang berdiri disampingku. Aku melihat seorang pria membuka payungnya. “Jika kau mau, kita bisa berbagi payung ini.” Pria itu menatapku lalu tersenyum. Tunggu, kenapa ini terasa fami- Oh! Ini laki-laki yang terakhir kali waktu itu!

“Jadi?” Dia mengangkat kepalanya kemudian tertawa kecil.

Aku menunggu beberapa alasan, namun aku tersenyum dibaliknya. “Tentu.” Jawabku sambil berdiri di bawah payungnya.

Kami pun berjalan keluar dari sekolah. Namun, ia tak menuju pintu gerbang sekolah, melainkan tempat parkir. Aku mengerutkan dahiku dan alisku bertemu. Aku menatapnya. “Kita tidak ke pintu gerbang? Aku harus naik bus.”

Dia menggelengkan kepalanya lalu tersenyum ke arahku, kemudian ia mengluarkan sebuah kunci mobil dari kantung jasnya. Kemudian ia menekan kunci mobil itu. Sebuah mobil yang tepat berada di depan kita pun berbunyi. Kemudian ia menyuruhku berjalan ke arah pintu mobil itu.

Tanpa babibu, ia membukakan pintunya untukku. Kemudian aku menundukkan  kepalaku sebagai ucapan terimakasih lalu masuk ke dalam mobilnya. Dengan cepat ia menutup pintu mobilnya lalu berlari ke arah pintu mobil yang lain, lalu ia masuk.

Aku memasang sabuk pengamanku lalu menatap kaca spion mobilnya. Kubenarkan rambutku yang agak basah lalu aku tersenyum kecil. Kemudian aku mengalihkan pandanganku.

Ia menyalakan mobilnya. Dengan cepat mobil itu melaju lalu berbelok ke arah kanan. Bagaimana bisa dia tahu itu arah rumahku? Keluar dari gerbang sekolah, ia menyalakan radionya dan sebuah musik pun mengalun dengan indah disana. Terjadi keheningan disana. Lagi.

Melihat kemacetan yang biasa terjadi kalau hujan, membuatku menghela nafas panjang. Kemudian kubenamkan diriku di jok mobil itu. Ketika aku hendak menutup kedua mataku, aku menghilangkan niatan itu. Aku menatapnya. “Namamu siapa? Kita belum saling bertukar nama sejak kejadian terakhir itu.”

Terdengar dia tertawa kecil kemudian ia menyodorkan tangannya. “Kim Myungsoo.” Katanya lalu tersenyum. Senyumnya membuat matanya hilang menjadi garis tipis yang membuatnya tampan.

“Aku-.”

“Son Naeun?” potongnya. Dia mengetahui namaku. Darimana dia tahu itu? Ia tersenyum kemudian menunjuk ke arah map yang kupegang. Aku mengalihkan pandanganku dan kulihat map yang berlabel namaku.

Aku membuat bulatan di bibirku kemudian menganggukkan kepalaku. Aku mengalihkan pandanganku. Mobil-mobil diam itu mulai jalan. “Jadi, kau sebagai apa disana?” tananya. Setidaknya pertanyaan itu membuat keadaan membaik.

“Maksudmu?”

“Ya, saat acara itu. Pertama kali kita bertemu.”

Aku menjelaskan padanya bahwa aku hanyalah seorang murid yang mengikuti acara itu. Mungkin dia mengira bahwa aku adalah distributor makanan karena aku sempat memegang-megang snacks sebelum pulang. Padahal, snacks itu adalah milik Hayoung.

Dia kembali bertanya padaku. “Kau nyaman di jurusan seni?” Aku menganggukkan kepalaku begitu saja. Padahal biasanya, jika aku ditanya seseorang tentang hal itu, aku harus berpikir dulu.

Kami berbicara hal yang sepele lagi sepanjang jalan, walaupun ia fokus pada jalan, ia tetap sesekali tersenyum ke arahku. Bagaimanapun, aku harus membalas senyumannya itu. Namun, tak terasa mobil itu berhenti di depan rumahku.

Aku menoleh ke arahnya. “Bagaimana bisa kau tahu?”

“Aku tetanggamu.”

**

Sejak kejadian pulang bersama hujan itu, dia sering mengajakku untuk berangkat bersama kuliah jika aku sedang mengambil jam pagi. Entah ini sudah bulan ke berapa ia mengajakku bersama. Terkadang jika malas, aku akan mengambil jam siang. Namun, tidak dengannya. Laki-laki itu selalu mengambil jam pagi.

“Son Naeun.”

Suara eomma ku membuatku menghentikan aktifitas sisir-menyisirku itu. Pintu kamar terbuka lalu masuklah eomma. Aku menaruh sisirku lalu aku menolehkan kepalaku. “Ada apa, eomma?” tanyaku.

