[oneshot] A Chance to Say-

Untitled123

Title  :  A Chance to Say-

Author  :  ChoaiAK

Genre  :  General, Life, Friendship  ||  Length  :  Oneshot  ||  Rating :  PG-15  ||

Main Cast  :  Lee Jaehwan (Vixx), Son Hemi (OC)||

Summary:

“aku hanya dua langkah dibelakangmu. Memandangmu. Mengagumimu. Menunggu sampai kamu menoleh kebelakang dan mengulurkan tanganmu padaku. Mengajakku berjalan disampingmu. Ya, disampingmu…”

*****

  Hemi memperhatikan anak lelaki yang berjalan didepannya dengan earphone mp3 yang terpasang di kedua telinganya. Dia cukup pintar dan ‘beruntung’ karena bisa melewati ujian masuk ke sekolah yang sama dengan pemuda di depannya saat ini. Lee Jaehwan. Pemuda dengan tinggi yang hampir 180cm mungkin sudah sampai atau bahkan lebih. Sejak kecil mereka sudah tinggal bertetangga. Hanya berjarak 3 rumah diantara rumah mereka. Namun belakangan pemuda itu tidak lagi berbicara dengannya. Bahkan melarang dengan tegas untuk berada didekatnya dan mengatakan pada anak-anak satu sekolah kalau mereka saling kenal, sangat kenal sampai kedua ibu mereka sering menjodoh-jodohkan mereka berdua.

Lain halnya dengan Jaehwan yang terkenal di sekolah mereka sebagai murid yang tampan, pintar, mudah bergaul, jago dalam olahraga, dan juga baik pada semua orang. Hemi dua tahun lebih muda dari Jaehwan yang berusia 17 tahun. bertubuh gempal dengan pipi chubby, rambut coklat terang dan ikal pada bagian ujungnya.

“Lee Jaehwan!” Hemi melirik sekilas tiga orang pemuda teman sekelas Jaehwan menghampirinya.

Sepertinya aku harus lewat jalan pintas lagi, batin Hemi. Sejak masuk kesekolah yang sama dengan Jaehwan, otomatis mereka menjadi senior-junior. Jaehwan yang sudah tingkat akhir dan Hemi yang baru saja masuk. Berlahan Hemi mengambil langkah mundur sebelum berbalik dan melangkah menuju jalan pintas yang baru saja dilewatinya beberapa saat lalu. Baru saja berbalik Hemi berhenti tepat saat mendengar salah satu teman Jaehwan yang dikenalnya sebagai salah satu murid yang berprestasi dalam olahraga mengatakan sesuatu.

“yaaa…Lee Jaehwan, aku dengar kamu baru saja jadian dengan Kim Yeon Mi. Apa itu benar? Siapa yang menyatakan perasaan lebih dulu? Kamu? Yeon Mi?”

Kim Yeon Mi? Gadis dengan tubuh seperti model dan rambut hitam lurus yang sering dibicarakan anak laki-laki dikelasnya?

Pikirannya mendadak kosong. Hemi berdiri tepat di tepi jalan membelakangi keempat pemuda dibelakangnya yang berjalan berlawanan arah. Dia baru tersadar saat seorang pengantar makanan cepat saji membunyikan klakson motornya dengan nyaring karena dia menghalangi jalan.

“YA! Kamu sudah bosan hidup?!”

Hemi segera membungkukkan tubuhnya beberapa kali meminta maaf sebelum menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan berjalan dengan cepat menuju jalan pintas kerumahnya. Dia tidak berani menoleh kebelakang takut kalau-kalau saja Jaehwan dan teman-temannya akan memperhatikannya, siapa yang tidak akan memperhatikannya kalau mendengar bunyi klakson senyaring itu belum lagi dengan bentakannya.

.

*****

Hemi?

Jaehwan melihat seorang murid perempuan dengan tubuh gempal membungkuk berkali-kali meminta maaf pada seorang pengantar makanan cepat saji yang baru saja meneriakinya. Dia baru saja akan melangkahkan kakinya menghampiri gadis itu saat menyadari lengan Dongwan di bahunya. Menahan diri untuk tidak menghampiri Hemi menjadi salah satu hal terberat yang harus dilakukannya sejak gadis itu masuk kesekolahnya dan menjadi juniornya. Mulai dari hari pertama tahun ajaran baru, teman-temannya sudah menjadikan Hemi sebagai bahan lelucon karena tubuhnya yang gempal dan rambutnya yang berwarna coklat terang.

Dia melihat Hemi berjalan dengan cepat menuju jalan pintas yang dia tunjukkan sebelum sekolah dimulai beberapa bulan lalu. Dia menggigit bibir bawahnya menahan diri untuk tidak mengatakan sesuatu yang sering terucap dari mulutnya tanpa dipikirkan terlebih dulu. Apa dia baik-baik saja? Apa motor tadi sempat mengenainya? Apa dia terluka? Kepalanya benar-benar kacau sekarang.

“bukannya itu si kepala merah?” dia mendengar Dongwan bertanya pada mereka bertiga.

Kepala Merah? Apanya yang kepala merah? Dengan malas dia menepis tangan Dongwan dan kembali berjalan mendahului teman-temannya. Moodnya sudah rusak seharian ini karena gosip yang menyebar hanya dua jam sebelum jam pulang sekolah. Hanya gara-gara Kim Yeon Mi menghampirinya di tangga sekolah dan memberikan sebuah surat yang sebenarnya adalah surat dari universitas Seoul untuknya dan berita langsung menyebar kalau mereka jadian saat itu.

“Ya! Lee Jaehwan!”

Meski teman-temannya berteriak memanggilnya dan menyusulnya. Pemuda itu dengan santai kembali memasang earphonenya dan memasang lagu dengan suara keras. Dia tidak ingin lagi mendengar kata-kata jelek tentang Hemi. Tidak satu katapun.

 

*****

Sambil menggoyang-goyangkan kakinya saat bersandar diberanda belakang rumahnya, Hemi hanya membalik-balikkan bukunya tanpa membaca sepatah katapun. Dia bahkan tidak melihat bukunya sama sekali. Pikirannya dan tatapannya saat ini benar-benar kosong. Tidak, hanya ada dua hal dalam kepalanya saat ini. Dua nama tepatnya. Lee Jaehwan dan Kim Yeon Mi. Sejak kecil dia sudah sering bermain kerumah keluarga Lee. Bahkan anak perempuan mereka, Lee Junghee, yang lebih tua 5 tahun darinya sangat memanjakannya. Tubuhnya yang memang sudah sangat berisi sejak kecil sering kali membuat orang lain merasa gemas saat melihatnya belum lagi dengan rambut coklat kemerahan yang diturunkan dari ibunya yang berdarah Irlandia-Korea.

“Hemi-ah.”

“uhm?” dia menjawab panggilan ibunya dengan malas tapi tidak menoleh.

“Son Hemi!”  kali ini suara ibunya terdengar lebih nyaring.

“apa?” juga tidak menoleh.

