Because of WASABI [PART 6]

because of wasabi (cover)

Title  :  Because of Wasabi

Author  :  ChoaiAK

Genre  :  Romance  ||  Length  :  chaptered  ||  Rating :  PG-15  ||

Cast  :  Park Hyungsik (ZE:A), Nam Jihyun (4Minute), Other Cast ||

PART 1 | PART 2 | PART 3 | PART 4 | PART 5

SUMMARY:

“…tidak apa-apa kalau kamu tidak bisa seperti mereka. aku tidak memintanya. Meskipun aku harus menyukai wasabi dalam setiap shusi yang aku makan, aku akan menyukainya. Karena wasabi aku bisa bertemu denganmu. Alasan yang tidak masuk akal untuk jatuh cinta denganmu, memang. Tapi itu kenyataannya. Jadi jangan berpikir kalau kamu satu-satunya orang yang memaksaku melakukan hal yang tidak aku inginkan. Karena bagiku kamu adalah hal terindah yang datang padaku. Meskipun melalui hal yang tidak aku suka pada awalnya…”

*****

Hyungsik masih merasa Gyuri telah menjadi penyelamatnya sore ini. Bagaimana tidak, kakaknya itu menelefonnya hanya untuk mengajaknya pergi membeli persediaan makanan mereka karena ibu mereka akan pergi menyusul ayah mereka yang masih berada di Jepang. Tanpa dia cerita kakaknya langsung menyarankan alasan yang tidak sempat pikir-pikir lagi selain mengikuti usulan kakaknya.

Sampai dirumah dia bertemu dengan seorang anak kecil yang mengenakan dress bunga-bunga sedang duduk manis di ruang tengah rumah mereka.

“Sooni-ah.” Dengan sayang Hyungsik membelai kepala anak kecil itu saat menyapanya.

“Hyungsik samchon.” Menunjukkan senyum lebarnya anak gadis itu menyambut Hyungsik yang duduk disebelahnya. “siapa yang mengantarmu kesini?”

“Gyuri Imo.” Jawabnya polos.

samchonmu pasti mendadak sibuk lagi?” tebak Hyungsik.

“tidak. Samchon sedang pergi menjemput Hyeon samchon di sekolah.” Hyungsik menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan keponakan kekasih kakaknya itu.

“kamu sudah pulang?” Gyuri datang menghampiri mereka . “bagaimana?”

“apanya?”

“tadi.” Hyungsik melemparkan pandangan tajam kearah Gyuri yang sama sekali terlihat tidak peduli. “sudah bisa aku tebak. Gadis itu juga ada disana. Dan,-“

“sudahlah. Aku sedang tidak mau membahasnya.” Potong Hyungsik.

 “membahas apa?” keduanya langsung melihat anak kecil yang ternyata ikut mendengarkan.

“bukan apa-apa.” Jawab Hyungsik pelan.

“Hyungsik samchon sedang patah hati.” Sementara Gyuri memberi jawaban yang sebaliknya.

“ Ho samchon juga sering patah hati. Hyeon samchon bilang dia sering bertengkar dengan Gyuri Imo karena Ho samchon suka melirik perempuan-perempuan lain.”

“benarkah?” jawaban polos yang keluar dari mulut kecil Sooni menarik perhatian kedua kakak beradik Park itu.

“tapi eomma bilang karena Ho samchon itu nakal.” Tambah Sooni. “dia tidak mau membersihkan kamarnya dan jarang mengganti pakaiannya. Juga karena sering terlambat bertemu dengan Gyuri Imo setiap kali akan bertemu. Dan satu lagi, Ho samchon tidur seperti sapi.”

Tidak tahan mendengar pengakuan polos yang lebih terdengar seperti penghinaan oleh Sooni terhadap pamannya sendiri. Hyungsik puas karena tertawa sementara Gyuri yang bisa geleng-geleng kepala. “aku tidak tau kalau ternyata Ho samchon tidur seperti sapi. Kamu mau tau sesuatu?”

“apa?” tanya Sooni.

“Gyuri Imo juga tidur seperti sapi” lalu Hyungsik kembali tertawa.

“YA!!”

“benarkah?” Sooni menoleh memandang Gyuri dengan tatapan tidak percaya seolah penilaiannya selama ini terhadap Gyuri yang bersikap layaknya bidadari adalah salah besar.

