[FF Freelance] The Best Gift (Oneshot)

The Best Gift

 

Title : The Best Gift

Main Casts : Bae Suji (miss A’s Suzy), Oh Sehun (EXO), Son Naeun (APink)

Author : hanjeyoo

Genre : Friendship, School Life

Length : Oneshot

Rating: G

Disclaimer: I made this fanfic special for my friend who just turned 17 years old. Happy bithday and wish you all the best, chingu-ya!

Summary: “Hadiah ulang tahun terindahnya di tahun ini bukan karena kehadiran mereka sebagai orang yang selalu diacuhkannya, melainkan sebagai… sahabatnya.

****

Senin pagi. Betapa kesalnya Suji mengetahui kenyataan bahwa saat ini adalah senin pagi, yang artinya ia harus bangun di pagi hari dan bergegas pergi ke sekolah. Ia tak bisa lagi bangun pada pukul 10 pagi dan melanjutkan harinya dengan bersantai-santai di rumah, seperti yang dilakukannya di hari minggu kemarin. Memikirkan hal itu malah membuat Suji semakin malas untuk menggerakkan kakinya menuju sekolah. Ah, kenapa ia harus berjalan kaki menuju sekolah?

Coba saja ia masih tinggal di Seoul, pasti ia sudah berada di dalam bus dan menyandarkan kepalanya di jendela disaat-saat memalaskan seperti ini. Tapi kenyataannya berbeda.

Mokpo. Di kota kecil inilah ia tinggal sejak 3 bulan yang lalu. Sejak Suji lahir ia dan keluarganya memang sering berpindah-pindah tempat dikarenakan pekerjaan Ayahnya. Awalnya Suji memang tidak menyukainya karena dengan itu ia harus sering-sering menyesuaikan diri lagi dengan lingkungan baru. Tapi, lama-kelamaan ia pun terbiasa dengan situasi seperti ini.

Namun, sepertinya ketidaknyamanan itu kembali datang. Karena tempat yang ditinggalinya saat ini bukanlah seperti di kota-kota besar lain yang pernah disinggahinya semacam Seoul, Daejeon, Busan, Incheon, Gwangju dan lain-lain, melainkan kota yang terletak di pinggir pantai ini. Tepatnya di sebuah desa kecil yang jauh dari keramaian kota dan polusi udara.

Tega sekali bos Ayah memindahkannya kesini. Dan Suji semakin kesal dengan bos Ayahnya ketika mengetahui kalau masa kerja Ayahnya disini cukup lama. Suji tak tahu persis berapa lama itu, tapi yang jelas ia pasti akan menghabiskan sisa masa-masa SMA-nya disini. Sebuah fakta yang mengharuskannya pergi dan pulang sekolah dengan berjalan kaki sejauh 1 kilometer dikarenakan tak ada akses bus dari rumah menuju sekolahnya. Yang artinya ia juga harus bangun dua setengah jam lebih awal sebelum bel sekolah berdering.

Tanpa disadari Suji sudah sampai di gerbang sekolah. Mungkin ia terlalu lama menggerutu dalam hati sampai-sampai tak sadar akan munculnya gedung sekolah tua ini. Ia pun melanjutkan perjalanannya hingga ia sampai di kelasnya, 2-4.

Suji duduk di bangkunya. Ia menatap penjuru kelas dengan malas. Rata-rata dari mereka hanya melakukan hal-hal yang menurut Suji membosankan, seperti membicarakan sinetron memuakkan di televisi tadi malam, membaca buku, membahas pelajaran, membicarakan menu makan malam keluarga mereka, bahkan membahas tentang kebun tetangga-tetangga mereka yang sedang panen. Suji tak mengerti omongan orang-orang desa ini.

“Hei, gadis kota!”

“Apa kabar Suji si gadis Seoul?”

“Tersenyumlah, Suji-ya. Memangnya orang Seoul tidak murah senyum, ya?

Berbagai sapaan teman-temannya hanya Suji balas dengan senyuman tak ikhlas ataupun anggukan singkat. Ia begitu malas meladeni teman-temannya yang bersikap sangat berlebihan karena mengetahui dirinya yang pindahan dari Seoul. Tak bisakah mereka bersikap biasa saja?

Suji memang termasuk anak yang sulit bergaul sejak ia duduk di bangku SD. Hal itu sendiri disebabkan dirinya yang sering berpindah-pindah. Jika ia sudah punya kenalan di sekolah baru maka ia akan berpisah dengan mereka beberapa waktu setelahnya, tentu saja karena ia akan pindah lagi ke tempat lain. Hal itu jugalah yang membuatnya tak pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki sahabat. Lagi pula, ia tak pernah menganggap semua itu sebagai beban. Ya, ia sudah terbiasa sendiri.

Ia juga tak punya teman di sekolah ini.

“Hei, Suji!”

Suji langsung tersentak dari lamunannya ketika ada seorang lelaki yang tiba-tiba muncul di hadapannya sambil menyerukan namanya. “Apa?” tanya Suji malas.

“Hanya menyapamu saja, agar kau mau tersenyum,” balasnya.

Oh Sehun. Lelaki yang duduk di depan Suji itu memang selalu seperti itu di pagi hari, sampai-sampai Suji muak dengan sikapnya.

“Bae Suji!” tiba-tiba seorang gadis datang dari arah pintu, ia pun berjalan dengan penuh semangat ke bangkunya, di seberang kanan bangku Sehun. “Ternyata kau datang lebih awal dari kami!”

Son Naeun. Gadis itu merupakan teman dekatnya Sehun sejak mereka lahir, yang sifatnya juga tak jauh beda dari Sehun, yaitu sama-sama suka mengganggu ketenangan Suji dengan sifat sok akrab mereka.

“Kemarin kami menunggumu di rumah tapi kau tak bangun-bangun. Jadi kami pulang saja,” ucap Naeun sambil menatap Suji dengan tampang sedih.

Oh, baiklah. Mungkin kedua orang ini bisa dikatakan teman Suji. Ya, walaupun bukan teman dekat. Atau katakan saja kenalan.

Dan kedua orang ini kemarin mengunjungi rumah Suji pada pukul 7 pagi, disaat Suji masih berada di alam mimpinya. Mereka mungkin tidak tahu kalau Suji baru terlelap 3 jam sebelumnya akibat menonton seluruh kaset baru yang dibelinya di kota 3 hari yang lalu, tapi untung saja mereka tak memaksa Ibu Suji untuk membangunkan anaknya.

Sejak memaksa Suji untuk memberitahu alamat rumahnya, kedua orang ini memang sering sekali mendatangi rumahnya secara tiba-tiba. Mereka juga suka mengajak Suji mengunjungi rumah salah satu dari mereka ataupun ke suatu tempat yang menurut mereka keren di desa ini. Padahal Suji jelas-jelas tak menyukai kehadiran mereka. Ia pun selalu bersikeras memikirkan alasan-alasan agar mereka berhenti bersikap seakan-akan mereka adalah teman lamanya, tetapi sulit sekali melakukannya.

“Kalau begitu bagaimana kalau setelah pulang sekolah kita bermain ke rumah Suji? Aku rindu sekali dengan Dongdong, kucing peliharaanmu itu!” ucap Sehun yang segera membuat Suji membulatkan matanya.