“YA! Son Hemi, apa kamu tidak bisa melihat ibumu saat sedang bicara.”

“bicara saja, aku mendengarnya.”

Minkyung hanya bisa menghela nafas berat melihat kelakuan anak semata wayangnya yang sejak pulang sekolah tadi bersikap seperti itu. Berlahan dia menghampiri Hemi dan duduk disampingnya.

“ada apa denganmu? Eomma lihat sejak pulang sekolah tadi kamu bersikap murung.”

Hemi menoleh kearah ibunya. Sepasang mata berwarna hijau gelap yang untung saja tidak dia warisi. Dia bahkan tidak berani membayangkan seandainya dia mewarisi semua gen dari kakeknya yang berkebangsaan Irlandia. Sepasang mata berwarna hijau gelap, rambut merah. Hanya dengan rambut merah dan kulit putih yang terlihat lebih pucat dari teman-temannya sudah membuatnya diperlakukan seperti orang aneh. Apalagi kalau ditambah dengan mata berwarna hijau seperti ibu dan kakeknya.

“apa aku terlihat sangat aneh, eomma?”

Terlihat wanita disampingnya menatapnya dengan heran, rasa penasaran dan tidak mengerti tergambar dari caranya mengerutkan kening. “aneh? Coba eomma lihat?”

Hemi diam saja saat ibunya menggerakkan wajahnya kekanan dan kekiri lalu melihatnya dari ujung rambut sampai ujung kaki dan kembali menatap mata coklat gelap milik Hemi yang persis seperti ayahnya.

“tidak ada yang aneh. Kamu cantik seperti biasa.” Puji Ibunya.

Giliran Hemi yang menghela nafas dan mengalihkan pandangannya. Setiap ibu pasti akan memuji anaknya, itu pasti. Sejak kecil ibunya selalu mengatakan dia adalah boneka yang paling cantik dalam mereka. Tapi itu untuk ibu dan ayahnya, bagaimana dengan penilaian orang lain? mereka menyebutnya aneh. Kepala merah, beruang gunung, dan banyak sebutan lainnya. Apa Jaehwan juga menganggapnya aneh dan memalukan?

“ada apa sayang?” tanya ibunya dengan nada lembut.

Dia melirik dan tersenyum samar kearah ibunya, “tidak ada apa-apa.”

Berlahan, Hemi merasakan tangan lembut ibunya menggenggam tangannya dan membawanya keatas pangkuan wanita itu. Membelai sayang telapak tangannya. “kamu tau nak, hati seorang ibu itu seperti radar. Dia akan dengan sangat cepat merasakan ada yang berbeda dengan anaknya. Apakah anaknya sedang bahagia atau sedih.”

Senyum samar mengembang di wajah Hemi, dia melihat ibunya yang memandangnya dengan sayang. “aku hanya sedang memikirkan sesuatu. Tapi aku tidak tau apa yang sedang aku pikirkan. Aku melihat sesuatu tapi aku tidak benar-benar melihat. Semuanya terasa kosong.” Lalu dia menyandarkan kepalanya kepundak ibunya. “apa aku terlihat aneh, eomma?” dia menanyakan hal yang sudah ditanyakannya.

“tidak sayang, kamu spesial. Semua orang akan bisa melihat itu. Kecantikanmu mungkin tidak bisa lihat oleh semua orang tapi kecantikan hatimu akan bisa semua orang rasakan. Percayalah nak, apapun yang sedang kamu hadapi saat ini. Semua pasti akan ada hikmahnya.”

Semoga. Dia berharap dalam hati kalau semua memang pasti akan ada hikmahnya.

 

*****

Belum lagi jam makan malam, Jaehwan sudah duduk manis di meja makan. Kakaknya, Junghee sudah berkali-kali memberitahunya kalau makan malam belum siap. Tapi dia tetap tidak mau beranjak dari sana. Hanya memperhatikan ibu dan kakaknya mempersiapkan makan malam. Sementara ayahnya terlihat sedang sibuk membaca koran politik favoritnya.

“kita makan apa malam ini?” tanyanya.

“kamu sudah bertanya lebih dari sepuluh kali. Sebaiknya duduk disana saja dengan Appa.” Junghee mulai terlihat kesal dengan kelakuan adiknya itu. “aahh…melihatmu seperti itu aku jadi rindu pada Hemi.”

“oh benar juga, dia sudah lama tidak main kesini.” Sembur Ibunya,

Hemi? Kenapa Junghee-noona harus menyebutkan nama Hemi didepannya. Tidak lama lagi ibunya pasti akan menanyakan Hemi padanya. Lalu jawaban apa yang harus diucapkannya?.

“Jaehwan-ah. Kalian satu sekolah, kamu sering bertemu dengan Hemi, kan? Bagaimana dia disekolah. Apa teman-temannya baik padanya? Apa ada yang mengganggunya? Ah, apa sudah ada anak laki-laki yang menyukainya?” Junghee bertanya dengan bersemangat dari arah dapur.

“aku tidak tau.” jawab Jaehwan singkat.

“kamu tidak tau atau kamu belum mendengarnya?”

“aku tidak tau.”

Junghee membalikkan badan dan melihat adiknya dengan tatapan curiga, dapur dan meja makan memang berada dalam satu ruangan. Jaehwan hanya memainkan sumpitnya diatas meja dengan kepala menunduk.

“Ya! Lee Jaehwan, aku tau apa yang ada dalam kepalamu sekarang.” ujar Junghee sinis.

“Mwo?? Tidak ada apa-apa dalam kepalaku. Noona asal bicara saja.”

“kalau sampai aku tau kamu tidak menjaga Hemi dengan baik disekolah, aku benar-benar akan menghajarmu. Ingat itu.”

Dia menoleh kearah kakaknya dengan cepat dan kesal, “kenapa noona selalu membela Hemi. Yang adikmu ini aku, Lee Jaehwan. Bukan Son Hemi.” Katanya dengan kesal.

“sudah-sudah. Jangan ribut seperti itu. Junghee, jangan ganggu adikmu. Jaehwan, kamu pergi dari sini. Makan malam masih sejam lagi. Temani Appamu disana.” Ibunya langsung menghentikan pertengakaran sebelum beranjak lebih jauh. Sambil menghentakkan kaki Jaehwan langsung menuruti perkataan ibunya dan pergi dari sana.

“lihat, dia sudah 17 tahun tapi kelakuannya masih kekanakan seperti itu.” ibunya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan kedua anaknya yang sama-sama keras kepala.

 

“kenapa dia selalu membela Hemi, dia tidak tau apa kalau aku juga pusing dengan semua yang mereka sebutkan tentang Hemi.” Jaehwan menggerutu sambil mengacak-acak rambutnya karena frustasi. Di ruang tengah dia melihat ayahnya sedang membaca koran sementara TV menyala. “Appa.”

“uhm?”

Jaehwan menghempaskan tubuhnya ke sofa di samping ayahnya duduk. “apa aku salah kalau seandainya teman-temanku suka mengata-ngatai salah satu murid sementara aku diam saja?”