“oohhh…Hyungsik, coba lihat apa yang sudah kamu lakukan pada anak ini.” Gyuri menegur adiknya yang belum juga berhenti tertawa. “Sooni-ah. Jangan percaya apa yang dikatakan Hyungsik samchon. Dia hanya mempermainkanmu.”

“kalau begitu,” Sooni kembali menoleh pada Hyungsik seolah tidak mendengar apa yang dikatakan Gyuri. “kalau mereka menikah dan tidur bersama artinya ada dua sapi di dalam kamar Ho samchon.”

Hyungsik kembali tertawa makin keras tapi kali ini Sooni ikut tertawa bersamanya. Bagaimana bisa anak sekecil ini bisa menghina pamannya sendiri dengan wajah yang sangat polos.

****

Tidak heran kalau Kwanghee tergila-gila pada gadis bernama Sunhwa ini. Dia bisa dengan mudahnya memberi tanggapan apapun dari yang diucapkan Kwanghee. Mereka sudah berteman dengan pemuda itu selama bertahun-tahun tapi tidak pernah bisa sepenuhnya mengerti tentang jalan pikiran pemuda itu tapi Sunhwa membuatnya merasa sangat diperhatikan. Sebagai teman mereka ikut bahagia dengan hubungan Kwanghee dan Sunhwa tapi sekarang ada satu orang yang sedang salah paham dan harus segera diselesaikan semuanya sebelum anak itu berubah menjadi lebih depresi karena merasa patah hati sebelum berperang.

“aku jadi kepikiran Hyungsik. Apa dia baik-baik saja?” Dongjoon kembali membawa nama Hyungsik dan mengingatkan mereka semua.

“apa dia benar-benar sesuka itu sampai-sampai salah paham seperti itu dengan Siwan.” Kevin bersandar pada kursinya dengan kedua tangan terlipat.

“aku tidak pernah melihatnya dekat dengan gadis manapun. Mungkin saja itu benar.” Tambah Siwan. “kalau aku kerjai saja bagaimana?”

“tidak boleh!” Sunhwa yang dari tadi hanya menyimak percakapan keempat pemuda itu langsung menyuarakan pendapatnya.

“YA! Kenapa kamu malah membelanya dari tadi?” Kwanghee mengeluh dengan cemburu dibuat-buat.

“Oppa. Kalau kamu jadi dia memangnya kamu tidak akan merasa depresi seperti itu? Kamu menyukai seseorang lalu salah paham dan menyangka kalau teman baikmu juga menyukai orang yang sama. Aku mengerti yang dia rasakan. Tetap maju tapi menyakiti perasaan temannya atau mundur tapi menyakiti dirinya sendiri. Belum lagi kalau ternyata gadis itu malah menyukainya dan bukan temannya. Kalau seperti itu kalian mau tanggung jawab karena sudah menyakiti dua hati sekaligus?”

“Ya, Han Sunhwa.” Kwanghee menatap tidak percaya kearah kekasihnya yang bicara panjang lebar. Mereka tidak mempercayai pendengaran mereka dengan apa yang baru saja mereka dengar. Perempuan di depan mereka ini benar-benar lain dari yang lain. Persis seperti Kwanghee.

“kenapa kamu terbawa emosi seperti itu?” tanya Kwanghee.

“aku tidak sedang terbawa emosi.” Ujar Sunhwa datar kearah pemuda disampingnya. “tapi aku tidak suka jika ada orang yang mempermainkan perasaan seperti itu.”

“baiklah-baiklah, kami,-“

“permisi.” Ucapan Siwan terpotong saat mereka semua menoleh kearah orang yang datang menghampiri mereka. Awalnya mereka kira Jihyun kembali lagi untuk menanyakan tentang Hyungsik tapi kali ini yang datang malah membuat Siwan tersenyum lebar.

“hai Gayoon.” Sapanya dengan suara yang dibuat seramah mungkin.

“maaf aku mengganggu kalian.”

“tidak apa-apa. Ayo silahkan duduk disini.” Siwan berdiri menunjukkan sikap gentlemen yang jarang dia tunjukkan pada gadis manapun.

“tidak terima kasih. Aku Cuma mau menanyakan sesuatu,-“

“apa saja buat kamu.” Siwan memastikan lebih dulu sebelum gadis itu memberitahukan keinginannya.

Gayoon hanya bisa tertawa dan geleng-geleng kepala melihat tingkah pemuda itu, “Kalau boleh aku mau minta alamat teman kalian yang sudah pulang tadi. Bisa?”