“Kau kira rumahku itu dibuka untuk umum, sehingga kau bisa mengunjunginya kapanpun kau mau?” tanya Suji sinis.

Sehun dan Naeun segera terdiam. Mereka pun menghela napasnya. Sepertinya mereka menyesal. Tapi…

“Tapi kami ini kan temanmu. Kami juga sudah lumayan sering berkunjung kesana. Apa Ibumu tak pernah menanyakan tentang kami?” tanya Sehun. Sehun dan Naeun pun menatap Suji seakan memaksanya untuk menjawab ‘ya’.

Suji mendesah. Ibu memang sering menanyakan tentang mereka sejak mereka sering bermain ke rumah. Sepertinya Ibu suka sekali dengan mereka berdua.

Ibu kira kau tak akan suka tinggal di kota kecil seperti Mokpo. Tetapi ternyata kau malah bisa mengajak orang berteman. Begitu kata Ibunya setelah Sehun dan Naeun pulang dari kunjungan mereka di rumahnya untuk pertama kali.

“Bagaimana? Ayolah, kita akan bersenang-senang!” kata Sehun meyakini.

Lelaki ini bisa dikatakan yang paling bersemangat untuk berteman dengan Suji dibanding si gadis berambut panjang Naeun. Bisa terlihat dari tatapan penuh harapnya itu. Lelaki ini bahkan pernah membawakan Suji makanan dari rumahnya selama berhari-hari ketika Suji menolak ikut dengannya ke kantin dengan alasan ia sedang menabung selama sebulan. Tetapi Suji segera menghentikan perbuatan yang menurutnya sok perhatiannya itu.

Apa ia suka padaku? tanya Suji dalam hati. Detik berikutnya ia langsung mendengus. Tidak mungkin. Suji tidak boleh terlalu percaya diri.

Suji tak menjawab pertanyaan Sehun dan hanya menatap kedua orang itu dengan wajah datar. Malas sekali rasanya berbicara dengan mereka, lebih baik mengandalkan tatapan saja.

“Kuanggap tatapan itu sebagai ‘ya’!” ucap Naeun semangat.

Suji menaikkan alisnya. Tatapan yang dimaksudnya itu jelas-jelas adalah ‘tidak’. Tapi Naeun malah menyalahartikannya. Kini Suji hanya bisa menatap Sehun dan Naeun yang sedang membahas apa saja yang akan mereka lakukan nanti di rumah Suji tanpa memedulikan tampang tak suka Suji.

Sebenarnya apa yang mereka inginkan dari Suji yang jelas-jelas tak pernah bersikap baik dengan mereka?

****

“Sehun, Naeun? Wah, kalian datang lagi. Ayo, silahkan masuk. Kebetulan Bibi membuat Bibimbap banyak sekali,” sahut Nyonya Bae senang ketika Sehun memasuki rumah keluarga Bae disertai dengan Naeun dan Suji sendiri.

Naeun menyengir, “Berarti kontak batin kita kuat sekali, ya, Bibi?”

“Benar. Entah mengapa Bibi berpikir akan ada orang yang datang hari ini. Makanya Bibi banyak membuatnya. Kalian duduk saja dulu, nanti Bibi antarkan Bibimbap-nya,”

Sehun bisa melihat Suji memutar bola matanya ketika mendengar Naeun mengucapkan ‘kontak batin’. Ia juga bisa mendengar dengusan Suji ketika Ibunya menanggapi perkataan Naeun tersebut. Tapi Sehun tak mempedulikannya. Ia hanya tersenyum dan mengangguk. Mereka pun berjalan menuju ruang keluarga, tempat biasa Suji, Naeun dan  dirinya berkumpul di rumah ini.

“Suji, saat di Seoul dulu kau pernah bertemu dengan… dengan… apa, ya, namanya? Aku sering melihat mereka di televisi. Mereka itu wanita… bernyanyi dan menari… sembilan orang. Aduh, apa—“

Sonyeo Shidae.” Jawab Suji ketus sebelum Naeun selesai berbicara.

Naeun menepuk tangannya sambil menatap Suji dengan mata berbinar, “Ah! Itu dia. Kau pernah bertemu dengan mereka? Apakah mereka tampak memukau seperti yang terlihat di televisi?”

Suji hanya menaikkan bahunya, terlihat malas untuk berbicara.

Sehun tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah angkuh Suji.

Sejak pertama kali menjadi murid baru di SMA Seungri gadis itu memang selalu bersikap dingin kepada semua murid-murid yang ada disana. Belum lagi teman-teman sekelasnya terlalu bersikap berlebihan ketika mengetahui bahwa gadis itu pindahan dari Seoul. Karena itu Suji pun semakin lebih sering menunjukkan tampang malasnya, walaupun mereka tak pernah menyiksa atau mengejeknya.

Akhirnya Sehun dan Naeun penasaran dengan gadis yang tak banyak omong itu. Maka dari itu mereka pun mengajaknya berkenalan, kebetulan mereka duduk berdekatan. Mereka berusaha mendekati gadis itu dengan cara apapun. Namun gadis itu malah tampak tidak menyukai mereka, bisa dilihat dari tampangnya yang selalu sinis itu di setiap saat mereka mencoba berbicara padanya. Awalnya Sehun dan Naeun ingin pasrah saja rasanya. Tetapi ketika mengetahui kalau Suji merupakan anak tunggal dan sering berpindah-pindah mereka pun mengurungkan niat itu. Mereka mengerti apa yang menyebabkan Suji bisa menjadi seperti balok es seperti ini, yaitu karena ia tak pernah memiliki orang terdekat kecuali keluarganya sendiri. Dari luar gadis itu memang tampak kuat, tapi sesungguhnya ia kesepian. Maka dari itu Sehun dan Naeun tetap berusaha mengajaknya berteman walaupun hanya dibalas dengan sikap yang tak terbuka. Mereka harus melakukan yang terbaik.

Naeun masih saja memaksa Suji untuk menceritakan lebih banyak tentang Sonyeo Shidae. Suji hanya membalasnya dengan kalimat-kalimat singkat. Dasar, gadis balok es.

Lalu pandangan Sehun teralihkan pada dapur rumah ini yang terletak tak jauh dari sana. Sehun bisa melihat Nyonya Bae yang tampak sibuk menyiapkan mangkuk besar berisi Bibimbap dan piring-piring kecil. Sehun pun segera bangkit dan menuju ke tempat itu.

“Sini aku bantu, Bibi,” tawar Sehun.

Nyonya Bae menoleh pada Sehun. “Baiklah. Kau ini baik sekali, Sehun-ah. Suji saja jarang sekali seperti ini,” ucapnya seraya memberikan Sehun tumpukan piring-piring kecil.

Sehun menerimanya lalu tersenyum dan mengangguk. Ia pun segera meninggalkan dapur. Namun, tahu-tahu ada yang menarik perhatiannya ketika ia melewati ruang makan. Sebuah kalender yang digantung di dinding. Ia pun berjalan mendekat ke kalender itu. Dilihatnya sebuah tanggal yang dilingkari oleh tinta hitam di kalender, 10 Oktober. Lalu matanya beralih menuju tulisan-tulisan tangan di sisi kanan kalender.

10 Oktober: Ulang tahun Suji yang ke-18.

Sekarang tanggal 3 Oktober. 10 Oktober berarti seminggu lagi.