Sambil membalikkan lembaran koran, ayahnya menarik nafas dan menjawab, “tentu saja tidak. Kalau kamu ikut mengata-ngatai anak itu maka kamu juga ikut salah.”

“berarti bukan salahku kalau aku lebih memilih menjaga jarak daripada ikut campur. Benarkan?”

Ayahnya mengangguk tanpa mengalihkan perhatiannya dari koran yang sedang dibacanya, “tentu saja.”

“tapi kalau anak yang dikata-katai itu sahabatku sendiri, apa aku salah mengambil sikap seperti itu?”

Ayahnya langsung menutup korannya, “itu salah. Tidak ikut mengatainya, benar. Tapi ikut menjauhinya dan bukannya membelanya, itu bukan sahabat namanya.”

“tapi aku benar-benar berada dalam posisi yang sulit, Appa. Semua yang mereka katakan itu benar, maksudku memang tidak semuanya benar, tapi aku tidak bisa membantahnya. Kalau tiba-tiba aku membelanya nanti anak-anak yang lain pasti akan salah paham dan menyebar gosip yang tidak benar.”

Terlambat untuk menyesali ucapannya. Dia melihat ayahnya melipat koran yang tadi sedang dibacanya dengan sangat serius dan melipat kakinya. Jika sudah begini, itu artinya ayahnya sudah mencium adanya masalah yang ditimbulkan olehnya.

“sahabatmu,” ayahnya mulai bicara. “siapa namanya?”

“ah…tidak, bukan, bukan siapa-siapa.” Jaehwan mengangkat tangannya dan bicara terbata-bata. Mencoba menghentikan pembicaraan yang dia mulai sendiri.

“Lee Jaehwan?” jika ayahnya sudah memanggil namanya dengan lengkap itu artinya dia meminta jawaban langsung tanpa bantahan.

“Hemi.” Jawabnya dengan suara nyaris tak terdengar. “tapi…aku, tapi aku…” dia mencoba mencari alasan yang mungkin bisa diterima ayahnya tapi pada akhirnya dia hanya bisa menundukkan kepala.

 

Suasana di meja makan menjadi hening tanpa suara. Tidak seperti biasanya yang selalu dipenuhi tawa mereka orang tua dan anak. Kali ini semua diam seribu bahasa. Hanya wajah ibunya yang terlihat tenang-tenang saja seakan pembicaraan beberapa saat lalu tidak pernah terjadi. Mengetahui kalau dia tidak bisa menjaga Hemi seperti yang diharapakan keluarganya ataupun keluarga Hemi membuat ayahnya menceramahinya habis-habisan.  Belum lagi Junghee yang ikut ambil bagian di pertengahannya.

Ayahnya dan Paman Seon Byung Hee sudah berteman lama sejak mereka masih sekolah. Dari cerita yang sering didengarnya, orang tuanya ikut berada di rumah sakit saat kelahiran Hemi. Bibi Minkyung sendiri adalah wanita berdarah Irlandia-Korea. Jadi wajar saja kalau Hemi terlahir dengan rambut coklat kemerahannya dan kulitnya yang terlihat lebih pucat dari kebanyakan orang persis seperti ibunya.

Seandainya tatapan bisa membunuh, mungkin dia sudah terbunuh berkali-kali. Junghee tidak henti-hentinya melemparkan tatapan sinis kearahnya yang harus menunduk selama makan mlam. Terlihat jelas emosi Junghee yang seakan meluap-luap dan siap ditumpahkan kearahnya. Tapi karena ayahnya sudah mengatakan untuk tidak ada keributan selama makan malam, kakaknya yang hanya 3 tahun lebih tua darinya itu berusaha untuk bersabar. Meskipun itu adalah hal yang paling sulit dilakukannya.

Dalam keadaan hening seperti itu tiba-tiba seseorang menekan bel rumah mereka. Ibunya baru akan berdiri saat Jaehwan berdiri lebih dulu. “aku saja.”

Meski hanya beberapa saat, setidaknya dia bisa lepas dari suasana mencekam seperti itu. Tanpa bertanya siapa dia langsung membuka pintu dan melihat seseorang berdiri dengan kepala tertunduk. Mengetahui pintu sudah dibuka, orang tersebut mengangkat kepalanya dan menyunggingkan senyuman manis. Sejak kapan senyum kekanakan di wajah chubby itu bisa sangat menarik untuk dilihat.

“Hemi? Ada apa?” tanyanya. Lalu bergerak kepinggir pintu untuk mempersilahkan Hemi masuk. “Masuk.”

“tidak disini saja. Aku Cuma mengantarkan ini. Ayahku baru pulang dari Jeju dan membawakan ini untuk samchon dan imo.” Jaehwan mengambil bingkisan yang disodorkan Hemi.  Dia menyadari rambutnya coklat kemerahan Hemi di ikat simpul seluruhnya kebelakang. Apa dia sakit belakangan ini? kenapa kelihatannya dia seperti kurusan?

“sudah itu saja. Aku pulang.”

Baru beberapa langkah berjalan menjauh, Jaehwan tergerak untuk memanggil namanya, “Hemi,”

Hemi berbalik, “ya?”

Sesaat jaehwan hanya menatap wajah Hemi yang terlihat sedikit pucat. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Sebelum dia menunduk dan menghembuskan nafas lalu kembali melihat Hemi yang menunggunya. “tidak, tidak ada apa-apa. Katakan pada paman samchon terima kasih banyak.”

Gadis di depannya mengangguk ramah. “Oh, Ken-ah.”

Jaehwan yang baru saja akan menutup pintu kembali membukanya lebar-lebar saat mendengar gadis itu memanggilnya tanpa sebutan Oppa. Hemi satu-satunya orang yang tidak pernah memanggilnya dengan nama aslinya melainkan dengan sebutan Ken, alasannya karena pasangan dari boneka tercantik di dunia barbie bernama Ken. Anak ini bahkan dua tahun lebih muda darinya.

“Ya! Kapan kamu bisa belajar memanggilku dengan sebutan Oppa?!”

“kenapa aku harus memanggilmu Oppa? karena aku dua tahun lebih muda? Usia itu hanya angka.” Jawab Hemi polos dan tidak peduli.

Jaehwan hanya bisa mengacak-acak rambutnya dengan tangannya yang bebas dan menghembuskan nafas frustasi. “terserah. Cepat katakan ada apa? Kamu mengganggu waktu makan malam kami” desaknya.

“apa aku terlalu memalukan untuk dikenal sebagai temanmu?” Hemi bertanya dengan tenang dan suara datar.

“apa? Aku…” Jaehwan tidak tau harus menjawab apa dengan pertanyaan Hemi yang tiba-tiba.

