[ONESHOT] WHY DID YOU HURT ME

Why did You Hurt Me

Title : Why did You Hurt Me

Author : tieshalee

Rating : PG – 15

Genre : Angst & Sad

Cast : Lee Soohyuk, Choi Yoojin (OC)

Main Cast : Jung Chaerin (OC)

Saturday, 2014 October 21st

Saat aku tak dapat menyentuhmu, namun hanya dapat melihatmu. Itulah rasa sakit yang sangat luar biasa. Namun disela rasa sakit itu, tersimpan rasa bahagia. Walau pun rasa bahagia itu hanya sebesar biji sesawi, tapi aku tak dapat membohongi diriku karena aku bahagia. Terlalu munafik saat aku berkata, “asal aku melihatmu bahagia, aku akan merasa bahagia. Meski pun kau bersama orang lain.” Kenyataannya berbanding terbalik. Aku tak akan pernah merasa bahagia saat melihatmu bersama orang lain. Dan inilah yang kurasakan saat ini.

Empat tahun kita bersama. Empat tahun juga kita mengalami suka dan duka bersama. Tapi jalinan kasih yang sudah kita buat selama empat tahun ini, harus hancur berkeping-keping karena ulahmu. Aku hanya seorang wanita biasa. Dan aku tak mungkin dapat selalu bertahan jika kau membuat kesalahan yang sama. Aku lelah, sangat lelah. Hanya saja, hati kecilku berkata bahwa aku tak dapat hidup tanpamu. Mungkin kau tak akan pernah tahu betapa gilanya aku, saat harus mengetahui hubungan kita berakhir begitu saja.

Setelah kejadian kau memutuskanku begitu saja, apa kau tahu orang tuaku hampir ingin membunuhmu karena melihat keadaanku yang jauh dari batas normal. Apa kau tahu jika aku hanya menangis sepanjang hari hingga mataku nyaris tak terbentuk? Aku rasa kau tak akan pernah tahu. Sepanjang malam aku selalu teringat akan kejadian malam itu. Dan mungkin sampai kapan pun aku tak akan melupakan kejadian itu.

Monday, 2013 May 13th

[23:05]

Malam itu Yoojin dengan sedikit tergesa-gesa menyetir mobil menuju kediaman kekasihnya, Soohyuk. Dan memang sengaja dirinya tak memberi tahukan kepada Soohyuk, jika dia sedang dalam perjalanan menuju rumah kekasihnya itu. Sejak tadi Yoojin menyetir dengan wajah berseri-seri. Melirik kedalam kaca sepion miliknya, melihat kearah sofa bagian belakang mobilnya. Terdapat sebuah kotak dengan ukuran sedang terbungkus dengan sangat rapih, dan juga sebuah kotak cake. Ya, malam ini tepat pada pukul 00:00 nanti Soohyuk akan berulang tahun. Oleh sebab itu Yoojin sudah mengatur beberapa rencana yang akan membuat Soohyuk terkejut. Yoojin menghilang dari Soohyuk sudah lebih dari empat hari.  Walau memang awalnya mereka bertengkar bukan karena hal yang disangaja, namun memang Yoojin sengaja berpura-pura marah pada Soohyuk hingga tak menghubunginya sama sekali. Karena ia tahu, jika sebentar lagi kekasihnya akan berulang tahun. Sebenarnya Yoojin sedikit kecewa karena Soohyuk sama sekali tak menghubunginya. Tapi ia berusaha menaruh kepercayaan kepada kekasihnya itu dan berpikir positif.

Akhirnya mobil Yoojin pun berhenti didepan sebuah apartemen yang terletak dipusat kota Seoul. Sepatu high heels silver miliknya itu membuat dirinya tampak begitu cantik hari ini. Dengan sebuah kemeja abu-abu dan celana jeans hitamnya, membuat tubuh gadis ini semakin terlihat bagus dan tinggi. Yoojin membuka bagian belakang pintu mobilnya. Mengambil sebuah kotak besar dan sekotak cake. Seorang security yang melihat Yoojin sedikit kerepotan segera menghampirinya.

“Permisi, dapatkah saya membantu anda?”

Yoojin segera menoleh kearah suara itu berasal, ternyata itu dari suara paman Kim. Yoojin menganal paman Kim, karena dirinya sering mengunjungi kekasihnya disini.

“Selamat malam paman Kim.” Sapa Yoojin ramah.

“Astaga! Yoojin-ssi. Saya pikir siapa. Sini biar saya bantu.”

Dengan cepat paman Kim mengambil kotak besar berisi sebuah hadiah untuk Soohyuk itu. Sedangkan Yoojin membawa kotak cakenya.

“Terima kasih banyak paman, maaf aku merepotkanmu.” Ujar Yoojin sopan.

“Santai saja. Soohyuk-ssi ulang tahun?” Tanya paman Kim penasaran.

“Iya, nanti tepat jam 12 malam ia berulang tahun. Aku ingin memberikan kejutan padanya. Eng, apa paman melihat dia pergi meninggalkan apartemen ini?”

