[Oneshot] Taxi Cab

taxi-cab

Taxi Cab

written by bluemallows

Main Cast: Infinite’s Kim Myungsoo & f(x)’s Jung Krystal || Genre: Romance, Life, Crime || Length: One-Shot || Rating: PG-16 || Disclaimer: The plot is completely mine || Credit Poster: Kihyukha

 

            Soojung

Angin musim gugur bertiup cukup kencang malam ini, bahkan pohon-pohon di sekitar bandara sudah mulai menggugurkan daun-daun kecokelatannya. Aku kembali merapatkan jaketku dan melipat tangan di dada. Jarum pada jam tanganku telah merayap pada pukul setengah dua belas malam dan masih belum ada taksi yang kutemukan. Pelajaran yang kudapatkan hari ini: tidak memesan taksi bandara adalah kesalahan besar. Beberapa taksi sudah lewat di hadapanku, tetapi selalu saja ada penumpang di dalamnya. Mungkin masuk ke dalam subway adalah ide bagus, tapi stasiun sudah jauh kutinggalkan di belakang.

Kembali kuulurkan tanganku sambil sesekali berjinjit untuk melihat apakah ada taksi yang datang. Aku mencuri pandang ke arah arlojiku, keempat kali dalam dua menit ini. Aku tidak terbiasa dengan atmosfir ini: bau jalanan tengah malam yang membuat bulu kuduk berdiri, angin musim gugur yang bertiup kencang, dan menunggu sendirian. Hingga pada akhirnya mobil sedan berwarna kuning melambat dan menepi di bahu jalan tempatku berdiri. Aku dapat merasakan otot-otot wajahku tertarik karena kedua sudut bibirku yang terangkat. Senyum lega untuk satu taksi.

Aku menyeret koper kecilku dan membawanya masuk ke dalam mobil. “Kemana tujuanmu, Nona?” Sopir taksi itu bertanya padaku dengan nada bersahabat. Mataku sempat terarah pada spion dan melihat iris cokelat milik sopir itu yang berkilat-kilat.

“Apartemen di daerah Gangnam-Gu,” sahutku pelan, seharusnya aku ingin menambahkan cepat, aku tidak mau ketakutan pada malam pertamaku di apartemen baru. Tapi, aku mengurukkan niatku karena taksi itu segera melaju kencang melewati gedung-gedung tinggi dan lampu-lampu jalanan yang hanya terlihat sekelebat pandangan.

“Kau baru datang ke Korea, Nona?”

Aku mendesah pelan dan menggumam, “Mm-hmm.” Kurasa itu bukan hal yang perlu dibicarakan dengan orang asing, apalagi seorang supir taksi, apalagi seorang laki-laki. Sebenarnya aku punya pengalaman buruk dengan spesies bernama laki-laki. Tapi aku berusaha untuk tidak memikirkannya, sungguh, aku masih memiliki ketakutan tersendiri dengan mereka.

“Apa kau keberatan jika kunyalakan radionya?”

Lamunanku buyar. “Tidak masalah.”

Sayup-sayup radio itu mulai memutar lagu dari Teitur, One and Only. Dua minggu lalu kakakku—Jessica—menikah dan memainkan lagu ini lewat stereo besar dalam gedung pernikahannya. Semalam sebelum hari pernikahannya, kami tidur di ranjang susun kebanggaan kami sejak kecil yang kini bahkan sudah hampir tidak cukup untuk ukuran tubuhku.

“Soojung,” Bisiknya dari ranjang susun bawah. “pernahkah kau berpikir tentang seseorang yang akhirnya akan menjadi one and only-mu?”

Pertanyaan bodoh. Dia sudah tahu tentang traumaku dan ia masih menanyakan tentang hal yang berhubungan lekat dengan laki-laki—tentu saja, aku bukan lesbian. “Entahlah.” Tapi harus kuakui, pada saat yang sama aku dapat melihat sosok laki-laki bertubuh tegap dan mata yang terus memandang lurus dengan tatapan kosong, Myungsoo.

Kim Myungsoo, namanya. Aku mengenalnya sejak tahun pertama SMA, teman seangkatan yang menyelamatkanku dari hukuman kakak kelas saat ospek. Pertama, kuanggap ia sebagai kakak laki-laki yang pulang berjalan kaki hingga stasiun dan berpisah pada tujuan subway yang berlawanan. Kedua, aku menganggapnya sebagai sahabat, lebih dari Jinri yang mengajakku berbelanja di mall, aku dan Myungsoo menghabiskan akhir pekan dengan menonton televisi hingga larut di apartemennya atau di rumahku.

Rem taksi berdecit begitu kencang hingga mengacaukan semua ingatanku tentang Myungsoo. Taksi itu telah membawaku keluar dari jalur bebas hambatan dan berhenti pada lampu merah traffic light. “Kau mengagetkanku,” Ujarku pada sopir taksi itu.

Laki-laki itu tertawa getir dan membuatku merinding. “Itu belum seberapa,” ucapnya lirih. Dan saat lampu merah belum berganti, ia sudah mengganti kopling dan menginjak gas hingga kecepatan maksimum semampunya. Entah berapa rambu lalu lintas yang dilanggarnya, ia tetap tidak berhenti menginjak pedal gasnya.

“Hei! Hentikan taksinya!” Pekikku ketika laki-laki itu menyetir secara gila-gilaan di tengah jalanan kota Seoul. Ia memukul-mukul kemudi untuk membunyikan klakson secara beruntun hingga memaksa kendaraan-kendaraan lainnya menyingkir. Aku dapat melihat petunjuk jalan menuju daerah Gangnam, dan sopir taksi sialan itu berbelok ke arah berlawanan. “Mau kau bawa ke mana aku?!”