Tanpa menunggu lama Hemi kembali tersenyum lebar dan tertawa samar, “jangan tegang seperti itu. Aku hanya bertanya asal. Tidak usah dijawab, aku pulang dulu. Sampaikan salamku untuk semuanya. Bye-bye”

Dia memperhatikan Hemi berjalan keluar dari pekarangan rumahnya dan berbelok. Dia tidak pernah melihat Hemi murung, tidak pernah melihatnya menangis, bahkan dia tidak pernah marah sekalipun. Ekspresi yang selalu dilihat Jaehwan hanya saat dia tersenyum, tertawa bahkan saat dia tidak melihatkan ekspresi apapun. Sejak kapan Hemi menjadi menarik baginya?

Cepat-cepat Jaehwan menggelengkan kepalanya untuk mengusir semua pikirannya tentang Hemi. Merasa lama-lama dia bisa berubah frustasi jika terus mengalami hal seperti ini. Sekali lagi dia melihat kearah tempat Hemi menghilang sebelum menutup pintu dan kembali ke arena singa lapar.

 

*****

Kepalanya sudah sakit sejak bangun tidur tadi.  Sambil memijat kepalanya Hemi berjalan menuju kelasnya yang terletak di ujung lorong. Tidak pernah dia sebenci ini untuk sekedar datang kesekolah karena sakit kepala membuat moodnya benar-benar rusak. Belum lagi sejak dari rumah sakit beberapa hari lalu kondisi tubuhnya mulai menurun berlahan demi berlahan.

“Ya, Chubby red.” Sejak masuk kesekolah ini dia sudah sangat terbiasa mendengar berbagai macam jenis nama panggilan, tidak hanya dari senior-seniornya tapi juga beberapa teman-teman seangkatannya yang merasa sangat eksis karena akrab dengan senior yang terkenal. Lain hal dengan teman sekelasnya yang sama sekali tidak pernah terdengar memanggilnya dengan sebutan apapun selain dari namanya, Hemi.

Bersikap seolah tidak mendengar apapun Hemi tetap berjalan menuju kelasnya. Tinggal dua kelas lagi, Hemi. Bertahan dan jangan melihat, batin Hemi. Tapi panggilan itu tidak berhenti sampai dia masuk kedalam kelasnya dan duduk di bangkunya yang terletak disamping jendela.

“mereka masih memanggilmu seperti itu lagi?” Eunha langsung balik badan bersamaan saat Hemi menyandarkan kepalanya yang sakit keatas meja. “kamu tidak bisa diam seperti itu terus, Hemi. Kalau kamu tidak bertindak mereka bisa semakin keterlaluan.”

“aku sedang tidak berminat ribut. Nanti saja kalau kesabaranku sudah habis.” Gumam Hemi.

“kalau kesabaranmu habis, tapi kapan?” desak Eunha kesal.

“nanti.” Gumam Hemi pelan. Dia sedang tidak ingin mendengar desakan apapun dari Eunha ataupun teman sekelasnya yang lain.

“Son Hemi!” dengan sangat enggan dia terpaksa mengangkat kepalanya dan melihat kearah seorang murid di dekat pintu. “Ms. Yoon memanggilmu, di ruang guru.”

Dia kembali menjatuhkan kepalanya keatas meja dan menahan keras mulut tetap tertutup agar dia tidak berteriak kesal. Dia baru saja melewati banyak ‘penjahat’ sekarang dia harus melewati banyak ‘perompak’. Kapan hidupnya bisa kembali normal. Dengan malas-malasan Hemi berdiri dari tempat duduknya dan berjalan sempoyongan menuju ruang guru yang terletak di ujung koridor sisi bangunan yang lain. Itu artinya dia harus melewati deretan kelas tingkat akhir. Angkatan Jaehwan.

“Hemi-ah.” Dia menoleh kearah Eunha yang memandangnya dengan cemas. “kamu mau aku temani ke kantor guru?”

Sambil menyunggingkan senyum samar Hemi menggeleng pelan pada temannya itu, “tidak usah. Aku bisa mengatasinya.” Semoga saja atau aku benar-benar akan membuat kegaduhan kali ini, batinnya.

 

Saat pergi, koridor tingkat akhir belum terlalu ramai. Hemi menghembuskan nafas lega saat berhasil masuk keruang guru dan menemui Ms. Yoon di mejanya. Guru pelajaran Sosialnya itu tidak habis-habisnya meminta bantuannya untuk mengerjakan berbagai artikel dalam bahasa asing. Karena kepintarannya dalam beberapa bahasa asing menjadi satu kelebihan sekaligus kesulitan untuknya. Bahkan kali ini sampai mengeluarkan surat izin untuk tidak mengikuti beberapa jam pelajaran untuknya karena harus menyelesaikan setumpuk artikel dalam bahasa inggris.

 

Baru setelah bel istirahat berbunyi artikel terakhir yang dikerjakannya selesai. Dengan langkah gontai dia berjalan menyusuri koridor tingkat akhir menuju koridor kelasnya. Sejak keluar dari ruang guru sudah ada yang memanggilnya dengan nama-nama yang sudah sering didengarnya. Dari kejauhan dia menangkap sosok Jaehwan yang sedang tertawa lepas bersama teman-temannya. Dia hanya harus melewati mereka karena tidak ada jalan pintas untuk bisa sampai ke kelasnya. Mungkin Jaehwan tidak menyadari kalau Hemi mencoba berjalan melewati mereka saat dia dan teman-temannya bercanda di tengah koridor dan menghalangi jalannya. Beberapa kali dia mencoba melewati mereka namun gagal. Kesabarannya sudah berada di ubun-ubun, dengan kepala sakit, otak lelah dan juga hati kesal. Hemi menghembuskan nafas beberapa kali untuk menenangkan dirinya. Tapi kali ini kesabarannya sudah sampai pada batasnya.

“Apa kalian tidak bisa menyingkir?!” dia berteriak marah dengan wajah memerah.

Semua murid yang berada dikoridor itu langsung melihat kearahnya, Jaehwan yang tadinya sedang tertawa lepas membelakanginya bersama teman-temannya langsung berbalik dan melihat Hemi dengan wajah tidak percaya. Hemi sendiri tidak lagi bisa berpikir jernih, dia sudah terlanjur emosi. Tidak ada yang berani buka suara saat melihat Hemi menatap tajam kearah Jaehwan dan teman-temannya.

“daripada menghabiskan waktu tertawa tidak jelas seperti itu sebaiknya kalian belajar untuk masuk universitas!”

“Hemi-ah.” Gumaman pelan keluar dari mulut Jaehwan yang masih menatap kaget kearah Hemi yang baru akan beranjak pergi dari sana.

“Apa?!” hanya bentakan yang keluar dari mulut Hemi.

“Ya Jibang!” seorang murid perempuan balas membentaknya saat dia membentak Jaehwan.

Dengan sinisnya Hemi menatap murid perempuan itu memperhatikannya dari ujung rambut ke ujung kaki lalu kembali menatapnya. “dari pada kamu sibuk menghina bentuk tubuh orang lain. Sebaiknya kamu pergi ke dokter supaya mereka bisa memberikanmu obat anti anoreksia. Tubuhmu sudah seperti tulang dilapisi kulit.”