Paman Kim tidak langsung menjawabnya. Ia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Melihat hal itu Yoojin merasa bingung. “Paman Kim?” Panggil Yoojin sekali lagi.

“Ah, ia. Eng, sepertinya tidak. Aku tidak melihatnya keluar apartemen Yoojin-ssi.” Jelas paman Kim dengan ekspresi sedikit gugup.

“Ah, begitu. Baiklah, aku merasa tenang kalau begitu.”

Dengan pasti Yoojin melangkahkan kakinya menuju depan pintu apartemen Soohyuk. Namun tidak dengan paman Kim. Raut wajah khawatir terbentuk diwajahnya. Sesampainya mereka didepan pintu Soohyuk, Yoojin menyuruh paman Kim meninggalkannya dan meletakan hadiah itu dilantai saja, karena Yoojin akan mengurusnya kemudian. Paman Kim pun meninggalkannya dengan sedikit keraguan, namun pria tua itu tetap meninggalkannya.

Yoojin melirik jam tangan yang ia kenakan. Tinggal 5 menit lagi, waktu akan menunjukan tepat pukul 00:00. Terbentuk sebuah senyuman disudut bibir Yoojin. Dengan jantung yang sedikit berdegup kencang, ia menyentuh password yang tertera digagang pintu. Dalam beberapa detik pun pintu itu terbuka. Perlahan Yoojin mengintip keadaan dalam apartemen itu. Gelap, tenang, dan sangat sepi. Mungkin Soohyuk sudah tidur pikir Yoojin. Pintu pun dibuka dengan lebar. Yoojin meletakan kotak cake diatas kotak besar hadiah kekasihnya itu. Masuk secara perlahan dan melangkah dengan sangat-sangat pelan. Pintu sudah tertutup, kini Yoojin melangkah kakinya menuju ruang tamu. Meletakan segala sesuatu yang ada ditangannya. Entah kenapa ia merasa matanya memandang sesuatu yang aneh saat ia melangkahkan kakinya kedalam. Namun dengan cepat pikiran itu menghilang, karena dirinya kini memandang sebuah botol wine terguling diatas sofa milik Soohyuk. Apakah dia mabuk lagi, pikir Yoojin. Alisnya sedikit terangkat – khawatir, namun Yoojin sebisa mungkin menyingkirkan rasa khawatir akan pemikirannya itu.

Yoojin menyusun lilin dengan rapih, kemudian menyalahkannya satu persatu. Masih dengan rasa was-was, Yoojin melangkahkan kakinya menuju kamar Soohyuk.  Kini hanya wajahnya yang terlihat bercahaya karena cahaya dari lilin-lilin tersebut. Baru saja dirinya sampai didepan pintu kamar Soohyuk, perasaannya mendadak berubah menjadi tak nyaman. Entah angin dari mana, namun kakinya terasa mematung ditempat. Sebagian dari hatinya mengatakan ini bukan waktu yang tepat, namun sebagian lagi mengatakan sekaranglah waktunya. Akhirnya dengan setengan keyakinan dari hatinya, Yoojin memutar kenop pintu kamar Soohyuk dan melangkah masuk.

Happy birth-“

Lantunan lagu Happy Birthday yang ingin Yoojin nyanyikan dengan sempurna terhenti begitu saja. Matanya panas. Kakinya pun terasa lemas. Tangannya gemetar sampai membuat cake yang ia pegang terjatuh. Yoojin menggigit bibirnya dengan sangat keras, hingga sedikit membuatnya terluka. Betapa terguncangnya Yoojin ketika melihat Soohyuk berciuman diatas ranjangnya dengan seorang wanita, yang sama sekali Yoojin tak pernah mengenalnya. Hatinya terasa pilu, lidahnya kelu untuk mengatakan sepatah kata lagi, matanya terasa lelah untuk memandang sebuah itu.

“Yoojin-a!” Pekik Soohyuk terkejut melihat sesosok wanita berdiri diambang pintu kamarnya melihat aksi brutalnya.

Mendengan Soohyuk memanggil namanya, itu semakin membuatnya merasa terjatuh dari jurang yang sangat dalam. Yoojin memejamkan matanya perlahan, memberi kekuatan pada dirinya sendiri. Sedikit menarik nafasnya untuk menenangkan dirinya.

“Selamat.. Ulang tahun Soohyuk-ssi. Maaf.. cakenya hancur, aku tak sengaja. Dan.. Maaf jika aku mengganggumu.” Ujar Yoojin sambil tersenyum pilu dan melangkah menjauh dari ruangan yang membuatnya seperti orang bodoh itu.

Yoojin benar-benar tak dapat menahan air matanya lagi. Dadanya terasa sesak. Kakinya pun benar-benar terasa lemas. Namun dirinya terus berusaha berjalan menuju pintu keluar. Namun sayang sebuah tangan besar menariknya dan memeluknya dari belakang sehingga dirinya terkunci didalam pelukan itu.

“Yoojin-a, maafkan aku. Aku.. Aku hanya, tidak! Aku tahu aku salah, maafkan aku. Aku mohon.” Suara berat milik Soohyuk begitu terasa asing ditelinga Yoojin.