Aku mencoba meraih kopling dan menghentikan laju mobil, namun sia-sia. Tubuhnya terlalu besar dan menghalangiku untuk meraih kemudi. Hingga pada akhirnya ia berbelok tajam ke kiri dan menabrak toko kelontong yang sudah tutup. Sesaat sebelum kami menabrak, aku berteriak histeris. Dan semuanya menjadi gelap.

            Myungsoo

Aku mengerjap-ngerjapkan mataku dan mendapati lampu neon bersinar terang menyilaukan mataku. Aku tetap diam dalam posisiku—berbaring dan kepalaku terasa berputar-putar.,  namaku Kim Myungsoo, usia 27 tahun, sopir taksi gelap, dan.. aku tidak punya identitas lagi selain itu sebenarnya. Jadi kesimpulanku saat ini adalah; aku tidak hilang ingatan lagi, dan aku tidak tahu di mana aku berada.

Sepuluh tahun lalu, aku sempat mengalami kecelakaan yang membuatku kehilangan seluruh ingatanku. Aku tidak mengingat apapun dan dari sana aku memulai kehidupan dari awal. Bagaimana cara berjalan, cara menghitung, cara menulis, tata krama. Tidak ada yang tahu penyebab hilang ingatanku, mereka hanya tahu aku terbaring di salah satu gang di sudut kota Seoul dengan kepala yang berdarah-darah. Selama inilah aku mencoba menebak-nebak cara otakku bisa kehilangan semua memorinya, mungkin ada yang tidak sengaja menjatuhkan pot bunga di atas kepalaku atau ada yang memukul kepalaku sangat keras dengan tongkat baseball, dan sebagainya.

Otakku berusaha mengumpulkan kesadarnku kembali hingga utuh hingga mataku menangkap selang infus yang tertanam pada pergelangan kiriku. Jemari kananku mulai menelusuri wajahku dan mendapati perban yang dibebat di sekitar kepalaku. Astaga, apa yang barusan kulakukan hingga aku terbaring di tempat ini lagi? Pasti ini semua karena perintah konyol Sunggyu lagi.

Mungkin setelah kejadian ini Sunggyu akan mencuci otak kemudian mengeluarkanku dari bisnis gilanya tentang perdagangan perempuan itu. Dan itu artinya aku akan segera menjadi sopir taksi ‘reguler’ yang setiap harinya berjuang mencapai target yang telah ditetapkan.

Dreeet! Dreeet!

Bunyi yang memekakakkan telinga itu berasal dari ranjang sebelah yang terpisah dariku oleh tirai besar dan tebal. Beberapa detik kemudian, suara hentakan sepatu pantofel terasa kian nyata dan keras hingga akhirnya berhenti di ranjang sebelah yang tidak terlihat olehku. Instingku berkata bahwa orang yang membunyikan bel-pemanggil-suster itu adalah gadis yang akan kubawa kabur tadi.

Samar-samar terdengar percakapan antara dua orang gadis yang kuyakini sebagai korban penculikanku yang gagal tadi dengan seorang suster. Beberapa menit berlalu dengan perdebatan-perdebatan yang seru entah tentang apa antara pasien dan suster itu. Hingga akhirnya suara pantofel milik suster itu kembali terdengar dan tangan mungilnya menyibakkan tirai.

“Kau sudah sadar, rupanya.”

Aku bergumam samar untuk menjawabnya.

“Ini sudah malam kedua sejak kau mengalami kecelakaan itu. Mungkin besok polisi akan datang untuk menemuimu dan gadis di sebelah itu.”

Kepalaku hanya mengangguk kecil—begitu kecil hingga aku tidak yakin suster itu dapat melihatnya. “Bagaimana keadaan gadis itu?”

Wanita muda itu mendesah panjang. “Dia kasihan sekali, ia kehilangan ingatannya. Bahkan nama saja ia kesulitan untuk mengingatnya.” Suster itu menaikkan clip board yang melorot dari dadanya. “Lebih baik kau tidur dan beristirahat lagi. Ini masih jam dua pagi.” Ia segera berlalu dan meninggalkanku. Sungguh tidak melaksanakan tugas dengan baik, ia bahkan tidak menanyakan aku hilang ingatan atau tidak. Padahal, aku yang ada di depan dan aku yakin kecelakaan yang lebih parah justru menimpaku. Tapi, perasaan senang menyempil di hatiku, setidaknya gadis itu hilang ingatan dan tidak bisa menyebarkan berita buruk tentang penculikannya kemarin.

Aku bangkit dari ranjang dan mencoba bernafas dengan bebas. Rasanya tidak nyaman berada di tempat dengan atmosfir yang kelam seperti ini. Hatiku, tubuhku, dan pikiranku, semuanya sudah terkontrol untuk membenci rumah sakit. Tangaku memindahkan tiang penyangga infus menjadi di sampingku dan menyeretnya mendekat pada tirai pemisah ranjangku dengan korbanku.

Gadis dengan rambut panjang yang terurai di atas tubuhnya itu terkulai lemah di atas ranjang dengan tatapan lurus ke depan. Dadanya kembang kempis secara cepat dan tidak beraturan. Tangannya mencengkeram kuat kertas dan bolpoin di atas perutnya. Kulitnya putih pucat dan terlihat lingkaran hitam di sekitar matanya. Selama detik-detik berlalu, mataku terus terpaku padanya, hingga akhirnya ia menoleh ke arahku.

“Myung.. Myungsoo..” Bisiknya lirih sambil bangkit dari ranjangnya.