Murid perempuan itu menatap Hemi dengan mata terbelalak. Tidak percaya kata-kata seperti itu keluar dari juniornya yang sejak awal masuk sudah menjadi bahan kejahilan mereka. Jaehwan yang berdiri menyaksikan itu menangkap gerakan tangan murid perempuan yang tak lain adalah teman sekelasnya mengangkat tangan seperti akan menampar Hemi. Belum sempat dia bergerak dari tempatnya berdiri, dia sudah melihat Hemi memelintir tangan murid perempuan tersebut beberapa saat lalu menghempaskannya dengan kasar.

“Hemi,” Jaehwan maju dan menarik tangan gadis itu. Di depan teman-temannya.

Melihat kearah tangan Jaehwan di lengannya membuat Hemi menyadari kembali ucapan Jaehwan di awal-awal dia menjadi murid baru di sekolahnya. Dengan kasar dia menepis tangan Jaehwan dan melirik pemuda tinggi itu. “aku bisa menenangkan diriku sendiri, Sunbae. Aku tidak butuh siapapun.”

 

Tanpa berkata apa-apa Hemi mengambil langkah mundur dan pergi meninggalkan murid-murid tingkat akhir yang menyaksikan kejadian itu tanpa bisa mengeluarkan suara dan berkata apapun. Jaehwan memperhatikan Hemi menghilang di tangga yang mengarah turun. Banyak hal yang dia lupa tentang Hemi. Bahwa Hemi tidak selamanya bisa sesabar yang mereka kira, Hemi juga ahli dalam bela diri, dan Hemi benar-benar terluka dengan sikapnya selama ini.

Dia masih berdiri ditempatnya dengan pikiran kacau mendengar dan melihat perubahan Hemi di depan matanya.

“Jaehwan-ah.” Min Gook, temannya menggoncang tubuhnya yang shock. “Jaehwan-ah kamu tidak apa-apa?”

“apa yang terjadi pada Hemi?” dia melihat temannya dengan tatapan kosong. “apa yang terjadi pada Hemi? Dia tidak pernah seperti itu. kenapa dia berubah seperti itu?”

“anak itu namanya Hemi?” Min Gook balik bertanya. “saking banyaknya panggilan buatnya, aku kira selama ini namanya benar-benar Jibang.” Murid lelaki itu tertawa menghina.

Hanya sesaat sebelum berhenti ketika Jaehwan menatapnya sinis.

 

 

Pulang sekolah dia mendatangi kelas Hemi. Hampir semua teman sekelasnya, bahkan murid-murid tingkatan Hemi memandangnya dengan mata kagum sebelum berubah heran, bingung dan tidak percaya saat dia bertanya keberadaan Hemi.

“sunbae tau namanya?” tanya seorang murid perempuan, teman sekelas Hemi dengan nada tidak percaya.

“tentu saja aku tau. Son Hemi. Dimana dia?” tanyanya sambil melihat kedalam kelas mencari sosok Hemi.

“Hemi sudah pulang sejak tadi. Dia izin sakit.” Seorang murid perempuan lain menyahut dari dalam kelas.

“sakit?”

“sudah kubilang, dia itu seperti ranjau. Tinggal diinjak lalu meledak.” Timpal murid sekelas Hemi yang lain. “kalian selalu menghinanya padahal dia sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun apalagi menganggu kalian.”

“kenapa kalian memanggilnya dengan sebutan-sebutan seperti itu?” tanya salah seorang murid.

“iya. Padahal dia tidak terlalu gemuk, mungkin dia hanya beda beberapa kilo dari Da Hee-sunbae.”

Mendengar nama senior perempuan mereka yang bertubuh biasa saja, tidak gemuk dan tidak langsing, hanya pas, yang lainnya ikut menimpali.

“benar juga. Apalagi kelihatannya Hemi juga sudah mulai kurusan. Belakangan dia terlihat pucat.”

Mereka semua lalu memandang Jaehwan yang masih berdiri di sudut pintu. Merasa tersudut dengan teman-teman sekelas Hemi yang disadarinya sangat setia kawan terhadap Hemi. “ini semua gara-gara kalian. kenapa kalian memperlakukan Hemi seperti itu?”

“terima kasih untuk infonya.” Tanpa mengatakan apa-apa, Jaehwan melangkah pergi dengan sikap dinginnya.

 

Selama perjalanan pulang dia berpikir apa sebaiknya mampir kerumah Hemi atau tidak. Mungkin dia harus pulang dulu. Tapi kalau sampai Junghee-noona atau ayahnya tau dia pasti bisa dimarahi habis-habisan. Dia mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. Tidak tau harus berkata apa jika bertemu dengan Hemi sekarang, Jaehwan memutuskan untuk pulang tanpa menemui Hemi.

 

“aku pulang.”

Ibunya muncul dari ruang tengah dan menyambutnya dengan senyuman hangat. “oh, Jaehwan-ah kamu sudah pulang? Bagaimana sekolahmu?”

“baik, Eomma.”

Jaehwan langsung masuk kedalam kamarnya dan menghempaskan tubuhnya keatas tempat tidur dengan nyaman. Menatap kosong ke langit-langit kamarnya kejadian siang tadi kembali berputar dikepalanya.

‘…aku bisa menenangkan diriku sendiri, Sunbae. Jadi jangan ikut campur…’

 

“Sunbae. Sejak kecil dia bahkan tidak pernah memanggilku Oppa. kenapa tiba-tiba memanggilku Sunbae?”

Sibuk dengan pikiran kosongnya, Jaehwan mendengar ibunya mengetuk pintu dan menjulurkan kepalanya kedalam kamar. “Jaehwan-ah, kamu sudah tau kalau keluarga Son akan pindah akhir minggu ini?”

Sontak Jaehwan bangkit dan duduk dengan tegap melihat horor kearah ibunya, “apa? Kapan? Kenapa? Kemana? Bagaimana bisa?” dia bertanya terburu-buru padanya ibunya.

“Hemi tidak memberitahumu? Ah, eomma lupa. Kalian tidak saling kenal disekolah.” Ibunya pada akhirnya ikut mengomentarinya tentang kelakuannya.

“eomma. Aku serius.”

Ibunya masuk kedalam kamar dan duduk disampingnya, “pagi tadi bibi Minkyung datang memberi kabar pada eomma. Akhir minggu ini mereka akan pindah ke Jeju karena perusahaan tempat paman Byunghee menugaskannya kesana.”

“tapi Hemi tidak bilang apapun padaku.”

“bagaimana dia bisa bilang padamu kalau kamu bersikap seolah tidak mengenalnya.” Sela ibunya.

“jangan ikut menyalahkanku juga.” Rengeknya.

“aaiisshh…kamu ini laki-laki jangan bersikap manja seperti itu. bagaimana bisa kamu menjaga pacarmu nanti kalau sikapmu masih kekanakan dan manja pada ibumu.”