Lalu, tahu-tahu terlintas sebuah ide di kepala Sehun. Ia pun tersenyum.

Aku harus memberitahu tentang hal ini pada Naeun. batinnya sambil berjalan kembali menuju ruang keluarga.

****

“Kau benar-benar tidak mau ikut bermain Monopoli dengan kami?” tanya Naeun sekali lagi setelah menanyakannya sekitar 5 kali.

Suji—lagi-lagi—menatap Naeun dengan wajah kesal.

Setelah tadi selesai melahap habis semangkuk besar Bibimbap, Sehun pun mengajak mereka untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan. Lalu, tanpa ada persetujuan terlebih dahulu, tahu-tahu saja Naeun segera melesat ke kamar Suji dan berhasil menemukan sekotak permainan Monopoli. Sebenarnya Suji sangat tak suka dengan perlakuan Naeun yang tidak sopan itu. Tapi, mau bagaimana lagi? Yang bisa dilakukannya saat itu hanyalah menampilkan ekpresi wajahnya yang lebih kesal dari sebelumnya.

Lalu, Suji sendiri tak tahu entah di bagian mana Naeun menemukan Monopoli itu. Tapi mungkin saja ia menemukannya di dalam kotak kayu yang menyimpan berbagai mainan saat Suji masih kecil. Suji ingat sekali, dulu ia menyesal telah membeli permainan itu karena ia tak tahu ingin memainkannya dengan siapa.

Naeun menunjuk Sehun dan dirinya sendiri, “Masa kami hanya bermain berdua?”

“Kau kira ini tahun 2002? Aku tidak tertarik lagi dengan hal-hal seperti itu,” ucap Suji ketus. Ia pun naik ke atas sofa dan membiarkan Naeun dan Sehun duduk di bawah. Ia mengambil iPad-nya yang terletak di meja kecil di samping sofa lalu mulai mencari-cari game apa yang patut ia mainkan sendirian disana tanpa memedulikan kedua orang itu.

“Kami tidak mengerti bagaimana permainan anak-anak di kota,” ungkap Naeun sambil melirik iPad Suji ingin tahu. “Kami… hanya bisa bermain yang seperti ini,” lanjutnya Naeun sembari melirik Monopoli di depannya dan tertawa sedih. Sehun yang duduk di hadapannya pun hanya mengangguk menyetujui.

Suji menaikkan alisnya. Apakah kata-katanya itu telah menyakiti hati Naeun? Ah, apa pedulinya? Ia pun menaikkan kedua bahunya dan melanjutkan permainannya di iPad. Ia membiarkan Sehun dan Naeun bermain asyik sendiri dengan permainan yang dianggapnya kolot itu. Lama-kelamaan ia pun terlarut dalam permainannya sendiri di layar iPad.

Yes! Aku dapat kartu kesempatan,” ujar Sehun.

“Cepat lihat kartu apa yang kau dapat!” seru Naeun dengan penuh semangat.

“Hmm… ‘hari ulang tahun anda, terima 2000 won dari setiap pemain’. Wah! Kalau begitu mana 2000 won-mu? Cepat berikan padaku!” perintah Sehun.

Naeun berdecak kesal, “Kenapa uangku terus-menerus melayang entah kemana? Aish! Ambil saja semua uangku kalau begitu!”

Suji melirik kedua orang itu. Sehun tampak tertawa bahagia setelah melihat wajah kesal Naeun yang kehilangan sejumlah uangnya. Padahal entah apa yang harus dibanggakan dari menerima 2000 won di Monopoli, bahkan di dunia nyata sekalipun, begitu menurut Suji.

Terlalu berlebihan.

Tiba-tiba pandangan Sehun bertemu dengannya. Suji segera terperanjat dan mengalihkan pandangannya asal.

“Oh ya, Suji-ya,”

Panggilan Naeun segera membuat Suji menoleh padanya, jelas saja tanpa niat.

Naeun menunjukkan kartu kesempatan yang baru didapati Sehun tadi. “Kau tahu bagaimana cara orang kota merayakan ulang tahun?”

Suji mendengus. Benar-benar pertanyaan bodoh. “Mana aku tahu. Dan mana aku peduli,” jawabnya acuh tak acuh sebelum kembali terfokus pada layar iPad-nya lagi.

“Memangnya… kau tak pernah merayakan ulang tahun?”

Suji segera menoleh lagi pada Sehun ketika ia menanyakan hal itu.

Seumur hidupnya Suji hanya pernah merayakan hari ulang tahun bersama keluarganya saja seperti makan bersama di restoran ataupun di rumahnya sendiri. Dan biasa hanya ada Ayah, Ibu, Kakek, Nenek, Paman, Bibi, serta sepupu-sepupu yang tak terlalu dikenalnya. Ia tak pernah sekalipun mendengar ucapan selamat ulang tahun dari teman-temannya di sekolah. Jelas saja, ia tak pernah mengumbar-umbarkan di tanggal apa ia lahir pada teman-temannya. Lagi pula, mereka juga tak pernah menanyakannya. Dan satu lagi, Suji tak pernah peduli dengan hal itu.

“Bukan urusanmu.” Jawab Suji akhirnya setelah menggantung pertanyaan itu cukup lama. Ia pun menatap Sehun dan Naeun secara bergantian dengan tatapan sinis, “Dan kalau kalian benar-benar ingin tahu bagaimana orang kota merayakan hari lahirnya, kalian bisa melihatnya sendiri di internet. Kenapa? Karena sekarang ini aku bukanlah orang kota lagi. Mengerti?”

Suji kembali menatap layar iPad-nya dan segera menekan-nekan layar itu dengan kasar. Ia benar-benar kesal. Kehadiran dua orang ini selalu saja mengganggu saat-saat tenangnya. Harusnya ia bisa beristirahat di dalam kamar sambil menikmati biskuit cokelat sendirian, bukannya menemani dua orang yang sok akrab ini bermain seperti orang bodoh. Suji tak habis pikir. Apakah Sehun dan Naeun akan terus-menerus mengganggu hidupnya hingga ia tua nanti? Oh, jangan sampai. Lebih baik ia dan keluarganya dipindahkan di pulau tak berpenghuni sehingga ia bisa dengan bebas menikmati kesendiriannya.

Rasanya ia ingin sekali menendang kedua orang itu jauh-jauh agar tidak mengusik hidupnya lagi. Apa harusnya mereka berdua saja yang dipindahkan ke pulau terpencil? Sepertinya itu adalah ide yang bagus.

Ah, entahlah.

****

Suji berjalan di lorong sekolahnya. Ia baru saja kembali dari toilet setelah selesai melepaskan hasrat ingin buang air kecilnya yang sudah ditahannya selama pelajaran Bahasa Korea berlangsung. Lega sekali rasanya.

“Selamat ulang tahun!”

Suji segera berhenti berjalan dan  menoleh ke sampingnya dengan tampang kaget.

“Selamat ulang tahun, Yejin-ah!”

Suji menghela napasnya. Ternyata kenyataannya tidak seperti yang ia pikirkan.

Karena yang dilihatnya adalah seorang murid perempuan yang entah kelas berapa itu sedang memberikan ucapan ulang tahun kepada temannya yang bernama Yejin.