            Soojung

Aku sudah bangun dari setengah jam yang lalu, tetapi hingga kini tidak ada secercah ingatan pun yang menempel pada otakku. Siapa aku? Dimana aku? Apa yang terjadi barusan? Ini benar-benar mimpi buruk. Aku mendapati selang yang terhubung dengan tabung plastik yang digantungkan di tiang sebelah ranjangku masuk menembus kulitku, dan perban yang membebat tangan kananku. Kuputuskan untuk menekan tombol di sebelahku yang menyebabkan bel berbunyi dan seorang suster masuk untuk menemuiku.

“Hai, ada masalah apa?” Ia tersenyum ramah kepadaku dan menaikkan clip board yang melorot dari pegangannya. Sepatu pantofel warna cokelatnya melangkah mendekat ke samping ranjangku.

Jemariku segera meremas pergelangan tangannya kuat-kuat. “Siapa aku?”

Raut wajah perempuan itu spontan berubah melihat reaksiku. Tetapi ia segera meredamnya dengan memasang senyum simpul pada wajahnya. “Namamu,” Ia melirik ke dalam tulisan yang tercetak dalam kertas di atas clip board miliknya. “Jung Soojung, Nona.”

Aku dapat merasakan dahi berkerut ketika mendengar nama asing itu. “Jung.. Soojung? Itu namaku?”

Kedua pupil suster itu membesar. “Nona.. Anda kehilangan ingatan anda?”

“Hilang ingatan?” Aku mengerjap-ngerjapkan mata dan tertawa getir. “Tidak, tidak mungkin aku hilang ingatan, kan?” Jemariku tidak lagi mencengkeram pergelangan tangan suster itu.

Suster itu berdeham. “Berapa umurmu, Nona?”

Aku memejamkan mata, berusaha untuk mengingat-ingat berapa umurku. Tetapi tidak ada angka yang dapat mendefinisikannya. “Tujuh belas.. mungkin?”

Ia kembali melihat clip board-nya dan memeriksa sesuatu di sana dan kemudian meringis. “Apa hal terakhir yang anda ingat?”

Kedua gigi seriku menggigit bibir bawahku dan neutron-neutron otakku berusaha menyambung satu sama lain untuk mendapatkan informasi tentang hal terakhir yang kuingat. Tetapi itu justru membuat kepalaku berdenyut kencang.

“Tidak usah memaksakan, kau bisa menuliskan di sini jika ada hal yang kau ingat.” Ia memberikanku selembar kertas dan bolpoin. “Kau bisa beristirahat sekarang, ini sudah pukul dua pagi.” Ia pun berlalu dari hadapanku dengan meninggalkan senyum manis.

Aku berusaha untuk tidak memaksakan otakku berpikir keras tentang apa yang kuingat. Jadi, aku hnya menatap lurus ke depan sambil berharap tiba-tiba ada satu kejadian yang terlintas di otakku. Itu saja, tanpa berharap lebih. Kemudian aku menuliskan satu kalimat di sana: “Aku belum mengerjakan PR matematika.”

Beberapa waktu ketika keheningan kembali merayap dan suara jarum jam yang terus berputar mendominasi sumber suara, aku menoleh ke kanan dan mendapati seorang laki-laki bertubuh jangkung, rambut berantakan, perban yang melingkari kepalanya, piyama rumah sakit, dan selang infus di tangannya. Ketika kedua manik matanya menatapku lekat, aku balas menatapnya. Iris cokelat dan mata sipitnya terkesan begitu familiar. Tanganku menyangga tubuhku yang hendak bangkit tanpa melepaskan pandangan dari laki-laki itu. Hingga pita suaraku bergetar dengan sendirinya. “Myung.. Myungsoo..”

Entah apa yang mendorongku untuk melakukannya, aku tiba-tiba menyeret tiang penyangga tabung infusku dan melangkahkan kaki di atas ubin dingin rumah sakit tanpa alas kaki dan merengkuh tubuh pria itu. Otakku tidak mengingat siapa dirinya, tapi hatiku ingat. Sesosok yang bahkan tidak bisa kudeskripsikan hubungannya denganku.

Perlahan laki-laki itu mendorong tubuhku dan melepaskan lingkaran tanganku pada tubuhnya. “Siapa kau?” Dadaku berdesir ketika menatap wajahnya dari dekat. “Apa aku mengenalmu?”

Kakiku melangkah mundur. “Jangan pura-pura bodoh, Myung,” Kemudian, aku melanjutkan. “Kau pasti lagi-lagi menyelamatkanku, bukan?”

“Menyelamatkanmu apanya?” Air wajah Myungsoo tidak dapat kutafsirkan maksudnya. Entah itu marah, bingung, atau raut wajah mengantuk?

Serpihan-serpihan memori tiba-tiba mendesak masuk ke dalam otakku secara beruntun hingga aku tidak dapat menahan kepalaku yang rasanya hampir meledak. Bisa kurasakan rumah sakit itu berguncang dan sentuhan tangan Myungsoo yang membantuku berbaring ke atas ranjang dan meninggalkanku.

Butuh beberapa waktu yang terlalu untuk meredakan rasa sakit hebat yang melanda kepalaku barusan. Namun beberapa saat kemudian, aku dapat menuliskan sederet ingatan yang menerobos masuk ke dalam otakku di atas kertas yang kini sudah lusuh karena tertindih badanku tadi.

1. Aku belum mengerjakan PR Matematika

            2. Namaku Jung Soojung

            3. Usiaku tujuh belas tahun

            4. Pacarku bernama Kim Myungsoo

            5. Barusan ada sekelompok laki-laki dengan tubuh kekar yang nyaris membawaku pergi, dan aku yakin Myungsoo yang menyelamatkanku.