Kedua ibu dan anak itu hanya tertawa samar. Namun dibalik tawa Jaehwan terbesit rasa ingin tau apa ada hubungannya kepindahan keluarga Son dan kejadian siang tadi disekolah.

 

*****

Duduk bertopang dagu di rumah baru yang akan menjadi rumah mereka setelah pindah ke Jeju, Hemi menatap pantai yang bisa dilihat dari teras tingkat dua rumahnya tersebut.  Sejak kejadian di sekolah dua hari lalu, Hemi bersikeras untuk ikut ayahnya yang memang sudah lebih dulu pindah ke Jeju minggu lalu. Hanya sampai akhir minggu, setelah itu dia tidak akan melihat Jaehwan lagi. Tidak murid-murid disekolahnya. Dia benar-benar menarik perhatian banyak orang saat kejadian itu. Belum pernah seumur hidupnya dia sampai emosi seperti itu. Apalagi sampai memelintir tangan seniornya.

“Appa tidak mengizinkanmu ikut kesini sebelum mengurus surat pindah sekolahmu hanya untuk melihatmu murung seperti itu.”

Hemi menoleh kebelakang dan melihat ayahnya berdiri di sisi pintu menatapnya kearahnya. “Eomma bilang akhir-akhir ini kamu terlihat punya banyak masalah. Bahkan bertanya hal yang aneh-aneh. Ada apa?”

“tidak ada apa-apa. Aku baik-baik saja.” jawab Hemi pelan.

Ayahnya kemudian menarik kursi di samping putrinya dan ikut memandang jauh kearah pantai. “apa kamu sudah bilang pada Jaehwan kalau kita akan pindah?”

“huh? Dia pasti sudah tau dari keluarganya.”

“kalian bertengkar?” Hemi hanya menjawab dengan gelengan kepala. “semua akan baik-baik saja, nak. Appa percaya itu.” Sejenak ayahnya menghembuskan nafas berat dan tersenyum samar, “setidaknya cuaca disini akan baik untukmu dari pada disana.”

“aku baik-baik saja.” ujar Hemi sungguh-sungguh. Tidak ingin membuat Ayahnya merasa khawatir dengan kesehatannya yang memburuk belakangan ini.

 

*****

 

Tinggal dua hari sebelum kepindahan keluarga Son ke Jeju dan Hemi semakin sulit untuk ditemui. Dia tidak pernah berada di rumah dan juga tidak lagi datang kesekolah sejak kejadian tempoh hari. Jaehwan berjalan tanpa daya menuju kelasnya. Saat menaiki tangga di tingkat tempat kelas Hemi dia melirik dengan menghela nafas. Kemana anak itu?

Melemparkan tasnya asal-asalan keatas meja dan Jaehwan berbalik keluar kelas.  Teman-temannya yang baru akan menyapanya melihatnya dengan keheranan. Mungkin yang ada dipikiran mereka ‘ada apa dengan anak yang paling ribut di kelas?’. Jaehwan berjalan cepat menuju koridor kelas murid baru. Dia akan menunggu Hemi di depan kelasnya, jika dia tidak bisa bertemu gadis itu di sekolah maka dia akan menunggu di depan rumahnya. Tapi jika tidak,…

Sambil mengacak-acak rambutnya dengan frustasi Jaehwan melihat beberapa orang teman sekelas Hemi yang sering terlihat bersamanya. Setengah berlari dia menghampir murid perempuan itu.

“permisi, kalian teman sekelas Hemi, kan?”

Meski dengan ekpresi kaget saat dihampiri seorang senior tampan di sekolah mereka, dengan cepat mereka mengangguk. “apa Hemi sudah masuk sekolah hari ini?”

“kemarin dia bilang akan masuk sekolah hari ini. tapi tidak akan mengikuti pelajaran.” Jawab salah satu dari mereka.

“oh, benar. Dengar-dengar dia akan pindah sekolah. Sudah ku bilang, dia pasti stress diperlakukan seperti itu. Padahal dulu saat masih di Junior High School semuanya baik-baik saja. bahkan tidak peduli pada bentuk tubuhnya semua orang sayang padanya. Kenapa senior-senior di sini memperlakukannya seperti itu.”

Kenapa setiap aku bertanya kalian selalu menyudutkanku? Jaehwan membatin dalam hati. Dia lalu mengangkat tangan untuk membuat mereka semua berhenti bicara.

“baiklah, kalau dia sudah datang tolong beritahu aku. Mengerti?!” tegasnya. Murid-murid perempuan itu mengangguk kaget. “ini perintah. Jadi jangan sampai lupa!” lalu dia pergi begitu saja menuju kelasnya.

 

“Ya, Lee Jaehwan. Ada apa denganmu?” Dongbae bertanya dengan heran padanya sesaat dia duduk di tempatnya. “sejak kemarin kamu datang melempar tas lalu keluar lagi.”

“aku juga sering melihatmu ke koridor kelas 1. Ada yang kamu suka disana?” ujar temannya yang lain.

“kenapa tiba-tiba? Bukannya kamu sedang dekat dengan Kim Yeon Mi?” Dongbae masih terus bertanya.

“Ya! Kalian tidak tau, murid baru di kelas si Jibang juga ada yang cantik. Ah, siapa namanya-“

“Moon Seo Ni.” Timbal temannya yang lain.

Sementara teman-temannya sibuk dengan obrolan mereka Jaehwan hanya bisa menarik nafas berat dan menundukkan kepalanya diatas meja. Tidak ingin mendengar apapun. Berharap Hemi benar-benar akan datang kesekolah hari ini meskipun hanya untuk mengurus surat pindah sekolahnya.

Berkali-kali dia melirik jam tangannya lalu menoleh kepintu kelas. Kenapa tidak ada satupun yang memberitahunya tentang Hemi. Dia mulai duduk dengan gelisah di tempat duduknya. Dongbae yang duduk disampingnya ikut memperhatikan tingkahnya.

“Ya,” Dongbae bersuara pelan memanggil Jaehwan yang sudah memasang tampang horor sejak pagi tadi. “Ya! Lee Jaehwan.” Lalu melirik kearah guru yang sedang mengajar didepan kelas.

Malas-malasan Jaehwan menoleh pada Dongbae dan tanpa suara berucap dengan gerak bibir, ‘jangan ganggu aku. Atau ku hajar kau’ lalu dia kembali mendapatkan ketenangannya.

 

Sampai jam istirahat berbunyi belum ada satupun kabar Hemi datang kesekolah.

“apa mungkin teman-temannya sepakat untuk tidak memberitahuku?” dia bertanya pada dirinya sendiri. “mungkin saja. mereka bahkan menyudutkanku setiap kali aku menanyakan Hemi.”

Saking sibuknya dengan pikiran dalam kepalanya dia bahkan tidak menyadari Dongbae dan yang lain sudah berada di dekatnya sampai salah seorang dari mereka menyebutkan nama Hemi, salah satu julukan Hemi tepatnya.

“tadi aku melihat kepala merah di ruang guru. Kalau tidak salah dengar dia akan pindah. Apa dia benar-benar pindah?”