“Hyungsik?” ekspresi wajah Siwan mendadak berubah datar bahkan sebelum Gayoon mengangguk membenarkan.

“Gayoon-ah. Kamu suka Siwan atau Hyungsik?” tiba-tiba Kwanghee melontarkan pertanyaan yang membuat jantung Siwan seperti berhenti sesaat.

“YA!” meski marah, tapi dia menunggu dengan tidak sabar jawaban gadis itu.

“huh? Maksudnya?” tanpa menjawab Gayoon malah balik bertanya. “Ah, sudah lupakan. Aku hanya perlu alamatnya kalau kalian tidak keberatan karena lama-lama aku bisa ikut stress melihat temanku yang sekarang sudah berapa kali salah menuliskan pesanan di belakang sana.”

“siapa? Jihyun?”

Gayoon mengangguk kearah Kevin. “apa teman kalian yang bernama Hyungsik itu ada hubungan spesial dengan temanku? Sepertinya aku tidak pernah melihat dia disekitar Jihyun.”

“kami juga tidak tau.” Jawab Siwan. “kamu yakin tidak mau duduk?”

Dengan ramah gadis itu tersenyum kearah Siwan dan menggeleng. “tidak, terima kasih.” Lalu melihat ke mereka semua. “jadi bagaimana? Boleh?”

“tentu saja.” Siwan yang pertama kali menyetujuinya disambut dengan tatapan ‘semudah itu?’ dari teman-temannya tapi dia tidak peduli dan mengambil selembar kertas serta pena dari dalam tasnya lalu menuliskan alamat Hyungsik dengan lengkap dikertas tersebut.

“ini.”

Gadis itu mengambil kertas yang diberikan oleh Siwan, “terima kasih. Kalau begitu aku permisi. Maaf sudah menganggu kalian.”

“bye.” Bagi Siwan mungkin hari ini adalah hari keberuntungannya. Tidak hanya berhasil kenalan dengan perempuan yang selalu menjadi pusat perhatiannya sejak beberapa waktu lalu, dia bahkan bisa melihat gadis itu tersenyum kearahnya. Benar-benar kearahnya. Dan sekarang Gayoon melambaikan tangannya pada Siwan setelah mendapatkan alamat Hyungsik untuk Jihyun.

“ah, Gayoon-a.” gadis itu berbalik saat Siwan memanggilnya.

“ya?”

“kalau Jihyun mau pergi kerumah Hyungsik dan kamu ikut dengannya, aku bisa mengantar kalian.”

“rencananya belum sampai disitu.” Sela Gayoon. “aku akan tanya Jihyun dulu.”

“baiklah.”

Keempat pasang mata yang lain menatap Siwan yang baru kembali menginjakkan kakinya kebumi setelah beberapa saat terbang keawan dan membalas tatapan teman-temannya yang kebingungan.

“apa jatuh cinta membuat orang jadi aneh seperti itu?” Dongjoon bertanya dengan polosnya pada Kwanghee dan Sunhwa.

“kenapa?”

“meskipun sudah menyebalkan dari sananya tapi Kwanghee berubah jadi lebih menyebalkan, Hyungsik jadi lebih sensitif, sekarang orang yang duduk disampingku ini.” Dongjoon menunjuk Siwan di sebelahnya. “dia tidak pernah bersikap lebih memalukan dari ini.”

Tiba-tiba Kevin mencengkram kerah baju kemeja yang dikenakan Siwan, awalnya yang dilakukan Kevin membuat teman-temannya terkejut karena ekspresinya yang serius. “YA! Apa yang kau lakukan pada temanku Siwan?!”

“lepaskan.” Siwan melepaskan bajunya dari cengkraman Kevin yang kemudian tertawa bersama teman mereka yang lain. “tunggu saja sampai kalian benar-benar merasakan jatuh cinta.”

“dan coba saja nanti rasakan apa yang namanya patah hati.” Tambah Kevin.

Apa yang sedang mereka hadapi sekarang membuat mereka lupa dengan apa yang terjadi pada Kevin beberapa bulan lalu. Hubungannya selama 5 tahun bersama seorang gadis harus berakhir karena tanpa disengaja dia memergoki kekasihnya selingkuh.

Menyadari suasana tegang yang diciptakannya, Kevin kemudian tertawa. “YA, kenapa kalian jadi memasang wajah seperti itu.”

“makanya,” mereka lalu beralih melihat Sunhwa. “sayang seadanya saja. jangan terlalu sayang.”