            6. Pasien di sebelahku, dia pasti Myungsoo.

Aku melipat kertas itu dan meletakkannya di sebelah vas bunga di atas laci sebelah ranjangku. Tekadku sudah bulat, aku kembali bangkit dari tempat tidur, membiarkan kakiku menginjak ubin rumah sakit dan mengintip di balik tirai yang memisahkan aku dan Myungsoo.

Aku dapat melihat Myungsoo meringkuk membelakangiku. Bahkan dari model rambut belakangnya, aku sudah jelas tahu dia Myungsoo. Aku yakin aku tidak akan salah menebak. Tanganku terulur dan membelai rambut hingga dagunya—merasakan ada rambut-rambut kecil yang belum tercukur. Tetapi kepalanya segera berbalik dan membuatku menarik tangan cepat-cepat dan menyembunyikan di belakang punggungku. Sungguh, aku seperti anak berusia lima tahun yang ketahuan diam-diam makan cokelat.

“Tidak kau mendengarkan perkataan suster tadi? Ini sudah jam dua pagi dan sebaiknya aku dan kau beristirahat.” Ia membalik badan menjadi berhadapan denganku.

Nafasku berhembus panjang dan tanganku menyibakkan tirai warna putih bersih yang memisahkan dua ranjang kami kemudian berbaring di ranjang milikku, dan berguling ke kanan. “Kau tidak mengingatku?”

Lelaki itu kembali membuka matanya. “Siapa yang hilang ingatan? Kau atau aku?”

Barangkali ia berpikir itu dapat membungkam mulutku. Tapi tidak, aku tetap berbicara. Aku yakin dia menyembunyikan sesuatu dariku. “Kalau aku yang hilang ingatan, bagaimana aku bisa mengingat jika aku belum mengerjakan PR matematika? Aku juga yakin, kau pasti belum mengerjakannya. Iya, kan?”

“Kau pikir berapa umurku? Aku sudah lulus kuliah, Bodoh.” Dan ia berguling lalu membalik badannya membelakangiku. Myungsoo tampak lebih kurus dari terakhir kali aku melihatnya kemarin, dalam ingatanku pipinya lebih tambun dan tubuhnya lebih besar. Tapi kini, aku bahkan bisa melihat tulang belakangnya mencuat di punggungnya.

Sekali lagi, aku menghela nafas dan berbalik badan membelakangi Myungsoo. Kupejamkan mataku dan kuharap aku segera tertidur.

            Myungsoo

Aku memutar posisi tidurku dan melihat gadis yang tiba-tiba bisa mengetahui namaku itu. Ia tidur meringkuk di balik selimut dengan rambutnya yang sama sekali tidak tertata dan menutupi sebagian wajahnya. Kakiku melangkah turun dan berjalan tertatih-tatih menuju ranjang gadis itu.

Di ranjang tempatnya berbaring terdapat papan yang tergantung dengan tulisan dari spidol.

Nama              : Jung Soojung

            Usia                 : 26 tahun

            Diagnosis        :

            Dokter             :

            Aku melihatnya terpejam dan bernafas dengan teratur, sama seperti aliran infus yang masuk ke dalam tubuhnya maupun tubuhku. Pandanganku terfokus pada kertas lusuh di atas laci sebelah ranjangnya dengan tulisan hangeul yang kecil dan rapi.

Sekali aku tertawa sekilas. Bagaimana mungkin seorang gadis dua puluh enam tahun masih menyimpan PR matematika yang belum dikerjakannya? Dahiku berkerut ketika aku melihat tulisan yang menyatakan bahwa usianya tujuh belas tahun. Itu hampir sepuluh tahun yang lalu.

Dia gila, bahkan ia menuliskan namaku sebagai pacarnya. Kualihkan kembali fokusku pada gadis itu. Ia tidak memiliki balutan perban di manapun, tetapi aku yakin kepalanya terbentur terlalu keras hingga tidak dapat berpikir dengan benar. Sekali lagi, aku membaca baris-baris tulisan tangan itu dengan seksama, menerka-nerka dibagian manakah gadis itu meninggalkan pesan untuknya, mungkin.

“Apa yang kau lakukan dengan kertasku?”

Spontan aku melepas peganganku dari kertas lecek dan meletakkannya kembali di atas laci. Jung Soojung, masih dengan posisi tidur yang sama, membuka matanya dan menatapku. Sejenak ia bangun dan duduk di atas ranjangnya. “Kau masih tidak ingat jika aku adalah Soojung?”

Telingaku mendekat untuk mendengar perkataan gadis itu. “Tapi aku bahkan tidak mengenalmu,” aku berdeham. “dan ngomong-ngomong, umurmu dua puluh enam, bukan tujuh belas lagi.”

“Sungguh, aku tidak mengerti,” Ia menyelipkan jemari panjangnya di sela-sela rambutnya kemudian memeluk kedua kakinya. “mereka berkata aku hilang ingatan, tetapi kenapa aku bisa mengingat ini semua?” Tangannya meraih kertas dengan tulisan tangannya dan mengacungkannya padaku.”

Bola mataku berputar dan aku memutuskan untuk duduk di ujung ranjang rumah sakit bagiannya tanpa menimbulkan suara. “Barangkali kau hanya ingat kejadian di masa remajamu yang penuh dengan cinta-cintaan itu,” ucapku asal sambil menjulurkan lidah padanya. “atau kau terlalu terobsesi untuk kembali menjadi anak SMA.”

Gadis itu diam, begitu pula aku. Ia menatapku, dan aku menatapnya. “Kupikir kau benar, aku hanya ingat kejadian masa remajaku,” kemudian ia tertawa. Sungguh, dia aneh. Ia melepaskan pelukannya dari kakinya dan meraih tanganku. “Kau.. Kim Myungsoo, kan?” Garis matanya menurun, menatapku sedih.

