Kilauan Senja – Chapter 1

Kilauan Senja

Kiran storyline

Title  :  Kilauan Senja – Chapter 1  ||  Cast  :  Lee Junho (2PM) & Kim Sohyun (Actress)  ||  Support  Cast  :  Nickhun Horvejkul (2PM), Ok Taecyeon (2PM)  ||  Genre  :  Angst, Romance, Action  ||  Rating  :  PG-16 ||  Length  :  Chapter

Summary  :

Dan kau, selalu saja yang membuat hatiku bergetar. Membuatnya lebih besar. Sukar. Lalu aku tahu aku kembali tertampar.

Previous Part  :

Prolog

*****

Saat ia pingsan, memang ada beberapa bagian tubuhnya yang masih bisa berputar-putar dengan baik. Otaknya. Ingatannya. Kenangannya.

Ia tidak punya mimpi yang indah. Bahkan untuk hanya menceritakan hal-hal yang setidaknya sedikit imajiner pun dia tak bisa. Dari awal dia telah jatuh di tempat yang salah dengan keadaan lelah. Hidupnya sama sekali tak berambisi. Kecuali hari ini. Ia benar-benar ditekan untuk memperjuangkan hidupnya sendiri.

Ia terbangun.

Di sebuah ruangan yang lebih mengerikan dari tempat sebelumnya.

Satu hal yang ditemui, ketakutan yang mencekamnya lebih erat. Ia memperhatikan keadaan sekelilingnya. Satu kesimpulan yang paling mendekati kenyataan adalah ia sedang berada di gubuk tua yang siap roboh kalau ia menendang satu saja bagian dindingnya.

Dinding di ruangan itu dari kayu yang sedikitnya mulai ditumbuhi jamur. Kursi yang ada dihadapannya sudah tak siku antar kaki-kakinya karena termakan rayap. Dan ia sendiri terbangun di atas meja yang permukaannya kasar. Di mana dia? Kenapa tak ada yang menjawab pertanyaannya?

“Apa tak ada orang di sini?” ucapnya serak. Ia baru kembali menyadari keadaan dirinya saat suara itu sama sekali tak keluar. Ia terlalu haus.

Ia menangis. Kering. Hingga tak sadar lagi.

~k~

“Kemana kau membawa tawananku, brengsek?” bentak Taecyeon kepada Lee Junho, pria yang sebulan ini tampak menghilang ditelan bumi.

“Tempat yang aman,” jawabnya singkat. Ia mendekat ke arah Taecyeon, memperhatikan kilatan kemarahan di matanya. “Kenapa kau menggunakannya, hah?” Junho mengangkat baju Taecyeon sampai ke ujung lehernya. “Kau tahu kan aku tidak suka ancaman?” ucapnya hati-hati lalu melepaskan cengkramannya.

“Lalu kenapa kau main hilang-menghilang?” balas Taecyeon tak kalah sengit. “Kau pikir ini masalah yang bisa kutangani sendiri? Kau lupa kau bekerjasama denganku, heh?”

“Aku tidak melupakannya,” jawab Junho enteng seperti melempar debu kembali ke udara.

“Lalu apa kau punya solusi dan konsekuensi, Lee Junho-ssi?” tanyanya menantang sambil mencengkram kerah kemeja pria di hadapannya.

Ia akui Lee Junho bukan sembarang mafia. Kerjanya bagus dan rapi. Koneksinya sampai ke pelosok negeri. Dan jaringan yang dimilikinya memang lebih besar dari teroris yang tak terdeteksi sekalipun.

“Lepaskan tanganmu. Aku sama sekali tak mengharapkan tubuhku tersentuh olehmu.” ujar Junho angkuh. Taecyeon melepasnya dan sedikit menghela nafas. Junho bergerak, memindahkan tubuhnya ke kursi di belakangnya. Ia menarik kursi lain, merilekskan kakinya dan menyulut sebatang rokok dari dalam saku jasnya.

“Kuserahkan perusahaan di Busan untukmu. Kau uruslah segalanya dengan itu.” Bagi Junho, hal itu adalah penyelesaian yang mudah mengingat jumlah kekayaannya tak pernah berkurang walaupun uangnya sering datang dan pergi tanpa permisi.

“Dabo? Itu perusahaan lapuk! Mana bisa mengganti kerugian yang menimpaku karena ulahmu!” Taecyeon mengelak. Ia tidak sebodoh itu hingga masuk ke perangkap Lee Junho yang punya omongan bagus.

“Kau pikir aku menghilang selama sebulan hanya untuk ongkang-ongkang dan menyekap seorang gadis tanpa memberikan tempat yang lebih layak?” Junho mengejeknya. Tapi karena sudah saling tahu-menahu pria itu sama sekali tak tersinggung dan kelihat cuek. Hei—semua mafia tidak tahu malu kan?

“Sepuluh investor. Eropa. Aku membangun lagi prospek perusahaan.” tambahnya. “Jangan pernah mengancamku, brengsek mata duitan!” umpatnya lalu meninggalkan Taecyeon yang tampak tersenyum ringan.