Yoojin tak dapat berkata sepatah kata pun. Air matanya sudah mengalir dengan sendirinya, kakinya pun sudah lemas. Tubuhnya sedikit terkulai didalam pelukan Soohyuk, sampai akhirnya mereka pun terduduk bersama. Rasa kecewa itu begitu menjalar kedalam tubuhnya. Dan ini kali kedua ia melihat kekasihnya menduakan dirinya. Namun entah mengapa, kejadian kedua ini begitu terasa menyakitkan. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Yoojin, hanya terdengar suara isaknya yang begitu dalam. Dan itu semakin membuat Soohyuk frustasi.

“Yoojin-a, maafkan aku. Aku.. Mencintaimu.” Sekali lagi suara berat milik Soohyuk membuat hati Yoojin terasa pilu.

Seorang wanita dengan dress hitamnya berjalan perlahan melewati mereka berdua menuju pintu. Mendengar suara pintu tertutup, Yoojin menguatkan dirinya sebisa mungkin. Perlahan Yoojin memundurkan dirinya dari dekapan Soohyuk. Mengahapus air matanya dan memandang Soohyuk dengan nanar. Terlihat dari mata Soohyuk bahwa ia sangat menyesal, dan Yoojin pun tahu akan hal itu. Namun tidak dengan hatinya. Hatinya begitu sangat sakit dan kecewa.

“A-aku rasa.. Aku harus pulang.” Ujar Yoojin masih dengan nada isaknya.

“Aku antar!” Hanya dengan dua kata Soohyuk menjawab lalu meraih lengan Yoojin mengajaknya meninggalkan apartemennya.

Sayangnya, belum sampai mereka benar-benar meninggalkan tempat itu, Yoojin menepis tangan Soohyuk dengan lembut. “Tidak, aku ingin pulang sendiri.”

Soohyuk memejamkan matanya ketika mendengar Yoojin berkata seperti itu. Menarik napasnya dalam-dalam dan melepaskan genggamannya, membiarkan Yoojin dengan pilihannya. Ia tahu, Yoojin hanya membutuhkan waktu sendiri untuk menenangkan pikirannya. Yoojin tersenyum nanar padanya dan melangkahkan kakinya dengan langkah yang terlihat lemah. Sedikit keraguan muncul dihati Soohyuk untuk meninggalkannya seorang diri.

Sebelum Yoojin benar-benar keluar dari apartemen milik Soohyuk itu, langkahnya terhenti beberapa saat dan berkata, “ah.. aku sampai lupa, hadiahmu ada disofa ya.”

Soohyuk terdiam mendengar ucapan lembut yang sedikit nyaris tak terdengar, hanya matanya saja yang bergerak sekilas melihat kearah sebuah kotak sedang berwarna biru. Namun dengan cepat matanya kembali memandang Yoojin yang berjalan menjauhi pintu apartemennya.

Sampai Yoojin berjalan menuju lift, Soohyuk masih terus memandangnya, memastikan bahwa kekasihnya itu tak akan baik-baik saja. Dan ternyata keraguan Soohyuk pun terjawab. Belum sampai didepan pintu lift saja, tubuh Yoojin tumbang. Dengan refleks Soohyuk berlari dan mengangkat Yoojin kembali menuju apartemennya. Ia tahu ini akan terjadi. Yoojin adalah gadis yang terlihat tegar didepannya, namun tidak didalam hatinya. Jika hatinya sudah menahan rasa pilu yang sangat dalam, seluruh organ tubuhnya seakan menjadi sulit untuk berfungsi seperti sekarang ini. Ini kali kedua Soohyuk melihat Yoojin tumbang karena kesalahannya yang sama.

[03:15]

Soohyuk masih terjaga ditempatnya, memandang Yoojin yang tertidur lelap diatas tempat tidurnya. Sampai sekarang Yoojin belum membuka kedua matanya. Badannya terlihat sedikit demam, oleh sebab itu Soohyuk mengompres keningnya dengan handuk setengah kering. Soohyuk berpikir, Yoojin demam pasti karena terkejut melihat tingkah laku dirinya tadi.

“Maafkan aku Yoojin-a, maafkan aku. Aku tahu ini salahku. Maafkan aku yang kembali menghianatimu untuk yang kedua kalinya. Tapi kali ini, aku punya alasan. Namun aku yakin, seberapa besar alasanku. Kau tak akan pernah bisa memaafkanku. Atau mungkin kau akan mmbenciku. Ya, kau akan membenciku selamanya.”

Kata demi kata Soohyuk lontarkan dari bibirnya. Dia tak perduli apakah Yoojin mendengarnya atau tidak. Dia hanya ingin mengutarakan perasaannya saat itu. Disaaat itu pula Soohyuk menyentuh tangan Yoojin lembut, mengelus tangan berkulit putih itu. Hanya sekilas saja, lalu dengan langkah besarnya ia meninggalkan kamarnya.