Jaehwan langsung menoleh kearah temannya yang baru saja bicara, “apa maksudmu? Dia ada di ruang guru?” kenapa dia tidak melihat Hemi melewati kelasnya?

“ehm, mungkin dia masih disana. Ada apa me-“ belum selesai temannya bicara, Jaehwan sudah meluncur keluar kelas menuju ruang guru dengan tergesa-gesa.

Namun baru melewati kelasnya dia melihat Hemi keluar dari ruang guru di ujung koridor. Mereka sama-sama melihat tanpa ekspresi sebelum Hemi mengambil langkah lebih dulu dan berjalan cepat melewatinya.

“Hemi-ah” Jaehwan berjalan dengan cepat mengejar Hemi yang juga berjalan cepat melewati koridor kelas tingkat akhir. “Hemi!” sedikit membentak dia menarik lengan gadis itu dan melihat wajah pucatnya. Jaehwan memperhatikan Hemi yang menundukkan kepala, tidak berusaha menepis tangan Jaehwan di lengannya.

Dalam pikirannya, sudah berapa lama mereka tidak bertemu? Benarkah hanya beberapa hari? Jika memang dalam beberapa hari ada apa dengan Hemi? Kalau bukan karena mengenal gadis ini sejak kecil dan melihatnya tumbuh secara langsung mungkin dia tidak akan menyadari  kalau tubuhnya tidak segemuk beberapa minggu lalu dan wajahnya tidak secerah yang diingatnya.

“kamu sakit?” tanyanya.

Mendengar pertanyaan itu Hemi dengan keras menepis tangan Jaehwan, “tidak.” Lalu berbalik dan kembali melangkah.

Hanya dengan begitu mereka sudah menarik banyak perhatian dari teman-teman seangkatan Jaehwan di saat jam istirahat. Idola para murid perempuan bersama dengan murid perempuan bertubuh gempal dengan kepala merah, seperti yang sering didengarnya. Baru beberapa langkah tanganya ditarik sekali lagi dan membuatnya berbalik menghadap Jaehwan. Kali ini pemuda itu tidak melepaskan tangannya dan tetap memegang lengannya dengan erat.

“sunbae. Tolong lepaskan tanganku.” Hemi memohon dengan sangat tenang namun Jaehwan menggeleng. “jika kamu tidak ingin semua orang tau kalau kita sudah bersahabat sejak kecil lepaskan tanganku sekarang dan biarkan aku pergi.” bisik Hemi yang hanya bisa didengar oleh Jaehwan.

“tidak ada yang ingin kamu sampaikan padaku?”

Hemi mengangkat kepalanya dan memandangnya dengan tatapan bingung. “tidak.” Jawab Hemi datar.

“pasti ada yang ingin kamu sampaikan padaku. Yang seharusnya kamu sampaikan padaku. Yang seharusnya aku dengar langsung darimu dan bukan dari ibuku!” Jaehwan berteriak marah.

Sekali lagi Hemi mencoba melepaskan tangannya namun dia tetap memegangnya dengan sangat erat, tidak lagi peduli apakah pegangannya akan berbekas di lengan Hemi atau apakah pegangannya menyakiti Hemi saat ini. Semua orang yang tadinya hanya melihat dan memperhatikan mereka mulai berbisik dan membuat kebisingan dengan banyak perkataan. Dia melihat Hemi menunduk dan menghela nafas beberapa kali untuk menenangkan dirinya. Dia sudah cukup bersabar selama ini, cukup bersabar menanggapi tingkah teman-temannya yang selalu merendahkan Hemi tanpa melakuka apa-apa. Jadi jika sekarang mereka tau hubungannya dengan Hemi dia tidak akan peduli lagi.

“apa yang harus aku sampaikan? Apa aku harus bilang padamu kalau selama ini aku tersinggung dengan sikapmu yang seolah-olah tidak mengenalku sama sekali? Dengan sikapmu yang tidak melakukan apapun selain diam dan tertawa samar saat teman-temanmu menghinaku? Dengan sikapmu yang memintaku untuk memberi jarak saat kita berada disekolah?” tanya Hemi menunjukkan perasaannya yang selama ini merasa tertekan.

“apa salahku? Apa yang sudah aku lakukan padamu dan teman-temanmu? Kamu sudah melihat ibuku. Dia setengah irlandia dengan rambut coklat kemerahannya, kalau mereka tidak tau maka katakan pada mereka! Jangan diam saja melihatku dihina dan dipermalukan seperti itu setiap hari!” Hemi balas berteriak.

“apa yang harus aku sampaikan padamu, Jaehwan-ah?” tanya Hemi tenang. Jaehwan membuka mulutnya namun sama sekali tidak ada suara yang keluar.

“apa aku harus bilang kalau aku tidak lagi menganggapmu sebagai sahabatku atau saudaraku, karena aku mulai menyukaimu? Ya, anak perempuan bertubuh gempal yang kalian panggil dengan Jibang, kepala merah, beruang meksiko dan banyak lainnya yang selalu terdengar berbeda setiap hari. Anak perempuan itu menyukai seniornya yang dikagumi banyak murid perempuan dan juga murid laki-laki. Anak perempuan itu menyukaimu sejak lama. Anak perempuan yang sejak kecil tidak pernah memanggilmu dengan sebutan Oppa tapi sangat ingin memanggilmu dengan sebutan itu seperti anak perempuan lainnya. Anak perempuan yang lebih mengenal siapa kamu dibandingkan mereka yang menganggap diri mereka sebagai sahabat sejatimu. Anak perempuan yang setiap jalan pulang dari sekolah hanya berjarak beberapa langkah dibelakangmu. Aku,- aku menyukaimu, Lee Jaehwan.”

Detak jantungnya seakan berpacu tiba-tiba dan berdetak dengan sangat cepat mendengar ungkapan perasaan Hemi. Berlahan kebisingan di sekelilingnya terdengar semakin kuat, tanpa disadarinya pegangannya pada tangan Hemi mengendur dan akhirnya lepas. Hanya sisa tenaga di kakinya yang masih membuatnya tegak di hadapan Hemi.

“Hemi, aku-“

“jika kamu memang sahabatku, tanyakan pada teman-temanmu. Apa salahku sampai mereka menghinaku seperti itu. Setiap hari.” Tekan Hemi. “sejak awal sekolah kamu sudah memperingatkanku untuk tidak berada dekat denganmu ataupun membuat orang lain tau kalau kita sudah bertetangga dan kenal sejak kecil, apa aku begitu memalukan buatmu? Kamu sudah memintaku untuk menjauh, jadi tidak ada pentingnya lagi untukmu jika aku sakit atau tidak. Jadi apa yang harus aku sampaikan padamu secara langsung? Aku tidak punya apapun yang harus aku sampaikan. Aku tidak kenal denganmu.”