“Ya. Tapi aku tidak yakin aku mengenalmu, Nona.”

“Berhenti memanggilku seperti itu seakan kau tidak pernah mengenalku sebelumnya.” Matanya berkaca-kaca dan jemarinya meremas pergelangan tanganku. “Myungsoo, kau yang menyelamatkanku, bukan?”

Aku berusaha melepaskan pegangan tangannya dan menggeser tempatku duduk menjadi lebih jauh darinya. Menciptakan jarak antara aku dan gadis itu. “Sungguh, tapi aku tidak tahu apa-apa.” Aku menatap mata cokelatnya, seakan ia menyimpan rahasia di dalamnya. “Tapi jika kau mau bercerita tentang sesuatu yang kau ingat.. aku tidak keberatan.”

Segaris senyum menghiasi wajah pucat Jung Soojung. “Aku hanya mengingat sebagian kejadian, sih. Sepulang sekolah, aku dan kau berjalan di daerah sekolah, kemudian sekelompok orang dengan pakaian serba hitam datang—“ Ia menundukkan kepalanya dan mengangkatnya kembali. “mereka seperti akan menangkapku, tetapi kau berusaha melindungiku, dan mereka menyerangmu. Memukulmu dengan pemukul baseball di sekitar sini,” Tangannya meraba bagian belakang tulang tengkorakku kemudian kembali melepaskannya.

Aku memegang bagian belakang kepalaku dan dapat merasakan bekas jahitan di sana yang membuat rambutku tidak tumbuh di bagian sana.

“Masih sakit?”

Kepalaku menggeleng. “Ini karena kecelakaan sepuluh tahun yang lalu dan membuatku hilang ingatan.” Aku menyengir kepadanya. “Sudah, lanjutkan ceritamu.”

“Aku tidak mengingat apapun lagi.” Ia mendesah pelan diikuti dengan tangannya yang meraih gelas air di sampingnya dan meneguknya. “Kau.. tidak mengingatku?”

Kembali aku menggeleng. “Sayangnya tidak, Nona.” Aku turun dari ranjang rumah sakit dan memegang besi penyangga infusku. “Kurasa kita hanya pernah bertemu di kehidupan sebelumnya.” Kemudian aku menutup tirai yang memisahkan kami dan tidur di atas tempat tidurku.

            Soojung

Aku melihat Myungsoo menarik tirai dan menaikkan kepalanya seakan mengucapkan ‘selamat tinggal’ untukku dan kembali ke atas ranjangnya. Tanganku meraih kembali kertas yang diberikan suster tadi dan menambahkan satu tulisan di sana. 7. Aku mencintai Kim Myungsoo lebih dari apapun. Kemudian aku memejamkan mataku dan tertidur.

            Myungsoo

Matahari yang menerobos masuk membuatku terbangun dari tidurku semalam. Mataku memandang lurus ke atas di mana kipas angin berputar hingga menimbulkan suara yang agak menakutkan seolah kipas itu akan jatuh menimpaku.

“Hai, sudah bangun?” Suster kemarin yang bertemu denganku sibuk dengan tabung infusku yang sudah habis. “Hari ini polisi akan datang, dan kurasa kau sudah tidak membutuhkan infus lagi. Keadaanmu cepat sekali pulih.”

Aku hanya membalas dengan senyum, paling tidak itu yang bisa kulakukan sambil memikirkan cara untuk kabur dari polisi. Suster itu melepas plester yang menutupi jarum infus yang tertanam pada pembuluh darahku. “Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan Jung Soojung?”

Suster itu mengendikkan bahu. “Entahlah, ia seolah kehilangan seluruh ingatannya. Padahal ia menuliskan tujuh hal yang diingatnya semalam. Kami hanya bisa menunggu dokter memeriksa keadaannya nanti.”

Aku mengangguk-anggukkan kepala. “Hei, dimana kau letakkan barang-barangku?”

Ia menggulung selang infus yang telah dikeluarkan dari tanganku dan menunjuk laci di sebelah ranjangku. “Baju dan jaketmu sudah kulipat rapi di dalam sana.”

“Hm, oke. Kau bisa meninggalkanku sekarang.”

Seulas senyum tersungging pada wajah perempuan muda dengan baju serba putih itu sebagai formalitas, membungkukkan kepala, dan pergi berlalu meninggalkanku. Kakiku kembali turun menyentuh tanah dan mencari-cari sandal selop bertuliskan nama rumah sakit ini di sol sandal itu dan membuka tirai pemisah antara aku dan Jung Soojung.

Kepalanya langsung menoleh ke arahku ketika suara tirai terdengar jelas terbuka. Kulitnya masih pucat, wajahnya tirus dan jemari panjangnya saling bertaut—kurang lebih sama seperti keadaannya kemarin malam. Hanya saja kilatan matanya berbeda, kemarin ia menatapku seolah telah mengenalku begitu lama, dan kini hanya ada sorot kosong yang terpancar dari iris cokelatnya.

“Hai, Nona Jung?”

Matanya masih menatapku curiga dan mengambil beberapa helaan nafas hingga akhirnya ia bangun dan duduk, masih tanpa melepas pandangan padaku. Sesungguhnya, aku merasa terganggu ketika orang menatapku seperti ini, tapi aku balas saja menatapnya. Tangannya terulur. “Jung Soojung, kau?”

“Kim Myungsoo. Bagaimana keadaanmu?”

“Seperti inilah keadaanku.” Ia jauh berbeda dengan ia yang kemarin. Bersikap begitu tenang ketika bertemu denganku, tersenyum simpul yang sedikit dipaksakan.