Diruang tamunya yang gelap, saat ini Soohyuk duduk memandang sebuah kotak berwarna biru. Dirinya tak ingin membuka hadiah dari Yoojin itu. Ia tahu itu akan membuat hatinya sakit. Siapa pun tak akan dapat mengerti perasaannya ini. Sebatang rokok pun ia nyalakan dan menghisapnya. Ini hanyalah salah satu kegiatan yang dapat membuatnya menjernihkan kepalanya.

Kemudian Soohyuk mengambil dompetnya yang berada disaku belakang celananya. Dibukanya dompet itu, dan terdapat sebuah foto dirinya dan Yoojin saat awal-awal mereka berpacaran dahulu. Soohyuk mengambil foto itu dari tempatnya, memandangi foto itu dengan nanar. Dibalik foto itu tertulis tanggal mereka saat pertama kali menjadi pasangan kekasih.

2009 October 21st

Terbentuk secuil senyuman dari sudut bibirnya. Soohyuk saat ingat bagaimana ia pertama kali menyatakan cinta pada Yoojin, mengajaknya makan malam, sampai menciumnya. Dan Soohyuk pun ingat saat pertama kali dirinya menghianati Yoojin.

Tahun 2010, bulan July, dan tanggal 10. Malam itu disebuah night club dipusat kota Seoul, Soohyuk bersama beberapa temannya sedang mengadakan pesta. Suara dentuman musik pun semakin membuat Soohyuk bersemangat. Tanpa henti ia menegak sebuah minuman keras berkali-kali. Dan siapa pun akan mengira apa yang akan diperbuat oleh seorang pria mabuk saat ada seorang wanita disampingnya. Dengan kasar Soohyuk mencium wanita disampingnya itu. Betapa gilanya, saat wanita pun membalas ciuman Soohyuk dengan kasar. Beberapa teman Soohyuk tertawa dan menyoraki tingkahnya. Namun Soohyuk tak perduli. Ia terus melampiaskan nafsunya pada wanita disampingnya itu.

Dan saat itu entah sebuah kebetulan atau tidak. Yoojin pun diundang temannya untuk berpesta kecil-kecilan merayakan pekerjaannya. Tanpa disangka Yoojin melihat kekasihnya berciuman dengan wanita lain dengan nafsu yang luar bisa. Matanya mulai memanas. Kakinya pun mulai melemas. Namun dengan tenaga yang masih tersisa, Yoojin melangkahkan kakinya menuju tempat Soohyuk, mengambil sebuah minuman yang terletak diatas meja dan menyiram kedua orang tak tahu malu itu.

“YA! BERANINYA KA-” suara tinggi Soohyuk mendadak berhenti saat mendapati Yoojin didepan matanya. Tanpa berkata-kata lagi, Yoojin meninggalkan Soohyuk dan berlari keluar dari club itu.

Mengingat hal itu membuat Soohyuk tersenyum pahit. Kali ini ia kembali menyakiti hati wanita yang ia cintai. Tapi hal ini sedikit berbeda. Bukan karena mabuk atau apa pun. Soohyuk melakukan hal tadi karena ia menyukai wanita itu. Dan untuk pertama kalinya Soohyuk terjebak diantara perasaannya. Entah sejak kapan, perasaannya kepada Yoojin perlahan memudar. Dan semua itu berawal semenjak dirinya bertemu dengan Chaerin. Chaerin bukan tidak mengetahui bahwa Soohyuk sudah memiliki kekasih. Hanya saja Chaerin pun mencintai Soohyuk.

Bayangan wajah Chaerin saat meninggalkan dirinya dan Yoojin terlintas dibenaknya. Soohyuk tahu, ia telah menyakiti dua wanita sekaligus dalam waktu yang sama. Namun tak mungkin Soohyuk harus mengejar Chaerin dan meninggalkan Yoojin seorang diri. Ia mengenal Yoojin, sangat mengenalnya. Yoojin bisa menjadi gila jika ia dibiarkan seorang diri. Tapi tidak dengan Chaerin, ia wanita dewasa yang tegar dan dapat mengontrol dirinya. Malam ini benar-benar semakin membuat Soohyuk menjadi gila.

Monday, 2013 May 27th

Sudah dua minggu semenjak kejadian itu, Yoojin masih mengurung dirinya dalam kamar. Berkali-kali Soohyuk menghubunginya, ia tak pernah mengangkatnya. Tapi usaha Soohyuk tak hanya sampai disitu, dirinya pun mencoba mendatangi rumah Yoojin. Ya, memang pasti ibu Yoojin akan memberinya masuk. Namun Yoojin tak pernah ingin keluar dari kamarnya. Sampai suatu ketika Soohyuk meminta izin kepada ibu Yoojin untuk melihatnya didalam kamar. Awalnya ibu Yoojin sedikit ragu, namun ia hanya ingin melihat putrinya tersenyum. Dan perkiraan ibu Yoojin salah, bukan karena Soohyuk mengunjunginya ia akan tersenyum. Justru karena pria itu datang, itu membuat dirinya kembali teringat akan kejadian dua minggu yang lalu.