Dan, begitulah kerja mafia. Mereka merampok, memperbaiki, lalu melemparnya lagi seperti kaleng susu yang tak berisi. Bukankah kekayaan hanya permainan keadaan? Tapi toh kedua orang itu tetap saja menjalaninya dengan normal walaupun tak ayal kadang-kadang saling mengancam, saling menendang, dan juga bertindak berlebihan supaya satu sama lain saling mengerti kebutuhan teman.

Lalu…

Yah, mereka akan sama-sama kembali akur seperti saudara kandung saat keduanya sama-sama mendapat untung.

Akur? Saudara kandung? Yang benar saja! Tapi… mungkinkah?

Ya, mereka benar-benar mungkin melakukan hal itu. Lagipula ini bukan aksi berlebihan mereka yang pertama. Masih ingat Nickhun? Dia mengetahui segalanya.

Apakah kau menyangka pria sedingin Junho melakukan hal konyol seperti membakar rumah Taecyeon hanya supaya pria itu mau menyetujui kerjasama pertamanya? Lalu apakah tampak salah ketika Taecyeon membalasnya dengan menghajar gadis—yang setidaknya paling lama berlalu lalang dalam kehidupan Junho—walaupun ternyata sama sekali tak memberi efek di kehidupan pria itu?

Lalu, hidup ini memang konyol kan?

Dan lebih konyol lagi, Taecyeon baru menyadari ternyata pria berumur tiga puluh dua tahun itu sama sekali tak menganggap penting hal-hal yang tidak berkaitan dengan bisnis. Apa Lee Junho tidak punya emosi sedikitpun? Cinta mungkin?

Ia ingat—masih ingat dengan jelas kalau gadis yang dua hari lalu disekapnya pernah menjadi seseorang yang kelihatan berarti bagi Junho. Tapi, kenyataannya Junho sama sekali tak menganggap hal itu sebagai peristiwa penting.

“Apa kau kira ini bisa disebut imbang? Aku membakar rumahmu, bukankah lebih baik kalau kau mencuri uangku? Tapi siapa dia? Kau menyekap orang yang telah kubuang? Demi Tuhan—apa ini bisa disebut ancaman? Kau lupa aku tidak suka diancam?!” amuk Junho di telepon saat sebelum Junho menghampiri Taecyeon.

Ya, sebelumnya Junho sempat menelepon Nickhun untuk bertanya sesuatu tentang saham dan semacamnya. Tapi sepertinya Nickhun sedang bersama dengan orang-orang Taecyeon karena tanpa sengaja ia mendengar suara Jaewon di sana. Insting Junho menyadari ketidakbiasaan itu, dan setelah dua hari berlalu akhirnya ia menghubungi Taecyeon karena baru kembali dari Rumania.

Nickhun, pria tampan itu sepertinya belum menyadari konflik yang menyerang para mafia ini sehingga dengan mudahnya ia mengatakan kalau ia mendapat telepon dari Junho kepada Jaewon.

Gangster memang lebih kejam dari politik, tapi kau tidak mungkin dijatuhkan sampai kau tak bisa kembali bangkit. Sekali lagi, ini hanya masalah pembagian masa-masa kejayaan. Tapi tetap saja yang cerdik yang bertahan.

Dan di sini, Junho memang tak terkalahkan karena dari awal dia hidup dia sudah memiliki kecerdasan ilmuwan. Walaupun kadang-kadang dia dicap licik, tapi dia benar-benar selalu berada pada posisi yang menguntungkan dengan kecerdasan cemerlang.

Nickhun, dia sedang-sedang saja. Dia hanya terbiasa tanpa benar-benar mengikuti segala tata caranya dengan baik. Ya, hidupnya seperti air yang mengalir tanpa tujuan. Lagipula sekarang dia sudah move on dari dunia hura-hura ini. Ia sudah mengurus bisnis restorannya dibantu oleh Taecyeon. Sangat jauh dari level sebelumnya bukan?

Taecyeon. Dia suka kekerasan. Baginya permasalahan paling mudah diselesaikan dengan tinju. Sangat berkebalikan dengan Junho yang lebih suka cara diplomasi buka-bukaan. Pemikirannya pendek, tapi tak pernah sekalipun meleset. Kadang-kadang ia hati-hati, tapi lebih sering tindakannya tak terkonsep. Seperti ini, saat dia menyekap Sohyun tanpa prediksi apapun.

~k~

Sohyun terbangun. Lagi. Di tempat yang berbeda pula. Ada apa ini? Kenapa tubuhnya berpindah-pindah? Sebenarnya kemana dia akan dibawa pergi? Kenapa jalan yang dilaluinya penuh teka-teki?

Ia mengerjap-ngerjapkan matanya sekali lagi, memastikan apakah ini nyata atau lagi-lagi ilusi yang tak berarti. Ia berada di suatu ruang tidur yang luas dengan lampu-lampu redup dari berbagai sudut. Tempat tidurnya juga sangat nyaman. President suit mungkin? Entahlah, lagipula ini bukan waktu yang tepat untuk menamai suatu bentuk ruangan.