Yejin tertawa malu dan memukul pelan lengan temannya, “Terima kasih, Minjeong-ah. Kukira kau sudah lupa hari ulang tahunku…”

Setelah itu Suji tak mempedulikan lagi percakapan antara Yejin dan Minjeong. Ia pun kembali melangkahkan kakinya menuju ke kelas.

Hari ini adalah 10 Oktober, hari dimana Suji genap berumur 18 tahun. Maka dari itu Suji sedikit tak percaya ketika mendengar ada seseorang yang menyerukan selamat ulang tahun di tempat tadi. Ia malah merasa terlalu percaya diri padahal ucapan itu bukanlah untuknya, melainkan untuk seorang gadis yang bahkan tak dikenalnya.

Ia sama sekali tak berharap ada seseorang di sekolah ini yang memberikannya ucapan itu. Lagi pula, sepertinya teman-temannya tak ada yang mengetahui tanggal kelahirannya, termasuk Sehun dan Naeun. Dan mungkin ucapan dan kue ulang tahun dari kedua orang tuanya tadi pagi saat di rumah saja sudah cukup untuk membahagiakannya.

Suji sampai di depan kelas dan membuka pintunya. Ia segera berjalan menuju bangkunya dan duduk manis disana.

Bebicara soal Sehun dan Naeun, kebetulan kedua orang itu tidak hadir hari ini. Bangku yang terletak di depan dan di serong kanan depan Suji tampak tak berpenghuni. Suji tak tahu apa alasan mereka meliburkan diri, dan ia tak peduli. Malah ia menganggap itu sebagai keberuntungan. Artinya tak ada yang bisa mengganggunya. Hidupnya akan tenang, setidaknya walaupun hanya satu hari.

Lima menit pun berlalu. Tiba-tiba Suji merasa kebosanan, ia tak tahu kenapa.

Biasanya, di saat-saat istirahat seperti ini Sehun dan Naeun akan mengajaknya ke kantin atau taman sekolah. Kalau Suji menolak mereka pun hanya menetap di dalam kelas sambil mengajaknya mengobrol. Hal yang dibicarakan mereka memang tidak penting. Candaan-candaan mereka juga benar-benar tidak lucu sama sekali. Permainan yang ditawarkan mereka seperti hangman pun sangat membosankan. Tak ada yang menarik sehingga Suji hanya merespon mereka malas. Ia lebih sering berperan sebagai pendengar, pemerhati ataupun sebagai tukang tidur kalau ia sudah benar-benar muak.

Tetapi… entah mengapa sekarang ia merasa begitu hampa. Sebagian hatinya tiba-tiba menginginkan kehadiran kedua orang itu, mengisi kesunyian di sekitar Suji ini. Mereka biasanya tak pernah lepas dari Suji saat di sekolah walaupun Suji selalu mengabaikannya. Mungkin pernah sesekali di antara Sehun atau Naeun tak hadir ke sekolah, tapi mereka tak pernah absen di saat yang bersamaan seperti sekarang ini.

Tahu-tahu timbul kekhawatiran di hati Suji. Apakah terjadi sesuatu pada mereka? Mereka memang selalu pergi dan pulang sekolah bersama. Apakah terjadi kecelakaan saat mereka menuju sekolah tadi? Atau, apakah mereka memiliki masalah keluarga? Suji jadi berpikiran yang macam-macam. Dan Suji hanya berharap semoga saja ada tak terjadi sesuatu yang serius pada mereka.

Suji mengerutkan dahinya. Kenapa tiba-tiba ia bersikap seperti ini? Mengapa ia jadi merasa kehadiran mereka itu penting? Mengapa ia begitu ingin tahu keadaan mereka sekarang? Suji pun menggelengkan kepalanya. Tidak. Ia tak perlu merasakan semua hal ini. Mereka memang ingin dekat dengannya, tapi tidak begitu dengannya.

Tapi, apakah yang ditekankannya dalam hati itu benar-benar sesuai dengan apa yang dirasakannya? Apakah tanpa disadari keberadaan mereka yang selalu ada untuknya itu benar-benar berarti baginya?

****

Biasanya kapasitas rasa malas Suji untuk berjalan akan lebih banyak disaat pulang sekolah daripada saat pergi. Seperti sekarang ini misalnya. Ia sudah beraktivitas seharian di sekolah. Lalu otak dan raganya yang lelah pun semakin dibebankan lagi oleh perjalanan 1 kilometer ini. Tidak bisakah Ayah menjemputnya hari ini saja, di hari ulang tahunnya?

Tapi Ayah benar-benar tak bisa diganggu di kantornya pada saat-saat seperti ini.

Mau tak mau Suji memang harus berjalan agar bisa sampai di runahnya yang hanya tinggal setengah kilometer lagi. Tapi, saat Suji akan berbelok di tikungan, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menariknya.

“Astaga!” seru Suji. Ia bisa merasakan jantungnya yang hampir saja copot karena orang itu terlalu kuat menariknya. Sebenarnya siapa orang ini, seenaknya saja memperlakukannya seperti ini? Jangan-jangan… ia adalah seorang penculik? Napasnya pun semakin memburu ketika memikirkan hal itu. Wajah Ayah dan Ibu langsung terlintas di benaknya. Tidak. Ia tak mau diculik. Jadi ia pun memberanikan diri untuk menoleh pada orang itu.

“Sehun?”

Sehun tersenyum miris dan segera melepas pegangan tangannya pada Suji, “Maaf kalau sudah mengagetkanmu,”

Suji menatap Sehun tak percaya saking tak tahu harus mengatakan apa. Ia melirik lelaki itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Lelaki itu mengenakan kaus lengan pendek berwarna biru dan celana panjang hitam. Pantas, ia kan memang tak sekolah hari ini. Ingin sekali Suji menanyakan kenapa ia dan Naeun tak hadir. Suatu hal yang terus-menerus menjadi bahan pemikirannya selama di sekokah tadi. Tetapi ia segera mengurung niat itu dalam-dalam. Seperti yang telah ditekannya pada diri sendiri, ia tak boleh terlalu peduli dengan mereka.

“Sebenarnya apa maksudmu?” tanya Suji akhirnya dengan nada ketus, seperti biasa.

Sehun menggaruk kepalanya yang tak gatal, “Umm… aku…” ia mengeluarkan selembar sapu tangan hitam dari kantung celananya, “Ingin mengajakmu ke suatu tempat,”

Suji memiringkan kepalanya, “Apa?” ia mengalihkan pandangannya pada sapu tangan hitam di tangan Sehun dan menatapnya bingung.

Tanpa menjawab terlebih dahulu kebingungan Suji, Sehun segera menutup mata hadis itu menggunakan sapu tangan hitamnya. Suji yang tak menyangka akan diperlakukan seperti itu segera meronta. Tapi Sehun tetap memaksanya sehingga Suji tak bisa melakukan apa-apa lagi.

“Sudah, ikuti saja apa perintahku.” Jelas Sehun akhirnya dengan nada misterius.

****

“Belok ke kiri,”

“Sebenarnya kau ingin membawaku kemana?”