“Yoojin-a..”

Yoojin sangat hafal dengan suara berat milik kekasihnya itu. Sedikit rasa terkejut menghampiri dirinya saat mendengar suara itu, namun rasa terkejut itu hilang dan berganti rasa sakit dalam hatinya. Yoojin yang sedang berdiri memandang luar jendelanya, tiba-tiba merasa lemas. Rasanya ia ingin terjatuh dan terlelap lalu tak akan pernah melihat Soohyuk kembali. Namun itu bukan keinginan hatinya, hatinya tak pernah berkata seperti itu. Mungkin jika ia sepenuhnya mengikuti hatinya, saat ini juga ia akan berbalik dan memeluk Soohyuk dengan erat.

“Yoojin-a, kau de-“

“Mau apa kau kemari? Aku sedang tak ingin diganggu.” Dengan cepat Yoojin memotong perkataan Soohyuk.

Langkah kaki Soohyuk pun terhenti saat Yoojin berkata dengan dingin. Hatinya pun terasa sakit. Ini kali pertamanya ia melihat Yoojin bersikap dingin padanya, dan itu terasa asing baginya.

“Aku tahu kau masih marah, aku hanya ingin menjelaskan kejadian waktu itu.” Ujar Soohyuk dengan nada getir.

Yoojin menghela nafasnya dengan berat, dan membalikkan badannya untuk menatap Soohyuk. Dan sungguh, penampilan Soohyuk benar-benar diluar kepalanya. Pria itu terlihat semakin kurus dan tak terawat. Wajahnya terlihat kusam, bajunya begitu berantakan. Lagi-lagi Yoojin benar-benar merasa tak tega melihatnya. Hanya saja, dirinya masih belum terima dengan kejadian waktu itu.

“Soohyuk-a.. Aku rasa kau tahu apa yang aku rasakan saat itu dan sampai saat ini. Jadi apa lagi yang ingin kau jelaskan?”

Suara Yoojin semakin dingin. Soohyuk pun semakin merasa bersalah dan sedikit kecewa dengan respon Yoojin. “Bisakah kita keluar untuk membicarakan hal ini?”

Yoojin memandang Soohyuk dengan tatapan kosong. Memandang bola matanya yang coklat, hidungnya yang mancung, rahangnya yang begitu tampak tajam. Itu semua membuat Yoojin merindukan Soohyuk. Perlahan Yoojin memejamkan matanya, memikirkan apa yang harus ia lakukan. Sampai akhirnya ia menganggukan kepalanya pelan dan bergegas keluar dari kamarnya tanpa berkata apa-apa kepada Soohyuk.

[17:35]

Kini mereka berdua berada disebuah taman dekat rumah Yoojin. Taman itu terlihat sepi, tak begitu ramai. Hanya ada beberapa orang dan mereka. Entah kenapa hati Yoojin merasa pilu. Perasaannya menjadi sedikit tak enak. Ia merasa ada yang salah dengan Soohyuk.

“Kau tak apa-apa? Kau sakit?” Tanya Soohyuk khawatir.

“T-tidak. Jadi kau mau bicara apa?” Jawab Yoojin masih dengan nada dinginnya.

Soohyuk menarik napasnya dalam, mencoba menenangkan pikirannya dan menyiapkan segala yang ingin ia katakan. Ada rasa ragu dihatinya untuk mengatakan segalanya. Ia takut jika Yoojin tak mengerti dan menjadi kecewa kembali. Namun memang itulah yang akan terjadi. Dan Soohyuk harus dapat menerima segala resikonya. Memang terlihat egois, hanya saja dirinya pun tak mampu harus membohonginya lagi.

“Sampai kapan kau mau menghindariku? Sampai kapan kau mau bersikap dingin kepadaku? Sampai kapan Choi Yoojin?!”

Mendengar suara Soohyuk semakin meninggi diakhir kalimatnya, Yoojin merasa semakin tak enak hati. Ia melirik Soohyuk sepintas dan kembali membuang wajahnya jauh-jauh dari pandangan Soohyuk. Matanya kembali mulai memerah, dia tak ingin Soohyuk harus kembali melihatnya menangis. Kali ini Yoojin benar-benar tak tahu harus menjawab apa.

“Kenapa? Kenapa kau tak menjawabku? Aku tahu aku salah. Aku minta maaf, hanya saja.. Aku punya alasan untuk itu.” Lanjut Soohyuk, diakhir kalimat nadanya menjadi merendah.

“Alasan? Alasan apa? Alasan kau menyukai dirinya selain diriku? Oh, atau kau sudah tak mencintaiku tapi kau mencintai gadis kemarin?” Lontar Yoojin seakan tepat menusuk jantung Soohyuk dengan tombak besar. Entah dari mana Yoojin hampir benar menebak perasaan Soohyuk saat itu, bukan hampir tapi memang tepat. Baru saja Soohyuk ingin menjawabnya, Yoojin sudah memotongnya.