Kurasa tidak ada hal lain yang dapat kubicarakan dengannya. Ia tidak mengingatku, dan aku tidak tahu apapun tentangnya dan ‘Kim Myungsoo’ yang dimaksudnya semalam. Kakiku melangkah menuju jendela dan membukanya. Kami berada di lantai satu. Rasanya cukup besar untuk aku bisa keluar lewat sana.

Aku berbalik dan menatap Jung Soojung, mendapati matanya masih bertahan padaku. Aku membungkukkan tubuhku sebagai tanda berpamitan untuk kembali ke wilayah asliku dan segera membuka laci di samping ranjangku untuk mengambil baju dan jaketku dan meluncur menuju kamar mandi untuk berganti pakaian. Dengan bergerak cepat aku menuju jendela sebelah ranjang Soojung dan mengambil ancang-ancang untuk melompat keluar.

“Mau pergi kemana?” Soojung masih duduk di ranjangnya dan menatap segala gerak-gerikku.

“Pulang.” Sahutku asal. Entah aku hendak pulang kemana, mungkin ke rumahku yang sudah tidak terurus lagi, atau ke rumah besar milik Sunggyu.

“Oh, kita akan bertemu lagi?”

Aku mengendikkan bahu dan melompat keluar jendela. “Entahlah.”

Ini sudah seminggu sejak aku kabur dari rumah sakit demi menghindari polisi. Jari telunjukku menekan berulang kali tombol bel rumah Sunggyu hingga sosok seorang laki-laki dengan kantung mata tebal karena kurang tidur itu nampak. “Oh, kau datang juga akhirnya. Bagaimana tentang gadis yang mengalami kecelakaan saat kau bawa kemari?”

Tubuhku menerobosnya dan masuk ke dalam rumahnya untuk merebahkan tubuh di atas sofa. “Ck, aku gagal lagi.”

“Sudahlah, Myung, kurasa kau tidak cocok dengan pekerjaan keras seperti ini.” Sunggyu tertawa tanpa beban dan duduk di sampingku. “Kau mau minta berapa won sebelum kau kukeluarkan?”

Aku sudah bisa menebak perlakuan Sunggyu ini. Ia pasti mengeluarkanku. Jika dilihat dari wajahnya yang jauh bersinar lebih terang ketimbang sebelumnya, itu berarti ia sudah berhasil menjual gadis-gadis itu ke luar negeri. Berapapun yang kuminta, Sunggyu akan memberikannya padaku dengan syarat untuk tutup mulut tentang bisinis besarnya ini. “Aku tidak akan meminta uang, aku hanya ingin meminta bantuanmu.”

“Kau terlalu naif, Myung,” Tawa Sunggyu meledak. “Bantuan apa yang kau minta?”

“Pergilah ke rumah sakit, tanyakan tentang Jung Soojung. Mengakulah sebagai saudaranya. Tidak sulit, bukan?”

Sunggyu tersenyum mengejek. “Mengapa kau tidak meminta sesuatu yang bisa menjamin masa depanmu? Itu hanya permintaan bodoh, Myungsoo.”

“Tolong, Sunggyu, lakukan saja.” Aku bangkit berdiri dan menatap tajam Sunggyu. “Atau aku akan melaporkan bisnis ini pada polisi.”

Laki-laki itu akhirnya ikut bangkit berdiri. “Oke, oke, akan kulakukan.”

Malam itu, Sunggyu kembali ke rumahnya dengan membawa Soojung. Gadis itu dapat dengan santai mengikuti Sunggyu masuk ke dalam penjara yang akan segera menjadi akhir dari hidupnya. Betapa bodohnya gadis itu.

“Hai,” Sapaku sambil meletakkan kaleng bir yang sudah sepertiga habis kuminum.

Gadis itu tersenyum manis. Penampilannya tidak berubah sama sekali—rambut panjang yang tergerai dan kulit pucat yang menutupi tulang-tulangnya. “Jung Soojung, kau?” Ia mengulurkan tangannya ke arahku.

“Kim Myungsoo,” Aku melirik ke arah Sunggyu yang mendelik kepadaku. “Sepupu Sunggyu.”

Sunggyu mulai memasang senyum manisnya ke arah Soojung. “Pergilah ke kamar di ujung sana. Dulu kau sering tidur di sana jika kau berkunjung kemari.” Ia menunjuk kamar di paling belakang rumahnya. Soojung mengangguk dan menurut.

Ketika Soojung telah menghilang dibalik pintu kayu kamar itu, Sunggyu melepas senyumnya itu dan meraih kaleng bir dan segera meminumnya. “Hei, bagaimana kau bisa mendapatkan Soojung hingga kemari?”

“Ah, jangan bertindak seperti kau tidak mengenalku, Myung,” Tawa Sunggyu menggelegar memenuhi ruang tamu. Kemudian ia bercerita bagaimana ia mengaku sebagai kerabat jauh satu-satunya Soojung setelah mengetahui  bahwa gadis itu berasal dari San Francisco. Ketika dokter mengatakan bahwa Soojung akan selalu kehilangan ingatannya setelah ia tertidur, tekadnya semakin bulat untuk membawa Soojung pergi ke rumahnya. Entah untuk koleksi pribadi­-nya atau aset paling mahal yang ia miliki.

Sunggyu tertawa sekali lagi ketika selesai menceritakan krimintalitasnya padaku. “Dokter itu juga menceritakan tentang kau, Myung,” Ucap Sunggyu dengan nada yang jauh berbeda dengan sebelumnya. “Ia mengatakan bahwa kau dan Soojung diperkirakan memiliki masa lalu yang berhubungan.”