“Sudah, diam saja. Sebentar lagi juga sampai,”

Suji berdecak. Sudah kira-kira 15 menit Sehun menuntunnya berjalan ke tempat yang masih samar-samar itu. Benar-benar merepotkan. Bahkan tadi Suji sempat tersandung trotoar dan hampir menabrak tiang listrik. Sebenarnya ia bisa saja membuka sapu tangan bodoh ini dan segera pergi. Tapi di sisi lain ia juga penasaran dengan tempat apa yang akan ditunjukkan oleh Sehun.

Memang, Sehun dan Naeun pernah beberapa kali mengajaknya untuk mengunjungi tempat misterius yang katanya akan membuat Suji terkagum-kagum. Tapi perkiraan mereka ternyata salah karena tempat-tempat itu tampak tak ada apa-apanya dimata Suji. Tempat-tempat itu di antaranya ialah kebun kubis, kandang sapi, hutan pinus, pantai yang dipenuhi nelayan, atau mungkin yang paling lumayan dari seluruhnya adalah taman bermain. Namun itu pun masih tampak biasa menurut Suji, karena ia pernah melihat Lotte World yang tentunya lebih megah dari tempat itu.

Kali ini Suji pun tak berharap akan diajak ke tempat yang membosankan lagi. Dan entah mengapa ia merasa tempat ini akan berbeda dari biasanya.

“Sudah sampai,” kata Sehun setelah mereka berjalan sekitar 2 menit. “Kau boleh membukanya setelah aku memberi aba-aba,” tambah Sehun sambil melepaskan tangannya yang menuntun Suji.

“Hei, mau kemana kau?” tanya Suji panik. Tidak mungkin ia ditinggal sendirian disini, kan?

“Satu… dua…” ucap Sehun yang sepertinya masih berdiri tak jauh dari situ. “…tiga! Kau bisa membukanya sekarang!”

Suji segera melepaskan ikatan sapu tangan itu dengan tak sabar. Ia membuka matanya dengan perlahan. Hal pertama yang dilihatnya adalah Sehun dan Naeun yang sedang memegang sebuah… kue tart? Mereka juga mengenakan topi kerucut berwarna biru tua. Latar belakang menampakkan padang rumput hijau yang sangat luas. Angin yang bertiup sepoi-sepoi pun menerpa rambutnya dan kedua orang itu.

Saengil chukhahamnidahappy birthday to yousaranghaneun Bae Suji… selamat ulang tahun… horeee!” seru Sehun dan Naeun sebelum mereka meniupkan terompet.

Suji terpaku. Apakah yang dilihatnya ini nyata?

Tahu-tahu Sehun datang menghampiri Suji untuk memakaikannya topi kerucut biru tua seperti yang dikenakannya dengan Naeun. Setelah itu Sehun menarik Suji untuk berdiri di dekat Naeun.

“Ayo, sekarang tiup lilinnya!” ujar Naeun riang sambil menatap kue tart di tangannya yang tertera lilin berbentuk angka 18 di atasnya.

Suji menatap lilin itu masih dengan tampang terpakunya. Ia bahkan masih belum menyadarkan diri dari pemandangan yang sebelumnya. Lalu, apalagi ini?

“Suji?” tegur Naeun.

Suji tersadar dan menatap Naeun bingung. Oh, ya. Gadis itu juga tidak sedang mengenakan seragam sekolah, melainkan hoodie cokelat tua dan rok biku-biku hitam sebetis. Tak heran, ia juga tak datang ke sekolah tadi.

Lalu, apa yang harus dilakukannya sekarang? Meniup lilin ini saja? Baiklah. Ia pun segera meniup lilin itu tanpa memikirkan alasan mengapa ia melakukannya.

Naeun mengerutkan dahinya, “Kau… tidak mengucapkan harapan di dalam hati? Atau biasa disebut… apa itu namanya, Sehun-ah?”

Sehun tampak berpikir, “Umm, make a wish?” jawabnya ragu dengan logat inggris yang benar-benar kacau.

“Nah, itu dia. Make a wish! Ah, tapi tak apalah,” kata Naeun sambil mengibaskan tangannya di udara.

Suji yang masih belum menyadari semua ini pun berusaha sekeras mungkin untuk memutar otaknya. Ia menatap ke sekeliling. Ia tak bisa mengatakan kalau tempat ini membosankan. Sungguh, padang rumput yang luas ini benar-benar indah! Suji tak tahu kalau desa ini memiliki tempat keren yang tersembunyi. Apa selama ini ia saja yang tak tahu? Atau jangan-jangan wilayah ini bukan termasuk desanya lagi? Ah, entahlah. Yang penting tempat ini benar-benar nyata dan luar biasa hebatnya. Matanya yang terlalu banyak menatap layar iPad maupun komputer itupun langsung disegarkan oleh rerumputan hijau yang bertebaran dimana-mana.

Lalu, pikirannya kembali pada semua hal yang baru saja terjadi sejak beberapa menit yang lalu saat matanya kembali tertuju pada sebuah kue tart di tangan Naeun.

Menutup mata dengan sapu tangan, mengajaknya ke tempat yang keren, menyanyikan ‘saengil chukhahamnida’, memakai topi kerucut, membawa kue tart, meniupkan terompet, meniupkan lilin, hingga make a wish.

Astaga, bukankah mereka sedang memberikannya kejutan ulang tahun? Bukankah Suji sedang berulang tahun hari ini? Tak ada lagi yang perlu dibingungkan. Tapi…

“Kalian tahu dari mana kalau hari ini ulang tahunku?”

Sehun dan Naeun saling bertatapan setelah Suji menanyakan hal itu pada mereka.

Naeun tertawa malu, “Sebenarnya… seminggu yang lalu—saat kami bermain kerumahmu— Sehun melihat kalender di dekat dapur, dan disana tertera tanggal ulang tahunmu,”

“Dari situlah aku mengetahuinya,” lanjut Sehun.

Suji mengangguk. Ternyata mereka melihat apa yang dituliskan Ayah sebulan sebelumnya. Lalu dilihatnya asap lilin di atas kue tart yang berterbangan dengan cepat karena tiupan angin.

“Oh, iya. Ayo potong kuenya!” seru Naeun. Ia dan Sehun pun berbalik badan. Saat itu juga Suji melihat sebuah karpet bermotif kotak-kotak merah dan putih terlentang di atas rumput tak jauh dari sana. Di tengah karpet itu terdapat berbagai makanan serta minuman yang berlogo McDonald di setiap piring kertas, piring styrofoam serta gelas plastik yang tersedia.

“Duduk disini, Suji-ya,” ajak Sehun yang ternyata sudah duduk di atas karpet yang kosong tanpa makanan bersama Naeun. Naeun sendiri sedang menyiapkan pisau, piring kertas dan sendok plastik kecil.

Suji menuruti perintah Sehun. Ia duduk dengan ragu di hadapan Sehun dan Naeun yang sedang duduk berdampingan itu. Jarak mereka memang dibatasi oleh kue tart, makanan, serta minuman-minuman tersebut.

“Kau bisa potong kuenya sekarang,” ucap Naeun sembari memberikan sebuah pisau plastik pada Suji.

Suji menerima pisau itu dan mulai memotong kuenya dalam diam. Memang apalagi yang harus dikatakannya?

“Kue pertama akan kau berikan pada siapa?” tanya Naeun penasaran.