“Tidak, jangan dipotong dulu. Oke aku tahu, sebelum ulang tahunmu kita sempat bertengkar. Aku minta maaf. Tapi bisakah kau rasakan, awal mula dari masalah itu apa? Ya, karena kau berubah padaku akhir-akhir ini. Dan setelah aku lihat kejadian malam itu, setidaknya aku tahu mengapa kau berubah kepadaku. Setidaknya sekarang aku tahu kalau akhirnya akan selalu aku yang merasa sakit.”

Perkataan Yoojin benar-benar menusuk hati Soohyuk dengan tepat. Kali ini giliran Soohyuk yang tak dapat berkata apa-apa lagi, semua yang dikatakan Yoojin tepat. Dia harus menjelaskan apa lagi?

“Lee Soohyuk.. Pernahkah kau tahu rasa cintaku padamu sebesar apa?” Suara Yoojin terlihat sangat getir,bulir-bulir air mata pun sudah terlihat dipelupuk matanya. “Aku pun tak tahu seberapa besar rasa cintaku padamu, yang pasti aku tulus mencintaimu. Dan apa menurutmu aku ini wanita bodoh? Mengapa hati ini masih selalu bisa memaafkanmu, padahal dirimu selalu menghianatiku. Ya, hatiku selalu berkata aku rindu padamu. Aku tak dapat hidup tanpamu. Namun, jika aku ingat kejadian malam itu.. Semua seakan menjadi pedang tajam yang siap menghantam hatiku kapan saja.” Air mata Yoojin pun mengalir dengan sendirinya. Hatinya sedikit merasa lega ketika mengatakan semua perasaannya kepada Soohyuk.

Soohyuk terpaku mendengar perkataan Yoojin. Hatinya terasa pilu saat melihat Yoojin menangis kembali dihadapannya. Dengan perasaan ragu, Soohyuk mengapus air mata itu dengan tangannya. Dengan cepat Soohyuk memeluk wanita dihadapannya itu. Isak Yoojin pun semakin menjadi. Soohyuk hanya dapat mengelus lembut rambut kekasihnya itu perlahan. Pikirannya melayang-layang entah kemana. Setiap kali dirinya melihat Yoojin, rasa tak tega itu semakin terasa dalam. Namun perasaannya sudah tak seperti dulu.

Perlahan Yoojin melepaskan dirinya dari dekapan Soohyuk. Memandang wajah pria yang ia cintai itu dengan dalam. Tangannya pun menyentuh wajah Soohyuk dengan lembut. Matanya terlihat sangat nanar ketika memandang Soohyuk. Dan perlahan tangannya pun ia turunkan dan mengambil posisinya kembali menghadap lurus kedepan.

“Jadi, kau hanya ingin mengatakan hal itu?” Tanya Yoojin tib-tiba. Sontak membuat Soohyuk terkejut.

“Sebenarnya.. Ada hal lain.” Dengan ragu Soohyuk menjawabnya.

Yoojin menghela napasnya pelan, menyiapkan diri untuk mendengar penjelasan Soohyuk yang ia sendiri tahu bahwa itu akan menyakitinya sekali lagi. Matanya seakan berbicara, mengatakan ‘cepat katakan saja’. Soohyuk pun terlihat menyiapkan dirinya. Perlahan ia pun mengambil tangan Yoojin dan menggenggamnya lembut.

“Aku tahu, mungkin ini bukan waktu yang tepat. Hanya saja semakin aku berbohong, kau akan semakin merasakan sakit. Semua yang kau katakan tadi benar. Aku minta maaf, tapi memang ini yang kurasakan.” Jelas Soohyuk dengan suara yang sedikit rendah.

Yoojin tersenyum nanar dan berusaha menahan air matanya, lagi. Ia tahu semua ini akan terjadi seperti ini, ia pun tahu semua ini harus berakhir disini. Hatinya benar-benar tak siap menerima kenyataan ini, namun ia pun merasa dirinya tak boleh egois dengan semua keputusan Soohyuk.

“Jadi, sekarang keputusanmu apa?” Tanya Yoojin pelan, masih dengan senyum nanarnya itu.

“Entahlah, aku sendiri bingung harus mengambil jalan apa. Aku benar-benar tak tega melihatmu seperti ini, Yoojin-a.” Ujar Soohyuk kemudian dengan ekspresi sedihnya.

“Jangan pernah mencintaiku hanya kerena merasa kasihan. Aku tak butuh rasa kasihan, aku hanya butuh ketulusan.”

Perkataan Yoojin benar-benar menghantam dirinya, sekali lagi. Soohyuk semakin merasa seperti orang munafik yang berada dihadapan orang benar. Ia menundukan kepalanya perlahan dan mulai mengatakan segalanya.

“Baiklah, aku tahu aku salah. Sekali lagi aku minta maaf. Ya, mungkin memang maaf saja tak cukup untuk menyembuhkan rasa sakitmu. Hanya saja aku tak tahu harus melakukan apa lagi. Dan ya, aku juga minta maaf jika aku mencintaimu hanya karena aku tak tega melihat dirimu merasa sakit. Dan mungkin memang ini yang terbaik untuk kita. Mungkin memang kita harus jalan masing-masing mulai detik ini. Aku sama sekali tak akan pernah melupakan dirimu, Yoojin-a. Dan terima kasih untuk sweater buatanmu itu. Aku menyukainya. Sekali lagi aku minta maaf.”