Kedua alis mataku terangkat. “Apa?”

“Polisi melacak tentangmu dan Soojung. Kejadian yang sempat heboh pada dekade kemarin, kejahatan kelompok mafia yang hendak seorang gadis dan menyiksa pemuda? Ingat?” Ujar Sunggyu sambil menatap mataku lekat-lekat. Aku hanya tahu berita itu setelah bangun dari koma sepuluh tahun yang lalu. Itu sudah sangat lama. “Gadis itu dicurigai adalah Soojung, dan pemuda itu adalah kau. Kau yang menyelamatkan Soojung dan mengorbankan ingatanmu.”

Fragmen ingatan tentang percakapanku dengan Soojung malam kemarin sepertinya saling berhubungan dengan kejadian yang diucapkan oleh Sunggyu. Meski aku tidak mengingatnya sama sekali.

“Aku tidak tahu itu benar atau tidak, tapi kuperingatkan kau, Myungsoo,” Telunjuknya terangkat dan mengarah padaku. “jangan sekali-kali kau berani menyentuh Soojung. Dia akan kubawa pergi besok. Mengerti?”

Aku menganggukkan kepala. “Besok pagi aku akan pergi, terima kasih untuk semuanya.”

Sunggyu mengangguk dan menyeringai nakal. “Aku akan bersenang-senang malam ini,”

“Mengahabiskan malam dengan Soojung?”

“Tentu saja bersama Hyuna,” Ia tertawa sekali lagi. “Harga Soojung akan lebih mahal jika ia belum disentuh laki-laki, tahu.” Tangannya meraih jaket dan memakainya. “Aku pergi dulu, Myung.”

            Soojung

Sunggyu, dia berkata bahwa ia saudara jauhku di Seoul. Karena aku tidak ingat apapun, aku percaya saja. Lagi pula dia tersenyum ramah, dan tidak terlihat seperti orang jahat. Apa salahnya jika mempercayainya? Ia membawaku ke rumahnya malam ini dan menempatkanku di kamar yang puluhan kali lipat lebih baik ketimbang bangsal rumah sakit. Wallpaper warna pastel, ranjang ukuran queen yang terlihat baru, seperangkat komputer, dan rak buku berisi novel-novel misteri.

Jarum jam telah merangkak hingga menunjukkan pukul dua tengah malam dan aku belum sanggup untuk tidur. Aku mengguling-gulingkan badanku dengan gusar sambil menatap langit-langit kamar yang putih bersih.

Tok! Tok!

Aku segera memalingkan wajahku dan berjalan mendekat ke arah pintu dan membukanya perlahan diiringi dengan engsel yang berderit-derit. Sepupu Sunggyu, Kim Myungsoo ada di sana dengan tampang panik.

“Soojung, kau dalam bahaya,” Tangannya mencengkeram lenganku kuat-kuat dan hendak menarikku keluar.

“Apa? Bahaya apa?”

“Akan kujelaskan nanti.”

Otot-ototku tidak sekuat lengannya yang dapat menarikku masuk ke dalam salah satu mobil di dalam garasi Sunggyu. Ia menginjak pedal gas cepat-cepat dan meninggalkan rumah dalam hitungan menit.

“Kenapa kau membawaku pergi tengah malam seperti ini?”

“Sunggyu bukan sepupumu, dia penjahat, tahu.” Matanya melotot memperhatikan jalan hingga masuk ke dalam jalur bebas hambatan dan mempercepat laju mobil sedan yang ditumpanginya. “Dia menculikmu dan tidak akan membiarkanmu hidup tentram di rumahnya.”

Tangan laki-laki itu mencengkeram kuat-kuat kemudi dan berfokus pada jalan tol yang sudah sepi pada tengah malam seperti ini.

“Kita.. kemana?”

“Aku akan mengantarmu ke bandara. Pulanglah ke San Fransisco, Soojung.”

Dengan kecepatan yang melewati batas dan memacu adrenalinku, Myungsoo telah menghentikan laju mobilnya di depan bandara dan menarik lenganku cepat-cepat masuk ke dalam gedung. Kuperhatikan ia membeli tiket di loket dan menuliskan catatan dengan bolpoin hitam yang bersarang pada kantong bajunya dan memberikannya padaku.

Tulisan tangannya tidak terlalu rapi namun masih dapat terbaca. Ia menuliskan nama, alamat, tempat tujuan, diagnosisku dalam kertas itu. “Pesawatmu berangkat satu jam lagi—penerbangan terakhir hari ini.” Myungsoo mengulurkan tiket pesawat padaku. “Pergilah, sebelum Sunggyu mengejarmu.”

Aku masih terpaku pada lembar tiket Korean Air yang diberikan Myungsoo. “Mengapa kau melakukan semua ini? Kita bahkan tidak saling mengenal, bukan?”

Myungsoo menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu, Soojung.” Kedua tangannya meraih pundakku dan menatap mataku dalam-dalam. “Aku hanya merasa.. aku perlu melakukan hal ini untukmu.”

Akhirnya aku mengangkat kedua sudut bibirku, sama seperti yang dilakukan Myungsoo. “Pergilah,” sambungnya lirih.

Kakiku melangkah mundur dan membiarkan tangannya terlepas dari pundakku. Kemudian aku melambaikan tangan, dan masuk ke dalam gedung bandara.

            Myungsoo

Aku tidak pernah tahu bagaimana waktu bisa bergulir lebih cepat dari kereta api yang melintasi relnya. Dua tahun sudah berlalu setelah aku mengantarkan Soojung ke bandara dan menyuruhnya pergi menuju San Fransisco. Aku terpaksa mengambil uang Sunggyu di dalam lemari dan menghabiskannya demi selembar tiket untuknya. Dan ngomong-ngomong, ini sudah tahun kedua Sunggyu mendekam di penjara karena bisnisnya itu.