Jaehwan masih dibawah pengaruh kekagetannya dengan ungkapan perasaan Hemi. Dia mengangkat kepalanya dan melihat  gadis itu mundur beberapa langkah. Hanya dari bentuk pipi Hemi yang tidak sechubby sebelumnya, dia bisa melihat seberapa besar perubahan Hemi dalam waktu singkat. Dia melihat Hemi menyunggingkan senyum manis di wajahnya yang pucat. Gadis itu membungkuk sesaat kearahnya.

“terima kasih karena sudah menjagaku selama ini. Meskipun begitu, aku minta maaf karena sudah merepotkanmu dan meninggalkan semua kegaduhan ini untukmu sendiri. Selamat tinggal Jaehwan-ah”

 

Tepat disaat Hemi menuruni tangga, bel masuk berbunyi  dan jam istirahan berakhir. Dia tidak bisa seenaknya meninggalkan sekolah dan menyusul Hemi. Dia memerlukan prestasi yang baik untuk bisa masuk ke universitas yang sama dengan yang diinginkan Hemi. perdebatan terjadi dalan kepalanya apakah dia harus masuk kedalam kelas atau menyusul Hemi secepat mungkin.

‘masih ada dua hari lagi sebelum dia pergi, Jaehwan. Kamu masih punya kesempatan untuk memperbaiki semuanya.’ batinnya.

“Jaehwan. Kamu tidak masuk?” Dongbae bertanya padanya yang masih berdiri kaku ditempatnya. Tanpa melihat dan mempedulikan teman-temannya dia masuk kedalam kelas dan duduk tanpa melakukan apapun. Dia sedang tidak ingin bicara dengan siapapun.

 

 

Hari sudah mulai senja saat dia tiba dirumahnya, berniat sehabis mandi dia akan langsung mendatangi rumah kediaman keluarga Son untuk menemui Hemi.

“dongsaeng-ah.” Dia baru akan keluar rumah saat Junghee memanggilnya dari arah ruang tengah, “kamu mau kemana?”

“rumah Hemi.” jawabnya singkat.

“buat apa? Keluarga Hemi sudah pindah siang tadi.”

Sontak dia menghampiri Junghee yang sedang membaca majalah. “apa? Bukankah mereka akan pindah akhir minggu ini?”

Junghee mengangguk, “tapi mereka mempercepatnya karena dari yang aku dengar akhir minggu paman Byunghee harus sudah berangkat ke Jepang jadi mereka bilang daripada menunda lebih baik dipercepat lagipula Hemi sudah dapat surat pindahnya. Dengar-dengar juga kakek dan nenek Hemi akan membawanya untuk sekolah di Irlandia.”

“apa?!” Junghee terlonjak kaget saat Jaehwan yang semula duduk disampingnya mendadak berdiri sambil berteriak. “untuk apa dia sekolah diluar negeri, dia tidak sepintar itu sampai harus sekolah diluar negeri.”

“YA! Kamu mengagetkanku.” Junghee berteriak memarahi adiknya. “tapi dia memang pintar. Dia lebih jenius darimu. Hanya kamu yang tidak tau kalau dia menolak untuk loncat kelas dua tingkat karena menghargai harga dirimu sebagai seorang ‘oppa’. tapi kamu malah memperlakukannya seperti itu.” Junghee kembali membalik-balikkan lembaran majalahnya. “kalau tidak salah kakeknya yang seorang profesor disalah satu universitas di Irlandia akan mengajukan percepatan pendidikan untuk Hemi biar dia bisa langsung ikut ujian masuk universitas lebih cepat.”

Dia melihat Junghee dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana bisa dia tidak tau kalau Hemi sepintar itu. Loncat kelas? Jika dia mengambilnya maka mereka pasti akan berada pada tingkat kelas yang sama. Jaehwan kembali duduk disamping kakaknya. “dia pasti benar-benar benci padaku sekarang.” gumamnya.

“kalau aku jadi Hemi, mungkin aku sudah menghajarmu dengan jurus bela diri.” Balas Junghee tanpa mengindahkan perasaan Jaehwan yang bingung saat ini. “kamu bahkan tidak tau kalau beberapa minggu belakangan ini dia sering dibawa kerumah sakit, benarkan?”

“Hemi sakit?” tanya Jaehwan dengan nada kaget.

Junghee mengangguk tenang, “Eomma dan Appa tidak mau memberitahu kita, tapi aku tau.”

“sakit apa? Hemi-“

“entahlah, aku sudah coba bertanya beberapa kali pada Hemi tapi anak itu selalu menjawabku kalau dia baik-baik saja dengan wajah ceria seakan tidak terjadi apa-apa, dan itu membuatku kesal. Kamu tau, tubuhnya bahkan tidak sechubby dulu. Mungkin berat badannya turun sampai 10 kilo.” Sesaat setelah mengatakan itu Junghee mendadak menutup majalahnya dengan keras, “Astaga. Kalau dia benar-benar turun 10 kilo dan kalau turun 7-10 kilo lagi,-“  dengan mata berseri-seri dia menoleh kearah Jaehwan, “oh, Hemiku pasti akan jadi gadis yang cantik sekali.”

“apa yang noona bicarakan sebenarnya?” bukannya mendapatkan jawaban yang diinginkan, dia malah melihat Junghee membuka kembali majalahnya sambil bernyanyi-nyanyi kecil.

 

Jaehwan menatap kosong kedepan tanpa bisa melakukan apa-apa. Pikirannya mendadak kosong mengetahui kepindahan keluarga Son yang dipercepat. Sambil mengacak-acak rambutnya dia melepaskan rasa frustasinya sementara saat melirik Junghee yang masih bernyanyi-nyanyi kecil sambil menggoyangkan kakinya yang terlipat semakin membuatnya kesal. Hemi, apa yang harus aku lakukan sekarang…aku bahkan tidak punya kesempatan untuk mengatakan penyesalan atas rasa bersalahku.

 

** END **

11 thoughts on “[oneshot] A Chance to Say-

  1. ommo.. jaehwan lemot banget si g langsung bertindak bt mencegah kepergian hemi..? bener” terlalu jaehwan. beneran deh klo jd hemi aku jg bkln bersikap gitu.. poor hemi.. -____-“

  2. Baru nemu FF yang cast utama namjanya lemoooot macem Jaehwan sampai akhir, Thor!! Bener deh ini geregetan nungguin Jaehwan speak-up ah teryata…………sesuai dengan judulnya lah ya… a chance to say 😀

    GREAT THOR!!

  3. KENAPA? ;;;A;;; kenapa endingnya gantung thor?? jaehwan lola deh, gemes bacanya. aku ga mau tau, pokoknya hrs ada sequelnya :v plis u,u

  4. bagus thor cara alur ceritanya (y) gregetan liat jaehwannya :3 kagum sama sikapnya hemi yang sabar dan tenang :’)
    masih ngegantung nih thor Sequel please ^^

    • makasih 🙂
      oneshot keduanya juga udah ada kok. 2nd Chance 1st confession. silahkan dibaca,
      untuk sekuelnya masih setengah jalan… 🙂

Leave a Reply to princess_ai Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s