“apa maksudmu?” Kwanghee mendadak menatap kekasihnya dengan ekspresi kaget. “jadi kamu tidak benar-benar sayang padaku.”

“YA! Oppa. bukan itu maksudku. Hah!… sudahlah, aku jadi pusing sendiri mau menjelaskannya padamu.” Mereka kembali tertawa melihat tingkah pasangan kekasih yang baru jadian itu.

****

Jihyun mengamati kertas kecil yang ada di tangannya dengan pandangan kosong. Cukup lama dia duduk di ruang persediaan yang terletak bersebelahan dengan ruang istirahat kecil yang tersedia di dalam. Dia selalu menyebabkan kerusakan pada benda-benda yang ada ditangannya saat pikirannya sedang kacau. Tanpa memikirkan rasa malunya dia berani menghampiri teman-teman Hyungsik untuk menanyakan keberadaan pemuda itu. Sejak saat Hyungsik membuang muka dan pergi saat melihatnya dikampus, Jihyun mencoba menebak-nebak apa yang terjadi.

“memegang kertas itu dan memperhatikkannya tanpa melakukan apa-apa tidak akan membuat dia tiba-tiba muncul disini.” Gayoon yang tiba-tiba memberikan selembar kertas bertuliskan alamat rumah Hyungsik sudah bosan memperhatikan sahabatnya itu hanya menatap kertas ditangannya.

“Oh, ayolah Jihyun-a.” bujuk Gayoon. “hampir seminggu lalu kamu terus-terusan bergumam, ‘kemana dia? Kenapa tidak kelihatan? Apa dia sakit?’. Aku bahkan sampai mencarikan nomor ponselnya kemana-mana. Untung saja Daehwan satu club dengannya. Apa kamu menghubunginya?”

Jihyun mengangguk. “lalu?” tanya Gayoon lagi.

“ponselnya tidak aktif. Selalu masuk ke voice mail.” Suara Jihyun semakin lama semakin terdengar tidak bersemangat.

“Nam Jihyun.” Dia merangkul Jihyun yang duduk diam di lantai. “kamu mau kerumahnya?”

“huh?” dengan mata terbelalak Jihyun melihat kearah Gayoon yang mengusulkan sesuatu yang di telinganya terdengar tidak masuk akal. “kamu sudah mulai gila.”

“kamu yang mulai gila.” Balas Gayoon. “kita sudah punya alamatnya, tadi juga Siwan menawarkan kalau kamu kerumah pemuda itu dan aku pergi menemanimu dia bersedia mengantar kita.”

Jihyun mengamati keseriusan Gayoon. “Gayoon-a.”

“hm?”

“sepertinya kamu memang benar-benar sudah gila.”

Gayoon yang tadi masih tersenyum manis mendadak memasang wajah datar, “Nam Jihyun, bukan aku yang sejak awal selalu bergumam tentang seorang pemuda yang hanya dua kali bertemu denganmu.”

“tiga.” Jihyun membenarkan.

“baiklah, tiga kali.” Gayoon kembali membenarkan ucapannya. “dan sekarang apa? Menunggu takdir mempertemukan kalian lagi.”

“jangan terlalu mendramatisir, kita semua ini satu kampus. Cuma beda fakultas saja.”

“YA, sudah berapa tahun kamu kuliah tapi baru bertemu dengan pemuda itu sekarang.”

“sebenarnya apa maksudmu?” Jihyun mulai merasa tidak mengerti dengan maksud percakapannya dengan Gayoon.

“kalau kamu bisa membuat takdir itu terjadi lebih dulu, kenapa harus menunggu?”

****

Jihyun memandang kosong kedepan tepat kearah adik sepupunya yang sedang mengerjakan tugas sekolahnya di meja dekat ruang manager milik Ibunya. Meskipun memandang lurus kearah anak laki-laki itu, Jihyun tidak benar-benar memandang kearahnya.

“noona, sebaiknya pulang saja.” usul Sanghyuk setelah bosan melihat Jihyun bersikap seperti itu belum lagi beberapa kali dia menghembuskan nafas seperti orang stress berat.

“sanghyuk-ah.”

“hm?”

“apa kamu pernah jatuh cinta?”

“jatuh cinta?” Sanghyuk balik bertanya. “kalaupun aku pernah, aku tidak akan bilang padamu.”