Suji menatap sepotong kue yang sudah diletakkannya di atas piring kertas serta Naeun dan Sehun secara bergantian. Ayah dan Ibunya juga pernah melakukan hal seperti ini padanya, seperti tadi pagi misalnya. Dan ia selalu bingung kalau disuruh memilih antara kedua orang tuanya. Ia dekat dengan keduanya. Kebingungan itulah yang mengundangnya untuk memakan potongan kue pertama itu untuk dirinya sendiri. Dan kue kedua ia berikan pada Ayah sekaligus Ibunya. Orang tuanya hanya tertawa melihat tingkah Suji dari tahun ke tahun itu.

Tapi kali ini beda. Yang di hadapannya adalah Sehun dan Naeun. Ia tak bisa melakukan pilihan bodoh itu. Mereka juga baru pertama kali melakukan hal ini padanya. Lagi pula tak ada salah satu dari mereka yang lebih dekat dengannya. Ya, walaupun Suji tak pernah menganggap mereka dan dirinya dekat.

Akhirnya Suji pun memilih…

“Wah, terima kasih, Suji-ya. Aku tahu kau akan memilihku,” ujar Naeun bangga. Ia menjulurkan lidahnya pada Sehun.

Suji menatap Naeun datar. Ia tak tahu mengapa ia memilih Naeun. Mungkin karena ia yang menanyakan hal itu terlebih dahulu? Entahlah. Kemudian Suji pun memotong kue kedua dan memberikannya pada Sehun.

Sehun menatap Naeun tak senang, “Yang penting aku tetap diberikan kue kedua!” ucapnya girang setelah menerima potongan kue dari Suji.

Suji menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah mereka. Tanpa memedulikan perdebatan kedua orang itu lagi, Suji pun memotong kue untuk dirinya sendiri.

Tak berapa lama kemudian adu mulut antara Sehun dan Naeun pun selesai. Mereka semua melahap potongan kue tart masing-masing sampai habis.

“Wah, sepertinya enak…” gumam Sehun sambil menatapi jejeran makanan di hadapannya sambil mengelus perutnya yang datar.

Naeun segera memukul kepala Sehun, “Biar Suji dahulu yang memakannya. Ia yang berulang tahun, bodoh,” katanya sebelum tersenyum ke arah Suji, “Nah, Suji, silahkan menikmati makanan dan minumannya,” tawar Naeun.

Suji mengangguk samar. Ia melirik seluruh makanan dan minuman itu. Ada Double Cheese Burger, French Fries, Sphagetti, sepaket ayam goreng, Filet-O-Fish, 3 gelas Pepsi dan 2 es krim McFlurry Oreo yang telah mencair. Begitu banyak hingga Suji bingung ingin memakan yang mana terlebih dahulu. Dan akhirnya ia memilih Filet-O-Fish karena kebetulan sedang mengincarnya sejak seminggu yang lalu. Setelah itu Sehun dan Naeun juga mengambil makanan pilihan mereka masing-masing.

Mereka pun menikmati berbagai santapan cepat saji itu dengan damai. Suji sendiri bingung mengapa Sehun dan Naeun hanya diam, mungkin mereka sedang kelaparan.

“Sehun,” panggil Naeun.

“Apa?”

Suji melirik Naeun yang sedang membisikkan suatu kata pada Sehun dan Suji bisa mendengar apa yang sedang dikatakannya itu, “Sekarang?”

Sehun mengangguk.

Suji mengernyitkan dahinya. Apa lagi ini? Seperti biasa, ia tak peduli, jadi ia melanjutkan melahap Filet-O-Fish yang masih belum habis itu. Padahal Sehun dan Naeun sudah menghabiskan makanan mereka sejak semenit yang lalu.

“Suji-ya,”

Mata Suji terbelak ketika ia menatap Naeun. Bukan karena gadis berambut panjang itu memanggilnya, tetapi karena sesuatu yang berada di tangan Naeun.

“A-apa ini?” tanya Suji terbata.

Naeun dan Sehun bertatapan penuh arti, “Seperti yang kau lihat. Ini adalah hadiah. Hadiah ulang tahunmu dari kami.”

Suji menerima sebuah kotak berwarna merah berukuran 10 x 10 cm dengan pita berwarna biru itu. Dengan hati-hati ia membuka isinya. Matanya terbelak ketika melihat apa yang ada di dalam sana.

“Jam tangan?”

Naeun dan Sehun mengangguk.

Suji mengambil jam tangan kulit tua berwarna cokelat itu dan memperhatikannya dengan selidik. Jam ini unik dan antik. Walaupun tidak sekeren jam-jam modern jaman sekarang seperti Levi’s, Swatch, atau apapun itu, tapi jam ini benar-benar menarik dimatanya. Ia tak pernah melihat jenis jam seperti ini sebelumnya. Tanpa berpikir panjang ia pun segera memakai jam tangan itu.

Naeun menepuk tangannya, “Wah, benar-benar pantas untukmu!”

“Bagaimana? Kau suka?” tanya Sehun penasaran karena Suji masih tak bersuara.

Suji memandang kedua orang itu tak percaya. Dari semua kejadian ini timbul  begitu banyak hal di benak Suji yang ingin ditanyakannya pada Sehun dan Naeun. Ia menatap sisa potongan kue tart, terompet, topi kerucut, bungkusan makanan cepat saji, dan… jam tangan ini.

Setahunya tak ada toko kue yang menjual kue tart ulang tahun di desa ini. Kue ulang tahun dari orang tuanya tadi pagi saja dibeli oleh Ayah kemarin di kota. Di desa kecil ini juga tak ada satupun toko yang menjual makanan cepat saji seperti McDonald. Bukan hanya itu saja, seingatnya ia juga tak pernah menemukan toko yang menjual aksesori sejenis jam tangan di desa ini. Kalau begitu… dari mana mereka mendapatkan ini semua?

Tiba-tiba saja ada sesuatu yang menghampiri hatinya sehingga membuat perasaannya begitu luluh. Ada apa dengan hatinya ini? Ia sangat bahagia, di samping itu ia juga ingin menangis. Apakah rasa ini yang dinamakan… terharu?

“Ba-bagaimana kalian bisa mendapatkan ini semua?” tanya Suji akhirnya. Ia tak bisa menahan rasa penasaran ini.

Lagi-lagi Sehun dan Naeun bertatapan, kali ini sambil tertawa canggung.

“Ceritakan saja, ya?” tanya Naeun pada Sehun. Sehun pun mengizinkannya.

“Jadi…” Naeun berdeham, “Kami sudah merencanakan semua ini dari seminggu yang lalu, tepatnya ketika kami baru pulang dari rumahmu. Sehun mengatakan padaku kalau kau akan berulang tahun dan kami harus menyiapkan kejutan untukmu,”

Sehun mengangguk, “Awalnya kami bingung ingin melakukan apa. Tapi seperti saranmu, kami pun mencari informasi bagaimana orang-orang kota merayakan ulang tahun lewat internet di kantor Ayahku. Dari beberapa informasi yang kami dapat kami pun sadar kalau kami tak bisa mendapatkan apa yang kami inginkan untuk kejutanmu di desa ini. Maka dari itu kami berencana pergi ka kota. Dan kami tak memiliki waktu yang tepat untuk kesana terkecuali hari ini. Tadi pagi tepatnya,”

“Pagi sekali kami pergi meninggalkan rumah agar tak ketahuan oleh orang tua kami,” lanjut Naeun, “Kami pun menuliskan pesan singkat kalau kami pergi ke sekolah lebih awal agar mereka tak kecarian. Ya, seperti yang kau pikirkan. Kami… membolos sekolah,” jelasnya sambil tertawa malu.