Yoojin memandang Soohyuk yang menunduk dengan diam. Pikirannya mulai kacau. Dan ini kali ketiga Soohyuk membuat hatinya hancur. Yoojin mulai mengedip-kedipkan kedua matanya, berharap air matanya tak akan jatuh kembali. Ia mengangkat wajah Soohyuk untuk melihat kearahnya. Dan Yoojin tersenyum dengan tulus, ini senyuman terakhir yang akan ia berikan kepada Soohyuk.

“Jika kata maaf saja berfungsi, apa gunanya polisi dan kawanannya? Haha..” ujar Yoojin dengan candaan yang masih terdengar parau. “hem.. Thank you for everything, Soohyuk-a.” Lanjutnya pelan.

Yoojin mendekatkan wajahnya setelah mengucapkan kata terima kasihnya. Mengecup Soohyuk dengan lembut namun berarti untuk dirinya. Ini ciuman terakhirnya yang ia lakukan bersama Soohyuk. Sentuhan terakhirnya bersama Soohyuk. Atau mungkin pertemuan terakhirnya bersama Soohyuk. Yoojin sendiri tak tahu harus apa. Air matanya kembali menetes dan membasahi pipi Soohyuk. Kali ini Soohyuk benar-benar merasa tak enak hati. Yoojin menjauhkan wajahnya dari Soohyuk. Menunduk dan menghapus air matanya dengan cepat.

“Pulanglah.” Ujar Yoojin sambil tersenyum nanar.

“Akan kuantar kau.” Lontar Soohyuk cepat.

“Tidak, aku ingin sendiri. Pulanglah. Aku akan baik-baik saja. Pergilah.”

Mendengar Yoojin seperti mengusir dirinya, Soohyuk tak dapat menolaknya. Dengan berat Soohyuk meninggalkan Yoojin ditaman itu seorang diri. Langit terlihat semakin gelap, matahari sebentar lagi akan ternggelam dengan sempurna. Namun Soohyuk harus meninggalkan Yoojin dengan cara seperti ini. Mungkin ini yang terbaik untuk dirinya dan Yoojin. Ia tak mau membuat Yoojin kembali menangis karena dirinya.

Saturday, 2013 June 8th

“Ibu mengerti perasaanmu, ibu tahu ini pasti sakit untukmu. Hanya saja apa kau yakin tak apa-apa?” Tanya ibu Yoojin setelah mendengar pengakuan anaknya bahwa ia sudah berpisah dengan Soohyuk.

“Aku tak apa-apa bu, aku baik-baik saja.” Jawab Yoojin lembut.

Ayah Yoojin memejamkan matanya, menahan emosinya. Bagaimana bisa Yoojin berkata ia baik-baik saja jika bentuk wajahnya seperti itu?! Pikir ayah Yoojin kritis.

“Dasar laki-laki brengsek! Seenaknya saja membuat keputusan dan membuat anakku seperti ini!” Emosi ayah Yoojin menjadi-jadi. Dirinya tak dapat terima jika anaknya diperlakukan seperti ini.

“Ayah sudah. Ini bukan salah Soohyuk sepenuhnya. Aku juga ingin berpisah darinya. Aku akan fokus pada pekerjaanku saja dulu.”

“Fokus? Kau bilang fokus? Bagaimana bisa fokus, jika dirimu selalu menangis ditengah malam seperti itu?”

Yoojin terdiam mendengar perkataan ayahnya. Ayahnya benar, bagaimana bisa ia fokus ketika ia selalu menangis memikirnya Soohyuk. Tanpa sepatah kata pun Yoojin berdiri dan berjalan kembali menuju kamarnya.

Sudah hampir seminggu lebih ia telah berpisah dengan Soohyuk. Namun hingga hari ini Yoojin belum dapat melupakannya. Soohyuk sama sekali belum pernah menghubunginya kembali. Yoojin tahu, Soohyuk tak mau membuatnya seperti memberi harapan palsu kepadanya. Hanya saja itu menyakitkan. Sangat menyakitkan.

Kini Yoojin harus terbiasa dengan menjauhkan ponselnya dari dirinya. Begitu banyak kenangan dalam ponsel itu. Barang-barang pemberian Soohyuk pun telah ia sisihkan dan diletakan pada sebuah kotak yang lumayan besar. Ini benar-benar menyebalkan. Kamarnya sungguh sangat terlihat kosong. Bagaimana tidak, hapir dari seluruh isi kamarnya adalah barang-barang pemberian Soohyuk dan pilihan Soohyuk. Tapi Yoojin harus menjauhkan barang-barang itu dari dirinya. Ia rasa percuma jika harus disimpan, itu tak akan membuatnya merasa terobati. Hanya akan membuatnya semakin sakit.