Sohyun mengangkat tubuhnya untuk duduk. “Aw,” pekiknya cukup keras. Ia baru menyadari tubuhnya berat. Dan, apa ini? Influs? Dia diinfus? Apa sebelumnya keadaannya benar-benar mengerikan?

Pintu masuk di kamar itu tampak dibuka dengan tak sabar. Kemudian secara mengejutkan mucullah sosok pria bermata sipit yang tampak mengkhawatirkan suatu hal. Ia mendekat, duduk, dan membantu Sohyun untuk mendapatkan posisi duduk yang nyaman.

“Masih terlalu dini untuk pulih. Kau dehidrasi.” ucapnya saat melihat ekspresi wajah Sohyun yang seolah minta penjelasan atas keadaan ini.

“Kau siapa?” tanyanya saat ia mendapat jawaban yang tak memuaskan. Ia juga tahu kalau tubuhnya dalam keadaan yang tak baik. Mana mungkin dia melupakan penculikan dan tindakan kekerasan yang ia terima?

“Ternyata memang benar kalau kau melupakanku,” Ia menunduk. Menutupi kekecewaan yang mungkin sempat lewat di matanya.

“Siapa kau?” Sohyun membalik pertanyaannya. Ia tidak mau diajak berpikir mengingat ingatannya yang seringkali memunculkan bayang-bayang ilusi. Terlalu berbahaya, bahkan hanya untuk mengingat masa lalu.

Masa lalu? Benarkah ia memilikinya? Kenyataan yang sangat mengganggu adalah ingatannya berjalan acak. Ia tidak bisa membedakan mana kejadian saat ia berumur sembilan tahun dengan tujuh belas tahun. Ia bahkan tidak mengerti kenapa ia merasa trigonometri diajarkan sewaktu SMP, padahal jelas-jelas pelajaran itu diajarkan sewaktu SMA.

“Kau tak pernah melihatku?” Lee Junho, pria itu tampak mencoba meyakinkan perempuan yang sedang terduduk lesu di hadapannya. Sohyun menarik selimutnya sedikit. Sepertinya perempuan itu takut kalau dirinya berada di tempat yang lebih mengenaskan. Mungkin semacam tempat pelacuran, bisa jadi kan mengingat keadaan dirinya yang sangat menyedihkan?

“Junho. Lee Junho. Apa kau memiliki namaku dalam memorimu?” tanya Junho sedikit berharap. Kali ini, ia benar-benar menunjukkannya dengan jelas.

Ia memperhatikan gadis itu. Air mukanya berubah. Ada ketakutan yang muncul. Ada juga kekhawatiran yang timbul. Bibirnya bergetar, hendak berucap. Tapi kosong, tak ada apapun yang keluar.

Dia terkejut.

“Sebenarnya, siapa kau di hidupku?”

*****

to be continued

47 thoughts on “Kilauan Senja – Chapter 1

  1. sedikit saran, dialog awal junho sama taec itu kurang keterangan siapa yg lagi ngomong.ak jadi bingung bacanya..

    btw, junho itu pura2 gak peduli sama sohyun gitu? tapi kok sohyunnya kayak amnesia gitu? o_0 ada hubungan apa diantara mereka? *jengjeng

    next part ditunggu! ^^

    • Sebenernya kalau ngikutin sengit-sengitan di antara mereka berdua sih ngerti. Apa jangan-jangan cuma aku? Kalo beda paragraf berarti ganti orang. Gampangnya sih gitu. Seperti aturan penulisan umum. Yaa itung-itung mikir dikit. Huehe. Ya ntar aku edit yaa dialog awalnya.

      Ya mungkin nanti akan ketahuan dgn sndirinya. Hm…

  2. Dialog yg taec sama junho kurang keterangan, jd agak sedikit bingung siapa yg lg kebagian ngomong..
    Hidup itu emang penuh rahasia dan sandiwara, gak peduli siapa pasti dia sandiwara. Termasuk sang mafia Lee Junho. Mungkin dia bilang Sohyun gak berharga dan udh dibuang buat ngelindungin dia dari dunia mafia yg kejam itu.. lagi juga sohyun udh ada anak dari Junho kan yak? Jadi ya gitulah.. agak bingung ngungkapin yg ada di otak..
    Tapi aku suka ceritanya sejauh ini.. baru pertama kali baca ff ttg oppars yg “penuh misteri” kek gini.. di tunggu selanjutnya ya..

  3. asdfghjkl, kukira Taec sama Junho itu musuh-musuhan dalam bidang per-mafiaan[?], ternyata ngga… dan sumpah, gulingguling aku bayangin Junho bakar rumahnya Taec cuma buat kontrak kerja sama… ampun deh, masuk Chap 1 pake prolog pula, tapi belon ada kisi-kisi siapa itu Sohyun… Apa mungkin dia gadis ‘yang paling lama berlalu lalang’ itu?…. Sip keren, Junho orang kaya, bangga aku sebagai istrinya #plakk -_-… Paegteng author-nim ><

  4. Oooh junho mafia ,taec n nichkhun jg..cakep” banget mafia nya ^^ .kl mafia nya ganteng” gt sih boleh lah.hhe
    Junho msh cinta sm sohyun?? Seruu cerita nya thor bikin penasaran terus..

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s