“Sejak sekolah, baru kali ini kami berdua membolos. Asal kau tahu saja,” kata Sehun diiringi tawa gelinya, “Kami pun akhirnya sampai di kota dengan mengendarai bus dari balai desa. Padahal kami sudah menuliskan apa-apa saja yang akan kami beli di catatan kecil milik Naeun. Tapi kami tak tahu benar dimana harus membelinya karena kami jarang sekali ke kota. Dan, setelah berkeliling ke beberapa tempat kami pun berhasil mendapatkan atribut-atribut ulang tahun ini. Kami juga berhasil menemukan toko kue yang disarankan oleh pajalan kaki untuk membeli kue tart ini,”

“Tapi…” potong Naeun, “Kami tak kunjung mendapatkan kado apa yang akan kami berikan padamu. Padahal kami sudah lelah sekali. Hari sudah siang dan perut kami meronta minta diisi dengan segera. Lalu akhirnya kami pun menemukan sebuah toko antik dan bertemu dengan jam tangan unik ini!” sahut Naeun senang sambil menatap jam tangan di tangan Suji dengan mata berbinar.

Sehun berdecak kagum, “Setelah itu kami yang kelaparan segera disungguhkan dengan pemandangan restoran cepat saji yang terletak di seberang toko antik itu. Benar-benar beruntung, ya? Awalnya kami ragu karena kami tak terlalu suka jenis makanan seperti ini. Tapi, apa boleh buat? Kami pun segera mengisi perut kami dengan menu yang kami pilih dengan asal. Oke, kalau boleh jujur kami juga tak begitu mengerti dengan makanan-makanan ini. Bagi kami yang penting perut ini tak berisik lagi. Benar, kan, Naeun-ah?”

Naeun mengacuhkan jempolnya tanda setuju, “Selepas makan siang kami pun memesan beberapa makanan lagi untuk di kejutanmu ini. Kami kira McFlurry itu sejenis kari kalau dilihat dari gambar dan warnanya. Tapi… ternyata itu adalah es krim,” Naeun tertawa sambil melirik McFlurry Oreo yang sama sekali tak tersentuh itu, “Makanya itu es krimnya mencair. Habisnya perjalanan dari kota ke desa ini cukup lama.” Ucapnya lagi.

Setelah itu muncul keheningan yang terjadi sekitar setengah menit.

Sehun menghela napasnya ketika melihat raut wajah Suji yang masih saja terpaku. Lelaki itu pun menoleh pada Naeun yang juga sedang menatapnya dengan tatapan khawatir.

“Kau… tak suka dengan kejutan kami, ya?” tanya Naeun hati-hati.

Suji segera tersadar. Sedari tadi ia memang tak mengeluarkan suara dan hanya terpaku menatap kedua orang itu. Suji tak tahu apa yang membuatnya bahkan sampai tak bisa mengucapkan sepatah kalimat pun. Lidahnya kelu. Tenggorokannya tercekat. Cerita yang dijelaskan oleh Sehun dan Naeun barusan benar-benar membuatnya semakin tak percaya akan kenyataan ini. Kenyataan bahwa kedua orang itu rela melakukan berbagai hal yang menurut Suji sangat merepotkan itu demi dirinya. Sekali lagi, demi dirinya.

“Yang mana yang kau tak suka, kue tartnya?” kini giliran Sehun yang bertanya. “Atau makanan cepat sajinya? Ah, maaf, Suji-ya. Awalnya kami juga berniat membelikan daging untukmu, tetapi uang tabungan kami tak cukup lagi. Makanya kami membeli fast food. Dan soal kue tart itu, kami… tak tahu kue apa yang enak. Kami, kan, jarang sekali makan kue tart…”

Suji menahan napasnya. Apa? Mereka menggunakan uang tabungan mereka untuk ini semua? Apakah mereka benar-benar rela? Astaga, dorongan Suji untuk mengeluarkan air mata pun semakin menjadi-jadi. Apa-apaan ini? Suji tak ingin menangis disini karena alasan yang tak jelas.

“Jangan-jangan… kau tak suka dengan jam tangannya, ya?” Naeun menatap Suji penuh dengan rasa bersalah, “Maaf sekali, Suji-ya. Sebenarnya kami ingin membelikanmu sesuatu yang disukai orang-orang kota. Tapi… kami sendiri tak mengerti. Yang kami tahu hanya alat elektronik. Dan… kami tak sanggup membelikannya untukmu.”

Dengan itu air mata Suji yang menggenang di pelupuk matanya pun segera tumpah membasahi pipinya. Ia langsung menghapusnya. Tetapi air mata itu bagai air terjun karena ia terus-menerus tumpah tanpa henti.

“Astaga, Suji! Ada apa denganmu?” tanya Naeun khawatir.

Sehun menatapnya sedih, “Kau benar-benar membenci kejutan kami hingga… menangis?”

Tidak. Ia tidak membenci kejutan ini. Bisa ia katakan kalau kejutan ini adalah kejutan terindah yang pernah diterimanya. Bagaimana tidak? Ia tak pernah menerima yang semacam ini dari teman-temannya. Oh, bukankah ia tak pernah mempunyai teman dekat?

“Kalian… benar-benar rela melakukan itu semua?” tanya Suji dengan suara tercekat. Air matanya masih saja mengalir.

Sehun dan Naeun menatapnya bingung. Tapi detik berikutnya mereka menghela napas dan mengangguk.

“Kami itu sahabatmu,” tekan Sehun. “Mana mungkin kami tak rela melakukannya?”

Sahabat?

Suji tersenyum pahit, “Aku? Sahabat kalian? Cih! Aku tak pernah punya sahabat!” ketusnya.

Mendengar itu Naeun segera menggeleng, “Tidak, Suji-ya. Kami ini sahabatmu. Kita sudah sedekat ini dan kau masih belum menganggap kami sahabatmu? Yang benar saja! Jangan mengada-ada, Bae Suji!”

“Kalian mau bersahabat dengan orang sepertiku?!” tanya Suji dengan intonasi tinggi. “Aku yang selalu bersikap angkuh pada kalian? Aku yang selalu berbicara kasar pada kalian? Aku yang tak pernah peduli dengan kalian? Aku yang jelas-jelas menunjukkan pada kalian bahwa aku tak suka dengan kalian? Yang seperti ini kalian katakan sahabat—”

“Bae Suji!” potong Sehun yang wajahnya sudah memerah, “Yang kau katakan itu memang benar. Kami akui itu. Tapi…” ucap Sehun dengan suara yang lebih lunak, “Walaupun seperti itu kami akan tetap melakukan apapun yang wajar asal kau bisa jadi sahabat kami. Kami ingin berteman denganmu. Di luar kau memang seperti itu. Tapi kami tahu diam-diam kau menginginkan teman juga. Benar, kan?”

Suji menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku tak pernah berpikiran seperti itu!”