Sebenarnya sejak kejadian itu, aku tidak pernah sedetikpun memikirkan bagaimana keadaan gadis itu sekarang, apa ingatannya sudah pulih, atau apakah ia mengingatku? Hingga seorang gadis masuk ke dalam taksiku. Rambutnya panjang terurai dan diselipkan di belakang telinga, kulitnya pucat dan mengulurkan sebuah alamat apartemen di daerah Gangnam.

“Tolong antarkan aku kemari,” Ucapnya lirih dari jok belakang unit taksiku hari ini. Dari spion, aku dapat melihat sesekali ia tersenyum dan pada waktu-waktu tertentu aku dapat melihat matanya menatap spion dan menatap mataku.

Ketika ia membayarku dengan beberapa lembar won, aku memberikan kembalian dan menyelipkan kartu namaku di sana. “Besok, kau bisa menghubungiku langsung jika butuh taksi.”

Sejak hari itu, aku terus menyetir dan dia duduk di jok belakang dan kuantarkan dia hingga studio fotografi yang dikunjunginya setiap hari. Besok, lusa, dan hari-hari seterusnya, mungkin kami akan tetap berada di tempat sama, di dalam mobil yang sama.

Kami mungkin tidak saling bicara untuk waktu yang lama. Kami mungkin akan terus mendengarkan musik yang sama dari radio, dan suatu kali nanti aku akan mencoba membuka pembicaraan. Mungkin gadis itu akan mendapatkan kembali ingatannya. Mungkin aku akan mendapatkan kembali ingatanku. Kami tidak tahu hubungan macam ini, hanya sopir taksi dan pelanggan tetapnya.

Tapi, satu hal yang kutahu; apa yang kumiliki sekarang sudah cukup. Aku, Soojung, taksi, dan saat ini.[]

 

Note: Rasanya sudah lama sekali sejak aku nulis FF oneshot seperti ini u,u FF ini ditulis dalam keadaan diri yang terkena writer’s block. Jadi rasanya ini hancur sekali. Boleh diketawain atau dicaci, asal jangan dijiplak!

Don’t be a silent reader!

13 thoughts on “[Oneshot] Taxi Cab

  1. whua.. kirain soojung pulang ke san fransisco dan ingetannya bisa sembuh trus pulang ke seoul bt nemuin myungsoo!
    ternyata masih hilang ingatan juga sojungnya/ dan myungsoo juga? huhuhu.. 😦
    tapi ceritanya menarik thor.., g bisa ditebak akhirnya 🙂

  2. Kirain pas diceritain masa lalu ke myungsoo, dia bakal ingat, kayak soojung yg kepalanya sakit. Eh, ternyata malah lupa dua2nya, gak jodoooh
    Gak hancur kok thor, cuma ada typo.
    Yg di otak itu neuron, bukan neutron

    • Waah! Makasih koreksiannya ya! :DSekarang jarang lho readers yang teliti u,u
      Ini emang nggak aku baca ulang, apalagi kuedit hoho. Maklum nulisnya subuh-subuh abis bangun tidur gitu /lho kok curcol?

  3. asdfghjkl halo bluemallows! /sksd kronis/ astaga, aku memang lagi suka myungstal akhir-akhir ini meski ga banget(?) tapi jadi greget baca fic dengan pair ini. XD
    well, karena emang ini dibuat saat kena writer’s block dan keburu-buru, hasilnya gak gagal, kok. ide ceritanya bagus! bagus! bagus! bagus! *insert berjuta-juta bagus lainnya* tapi ngomong-ngomong, itu waktu Myungsoo sama Krystal mindahin tiang penyangga tabung infus-nya emang ga berdarah ya selangnya? *INIAPA* *gapenting* *abaikan*
    well, kalau boleh jujur, gaya penulisan disini agak beda sama fic kamu sebelum-sebelumnya. Mungkin karena faktor writer’s block-nya juga, aku gatau tapi bagus kok. 😀

    p.s: aku nungguin kelanjutan 761, semoga bisa tiba-tiba dapat ilham dan ngelanjutin, ya. :’) fighting!

    • Eh sama! Aku juga lagi suka Myungstal meski gak banget lol xD
      Biasa, Myungsoo kan ceritanya berandal disini *ngeles ;p
      Ternyata ada yang masih nungguin :”” Makasih loh ya! Kemarin udah sempet buka lagi sih, tapi gak tau mau nulis apaan T^T Tapi nggak menutup kemungkinan untuk nggak kulanjutin kok hehe. Makasih loh ya! 😀

  4. Good Ideaaa .:D
    Bikin sequel pleaseee 😀
    Flashback soal hubungan mereka, awal cerita, dan kelanjutan hubungan mereka. Hahahaha..
    Kereeeennnn,

  5. Ah, aku seneng bisa nemu MyungStal di sini XD abis kebanyakan MyungZy sih .____.
    Ceritanya keren lho XD ga kepikiran sama sekali kalo si supir taxi itu Myung Q____Q
    Aku kaget lho waktu si Myung nyuruh Sungkyu njemput Krystal di rumah sakit .___. Untung malemnya Myung nyelamatin Krystal XD itu juga Myung yg ngelaporin Sungkyu? Ga nyangka muka sepolos Sungkyu kerjaannya bisa sekotor itu -____-” imej-nya itu out of the box banget kekeke~

  6. kerennnn!! myungstal emang pairing yg perfect. sequel dong thor, pendek juga oke kok. please? hehe

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s