Saturday, 2014 October 21st

Beberapa hari yang lalu aku menerima sebuah pos. Sebuah benda berbentuk persegi, hampir mirip dengan buku kurasa. Benda ini tersampul rapih dengan sampul merah muda. Entah kenapa aku sangat familiar dengan sampul itu. Setelahku buka, tanganku sedikit lemas saat membacanya.

“Wedding Day, Lee Soohyuk and Jung Chaerin, 2014 October 21st.”

Akhirnya mereka menikah. Dan masih sama dengan setahun yang lalu, aku masih mencintai Soohyuk sampai detik ini. Entah sampai kapan aku harus menyimpan rasa cinta yang bertepuk ini. Berkali-kali aku mencoba melupakannya, berkali-kali juga itu terasa sulit untukku.

Dan disinilah aku. Disebuah aula gereja menyaksikan sepasang kekasih yang sedang diberkati oleh seorang pendeta untuk menjadi sepasang suami istri. Saat melihat mereka berdua berjanji satu sama lain, bertukar cincin, dan saling berciuman. Itu terasa sakit saatku harus melihatnya dengan kedua mataku. Kurasakan mataku mulai memanas. Ini benar-benar tak lucu jika aku harus menangis, ditempat umum sepeerti ini.

Dia memandangku. Dan lagi-lagi ia memandangku! Kenapa? Kenapa kau harus memandangku seperti itu? Itu semakin membuatku tak rela kau melakukan pernikahan ini Soohyuk-ssi! Aku mohon, aku mohon jangan lakukan hal ini kepadaku. Aku tak kuat.

“Hei, apa kabar?”

Suaranya. Ya itu suaranya. Kenapa kau menyapaku? Aku harus menjawab apa? ‘Ya, aku baik-baik saja’ atau ‘tidakkah kau lihat betapa sakitnya hati ini?’. Ini benar-benar membuatku gila.

“Yoojin-ssi?”

“Eng, aku baik-baik saja. Kau sendiri?”

Oke, aku berbohong. Aku tak baik-baik saja. Sungguh aku tak baik melihatmu bersamanya. Oh Tuhan, wanita itu berjalan kearahku. Apa yang harus kulakukan? Kau gila! Kau gila Lee Soohyuk!

“Hei, ini temanmu? Kamu belum mengenalkannya padaku.”

Jujur, suara wanita itu terdengar sangat manja. Dan aku benci itu. Aku mohon bawa pergi wanita ini dari hadapanku. Aku mohon.

“Chaerin-a, kemari ada yang mau ibu kenalkan.” Suara seorang wanita tua itu membuat Chaerin meninggalkan aku dan Soohyuk berdua. Oke, mungkin ini lebih baik.

“Ah, itu Chaerin. Aku belum sempat mengenalkannya kepadamu. Oh ya, aku baik-baik saja.”

Aku tahu! Aku tahu itu Chaerin. Jangan katakan lagi. Harusnya kau mengenalkanku padanya, bukan seperti ini. Oh Tuhan, aku benar-benar tak sanggup.

“Eng, selamat untuk pernikahanmu. Aku senang melihatmu bahagia. Ah, sepertinya aku harus pulang. Aku ada janji dengan teman-teman kantorku hari ini.”

Wajahmu terlihat sangat aneh, jangan memandangku seperti itu. Aku berbohong karena aku muak berdiri disini lama-lama. Dan aku benar-benar berharap ini terakhir kalinya aku bertemu denganmu, Soohyuk-ssi.

“Benarkah? Kenapa begitu cepat? Aku masih ingin ngobrol dengan dirimu.”

Sayangnya aku tidak. Aku ingin cepat pergi dari tempat ini. Tidakkah kau lihat mataku sudah memerah? Harusnya kau sadar ini. Empat tahun kita bersama, kau masih tidak mengenalku sepenuhnya?

“Kapan-kapan saja. Baiklah, aku pergi ya. Salam untuk ibumu dan.. Istirimu.”

Lidahku sedikit sulit untuk mengatakan kata istrimu.  Ini benar-benar membuatku gila. Aku benci wanita itu. Kenapa nasibku buruk sekali. Salah apa aku Tuhan. Tanpa mendengar balasan dari mulutnya, aku langsung pergi menjauh dari kerumanan manusia-manusia yang sedang berbahagia. Dan aku rasa hanya aku yang merasa sedih atas pernikahan ini.

Sekarang aku tahu, cinta itu tak harus memiliki. Tapi jika dengan cara seperti ini, bukankah terasa tak adil? Yang pasti rasa sakit ini tak akan pernah hilang dari hatiku. Dan hanya dia pria yang telah menyakitiku. Aku pun tak tahu sampai kapan aku harus mencintai pria yang tak membalas cintaku ini. Yang pasti walau hatiku sakit karenanya, hatiku masih mencintainya. Dan itu tulus.

-fin-

Jjang~ FF kedua aku, akhirnya aku post hehe~

semoga readers pada suka ya.

Like and comment 🙂

Thank you ^^

7 thoughts on “[ONESHOT] WHY DID YOU HURT ME

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s