Naeun segera menghampiri Suji dan menggenggam tangan kirinya, “Suji-ya, Ibumu sudah bercerita kalau kau tak pernah memiliki teman dan ia sangat terkejut ketika kami mengunjungi rumahmu, katanya kau tak pernah membawa teman ke rumah. Dari situ kami tahu kalau Ibumu sangat berharap hubunganmu dengan kami akan baik-baik saja. Ibumu begitu lega ketika mengetahui anaknya akhirnya ingin berteman dengan orang lain. Kau… ingin mengecewakan Ibumu dengan mengatakan kalau sebenarnya kau tak ingin berteman dengan kami?”

Suji terdiam.

Sehun pun mengikuti apa yang dilakukan Naeun. Ia menghampiri Suji dan menggenggam tangan kanannya, “Kau juga ingin mengecewakan kami, yang sudah berusaha keras selama ini mendekatimu agar kau ingin berteman dengan kami? Kau tak berpikir bagaimana kami akan membencimu nantinya jika kau benar-benar ingin kami pergi menjauh darimu? Apa kau pikir kau bisa hidup bahagia tanpa memiliki seorang teman?” tanyanya ketus.

Lagi-lagi Suji tak tahu ingin mengatakan apa.

Ya, Bae Suji, dengar aku,” kata Naeun seraya mengusap air mata Suji di pipinya, “Kau membenci kami? Kau membenci orang yang telah membuatmu menangis karena terharu akan kejutan yang mereka berikan padamu? Kau kira aku tak tahu kalau yang tadi itu kau terharu?”

Yang diucapkan Naeun itu benar. Sial. Suji tak bisa memungkirinya lagi.

Benar. Ia memang selalu menyangkal dalam hati kalau ia tak ingin berteman dengan mereka. Tapi kalau hatinya digali lagi sampai yang paling terdalam, mungkin disitu ia bisa menemukan kalau ia benar-benar beruntung bertemu dengan Sehun dan Naeun. Buktinya, tadi ia merasa kehilangan ketika mengetahui kalau Sehun dan Naeun tak masuk sekolah. Memang, ia selalu merasa tak suka jika mereka terus-terusan berada disisinya. Tapi di sisi lain ia juga sudah terbiasa dengan keadaan itu. Ia memang jarang berbicara, tetapi mereka berdua selalu melakukan hal itu sehingga seluruhnya pun menjadi lengkap. Suji tak bisa lagi membohongi dirinya sendiri.

Dan sepertinya ia harus mengatakan isi hatinya yang sebenarnya sekarang juga.

Memang harus begitu.

“Aku…” Suji menghela napasnya, “Aku minta maaf…”

Genggaman Sehun dan Naeun sedikit mengendur. Mereka tampak tak percaya dengan apa yang dikatakan Suji barusan. Dan, masih saja ada air mata yang mengalir di mata gadis itu.

“Aku minta maaf sebesar-besarnya pada kalian yang telah kuabaikan selama ini. Aku… aku hanya bingung mengapa tiba-tiba kalian mendekatiku, menginginkanku untuk menjadi temanku. Karena sebelumnya tak ada yang seperti kalian. Teman-temanku di sekolah lain hanya menganggapku pendiam maka dari itu mereka tak ingin mendekatiku…” lanjut Suji, ia menatap Naeun dan Sehun penuh arti, “Jujur, aku sendiri memang menganggap kalau aku tak suka pada kalian. Tapi, dari lubuk hatiku yang terdalam sebenarnya aku bahagia sekali karena… aku telah menemukan kalian.”

Setelah mengatakan kalimat-kalimat itu air mata Suji pun jatuh semakin deras. Bahkan ia sampai tak sanggup untuk menghapusnya. Lalu setelahnya yang ia rasakan adalah sentuhan hangat dari elusan tangan Naeun di punggungnya.

Kemudian Suji memandang jam tangan antik yang dikenakannya, kue tart serta segala sesuatu yang telah dipersiapkan Sehun dan Naeun padanya hari ini. Ia baru sadar kalau ia belum mengucapkan kalimat itu. Kalimat yang pasti diharapkan kedua orang itu agar diucapkannya.

“Dan…” Suji pun berniat untuk mengatakan hal itu, “Terima kasih… atas semua ini. Semua yang telah kalian berikan padaku di hari ulang tahunku ini serta semua perhatian yang telah kalian berikan padaku agar kalian bisa lebih dekat padaku,” lirihnya disela-sela senggugukannya. “Tapi… kurasa terima kasih saja tak cukup,”

Sehun menggeleng, “Tidak. Ucapan terima kasih itu benar-benar sudah cukup, Suji-ya,”

Suji tersenyum lemah. Sehun dan Naeun benar-benar baik. Bagaimana ia bisa mengabaikan kebaikan mereka dari dulu? Untuk pertama kalinya Suji pun mengakui kalau dirinya benar-benar jahat selama ini.

“Sekali lagi maafkan aku…” Suji menggantung kalimatnya. Haruskah ia mengatakan ini? Sepertinya… “Maafkan aku… sahabatku.”

Hening.

Sehun dan Naeun tak merespon apa yang telah susah payah dikatakan Suji tadi. Dan Suji benar-benar kecewa. Apakah mereka tak memaafkannya karena baru sekarang mereka dianggap sahabat olehnya? Suji pun menghela napasnya pasrah. Ia langsung menghapus air matanya.

Penyesalan memang selalu datang di akhir.

Tapi ternyata dugaannya salah. Karena sekarang ia malah merasakah kahangatan di tubuhnya, di tengah-tengah angin yang bertiup kencang, di padang rumput ini. Ia bahkan tak mempercayai kenyataan bahwa Sehun dan Naeun… tengah memeluknya.

Suji bisa merasakan Sehun yang sedang mengacak rambutnya, “Jelas, kami memaafkanmu, Suji-ya. Karena… karena kami adalah sahabatmu,”

“Benar,” sambung Naeun lalu ia memeluk Suji lebih erat, “Kami adalah sahabatmu. Kita bersahabat.”

Lagi-lagi air mata haru itu jatuh di pipi Suji. Ia tak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya dikarenakan kedua orang ini. Di hari bahagianya ini, di hari ulang tahunnya.

Lewat pelukan erat Sehun dan Naeun ia bisa tahu kalau inilah hadiah ulang tahun terindahnya. Bukan hanya sekedar padang rumput hijau yang menawan, kejutan ulang tahun, kue tart, makanan cepat saji, hingga jam tangan antik ini. Semua yang diberikan kedua orang itu memang indah. Tapi itu semua tak seindah suatu hal yang baru saja disadarinya sekarang ini, yaitu dirinya yang akhirnya bisa menerima Sehun dan Naeun untuk masuk ke dalam hidupnya, kenyamanan yang timbul di dalam hatinya akibat perhatian mereka padanya, dan yang paling penting… kehadiran kedua orang itu sebagai sahabatnya, bukan sebagai orang-orang yang selama ini diacuhkannya.

Suji tersenyum bahagia di tengah air mata harunya yang masih saja terjun bebas dari pelupuk matanya.

Suji bahagia.

Sehun bahagia.

Naeun bahagia.

Ya, mereka bagaia. Karena mereka bersahabat. Seterusnya dan selamanya. Semoga saja.

The End

29 thoughts on “[FF Freelance] The Best Gift (Oneshot)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s