“huh?” niatnya untuk curhat dengan sepupunya itu malah berbalik arah jadi rasa penasaran mendengar pengakuan Sanghyuk yang tidak ingin dia tau kapan dia jatuh cinta. “kenapa?”

“karena noona pasti akan cerita pada eomma.” Jawab Sanghyuk. “dan eomma bisa memaksaku membawanya kemari lalu saat sudah disini eomma akan ikut duduk bersama kami dan membuat aku dinilai sebagai anak manja.”

“kamu memang anak manja.” Jihyun membenarkan.

“aku tidak seperti itu.” namun Sanghyuk membantah.

“terserah.” Lalu Jihyun menatap Sanghyuk sambil bertopang dagu di atas meja. “apa aku harus membuat takdirku sendiri?”

“kalau noona bisa, kenapa harus menunggu.” Sejak awal percakapan Sanghyuk tidak sekalipun mengalihkan perhatiannya dari tugas-tugasnya mendadak mengangkat kepalanya dan menatap tajam kearah Jihyun dengan pandangan curiga. “takdir apa yang noona maksud kali ini? bukannya biasanya juga seperti itu?”

Tapi tidak ada penjelasan lain lagi dari Jihyun. Dia hanya diam dan berpikir apa yang seharusnya dia lakukan. mengikuti kata hatinya atau mengikuti saran-saran dari orang-orang terdekatnya.

****

Siang itu Hyungsik sendiri pergi ke café disebabkan teman-temannya punya jadwal kuliah yang berbeda darinya. Tidak bisa tidur semalaman membuatnya terlambat pergi ke kampus dan melewatkan sarapannya. Padahal sebisa mungkin dia akan selalu sarapan di rumah baik saat akan keluar atau tetap dirumah seharian.

“oh, Hagsaeng!”

Dia menoleh kearah ibu kantin kampusnya yang biasa menyediakan makanan untuk café berusaha berjalan terburu-buru menghampirinya. Lalu mengulurkan sebuah bingkisan.

“namamu Park Hyungsik, kan?”

“iya.”

“ini titipan untukmu.”

“untukku?” tanyanya tanpa mengambil bingkisan tersebut.

“iya untukmu. Cepat ambil aku harus kembali ke dapur.” Tanpa buang-buang waktu wanita bertubuh gempal itu langsung meletakkan bingkisan tersebut keatas tangan Hyungsik dan beranjak pergi terburu-buru. Sementara dia tanpa rasa curiga sedikitpun membawa bingkisan tersebut bersamanya.

Sekarang di atas meja di hadapannya ada nampan berisi sarapan sekaligus makan siangnya dan sebuah bingkisan. Sebelum menyentuh makanannya, dia lebih dulu membuka bingkisan tersebut dan melihat ada beberapa macam shushi dalam sebuah toples.

“apa-apaan ini? siapa yang mengirimiku shushi?” dia melihat kesekeliling café kalau-kalau ada orang yang sedang memperhatikannya namun tidak ada tanda-tanda orang yang mencurigakan.

Lalu dia mengesampingkan toples berisi shushi tersebut dan menarik nampan makan siangnya. Belum beberapa suapan dia menoleh lagi kearah shushi tersebut.

“baiklah, satu saja.” ujarnya pada dirinya sendiri.

Setelah shushi pertama berhasil melewati tenggorokannya dia baru akan kembali mengambil shusi yang kedua saat tiba-tiba ada sesuatu yang aneh terjadi dalam mulutnya. Mendadak lidahnya terasa kebas. Dasar bodoh, apa aku memakan shushi tanpa memastikan kalau ini ada wasabinya atau tidak. Dia langsung meneguk habis minumannya namun rasa pedas itu tidak hilang sama sekali dan sekarang mulut bagian dalamnya mulai ikut terasa kebas. Dia baru akan berdiri untuk mencari minuman yang bisa menghilangkan rasa pedas dimulutnya saat seseorang meletakkan sekotak susu dingin di atas mejanya. Saat dia menegakkan kepalanya dia melihat seorang gadis sedang tersenyum manis kearahnya .

“minum ini. Susu bisa menghilangkan rasa pedas lebih cepat.”

 

to be continued…

: )

6 thoughts on “Because of WASABI [PART 6]

  1. Ah mianh thor , aku bru liat lg huhuhuu
    kerenn bangett ,!! ♥ lanjutin lg ya agak panjangan hehehe klo bsa sad ending donk klo mau selesainya :p pokoknyaa lanjutkan truss ya thor !!

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s