Aku mengambil tas kuliahku lalu berjalan menuju pintu kamar dimana eomma ku berdiri. Ia tersenyum ke arahku. “Cepatlah, Myungsoo sudah menunggumu dari tadi.” Kata eomma ku. Mendengar hal itu, dengan cepat aku menuruni anak tangga lalu memakai sepatu casual yang biasa kupakai untuk kuliah.

Pintu rumahku sudah terbuka lebar dan disana terparkir mobil Myungsoo di halaman rumahku. Aku melirik sekilas, lalu berlari ke arah mobil itu. Aku membuka pintu mobilnya. Aku menghela nafas panjang.

Sebenarnya, Dongwoon oppa – kakakku – tidak suka melihatku berangkat bersama. Dia iri karena aku selalu berangkat bersama Myungsoo. Ya, tapi bagaimana, tidak mungkin aku menolak ajakan Myungsoo.

“Sudah siap?”

Aku menolehkan kepalaku ke arahnya. Namun ia segera menutup mataku menggunakan kedua tangannya lalu dengan cepat tangannya yang satu lagi menutup mataku menggunakan masker. Apa yang dilakukannya?

Namun aku hanya bisa diam menunggu. Dia menjalankan mobilnya. Dalam waktu sesingkat itu, mobilnya sudah menjauhi rumahku sepertinya. Kemudian ia menghentikan mobilnya. Ya, mesin mobilnya mati.

Kemudian terdengar ia mengambil sesuatu, ia membuka masker mataku. Aku mengangkat kedua alisku. Kulihat ia memegang sebuah kotak yang tampak seperti kado. Aku tak mengerti ini.

“Selamat ulang tahun.”

Aku terdiam. Aku melirik ke arah dashbord mobilnya. Disana menunjukkan tanggal 10 Februari 2013. Aku baru ingat bahwa hari ini adalah ulang tahunku. Bagaimana bisa aku melupakan ulang tahunku.

Ia menyodorkan kotak kado itu. Tepat saat itu, hujan mengguyur deras. Aku menatap kaca mobil yang berbunyi karena derasnya hujan. Kemudian aku membukanya. Aku terdiam ketika melihat isi dari kado itu. Kertas kecil. Hanya kertas kecil. Aku mengambil kertas itu lalu membaca tulisan kecil disana. Nafasku tertahan ketika aku melihat tulisan disana.

사랑비? 사랑해 나은이. i love you.

“Bagaimana?”

Aku menatap Myungsoo tak percaya. Ia menyukaiku? Tidak mungkin. Ia pasti hanya bercanda. Aku memasukkan kertas itu ke dalam. Namun ia menahan tanganku. Aku menatapnya, ia balik menatapku dalam.

“Kau tidak menjawab? Aku menyukaimu. Apa kau menyukaiku juga?”

Molla. Itulah satu kata yang hanya bisa keluar dari mulutku saat ini, namun aku tak bisa mengucapkan kata itu. Sungguh aku bingung akan pertanyaan yang pertama kalinya diucapkan seseorang padaku seumur hidupku ini.

Ia menunggu jawabanku. Aku menghela nafas panjang. Aku mengingat bagaimana kita bertemu. Bagaimana kita saling berbagi payung. Lalu juga, adegan-adegan yang baru kusadari, bahwa setiap ia melakukan adegan romantisnya itu padaku, hujan turun. Love rain?

“Aku juga menyukaimu.”

Aku terdiam. Aku tidak tahu bagaimana bisa kata-kata itu keluar dari bibirku. Aku tak menginginkan aku mengatakan hal itu padanya. Ini sungguh memalukan. Namun, ia menarik ujung bibirnya dan mulai tersenyum senang. Kemudian, ia mendekatkan wajahnya ke arahku lalu mencium bibirku pelan.

Ia tak kasar, hanya saja dia kadang-kadang dingin. Namun ciumannya adalah ciuman terlembut padahal aku tidak pernah merasakan ciuman itu bagaimana. Ia mencuri ciuman pertamaku.

Ia memelukku hangat sembari menciumku. Lalu ia melepaskannya kemudian ia menaruh lehernya diatas bahuku. Pelukan hangatnya membuat cuaca dingin hujan itu menjadi sehangat mantelnya.

“Aku mencintaimu, Son Naeun.”

“Aku juga.”

**

10 thoughts on “Love Rain

  1. waahh~~ nice ff thor.. aku sukaa..
    awalnya aku kira alurnya kayak kdrama love rain, tapi ternyata berbedaa..
    keep writing ya thor 🙂

  2. Aish telat bangeeet baru tau ff ini!!! Thanks udah terjemahin ff ini thor. Sweet bgt sumpaahh 💕💕💕 tambah cintaa sm MyungEun xD

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s